Disclaimer : Touken Ranbu milik Nitro

AN : mencoba menulis anmitsu/yasukiyo. Sedikit mikakiyo... maaf kalau ada karakter yang out of character


Musuh kali ini sungguh kuat.

Tidak.

Terlampau kuat.

"Kashuu AWAS!" teriak Yasusada.

Terlambat. Yari itu sudah menembus tubuh itu. Mata Kashuu terbelalak. Mikazuki, walau mata kanannya berdarah dan salah satu lengannya patah, tersenyum sedih. Yari itu merusak sisa pedang Mikazuki Munechika. Mata kanan Mikazuki yang masih mengalirkan darah memberitahu Kashuu kalau simbol pedang tenka goken itu sudah rusak. Kashuu menusuk yari itu, mematahkannya dan mengalahkan musuhnya.

Kashuu memeluk Mikazuki yang nafasnya tersengal. Tiap tarikan nafas bagi Mikazuki terasa amat, sangat sakit namun Mikazuki hanya bisa bernafas untuk mencegah sakit yang dirasakannya. Mikazuki berbisik pelan dekat telinga Kashuu.

Kashuu terisak mendengarnya. Isakan pelan itu perlahan berubah menjadi tangisan kencang. Deraian air mata turun deras tanpa terbendung. Roda takdir kembali berjalan bagi Kashuu. Kebahagiaan yang membekukan kehidupan yang menurut Kashuu sebagai 'sunyi' dan 'sepi' dengan mudah menghilang bagaikan kelopak sakura yang gugur di kala pergantian musim.

Mikazuki Munechika, pedang tenka goken itu terselubung kelopak sakura dan menghilang, hanya meninggalkan tubuh manusia yang sudah tak bernyawa.


Lima hari.

Sudah lima hari Kashuu melakukan aktivitas 'hidup' dengan tak bersemangat dan diam, menutupi telinganya dengan dentaman keras musik yang dipilihnya bersama Mikazuki dan hanya duduk di ranjang kamar Mikazuki, berharap sewaktu-waktu, pintu kamar akan terbuka dan Mikazuki akan masuk sambil tersenyum. Mata merahnya memandang jauh seolah mengingat mendiang kekasihnya.

Di hari keenam, Yasusada memeriksa kamar Mikazuki. Namun Kashuu tak ada disana. Yasusada mengetuk kamar Kashuu yang terkunci dan memaksa masuk, menendang pintu itu hingga terbuka dan menemukan partnernya yang terkulai lemas di ranjang. Mata biru membesar karena kaget. Cepat-cepat dia memandang seluruh kamar, kalau-kalau ada bekas darah, takut Kashuu melakukan upaya bunuh diri.

"Kashuu!" Yasusada cepat-cepat mendekati Kashuu yang terbaring.

"Kashuu! Apa yang terjadi?!" tanya Yasusada.

Mata merah itu terbuka dengan lemah.

"...aku...lapar." bisik Kashuu.

Yasusada menelan rasa ketakutan dan kekhawatirannya dalam hitungan detik. Partnernya hanya lemas karena tak makan. Yasusada menghela nafas lega namun kesal.

"Apa yang kamu mau?" tanya Yasusada.

"...clay pot rice..." erang Kashuu yang matanya tak fokus.

"Kulai poto laisu?" Yasusada pun bingung.

Barier bahasa mereka cukup jauh dan Yasusada tahu kalau Kashuu lebih sering melepaskan bahasa inggris tanpa sadar daripada mandarin atau pun bahasa jepang. Lagipula di asrama ini, hanya ada satu orang yang mampu mengutuk seseorang dalam campuran tiga bahasa sekaligus.

"...do...donabe...nasi..." jawab Kashuu yang lemas dan mulai menutup matanya.

"Ah." Yasusada akhirnya tahu apa yang Kashuu mau.


Yasusada melihat Kashuu yang makan dengan tak karuan. Clay pot rice itu langsung di makan dengan lahap begitu Yasusada kembali ke kamar Kashuu dan Yasusada mengambil tissu dan bersiap mengelap wajah Kashuu.

"Makan pelan-pelan. Aku tahu tubuhmu perlu makan tapi tata cara makanmu harus naik level sedikit setelah ratusan tahun." kata Yasusada menasihati.

