Last Cap

Ryeowook merasakan pelukan sesak yang Kyuhyun berikan sejak pria itu datang dan menerobos pintu kamar dimana Jungsoo merawatnya. Ia berusaha mengatur napas agar nyeri pada luka di tubuhnya sedikit berkurang. Satu hal yang ia pelajari untuk bertahan dalam kondisi krisis.

Kyuhyun memeluknya seperti seorang pecandu yang menemukan obat untuk bertahan hidup. Sudah bukan rahasia lagi memang ketika pria itu terus saja menyebut dirinya sebagai pecandu berat seorang Kim Ryeowook. Kyuhyun tidak pernah sedikitpun menunjukkan bahwa dirinya hanya main-main terhadap Ryeowook. Semua hal yang ia rasakan sampai saat ini adalah nyata. Bahkan dalam keadaan bahwa mereka seharusnya saling membenci pun tidak merubah keadaan bahwa Kyuhyun menjadikan Ryeowook sebagai alasannya untuk kembali 'hidup'.

Sangat menyedihkan mengetahui bahwa hal yang sama juga terjadi pada Ryeowook.

Jadi, bagaimana jika salah satu dari mereka tidak ada?

Akankah semuanya akan baik-baik saja?

"Kyuhyun, kau memeluk terlalu erat."

Suara parau Ryeowook memecah keheningan dari reuni kecil mereka. Hanya empat puluh depalan jam berlalu dan mereka seperti sudah saling kehilangan sangat lama.

"Apa yang terjadi padamu? Bagaimana kau bisa berada di sini?"

Kyuhyun ingat betapa terkejutnya ketika menerima pesan dari Jungsoo untuk segera menemui pria itu di kediaman seseorang yang selama ini dipercaya adalah alasan mimpi-mimpi buruknya setiap malam.

Moon Saeyoung.

Dan mungkin seperti dugaannya, bahwa seseorang di luar kamar ini memiliki hubungan yang sangat sangat sangat dekat dengan pria tua itu.

"Aku terluka, dan Jaksa Park menolongku."

Bukan jawaban yang mengada-ada. Namun bukan pula jawaban yang membuat Kyuhyun puas.

"Orang yang melukai Sungmin…" Ryeowook terdiam sebentar. "…aku bertemu dengannya."

Jantung Kyuhyun serasa akan berhenti berdetak mendengar pengakuan tersebut. Apa yang terjadi pada Ryeowook saat ia bertemu dengan buronan tersebut? Bicara? Kemudian berkelahi? Dan mengingat bagaimana terakhir kali Ryeowook menghajar seseorang, tidak ada keberuntung yang tersisa pada hidup orang tersebut.

"Kau tidak…" Kyuhyun menghentikan kalimatnya. Ia bedoa dalam hati jika semua hal yang ada di dalam pikirannya saat ini tidak benar-benar terjadi. Ryeowook sudah jauh lebih baik. Halusinasi yang dibalut dengan tempramen sudah lama sekali tidak terjadi pada kekasihnya itu.

Namun tidak ada yang menjamin semua itu. Bahkan Casey tidak mengatakan apapun tentang kesembuhan Ryeowook.

Kyuhyun menaruh kedua tangannya di dua sisi kepala Ryeowook. Ia bisa melihat kedua matanya yang memang selalu berbinar penuh percaya diri walaupun dalam keadaan tidak baik-baik saja seperti saat ini. "Ryeowook dengarkan aku…" ia mulai berbisik, "Kau tidak melakukan apapun pada orang itu. Dia yang melukaimu. Itu sebabnya kau berada di sini dan meminta pertolongan pada jaksa Park." Kyuhyun bahkan bisa mendengar nada suaranya goyah. "Pikirkan itu." Katanya dengan lembut dan lugas.

"Kau gemetar, Kyuhyun." Ryeowook menatap kedua mata di hadapannya yang memancarkan sorot kecemasan. "Bagaimana jika aku memang sudah melakukan sesuatu?"

Wajah Kyuhyun pucat pasi saat mendengarnya. Pria itu menggeleng. Mengucapkan kata 'tidak' ratusan kali di kepalanya untuk mengusir pikiran-pikiran buruk. Ryeowook-nya tidak melakukan apapun yang akan membuat dirinya menjadi seorang penjahat. "Tidak! Itu hanya ada di kepalamu. Kau hanya membayangkannya. Kau tidak akan terluka seperti ini jika sudah melakukan hal buruk pada orang itu."

Mereka terus menerus berperang dalam kepercayaan masing-masing sambil saling menatap. Dan saat itulah Ryeowook mengucapkan hal yang ia sendiri bahkan tidak akan pernah berani memikirkannya.

"Aku… aku sudah membunuh ibuku sendiri."

[…]

Aku menggenggam tangan seseorang ketika menyaksikan tubuh ibu dimasukkan ke dalam sebuah oven besar bersamaan dengan kotak dimana dia tidur. Aku tidak peduli dengan kalimat-kalimat para orang-orang dewasa yang berpakaian hitam-hitam itu yang mengatakan bahwa ibuku hanya pergi ke tempat yang lebih baik atau ibu hanya sedang tidur panjang dan sebaiknya aku tidak rewel dan minta untuk membangunannya.

Aku tahu semua itu tidak benar. Ibuku menghilang dari dunia ini. Seperti balon-balon sabun besar yang kubuat dan kemudian meledak di udara. Mereka menghilang dan tidak akan pernah terlihat lagi.

Seperti itulah ibuku.

Kemudian seseorang dengan pakaian sangat bagus mulai menghampiriku. Di antara semua orang dewasa, kurasa hanya dia yang tidak berbohong padaku.

"Ibuku tidak tidur. Benar kan?"

"Tidak, nak. Dia meninggalkanmu dan tidak akan pernah kembali."

Saat itulah aku berpikir untuk percaya hanya pada pria tersebut.

Hari-hari berlalu dan aku mulai lelah dengan orang-orang yang membawaku ke tempat asing. Di sana mereka hanya bicara antara orang dewasa. Kadang saling berteriak dan menunjuk wajah. Aku hanya duduk di pojok ruangan sambil membongkar pasang robot-robotan sambil mendengarkan pembicaraan yang tidak banyak kumengerti maksudnya.

Setelah beberapa kali melihat dan mendengar mereka berbicara di tempat itu. Akhirnya seseorang melibatkanku dan bertanya sambil tersenyum.

"Ryeowook-ah, kau mau kan ikut denganku?"

Dia adalah orang yang untuk pertama kalinya tidak berbohong padaku. Dia juga adalah orang yang akhirnya terus menggenggam tanganku saat acara yang mereka sebut sebagai 'pemakaman'.

Jadi bagaimana bisa aku berkata 'tidak'?

Entah apa yang salah denganku. Aku hanya tinggal berdua dengan ibu yang tidak pernah sekalipun tersenyum padaku. Bahkan saat itu aku tidak tahu apa artinya 'tersenyum'. Dia hanya memberiku makanan, pakaian, memandikanku, mengganti pakaianku, dan berjalan mondar-mandir di hadapanku sambil terus diam.

Bahkan ketika aku mencoba berkata "Ibu, aku ingin mainan." Dia membentak dan melemparkan sesuatu ke lantai. Kemudian dia akan berakhir memaki di telepon entah kepada siapa.

Hal buruk memang selalu terjadi ketika aku meminta sesuatu dari ibu. Namun hanya sampai di sana, karena beberapa hari kemudian seorang paman dengan pakaian seragam yang sama akan datang ke rumah dan memberikan sebuah kotak kepadaku sambil tersenyum di ambang pintu rumah. Kotak itu selalu berisi sesuatu yang aku minta pada ibu dan membuatnya marah.

Untuk apa dia harus marah jika pada akhirnya ibu memberikan apa yang aku inginkan?

Kehidupan di rumah semakin buruk. Bahkan ketika aku akhirnya mulai sedikit demi sedikit mempelajari sesuatu yang tidak bisa. Seorang wanita yang tidak kukenal selalu datang dan bertemu ibu di rumah. Ibu selalu menangis ketika wanita itu datang. Kadang mereka sama-sama marah tapi tidak melemparkan barang satu sama lain seperti yang selalu ibu lakukan ketika marah padaku.

Aku mulai cemburu pada wanita itu. Karena ibu lebih memilih memeluknya daripada melakukannya padaku.

Aku belum sempat menemukan satu potongan gambar untuk puzzle yang sedang kususun ketika mendengar suara kaca yang pecah. Dengan tergesa aku keluar dari kamar dan menemukan ibu terbaring dengan pecahan kaca di sekitar tubuhnya.

Bukannya menghampiri, aku justru mundur dan kembali masuk ke dalam kamar. Entah apa yang terjadi padanya saat itu. Dia berdarah dan tertusuk pecahan kaca yang pecah. Aku menutup pintu kamar sambil memegang lenganku yang masih terasa nyeri. Beberapa saat yang lalu aku sempat meminta makan pada ibuku yang baru saja pulang dengan wajah lelah dan berjalan sempoyongan—hal yang selalu ibu lakukan ketika pulang larut malam.

Aku hanya sangat lapar karena di tidak kunjung pulang. Kenapa dia begitu marah ketika aku meminta makanan?

Ia kembali melemparkan barang padaku. Kali ini sempat mengenai kepalaku sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Aku menangis karena kesakitan. Namun sepertinya hal itu justru membuatnya semakin murka. Ibu menarik lenganku, dan rasanya seperti mau putus, kemudian melemparkanku ke dalam kamar.

Sendirian…

Aku bisa saja keluar dan meminta tolong pada orang-orang agar bisa membawa ibuku ke dokter atau rumah sakit.

Tapi sesuatu seperti berbisik padaku.

'Jangan selamatkan dia. Kau lebih baik hidup tanpa ibu. Dia jahat padamu.'

"Tapi aku takut sendirian. Aku harus bersama dengan siapa jika bukan dengan ibu?"

'Tanganmu masih sakit, kan? Jika kau bangunkan dia, suatu hari nanti hal yang sama akan terjadi pada kakimu.'

Aku ketakukan dan hanya bisa menangis. Hingga akhirnya semua menjadi gelap.

"Anak itu juga terluka. Kurasa sang ibu menyiksanya terlebih dulu sebelum terkena serangan jantung."

