Tittle: Elf
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Genre: Supernatural, Crime, Friendship
Rate: T
Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD
Enjoy...
Chapter 19: Case 3, Awakening of Fünf
Seorang pemuda duduk dengan tenang di tepi gedung tinggi. Angin malam yang menyibakkan surai merahnya tidak mengganggunya sama sekali. Ia terus memperhatikan bangunan kecil yang terletak beberapa gedung dari tempatnya. Kemudian kehadiran seseorang mengalihkan perhatiannya dari bangunan itu.
"Yo, Sei-chan." Sapa orang yang baru datang, yang merupakan pelayan serta ajudan setia yang selalu menemaninya. "Kau bilang tadi ingin mencari jiwa untuk dimakan. Kenapa belum berburu juga?" Tanya pemuda itu sambil duduk di samping pemuda yang dipanggilnya 'Sei-chan' atau Akashi dengan gaya duduk yang cukup feminim.
"Aku memang bilang ingin mencari makan, tapi tidak pernah bilang ingin berburu, Reo." Jawab Akashi kembali memfokuskan pandangannya pada objek sebelumnya. "Lagipula aku tidak perlu mencari jiwa yang baru lepas. Karena ada yang sedang melepaskan banyak jiwa di sana." Lanjutnya dengan seringai misterius.
"Hoo... Maksudmu Divisi Keajaiban?" Seorang pelayan lain, pemuda gingsul ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka. Kemudian membuang napas kasar. "Kau masih melindungi mereka dari belakang ya? Lalu, kapan kau akan memunculkan dirimu? Takdirmu terikat juga kan?"
"Jangan membicarakan takdir denganku, Hayama. Aku melakukan ini karena sudah menjadi tugasku sebagai penerus satu-satunya klan suci yang tersisa." Sahutnya. "Dan aku tidak berniat mengikuti takdirku seperti yang mereka lakukan."
"Heeh.. klan suci ya? Darah yang paling membuat kami iri. Sayang sekali klan suci dari ras manusia sudah punah. Para penyihir yang malang." Celetuk Reo yang merubah warna putih matanya menjadi merah.
"Benar juga. Padahal selama berabad-abad klan Akashi dan klan penyihir selalu bekerja sama dengan Divisi Keajaiban kan? Mereka juga katanya yang terenak dari semua manusia. Aah.. aku jadi ingin mencicipinya." Hayama mulai mengeluarkan taringnya begitu membayangkan rasa lezat dari darah penyihir.
"Daripada kau membayangkan apa yang tidak mungkin kau dapatkan lebih baik kalian pergi berburu bersama Eikichi." Perintah Akashi dingin.
Perkataan itu cukup jelas bagi mereka sebagai perintah 'tinggalkan aku sendiri'. Mereka berdua pun pergi berburu dan bergabung dengan Nebuya, yang entah ada dimana.
Akashi kembali mengamati bagunan tempat Divisi Keajaiban melakukan tugas mereka. Ia lalu berdiri dan mengeluarkan ponselnya.
.
.
.
Seingat Aomine ada lima puluhan gadis zombie di ruangan ini, dan dia sudah menjatuhkan tiga puluh diantaranya. Tidak sulit, mengingat yang dilawannya hanyalah gadis remaja dan tubuh mereka serapuh mayat. Hanya saja, setelah dihitung kembali...
"Kenapa jumlah mereka masih lima puluh!?" Pekik Aomine lelah. Ia hampir kehabisan napas, tapi musuhnya tidak berkurang barang seorangpun. Belum lagi dokter berotot gila yang sedang kegirangan melihat hasil percobaannya.
"Hebat! Benar-benar hebat! Bahkan mereka lebih kuat dari Demon, makhluk abadi!" Serunya histeris.
"Ck, berisik!" Umpat Aomine.
Tanpa sadar, pemuda tan itu berdiri dengan tegap menghadapi puluhan zombie di depannya. Tidak ada lagi raut lelah, kesal, ataupun gentar di wajahnya. Ia mengambil napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Jantungnya berdetak dengan normal dan sorot matanya melembut. Ia benar-benar berada dalam zona tenang saat ini.
.
.
.
