ULTIMA RATIO
Disclaimer : J.K Rowling
Author : Winterblume
TomMione Time-Traveller Fic
Romance & Adventure
Summary:
Akhirnya hari Pertempuran Akhir melawan Lord Voldemort telah datang. Harry, Ron, dan Hermione bertempur dengan gagah berani melawan musuh bebuyutan mereka- tapi kemudian sesuatu menjadi salah. Dan Hermione menemukan dirinya sendirian dalam situasi genting.
19
MENJAUH DARIKU
.
Pagi berikutnya Hermione terbangun dan menemukan naskah Peverell tergeletak di dadanya. Dia pasti tertidur saat membacanya tadi malam. Dia mengangkat naskah itu dan meraih sampul kulitnya. Buku itu benar-benar mengganggu. Hermione belum pernah membaca tulisan sekompleks itu. Ini membuatnya frustasi. Ditambah lagi, Peverell memiliki kebiasaan menjengkelkan untuk melompat tiba-tiba dari satu topik ke topik lain tanpa penjelasan apapun. Hampir mustahil untuk mengikuti alurnya. Hermione harus mengakui bahwa dia tidak berhasil memahami apa yang ditulisnya. Dia hanya bisa berharap bahwa ketika, atau lebih tepatnya jika, Peverell mulai menulis tentang Tongkat Elder, dia akan mampu memahami setidaknya hanya konsepnya.
Hermione mendesah, berguling dan berdiri dari ranjangnya. Lalu ia menyimpan buku di dalam penyimpanan rahasia di kopernya. Teman sekamarnya tampaknya masih tidur, Hermione lega. Entah bagaimana mereka perhalan-lahan mulai menjengkelkannya. Pembicaraan dangkal mereka sungguh tak tertahankan. Satu-satunya pengecualian mungkin Diana Potter. Gadis itu tidak mengganggu seperti gadis-gadis lain.
Beberapa saat kemudian, Hermione menuruni tangga ke ruang bersama. Senyum kecil muncul di wajahnya saat matanya berkelana ke ruang bersama. Ruangan ini adalah salah satu yang tidak berubah dalam perjalanan waktunya. Dinding masih berwarna merah Gryffindor, sofa masih tetap empuk. Sama seperti di ingatannya dalam zamannya ketika masih di Hogwarts. Rasanya menyenangkan menemukan sesuatu seperti di rumah di negeri aneh tempatnya terdampar sekarang.
Ketika mengedarkan pandangan ke ruangan itu, matanya jatuh pada tiga anak laki-laki yang duduk di salah satu sofa di pojok ruangan. Hermione mengerutkan alis. Hal yang jarang bagi Longbottom atau Weasley untuk bangun pagi. Lupin, ia bisa mengerti, dia sering bangun lebih pagi dibandingkan Hermione. Tapi Longbottom dan Weasley? Dan hari ini Hermione bahkan bangun lebih pagi daripada biasanya. Hermione berjalan mendekati mereka. Saat ia telah cukup dekat dengan mereka, kerutan di wajahnya semakin terbentuk. Dia bisa melihat lengan kemeja Longbottom digulung dan ada noda merah jelek di lengannya. Noda itu terlihat seolah-olah sesuatu telah membakar lengannya dan meninggalkan bekas luka bakar. Lupin sekarang tengah merendam kain dalam sebuah ramuan.
"Aduh, pelan-pelan!" Longbottom meringis saat Lupin mulai mengoleskan kain ke lengannya.
"Jangan seperti anak kecil pengecut, Marc," kata Lupin dengan suara tenang sambil terus mengobati luka temannya.
Hermione telah mencapai sofa dan menatap luka bakar kemerahan di lengan Longbottom.
"Apa yang terjadi?" tanyanya tanpa basa-basi.
Kepala tiga pemuda itu tersentak dan mereka menatapnya. Jelas mereka bertiga tidak melihatnya datang. Tatapan Hermione memperhatikan lengan Longbottom. Luka itu terlihat cukup menyakitkan dan tampaknya banyak bagian kulit lengan Longbottom yang terkena luka serupa.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" tanya Hermione lagi.
Mereka masih menatapnya tanpa mengatakan apapun. Hermione mengerutkan kening pada mereka. Mengapa mereka mendadak jadi aneh?
Akhirnya Longbottom berkata dengan gugup, "Hermione, kau muncul darimana?"
"Aku tidak muncul. Aku tadi berjalan mendekati kalian," jawabnya sebelum melanjutkan dengan suara tajam. "Sekarang, apa yang terjadi padamu?"
Longbottom menggeliat tak nyaman di sofa melihat tatapan meneliti Hermione. Hermione sangat penasaran sekarang. Kemudian Lupin berdehem dan Hermione menoleh padanya penuh harap.
"Tidak ada yang serius," katanya tenang. Meskipun Hermione menyadari bahwa dia menyembunyikan sesuatu. Lalu Lupin melanjutkan, "Sungguh, kau tidak perlu khawatir."
"'Tidak ada yang serius'…" Hermione mengulangi kalimat itu pelan sambil mengamati luka Longbottom. Lalu matanya kembali ke Lupin. "Luka ini terlihat tidak ringan di mataku."
Kali ini Lupin tidak menjawab namun hanya menghindari matanya. Kelihatannya ketiga temannya tidak mau memberitahunya. Seolah-olah mereka diam karena tidak ingin membuat Hermione takut dengan apapun yang terjadi pada Longbottom. Rencana itu tidak berhasil karena diamnya mereka malah membuat Hermione semakin khawatir. Dia duduk di meja depan sofa dan mengamati teman-temannya. Mereka bertiga menghindari tatapannya.
"Kalian bisa memberitahuku," kata Hermione dengan suara lembut, mencoba membujuk mereka untuk bercerita. "Aku bisa menangani apapun itu."
Sekarang Longbottom melihatnya khawatir kemudian berkata pelan, "Dengar, kau pasti akan takut kalau mendengarnya."
Hermione tersenyum kecil. "Apapun itu, Marc, aku pasti akan bisa mengatasinya." Dia membungkuk sedikit ke arah Longbottom dan berkata, "Ceritakan saja."
Longbottom menatapnya dan setelah beberapa detik, ia akhirnya menyerah dan mulai berkata dengan suara pelan, "Riddle yang melakukannya."
Mata Hermione melebar syok lalu melesat ke luka menyakitkan di lengannya. "To‒ Riddle melakukan itu?"
Dia memandang Longbottom yang balas menatapnya dengan prihatin. Hermione tersentak saat merasakan sebuah tangan di lengannya.
"Kau tidak usah khawatir," kata Lupin dengan nada menenangkan. "Kami tidak akan membiarkannya mendekatimu."
Dia menatap Lupin heran. "Untuk apa? Marc yang diserangnya, bukan aku," tanyanya bingung. "Kenapa dia melakukan itu?"
"Bajingan jahat itu mengancammu di kelas Mantra," Longbottom tiba-tiba berseru marah. "Jadi aku bilang padanya untuk menjauh darimu. Dan dia menyerangku."
Hermione sekarang memandang wajah marah Longbottom. Dia terkejut mendengar Tom menyerangnya. Meskipun demikian, kenapa dia harus terkejut? Dia adalah Voldemort. Apakah butuh alasan bagi Tom untuk menjadi jahat?
"Hermione, kau harus sangat berhati-hati sekarang." Suara Lupin serius. "Riddle benar-benar kejam. Katanya dia akan terus mengincarmu sekarang."
Hermione melihat Lupin.
"Tidak," katanya tidak yakin.
"Kau benar-benar tidak perlu khawatir." Longbottom mencoba meyakinkannya. "Apapun yang terjadi, kami tidak akan membiarkan dia berbuat macam-macam padamu."
Hermione memperhatikan tiga pemuda di depannya. Mereka tampaknya benar-benar peduli padanya. Apapun yang dikatakan Tom pada mereka tampaknya sangat mengguncang mereka.
"Kalian tidak perlu melindungiku," katanya dengan suara tegas. "Aku bisa menjaga diri."
Dia tidak ingin mereka merasa bertanggung jawab atas dirinya. Mereka adalah anak-anak yang ceria dan Hermione tidak mau menarik mereka ke dalam dunianya yang penuh masalah.
"Hermione," Lupin sekarang berkata dengan suara berat. "Kami tahu kau bisa menjaga diri. Tapi Riddle sangat kuat. Dan dia tidak ragu-ragu untuk menggunakan Sihir Hitam. Dia bahkan menggunakan kutukan Noceo pada Marc."
Mata Hermione terbelalak lebar pada Lupin. Dia tahu kutukan itu. Itu adalah kutukan yang sangat gelap dan tujuannya adalah menyakiti korbannya. Serupa dengan kutukan Cruciatus. Kutukan Noceo meninggalkan jejak menyakitkan pada korbannya. Kemarahan menggelegak dalam diri Hermione. Mengapa Tom selalu saja melakukan hal-hal jahat seperti itu? Bagaimana bisa dia terkadang begitu lembut tapi kemudian melemparkan kutukan yang sangat jahat pada orang lain?
Tangan Hermione mengepal kuat saat matanya menelusuri lengan Longbottom. Dia bisa merasakan dirinya kehilangan kendali atas amarahnya saat ini dan sihirnya berderak marah menarik-narik dirinya. Tiba-tiba Hermione bangkit dari duduknya. Lalu ia berbalik dan berjalan ke pintu keluar ruang bersama. Dia melewati lubang lukisan, mengabaikan teman-temannya yang berteriak memanggilnya. Kalau memang Hermione harus meledakkan amarahnya, maka ia memastikan itu dilampiaskan ke orang yang pantas mendapatkannya.
Sihirnya berkobar saat ia berjalan menyusuri koridor dan menuruni tangga, mengabaikan murid lain yang ditemuinya, hingga akhirnya ia tiba di koridor bawah tanah. Sebenarnya ia tidak tahu dimana tepatnya pintu masuk ruang rekreasi Slytherin. Tapi dia cukup yakin Tom ada di suatu tempat di bawah sini. Setidaknya koridor ini adalah arah dimana anak-anak Slytherin datang menuju ke Aula Besar. Sihirnya masih berderak marah saat menyusuri koridor.
Bagaimana mungkin Tom menghantam Longbottom dengan kutukan gelap seperti itu? Apa yang mendorongnya untuk selalu melakukan hal-hal kejam seperti itu?
