Chapter 20: A Bet
Alun-alun kembali diramaikan oleh penduduk Mineral Town untuk mengadakan sebuah festival seperti biasanya. Setelah Festival Balap Kuda yang dilaksanakan pada tanggal 18—di mana Jack dua kali kalah taruhan, sekarang diadakan kembali sebuah festival yang sebenarnya paling ditunggu oleh Jack dan Ann. Festival Memasak. Sebab mereka telah sepakat akan adu kemampuan memasak di hari itu. Pesertanya cukup banyak juga saat itu selain Jack dan kedua peserta andalan Mineral Town, Ann dan ayahnya, Doug. Ada Anna yang menghidangkan kue, Manna yang menghidangkan sup miso, dan yang paling tidak terduga adalah Karen karena Jack dengar dari Popuri kalau sebenarnya gadis itu tidak bisa memasak. Terbukti dengan masakan yang dihidangkannya yang sejujurnya tidak bisa ditebak itu apa. Tapi, Jack akui kegigihannya yang tetap ikut Festival Memasak walaupun masakannya tetaplah tidak jelas bentuknya. Kalau bentuknya saja sudah tidak jelas, bagaimana rasanya, ya?
Jack sendiri menghidangkan mie kari. Sementara Ann menghidangkan salad dan Doug menghidangkan nasi goreng. Kedua hidangan mereka tidak tampak seperti hidangan biasa. Memang berbeda kalau masakan tersebut diolah oleh ahlinya. Ternyata memang tidak akan mudah menghadapi para ahli memasak. Tapi, Jack tetap percaya diri dengan masakannya yang juga tidak dibuat dengan cara biasa. Dia sudah mengolah dan menambahkan beberapa bumbu yang membuat rasanya tidak seperti mie kari biasa.
"Aku juga ingin ikut sebenarnya," ucap Popuri dari pinggir alun-alun bersama Claire. "Tapi, Manna selalu menghidangkan masakan yang cuma bisa kubuat."
"Kenapa kau tidak mencoba membaca buku resep? Pasti bisa membuat yang lain," saran Claire.
Popuri merenung sejenak. "Tapi, kalau baru mencobanya sekarang, kurasa tidak akan seenak yang kubayangkan yang pastinya tidak akan membuatku yakin bisa mengikuti festival ini. Belum lagi harus bersaing dengan Ann dan ayahnya," jawabnya sambil menatap meja yang ditempati Ann dan Doug. "Omong-omong, kau tidak ikut, Claire?"
"Aku tidak begitu percaya diri dengan kemampuan memasakku. Masakanku itu cuma masakan biasa. Tidak ada yang istimewa walaupun bukan berarti tidak enak, ya," jawab Claire. Dia kemudian melirik meja yang ditempati Jack. "Bagaimana dengan Jack, ya?"
"Menurutku dia akan baik-baik saja," ujar Popuri yakin. "Masakannya itu tidak kalah dengan Ann dan ayahnya. Saat dia membawakan kue ke rumahku beberapa hari yang lalu, rasanya enak sekali."
"Menurutku juga begitu," sahut Claire. "Kudengar dari Ann dia itu sering memasak sendiri saat tinggal di kota. Jadi, dia itu sudah mahir."
"Kalau sudah selesai, bagaimana kalau kita mencicipi masakannya?" saran Popuri.
"Boleh juga, sih... Aku juga tetap penasaran. Eh, sudah dimulai," seru Claire saat melihat Juri Masakan yang berpenampilan serba ungu dan berbadan gemuk mulai mencicipi masakan peserta. Dimulai dari masakan Doug yang langsung dipuji sangat enak seperti masakan seorang profesional. Lalu, masakan Ann yang juga mendapat pujian yang tidak beda jauh dengan ayahnya.
Ann melirik Jack yang berada di meja lain seolah mengatakan "Kalahkan itu". Jack semakin merasa tertantang. Dia membalas tatapan Ann dengan maksud mengatakan "Aku tidak akan kalah".