Aku mendengar seseorang bicara pelan. Tanganku yang sakit sekarang hanya serasa kaku. Seperti sesuatu yang keras sedang dipasang di tanganku. Hal yang sama juga terjadi pada kepalaku. Ada sesuatu yang melilit, namun anehnya aku jadi tidak merasakan perih seperti sebelumnya. Rasanya begitu mengantuk dan haus secara bersamaan. Aku melihat sekeliling dan menemukan dua orang pria sedang bicara serius tak jauh dari tempatku terbaring.

"Haus…" Aku mencoba menggerakkan bibirku yang kering. Hanya satu kata itu saja sudah membuat kerongkonganku seperti terbakar.

Salah satu dari mereka yang mengenakan pakaian serba putih melihatku dan kemudian langsung berlari mendekat. "Nak… kau baik-baik saja?" setelah menyinari kedua mataku dengan lampu kecil dan menyentuh pergelangan tangan sambil melihat arlojinya, pria itu memberiku sedikit air yang terasa seperti hal paling menyejukkan yang pernah kurasakan selama hidup. Kemudian ia kembali menempelkan sebuah benda dingin di bagian dada dan perutku. Seperti itulah saat-saat aku tahu bagaimana seorang dokter memeriksa tubuh pasiennya.

Namun dari semua itu, hal yang paling membuatku penasaran adalah seseorang lagi di sana. Sepanjang pemeriksaan, orang itu hanya melihatku dan tidak berbicara apapun. Tatapannya begitu intens. Tapi anehnya sama sekali tidak membuatku takut.

Dia adalah seseorang yang kemudian kusadari tidak pernah melepaskan tanganku saat semua orang datang dan memberikan penghormatan terakhir di depan foto ibuku.

oOo

"Aku mulai terganggu dengan kenyataan bahwa kau selalu ada di antara kami berdua. Jadi bisa jelaskan kenapa Nathan ada di sini dan ada kantung darah serta infus yang terhubung di tubuhnya?" Kyuhyun seperti kesetanan ketika sampai di rumah kediaman orang yang paling ingin ia penjarakan sejak pertama kali bertugas di ibukota.

"Dia tidak akan memanggilmu kemari jika aku bisa menjelaskannya sendiri. Aku benar-benar sangat iri dengan hubungan kalian. Tahu apa yang dia katakan padaku? Kau satu-satunya yang dia percaya saat ini lebih dari keluarganya. Menggelikan."

Kyuhyun tidak mengerti kenapa justru Jungsoo yang lebih terlihat kesal dibandingkan dirinya. Orang yang saat ini harus diredam emosinya adalah dia sendiri. "Kau sama sekali tidak memiliki hak untuk berkata seperti itu. Nathan kekasihku!"

"Oh begitu? Bagaimana jika kukatakan bahwa mulai hari ini aku juga akan memanggilnya dengan nama 'Ryeowook'?"

"Sudah gila rupanya. Apa sekarang kau benar-benar mengakui bahwa kau juga tertarik dengan Ryeowook?"

"Kau sangat cepat dalam mengambil kesimpulan, Kyuhyun."

"Jadi kau sudah merubah orientasi seksualmu?"

"Tidak."

"Jangan main-main denganku."

"Bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu ada satu hal yang tidak akan pernah kuanggap main-main?"

"Soal apa?"

"Adikku."

Kyuhyun tidak mau mempercayai pendengarannya sendiri. Ia yakin belum ada yang salah dengan telinganya. Namun sepertinya Kyuhyun berharap kali ini ia salah dan Jungsoo tidak mengatakan hal yang baru saja ia dengar.

Ryeowook membuka pintu kamar setelah mendengar dua pria yang ia kenal itu saling berteriak. Rumah itu terlalu besar hingga hampir tidak mungkin jika seseorang yang hanya bicara dengan intonasi normal bisa terdengar dari dalam kamar. Obat tidur yang dicampur di dalam infusan mulai membuatnya muak. Jika dokter yang merawatnya adalah Walker, dia tidak akan membiarkan cairan seperti itu masuk ke dalam tubuhnya. Obat-obatan yang hanya akan membuatnya lemah dan kembali berhalusinasi.

Ia berjalan menyusuri lorong sambil tertatih. Tangannya terbalut perban yang ia pasang sendiri karena sudah mencabut selang infus dengan paksa. Energinya serasa terkuras habis ketika ingatannya dengan sang ibu kembali. Berbagai perasaan bercampur menjadi satu. Entah apa yang akan terjadi padanya mulai saat ini ketika mengetahui bahwa bahkan sejak lahir, satu-satunya orang yang seharusnya menyayangi dan memberikan seluruh perhatian pada Ryeowook justru membencinya seperti seseorang yang merasa jijik pada seekor tikus kotor.

Casey pernah mengatakan padanya bahwa seseorang yang tidak bisa menangis adalah orang yang paling lemah. Ibunya tidak pernah menangis di hadapannya, wanita itu justru menangis di hadapan orang lain. Apakah itu artinya bahwa anak sendiri sudah membuat seseorang terlalu lemah hingga tidak bisa menangis?

Dan hal itu mungkin terjadi padanya selama ini…

Ryeowook ingat, bahwa untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia baru menitikkan air mata di hadapan satu orang…

Cho Kyuhyun…

"Kau tahu aku menyerahkan seluruh hidupku untuk mencarinya."

"Hentikan-"

"Setelah akhirnya bertemu, aku tidak akan melepaskannya."

"KUBILANG HENTIKAN!"

Kyuhyun menarik kerah Jungsoo dan mencoba menahan diri untuk tidak memukul pria itu. Entah apa yang ada di dalam kepalanya saat ini, namun semua itu tidak ia pedulian kecuali satu orang. Ryeowook tidak bisa akan bisa menahan semua ini jika Jungsoo mengatakan bahwa dia adalah adiknya yang selama ini hilang.

Tidak untuk saat ini…

Jungsoo juga berada dalam kondisi yang sama. Giginya begemelutuk menahan ledakkan amarah. Ia tidak terima Kyuhyun memperlakukannya seperti ini. Terlebih ketika akhirnya semua sudah sangat jelas dan meyakinkan. "Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya. Instingku tidak pernah meleset, dan kau mengatakan tidak keberatan jika memang hal itu terbukti."

"Kau tidak boleh mengatakannya!"

"Kenapa tidak boleh?! Aku kakaknya! Ryeowook adalah adikku!"

Ryeowook baru saja melangkah untuk masuk ke dalam ruangan ketika ia mendengar kalimat terakhir yang Jungsoo teriakkan. Seolah bumi ini kembali berputar. Seluruh dunianya seperti dibalikkan dengan tiba-tiba. Hari ini, seperti kenyataan bahwa ia mengingat bagaimana kehidupannya dengan ibu kandungnya bukanlah yang terburuk.

Sekarang apa lagi? Kenapa Jungsoo mengatakan bahwa Ryeowook adalah adiknya? Dan kenapa pula Kyuhyun terlihat begitu marah pada pria itu?

"Hyung… Aku… adikmu?"

oOo

Tidak ada hal yang terjadi secara kebetulan. Saat Ryeowook merasa begitu mengenal tempat itu, ia tahu pasti ada sesuatu. Pintu rahasia yang pernah ia rusak untuk kabur dan ingatannya tentang ruang gelap yang dingin. Kemudian suara-suara yang memanggilnya dari luar dan mencoba membuka pintu, atau bahkan hanya untuk mengatainya sebagai pembunuh. Sekarang semua itu membuatnya takut. Entah 'ibu' yang mana yang benar-benar telah ia bunuh.

Park Jungsoo adalah wajah yang ia ingat pernah sangat menyayanginya sebagai sahabat di dalam rumah besar tersebut. Ketika semua orang menolak untuk bicara banyak padanya, Jungsoo adalah satu-satunya yang tidak pernah bosan mengajaknya bermain walaupun saat itu wajahnya terlihat lelah akibat sekolah dan berbagai les tambahan. Karena tidak seperti dirinya yang hanya mendapat pelajaran dari seorang guru panggilan, Jungsoo melakukan kegiatannya secara normal di luar.

Alasannya hanya satu…

Karena dirinya harus tetap menjadi seorang anak yang dirahasiakan…

Semua kenangan baik dan buruk terus merayap ke dalam kepalanya. Seperti sesuatu yang sudah lama kosong dan tiba-tiba diisi begitu banyak tanpa diberi kesempatan untuk menempati ruang-ruang secara terpisah. Kepalanya serasa ingin meledak.

Ryeowook membuka mata dan kembali berada terbaring dengan berbagai selang di tubuhnya. Ia ingat bagaimana kenyataan menghantam ingatannya yang tertidur begitu lama dan membuat seluruh tubuhnya bergetar hingga rasanya ingin memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.

Kyuhyun yang saat itu terkejut seperti halnya Jungsoo, langsung meraih tubuhnya yang seolah tidak memiliki tulang. Ryeowook begitu lemah dan sulit untuk bernapas. Kecerdasan, gerakan yang tangkas dan cepat pun seperti menguap dari tubuhnya. Kini Ryeowook hanya merasa bahwa dirinya adalah orang paling menyedihkan di dunia ini.

"Reaksi pada tubuhnya hanya sementara. Semua penderita amnesia berat yang mulai mengingat masa lalunya akan mengalami hal ini. Semuanya memang tergantung dari ingatan itu sendiri, dan kurasa Nathan memang memiliki memori-memori yang berat semasa hidupnya. Itukah alasanmu untuk tidak mengizinkanku menggunakan hipnotis total untuk memulihkan ingatannya?"

Casey duduk dengan kedua tangan menutupi wajahnya. Ia merasakan langit seolah runtuh ketika mendengar kabar putranya dari mulut Kyuhyun. Saat itu pula ia memutuskan untuk kembali terbang ke Korea Selatan dan membawa serta dokter yang merawat Ryeowook selama masa terapi.

Kini mereka berempat—bersama Andrew dan Kyuhyun tengah berada di ruangan Direktur rumah sakit Cap Off.

"Albert, jangan menyiksanya dengan pertanyaan seperti itu. Kami hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Nathan." Andrew menyela. Daripada membela dengan membentak, ia lebih terlihat memohon dan merasa bersalah.

