(Di-edit tanggal 16 Juni )
A/N : Oke, maaf kelamaan lagi. Saya yang lola ini butuh waktu buat mencerna dan mengetik chapter kali ini. Maaf kalau chapter ini mengecewakan mz RosyMiranto dan Hayashinkage ngerasa kurang padahal udah kasih advice. Balas review!
RosyMiranto18
Scarlet : Well, aku lebih memilih judulnya pake kalimat 'A Benevolent God' daripada 'A Kind God'. Kalau di terjemahin ke jepang artinya itu "優しい神様" (Yasashii Kamisama)
Blossom : ...rasanya jadi pengen ganti semua judul pake bahasa jepang deh.
Scarlet : Yeah, tapi gak. Ngerepotin... *ngupil*
Blossom : *lempar Scarlet ke empang*
Takatora : *sweatdrop*
Suzu : ...kalian benar-benar gak punya prinsip. *sweatdrop*
Blossom : Hooh, aku gak tau Rikyū ada di Basara, maksudku baru tau sekarang. Terima kasih atas review-nya.
Hayashinkage17
Scarlet : Hm, Yuuki terus Murasame... Keknya dari anime T*-Love R* ya? Aku cuma pernah liat sekilas anime-nya.
Blossom : Ugh, andai saja aku bisa bikin genre ecch* juga. *lirik Suzu*
Takatora : Hentikan tatapan menjijikkanmu itu pada Suzu. Kau pikir aku akan menurutimu untuk melakukan hal tidak senonoh pada Suzu di depan umum?
Suzu : Bentar, bentar! Kalian bicara apa sih!?
Takatora : Memang Suzu sudah menjadi istriku. Hati dan tubuhnya adalah milikku. Dan dia-
Blossom : Udah! Gak usah banyak bacot lu! Kami lagi puasa!
Takatora : Haa?
Suzu : *blush* ...t-terima kasih atas review-nya.
-xxx-
Disclaimer : Samurai Warriors belongs to KOEI. OCs and story plot belongs to me. Kimura Siblings and Reiki Asuka belongs to RosyMiranto18. Shinhana Kobayakawa and Nagachika Nomi belongs to Hayashinkage17.
Warning : Mainly OC x Tōdō Takatora. OOC yang mungkin tidak disengaja atau sengaja demi alur cerita, sering typo, diksi yang tidak baku, suram dan abal alias amburadul. Saya usahakan ceritanya bisa disusun berdasarkan dari game, anime dan atau sejarahnya. Kalimat digaris miring menandakan flashback. DON'T LIKE DON'T READ NO FLAMES. REVIEW PLEASE!
-XoX-
Bell of the White Hare
-XoX-
CHAPTER 16
Tail of the Moon
-XoX-
Kyoto.Summer, 1585
Ia tidak mau mempercayainya. Bukan karena negosiasi yang dipercayakan Hideyoshi pada Aki itu gagal. Dengan suka rela ia mau melakukan perjalanan jauh menuju Shikoku untuk bernegosiasi bukan demi pemimpin Hashiba itu, namun demi kepentingan pribadi dan demi sang penguasa Shikoku, Chōsokabe Motochika.
"Kimura-dono, Anda baik-baik saja?" Sengoku Hidehisa yang mendampingi Aki tersebut menghampiri rekan seperjuangannya.
"Maaf, untuk sementara bisakah kau tinggalkan aku sendirian? Aku ingin mendinginkan kepala. Kita akan berangkat pulang ke Osaka besok pagi. Sampaikan pada pasukan," ucap Aki tanpa menoleh.
"...baiklah. Kalau begitu saya akan bersiap-siap terlebih dahulu." Hidehisa langsung undur diri, bertolak meninggalkan Aki.
Aki kemudian berjalan mengelilingi kota. Sebelumnya ia telah mendapatkan surat dari Hideyoshi untuk rehat sejenak di Kyoto. Selain itu, Tokugawa masih sedang berada di Osaka untuk bernegosiasi.
"Ng?" Aki menoleh ke samping. Pandangannya teralihkan ketika melihat dua orang perempuan yang nampaknya tengah pedang di sebuah lapangan. Satu orang wanita memiliki surai pirang, ia terlihat memiliki ras orang Barat. Sedangkan wanita yang menggunakan dwisula dan tameng, memiliki surai hitam. Sorot matanya begitu tenang.
Merasa ditatapi, wanita bersurai hitam itu menoleh kearah Aki. Aki langsung mengalihkan pandangan dan berjalan masuk ke dalam kios minuman, kemudian memesan sake.
Pemilik kios tersebut kemudian memberikan sebotol sake. Aki dapat mencium aroma sake-nya yang tajam. Jika ia meminumnya, mungkin ia akan puas dan dapat melupakan 'kenyataan' yang tak terpungkiri dan yang tak pernah bisa terlepas dari pemikirannya.
Tak sempat ia memegang cawan sake, tangannya berhenti ketika tangan dari seorang wanita asing menahannya.
"Hatimu nampaknya sedang goyah. Meminum sake bukan cara yang bagus untuk menenangkan diri, kau tahu."
Aki menoleh kearah wanita itu. "Kau...?"
