Chapter sebelumnya:

"Kau yakin kau hanya menyukainya?" tanya Gray. Natsu mengangguk.

"Aku rasa kau salah mengartikan perasaanmu sendiri, Pinky. Kau tahu perbedaan suka, sayang, dan…..cinta?" tanya Gray. Natsu ingin menjawab itu semua. Tapi ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Natsu pun terdiam.

"Kau tidak bisa menjawabnya? Kalau aku jadi kau, kalau aku ingin melindungi seseorang, perasaanku bukan hanya sekedar suka. Tapi kembali kedirimu sendiri. Itu adalah perasaanmu sendiri." jelas Gray sambil berjalan keluar dari loteng. Natsu masih terdiam. Natsu memikirkan apa yang dikatakan Gray.

'Perbedaan suka, sayang, dan cinta, hmm?' pikir Natsu. Ia pun mulai frustasi memikirkan perasaannya terhadap Lucy.


Sepulang sekolah, Lucy pulang bersama dengan Natsu yg membawa mobil. Saat diperjalanan, Lucy melihat Natsu tidak seperti biasanya.

"Natsu" panggil Lucy. Natsu diam, tidak merespon panggilan Lucy. Lucy hanya menaikkan alisnya.

"Nat-suu" panggil Lucy dengan suara yang lebih tinggi dari yang sebelumnya. Natsu kaget, langsung menoleh kearah Lucy.

"A—ada apa Lucy? kau tidak usah berteriak seperti itu, aku kaget" ucap Natsu

"Habis daritadi aku memanggilmu, tapi kau tidak sama sekali merespon panggilanku" sahut Lucy sambil memasang wajah cemberut. Natsu yang melihatnya hanya tersenyum.

"Ahaha gomen gomen. Ada apa Luce?" tanya Natsu, matanya tertuju kedepan, karena ia sedang mengendarai mobil.

"Kau kenapa Natsu? kau berbeda setelah kau tidak masuk kelas tadi. Dan kenapa kau membolos?" tanya Lucy. Natsu ingat dengan kata-kata Gray yang berada di atap sekolah.

"Ah—itu aku ketiduran di atap sekolah haha" sahut Natsu

"Benarkah?" tanya Lucy untuk memastikan. Natsu hanya mengangguk.

"Baiklah, jangan diulangi lagi. kita masih kelas 1, masa kau sudah membolos" nasehat Lucy.

"Iya-iya" sahut Natsu dengan santai


Sesampainya dirumah Lucy, Natsu tidak turun dari mobilnya dan langsung pamit.

Lucy masuk kedalam rumahnya, dan mendapati ayah ibunya sedang bersantai.

"Tadaima, ibu, ayah" sapa Lucy

"Okaeri, Lucy" balas detective Genzou

"Okaeriiiii~" sahut Layla sambil tersenyum

"Kau pulang dengan siapa? Dan bagaimana sekolahmu hari ini?" tanya detective Genzou

"Hmm pulang bersama Natsu, tapi dia bilang mau buru-buru pulang, jadi dia tidak mampir kerumah kita. Sekolah ya? Ya menyenangkan. Aku mendapatkan teman-teman yang menyenangkan" jelas Lucy sambil tersenyum riang. Ibunya yaitu tidak lain adalah Layla sangat lega bahwa Lucy bisa bergaul dengan murid-murid yang lainnya.

"Baik, istirahatlah. Ibu akan siapkan makan malam untuk kalian" ucap Layla sambil berjalan kedapur. Dan Lucy masuk kekamarnya.


Dirumah Sting,

Sting sedang duduk sambil menonton TV, dimana di TV tersebut sedang menjelaskan tentang perusahaan-perusahaan yang sedang berjaya. Sting terfokus dengan satu berita, yaitu perusahaan milik keluarga Dragneel. Perusahaan milik keluarga Dragneel tersebut sedang mengalami kemajuan yang pesat, mendapatkan keuntungan yang besar. Sting hanya bisa mengepalkan tangannya.

"Mereka bisa sukses begitu karena merebut apa yang bukan milik mereka, ugh menjijikkan" ucap Sting dengan nada dinginnya.