Sementara itu Zehn dan Sechs yang berpencar bertemu lagi. Saat ini mereka ada di ruangan seperti aula besar. Dengan lusinan penjaga bersenjata dan gadis zombie. Membuat Kagami bergidik melihat betapa mengerikannya monster baru di depannya.
"HEEAAH!" Zehn menusukkan belatinya ke dada salah satu penjaga, lalu mengalirkan aliran listrik ke seluruh tubuh penjaga itu hingga tumbang. Pemuda itu terus mengayunkan belatinya ke arah gadis zombie maupun penjaga, sesekali tanpa ragu untuk menebas beberapa anggota tubuh. Namun bukannya mati, mereka justru kembali menyerang, tidak kelihatan kalau mereka baru saja kehilangan anggota tubuh mereka.
"Mereka seperti zombie! Bagaimana ini Sechs? Bahkan penjaga-penjaga ini juga sepertinya hasil ujicoba." Tanya Zehn mendekati Sechs menggunakan kecepatan kilat.
"Kalau kita tidak membunuhnya pertarungan ini tidak akan ada habisnya." Jawab Sechs dengan napas terengah. "Apa boleh buat. Bidik saja kepalanya. Hancurkan otak mereka, hanya itu satu-satunya cara." Ucapnya bersiap menuncurkan panah yang berikutnya.
.
.
.
"Z-Zwei?!"
"Wah, tak kusangka kau bahkan tahu nomorku, Elf." Balas Zwei yang semakin mendekati Elf. Elf berusaha bersikap setengang mungkin. Ia harus berpikir jernih, karena situasi ini sama sekali tidak menguntungkannya.
Begitu keluar dari bayangan, barulah jelas siapa dia. Seorang pemuda seusianya, dengan surai gradasi jingga dan hitam. Mata abu-abunya terlihat bersahabat, namun di saat yang sama juga mengancam. "Tapi sepertinya tidak adil karena hanya aku yang mengetahui siapa kau sebenarnya. Iya kan, Kuroko Tetsuya?"
"Maaf saja, tapi kita seri, Ogiwara Shigehiro." Jawab Elf singkat yang membuat Zwei terkejut. Pemuda bluenete ini mengenali wajah Zwei, wajah yang pernah ditemuinya di masa lalu. "Anggota keajaiban generasi seratus pertama yang memperoleh kekuatannya. Kau diasuh dan dilatih secara langsung oleh generasi terdahulu. Mungkin kau lupa, tapi kita pernah bertemu sebelumnya."
"Hoo.. jadi kau juga tahu siapa aku?" Balas Zwei dengan senyumnya yang terlihat hangat.
"Apa maumu?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Aku ingin ngobrol denganmu, itu saja. Dan biar kuberitahu kau. Aku tidak berniat ikut Divisi Keajaiban seperti yang diminta Nijikata-san, jika kau mau tanya itu."
"Sebenarnya yang kau lakukan di tempat seperti ini?" Tanyanya mulai kesal.
"Tentu saja untuk membangkitkan kekuatan Fünf." Jawabnya santai yang membuat tubuh Elf menegang. "Aku yang memimpin operasi pembuatan Setengah Demon ini bersama Odin. Demi kalian."
.
.
.
"Putri master karate.."
Mendengar gumaman pemuda blonde itu, Momoi langsung panik dan mencoba mengelak. "E-eeeh! I-itu bukan apa-apa kok Ki-chan!"
"Tapi teknikmu tadi—"
"KYAAA! KETAHUAN!" Teriak Momoi histeris sambil berlari sana-sini. Lalu berhenti dan menjelaskannya singkat. "I-iya, aku memang putri master karate dan aku juga sabuk hitam sejak SD."
"Lho? Terus kenapa Momocchi tidak melawan waktu dibawa ke sini ssu?"
"So-soalnya, Tetsu-kun sukanya cewek yang lembut, dan waktu itu dia ada di sana. Makanya aku selalu berusaha terlihat lemah di depannya dan tidak melawan ketika diculik ke sini." Jawab Momoi malu-malu sambil memainkan jarinya. "Ja-jangan bilang-bilang sama siapapun terutama Tetsu-kun ya.." Pintanya.
"Dan aku harus crossdress unyu kayak gini cuma karena Momocchi gak mau ketahuan kalau dia kuat luar biasa!? Malangnya nasibku!" Teriak batin Seiben nelangsa.
