Mata biru laut itu menatap lekat-lekat, rumah bertingkat dua di depannya. Ia merasa payah, karena meski ia sudah bilang akan berusaha. Nyatanya, nyalinya kembali ciut dan takut untuk menghadapi Kushina.

Di sampingnya, Tsunade memerhatikan dalam diam. Jelas ia tahu, bahwa keponakannya tengah berusaha untuk memperbaiki hubungan antara Ibu dan Anak. Namun memperbaiki suatu hubungan, terlebih dengan keluarga sendiri adalah hal yang cukup canggung, serta sulit untuk dilakukan, dan Tsunade jelas memahaminya.

Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu menepuk punggung remaja itu. Berharap mampu memberi sedikit dorongan untuk Naruto. "Bibi pulang dulu, sampai jumpa lagi!"

"Un, sampai jumpa lagi bibi. Dan terima kasih..."

Tsunade memberinya senyum hangat, lalu ia mendekat dan memberikan kecupan di kening. Naruto membulatkan kedua matanya, sontak remaja itu mundur selangkah dengan raut kesal.

"Oh, berhentilah mengecup keningku! Aku sudah dewasa bibi!"

"Dewasa? Aku tidak melihat Naruto dewasa di sini." Tsunade terkekeh melihat wajah Naruto semakin cemberut. "Buktikan pada bibi, kalau kau mampu. Semua orang mendukungmu, Naruto."

Remaja pirang itu terdiam, tatapan yang diberikan Tsunade kepadanya. Cukup, untuk membuat semangatnya kembali bangkit. Ya, dia harus buktikan kalau dia mampu memperbaiki hubungan ini. Sudah cukup ia terpuruk dan membiarkan keadaan mengalir tanpa ia coba cegah.

Naruto mengangguk mantap, ia tersenyum cerah hingga kedua matanya menyipit. "Baiklah, aku masuk dulu-dattebayo!"

Tsunade melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Ia tetap berdiri di sana, sampai punggung Naruto menghilang dari balik pintu rumah. Setelah itu, senyumnya memudar dengan raut cemas terpatri di wajahnya.

"Berjuanglah, Naruto, Kushina."

...

Langit senja menjadi objek yang dipandangi Kushina sore ini. Ia mengikuti saran teman kerjanya untuk mengambil cuti beberapa hari. Di hari pertama ia libur kerja, Kushina tidak pernah menyangka, bahwa rumah yang sudah ia tempati beberapa tahun belakangan ini. Terasa sepi, dingin dan hampa.

Tadi pagi, ia seperti biasa sarapan bersama Menma. Mereka saling bertukar cerita, tidak lama, sebelum kembali hening. Setelah Menma pergi sekolah, Kushina membersihkan rumah berlantai dua itu, dan baru menyadari betapa luasnya rumah mereka.

Rumah yang ditempati tiga orang, seharunya lebih terasa hidup dengan suara canda tawa. Bukan keheningan yang menyelimuti. Kushina memasuki kamar Menma, menatap lekat-lekat kamar bernuansa merah maroon dengan beberapa garis putih. Buku-buku tebal yang tersusun rapi dengan beberapa pajangan foto masa kecil anak keduanya.

Setelah itu Kushina memasuki kamar Naruto, dengan keraguan di awal. Mata hitamnya memandang kamar dengan nuansa oranye cerah itu. Kamar itu terasa dingin, berbanding jauh dengan warna kamar yang seharusnya membuat suasana terasa hangat.

Kushina menghampiri meja belajar berwarna krem itu, mengusap pelan meja itu sebelum matanya tertuju pada sebuah figura. Sebuah foto dirinya memeluk Naruto kecil sambil tertawa lebar. Hanya foto itu yang ada di meja belajar Naruto. Dan wanita paruh baya itu menyadari, pinggiran bingkai yang sedikit terkelupas itu, menandakan bahwa foto itu sering dipegang dan mungkin sering dilihat.

"Aku pulang."

Samar-samar Kushina mendengar suara seseorang. Buru-buru ia menaruh kembali bingkai foto itu dan keluar kamar. Ia menuruni anak tangga dengan perasaan gelisah dan juga berdebar-debar. Seakan ia sudah lama menunggu kedatangan orang itu.

