Chap 20
Saat matahari mulai menampakkan dirinya, saat itu pula Wonwoo pergi meninggalkan apartementnya. Pria manis itu terlihat lebih kurus lagi setelah satu minggu yang lalu perusahaan barunya resmi. Ia terus mencari karyawan terbaiknya. Bahkan, Jihoon, sahabatnya saat bekerja di Gyuwon pun rela membuat surat pengunduran diri dari Gyuwon, dan bekerja bersama sahabatnya. Begitu pula dengan Junhui, lelaki Chinese yang bekerja di Yoomin mengundurkan diri karena perintah Mingyu, dan dengan senang hati ia bekerja bersama dengan Wonwoo, bahkan ia mengajak kekasihnya, Minghao yang sudah tinggal di Korea, bekerja bersama Wonwoo. Wonwoo benar-benar berterima kasih kepada ketiga orang tersebut dan tentunya kepada kekasihnya yang sudah membantunya mencari karyawan terbaiknya.
Wonwoo semakin sibuk, apalagi kantornya sudah mempunyai investor dari salah satu perusahaan besar. Wonwoo juga sudah resmi menjadi CEO muda dari Pledis, dan dunia sudah mengakuinya. Begitu Pledis jatuh ditangan Wonwoo, perusahaan yang awalnya tidak terlalu besar tersebut, kini namanya mulai meroket di kancah dunia perbisnisan. Walau masih belum sebanding dengan Yoomin dan Gyuwon. Bahkan ada beberapa client yang memutuskan kontrak dengan Yoomin dan beralih menjadi client Pledis. Bahkan Pledis sudah mulai melebarkan sayapnya ke luar Asia. Di Eropa, Wonwoo memiliki investor yang sangat penting, ia bekerja sama dengan sebuah perusahaan manufaktur senjata yaitu Thales, untuk pertama kalinya, Wonwoo mendapat investor di bidang persenjataan, tetapi itulah yang membuat Wonwoo senang. Wonwoo berambisi untuk meluaskan perusahaannya di berbagai bidang,termasuk bidang manufaktur. Di Amerika, Wonwoo dapat dengan mudah bekerja sama dengan perusahaan migas yang terkenal, Chevron. Wonwoo bersyukur karena Jae Hyun dan Kim Ahjussi memiliki banyak akses agar bisa mendapatkan client di perusahaan besar dengan mudah. Perusahaan-perusahaan besar tersebut memang ingin bekerja sama dengan Wonwoo karena mengetahui jika Wonwoo memiliki otak yang cemerlang. Sebenarnya, Wonwoo ingin berkeja sama dengan Mingyu, karena apapun juga, otak Mingyu lebih unggul menurutnya. Sebagian besar client yang bekerja sama dengan Gyuwon adalah orang-orang yang ingin perusahaannya dapat memiliki strategi pemasaran yang baik, karena otak yang dimiliki Mingyu, banyak yang ingin menjalin hubungan baik dan mengajak bekerja sama dengan Gyuwon. Tetapi, Wonwoo harus menunggu hingga Mingyu memiliki perusahaannya sendiri, perusahaan yang Mingyu bangun dengan jerih payahnya sendiri, sama sepertinya.
Wonwoo kembali berkutat dengan berkas-berkas dihadapannya. Wonwoo berada di perusahaan barunya, duduk di kursi CEO sambil menandatangani berkas dan menerima telepon. Wonwoo mempercayai keluarga Jisoo untuk memegang Pledis. Wonwoo menerima telepon yang kesekian kalinya, tetapi itu adalah telepon yang sepertinya membuat Wonwoo tidak senang. Wonwoo langsung membeku mendengar suara di seberang sana. Jantungnya seperti berhenti berdegup. Ia sulit untuk menghirup udara.
"Kau…" sebenarnya orang diseberang sana hanya mengatakan satu kata tersebut. Wonwoo bukan takut, ia hanya shock mendengar suara ayahnya yang sudah lama tidak bertemu bahkan ia belum mendengar suaranya semenjak kejadian dua minggu yang lalu, sejak ia memutuskan untuk memberi tahu jika ia benar-benar akan menikah dengan Mingyu dan ia telah mengambil alih Pledis.
"Ada apa?" Wonwoo dapat mengontrol suaranya.
"Kau sudah puas dengan semuanya sekarang?" geram Jin Woo dari seberang sana.
"Belum" jawab Wonwoo datar.
"Kau belum puas sudah mengambil client pentingku?"
"Kau belum puas setelah kau menghancurkan bisnisku?" diseberang sana, terdengar Jin Woo berteriak.
"Lihat saja, aku akan menyerang perusahaanmu, aku tidak peduli jika kau anakku" ucap Jin Woo dengan nada marahnya.
"Aku tidak takut dengan gertakanmu" Wonwoo menjawab dengan datar.
"Itu bukan sebuah gertakan, aku sungguh-sungguh dengan ucapanku" Jin Woo kembali berteriak marah.
"Yaa terserah kau saja appa, aku tidak akan takut dengan gertakanmu, aku tidak akan mundur dengan tindakanmu itu, aku akan melawannya" ucap Wonwoo dingin tapi mantap. Terdengar Jin Woo menggeram tertahan dari ujung telepon.
"Dan satu lagi, aku tidak akan puas sebelum ayahku mendukung keputusanku dengan Mingyu" ucap Wonwoo menusuk.
"Dan itu tidak akan terjadi" Jin Woo tertawa meremehkan di balik telepon.
"Hanya waktu yang akan menjawabnya, kau tidak dapat menentang takdir" ujar Wonwoo.
