Persona 4 : Birth Of Tragedy
Genre : Suspense/ romance/ action
Disclaimer : Semuanya kembali pada pemilik masing-masing, saya hanya punya OC-nya.
Synopsis : Apakah keberuntungan itu selalu memiliki arti beruntung?
Author's note : Hell, akhirnya selesai juga (meski dalam waktu yang lumayan lama) usai sudah tugas analisis brengsek yang numpuk dan teriak-teriak buat saya kerjakan (total ada 8...tinggal 3 lagee, fighting!!!)...tapi ya udahlah....kok jadi curhat sih, nah, ini lanjutannya...silahkan enjoy, review, masukan seperti biasa.
BAB 19
Di kaki bukit Inaba, sebuah mobil Ferrari berbelok kiri, lalu menghilang di tikungan ketika pengemudinya menginjk gas dalam-dalam dan mengendalikan kuda Italianya itu dengan amat terampil, sementara di bagian belakangnya, sebuah Porsche melaju bagaikan kesetanan.
Di dalam mobil Ferrarinya, sang pengemudi berjaket hitam itu menelpon sang pengemudi Porsche ketika kedua mobil mereka melesat dalam kecepatan luar biasa saat tiba di jalan yang lurus.
"Apa sudah ada kontak baru dengan joker?"
"Belum," jawabnya singkat, "Sepertinya kejadian seminggu yang lalu membuatnya jadi sedikit berhati-hati sekarang" lanjut sang pengemudi Porsche dengan tenang tanpa ada sedikitpun perubahan emosi. "Aku sama sekali tidak menyangka jika orang itu masih memiliki keterlibatan dengan ICA.."
"Apa King tahu soal ini?"
"Mungkin saja....tapi tepatnya aku tidak tahu," ujar pengemudi Ferrari itu seraya melakukan drift di jalanan menikung di tepi jurang, "Lagipula aku sendiri sama sekali tidak mengerti, kenapa King tidak menyingkirkan pria itu dari awal? Apa untungnya buronan internasional itu ada di dalam keluarga semacam itu?"
Pria pengemudi Porsche itu hanya tertawa, "Itulah yang menarik dari King, Queen.." Ia lalu menambahkan, "Klien seperti itulah yang kucari, tidak membosankan dan menyenangkan..." Kedua mata hitamnya kemudian melihat ke kaca belakangnya, "Claudia sendiri pasti setuju dengan itu...."
Queen hanya tertawa kecil mendengar hal itu ketika dari kejauhan, kota Inaba telah terlihat.
"Kau masih belum membuang wanita tua itu?"
"Sampai aku melubangi kepala pria itu dengannya..." Pria itu kemudian mencabut penyala rokok di mobilnya dan menyalakan sebatang dunhill menggunakannya. "Lagipula aku masih menyukainya, kita ke kota ini untuk beres-beres bukan? Dia dan mereka masih harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Farik" Ia lalu melirik pada senapan yang ada di sebelahnya dan tersenyum dengan sedikit menunjukkan sifat obsesifnya "benar, bukan...sayangku..." dan menutup telepon sambil mengganti gigi kendaraannya.
Inaba Municipal Hospital
Pukul 13.00
Sebuah brankar didorong keluar dari sebuah ruang rawat inap yang tampak dari balik jendela ruangan itu. Empat orang berpakaian putih-putih menggerakkan brankar itu menyusuri lorong rumah sakit yang panjang dan sepi menuju ke arah sebuah mobil jenazah bewarna yang telah menunggu di dekat pintu keluar.
Akankah Naoto-kun bernasib seperti itu?
Tanya Teddie dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah sosok seorang gadis berambut biru yang terbaring tak berdaya di hadapannya. Baru beberapa waktu lalu ia menemui sosok gadis itu begitu sehat, tegar dan pantang menyerah. Kini, keadaannya sungguh berbeda 180 derajat. Apa yang sesungguhnya terjadi pada wanita yang selalu menyamar sebagai pria itu?
Tiiit......Tiiiit.....Tiiiit....
Alat pengukur detak jantung itu sama sekali tidak menunjukkan perkembangan yang berarti. Garis-garis hijau di monitor itu menampilkan sebuah garis horizontal nyaris lurus dengan beberapa titik yang nyaris lurus. Di dekatnya, sebuah infus tergantung dengan sebuah selang terhubung ke arah pergelangan gadis itu.
Dengan tatapan sayu pria muda bergaya perlente itu lalu berjalan mendekati tubuh yang entah masih hidup atau sudah mati itu dengan perlahan sementara di belakangnya, di balik jendela ruangan itu....seorang perawat menatap keadaan di dalamnya dengan dingin sambil mendekap sebuah papan yang di dalamnya terselip sebuah laporan hasil pemeriksaan dengan erat.
