20. Serba Salah
Thanks to Hopelessly-Fabulous-Dork for beta!


Saat itu adalah sebuah hari yang hangat di tengah musim semi. Bayi berambut merah duduk di lantai ruang piano, menggulir-gulirkan kelereng yang diberikan kakaknya. Santa Lucia mengalun, nada-nada itu dihasilkan oleh jari-jari lentik si biru langit yang duduk di hadapan instrumen hitam milik almarhum kakeknya.

Karma dengan penasaran mengangkat sebutir kelereng transparan dan melihat menembusnya. Ia tergelak, tapi terus melihat melalui kelereng tersebut, mengelilingi ruangan, lalu berhenti pada kakaknya. Seakan merasakan tatapannya, sambil terus bermain, Nagisa menoleh padanya, tersenyum...

"Hoi Karma, jangan tidur melulu, mau hamburger apa nih?"

"Eegh..." Karma mendengus dan mengintip ke luar jendela mobil dengan satu mata, melihat paket hamburger di sisi drive-thru. "Paket yang ada strawberry sundae-nya."

"Jangan tidur lagiii," protes Hiroto Maehara, yang duduk di sebelah pengemudi, melongok ke belakang untuk menyemprot wajah Karma dengan spray air. Si rambut merah mengumpat kesal dan mengelam wajahnya. "Jangan berbuat aneh-aneh waktu di sana. Biar pun kamu dan Nagisa Shiota itu dulu pernah tinggal bersama, aku tidak mau mendengar kritik soal sikap. Kamu harus bersikap professional—"

"Hee, bisa ya, ngomong begitu, padahal yang judes waktu interview sama si Asano itu hanya gara-gara perkara teman minummu direbut itu...hn, siapa yaa...?" sindir Itona Horibe dengan wajah tenang dan suara dingin menusuk, sukses membuat Hiroto bungkam.

Untuk menghentikan Hiroto dari menceramahinya, Karma membaca ulang daftar pertanyaan dengan bosan.

"Apa perlu aku tanya umurnya? Tolol rasanya. Dua puluh tujuh Juli ini," gumam Karma malas.

"Ya sudah kalau merasa tolol, bagaimana kalau kamu digantikan—"

"Umur, zodiak...tipe wanita idaman, golongan darah, apa lagi ya?" Karma buru-buru menekuni daftarnya lagi.

Karma Akabane berusia enam belas tahun, tapi akan jadi tujuh belas Desember nanti. Saat ini ia di tahun terakhir SMA-nya dan karena mengikuti kegiatan Broadcast, ia mendapatkan kesempatan untuk mewawancara banyak orang untuk siaran radio. Karma tidak punya kesulitan karena ia sudah banyak pengalaman soal dunia multimedia berkat kegiatan ekstrakurikulernya saat masa sekolah di Inggris.

Sudah sepuluh tahun berlalu sejak dirinya berpisah dengan Nagisa. Di masa kini, tidak ada masalah soal menjaga hubungan berkat tersedianya sarana telekomunikasi yang sangat maju. Namun sejak perpisahan itu, Karma tidak tahu harus mengatakan apa pada mantan kakaknya jika melalui panggilan video atau pesan. Lagipula Nagisa sepertinya sangat sibuk dan mungkin tidak kepikiran sekejap pun untuk menghubungi Karma.

Toh, dia pergi karena tidak tahan denganku, Karma mengingatkan dirinya lagi soal pertengkaran sepuluh tahun lalu.

Tapi sekarang ia sudah besar. Bukan bayi, bukan anak SD yang awam emosi orang lain. Ia mengerti kenapa Nagisa mengambil pilihan-pilihan seperti itu. Dan Karma tidak menyalahkannya. Nagisa merasa sesak, karena sejak nenek meninggal, semua orang di sekitarnya bersimpati, mencoba membuka hatinya, dan si biru langit itu tidak terbiasa menunjukkan dirinya pada orang lain selain nenek. Terutama tidak pada Karma. Justru Nagisa akan semakin erat memakai topeng 'kakak laki-laki' di hadapan Karma.

