Makasih banyak buat yang udah nyempetin review :D here's your reply review
#D : iya, makasih juga udah ngikutin ceritanya ya ;) sankyuu buat read reviewnya of course :D ini lanjut, selamat membaca…
#Maehime : bweehh naksir sasu nih yee XD lha, kan muka dia langsung regenerasi, tuh langsung bisa ngomong krn mulutnya mulai terbentuk lg XD dan pas dia nyerang sandaime itu juga kepalanya udah hampir terbentuk sempurna, pastinya kepalanya udah utuh lagi sekarang ;) uwaahh makasih semangatnya :D makasih juga udah nunggu. Ini update, sankyuu byk buat read reviewnya ya…
Buat yg udah log in dijawab lewat PM ya: Shean Ren31, liaprimadonna, uzumakiey resty tafrijian, Suzuki Sora, lisabluebeery544, J'TrimFle, Kazuki Yuki, and shin. sakura. 11.
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 20: Before the Storm Strikes
.
.
.
Namaku Sasuke Uchiha.
Dan aku sedang melihat kematian berada di depan mataku entah sudah keberapa kalinya hari ini. Saat ini seekor anjing raksasa berada tepat di hadapanku dengan moncong terbuka lebar, aku tengah melompat di udara dan hampir seratus persen tidak akan bisa menghindar. Aku mulai berpikir untuk ditelan lalu baru melompat keluar dengan membedah perutnya dari dalam—seperti di film-film—saat tiba-tiba tubuh anjing itu terlempar jauh dan hancur menabrak tebing.
Detik berikutnya yang kulihat adalah wajah jengkel Pain dan tangannya yang mencengkeram kerah bajuku.
"Don't you dare to die on me you bastard, Itachi will never forgive me," ucap Pain penuh penekanan.
Huh, yeah, mana mungkin dia mau menolongku kalau bukan karena nii-san.
"Tch!" decih Pain selanjutnya dan menoleh ke arah Nagato, cowok bersurai merah itu sudah menyerang kembali, kali ini dengan burung raksasa yang ditungganginya. Pain melompat menghindar sambil menarik tubuhku dan Naruto, setelah itu melemparnya.
"Pergi, cari Zetsu dan minta dia membawamu ke tempat aman," komando Pain.
"Aku ingin keluar dimensi," bantahku.
"Apa? Apa kau—…" blaaarr…satu tembakan laser seperti sebelumnya membelah udara di antara kami, aku melompat menjauh—menyeret Naruto—Pain juga. "Apa kau tidak paham situasinya?" Pain melanjutkan ucapannya yang terputus. "Bisa-bisa di luar dimensi sudah dikepung oleh battalion Namikaze lainnya!"
"Ugh…!" aku menghindari pecahan tebing yang lumayan besar. "Tapi aku harus menemukan Itachi-nii! Namikaze yang kulawan sebelumnya mengatakan dia ditahan."
Pain tak menjawab tapi bisa kulihat matanya sedikit membola. Ia juga tak berkata apa-apa lagi, seolah berpikir. Pastinya dia ingin lari menyelamatkan aniki, tapi dia leader bangsa vampire, dia harus berada di benteng untuk mempertahankan wilayah mereka.
"Serahkan saja padaku. Aku pasti menyelamatkannya," ucapku. Bukan niatku untuk menenangkannya sih, itu memang tujuanku dari awal. Tapi sebelum aku melompat pergi, aku mendengar Nagato berkata.
"Kau tidak perlu mencari keluar dimensi," ucapnya. "Tidak lama lagi seluruh battalion Namikaze dan seluruh vampire akan berkumpul di dimensi ini. Pertarungan penghabisan kita berada di sini, dan bisa kupastikan semua kartu akan berkumpul."
Huh? Semua vampire? Aku menatap Pain yang tampak marah.
"Apa maksudnya?" tanyaku.
"…" Pain tak menjawab.
"Heh, sepertinya leader kalian bukan type yang suka bicara, kalau begitu biar aku yang kujelaskan," jawab Nagato. "Selama berada di sini aku mengetahui kalau dimensi ini dilindungi oleh Sembilan kunci. Kau mengerti apa artinya?"
"Jumlah anggota…Akatsuki…" lirihku.