Sebenarnya ada satu hal yang membuat Jack tidak boleh kalah dari Ann. Cukup dari gadis berkepang itu saja. Kejadiannya beberapa hari lalu setelah Jack memberikan kue sebagai tanda ucapan terima kasih pada Popuri atas bantuannya saat dirinya sedang sakit. Ketika tiba di rumah, dia memandang bunga yang ditanamnya bersama dengan Popuri sambil tersenyum tipis. Lalu, bertemu Ann yang entah ada angin apa berkunjung ke rumahnya dan mengagetkannya dengan meniup tengkuknya diam-diam.
"Apa yang kau lakukan?!" bentak Jack sambil mengusap tengkuknya yang ditiup usil oleh si gadis tomboy itu.
"Tidak, cuma mau mengagetkanmu saja," jawab Ann santai. "Habis... caramu menatap bunga itu agak... gimana, ya? Senang? Memangnya ada apa dengan bunga itu?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Jack. "Bunga itu cuma bunga yang kutanam bersama Popuri sebelum Goddess Festival."
"Ho... Popuri, ya..." Entah kenapa tatapan Ann saat ini membuat Jack merinding. Gadis itu seperti merencanakan sesuatu yang tidak bagus. "Kau tahu, aku dengar kalau Claire dan Popuri menjagamu saat kau tertidur di bukit karena efek samping obat."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jack.
"Claire pulang telat di hari itu. Aku menanyakannya dan dia menjawab begitu," jawab Ann tetap dengan nada santai.
"Ya... Lalu?"
"Setelah itu aku tidak sengaja mendengar pembicaraanmu dengan Dokter mengenai dugaan kalau salah satu dari mereka berdua adalah teman masa kecilmu ketika aku lewat di depan Klinik untuk mengantar makanan Pastur."
"Dasar penguping," tuduh Jack langsung.
"Sudah kubilang itu tidak sengaja!" bentak Ann menyangkal. Dia mendengus kesal karena tuduhan Jack itu. "Aku juga sebenarnya tidak bisa membantu karena aku sedang tidak ada di sini saat kau berkunjung. Itu sebabnya aku tidak mengenalmu sama sekali. Dan aku tidak tahu apakah ada yang keluar atau masuk ke desa saat itu. Bisa saja ternyata gadis itu adalah orang luar juga yang datang ke sini untuk liburan sementara. Cuma pulangnya lebih lama darimu. Dulu turis lumayan banyak datang." Tangannya dia lipat di depan. "Jadi, kau sudah bisa menduga siapa orangnya?"
"Sejujurnya belum. Aku masih belum bisa memastikannya," jawab Jack, sedikit memalingkan wajahnya.
"Kenapa kau tidak menanyakannya langsung saja?"
"Aku yakin kau sudah tahu kalau aku merasa itu bukan hal yang mudah dilakukan."
"Tanya saja susah," sindir Ann. "Kalau begitu, biar kubantu menanyakannya."
"Jangan!" cegat Jack cepat.
"Aduh... 'Kan tinggal tanya," umpat Ann. "Kenapa, sih?"
"Setelah kupikir... aku tidak siap menanyakannya karena takut... dia marah." Jack agak tertunduk muram.
"Kenapa takut dia marah?"
"Yah... Kau tahu, 'kan, kalau sudah bertahun-tahun aku tidak berkunjung ke sini setelah pertemuan terakhir kami. Biarpun aku tidak berjanji akan berkunjung cepat, tapi ini sudah terlalu lama juga."
"Oh, ayolah... Dia pasti mengerti kondisimu," Ann mencoba menyemangati.
"Tetap saja... Aku merasa tidak siap."
Alis Ann menukik tajam. Geram melihat sifat pengecut yang diperlihatkan pemuda petani itu. "Jangan pengecut begitu! Kau itu 'kan laki-laki! Beranilah sedikit!" bentaknya murka.
"Heh, kalau kau berada di posisiku kau juga pasti tidak akan bisa semudah itu menanyakannya!" balas Jack dengan suara yang tidak kalah lantang. "Kau harus tahu kalau aku itu tidak tahan melihat orang lain kecewa karena ulahku!" Kedua tangannya mengepal erat.
Ann kembali mendengus kesal. "Oke, kita taruhan! Bila saat Festival Memasak nanti aku yang menang, kau harus memberanikan diri untuk menanyakannya. Bila hasilnya sebaliknya, aku akan memenuhi satu permintaanmu."
