Hold Me, Hyung!

Cast : adalah saya pinjam nama-nama member Super Junior. Dan beberapa artis SM ent. (Ini tambahan karena saya baca di beberapa blog orang, untuk mencantumkan karakter siapa yang dipinjam. Kan, fanfiction.)

Chapter 20

Banyak typo. Bahasa amburadul dan sulit dipahami.

Saya tidak suka aturan. Tapi jika itu membuat tidak nyaman, mohon peringatkan saya.

Terima kasih. Selamat membaca.

"Kami hidup di rumah sederhana. Kecil, tidak ada barang mewah, semuanya murahan. Appa hanya seorang pegawai pabrik, di industri kecil. Hanya seorang buruh." Kibum mengawali ceritanya. Mengungkap kehidupan mereka dulu.

Kyuhyun duduk di kasur, didepannya Kibum menarik kursi belajarnya untuk digunakan duduk. Keduanya berhadapan. Kyuhyun memberi sikap tidak akan menyela dan hanya akan mendengarkan.

"Aku tidak ingat eomma yang melahirkanku. Yang nyata didepanku adalah Jungsoo hyung dan appa. Kami hidup dengan seadanya. Tapi kami tidak pernah mengeluh. Kami pikir itu hidup yang menyenangkan….

"Lalu, suatu hari appa membawa pulang seorang wanita. Aku 4 tahun saat itu. Tidak banyak juga yang kuingat saat awal. Yang pasti tidak lama setelahnya wanita itu tinggal bersama kami dengan dua putranya.

"Eomma Kim, Heechul dan Donghae. Appa bilang mereka sudah jadi keluarga. Jungsoo hyung juga mengatakan hal yang sama.

Dan hidup kami dimulai sebagai keluarga. Eomma Kim bekerja, dia orang kantoran. Selalu terlihat cantik, rapi dan teratur. Bersama appa yang lusuh rasanya terlihat mustahil. Tapi saat mereka bersama mereka terlihat bahagia. Kami masih hidup sederhana, tapi sedikit meningkat. Makanan kami lebih pantas, pakaian kami lebih bagus dan selalu bersih. Bahkan appa bisa membeli motor.

Kami hidup lebih menyenangkan. Kami bahagia, setidaknya itu yang mereka bisa lihat."

Kibum menerawang. Menatap Kyuhyun, tersenyum. "Lalu kabar itu datang bersama kabar buruk. Eomma Kim hamil, appa kena PHK. Tapi kami tetap tersenyum. Ada berkah yang datang, kami masih optimis.

"Eomma Kim masih tetap bekerja, appa dengan giat mencari pekerjaan lain. Ketika appa mendapat pekerjaan baru, itu tidak lebih baik dari sebelumnya, tapi berguna dari pada berdiam diri. Appa sadar akan tanggung jawab dan berusaha keras.

"Mereka pasangan yang tidak pernah menyerah. Mereka saling mencintai dan bekerja sama demi keluarga. Tapi hubungan baik mereka, tidak menular pada kami. Heechul dan Jungsoo hyung tidak seakur orang tua kami. Ada jarak yang kasat mata tapi tebal, memisahkan kami sebagai saudara."

0o0o0o0o0o0

Keduanya bergelut seperti kesetanan. Seolah menuntaskan segala beban kemarahan yang telah lama menumpuk. Jungsoo memukul, Heechul membalas lebih keras. Tidak ada yang mau mengalah. Tidak ada yang ingin kalah.

Babak belur, berdarah, nyeri juga ngilu. Keduanya sudah berantakan. Kacau dan tidak lagi terlihat keren. Mereka mirip preman, di jalanan sempit pasar bersaing sengit untuk wilayah kekuasaan.

Keributan keduanya tentu tidak seberapa, tapi tetangga dekat itu berlari keluar rumah dan mencoba melerai keduanya. Tapi dia hanya seorang wanita baya. Hanya mampu menjerit dan berteriak meminta pertolongan. Dia seorang diri, selagi suami dan anak perempuannya di toko. Dia sedang memasak untuk makan mereka saat keributan berlangsung.

Kemudian muncul lagi lelaki tambun memasuki pekarangan dengan bingung. Dua pria dewasa sedang berkelahi, sedang tidak jauh dari mereka ada wanita yang dia kenal, heboh berteriak-teriak untuk menghentikan perkelahian namun sia-sia. Bahkan suaranya tidak sampai pada keduanya. Wanita itu akhirnya sadar akan keberadaan lelaki itu, lalu menghampirinya.

"Pisahkan mereka, Shindong! Mereka gila! Mereka sudah kerasukan! Bagaimana bisa mereka berkelahi di halaman rumah paman mereka! Astaga! Leluhur mereka pasti menangis melihat ini!"

0o0o0o0o0o0

"Heechul akan sangat diam saat kami berkumpul. Dan sangat dingin saat appa dan eomma Kim tidak ada. Ada sekat. Kami tidak bisa mendekatinya. Donghae ditarik disisinya. Berapapun sering kami mencoba mengakrabkan diri, itu tidak ada arti baginya. Kami tidak pernah paham apa yang dia pikirkan.

"Kemudian kau lahir," Kibum mengulas senyum kembali, menatap Kyuhyun dengan mata berkelip cerah, "penghuni baru. Kecil, mungil dan sangat menggemaskan. Semua orang senang. Donghae mendekat dan akrab. Kami berkumpul bersama dan bersuka cita. Hari itu adalah saat aku melihat Donghae tertawa begitu lebar. Dia selalu ingin yang pertama dan paling depan untuk melihatmu. Hampir tidak pernah menjauh dari sisimu. Penghuni baru, awal yang baru.

"Tapi tidak ada yang sadar. Heechul disana. Berdiri sedikit jauh dan hanya diam. Lagi-lagi, tidak paham apa dia pikirkan dengan tatapannya yang datar."

0o0o0o0o0o0

"Kalian tidak waras, ha?! Mau saling membunuh! Jadi preman saja! Tusuk-tusukkan sana! Tapi jangan disini! Kalian tidak menghormati paman kalian! Merusuh di tempatnya seperti anjing liar!" Kangin berdiri di antara kedua. Merah padam dan menatap penuh intimidasi pada keduanya.

Usaha Shindong untuk melerai mereka tidak cukup berhasil. Shindong kualahan. Satu ditarik, satunya maju, tak pelak dia mendapat pukulan nyasar juga, entah dari siapa. Shindong frustasi, lalu menyerah. Saat itu datang Kangin dan putrinya. Entah siapa yang berjasa menghubungi mereka, mungkin salah satu penonton yang mendadak ramai entah dari kapan, tapi tidak ada yang membantunya.

Kangin lari tunggang langgang begitu dikabari ada keributan di rumah mendiang Yesung. Saat dia datang sudah ada Shindong yang kesulitan melerai keduanya. Putrinya muncul di belakang langsung menghampiri sang ibu.

Kangin sangat marah. Amarahnya memuncak, dengan kekuatan yang timbul karena emosi itu, dia menarik keduanya. Mendorong masing-masing menjauh. Jungsoo terjengkang, sedang Heechul berhasil mempertahankan keseimbangan.

