Remake : Wolf Boy-Black Prince!
Cast :
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
Other Cast : Seventeen's members.
Jeon Wonwoo berbohong kepada teman-temannya tentang memiliki pacar dengan menunjukkan gambar seorang namja tidak dikenal yang ternyata adalah teman sesama sekolahnya yaitu Kim Mingyu, mau tidak mau Wonwoo meminta kepada Mingyu untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Namun, Mingyu yang memberikan kesan namja baik-menawan ternyata menjadi seorang namja super sadis dan menggunakan alasannya untuk memeras Wonwoo dan memperlakukannya seperti anjingnya.
EP 10 Part 1
CUE!
.
.
.
"Wen Junhui!"
Namja berkebangsaan China yang sedang asik membaca buku itu menoleh menatap namja manis bersurai hitam legam sedang menatapnya dengan kesal. "hmm? ada apa Wonwoo-ya? Wajahmu cemberut tuh"
Wonwoo mengerutkan keningnya pada Jun yang tengah tersenyum padanya "Kalian berdua semakin dekat saja nih? Kau tidak sedang ingin merebut hati Mingyu kan?" tanya Wonwoo ketus.
Jun tertawa nyaring mendengar pertanyaan Wonwoo, "Hahaha! Tentu saja bukan!"
"Kalian berdua jadi bahan gosip tahu!" Wonwoo melirik pada kumpulan yeoja-yeoja yang menatap ke arah mereka. Jun tersenyum pada kumpulan yeoja-yeoja itu "Yah, karena kami populer. Tidak masalah, lagi pula tidak mengganggu—"
BRAK "Ada tahu! soalnya aku juga ingin bermesra..., b-bersama Mingyu!" Wonwoo mengecilkan suaranya pada akhir kalimatnya, wajahnya sedikit merona menahan malu.
Jun menatap Wonwoo bingung "Tapi kau menyuruhku berteman dengan Mingyu..."
"Memang iya sih .., pokoknya tidak adil!"
"Hehehe~ apaan itu~"
BRAK!
Kali ini bukan Wonwoo pelakunya, Wonwoo dan Jun menoleh ke arah sipelaku penggebrakan meja (?) . Mingyu berdiri dari duduknya setelah menghempaskan bukunya diatas meja dengan kasar, kemudian matanya menatap tajam pada Wonwoo dan Jun.
"Berisik sekali" kata Mingyu dingin, "satu kata lagi, akan kuikat kalian dikursi" lanjutnya datar dan dingin, jangan lupakan ekspresi menakutkannya.
.
.
.
SHOT!
Junghan melemparkan bola basketnya ke arah ring dengan malas, kelasnya kini sedang ada pelajaran olahraga dan kebetulan hari ini bab yang disukai Mingyu yaitu basket.
"Hah.. Mingyu pasti kesulitan ya, soalnya punya anjing lain" kata Junghan pada Wonwoo yang berdiri tak jauh darinya. Wonwoo mengerutkan dahinya pada Junghan "Hei! Aku bukan anjingnya, aku pacarnya"
"Kamu itu percaya dengannya atau tidak?"
"Yah, tak apa sih. Mingyu punya teman lain, lagi pula bulan ini banyak hal yang kunantikan!" Wonwoo melempar bola basketnya pada ring. –yah, walaupun tidak masuk.
"Hah? Maksudmu?" tanya Junghan bingung, Wonwoo menoleh pada Junghan dengan wajah sedikit memerah "Hehe~ ulang tahunku!" jawabnya pelan.
.
.
Bab 10 –Happy Birthday-
Usaha Sia-sia
.
.
"17 Juli?" tanya Mingyu pada Wonwoo yang tengah duduk disebelahnya dibangku taman sekolah. Sekarang sedang jam istirahat, jadi Wonwoo memutuskan untuk mengajak Mingyu makan bersama ditaman.
"tidak ada yang istimewah" lanjut Mingyu datar.
JRENG!
Wonwoo mematung, wajahnya tetap tersenyum normal pada Mingyu. "a-ah, benar juga yaa..hahaha" Wonwoo tertawa lirih, sedetik kemudian ia menatap bekalnya lesu.