Kumohon, sadarlah...Naoto-kun... ujar Teddie pelan sambil mengusap pipi lembut sang Detective Prince itu dengan hati-hati agar tidak membuat selang oksigen yang di tertempel pada kedua lubang hidung gadis bergaya pria itu tercabut.
Pintu ruangan itu lalu terbuka, menyita perhatiannya sejenak ketika Kanji Tatsumi berjalan masuk sambil membawa sekantong makanan dan minuman ringan. Agaknya minuman dan makanan ringan itu dibelinya dalam perjalanan menuju tempat ini.
Berbicara mengenai tempat ini. Tempat ini hanyalah sebuah rumah sakit daerah yang cukup besar dengan pelayanan yang cukup memadai meskipun bukan berarti sebuah jaminan bahwa semua penyakit akan dipulihkan di tempat ini. Tampak dari kejauhan rumah sakit ini tampak seperti sebuah hotel bintang tiga yang berdinding putih bersih jika tidak ada sebuah palang reklame besar bertuliskan 'INABA MUNICIPAL HOSPITAL' lengkap dengan lambang palang merah di belakang tulisan itu.
"Bagaimana kabarmu hari ini Teddie?" tanya Kanji pelan sambil meletakkan bungkusan makanan dan minuman ringannya di atas sebuah meja kayu yang terletak di sebelah televisi dengan perlahan sementara suara dari mesin monitor detak jantung masih terus mengeluarkan bunyi yang stabil dengan grafik yang tetap saja horizontal tanpa ada perubahan apapun.
"Baik seperti biasa, Kanji... " jawab Teddie," Ngomong-ngomong...mana Rise-chan, biasanya kalian selalu sama-sama kan kemari-nee?"
Mendengar hal itu, Kanji hanya menghela nafas.
Kalau saja ada Naoto-kun...
Dia sedang ada urusan.... ujarnya, Kayaknya berat.... ia lalu mengambil sebuah botol Corona yang secara tidak sengaja dibelinya (ya, dia memang agak alkoholis....ini kejadian kedua sejak insiden spaghetti).
"Urusan?" tanya Teddie, "Memangnya Rise-chan ada masalah-kuma?"
"Yah...begitulah... " jawab Kanji sambil membelai rambut biru gadis bergaya pria di depannya dengan lembut. Sudah sekitar 4 hari sejak pria itu mendengar kabar jika Naoto Shirogane dirawat di tempat ini, tetapi ia sama sekali tidak pernah menyangka jika penyebab gadis detektif itu dirawat inap lebih parah dari sekedar luka-luka akibat jatuh dari motor. Betapa tidak, Rahang dan tiga tulang rusuk yang patah, luka di sekujur badan terutama di bagian punggung dan wajah serta beberapa lubang peluru, apakah jatuh dari mobil atau motor akan menghasilkan luka demikian? Tentu saja jawabannya adalah tidak.
Berdasarkan dari apa yang didengarnya dari para perawat di tempat ini (sebagaimana layaknya yang diketahui oleh Chie, Rise, Yosuke dan Yukiko serta Teddie)....tak ada yang tahu persis tentang apa yang dialami oleh Naoto hingga jadi seperti itu. Mereka menemukannya sudah tergeletak dalam keadaan demikian di lobby rumah sakit. Konon, beredar kabar kalau dia itu adalah salah satu dan satu-satunya korban selamat dari pengeboman kantor polisi Inaba, tapi di satu pihak ada juga yang mulai membuat gosip tidak benar jika dia terlibat dalam jaringan teroris yang menghancurkan Tatsuhime Shrine hingga rata dengan tanah. Mungkin saja tentara akan membawanya pergi kali ini begitu sadar.
Dan berbicara soal itu, kalau bisa mereka ingin menghindarkannya.
Mungkin untuk sementara waktu dia tidak akan bisa datang kemari, Teddie... lanjut Kanji sambil menepuk pundak cowok perlente yang tidak ada wajah-wajah Jepang tetapi mungkin sedikit mengingatkan orang pada sosok Edmond Dante dalam cerita Count Of Monte Cristo karya Alexander Dumas. Ciri khas seorang bangsawan dalam cita rasa yang tinggi seakan hendak menghadiri pesta kebun keluarga Buckingham Palace. "Istirahatlah.....biar aku yang menjaganya...."
Mendengar ucapan Kanji yang tampak tegar itu, Teddie hanya mengangguk lemah untuk kemudian berdiri dari tempat duduknya. Ia lalu berkata.