"Sialan! Lihat saja, aku benar-benar akan membuatmu menyesal Jeon" ancam Jin Woo.
"Sayangnya aku tidak akan menyesal karena hal bodoh yang dapat membuat hidupku hancur hanya karena tindakanmu, justru kau yang akan menyesal. Maaf, aku sudah tidak bisa berbicara denganmu appa, aku memiliki meeting dengan investor baruku" ujar Wonwoo dan segera menutup sambungannya. Wonwoo segera mengenakan jasnya, dan pergi dari ruangannya menuju kantor perusahaan elektronik terkenal di Korea Selatan, LG. Wonwoo dapat dengan mudah membuat perusahaan itu jatuh hati dengan kecerdasannya.
Wonwoo bergegas saat waktu menunjukkan pukul satu siang. Wonwoo tidak mencemaskan tentang ancaman ayahnya tentang penyerangan, karena mungkin itu hanya sebuah ancaman. Tetapi, jika ayahnya benar-benar melakukan penyerangan itu, Wonwoo bahkan tidak peduli. Tentu saja, gerbang perusahaan miliknya adalah gerbang yang terbuat dari baja. Diluar dan didalam gerbangpun terdapat sistem keamanan yang sangat tinggi. Tidak sembarang orang bisa masuk. Dan tidak lupa, Wonwoo memasangkan kaca anti peluru diseluruh ruangan, karena Wonwoo teringat ketika Yoomin mendapat serangan dari para perampok beberapa tahun silam, jadi ia membuat sistem keamanan sesempurna mungkin.
.
.
.
Mingyu melonggarkan dasinya setelah lelah duduk berjam-jam hanya untuk mengecek berkas-berkas yang ada dimejanya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pemuda itu berjalan mendekati kaca untuk melihat kondisi diluar sana. Rintik-rintik air hujan mulai turun membasahi bumi. Para manusia segera berlari-lari kecil untuk melindungi diri dari rintik hujan yang semakin lama, semakin deras. Mingyu melihat ponselnya yang sedang ia genggam. Satu jam yang lalu, kekasih manisnya menghubungi dirinya karena ia sedang sibuk dan ada beberapa meeting yang harus ia temui. Mingyu merindukan sosok kurus itu. Ia merindukannya. Entahlah, semenjak dia sudah mantap akan mengambil uang tabungan yang ia miliki untuk menyusul kekasihnya membangun sebuah perusahaan baru, seperti apa yang kekasihnya minta. Mingyu sengaja tidak memberi tahu ayahnya,karena mungkin ayahnya sudah membaca berita yang sangat panas dikalangan para pengusaha. Berita kekasihnya sendiri yang dituduh melakukan pengkhianatan kepada ayahnya sendiri. Maka dari itu, Mingyu sengaja akan membangun diam-diam, dan tidak ingin menanggung resiko jika ia harus meminta sahamnya, pasti ayahnya akan menolak mentah-mentah jika ayahnya membaca hot topic seminggu ini, dan ayahnya pasti akan mencabut semua rekeningku agar aku tidak dapat membangun perusahaanku sendiri.
Sebenarnya aku ingin segera membangunnya,karena Wonwoo, karena kekasihnya memintanya. Mingyu tahu alas an Wonwoo menyuruhnya untuk membangun perusahaannya sendiri, alasannya karena Wonwoo ingin Mingyu mandiri, dan tidak harus bergantung pada bayang-bayang perusahaan ayahnya. Lagipula, memang itu yang menjadi tujuan Mingyu sejak lama, ia ingin memiliki perusahaannya sendiri, perusahaan yang dihasilkan dari jerih payahnya selama ini.
Mingyu tersenyum kecil. Saat ia bilang jika ia akan menghadiahkan sebuah perusahaan baru atas kado pernikahannya dengan Wonwoo nanti, itu bukan sebuah candaan, itu adalah niat Mingyu. Ia ingin Wonwoo tahu, jika ia memang bersungguh-sungguh dengan cintanya. Mingyu bersungguh-sungguh akan menginvestasikan seluruh hatinya untuk Wonwoo. Mingyu tidak peduli jika Wonwoo menganggap perusahaan itu hanya sebuah candaan, yang penting Mingyu sudah berjanji pada dirinya sendiri.
Mingyu menoleh ketika ayahnya masuk kedalam ruangannya. Min Woo mendekati Mingyu yang sedang termenung didekat jendela. Mingyu segera memasukkan ponselnya kedalam saku celana. Min Woo ikut melirik kearah jendela.
"Apa ada client lagi? Jika ya, saat ini aku tidak bisa appa, badanku sudah remuk karena duduk berjam-jam hanya untuk mengecek dan menandatangani semua berkas itu" keluh Mingyu, ayahnya terkekeh mendengar keluhan putra semata wayangnya itu.
"Tidak, tidak ada client ataupun meeting untuk hari ini, mungkin lusa" Mingyu memasang wajah malasnya.
"Tenang saja, appa yang akan menghadirinya, kau bisa beristirahat" wajah Mingyu kembali menjadi cerah.
"Syukurlah jika appa mengerti" ujar Mingyu dan dibalas kekehan oleh ayahnya.
Ruangan itu hening, hanya terdengar suara hujan yang jatuh membasahi bumi dan suara penghangat ruangan yang berada di ruangan itu. Mingyu terdiam, tidak ingin membuka percakapan. Mingyu tahu jika ada sesuatu yang ingin ayahnya itu bicarakan.