"Sejak awal aku sudah memperingatimu akan hal ini. Membuat anak itu tenggelam dalam kekosongannya sendiri akan mengakibatkan shock berlebihan ketika secara tiba-tiba ingatannya kembali. Dan kau anak muda…" Dokter itu kemudian menunjuk Kyuhyun yang sedari tadi hanya diam. "Jangan pasang wajah seperti itu hanya karena kau gagal memenuhi permintaan dua orang tua yang over protective ini. Jika kau begitu mengkhawatirkannya, tidak ada yang lebih baik selain membuatnya menerima kenyataan yang pernah terjadi di masa lalunya. Cukup bagiku menyembunyikan bagaimana anak itu menderita karena penyakit yang tidak pernah diobati oleh keluarganya. Setidaknya saat ini ia bisa ingat kenapa kami membuatnya begitu kuat seperti sekarang ini."

"Nathan bukan robot untuk membalas dendam!" Casey berseru dengan nada suara tinggi. Terdengar agak parau karena ia terus-terusan menangis.

"Albert, kami sudah mengizinkannya kembali ke Seoul karena kau percaya hal itu bisa mengembalikan ingatannya secara alami." Andrew menyela untuk menghindari Casey yang hampur kalut.

"Ya. ya. Setidaknya kalian memang mendengarkan perkataanku sekali. Tapi kemudian aku menyesal saat mengetahui bahwa keluarganya adalah orang paling berpengaruh di sini. Entah apa yang akan mereka lakukan jika mengetahui bahwa anak yang harus disembunyikan tiba-tiba saja muncul."

Saat itulah Kyuhyun terkejut, "Tunggu. Dokter, apa maksudmu dengan anak yang harus disembunyikan? Aku hanya mengatakan bahwa seseorang datang sebagai kakak laki-laki Nathan. Kami bahkan tidak tahu status apa yang disandangnya di keluarga itu."

Albertus mentap Kyuhyun, "Maksudmua jaksa muda itu? Tanpa sepengetahuan kalian, dia datang lebih dulu padaku dan menceritakan semuanya."

Sekali lagi Kyuhyun merasa bahwa dirinya sangat lambat dan hanya membuat Ryeowook berada dalam situasi yang sangat berat. Andai saja saat itu ia menanggapi perkataan Jungsoo dengan serius dan menyelidikinya, ia tak akan tertinggal sangat jauh seperti ini.

"Nathan akan baik-baik saja. Jangan berlebihan." Ujar dokter itu lagi.

"Bagaimana jika ia kembali mengalami episode nya? Kali ini mungkin saja akan ada yang benar-benar terbunuh."

Kyuhyun merasa mual mendengar kekhawatiran Casey barusan. Kemudian ia ingat bahwa Ryeowook mengatakan bahwa dirinya bertemu dengan buronan bernama Him Cheol di suatu tempat dan terjadi perkelahian.

Sekarang hanya ada satu cara untuk meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang benar-benar terjadi. Kyuhyun harus segera menemukan Him Cheol. Hidup ataupun mati.

oOo

"Secara mengejutkan, kandidat nomer satu untuk pemilihan presiden tahun ini, Menteri Moon Saeyoung, kemarin malam secara resmi mengundurkan diri dari pencalonan. Belum jelas alasan utama dibalik mundurnya kandidat paling berpengaruh ini dari daftar calon orang nomor satu di Korea Selatan. Rumor mengatakan bahwa dirinya terlibat penggelapan dana besar-besaran ke dalam bisinis rumah sakit kanker terbaik di ibukota yang menyebabkan keluarnya surat penggeledahan dari kejaksaan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan dari berbagai pihak terkait…"

Jungsoo membuka pintu ruangan yang selama ini tidak pernah ia jamah sekalipun saat harus pulang ke rumah. Ruang kerja sang ayahnya.

Pria itu sengaja datang lagi untuk bertemu dengan ayahnya. Entah sebagai apa, seorang jaksa, atau bahkan sebagai seorang… anak.

"Rasanya seperti sudah berabad-abad tidak melihatmu, nak."

Suara berat yang sarat dengan keegoisan dan ambisi kini terdengar serak dan lemah dimakan waktu. Jungsoo melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Suasana yang tidak pernah berubah sejak bertahun-tahun lalu, ketika akhirnya untuk pertama kali ia diizinkan masuk dan menggunakan perpustakaan ayahnya.

Ruangan ini sedikit berantakan karena beberapa orang dari kejaksaan kemarin datang dan menyita banyak barang termasuk komputer dan brankas. Kesaksian Elizabeth Corner berujung pada pengeluaran surat perintah pemeriksaan secara menyeluruh pada Moon Saeyoung. Hal yang begitu dinanti oleh orang-orang naif dengan lencana hukum di keningnya. Termasuk ia sendiri dan Kyuhyun.

Pria itu tersenyum dan tidak melewatkan setiap gerakan Jungsoo sampai saat pemuda itu duduk. "Aku selalu berpikir, jika semua ini akan berakhir, kau adalah orang yang menggedor pintu rumah dan memimpin semua orang untuk mengambil semuanya dariku." Ia menghela napas panjang sebelum melanjutkan. "Tapi ternyata tidak. Kau tidak ada di sana untuk menunjukkan kepadaku surat perintah dengan stempel kejaksaan yang kuat. Aku sedikit kecewa. Tapi juga berterima kasih padamu."

Jungsoo merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya ketika mendengarkan ucapan Moon Saeyoung. Apakah ia harus percaya dengan perkataannya?

"Aku hanya sudah muak bersembunyi. Aku akan segera mengatakan kepada dunia bahwa kau sudah menelantarkan anak kandungmu dan mengirimnya ke negeri orang untuk hidup tanpa orang tua."

Pria tua itu tidak menyangkal sedikitpun. Ia hanya diam.

"Semua orang akan tahu orang tua macam apa kau sebenarnya. Dan satu hal lagi. Aku sudah menemukan anak itu. Ryeowook…"

Seuyoung terlihat memegang erat dadanya. Ia seperti kesulitan bernapas. "Ryeo… wook…"

"Aku sudah pernah dengan jelas mengatakan padamu bahwa suatu hari aku pasti menemukannya. Anak yang mungkin sudah menghancurkan kejayaanmu jika terungkap bertahun-tahun lalu."

Kemudian sesuatu yang tidak pernah terlintas di dalam pikiran Jungsoo selama ini akan terlihat pun terjadi. Air mata… Jungsoo yakin saat ini dirinya tengah melihat air mata seorang Moon Saeyoung.

Pria itu kemudian semakin erat memegang dadanya. Posisi duduknya yang semula bersandar kini mulai menunduk hingga wajah hampir menyentuh kedua pahanya. Keadaan semakin memburuk ketika akhirnya pria itu jatuh sambil berusaha mengatur napasnya yang terasa sangat berat.

Jungsoo yang saat itu tidak percaya apa yang dia lihat langsung tersadar kalau ayahnya berusaha mengambil segelas air dan justru menjatuhkannya ke lantai. Ia segera menghampiri sang ayah dan memeriksa jika ada sesuatu yang salah. Tidak ada kebohongan di sana. Tubuh pria itu sangat dingin dan wajahnya terlihat kepayahan menahan rasa sakit.

Tanpa pikir panjang ia mengeluarkan ponsel untuk memanggil bantuan medis, dan kemudian berteriak lewat pesawat telepon internal untuk memanggil para pegawai di rumah.

Apa yang terjadi?

Apakah nama Ryeowook begitu mempengaruhi hidupnya?

Tapi saat ini Moon Saeyoung bahkan sudah lebih dulu mundur dari ambisinya menjadi orang nomor satu di negeri ini. Jadi apa yang akan terjadi jika Ryeowook bertemu dengan pria ini?

Tidak sampai sepuluh menit, suara sirine mobil ambulan tiba di kediaman mereka. Sebelum tubuh ayahnya dibawa oleh petugas medis yang datang, ia merasakan tangannya digenggam. Saat itulah Jungsoo terkejut saat mendekatkan telinganya pada tubuh sang ayah. Pria itu membisikkan sesuatu sebelum orang-orang dengan pakaian serba hijau itu membawanya…

"Aku ingin bertemu dengan anak itu… sebelum semuanya terlambat."

oOo

"Apa kau yakin ingin ikut? Tidakkah sebaiknya kau istirahat di rumah?"

Kyuhyun mendapati Ryeowook yang sudah masuk ke dalam mobilnya lebih dulu saat akan berangkat ke markas. Selama pemuda itu dirawat, ada banyak hal yang terjadi di luar. Salah satunya adalah tentang Menteri Moon SaeYoung yang mengundurkan diri dari daftar calon presiden di tahun ini.

Setelah menerima kesaksian dari kepala rumah tangga di kediamannya, Elizabeth Corner, penyuapan dan pembunuhan terus mengarah kepada pria tersebut. Kyuhyun tidak tahu jika Elizabeth Corner akan memegang peranan penting terhadap kasus ini. Wanita itu telah menyandang status tersangka karena terindikasi merupakan kaki tangan Moon Saeyoung.

Dan jika interogasi kali ini kembali menemukan sesuatu, sudah bisa dipastikan bahwa dia akan didakwa bersama dengan sang Menteri di pengadilan setelah orang itu keluar dari rumah sakit untuk kasus penggelapan dana pemerintah, penyuapan, dan pembunuhan berencana.

Ryeowook menatap Kyuhyun yang terlihat cemas. Pria itu terlihat begitu lelah karena tidak pernah beranjak dari sisinya sejak ia dilarikan ke rumah sakit. "Aku tidak ingin melewatkan semuanya lagi. Mereka adalah orang-orang yang dekat denganku di masa lalu."

Kyuhyun menghela napas berat, ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Ryeowook nanti. Jika hanya dengan mengingatnya saja sudah membuatnya jatuh pingsan berkali-kali, bagaimana jika dia harus bertemu langsung dengan orang-orang itu?

"Aku tidak bisa menghentikanmu lagi, kan?" ia menyerah untuk berdebat. Kyuhyun cukup megirim pesan kepada para 'orang tua' bahwa dirinya akan membawa Ryeowook ke markas dan menyaksikan proses interogasi Elizabeth Corner. Pengasuhnya terdahulu. Jadi jika terjadi sesuatu pada Ryeowook, ia berharap semuanya akan siap siaga.

Ryewook menggenggam tangan Kyuhyun, kali ini dia lah yang berusaha menenangkan pria itu. "Mengingat semuanya saja tidak cukup bagiku. Karena setelah mendapatkan ingatan itu kembali, ada hal yang benar-benar tidak kuketahui alasannya sampai saat ini.