Tiba-tiba Minerva duduk disebelah Sting dan ikut menonton TV. Minerva tidak begitu heran dengan tontonan Sting. Sting merupakan anak yang cerdas dalam bidang apapun. Sting ikut program Home-Schooling saat orang tuanya meninggal. Karena keberadaannya tidak ingin diketahui halayak banyak. Terkadang Minerva kasihan dengan Sting, karena peristiwa orangtuanya meninggal, masa muda Sting menjadi terganggu. Sting tidak bisa bergaul dengan anak-anak yang seumuran dengannya. Sting hanya bisa bermain dengan barang-barang yang ia belikan, seperti laptop, mp4, tablet. Tetapi saat Minerva melihat mata Sting yang berbinar-binar saat bertemu dengan gadis berambut pirang yang sangat Sting puja, ia mengalah. Ia mengalah untuk menahan Sting untuk tidak menemui gadis itu lagi.

"O-ba-chaaan" panggil Sting

"Ah—ada apa Sting-kun?" sahut Minerva, panggilan Sting membuat lamunan Minerva menjadi buyar.

"Kau melamun" ucap Sting. Sting menyadari bahwa Minerva yang duduk disebelahnya bukan menonton TV tetapi malah melamun, memikirkan sesuatu hal.

"Ahaha ya sudah ya, aku akan siapkan makan malam untukmu." Minerva bangkit dari duduknya.

"Kalau ada yang menjanggal, ungkapkan saja padaku oba-chan, aku tidak akan marah" ucap Sting tanpa menoleh kearah Minerva. Minerva hanya tersenyum.

"Ya" jawab Minerva. Minerva tahu, dibalik sifat Sting yang keras, pendendam, pemarah terdapat sifat baik, sifat dimana ia menjadi lembut pada orang yang dia sayangi.


Dirumah Natsu,

Natsu sudah berada dikamarnya, ia berbaring terlentang dengan masih menggunakan seragam sekolahnya. Ia memikirkan kata-kata dari Gray.

"Bagaimana bisa orang seperti si mesum itu menasehatiku dengan gaya yang cool seperti tadi, Ugh" gerutu Natsu.

"Kau tahu perbedaan suka, sayang, dan…..cinta?" tanya Gray. Pertanyaan itu selalu terngiang-ngiang dalam ingatan Natsu.

"Sial!" ucap Natsu dengan frustasi.

'Suka? Sayang? Cinta? Apa anak seumuranku sudah harus memikirkan hal menyusahkan seperti itu' pikir Natsu.

'Tapi aku menyukainya' pikir Natsu. Natsu merasa pusing dan sangat sangat frustasi memikirkan apa yang dibicarakan Gray. Dan lagi-lagi Natsu jatuh dalam kefrustasian.


Keesokkan paginya,

Lucy bangun dengan pelan-pelan, karena ia merasa badannya tidak enak. kepalanya pusing dan ia merasa seluruh tubuhnya panas. ia menoleh kearah jam wekernya, sudah menunjukkan jam setengah enam pagi. Lucy tidak peduli dengan kondisinya, Lucy bergegas untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat. Selesai mandi, ia memakai seragam sekolahnya. Ia menyisir rambutnya dengan rapi dan menguncirnya dengan gaya ponytail. Ia melihat tampilan dirinya dicermin.

'Ayo semangat, Lucy.' pikir Lucy.

Setelah siap, Lucy keluar dari kamarnya dan ikut sarapan dengan ayah dan ibunya.

Dirumah Natsu,

Natsu baru bangun dan saat ia melihat jamnya sudah menunjukkan jam enam lewat lima belas menit. ia segera bergegas bangun untuk mandi dan bersiap berangkat kesekolah.

"Apakah aku keburu untuk menjemput Lucy dirumahnya, Sial aku telat bangun" gerutu Natsu.

Disaat Natsu sedang memakai sepatu, Wendy masuk kedalam kamarnya. Natsu kaget.

"He, ada apa kau kekamarku? Aku sudah telat" ucap Natsu

"Setidaknya kau mengucapkan selamat pagi pada adikmu" gerutu Wendy

"Ah—Ohayou, imouto" sapa Natsu sambil mengelus kepala Wendy. Wendy tersenyum.

"Baiklah, sekarang ada apa kau kekamarku?" tanya Natsu sambil merundukkan badannya sehingga setara dengan tinggi Wendy.

"Begini, aku punya hadiah untuk Lucy-nee dan Natsu-nii" ucap Wendy sambil memberikan kantung kecil berpita berwarna merah. Natsu bingung.