Tentu saja banyak yang terjadi dalam rentang sepuluh tahun. Misalnya, Karma mendapatkan teman-teman baru. Ia juga sempat menghabiskan pendidikan SMP di Inggris dan belajar sedikit banyak ilmu multimedia dan broadcasting. Karma sudah terbiasa menjadi penyiar radio anak muda, tapi tidak banyak yang tahu sosoknya (jika sampai para pendengar tahu bahwa sang penyiar radio dengan tawa malaikat itu adalah seorang jagal terkuat dari sebuah SMA, bisa-bisa stasiun radio itu jatuh ratingnya). Ia juga kenal seniornya, Hiroto Maehara, seorang mahasiswa drop-out pendiri stasiun radio Mach20. Di situ ia kembali bertemu dengan Itona, yang menjadi teknisi, dan juga masih SMA.

Tapi tetap saja, setelah semua itu, sebanyak apapun Karma menyibukkan diri, sesering apapun dia membuka diri dan melihat lebih banyak orang di dunianya, tetap saja...Ternyata tetap saja...

"Terima kasih sudah bersedia memberikan kami interview khusus, Shiota-kun!"

"Ah, tidak...Aku juga senang sudah kalian tawari," ketika sosok biru langit yang sudah bertahun-tahun hanya Karma lihat dari foto atau video muncul kembali di hadapannya, tersenyum lembut, masih berpostur tidak jauh berbeda dari terakhir kali Karma melihatnya...

Ternyata tetap saja...Masih saja...

Dengan narasi ter-klise, akan kukatakan, ketika safir dan tembaga bertemu, sejenak dunia berhenti dan Karma merasakan nostalgia yang menyesakkan, sampai ia harus mengepalkan tangan menahan diri untuk tidak menghambur memeluk Nagisa Shiota.

Pria berkucir rendah itu memasang senyum sopan dan mengangguk pada Karma. Karma tidak bisa membaca emosi di dalam mata biru itu.

"Ini dia yang akan mewawancaraimu! Kurasa Shiota-kun kenal...?" Maehara mengedikkan kepala pada Karma. Nagisa mengangguk lagi.

"Lama tak jumpa, Karma," ia memasang senyum cerah, "Waah...kamu sudah besar sekali sekarang. Nah, ayo, kita mulai interview-nya."

~.X.~

"...Ah, tentu saja, perasaanmu padaku juga masuk perhitunganku,"

Dalam remang-remang kamar Nagisa, Karma mengerjap, bukan untuk menyesuaikan pengelihatan, ia memastikan dirinya masih bangun. Nagisa tersenyum sedih, lalu menepuk-nepuk kepala merah itu.

"Kamu nggak bisa terus menempel padaku, Karma. Mungkin karena itu kamu jadi mau menikah sama aku?"

Karma diam saja.

"Bagaimana kalau sebenarnya kamu lebih suka perempuan? Di luar sana banyak orang-orang yang lebih baik dan mungkin lebih penyayang daripada aku, lho,"

Tangannya mengepal. Suara Nagisa lembut, tapi menusuk telinga Karma kata-per-kata. Nagisa berlutut, menyamai ketinggian adiknya, memegangi bahu anak itu.

"Mungkin kalau kita berjauh-jauhan, kamu bisa mengenal lebih banyak orang, Karma. Punya dunia yang lebih luas, jangan terpaku padaku terus. Aku mengerti. Setelah nenek, kamu tidak mau aku pergi. Tapi justru karena itu...Kamu harus punya dunia yang lebih luas, lebih banyak teman. Jangan sedih terus dan terpaku pada satu orang—apalagi aku. Makanya—"

Memang tidak menyakitkan, tapi impact-nya ada. Tinju anak kelas satu SD itu sudah melesat ke wajah si biru langit. Ayunan lepas, sedikit membuat ngilu, tapi tentu saja yang tersakiti bukan pipi Nagisa, tapi perasaannya.