Dia adalah wanita yang baru saja Aki lihat saat ia berlatih di lapangan dengan rekannya. Sepertinya rekannya itu tak bersamanya. "Perkenalkan namaku Reiki Asuka."
"...Kimura Aki."
"Melihat seragammu dan juga bendera Hashiba melewati Kyoto, aku jadi penasaran. Ternyata kau memang komplotannya. Sepertinya kau baru saja melakukan perjalanan jauh. Ditambah, kau sama sekali tidak terlihat puas. Apa aku benar?" Wanita bernama Asuka itu kemudian duduk di sampingnya, kemudian meminta pria tua pemilik kios untuk menarik kembali sake tersebut dari Aki dan meminta teh.
Aki menghela napas sembari mengusap tengkuk. "Begitulah."
"Apa ada yang perlu kubantu untuk meringankan bebanmu?"
Aki kembali menatap wanita itu. "Kau serius mengatakan itu bahkan pada orang yang baru saja kau temui?"
Asuka mengangkat bahu. "Aku tidak akan mengatakannya jika aku tidak mau. Rasanya aku mulai tertarik denganmu."
Aki terdiam sejenak, kemudian melipat kedua tangannya diatas meja. "Kalau begitu, aku ingin kau ikut bersamaku ke Osaka. Saat ini Natsuko berada disana."
-XXX-
Osaka, Tōdō Family Residence
"Tulisanmu sudah terlihat rapi, lho, Senmaru."
Wanita muda bersurai perak tengah duduk disamping seorang anak laki-laki yang sedang menulis diatas secarik kertas. Memegang kuas dengan tangan kanan, anak itu melanjutkan belajar menulis dengan hati-hati.
Senmaru tertawa malu. "Dulu Hidenaga-sama sudah pernah mengajariku. Bahkan sekarang aku sudah bisa memasuki terakoya. Kalau aku sudah bisa menulis dengan benar, aku ingin membuat istana besar seperti Otou-sama untukmu, Okaa-sama!"
Suzu tersenyum lembut mendengar impian putra angkatnya itu, lalu tertawa kecil. Hatinya terasa begitu hangat dan lapang. Tak hanya berkat melihat seulas senyuman putranya, namun juga dirinya diberkati dengan kehadiran Senmaru yang telah menjadi anaknya, ia dapat merasakan bagaimana menjadi seorang ibu.
Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia bersyukur masih bisa hidup dan menikmati kebahagiaan yang kecil namun terasa amat besar baginya.
Meskipun kini ia tak dapat berharap sebuah insan yang disebut buah hati lahir dari kandungannya.
"Ya, aku menantikannya..." Suzu membalas senyumannya sembari mengusap pipi putra angkatnya. Anak itu kembali tertawa kecil.
Suzu mengalihkan pandangannya ke pintu shoji, seorang pelayan pria duduk dihadapan pintu kemudian menggesernya dengan pelan. "Nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda." Pelayan itu menunduk dalam.
"Tamu? Siapa?" tanya Suzu menaikkan alisnya. Tak biasanya pelayannya itu mengumumkan kedatangan seseorang. Biasanya Natsuko atau mungkin Hana akan datang ke kediamannya dikala mereka bosan. Namun orang yang datang bertamu saat ini nampaknya ialah orang yang tidak ia kenal.
"Um... maafkan hamba. Tapi dia bersikeras tidak memberitahu namanya, nona."
Suzu tak langsung menjawab, kemudian ia bangkit. "Apakah dia berada di gerbang?"
"Ya, nona."
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga." Suzu kemudian menoleh kearah Senmaru. "Tunggu sebentar, ya."
Senmaru mengangguk. "Um! Kalau begitu aku akan melanjutkan latihan menulisku lagi!"
Suzu tersenyum dan mengangguk, kemudian bertolak meninggalkan ruangan dan segera berjalan keluar kediamannya.
Disana ia melihat seorang laki-laki remaja yang tengah berdiri di depan gerbang. Ditangannya ia membawa kotak yang telah diberi bingkisan kain. Anak itu menoleh ketika ia melihat Suzu berjalan kearahnya, ia tersenyum penuh syukur.
"Ah, apa kabar, nona!" Ia bergegas membungkukkan badan di hadapan Suzu. "Maaf atas kelancanganku datang dengan tiba-tiba, bahkan saya tidak memberitahu nama saya. Tetapi saya harus melakukannya karena alasan tertentu. Memang ini terdengar tidak sopan, tapi..."
Melihat kesopanan dari cara bicara remaja itu, Suzu tersenyum simpul. "Tidak masalah. Apa ada sesuatu yang ingin kubantu?"
Melihat air muka Suzu melembut, laki-laki itu mulai lega dan tenang. "Ah, tidak. Hanya saja saya mendengar kabar burung kalau klan Tōdō mengadopsi Senmaru."
"Itu benar. Lalu?"
"Ah, memang seharusnya saya memperkenalkan diri. Nama saya adalah Niwa Nagashige, putra tertua dari mendiang ayahku, Niwa Nagahide. " Ia kembali membungkukkan badan. "Juga, saya adalah penerus klan Niwa..."