"Ya, sayangnya satu kunci sudah kosong bahkan sejak awal," pasti itu karena Itachi-nii menolak untuk menjadi anggota Akatsuki. "Aku tidak tahu alasannya tapi kurasa leader kalian memang sengaja membiarkan satu kunci itu kosong," lanjut Nagato. "Menjaga kestabilan dimensi hanya dengan delapan kunci, dan saat ini dia sedang mengirim empat kunci lainnya keluar dimensi untuk mengurus kekacauan yang dibuat sebelumnya oleh leader kalian. Karena itu lah aku memberikan sinyal kalau ini saat yang tepat untuk menyerang."
Empat kunci sedang tidak berada di sini? Ah, akhir-akhir ini aku memang tidak melihat Kisame, Deidara, Hidan dan Kakuzu. Jadi kurasa mereka sedang ditugasi Pain untuk pergi. Jadi yang kini berada di dimensi hanyalah Pain, Sasori, Zetsu dan Konan.
"Dengan ketidakberadaan mereka, pelindung dimensi juga melemah," Nagato melanjutkan penjelasannya. "Ditambah empat lainnya tengah bertarung di sini, sudah pasti tidak bisa focus menjaga keseimbangan pelindung. Seluruh vampire di luar dimensi pasti merasakan ada yang salah dan mereka akan berbondong-bondong ke dimensi ini. Saat itulah kami akan menghabisi kalian semua."
"Perasaanku saja atau kau hanya omong besar? Saat ini saja pasukan kalian juga bukan berada di posisi menguntungkan," ucapku. "Bagaimana bisa kalian menghabisi seluruh vampire apalagi saat semuanya berkumpul menjadi satu."
Baiklah, pertanyaan bodoh, karena detik berikutnya aku melihat Nagato menyeringai. Sudah pasti kan mereka punya senjata pamungkas atau semacamnya, mana mungkin mereka melancarkan serangan skala besar tanpa kartu As di tangan mereka.
"Tunggu saja kehancuran kalian," ucap Nagato.
"Well, whatever," Pain menjulurkan tangannya ke arah Nagato. "Shinra—…"
Tapi sebelum Pain sempat menggunakan kekuatannya, sesuatu menyerang kami dari belakang. "Lambat!" ucap Nagato.
"…—Tensei," lanjut Pain tanpa terganggu sama sekali. Detik berikutnya seluruh area di sekitar kami seolah terdorong menjauh, seperti ledakan bom atom, dan kami adalah titik pusatnya. "Tidak peduli apa trick kecilmu, kau tidak akan bisa menyentuhku," ucap Pain.
"Well, let see then," kami mendengar suara Nagato tapi tak melihatnya. Apa ini salah satu kekuatannya? Menjadi tak terlihat? Aku memasang posisi siaga, mengerahkan seluruh indraku untuk merasakan keberadaannya tapi nihil. Dan sepertinya Pain juga sama saja, karena saat kami menyadari keberadaan Nagato kami sudah terlalu terlambat. Dia muncul di dekat kami, berada di sesuatu yang mirip lidah. Ah, mungkin itu salah satu hewan panggilannya, semacam bunglon atau apa yang bisa berkamuflase dengan lingkungan sekitar, dan apapun itu, ia bisa menyembunyikan hawa keberadaan Nagato dengan baik.
Nagato melesat menyambar tubuh Naruto sementara ia mengerahkan sesuatu yang lain untuk menyerang kami, sebuah benda aneh dengan mulut sangat lebar. Dari mulutnya terjulur lidah yang membelit tubuh ku serta Pain, dan seketika rasanya kekuatan ku meninggalkan tubuhku.
"Ghh…!" aku berusaha melepaskan diri tapi tak bisa, aku beralih menatap Pain, kenapa dia tenang sekali?
Sting…!
Satu sensasi aneh merasuki kepalaku, bukan apa-apa, hanya merasakan kalau Pain tengah mengirim telepati entah ke siapa. Apa dia memanggil bantuan? Chee, dimana harga diri dia sebagai leader bangsa vampire kalau begini saja butuh bantuan! Aku memfokuskan mataku, berusaha membakar benda yang menarik kami dengan Amaterasu, tapi tak terjadi apa-apa. Kekuatanku tidak cukup saat ini.
"Matilah tanpa perlawanan," kudengar Nagato berucap. Dia masih berdiri santai di dalam mulut hewan peliharaannya yang transparan, Naruto berada di sampingnya, menatapku khawatir tapi tak bisa melakukan apapun.