"Ekhem…" tebakan Mingyu benar, ayahnya ingin membicarakan sesuatu. Suara deheman tadi pertanda jika Min Woo akan membuka percakapan, hanya sekedar basa-basi saja. Mingyu menunggu ayahnya berbicara.
"Kau sudah benar-benar tidak berhubungan dengan anak itu kan?"
Mingyu tau siapa yang dimaksud dengan anak itu. Siapa lagi jika bukan Wonwoo. Mingyu sedikit tercekat saat mendengar pertanyaan tersebut. Untung saja, Mingyu dapat mengendalikan dirinya.
"Maksud appa?" Mingyu cocok menjadi seorang aktor. Mingyu mengerutkan dahinya, agar terlihat lebih natural.
"Anak pembunuh itu" ucapan ayahnya membuat ekpresi Mingyu berubah. Mingyu ingin sekali meneriaki ayahnya sekarang juga, jika Wonwoo bukanlah anak pembunuh. Untuk kedua kalinya, Mingyu dapat berakting dengan baik. Ia hanya menganggukkan kepalanya sambil mengangkat bahunya. Mingyu sedang mengendalikan emosinya susah payah.
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya" ucap Mingyu, suaranya menjadi pelan. Min Woo menoleh kepada anaknya.
"Kau serius?" Tanya Min Woo. Mingyu menatap ayahnya tepat di manik matanya. Berakting sebaik mungkin. Ia tidak mau kejadian beberap bulan yang lalu terjadi. Ia tidak mau ayahnya kembali menculik Wonwoo, dan meninggalkan banyak luka di badannya.
"Apakah aku terlihat sebagai seseorang yang sedang berbagi lelucon?" Mingyu menatap ayahnya tanpa rasa bersalah, tetapi ia segera memalingkan wajahnya.
"Memang sedikit susah meninggalkan orang yang kita cintai. Sulit untuk menghapus seluruh memori indah" lirih Mingyu.
"Lagipula, mungkin ia sudah bahagia dengan Jisoo" Mingyu menatap kosong keluar sana. Seharusnya Mingyu bergabung dengan perusahaan hiburan dan pertelevisian. Ia sangat cocok menjadi aktor, ditambah dengan parasnya yang sangat menawan, mungkin akan banyak produser yang menggaet Mingyu untuk dijadikan bintang drama agar meraih rating tinggi, atau mungkin sekedar menjadi model CF sebagai strategi untuk membuat produknya laris dijual.
Akting Mingyu berhasil membuat ayahnya tertipu. Ayahnya menepuk-nepuk bahunya. Jujur saja, dari lubuk hatinya, Min Woo pun menghadapi kesulitan saat ia ditinggalkan oleh istrinya yang dibunuh oleh Jin Woo menurut versinya. Dan juga, jika ia benar-benar ingin jujur, Min Woo pun masih selalu teringat dengan kenangan bersama mendiang istrinya, begitu pula saat ia harus berpisah dengan sahabatnya, Jin Woo dan Jae Hyun. Agak sulit untuknya hidup tanpa sahabat terdekatnya itu, tapi rasa persahabatan itu sudah memudar, ia tidak lagi menganggap jika Jae Hyun dan Jin Woo adalah sahabatnya. Min Woo sudah menanamkan rasa benci itu dalam-dalam di lubuk hatinya.
"Cepat atau lambat, kau bisa mendapat penggantinya, kau tidak pantas bersanding dengannya. Aku akan membantumu mencarikan pendamping hidup untukmu" ujar Min Woo. Mingyu menoleh, tersenyum. Ya, itu hanya sebuah fake smile, dalam hatinya ia sangat marah karena lagi-lagi, ayahnya menjelek-jelekkan Wonwoo nya.
"Tidak perlu appa, kau sudah sibuk, kau tidak perlu membantuku, aku yang akan mencarinya, aku sudah dewasa, aku tidak memerlukan bantuanmu untuk masalah sepele seperti ini"ucap Mingyu lembut. Dalam hatinya, ia sudah ingin menggeram, berteriak kepada ayahnya.
"Aku akan selalu mendukungmu" ucap ayahnya sambil kembali menepuk bahu Mingyu. Pria berkulit tan tersebut lagi-lagi hanya menunjukkan senyuman palsunya.
.
.
.
Wonwoo mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kantornya, ketika Jae Hyun memberi tahu jika Jisoo, Junhui, Minghao dan Jihoon diculik oleh ayahnya. Wonwoo mencengkram setir dengan sangat kuat. Wonwoo tidak mengira jika ayahnya akan menyerang dengan cara seperti itu. Wonwoo mengira, ayahnya akan menyerang langsung kedalam kantornya membawa sejumlah penembak ulung, tetapi Wonwoo salah, ayahnya tahu jika sahabat adalah bagian terpenting dihidup Wonwoo.
Sesampainya di kantor, Wonwoo segera datang menemui Jae Hyun yang berada di ruangannya dengan wajah cemas. Jae Hyun langsung berdiri ketika Wonwoo membuka pintu dengan kasar. Wonwoo terlihat marah. Ia tidak suka sahabatnya dijadikan sandera.
"Ahjussi, mengapa ini bisa terjadi?" Tanya Wonwoo.
"Ayahmu mengirim seseorang dengan kedok seorang investor dari sebuah perusahaan di China, ia membawa 5 orang bodyguard. Ayahmu menyuruh orang untuk membuat kartu nama dari kenalannya. Hanya butuh waktu 3 jam untuk kartu nama itu, dan ayahmu segera mengirimnya kesini. Entah bagaimana Jisoo dan yang lain bisa tertangkap." Jelas Jae Hyun. Wonwoo mengacak rambutnya frustasi. Ayahnya memang sangat pintar dan cerdik. Wonwoo segera mengambil ponselnya di saku jasnya. Ia segera menghubungi Kim Ahjussi, ia lah satu-satunya yang dapat dipercaya untuk saat ini.
