- For You –
Cast: Hunhan slight Sulay
Genderswitch, Typos, No bash and plagiarism
"Aku suka jika kau memakai gaun ini sayang," ucap Sehun sambil membolak balik sebuah gaun pengantin berwarna putih dengan ekor gaun yang menjuntai panjang. Luhan mendengus sambil kembali memilih-milih beberapa gaun yang ada di depannya.
"Kau ingin membuatku semakin terlihat pendek ya?" Sehun terlihat tertawa tanpa suara mendengar protes dari calon istrinya itu.
Sehun dan Luhan memang sedang memilih gaun pernikahan yang akan mereka kenakan untuk pernikahan mereka satu minggu lagi. Mendadak memang, salahkan Oh Sehun yang tak sabar untuk segera menjadikan Luhan istrinya. Padahal Hangeng ingin jika mereka menikah setelah Yixing melahirkan. Namun kurang satu bulan saja kelahiran Yixing, Sehun sudah ingin segera menyelenggarakan pernikahannya.
Untung saja, Yifan dan Junmyeon mau membantu mereka untuk masalah gedung, undangan dan juga makanan untuk para tamu. Jika tidak mereka pasti akan kebingungan saat ini. Yixing sangat ingin ikut membantu, namun perut besarnya dan juga kekhawatiran Junmyeon membuatnya urung membantu adiknya itu.
Sehun menolehkan kepalanya untuk melihat Haowen yang ia dudukkan di sebuah sofa. Namun betapa terkejutnya Sehun ketika ia melihat Haowen tak duduk disana, Sehun segera mengedarkan pandangannya untuk mencari Haowen. Betapa leganya Sehun ketika melihat Haowen sedang merangkak menuju Luhan yang masih asik memilih gaun pengantinnya. Maklum saja, di umurnya yang menginjak sepuluh bulan kini Haowen sudah pintar merangkak dan melakukan semua hal sendiri. Dengan cekatan, Sehun mendekati anaknya dan mengangkatnya.
"Mmmm – mama," gumam Haowen yang membuat Luhan menoleh.
"Ya ampun, ada apa sayang?" tanya Luhan sambil mencium pucuk kepala Haowen yang menjulurkan tangannya ke arah Luhan. Luhan yang tau keinginan calon anaknya itu segera mengambil Haowen dari gendongan Sehun.
"Kenapa kau mengajari Haowen memanggilku Mama?" tanya Luhan.
"Bukankah bahasa Cina dari ibu adalah mama? Lagipula karena kau calon ibunya, dan aku berkewajiban untuk mengajarkan anakku memanggilmu selayaknya anak memanggil ibunya bukan?" Luhan mengangguk membenarkan ucapan Sehun.
.
.
Betapa terkejutnya Luhan ketika ia mendengar bahwa Yixing mengalami kontraksi dan sekarang sedang berada di rumah sakit. Luhan yang saat itu sedang membicarakan soal pernikahannya dengan kedua orang tuanya dan juga Yifan segera pergi ke rumah sakit yang sesuai dengan alamat yang dikirim Junmyeon.
Sudah satu jam sejak Yixing masuk ke ruang operasi tak ada kabar mengenai keadaan Yixing. Yang bisa dilakukan Junmyeon sekarang adalah berdoa, berjalan kesana kemari lalu duduk. Rambutnya bahkan sudah acak-acakan karena Junmyoen sedari tadi hanya bisa menjambaki rambutnya frustasi.
"Tenang saja Junmyeon, semua akan baik-baik saja. Aku percaya jika anakku kuat," ucap Hangeng yang tak di mengerti Junmyoen. Namun setidaknya rangkulan dari ayah mertuanya itu bisa menenangkannya.
Lampu merah yang berada tepat di atas tulisan ruang operasi tiba-tiba mati. Itu menandakan bahwa proses operasi telah usai. Junmyeon, Luhan, Yifan dan kedua orang tua Yixing maupun Junmyeon serempak mendekat ke arah pintu ruang operasi.
"Bagaimana keadaan istriku dokter?" tanya Junmyeon ketika dokter wanita bermasker keluar dari ruang operasi. Dokter itu kemudian membuka maskernya dan tersenyum begitu manis kepada Junmyoen.