Tuan Choi datang tidak seberapa lama bersama Siwon yang sedang berlibur. Menerobos kerumunan dan berdiri sedikit di belakang Kangin.

Kangin masih marah-marah, memaki keduanya. Sedangkan kedua pelaku, meski sudah dilerai masih berani saling menatap sinis.

Heechul menyeka darah di mulut. Dirinya babak belur. Sakit dimana-mana bahkan tulang keringnya nyeri luar biasa. Tidak jauh beda dengan Jungsoo. Wajahnya bonyok, rusuknya sakit, tubuhnya serasa remuk. Tapi semua luka itu tidak menyurutkan amarah keduanya. Api yang membara di dada keduanya seolah tidak akan padam.

0o0o0o0o0o0

"Lalu appa sakit. Dia sudah merasa sakit sejak lama, tapi hari itu dia tidak bisa menahan sakitnya dan pergi ke rumah sakit. Hatinya mengalami kerusakan. Tidak berapa lama, appa berhenti bekerja karena kondisinya semakin menurun. Eomma Kim segera kembali bekerja begitu masa cutinya habis.

"Kau terpaksa di tinggal di rumah dalam penjagaan appa dan kami. Kau masih sangat kecil tapi eomma tidak bisa tinggal diam. Dia bekerja sangat keras, lebih banyak lembur demi mengumpulkan uang. Untuk rumah tangga juga obat appa.

"Tapi semua itu sangat sulit setelah berlangsung lama. Kau semakin besar, kebutuhan kami, dan obat appa. Rasanya kami melihat eomma Kim semakin tua. Dan penyakit appa tidak berangsur sembuh.

"Tiba saatnya kondisi appa kritis, dia perlu operasi. Biaya dan semua hal-nya berasal dari Heechul."

"Semua?" tanya Kyuhyun menangkap satu kata yang ditekankan Kibum.

Kibum menghela nafas. "Kami mengorbankan perasaan Heechul. Karena keadaan appa, eomma Kim tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya. Perusahaan tempatnya bekerja meminta dia mengambil cuti panjang, tanpa gaji.

"Dalam kondisi itu, uang jadi masalah. Tabungan habis. Sedangkan kebutuhan membengkak.

"Eomma Kim pasti mengalami masa yang sangat berat. Dia mendatangi Heechul untuk membicarakan semua itu. Jungsoo hyung juga. Mereka bertiga berbicara mengenai solusi.

"Heechul adalah solusinya. Harta peninggalan ayahnya digunakan untuk menutupi semua masalah saat itu. Rumah sakit, obat, operasi, rumah tangga, uang sekolah. Bahkan ketika appa membutuhkan donor hati, hanya Heechul yang bisa membantu. Entah bagaimana, eomma Kim berhasil membujuknya,"

"Apa?" Kyuhyun tidak bisa tidka terkejut setelah semua itu.

Kibum memejamkan mata. Mengangguk perih. Dia tidak bisa menyangkal bahwa karena Heechul-lah appa mereka selamat. Karena mengorbankan Heechul mereka masih memiliki appa mereka sampai beberapa tahun ke depan.

Semua dari Heechul. Seharusnya dia pahlawan, bukan?

0o0o0o0o0

Heechul menolak untuk berbicara. Para orang tua pun tidak bisa mencegahnya pergi. Niat mereka mendamaikan berbalik diabaikan. Tersisa mereka setelah membubarkan masa yang tidak seberapa. Berdiri di halaman dengan Jungsoo menjadi pusatnya. Tidak ada yang mencoba mendekat, bahkan bersimpati dengan lukanya.

Masih ada geram diantara para orang tua itu. Mereka bilang sudah sukses, sudah dewasa, tapi berfikir dengan kepala dingin saja tidak bisa. Seenaknya adu jotos di rumah yang seharusnya ada kedamaian.

Siwon menarik lengan sang ayah. "Apa dia dibiarkan begitu?" sampai Siwon menaruh hati melihat keadaan Jungsoo. Bonyok dimana-mana, pakaian berantakan dan beberapa robekan.

Tuan Choi menghela nafas. "Kangin, buka pintu rumah Yesung. Dia harus di obati."

Kangin menghela nafas panjang, namun tetap bergerak pergi hendak mengambil kunci rumah Yesung. Melupakan ada Shindong disana, orang yang selama ini juga bertugas membersihkan rumah Yesung. Mereka bergantian untuk merawat rumah teman mereka.

"Aku membawa kuncinya, Kangin." seru Shindong menghentikan langkah Kangin.

Shindong segera membuka pintu rumah, Kangin menghampiri Jungsoo. Menggiring pemuda itu untuk masuk ke dalam rumah sang paman. Jungsoo enggan, hampir saja menolak, tapi Kangin menarik lengannya memaksa.

Semua berpindah ke dalam rumah Yesung, kecuali perempuan. Istri dan putri Kangin kembali ke rumah sendiri, mengambil obat dan air hangat untuk merawat luka Jungsoo.

"Kalian bertengkar seperti itu, memang apa masalahnya?" tuan Choi yang tidak sabar menunggu mengajukan pertanyaan begitu mereka duduk di lantai yang dingin.

Tidak ada yang protes, semua memang menunggu sebuah penjelasan.

Jungsoo meringis merasakan nyeri dari luka di sekujur tubuhnya. Namun mencoba tetap memberi penjelasan. Dia juga harus menjernihkan masaahnya.

"Heechul mengacau pada proyekku. Bagaimana rumor itu menyebar dan membuat pekerjaku mengalami kesulitan. Aku berniat berbicara saja, tapi melihat wajahnya aku langsung emosi. Rasanya hanya ingin menghajarnya."

Semua orang disana mengernyit bingung. Mereka sudah dengar proyek Jungsoo mengalami kendala, selain Siwon yang lain sudah mengetahui hal itu. Tapi menuduh Heechul apa tidak berlebihan? Mereka bersaudara, bukan?

"Kau menuduh saudaramu?" Kangin membuka suara kurang yakin.

Ingin Jungsoo berdecih, tapi sadar jika dihadapan mereka adalah para orang tua, Siwon tidak dihitung. Dia ingin menjelaskan jika bukan keluarga seperti itu yang mereka miliki, tapi pentingnya apa mereka tahu?

"Dia menuntut hak waris Donghae. Tanah yang dibeli perusahaanku, adalah milik paman Yesung. Dia menginginkan tanah itu untuk adiknya."

Kernyitan di dahi mereka semakin tebal. Namun Kangin mulai paham. Dia memang tahu jika adik Yesung menikah beberapa kali, Heechul adalah anak tirinya, dan anak pertamanya tidak berhubungan dengan pernikahan terakhirnya.

Pantas saja Heechul pernah datang menanyakan tentang beberapa surat milik Yesung. Termasuk surat rumah ini. Menghela nafas dalam, Kangin tidak habis pikir. Bukankah mereka sudah sukses? Tapi meributkan harta yang tidak begitu banyak. Rumah, toko, dan tanah. Dibandingkan dengan apa yang mereka raih seharusnya itu tidak sepadan.