Hermione berpapasan dengan beberapa anak Slytherin yang berjalan menuju Aula Besar, perlu digarisbawahi bahwa mereka semua melotot bengis atau mendesis pada gadis Gryffindor yang berani memasuki wilayah ular ini. Tetapi Hermione tidak memperdulikan mereka sedikit pun, dia masih terlalu marah. Saat melewati tikungan berikutnya, akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya. Tatapannya jatuh pada sekelompok pemuda Slytherin. Matanya menyipit marah saat melihat Tom. Di sanalah Tom, berjalan di koridor dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tentu saja, pikir Hermione marah, ia dikelilingi oleh kaki tangannya. Ada Avery, Lestrange, Malfoy, Black, dan yang terakhir pastilah Alba. Mengapa Slytherin selalu terlihat jahat dan gelap, ia bertanya-tanya saat matanya mengamati satu per satu pemuda itu.
Apa yang dipikirkan oleh Topi Seleksi? Hermione bertanya-tanya marah. 'Ayo kita seleksi semua orang jahat ke dalam satu asrama, sehingga mereka tidak mengganggu orang-orang nornal'?
Tom melihatnya berdiri di koridor, ia mengangkat alis bertanya padanya. Hermione hampir menggelengkan kepala. Seakan-akan Tom benar-benar tidak tahu mengapa ia berada di sini. Tom berhenti di depannya dan menatapnya dengan mata abu-abu tak tertebaknya. Pengikut bodohnya berhenti juga dan memandangnya mengancam. Tetapi Hermione terlalu marah untuk memperhatikan pelototan bermusuhan mereka. Dia menatap Tom dengan marah, yang hanya membuat Tom mengerutkan kening padanya.
"Kau!" Hermione mendesis marah pada Tom sambil menudingkan jari telunjuknya ke dada pemuda itu. "Apa yang sudah kau lakukan, hah?"
Dia bisa mendengar bisikan berang datang dari para pengikut Tom ketika melihat Hermione berbicara dengan pemimpin mereka seperti itu. Mereka tampaknya sangat terganggu dengan kekurangajarannya. Tetapi Hermione masih terlalu marah untuk peduli dengan sikap agresif mereka.
"Apa maksudmu?" Tom menjawab dengan tenang dan halus.
"Jangan pura-pura bodoh, Tom!" Hermione menggeram padanya dengan kemarahan yang membabi buta.
Dari ekor mata, Hermione melihat pengikutnya bergeser dan melangkah lebih dekat padanya. Tapi dia sama sekali tak terganggu dengan perilaku mereka. Jika mereka ingin mengutuk, dia sudah siap. Tinggal melenturkan pergelangan tangan untuk mendapatkan tongkat sihirnya. Sekarang dia cukup marah untuk mengutuk mereka semua. Tom tidak menjawab, tapi terus menatapnya tenang. Sikapnya sungguh menjengkelkan Hermione.
Hermione akhirnya meledak dan berteriak marah, "Kau mengutuk Marc semalam!"
Saat mendengar nama itu, kilatan berbahaya meresap di mata abu-abu Tom. "Longbottom?" tanyanya lembut tapi sekarang ada sentuhan dingin mematikan di sana.
"Ya, Marc Longbottom!" Hermione mendesis. "Apa kau selalu harus menyakiti orang lain? Apa yang salah denganmu?"
Ada secercah emosi membunuh di mata abu-abu dingin itu saat berkata, masih dengan suara tenang menakutkan, "Dia pantas mendapatkan itu."
Hermione menatapnya menghina sebelum membentaknya dan berkata mengejek, "Kau benar-benar penganiaya yang kejam, bukan?"
Tom melotot gelap padanya, tapi sebelum sempat membalas, Hermione mendengar desisan mengancam padanya, "Tutup mulutmu!"
Hermione menarik tongkatnya sambil berbalik dalam satu gerakan cepat. Dia menemukan salah satu pemuda Slytherin menatapnya ganas sambil mengacungkan tongkat. Hermione mengenalinya, Primus Lestrange, seorang pemuda tinggi kekar dengan raut brutal di wajahnya.
"Aku akan mengajarkanmu untuk tidak pernah berbicara dengan kaum superior seperti itu, pelacur kecil!" Lestrange membentaknya dan memandangnya kejam.
"Pfff, superior," Hermione mengejeknya. "Jangan membuatku tertawa!"
Pernyataannya diikuti oleh desisan marah dan mengancam dari pemuda Slytherin lainnya. Hermione memasang sikap duel saat pemuda lain mengikuti sikap Lestrange dan menarik tongkat sihir mereka juga.
"Kau akan menyesali penghinaanmu itu!" Lestrange menggeram padanya.
Lalu Lestrange mulai melambaikan tongkatnya marah tapi Hermione sudah siap. Dia baru saja akan mengayunkan tongkatnya saat mendengar suara memerintah di belakangnya.
"Hentikan."
Lestrange benar-benar berhenti menyerang dan menurunkan tongkatnya meskipun raut membunuh tidak hilang dari wajahnya saat memandang Hermione. Hermione menoleh sedikit melihat Tom yang baru saja memerintahkan Lestrange untuk menghentikan serangan. Tatapan Tom mengeras saat memandang pengikut-pengikutnya. Mereka menggeliat tak nyaman saat mata abu-abu dingin itu mengamati mereka.
Akhirnya Tom berkata dengan suara lembut berwibawa, "Tinggalkan kami sekarang."
"Kumohon, Riddle, biarkan kami mengurus cewek ini," Lestrange mulai memohon pada Tom.
"Benar." Sekarang Avery yang berbicara. Mata pemuda itu menelusuri seluruh lekukan tubuh Hermione dengan tatapan menyinggung. "Kami akan mengajarkan dia agar tidak pernah lagi berbicara seperti tadi terhadapmu."
Hermione benar-benar tidak suka Avery. Selalu ada kilatan mengganggu di mata pemuda itu setiap pandangannya jatuh ke tubuhnya. Dan sekarang Avery memandangnya gelap dan masih memegang tongkat di tangannya. Sebenarnya Hermione tidak tahu seberapa kuat pengikut Tom ini. Sejauh ini, dia tidak pernah benar-benar bertarung melawan mereka. Memang malam itu mereka telah menyerangnya di koridor sebelum menyeretnya ke tepi Hutan Terlarang. Tapi saat itu Tom ada bersama mereka. Hermione sangat yakin pada kemampuan dirinya sendiri, tapi saat ini dia tengah menghadapi lima musuh terbaik yang pernah ada. Ditambah lagi, mereka adalah pendahulu Pelahap Maut dan Hermione belum pernah punya pengalaman bagus dengan kelompok itu. Genggaman di tongkatnya menegang dan dia baru sadar telah melangkah agak jauh dari anak-anak Slytherin dan mendekati Tom.
"Kubilang pergi," desis Tom pada mereka. Nada menakutkan dalam suaranya membuat punggungnya mengigil. "Aku tidak akan mengulang perkataanku lagi."
Hermione menyaksikan para pemuda Slytherin itu dengan enggan menyimpan tongkat mereka dan mulai berjalan pergi. Tentu saja tanpa lupa melemparkan tatapan mengancam ke arah Hermione. Hermione tidak menurunkan tongkatnya sampai mereka membelok di tikungan berikutnya. Lalu ia menghembuskan napas lega. Dia tahu mereka belum terlalu berbahaya seperti Pelahap Maut di zamannya, tapi tetap saja mereka membuatnya merasa tidak nyaman.
"Jadi, apa tuduhanmu tadi?" Hermione mendengar suara datar tanpa emosi dan dingin Tom di belakangnya.
Dia berbalik dan semua kekhawatiran tentang Pelahap Maut masa depan lenyap, digantikan oleh kemarahan. Pemuda itu menatapnya dengan raut muka kosong.
Hermione cemberut padanya dan berkata dengan tajam, "Kau menyerang Marc."
"Dan kau berasumsi bahwa aku yang memulainya?" Tom mendesis padanya saat melangkah lebih dekat.
"Aku tidak peduli siapa yang memulainya, Tom. Tapi kulihat kau tidak pincang sedikitpun karena dikutuk," Hermione menatapnya menusuk.
"Seolah bocah-bocah idiot itu bisa mengutukku," ejek Tom geli.
"Kau tidak boleh berjalan-jalan di koridor dan melemparkan kutukan gelap ke semua orang yang tidak kau sukai sesuka hati," kata Hermione kesal.
Mata abu-abu Tom menyipit sebelum berucap dengan dingin, "Mengapa tidak boleh?"
Hermione mengusap rambutnya frustasi. "Tentu saja tidak boleh. Oke?" dia membentak Tom dengan marah, kesal karena kurangnya pemahaman Tom.
Hermione nyaris bergidik saat tatapan Tom mengamatinya. Ada kilatan dingin mematikan di wajahnya.
"Tentu saja aku boleh melakukan itu," kata Tom dengan intonasi tenang yang aneh meskipun masih terdengar nada dingin meresap di sana.
Hermione menarik napas dalam-dalam. Matanya terkunci dengan mata Tom dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sebuah jurang kegelapan tiba-tiba muncul di mata abu-abunya yang indah. Kegelapan itu membuatnya gelisah. Dia bahkan merasa takut, karena dia sangat mengenal kegelapan itu dengan baik. Hal itu menghantuinya. Menyiksanya. Dan pada akhirnya, merusaknya.
Bagaimana bisa dia pernah percaya bahwa Voldemort memiliki sisi baik?
Hermione tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Tom. Dia hanya berbalik dan berjalan menjauh. Dia tidak mau berurusan dengan Tom sekarang. Bahkan dia tidak ingin mau lagi menghadapi kegelapan itu. Hermione berjalan di koridor bawah tanah yang gelap, gelisah oleh suasana suram di sini. Saat ini yang diinginkannya hanyalah pergi dari tempat menyedihkan ini. Dia sudah menyia-nyiakan cukup banyak waktu di tempat yang gelap. Baru saja berjalan beberapa meter dan mulai menaiki tangga ke lantai satu menuju Aula Besar, Tom telah menyusulnya. Hermione mengabaikan dia sepenuhnya ketika Tom melangkah di sampingnya.
Mereka hampir mencapai lantai satu saat Tom berbicara lagi. Suaranya masih dipenuhi dengan nada dingin. "Kita sedang di tengah-tengah pembicaraan dan kau pergi begitu saja."
Hermione melirik sekilas padanya. Tom mengamatinya dengan kemarahan yang masih bersinar di matanya.
"Nah, harusnya kau bersyukur aku pergi," kata Hermione mengejek. "Dan tidak mengutukmu di sana. Seperti yang selalu kau lakukan."