"Y-ya sudah. Yang penting kita harus keluar dari sini. Ayo!" Seru pemuda itu yang diikuti gadis lainnya.
.
.
.
Dengan gelisah Yoshiro dan Takao menunggu di dalam mobil. Sudah hampir satu jam dan tidak ada tanda apapun dari mereka. Takao berniat memanggil bantuan sesuai perkataan Elf sebelumnya, namun niatnya itu diurungkan karena merasakan kehadiran seseorang.
"Aku keluar sebentar." Izinnya tanpa menunggu balasan dari Yoshiro.
Takao dengan lincah meloncati gedung-gedung tinggi dan menghampiri seseorang yang sedang berdiri di atas gedung tak jauh dari tempat penyerbuan mereka.
"Yo, sedang berburu di sekitar sini, Akashi?" Sapanya dengan nada riang. "Atau, kau mengawasi kami lagi?" Tanyanya, kali ini dengan nada yang serius.
"Keduanya. Tapi tenang saja, aku tidak akan mengganggu operasi kalian." Jawabnya sambil memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Jadi, kau hanya akan diam di sini melihat sepupumu melawan sekelompok penjahat terorganisir di sana?" Celetuk Takao. "Kau tidak cemas?"
"Untuk apa aku cemas? Selama ini ia tidak pernah gagal, apalagi sekarang Divisi Keajaiban sudah bangkit kembali. Lagipula Tetsuya akan kesusahan kalau aku di sana." Jawab Akashi. "Oh ya. Ada berapa anggota Divisi saat ini."
Takao mengerjapkan matanya dan menjawab tanpa ragu. "Tiga. Memangnya kenapa?"
"Satu lagi akan segera bangkit. Kekuatannya bahkan terasa sampai ke sini." Infonya. "Teruslah cari anggota yang lain. Karena Divisi Keajaiban bukanlah Divisi Keajaiban kalau tidak sepuluh."
"Apa-"
Tidak sempat Takao menyelesaikan kalimatnya, Akashi menyibakkan tangannya dan munculah api besar yang menyelimuti tubuhnya. Sebentar kemudian api itu menghilang bersamaan dengan Akashi. Meninggalkan Takao yang berdiri diam di sana.
"Bagaimana bisa jadi sepuluh kalau kau terus menghindar?"
.
.
.
"Membangkitkan paksa kekuatan Fünf? Bagaimana caranya?"
"Kau yang bukan anggota Generasi Keajaiban tidak akan mengerti hal ini. Tapi sebenarnya kami semua terhubung, kami saling merasakan kekuatan masing-masing. Karena pada dasarnya kami ini satu." Ucapnya sambil mengelus liontin di lehernya. "Dari kami semua hanya Fünf dan Neun yang belum bangkit sepenuhnya."
"Tidak mungkin memaksa kekuatan seseorang bangkit dengan paksa. Lagipula, kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Elf sangsi.
"Karena sekarang Fünf ada di sini dan sedang melawan pimpinan operasi ini. Kau pikir kenapa kami susah-susah menculik banyak gadis? Bahkan meski kami tahu jika pembuatan Setengah Demon ini sia-sia saja?"
"Maksudmu... Fünf ada di-?" Pertanyaannya terpotong begitu ia menyadari siapa Fünf yang dimaksud. "Aomine-kun!?"
Zwei bertepuk tangan pelan sambil tersenyum. "Kau memang cerdas seperti yang digosipkan! Ya, dengan menculik banyak gadis, kami bisa menciptakan kasus yang akan menghubungkan kalian dengannya. Kami juga memiliki alasan untuk menjadikan pacarmu itu sebagai umpan, sehingga Fünf pasti akan menyelamatkannya apapun yang terjadi. Tapi, tak disangka salah satu terlepas dan kalian terhubung dengan Hunter itu lebih cepat. Mau tidak mau aku membunuhnya."
Elf yang mulai marah menggeretakan giginya kasar. "Kau.."
"Eits! Tapi tenang saja, Odin tidak mengizinkanku untuk menyentuhnya, ataupun anggota keajaiban yang lain. Yah.. untuk saat ini." Zwei berjalan mendekati Elf hingga jarak mereka hanya tinggal beberapa puluh senti. "Karena itu, untuk sementara kau diam disini sampai Fünf bangkit. Aku tidak mau kau mengganggu." Ucapnya sarkas.