Kashuu tak menggubris dan menghabiskan clay pot rice itu dengan cepat. Mata merahnya kemudian mengalirkan air mata begitu Kashuu selesai.

"EH?! Jangan menangis! Kenapa kamu, Kashuu Kiyomitsu?" Yasusada mulai panik.

Kashuu mulai terisak dan menangis kencang. Yasusada yang panik otomatis memeluk partnernya yang emosinya campur aduk.


"Sudah tenang?" tanya Yasusada yang memberikan sekotak tissu dan menutup pintu kamar Kashuu—tepatnya, menaruh kursi di belakang pintu itu agar tertutup.

'Keluar uang lagi...' batin Yasusada menatap gembok kamar Kashuu yang naas.

"Ya." jawab Kashuu pendek.

"...Mau keluar?" tanya Yasusada.

"Ya." jawab Kashuu dengan singkat.

Mereka duduk di lobby lantai lima, melihat Yamabushi dan Reijin. Si gadis itu terus berceloteh tentang bagaimana dia ingin cepat besar dan memakai seragam yang cantik. Yamabushi mendengarkan sambil sesekali membelai kepala gadis itu. Reijin melihat Kashuu dan terdiam. Gadis itu lantas bersembunyi di balik punggung Yamabushi.

"...Ayo kita beli es krim kesukaanmu, Rei!" ajak Yamabushi.

Yamabushi menggendong saniwa cilik yang perasaannya menjadi suram ke lift. Kashuu juga menghindari Rei. Perasaan bersalah karena kehilangan rekan timnya, rasa sedih akibat kehilangan seorang kekasih dan rasa penuh penyesalan akan kegagalannya sebagai ketua tim membuat nafas Kashuu kembali sesak.

"...Kiyomitsu? Kau kenapa?" tanya Yasusada dengan penuh rasa khawatir.

Nafas Kashuu memburu. Mata merah Kashuu kembali membendung air mata. Tiap tarikan nafas terasa tak membuatnya rileks. Paru-paru dan hatinya terasa berat. Tangannya gemetaran tanpa disadarinya.

"Kiyomitsu?" Yasusada yang khawatir melihat sana-sini, mencari seseorang yang bisa membantu.

"Aku akan cari bantu-" Kashuu memegang tangan Yasusada.

"Jangan pergi..." bisik Kashuu dengan wajah hampir menangis.

Yasusada menggenggam balik pegangan itu.

"Aku tak akan pergi."


Sore itu, Nagasone berhasil menculik Kashuu untuk mandi. Kashuu mau tak mau digendong Nagasone bak karung kentang dan dibawa ke pemandian umum dalam ruangan. Pintu geser itu terbuka dan Nagasone bingung melihat Rei yang sedang digosok punggungnya oleh Yamanbagiri.

"...kenapa kau bawa Rei ke pemandian ini?" tanya Nagasone.

"Yotsune-san tak ada hari ini. Lagipula dia ingin seseorang menggosok punggungnya." jawab Yamanbagiri.

"Manba-nii! Gelembung lagiii!" pinta si gadis cilik.

"Nn." Yamanbagiri meniup gelembung dari cetakan gelembung.

"Yaaahhh!" Rei kecewa karena gelembungnya pecah sebelum berhasil digapainya.

"...kenapa kau bawa Kashuu seperti karung beras?" tanya Yamanbagiri sambil meratakan shampoo di tangannya.

"Kalau aku tidak membawanya ke sini, dia bakal bau." jawab Nagasone.

Kashuu tak menjawab. Yamanbagiri menangkap Rei dan mulai meratakan shampoonya di rambut gadis cilik itu. Kejadian sore ini dengan Yasusada sudah cukup memalukan. Ditambah lagi, Nagasone menggendongnya seperti ini dan membawanya ke pemandian, mengundang perhatian dari sebagian pedang seperti Uguisumaru yang sedang mengajarkan Sayo, Yagen, Maeda dan Hirano tugas mereka.

"Aku bisa mandi sendiri." kata Kashuu.

"Yosh, kalau begitu. Kita mandi bareng. Seperti dulu." Kashuu di turunkan dari pundak Nagasone.

'...eh?' Yamanbagiri mulai salah paham.