"Selamat, istri anda selamat Junmyeon-ssi," ucap dokter itu yang membuat Junmyeon bernafas lega. Luhan dan kedua orang tuanya juga terlihat saling memeluk satu sama lain. Sedangkan Youngwoon dan Jungsoo terlihat menghembuskan nafasnya lega.
"Anak anda laki-laki, tanpa cacat. Namun kami harus meng-incubator untuk sementara waktu." Senyum Junmyeon luntur ketika mendengar penjelasan sang dokter.
"Apa ada yang terjadi sesuatu dengan anakku?" Junmyoen tak bisa lagi menutupi kegundahan hatinya.
Dokter wanita itu tersenyum sambil mengibaskan tangannya pelan. "Tidak, bayi anda memerlukan kehangatan yang bisa diperoleh lewat incubator tersebut. Selain itu karena bayimu terlahir saat umur delapan bulan, jadi lebih kami letakkan di incubator terlebih dahulu," jelas sang dokter yang membuat semua orang bernafas lega.
"Untuk saat ini istri anda sudah ditangani oleh para perawat. Setelah lebih baik, kami pasti akan segera membawa istri anda ke dalam ruang inap. Begitu pun dengan bayi anda."
Sebelum semua mengatakan terima kasih kepada dokter itu, Yifan terlebih dahulu maju dan mengucapkan terima kasih. Semua yang ada disana menatap Yifan dengan tatapan bingung, tak terkecuali dengan sang dokter.
"Apa? Apa aku salah?" tanya Yifan dengan tatapan polosnya.
.
.
"Tunggu aku Ibu!" ucap Sehun yang berjalan cepat memasuki ke rumah sakit tempat Yixing dirawat. Bukannya Jaejoong tak mau berjalan bersama Sehun, ia berjalan cepat di depan Sehun karena ia takut dengan rumah sakit. Bukankah Sehun juga tau tentang itu?
Setelah mendapat kabar dari Luhan tentang Yixing melahirkan. Sehun dan Jaejoong segera pergi ke rumah sakit tempat Yixing melahirkan dengan maksud menjenguk Yixing.
"Aish kau ini, Ibu takut Sehun," jawab Jaejoong yang melihat Sehun dapat mengimbangi langkah.
"Baiklah, baiklah. Ruangan Yixing Noona ada di pojok lorong ini Bu." Jaejoong mengangguk lalu kembali meninggalkan Sehun dengan cara berjalan cepat menuju ke ruangan Yixing. Sehun terkikik sambil tetap berjalan santai menuju ruangan Yixing.
"Halooo," sapa Jaejoong yang baru saja masuk ke dalam ruang inap Yixing. Semua mata kini kompak memandangnya dengan tatapan terkejut. Jaejoong tersenyum canggung lalu masuk ke dalam ruangan. Wanita yang masih terlihat seperti wanita muda ini kemudian berjalan mendekati Yixing.
"Apa aku membuat kalian terkejut?" tanya Jaejoong yang baru saja menaruh buah-buahan di meja.
"Ah sedikit Bu," jawab Luhan. Hangeng maupun Jun Xiche tersenyum lalu menyuuruh Jaejoong untuk duduk di dekat Yixing. Namun Jaejoong malah terlihat mendekat ke arah Jungsoo dan juga Jun Xiche.
"Dimana Yunho?" tanya Youngwoon yang berada di samping Hangeng.
"Dia sibuk, tapi bisa ku pastikan ia akan kemari sebentar lagi," jawab Jaejoong sambil memeluk Jun Xiche kemudian beralih memeluk Jungsoo.
"Selamat kalian sudah menjadi nenek sepertiku. Akhirnya aku memiliki teman disini." Luhan segera menerjemahkan ucapan calon ibu mertuanya itu agar ibunya mengerti.
"Sepertinya kita bisa membentuk sebuah perkumpulan nenek muda."
"Tentu saja."
"Annyeong," sapa Sehun yang baru saja sampai. Luhan tersenyum melihat Sehun yang datang menggunakan setelan kemeja berwarna biru dongker pemberiannya. Sehun tersenyum kepada Luhan singkat lalu mendekat ke arah Junmyeon.
"Selamat kau sudah menjadi Ayah," Sehun memberi ucapan kepada Junmyeon sambil memeluk Junmyeon secara lelaki.