"Baiklah kalau begitu....kayaknya juga Naoto lebih memerlukanmu sekarang, Kanji...." sambil berjalan menuju ke arah pintu kamar yang bewarna putih berbahan dasar kayu. "Apa Yosuke dan yang lain datang hari ini-Kuma?"
"Mungkin....tapi pastinya aku nggak tahu...."
"Ya, sudahlah kalau begitu......" kata Teddie sambil membuka pintu itu, "Oh ya...Teddie cuma mau mengingatkan sedikit..."
" Apa?"
"Meskipun kalian cuma berdua, jangan scoring ya.....kasihan Naoto-kun...." Dan bocah berwajah polos pecinta wanita itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu menyisakan Kanji yang berdiri sambil menggelengkan kepalanya sejenak dan berkata.
"Sialan...." Sambil tersenyum simpul dalam kesendirian itu. Ia terduduk pada sebuah kursi yang terletak di salah satu sisi ranjang pasien itu. Ia terdiam sejenak sementara awan-awan di angkasa terus berjalan melintasi langit cerah membawa keteduhan.
Ia lalu memegang tangan Naoto yang terkulai lemas dengan lembut. Diangkatnya tangan itu dengan pelan agar tidak membuat jarum infus yang ada pada pergelangannya itu terlepas dan menempelkannya pada mulut pria berperangai kasar (atau mungkin lebih condong ke arah canggung) untuk sejenak.
"Kamu nggak akan terus-terusan seperti ini kan...." ujarnya pelan. "Sadarlah......"
Lorong Inaba Municipal Hospital
Pukul 13.10
Seorang perawat berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tetap mendekap papan berisi laporan di dadanya ketika kedua matanya melirik tajam ke arah sosok Teddie yang berjalan melintas di hadapannya. Ia lalu menghentikan langkahnya sejenak.
"Kau lihat itu?" tanyanya melalui sebuah earphone yang transparan yang terhubung dengan sebuah telepon genggam yang tersimpan di saku roknya yang bewarna putih.
" Lakukan saja apa yang kuperintahkan....jelas..." jawab seseorang dari telepon itu.
" Baik..." Perawat itu lalu menekan tombol mengakhiri panggilan dan saat itu mendadak tatapannya matanya mendadak berubah. Dari seorang perawat yang begitu ramah dan bersahabat menjadi seseorang yang tanpa ekspresi dan belas kasih. Dari seorang malaikat penolong menjadi seorang iblis berbaju putih ketika kedua bola matanya yang bewarna kuning melihat ke balik jendela saat Kanji sedang membuka peralatan menjahitnya yang disimpannya di dalam laci kamar yang bewarna coklat tua dan melanjutkan pekerjaannya yang tak lain dan tak bukan adalah membuat boneka.
The Author's sez :
Arrgh....kok bisa jadi makin blank banget sih!!!! tapi ya udah....di bagian sabda author kali ini mo ngomong apa ya...ah ya gini aja...well, bicara soal beredarnya gosip (kok kayak infotainment ya -dilempar sampah-) kalo fic ini bakalan brakhir....saya akan mengadakan konferensi pers (halah!)....siapkan kamera! Mike! Dan rekamannya!! -dilempar meja-....dan saya katakan bahwa jujur saja saya masih ga taw musti ngakhirin ni fic kayak gimana^^ karena ni author agak sinting^^(ya....fic ini dibuat oleh author yang kurang waras) dan berbicara soal sebenernya tuaan Elizabeth ato Margaret...setelah saya pikirkan kembali, akhirnya saya memutuskan kalo Margareth tu kakaknya Liz (karena wajahnya lebih tua -dilempar buku ama Margareth-), jadi yah sudah diubah...
Trus....bicara apa lagee ya...oh ya Teddie akhirnya nongol setelah beberapa saat absen dan hanya menjadi kru saya....soal Naoto....yang koma....ini saya buat demikian supaya antara Kanji x Naoto tuh bisa lebih intensif, tapi mo koma trus sadar ato koma trus mati, masih belum dipikirkan (maklum sekali lagi, Author ini orangnya gak waras)^^
O ya...chapt ini diulang karena ada beberapa kata yang pas dicek tuh kelupaan ditulis...
Anyway...sekian dulu sabdanya (cuih! Cuih! Sabda katanya -dilempar tong sampah-)..review, masukan, ide (terutama...soalnya inspirasi yang keluar malah buat final scene, selain itu...blank dan benar2 ga ada inspirasi) saya tunggu....till the next chapt!!!
p.s. : btw saya ada fic baru judulnya A man behind the mask....jadi skalian promo aja d di sini (dilempar meja)... dibaca ya....dan juga...review^^