Saat itulah aku terkesiap saat melihat kilatan putih mengitari kami, dan dalam sedetik saja potongan kertas setajam pedang memutus lidah yang menahan tubuh kami. Aku tahu jurus ini, Konan. Dan benar saja, cewek vampire itu melayang tak jauh dari kami dengan kedua sayap terbentang seperti malaikat. Lucu sekali mengingat vampire lebih dekat ke iblis daripada malaikat— menurutku.
Tubuh kami bebas, aku segera melompat menjauh, sementara Pain melesat melewati tubuh Konan.
"Kuserahkan padamu," ucapnya santai seolah sedang bertukar musuh.
"Ah," jawab Konan dan beralih menatap Nagato. "Maaf saja, leader kami sangat sibuk. Kurasa aku cukup kalau hanya untuk mengurusmu."
Reaksi Nagato langsung berubah tegang, ia menatap Konan seolah cewek itu bukan orang yang ingin ditemuinya, tapi sekaligus ingin ditemuinya. Aku sendiri tidak mengerti, yang jelas ekspresinya terlihat terluka tapi juga terlihat senang.
"Aku tidak ingin bertarung denganmu," ucap Nagato.
"Kalau begitu tarik pasukanmu dan pergi dari sini."
"Itu tidak mungkin—…"
"Kalau begitu kau tidak punya pilihan," Konan menyerang Nagato dengan kertas-kertasnya, tapi mulut hewan transparan milik Nagato langsung tertutup sehingga Nagato dan Naruto tak terlihat lagi. "Percuma saja sembunyi," ucap Konan dan menyerang udara kosong di arah yang lain, detik berikutnya cairan berwarna merah menyembur dari luka bekas potongan kertas Konan. Apa mengenai hewan itu dan hewan itu terluka?
"Sudah kubilang aku tidak berniat melawanmu," kembali terdengar suara Nagato meski aku tak melihatnya. "Tapi tenang saja, sebentar lagi semuanya akan berakhir. Vampire akan punah, dan aku akan menyelamatkanmu, Konan. Cukup kau saja. Aku akan mengembalikanmu menjadi manusia dan kita bisa kembali seperti dulu lagi."
"…kau salah paham atau apa? Dulu akulah yang meminta Yahiko mengubahku karena aku ingin bersama dengannya di keabadian. Aku sama sekali tak ada niat kembali menjadi manusia, dan jelas sekali aku juga tidak ingin kembali bersamamu karena sejak awal tidak ada kata 'kita'."
"Hahaha tidak peduli apa yang kau katakan. Semua akan berjalan sesuai rencana. Sampai nanti Konan," setelah itu tak ada suara lagi, dan sepertinya Konan juga kehilangan hawa keberadaan Nagato. Kini ia melirikku dengan tatapan datar, setengah kesal malah.
"Kalau kau tidak bisa melindungi dirimu sendiri sebaiknya kau mati saja," ucapnya sengit.
"Jangan menumpahkan kemarahanmu padaku hanya karena wajahku mirip aniki," balasku. Memangnya Cuma dia yang sedang kesal?
Twitch!
Aahh, lihatlah, dia tambah kesal aku memanasinya, dia menatapku seolah mau menelanku hidup-hidup. Hei hei, memangnya salahku kalau Pain lebih menyukai aniki daripada dia? Dan sebelum menjadi opera sabun, akupun lebih memilih pergi.
Aku melesat ke tempat tinggi supaya mendapat view lebih baik, ternyata pemandangannya cukup tenang, tak terlihat pertempuran di semua tempat, hanya di beberapa titik saja. Itu artinya Namikaze benar-benar hati-hati dengan gerilya mereka, mungkin mereka berniat merobohkan kastil dalam diam, atau membawa aliran pertempuran sepelan mungkin karena meski setengah vampire pun mereka masih kalah dengan kami. Mereka bertempur seperlunya sambil menunggu waktu, menunggu semua kartu berkumpul dan akan menyerang secara besar-besaran.
Aku melesat menuju checkpoint untuk keluar dimensi. Menurut Nagato semua vampire akan berkumpul di dimensi ini, aku harus keluar, menyelamatkan aniki dan memastikan dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di dimensi ini.