"Siapa sebenarnya Odin yang kau bicarakan!?" Elf yang kehabisan kesabaran tanpa ragu langsung menebaskan pedangnya ke leher Zwei. Tapi pemuda bersurai jingga itu bisa menepisnya dengan mudah dan mengukung lengan kiri Elf seperti lengan kanannya. Pemuda bluenette itu berusaha melepaskan diri meski percuma.
"Kalau kau masih berisik juga, aku tidak akan ragu untuk mengurungmu dalam kristal selamanya." Ancamnya. Ia menghentikan ucapannya sesaat dan melihat ke sisi lain lorong. "Sudah saatnya" Bisiknya.
"Yah... sebagai imbalan karena kau dengan sabar menunggu di sini. Aku akan meberitahumu beberapa hal menarik padamu." Ucapnya sambil tersenyum. Ia lalu menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan Elf.
"Ada penghianat di sekitarmu. Dan satu hal lagi, aku akan menyampaikan pesan Odin untuk Kuroko Tetsuya," Perlahan ia mendekat dan berbisik tepat di telinga kanan Elf. "'Aku akan membuat keajaiban seperti sihirmu, Sora.'"
Begitu mengucapkan perkataan itu, Zwei menepuk pelan pipi Elf dan meninggalkan tempat itu dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya. meninggalkan Elf yang masih terperangkap dan syok. Pemuda mungil itu membelalakan matanya mendengar semua hal yang dikatakan pemuda berparas ramah itu.
Keterkejutan Elf seketika lenyap ketika ia merasakan lantai yang dipijaknya dipenuhi dengan genagnan air yang perlahan semakin tinggi.
.
.
.
Aomine berdiri diam diantara tumpukan mayat yang berhasil dikalahkannya. Kini tinggal dirinya dan dokter gila yang bersiap untuk menyerangnya. Belum ada selangkah, dokter itu terdiam merasakan cipratan air di wajahnya. Merasa heran, dokter itu memandang Aomine yang terlihat samar.
Ya, samar. Aomine kini dikelilingi oleh ratusan embun yang melayang di sekitarnya, bahkan hampir di seluruh ruangan. Perlahan, muncul pusaran air di sekitar kakinya yang semakin lama semakin tinggi hingga mengelilingi seluruh tubuhnya. Ekspresinya begitu tenang, berbanding terbalik dengan dokter di hadapannya yang sudah terbelalak.
"Luar biasa." Gumamnya. "Inikah kebangkitan Divisi Keajaiban?" Dokter itu tidak mampu bergerak saking kagumnya. "Kalau begitu.."
Pria itu dengan cepat menyerang Aomine yang masih berdiri di sana. Ia meninju wajah Aomine dengan kuat hingga terpelanting dan memecahkan pusaran air. Pemuda navy itu meringis merasakan hidung dan mulutnya yang berdara, serta pipinya yang membiru.
Belum sempat bangkit sempurna, dokter gila itu menyerang lagi dan kali ini dengan menendang tubuhnya, mengangkat lalu melempar Aomine ke seberang ruangan, menyebabkan perabotan yang ada di sana semakin berantakan.
"Gkh!" Aomine tersungkur di lantai dengan tubuh penuh memar dan luka. Ia yakin beberapa tulangnya ada yang patah. Meski begitu, ia tetap memaksakanuntuk berdiri dan kembali menciptakan pusaran air di bawah kakinya.
"Masih belum menyerah juga ternyata?" Tanya pria itu antusias.
"Cukup sudah." Geram Aomine dengan napas putus-putus.
Di balik pusaran air itu, Aomine mengarahkan tangan kanannya ke depan. Sekonyong-konyong sekumpulan air melesat secepat peluru dari pusaran air ke arah dokter itu dan menghantamnya keras. Peluru air itu cukup kuat hingga tubuh dokter itu memar—jika orang biasa tulangnya sudah patah. Hal itu dilakukan Aomine berulang kali hingga dokter di hadapannya terkapar dengan banyak memar, bahkan ada tulang yang patah. Ia terus melakukannya sampai benar-benar yakin kalau dokter itu telah tewas.