"Apa lagi yang ingin kau ketahui?"

"Kenyataan mengapa aku tidak meminta bantuan saat itu."

Ryeowook pernah bertemu dengan Elizabeth beberapa kali saat dia dan Jungsoo berada di rumah kediaman Moon Saeyoung. Jadi ia tidak kesulitan untuk mengenali wanita yang duduk di dalam ruangan kecil itu. Wajahnya terlihat sangat kepayahan begitu serasi dengan seragam penjara oranye yang terlihat menyedihkan.

Tidak tahu apa yang saat ini ia rasakan, sejak awal bahkan saat dirinya belum mengingat apapun, Ryeowook begitu terganggu dengan kehadiran wanita ini.

Kyuhyun, Ryeowook, dan beberapa anggota kepolisian berada di ruang monitor yang dibatasi oleh cermin tak tembus pandang. Mereka bisa mengawasi keadaan di ruang interogasi, namun sebaliknya orang di dalam ruangan tersebut tidak akan bisa melihat para petugas yang sedang mengawasinya.

"Baiklah Elizabeth Corner. Kuharap hari ini kau lebih bisa bekerja sama dan menjawab semua pertanyaan tanpa bertele-tele. Kami muak dengan pernyataanmu yang berubah-ubah sejak pertama kali kita bertemu di sini."

Ryeowook mulai mendengar suara petugas yang memeriksa tersangka di dalam sana dari sebuah pengeras suara.

"Aku sudah mengatakan semuanya kemarin. Apa kalian belum puas juga?"

Tatapan mata seorang Elizabeth sudah tidak fokus. Ia mulai memandang ke segala arah. Tipikal depresi dini yang terjadi pada seseorang yang mengalami trauma pada sebuah proses interogasi yang intens.

"Apa kau yakin bahwa semua perintah itu langsung kau terima dari Moon Saeyoung?"

"Ya. dia dalang dari semua ini."

"Lalu kenapa saat pertama kali kau datang justru mengatakan bahwa tidak ada intruksi pembunuhan? Dua buronan sudah memberikan pernyataan bahwa mereka dengan sangat jelas menerima perintah untuk meracuni komisaris Lee dan juga Im Yeosom."

Elizabeth menyeringai.

"Apa artinya semua itu jika kalian justru kehilangan mereka?"

Semua orang di ruang kontrol terkejut ketika si petugas menggebrak meja dengan sangat keras yang terdengar lebih keras dari sini. Jika saja semua ini tidak terekam, Ryeowook sangat yakin bahwa petugas itu akan menggunakan kekerasan saat ini. Laki-laki atau perempuan dianggap sama di dalam sana.

"Jangan main-main dengan kami! Jawab saja kenapa kau berbohong saat itu."

"Semua orang melakukannya, detektif. Itu interogasi pertamaku. Dan aku harus melindungi diri sendiri."

"Lalu sekarang apa ada yang masih kau sembunyikan?"

"Tidak."

"Kau yakin?"

"Aku saudah mengatakannya ratusan kali."

"Bahkan untuk identitas aslimu?"

"Jangan mengada-ada. Aku jelas adalah warga negara asing. Kalian akan mendapatkan masalah dengan keduataan jika memperlakukanku seenaknya."

"Lalu kenapa bisa ada fotomu bersama dengan Lee Inyoung?"

Untuk sejenak ruangan itu sunyi. Tidak ada reaksi dari Elizabeth Corner dengan pertanyaan tersebut. Sementara itu di dalam sini, Ryeowook sangat yakin pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Lee Inyoung…

Petugas itu menunjukkan sebuah foto di atas meja.

"Di sini tertulis. 'Lee Inyoung, Lee Inha, forever sibling' . Jadi bagaimana kau menjelaskan ini, Lee Inha-ssi?"

Ryeowook menyentuh pundak Kyuhyun dan berbicara dengan pelan, "Foto itu. Bisa kau tunjukkan padaku?"

"Maksudmu yang mereka sebut Lee Inyoung?"

Ryeowook mengangguk.

"Ryeowook-ah, kau terlihat gugup. Kita bisa pulang sekarang. Interogasi masih akan berlangsung sangat lama. Aku bahkan tidak tahu kapan ini akan berakhir."

Ryeowook menggeleng. "Foto itu Kyuhyun. Aku ingin melihatnya."

"Sangat sulit membawa barang bukti keluar untuk saat ini. Sekarang kasus ini bukan lagi tanggung jawab divisi kami." Kyuhyun menolak dengan halus. Entah apa yang akan terjadi jika Ryeowook sampai melihat foto itu. Ia sangat yakin bahwa kekasihnya kembali mengingat sesuatu.

Tidak hanya Ryeowook, saat ini Kyuhyun bahkan lebih gugup dengan foto itu.

"Kyuhyun…" Ryeowook kembali meminta. Ia terlihat putus asa ingin melihat foto itu. Dan bagaimana lagi caranya agar Kyuhyun bisa menolak. Kondisi Ryeowook masih sangat rentan saat ini. Kejutan sekecil apapun akan mempengaruhi fisiknya.

"Oke. Aku akan mengusahakannya. Tapi untuk saat ini kumohon dengarkan aku. Kita pulang, dan kau akan beristirahat di rumah."

oOo

"Aroma terapi ini cukup menyenangkan, bukan? Aku berkeliling Myeongdong untuk mendapatkan kualitas yang paling bagus." Kyuhyun duduk di samping bath-up dimana Ryeowook kini bersandar dengan nyaman di dalamnya. Busa-busa dengan aroma menenangkan membuat pemuda itu memejamkan kedua mata, menikmati kemanjaan yang diberikan Kyuhyun sejak mereka sampai di apartemen.

Kyuhyun menatap ukiran Tuhan di hadapannya dengan tatapan penuh kasih. Walaupun ia tahu Ryeowook bukan diciptakan untuknya, ia tetap merasa bahagia bahwa dirinya sudah berhasil mencuri figur ini dari siapapun wanita yang mungkin sudah ditakdirkan menjadi pasangannya.

Semua mungkin akan terasa jauh lebih baik jika Ryeowook tidak mengingat semuanya. Bagi Kyuhyun, hidup pemuda itu dulu tidak lagi penting. Ryeowook hidup dengan baik walau tidak mengingat apapun di masa lalu selama ini. Casey dan Andrew sudah melakukan peran terbaik mereka sebagai orang tua yang hebat. Dan ia berjanji untuk melakukan yang sama—bahkan lebih baik daripada orang tua angkat Ryeowook. Untuk itulah ia memutuskan untuk berhenti mencari tahu tentang masa lalu Ryeowook dan mulai menjaganya seperti insan normal lain yang saling memiliki.

Kehadiran orang seperti Ryeowook mungkin bukan yang pertama, namun Kyuhyun bisa pastikan bahwa pemuda itu adalah yang terbaik untuknya. Ambisinya tidak lagi menguasai, walaupun pada akhirnya memang obesesi terhadap Moon Saeyoung akhirnya berujung pada sebuah pembalasan yang setimpal. Setidaknya tugas Kyuhyun berakhir sampai pada tahap bahwa masyarakat di negeri ini tidak harus khawatir akan memiliki pemimpin yang buruk.

Dapatkah ia dan Ryeowook bahagia?

"Ryeowook… haruskan aku ikut bergabung denganmu di dalam sana?

Tubuh mereka basah dan tanpa busana. Menyatu dengan indah dan bergerak seiring dengan irama di dalam kepala keduanya. Kolam mandi ini memang terlalu besar untuk dinikmati seorang diri. Ryeowook tidak akan pernah menolak tubuh Kyuhyun yang memeluknya dengan lembut dan hati-hati. Diperlakukan seperti sebuah benda berharga adalah candu tersendiri baginya.

Dan Kyuhyun tahu itu. Dengan jemarinya yang basah, ia mulai menyentuh bagian-bagian sensitif dan membangkitkan birahi. Di tempat ini ia harus lebih berhati-hati dan cekatan. Air sabun yang licin membuat sentuhan-sentuhan itu terasa menggila di tubuh Ryeowook. Pemuda itu hampir tidak bisa menahan gemuruh di perutnya yang memaksa keluar lebih cepat.

Namun tidak bisa dipungkiri jika Kyuhyun mengetahui hal itu dan mencoba agar permainan mereka tidak cepat berakhir. Ia menutup mulut Ryeowook dengan bibirnya untuk mengurangi lenguhan-lenguhan panjang demi menjaga reaksi pada tubuhnya sendiri. Bahkan hanya dengan erangan dari pemuda itu bisa membuat Kyuhyun hilang kendali.

"Air ini seharusnya menjadi lebih dingin, tapi kenapa rasanya tubuhku begitu panas?" Ryeowook mengoceh ketika Kyuhyun memindahkan lidahnya untuk menikmati sedikit benda kecil yang mengeras di dada Ryeowook. Ia bisa merasakan rambutnya diremas seiring dengan tubuh kekasihnya yang menegang.

Sesuatu mengeras di tangannya. Namun Kyuhyun tidak bisa menikmati benda itu di dalam mulutnya karena posisinya yang terendam air. Dengan begitu, ia melampiaskan ketidakberdayaan hasratnya dengan menjilati tubuh Ryeowook.

Frustasi bukan hanya milik Kyuhyun. Ryeowook yang sedari tadi hanya menerima perlakuan kekasihnya kini mulai mencari-cari sesuatu di dalam air. Tangannya kemudian menemukan benda kenyal dan mulai memainkannya di dalam sana. Ryeowook bisa merasakan panas tubuh Kyuhyun meningkat saat permaianan tangannya menghasilkan sesuatu yang sama keras dengan miliknya.

"Berbalik, Ryeowook!" Kyuhyun tiba-tiba memerintah dengan berbisik.

Ryeowook menuruti perintah tersebut. Tubuhnya kini membelakangi Kyuhyun dan dengan cepat meraih pinggir bath-up hingga seluruh punggungnya terekspos. Begitu putih dan halus. Seakan lampu di kamar mandi tersebut juga menambah keindahan pantulannya di kulit tubuh Ryeowook yang basah.

Setelah satu, dua, bahkan tiga jari Kyuhyun berhasil membuka jalan masuk kenikmatan puncak mereka, ia menggantinya dengan sesuatu yang lebih besar. Hal itu membuat Ryeowook berteriak.