Saat kakinya menapak di lantai satu, manik hitamnya memandang lurus ke arah sepasang mata biru di depannya. Tidak lama, karena atensi mata biru itu teralih, menghindarinya. Keduanya terdiam, dengan perasaan yang mereka berdua pendam sendiri.

Kushina merasa suaranya tertahan, tidak mau keluar dan tertelan kembali. Mereka sama-sama berdiri mematung.

"Ka-Kaa-san," suara Naruto terdengar membelah keheningan. "Ma-mau minum teh bersamaku?" setengah mati, Naruto mencoba untuk tersenyum dan kembali memandang Kushina.

Kushina tak lekas menjawab, ia memandang putranya untuk beberapa saat sebelum mengangguk kecil. "Tentu..."

...

Naruto menaruh secangkir teh yang baru saja ia buat di depan Kushina. Setelah itu ia menuangkan teh untuk dirinya sendiri, baru kemudian duduk di depan Kushina. Kepulan asap dari teh yang masih panas dengan harum teh hijau, menguar memenuhi ruang dapur.

Naruto menggenggam cangkir tehnya, mencoba membuat tangannya yang berkeringat dingin, menjadi lebih hangat. Mereka kembali terdiam, meski Naruto ingin memperbaiki hubungannya, remaja pirang itu tidak tahu harus mulai dari mana.

Kushina menyesap minumannya, lalu menghela nafas pelan saat perutnya terasa hangat. Ia selalu menyadari kemampuan memasak Naruto. Mungkin kemampuan itu menurun dari Minato. Atau mungkin karena ia sudah lama tidak menikmati waktu teh seperti ini, sehingga membuat rasa teh menjadi lebih nikmat dari sebelumnya.

"Apa kau menambahkan madu?" tanya Kushina pelan.

"Eh? A-ah, iya. Aku menambahkannya sedikit, agar rasanya tidak terlalu pahit." Naruto menjawabnya pelan.

Kushina tersenyum kecil, "Ini enak dan juga hangat."

Naruto melirik sekilas sebelum ikut tersenyum kecil. Kushina baru saja memuji teh buatannya, hal yang sudah lama ingin ia dengar. Pujian kecil itu cukup, untuk membuat perasaan remaja pirang itu menghangat.

"Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah lebih baik?"

"Sudah, justru badanku terasa kaku karena terlalu lama di rumah sakit." Naruto tertawa pelan, berharap mampu mencairkan suasana kaku diantara mereka. "Bagaimana dengan Ibu? Tidak biasanya ibu ada di rumah jam segini."

"Ibu memutuskan untuk cuti beberapa hari. Mungkin seharusnya sudah sejak dulu aku melakukannya." Kushina menggenggam cangkirnya dengan erat, lalu ia menatap Putranya. "Maafkan ibu, untuk segalanya Naruto."

Untuk beberapa saat, Naruto tercengang. Ia mengerjap pelan, seakan berusaha mencerna apa yang baru saja dikatakan Kushina. Wanita paruh baya itu menatapnya lekat-lekat, dan mengucapkan maaf.

"Ibu sudah terlalu keras terhadapmu. Seharusnya aku sadar, kalau bukan hanya Ibu saja yang merasakan kehilangan. Kalian berdua juga pasti sama, terlebih dirimu Naruto." Suara Kushina bergetar dan ia berusaha mengatur emosinya. "Ibu terlalu memaksakan keinginan ibu untuk membuatmu menjadi lebih baik disegala bidang. Tanpa memikirkan tekanan yang kamu rasakan."

Naruto memandang Kushina dalam diam, ketika air mata sudah turun membasahi wajah wanita paruh baya itu. Perasaannya ikut bergejolak, seakan emosi yang sudah sepuluh tahun ini ia pendam, siap meluap.

"Maafkan ibu yang sudah mengacuhkan mu selama sepuluh tahun ini. Bahkan aku sama sekali tidak menyadari apa yang telah kamu alami. Aku bahkan tidak sadar dengan penderitaan anakku sendiri." Semakin Kushina bicara, semakin wanita paruh baya itu seakan berbicara dengan dirinya sendiri.