"Aku tidak mau bertaruh untuk hal seperti ini," tolak Jack mentah-mentah.
"Bukan itu yang menjadi intinya. Ini hanya pemicu agar kau berani."
Jack menghela nafas. Kelihatannya dia tidak punya pilihan lain. "Baiklah, kuterima," jawabnya dengan terpaksa. Dia pun menyeringai. "Bersiaplah. Kau pasti akan menyesal melakukannya."
"Heh! Aku tidak akan kalah kalau dalam memasak," balas Ann. Dia sama sekali tidak merasa gentar. Dia yang memberi tantangan, tentu saja tidak akan mundur.
Dan begitulah, di hari festival ini mereka terlihat bersaing ketat. Jack pun sampai membuat masakan terbaik yang bisa dibuatnya dengan bahan seadanya karena sekarang masih musim pertamanya di Mineral Town, dia belum memiliki banyak bahan yang bisa dia tambahkan ke masakannya.
Jack itu bukannya tidak mau menanyakannya. Dia hanya belum siap. Butuh waktu untuk mempersiapkan mentalnya dengan segala kemungkinan terburuk yang terjadi walaupun dia tidak tahu akan butuh waktu berapa lama. Lagipula tujuannya datang ke Mineral Town bukan cuma untuk menemui teman masa kecilnya. Tapi, juga untuk mengembalikan kondisi perkebunan kakeknya. Kalau sampai mentalnya jatuh karena ternyata membuat kecewa teman masa kecilnya itu, dia takut itu akan berpengaruh pada pekerjaannya.
Juri Memasak masih terus melanjutkan mencicipi masakan peserta. Anna dan Manna masih diberikan komentar positif, namun Karen, Juri agak terlihat terkejut sekaligus merasa aneh dengan masakannya yang... "ajaib". Dan akhirnya giliran Jack.
"Wah... Ini enak sekali. Campuran bahan-bahannya begitu pas." Komentar tersebut membuat Jack tersenyum penuh kemenangan pada Ann walaupun hasil akhirnya nanti masih belum pasti.
Pengumuman pemenang kontes memasak tersebut baru diumumkan saat sore menjelang malam. Kelihatannya juri tersebut agak kesulitan menentukan pemenangnya karena dari komentarnya saja sudah jelas ada beberapa yang membuatnya terkesan. Para peserta dikumpul di tengah lapangan. Menanti dengan tegang hasil penjurian.
"Pemenang kontes tahun adalah... Doug!"
Doug maju untuk menerima penghargaan. Jack dan Ann sempat terlihat kecewa karena itu artinya mereka tidak tahu siapa yang terbaik di antara mereka. Tapi, pemenang yang diumumkan setiap tahunnya memang cuma satu orang.
"Apakah ini artinya kita seri?" tanya Jack pada Ann di sampingnya.
Ann terlihat berpikir. "Bagaimana kalau kita tanya dulu pada juri mengenai siapa yang terbaik cuma di antara kita?" sarannya.
"Apa kau tidak takut itu akan mengecewakannya?"
Ann mengkerutkan dahinya. "Mengecewakan?"
Jack menatap si Juri Masakan yang terlihat bercakap-cakap dengan serunya bersama Thomas dan Doug. "Dia itu datang untuk mencicipi masakan yang murni dimasak setulus hati. Bukan untuk dijadikan ajang taruhan. Kalau dia tahu, dia pasti kecewa."
Ann pun ikut menatap si Juri Masakan untuk beberapa saan. Kemudian dia menghela nafas pelan. "Yah, kurasa kau benar. Aku tidak ingin melihatnya kecewa kalau tahu hal itu. Aku juga akan merasa sangat terpukul pastinya. Aku pasti tidak bisa menahannya sekarang. Butuh waktu untuk menyiapkan mental menerima hal terburuk macam apa yang akan diperlihatkannya bila aku memberitahukan yang sebenarnya."
Jack memutar badannya menghadap Ann. "Jadi, kau sekarang sadar bagaimana kondisiku juga, 'kan?"
Ann agak tercengar. Dia pun tersenyum tipis. "Oke, kau menang. Aku tidak akan memaksa. Aku pun tidak akan memberitahu apa-apa mengenai masalahmu pada mereka."