"Apa ini, Wendy?" tanya Natsu sambil membuka kantung itu. Saat sesudah membuka kantung itu, dilihatnya didalamnya terdapat dua buah gantungan ponsel. Natsu mengeluarkan keduanya.

"Kau memberikan kami ini? Arigatou Wendy, aku akan memberikan kepadanya" ucap Natsu sambil tersenyum kepada adiknya. Wendy hanya menganggukkan kepalanya.

"Yosh, aku harus berangkat, aku sudah telat untuk menjemput Lucy. Jaa nee, Wendy" pamit Natsu. Natsu meninggalkan kamarnya dan berlari turun untuk berangkat kesekolah.


Sesampainya dirumah Lucy, Natsu turun dari mobilnya dengan buru-buru. Ia mengetuk pintu rumah Lucy. keluarlah detective Genzou.

"Ohayou Genzou-san, apa Lucy masih ada dirumah?" sapa Natsu sambil menanyakan keberadaan Lucy.

"O—ohayou, Natsu. eh? Lucy sudah berangkat tadi. Katanya ia ada tugas piket hari ini" jelas detective Genzou. Natsu menjadi muram.

'Aku telat' ucap Natsu dalam hati

"Hahaha sayang sekali kau tidak bisa bersamanya pagi ini" goda detective Genzou.

"Urusaaai, Genzou-san. Baiklah aku akan berangkat sekarang. Ittekimasu" pamit Natsu.


Disekolah, Lucy sudah berada dikelasnya bersama dengan teman piketnya. Ia mengganti bunga dan menulis tanggal dipapan tulis. Setelah selesai, ia duduk ditempatnya menunggu kehadiran siswa-siswa lainnya. ia merasa seluruh tubuhnya panas dan juga pusing.

Natsu memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil. Saat keluar dari mobil ia melihat Lisanna yang keluar dari mobilnya.

"Lisssannaa" panggil Natsu sambil melambaikan tangannya. Lisanna hanya tersenyum dan berjalan menghampiri Natsu.

"Ohayou, Natsu" sapa Lisanna

"Ohayou, Lis. Ayo kita kekelas bersama" ajak Natsu. Lisanna hanya mengangguk. Lisanna menjadi teringat saat di sekolah dasar, mereka berdua sering berjalan bersama menuju kekelas dengan berpegangan tangan. Tapi sekarang berbeda, mereka memang berjalan bersama, tetapi hanya sebatas berjalan dan mengobrol. Tidak ada pegangan tangan.

Sesampainya dikelas, Natsu melihat Lucy yang sudah duduk dikursinya sambil menelungkupkan kepalanya, Natsu dengan cepat menaruh tasnya dikursinya dan menghampiri Lucy.

"Ohayou, Luce" sapa Natsu sambil nyengir.

"Ah—ohayou, Natsu. Lisanna" sahut Lucy sambil menengadahkan kepalanya.

'Mereka berangkat sekolah bersama-sama?' tanya Lucy dalam hati.

"Aku kerumahmu tadi, aku pikir kau belum berangkat, ternyata kau sudah berangkat. Dan lebih menyebalkannya lagi aku ditertawakan oleh ayahmu" jelas Natsu sambil cemberut. Lucy tertawa, Lisanna yang mendengarnya juga tertawa.

"Kau harus memasang alarm, Natsu. agar kau tidak telat bangun" saran Lucy. Lisanna tertawa mendengar saran dari Lucy.

"Kau tau Lucy, seberapa banyak alarm yang dia pasang, dia tidak akan mendengarnya. Dia itu seperti orang mati kalau tidur" jelas Lisanna membuat Natsu makin jengkel.

Lucy dan Lisanna hanya tertawa.

Erza dan Levy menghampiri Natsu, Lucy dan Lisanna yang sedang bercanda.

"Ohayooouu minnaaaa" sapa Levy dengan riang.

"Ohayou, Lucy, Natsu, Lisanna" sapa Erza.

"Ohayou Levy-chan, Erza" sahut Lucy

"Ohayou, Levy, Er-Erza" sahut Natsu dengan nada yang gugup. karena dia mengingat kejadian kemarin, dimana Erza sangat menakutkan.