Seakan saat ini, Kushina tengah meluapkan apa yang ia pendam selama ini. Perasaan bersalah, keputus-asaan yang telah lama ia rasakan. Naruto masih diam memerhatikan, namun air mata juga sudah turun membasahi wajahnya. Ia ikut menangis, karena apa yang Kushina rasakan, tidak beda jauh dengannya.

"Selama ini aku juga melarikan diri," kali ini Naruto yang berujar. "Aku mencoba menjadi sosok kakak yang bisa Menma andalkan. Belajar mati-matian agar bisa diterima di Konoha. Mencoba mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar masak, agar Ibu tidak perlu lagi melakukannya dan bisa langsung berisitirahat."

Naruto memandang Kushina dengan senyum getir, "Aku juga ingin menjadi lebih baik, tapi aku selalu merasa apa yang aku lakukan belum lah cukup. Membuatku semakin depresi dan akhirnya... aku melarikan diri."

"Sejak kematian Ayah, aku selalu berfikir. Kenapa bukan aku saja yang tewas saat itu." Kushina membulatkan matanya. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Naruto akan berfikir seperti itu. "Kalian lebih membutuhkan ayah daripada aku. Dan setiap malam, aku selalu terbangun akan mimpi buruk. Lalu menunggu di depan rumah, berharap pintu rumah terbuka dan ayah datang dengan senyum khasnya."

"Aku terlalu bodoh untuk menerima kenyataan, kalau ayah sudah tiada."

Perlahan Kushina meraih tangan Naruto dan menggenggamnya erat. Kedua mata mereka saling bertemu. Dan setelah sekian lama, akhirnya mereka mampu untuk menatap satu sama lain.

"Bolehkah aku memperbaiki sikapku sebagai Ibu-mu?"

Naruto tidak butuh waktu lama untuk menjawabnya. Ia segera mengangguk dengan senyum lebar meski setetes air mata jatuh. Namun remaja pirang itu yakin, bahwa tetesan terakhir itu, adalah air mata kebahagiaan.

...

Hinata mengerjap saat getaran ponsel di atas nakas terdengar. Gadis manis itu menaruh buku novel yang sedang ia baca, dan mengambil ponsel pintarnya. Di layar tertera nama Naruto dan segera saja Hinata menjawab telpon itu.

"Ada apa Naruto-kun?" manik perak itu melebar sedikit sebelum ia mengangguk tanpa sadar. "Aku ke sana sekarang."

...

Langit malam dengan bintang-bintang terlihat indah. Mata biru laut itu memandang dengan kagum, sambil ia berayun pelan di ayunan yang berada di taman. Ia merapatkan jaket oranye dan kembali memandang langit.

"Naruto-kun!" panggilan itu membuat Naruto beranjak dan tersenyum ke arah Hinata.

Remaja pirang itu menyengir lebar, "Cepat sekali kamu sampainya."

"Letak rumahku tidak terlalu jauh dari sini," jawab Hinata sebelum ia ikut duduk di ayunan saat Naruto kembali duduk. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya gadis rembulan itu sambil berayun pelan.

Naruto kembali memandang langit, dengan senyum bahagia yang diam-diam membuat Hinata ikut tersenyum. "Aku sudah melakukannya," katanya lalu menatap ke arah Hinata. "Aku sudah bicara dengan Ibu, dan kami sepakat untuk memperbaiki hubungan kami."

Manik rembulan itu melebar dengan raut penuh kelegaan. Naruto tertawa pelan melihat reaksi Hinata yang semakin membuatnya senang.

"Itu kabar baik, Naruto-kun!" Hinata bahkan tidak menyadari kalau dirinya sudah memekik pelan dan berdiri dari duduknya. "Syukurlah... aku turut senang mendengarnya."

Naruto ikut berdiri dan menatap Hinata dengan senyum hangat. Lalu ia menggenggam kedua tangan Hinata yang terasa kecil dalam genggamannya. "Terima kasih karena sudah mau mendukungku. Bagaimana mungkin, aku baru menyadari kalau aku memiliki orang-orang yang peduli padaku."