Tanpa sepatah katapun pemuda navy itu merentangkan masing-masing tangannya ke samping. Lalu pusaran air yang sebelumnya mengelilinginya menyebar ke segala penjuru ruang bawah tanah itu seperti gelombang tsunami. semakin lama air yang menyebar semakin dalam. Aomine dengan tenang melangkah meninggalkan tempat yang akan tenggelam itu. Sedikitpun tubuhnya tidak basah karena air akan membelah di setiap langkahnya dan menyatu kembali begitu ia lewat.
.
.
.
Seiben dan para gadis akhirnya sampai di pintu masuk tempat Aomine dkk masuk tadi. Sayangnya pintu itu terlalu tinggi untuk dipanjat. Di tengah-tengah kegiatan berpikirnya, pemuda itu terdiam dan menoleh.
Begitu merasakan kekuatan yang besar, Seiben langsung melompat ke belakang dan menghentakkan tongkatnya ke lantai untuk membuat dinding. Begitu terbentuk, dinding itu langsung menghalangi gelombang air yang tiba-tiba datang. Ia pun segera melemparkan tongkatnya ke atas hingga melewati lubang dan menempel di langit-langit dan memanjangkannya seperti tali.
"Ladies, pegang es itu erat-erat! Jangan dilepas sebelum aku bilang iya!" Teriaknya yang dituruti semua gadis dan Momoi. Begitu semua berpegangan termasuk dirinya, ia memendekkan tongkatnya sehingga mereka semua tertarik ke atas.
Begitu dirasa aman, Seiben mencairkan kembali dinding es agar teman-temannya bisa lewat nanti, membiarkan arus air mengalir di bawahnya. Sesaat ia memandang arus air itu, lalu kembali fokus untuk menyelamatkan para gadis.
"Aominecchi!" Batinnya cemas.
.
.
.
"Se-Sechs! Ini.." Seru Zehn kepada Sechs.
"Ya." Jawab pemuda beriris zamrud itu sambil memandang genangan air di bawahnya. "Ini ulah Aomine, nodayo."
"Dia juga Anggota keajaiban ya?" Kekeh Zehn tidak percaya.
"Bukan waktunya untuk memikirkan itu." Ucap Sechs yang sedang menumbuhkan tanaman merambat yang menahan seluruh penjaga dan zombie. "Yang penting sekarang kita harus keluar dari sini sebelum tempat ini tenggelam."
"Tapi pintu masuk kita tadi sangat jauh dari sini!"
"Kalau begitu kita bobol saja atapnya, nodayo!" Sechs membobol langit-langit dengan pohon besar hingga menembus tanah. Meski terengah karena mengeluarkan kekuatan yang cukup besar, ia tetap memaksa memanjat bersama Zehn.
"Lalu mereka bagaimana?" Tanya pemuda beralis ganda sambil memandangi mereka yang terikat.
"Biarkan saja, toh mereka sudah mati. Mereka hanya bahan percobaan yang gagal."
.
.
.
Air sudah sampai ke leher, namun Elf masih tidak bisa membebaskan diri. Ia sudah melakukan segala cara meski nihil, kekangan Zwei terlalu kuat. Ia terengah karena kelelahan, juga kesulitan bernapas akibat air yang menekan dadanya.
Sebenarnya ia ingin sekali mengejar Zwei dan menanyakan banyak hal. Namun saat ini bukan itu prioritasnya. Ia harus memastikan bahwa teman-temannya selamat. Ia tidak begitu mempercayai perkataan Zwei bahwa mereka tidak akan mengganggu Divisi Keajaiban.
Beberapa menit kemudian lorong itu setengah penuh dengan air, dan Elf tenggelam di dalamnya. Dengan terus menahan napas ia masih berusaha keras melepaskan kekangan dari kristal menyebalkan itu. Hingga akhirnya ia kehabisan tenaga, matanya berkunang-kunang karena kekurangan udara, paru-parunya pun terasa terbakar.
"Apa aku... akan mati di sini?" Pikirnya lelah. Perlahan ia memejamkan mata, dan dari mulutnya keluar gelembung udara terakhir yang disimpannya. Udara di paru-parunya mulai digantikan oleh air yang masuk. Ia benar-benar lemas.
"Apa boleh buat..."
Tiba-tiba matanya terbuka dengan cepat, menampakkan bola mata yang kini berwarna merah. Tubuhnya menegang, tangannya ditariknya lagi dengan kuat. Taringnya saling bergemeletak ketika ia memaksa membebaskan diri. Hingga akhirnya...