Hermione sangat marah sekarang. Marah pada Tom karena mengutuk teman-temannya dan marah dengan dirinya sendiri karena pernah percaya bahwa Tom tidak benar-benar jahat. Apa yang sudah dipikirkannya? Bahwa Tom bukan seorang Pangeran Kegelapan jahat? Sekarang mereka telah sampai di lantai satu dan Hermione terus berjalan ke Aula Besar. Yang menjengkelkan, Tom masih membuntutinya.
"Aku tidak mengerti mengapa kau begitu marah," kata Tom marah. "Aku kan tidak menggunakan kutukan berbahaya."
Hermione berhenti berjalan dan menoleh padanya.
"Tidak berbahaya?" tanyanya tak percaya. "Kutukan Noceo, Tom! Kau tahu kutukan apa itu, bukan?" Dia tidak memberi Tom waktu untuk menjawab, "Sihir Hitam."
Tom memandangnya, mengerutkan alisnya, kemudian berkata santai, "Pff. Tidakkah reaksimu sedikit berlebihan?"
Saat ini mereka berdiri di depan pintu masuk Aula Besar. Hermione bisa mendengar obrolan yang berkumandang di dalam Aula. Tapi dia tidak memperhatikan itu karena masih menatap Tom dengan ternganga.
"Reaksiku berlebihan?" serunya marah. "Itu disebut Sihir Hitam karena suatu alasan," Hermione membentaknya.
Lalu Hermione berpaling darinya, mendorong pintu ganda hingga terbuka dan berjalan masuk ke Aula Besar. Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, Tom memegang lengannya.
"Tunggu," kata Tom sambil menariknya sehingga Hermione berbalik padanya.
"Apa?" gertak Hermione. "Kau ingin mengutukku sekarang?"
Hermione memelototinya. Anehnya, kemarahan di mata Tom lenyap dengan cepat hingga tak ada lagi jejak kemarahan di wajah tampannya. Lalu Tom mulai berkata dengan suara tenang,
"Aku tidak akan pernah‒"
"LEPASKAN DIA!" Suara lain memotong perkataan Tom.
Hermione menolehkan kepala dan hampir mengerang saat melihat Longbottom berjalan mendekati mereka. Tentu saja wajah pemuda itu diliputi emosi saat menatap Tom. Dia bahkan bisa melihat tangan kanan Longbottom masuk ke saku jubahnya untuk menarik tongkatnya kapan saja. Lupin dan Weasley mengikuti di belakangnya. Tom berpaling pada mereka, tetapi Hermione menyadari tangannya tidak melepaskannya. Tom masih menggenggam lengannya erat. Tentu saja‒ Hermione memutar matanya‒ topeng kosong kembali di wajah Tom.
"Longbottom," kata Tom cepat. Nadanya sedingin es. "Bagus sekali kau mau bergabung dengan kami." Pernyataan terakhir didampingi dengan sejumlah sarkasme.
Hermione menyaksikan wajah Longbottom berubah ungu gelap dan matanya tertuju pada Tom.
"Sudah kuperingatkan kau untuk menjauhi dia," Longbottom akhirnya membentak Tom.
Hermione hampir saja melompat saat mendengar Tom tergelak menakutkan di sampingnya.
"Oh ya. Aku lupa," bisik Tom dan ada nada geli yang kejam dalam suaranya. "Tolong ingatkan aku lagi. Apakah peringatan itu sebelum atau sesudah kau berlutut menyembah kakiku?"
Hermione menatap Tom dengan mata lebar. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Tom. Itu bukan sekedar ejekan. Bukan, kejahatan dingin yang mendasari suaranya telah mengingatkan Hermione siapa dia sebenarnya. Nada suara Tom, postur tubuhnya, ekspresi wajahnya, semuanya mengingatkan Hermione pada orang itu. Lord Voldemort.
Memori pertemuan terakhirnya dengan Voldemort di Kementerian Sihir masih jelas di benaknya. Dia ingat betul sihir kejam yang berderak di sekitar Pangeran Kegelapan. Rasanya kebenciannya terwujud dalam bentuk sihir agresif. Saat itulah Hermione mampu mendeteksi emosi dalam diri Voldemort selain kebencian dan marah. Voldemort tampaknya diciptakan dari kebencian itu sendiri. Bahkan setiap kata-katanya seperti racun yang menetes di mulutnya. Tujuannya hanyalah menyakiti dan menghancurkan.
Kejam. Tak berbelas kasih. Jahat.
Napas Hermione memburu saat kenangan tentang Lord Voldemort membanjiri otaknya. Sekarang dia meronta melepaskan tangan Tom. Dia tidak ingin Tom menyentuhnya, tidak dengan ekspresi Tom yang seperti ini. Seperti DIA. Hermione tidak tahan berada di dekatnya sekarang.
Mata Tom beralih dari tiga pemuda Gryffindor di depannya ketika merasakan rontaan gadis yang ada di sampingnya. Mata abu-abunya melihat Hermione dan ada rasa khawatir bersinar di sana. Tapi itu tidak mungkin. Hermione yakin bahwa ia hanya membayangkan ekspresi khawatir di mata itu dan terus berusaha melepaskan diri dari Tom.
"Lepaskan!" kata Hermione panik.
Tom melepaskannya. Dengan cepat Hermione mengambil langkah menjauh darinya dan menatapnya dengan mata lebar. Dia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Saat ini, pemuda itu adalah Voldemort. Dan Hermione merasa…
Takut.
Mereka saling bertatapan. Topeng datar tanpa emosi menutupi wajah Tom lagi. Hermione terlalu panik untuk berkonsentrasi untuk mencoba melihat ekspresi di balik topengnya. Dia takut dengan apa yang akan ditemukannya di sana. Hermione menegang saat bahunya dipeluk dengan lembut. Dia menoleh dan menemukan Longbottom di sampingnya. Pemuda itu menatap tajam pada Tom, lalu Longbottom membawanya menjauh dari Tom. Anehnya, Tom tidak menghentikan mereka.
._._._._._._._._.
Tom tidak mengerti kenapa Hermione marah karena kutukan kecil yang telah digunakannya. Oke, kutukan itu memang Sihir Hitam tapi bukan kutukan yang benar-benar bisa menimbulkan bahaya. Sekarang Hermione berbalik dan berjalan ke Aula Besar. Mengabaikannya lagi. Tom merasa frustasi dan kesal dengan perilakunya. Jadi dia membuntuti Hermione lalu menyambar lengannya untuk membuatnya berhenti.
"Tunggu," katanya sebelum ia memutar Hermione sehingga gadis itu menghadapinya lagi.
Hermione melotot marah ke arahnya dan Tom juga merasakan hal yang sama. Semua ini mengancam rencana Tom untuk mendapatkan hati Hermione. Gadis ini tidak boleh melarikan diri darinya. Jadi kalau memang Tom harus memaksanya untuk menerimanya, maka dia akan melakukan itu.
"Apa?" sekarang Hermione mendesis padanya. "Kau ingin mengutukku sekarang?"
Merlin, tidak! Itu adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan, Tom menatap wajahnya yang memerah. Apakah Hermione pikir dia akan melakukan hal seperti itu? Tom mengutuk teman bodohnya karena mereka sudah membuatnya jengkel. Tapi mereka sama sekali tidak ada arti baginya. Tidak seperti Hermione. Kemarahannya meninggalkannya saat menatap wajah marah gadis itu. Hermione tampaknya benar-benar berpikir dia akan mengutuknya.
Dia harus meluruskan ini sehingga Tom membuka mulutnya dan mulai berkata, "Aku tidak akan pernah‒"
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya karena dipotong oleh seseorang. "LEPASKAN DIA!" Sebuah suara marah berteriak padanya.
Mata Tom meninggalkan Hermione dan dengan cepat jatuh pada Longbottom. Kemarahannya kembali lagi. Meskipun sekarang ditujukan untuk pemuda Gryffindor itu. Apakah Longbottom selalu menunjukkan batang hidungnya untuk segala sesuatu yang bukan urusannya? Tom bisa merasakan sihirnya berkobar lagi. Sihirnya mengalir deras dalam dirinya, memberontak minta dilepaskan. Kemarahannya memuncak saat melihat tangan Longbottom berkedut, jelas sedang bersiap-siap menarik tongkat sihirnya. Tom ingin sekali menyingkirkan sampah ini sekarang juga. Sihir marahnya meronta untuk melakukan hal itu. Tapi Tom harus menahan diri. Jadi Tom menarik napas dalam-dalam lalu menyeringai sinis ke anak Gryffindor itu.
"Longbottom. Bagus sekali kau mau bergabung dengan kami."
Bisa ditebak si bodoh itu kelihatannya segera kehilangan kendali.
"Sudah kuperingatkan kau untuk menjauhi dia," Longbottom akhirnya mendesis pada Tom.
Butuh waktu lama bagi Longbottom untuk membalas dengan cerdas, bukan? pikit Tom geli. Ia tertawa pelan atas kebodohan pemuda ini.
"Oh ya. Aku lupa," Tom mengejek dengan suara rendah. "Tolong ingatkan aku lagi. Apakah peringatan itu sebelum atau sesudah kau berlutut menyembah kakiku?"
Menyedihkan, melihat betapa mudahnya untuk menggusarkan anak idiot ini. Tom menyaksikan dengan geli wajah Longbottom yang ternganga marah. Dua orang teman di belakangnya juga terlihat tersinggung. Mereka jelas tidak percaya Tom bisa mengatakan sesuatu seperti itu. Yah, setidaknya jawabannya lebih berseni daripada ancaman kosong Longbottom. Seringai jahat melengkung di bibirnya saat Tom mengamati ketiga Gryffindor dengan angkuh.
Tiba-tiba Tom merasakan Hermione bergerak di sampingnya. Pandangannya beralih dari anak-anak Gryffindor ke arahnya. Tom bingung karena Hermione sepertinya berusaha menjauh darinya. Dia masih memegang lengan atasnya erat tapi Hermione sekarang meronta dari pegangannya. Gadis itu menatapnya dan mata Tom terbelalak sedikit syok melihat kepanikan terlihat jelas di manik cokelat itu. Hermione terlihat ketakutan. Kenapa dia mendadak ketakutan seperti ini? Pastinya bukan karena dirinya kan?
"Lepaskan!" Hermione berkata panik dan Tom benar-benar bisa mendengar ketakutan berdering di suaranya.
Dengan segera ia melepaskan Hermione dan gadis itu buru-buru menjauh darinya, sepertinya ingin mendapatkan jarak darinya sejauh mungkin. Sekarang Tom merasa sangat khawatir saat matanya mengamati sosok Hermione. Apa yang membuatnya begitu ketakutan?