"Ahjussi, kau bisa menolongku?" Tanya Wonwoo.
"Ada apa?" Tanya pria paruh baya diujung sana. Sepertinya Kim Ahjussi tidak mengetahui penculikan ini.
"Appa menculik sahabatku, kau bisa membantuku membebaskan mereka?" Tanya Wonwoo lagi.
"Menculik? Astaga! Aku tidak tahu hal itu" ucap Kim Ahjussi.
"Kau bisa membantuku?" Tanya Wonwoo tidak sabar.
"Maafkan aku, aku tidak bisa, aku harus segera pergi ke Rusia untuk menghadiri pertemuan antar CEO. Ah! Sepertinya karena hal itu ayahmu tidak berpartisipasi dan menyuruhku untuk menggantikannya" seru Kim Ahjussi. Terdengar suara helaan nafas Wonwoo.
"Setidaknya aku akan mengecek dimana tempat ayahmu menyandera sahabatmu, jangan khawatir, aku akan segera menghubungimu" ucap Kim Ahjussi.
"Terimakasih ahjussi" ucap Wonwoo dan sambungan ditutup. Wonwoo segera merencanakan sebuah strategi untuk melepaskan keempat sahabatnya itu. Wonwoo meminta bantuan Seungcheol untuk menyamar, sama seperti yang dilakukan ayahnya. Wonwoo menyuruh karyawannya menyamar untuk mengalihkan perhatian ayahnya, saat ayahnya terkecoh, Wonwoo akan segera menyelinap masuk. Tapi Wonwoo perlu mengetahui dimana tempat penyanderaannya.
Setengah jam menunggu, akhirnya ponsel Wonwoo bergetar, Kim Ahjussi mengirimnya sebuah pesan, jika keempat sahabatnya berada di ruang bawah tanah Yoomin yang dijaga oleh beberapa orang berbadan kekar. Wonwoo membalas pesan tersebut dengan satu kata 'terimakasih' . Ia segera menghubungi orang-orangnya. Wonwoo meminta Jae Hyun cukup diam didalam mobil van yang akan membawa mereka nanti jika Wonwoo berhasil membawa keempat sahabatnya.
Pukul tujuh malam Wonwoo dan pasukannya telah siap. Seungcheol adalah orang pertama yang akan mengalihkan perhatian ayahnya. Seungcheol sudah membawa kartu namanya, dan sudah siap dengan semua skenario.
Sesampainya digedung Yoomin, Seungcheol segera menuruni van, dan berjalan menuju gerbang. Saat sudah berada di gerbang, Seungcheol diintrograsi oleh dua orang satpam berbadan besar. Ia segera menunjukkan kartu nama dan berkas-berkas yang sengaja ia bawa untuk mengelabui satpan dan Jin Woo. Tantangan pertama berhasil Seungcheol hadapi, ia diperbolehkan masuk.
Wonwoo mengetahui satu jalan rahasia menuju Yoomin. Ada di halaman belakang, terdapat saluran pipa yang menghubungkan langsung ke ruang bawah tanah. Wonwoo membuka penutup saluran pipa tersebut dengan hati-hati agar tidak terdengar oleh orang-orang. Lima menit berlalu, penutup pipa sudah terbuka, Wonwoo segera memasuki pipa tersebut. Wonwoo mengambil ponselnya dan menyalakan flashlight. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di ruang bawah tanah tersebut. Wonwoo kembali harus membuka penutup pipa yang jika dibuka, akan langsung terlihat keempat sahabatnya. Setelah terbuka, Wonwoo menepuk pundak orang yang sedang membelakanginya. Junhui hampir memekik girang ketika melihat Wonwoo sebelum Jisoo membekap mulut Junhui dengan tangannya.
"Cepat masuk sebelum mereka menyadarinya" bisik Wonwoo.
"Jihoon kau duluan" bisik Minghao. Jihoon mengangguk, lalu segera memasuki pipa. Wonwoo merangkak maju perlahan, melihat kondisi di belakang. Setelah Jihoon, Minghao menyusul, kemudian Junhui dan terakhir Jisoo. Semuanya telah memasuki pipa. Semuanya berjalan lancar, sampai terdengar suara teriakan dari sana. Bodyguard Jin Woo berteriak.
"Mereka melarikan diri" teriak bodyguard yang sayup-sayup bisa terdengar kedalam pipa. Wonwoo dan keempat sahabatnya mempercepat langkah mereka. Setibanya diatas, Wonwoo segera menaiki mobil van. Jae Hyun sudah menyalakan mobil.
"Kita harus menunggu Seungcheol" cegah Wonwoo sebelum Jae Hyun menginjak pedal gas. Seungcheol dalam bahaya, itu perkiraan Wonwoo. Pasti berita tersebut suah sampai ditelinga ayah Wonwoo. Sudah lima menit menunggu dan akhirnya Wonwoo dapat melihat Seungcheol yang sedang berlari. Sebelum sampai di van, Seungcheol harus menghadapi dua satpam di gerbang. Setidaknya Seungcheol harus menyerang mereka kurang dari lima belas detik jika ia tidak mau tertangkap oleh bodyguard yang mengejarnya. Seungcheol menendang telat perut satpan tadi, dan yang satunya terkena pukulan telak di dagu. Seungcheol memang memiliki fisik yang sangat baik.