"Nagisa cuma alasan!" sentak Karma, menepis kedua tangan kakaknya dan keluar dari kamar itu. "Nggak usah pura-pura 'ini demi kebaikanmu'! Mau pergi ya pergi sana! Aku nggak peduli lagi!"

Nagisa tersenyum berbahaya, sementara si rambut merah itu membanting pintu kamarnya tertutup.

Sayangnya kali ini tidak ada nenek yang bisa mendamaikan mereka. Ini kedua kalinya mereka bertengkar hebat sejak Karma mencelupkan ponsel Nagisa ke baskom air. Saat itu Karma tahu dia salah, jadi dia minta maaf. Sekarang sih...

Pagi tiba. Sarapan sudah tersedia saat Karma kembali dari lari paginya. Piano masih dimainkan dalam perpustakaan. Ia berangkat lebih dulu ke sekolah tanpa mengatakan apa-apa. Nagisa membereskan ruang makan, mengunci pintu, dan berangkat tidak lama kemudian. Upacara penutupan semester berlalu. Libur musim panas secara resmi dimulai.

Makan malam sudah siap, tapi Nagisa tidak memanggil Karma. Ia membawa makan malamnya ke perpustakaan. Karma selesai mandi dan membawa makan malamnya ke atas untuk dinikmati sambil menonton anime.

Esok paginya, Karma sudah siap dengan sepatunya untuk lari pagi. Ternyata pintu tidak dikunci. Ia pikir Nagisa lupa menguncinya, tapi saat ia keluar, ternyata si biru langit itu sedang berkebun, menanami halaman depan dengan bibit-bibit bunga. Karma berpaling dan memulai rutinitasnya.

Sekembalinya, tampak Nagisa masih sibuk berkebun. Tapi saat Karma menghampiri ruang makan, sarapan telah disediakan seperti biasa. Alisnya bertaut, tapi ia mendengus dan membawa sarapannya ke kamar.

Ah iya, piring tadi malam harus kubawa turun nanti, pikirnya.

Tapi piring-piring dekat televisinya sudah tidak ada. Karma menunduk, tentu saja ia tahu Nagisa sudah membereskannya karena piring yang mereka sering pakai hanya empat set. Tapi yang membuatnya makin jengkel adalah vas berisi bunga hyacinth ungu dirangkai dengan sweet pea yang merah muda manis dalam vas bulat pendek, menghiasi meja belajarnya.

"Mengganggu saja," gerutunya, memindahkan vas itu ke atas rak televisi. Ia mulai bermain game untuk beberapa jam.

Ia sudah agak bosan menjelajahi peta dalam game-nya, dan berhenti sejenak, ia jadi teringat Nagisa masih berkebun, tapi sekarang sudah mau tengah hari. Karma mengintip dari jendela. Halaman depan menjadi gembur dan lebih hijau. Masih butuh beberapa waktu sampai bunga-bunga menghiasi halaman. Nagisa sudah selesai berkebun. Hari itu lumayan panas, dan angin dari laut membuat udara terasa kering. Akan enak kalau ia bisa menikmati sesuatu yang dingin.

Saat Karma membuka pintu kamarnya, di lantai, di depan pintu, segelas es limun dan sea-salt popsickle tersaji di atas nampan. Karma menggeretakkan giginya. Di lantai satu terdengar suara televisi dinyalakan.

Ia membawa nampannya turun, meletakkannya di meja makan, lalu membawa gelas limun dan popsickle-nya ke ruang tengah. Nagisa sedang berbaring di sofa sambil malas-malasan mengganti saluran televisi. Menempati satu bagian sofa yang masih kosong, Karma duduk bersila, dan Nagisa menggeser kakinya.

"Panas ya," Nagisa melenguh, melirik pendingin ruangan dengan penuh harap.