Rei menggosok punggung Yamanbagiri tanpa peduli akan percakapan Nagasone dan Kashuu. Memang mandi bareng wajar kan?

"Apa aku salah dengar?" tanya Kashuu.

"Tidak. Aku akan memandikanmu seperti dulu daripada kamu lari kembali ke kamar." kata Nagasone sambil menarik tangan Kashuu.

"Apa?! Memalukan!? Aku engga mau dimandikaaannn!" teriak Kashuu.

Teriakan Kashuu membuat Rei menoleh ke mereka. Bahkan Tonbokiri, Doudanuki dan Otegine menatap mereka, menanti drama.

"Kiyo-nii! Mandi bareng!" Rei malah menyemangati sambil melupakan sekejap kalau dia sedang menggosok punggung Yamanbagiri.

"Oy, oy, sshh! Sshh!" Kashuu berusaha menenangkan gadis cilik itu.

"Rei, sini. Punggungku." kata Yamanbagiri seraya menyiapkan shower untuk membilas rambut Rei.

Nagasone sendiri mengawasi dari kamar ganti.

"Mouuuu~~~!" Rei menggembungkan pipinya namun menuruti kata pedang pemotong penyihir gunung.

Kashuu sendiri kembali ke kamar ganti dan mulai melepas bajunya satu persatu. Kashuu kembali ke dalam pemandian itu. Dilihatnya Yamanbagiri dan Rei yang sudah berendam di bak kecil, Kashuu akhirnya memutuskan duduk di samping mereka. Nagasone duduk di samping Kashuu.

"Manba-nii! nanti Rei mau main DDR!" seru Rei.

"Oh. Tapi itu kan punya Ichigo?" tanya Nagasone.

"Ichi-nii bilang Rei boleh main kapan saja!"

"Mau main dengan siapa kamu?" tanya Yaman sambil memijat hidung Rei.

"Ngggg..! Dengan Midare!" Manba terdiam.

'Itu...orang mengerikan untuk kamu ajak main DDR, Rei!' batin Manba menjerit, mengkhawatirkan nasib Aruji yang akan menangis meraung-raung karena kalah main DDR.

"Memang kenapa Midare?" tanya Kashuu.

"Tidak." kata Manba.

Kashuu bingung melihat Rei yang tiba-tiba diam menatap Kashuu dengan penuh rasa bertanya-tanya. Nagasone menonton mereka.

"Kenapa Rei?"

"...Kiyo-nii..." mata Rei berkaca-kaca.

"...engga ada ini yang seperti punya mama..." Rei menunjuk ke arah dada rata Kashuu.

Kashuu merasa sakit. Seolah ada seseorang yang menusuk panah ke hatinya.

"...Rei, sakit lho." Kashuu mengumpulkan kembali harga dirinya sebagai pria.

Rei kembali menatap Kashuu. Untungnya, kali ini Rei menatap wajah Kashuu.

"Boleh sentuh?" tanya Rei seraya menunjuk dagu Kashuu.

"Boleh." jawab Kashuu.

Rei dengan hati-hati menyentuh sedikit tahi lalat di dekat bibir Kashuu. Kashuu bingung dengan saniwanya. Mata saniwa cilik itu membesar seolah bingung. Mata Rei melihat ke jari bekas dia menyentuh tahi lalat itu.

"...engga luntur." komentar Rei.

"Kamu pikir ini bekas apa?" Kashuu menghela nafas.

Nagasone hanya bisa facepalm dan Yamanbagiri menatap dengan tatapan datar.


"Nagasone-san, bisa tolong gosokkan punggungku?" tanya Kashuu.

"Oh. Tentu saja." Nagasone mengambil handuk kecil dan mulai menggosok punggung Kashuu.

"Hm? Ini bekas apa?" tanya Nagasone seraya menggunakan jarinya mengikuti bekas luka di pundak Kashuu yang dekat leher.

"Oh. Bekas Ikedaya." jawab Kashuu.

Nagasone terdiam.

Ikedaya adalah topik sensitif bagi Kashuu.

"Oh iya, kamu mau coba makan omelet?" tanya Nagasone.

"Huh?"

"Omelet buatanku enak lho." Nagasone tersenyum ramah.