Tapi sepertinya tak semudah itu. Checkpoint yang kutuju tak sesepi yang kukira, masih banyak sosok yang bermunculan dan memasuki dimensi ini. Entah vampire entah Namikaze aku tak begitu memerhatikan, aku melesat pergi, mencari checkpoint yang lain. Kali ini beberapa lusin menyerbu masuk sekaligus sehingga checkpoint kosong seketika, dengan hati-hati aku menyelinap keluar. Berhasil. Hanya saja…
Wuushh…
Angin bertiup kencang saat aku keluar dari dimensi, aku berada di puncak gunung berbatu dan di kejauhan aku melihat pemandangan kota yang tak kukenal. Aku memfokuskan mataku seperti teropong dalam mode zoom, mencari tanda pengenal, dan di salah satu bangunan aku melihat bendera America di sana.
What the hell—…aku ada di luar negeri? Jadi dimensi tempat Akatsuki berada tersambung dengan berbagai tempat di belahan dunia? Err…aku tidak tahu aniki dimana, tapi aku hampir yakin dia masih di Jepang. Jadi aku harus ke Jepang lewat dimensi ini atau kembali ke dimensi vampire dan mencari portal yang tepat. Saat tengah berpikir itulah seseorang menyapaku.
"Yo," sapanya normal. Normal. Tapi tempat ini tidak normal, puncak gunung berbatu, dan tidak mungkin orang normal menyapa 'yo' dengan normal di tempat absurd macam ini. Akupun menoleh dan melihat seseorang di dekatku, aku mengenalinya, sosok bersurai perak yang pernah kujumpai saat pertama kali aku ke Akatsuki, vampire yang meminjamiku jubah. Pantas saja dia menyapaku dengan normal.
"Yo," aku malah balas menyapa.
"Mau kembali ke dimensi Akatsuki?"
"Err…aku baru saja dari sana."
"…" ia berkedip beberapa kali. "Kau meninggalkan medan pertempuran?"
"Hei, jangan bicara seolah aku pengecut yang melarikan diri."
"Lalu apa?"
"…" grr, ternyata dia mengesalkan. "…aku mencari aniki ku, dia ditahan Namikaze di luar dimensi, tapi aku tidak tahu dimana."
"Di luar dimensi? Kukira Namikaze sedang menyerbu dimensi kita."
"Yeah, tapi kurasa belum semuanya."
"Kalau begitu tunggu saja di sana, pasti nanti aniki mu dibawa ke sana juga saat semua Namikaze menyerbu."
"…" aku menatapnya. "Ano sa, apa kau tahu bagaimana keadaan kita sekarang?"
"Aku baru mau ke sana, mana mungkin aku tahu."
"Namikaze akan menyerang besar-besaran setelah semua vampire berkumpul di dimensi itu. Sekarang mereka masih menunggu dan menekan pertempuran serendah mungkin."
"Kalau begitu biar saja, aku yakin vampire tidak akan kalah."
"Dan Namikaze juga tidak mungkin seceroboh itu menyerang tanpa sesuatu yang bisa memastikan kemenangan mereka."
"…" ia terdiam sesaat. "Ah, kau benar juga. Tapi tetap saja, meski mengetahui itu aku yakin semua vampire tetap akan berkumpul di sana."
"Kenapa?"
"Itu kerajaan kami, pusat pemerintahan kami. Kalau tempat itu roboh, kehidupan kami juga akan selesai. Meski terkadang diktatktor, Akatsuki memegang pemerintahan dengan baik, tanpa pengawasan mereka aku yakin vampire sudah punah beberapa abad yang lalu."
"…" giliranku yang bungkam, aku tidak tahu peran Akatsuki sebesar itu. Tapi seharusnya aku sudah tahu, pusat pemerintahan eh?
"Jadi, kau mau ikut atau mau tetap disini?" tanya vampire itu dengan setengah tubuh sudah memasuki portal.
"Kau sudah lama jadi vampire kan? Apa kau tahu portal mana yang masih di Jepang? Atau bahkan lebih spesifik lagi?" tanyaku.
Ia mengangguk. "Kusarankan kau menunggu aniki mu di dimensi saja sih, tapi kalau kau bersikeras aku bisa mengantarmu," iapun menghilang di balik portal, aku mengikuti. Ia sudah berada di tepi jurang dan menatap luas ke seluruh dimensi saat aku memasuki dimensi sepenuhnya. "Sepertinya ucapanmu benar, mereka menekan pertempuran sekecil mungkin," ucapnya lalu melangkah pergi. "Ayo, kuantar kau ke portal yang kau mau. Daerah mana?"