Karma menyeruput es limunnya dan menghela napas bahagia. "Hnn...Apa kita sedang menjalani resimennya Saitama?"

Nagisa tertawa kecil. "Sebenarnya aku hanya malas mengambil remot di meja itu..."

Karma memutar matanya, menjulurkan satu kaki, lalu mengapit remot pendingin ruang dengan jari-jari kakinya. Kakaknya tertawa dan menerima remot itu saat Karma kembali bersila. Saat pendingin ruangan dinyalakan dan udara dingin mengisi ruangan, si biru dan si merah menghela napas lega.

Entah bagaimana, sepertinya mereka sudah baikan. Mereka sudah bisa mengobrol lagi, tapi tidak pernah lagi mengungkit-ungkit soal 'Austria' itu. Kegiatan mereka berlangsung seperti biasa lagi. Nagisa masih menghiasi vas di kamarnya dengan bunga-bunga yang sama. Karma masih lari pagi, dan kadang malam. Si rambut merah itu mengira Nagisa tidak mengungkit soal Austria lagi karena sudah membatalkan niatnya. Menyesal. Tapi tahu Karma memaafkannya.

Jadi saat Nagisa lulus Maret berikutnya dan sudah mengepak barang, siap berangkat ke Austria, Karma baru sadar bahwa arti bunga hyacinth ungu adalah 'maafkan aku' sementara sweet pea adalah 'selamat tinggal.

~.X.~

"Usia 27 tahun dianggap masih sangat muda untuk seorang maestro, lho," kata Karma dengan suara riang. "Saat di Austria, apakah anda berlatih tiap hari sampai bisa mendapat julukan itu dalam usia yang terbilang muda untuk maestro? Atau ada trik-trik tertentu? Apa saja sih yang anda kerjakan di Austria?"

"Hmm..." jari telunjuk Nagisa menggaruk ujung dagunya. "Sebenarnya aku berlatih biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Malah, aku sempat kerja sambilan jadi penjaga pom bensin dan coba-coba main Jazz di kafe-kafe lokal."

"Eh? Memangnya beasiswa tidak menyediakan uang saku cukup?"

"Oh mereka menyediakan sedikit berlebih, malah! Tapi tidak cukup untuk menonton Maroon 5..." keduanya tertawa geli. Mereka kemudian membahas genre-genre musik atau lagu-lagu yang ternyata disukai Nagisa Shiota.

"Lalu...Ah iya, Lotus Orchestra. Kenapa Lotus? Maksudnya bunga lotus itu, bukan?"

"Tepat sekali, Akabane-kun...Ehm..." Karma terdiam melihat wajah Nagisa sedikit merona saat berusaha menata kata-katanya. "Sebenarnya nama itu aku pilih untuk seseorang...Kau tahu, aku sangat suka hanakotoba dan simbol-simbol bunga. Tapi untuk tiap negara biasanya ada perbedaan arti. Nah, Lotus ini..."

"Aku memilih lotus...karena sebagian besar dalam tradisi Asia, lotus melambangkan...karma."

Mata Karma melebar dan terpaku agak lama. Ruang ganti dalam Tokyo Opera City itu senyap, meskipun alat perekam di meja masih menghitung detik-detik yang berlalu. Nagisa memicingkan mata ke arah jam dinding.

"Itu...pribadi sekali, ya," Karma berhasil mengerahkan otaknya yang mendadak agak macet itu, dan berdeham. Ia melanjutkan pertanyaan-pertanyaannya sampai waktu berakhir. Saatnya pianis itu tampil di panggung, dan giliran Hiroto-senpai untuk meliput.

Ingin rasanya, Karma tertawa keras-keras penuh kemenangan.

~.X.~

Mengkhianati harapan Nagisa, Karma kecil malah semakin menarik diri dari lingkungan sosial sekolahnya. Tentu saja ia fasih memasang wajah ramah, tapi ia tidak mudah didekati. Saat semester baru dimulai di kelas dua, bocah berambut merah itu masih dalam keadaan cukup katatonik.