"Ohayoooouuu~" sahut Lisanna

Dikelas mereka sudah penuh dengan siswa-siswa yang sudah datang. Bel tanda masuk pun berbunyi, semua siswa duduk dikursinya masing-masing. Tiba-tiba rasa pusing yang dirasakan oleh Lucy makin parah dan juga ditambah dengan panas badannya, sehingga Lucy tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik.


SKIP TIME

Waktu istirahat pun tiba, siswa-siswa berhamburan keluar dari kelas. Gray keluar dari kelasnya, saat berjalan melewati kelas Lucy ia samar-samar mendengar percakapan teman-temannya.

'Ada apa ya' pikir Gray

"Kau kenapa Lu-chan? Kau sakit? Wajahmu sangat pucat" ucap Levy.

'Eh? Lucy sakit?' pikir Gray. Ia langsung masuk kedalam kelas Lucy. dilihatnya teman-temannya sudah berada disekitar Lucy. Gray menghampiri mereka.

"Tidak apa-apa Levy-chan, Daijoubu" respon Lucy. Lucy mencoba berdiri dan tiba-tiba dia tidak bisa menyeimbangkan badannya. Ia terlalu pusing untuk melihat sekelilingnya. Lucy terjatuh. Natsu dengan sigap menangkap tubuh Lucy.

"Luce, kau tidak apa-apa?" tanya Natsu sambil mendekatkan dahinya ke dahi Lucy. Natsu terkejut.

'Suhu badannya tinggi' pikir Natsu. Natsu melihat sekelilingnya, dan ia menyadari kehadiran Gray.

"Gray bantu aku, ayo bawa Lucy ke UKS, suhu badannya sangat tinggi" ucap Natsu. Gray terperangah. Apa ia tidak salah dengar. Natsu memanggilnya dengan nama aslinya?

"Oh demi tuhan, Gray. Cepatlah" ucap Natsu sambil menggendong Lucy ala bridal style. Gray berjalan dibelakang Natsu. Erza, Levy, Lisanna saling pandang.

"Apa Natsu baru saja memanggil Gray dengan nama aslinya? Aku tidak percaya" ucap Levy. Gajeel yang berdiri disamping Levy hanya mengangguk.

Erza hanya tersenyum.

"Setidaknya ada peningkatan dengan hubungan mereka, benarkan Erza?" ucap Lisanna.

"Ya, itu benar" sahut Erza.


Diruang UKS,

Natsu membaringkan Lucy di tempat tidur yang tersedia di UKS. Gray memanggilkan suster yang berada di UKS untuk memeriksa Lucy. Mereka berdua sangat khawatir dengan Lucy. Lucy mengeluarkan keringat banyak, napasnya terengah-engah. Suster memeriksa keadaan Lucy, suster tersebut menyuruh Natsu untuk mengambil thermometer untuk mengetahui suhu tubuh Lucy sekarang. Natsu mencari dan menemukan thermometer tersebut lalu memberikannya ke suster tersebut. Suster tersebut meminta tolong pada Gray untuk mengambilkan tisu untuk mengelap keringat Lucy. Gray mengambil tisu dan memberikannya kepada suster tersebut.

"Namanya siapa?" tanya suster tersebut

"Lucy" jawab Natsu

Suster tersebut bangkit dari duduknya dan mencari obat penurun panas untuk Lucy dan juga air mineral. Setelah itu suster tersebut menghampiri Lucy yang sedang berbaring.

"Lucy, apa kau bisa membuka matamu sejenak? Kau harus minum obat dulu. Ayo" bujuk suster tersebut.

Natsu dan Gray melihat Lucy, Lucy mulai membuka matanya, dan berusaha bangkit duduk untuk minum obat. Natsu dan Gray yang melihat itu semua berusaha membantu Lucy duduk dan meminum obatnya. Setelah Lucy meminum obatnya, Lucy kembali berbaring dan ia beristirahat.

Gray dan Natsu masih memperhatikan Lucy dengan cemas. Suster tersebut menyadari hal itu.

"Baiklah, siapa yang disini teman sekelasnya?" tanya suster tersebut

Natsu menunjuk dirinya sendiri. Suster tersebut menulis surat izin untuk guru dikelas Lucy.

"Bawalah ini ke kelasmu, dan beritahu kepada guru, temanmu ini tidak bisa ikut pelajaran karena sakit" jelas suster tersebut. Natsu mengerti langsung melesat kekelasnya.