"Ayo jalan" seru Seungcheol. Jae Hyun segera menarik gigi mobil dan menginjak pedal gas. Van milik Wonwoo. Ada dua mobil van. Yang pertaman van yang tumpangi oleh Jae Hyun, Wonwoo, dan keempat sahabat Wonwoo beserta Seungcheol. Dan van kedua ditumpangi oleh preman yang Wonwoo bayar mahal.
"Syukurlah kalian selamat" ucap Seungcheol lega.
"Hey, ayahku bukan seorang pembunuh, ia tidak mungkin membunuh manusia-manusia ini" ujar Wonwoo.
"Apa maksudmu dengan 'manusia-manusia ini' Jeon?" ucap Jisoo datar. Wonwoo terkekeh.
"Disana sangat pengap dan berdebu" keluh Jihoon. Wonwoo kembali terkekeh.
Wonwoo mengaktifkan ponselnya, ia lupa belum mengaktifkannya sejak tadi sepulang meeting, pasti Mingyu sudah menghubunginya. Dan benar saja jika sudah banyak panggilan tak terjawab dari Mingyu dan beberapa pesan suara yang Mingyu kirim. Wonwoo tersenyum kecil melihat layar ponselnya dipenuhi oleh nama Mingyu.
"Hubungi dia kembali, jangan hanya tersenyum bodoh seperti itu" ujar Jisoo yang berada disebelahnya. Wonwoo mendelik, dan lelaki keturunan Amerika itu terkekeh melihatnya.
.
.
.
Wonwoo makan dengan lahap. Setelah selesai menyelamatkan keempat sahabatnya tadi, Wonwoo diculik oleh Mingyu untuk makan malam, tetapi mereka berdua makan malam di café milik Jeonghan. Mereka pergi bersama Seungcheol dan Jisoo. Sedangkan Junhui, Minghao dan Jihoon tadi sudah pulang diantar oleh supir pribadi Wonwoo.
"Mengapa kau tidak meminta bantuanku juga?" dengus Mingyu.
"Kau ingin mati muda ditangan ayahku?" ujar Wonwoo sambil mendelik.
"Jika aku mati pun, aku mati saat membantu kekasihku" goda Mingyu dan dihadiahi pukulan sendok didahinya.
Tidak berbeda jauh dengan Wonwoo, Seungcheol dan Jisoo sama-sama makan dengan sangat lahap. Mereka seperti anak jalanan yang sudah satu minggu tidak makan. Bahkan mereka bertiga sudah menghabiskan makanan yang seharusnya untuk porsi delapan orang. Jeonghan dan Mingyu menatap ketiganya sambil mengerutkan dahinya. Selelah itukah mereka?
"Kalian sebenarnya selelah apa?" Tanya Mingyu masih menatap ketiganya masih dengan ekspresi sama.
"Sangat lelah" singkat. Hanya itu jawaban Seungcheol, lalu kembali melahap kimbab yang ada didepannya.
Mingyu dan Jeonghan menggelengkan kepalanya. Mingyu segera merogoh saku celananya, ketika ponselnya bordering dengan cukup nyaring yang cukup membuat ketiga orang yang sedang kelaparan itu menoleh kearah Mingyu.
"Ada apa appa?" ujar Mingyu. Wonwoo yang tadi melanjutkan makannya, segera menghentikannya. Wonwoo membeku dengan mulut yang terdapat kimbab. Wonwoo mencerna kimbabnya dengan pelan, terasa cukup sulit saat ia mencoba untuk menelannya. Wonwoo menatap Mingyu yang masih menelpon ayahnya. Mingyu pun menatap Wonwoo. Ia mengisyaratkan agar tidak ada yang berbicara sepatah katapun. Selang lima menit, Mingyu mematikan ponselnya.
"Ada apa?" Tanya Jisoo yang terlihat ikut gugup. Mingyu tersenyum, lalu menggeleng.
"Tidak apa. Ayahku memintaku besok untuk pergi ke perusahaan Samsung, karena ayahku harus memeriksa sub perusahaannya di China." Jawab Mingyu. Wonwoo membuang nafasnya lega, lalu ia kembali melahap apapun yang ada disekitarnya. Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang terlihat sangat lahap.
.
.
.
JWCorp. Nama perusahaan baru Wonwoo. Wonwoo masih terdiam di depan perusahaan barunya itu. Ia masih tidak percaya jika ia memiliki perusahaannya sendiri dengan uang hasil jerih payahnya. Setelah sekian menit ia menatap perusahaannya itu, ia segera memasuki kantornya. Saat memasukinya, seluruh karyawan yang berpapasan maupun yang bertemu pandang dengannya segera membungkukkan badan. Wonwoo hanya membalas dengan anggukan kepalanya dengan senyum khasnya. Saat ia melihat Jihoon, Junhui dan Minghao, ia segera menghampiri mereka.
"Mengapa kalian sudah masuk kerja? Kalian seharusnya beristirahat dulu" ucap Wonwoo.
"Banyak pekerjaan sajangnim, lagipula aku tidak betah diam di apartement seharian, membosankan" jawab Jihoon dan dibalas anggukan oleh Minghao dan Junhui.
"Banyak pekerjaan? Apa saja? Aku rasa tidak ada" balas Wonwoo sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana.
"Ya, karena seorang CEO hanya menandatangani dan mengecek berkas yang diberikan karyawan, CEO tidak tahu seberapa banyaknya pekerjaan seorang karyawan" ejek Junhui dan disetujui oleh Minghao dan Jihoon. Wonwoo menatapnya dengan datar.