Setelah jarak mereka agak jauh, Hermione menatapnya lagi. Kemudian Tom bisa melihat ekspresi itu di matanya. Ada kilatan aneh yang pernah ia lihat di sana. Kesedihan dan terluka lagi-lagi berteriak padanya melalui mata cokelat itu. Kali ini ada perbedaan. Saat ini juga ada ketakutan di matanya yang tampaknya diarahkan pada Tom. Hermione memandangnya dengan mata besar yang ngeri dan hampir seakan-akan melihat orang lain, bukan dirinya. Siapapun yang dibayangkan sedang Hermione lihat sekarang, adalah orang yang ditakuti gadis itu. Tom ingin sekali melangkah mendekatinya dan memeluknya.
Tapi sebelum bisa melakukan keinginannya, Longbottom telah mendekati gadisnya dan memeluk bahunya. Tom mengepalkan tinjunya saat melihatnya menyentuh Hermione lagi. Tak ada yang lebih diinginkannya selain mengutuk pemuda Gryffindor ini. Tapi Tom tidak melakukan apa-apa karena menyaksikan bagaimana Hermione menatap Longbottom. Ekspresi ngeri di mata cokelat indahnya hilang saat menatap Longbottom. Hermione tidak takut padanya.
Lalu kenapa dia takut pada Tom? Tom sama sekali tidak menghentikan si Gryffindor menuntun Hermione menjauh darinya. Dia tidak mengerti situasi ini. Yang dibutuhkannya hanyalah berbicara pada Hermione. Tapi itu bukan ide yang bagus saat ini. Bisa jadi itu akan mengantarnya ke situasi yang jauh lebih buruk. Jadi Tom menekan keinginan hatinya untuk meraih gadis itu dan menyeretnya jauh dari Aula Besar. Sebaliknya, Tom berjalan menuju mejanya sendiri.
Hermione mengikuti Longbottom. Dia agak terguncang dengan sikap dingin Tom tadi. Dia merasa lemah dan sakit saat kenangan menyakitinya lagi. Dia masih agak terguncang ketika akhirnya mereka mencapai meja Gryffindor dan duduk. Tatapan Hermione menyapu ke seluruh meja asramanya. Apakah yang lain melihat perselisihan tadi? Beberapa Gryffindor memandangnya penasaran, tapi tidak semuanya. Jelas tak seorang pun yang menyadari betapa seriusnya konflik tadi.
"Hermione, apa yang ada di pikiranmu? Berlari dari ruang rekreasi seperti tadi." Mata Hermione berjalan kembali ke Lupin yang baru saja bersuara.
"Ya, dan kau lari tepat setelah kami mengatakan bahwa Riddle mengincarmu juga," kata Longbottom dengan kecemasan dalam suaranya sambil mengusap rambut pirangnya sehingga terlihat lebih berantakan.
"Uhm…tidak…maksudku…kalian benar-benar tidak perlu mengkhawatirkanku," Hermione tergagap lemah.
"Benarkah?" Longbottom bertanya tak percaya. "Lalu apa itu tadi? Riddle menyudutkanmu."
"Bukan, dia tidak melakukan itu." Hermione benar-benar tidak mau mereka khawatir padanya. "Kami tadi hanya berbicara."
"Tidak kelihatan seperti berbicara. Dia mencengkeram lenganmu. Dan aku yakin dia tadi akan mengutukmu," kata Longbottom dengan nada serius yang aneh. "Kau beruntung karena kalian berada di Aula Besar."
"Benar, Riddle pasti tidak akan melakukan hal yang macam-macam di depan umum," kata Lupin tenang, meskipun ketenangannya agak terguncang sedikit. "Dia tidak bodoh."
"Aku bersyukur dia tidak menyudutkanmu sendirian di koridor," kata Longbottom pelan sambil menatapnya prihatin. "Aku tidak mau membayangkan apa yang bisa diperbuatnya terhadapmu."
Hermione memutuskan kontak mata dengan mereka dan menatap tangannya. Dia merasa sedikit bersalah sekarang. Teman-temannya sepertinya sangat khawatir padanya. Setelah apa yang dilakukan Tom semalam, dia bisa memahami darimana kekhawatiran itu berasal. Tapi Hermione masih merasa terlalu terguncang oleh perilaku Tom untuk menghilangkan kecemasan teman-temannya. Meskipun ia tahu bahwa mereka tidak perlu cemas tentang Tom yang akan mengutuk dirinya. Ini seperti dirinya yang takut dengan ide tentang betapa mudahnya Tom memikatnya sehingga ia jadi percaya bahwa Tom tidak berbahaya.
"Oke, ayo kita pergi sekarang."
Hermione dibawa keluar dari lamunan dan menatap Longbottom. Dia sudah bangkit dari kursinya dan mengulurkan tangan ke Hermione. Hermione mengerutkan kening padanya.
"Mau kemana?" tanyanya bingung.
"Aku akan mengantarmu ke kelasmu," jawab Longbottom seolah-olah itu adalah hal yang jelas akan dilakukannya.
Hermione terus menatapnya bingung. Setelah ini dia punya kelas Arithmancy. Tak satupun dari ketiga temannya yang mengambil kelas itu. Jadi Longbottom tidak punya alasan untuk menemaninya.
"Kenapa kau mengantarku?" tanyanya bodoh. "Kau kan tidak mengambil Arithmancy."
Longbottom hanya menggeleng putus asa. "Aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian karena si brengsek jahat itu mengincarmu."
"Ya, Mione," kata Weasley, tampaknya berusaha menenangkan Hermione. "Kami tidak akan membiarkan Riddle mendekatimu."
Lupin, yang duduk di sampingnya, mengangguk sementara masih ada raut muram di wajahnya. Hermione tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Memang bagus untuk mengetahui seberapa besar teman-temannya menyukainya dan khawatir pada keselamatannya. Tapi dia tidak mau mereka selalu mengikuti setiap langkahnya. Hermione masih punya hal yang harus dilakukan yang mereka tidak boleh tahu. Seperti mencari tahu tentang sinar biru yang menyelubungi kastil Hogwarts dan bagaimana keterkaitannya dengan Tongkat Elder. Tapi tampaknya untuk saat ini dia harus menerima semua perhatian ketiga temannya yang agak menyesakkan. Jadi, dia meraih tangan Longbottom dan membiarkan pemuda itu menariknya bangun dari kursinya. Lalu Hermione menyambar tas sekolahnya dan mengikuti Longbottom keluar dari Aula Besar menuju ruang kelasnya.
.
Tom menyaksikan kepergian Hermione dari Aula Besar dengan mata menyipit. Sihirnya menjerit marah saat melihat tangan Longbottom yang menggandeng Hermione. Benar-benar tak tertahankan harus menonton Gryffindor konyol menggandeng gadisnya. Yang terburuk adalah Tom tahu bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu. Tangannya mengepal ketika Hermione meninggalkan Aula Besar bersama Longbottom. Tom harus melawan keinginan untuk menyusul mereka dan menunjukkan pada pemuda bodoh itu betapa beruntungnya ia hanya terkena kutukan Noceo semalam. Ada beberapa kutukan lain yang Tom harus tunjukkan ke Longbottom. Dia benar-benar tidak ingin Hermione bergaul dengan pemuda Gryffindor idiot itu lagi. Dan dia pastinya tidak sudi membiarkan Hermione berdua saja dengan Longbottom. Tom harus mengajarkan pada Hermione untuk menjauh dari bocah itu. Tetapi pada saat yang sama ia sadar, akan sangat berbahaya untuk menggunakan kekerasan demi mencapai keinginannya itu. Hermione pasti tidak akan menerima dirinya. Tapi bagaimana caranya menyingkirkan Longbottom tanpa harus membuat gadis itu membencinya?
Itu pun kalau dia tidak membenciku sekarang, pikirnya frustasi.
Tom hampir ngeri mengingat raut wajah gadis itu ketika ia memegang lengannya. Sebelumnya Hermione sangat marah padanya. Tom harusnya tidak terkejut dengan kemarahannya. Mau tak mau dia mengakui, memang kesalahan besar telah mengutuk teman bodohnya. Memangnya apa yang diharapkannya? Berharap Hermione tidak akan mengetahui tentang itu? Atau berharap gadis itu mau memaafkannya? Tidak, sudah sangat tidak bijaksana dan ceroboh dengan menyerang teman-temannya. Tentu saja gadis itu tidak akan setuju dengan tindakannya. Hermione adalah tipe yang sangat protektif dan juga sangat pemarah. Itu adalah sebagian alasan Tom tertarik pada Hermione, tapi terkadang membuatnya dalam kesulitan juga. Dia seharusnya tidak pernah mengutuk Longbottom. Setidaknya untuk saat ini dimana setiap tindak-tanduknya bisa mempengaruhi pendapat Hermione tentang Tom.
Tom bersandar frustasi di kursinya. Dia menghirup napas tajam ketika punggungnya membentur kursi. Beberapa luka di punggungnya berdarah lagi karena Longbottom mendorongnya ke dinding tadi malam dan lukanya menjadi agak parah. Inilah alasan kuat mengapa ia ingin membunuh Longbottom sekarang.
Semalam, Tom kehilangan ketenangannya gara-gara si bocah tolol itu. Tom belum pernah kehilangan ketenangannya. Dia telah belajar dengan baik setelah tahun pertama, apa yang akan terjadi kalau sampai ia kehilangan kendali. Dia tak pernah berencana untuk mengutuk ketiga Gryffindor itu di koridor. Ya, dia ingin mengejek mereka sedikit tapi tidak pernah merencanakan untuk benar-benar mengutuk mereka. Dia tahu Hermione tidak akan menyetujui tindakan tersebut. Tapi dia kehilangan kendalinya dan sekarang semuanya jadi kacau. Untuk mendapatkan kepercayaan Hermione, dia harus menahan dirinya sendiri.
Tom tersentak dari pikirannya ketika seseorang berdiri di sampingnya. Dia memutar kepalanya dan hampir mengerang karena menemukan Avery berdiri di samping kursinya, terlihat agak gugup dan jelas berusaha menarik perhatian Tom.
"Ya?" tanya Tom tidak sabar.
Dia tidak mau berurusan dengan idiot ini sekarang. Avery membuat kemarahannya menjadi lebih buruk. Jadi Tom menatapnya tajam yang membuat Avery menjauh sedikit dari Tom.
"Kami…kami hanya ingin menanyakan kapan pertemuan selanjutnya diadakan," kata Avery dengan suara sedikit gemetar. "Kau belum memberitahu kami kemarin."