"Kyuhyun…"

Hanya nama itu yang keluar dari mulut Ryeowook. Tubuhnya bergetar ketika Kyuhyun mendorong lebih jauh dan dalam. Kepalanya terangkat dengan semua kenikmatan yang iya dapat dari kedua sisi. Saat dari belakang begitu intens, di depan, tangan Kyuhyun bahkan membuatnya menggeliat lebih gila lagi.

"Fast…er…"

Ia bahkan tak percaya sudah memohon seperti itu. Dan ketika sesuatu meledak dari tubuh mereka, saat itulah keduanya percaya sudah menjadi satu.

"Bukankah kau menyuruhku untuk beristirahat?"

Ryeowook bertanya dengan napasnya yang tidak teratur. Dirinya tak percaya bahwa setelah mereka melakukannya kembali di atas ranjang, Ryeowook tetap menginginkan Kyuhyun berada di tubuhnya saat kedua orang itu menikmati segelas wine di balkon apartemen.

"Lalu kenapa kau bereaksi berlebihan seperti ini? Tadinya aku hanya ingin memelukmu dari belakang." Kyuhyun berbisik. Satu tangannya masih memegang gelas anggur saat tangan yang lain mulai mengangkat kimono yang dikenakan Ryeowook. Setelah semua yang terjadi di dalam kamar mandi dan di atas ranjang, pemuda itu sudah tidak ingin merepotkan dirinya untuk memakai pakaian lengkap. Toh ia tidak akan tahu kapan Kyuhyun akan menyerangnya kembali.

"Seseorang akan melihat kita, Kyuhyun." Ryeowook terus melancarkan protes walaupun tubuhnya sudah tidak bisa lagi menolak.

"Saat ini sudah pukul dua pagi, hanya pemabuk yang masih berkeliaran di bawah sana. Lagi pula ini lantai delapan belas. Orang akan mengalami sakit leher jika menengadah ke tempat ini."

"Bagaimana jika ada melihat dari balkon lain?"

"Mereka hanya sedang tidak beruntung."

"Kau memang gila."

"Kau yang membuatku gila."

oOo

"Bagaimana rasanya saat sudah mengingat banyak hal?" Kyuhyun dan Ryeowook menikmati matahari pagi di atas selimut tebal mereka dari balik jendela kamar. Rasanya seperti mereka hanya ingin posisi ini selama mungkin.

Ryeowook menyesap coklat panasnya dan terdiam sesaat. "Entahlah. Aku seperti tidak lagi merasa kosong. Aku tahu mengapa aku dilahirkan ke dunia ini."

"Tiba-tiba memiliki seorang ayah dan kakak dengan kehidupan yang kompleks. Aku sangat ingin tahu bagaimana kau menahannya hingga detik ini." Kyuhyun menatap langit yang cerah, tidak terganggu sedikitpun dengan sengatan kecil di kulit wajahnya. "Sejak Moon Saeyoung dikabarkan masuk rumah sakit karena serangan jantung, tidak ada yang bisa menyentuhnya. Jungsoo mungkin memblokir semua jalan media. Ck… orang itu. Pada akhirnya tidak berdaya saat ayahnya berada pada kondisi paling menyedihkan."

"Kyuhyun… dia juga ayahku jika kau ingin tahu."

Perkataan itu membuat Kyuhyun menoleh dan menatap Ryeowook. Jelas sekali ia sama sekali lupa dengan kenyataan tersebut, atau mungkin hanya karena pengetahuan itu tidak datang dari mulut Ryeowook sendiri.

"Aku masih berharap itu tidak benar."

"Kau pasti sudah melihat hasil test DNA ku dengan Jungsoo hyung. Kami memang bersaudara. Walau hanya dari satu ayah."

Kyuhyun akhirnya menyerah. Ia menghela napas untuk mengeluarkan sisa-sisa ketidakpuasannya terhadap kenyataan. "Apa dia memperlakukanmu dengan baik saat itu?"

Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari mulutnya. Tidak tahu apakah tepat untuk diungkapkan saat ini.

"Bahkan sangat baik." Ryeowook menjawab pelan. "Aku mungkin tidak akan meminta apa-apa lagi jika kami bisa hidup normal seperti anak-anak lainnya. Aku sudah sangat aneh sejak dulu, dan hanya dia yang bertahan dengan itu semua. Jungsoo hyung bahkan ikut ambil bagian dari kegilaan masa-masa kecilku."

"Aneh sekali. Untuk sesaat aku bisa merasakan penderitaannya."

Ryeowook tersenyum. Ia tahu Kyuhyun menggunakan istilah 'penderitaan' bukan tanpa alasan. Pertemuan mereka memang selalu menjadi hal yang rumit. Namun pria ini bertahan, bahkan ketika hal terburuk terjadi."

"Aku hanya ingin mengetahui beberapa hal dari orang itu. Jadi kuharap sakitnya tidak terlalu parah agar aku bisa segera bertemu dengannya."

"Dia juga masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."

Mereka terdiam untuk beberapa saat. Sibuk dengan apapun yang ada didalam pikiran masing-masih. Jika pada akhirnya semua orang akan mendapatkan balasan dari setiap perbuatan, bukankah Kyuhyun masih memiliki satu pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan?

"Kyuhyun-ah… saat aku mengatakan bahwa aku dan Jungsoo hyung sangat kompak, sebenarnya ada satu hal yang selama ini membuatku bingung."

"Apa itu?"

"Kenapa dia sangat membenci ayahnya."

Kyuhyun mengerutkan kening karena tidak mengerti. Bukankah semua orang memang membenci lelaki tua itu? "Alasannya mungkin sama denganku." Ujar Kyuhyun.

Namun Ryeowook menggeleng. "Jauh sebelum itu. Saat kami masih kecil."

"Memangnya kau tidak membencinya?"

"Selama pemakaman ibuku… dia tidak berhenti menggenggam tangan ini. Saat semua orang berbohong dan berpura-pura sedih serta mengatakan bahwa ibuku adalah orang baik. Orang itu justru mengatakan sesuatu padaku…"

"Ryeowook-ah… terima kasih karena memberikan kesempatan padaku untuk membesarkanmu."

oOo

"Aku tidak melihat apa-apa tadi. Tapi kau benar-benar… waah… Dokter Jung, sekarang aku benar-benar mengagumi kemampuanmu. Pasangan O'Connell tidak main-main dalam mencari orang untuk posisi ini di rumah sakit."

Yunho hanya tersenyum mendengar pujian yang tidak henti-hentinya dilontarkan oleh rekan kerjanya di bagian bedah saraf. Hari itu ia berhasil mengoperasi seorang anak kecil yang menderita Bell's Palsy (Penyakit saraf yang mempengaruhi otot wajah seseorang). Operasi yang beresiko karena kerusakan saraf terletak pada bagian yang krusial. Ketika semua dokter angkat tangan dan menolak untuk mengoperasi anak tersebut karena dinilai akan sia-sia, Yunho justru mematahkan semua teori tersebut.

Kini hanya perlu menunggu perkembangan efek anestesi yang diberikan kepada pasien. Jika anak itu sadar, maka semuanya akan sempurna.

"Oh? Kau mau kemana?"

Yunho menoleh dan baru menyadari bahwa dirinya mengambil jalan yang berbeda dari rekannya tersebut. "A-ah… itu… aku akan melihat keadaan dokter Lee sebentar." Karena sudah kepalang tanggung, ia akhirnya memutuskan untuk jujur.

"Yaaah~ kalian sangat dekat ternyata. Aku saja tidak pernah melihat keluarganya datang menjenguk. Tapi kau justru melakukannya setiap hari."

Dokter itu tersenyum getir. Ia mengakui bahwa untuk kali ini dirinya tidak bisa pura-pura tidak peduli terhadap Sungmin. Masih ada sedikit rasa bersalah yang Yunho rasakan mengenai kecelakaan yang menimpa pemuda itu. Jika saja… jika saja saat itu ia bereaksi lebih cepat dengan orang yang melukai Sungmin, mungkin semuanya tidak akan terjadi.

"Kalian duluan saja. Nanti aku menyusul."

Yunho berjalan menyusuri lorong ruang perawatan kelas utama. Tidak banyak yang lalu lalang saat itu karena memang sudah terlalu malam untuk jam besuk. Ia hanya berpapasan dengan seorang perawat di sana dan selebihnya sepi.

Ruangan Sungmin dirawat terletak paling ujung lorong. Dokter muda itu sudah dipindahkan setelah para ahli yang bertanggung jawab menyatakan bahwa dirinya sudah melewati masa kritis dan tidak perlu lagi terbaring di ICU. Walaupun belum ada tanda-tanda kesadaran, namun semua orang terlihat sudah bisa sedikit bernapas lega. Jika Sungmin sadar, maka dia tidak lagi bergantung dengn alat-alat yang saat ini menempel di tubuhnya.

Botulinum memang bukan racun yang mengancam jika mendapat pertolongan yang cepat. Korban yang meninggal karena zat kimia ini biasanya memang tidak mendapat pertolongan pertama yang sepatutnya.

Ketika sampai di depan pintu, Yunho heran karena pintu tidak tertutup sempurna. Karena tidak ada orang yang akan menjenguk di jam seperti ini, ia berpikir betapa cerobohnya perawat yang baru saja keluar dari ruangan ini.

Namun saat ia hendak menggesernya untuk memberikan ruang agar bisa masuk, Yunho mendengar seseorang berbicara pelan.

"Untuk apa kau pergi jika pada akhirnya harus tebaring seperti ini?"

Suara seorang wanita. Tapi siapa?

"Kau tahu? Kini hidupku sudah hancur. Tidak ada lagi yang percaya pada keluarga kami. Semua orang menjauh seperti aku dan keluargaku adalah sekumpulan manusia dengan penyakit menular."

Yunho bisa merasakan bahwa wanita itu bicara sambil terisak. Suaranya gemetar seperti orang yang putus asa.

"Mereka bilang… saat ini kau sangat bergantung kepada selang-selang ini." Wanita itu terlihat mengusap selang oksigen yang tergantung di samping tempat tidur Sungmin. "Apa kau akan mati jika aku merusak ini?"

Dan untuk sesaat Yunho seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Wanita itu kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Butuh beberapa detik untuk dirinya bisa menyadari bahwa benda itu adalah sebuah suntikan. Wanita itu menyuntikan sesuatu di selang infus Sungmin.