Ia benar-benar merasa dikhianati. Nagisa ternyata meninggalkannya juga. Dan si pengecut itu menyampaikannya dalam bahasa bunga.

Pelajaran sungguh membosankan. Semuanya sungguh menjengkelkan. Semuanya tolol. Dan kenapa sensei masih saja membahas dasar-dasar sistem pengukuran metric? Ia beranjak tiba-tiba, membawa ranselnya.

"Akabane, mau ke mana kamu? Kalau ke toilet, angkat tangan dan—"

"Aku mau tidur siang," Karma berkata blak-blakan, membuat kelas makin hening dan teman-temannya memandanginya takjub dan tidak percaya. Sebelum sensei bisa menghentikannya, Karma segera meninggalkan kelas. Saat jam kegiatan belajar mengajar, tidak banyak guru di sekolahnya yang berani meninggalkan kelas untuk menghindari lebih banyak anak melanggar aturan.

Kebiasaan buruk itu berlangsung terus. Tiap Karma tidak sabar dan bosan, entah karena teman-temannya terlalu lambat untuk mengerjakan tugas, atau sensei terus saja mengulang-ngulang suatu perkataan, ia akan meninggalkan kelas.

Dicemaskan anak-anak lain akan mencontoh perbuatan ini, tapi nilai-nilai Karma yang gemilang membungkam semuanya. Teman-teman sekelas Karma tidak mungkin nekat mencontoh Karma: 'Ia bisa bolos karena ia sudah pintar'. Tapi guru-guru tidak bisa menerima sikap ini.

Sayangnya, hobi membolos Karma makin menjadi. Para guru tidak bisa berbuat apa-apa karena orang tua Karma sangat susah dihubungi dan respon yang mereka dapat biasanya 'Kami serahkan pada kalian'. Mereka tidak mungkin mengeluarkan Karma, karena anak itu sangat brilian.

Akhirnya si rambut merah itu jadi dikagumi oleh sebagian besar sekolah. Betapa tidak. Bad-boy, tampan, cerdas. Akhirnya beberapa murid muak juga dengan sikap sok kuasa Karma itu.

"Mentang-mentang ujianmu bagus terus, jadi menurutmu kamu boleh dikecualikan dari aturan sekolah?" sentak kakak kelas Karma jengkel.

"Huuh...Terus kenapa, senpai?" tanya Karma, tersenyum polos. "Kalau aku merasa begitu, kenapa memangnya? Senpai mau apa?"

Adu hantam itu berakhir telak. Siswa kelas enam itu tersungkur hampir babak belur, sementara bocah berambut merah kelas tiga SD itu berdiri, tak tergores sedikit pun. Beberapa lama ia mendapat serangan-serangan seperti itu dan lolos tanpa terluka.

Lalu anak-anak itu mulai memakai cara yang lebih pengecut. Merusak loker sepatunya, menyembunyikan sepatunya, menyimpan sampah di sepatunya atau mencoreti bangkunya dan meletakkan vas berisi bunga bakung. Memaku kursinya. Menguncinya di toilet. Menyiapkan perangkap ember di atas pintu atau menjatuhkan pot ke kepalanya dari lantai dua.

Tapi Karma selalu selangkah di depan mereka. Ia sempat kehilangan sepatu, tapi setelah menghajar salah satu anak yang bersekongkol soal kejahilan itu, ia menemukan sepatunya lagi, dan menitipkan sepatunya di ruang guru.

Saat ada yang mencoreti bangku, memaku kursinya atau meletakkan vas bunga, Karma dengan ramah meminta siswa di sebelahnya untuk bertukar kursi, dan sejak itu tidak ada yang berani mengusik bangku Karma. Senyum ramah Karma menguarkan aura setan murka, dan semua tahu mereka tidak akan pulang dengan selamat kalau tidak bertukar bangku dengannya.