Aku menyebutkan daerah tujuanku. Mungkin masih di sekitar tempat kami tinggal, karena setahuku kediaman Namikaze juga di sekitar sana. Kami bersembunyi beberapa kali saat melihat pasukan Namikaze, menghindari pertempuran tidak penting, hingga vampire di depanku ini menghentikan langkahnya.
"Portal yang ini," ucapnya.
"Terimakasih banyak. Lagi-lagi kau membantuku," ucapku.
"Tidak masalah. Sampai nanti."
"Sampai nanti. Ah, namamu?" tanyaku. Astaga, dia sudah membantuku beberapa kali dan aku tidak tahu namanya.
"Kimimaro. Kau—…" belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba sesuatu melesat masuk lewat portal, seperti gelombang kekuatan atau semacamnya, dan menembus tepat di perut Kimimaro. Gelombang itu terlalu kuat hingga lingkungan di sekitar kami pun hancur, aku juga terpental beberapa tombak sebelum dengan susah payah menemukan pijakanku dan bertahan supaya tak ikut terlempar.
"Ghk…!" aku melihat Kimimaro mencoba melepaskan diri meski hasilnya nihil. Aku berniat melompat mendekat, tapi batal saat tiba-tiba suasana tenang, bahkan senyap, dan bebatuan yang berterbangan hanya melayang diam di tempat.
"Uwaaahh jadi ini sarang vampire," aku mendengar seseorang bicara.
"Chee, sangat cocok untuk mereka," sahut satu suara lainnya. Aku bergerak sepelan mungkin, menyembunyikan diriku di balik bebatuan dan mengamati keadaan. Aku melihat sesuatu yang menembus tubuh Kimimaro telah terlepas, dan kini vampire itu tergeletak di tanah dengan lubang besar di tubuhnya. Lalu di samping Kimimaro, dua orang baru saja memasuki dimensi lewat portal tadi.
Gasp…!
Aku terkesiap menatap mereka, ukuran tubuh mereka sangat besar, mungkin dua kali besar Sarutobi yang pernah kulawan, dan hawa keberadaan mereka sangat menyesakkan. Seolah seluruh sendiku dihimpit sesuatu hanya dengan berada di dekat mereka.
"Hmm…sudah hampir tiba waktunya, semua kartu juga hampir terkumpul," ucap seorang yang bersurai hitam panjang dengan armor coklat kemerahan.
"Yondaime sudah berada di sini kan? Sebaiknya kita cepat bergabung dengannya," sahut yang bersurai perak dengan armor biru. Mereka membicarakan tentang Yondaime, jadi mungkinkah mereka Shodaime dan Nidaime yang dimaksud oleh Naruto? "Anii-sama, ngomong-ngomong bagaimana dengan Uchiha yang satu itu?"
"Tenang saja, dia sudah bersama laki-laki itu, dia akan diteleport kesini di saat yang tepat. Mau bagaimanapun clan Uchiha adalah salah satu kartu utama di panggung ini," selesai berkata begitu mereka langsung melesat pergi, membuat bebatuan yang tadinya melayang kini berjatuhan seperti gravitasi baru saja kembali.
"Ugh…!" aku melompat menghindari hujan bebatuan itu dan menghampiri tubuh Kimimaro. Gawat! Sebuah batu besar akan menimpanya, aku mempercepat lompatanku. Apa masih sempat?!
Bats!
Aku meraih tubuhnya dan melompat pergi, tapi tubuhku sempat tertimpa dan sekarang pundak kiri ku hancur, aku membawa Kimimaro hanya dengan sebelah tanganku.
"Kurasa di sini aman," ucapku sambil meletakkan Kimimaro dengan hati-hati. Tubuhnya yang menganga sedang mulai menutup, begitu juga dengan pundakku. Tapi regenerasiku sangat lambat, aku sudah kehabisan stamina sejak pertempuran sebelumnya, daya regenerasiku sekarang bahkan lebih lambat dari saat aku memulihkan sebagian kepalaku yang hancur.
"Arigatou," ucap Kimimaro.
"Tidak usah dipikirkan, kau focus saja pada regenerasimu," balasku. Aku pergi untuk mengamati keadaan, tapi senyap. Kukira dua monster itu akan segera mengamuk, tapi kurasa bukan itu rencananya. Aku kembali lagi pada Kimimaro, lukanya hampir menutup sempurna dan dia sudah bisa duduk.