Tom menyipitkan mata ke arahnya. Lalu tiba-tiba ia bangkit dari kursinya sehingga membuat Avery beringsut lebih jauh darinya. Ketika melewati Avery, Tom mendesis padanya dengan suara dingin, "Kalau begitu, bukankah harusnya kalian menunggu sampai aku memberitahu kalian?"
Setelah mengucapkan itu, Tom meninggalkan Aula Besar tanpa melihat ke belakang. Sihirnya masih berderak marah dan ia frustasi karena tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada orang yang bertanggung jawab atas suasana hatinya sekarang.
{{{{{{{+}}}}}}}
.
Hermione duduk di kelas Arithmancy dengan pena bulu di tangan dan sepotong perkamen kosong di depannya. Dia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Dia menatap kosong profesor yang berdiri di depan kelas, tapi tidak terlalu mendengarkan apa yang dijelaskannya. Setidaknya ia tidak perlu takut profesor akan menangkap basah dirinya yang tengah melamun, karena Profesor Gauss memang tidak pernah memperhatikannya. Bahkan kalaupun ia mengangkat tangan, maka profesor akan mengabaikannya. Dia adalah satu-satunya gadis di kelas Arithmancy sehingga Hermione menganggap bahwa ini adalah etiket Empat-puluhan. Jelas orang-orang di zaman ini berpikiran bahwa mustahil bagi seorang wanita untuk belajar tentang matematika. Dia akhirnya berhenti berusaha mendapatkan perhatian Profesor Gauss dan hanya bisa berpuas diri dengan mencatat saja. Sikap mengabaikan dan meremehkan ini membuatnya frustasi, tapi hari ini dia senang karena diabaikan. Karena ada beberapa pikiran yang membanjiri kepalanya.
Jari-jarinya memainkan pena bulunya, mematahkan penanya. Tapi ia terlalu sibuk dengan pikirannya sehingga tidak menyadari betapa hancurnya pena bulunya sekarang.
Hermione kesal dengan dirinya sendiri. Dia mewanti-wanti dirinya lagi untuk menjauh dari Tom. Tapi ia hanya mengabaikan peringatan ini. Hanya masalah waktu sampai sesuatu yang buruk terjadi. Pikirannya mengembara lagi ke bekas luka menyakitkan di lengan Longbottom. Kemarahannya bangkit kembali. Bagaimana bisa Tom melakukan sesuatu seperti itu? Tapi entah kenapa Hermione senang dengan hal itu, karena sekarang dia akhirnya menyadari betapa berbahayanya Tom. Kalau kutukan pada Longbottom masih belum bisa meyakinkannya, dia hanya harus mengingat lagi bagaimana sikap Tom di Aula Besar. Masih membuatnya bergidik ngeri mengingat cara Tom menghina Longbottom. Tom mencemooh dan menertawakan temannya, jelas menikmati kegelisahan Longbottom.
Tapi rasa geli dingin yang ditunjukkan Tom bukanlah yang terburuk. Bukan, yang membuat Hermione resah sebenarnya adalah sesuatu yang tersembunyi di balik topeng Tom. Dia telah melihat sekilas kebencian dan kekejian yang sepertinya selalu membakar dalam diri pemuda itu. Yang membuatnya sangat takut adalah fakta bahwa kebencian itu terlalu akrab baginya. Kebencian dingin itu adalah hal yang sama yang dipancarkan oleh Pangeran Kegelapan. Satu-satunya perbedaan adalah Lord Voldemort tidak lagi repot-repot menyembunyikan kebenciannya. Dia tahu bahwa apapun yang disentuh oleh kebencian ini, akan hancur. Dia berusaha keras bukan kepalang untuk melupakan kebencian ini. Berhadapan dengan itu sekali lagi sangat mengerikan. Sangat tak terduga. Karena selama liburan, Tom tidak pernah bersikap begitu. Dia belum menunjukkan sikap menakutkan atau mengintimidasi selama liburan.
Ya, dan kau sudah tahu sebabnya, bukan? sebuah suara mencemooh dirinya yang membuat napasnya terhenti. Ya, dia sudah tahu mengapa Tom mulai menunjukkan sikap berbahayanya: Selama liburan Tom tidak punya tongkat sihir.
Dia bersikap begitu baik bukan karena dia punya sisi baik, tapi karena ia tidak punya kesempatan untuk melakukan perbuatan jahat. Tapi sekarang sihirnya telah kembali, kekuatannya kembali, dan hal pertama yang dilakukan Tom adalah menyerang teman-temannya. Tanpa alasan yang pasti. Hermione tahu sihir Tom jauh lebih kuat dibandingkan Longbottom. Jadi, bagaimana mungkin Longbottom telah memaksa Tom untuk menggunakan kutukan sedemikian gelap? Tidak, skenario yang paling mungkin adalah Tom menyerangnya hanya karena dia tidak suka Longbottom dan menginginkannya menderita.
Mata Hermione terpejam dan ia menarik napas dalam-dalam. Ketika membuka matanya, tatapannya berkelana ke pena yang hancur di tangannya. Dia meletakkan pena bulunya yang rusak di atas meja, tapi tidak mengambil pena lain dari dalam tasnya. Dia tidak berniat untuk memperhatikan pelajaran, jadi kenapa harus repot-repot?
Ketika pelajaran berakhir, Hermione mendapatkan satu kesimpulan. Dia tidak punya pilihan lain. Dia harus menjauh dari Tom, mengabaikan perasaan anehnya dan menemukan jalan pulang. Dia tahu apa yang akan dikorbankannya dengan menghindari Tom. Tom adalah satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa utuh lagi, tidak kesepian lagi. Tapi bukan pertama kali bagi Hermione untuk mengorbankan sesuatu demi misinya.
Profesor Gauss membubarkan kelas dan Hermione memasukkan perkamen yang tak terpakai dan pena rusak ke dalam tas, kemudian ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan kelas Arithmancy. Saat melangkah ke koridor, ia menemukan Lupin bersandar di dinding, jelas tengah menunggunya. Teman-temannya tampaknya benar-benar serius untuk menjadi pengawalnya. Dia tidak tahu apakah harus kesal atau lega. Tapi mudah-mudahan mereka akan membantunya menjauh dari Tom.
"Bagaimana kelasnya?" Lupin bertanya saat Hermione sudah mencapainya.
Hermione mengangkat bahu dan berkata, "Agak membosankan."
Lupin tersenyum padanya dan berkata lagi, "Well, apa yang bisa kau harapkan. Secara itu Arithmancy."
Hermione hanya tersenyum sinis. Sangat jarang mendengar Lupin menghina pelajaran apapun.
"Kau bukan penggemar angka-angka dan persamaan itu, huh?" Hermione bertanya padanya dengan nada mengejek.
Lupin tersenyum dan menjawab, "Tidak juga." Lalu ia bertanya, "Jadi, apa kelasmu selanjutnya?"
"Tidak ada kelas lagi."
"Lalu apa rencanamu sekarang?"
Hermione harus memikirkan alasan sekarang. Dia tidak boleh menceritakan rencana apa yang akan dilakukannya sekarang. Kebenaran itu bukan ide yang baik. Dia benar-benar ingin melihat-lihat sinar biru aneh yang mengelilingi Hogwarts lagi. Atau mungkin dia bisa membaca bab selanjutnya dari naskah Peverell itu. Hermione benar-benar butuh jalan untuk kembali ke masa depan. Akan sangat lucu melihat wajah Lupin kalau dia tahu tentang rencananya tapi Lupin tidak pantas untuk terkurung di St. Mungo karena penyakit kejiwaan.
Jadi Hermione menjawab, "Aku ingin ke perpustakaan. Untuk mulai mengerjakan esai Profesor Merrythought."
"Sempurna," kata Lupin sambil menjauh dari dinding. "Aku juga mau ke perpustakaan."
Hermione hampir mengerang. Dia berharap Lupin hanya akan mengantarnya ke perpustakaan lalu meninggalkan sendirian, memberikan kesempatan untuk melakukan hal-hal pribadinya. Tapi sepertinya dia kurang beruntung. Jadi, mau tak mau dia mengikuti Lupin ke perpustakaan. Siapa yang akan menyangka bahwa Hermione Granger akan merasa marah karena harus pergi ke perpustakaan? Hermione bertanya-tanya. Tapi ia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh karena mereka telah sampai di pintu masuk perpustakaan.
"Ah, Ms. DeCerto," Madam Peters, si pustakawan, menyapanya ramah. Lalu tatapannya mengembara ke Lupin. "Dan Mr. Lupin juga. Aku bertanya-tanya kapan aku akan melihat kalian berdua lagi. Dan ini sudah hari kedua setelah liburan. Tidak bisakah kalian jauh-jauh dari buku-buku tua?" tanyanya mengejek bercanda.
Hermione tersenyum padanya.
"Bergegaslah kalian berdua." Madam Peters tersenyum sayang pada mereka. "Tapi kuperingatkan, hari ini perpustakaan agak ramai. Profesor Kettleburn sakit hari ini, jadi kelas-kelasnya dibatalkan."
"Ya, terima kasih," kata Hermione.
Kemudian ia masuk ke perpustakaan. Tampaknya Madam Peters memang benar. Ada banyak siswa yang duduk di meja-meja, mengerjakan PR mereka. Hermione menghela napas. Sepertinya akan sulit bagi mereka menemukan tempat yang kosong.
Mereka berjalan hampir ke seluruh perpustakaan sampai akhirnya menemukan meja kosong. Hermione menuju meja itu, tapi sebelum sampai di sana ia berhenti mendadak. Tatapannya berjalan ke meja sebelahnya, Tom duduk di sana. Saat Tom mendongak dari buku yang dibacanya, mata mereka langsung terkunci satu sama lain. Hermione menarik napas tajam ketika sekali lagi ia terkunci dalam mata abu-abu yang indah itu.
Lupin di sampingnya juga melihat Tom, dan dia mencondongkan badan ke Hermione dan berbisik di telinganya, "Kita bisa pergi dari sini. Kau bisa menulis esai di ruang bersama."
Hermione masih menatap Tom dengan mata lebar. Mengapa sulit sekali menghindari orang satu ini? Bagaimana Hermione bisa mengabaikan dia ketika jantungnya berdetak begitu kencang setiap kali mereka bertemu?
"Tidak…tidak apa-apa," jawabnya pada Lupin lembut. "Kita disini saja."
"Kau yakin?" Lupin bertanya, ada kecemasan dalam suaranya.