Dengan begitu Yunho langsung menghambur masuk ke dalam ruang perawatan dan meraih lengan si wanita hingga pemiliknya tersentak.

"Apa yang kau lakukan?"

Wanita itu sangat tidak menyangka bahwa akan ada yang memergokinya. Kedua mata melotot seperti hampir saja melompat dari tempatnya. Ia menatap Yunho ketakutan.

"Kubilang apa yang sedang kau lakukan di sini?!"

Bentakannya mungkin sanggup membangunkan seisi rumah sakit jika saja tidak ada teknologi yang bernama dinding peredam suara.

"L-lepaskan aku…. Dia… pantas masti…"

Mendengar jawaban yang begitu putus asa membuat Yunho terkejut dan semakin erat menggenggam pergelangan tangan wanita itu. Ia bisa merasakan kedutan hebat di area tersebut. Jelas sekali bahwa wanita itu ketakutan setengah mati. Yunho hanya bisa menatap kejam sampai akhirnya alat di sebelah mereka berbunyi, yang menandakan bahwa memang ada yang tidak beres dengan Sungmin.

Yunho baru sadar bahwa untuk sekali lagi ia terlambat. Wanita itu sudah menyuntikkan apapun itu ke selang infus Sungmin.

Tidak butuh waktu lama untuk mendatangi para perawat beserta dokter jaga ke ruangan Sungmin dirawat. Kini semua orang sudah berkeliling dan memberikan pertolongan darurat kepada pasien. Tubuh Sungmin mengalami kejang setelah sesuatu dimasukkan ke dalam selang infusannya. Defibrillator untuk saat ini terlalu berbahaya karena kemungkinan besar Sungmin justru tidak akan bisa bangun lagi. Karena itu Yunho sekarang terlihat sedang memberikan pompa jantung dengan kedua tangannya sendiri.

"Satu… dua… tiga… empat… lima… enam… ayolah Sungmin… bertahanlah… sebelas… dua belas…"

"Dokter, ini tidak akan berhasil"

Seorang perawat berseru mengingatkan.

"Apa kau mau mengatakan kalau aku harus menggunakan alat kejut itu?!" Yunho berseru kesal, masih sambil menekan-nekan dada pasien.

"Detak jantungnya semakin melemah! Pasien kehilangan kemampuan untuk bernapas!"

"Issh!" Kemudian Yunho melepas selang oksigen di wajah Sungmin dan menggantinya dengan CPR manual…

Yunho terus berkonsentrasi memberikan napas buatan untuk Sungmin. Sekali… dua kali… mereka belum juga bisa membuat Sungmin kembali.

"Sungmin kumohon…"

Sekali lagi… Yunho menempelkan bibirnya pada mulut Sungmin dan menghembuskan napas panjang.

Bip… bip… bip… bip…

Lalu sebuah suara 'kehidupan' kembali mengudara. Dan semua wajah panik di sana akhirnya bisa berubah lega.

Sungmin lagi-lagi selamat…

oOo

"Kau ini sebenarnya siapa sih? Kenapa banyak orang yang ingin membunuhmu?"

Setelah kejadian yang menimpa Sungmin beberapa hari lalu, akhirnya dokter muda itu berhasil membuka mata dan dinyatakan sadar sepenuhnya. Atas persetujuan direktur rumah sakit, Sungmin dipindahkan ke ruang perawatan VIP untuk memperoleh keamanan khusus selama pemulihan.

Yunho kini lebih sering berada di ruangan dimana Sungmin dirawat. Setelah kejadian malam itu, ia begitu tidak tenang jika tidak melihat sendiri keadaan Sungmin. Sedikitnya Yunho akan mengunjungi Sungmin lima sampai enam kali dalam sehari. Dan jika saja tidak ada jadwal operasi pada hari itu, ia akan berada di ruangan Sungmin lebih lama.

Sungmin mendongak mendengar pertanyaan Yunho yang tiba-tiba. Pria itu sedang mengganti kantung infusnya dengan yang baru.

"Aku tidak berani membayangkan jika akan ada yang ketiga kalinya nanti. Hidupmu benar-benar bisa membuat orang jantungan. Pengalamanku saat menjadi relawan di jalur Gaza saja tidak sampai seperti ini. Kau tahu? Di sana banyak sekali orang mati, tapi aku hampir tidak pernah menemukan yang sekarat sepertimu."

Dokter muda itu masih diam dan mendengarkan Yunho bicara. Sesungguhnya ada hal yang membuatnya terkejut dibandingkan lega ketika akhirnya bisa membuka mata. Saat itu wajah seseoranglah yang tertangkap sangat dekat dengan wajahnya. Sebuah ekspresi cemas dan kacau ketika hampir kehilangan seseorang dengan sangat jelas terpampang di wajah tersebu. Dan rasanya aneh saat mengetahui bahwa ekspresi itu muncul karena dirinya.

Untuk dirinya…

"Hampir saja aku mengajukan untuk memasang kamera pengawas di dalam kamar ini. Karena ada satu pelakunya yang belum tertangkap, jadi kurasa mereka belum menyerah. Aku takut mereka kembali lagi dan mencelakaimu."

"Kenapa…" akhirnya, untuk pertama kalinya sejak ia bangun, Sungmin berhasil bersuara.

"Huh? Kenapa apanya?" Yunho menatap Sungmin dengan bingung.

Namun Sungmin tidak meneruskan kalimatnya. Saat itu ia hanya menatap wajah Yunho yang sepertinya memiliki penampilan berbeda dari biasanya. Pria itu sudah memotong rambut dan membiarkan sebagian helai warna hitam alaminya menutup kening. Lebih terlihat segar dengan gaya modern penduduk metropolitan. Dokter itu juga bercukur. Wajahnya terlihat bersih walaupun bekas luka di bawah mata kanannya masih terlihat samar. Luka yang ia dapatkan ketika menjadi relawan di negara konflik.

Tapi secara keseluruh, Yunho terlihat begitu 'Seoul' di mata Sungmin saat ini.

Kemudian Sungmin menggeleng dan menelan kembali kata-katanya. Saat itu ia kemudian tersenyum dan mengucapkan "Terima kasih."

oOo

Walaupun tidak ada tuntutan apapun yang dilontarkan Sungmin, atas perintah Ryeowook, rumah sakit akhirnya menindaklanjuti percobaan pembunuhan yang ternyata dilakukan oleh mantan istri Lee Sungmin itu ke jalur hukum.

Wanita itu kini mendekam di penjara untuk melakukan beberapa pemeriksaan terkait penyerangan yang dilakukan di rumah sakitnya. Ayah dan anak menjadi narapidana. Semua orang pasti bisa membayangkan bagaimana hancurnya keluarga itu. Namun tindakan kriminal apapun tidak akan pernah ia biarkan lolos jika terjadi di sekitar rumah sakitnya. Cap Off adalah tempat yang ia dan orang tuanya bangun dengan susah payah. Mereka tidak akan membiarkan satu… tidak… dua kejadian buruk mempengaruhi citra rumah sakit. Bahkan secara tegas ia meminta Kyuhyun untuk tidak dengan mudah melepaskan wanita itu.

Lalu sebuah ketukan menginterupsi lamunannya pagi ini. Ryeowook menoleh dan mendapati Jungsoo sudah berdiri di ambang pintu.

Pria itu tersenyum saat memasuki ruangan. Ia menguatkan diri ketika tidak mendapat balasan apapun dari Ryeowook dengan senyumannya tersebut. Tahu bahwa semua ini begitu tiba-tiba untuk pemuda di hadapannya ini, Jungsoo memutuskan untuk mundur perlahan dan tidak mengungkit apapun, kecuali jika Ryeowook yang memulainya.

"Kau sudah terlihat lebih baik. Bagaimana dengan lukamu?" Jungsoo tidak menunggu dipersilahkan untuk bisa duduk di sofa tamu ruangan tersebut. Ia hanya berusaha bersikap sealami mungkin. Untuk sekarang bukan sebagai seorang kakak laki-laki, tapi hanya sebagai seorang teman.

"Aku tidak tahu darimana kau bisa mengatakan bahwa aku terlihat lebih baik. Sekarang ini aku merasa tidak baik-baik saja. Dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan luka sayatan di tubuhku."

Jungsoo mencoba memahami perkataan Ryeowook yang terdengar sangat dingin di telinganya. Namun ia tahu, Ryeowook bukanlah orang yang akan menghindar. Untuk itulah dirinya memberanikan diri datang bertemu langsung.

"Aku tidak akan berpura-pura tidak tahu bagaimana perasaanmu sekarang ini. Tapi semuanya adalah kenyataan yang baik aku ataupun kau bisa abaikan. Aku hidup sampai hari ini karena masa lalu. Dan kurasa kau juga begitu."

Ryeowook tidak menyangkalnya. Cepat atau lambat ia memang harus berhadapan dengan kenyataan. Masa lalu adalah hal utama yang menjadi tujuannya kembali ke Seoul. Jadi akan sangat aneh jika dirinya tidak bisa menerima saat semua itu akhirnya terpampang jelas.

"Bagaimana caranya kau bisa yakin bahwa aku adalah Ryeowook? Adikmu." Pada akhirnya daripada berspekulasi, Ryeowook memutuskan untuk bertanya saja.

"Kau ingat hari dimana aku menusuk jarimu karena masalah pencernaan?"

"Oh, jadi kau menggunakan DNA."

"Aku tidak bisa yakin jika hanya membandingkannya dengan DNA-ku. Karena kita tidak se-ibu. Jadi saat itu kuputuskan untuk memakai DNA ayah. Walaupun sebenarnya data itu hanya pendukung."

"Pendukung? Apa maksudmu?"

Jungsoo tersenyum. Ia memikirkan hal paling penting itu di kepalanya. "Saat pertama kali kau datang ke rumah, aku tidak bisa melupakan sorot mata itu. Jika sebagian besar kenangan bersamamu hilang seiring berjalannya waktu, aku memiliki kepercayaan diri untuk satu ingatan itu. Kau… memiliki mata paling indah saat itu. Hingga aku sangat yakin bisa mengingatnya seumur hidup."

Ryeowook bisa merasakan jantungnya berdenyut. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Memeluknya? Atau justru menghajarnya?