Kangin mengedar pandang melihat satu-satu. Beberapa saat lalu ketika mereka diam mendengar penjelasan Jungsoo istrinya datang bersama putrinya. Mengobati Jungsoo. Putri Kangin tidak lama disana, dia harus kembali ke toko yang mereka tinggalkan tanpa ditutup.

"Apa alasan Heechul melakukan itu?" tuan Choi bertanya mendahului Kangin.

0o0o0o0o0o0

Semua dari Heechul. Tapi bahkan ucapan terima kasih saja tidak sampai ke hati Heechul. Bukan rasa lega dan bangga, Heechul justru memendam kemarahan.

Dia merasa di korbankan berkali-kali. Dia harus meninggalkan sekolah elitnya untuk menempuh pendidikan di sekolah yang sama dengan Jungsoo. Berada asing diantara mereka yang dilihatnya biasa dan tidak memiliki apapun. Dia yang bermimpi tinggi, justru mendekam di kondisi yang sulit.

Sedikit demi sedikit Heechul menjadi geram. Awalnya yang tidak perduli menjadi tidak terkendali. Heechul di kuasai hati yang mendendam. Dia tidak terima setelah semua sudah terjadi.

"Untuk pertama kali kami melihat Heechul bertengkar dengan eomma Kim. Di depan kami, di depan appa. Dia mempertanyakan kedudukannya di keluarga Park dan di hati eomma Kim. Tapi dia menutup telinga dan hatinya dari penjelasan apapun.

"Heechul hari itu meledak. Dia memperlihatkan dirinya yang sebenarnya. Dia sangat kasar tapi menangis seolah tersiksa."

Kibum menarik nafas dalam-dalam. Menatap Kyuhyun yang tidak bergeming. "Sejak Heechul mengeluarkan amarahnya, tidak ada lagi ketenangan. Entah bagaimana pertengkaran itu berlanjut dengan Jungsoo hyung di sekolah. Heechul yang kasar dan congkak tidak begitu diterima baik di sekolah.

"Aku tidak pernah melihatnya senang saat pulang dari sekolah. Tapi dia akan baik pada Donghae."

0o0o0o0o0o0

Tuan Choi menghela nafas berat. Rautnya kecewa. Begitu juga yang lain. Yesung adalah orang baik. Melihat keponakan-keponakannya berkelahi di kediamannya sungguh mempihatinkan. Terlebih lagi kemelut yang terjadi di antara saudara-saudara ini.

Setelah di desak, Jungsoo akhirnya menceritakan semuanya.

"Apapun itu, kalian sudah dewasa. Gunakan akal dan kebijakan kalian untuk menyelesaikan masalah. Berkelahi seperti tadi," tuan Choi menggeleng muram. Dia terus-menerus merasa prihatin.

"Saya minta maaf." ujar Jungsoo menunduk dalam. Dia sadar telah kehilangan kontrol beberapa waktu lalu hanya dengan melihat wajah Heechul. Menyulut api dalam dadanya begitu mudah. Pikirannya yang kacau dengan segala masalah membuatnya tidak stabil.

0o0o0o0o0o0

Menautkan jari-jari tangannya, Kyuhyun berfikir keras setelah mendengar cerita Kibum. Kakaknya tidak mencoba memberatkan satu sisi dalam ceritanya tapi jelas sekali Kibum memiliki beban sendiri dalam ketidak mampuannya memahami Heechul.

Dan itu menular kepadanya. Kyuhyun juga jadi tidak paham. Benar warisan Heechul yang digunakan untuk survive kehiduan keluarga Park. Benar Heechul yang mendonorkan hati untuk appanya. Mengorbankan sekolah elitnya dan beralih ke sekolah biasa dengan standart jauh dari point mimpinya.

Orang akan berfikir Heechul adalah korban.

Kyuhyun sendiri akan salah paham jika itu di kalimatkan dengan sederhana. Yang faktanya tidak sesederhana itu. Mereka, keluarganya mengalami banyak pergolakan dalam cobaan yang datang silih berganti. Seolah mereka akan naik peringkat jika berhasil. Tapi peringkat terendah pun tidak mereka capai, melainkan terpecah belah seperti sekarang, lantaran ada hati yang terluka.

Hati milik Heechul.

Hati seseorang yang menganggap dirinya korban. Entah karena ketidak pekaan seseorang, keterpaksaan atau dipaksa. Tapi satupun tidak ada yang benar.

Hanya orang tua yang tahu. Hanya orang tua yang menanggung perasaan malu dan berat menanggung arti 'berhutang' pada anak. Seperti yang diucapkan eomma Kim, dalam kondisi tersudut dan sangat butuh, dia merendah pada Heechul. Meminta kebesaran hati remaja masih hijau itu untuk meminjamkan warisannya. Menahan malu dan kewibawaannya sebagai seorang ibu tiri yang telah berjanji untuk memberi kasih sayang nyata pada Heechul. Dengan meminta dalam ucapan berhutang itu telah membuatnya merasa menyulitkan Heechul. Keterpaksaan pertama.

Tapi kembali dia dihadapkan pada kondisi keluarga dan suaminya, eomma Kim menelan kelu dan menebalkan hati. Kembali dia harus meminta Heechul untuk sebuah jaringan hati. Demi suaminya. Demi keluarga ini tidak kehilangan sosok kepala keluarga. Demi Heechul juga agar tetap hidup di bawah perlindungan seorang ayah. Keterpaksaan kedua.

Dan ketika semua gejolak itu mereda, berfikir bahwa semua masalah telah terlewatkan. Kedua pasangan itu merencanakan banyak hal untuk menata ulang kehidupan ke depannya. Appa Park yang telah sehat bersemangat untuk kembali bekerja, begitu pula eomma Kim. Mereka sangat serius dan bekerja keras. Anak-anak kembali tertawa dan bersuka cita saat bermain.

Namun satu, satu yang luput, dalam ketidak sengajaan, mereka tidak melihat Heechul yang telah berubah.

Heechul yang merasa sendiri, asing dan terluka. Menumpuk kecewa hingga dendam. Dia kembali menarik Donghae disisinya. Hanya adik tanpa pertalian darah itu yang terasa dekat. Heechul butuh seseorang yang bisa menguatkannya.

Dan Kyuhyun masih tidak paham bagaimana keluarga ini terpecah belah.

"Heechul membenci kami. Dan kami menyerah untuk meraihnya. Hanya itu Kyuhyun. Dari awal Heechul tidak berharap jadi bagian keluarga ini. Jangan memaksakan kehendak, mungkin ini yang terbaik. Begini keadaannya. Suka tidak suka ini yang terjadi dan harus diterima. Kau paham?"

Kyuhyun tidak menahan air matanya. Dari sekian kalimat diucapkan Kibum, kalimat itulah yang menyakitkan. Bagaimana bisa dia terima keadaan ini? Salah jika membiarkan keadaan buruk ini berlanjut. Hidup dengan dendam dan kemarahan, apa menyenangkannya?

"Jangan menangis."