Kashuu terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


Kamar Nagasone agak-bukan, sangat berantakan layaknya pria umumnya. Kashuu menatap foto keluarga Kotetsu yang tergeletak di atas meja. Hachisuka dan Urashima terlihat senang sekali bergandengan dengan Nagasone yang terlihat berusia sekitar sepuluh tahun.

"Ada yang ingin kubicarakan juga." kata Nagasone.

Kashuu menatap Nagasone yang terlihat serius.

"Anggap saja ini bisnis. Pekerjaan." tambahnya.

Kashuu memicingkan matanya. Masalah ini pasti sangat penting.

"Aku dengar dari saniwa-sama, tubuhmu melemah?"

Ah, rupanya itu.

"Ya."

"Saniwa juga bilang selama ini Mikazuki yang membantumu?"

"Ya."

"Saniwa bilang padaku kalau kau perlu suplai kekuatan spiritual agar tubuh manusiamu bisa tetap hidup. Dia juga menyuruhku memberitahumu sesuatu yang lupa dia katakan padamu."

"...apa maksudmu?"

"Saniwa bisa memberimu suplai kekuatan spiritual tapi itu tak akan bertahan karena tubuh manusia kita akan berakhir sebagai mayat kalau jiwa kita meninggalkannya. Aku memang tak bisa melihat dimana simbol pedangmu tapi saniwa bilang itu tergores jadi kau perlu seseorang untuk menarik jiwamu agar bisa tetap tinggal di dalam tubuh manusiamu. Tapi, teori itu hanya berlaku kalau kekuatan spiritualmu meningkat."

"Maksudnya?"

"Kata saniwa, karena simbol pedang adalah semacam penyeimbang jiwa dan tubuh manusia, dengan kata lain, bila kekuatan jiwa terlalu besar, harus ada penyalur lain agar energi itu keluar. Sementara kalau kekuatan jiwa terlalu lemah, harus ada yang bisa menarik dan menambah kekuatan jiwa. Dengan kata lain, satu-satunya penyalur adalah hubungan badan. Tapi kata saniwa, kalau kekuatan jiwa terlalu meluap, bisa dilakukan sendiri."

"Oh. Terima kasih sudah memberitahuku." jawab Kashuu dingin.

"Rasanya aku sulit percaya kalau kau berbeda dalam hidup dan kerja." Nagasone menghela nafas.

"Ini 'kerja'." kata Kashuu.

Nagasone menghela nafas. Dia tahu sifat keras kepala Kashuu kadang mengerikan. Namun bila ditambah dengan rasa kehilangan dan kesedihan, Kashuu kembali menjadi dingin seolah tak peduli lagi.

"Nah, tunggu ya. Omeletnya akan cepat selesai kok." Nagasone mengalihkan topik.


Malam itu, Kashuu mengetuk pintu kamar Yasusada. Pintu itu terbuka.

"Kiyomitsu?" Yasusada menguap.

"Boleh aku tidur disini?" tanya Kashuu yang dalam t-shirt dan celana pendek.

"...masuk."

Kashuu memanjat ke ranjang Yasusada, tidur dalam posisi menyamping menghadap tembok. Yasusada mengunci pintu dan kembali menguap, memanjat ranjangnya dan ikut tidur dalam posisi menyamping di arah berlawanan.

"...kamar Mikazuki terasa gelap dan kosong. Menakutkan." kata Kashuu.

Yasusada hanya diam namun dia mendengarkan.

"...aku...merasa tak berguna sebagai kapten. Mikazuki memberikanku banyak hal. Tapi...aku tak bisa lagi memberinya apa yang dia mau."

'Dia mengajariku bagaimana sakitnya kehilangan orang yang dicintai. Aku tak mau merasakannya lagi.'

Jeda sejenak.

Kashuu merasakan bagaimana Yasusada sedikit mendorong tubuhnya ke Kashuu sebagai pengganti kata-kata.

"...terima kasih, Yasusada. Selamat tidur. Mimpi indah."

Yasusada bergerak ke posisinya yang semula.

"...Kiyomitsu." panggil Yasusada.

"...kuharap kamu mimpi indah juga."


Perlukah author membuat omake di beberapa chapter depan tentang kehidupan asrama mereka? (tak janji chapter berapa sih)