Ia hanya mengangguk dan lanjut berjalan ke meja. Dia duduk, membuka tasnya dan mengeluarkan selembar perkamen dan pena bulu yang baru. Hermione kesal karena merasakan gugup hanya gara-gara Tom duduk tak jauh darinya. Kalau memang ingin melupakan dia, Hermione harus mengendalikan dirinya sendiri.
Hermione memberanikan diri melirik Tom dan menemukan pemuda itu masih menatapnya. Raut wajahnya kosong. Namun Hermione bersumpah melihat binar lembut di mata abu-abu itu. Dia cepat-cepat memalingkan muka dan menggigit bibir. Dia tidak boleh tergoda lagi. Semua ini sangat konyol. Hermione tidak boleh kehilangan akalnya hanya karena rasa naksir yang bodoh ini. Masih banyak yang harus dipikirkan, yang lebih mendesak. Pikirannya tanpa sadar berjalan kembali ke masa liburan Natal. Mereka telah berciuman. Untuk pertama kalinya sejak keabadian, kesepian mengerikan telah meninggalkannya dan Hermione merasa aman terlindungi dalam pelukan Tom. Kenyamanan yang diberikan Tom teramat sangat menggoda. Tapi itu hanya ilusi, bukan?
Tangan Hermione membelai rambutnya dengan gemetar. Dia tahu Tom masih menatapnya, mungkin masih menatapnya dengan binar kelembutan yang aneh. Tetapi Hermione tahu, sisi baik yang selalu ditunjukkannya bukanlah jati diri Tom yang sebenarnya. Jati dirinya yang sebenarnya adalah sosoknya yang menyerang Longbottom begitu kejam kemarin, tanpa alasan, hanya karena Tom tidak suka padanya. Hermione mencoba memblokir semua pikiran tentang Tom. Dia tidak ingin memikirkan masalah itu lagi sehingga ia mulai berkonsentrasi pada esai Mantra yang harus dikerjakannya.
._._._._._._._._.
Tom memandang Hermione yang duduk di meja yang ada di hadapannya, rasa frustasi melandanya. Saat ini Hermione tengah menulis sesuatu, mungkin mengerjakan esai atau lainnya. Gadis itu telah menulis selama sejam terakhir. Tanpa pernah melihat ke arahnya. Seakan-akan ia sengaja mengabaikan Tom. Mungkinkah Tom harus mendekatinya sekarang? Tapi pemuda Gryffindor, Lupin, masih duduk di sampingnya. Tom hanya butuh bicara dengan Hermione berdua saja. Tanpa harus didampingi salah satu teman-teman Hermione.
Oh, kalau saja dia bisa melemparkan kutukan pada anak laki-laki menjengkelkan itu. Lalu Tom akan meraih Hermione dan memaksanya untuk berada di sisinya, di tempat dimana gadis itu seharusnya. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukan itu. Menyerang temannya telah membuat Hermione mengabaikannya.
Sihir Tom berkecamuk liar menonton seberapa dekat Lupin dengan Hermione. Gadis itu masih menulis esai dan mengabaikan Tom. Kalau memang dia bersikeras mengabaikannya, maka Tom harus mengubah strateginya. Masalahnya, kalaupun Tom menggunakan kekuasaannya, itu tidak akan menjamin keberhasilannya. Dia tahu Hermione tidak bisa dipaksa. Sangat sulit untuk melakukan itu. Gadis itu adalah penyihir yang sangat kuat. Untuk menundukkan dirinya, Tom harus menggunakan kutukan yang dia benar-benar tidak ingin menggunakannya terhadap gadis itu. Tidak, itu adalah pilihan terakhir. Kalau dia melakukannya, semuanya akan gagal. Hermione sangat susah ditundukkan. Sejak tiba di Hogwarts, Tom belum pernah melihatnya patuh pada laki-laki manapun. Meskipun demikian, Tom harus menunjukkan Hermione tempatnya yang sebenarnya. Kemandirian gadis itu agak menganggu memang.
Ia melihat Hermione menggulung perkamen yang sudah ditulisnya. Sepertinya dia ingin meninggalkan perpustakaan sekarang. Ketika Lupin dan Hermione bangkit dari meja, Tom memutuskan untuk mendekatinya. Dia tidak mau buang-buang waktu lagi. Jadi Tom berdiri dan berjalan menuju mereka. Hermione melihatnya mendekat dan sekarang menatapnya dengan mata lebar. Sayangnya si pemuda Gryffindor juga telah melihatnya mendekat, anak itu melotot tajam pada Tom. Dengan kesal Tom menyaksikan Lupin sedikit melangkah maju di depan Hermione seolah-olah mencoba melindunginya. Matanya menyipit menatap Lupin. Hermione pastinya tidak butuh penyihir lemah seperti Lupin untuk melindunginya. Tom adalah pria yang pantas melindungi Hermione.
"Kami sudah memperingatkanmu untuk menjauhinya," kata Lupin tajam.
Darah Tom mendidih dan ia harus berusaha mengendalikan sihirnya yang masih liar di sekitarnya. Dia menahan amarahnya, mengalihkan pandangannya dari Lupin dan menatap Hermione. Gadis itu masih menatapnya agak gugup.
"Aku ingin bicara denganmu," kata Tom.
Hermione memalingkan muka sebelum berbisik pelan, "Aku tidak mau."
Lalu Hermione membiarkan Lupin menggenggam tangannya dan membawanya pergi. Tom tidak mengikuti mereka. Sepertinya masalah yang dihadapinya bahkan lebih buruk dari perkiraannya.
{{{{{{{+}}}}}}}
.
Hari beranjak malam ketika Hermione berkeliaran di halaman Hogwarts. Dia mengandalkan Mantra Ilusi untuk melindunginya. Setelah keluar dari perpustakaan bersama Lupin, mereka ke Aula Besar untuk makan siang. Saat itu Lupin memberitahu kedua temannya yang lain tentang Tom yang masih mencoba mendekatinya. Setelah itu, mereka tidak pernah membiarkan Hermione sendirian bahkan hanya sedetik saja. Mereka bersama-sama mengantarnya ke kelas selanjutnya, menunggunya di depan kelas dan mendampinginya kembali ke ruang bersama. Mereka menjadi sangat paranoid.
Hermione sangat terganggu dengan sikap over-protektif mereka. Memang bagus bahwa mereka peduli padanya tapi ini terlalu berlebihan. Jadi, Hermione berpura-pura untuk tidur lebih cepat. Saat baru memasuki kamar, ia melemparkan Mantra Ilusi pada dirinya sendiri. Lalu dengan hati-hati ia meninggalkan ruang rekreasi Gryffindor. Untungnya ketiga teman-temannya tidak bisa melihatnya. Di sinilah dia, berjalan-jalan di sekitar Hogwarts. Dia sudah sampai di tepi Danau Hitam sekarang, mencari sudut pandang yang sempurna ke arah kastil. Sinar kebiruan masih berdenyut di sekitar kastil. Memang tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan malam dia tiba di Hogwarts, tapi tak diragukan lagi sinar itu masih ada. Hermione tidak tahu mengapa tiba-tiba ia bisa melihatnya. Dia harus mencari tahu lebih lanjut tentang ini. Apakah benar kemilau biru ini adalah mantra pelindung Hogwarts?
Hermione berhenti berjalan dan berdiri di sebuah bukit kecil tertutup salju menghadap kastil. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata dan memanggil semua sihirnya. Seketika ia bisa merasakan aliran listrik mengalir melalui dirinya. Dia berkonsentrasi sangat keras sekarang dan mencoba membiarkan sihirnya melebar. Sihirnya menyebar keluar dari dirinya dan membuat kontak dengan segala benda di sekelilingnya. Salju di tanah, deretan pohon yang tak jauh darinya, air danau. Segala sesuatu yang ada di sekelilingnya tersentuh. Ia berusaha membiarkan sihirnya menjalar semakin jauh darinya da butir-butir keringat muncul di dahinya. Matanya masih terpejam karena masih berkonsentrasi dengan getaran yang berdenyut dari kastil.
Tidak lama kemudian dia bisa merasakannya lagi. Tarikan stabil yang tampaknya berasal dari kastil. Sekarang Hermione menyadari bahwa segala benda di sekelilingnya diselubungi oleh tarikan itu. Semua sihirnya yang menyentuh tarikan itu bergerak dalam irama yang sama. Dengan kaget ia menyadari sihirnya sendiri bersenandung bersama-sama dengan tarikan berdenyut dari kastil. Dia memeriksa sihirnya sendiri lebih teliti. Tapi yang dilihatnya tampak semakin jelas. Kalau memang kemilau biru itu benar-benar mantra pelindung, maka tampaknya mantra pelindung itu menyatu dengan sihirnya.
Ketika Hermione merasakan lebih dalam ke dalam sihirnya, dia menemukan Sihir Elder itu lagi. Masih ada bersamanya. Menyatu dengan sihirnya sendiri. Dia masih belum bisa mengendalikan itu sepenuhnya. Tapi ada sesuatu yang disadarinya. Meskipun segala benda termasuk dirinya sendiri ikut terpengaruh dengan tarikan yang berasal dari kastil Hogwarts, namun Sihir Elder tampaknya benar-benar tidak terpengaruh oleh mantra pelindung itu.
Hermione kemudian membuka matanya lagi dan sihirnya mengalir masuk lagi ke dalam dirinya. Ini sungguh menarik. Apapun sinar biru itu, tampaknya Sihir Elder bukan hanya memungkinkan dia untuk melihat sinar itu, tetapi Sihir Elder juga membuatnya kebal dengan tarikan sinar biru itu. Mungkinkah Sihir Elder benar-benar mampu melawan sihir pelindung kuno Hogwarts? Benar, Hermione sudah tahu Tongkat Elder sangat kuat, tapi ini membuatnya sangat terkesan. Dia selalu mengira tongkat sihir tidak bisa berpikir sendiri. Dia mengira tongkat sihir hanyalah mediator antara sihir penyihir dan mantra-mantra.
Mungkinkah dia bisa melakukan kontrol yang lebih besar atas Sihir Elder? Sihir ini sudah membantunya dalam beberapa situasi. Seperti ketika Tom mencoba melegilimasinya. Kesimpulannya, Sihir Elder ini bisa dikendalikan. Sampai sekarang dia tidak terlalu sadar menggunakan Sihir Elder, tapi mungkin saja dia butuh beberapa latihan. Dia harus melakukan itu. Itu jauh lebih baik daripada hanya bergantung pada naskah Peverell yang bahkan ia saja belum mampu memahaminya.