"Dia tidak bersalah. Heechul hyung tidak melakukan kesalahan."

"Dan kami melakukan kesalahan?" balik Kibum. Dia menggeleng sendiri. "Bagiku sendiri, tidak ada yang salah diantara kami. Kami hanya tidak cocok. Aku bahkan tidak menyukainya sejak pertama melihatnya. Tapi demi balas budi, aku mengesampingkan perasaan itu. Meski itu hanya sesaat, karena pada kenyataannya Heechul memang buruk."

"Dia kasar dan dengan kemauannya sendiri dia menjauh dari kami. Kami juga lelah jika harus mengalah dan mendekatinya. Jika dia tidak mau, maka sudahlah."

Kibum mengusap lengannya yang di gendong. Mulai terasa nyeri. Sudah waktunya dia menelan obat. Tapi dia bertahan disana untuk menegaskan pada Kyuhyun untuk paham.

"Dulu aku tidak bermasalah dengan Donghae. Dia anak ceria dan tidak bisa diam. Tapi karena itu setiap kali dia menjagamu, kau selalu terluka. Kau sering menangis saat bersamanya.

"Saat dia membawamu untuk bermain awalnya baik-baik saja. Namun begitu menghilang dari pengawasan, ada saja yang terjadi. Setelah Jungsoo hyung perhatikan semua itu ulah Heechul. Dia sering menyakitimu. Menjadikan Donghae alatnya, agar bisa menyakitimu dengan leluasa.

"Saat kau menangis atau terluka semua karena jatuh. Tapi bukan seperti itu. Heechul yang melakukannya. Dia melampiaskan amarah itu kepadamu. Sejak aku tahu, aku yakin untuk tidak menyukai Heechul.

"Aku melarang Donghae mendekatimu. Dan membuatmu lebih banyak bersamaku. Agar Heechul tidak berkesempatan lagi menyakitimu."

Kyuhyun tidak ingat dilukai. Dia masih sangat belia untuk mengingat hal itu. Tapi kenangannya bersama Heechul adalah saat-saat dirinya jadi objek kejahilan. Heechul suka menggodanya sampai menangis lalu pergi begitu saja tanpa mencoba menenangkannya. Baginya, itu hanya tingkah jahil tanpa niat buruk. Atau itu hanya keyakinan Kyuhyun?

0o0o0o0o0

'Aku tahu ini milikmu, Heechulie. Tidak benar aku mengusiknya. Tapi aku juga tidak bisa lagi kehilangan orang yang aku cintai. Kita harus mempertahankannya. Keluarga ini tidak bisa kehilangannya.

Aku meminjamnya. Kelak pasti akan aku kembalikan kepadamu. Pinjamkan warisanmu. Untukku. Untuk keluarga ini.'

Sekalipun eomma Kim tahu dia tidak pernah memanggil lelaki Park itu 'ayah', wanita itu terus berfikir jika Heechul membutuhkannya. Sosok seorang ayah. Bukan hanya untuk keluarga Park tapi juga dirinya.

Heechul muda tidak sekejam itu menolak permintaan eomma Kim. Warisan miliknya dia serahkan untuk keluarga Park. Untuk menyelamatkan kondisi ekonomi mereka dan menunjang pengobatan pria Park.

Dia yang masih remaja berfikir memang begitu yang harus dia lakukan. Heechul berada disana karena kebaikan eomma Kim. Dia yang tidak memiliki siapapun lagi setelah kematian sang ayah, tidak diterima di kerabat manapun. Sudah seharusnya dia berhutang budi dan membalas kebaikan hati wanita itu.

Setelah perkelahiannya dilerai orang-orang itu Heechul segera pergi. Melajukan mobilnya tanpa tahu akan kembali ke penginapan atau pergi ke klinik mengobati lukanya. Dia merasakan sakit di setiap bagian tubuhnya, tapi hanya satu yang nyerinya luar biasa. Hatinya. Dari luka yang terbentuk oleh masa lalu.

Orang lain tetaplah orang lain. Asing.

Heechul membanting stir ke kiri, keluar dari jalur dan masuk ke tanah lapang. Mobil berhenti tanpa mematikan mesin, Heechul mencengkeram kuat stir saat emosinya muncul.

'Hahaha jadi kau yang dipungut keluarga Park? Sombong sekali!'

'Jungsoo, benar dia saudaramu?'

Gigi Heechul bergemeletuk. Suara-suara itu keluar dari kepalanya. Mendengung-dengung seperti lebah. Heechul memukul stirnya. Sekali namun kemudian memukulnya dengan beruntun. Heechul menjerit pada akhirnya. Meluapkan segalanya.

"AAAAAAAA!"

'Hey sampah! Benar kau akan bersaing dengan Jungsoo? Dia selalu jadi nomor satu. Apa kau tidak keterlaluan? Keluarganya sudah memungutmu dan kau akan bersaing dengannya?'

"AAAAAA!"

'Mianhe, Heechullie. Mianhe. Suamiku membutuhkanmu. Hanya dirimu yang bisa. Berikan donor padanya.'

Tarikan nafasnya keras. Dadanya naik turun dengan kuat. Menghempaskan diri kebelakang, Heechul terlihat sangat frustasi.

"Omong kosong! Keluarga apa! Aku hanya orang luar! Aku bukan siapa-siapa selain inang untuk kalian, sialan! Aku membenci kalian! Aku benci kalian! Park Jungsoo, aku sangat membencimu!"

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Kyuhyun sama sekali tidak merasa nyaman. Setelah semuanya, perasaan serta pikirannya berkecamuk. Kyuhyun bingung, bimbang dan berada dalam kegelisahan yang sama sekali tidak dia pahami.

Dengan mata terbuka, bahkan sejak semalam, Kyuhyun berbaring dengan memainkan tepian selimut yang dia pakai.

'Apa jika Heechul hyung memaafkan kita, permusuhan ini akan berakhir?'

Kemarin saat pertanyaan itu terlontar darinya Kibum terlihat terkejut. Kakaknya menggeleng gusar.

'Bukan 'kita', Kyu. Kau tidak termasuk di dalamnya. Aku selalu berfikir bahwa dia gila karena membencimu juga. Apa salahmu? Kau bahkan tidak tahu apapun.'

'Ya. Tapi sekarang aku tahu. Kita yang bersalah. Heechul hyung harus mendengar penyesalan kita. Jika kita meminta maaf,'

'Kyuhyun kau masih tidak paham!' sanggah Kibum frustasi. 'Heechul tidak ingin mendengar apapun dari kita. Permintaan maaf, penyesalan? Dia tidak mengharap itu! Dia hanya ingin pembayaran atas apa yang sudah terjadi padanya. Dia hanya ingin pembalasan.'

Kyuhyun membalik tubuhnya miring, menekuk kaki dan berusaha memejamkan mata. Dia butuh tidur. Dia sangat lelah dan mulai pusing. Kibum tidak menginap di kamarnya semalam membuat Kyuhyun memiliki ruang dan waktu sendiri untuk berfikir. Tapi itu malah membuatnya tidak tidur.