"Yah..., sebenarnya itu ulang tahunku.." sambung Wonwoo pelan, Mingyu yang sedari tadi menatap Wonwoo kini menganggukkan kepalanya mengerti. Ia kembali memakan nasi kepal buatan Wonwoo dengan santai.
"Ohh, begitu. Baguslah" jawab Mingyu seadanya.
Wonwoo mengangguk, tangannya kembali menyumpitkan makanan masuk kedalam mulutnya yang kini tidak lagi berselera. Ia mengunyah makanannya dengan murung. Menyadari hal itu, Mingyu menoleh pada Wonwoo.
"Tidak usah murung begitu, bodoh. Mana mungkin aku tahu kalau kamu tidak beri tahu?"
Wonwoo menoleh pada Mingyu yang kini tengah bersandar malas, bibirnya maju karena sedikit kesal "Meski tidak dikasih tahu kalau kamu tahu bisa bikin kejutan'kan?". Mingyu melirikan matanya "Jangan samakan mimpimu denganku"
"Yah.. terus, mau merayakannya, tidak?"tanya Wonwoo penuh harap, ia sedikit menyendukan wajahnya –siapa tau Mingyu jadi kasian-
"males banget"
JEDER!
Wonwoo hampir saja menjatuhkan sumpitnya jika tidak ia genggam dengan erat, Mingyu memejamkan matanya angkuh. "tapi jika kutolah, kamu pasti tambah berisik nantinya"
Bagaikan ditaman berbunga, hati Wonwoo yang layu mekar kembali, matanya berbinar senang, saking senangnya telinga dan ekor anjing virtual Wonwoo keluar.
"JINJJA? JAA~ Kalau begitu, tanggal 17 nanti kita jalan bareng ya?" pinta Wonwoo dengan suara riangnya, Mingyu menahan tubuh Wonwoo yang semakin mendekat karena senangnya. "Iya iyaa"
"seharian penuh kita jalan-kalan, terus makan kue, YAAA?—"
Mingyu membekap mulut Wonwoo dengan tangannya "Terserah, tapi hentikan ocehanmu! Berisik tahu!"
"Woahhh~ aku tak sabar!"
..
"lalu kau mau apa?" tanya Mingyu saat Wonwoo sudah tenang, Wonwoo menoleh bingung.
"ada yang kamu mau kan?" tanya Mingyu ulang, Wonwoo melebarkan matanya saat ia rasa otaknya mulai mengerti dengan pertanyaan Mingyu. "sungguh? Boleh nih? Pelayanan sekali dalam seumur hidup, ya?" seru Wonwoo senang.
Mingyu memutarkan matanya bosan "ah, biar kukasih tahu, jangan bilang 'apapun boleh' soalnya bikin repot"
"e-eh? Um... kalau begitu..., apa ya, hmm..."
"apa?" tanya Mingyu, Wonwoo berpikir keras, apa yang dia inginkan selama ini. Beberapa detik kemudian ia menatap Mingyu sambil tersenyum "ah~ cinta..?"
Mingyu terkesiap kaget, matanya melirik tidak percaya pada Wonwoo "a-apa?"
Wonwoo mengangguk mantap "Kubilang... aku ingin cinta darimu deh!"
"Ha? Jangan bodoh. Dimana aku bisa belinya?—"
TING NONG TING NENG (wes gagal wes== opo iki)
Wonwoo merapihkan bekalnya dengan terburu-buru setelah mendengar bel masuk "Selanjutnya kelas musik! Aku harus cepat!" kemudian ia berlari meninggalkan Mingyu.
"Hei!"
"Mingyu jangan telat masuk yaa!" seru Wonwoo sambil berlari menuju kelasnya meninggalkan Mingyu yang sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
.
.
.
"Dia meminta cinta darimu? Hahaha!" suara tawa Seungcheol menggema diruang tamu apartemen Mingyu.
Sepertinya kebiasaan Seungcheol ke apartemennya saat malam belum juga hilang, tapi Seungcheol tak hanya berdua dengan Mingyu ada pula tamu yang tak diundang.
