saya bikin cerita klise lagi lho. dengan beberapa kata aneh yang saya temuin di Gootrans.
kali ini ada enam part, udah selesai saya tulis kemarin semuanya. saya kebut seharian tiga part terakhir.
soalnya saya mau ngilang lagi dua minggu ke depan. saya mau sidang, doain ya? hehe
nanti begitu sidangnya selesai, saya post chapter berikutnya. ok?
untuk yang satu ini, tolong reviews yang jelek-jeleknya juga kalau kalian nemu bagian yang jelek dari cerita ini.
jangan lupa doain saya, hehe. oh, doain Jin biar lekas sembuh juga.
get well really soon, Jin! send him love he deserve, guys 3
oh, selamat menjalani ibadah puasa juga buat yang menjalankan. maaf lahir batin ya.
happy reading ya kesayangan.
Nordvéstur
Nordvéstur adalah kerajaan modern terbesar di semenanjung Hanju. wilayahnya berada di antara Skroviśte, kerajaan tetangga yang menjadi pusat pelayaran, dan Sud-ést yang terkenal sebagai kerajaan paling metropolitan diantara ketiganya. Nordvéstur merupakan pusat pemerintahan dari ketiga kerajaan tersebut.
kisah kali ini tentang cinta di Nordvéstur. kisah ini tak berbeda dengan roman-roman picisan yang tertimbun di rak-rak buku perpustakaan tua. dan semoga, juga akan sama melegendanya seperti mereka.
PART I
Namjoon mengendap-endap keluar dari Odìeze, sebutan untuk istana tempat tinggal pangeran. jam tangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam. istananya terdengar sunyi seperti malam-malam biasanya.
langkah Namjoon pendek dan pelan awalnya. lalu ketika lorong panjang yang memisahkan Odìeze dan dapur istana terlihat, Namjoon melangkah panjang-panjang. betapa dia bersyukur Odìeze terpisah dari Grand Palace dan lebih dekat dengan dapur istana. hanya terpisah lorong panjang yang perlu dilewati selama delapan menit jika berjalan pelan. tapi bisa lebih cepat jika berjalan cepat seperti yang Namjoon lakukan sekarang.
Namjoon sesekali menunduk, menatap kakinya yang tak beralaskan apa-apa. dia selalu bertelanjang kaki setiap melewatinlorong ini tengah malam. dia sudah pernah mencoba berlari menggunakan sepatu, lalu pengawal istana berlarian mengejarnya. mereka mengira Namjoon pencuri.
pintu dapur istana yang terbuat dari kayu Oak semakin dekat. Namjoon memelankan langkahnya. dikeluarkannya sendal tidurnya dari saku piama sutra hitam yang melekat sempurna ditubuhnya. padahal itu hanya piama, tapi cukup membuat Namjoon terlihat seperti mengenakan baju untuk diperagakan di atas catwalk.
Namjoon membuka pintu. senyumnya terkembang saat melihat lelaki berambut blonde yang mengenakan seragam koki kerajaan sedang sibuk membolak-balik buku tua di atas meja dapur. buku resep turun temurun kerajaan.
"hey," sapa Namjoon, mendekat.
lelaki itu mendongak, wajah terkejutnya lalu berganti senyum. "hey, Prìns. aku pikir kau lupa ada janji denganku malam ini," katanya.
Namjoon menggaruk tengkuknya sambil tertawa pelan. "aku ketiduran sehabis bermain game bersama Hoseok. maaf," jawabnya.
lelaki itu tersenyum saja saat Namjoon semakin dekat dan memeluknya dari belakang. bergetar tubuhnya saat Namjoon mencium bahunya yang berlapis seragam koki itu.
"aku merindukanmu," bisik Namjoon.
"aku tahu. aku juga," balasnya. lelaki itu berbalik. memangku separuh berat badannya pada meja masak, separuh lagi pada leher Namjoon yang dia kalungi dengan tangannya.
"apa yang sedang kau pelajari?" tanya Namjoon. diliriknya buku resep yang terbuka.
"beberapa resep kerajaan yang belum sempat ku buat. ada masakan kerajaan yang ingin kau coba?"