"Sebenarnya mereka makhluk apa?" ucap Kimimaro setengah takjub setengah kesal.
"Entah. Mungkin setengah vampire sejak entah jaman apa sehingga ukuran tubuhnya di atas manusia normal."
"Kalau begitu kenapa aku belum pernah menjumpai vampire dengan ukuran segitu ya? Bahkan anggota Akatsuki saja ukuran tubuhnya normal."
Aku angkat bahu, tapi dalam kepalaku memikirkan ucapan Kimimaro juga. "Kau jadi vampire sudah berapa lama?" tanyaku.
"Err…entahlah. Dua ribu atau tiga ribu tahun yang lalu, aku tak menghitungnya," jawab Kimimaro."Kau tahu, kalau kau sudah dalam keabadian kau tidak akan lagi menghitung berapa lama kau hidup."
Dia hidup selama itu dan belum menjumpai vampire sebesar mereka, apa bisa kusimpulkan kalau generasi vampire sebelum kami pernah punah? Dan vampire baru muncul lagi lumayan lama setelah itu, lalu bagaimana kedua—tiga—monster itu bertahan hidup?
"Ngomong-ngomong aku mau ke kastil," ucap Kimimaro dan bangkit.
Aku mengangguk. Lukaku sudah nyaris sembuh sempurna, jadi kurasa aku sudah bisa bergerak bebas. Kami pun melesat ke arah kastil melewati bayang-bayang bebatuan, bulan sudah tinggi. Apa ini hampir tengah malam? Ini bukan bulan baru, purnama ataupun setengah, bulan setengah sudah lewat saat pertempuran pertama kami dengan para hunter, lalu apa rencana mereka memang menunggu tengah malam meskipun ini bukan bulan apapun?
"Ssst…!" mendadak Kimimaro menghentikan langkah kami, dia memasang posisi waspada. Kami setengah sembunyi sambil mengawasi keadaan, aku tidak merasakan apapun tapi kenapa Kimimaro waspada begitu? Ah, mungkin instingnya lebih tajam karena dia vampire sempurna sementara aku Half Mortal.
"Huh…!" tiba-tiba Kimimaro tersentak kaget, begitu pula aku, sedetik yang lalu aku tak merasakan apapun, tapi detik berikutnya seseorang sudah berada di hadapan kami, dan dia langsung menyerang kami dengan bola kekuatan berwarna kebiruan. Kami menghindar, dan saat benda itu menghantam bebatuan, bisa kulihat bebatuan itu hancur dengan pola memutar seperti pusaran air. Kuso! Kalau sampai kena, tubuh kami pasti terbelah menjadi dua. Aku tidak tahu apa vampire masih bisa selamat jika itu terjadi, apalagi mengingat jika dipenggal kepalanya kami juga mati.
Aku mendapatkan pijakanku dan kini kuperhatikan sosok yang baru menyerang kami, aku sedikit terkesiap melihat kilatan warna kuning di rambutnya. Aku mengenalinya, pernah bertemu dengannya sekali di dunia nyata, lalu di dunia memory yang Pain tunjukkan. Tou-san Naruto, atau mungkin kini mereka menyebutnya sebagai Yondaime. Ia menatapku tajam, sepertinya juga mengenaliku.
"Dimana Naruto?" tanyanya tegas.
"…" aku tak menjawab, masih mengamati keadaan.
"Aku tanya," lagi-lagi dia menyerangku dengan sangat cepat. "Dimana Naruto?"
Aku menghindari pukulannya, tapi ia lalu melempar kunai bermata 3 ke arahku. Chee, tapi lambat, aku bisa menghindarinya dengan mud—…
"Arrgghh…!" aku menjerit saat tiba-tiba dia berada di belakangku dan menghantam tengkukku dengan keras.
"Kisama…!" Kimimaro menyerang mendadak, aku yakin serangannya pasti mengenai Yondaime dengan telak, tapi lagi-lagi Yondaime lenyap. Mendadak dia sudah berada di tempat awal dimana dia menyerang kami pertama kali.
"Di mana Naruto? Kalau kau beritahu mungkin akan kubiarkan kau hidup," ucap Yondaime.
"…bersama Nagato," jawabku pada akhirnya.
"Di mana kalian menahan mereka?"
"…" ah, pantas saja. Jadi mereka mengira kami menahan tiga Namikaze itu. "Entahlah. Mungkin kalau kau mulai mencari di balik batu lama-lama kau juga akan menemukan mereka."