Pintu toilet sudah jebol berkali-kali karena tiap Karma dikunci dari luar, ia bisa menendangnya sampai bolong dan tidak punya masalah mengganti pintu tersebut. Lebih lucu lagi adalah tidak ada perangkap yang berhasil mengenai Karma. Teman-teman sekolahnya selalu bersikap berbeda tiap memasang perangkap, seakan menunggu sesuatu terjadi dengan tidak sabar. Sungguh tolol. Sungguh konyol. Sungguh membosankan.

Jadi saat kelulusan SD tiba dan panggung kosong karena lulusan terbaik pertama tidak hadir, dengan sangat kesal lulusan terbaik kedua menggantikan menyampaikan rasa terima kasih.

Sementara Karma sedang menyiram bunga di halaman rumahnya, dan tiba-tiba ia dapat ide. Tidak lama kemudian ia menelepon ayahnya yang sedang ada di Timor Leste.

"Ayah, aku boleh sekolah di Inggris tidak?"

~.X.~

Pertunjukan Lotus Orchestra malam itu mendapatkan applause yang menggetarkan bangunan. Musical Comedy bukanlah sesuatu yang sering ditemui di kalangan musisi Jepang. Panggung dihujani mawar-mawar.

"Yang tadi itu sangat menyenangkan, Nagichan," Irina Jelavic, partner Nagisa saat pertunjukkan, mengecup pipi pemuda itu kanan-kiri, memakai syal bulu-nya dan mengedipkan satu mata. "Dos vedanya, detka!"

"Shiota-san, sehabis ini anda mau ke mana?" tanya anggota orkestra lainnya, mengemas biola. "Kami sudah ada reservasi di sebuah restoran bagus, bagaimana kalau anda ikut?"

"Ah, aku mau sekali, tapi aku sedang mengurus apartemen baruku...Tapi undang aku lain kali ya?"

"Tentu saja!"

Nagisa menghela napas lega ketika ruang ganti performer sudah kosong, hanya dirinya seorang. Sebenarnya dia tidak merasa ada yang istimewa, ia hanya menirukan teknik permainan Waldemar Malicki. Menurutnya justru karena orkestra-nya lah ia bisa sampai sejauh ini.

Nagisa mencairkan dirinya dari ketegangan panggung tadi dan menonton Family Guy. Pengurus ruangan masuk, hendak mengunci pintu, tapi segera minta maaf dan menawarinya mengambil minuman.

"Ah, tidak apa-apa, saya sudah mau pergi," Nagisa tertawa menyesal dan setelah memastikan barang-barang penting tidak ketinggalan, ia meninggalkan ruangan.

Lift terbuka, dan Nagisa terpaku sepersekian detik melihat Karma Akabane berada di dalamnya, tampak sama terkejutnya. Ia memaksakan senyum dan masuk.

"Belum keluar?"

"Hiroto-senpai sedang meng-interview pengurus bangunan ini," Karma mengangkat bahu, lalu melirik bunga mawar putih tersemat di kantong jas Nagisa. "Itu...Nagisa sudah punya pacar, ya,"

"Hnn?" Nagisa ternganga. "Tidak, tidak, dari mana ada rumor begitu?"

Karma memalingkan tatapan ke bayangan mereka di pintu lift. "Itu, pianis yang dari Russia. Nona Jelavic, kan? Oh, ini informasi pribadi jangan-jangan?"

"Bukan, bukan!" Nagisa cepat-cepat membantah. "Jangan aneh-aneh! Irina-san itu sepuluh tahun di atasku, beliau guruku, dan sudah menikah...! Tapi biasanya pianis seperti kami tetap memakai nama sebelum menikah,"

"Hnn..." Karma tersenyum kecil. "Bagus kalau begitu."

"Baguslah, kalau kamu mengerti." Nagisa menghela napas lega. Lalu ia mengernyit, dan menoleh pada Karma. "Bagus bagaimana, maksudmu?"