"Cepatlah menyusul." Tak pelak ucapan Junmyeon membuat semua orang tertawa.
"Bagaimana sayang?" tanya Sehun pada Luhan sambil menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah. Luhan hanya bisa tersipu malu sambil menundukkan kepalanya. Jaejoong hanya bisa memutar bola matanya menerima kenyataan bahwa sifat suka menggoda Sehun menurun dari suaminya.
Di sela-sela suasana yang hangat, dokter yang menangani persalinan Yixing tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan. Yifan yang melihat itu segera berdiri dari duduknya. Ia memandangi dokter itu dengan takjub. Di belakang sang dokter terlihat seorang perawat yang sedang menggendong bayi Yixing. Yixing dengan dibantu oleh Jun Xiche kemudian mencoba duduk agar bisa melihat sang anak.
"Selamat sore, maaf jika aku mengganggu kalian –"
"Tidak sama sekali." Yifan mengejutkan beberapa orang karena begitu saja memotong perkataan sang dokter. Dokter itu kemudian tersenyum ke arah Yifan mencoba memaklumi.
"Saya hanya ingin menyerahkan bayi Yixing – ssi. Dia begitu sehat hingga hanya beberapa jam saja dalam incubator," jelas sang dokter lalu menyuruh perawatnya untuk menyerahkan bayi Yixing.
"Saya berharap Yixing – ssi bisa memberikan ASI kepada bayinya."
"Tentu dokter, terima kasih," ucap Yixing lalu mendekap bayinya dengan lembut.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi terlebih dahulu," pamit sang dokter lalu berlalu dari ruang inap Yixing. Dan entah kenapa Yifan segera berjalan keluar dari ruangan itu. sepertinya Yifan sedang berusaha mengejar dokter cantik itu.
"Dia laki-laki atau perempuan sayang?" tanya Jaejoong mencoba melihat bayi Yixing yang sedang menyusu kepada ibunya.
"Dia laki-laki, anakku laki-laki yang tampan," jawab Yixing yang sedang memandang lekat ke arah anaknya. Junmyeon yang berada di samping Yixing hanya bisa tersenyum bahagia sembari menciumi pucuk kepala Yixing.
"Ya dia tampan, karena aku ayahnya," canda Junmyeon yang membuat beberapa orang tertawa.
"Siapa nama cucu pertamaku ini?" tanya Hangeng.
"Ayah menanyakan soal nama anak kita," ucap Yixing yang sedang mendongak mencoba menatap Junmyeon. Junmyeon terlihat diam sejenak, ia sepertinya sedang memikirkan nama untuk anak pertamanya.
"Anson, namanya Kim Anson."
"Sehuuuuun." Sehun membuang nafas panjang setelah mendengar rengekan dari ibunya. Ia tau pasti ibunya saat ini sedang menginginkan sesuatu.
"Apa ibuku sayang?" tanya Sehun dengan penuh penekanan.
"Berjanjilah akan segera memberikanku cucu kedua setelah kau menikahi Luhan," ucap Jaejoong yang membuat Youngwoon maupun Jungsoo tertawa mendengar permintaan Jaejoong. Sedangkan Luhan hanya bisa menunduk malu, lagi.
"Tentu saja aku akan membuatkan Ibu cucu yang banyak."
"Sehun!" geram Luhan yang gemas mendengar ucapan calon suaminya.
"Aku dataaaang." Terlihat Yunho yang baru saja masuk sambil membawa bungkusan.
"Wah wah lihat siapa yang datang." Youngwoon mendekat ke arah Yunho sambil merentangkan tangannya. Seolah tau, Yunho kemudian mendekat ke arah Youngwoon untuk menerima dekapan hangat sang sahabat.
"Kau terlihat begitu baik, lihatlah perutmu semakin menggembung," canda Yunho yang akhirnya harus menerima tonjokkan dari Youngwoon di lengannya.
Yunho kemudian berjalan mendekat ke arah Hangeng untuk memberikan selamat karena telah menjadi kakek. "Selamat menjadi kakek, setelah ini Sehun akan memberikan cucu kedua untuk kita," ucap Yunho.
.