"Kisama…!" Yondaime kembali melempar kunai nya, kali ini di antara tubuh kami berdua. Apa dia memang tidak berniat mengenai ka—…
Zap…!
Tiba-tiba kunai itu berganti dengan tubuhnya. Ah, sekarang aku mengerti, dia bisa berpindah tempat ke tempat di mana dia menandai dengan kunainya, bahkan di udara sekalipun. Tapi mengetahui itu juga sudah terlambat, dia sudah berada di hadapan kami dengan benda berwarna biru itu lagi, dan bahkan kali ini aku bisa melihat samar kalau keempat sisinya membentuk shuriken berwarna nyaris transparan, seperti angin. Dan kini keempatnya berputar cepat, membesar, dan…
Crraaasshhh…!
Menyabet tubuhku dan Kimimaro bersamaan. Aku bisa merasakan rasa sakit langsung menyergapku, dan saat tubuhku ambruk ke belakang aku bisa melihat semburan darah menghalangi pandanganku akan tubuh Kimimaro yang kini terbelah dua—darahku sendiri.
"Ghaakk!" aku kerbanting keras ke dasar bebatuan, rasa sakit membutakan semua indraku. Apa aku akan mati?
"Pertanyaan terakhir," Yondaime menghampiri, menjambak rambutku dan membuat tubuhku setengah bangun. "Di mana Naruto?" tapi aku tak terlalu focus pada pertanyaannya, aku lebih focus pada setengah tubuhku yang bisa kulihat terpisah dari setengah tubuh atasku. Tidak, tidak, tidak! Aku akan mati! Aku akan mati! Mataku yang terbelalak masih sempat melihat tubuh Kimimaro dalam keadaan yang sama, kecuali dua belah bagian tubuhnya tak mengeluarkan darah karena dia full vampire.
"Di mana Naruto!" bentak Yondaime. Aku tak menjawab, aku tidak bisa menjawab. Suara ku menghilang entah kemana karena rasa sakit yang kurasakan. "Tch! Tidak berguna," sepertinya Yondaime sudah menyerah mendapat jawaban dariku, ia kembali membanting kepalaku ke bebatuan dan melesat pergi. Pandanganku mulai kabur, apa aku akan pingsan? Kukira tubuh vampire tak bisa pingsan, apa mungkin karena aku Half Mortal? Atau aku memang akan mati?
Di sisa kesadaran terakhirku aku menangkap sosok lain. Seorang pria kurasa, ia memakai topeng berbentuk pusaran, pusat pusarannya berada di salah satu sisi mata dan ada lubang mata di sana. Ia memandangku dengan mata berkilat crimson. Vampire? Tapi tunggu, aku pernah melihat pola mata itu. Po…la ma…ta…
Dan kesadaranku benar-benar menghilang setelahnya.
~OoooOoooO~
"…yo…kau sudah sadar…?" aku mendengar samar suara itu, kedengarannya menggema. Pandanganku juga masih buram, jadi aku mengerjap beberapa kali untuk menjernihkannya. Aku menoleh perlahan dan melihat Kimimaro berbaring di sampingku, tubuhnya sudah menyatu, disatukan oleh benda berwarna putih entah apa.
"Aku…masih hidup…?" lirihku dan mencoba bangun.
"Sebaiknya jangan bergerak dulu, aku masih menyambung tubuhmu," aku mendengar suara lain. Aku menoleh dan melihat seseorang—atau mungkin setengah orang—di sampingku. Tubuhnya berwarna putih total dan hanya sebagian. Maksudku, dia hanya punya sebelah kaki, sebelah tangan, sebelah kepala, tentu saja sebelah tubuh sempurna.
"Zetsu-sama yang menolong kita," ucap Kimimaro.
Zetsu? Anggota Akatsuki yang seperti tanaman itu? Well, aku tidak pernah melihat tubuh di balik tumbuhannya sih, jadi aku tidak mengenalinya. Tak berapa lama, sesuatu muncul dari dalam tanah di dekat kami, seseorang yang hanya memilik sebagian tubuh seperti Zetsu, hanya saja berwarna hitam.
"Bagaimana keadaan peperangan?" tanya Zetsu putih.
"Leader sedang mengamuk," jawab Zetsu hitam dan menghampiri Zetsu putih, tubuh mereka mulai bergabung menjadi satu.