"Kalian fikir aku tidak lelah? Singgah di kota lain lalu pergi lagi ke kota yang satunya? Bahkan ke Negara yang sangat jauh" balas Wonwoo tidak mau kalah.
"Itu justru menyenangkan" ujar Minghao dengan bahasa Korea yang masih sedikit terdengar aneh. Dan lagi-lagi, Jihoon dan Junhui mengangguk menyetujuinya.
"Jika aku pergi hanya untuk traveling, aku tidak akan lelah, tapi ini untuk pekerjaan, saat sampai disana, aku hanya berbincang-bincang sambil membicarakan bisnis yang sangat menguras otak" ujar Wonwoo kesal.
"Yaa kita mengalah saja, jika tidak, nanti uang kita akan dipotong" Jihoon terkekeh diikuti dengan Junhui dan Minghao. Wonwoo menatap ketiganya dengan datar.
"Sudahlah, kita sudah baik saja, kita tidak luka barang secuilpun, tenang saja" ucap Junhui meyakinkan Wonwoo.
"Syukurlah kalau begitu. Aku minta maaf atas nama ayahku dan keluargaku, aku benar-benar minta maaf" ucap Wonwoo. Terdengar nada penyesalan disana.
"Tidak apa-apa, kau tidak salah" Junhui menepuk-nepuk bahu Wonwoo.
"Aku benar-benar minta maaf" ujar Wonwoo lagi.
"Tidak apa-apa. Sudahlah sajangnim, kau kembali saja ke ruanganmu, dan aku yakin di mejamu terdapat banyak berkas untuk dicek dan ditandatangani. Aku juga akan ke ruanganmu mungkin setengah jam lagi" ucap Jihoon sambil melirik jam dinding. Wonwoo tersenyum. Setelah pamit, Wonwoo segera melangkahkan kakinya menuju lift, ia menekan tombol yang menunjukkan angka Sembilan belas, dimana disana adalah lantai tempat ruangan Wonwoo.
Wonwoo segera memasuki ruangannya, dan benar kata Jihoon, jika di mejanya sudah terdapat tumpukkan berkas yang harus ia cek dan tanda tangani. Wonwoo menghela nafasnya, lalu segera menghampiri mejanya untuk segera melakukan pekerjaannya.
Wonwoo segera menolehkan kepalanya ketika pintu diketuk oleh seseorang. Setelah Wonwoo menyuruhnya masuk, muncullah tubuh mungil Jihoon sambil membawa beberap berkas ditangannya. Jihoon memberikannya kepada Wonwoo, lalu tersenyum puas ketika Wonwoo meng-acc pekerjaannya.
"Oh ya, kau sudah tau berita terbaru? Yang sekarang menjadi hot topic" ucap Jihoon. Melihat Wonwoo mengerutkan keningnya, Jihoon terlihat leih bersemangat lagi, karena merasa dirinya paling up to date.
"Sekarang, topik terhangat bukan lagi berisi artikel fitnah tentangmu" ucap Jihoon antusias.
"Lalu?" Tanya Wonwoo penasaran.
"Perusahaan ayahmu, Yoomin, sahamnya turun sebesar tiga persen, dan itu sangat banyak" ujar Jihoon sambil mengira-ngira berapa jumlah dari tiga persen tersebut. Wonwoo menurunkan rahangnya. Matanya membelo tidak percaya.
"Benarkah? Bagaimana bisa?" Tanya Wonwoo masih dalam keadaan shock.
"Kau pasti akan kaget" ucap Jihoon.
"Karena Pledis, Jisoo kemarin memberi tahuku jika perusahaan migas terbesar di Arab" jawab Jihoon antusias.
"Saudi Aramco maksudmu?" Tanya Wonwoo tidak percaya. Jihoon mengangguk dengan sangat antusias.
"Aku tidak bisa membayangkannya seberapa kaya pemilik Saudi Aramco " Jihoon terlihat sedang membayangkannya.
"Pendapatannya saja satu milliar dollar untuk satu hari, bagaimana satu tahun? Aku akan membeli pulau-pulau di dunia" Jihoon masih membayangkan betapa kayanya pemilik Saudi Aramco, perusahaan Migas terbesar di Arab. Wonwoo hanya tersenyum melihat karyawan yang merangkap menjadi sahabatnya itu.
"Kau ingin pulau apa memangnya?" Tanya Wonwoo. Jihoon terlihat berfikir sejenak.
"Ko Lipe, kau tahu bukan?" ucap Jihoon. Wonwoo mengangguk.
"Tetapi pulau itu sudah dibeli oleh keluarga Mingyu" jawaban Wonwoo itu membuat Jihoon membelo sambil menurunkan rahangnya.
"Mingyu? Membelinya? Benarkah?" Tanya Jihoon kaget. Wonwoo mengangguk.
"Sekaya itukah keluarga Mingyu?" ucap Jihoon dan membuat Wonwoo tertawa.
"Bekerjalah dengan baik, aku akan membayarmu lebih jika kau bekerja dengan baik" kekeh Wonwoo.
"Lalu aku akan membangun perusahaan baru juga" canda Jihoon.
"Jangan lupa menjadi investor untukku" Wonwoo dan Jihoon terkekeh bersama. Lalu Jihoon segera melangkah keluar dari ruangan Wonwoo.
.
.
.