Hinata tersenyum hangat, ia balas menggenggam erat tangan Naruto. "Terlambat menyadari itu lebih baik, daripada tidak menyadarinya sama sekali."

"Un, kau benar." Perlahan Naruto menarik kedua tangan Hinata dan menaruh keningnya di kepalan tangan Hinata. "Terima kasih Tuhan..."

Gadis rembulan itu dapat merasakan tangan Naruto yang bergetar pelan. Perasaan lega dari remaja pirang itu mampu ikut ia rasakan. Hingga tanpa sadar, Hinata meneteskan air mata. Saat remaja pirang itu mengangkat wajahnya, mereka berdua tersenyum yang kemudian berubah menjadi tawa.

Tak lama, sebelum akhirnya wajah Naruto mendekat. Nafas panas itu dapat Hinata rasakan, dan membuatnya berubah kikuk. Namun meski udara mulai terasa dingin, anehnya Hinata merasa wajahnya memanas. Dan ketika kecupan itu terjadi, keduanya terdiam. Sama-sama tidak berani melakukan sesuatu, sampai Naruto mulai melumat pelan bibir mungil Hinata.

...

Seminggu setelahnya, Naruto benar-benar melakukan terapi di rumah sakit tempat Tsunade. Sepulang sekolah dan juga di saat libur, Hinata juga dengan sigap menemani Naruto. Berada di samping pemuda pirang itu dalam menjalani terapi.

Disaat Naruto merasa mulai lelah dengan semua terapi yang ia lalui. Maka terkadang remaja pirang itu akan membawa Hinata untuk pergi bermain.

Hubungannya dengan Kushina juga menjadi lebih baik. Wanita paruh baya itu mulai mengurangi kesibukan kerjanya. Ia membagi waktu antara kerjaan dan juga untuk keluarganya. Sesekali Kushina mengajak kedua putranya untuk piknik dan menikmati waktu bersama.

Naruto dan Kushina, benar-benar mencoba untuk memperbaiki hubungan mereka. Mencoba untuk mengembalikan waktu yang dulu sempat terbuang. Menma juga merasa bahagia dengan perkembangan kedua orang yang ia sayangi itu.

Sebulan pun berlalu setelah kejadian itu. Bulan Januari sebentar lagi berakhir dan akan memasuki bulan Febuari. Udara masih terasa dingin, hingga membuat orang-orang masih mengenakan pakaian tebal mereka.

Naruto berdiri di depan gerbang sekolah. Dengan syal merah yang melilit di lehernya dan juga jaket tebal berwarna hitam. Manik biru lautnya memandang langit yang kelabu. Mungkin sebentar lagi, salju akan kembali turun di sore nanti.

"Naruto-kun."

Suara lembut itu sudah ia hapal di luar kepala, tanpa perlu ia melihat pemiliknya. "Hei, Hinata-chan."

"Maaf membuatmu menunggu, aku harus ke ruang guru dulu tadi."

Naruto tersenyum kecil dan meraih salah satu tangan Hinata. "Aku juga baru di sini, jadi tenang saja."

Hinata mengangguk kecl, ia membalas genggaman pemuda pirang itu. Mereka berdua mulai melangkah pergi meninggalkan area sekolah.

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Hinata saat mereka berada di dekat taman. "Apa ini ada hubungannya dengan form rencana masa depan?"

Naruto tidak lekas menjawab, ia lebih memilih membawa Hinata untuk duduk di salah satu bangku taman. Remaja pirang itu masih terdiam, sementara Hinata dengan sabar menunggu jawaban dari pemuda pirang itu.

"Aku memutuskan untuk kuliah di Tokyo, dan mengambil jurusan hukum." Naruto menghentikan langkahnya dan menatap dalam manik perak di depannya. "Aku ingin menjadi seorang jaksa, seperti Ayah. Jadi, bagaimana menurutmu?"

Hinata tersenyum hangat, ia mengusap pelan pipi Naruto dan mengangguk pelan. "Kalau itu maumu, aku siap mendukungmu, Naruto-kun."

Remaja pirang itu mengusap tangan Hinata yang masih di pipinya. "Terima kasih karena sudah mendukungku."