"Padahal meminta tas lebih baik daripada ini" Mingyu menjawab dengan malas sembari bertopang dagu dimeja ruang tamunya, Seungcheol meminum teh yang disediakan Mingyu "Kau bicara apa? Lucu tahu. Ya'kan Junhui?" tanya Seungcheol meminta pendapat pada namja yang duduk bersebrangan dengan Mingyu.
"Benar tuh. Apalagi saat ini sudah jarang loh yeoja atau namja meminta hal itu" jawab tamu yang tak diundang aka Wen Junhui, seseorang yang sangat Mingyu tak inginkan kedatangannya. Mingyu menatap Jun datar tanpa menanggapi pendapatnya.
"Oh, ada apa, Mingyu? Melihatku penuh gairah begitu..." tanya Jun. Mingyu berdecih malas "Lagi pula, ngapain kau masih disini? Katanya mau pulang setelah berkenalan dengan Seungcheol"
Jun mengibaskan tangannya "ah, niatnya sih begitu, tapi mendengar kisah masa-masa SMP-mu sangat menyenangkan"
"Yah, ternyata Mingyu punya teman se menarik ini!—" sahut Seungcheol sambil mengacungkan ibu jarinya pada Jun.
"Dia bukan temanku"
Jun tersenyum "Aku pun begitu! Tidak disangka-sangka Mingyu memiliki teman semenarik dirimu, Seungcheol-ssi!"
"Haha! Panggil saja Seungcheol! Teman Mingyu juga temanku. Makanya aku akan memanggilmu Jun saja ya?" Seungcheol menjentikkan jarinya pada Jun, yang dibalas dengan tatapan berbinar dari Jun.
"Seungcheol-ah!" seru Jun ala drama.
Seungcheol tersenyum ramah pada Jun, kemudian mereka berdua bersalaman dengan dua tangan ( bahasanya belit==) "Salam kenal Jun!"
"sama-sama Seungcheol! Eh— jadi, bagaimana kau akan menjawab permintaan Wonwoo?" Jun langsung menolehkan wajahnya pada Mingyu yang asik berpikir.
"Hah? Aku? bagaimana..." Mingyu menegakkan posisi duduknya menjadi bersandar, tangannya ia lipat didepan dada, dahinya terlihat berkerut menandakan ia sedang berpikir keras. "Dari awal 'cinta' itu apa? Sangat absurd, tidak masuk akal"
Perkataan Mingyu membuat kedua temannya terperangah, mereka menatap Mingyu tidak percaya.
Mingyu kembali menatap kedua temannya "ada apa?"
"Mingyu, kau manusia'kan?!"
"ada apa denganmu, Mingyu?!"
"terus kalau kalian bagaimana?!" sahut Mingyu kesal, Jun menghelas nafas berat "Kau hanya perlu membuatnya bahagia, seperti memujinya" jelas Jun diakhiri dengan kedipan sebelah mata untuk Mingyu.
Seungcheol mengangguk mengiyakan "Kalau aku..., mau mengajaknya makan masakan yang lezat. Seperti daging panggang!"
"tidak, meski begitu, kau butuh restoran dengan pemandangan malam yang indah" kata Jun membenarkan jawaban Seungcheol.
"Benarkah?" tanya Seungcheol, Jun mengangguk "tentu benar!"
Mingyu benar-benar jengah kali ini, ia memutukan untuk beranjak dari duduknya "Aku terkesan kalian bisa melakukannya dengan mudah" kata Mingyu sebelum melangkah pergi dari ruang tamu.
Jun memiringkan tubuhnya untuk melihat Mingyu yang berjalan menuju dapur "Oh iya, aku penasaran kenapa kau enggan dengan itu. Kau merasa malu?"
Mingyu membuka kulkasnya lalu mengambil sebotol mineral dingin "Aku tidak malu. Hanya saja aku tidak suka berkata manis dengan orang lain"
"Kenapa bisa begitu?apa kau tidak pernah melihat Wonwoo bahagia satu kalipun?" kali ini Seungcheol yang bertanya, Mingyu menegak air mineralnya kesal "Hal seperti itu, aku tidak mengingatnya."
Seungcheol menunjuk Mingyu dengan kesal karena pemikiran temannya yang tidak normal itu "Tidak! Meski kau tidak sadar, pasti pernah lah" jeda sebentar, Seungcheol sengaja menghentikan kalimatnya saat melihat Mingyu yang menatapnya penasaran.