"Aku berada diruang sebelah, kalau ia sudah bangun atau butuh bantuanku, panggil aku ya" ucap suster tersebut kepada Gray. Gray hanya mengangguk.

Suster tersebut memandangi Gray lalu tersenyum.

'Cinta segitiga, hmm?' pikirnya. Lalu ia berjalan keluar UKS.

Gray mencoba untuk menggenggam tangan Lucy.

"Kau tahu, aku sangat khawatir. Dan si pinky itu terlihat lebih khawatir melebihi diriku . Jadi cepatlah sembuh" ucap Gray yang masih mengenggam tangan Lucy.

Natsu masuk keruang UKS lagi, ia mendapati Gray sedang menggengam tangan Lucy.

"Bisa kau jauhkan tanganmu darinya, mesum?" ucap Natsu. Gray masih tetap menggenggam tangan Lucy.

"Oh ayolah, jangan membuat diriku memukulmu disini, mesum" mohon Natsu yang sekarang duduk berhadapan denngan Gray. Gray hanya tertawa pelan dan melepaskan genggamannya.

"Kau sangat mengkhawatirkannya, Pinky? Sangat terlihat dari wajahmu yang kacau itu" ucap Gray

"Ya sangat. Aku baru melihat dia seperti ini, jadi aku mohon kau jangan membuatku kesal dengan kelakuanmu yang memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan hal yang tidak-tidak pada Lucy" ucap Natsu. Gray hanya bersweatdrop.

'Siapa yang mau melakukan hal yang tidak-tidak dalam keadaan seperti ini' ucap Gray dalam hati.

"Baiklah, aku akan kembali kekelas" ucap Gray sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Lucy pada Natsu. Natsu memperhatikan wajah Lucy yang sedang tidur. Ia benar-benar khawatir dengan kondisi Lucy. Hatinya berdebar-debar.

'Cepat sembuh, Luce' ucap Natsu dalam hati.


Beberapa jam kemudian bel pulang berbunyi. Lucy sudah bangun dari tidurnya. Levy, Erza, Gray dan Lisanna datang ke UKS sambil membawakan tas dan barang-barang Lucy dan Natsu yang tertinggal dikelas.

"Lu-chan, gimana keadaanmu?" tanya Levy dengan kecemasan yang sangat terpancar diwajahnya.

"Sudah mendingan, panasnya juga sudah turun." Jelas Natsu.

"Iya hanya masih lemas saja" tambah Lucy sambil berusaha tersenyum.

"Cepat sembuh, Lu-chan" ucap Levy

"Get well soon, Lucy" ucap Lisanna

"Cepatlah sembuh, Lucy. orang-orang banyak yang mengkhawatirkanmu" ucap Erza sambil melirik kearah Natsu dan Gray. Natsu dan Gray hanya mengalihkan pandangannya ke lain arah untuk menyembunyikan semburat merah yang muncul dipipi mereka berdua. Erza tersenyum.

"Arigatou, Minnaa" sahut Lucy sambil tersenyum.

Setelah mengobrol diruang UKS, Levy, Erza, Gray, dan Lisanna pamit pulang duluan. Natsu membantu Lucy untuk berjalan. Natsu akan mengantar Lucy sampai kerumah, bahkan sampai kekamarnya.

Sesampainya diparkiran, Lucy masuk kedalam mobil begitupun dengan Natsu.

"Luce, kau tidurlah. Nanti kalau sudah sampai rumahmu, akan aku bangunkan" saran Natsu. Lucy hanya mengangguk.

Diperjalanan menuju rumah Lucy, Lucy hanya tidur.


Skip diperjalanan~

Sesampainya dirumah Lucy, Natsu tidak berani membangunkan Lucy. ia keluar dari mobilnya, dan mengetuk pintu rumah Lucy. dan keluarlah ibu Lucy yaitu Layla.

"Eh Natsu? Lucy belum pulang—" ucap Layla yang terpotong oleh perkataan Natsu.

"Lucy ada dimobilku, dia jatuh sakit saat disekolah tadi, dan ia sedang tidur sekarang. aku mau meminta bantuanmu, Layla-san. Mari" ajak Natsu. mereka berdua berjalan ke mobil Natsu.

Natsu menggendong Lucy dengan Bridal Style. Layla membantu untuk membawakan barang-barang Lucy dan mengikuti Natsu dari belakang.