"Tapi kau harus berjanji satu hal padaku." Ucap Hinata dengan tatapan serius.

"Apa?"

Manik perak itu bergetar pelan, "Jaga dirimu, jangan sampai apa yang dialami ayahmu dulu, ikut terjadi padamu. Karena aku tidak mau kau terluka, begitu juga dengan Kushina-san dan Menma-kun."

Senyum Naruto kian lebar, ia mengangguk dengan tatapan pasti. "Aku janji."

"Kalau begitu tidak ada masalah!" dan senyum Hinata kembali merekah lebih indah.

Mereka berdua saling melempar senyum bahagia dan menggenggam tangan satu sama lain. Begitu banyak hal yang terjadi di tahun lalu, dan kini mereka akan melangkah maju. Bersama dengan awal tahun, Naruto maupun Hinata sama-sama mulai melangkah dengan pasti. Tanpa merasa gelisah, ataupun takut menghadapi masa depan yang tak terlihat akhirnya.

Kadang ada kalanya, kita menghadapi perselisihan dengan keluarga. Terluka karena tak mampu saling mengerti. Ingin mengerti namun sulit untuk dimengerti. Saling menuntut tanpa menyadari. Namun terlepas dari semua itu, keluarga adalah tempat pertama semua dimulai.

Tempat dimana kau kembali pulang, meski kadang sulit bagimu untuk kembali. Keluarga adalah tempat dimana awal dan akhir perjalanan hidupmu.

.

.

.

Fin~

Terima kasih untuk para reader terkasih yang sudah mengikuti cerita Switching. Akhirnya cerita tentang kepribadian ganda ini selesai. Eh, bukan ding. Kepribadan ganda itu Cuma salah satu konflik yang terjadi. Karena inti cerita ini lebih tentang masalah keluarga sebenarnya. Jadi, kalau ada yang bertanya-tanya tentang bagaimana kabarnya Kurama. Aku serahkan pada imajinasi para pembaca. #digaplok

We-well, sebenarnya aku, tuh. Gak kuat kalau harus bikin Kurama menghilang. Dia chara favorite soalnya. Jadi, yah gitu deh, hehehe.

Pokoknya terima kasih banyak untuk dukungan kalian selama ini. Cerita yang semula hanya keisengan belaka dan menjadi pelampian stress, ternyata malah ramai. Kalo sepi mah biasanya aku biarin aja haha, taunya banyak yang suka. Sekali lagi terima kasih hehe...

Oh, iya sekarang ini saya lagi progress story baru dengan Naruto kecil sebagai tokoh utamanya. Dengan genre action, komedi, serta Shounen mungkin. Story baru yang muncul dengan pemikiran "anak kecil yang badass itu keren". Aku selalu suka ngeliat anak kecil yang bisa melakukan hal seperti orang dewasa, bahkan bisa melampauinya. Singkatnya, Jenius.

Semoga begitu cerita itu di publish, kalian juga mau mampir untuk membacanya. Akhir kata, terima kasih untuk dukungan kalian semua-dattebayo!

BIG THANKS FOR: Anko Guru Matematika, Kurotsuki Makito, booobaa11, miko seijuro, Annur Azure Fang, just4funlol, Rikudou Pein 007, .980, rifkiabadi99, ri4s lucifer, RENA, RIZKILONECROSSOVER, rengoku onimaru, kshoujo2, namikase hafid kun, mendoan, Reznurzat30, yuHime-chaN, nusantaraadip, , , oki triana,VANDI RAHMAT, rikarika, Andre DragneeL Lucifer, Uzumaki Intan-109, Ari-Gates, hmm, , Ryuki akagami, Phyte, , , Permana-ryu, Yuki akana, barabai, UzumakiIchie, abrar Kiroashi, Namikaze Ichie, Apocalypse of Yami , hoshi, sweet monsta, Hanakire , ikacahya, Rigama, Otsuki6, pembalutbekas, Mandoetz, Kds601, Laufenberg111 , isabelstefan8, geka, Damha shurui, Muhammad Kamil, pedofillgila, cecepantonii , Patih Alam, Kotarro Bulkinie Miennamie, ana, Fransiskus918 , Agam Ashley