"Kau mulai mencari... dan ingin melihatnya lagi, ini lebih dari kata-kata manis ataupun humor. Ini alami, itulah hal yang seperti itu" sambung Seungcheol. Jun menatap Seungcheol takjub "Wahh! Pemikiranmu tinggi sekali. Padahal tidak punya pacar!"
Seungcheol sedikit tertohok sih karena ucapan Jun tapi ia menutupinya dan tersenyum bangga pada Jun "Bukan hanya pacar. Keluarga, teman dan semuanya sama!"
"jadi begitu! Aku terkesan! Hahaha!"
"benarkah?"
"kau menakjubkan Seungcheol!"
"hahaha tidak juga"
Disisi lain, Mingyu menyandarkan tubuhnya pada lemari dibelakangnya, setelah mendengar penjelasan Seungcheol, Mingyu memikirkan perkataannya dengan serius.
.
.
"Cinta? Kamu sudah gila, Wonwoo?" Junghan menatap Wonwoo yang sedang sibuk menyapu dengan tidak percaya, mereka tengah mengerjakan tugas piket yang selalu diwajibkan saat pulang sekolah untuk setiap kelas. Kebetulan Wonwoo dan Junghan kedapatan hari yang sama.
Wonwoo tersenyum canggung pada Junghan "Soalnya, ini'kan ulang tahunku. Jadi mungkin saja..."
"mungkin saja.. apa?"
"Meski sekali, aku mau Mingyu mengatakan "Aku suka kamu" langsung..., gitu deh?" jawab Wonwoo polos, Junghan memiringkan kepalanya "dan itu 'cinta'?"
Wonwoo terkekeh menanggapi, "tapi apa Mingyu mau mengatakan hal itu?" tanya Junghan penasaran.
"Yah, aku tidak berharap banyak sih. Selama Mingyu melakukannya untukku, itu sudah cukup"
"begitu ya.." Junghan menghela nafas lega, kemudian tersenyum tipis. Wonwoo mengangguk senang "Um.. ah~ cepat-cepatlah tanggal 17, akupun sudah buat rencana kencan! " harapnya sembari tersenyum.
Tanpa sadar, diluar kelas Mingyu telah menunggu Wonwoo. Ia tidak sengaja mendengarkan percakapan Junghan dan Wonwoo yang sedang piket, niat awalnya hanyalah menjemput Wonwoo. Tetapi ia berakhir hanya menguping didepan kelasnya.
Wonwoo yang masih belum sadar dengan kedatangan Mingyu, ia tetap memberitahu Junghan rencananya.
"Pertama ke restoran prancis, lalu ke bioskop—"
"S-sebentar, ini ulang tahunmu, tapi buat rencana sendiri?"
"Hah? Ya..., kenapa?"
.
.
Bunyi gemercik air yang keluar dari shower memenuhi ruangan kecil itu, air yang keluar membasahi tubuh pemuda bersurai keabu-abuan, tangannya terulur untuk memutar kran lalu keluar dengan mengenakkan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
Kakinya melangkah mendekati kaca yang ada di kamar mandinya, pandangannya menatap tajam pantulan dirinya di cermin, pikirannya kembali melayang saat sore tadi dikelas. Kembali mengingat nada ceria kekasihnya yang menceritakan apa yang diinginkannya untuk hari ulang tahunnya.
'Meski sekali, aku mau Mingyu mengatakan 'aku suka kamu' langsung...'
Pemuda bersurai keabuan yang itu mendecih kecil, sudut bibir kanannya terangkat.
"Hah... Cuma itu?" katanya remeh, ia menarik nafas dalam lalu mengeluarkannya kasar. ia menegakkan tubuhnya lalu kembali menatap lekat-lekat pantulannya dicermin.
"a..., A..., suka ..."
Tanpa sadar, tangan terkepal erat, giginya bergelutuk erat.
PRANK!
Tanpa sadar pula, ia memukul kaca dihadapannya dengan tangan kosong. Dahinya berkerut, tangan bergetar. Entah apa yang di pikirkan pemuda itu. Selang beberapa detik, ia memegangi kepalanya kesal.