Bagaimana dengan keinginannya menyatukan saudara-saudaranya? Apa dia harus menyerah? Kibum bilang keadaan inilah yang sudah benar. Mereka bukan keluarga jadi memang tidak perlu bersama.

0o0o0o0o0

Kyuhyun keluar kamar setelah beberapa saat berusaha untuk tidur. Karena tidak kunjung terlelap dia memilih keluar. Hari sudah terang, para pelayan sudah datang dan mulai bekerja. Seperti biasa ada Yeun ahjumma di dapur. Kyuhyun datang dan meminta air hangat darinya.

"Tuan muda terlihat tidak sehat." Yeun ahjumma meletakkan segelas air hangat permintaan Kyuhyun. Dia memperhatikan wajah sayu dan pucat Kyuhyun, dan yakin jika tuan mudanya memang sakit.

Kyuhyun tidak menyahuti, menggenggam gelasnya dengan kedua tangan, rasa hangat itu menjalar dengan cepat. Nyaman. Lalu di sesapnya perlahan.

Kibum muncul selagi dia menikmati minum. Mengusap ringan kepalanya, seraya duduk dan meminta segelas kopi hitam kepada Yeun ahjumma. Kibum memperhatikannya setelah itu. Berkomentar sama dengan Yeun ahjumma.

"Aku hanya tidak bisa tidur semalam, hyung."

"Seharusnya aku tidak menceritakannya."

"Lalu membiarkanku tidak tahu apa-apa sampai entah kapan?"

"Jika kau masih tidak memahami, lalu apa gunanya? Dan lihat, hanya ini yang kau dapat." Kibum menunjuk wajah pucat adiknya. "Kau harus belajar menerima kondisi ini, Kyuhyun."

Mendesah kecil, Kyuhyun mengangkat kembali gelasnya. "Aku akan tidur setelah ini."

"Aku akan mengawasimu."

Kyuhyun menatap Kibum. "Hyung tidak syuting?"

"Karena kejadian kemarin, kami, aku dan dia, mendapat libur beberapa hari."

Kyuhyun mengangguk paham. Meminum air hangatnya hingga tandas lalu beranjak kembali ke kamar. Menolak ajakan Kibum untuk sarapan dulu. Dia hanya ingin tidur. Pikiran dan tubuhnya lelah luar biasa. Ada banyak beban yang seharusnya tidak jadi tanggungannya. Tapi mengabaikannya juga tidak mungkin. Ini keluarganya. Mereka saudaranya. Baik dan buruk juga akan berimbas pada dirinya.

Begitu mencapai ranjangnya, Kyuhyun langsung tumbang. Menyembunyikan diri di dalam balutan selimut. Mengabaikan mual yang mendadak muncul. Kepalanya yang berat menekannya untuk diam tidak bergerak.

0o0o0o0o0

Zhou Mi membuka pintu kamar Donghae. Mengintipnya sebentar dan tahu artisnya itu masih di posisi yang sama sejak kemarin. Yakin bahwa Donghae bahkan tidak tidur semalam. Zhou Mi mendesah berat, menutup kembali pintu itu.

Duduk di kursi makan dekat dapur, Zhou Mi meresapi hening di apartemen ini. Ingatannya kembali ke saat kemarin. Donghae yang linglung berlaku berbeda. Dia sangat diam saat memasuki kamarnya. Dengan kaki pincang menolak bantuanya. Hanya sesaat setelah menutup pintu kamar, Donghae berteriak sangat keras. Tidak ada barang yang di lempar. Tidak ada kaca yang pecah, tidak ada suara tinju yang menghantam dinding. Zhou Mi hanya mendengar suara teriakan yang keras, berulang dan berlangsung lama.

Menghela nafas dalam, dia beranjak untuk membuat sarapan. Donghae menolak keluar kamar, tidak makan dan melewatkan minum obat. Entah bagaimana Donghae menghadapi rasa sakit pada kakinya tanpa obat.

Zhou Mi sudah menghubungi atasannya. Memberi kabar tentang kecelakaan kemarin. Menghadapi beberapa telepon wartawan luar. Memberi penjelasan singkat dan menekankan Aiden baik-baik saja. Begitu banyak yang harus dia hadapi, termasuk Donghae sendiri.

Amazing fan Aiden adalah Kyuhyun. Park Kyuhyun adik yang selama ini sangat ingin ditemui Donghae. Dia tidak menyangka hal semacam ini terjadi. Dan Donghae terluka karenanya. Donghae merasa dia dibohongi, dipermainkan serta dikhianati.

Zhou Mi bisa memahami itu. Membandingkan dengan seberapa besar keinginan serta usaha Donghae hanya untuk bertemu Kyuhyun, lalu mendapati kenyataan ini. Donghae pasti merasa sangat kecewa. Zhou Mi bahkan tidak paham kenapa Kyuhyun melakukannya? Menolak Donghae tapi juga mendekati Donghae.

"Makan, Aiden." Zhou Mi masuk tanpa mengetuk pintu. Meletakkan nampan berisi sarapan Donghae di meja kecil dekat ranjang. Lalu menatap lelaki itu.

Donghae duduk bersandar, menatap kedua tangannya dengan diam. Zhou Mi memilih duduk, menepuk kaki yang tidak cidera. "Kau sudah melampiaskannya semalam, jadi sekarang kau isi perut kosongmu. Minum obatmu lalu istirahat. Aku tidak akan mengganggumu sampai makan siang nanti."

Zhou Mi hendak beranjak saat Donghae membuka suara. "Aku sangat marah, Zhou Mi."

"Kau tidak marah. Jika marah sudah tidak ada barang yang utuh di tempat ini."

Donghae mengangkat kepala menatap Zhou Mi bingung. Zhou Mi terkekeh kering. Menunjuk Donghae. "Seharusnya kau tahu tabiatmu sendiri. Saat marah kau akan menghancurkan barang. Saat sedih kau akan sangat diam. Tapi kau berteriak keras semalam, jadi mungkin kau juga kecewa."

Donghae menelan kelu, mengangguk lesu. "Dia Kyuhyun, seharusnya aku memeluknya. Tapi apa yang dia lakukan sangat menyakitiku. Kenapa? Padahal dia sendiri yang menolak bertemu. Tapi dia muncul dengan nama 'Eunhyuk', membohongiku dan bersenang-senang diatas semua usahaku. Aku seperti ditusuk, Zhou Mi, sakit sekali."

"Kau perlu waktu."

"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Rasanya aku ingin pergi saja."

"Sudah menyerah?"

"Dia sendiri yang membuatku menyerah! Apa gunanya aku berusaha?! Rasanya sia-sia. Dia dan Park….. Kurasa Heechul hyung benar. Aku harus melupakan masa laluku. Tidak ada artinya. Itu hanya kenangan. Sebaiknya aku melupakan semuanya. Hidupku memang bukan disini."

Tidak ada yang dikatakan Zhou Mi meski terlihat jelas jika dia terkejut dengan apa yang diucapkan Donghae.