Sekali lagi Hermione menyapukan pendangannya ke sinar biru itu. Kemudian ia pergi dan mulai berjalan kembali ke kastil. Sudah sangat larut dan ia mulai merasa kedinginan sehingga cepat-cepat ke pintu masuk, kedua tangannya terpendam di dalam saku jubah. Rasa hangat nyaman menabraknya ketika memasuki kastil dan berjalan ke Aula Depan. Langkahnya bergema keras di ubin batu koridor yang sepi. Kelihatannya sisa penduduk kastil sudah kembali ke ruang bersama mereka. Ke sanalah tujuan Hermione sekarang. Dia benar-benar merindukan bantalnya yang empuk dan hangat. Jadi dia menaiki tangga yang tidak bergerak dan melangkah ke koridor berikutnya, tiba-tiba menemukan Tom Riddle berjalan menyusuri koridor yang sama dengannya. Mata abu-abu itu dengan cepat melihatnya dan Hermione melihat senyum kecil di wajah Tom. Tapi Hermione tidak terlalu yakin dengan senyuman itu, koridor memang agak gelap.
Kenapa dia harus selalu bertemu Tom di koridor gelap dan terpencil sih? Hermione bertanya-tanya frustasi.
Jantungnya berdetak lebih cepat dan ia panik mencari jalan keluar dari sini. Keputusannya untuk menghindari Tom sangatlah sulit jika dia selalu bertemu Tom kemanapun ia pergi. Menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, ia melanjutkan perjalanan menyusuri koridor. Dia hanya perlu menyusuri koridor, melewati Tom, mengabaikannya lalu pergi. Apa sulitnya?
Hermione memalingkan muka darinya dan bergegas berjalan. Tapi baru saja beberapa langkah melewati Tom, ia mendengar suaranya,
"Hermione?"
Hermione berhenti lalu berbalik perlahan-lahan. Tom berdiri di sana, menatapnya dengan mata abu-abu indahnya.
"Ya?" Hermione bertanya tenang meskipun perasaannya tidak demikian.
"Mengapa kau mengabaikanku?" tanya Tom halus, meskipun Hermione bisa mendengar nada menuntut dalam suaranya.
Tom mengerutkan kening padanya, jelas mengharapkan penjelasan atas sikapnya. Hermione merasa marah lagi. Mengapa Hermione harus menjelaskan sikapnya sendiri? Dia tidak melakukan hal yang salah. Tom yang salah.
"Aku yakin kau tahu kenapa aku tidak mau berbicara padamu!" bentak Hermione marah.
Tatapan Tom menjadi lebih gelap dan sekarang dia menatap tajam ke arahnya. Namun Hermione tidak terintimidasi olehnya karena terlalu marah.
"Tidak, aku tidak tahu kenapa," desisnya dingin. Lalu ia melanjutkan dengan marah, "Oke, aku memang sudah melakukan pertemuan kecil dengan teman-temanmu. Tapi kenapa kau masih berbicara pada mereka dan mengabaikanku?"
Hermione mengangkat alisnya kesal. Kenapa dia harus berhenti bicara dengan teman-temannya sendiri? Tom-lah yang telah menyerang mereka begitu kejam. Mereka pasti tidak melakukan hal yang salah.
"Kau menyerang mereka," bentaknya lagi sambil memberikan tatapan menghina. "Dan kau melemparkan kutukan Noceo pada Marc."
Kilatan gelap melintas di wajah Tom dan muncul semburat merah berbahaya di matanya.
"Oh begitu. Jadi aku tidak diizinkan mengutuk Longbottom. Sedangkan Longbottom diizinkan untuk menarikku, mendorongku dan mencekikku, begitu?" geramnya kesal pada Hermione.
Tatapan Hermione terpaku pada wajahnya dan matanya melebar. Apa yang telah dilakukan Longbottom? Dia tidak tahu tentang itu sama sekali. Amarah yang membakar dalam dirinya langsung mereda, digantikan oleh perasaan protektif aneh itu lagi. Rasa bertanggung jawab atas Tom menyala lagi dalam dirinya.
Lalu Hermione bertanya lirih dengan nada prihatin, "Apa dia benar-benar melakukan hal itu?"
"Ya," desis Tom marah.
Hermione mengamatinya dengan khawatir.
"Dia tidak menyakitimu, kan?" tanyanya lagi.
"Ap…apa?" Tom terlihat sangat bingung dengan kekhawatiran, nada marahnya menghilang sepenuhnya.
Mata Hermione masih menatapnya cemas.
"Apakah kau terluka?" Hermione bertanya dengan lembut.
Tom memalingkan wajahnya sebelum berkata pelan, "Tidak."
"Baguslah." Hermione menghela napas lega ketika melangkah mendekati Tom dan menggenggam tangannya.
Dia tahu Tom punya kemampuan yang sangat bagus untuk mempertahankan diri dari Longbottom. Dia tahu apabila ketiga temannya menyerangnya secara bersamaan, Tom tidak akan memiliki masalah untuk membalas mereka. Jadi memang agak tidak masuk akal untuk khawatir pada Tom. Tapi kejadian-kejadian selama liburan Natal masih segar dalam ingatannya. Dan Hermione tidak ingin ada yang menyakiti Tom lagi.
Keputusan yang telah dibuatnya terlupakan ketika memegang tangannya dan Hermione tersenyum lembut. Tom memandangnya heran. Sepertinya ia masih bingung dengan perubahan sikap Hermione yang sangat mendadak.
"Tapi tetap saja kau tidak berhak mengutuk Marc seperti itu," Hermione menegurnya lembut.
Sekarang Tom menyipitkan matanya lalu berkata dengan nada tajam, "Mengapa kau terus memanggilnya Marc?"
Hermione memutar matanya. Tom menjadi sangat keras kepala saat ini.
"Karena memang itulah namanya."
Saat ini ada kilatan kejam di mata Tom ketika dia mendesis lagi, "Aku tidak suka bocah itu."
Hermione mendesah keras. "Aku bisa memahami itu. Tapi tolonglah, bisakah kau tidak mengutuk teman-temanku lagi?"
Tom menatapnya dan tiba-tiba sebuah seringai perlahan-lahan terbentuk di wajahnya. Lalu Tom melingkarkan lengan di sekeliling Hermione dan menariknya mendekat, ia berbisik di telinganya, "Aku tidak janji."
Hermione memutar mata padanya. Tapi ia masih membiarkan Tom memeluknya, bahkan Hermione bersandar nyaman padanya ketika Tom mengecup lembut keningnya. Mengapa cowok ini terus melakukan itu? Pikirnya, dan Hermione melingkarkan tangannya ke pinggang Tom dan memeluknya erat-erat.
Hermione menyadari Tom meringis kesakitan saat ia memeluknya. Dengan cepat Hermione melepaskannya dan memandangnya khawatir.
"Apa yang salah?" tanyanya cemas.
"Tidak ada," jawab Tom cepat namun menghindari matanya.
"Tom?" Hermione berkata dengan tegas.
Mata abu-abu itu kembali menatapnya sebelum akhirnya menjawab, "Aku baik-baik saja."
Hermione hanya mengangkat alis ke arahnya. Tapi Tom sama sekali tidak menjelaskan apapun. Jadi, Hermione melangkah lebih dekat padanya dan menempatkan tangannya dengan lembut di lengannya.
"Apakah punggungmu sakit?"
Tom tidak menjawab apapun, jadi Hermione meraih lengannya dan berjalan, menariknya dengan lembut. Mereka sampai di depan sebuah pintu kelas dan Hermione membukanya. Ruang kelas itu gelap dan tidak terpakai. Hermione menarik Tom masuk lalu menutup pintu di belakang mereka. Dia mengayunkan tongkatnya dan pintu tekunci. Lalu ia melambaikan tangan lagi dan bola-bola sinar terang keluar dari ujung tongkatnya, terbang ke langit-langit dan menerangi kelas.
Hermione berbalik ke Tom yang masih berdiri di depan pintu. Ia mendekati Tom dan meraih tangannya. Mata Tom tersentak padanya karena merasakan genggamannya. Hermione tersenyum padanya.
"Kemarilah," katanya lembut sambil menuntunnya ke salah satu kursi. "Duduklah." Hermione menunjuk kursi.
Anehnya, Tom mematuhinya. Dia duduk dan menatapnya dengan wajah kosongnya lagi. Hermione menghela napas. Benar-benar tidak mudah untuk mengenali emosinya.
"Biarkan aku memeriksa punggungmu," kata Hermione hati-hati.
Mata abu-abu itu beralih darinya lalu Tom berkata dengan suara pelan, "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Jangan konyol," Hermione menegurnya tegas. "Sekarang buka seragammu."
Mata Tom terus terpaku pada Hermione yang menatapnya penuh harap. Setelah beberapa saat, ia memutuskan kontak mata dan mulai membuka dasinya. Hermione bernapas lega karena Tom akhirnya mengalah. Lalu Hermione melambaikan tongkatnya, memanggil kotak P3K dari kamarnya. Seketika, sebuah kotak kayu muncul dari udara tipis dan tergeletak di atas meja samping Hermione. Hermione membuka tutupnya dan mengaduk-aduk persediannya. Sepertinya segala sesuatu yang ia butuhkan ada di dalam sana. Dia berbalik ke Tom. Saat ini jubah hitam dan pullover lengan hijaunya sudah terlepas, Tom tengah melepas kemeja putihnya sekarang. Ketika kemejanya dilepaskan, Hermione harus mengakui betapa gagah dan tampannya Tom tanpa pakaian. Tapi masih ada hal lain yang harus dilakukannya sekarang, Hermione memarahi dirinya sendiri.
Hermione mengitarinya dan melihat punggungnya. Sebuah perban masih menutupi punggungnya meskipun itu bukan perban yang disihir Hermione. Ia mengayunkan tongkatnya dan perban menghilang. Memar-memar di punggungnya seluruhnya sudah hilang, Hermione lega melihatnya. Tapi masih ada luka yang sangat menonjol di kulitnya yang pucat. Hermione memarahi diri sendiri karena tidak merawat Tom dengan lebih baik. Baru empat hari yang lalu ketika Carter melakukan siksaan ini padanya. Tentu saja luka ini belum sembuh. Bahkan beberapa luka terlihat terbuka lagi dan sedikit berdarah. Mungkin luka ini terbuka lagi ketika berkelahi dengan teman Gryffindor nya. Tadi Tom mengatakan bahwa Longbottom mendorongnya.