Mendengar nada suaranya berubah pelan, sepertinya pemuda itu tak terlalu bangga akan posisinya saat ini. Atau mungkin itu hanya imajinasi Suzu sendiri. Mengingat klannya adalah Niwa, seketika Suzu mengingat klan itu adalah klannya Senmaru sebelum ia diangkat menjadi putra Takatora. "Oh, berarti kamu adalah kakak Senmaru."
Ia tersenyum lebar. "Itu benar. Terima kasih telah bersedia merawat adikku. Saya berharap Senmaru dapat hidup dengan baik bersama keluarga Tōdō." Kemudian Nagashige menyerahkan bingkisan tersebut pada Suzu. "Silakan sekadarnya, Nona. Saya membuatkan manisan."
"Terima kasih. Ah, sebaiknya kita berbicara di dalam. Senmaru juga pasti ingin bertemu denganmu."
"Saya ingin tapi sayang sekali saya harus menolak."
"Eh? Kenapa?"
Ekspresi wajahnya kembali mendung, ia menurunkan kepala. "...Saya adalah kakak yang buruk untuk Senmaru. Disaat ia masih sangat kecil, aku tak bisa berbuat apapun untuknya. Mendiang ayahku menolak permintaanku untuk membatalkan niatnya membiarkan Senmaru diadopsi oleh Hashiba. Aku merasa tak pantas bertatapan wajah dengannya. Aku telah membuat kehidupannya kosong..."
"Nagashige-san..."
'Kosong', kata itu seakan memiliki arti yang sangat menyakitkan bagi Nagashige juga Senmaru. Seolah-olah kehidupan Senmaru tak memiliki kebahagiaan yang selama ini ingin ia rasakan. Nagashige tak dapat melawan keputusan ayahnya dan sampai sekarang ia merasa bersalah.
"Oh, saya mohon maaf. Tiba-tiba saya malah datang kesini membicarakan masalah pribadi. Mohon dilupakan saja. Tapi saya berharap Senmaru akan lebih bahagia menjadi putra angkat keluarga Tōdō."
Wajah sendu Suzu berubah menjadi sebuah senyuman tipis, kemudian mendaratkan sebelah tangannya di bahu Nagashige. "Aku mengerti. Kami pasti akan menjaganya."
Tak menyadari semu merah pada wajah Nagashige, Suzu menatapnya bingung. Laki-laki itu memberikan senyuman canggung kemudian kembali membungkukkan badan. "...Saya sangat berterima kasih, Nyonya Tōdō! Kalau begitu saya mohon pamit."
"Ya. Terima kasih telah berkunjung."
"Ah, bukan. Seharusnya saya yang berterima kasih."
Suzu tertawa kecil. "...Sama-sama."
Nagashige pun bertolak pergi, meninggalkan Suzu yang berdiri di depan gerbang sendirian. Setelah sosok Nagashige tak terlihat, Suzu mulai mengalihkan perhatiannya pada para penduduk yang berjalan kian kemari sibuk melakukan aktivitas masing-masing. Hiruk pikuk yang memenuhi kota terkadang membuat Suzu berharap Takatora dapat pulang lebih awal. Ia bahkan tak dibiarkan membantu suaminya karena ia tak ingin Suzu kelelahan dan bosan. Lagipula, menjadi seorang istri tidak selalu harus berada di sampingnya. Kini mereka telah memiliki putra angkat yang harus mereka jaga.
Dari ujung tepi mata Suzu, netra merahnya menangkap seorang anak perempuan yang menangis di sela-sela sudut rumah penduduk. Awalnya Suzu berniat untuk mendekatinya namun langkahnya berhenti ketika seorang anak laki-laki datang menjemputnya. Senyuman tak bersalah, kebahagiaan dan syukur menghiasi wajah mereka. Saling menggandeng tangan, mereka berjalan pulang.
Tatapan Suzu menurun, bibirnya tertutup rapat. Kemudian jemarinya meraih pinggangnya, melipat lengan di sekitar perut. Seisi pikirannya tersita membayangkan Senmaru yang hidup bahagia bersama saudaranya. Mengingat sekarang ia bukanlah salah satu keluarga dari klan Niwa. Juga, sampai sekarang Suzu masih belum melahirkan satu insan.
Apakah tidak ada yang bisa ia lakukan demi menanggulangi kesepian putra angkatnya itu?
"Buah hati yang kami nantikan demi harapanku dan Takatora-sama disaat perang berakhir nanti. Ternyata semua yang kuucapkan padanya hanyalah omong kosong. Aku memang yang terburuk. Apa yang harus kulakukan...? Kini aku merasa... membenci diriku sendiri."
Menyadari apa yang baru saja ia ucapkan, Suzu langsung menepuk mulutnya, lalu menggeleng kencang. Tidak, ia tak boleh membiarkan sifat sentimentalnya itu menguasai dirinya. Setidaknya ia harus melakukan apa yang ia bisa.
...'Melakukan apa yang ia bisa'?
Apa yang ia bisa lakukan?