Sang jaksa menatap Ryeowook lekat-lekat. Ini pertama kalinya pemuda itu menunjukkan sorot mata seperti itu padanya. Sejauh ini mereka mungkin baik-baik saja sebagai seorang kenalan. Namun sekarang ketika status itu berubah menjadi lebih dekat, rasanya memang akan ada yang aneh.

Jungsoo sebenarnya membayangkan reaksi yang sedikit dramatis saat ia akhirnya bisa mengatakan semua kenyataan yang berhasil dikumpulkan. Menyampaikan kepada orang yang sebelumnnya asing tentang fakta bahwa mereka bersaudara adalah hal yang tidak akan mudah dipercaya. Tapi ia sudah memikirkan banyak cara untuk meyakinkan sedikit demi sedikit. Semuanya terasa sangat sempurna sebelum akhirnya Kyuhyun menjadi satu-satunya yang masuk ke dalam cerita mereka dan merubah isi dari cerita yang ia susun selama ini.

Jika saja Kyuhyun bukan siapa-siapa baik Ryeowook maupun dirinya, Jungsoo mungkin tidak akan terlalu pusing memikirkannya.

"Kau tahu kan, kalau aku tidak akan mudah mempercayai sesuatu?" Ryeowook kini sudah duduk berhadapan dengan tamunya di sofa ruangan. Duduk di tempat itu sedikit banyak membuat lukanya sedikit terasa sakit.

"Aku justru membayangkan reaksi 'ketidakpercayaan' yang cukup epik yang mungkin akan terjadi. Saat ini aku merasa yang paling terkejut karena kau begitu tenang saat mengetahui semuanya. Yah, mengingat bahwa kau sempat tidak sadarkan diri, aku masih berterima kasih karena tidak ditendang keluar sekarang." Jungsoo mengatakan itu sambil sedikit bercanda, berharap bahwa atmosfer mereka bisa sedikit mencair.

Tapi sepertinya memang belum bisa. Karena Ryeowook masih memasang ekspresi yang tidak bisa ditebak sekarang. "Tidak semuanya kalau kau ingin tahu."

"Lalu apa masih ada yang ingin kau ketahui?"

Ryeowook terlihat berpikir. Maksud hatinya begitu rumit hingga agak kesulitan untuk merangkainya menjadi kalimat-kalimat tepat sasaran.

Setelah beberapa detik yang terasa panjang, Ryeowook menghela napas dan tersenyum menatap Jungsoo. "Ayo temui ayah."

oOo

Kyuhyun dan satuan kepolisian pusat akhirnya memutuskan untuk mengerahkan tim pencari setelah sebuah kabar tentang keberadaan Him Cheol yang lari ke pinggiran kota. Seseorang telah mengaku melihat sosok buronan tersebut pada malam penyerangan terhadap Sungmin. Namun langsung menghilang ketika sampai di bukit taman kota yang dikelilingi oleh hutan-hutan.

Walaupun tempat yang ramai dikunjungi oleh orang-orang, pada malam hari tempat itu tetap saja terlihat menyeramkan.

Dalam perjalanan beberapa petugas tidak menemukan jejak fisik bahwa seseorang pernah melarikan diri ke tempat ini. Namun sebuah kaleng cat tanpa label ditemukan sekitar lima puluh meter dari kaki bukit. Tidak ada sidik jari yang menempel karena sepertinya sudah terhapus oleh hujan yang akhir-akhir ini turun dan menandakan musim dingin akan segera berakhir.

Namun dengan pemeriksaan langsung oleh tim laboratorium yang juga ikut turun dalam pencarian, semua bisa tahu bahwa botol itu adalah alat yang digunakan untuk menyerang Sungmin. Sisa racun Botulinum masih ada di dalam botol tersebut.

"Dia benar-benar melarikan diri ke tempat ini." Minho berkata setelah semua kebisuan dalam pencarian. "Tapi tidak mungkin orang itu bisa bertahan di tempat ini berhari-hari. Jika masih hidup, Him Cheol mungkin sudah pergi ke tempat lain yang lebih hangat."

Kyuhyun diam saja. 'Jika masih hidup' adalah kalimat yang saat ini menjadi doa di dalam hatinya. Ia sangat berharap bahwa malam itu tidak ada hal berbahaya yang terjadi antara buronan tersebut dengan Ryeowook. Membayangkan bagaimana pria itu melukai seorang Nathan Kim membuat jantungnya tidak berhenti berdetak tak karuan. Ryeowook dan psikologisnya yang labil membuat dirinya mungkin saja bisa melakukan hal paling buruk kepada Him Cheol malam itu.

Kemana sebenarnya orang itu?

oOo

Jungsoo tidak bicara selama perjalanan ke rumah sakit. Pria itu sama sekali tidak habis pikir kenapa Ryeowook tiba-tiba saja ingin menemui Moon Saeyoung. Namun walaupun begitu, ia telah berjanji akan membantu Ryeowook untuk mengingat detil apapun yang menjadi masa lalunya.

Ryeowook tahu bahwa baik orang tua O'Connell-nya maupun Kyuhyun tidak akan mengizinkan ini semua. Semua orang begitu terfokus kepada kondisi kesehatan mentalnya saat ini. Tapi seolah mereka semua seperti dikejar oleh waktu yang tak kasat mata, hingga sebelum semuanya menghilang, setiap individu akan berusaha menuntaskan keingintahuan masing-masing.

Moon Saeyoung tengah duduk di ranjang rumah sakit setelah beberapa dokter melakukan kunjungan harian terhadap pasien mereka. Ryeowook terlihat duduk di kursi pengunjung dan menatap pria tua yang kini semakin terlihat tak berdaya itu.

"Ini kunjungan yang cukup mengejutkan. Aku bahkan tidak pernah berani untuk memikirkannya sekalipun. Terlalu takut." Suara itu terdengar lelah. Seperti seseorang yang sudah begitu jauh berjalan dalam hidupnya.

"Takut? Aku tidak pernah mengingat bahwa kau bisa merasa takut." Ryeowook menjawab dengan dingin.

"Entahlah. Mungkin karena itu adalah menyangkut tentangmu."

Ryeowook diam lagi. Perkataan Moon Saeyoung jelas sudah mulai mengacaukan isi kepala dan hatinya.

"Kau selalu menjadi sumber ketakutanku yang paling besar."

Ia merasakan jemarinya yang mulai kebas karena terkepal, menjadi sedikit melemah. Tidak ada yang menyangka bahwa kalimat tadi justru membuat es besar di dalam hatinya sedikit mencair. "Kau sudah mengenaliku sejak awal, bukan?" tanyanya pelan. Hampir seperti sedang berbisik.

Dan untuk pertama kalinya tatapan mereka bertemu.

Untuk sekali lagi, Ryeowook merasakan dunianya berputar dan berganti latar menjadi suasana yang asing. Ia ingat dengan sorot mata itu. Marah, sedih, dan putus asa. Kehilangan seseorang yang berharga adalah hukuman mati bagi sebagian manusia di muka bumi. Beberapa dari mereka bahkan memilih ketiadaan untuk menghilangkan rasa sakitnya. Beberapa memilih melupakan diri sendiri dan hidup terjebak di antara fantasi yang acak, dan hanya sebagian kecil yang mungkin akan memilih menjalankan kehidupannya secara normal kembali.

Tapi pria tua di hadapannya itu memilih ketiganya. Hidup untuk menjalani ketiadaannya, hidup sebagai orang lain yang berbeda dan melupakan diri sendiri seolah sosoknya yang lama sudah mati. Kemudian melanjutkan hidup normal seperti manusia kebanyakan sampai saat ini.

Ryeowook melihat semuanya di mata itu sekarang.

Dan ia merindukannya…

"Kau sudah mengenaliku lebih dulu bukan? Ketika untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di rumah itu sebagai Nathan Kim."

"Tidak ada yang bisa melupakan kedua mata itu."

Lagi-lagi. Baik Saeyoung dan Jungsoo, mereka berdua mengingat sosok Ryeowook dari hal yang sama.

"Lalu kenapa kau diam saja?"

Moon Saeyoung memejamkan matanya sejenak untuk merasakan sensasi sakit yang hampir sudah tidak bisa ia tahan selama beberapa hari ini. Begitu berat beban yang selama ini bersemayam pada tubuhnya hingga menjadikan ia sosok yang sangat serakah. Kemudian pertanyaan Ryeowook hari ini seolah menelanjanginya.

"Sudah kuatakan tadi. Aku takut. Bayangan tentang bagaimana kau tidak bisa lagi kukendalikan hingga berakhir mengurungmu di tempat yang dingin. Hal itu membuatku ingin mati saja."

"Kau memang sudah lama mati. Pria yang tidak melepasakan tanganku dan berkata jujur dibandingkan dengan orang-orang dewasa lainnya sudah lama tiada. Itu sebabnya tidak ada sedikitpun ingatan tentang seorang ayah saat melihatmu."

Baik yang tua maupun yang muda, keduanya berusaha menahan gejolak masa lalu yang saat ini menghantam tubuh mereka. Memukul, menampar, dan menginjak-injak pertahanan diri yang sudah dibangun belasan tahun. Kenangan itu mungkin tidak banyak. Namun tersimpan di ruangan khusus pada diri mereka masing-masing.

"Ryeowook-ah…. Ibumu tidak bersalah. Akulah yang membuat hidupnya seperti itu."

"Jangan membahasnya."

"Dia hanya tidak bisa menahan diri untuk mengingatku saat bersamamu."

"Aku sudah membunuhnya—"

"Tidak! Jangan katakan itu. Kumohon…"

Kemudian air mata itu tidak lagi bisa dibendung. "Aku hidup bersama dengan orang itu tanpa seharipun merasakan kasih sayangnya. Setiap malam aku hanya berusaha memperbaiki tulang dan otot yang dia rusak. Pengalaman yang menakjubkan untuk seorang anak kecil, bukan? Lalu kau bilang apa tadi? dia tidak bersalah?"

"Tapi aku lebih buruk karena sedah memperlakukanmu seperti orang gila—"

"Itu karena aku juga berusaha membunuhmu!"

[…]

"Panggil ambulan, cepat!"

Malam yang sunyi mendadak penuh kekacauan ketika seorang pelayan menemukan tubuh tuan besarnya tergeletak bersimbah darah. Di sampingnya sedang duduk seorang anak laki-laki yang memegang sebuah pisau dapur yang warnanya juga sudah sangat merah dan berbau anyir.