PRAKK!
Tangan kanannya bebas! Ia pun melakukan hal yang sama pada tangan kirinya, dengan tangan kanannya ikut mencakar kristal itu. Akhirnya ia dapat membebaskan diri. Pemuda itu pun berenang ke atas untuk menghirup udara.
"PUAHH! HAH! HAH!" Elf terengah-engah, berusaha mengambil udara sebanyak-banyaknya. Pemuda itu memandangi dinding kristal dengan mata merahnya. Ia lalu melepaskan cincin dan menghilangkan pedangnya. Elf kembali berengang ke bawah lalu mencakar dinding kristal itu hingga menimbulkan lubang kecil.
BLUB.. BLARRR!
Dari lubang kecil, berubah menjadi retakan dan kristal itu pun hancur. Air yang tertampung berpindah ke sisi yang masih kosong, menyeret Elf di dalam arus air yang besar. Elf yang kelelahan tak kuasa melawan hasratnya untuk tidur. Ia pun menyerah dan membiarkan dirinya ditelan kegelapan.
.
.
Aomine yang kini berlari tertatih di sepanjang lorong dengan masih membelah air berusaha untuk menemukan teman-temannya dan berharap mereka baik-baik saja. Ia harus segera keluar dari tempat yang akan hancur ini. Pemuda itu tidak menyangka tempat ini akan tenggelam dan ialah penyebabnya.
"Kekuatan apa ini sebenarnya?" Bingungnya sambil memandang tangannya.
Aomine tanpa sengaja menemukan tubuh yang terapung ke arahnya dan mengenali pemilik tubuh yang tak sadarkan diri itu.
"Tetsu!" Pemuda itu segera menangkap tubuh Elf dan memeriksa keadaannya. "Masih hidup.." Pikirnya lega. Namun ia menemukan keanehan di tubuh temannya itu. Ia memperhatikan jari-jari pemuda mungil itu memiliki cakar tajam, serta taring panjang terlihat keluar dari belahan bibirnya. Aomine yang merasa curiga membuka kelopak mata Elf dan menampakkan putih matanya yang merah sepekat darah.
"Dia..." Aomine tertegun sejenak. Ia lalu menyadari keadaan saat ini dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bukan saatnya untuk itu!" Pemuda navy itu menggendong Elf dan kembali mencari jalan keluar.
.
.
.
(A Few Hours Later)
Yoshiro serta anak buahnya memeriksa TKP yang kini tenggelam. Divisi Keajaiban sedang beristirahat di ambulans dekat mobil polisi, sedangkan para sandra diperiksa di ambulans lain, ada juga yang dilarikan ke rumah sakit. Kasus ini akan diberitakan sebagai penculikan dan penjualan manusia kepada masyarakat. Selain itu mereka juga menyembunyikan alasan dibalik tenggelamnya ruang bawah tanah dengan 'pipa air yang diledakan dalam upaya penyelamatan'.
"Uaah! Kasus kali ini basah ssu!" Celetuk Seiben yang sedang menghangatkan diri bersama rekannya yang lain—dia sudah ganti baju.
"Basah apanya? Kulihat kau kering gitu!" Balas Zehn yang memeluk handuknya erat karena kadinginan sama seperti Sechs. Wajar saja, separuh tubuh mereka sempat terendam air. "Ini gara-gara Aomine yang mengeluarkan kekuatannya sembarangan!"
"Hei! Jangan menyalahkanku! Aku bahkan tidak tahu apa yang sudah terjadi!" Protes Aomine. "Lagipula, peduli sedikit dengan Tetsu dong! Lihat! Dia sampai menggigil begini!" Tunjuknya pada pemuda yang baru sadarkan diri dan sedang bergemul dengan lima lapis selimut.
"Itu kan salahmu juga Aho!" Teriak Zehn, Sechs, dan Seibein.
"Yah, yang penting kalian semua serta gadis yang lain selamat." Takao yang membagikan minuman hangat ke mereka ikutan nimbrung.
"Untungnya Takao-kun cepat memanggil ambulans. Jadi keselamatan para sandra bisa ditangani dengan cepat." Ucap Elf yang sudah tidak menggigil lagi.