Hermione melambaikan tongkat untuk membersihkan luka lalu mengoleskan beberapa ramuan di punggung Tom. Ramuan ini akan membantu dan mempercepat proses penyembuhan. Setelah itu, ia mengayunkan tongkat lagi dan perban baru membebat punggungnya. Kemudian Hermione meletakannya tangan di pundak Tom dan mencondongkan diri ke depan sehingga bisa berbicara lebih dekat dengan Tom.
"Maafkan aku," bisiknya lembut. "Seharusnya aku memeriksa lukamu lebih cepat."
Dia merasa Tom menegang mendengar bisikannya. Setelah beberapa saat ia berkata dengan suara rendah tanpa emosi, "Kupikir kau membenciku."
Senyum kecil melengkung di mulut Hermione lalu berkata dengan nada bercanda, "Tentu saja aku membencimu."
Hermione membungkuk lebih dekat padanya dan mencium pipi Tom singkat sebelum akhirnya berdiri tegak lagi. Tom menolehkan kepalanya sehingga bisa melihatnya. Wajahnya masih memakai topeng tak tertembus, tapi Hermione bisa melihat kilau kelembutan di mata abu-abunya. Ia sangat menyukai kilau lembut itu. Hal itu membuatnya merasa begitu nyaman, entah bagaimana bebannya hilang. Dan itu membuat Tom tidak terlihat menakutkan. Tidak lagi seperti Tom yang tengah menghina Longbottom dengan marah, seperti tadi pagi. Saat itu ia terlihat seperti Voldemort yang membuat kenangan mengerikan membanjiri Hermione lagi.
"Kau ini benar-benar sebuah misteri," Tom akhirnya berkata dengan suara halus, masih menatap intens Hermione.
Hermione nyengir, "Dan akan tetap seperti itu."
Akhirnya seringai melengkung di wajah tampannya, seolah mengatakan bahwa ia pasti akan memecahkan rahasianya.
"Sekarang sudah selesai," kata Hermione. Lalu ia berbalik dan mulai menyusun lagi botol-botol ramuan ke dalam kotak. "Pasang bajumu lagi. Kita kan tidak akan berada di sini selamanya."
Ketika sedang sibuk mengobrak-abrik kotak P3K, tiba-tiba ia merasakan Tom berdiri di belakangnya dan melingkarkan kedua lengannya kekarnya di perutnya.
"Kau yakin?" Tom berbisik di telinganya.
Dada bidang Tom sekarang menekan punggungnya dan Hermione harus bernapas dalam-dalam untuk mengendalikan dirinya sendiri. Tapi itu semua menjadi lebih buruk saat teringat Tom tidak mengenakan bajunya.
"Jadi? Sekarang aku sudah tidak memakai baju," bisik Tom sensual ketika menciumi leher jenjang Hermione dengan lembut. "Mau di sini lebih lama lagi?"
Mata Hermione terpejam. Rasanya menyenangkan merasakan pelukan Tom lagi. Dia bisa merasakan panas tubuh Tom menjalarinya. Sungguh sangat memikat, kedekatan ini. Lagi-lagi membuatnya melupakan kesepian yang selalu menggerogotinya. Dia ingin Tom terus memeluknya seperti ini. Terus dekat dengan dirinya. Tapi dia tidak boleh, tidak, dia tidak boleh membiarkan Tom melakukan ini. Hari ini, Tom telah mengingatkannya lagi siapa sebenarnya dia dan Hermione tidak boleh lagi mengabaikan sisi lain kepribadian pemuda ini.
Ketika di Aula Besar tadi, ia telah menghina Longbottom, sikapnya membuat Hermione ketakutan. Kedinginan dan kejahatan di balik kata-katanya menunjukkan jati dirinya. Dan untuk sesaat, Hermione merasa seakan-akan dilemparkan kembali ke dunia perang dan ketakutan. Benar-benar mengerikan untuk menyadari bahwa laki-laki yang membuatnya bisa melupakan kenangan mengerikan adalah laki-laki yang juga bertanggung jawab memberinya kenangan itu. Semua ini membingungkannya dan membuatnya ketakutan.
Tom jelas menyadari bagaimana Hermione menegang dalam pelukannya dan Tom akhirnya membalik tubuh Hermione tanpa melepaskan pelukannya. Hermione menatapnya dengan mata lebar. Saat ini, Hermione merasa sangat tidak aman. Bagaimana dia harus menghadapi situasi seperti ini?
Mata abu-abu menatapnya intens. Lalu Tom memegang dagunya dengan dua jari, memiringkan kepala sedikit, membungkuk padanya, dan mengecup bibir Hermione. Hermione memejamkan matanya ketika merasakan bibir lembab itu menciumnya. Kali ini ciuman itu tidak menuntut. Sangat lembut dan penuh kasih. Ciuman ini seolah mengucapkan sebuah janji. Seolah mengatakan pada Hermione agar tidak takut padanya.
Tapi apakah itu benar?
Meskipun pikiran itu masih mengganggunya, Hermione tetap melingkarkan tangannya di leher Tom dan dengan ragu-ragu membalas ciumannya. Merasa Hermione membalas ciumannya, Tom memeluknya semakin erat dan menekan tubuh Hermione ke tubuhnya sendiri. Anehnya, pikiran Hermione menjadi tenang. Lalu Tom melepaskan kecupannya dan Hermione menyandarkan kepalanya di dadanya. Kedua lengan Tom memeluknya begitu protektif dan semua rasa tak nyaman yang dirasakan Hermione tadi segera hilang sepenuhnya.
Beberapa menit dalam posisi itu, Tom melepaskannya sambil menyeringai sebelum akhirnya berbalik dan mulai memakai seragamnya lagi. Dia mengenakan lagi kemeja putih dan pullover, lalu meraih dasi dan memasangnya longgar di kerah kemeja. Tom menggantungkan jubah hitam di lengannya dan mendekati Hermione, menggenggam tangan Hermione yang terasa mungil di tangannya. Gadis berambut cokelat itu menatap Tom ragu-ragu. Ketidakamanan itu terasa lagi. Dia tidak tahu apa sebabnya.
Seringai di bibir Tom lenyap dan digantikan senyum lembut. Raut wajahnya sangat berbeda sekarang. Tidak ada lagi sisa kegelapan menakutkan yang dilihat Hermione ketika di Aula Besar tadi pagi.
Tom melangkah ke pintu kelas dan Hermione mengekorinya. Ketika sampai di depan pintu, ia menarik tongkatnya dan mengakhiri mantra penguncian Hermione tadi. Anehnya, Hermione menyadari bahwa tidak mengganggu lagi melihat Tom dengan tongkatnya. Tatapannya berkelana ke tongkat sihir putih pucat itu, tapi ia tidak merasa panik lagi.
Terdengar bunyi 'klik' pada pintu dan Tom akhirnya membuka pintu. Ketika mereka melangkah keluar kelas, Hermione melihat sekelompok gadis-gadis berjalan menyusuri koridor yang sama dengannya dan Tom. Ada tiga gadis yang berjalan ke arah mereka. Hermione mengenali mereka. Mereka adalah teman-teman sekamarnya, Rose, Lucia, dan Viola. Ketika mereka asyik-asyik mengobrol dan tertawa, mereka akhirnya melihat Tom dan Hermione berdiri di depan mereka.
Tom baru saja menutup pintu kelas saat Hermione menyaksikan ketiga gadis itu mengamati mereka berdua terang-terangan sekarang. Hermione hanya menonton saat ketiga pasang mata itu memandang ke tangan Tom dan tangannya yang bergandengan erat. Rose, Lucia, dan Viola akhirnya melihat Tom dan memperhatikan penampilannya.
Tom masih memegang jubah hitam di lengannya, dasi menggantung sangat longgar di leher dan kancing-kancing atas kemeja putihnya terbuka. Hermione hampir bisa melihat kesimpulan yang diambil gadis-gadis itu setelah melihat pakaian Tom, ditambah dengan mereka berdua yang baru saja keluar dari kelas kosong. Tentu saja para gadis cekikikan menggoda. Rose dan Lucia bahkan berani mengedipkan mata penuh arti pada Hermione. Yang ingin dilakukan Hermione sekarang adalah membenturkan kepalanya ke dinding. Mereka bertiga tidak akan pernah membiarkannya berkelit lagi. Hermione DeCerto pastilah akan jadi topik gosip terpanas ketika mereka bertiga kembali ke ruang rekreasi nanti. Hermione tahu bahwa ketiga gadis ini adalah biang gosip terbaik di Hogwarts dan mereka pasti akan menceritakan hal ini ke seluruh sekolah. Dia benar-benar harus mencegah hal itu.
Setidaknya gadis-gadis ini masih punya kesopanan sehingga tidak berhenti dan langsung mencecarnya. Hermione agak senang melihat punggung mereka ketika mereka bertiga lanjut berjalan menyusuri koridor, mulai membicarakan topik baru yang panas ini.
Setelah para gadis membelok di tikungan berikutnya dan obrolan mereka perlahan-lahan menghilang, Tom memandangnya dan Hermione hampir mengerang melihat seringai sombong tertera di wajah Tom. Lalu seringai sombong itu berubah menjadi seringai menawan.
"Sekarang mereka akan menyebarkan rumor baru, dan kali ini mereka punya bukti yang sangat kuat, bukan?" Tom berkata dengan suara polos mencurigakan ketika menunjuk ke pintu ruang kelas tadi.
Hermione memutar matanya frustasi, membuat Tom tertawa geli.
.
To be Continued
.
LOHAAA! CHERRY KEMBAALIIII….! *Capslock jebol*^%$
Fiuh, senengnya bisa apdet lagi… Cherry abis pulkam kemaren, dan sayangnya laptop gak dibawa, jadi ditinggal di kosan,,… Bahkan cherry pun pulkam gak bawa pakaian, cuma yang ada di badan aja, hahahahaha….
Akhirnya chapter baru selesai diterjemahkan, lumayan hot pas di akhir. Apalagi mereka ketangkap basah ama si biang-biang gosip, wuaahh, jadi tambah panas aja…
Yosh, sorry ya kalau ada typo, cherry udah cek sih, tapi kalau masih ada yang kelewat ya mohon dimaafkan, kan ini bulan puasa… ya ya ya? *kedip-kedip menggoda(*^^%^%
Oh ya, buat yg khawatir fic ini bakal ditelantarin karena cherry nerjemahin fic lain, gak usah khawatir ya… karena cherry bakal namatin fic ini dulu baru beralih ke proyek-proyek yang lain… ^^
Tengkyu banget ya buat yang udah baca, review, dan menunggu chapter ini begitu lama… Kalian semua the best! Mmuahhh… ^O^ Review lagi? *^%puppy*&^^