Sebagai istri, seharusnya ia mampu mengabulkan harapan hidup suaminya setelah semua kekacauan di dunia usai. Tapi tubuhnya berkata tidak. Ia tak dibiarkan untuk mengabulkannya. Niatnya demi menghapus kesepian putra angkatnya dan masa depan mereka telah dicuri begitu saja oleh takdir.
Sungguh sebuah lelucon yang sangat buruk, mengingat semua ucapan yang pernah ia dedikasikan demi membuka mata suaminya dulu kini hanyalah sebuah ilusi. Sampai sekarang pun Suzu merahasiakan keputusasaannya dari sang suami. Ia tak ingin dan tidak mau membayangkan bagaimana sikapnya jika Suzu memberitahu kenyataan pahit yang mengutuk dirinya.
Apakah ia harus mengutuk takdir sebagai balasannya? Atau pada dunia ini? Atau apakah ia pantas mendapatkannya karena tak pantas membahagiakan mereka? Dia sudah tak tahu lagi.
-XXX-
Pada waktu yang sama, Aki dan Hidehisa telah meninggalkan Kyoto, yang juga ditemani oleh Asuka. Mereka telah sampai di Osaka dan segera melaporkan lebih lanjut mengenai negosiasi mereka dengan Chōsokabe.
Sebelum memasuki istana, Aki mengumumkan pada pasukannya untuk menunggu perintah selanjutnya setelah ia selesai mendiskusikan hasil negosiasinya.
"Aku tidak harus ikut denganmu untuk bertemu dengan pemimpin Hashiba ini, 'kan?"
Pertanyaan Asuka langsung dijawab cepat oleh Aki. "Tidak, lebih baik jangan. Apa kau tidak tahu seperti apa sikap beliau jika bertemu dengan wanita lain selain istrinya?" Aki langsung berhenti bicara, memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraannya mengenai sisi buruk dari Hideyoshi. "Pokoknya sekarang aku akan mengantarkanmu ke Natsuko. Seperti yang kukatakan sebelumnya, jangan sampai dia tahu tentang ini."
Asuka menaikkan alis. "Ada apa dengan nada ancaman itu? Aku paham kok, aku paham."
Tak sempat melangkahkan kaki, penglihatan mereka teralihkan ketika melihat seorang gadis bersurai merah jambu berlari kearah Aki dengan wajah berbinar. "Oh, dia muncul," gumam Asuka.
"Ternyata aku benar itu kau, onii-chan! Kau lama sekali!" Natsuko langsung melompat kearah sang kakak dan memberikan pelukan erat lalu menggiling kepalanya ke dada sang kakak.
"H-Hei, Natsuko. Aku tahu kau merindukanku tapi kau memelukku terlalu erat...!"
"Oh, maaf!" Natsuko langsung melepasnya, senyumannya masih belum menurun. Karena tak sanggup memberikan penjelasan pada adiknya, Aki mengalihkan pandangan. "Asuka, tolong ya." Aki kemudian langsung memasuki istana.
"Eh? Onii-chan?" Aki tak berbalik, Natsuko yang berniat untuk mengikutinya dihentikan oleh Asuka. Wanita itu menahan kedua bahunya.
"Nah, Natsuko. Saat ini kakakmu sedang sibuk, waktunya sangat sempit. Sebagai adik, kamu harus bersabar sampai kakakmu menyelesaikan kewajibannya, ya?"
Natsuko kemudian menatap Asuka dengan alisnya menyempit, lalu menurunkan kepalanya. Dengan wajah mencebik Natsuko mengangguk pelan.
Di dalam ruangan pertemuan, Aki ditemani oleh Hidehisa menghadap pada Hideyoshi. Aki hampir lupa kalau perwakilan klan Mōri masih berada di Osaka, Nagachika dan Hana berbalas senyum pada Aki ketika ia menatap sejoli itu. Sementara itu, Hideyoshi mengurut dagunya mendengar berita tak bagus dari bawahannya itu.
"Hm, ternyata memang tak semudah itu, ya," desah Hideyoshi. "Baiklah, tak ada pilihan lain. Umumkan pada seluruh pasukan untuk bersiap-siap. Shikoku adalah sasaran kita berikutnya. Dan juga untuk Aki, aku ingin kau menyiapkan kapal untuk kita berangkat kesana. Kau tahu kapal yang mana yang kumaksud itu, bukan? Kapal yang kita gunakan saat invasi ke Kizugawa."
Aki menundukkan kepala sebagai tanda perintahnya akan ia laksanakan. "Baik, Tuanku. Akan saya siapkan segera. Saya juga telah merencanakan pengembangan kapalnya."
"Oooh! Sepertinya terdengar menjanjikan. Kami berharap banyak darimu." Hideyoshi tersenyum.
Kemudian Aki undur diri setelah diberi izin oleh Hideyoshi.
"Sekarang kita harus menyiapkan rencana. Tapi disamping itu, sepertinya Aki terlihat... lelah, tak seperti biasanya," ucap Hideyoshi.
Pria berkulit pucat itu mengangguk setuju. "Saya juga memiliki firasat yang sama. Kemungkinan ini menyangkut masalah pribadinya. Jika bukan karena itu, dia tidak mungkin menyampaikan negosiasi ini secara sukarela," jawab Kanbei.