"Eh? Yaa.. tentu saja aku harus bertindak cepat." Sahut Takao yang menggaruk tenguknya, padahal ia tidak melakukan apa-apa. "Ini pasti kerjaannya Akashi!" Batinnya yang untungnya tidak terbaca Elf, karena orangnya sedang tidak fokus.
"Aku mau melihat Satsuki dulu." Ucap Aomine sambil beranjak dari situ, meski tahu baik-baik saja, pemuda itu tetap khawatir.
Momoi yang sedang diperiksa kondisi tubuhnya melambai senang begitu melihat Aomine mendekatinya. Entah kenapa ia tidak terlihat seperti korban penculikan sama sekali. Teman masa kecilnya itu memperhatikan dari atas ke bawah dengan wajah cemas.
"Seharusnya kau lebih hati-hati, bodoh." Umpatnya dengan suara pelan, namun Momoi tahu kalau itu adalah cara Aomine mengucapkan maaf. Gadis peach itu hanya tersenyum simpul.
"Iya, lain kali aku akan hati-hati kok Dai-chan." Jeda sejenak. "Nee, terima kasih ya kalian sudah menyelamatkanku. Kalian benar-benar hebat." Ucapnya tulus. "Aku gak nyangka ternyata teman-temanku itu pahlawan." Kekehnya.
"Berisik." Aomine membuang muka.
"Lukamu bagaimana, Dai-chan?" Tanya Momoi yang memperhatikan wajah Aomine yang babak belur.
"Tidak apa-apa, nanti juga sembuh. Sudahlah. Aku mau kembali ke tempat yang lain." Pamitnya sambil beranjak dari sana. Pemuda navy itu kembali duduk di samping Elf yang sedang menyesap minuman hangat dalam diam.
Sejenak Aomine memandang Elf serius. Ia memperhatikan tubuh pemuda mungil itu seksama. Jari mulus tanpa cakar, bibir kecil tanpa taring, bola matanya yang berwarna putih-biru, serta auranya. Seperti biasa.
"Tetsu." Panggilnya yang menarik perhatian Elf. Elf membalas pandangan menyelidik Aomine. Ia paham Aomine tidak akan mengatakannya dan berharap pemuda itu membaca pikirannya. Pemuda itu mengalihkan pandangan ke minuman di tangannya.
"Nanti kujelaskan." Jawabnya yang sama sekali tidak memuaskan Aomine. Aomine memilih menyerah dan menunggu waktu 'nanti' itu.
.
.
(Kuroko's House, 05.00 a.m.)
Mereka memutuskan untuk ke rumah Kuroko dan membersihkan diri. Mereka tidak mungkin pulang jam segini jika tidak mau dihajar orang tua masing-masing. Lagipula sekolah dimulai tiga jam lagi, masih ada waktu bagi mereka untuk istirahat.
"Nee, mumpung di sini kenapa kita tidak menyambutnya saja?" Celetuk Kise di tengah-tengah acara santai mereka di ruang tamu Kuroko. Mengerti maksud Kise, Midorima dan Kagami mengangguk dan mereka bertiga memandang Aomine yang sedang disembuhkan Midorima.
"Apa?" Tanyanya bingung.
"Kuroko, ambilkan punya Aomine dong." Pinta Kagami kepada Kuroko yang baru saja datang dengan membawakan minuman dan sarapan. Mengerti maksud Kagami, pemuda itu tersenyum dan langsung menuju ke kamarnya.
"Kalian ini kenapa sih?" Tanya Aomine makin bingung.
"Aomine," Mulai Midorima sambil terus menyalurkan energinya. "Setelah bekerja sama dengan kami, aku ingin tahu bagaimana pandanganmu terhadap Demon sekarang."
Sesaat Aomine terdiam dan ia mengalihkan pandangan. "Aku ngaku aku salah. Yah.. gimana bilangnya ya? Kukira selama ini hanya Demon yang memiliki hati jahat. Tapi tak kusangka manusia malah melakukan hal yang lebih gila lagi. Hanya demi kepuasan dan rasa penasaran, manusia bahkan rela mengorbankan manusia lain. Itu lebih jahat dari yang dilakukan Demon." Jawabnya pelan. "Kurasa tidak baik jika aku menghakimi seluruh ras hanya karena kebencianku pada satu orang."