"Yifan," ucap Yifan kepada dokter cantik itu ketika sang dokter baru saja keluar dari sebuah ruang inap pasiennya. Sang dokter berbadan langsing itu bingung dan hanya memandang uluran tangan Yifan yang ada di depannya.
"Ah aku Tao, senang berkenalan denganmu." Sang dokter membalas uluran tangan Yifan yang membuat Yifan tersenyum senang. Yifan kemudian mengikuti Tao yang sepertinya sedang berjalan menuju ke ruangannya
"Kau berasal dari Cina?" tanya Yifan yang merasa jika dialek Tao sama seperti dirinya. Dan Tao menanggapi pertanyaan Yifan dengan anggukan.
"Kau juga berasal dari Cina?"
"Ya, aku juga dari Cina. Sepertinya kita memiliki banyak kesamaan." Mendengar ucapan Yifan. Tao hanya bisa tertawa. Ia tak menyangka jika hari ini akan bertemu dengan seorang lelaki yang lucu menurutnya.
"Kalau begitu aku permisi dulu Yifan – ssi, senang bertemu denganmu," pamit Tao yang akan membuka pintu ruangannya. Namun Yifan kembali mengintrupsi sehingga Tao mengurungkan niatnya.
"Emm mari kita berkencan!"
.
"Sayang, apakah kau sudah siap menjadi istriku?" tanya Sehun yang kini sedang berada di taman rumah sakit bersama Luhan. mereka memutuskan untuk keluar dari kamar inap Yixing karena mereka sudah tak tahan dengan godaan para orang tua untuk segera menyusul Yixing.
"Kalau aku tidak siap, aku tak akan mau sejauh ini bersamamu." Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan. Luhan kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Sehun. Ia menikmati setiap angin yang menerpa wajahnya.
"Kau sadar tidak jika hubungan ini begitu lucu." Sehun diam tanpa menjawab perkataan Luhan. Ia lebih memilih mengecup kepala Luhan dan membiarkan Luhan melanjutkan kalimatnya.
"Lucu karena kita yang berbeda status ini dipertemukan dengan cara yang tak biasa. Kau dengan seenak jidatmu menyuruhku mengganti popok Haowen dan akhirnya kau menawariku untuk bekerja di rumahmu. Setelah itu kedekatan kita pun bermula saat kau mengajakku ke Pulau Jeju dan menjadi kekasih bohongan di depan client-mu. Bukankah semua itu menakjubkan?" celoteh Luhan sambil memandang langit sore yang bernuansa hangat.
"Memang menakjubkan, dan aku tak pernah menyesali itu."
"Apakah kau akan meninggalkanku suatu saat nanti?" tanya Luhan dengan hati-hati. Sehun mengernyit bingung mendengar pertanyaan Luhan.
"Kenapa aku harus meninggalkanmu?" Sehun beralih mengajukan pertanyaan daripada harus menjawab pertanyaan Luhan.
"Hati siapa yang tau sayang. Mungkin nanti ketika aku berubah semakin tua dan badanku tak bagus lagi," ucap Luhan yang kini menutup matanya karena begitu terbuai dengan semilir angina yang menenangkan.
"Aku bukan tipe pria seperti itu. kalau pun aku seperti itu, aku pasti lebih memilih Joohyun daripada kau saat di Jeju." Luhan tampak menyatukan mengerutkan dahinya mencoba mengelola ucapan Sehun. Tak berapa lama Luhan duduk tegak setelah mengerti maksud ucapan Sehun.
"Ya! Kau ingin bilang jika Joohyun itu lebih cantik dari aku?" dengan wajah polosnya, Sehun mengangguk beberapa kali.
"Lalu kenapa kau mengejarku? Kenapa kau membelaku di depan Ayahmu? Kenapa kau ingin menjadikanku sebagai istrimu?" Luhan sudah tak kuasa menahan tangisannya. Tangannya mencoba meremas jaketnya dengan erat untuk menyalurkan emosinya saat ini.
Sehun yang mulanya hanya bermaksud menggoda kekasihnya itu tak menyangka jika Luhan akan se-sensitif itu. Karena memang Sehun adalah salah satu orang tak pernah sanggup melihat Luhan menangis, Sehun akhirnya merengkuh tubuh Luhan ke dalam pelukannya.