0o0o0o0o0

Jungsoo berdiam cukup lama di dalam rumah Yesung. Mengabaikan Shindong yang bergerak untuk membersihkan seluruh rumah. Tidak ada yang melarangnya untuk tinggal lebih lama. Toh, itu adalah rumah pamannya.

Untuk kedua kali Jungsoo berada di ruangan yang sama dengan saat dia menyerahkan Kyuhyun dulu. Melihat rumah ini di waktu sekarang rasanya berbeda. Terlihat lebih kecil dari yang dia ingat. Padahal memang segitu ukurannya. Tidak menciut sesenti pun. Dulu dia tidak memperhatikan. Tapi rumah milik Yesung memang tidak besar. Tapi juga tidak terlalu sempit ditinggali berdua apalagi dengan tidak banyak perabotan.

Dia duduk di depan meja yang sama. Meja tua, kecil dan pendek. Permukaannya masih bagus, meski beberapa goresan terlihat nyata. Tapi kaki-kakinya masih kokoh.

Tidak mengenal dekat Yesung, hanya sekedar tahu membuat Jungsoo enggan memasuki rumah ini. Seandainya bukan karena Kyuhyun, mungkin dirinya tidak akan berhubungan dengan Yesung. Saudara lelaki ibu tirinya.

Mengingat eomma Kim, teringat pula kehidupan masa dulu. Wanita itu baik dan tidak pernah sekalipun membedakan mereka. Di mata Jungsoo dia sempurna, sebagai Ibu dan Istri. Tapi kesempurnaan itu dibebani hal yang begitu berat.

Jung Soo berfikir apa benar eomma Kim bahagia hidup bersama keluarganya? Bersanding dengan lelaki miskin dan sakit. Hanya ada beban dan perasaan bersalah pada Heechul. Jungsoo ragu wanita itu bahagia. Menjadi bagian Park pasti berat untuknya.

"Aku selesai membersihkan lantai atas." Shindong turun. Kepalanya ditutupi kain yang diikat, kain pel di kanan dan ember air pel di tangan kanan. Dia berhenti untuk menegur Jungsoo yang sedang melamun. "Apa yang kau pikirkan?"

Jungsoo hanya menatap sekilas kemudian menggeleng. "Tidak ada."

Tidak ada pembicaraan lagi, tapi Shindong masih disana. Masih memperhatikan Jungsoo. "Boleh aku bertanya sesuatu?"

Jungsoo mengangkat kepala. Menatap penuh pada Shindong. "Ya."

"Bagaimana keadaan Kyuhyun?"

"Dia baik." jawab singkat Jungsoo.

Shindong bergerak ragu. Seolah menimbang perkataannya, dia menatap ke arah lain. "Em. Kudengar dia sakit. Apa dia sudah sembuh?"

Jungsoo tersenyum kecut. "Rasanya semua orang tahu dia sakit. Tapi kami mendengarnya belakangan. Kami masih mengusahakan pengobatan untuknya."

"Penyakit Kyuhyun sangat serius. Dulu, tidak ada yang tahu sampai kematian Yesung hyung. Entah dari mana, semua orang mendengar kabar itu, jika saat itu Kyuhyun sedang menjalani perawatan untuk operasi." Shindong meremas kain pel. Suasana hatinya mendadak berubah setiap kali mengingatnya. Wajahnya berubah keruh. "Yesung hyung pasti mengutuk orang yang mencuri uangnya. Orang itu sangat kejam. Dia mencuri pada orang yang terdesak seperti Yesung hyung. Seandainya uang itu masih ada, mungkin saat itu Kyuhyun sudah sembuh."

Jungsoo tidak melepas pandangan dari Shindong. Memperhatikan bagaimana lelaki tambun itu berucap dengan penuh perasaan. Emosi dan gejolak yang lain. Jungsoo merasa Shindong sedang mengumpati diri sendiri.

"Si pencuri itu tidak akan bisa hidup tenang setelah menyadari apa yang sudah dia lakukan. Seumur hidupnya akan dihantui rasa bersalah. Ya. Orang itu pasti tidak bisa tidur nyenyak dan mengutuk diri sendiri."

"Bagus jika dia merasakan itu. Tapi apa artinya tanpa penyesalan? Orang yang bersalah seharusnya datang dan meminta maaf. Pencuri tetaplah pencuri. Terlepas dari apa yang terjadi setelahnya, dia adalah kriminal. Menurut paman, bagaimana jika aku melaporkan pencurian ini kepada polisi?"

Shindong terkejut, dengan spontan menatap Jung Soo tidak percaya. "Polisi?"

Anggukan Jungsoo mantap. "Tidak tahu pendapat paman Yesung. Tapi kurasa ini yang terbaik. Paman Yesung akan mendapat keadilan atas kerugiannya. Setelah kasusnya ditangani polisi, akan mudah juga memberi pengertian Heechul. Dia harus berhenti mengungkit tanah itu. Jika dia masih menuntutnya aku bisa meminta Kyuhyun mengalihkan semuanya kepada Donghae. Meski ini masalah mereka berdua, tapi Heechul juga ikut campur. Aku sendiri terlibat dalam pembelian tanah. Seharusnya ini mudah saja, jika seandainya Heechul menerima tanah ganti. Tapi bukan Heechul jika dia akan berhenti begitu saja." Jungsoo terkekeh. Menggeleng prihatin pada sikap Heechul.

Shindong meneguk ludah. Matanya mengerjap gelisah. Lalu tanpa kata berlalu pergi untuk meletakkan peralatan bersih-bersihnya di kamar mandi. Saat melewati dapur, dia melihat lemari penyimpanan disana. Shindong berhenti, mematung menatap pintu lemari paling bawah. Sekelebat ingatan berlalu jelas di depan matanya. Shindong ketakutan kemudian berlalu dengan terburu.

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

Kyuhyun bangun dengan tubuh kaku dan sakit. Kepalanya berat, mata pedih dan sesuatu menyumpal kedua lubang hidungnya. Mengerang tidak nyaman. Berusaha menggerakkan tubuhnya namun kembali rasa sakit mendera.

Seseorang mendekat, mengusap keningnya menghantarkan kenyamanan. Kyuhyun berusaha membuka matanya kembali. Dan dilihatnya wajah Kibum di sisi kanan. Kyuhyun membuka mulut, tapi sulit. Selain kering tenggorokannya juga sakit.

"Shhh. Istirahat saja lagi. Hyung disini."

Tidak perlu di perintah dua kali Kyuhyun kembali terpejam. Jatuh lagi dalam kegelapan.

Kibum tidak berhenti mengusap adiknya. Beralih pada pipi pucat itu. Menunggu hingga dirasa Kyuhyun lebih tenang lalu menarik tangannya.

Henry masuk dengan pelan dan berhati-hati. Mendekati Kibum dan berbisik di telinganya. Tidak lama Kibum bangkit keluar mengikuti Henry.

Di luar Henry memberikan ponselnya. Jungsoo menelepon. Kibum sedikit menjauh dari ruang ICU. Sedangkan Henry tetap berjaga di depan ruangan.

"Jungsoo hyung,"

'Maaf, aku baru menghubungimu. Bagaimana cideramu? Henry bilang kau baik-baik saja. Tapi aku belum tenang sebelum memastikan sendiri.'