"apa aku begitu bodoh?" lirihnya pelan.
.
.
.
Wonwoo berdiri didepan salah satu toko yang bertempat di salah satu distrik Seoul, ia merapihkan rambutnya yang sudah ia tata dengan rapih.
'Hari ini aku memotong rambutku. Menurut Mingyu gimana ya? Ugh.. aku jadi gugup!'
Ia memperhatikan lagi penampilannya, dengan sweater berlengan panjang berwarna kuning yang sangat cocok untuk tubuh mungilnya kemudian kakinya yang dibalut dengan celana putih panjang lengkap dengan sepatu nike putih kesayangannya.
Wonwoo tampak manis hari ini, tentu saja ia harus tampil maksimal. Karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, ia kembali membenahi rambutnya. –tak boleh ada yang kurang tentunya.
Mendengar ada langkah kaki yang mendekatinya, Wonwoo menoleh ke sisi kanannya. Senyumnya mengembang saat melihat orang yang ia tunggu, akhirnya datang.
Mingyu pun tampak tampan walaupun hanya dengan kaus biru polos dilapis dengan jaket tipis berwarna biru tua, lalu kalung berwarna hitam dilehernya dan celana jeans biru tua.
"Mingyu! Selamat pagi! Tidak biasanya kau datang tepat waktu!" Wonwoo melangkahkan kakinya menghampiri Mingyu.
"hanya kadang-kadang" jawab Mingyu acuh.
'baiknyaa! Mungkin karena ulang tahunku' Wonwoo membatin senang, senyum manisnya masih menghiasi wajahnya yang sedikit merona malu.
"kau memotong rambutmu?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengangguk canggung "Y-ya, soalnya cuaca semakin panas, dan karena aku sudah 17 tahun, jadi... menurutmu bagaimana?"
Mereka berjalan beriringan tetapi dengan cuek Mingyu mengalihkan pandangannya ke lain arah "Oh. Benar juga..., bagus kok?"
Wonwoo tersenyum senang, ia menatap Mingyu yang tak melihat kearahnya. Dalam hati ia berteriak senang, siapa yang tidak senang dipuji kekasih?
"tapi yang dulu juga bagus..."
Tap
"he?" Wonwoo menghentikan langkahnya, membuat Mingyu yang tidak peduli terus melangkah pergi meninggalkan Wonwoo yang terpaku bingung dengan jawaban Mingyu.
'Terus..., mana yang dipilih?'
Sedangkan Mingyu, ia terus berjalan tanpa memperdulikan Wonwoo yang tertinggal dibelakangnya. Tangannya yang sedari tadi berada di dalam saku celanannya terkepal erat, jangan lupakan giginya yang bergelutuk kesal.
.
.
Wonwoo mengarahkan ponselnya untuk mendapatkan side foto yang bagus, ia tersenyum melihat objek yang menggugah seleranya.
Ia beberapa kali menekan ikon potret untuk mendapatkan gambar yang baik, Mingyu yang sedikit jengah melihatnya memilih menopangkan dagu sembari menunggu.
"Ya. Mau sampai kapan kau memotretnya, lebih baik kau makan" tegur Mingyu. Wonwoo yang ditegur hanya tersenyum, tangannya masih sibuk mengarahkan ponselnya "untuk kenang-kenangan, sesampainya dirumah. Aku akan menyimpannya. Apa kau juga mau?"
"tidak perlu" jawab Mingyu seadanya.
Ditengah-tengah kegiatan mengatur fokus ponselnya, tiba-tiba Wonwoo melihat kotak biru berpita merah yang tengah disodorkan oleh Mingyu. Wonwoo menghentikan kegiatannya lalu menatap ke arah Mingyu.
"Ini" Kata Mingyu singkat, mata Wonwoo memperhatikan kotak yang disodorkan Mingyu teliti. Walaupun kecil, Wonwoo tidak bisa memastikan apa yang ada didalamnya.
"Ini, hadiahnya" ulang Mingyu, detik itu juga Wonwoo tersenyum cerah.