Karma tidak menjawab. Ia tiba-tiba menyambar tangan Nagisa dan menggenggamnya. Sejak berjam-jam lalu ia sudah gatal ingin melakukan ini. Ia menarik napas tertahan, merasa dihantam masa kecilnya. Ini tangan Nagisa. Tangan yang pernah menggendongnya. Menggandengnya. Menyisir rambutnya. Menyuapinya. Ini tangan Nagisa. Dingin yang nyaman. Sedikit kasar. Berjari lentik.

Tiba-tiba lampu lift mati dan benda itu berhenti bergerak.

"...Gawat."

~.X.~

Setelah menghubungi siapapun di luar sana dengan interkom lift, mereka dijanjikan bahwa teknisi lift akan datang paling tidak dua jam lagi. Lampu di luar lift masih menyala, jadi yang mereka alami saat ini adalah kerusakan internal pada lift sendiri. Karma membuka ventilasi di atas pintu agar udara dan cahaya luar masuk. Mereka duduk di lantai lift dengan senyap.

Karma menggenggam tangan Nagisa lagi.

Nagisa tertawa kecil. "Aduh, aku kok jadi ingat waktu kamu masih kecil ya," ia balas menggenggam tangan Karma. "Oh, kamu tahu, kamu dulu suka ngomong 'abuhii'?"

Karma mengernyit. "Abu...hii?"

"Aku tidak tahu apa artinya sih, tapi sepertinya banyak. Abuhii, misalnya minta gendong. Minta peluk juga abuhii. Menjatuhkan barang juga abuhii. Oh, oh, terus kalau lapar apba..." Nagisa tertawa-tawa sementara Karma mengernyit dengan wajah makin merah tiap cerita.

Wajar sajalah kalau Karma tidak bisa mengingat masa-masa batitanya.

"Sekarang sudah kelas tiga SMA, ya? Mau kuliah apa?"

"Manajemen," Karma lega sekali pembicaraan berganti topik. Sepertinya barusan Nagisa sedang mencairkan suasana. "Bekerja di perusahaan, jadi CEO...tidak terlalu sering keluar negeri atau perjalanan bisnis, dekat-dekat rumah..."

Saat ia menjelaskan keinginannya, teman-teman di sekolahnya tertawa atau terdiam menunggunya tertawa, mengira dia bercanda. Tapi Nagisa tersenyum lembut dan mengangguk.

"Hmm, cocok untukmu, ya, Karma. Kamu memang pandai memimpin, agak licik sih...Aku cuma tidak mengira kamu tidak suka perjalanan bisnis. Kukira kamu akan lebih suka jalan-jalan, seperti ayah ibumu?"

Karma menggeleng, lalu menghadapi Nagisa. "Aku mau jadi pimpinan kaya raya yang bisa bekerja dari tempat tidurku, datang ke meeting sesuka hati, ambil cuti saat aku mau...Nagisa akan sering pulang malam setelah orkestra tapi banyak hari-hari kosong atau mengajar musik di sekolah..."

"H-Ha...?"

Jarak di antara mereka semakin menipis. Karma menempelkan dahinya dengan Nagisa. Napasnya berat karena jantungnya berdentum di telinga.

"...Saat libur musim panas kita berlibur ke Italia. Naik Gondola. Atau berkemah di Albania. Aku jarang datang ke konsermu, paling tidak tiga kali setahun. Tapi Nagisa tidak keberatan..."

"Karma," Karma diam, menatap bibir Nagisa, mengantisipasi apa yang akan dikatakan. Tapi Nagisa sendiri tidak tahu mau bilang apa. Ia hanya ingin Karma berhenti bicara.

Tiba-tiba antisipasi adalah omong kosong dan hasrat mengambil yang terbaik dari Karma, membuat pemuda hormonal itu mengecup kasar bibir si biru langit. Lembut. Lembut sekali. Bibir yang dulu mencium pipinya ternyata terasa lebih lembut saat dikecup.