Meski sempat meronta, namun akhirnya Luhan pasrah dengan dekapan Sehun yang hangat. Ia terus menangis hingga membuat kemeja Sehun basah.
"Hei dengarkan aku." Luhan menggeleng dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada Sehun. Sehun tersenyum melihat bagaimana tingkah Luhan yang layaknya anak kecil.
Sehun kemudian menjauhkan tubuh Luhan dan memaksa wanitanya itu untuk memandang wajahnya. Meski enggan, Luhan akhirnya menuruti keinginan Sehun. Ia memandang Sehun dengan matanya yang masih berkabut. Sehun kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan. bibir Sehun kini menempel sempurna di bibir Luhan yang terbuka sedikit akibat menangis. Luhan membiarkan Sehun memanjakan bibirnya, ia berpikir bahwa ini adalah ciuman terakhir yang akan Sehun berikan padanya.
"Jangan menangis lagi, aku sedih melihatnya," ucap Sehun setelah mencium bibir Luhan.
"Apakah ini ciuman terakhir kita?" tanya Luhan yang dijawab Sehun dengan dekapan gemas pada tubuh Luhan.
"Kau jangan bodoh, kata siapa itu ciuman terakhir kita? Aku akan menciummu lebih sering daripada ini setelah kita menikah." Luhan tersipu mendengar ucapan Sehun.
"Jadi kau tak membatalkan pernikahan kita?"
"Ish kau ini, kenapa mendadak jadi kolot sih?" Luhan tertawa melihat Sehun yang sepertinya gemas dengan dirinya.
.
.
.
.
"Saya Oh Sehun mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Allah dan Pendeta serta para undangan yang hadir sebagai saksi, bahwa saya mengambil Xi Luhan sebagai istri saya yang sah. Dan saya sebagai suami yang setia akan berusaha mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit dan akan memelihara dia dengan setia," ucap Sehun lantang ketika berada di altar bersama Luhan yang tengah terisak haru melihat kesungguhan kekasihnya.
"Saudari Xi Luhan, sekarang ucapkan janji nikah saudari dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan," ucap Pendeta pada Luhan, wanita itu menghirup dalam-dalam oksigen agar ia menjadi tenang.
"Saya, Xi Luhan menerima engkau, Oh Sehun menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di saat sehat maupun sakit, seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya samapi kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada-Nya, kuucapkan janji setiaku padamu," ucap Luhan yang disambut haru para tamu.
Kedua orang tua dari Sehun maupun Luhan tampak menangis bahagia karena akhirnya anak mereka disatukan dalam ikatan pernikahan. Haowen yang sedari tadi duduk di altar, tepatnya di bawah kaki Sehun dan juga Luhan. ini karena Haowen tak tenang berada di pangkuan Jaejoong saat melihat ayah dan ibunya berada di altar. Sehingga Jaejoong membiarkan Haowen merangkak sampai di altar.
"Silahkan mencium pasangan masing-masing." Tanpa membuang waktu, Sehun segera membuka veil yang menutupi wajah cantik Luhan. Lalu Sehun menarik pinggang ramping Luhan lalu mengecupnya lembut. Semua para undangan bersorak bahagia melihat Sehun dan Luhan.
Haowen tiba-tiba menangis, mungkin karena kaget dengan sorak bahagia para undangan. Luhan kemudian mendorong dada Sehun untuk mengakhiri ciuman mereka. Terpampang jelas raut kecewa di muka Sehun.
"Kau tak dengar anakmu menangis ya?" Luhan kemudian berjongkok dan menggendong Haowen yang semakin menangis. Ia mendekap Haowen dan membisikkan kata-kata penenang agar anaknya itu berhenti menangis. Luhan kemudian berjalan menuruni altar dan berjalan menuju ke arah keluarganya yang menyambutnya dengan hangat. Sehun kemudian mengikuti langkah Luhan.
Keluarga Sehun maupun Luhan saling memberi ucapan kepada pengantin baru. Ibu Luhan terlihat menangis ketika melihat Luhan yang kini sudah berstatus menjadi istri Sehun. Jun Xiche tak menyangka jika secepat ini akan melepas anak bungsunya itu. jaejoong juga terlihat begitu senang hingga memeluk Luhan berulang kali. Jaejoong berharap jika pilihan Sehun adalah pilihan yang tepat untuk masa depannya.