"Aku baik. Hanya retak kecil."

'Syukurlah. Kau cuti?'

"Ya."

'Bagaimana Kyuhyun? Kemonya berjalan baik? Aku belum mendapat laporannya dari dokter Yoon.'

Kibum berdiam sebentar. Helaannya berat. "Dia di rumah sakit, hyung."

'Penyakitnya kambuh?'

"Ya. Tapi tidak begitu juga." Kondisi Kyuhyun menurun tidak sepenuhnya karena penyakitnya. "Terjadi sesuatu. Kyuhyun terlalu memikirkannya dan jadi begini. Aku juga bersalah. Aku berbicara banyak hal tapi tidak memikirkan tentang kesehatannya."

'Apa yang terjadi Kibum?'

"Pulanglah dulu ke Seoul, baru kita bicara. Ada yang harus kita bicarakan."

Jungsoo mengusap wajah lelahnya. Sepertinya terjadi hal yang berat sampai adik bungsunya harus dirawat. 'Kibum, disini juga tidak berjalan dengan baik. Aku mendapat beberapa pukulan di wajah. Aku terlihat mengerikan dengan beberapa memar ini.'

Kibum terkekeh. "Kau bertemu Heechul?"

'Jaejoong memberi tahumu?'

"Ya. Dia mencemaskanmu."

'Dia menjagaku dengan baik. Kecuali menghentikanku berkelahi dengan Heechul.'Jung Soo tertawa kecil. Jaejoong bahkan tidka di tempat kejadian saat itu. 'Aku akan pulang sore nanti.'

"Maaf, tapi kau tidak bisa menemui Kyuhyun dengan wajah itu."

'Aku tahu. Aku akan datang saat dia tidur.'

"Dia masih tidur." ujar Kibum lirih. Jungsoo di seberang diam dan jadi tidak sabar kembali ke Seoul.

0o0o0o0o0

"Kau bangun sangat siang, Aiden." sapa Hae Jin melihat Donghae keluar dari kamar. Hari memang sudah siang, dan ini untuk pertama kali Donghae keluar dari kamar sejak kejadian hari itu.

Hae Jin datang tanpa tahu apapun. Berfikir jika memang Donghae butuh isirahat lebih. Melihat kakinya masih sedikit pincang juga.

Donghae duduk. Melihat semua makanan yang ditata Hae Jin. "Kau masak sendiri?"

"Beberapa saja yang ringan. Yang berat aku beli."

Donghae mengangguk saja. Usai menata makanan Hae Jin ikut duduk. Menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi untuk Donghae. "Zhou Mi sedang keluar dan akan kembali sore nanti." Hae Jin memberi tahu. Meletakkan piring berisi nasi di depan Donghae dan mengambil sendiri untuk porsinya.

Donghae mengaduk sebentar nasinya. Laparnya perlahan muncul melihat semua makanan ini. Mengikuti Hae Jin yang sudah menyuap, Donghae mengambil lauk lalu makan dengan tenang.

Hae Jin memperhatikan diam-diam. Donghae tidak seberisik biasanya. Tidak bersemangat dan sangat kalem. "Aku ada kabar bagus."

"Apa?" bahkan menanggapinya dengan ogah-ogahan.

"Kami akan menikah."

"HE?!"

Kabar itu berhasil menyita perhatian Donghae. Dia pikir Heechul masih bergelut dengan restu mister Jung. Tapi mendadak ada kabar mereka akan menikah. Atau sebenarnya mereka ingin diam-diam menikah?

"Noona, kau serius?"

Hae Jin mengangguk. Wajahnya cerah. "Aku tidak akan mengatakan ini jika hanya main-main. Casey ada di Korea. Kami akan melangsungkan pernakahan kami disini. Aku sudah mulai mempersiapkan semua hal."

"Keh! Dia tidak mengatakan apapun padaku!" keluh Donghae protes kemudian terkejut. "Dia di Korea?"

"Hu-um. Di Gwangju. Ada pekerjaan disana katanya. Dia berjanji akan segera ke Seoul dan membantuku dalam persiapan."

Donghae merasa heran. Heechul di Seoul dan dia tidak tahu? Rencana kejutan? Tapi Donghae tidak merasa senang. Sebaliknya dia tidak tenang.

"Bagaimana dengan paman Jung?"

"Kau masih bertanya? Tetu saja dia setuju. Artinya Casey sudah meluluhkan hati pria tua itu." Hae Ji tertawa gembira. Kelegaan luar biasa. Kebahagiaan seorang wanita, itu yang dilihat Donghae, membuatnya ikut senang pada akhirnya.

0o0o0o0o0

Jungsoo kembali tanpa Jaejoong. Tangan kanannya itu tetap di Gwangju untuk menangani masalah disana. Entah beruntung, prihatin atau kasihan, tuan Choi bersedia membantu menjernihkan masalah. Dengan begitu Jungsoo bisa kembali ke Seoul sedikit lega.

Sesungguhnya dia tidak sendirian. Ada Siwon bersamanya. Awalnya pemuda tampan itu ragu untuk meminta ikut tapi lama-lama malah ngotot begitu melihat gelagat keberatan Jungsoo.

Siwon membawa beberapa baju, sesuatu yang membuat Jungsoo heran. Siwon bahkan tidak meminta ijin untuk menginap. Apa memang pemuda ini sekurang ajar itu, pikirnya.

"Masuklah. Aku sudah suruh ahjumma untuk menyiapkan kamar tidurmu." Jungsoo memberi perintah begitu mereka sampai di depan rumah.

"Anda tahu aku akan menginap?" mata Siwon membulat, membuat wajahnya terlihat konyol.

"Tas sebesar itu, memang apa isinya kalau bukan baju?" balas Jungsoo melirik tas menggembung di pangkuan Siwon.

Siwon meringis seraya menggaruk pipinya. Kemudian membuka sitbeltnya untuk turun. Begitu di luar dia heran mendapati Jungsoo tidak ikut turun. Sebaliknya mobil itu kembali hidup.

"Anda tidak ikut masuk?" tanya Siwon menempel di pintu mobil.

"Kau istirahat saja dulu. Aku harus pergi. Dengar, istirahat." Jungsoo mendikte dengan tegas. Sengaja Jungsoo tidak memberi tahu Siwon tentang Kyuhyun yang sedang dirawat. Perjalanan mereka jauh, setidakya Siwon beristirahat dulu sampai nanti Jungsoo menemukan waktu yang tepat untuk membawanya bertemu Kyuhyun. Karena memang Kyuhyun tujuan Siwon ikut.

0o0o0o0o0o0

Heechul melihat ponselnya berkedip menampilkan nomor tidak dikenal. Awalnya dia enggan mengangkat dan memilih mengabaikan. Namun kembali ponselnya menyala. Kali ini lebih lama. Heechul memutuskan menerima panggilan tersebut.

"Hallo." Sapanya waspada. Siapa tahu itu Jungsoo menggunakan nomor yang tidak terdaftar di listnya untuk menerornya. Heechul sudah berburuk sangka saja.