Karma tidak berhenti, dan Nagisa terus memanggil namanya, memintanya berhenti. Si rambut merah itu mulai menciumi wajahnya; pipi, dahi, hidung, mata, dagu, lalu leher. Aroma yang nostalgik. Saat dunianya hanya terisi dirinya dan Nagisa, Karma tidak pernah menyadari aroma ini.

Yang Nagisa katakan padanya sepuluh tahun lalu, setelah pertengkaran itu, hampir semuanya benar.

Ya, dunia yang lebih luas tidak buruk. Lebih banyak teman juga menyenangkan. Dunianya sekarang tidak hanya terpaku pada Nagisa. Sekarang ia seorang penyiar radio. Ia akan berkuliah manajemen. Ia akan menjadi CEO perusahaan besar dan hidup kaya sesuka hati dan ternyata...

Ternyata semuanya kembali lagi pada Nagisa. Nagisa masih salah paling tidak satu poin.

Setelah sepuluh tahun, dan ternyata ucapan Nagisa ada yang tidak terbukti. Karma tidak ingin menikah dengan Nagisa karena terlalu menempel dengannya. Tapi ia juga berterima kasih sudah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan bahwa perasaannya itu nyata.

Bahwa sampai sekarang, ia masih menginginkan pianis biru langit itu.

Karma mulai menggigiti daun telinga Nagisa, menikmati rintihan tertahan yang dihasilkannya.

"Karma! Hentikan—"

Ia jadi teringat bagaimana ia mengatakan tidak. "Naa~" ia tertawa kecil, menciumi leher Nagisa lagi sebelum kembali mengulum daun telinga Nagisa.

"Kar...ma..." Nagisa menghela napas panas, tangannya juga meraih ke kancing kemeja Karma.

Si rambut merah rasanya ingin meledak, ia yakin wajahnya pasti merah padam kalau bukan karena lampu lift yang mati ini. Ia tidak menyangka Nagisa akan—

"Kancingmu salah masuk ternyata, aku baru sadar," bisik Nagisa, membenahi kancing baju Karma.

Karma terpaku di tempat. Tensi panas sebelumnya turun, jatuh ke jurang. Dengan lemas ia duduk lagi bersandar dinding lift. Senyap. Entah sudah berapa lama. Rasanya tidak mungkin belum dua jam lebih mereka terjebak di lift itu.

Nagisa berdeham. "Masa' kamu nggak merasa aneh, sih?" Karma menoleh, meskipun ia tidak terlalu bisa melihat ekspresi Nagisa dalam redupnya ruangan. "Itu, maksudku...aku kakakmu."

Karma menggumam sejenak, berusaha menempatkan diri pada posisi Nagisa. Tentu saja bagi Karma tidak ada masalah. Pihak yang lebih tua, seperti Nagisa, membesarkan Karma sejak bayi, tentu saja merasa aneh. Pasti rasanya serba salah saat bibirnya dikecup oleh seseorang yang pernah menjadi bayi yang ia gendong.

"Aku nggak masalah melakukan semua ini dan masih melihatmu sebagai kakak," ujarnya, menggaruk puncak kepalanya. "Tapi...Nagisa mungkin harus berhenti memandangku sebagai seorang bayi yang dulu~"

"Kenapa aku mau berhenti seperti itu coba..."

"Karena kalau nggak, Nagisa nggak bisa menciumku~ heh...heh..."

Nagisa ingin cepat-cepat keluar dari lift itu, demi apapun juga, merasa serba salah. Dan di pihak oposisi, Karma ingin berada di dalam sana selama mungkin. Dan meskipun mereka akan bisa keluar nantinya, ia tidak akan melepas Nagisa lagi.

Lagipula, si biru langit itu belum tahu kejutan-kejutan yang menantinya setelah pertemuannya kembali dengan si setan berambut merah.


Kindly review if you have the time.