Mingyu baru saja pulang dari perusahaan Samsung yang baru saja menjadi investor penting bagi perusahaannya. Samsung memberikan dampak besar yang positif untuk perusahaannya. Karena Samsung, saham Gyuwon meningkat lima koma tujuh persen, yang tentu saja itu adalah jumlah yang sangat besar yang bisa membuat Yoomin tertinggal. Belum lagi Pledis yang membuat Yoomin menjadi tersungkur jauh dari Gyuwon. Untuk saat ini, Gyuwon adalah perusahaan raksasa yang menjadi nomor satu di Korea Selatan.
Mingyu segera mengangkat teleponnya ketika dilihat nama Vernon dilayarnya. Mingyu tersenyum ketika mendengar ucapan Vernon di ujung sana. Mingyu juga terdengar mengucapkan 'terimakasih' berkali-kali. Mingyu terlihat sangat senang ketika telepon sudah ditutup.
"Aku akan segera menikah" gumam Mingyu senang.
Hansol Vernon Chwe atau Vernon, adalah teman Mingyu saat pria berkulit tan itu berada di New York beberapa bulan lalu. Vernon memiliki sepupu yang bekerja di bidang arsitektur. Mingyu meminta Vernon untuk memberi tahu sepupunya jika Mingyu ingin membangun sebuah gedung perusahaan, dan kebetulan jika sepupu Vernon sedang berada di Korea.
.
.
.
Jin Woo sedang kelabakan mengurus perusahaannya yang sedang jatuh. Jin Woo benar-benar stress karena banyaknya client yang memutus kontrak. Jin Woo pun mengetatkan jadwal bekerja. Jin Woo membuat aturan baru, sebelum pekerjaan belum selesai, maka tidak boleh ada karyawan yang pulang. Itu semua ia atur untuk membuat perusahaannya bisa berdiri lagi. Saat sedang seperti ini, ada telepon masuk yang memaksa Jin Woo untuk menghentikan pekerjaannya.
"Yeobseyo?" ucap Jin Woo saat sudah mengangkat teleponnya. Seseorang disana hanya terdiam, belum menjawab sapaan Jin Woo. Saat Jin Woo akan berucap, terdengar suara dari ujung sana yang membuat rahangnya mengeras.
"Appa tidak membutuhkan bantuan dari perusahaanku?" Suara dalam milik Wonwoo membuat Jin Woo kesal dengan sendirinya.
"Kau meneleponku hanya untuk mengejek?" ujar Jin Woo kesal. Terdengar suara Wonwoo tertawa diujung sana dan membuat Jin Woo semakin kesal, Wonwoo segera berbicara kembali sebelum ayahnya menutup teleponnya.
"Mengejek? Aku sudah bilang appa, apakah kau mau bantuanku? Apakah itu sebuah ejekan? Aku sedang menawarkan bantuan" ucap Wonwoo santai.
"Bagiku itu terdengar seperti sebuah ejekan" Jin Woo berucap sambil mengepalkan tangannya.
"Saat orang keras kepala berada dibawah, mereka akan menganggap jika bantuan orang lain adalah sebuah ejekan di telinganya. Appa kau tidak perlu naïf, lima koma tujuh persen itu adlah jumlah yang sangat besar, aku memiliki banyak client untukmu jika kau mau" ucap Wonwoo.
"Brengsek kau! Aku tidak memerlukannya, aku masih bisa membuat perusahaanku kembali, lagipula walaupun sahamku turun, tidak membuat perusahaanmu mengungguli Yoomin kan?" ejek Jin Woo, Wonwoo hanya tertawa.
"Setidaknya aku tidak perlu menculik karyawan orang lain ketika aku sedang marah ataupun kesal" ujar Wonwoo sambil tertawa. Hal itu membuat Jin Woo naik pitam, terdengar gebrakan meja dari ponsel Wonwoo. Wonwoo kembali tertawa, kali ini mengejek.
"Kau kesal appa karena aku tidak menurutimu? Begitu juga aku ketika kau tidak menuruti apa mauku, padahal kau hanya perlu menyetujui hubunganku dengan Mingyu, dan perusahaanmu akan tetap dengan Pledis masih ditangamu, dank au tidak akan jatuh sebanyak itu" ejek Wonwoo, suaranya kali ini terdengar dingin.
"Hanya ada dalam anganmu Jeon Wonwoo" ucap Jin Woo tak kalah dingin.
"Apa susahnya untuk menjelaskan jika kau bukan seorang pembunuh, apa susahya untuk terus berusaha menjelaskan?" ucap Wonwoo.
"Apakah aku perlu untuk mengatur pertemuan untukmu dan Min Woo ahjussi?" ujar Wonwoo. Mendengar nama Min Woo, darah Jin Woo semakin naik.
"Dengar kau! Aku tidak sudi untuk bertemu dengan pria itu!" ujar Jin Woo lalu segera menutup teleponnya.
Wonwoo tersenyum miris setelah ayahnya menutup sambungan telepon. Wonwoo sangat ingin jika nanti ayahnya ada bersamanya saat ia berada di pelaminan bersama Mingyu. Wonwoo ingin ayahnya membantu dalam mempersiapkan pernikahannya nanti. Wonwoo tidak pernah meragukan cinta Mingyu. Ia tahu saat Mingyu berbicara jika ia akan menikahinya, Mingyu sedang bersungguh-sungguh walaupun pria bertaring itu mengucapkannya saat sedang bergurau.
.
.