Hana mengerjapkan matanya dengan penasaran ketika Kanbei mengatakan negosiasi itu menyangkut masalah pribadi Aki. Lalu berbalas pandang dengan Nagachika. Menyadari tatapan penasaran dari sang istri, Nagachika menggeleng pelan menandakan bahwa ia tak tahu apapun.
"Hm... Begitu, 'kah?" Hideyoshi kembali mengurut dagu.
"Mari kita kesampingkan mengenai hal itu. Mengenai klan Mōri, saya akan mengirimkan pesan untuk persetujuan kerjasama dan rencana penyerangan ke Shikoku. Bagaimana menurutmu, Nagachika?" Kanbei menolehi pria yang duduk bersila di sampingnya.
"Baik, saya akan mengirimkan pasukan saya untuk mengantarkan pesannya sampai ke tangan majikanku." Nagachika menerima surat itu dari Kanbei dan menyimpannya.
"Baiklah, sekarang kita harus mengumpulkan pasukan dan suplai sementara Aki mengurus kapal. Kanbei, beritahu pada seluruh pasukan," ucap Hideyoshi.
"Baik, Hideyoshi-sama."
Sementara itu, Aki yang tengah berjalan keluar istana untuk menyiapkan kapal berpapasan dengan Hidenaga yang didampingi oleh Takatora.
"Oh, kau sudah kembali," Hidenaga tersenyum ramah pada Aki. "Syukurlah kau dapat kembali dengan selamat."
"Ya, Hidenaga-sama." Aki membalas senyum pria paruh baya itu, lalu mengalihkan matanya ke Takatora. Melihat ekspresinya, Aki merasa kalau Takatora tak berniat untuk menyapanya seperti yang Hidenaga lakukan. Setidaknya Aki berharap ia mengatakan sesuatu, seperti memberitahu apa saja yang dilakukan Natsuko sejak ia pergi ke Shikoku. Namun Aki paham kalau Takatora bukan orang yang biasanya memulai pembicaraan. Lagipula saat ini ia harus mendampingi majikannya.
Mengingat sesuatu, Aki kembali memindahkan pandangannya pada Hidenaga. "Hidenaga-sama, maaf atas kelancanganku. Apakah saya boleh berbicara empat mata dengan Takatora sekarang?"
Takatora mengerjapkan matanya, Aki langsung bisa merasakan tatapan dingin yang mengancam dirinya. "Hm, boleh saja." Jawaban Hidenaga membuat Takatora sedikit terkejut, sedangkan Aki merasa lega. "Nah, kalau begitu aku akan menemui Hideyoshi dulu. Kau boleh kembali, Takatora," lanjut Hidenaga sembari masuk ke dalam istana.
"Tapi, Hidenaga-sama...!"
"Tak apa, tak apa." Hidenaga melambai pelan tangannya, memberi isyarat agar tak perlu cemas.
Setelah meratapi kepergian majikannya, Takatora kembali menatap dingin kearah Aki. "Berbicara seperti itu pada Hidenaga-sama, sekarang aku paham kau memang pria yang sungguh lancang," tukas Takatora.
"T-Tunggu! Aku punya alasan, dan aku minta maaf karena ini terlalu egois!" jawab pria pemilik klan Kimura itu panik.
Takatora mendecak. "Kau harus berterima kasih atas kebaikan Hidenaga-sama mengizinkanmu berbicara dengan diriku yang tengah menjalankan tugas..." lanjut Takatora, masih menatapnya dingin.
"Sudah kubilang aku mohon maaf, duh!" balas Aki frustasi yang hampir setengah berteriak. "Baiklah, langsung saja kukatakan. Aku hanya ingin kau tak memberitahu pada Natsuko mengenai rencana penyerangan Shikoku."
Takatora hanya diam menatap tajam Aki, menyilangkan tangannya di depan dada sembari menunggu Aki melanjutkan lebih detil mengenai permintaannya.
"Err... saat ini aku masih belum bisa menjelaskan alasannya. Karena itu..."
"Apapun alasannya itu memang bukan urusanku," potong Takatora. "Tapi akan kuturuti permintaanmu kali ini. Kecuali jika kau mengulanginya di hadapan Hidenaga-sama, kau akan kuanggap penghalang."
Aki bergidik, tapi sebagian dari dirinya merasa lega. "Terima kasih. Lalu aku ingin kau memberitahunya pada Suzu-dono juga. Kumohon," tegas Aki.
Takatora menghela napas, kemudian berbalik pergi keluar istana.
"Oh, kalau bisa aku ingin kau memberitahunya pada jendral yang lain―"
"Jangan bercanda, bodoh! Kenapa aku harus menuruti permintaanmu yang tidak jelas itu!?" bentak Takatora, lalu ia kembali membalikkan badan dan langsung pergi.
Setitik keringat menurun dari pelipis Aki. "Yah, sudah kuduga dia akan menolak. Ya sudahlah, kalau begitu aku akan beritahu pada yang lain tentang ini. Setelah itu berangkat ke dermaga."