"Kau jangan bermain kasar di malam pertamamu, Luhan pasti lelah," ucap Yunho yang terlihat merangkul pundak Sehun.
"Tapi mana bisa aku menahannya Ayah," elak Sehun yang hampir saja mendapat pukulan dari Yunho. Sehun tertawa karena nyatanya Ayahnya itu menurunkan kepalan tangannya.
Hangeng yang berdiri di samping Yixing tampak mengucapkan sebuah kalimat. "Kata Ayah, kau harus menjadi suami yang baik untuk Luhan," ucap Yixing yang tampak sedang menggendong bayi tampannya.
"Tentu saja Papa, aku akan menjadi suami yang baik untuk Luhan. bahkan aku bisa jamin setelah kami melakukannya, aku akan memberi Papa cucu kedua." Sehun mengatakannya dengan penuh percaya diri. Yixing tertawa singkat lalu menerjemahkan ucapan Sehun kepada ayahnya. Dan setelah Hangeng tau akan ucapan menantunya, ia mengacungkan kedua jempolnya dan tertawa senang.
Sehun kemudian berjalan menuju ke Luhan yang sedang mengobrol bersama salah satu tamu mereka. Betapa terkejutnya Sehun ketika melihat Yifan bersama dengan seorang wanita.
"Waw sepertinya kau akan segera menyusulku dan Luhan," ucap Sehun yang membuat Luhan menoleh ke arah Luhan. Yifan kemudian menjabat tangan Sehun seraya mengucapkan selamat.
"Sepertinya aku pernah bertemu dengan kekasihmu." Sehun tampak melihat dengan seksama wanita yang berada di samping Yifan.
"Kau memang mengetahuinya sayag, dia dokter yang menangani persalinan bayi Yixing Jie," ucap Luhan yang membuat Sehun menepuk pundak Yifan beberapa kali.
"Daebakk. Nanti jika Luhan sudah mengandung anakku, aku akan membawanya kepadamu saat ia akan melahirkan." Luhan memukul lengan Sehun sedangkan Yifan dan Tao hanya tertawa mendengar ucapan Sehun.
"Tentu, aku sangat menunggunya," balas Tao.
"Mamamaaaa," gumam Haowen yang masih dalam gendongan Luhan.
"Ada apa sayang?" tanya Luhan kemudian mencium pipi gembul Haowen.
"Hei panggil papa juga," ucap Sehun yang tampak merajuk karena Haowen hanya memanggil Luhan saja. Kembali Yifan, Tao maupun Luhan tertawa.
Dan pada akhirnya….
Akhir pencarian pasangan hidup adalah mencari yang nyaman, yang bisa membuat kita aman dan tenang di dekatnya. Selalu tertawa bila berada di sampingnya. Bersamanya kamu bisa menjadi apa adanya, serta menghabiskan waktu bersamanya adalah suatu hal yang tidak membosankan
.
.
"Lu."
"Hmm"
"Apakah kau lelah?"
"Tentu saja, aku menjamu banyak tamu malam ini."
"Tapi aku tak ingin menundanya."
"Menunda a – "
"Ayo kita lakukan!"
"Tidak aku sedang lelah, kita masih punya banyak waktu."
"Lu." Luhan memutar tubuhnya ketika sedang mencari pakaian gantinya ketika mendengar panggilan Sehun. Dan tanpa di duga Sehun ada di belakangnya.
"Apa yang Eumhh…. Sehuuuun.."
"Eungh"
END
Huaaaa ga kuat bikin akhir ceritanya. Aku mau curhat bentar ya, akhir-akhir ini aku ngerasa kalo ff hunhan jarang banget aku temuin. Buat hunhan shipper ayo buat ff hunhan lagi dong, kita lestarikan bersama ff hunhan hehe. kasian yang kurang asupan ff hunhan kayak aku.
Halooo akhirnya ff ini selese juga. Maafin endingnya yang ngga banget. Terima kasih untuk semua readers yang berperan banyak di ff ini. aku sayang kalian.
Nantikan ff aku yang baru ya, meski aku gatau kapan aku mau bikinnya karena aku meutuskan untuk hiatus karena kuliahku mulai aktif lagi.
GOMAWO :* :* :*