"Hah? Kau tidak bohong kan Mingyu? Aku senang! Boleh kubuka?" Wonwoo mengambilnya dari genggaman Mingyu lalu membukanya dengan cepat. keasikan Wonwoo membuat Mingyu hanya menatap Wonwoo datar.
"Kamu sudah membukanya"
Wonwoo kembali sibuk dengan kado kecilnya, matanya berbinar menatap gelang yang diberikan Mingyu. Gelang hitam dengan bandul motif anjing yang sangat manis, yah walaupun masih bermotif seperti itu. Ehem.
"Wahh! Manisnya, apa kau yang memilihnya sendiri?" tanya Wonwoo, ia segera meneliti gelang itu baik-baik.
Mingyu berdehem pelan lalu mengangguk "hanya memilihnya asal" –yah walaupun semalam ia bahkan tidak tidur untuk membrowsing hadiah untuk Wonwoo.
Saat itu juga Wonwoo memakai gelang itu lalu menatap Mingyu "Kalung dan gelang ini, sekarang jadi dua hadiah darimu ya. Aku harap bisa dapat banyak lagi darimu. Natal ini, ulang tahun selanjutnya, juga masa depan..." kata Wonwoo senang, bibirnya kembali tersenyum hingga membuat kerutan di sekitar hidungnya.
Mingyu terdiam sejenak, dagunya masih bertopang nyaman pada tangan kirinya, bibirnya sedikit terangkat setelah mendengar harapan dari kekasih polosnya.
"Artinya, kau ingin aku mengeluarkan banyak uang untukmu?"
"Hah?! Tidak, tidak! Bukan seperti itu!" Panik Wonwoo, ia mengibaskan tangannya sembari menggelengkan kepalanya berusaha meyakinkan Mingyu. Setelahnya ia mencibir pelan "Aih.. padahal sudah tau" –mungkin kodemu kurang keras Wonu-yaa
Mingyu tersenyum tipis, ia memperhatikan Wonwoo yang sekarang tengah mengutak-atik gelang pemberiannya.
"Wonwoo-ya" panggil Mingyu
"Hm? Apa?" Wonwoo melepaskan pandangannya pada gelang pemberian Mingyu, lalu hampir saja jantungnya lepas karena ia mendapati Mingyu yang menatapnya lekat-lekat dengan tubuh sedikit mencondong kearahnya.
"M-mingyu-ya"
Wajah Wonwoo kini memerah, matanya balik menatap Mingyu. Sedangkan Mingyu bibirnya sedikit bergetar, ia berusaha untuk mengucapkan satu kalimat.
"a...aku..a—" Mingyu berhenti sejenak, kemudian menarik nafas dalam-dalam. "a...aku—Aku mau cari udara segar dulu" ia menarik tubuhnya menjauh dari Wonwoo.
"e-eh?" Wonwoo membeo, pikirannya kacau. Tangannya sedikit begetar, lalu ia mengangguk. "ya. Silahkan.." setelah itu, Mingyu pergi keluar dari restaurant.
'AKU MALU SEKALI! WAJAHNYA MENDEKAT! Ada apa ya tadi?' Wonwoo menutupi wajahnya dengan kedua tangan saat Mingyu pergi meninggalkannya. Pipinya memerah, bahkan sampai ketelinganya. –ia malu setengah mati rupanya.
.
Diluar, Mingyu menyenderkan punggung tegapnya pada salah satu dinding. Tangannya kembali terkepal erat, perlahan ia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya.
"Sial" umpatnya.
.
.
.
Tebece atuh qaqa!
Halo, Lio disini.
Maaf ya, baru update. Wifi dirumah rusak, jadi Lio ga bisa on. Kebetulan juga Lio abis sakit u,u parah lah sampe ngaret gini, maafin Lio ya.
Nanti kalau Wifi udah sembuh/? Lio bakal update beruntun. Jadi sekalian langsung selesein ini terus bikin oneshoot.
Mohon maaf buat yang nungguin ini u,u Lio jadi ngerasa ngephpin kalian. Padahal Lio ga ada maksud gitu ;-; seriusan.
Makasih juga buat yang setia ngebaca WBBP, ILY yaaa *jubjub.
Untuk review nanti Lio balesin satu-satu di chap depan. Annyeong!