"Sayang… sayaaaang, bantu Natsu. Lucy sakit" panggil Layla kepada detective Genzou.

Detective Genzou langsung keluar dari kamarnya, dan melihat Natsu sedang membopong Lucy. detective Genzou membukakan pintu kamar Lucy agar Natsu bisa langsung membaringkan Lucy ditempat tidurnya. Setelah selesai, Natsu keluar dari kamar Lucy. dan selanjutnya diurus oleh Layla.

Natsu duduk diruang tamu bersama detective Genzou.

"Kenapa Lucy bisa begitu, Natsu?" tanya detective Genzou

"Aku juga tidak tahu, pada saat jam istirahat, kami semua ingin mengajaknya makan dikantin. Aku dan teman-teman melihat Lucy yang hanya menelungkupkan kepalanya dimeja. Saat kami lihat, wajah Lucy sangat pucat. Dan ia memaksakan dirinya untuk berdiri. Akhirnya aku membawanya ke UKS. Suhu badannya sangat tinggi, Genzou-san" jelas Natsu. detective Genzou hanya mendengarkan dengan seksama.

"Baiklah, terimakasih sudah mengantar Lucy. bagaimana kalau kau makan dulu disini? Layla sudah menyiapkan makanan" ajak detective Genzou. Natsu yang kebetulan lapar, jadi ia meng-iyakan ajakan detective Genzou. mereka berjalan menuju ruang makan dan makan bersama.

Selesainya Natsu makan bersama Layla dan detective Genzou, Natsu meminta izin untuk menengok Lucy dikamarnya sebelum pamit pulang. dan detective Genzou mengizinkannya. Natsu masuk kekamar Lucy dan duduk disamping Lucy. Natsu memperhatikan Lucy yang sedang tidur. Natsu membelai rambut Lucy.

"Lucy..." panggil Natsu dengan pelan. merasakan ada yang menyentuh rambutnya, Lucy pun membuka matanya. dan melihat Natsu sedang duduk didekatnya.

"Nat-su.." sahut Lucy dengan lemah. Lucy mencoba untuk duduk dan Natsu membantunya.

"Bagaimana keadaanmu? sudah baikkan?" tanya Natsu.

"Yaa seperti yang kau lihat hehe" jawab Lucy sambil tersenyum.

"Cepatlah sembuh, Luce. agar kita bisa bermain lagi" ucap Natsu sambil memegang tangan Lucy. Lucy gugup karena Natsu tiba-tiba memegang tangannya dan menatap matanya. dan semburat merah muncul di pipi Lucy dan Natsu. Natsu membiarkan Lucy melihat mukanya memerah dan juga sebaliknya. Lucy tersenyum dan mengangguk.

'Sial! Lucy manis sekali' pikir Natsu.

"Kau harus percaya padaku, aku akan baik-baik saja, Natsu. aku hanya perlu istirahat" jelas Lucy yang tidak melepaskan senyumannya dari wajahnya yang pucat.

"Baiklah, aku percaya itu" sahut Natsu sambil memberikan cengiran khasnya ke Lucy. Lucy melihat jam. sudah menunjukkan pukul 6 sore.

"Natsu, kau tidak pulang?" tanya Lucy. Natsu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6.

"Oh ya. sudah jam segini. Baiklah, aku akan pulang. Besok aku akan menjengukmu. Oke" ucap Natsu sambil bangkit dari tempat tidur Lucy.

"Oke. hati-hati, Natsu" sahut Lucy.

Natsu keluar dari kamar Lucy dan berpamitan dengan Layla dan juga detective Genzou. Sesampainya dimobil, Natsu melihat kantung kecil berpita merah. dan ia baru ingat itu adalah hadiah yang diberikan dari Wendy untuknya dan juga Lucy. Natsu membuka kantung tersebut dan melihat isinya. ia keluar dari mobil dengan membawa kantung yang berpita tersebut.

Layla dan detective Genzou yang sedang berada dikamar Lucy kaget saat melihat Natsu masih berada dirumah mereka.

"Hmm permisi, aku lupa memberikan Lucy sesuatu hehe" ucap Natsu sambil cengar-cengir. detective Genzou dan Layla segera keluar dari kamar Lucy. Natsu segera menghampiri Lucy.