'Kim Heechul! Kau di Korea dan tidak memberi tahu aku?! Bagus sekali sikapmu, Kim!'

Itu suara Donghae. Heechul menarik sudut bibirnya. Merasa terhibur mendengar suara sang adik. "Kenapa? Apa aku perlu melapor?"

Donghae berdecak. Heechul tertawa. "Kudengar kau kecelakaan di tempat syuting?"

'Kau tahu kabar itu juga rupanya.'

"Tentu saja. Aku mengawasimu, Kim Donghae."

Donghae berdecak lagi, lebih keras. Heechul tertawa singkat.

'Jadi, kau tidak mau membicarakan kabar baik itu?' Donghae memancing.

Senyum Heechul melebar. "Hae Jin sudah mengabarimu? Sudah kuduga. Memang aku menunggu dia yang bicara padamu."

'Astaga. Kau sopan sekali Heechul.'

"Hey, aku ini yang lebih tua, Ikan!"

'Terserah!' balas Donghae malas. Mereka diam beberapa saat. Heechul memainkan penanya. Donghae menatap langit-langit kamarnya.

'Heechul hyung,'

"Heum?" Heechul melepas pensil. Memberi atensi penuh. Donghae yang memanggil nama Koreanya terlebih dengan embel-embel 'hyung' sangat jarang terjadi. Jika itu Donghae lakukan pasti ada sesuatu yang terjadi.

'Aku bertemu Kyuhyun.'

Tubuh Heechul menegang. "Donghae,"

'Dia membohongiku. Bersama Kibum, mereka membodohiku. Mempermainkan setiap usahaku.' Donghae menarik nafas panjang demi melepas sesaknya. 'Rasanya sangat sakit, hyung. Aku menantikan hari dimana bisa bertemu lagi dengannya, tapi bukan seperti ini. Apa pernah mereka berfikir tentang perasaanku? Apa pernah Kyuhyun mengingatku? Aku kakaknya, saudara berbagi setengah darah dengannya. Sampai dia bisa tega berbuat ini kepadaku.'

Heechul memegang kuat ponselnya mendengar isakan Donghae. Hal yang paling dia benci. Karena Kyuhyun. Sejak dulu karena anak itu. Donghae bersedih. Donghae menangis. Donghae merajuk. Apa-apa selalu Kyuhyun. Sejak Kyuhyun ada dunia Donghae berubah. Seolah hanya ada Kyuhyun di depannya. Membuat Heechul sakit hati.

"Apa yang kau tangisi, Donghae. Satupun dari mereka tidak ada yang pantas untuk air matamu. Sekarang kau hanya bisa mendengarkanku. Apa yang kukatakan tidak akan pernah berubah. Kita bukan siapa-siapa bagi mereka. Bahkan jika itu adalah Kyuhyun, anak yang lahir dari rahim ibumu, kau dan aku hanya orang asing. Kita disana karena berguna, hanya itu."

'Heechul hyung.' lirih Donghae.

"Jangan pikirkan apapun lagi. Kau sudah melihat kenyataannya. Maka tidak ada alasan lagi untuk menoleh ke belakang. Tidak ada siapapun disana. Hanya kau dan aku."

Donghae tidak menyahut. Heechul anggap adiknya paham akan ucapannya dan bisa patuh kali ini.

0o0o0o0o0

Jungsoo hampir meringis melihat wajah buruk adiknya. Kibum yang terlihat lelah dan kuyu saja sudah membuatnya mengeluarkan teguran. Sekarang melihat bungsunya dengan wajah lebih buruk, miris hatinya. Pucat, kering dan lebih tirus dari terakhir dia tinggal. Pantas Kibum jadi sekacau itu. Pasti tidak tidur karena merasa bersalah dan cemas.

Menurut apa yang dikatakan Kibum, mengutip penjelasan dokter Yoon, Kyuhyun mengalami stress. Berdampak buruk pada kesehatannya yang memang rentan. Tubuhnya lemah, tekanan darahnya turun drastis, dan kesadaran yang tenggelam. Kyuhyun akan bangun sesekali. Tapi tidak sepenuhnya sadar, dalam waktu yang singkat dan akan kembali tidur dengan mudah.

Kibum juga menjelaskan semua yang terjadi selama Jungsoo pergi ke Gwangju. Kibum sulit percaya jika selama ini Kyuhyun sering bertemu Donghae. Tapi jika itu Kyuhyun, rasanya tidak mustahil. Jungsoo sudah tahu hal itu, tidak begitu terkejut, sebaliknya dia mendengarkan serius reaksi Donghae yang dijelaskan Kibum.

Terbentuk kesalah pahaman. Itu yang membuat Kyuhyun stress. Ditambah dengan cerita Kibum tentang keburukan keluarga mereka.

Kyuhyun yang sakit, dalam masa pengobatan, seharusnya tidak boleh mendapati beban seperti ini. Tapi semua sudah terlanjur. Dokter Yoon yang menegur keras pun tidak akan memperbaiki keadaan pelik ini.

Kyuhyun membuka matanya, entah untuk yang keberapa kali. Namun jadi yang pertama di depan Jungsoo.

"Kyuhyunie." Jungsoo memanggil pelan. Memperhatikan mata Kyuhyun yang belum fokus. Dia menunggu sabar sambil mengusap lembut lengan adiknya. Memberi tahu Kyuhyun jika ada seseorang disana.

Kyuhyun mengerjap lagi dan lagi. Dia bisa merasakan usapan seseorang dan namanya yang dipanggil. Hingga dia mendapatkan fokusnya dan menyadari keberadaan Jungsoo.

"Kau bangun." ujar Jungsoo tenang seraya menekan tombol pemanggil. Dia mendekat, sedikit membungkuk dan melanjutkan usapannya agar perasaan Kyuhyun lebih nyaman.

Diam dan hanya menatap Jungsoo dengan lelah. Kyuhyun bahkan tidak berusaha membuka mulutnya. Mengeluh atau mengadu. Dia bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya, kepalanya yang berat dan lehernya yang kaku. Hanya sesekali alisnya bertaut saat perasaan tidak nyaman itu hadir. Jungsoo akan kembali mengelusnya seolah paham rasa sakit dan gelisahnya.

0o0o0o0o0o0

0o0o0o0o0

0o0o0o0

0o0o0

0o0

TBC

Thursday, March 2, 2017

9:02 PM

Friday, October 20, 2017

7:16 AM

Lama?

Siapa yang ingin mancal saya? Semuanya pasti.

Saya tidak punya alasan. Seperti saya yang tiba-tiba kehilangan otak begitu masuk ke ranah sosial. *buah! Bahasaya, jangan anggap serius.

Saya cuma nge-bleng. Anggap saja begitu.

Terima kasih dan mohon maaf.

Dan terima kasih kembali untuk yang sudah nanyain kapan update. Di PM. Di review. Terima kasih atas do'a dan perhatiannya yang sempet-sempetnya nanya apa saya baik-baik saja.

Iam fine! But, error.

Sampai jumpa di next chapters.

Sima Yu'I

(SY'I)