"Yare yare, apa leader sudah mulai serius untuk melawan para Namikaze?" ucap Zetsu putih.
"Tidak juga, dia mengamuk gara-gara salah satu pisau boneka Sasori menyayat ujung jubahnya," jawab Zetsu hitam. Aku langsung sweatdrop, kalau bisa mungkin aku sudah ber-gubrak-ria, hanya saja tubuhku sedang tidak mengizinkan. "Tapi bagus juga," lanjut Zetsu hitam. "Sambil mengamuk setidaknya dia menghabisi dua battalion Namikaze."
"Hahaha sasuga leader," tawa Kimimaro.
"Ayo pergi, aku belum melihat medan tempur di sisi selatan," ucap Zetsu hitam.
"Tunggu, aku belum selesai menyembuhkan mereka," jawab Zetsu putih.
"Biarkan saja. Ini perang, tidak semua prajurit akan hidup."
"Haik, tapi ini perintah leader. Mau bagaimanapun dia otouto nya Black Crow," aku merasakan benda putih yang membalut tubuhku menggeliut, benda itu lalu bergerak kembali ke tubuh Zetsu dan tubuhku sudah kembali seperti semula, bisa kulihat tubuh Kimimaro juga sama. "Nah, ayo pergi," ucap Zetsu.
"Tunggu, saat kalian—kau—kemari apa kau melihat pria bertopeng?" tanyaku.
"…tidak."
"Mungkin sudah pergi saat kau tiba."
"Tapi aku tidak pingsan, dan aku tidak melihat pria seperti itu," ucap Kimimaro. "Dan aku juga tidak merasakan hawa keberadaan siapapun kecuali Zetsu-sama yang segera menolong kita."
"Mungkin hayalanmu saja," ucap Zetsu dan menghilang ke dalam tanah.
Entahlah, tapi aku cukup yakin aku melihat pria bertopeng itu.
"Mungkin kita juga harus pergi," ucap Kimimaro dan bangkit. "Ke kastil dan melihat apa yang bisa kita lakukan."
Aku tak menjawab, tapi ikut bangkit dan mengikuti Kimimaro saat dia melesat menuju kastil. Semoga kali ini tidak bertemu dengan Namikaze yang merepotkan lagi. Keadaan jauh lebih kacau dibanding sebelumnya, pertarungan terjadi di mana-mana, tapi kami memilih menghindarinya sebisa mungkin atau kami tidak akan sampai di kastil dalam keadaan utuh. Payahnya, di kastil ternyata lebih parah lagi. Pertarungan mati-matian sedang terjadi di sana.
Vampire memang lebih kuat, tapi insting mereka ditekan rasa takut terhadap hunter, jadi bisa dikatakan sebenarnya kekuatan kami seimbang.
"Kuso…!" umpat Kimimaro dan nyaris terjun ke medan pertempuran kalau aku tak mencegahnya.
"Kau seriusan mau kesana?" ucapku.
"Ada teman-temanku di sana. Dan yeah, aku pergi," ucapnya dan melesat menuju pertempuran sengit di bawah sana. Aku tidak punya alasan untuk ikut bertarung, jadi aku pergi saja. Aku merasa aku harus menemukan pria bertopeng itu. Seingatku saat Shodaime dan Nidaime pertama muncul, mereka membicarakan soal aniki yang sudah bersama 'laki-laki itu' dan akan 'diteleport' di saat yang tepat. Bagaimana kalau pria bertopeng itulah orangnya? Maksudku, Kimimaro yang seorang full vampire bahkan tak bisa mendeteksi keberadaannya, mungkin karena orang itu berteleportasi antar dimensi lewat dimensinya sendiri. Dia hanya wujud tanpa tubuh. Atau…
Sebenarnya ada hal lain yang menggelitik pemikiranku soal orang itu. Dia tidak terdeteksi, dan seingatku aku dan aniki memiliki kemampuan yang sama. Kami tidak terdeteksi oleh indra vampire sekalipun. Dan yang menguatkan asumsiku adalah mata pria bertopeng itu. Sekarang aku ingat polanya. Matanya memang crimson seperti vampire pada umumnya, tapi pola matanya. Ada tiga koma yang mengitari pupilnya, dan seingatku yang memiliki mata dengan pola itu adalah mode vampire aniki dan milikku.
Jadi maksudku…apa pria itu seorang Uchiha?
.
.
.
~To be Continue~