"Luce, aku ingin memberikan ini. Sebenarnya ini dari Wendy. dia menitipkannya padaku" ucap Natsu sambil menyodorkan kantung yang dibawanya.

Lucy menerima kantung itu dan membukanya. ia melihat dua gantungan ponsel. yang satu bergambar kunci dan yang satu bergambar gembok. Lucy meenatapnya dengan bingung.

"Ini—" ucapan Lucy dipotong oleh Natsu.

"Begini, dua gantungan ini, satu untukku dan satu lagi untukmu, Luce" jelas Natsu.

"Oh begitu" sahut Lucy sambil melihat gantungan ponsel itu dan memilih gantungan ponsel yang bergambar gembok. setelah itu, Lucy meraih ponselnya yang berada dikantungnya, dan memasang gantungan ponsel tersebut ke ponselnya. Lucy menyodorkan gantungan ponsel yang satunya kepada Natsu.

"Kau tidak memakainya? itu kan dari adikmu" tanya Lucy

"Ya aku menunggumu hehe" sahut Natsu sambil menerima gantungan ponsel yang bergambar kunci. Natsu memasangnya diponselnya dan memamerkannya ke Lucy. Lucy pun juga begitu dan mereka tertawa.

Diluar kamar Lucy, detective Genzou dan Layla memperhatikan Natsu dan Lucy yang sedang tertawa.

"Semoga hubungan mereka selalu baik seperti itu ya, sayang" ucap Layla sambil tersenyum bahagia melihat putrinya sedang tertawa.

"Ya aku harap begitu" sahut detective Genzou


Dirumah Natsu,

Igneel sedang berbicara dengan seseorang, seseorang itu adalah asistennya. Yang bernama Houston. Pria ini masih muda, umurnya sekitar 21 tahun.

"Igneel-sama, aku mendapat laporan dari anak buahku, kalau anak tunggal dari keluarga Eucliffe masih hidup." Ucapnya.

"APA!" ucap Igneel dengan nada tinggi karena ia kaget mendengar laporan itu.

"Cari dia, dan bawa dia kehadapanku" lanjut Igneel sambil memandang keluar jendela.

"Baik, Igneel-sama" ucap Houston. Houston keluar dari ruang kerja Igneel sambil tersenyum.


Dirumah Sting,

Sting sedang mengotak-atik ponsel yang berada ditangannya. bukan hanya mengotak-atik, tapi ia sedang menulis email untuk seseorang.

'Bagaimana? Rencanamu sukses?'

Seseorang disana membalas smsnya,

'Sukses, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat. Eucliffe-san'

Membaca kalimat tersebut, membuat hati Sting lega. Apa yang telah direncanakan oleh Sting berjalan dengan lancar. Sting tersenyum puas.

To Be Continued

Baiklah, ini dia chapter barunya. hmmm sepertinya aneh ya? gomeeeen-_-.

Jadi apa yang direncanakan oleh Sting ya?

Mohon reviewnya yaaa~~


Revieeew~

yodontknow : Iya , saya update cepat karena selama 3 bulan kedepan nanti, tidak bisa update terlalu cepat seperti sekarang. ini chapter barunyaaaa. silahkan dibaca ;)

pidachan99: Disini Gray itu termasuk yang pemikirannya normal dalam arti kata dia bisa berpikir dengan jernih gak kaya Natsu, sampe sekarang aja belom tau perasaannya ama Lucy-_- haha ini sudah update. silahkan~

L Melda H : Memang menyebalkan tapi dia ganteng*_* #plak, sudah update ayo dibacaaa~

Ayane75 : Terima kasiiiih atas saran, ide dan juga sudah ngefans dengan fanfic ini hihi. ini dia chapter terbarunyaaa. silahkaaan

Saitou asuka : Hmm kapan ya? saya belum mau mempersatukan Natsu dan Lucy sebagai kekasih sih. jadi "Nanti"-nya itu belum tahu kapan hehehe. perbedaannya? hmm baca chapter-chapter selanjutnya deh. nanti bakalan ada yang jelasin hihi

Angel Ran : Hmm dengan cara apa ya? saya juga bingung haha. ya semoga saja Natsu cepat sadar dan pemikirannya tidak bolot lagi hihi

Guest : Ini sudah lanjut~


Baiklah, sudah dibalas semua reviewnya

Jadi... tunggu chapter selanjutnya yaaaaa:)