Hanya satu bulan lagi untuk menunggu perusahaan Mingyu jadi, itu berarti tinggal satu bulan juga waktu ia untuk melamar Wonwoo, dan Mingyu belum menyiapkan apapun. Mingyu masih memikirkan tentang apa yang akan dilakukan oleh ayahnya kepada Wonwoo jika ia benar-benar menikahi Wonwoo. Mingyu tidak ingin hal buruk terjadi kepada Wonwoo. Mingyu tidak mau secuilpun Wonwoo terluka. Mingyu tidak ingin Wonwoo disakiti oleh siapapun termasuk oleh ayahnya. Tetapi pasti ayahnya akan melakukan hal yang buruk kepada Wonwoo. Oleh karena itu, Mingyu membeli sebuah pulau kecil di Thailand bernama Ko Pile untuk dirinya dan Wonwoo nanti. Mingyu sudah memikirkannya matang-matang. Mereka berdua tetap bisa menjalankan perusahaannya walau tidak berada di Korea. Mingyu sengaja memilih Thailand, agar tidak terlalu jauh dengan Korea. Tetapi, Mingyu tidak bilang kepada Wonwoo jika pulau itu adalah miliknya, Mingyu hanya bilang jika pulau itu milik keluarganya. Mingyu ingin itu menjadi surprise.
Saat sedang asyik melamun, ponsel Mingyu berdering, tertera nama Wonwoo dilayar ponselnya. Mingyu tersenyum, lalu segera mengangkat telepon dari sang kekasih.
"Ada apa?" Tanya Mingyu.
"Apakah kau pernah berfikir untuk mempertemukan appamu dan appaku?" pertanyaan Wonwoo tadi membuat Mingyu sedikit tersentak.
"Kau merencanakannya?" Tanya Mingyu.
"Ya, aku berfikir untuk mempertemukan keduanya dan juga tetu saja ada Jaehyun ahjussi untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan" ucap Wonwoo. Mingyu sedikit berfikir. Sebenarnya ide Wonwoo bisa dibilang cukup ekstrim, tetapi mungkin juga hal itu dapat membuat hubungan ketiganya menjadi baik. Tetapi Mingyu tetap menolaknya, ia takut aka nada sesuatu hal yang buruk terjadi.
"Aku rsa tidak usah, aku takut suatu hal buruk terjadi diantara mereka. Bagaimana jika rencanamu malah membuat mereka semakin terpisah? Aku tidak setuju" tolak Mingyu. Terdengar decakan kesal dari Wonwoo.
"Sampai kapan kita akan seperti ini? Berapa lama kita harus bersembunyi? Kau tidak lelah? Tapi aku sangat lelah walaupun aku sudah mengakuinya" ucap Wonwoo jujur.
"Aku tahu, kita hanya perlu bertahan"
"Sampai kapan kita akan bertahan? Sampai ayahmu menculikku lagi? Atau sampai salah satu diantara kita terbunuh oleh kedua appa kita? Sampai kapan?" ucap Wonwoo yang mulai emosi.
"Jeon Wonwoo!" bentak Mingyu.
"Aku lelah bersembunyi Mingyu. Jika kau dan aku terus seperti ini, hanya akan menyusahkan kita. Aku sudah tidak bisa bertahan" ujar Wonwoo. Mingyu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kita hanya perlu bertahan sebentar lagi Wonwoo, aku akan membawamu pergi, kita tidak perlu khawatir" ucap Mingyu mencoba sabar.
"Sebentar lagi? Kapan? Aku lelah Mingyu, kau tahu? Aku sangat takut ketika ayahmu menyanderaku, kau tidak tahu betapa takutnya aku jika ayahmu membunuhku karena kau terus bersamaku? AKu sangat takut" ujar Wonwoo.
"Iya! Karena itu, aku tidak ingin mengakuinya, jika aku mengakuinya, apakah kau tidak takut jika hal yang lebih buruk akan terjadi lagi kepadamu dan juga kepadaku? Kau cukup bertahan sebentar saja" Wonwoo tertawa meremehkan.
"Dengar Kim Mingyu, jika kau terus seperti ini, aku menyerah, aku sudah tidak bisa bertahan walaupun itu hanya sebentar. Perasaan takutku terus membengkak hari demi hari. Aku sudah tidak bisabertahan dengan rasa takutku, jika kau seperti ini terus, tolong lepaskan aku" ujar Wonwoo lalu sambungan terputus dan membuat Mingyu membuang nafasnya kasar. Mengakuinya? Tidak, itu resiko yang sangat besar. Ia tidak mau ayahnya menyentuh Wonwoo, ia tidak mau ayahnya kembali menculik Wonwoo-nya. Tidak bisakah Wonwoo menunggu sebentar? Setelah perusahaan barunya selesai, dan semua rasa takut Wonwoo yang tadi dikatakannya akan menghilang. Mingyu hanya ingin Wonwoo menunggunya, hanya satu bulan, dan semua rasa takutnya akan berakhir. Mingyu tidak ingin mengakui hubungannya kepada ayahnya, tetapi Wonwoo ingin Mingyu mengakuinya. Mingyu dilema. Ia sangat bingung. Jika ia mengakuinya, ia takut Wonwoo tersakiti, tapi di sisi lain, jika ia tidak mengakuinya, Wonwoo ingin Mingyu melepasnya. Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Baru saja ia memimpikan kehidupnnya bersama Wonwoo, tapi impiannya itu terancam sekarang.
Haaiiii….
Aku balik dengan ff absurdku hahaa…
Aku gak tau chapter ini gimana, yang jelas ini sangat absurd buatku, ini otaku dah bener-bener mentok, maaf yaa kalo mengecewakan.
Jangan lupa RnR yaaaa….
Typo(s) bertebaran
Thank you^^
Aku cinta kalian dan meanie:*