-XXX-
Karena Hidenaga tak memberinya perintah, malahan mengizinkannya untuk pulang. Takatora tak punya pilihan selain menuruti perintah majikannya. Takatora disambut oleh istrinya yang tengah mengajari Senmaru menulis seperti biasa. Wanita muda itu bergegas menghampirinya.
"Selamat datang kembali, Takatora-sama. Kukira Tuan akan menetap di Nara lebih lama..."
"Begitulah. Karena ini menyangkut tentang negosiasi, Hidenaga-sama harus hadir dalam pertemuan." Takatora kemudian mengalihkan pandangannya pada Senmaru. "Sepertinya dia menikmati belajarnya," Takatora terkekeh.
"Ya, Senmaru memang pintar. Dia begitu cepat mengerti..."
Sebelum ia hampir lupa dengan permintaan Aki, Takatora langsung memberitahunya pada istrinya. Sejak Kimura itu berada dibawah naungan Hashiba, adiknya begitu cepat akrab dengan Suzu. "Omong-omong, Suzu. Ada yang ingin kukatakan padamu, ini menyangkut tentang Kimura dan adiknya."
"Aki-san?" Suzu memiringkan kepala.
"Ya, dia meminta kita untuk merahasiakan tentang penyerangan menuju Shikoku nanti pada adiknya." Suzu terdiam. Merasa diabaikan, Takatora mengusap rambutnya. "Kenapa kau tiba-tiba terdiam? Apakah ada hal yang terjadi saat aku pergi?"
Suzu mengedipkan matanya terkejut. "Ah, tidak. Aku hanya... penasaran mengapa Aki-san menyembunyikan persoalan ini pada Natsuko. Kecil atau besarnya hal yang ia sembunyikan, pasti akhirnya akan diketahui juga..."
Takatora mengerjapkan mata ketika mendengar lantunan nada suara Suzu tiba-tiba menjadi pelan. Merasa ditatapi terlalu lama, Suzu tersenyum canggung sembari menggoyang tangan. "...L-Lagipula, kalau Natsuko sudah penasaran setengah mati. Dia takkan menyerah sampai ia tahu apa yang terjadi. Bahkan ini menyangkut kakaknya..."
"...kau benar," jawab Takatora singkat.
"Ah, tapi aku akan merahasiakannya, kok! Memang kita tidak tahu alasannya, tapi ini demi Natsuko, ya." Suzu menaikkan telunjuknya di depan bibir untuk meyakinkan suaminya.
Kemudian Suzu merundukkan kepalanya kebawah, memangku tangannya dengan senyuman pada wajahnya sedikit menurun. Sejak tadi sang suami merasa kalau Suzu amat canggung ketika berbalas pandang.
"Aku hampir lupa." Takatora mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong dada di jubah birunya. Mengeluarkan sebuah pita merah yang diberi gantungan berbentuk bulan sabit berwarna keemasan. "Untukmu."
"Mikazuki...?" Suzu memiringkan kepalanya bingung.
"Ya, kurasa bentuk bulan memang cocok untukmu. Sejak Yoshitsugu selalu memanggilmu Shirousagi, entah kenapa itu selalu membuatku kepikiran dengan kelinci bulan."
Entah yang ia ucapkan barusan adalah candaan, Takatora sendiri tak yakin. Namun ia tak menduga Suzu tak menjawabnya sama sekali, hanya terpana menatap hadiah tersebut dengan mata membulat.
"Aku akan memasangkannya." Takatora mulai menyisir rambut perak Suzu dengan jemarinya, kemudian memberi sanggulan kecil pada sebelah kanan kepalanya lalu mengikatnya dengan pita merah dengan objek bulan sabit menggantung pada sanggulannya.
Suzu tersenyum senang kearah suaminya, lalu entah mengapa ia kembali mengalihkan pandangan. Terlihat jelas ada sesuatu yang terjadi padanya. "...um, apa tidak masalah jika aku menerimanya?"
"Dasar bodoh. Lalu untuk apa aku memberikannya padamu. Kalau kau tidak suka katakan saja."
"Bukan kok! Bukan. Ah, aku ingat kalau ekor bulan itu adalah pertanda keberuntungan bagi yang melihatnya. Sama seperti loncengku, juga sebagai jimat keberuntungan." Suzu melebarkan senyumannya. "Terima kasih banyak, Takatora-sama. Aku sudah menerima banyak sekali darimu. Aku... senang sekali."
Meski ia mengatakan senang, tetapi firasat Takatora kembali mempermainkan perasaannya. Seakan Suzu terlihat menyembunyikan sesuatu dibalik senyumannya. Terkadang ia buruk dalam berbohong, seringkali Takatora merasa tak nyaman dengan firasatnya itu.
Keberuntungan. Tidak, Suzu berpikir itu sama sekali tidak cocok untuknya. Mengingat ia tak pernah bisa memberikannya seorang anak dan memberikan adik untuk Senmaru. Ia merasa tak pantas, namun sebagian dari dirinya berharap ia masih diizinkan untuk hidup bersama mereka.
"...Suzu. Aku ingin bertanya padamu."
"Ya, Tuan?" Dengan ragu, Suzu memberanikan diri untuk berbalas kontak mata dengan Takatora.