"Juga lupakan mengenai taruhan kita. Kita sama-sama kalah karena tujuan kita bukanlah benar-benar untuk mengikuti kontes ini. Jadi, taruhannya batal."
"Ya, kita lupakan saja. Berikutnya kita benar-benar harus membuat dengan tujuan mengikuti kontes. Tidak ada masalah lain yang dilibatkan."
"Yup!"
Mereka berdua tertawa pelan bersama. Biarpun entah kapan Jack baru bisa siap menanyakan kebenaran siapa teman masa kecilnya sebenarnya, dia tetap akan menanyakannya suatu hari nanti. Dalam hati dia pun tetap merasa kalau dirinya memanglah pengecut.
"Apa telah terjadi sesuatu di antara kalian?"
Jack dan Ann hampir melompat kaget dengan kemunculan Popuri dan Claire di dekat mereka tanpa disadari.
"Hei, aku cuma tanya. Tidak perlu sekaget itu," gerutu Claire dengan wajah sedikit cemberut.
"Maaf. Kami tidak menyadari kedatangan kalian," ucap Jack. Dia merasa deja vu untuk yang satu ini.
"Kalian tadi sempat berbicara serius. Apa terjadi sesuatu?" tanya Popuri, mengulang pertanyaan Claire.
"Ah, itu bukan apa-apa. Kami cuma membicarakan apa yang membuat kami kalah dari Ayah," jawab Ann tidak sepenuhnya jujur. Dia tidak mengatakan bagian taruhannya.
"Kalian benar-benar serius dengan kontes ini," ucap Popuri. "Hei, boleh kami menyicipi masakan kalian?" pintanya.
"Tapi, makanannya sudah dingin. Apa tidak masalah?" tanya Jack.
"Makanan tidak boleh dibuang-buang. Kalau ternyata masih terasa enak, bukannya itu artinya kalian memasak dengan sangat baik?"
Jack dan Ann saling menatap sebentar. Mereka berdua tersenyum, lalu memperbolehkan kedua gadis di hadapan mereka itu menyicipi masakan mereka.
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Kisah Jack kembali berlanjut. Dan sebentar lagi ceritanya memasuki Summer! Yeah! Yah, para pembaca sekalian pasti sudah tahu apa artinya. Musim baru, masalah baru... Gitu, deh... Hehe...
Sebenarnya aku berencana memasukkan OC untuk musim berikutnya. Rencanya juga cuma memasukkan seorang saja. Tapi, entahlah apakah akan terwujud atau tidak saat pembuatannya. Pendirianku tidak tetap. Lihat saja nanti.
Waktunya balas review...
To Motoharunana: Ya, kita lihat saja akhirnya.
To Muneyoshi: Masih misteri memang.
To kurama . n . kitsune: Mungkin... #sokmisterius.
To Ummu Syauqi: Selamat datang di Fandom HM. Makasih komentarnya. Yah, memang masih perlu banyak belajar untuk menulis cerita biarpun cuma fanfiction. Bunganya masih utuh, kok, walaupun nantinya akan mati juga karena pergantian musim.
To echinesia: Andai saja scene satu itu dimunculkan di game-nya, pasti seru tuh. Dan pada akhirnya masih belum pasti juga kapan akan ditanya. Haduh, diundur-undur terus. Sama dengan pembuatan fic yang satu ini yang sering diundur... #ngakudenganbangganya.
To Clairechan: Sudah dilanjut.
To Bijuu vs jinchuuriki: Makasih. Sempat kepikiran begitu juga kalau gadis kecil itu adalah Claire. Tapi, 'kan, masih belum pasti...
To Satsuki Kobayakawa: Bikin multichap itu berat juga, lho. Apalagi untuk cerita HM. Aku juga sempat main yang char cewek. Tapi, karena yang kumainkan berbahasa Jepang, nggak lanjut, deh #ikutcerita.
To Mrs. Taiga11012: Makasih. Pair tetap masih dirahasiakan karena pendirianku yang tidak tetap ini... Hehe...
Sekian balasannya... Terima kasih telah membaca...
~Princess Fantasia~