Namjoon menggelengkan kepalanya. "aku lebih suka resep masakan yang kau buat sendiri."
lelaki itu tersenyum malu. ditatapnya mata Namjoon dalam-dalam. mata yang berhasil mencuri hatinya. mata yang berhasil membuatnya berani mengambil langkah untuk kebahagiannya. mata itu adalah sumber bahagianya.
"ambilah cuti akhir pekan ini. ikut aku ke Skroviśte. Jimin merayakan hari jadinya bersama Yoongi di sana. aku belum sempat benar-benar mengenalkan kalian," ajak Namjoon. dielusnya punggung lelaki berwajah indah itu.
"Jimin?" Namjoon mengangguk. ah, Jin ingat. anak saudagar kaya raya dari Skroviśte itu pernah menyapanya ketika mereka bertemu di selasar Obìeze. Jin sedang mengantarkan makan siang untuk pangeran dan sahabatnya yang berkunjung. untung saat itu dia mengantar makanan sendirian, Jimin menyapanya terlalu akrab untuk orang yang tidak saling mengenal. "akhir pekan ini?" tanyanya.
Namjoon mengangguk lagi. "kau bisa pergi dengan kereta, keberangkatan paling pagi. Jimin akan menjeputmu begitu kau tiba."
"lalu kau?"
"aku dan Hoseok akan pergi sekitar pukul sepuluh. kau akan menungguku di rumah Jimin bersama yang lain. aku tidak membawa pengawal lain, hanya Hoseok. aku sudah meminta Jimin untuk merahasiakan keberadaanmu di sana dari orang-orang yang tidak berkepentingan. apa itu tidak masalah?"
"tidak, tentu saja tidak," jawabnya, lirih.
"kau tahu aku hanya tidak ingin sesuatu terjadi padamu kan?"
lelaki itu mengangguk. dibenamkannya wajahnya dalam ceruk leher sang pangeran. "aku tahu."
Namjoon tersenyum tipis. dielusnya punggung lelaki itu, menenangkan resahnya. "Jin, bersabarlah..."
Jin adalah asisten koki utama di Grand Palace. umurnya dua tahun lebih tua dari Namjoon. dia sudah bekerja di dapur istana sejak umurnya masih tujuh belas tahun. dulu, mendiang ibunya adalah salah satu koki andalan istana.
mereka pertama kali bertatap muka di ulang tahun ke enam belas Namjoon. Jin yang menyiapkan kue ulang tahun untuk pesta besar itu. Namjoon meminta Hoseok, sahabat sekaligus nöbet, sebutan untuk pengawal pribadi pangeran, membawa asisten koki istana itu kehadapannya.
Namjoon jatuh cinta pada pandangan pertama. klise. ya, seperti roman picisan kebanyakan.
dan sejak itu Namjoon berusaha mencuri hati lelaki berambut blonde itu mati-matian. dulu, semakin Namjoon berusaha, semakin Jin menghindar. Jin hanya mencoba realistis, Jin tidak pernah percaya pada dongeng. mana mungkin pegawai istana bisa mengencani pangeran, pikirnya.
Namjoon selalu sembunyi-sembunyi menemuinya di dapur istana begitu tengah malam tiba. sebab saat tengah malam, Jin biasa menghabiskan waktu satu atau dua jam di dapur istana untuk belajar memasak resep baru. Jin mengusir Namjoon berkali-kali dan terua saja gagal. Prìns of Nordvéstur itu terus kembali. terkadang membawa coklat, bunga, atau buku resep baru untuknya.
lima tahun Namjoon mati-matian mencintai Jin. malam-malam hening di dapur istana menjadi saksi betapa Namjoon berusaha meyakinkan Jin bahwa pasti akan ada jalan untuk mereka. meski sering sekali gagal, Namjoon tak pernah menyerah. Jin mengabaikannya sepanjang lima tahun yang mereka lewati.
baru kemudian setahun lalu, Jin akhirnya memutuskan untuk menerima lelaki itu.
Namjoon sedang dalam perjalanan untuk urusan kerajaan waktu itu. Namjoon pergi ke sebuah desa yang sedang bersengketa di ujung negeri. sebagai calon pewaris tahta, Namjoon di utus kerajaan untuk menyelesaikan masalah di desa itu. itu adalah misi pertamanya sebagai anggota kerajaan. lalu, tersiar kabar bahwa Namjoon tak sadarkan diri karena memakan buah cherry beracun yang dia temui di perjalanan pulang ke Nordvéstur.