"Kenapa sejak tadi kau tak mau menatapku? Aku takkan menerima jawaban 'bukan apa-apa'."
"..." Suzu kembali menurunkan kepala, memangku tangannya lebih erat dan menggigit bawah bibirnya. Nampaknya ia terlalu takut untuk mengatakannya.
"...tidak. Jika kau belum siap menyatakannya, itu tak apa. Tapi aku minta padamu jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku adalah suamimu, aku tetap percaya padamu." Takatora menyusupkan kedua tangannya pada wajah Suzu, jempolnya mengusap pipi lembutnya dengan pelan, menarik Suzu untuk kembali berbalas pandang dengannya.
Kedua pelupuk mata Suzu bergetar, terlihat jelas ia sangat takut menyatakan apa yang mengurung perasaannya pada sang suami. Takatora memberikan kecupan singkat pada kening lalu turun menuju pelupuk matanya. Kemudian menempelkan dahinya dengan milik Suzu.
"Kau tidak perlu takut. Apapun itu aku tidak akan mungkin membencimu."
"Otou-sama lihat ini!" Tak sempat mendaratkan ciuman lagi, Takatora langsung memberi jarak pada Suzu yang masih terpaku. Beruntung Senmaru tak menyadari apa yang baru saja ia lakukan Suzu. "Aku sudah selesai membalas suratmu!" Dengan bangga Senmaru memperlihatkan secarik kertas dengan tulisannya yang rapi namun sedikit kusut.
Takatora mendengus pelan, kemudian mengusap kepala putra angkatnya itu. "Bagus sekali. Tapi kau harus menyempurnakan huruf kanji." Takatora lalu menempelkan telunjuknya pada kertas itu. "Terutama ini, menulis kanji 'sibuk' harus menggabungkan dengan 'hati' dan 'kehilangan'.
"Gawat, aku salah tulis lagi! Aku malah menggabungkannya dengan 'kecil' dan 'kehilangan'!" pekik Senmaru sambil melihat kembali kertasnya. "Toh, ayah 'kan sekarang sudah pulang. Jadi aku tidak perlu membalasnya lagi. Tapi aku akan belajar lebih giat!"
"Ya, berjuanglah." Takatora kemudian beranjak.
"Ah, aku sudah menyiapkan air hangatnya," ucap Suzu pada Takatora yang bersiap untuk membasuh diri. Suzu membantunya melepas jubahnya.
"Terima kasih."
"Ah, kalau begitu apa aku boleh menggosok punggungmu lagi, Otou-sama?" pinta Senmaru.
"Tentu." Sementara Takatora membasuh diri, Suzu segera menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Senmaru dibantu oleh sang ayah selesai membersihkan rambut dan tubuhnya, kemudian ia memasuki bak. Manik hijau Senmaru memerhatikan bekas luka pada sekujur tubuh bagian atas Takatora.
"Otou-sama, apakah menjadi pendekar itu sulit?" tanya Senmaru yang mulai penasaran.
Menyadari tatapan penasaran putranya, Takatora mendengus pelan. "Terkadang. Tapi selalu ada jalan untuk mengatasinya."
"Lalu, apa lukanya sakit?" tanya Senmaru lagi.
"Tentu saja. Tapi sebentar atau lama pasti akan sembuh."
Senmaru kemudian terdiam sejenak sembari manggut-manggut. "Otou-sama, apa aku boleh ikut bersamamu di perang nanti?"
Sebelumnya Takatora telah mempersiapkan diri mendengar permintaan putranya. Suzu juga mencemaskan hal yang sama. "Alasannya?"
"'Alasannya'...? Hm, apa ya..?" Senmaru memindahkan pandangannya ke samping lalu mulai berpikir. "Mungkin kalau aku ikut, ayah tidak akan mendapat luka ini lagi?" sahutnya dengan nada senang, seakan ia telah berhasil memikirkan alasan yang bagus.
Takatora menghela napas, lalu mengusap wajahnya yang basah dari buliran air yang mengalir. "Dasar. Kau terdengar mirip dengan ibumu." Dia kemudian memasuki bak hangat. "Sebetulnya aku dan ibumu tak ingin kau terlibat dalam kekacauan negeri ini. Tapi kau harus menunggu sampai kau paham dengan keinginanmu itu."
Senmaru memandang ayahnya bingung, seorang anak yang masih berpikiran sempit masih belum paham dengan ucapan ayahnya yang rumit.
Takatora menjernihkan tenggorokan. "Pertama kau harus belajar. Mungkin kau sudah tahu itu tapi setidaknya hanya ini yang perlu kukatakan."
"Oh, aku mengerti!" Senmaru manggut-manggut.
-XXX-
Di hari berikutnya, Aki yang tengah bersiap berangkat menuju dermaga dihambat oleh Natsuko yang memintanya untuk ikut bersamanya.
"Nee, onii-chan! Biarkan aku ikut!" pinta Natsuko tak mau menyerah menyerah.
"Tidak bisa, Natsuko. Aku tidak sedang bermain-main."
"Lagipula kenapa harus jauh-jauh ke dermaga, sih? Aku juga ingin melihat laut!"