Ryeowook menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut ketika semua orang sibuk melakukan pertolongan pertama pada sang tuan rumah.

Gemetar dan ketakutan. Hanya itu yang nampak dari tubuh kurusnya.

Mabuk membuat Moon Saeyong kehilangan kendali saat kembali ke rumah. Ryeowook mungkin hanya sedang berada di waktu dan tempat yang salah hingga menjadi sasaran kemarahan. Pria itu tidak dapat mengendalikan emosi setelah apa yang menimpa nyonya rumah di keluarga itu. Rasa bersalah seolah tidak cukup untuk membuatnya menjadi gila untuk sementara waktu.

Saat itu Ryeowook yang hanya ingin menyambut kedatangan sang ayah, tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi sasaran keputus-asaan. Entah setan apa yang mempengaruhi pikiran Moon Saeyoung saat itu. Ia menyalahkan Ryeowook atas kecelakaan yang menewaskan sang istri.

Jika saja saat itu mereka tidak bertukar mobil…

Jika saja saat itu sang istri tidak kembali mendekati mobil naas untuk menyelamatkan Ryeowook yang masih terjebak…

Jika saja… jika saja…

Jika saja Ryeowook tidak pernah ada…

Mungkin istrinya bisa lolos dari kecelakaan maut tersebut.

Hal itulah yang ada dalam pikirannya ketika mendapati Ryeowook menyambutnya di rumah. Saeyoung memukul dan memperlakukan anak itu seolah dialah satu-satunya penyebab kematian istrinya. Istrinya yang sudah berbesar hati menerima sebuah perselingkuhan dan anak yang ia bawa dari wanita yang mungkin hanya menginginkan sebuah status.

Kemudian hal yang paling buruk pun terjadi. Seolah tidak ingin lagi diperlakukan seperti sebuah benda menjijikan, Ryeowook mengambil sebuah pisau dapur yang saat itu tergeletak di atas meja makan dan kemudian menusuk bagian perut ayahnya.

Dan sejak saat itu, Ryeowook diperlakukan seperti manusia paling tidak diinginkan di dunia.

Seseorang memerintahkan untuk mengurung dirinya seperti seorang tahanan.

"Jangan pernah keluarkan dia. Bahkan jika ia berteriak sangat keras."

oOo

Setelah melalui banyak sekali pemeriksaan. Hari ini akhirnya Elizabeth Corner akan menjalani sidang pertamanya. Namun jika melihat banyak bukti dan pengakuan selama proses interogasi, jika semuanya berjalan lancar, persidangan ini mungkin juga akan menjadi yang terakhir karena vonis bisa saja langsung dijatuhkan.

Jungsoo melepaskan diri dari kasus wanita itu dan mendadak menjadi pendiam. Entah kesalahan apa yang dirinya perbuat hingga akhirnya merasa dikhianati. Seolah fakta bahwa wanita itu adalah kakak dari ibu kandung Ryeowook belum cukup mengejutkannya.

"Apa benar anda menerima perintah dari saudara Moon Saeyoung untuk membunuh Komisaris Lee Mungyu?"

"Benar."

"Apa alasan yang mendasarinya?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya menuruti permintaannya."

"Baik. Lalu bagaimana dengan orang kedua? Im Yeosom? Apakah Moon Saeyoung juga yang menyuruhmu?"

Elis tidak langsung menjawab. Tangannya yang terborgol terkepal erat hingga otot-ototnya yang tipis menyembul. "Tidak."

"Lalu kenapa anda membunuhnya?"

"Dia… sangat mengganggu…"

Jawaban itu membuat semua yang hadir di persidangan berbisik hingga menimbulkan sedikit kegaduhan. Hakim mengetukkan palu beberapa kali untuk menenangkan.

"Tolong berikan jawaban yang jelas."

"Orang itu hanya kami suruh untuk menyelundupkan perlengkapan Komisaris yang salah satunya adalah parfurm berisi cairan botulinum. Tapi dia sangat ketakutan saat terdengar kabar bahwa kamera pengawas kepolisian menangkap sosoknya keluar masuk kantor polisi."

"Karena itu anda membunuhnya?"

"Ia mengatakan untuk menyerahkan diri dan mengatakan yang sebenarnya."

"Korban ditemukan tewas di apartemen tempat tinggalnya pada tanggal yang sama dengan waktu bukti transfer uang ke rekening korban. Kenapa anda masih repot-repot untuk membayarnya?"

Elizabeth diam sejenak. Semua ini membuat kepalanya sakit.

"Lee Inha-ssi. Kuulangi. Kenapa anda tetap memberikan uang kepada orang yang sudah mati?"

"Karena pada akhirnya, kesalahan ini hanya harus dilimpahkan kepada satu orang. Moon Saeyoung."

Ryeowook refleks mencengkeram tangan Jungsoo karena pria itu seperti sudah akan melompat ke depan persidangan. "Hyung, kau harus tenang."

Kyuhyun yang berada di sampingnya hanya melirik dan tidak bisa berbuat apapun. Persidangan ini begitu penting untuk mereka berdua walaupun secara hukum, tidak ada hubungan keluarga yang terungkap ke media.

Kemudian jaksa penuntut bersiap mengajukan pertanyaan lagi setelah para tamu di persidangan kembali tenang. "Ceritakan pada kami bagaimana anda bisa masuk ke dalam kediaman keluarga Moon—"

"Keberatan Yang Mulia! Pertanyaan jaksa penuntut tidak relevan dengan kasus." Pengacara publik menginterupsi segera setelah tahu maksud dari arah pertanyaan tersebut.

"Jaksa penuntut, apa pertanyaan ini ada hubungannya dengan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh terdakwa?" Hakim persidangan bertanya dengan suara beratnya.

Kemudian jaksa tersebut mengangguk. "Ada informasi yang mengatakan bahwa motif Lee Inha menjadi pengawas rumah tangga di keluarga Moon adalah membalas dendam. Jadi bukankah kita semua juga harus tahu mengapa akhirnya terdakwa melakukan pembunuhan dan melimpahkan kesalahannya pada Moon Saeyoung."

"Apa yang mendasarinya?" Hakim kembali bertanya.

Lalu Jaksa penuntut memberikan sebuah amplop coklat kepada hakim. "Ini barang bukti bahwa terdakwa telah melakukan penipuan di kediaman keluar Moon."

Setelah melihat selembar foto, hakim menyetujui benda tersebut sebagai bukti pendukung dan menghadirkannya di persidangan. Seseorang kemudian mengambilnya untuk bisa dipampang di layar monitor besar.

Dua foto wanita muda yang tersenyum dan saling merangkulkan lengan di pundak mereka.

Ryeowook menggigit bibirnya untuk menahan guncangan di dada dan kepalanya. Berkat bantuan Kyuhyun, dirinya sudah melihat foto itu lebih dulu. Rasanya lebih buruk dari hari ini. Ketika itu pula Ryeowook tahu siapa yang akhirnya membuat dia diperlakukan seperti seorang pesakitan di rumah itu.

Kecelakaan yang menewaskan Nyonya rumah keluarga Moon adalah sebuah tragedi pembunuhan yang disengaja.

Dan dalang dari semua itu adalah Elizabeth Corner.

"Apa anda mengenal Um Sook Jin?"

"Ya."

"Apa anda juga yang membunuhnya?"

Elizabeth tidak menjawab. Wanita itu memalingkan wajah ke arah lain.

"Jawab aku Lee Inha-ssi! Apa kau juga sudah membunuh suruhanmu itu?" pria itu bertanya dengan suara keras dan menggebrak meja.

"Interupsi Yang Mulia! Jaksa penuntut mengajukan pertanyaan yang memojokkan terdakwa."

"Jaksa penuntut, perhatikan perilakumu. Perlakuan kasar tidak diizinkan di ruang sidang."

"Saya minta maaf Yang Mulia. Kalau begitu akan saya ganti pertanyaannya. Apakah anda masih berusaha merencanakan pembunuhan lagi?"

Tiba-tiba dengan tatapan kebencian, wanita itu menoleh ke arah bangku penonton di ruang persidangan. Sorot mata yang penuh dengan amarah mengarah kepada satu orang. Sosok yang selalu menjadi bayang-bayang mimpi buruk saudara perempuannya. Bahkan setelah dia meninggal. Bayangan bagaimana kakaknya harus menderita karena melahirkan anak yang tidak pernah diinginkan.

[…]

"Kami menuntut Elizabeth Corner yang memiliki nama Asli sebagai Lee Inha untuk hukuman mati atas kasus pembunuhan yang dilakukan kepada komisaris Kepolisian Seoul Lee Mungyu, Im Yeosom, Um Sook Jin, dan Eun Hwana, istri dari Moon Saeyoung pada tahun sembilan belas semilan puluh tujuh."

Tuntutan itu dibacakan dengan sangat lantang dan mendiamkan seluruh makhuk yang ada di ruangan persidangan. Eliz duduk didampingi oleh pengacara publik di sisi kanan arena persidangan. Tuntutan itu seperti vonis akhir dalam hidupnya.

Vonis hakim akan dibacakan pada sidang berikutnya. Kini semua orang keluar dari ruangan dan kembali ke tempat mereka masing-masing.

Ryeowook, Kyuhyun dan Jungsoo berjalan keluar melalui lobi utara yang memungkinkan mereka bisa melihat Elizabeth yang akan digiring ke dalam sebuah kendaraan yang akan mengantarkan dirinya kembali ke sel tahanan.

Mereka berhenti saat wanita tersebut melintas. Dalam jarak dekat, Ryeowook masih bisa menangkap tatapan penuh amarah dari sepasang mata yang letih di sana.

Setelah jarak mereka tidak sampai lima meter, Elizabeth tiba-tiba saja berhenti. Wanita itu diam beberapa detik sebelum bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu.

"Kau… harus… mati…"

Adegan yang selanjutnya terjadi tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun yang menyaksikannya. Hanya dengan hitungan detik, kelalaian berujung kepada tragedi. Elizabeth memberontak dan seorang polisi yang memeganginya terdorong jatuh. Kemudian dengan tangannya yang masih terborgol, Elizabeth mencuri sebuh pistol dari seorang petugas yang juga berdiri di dekatnya.

Ia mengarahkan senjata api itu tepat ke arah jantung Ryeowook…

Dan tidak ada yang sempat menghentikan wanita itu saat menarik pelatuknya…

Dor! Dor! Dor!

oOo