Hoseok memaki Namjoon yang terbaring di tempat tidurnya sambil menangis. bagaimana bisa seorang pangeran begitu ceroboh dan bodoh seperti itu. dokter kerajaan bahkan sampai memberikan obat penenang pada Hoseok karena dia begitu histeris. kemudian tepat tengah malam saat Namjoon tersadar, dia mendapati Hoseok dan lelaki berambut blonde yang dia cintai mati-matian itu menangis di tepian tempat tidurnya.
Jin takut pada peraturan istana. tapi dia lebih takut kehilangan Namjoon.
"Jin hyung, kau bisa menunggu Namjoon di sini. kau juga bisa berjalan-jalan disekitar sini kalau bosan. aku sudah memastikan tidak akan ada yang tahu tentang keberadaanmu," kata Jimin, tersenyum hingga matanya menyipit.
Jin mengangguk. "terimakasih, Jimin-ah," sahutnya. dipandanginya dengan kagum halam belakang rumah Jimin yang dipenuhi bunga itu. "indah sekali," gumam Jin.
Jimin tertawa. "tentu tak seindah taman Grand Palace Nordvéstur, hyung."
Jin tersenyum. "aku tidak tahu apakah Grand Palace memiliki taman yang sama indahnya. selama ini yang ku pandangi hanya taman kecil dibelakang Obìeze, tak jauh dari dapur. Namjoon membuatkannya untukku."
"tidak heran, Namjoon hyung memang mencintaimu sebegitu dalamnya. sebuah taman bukan hal sulit."
Jin mengangguk, sedikit berbangga hati mendengar ucapan Jimin.
"tapi Jin hyung, apa kau baik-baik saja?"
Jin menatap Jimin. dia bingung dengan pertanyaan lelaki mungil itu. "aku? tentu saja."
"Namjoon hyung bilang, dia takut kau merasa kesulitan dengan hubungan ini. kalian tidak bisa bertemu setiap saat. kalian harus pura-pura tidak saling mengenal ketika berpapasan di istana. dia takut kau lelah duluan, Jin hyung."
Jin menunduk, tersenyum. sepoi angin musim semi menyapa helaian rambutnya. "aku kesulitan, Jimin. ada saat-saat dimana aku ingin memeluknya ketika kami bertemu di lorong istana karena sudah berhari-hari tidak bertemu. ada malam-malam dimana aku menunggunya mengunjungiku di dapur tapi dia tak datang karena kelelahan. setahun ini, berbeda dengan tahun-tahun lalu. sebagai calon pemegang tahta, waktu yang Namjoon punya tak lagi banyak.
aku tak tahu apa saja yang Prìns lakukan saat tidak bersamaku. saat bertemu, waktu yang kami punya tak cukup untuk merangkum seluruh ceritanya saat kami berpisah. satu atau dua jam bahkan tak cukup untuk mendengar dia mengatakan betapa dia mencintaiku dan tak ingin kami berpisah. dia memintaku untuk terus bersabar. dia sedang memikirkan jalan keluar untuk kami. tapi Jimin, jalan keluar apa yang bisa dia berikan untuk hubungan kami yang jelas ditentang hukum kerajaan ini?"
Jimin diam tak menjawab. dia hanya sanggup menatap Jin yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
"tapi jika dia takut aku lelah, dia seharusnya tahu aku tak akan pernah lelah. dia pernah bilang, cinta sejati memang selalu penuh rintangan, karena itu dia abadi," Jin dan Jimin tertawa. "gombal sekali, kan?"
"aku tidak menyangka Namjoon hyung mengatakan hal-hal seperti itu."
"dia terkadang menggelikan, kau tahu."
Jimin tertawa mendengar perkataan Jin. "senang akhirnya bisa mengobrol denganmu, hyung."
Jin tersenyum, "aku juga, Jimin. terimakasih sudah menyambutku dengan hangat."
"tentu saja, hyung. aku harus menyambut kekasih Prìns of Nodvéstur dengan hangat jika tak ingin bisnisku berantakan," jawab Jimin dan membuat keduanya tergelak lagi.
tbc~