"Natsuko, dengar. Aku sudah ditugaskan untuk mengembangkan kapal, jadi aku tak bisa menemanimu melihat laut."
"Eh? Kapal? Memangnya kapal itu akan dipakai untuk apa? Apakah kita akan berperang lagi?"
Aki tak menjawab, ia langsung mengalihkan pandangannya ke Asuka. Asuka sudah paham dari tatapan singkat Aki kemudian mendekati adiknya.
"Maaf ya, Natsuko. Tapi kami harus cepat menyelesaikannya. Jika tidak kakakmu akan dihukum, lho?"
"Asuka-chan! Kamu tak perlu memperlakukanku seperti anak kecil!"
Perdebatan mereka terus berlanjut. Hana dan Suzu hanya bisa memerhatikan mereka dari jauh. Mereka juga telah diberitahu untuk tutup mulut mengenai penyerangan Shikoku, meski alasannya masih samar.
"Aku terkejut. Ternyata mereka bersaudara, ya..." ucap Hana memandang kakak-adik itu.
"Eh? Hana-dono baru tahu?" tanya Suzu.
Hana tertawa canggung, menutup mulutnya dengan sepucuk surat di tangannya. "Haha, begitulah. Pantas saja mereka terlihat mirip."
Menyadari surat di genggaman Hana, Suzu bertanya. "Itu surat apa, Hana-dono?"
Hana tersentak kaget dan langsung menyembunyikan surat itu di pakaiannya. "O-Oh, ini surat dari ibu― ah, maksudku anakku. Dia sangat merindukanku, aku dan Nagachika sudah hampir satu tahun menetap sementara di Osaka. Ah, kalau kita sudah berada di Shikoku nanti, aku akan memperkenalkannya padamu."
Hana memberikan senyuman simpul, namun Suzu hampir terlambat membalas senyumannya. Ia tersenyum canggung, Hana menyadari itu. Bukan artinya ia tidak menantikannya, Hana tahu kalau Suzu bukanlah perempuan yang tidak ingin bermaksud mengecewakan orang lain. Hatinya sedang goyah, Hana lebih memilih untuk menanyakan apa masalah yang ada di pikirannya. Memastikan bahwa Suzu tak mencurigainya mengenai saat upacara chanoyu beberapa minggu yang lalu.
"Kenapa, Suzu?" tanya Hana.
"Ah, bukan apa-apa kok. Hanya saja aku ingin tahu bagaimana rasanya memiliki anak kandung..."
Hana hampir lupa kalau Senmaru bukan anak kandungnya. Selama ini ia juga penasaran mengapa Suzu masih belum memiliki anak padahal ia telah menikah dengan Takatora sudah hampir dua tahun. Hana melihat Suzu mengigit bawah bibirnya. Apakah sesuatu terjadi sampai ia masih belum memiliki anak kandung atau tidak, Hana tak berani menebak bahkan menanyakannya pada Suzu.
"Suzu...? Kau baik-baik saja?"
Tubuh Suzu bergetar kaget ketika Hana menepuk bahunya. "Ah, aku baik-baik saja."
Tanpa mereka sadari, Natsuko berjalan kearah mereka. Wajahnya cemberut dan pipinya menggembung. Terlihat sangat jelas kalau ia gagal memaksa kakaknya. "Onii-chan bertingkah aneh. Apa salahnya kalau aku ikut, sih?"
Hana tak bisa menjawab, ia mencoba memikirkan jawaban yang tepat agar Natsuko membuang kecurigaannya. Sedangkan Suzu masih berada dalam renungannya tak memperhatikan pertanyaan Natsuko.
"Suzu-chan dan Hana-chan tahu sesuatu, tidak?" tanya Natsuko.
"Ah, maaf. Hari ini aku ada urusan dengan Nagachika. Jadi, aku harus pergi dulu! Dadah!" Hana langsung pergi meninggalkan Suzu dan Natsuko.
"Eh? Hana-dono?" Suzu tersentak dari lamunan begitu melihat Hana sudah pergi. Niat Suzu untuk menyusul Hana pupus ketika Natsuko menarik tangan Suzu.
"Suzu-chan! Kamu tahu apa yang terjadi? Beritahu aku!"
"Eh? Tadi 'kan Aki-san sudah memberitahumu, dia akan mengembangkan kapalnya. Karena tak lama lagi kita akan berangkat ke―... Shikoku."
Natsuko mengerjapkan mata. "He? Begitu ya?"
"Ah." Tak sengaja membocorkannya, Suzu langsung menepuk mulutnya. Mimik wajahnya berubah panik. "Aaaah! Gawat! Aki-san, maafkan aku!" jerit Suzu histeris sembari mengacak rambutnya.
-XXX-
-xxx-
-XXX-
A/N : Sebenarnya saya pernah niatin nak Suzu gak bisa punya anak. Eh waktu baca wiki jepang Takatora, ternyata istri pertamanya beneran gak bisa.
Oke sedikit sop iler, chapter berikutnya mungkin disebut sebelum dan awal perang dimulai gitu, mungkin *plak*
Dan karena buru-buru, mohon kasih tahu saya kalau ada typo. Karena itu mohon berikan review-nya!
おねがいします!それじゃ、またねー!