Mendengar jawaban yang dilontarkan Aomine, mereka semua tersenyum puas. "Jadi, kau siap menjadi bagian dari kami?" Tanya Kise.
"Eh? Bagaimana bisa? Aku bukan Divisi Keajaiban! Lagipula, aku tidak mau babak belur lagi."
"Tapi resikonya sama besarnya dengan menjadi Hunter kan?" Sahut Kuroko yang sudah turun ke ruang tamu sambil memegang liontin berwarna biru laut, dan menyerahkannya kepada Aomine, yang dibalas dengan tatapan penuh tanya. "Milikmu, liontin itu bereaksi dengan kehadiranmu di sini sampai membuat kamarku basah. Kekuatan yang kau tunjukkan sebelumnya merupakan bukti bahwa kau merupakan anggota Divisi Keajaiban yang hebat." Kuroko melakukan penghormatan seperti yang selalu dilakukannya kepada yang lain ketika Aomine mengenakan liontinnya. Lalu mereka semua serentak mengucapkan salam penyambutan.
"Selamat menjalani petualangan baru di Divisi Keajaiban, Fünf (Lima)."
.
.
.
TBC
A/N:
Chapter kali ini kepanjangan kayaknya. Habis, saya bingung. Kalau saya bagi ntar malah kelamaan, tapi kalau gak dibagi nombok kayak gini. Jadi saya putuskan, lebih baik nombok daripada ngutang chapter. (Maksudnya?)
Dan... dengan kondisi wifi yang naik turun dan angin berhembus kencang (ini beneran, serius)... saya update lagi..! gyaaahahaha! (re:edan nih orang)
Ehe.. maaf ya.. Ogiwara fc.. Dia agak OOC dan bukan orang baek-baek di sini.. (Ogi: Author Jahat!). Apa boleh buat, saya butuh antagonis dan kayaknya Ogiwara cocok deh... lagian saya rasa mukanya mirip sama Aizen di anime sebelah, ramah tapi ngeselin (dihajar Ogi FC).
Ngomong-ngomong, actionnya saya fokuskan cuma ke Aomine. Jadi maaf kalau kurang ngeh.. #bow
Di sini sedikit saya selipin fanservice (re: mana?). Ada tuh, berasa gak? (re: gak!)
Gomen kalau gak berasa! Saya masih belajar...!
Yah.. segitu saja cuap-cuap gak jelas saya. Akhirul kata..
RnR Please...
Balasan untuk yang tidak pakai akun
LightThe AkaKuro
GOMEEN! Hontou ni Gomenasai! Tenang aja, saya terusin kok... gak ada niatan stuck sama sekali.. yah... meski sering telat sih... #duesshh
Yaah.. saya juga udah menduga chap ini bakalan membingungkan karena mereka tempatnya yang terpisah-pisah.. Umm.. untuk pairing akan saya usahakan bikin, tapi kayaknya gak sampe romance amat deh..
Iya, ini sudah...#ditatap sinis lanjut... kok.. hehe.. #garuk pala
Selamat membaca n terima kasih karena telah membaca dan mereview...!
Anita
Haai! Ini update lagi... hahaha... (anita: tapi kelamaan!)
Terima kasih dan selamat membaca...
.
.
.
Omake 1
(Setelah Penyambutan)
Aomine : Lho?! Tetsu. Kenapa kau basah lagi? Bukannya sudah ganti baju?
Kuroko : Iya, tapi tadi sudah kubilang kan? Liontinmu bereaksi sampai menyemprotkan air kemana- mana. Ke lantai, dinding, kasur, sampai aku juga kena. Makanya sekarang aku dan kamarku basah kuyup.
Kise : E-eh...#sweatdrop. Kurokocchi gak kedinginan ssu?
Kuroko : Sedi—HATCHYY!#meler. Sedikit sih.. #srutt(ini suara ingus)
All : HIIIY! IJO!(hueekk) BERSIHIN DULU SANA!
Omake 2
(Di sekolah)
Mereka semua ketiduran di kelas karena tidak sempat istirahat dan dihukum—kecuali Kuroko, karena Kuroko tidurnya pakai misdirection(?). Akashi juga ketiduran karena ikut bergadang tapi tidak dihukum karena 'Salam Cinta Gunting' andalannya untuk para guru.
