Title : Who Knows?

Author : veectjae

Cast :

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun,

Kim Junsu, Choi Seunghyun, dll (find it your self :p)

Genre : Romance, Drama, Friendship, School life

Pair : YJ

Length : Chaptered

WARNING: B x B

DON'T LIKE DON'T READ

Preview last chapter

Youngwoon mendatangi Changmin untuk menanyakan keberadaan Jaejoong. Tentunya Changmin tidak menceritakan apa yang dialami Jaejoong. Namun, ia meminta Youngwoon untuk tidak membahas kejadian di bar dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya sangat khawatir dengan keadaan Jaejoong.

Di saat yang bersamaan, Kyuhyun mendatangi apartemen Changmin untuk mengembalikan gelang Changmin yang terjatuh di bar. Setelah itu ia meminta tolong kepada Changmin untuk menemaninya di pesta ulang tahun Sungmin. Tentunya Changmin bersedia. Ia senang Kyuhyun meminta nomor handphonenya, dan sedikit berharap Kyuhyun mulai membuka hati untuknya.

.

.

.

Chapter 20

"Kau yakin tak mau kuantar, hyung?"

"Eum, aku sudah banyak merepotkanmu tiga hari ini. Kau juga harus segera berangkat ke sekolah kan?"

"Kau tau kau tak pernah merepotkanku, hyung. Aku bisa mengantarmu terlebih dulu sebelum ke sekolah"

"Aniya, tak usah. Nanti kau telat. Lagipula aku sudah meminta Lee ahjussi menjemputku"

Setelah tiga hari menginap di apartemen Changmin, Jaejoong memutuskan pulang ke rumahnya. Ia pikir, tak ada gunanya 'melarikan diri' terlalu lama. Toh, mau tak mau, cepat atau lambat, Jaejoong harus menghadapi keluarganya dan juga Yunho.

"Cha, aku pulang dulu Chwang. Gomawo sudah 'menampungku' tiga hari ini" ucap Jaejoong sekali lagi ketika mereka berdua sudah berada di basement.

"Haishh kau ini hyung, seperti dengan orang lain saja. Sudah masuk sana, ahjumma pasti sudah sangat merindukanmu" jawab Changmin sambil mendorong Jaejoong pelan masuk ke dalam mobil.

"Arraseo" Jaejoong tersenyum kecil dan memasuki mobilnya.

"Hati-hati ne hyung"

"Ne, kau juga. Belajar lah yang benar, aku akan meminjam catatanmu besok" ucap Jaejoong, setengah bercanda, setengah serius. Yah, ia sudah ketinggalan pelajaran selama dua hari. Mau tak mau, ia harus mengejarnya sendiri. Untung saja ada Changmin yang rajin kalau menyangkut soal pelajaran.

"Huhh, kau ini hyung. Kau harus ke apartemenku dan memasakkanku kalau ingin meminjam catatanku" balas Changmin tak kalah jahil.

"Not a big deal, Chwang" Jaejoong kemudian melambaikan tangannya, dan menutup jendela mobilnya.

Waktunya kembali ke kehidupan normal, batin Jaejoong sambil memperhatikan Changmin yang sedang melambaikan tangannya melalui spion.

.

.

.

"Umma, aku pulang" ujar Jaejoong setengah berteriak ketika masuk ke dalam rumahnya. Heechul yang mendengarnya segera berlari ke arah Jaejoong dan memeluknya erat.

"Joongieee bogoshipo!" pekik Heechul sambil menggoyang-goyangkan tubuh Jaejoong ke kanan dan ke kiri.

"Ummaa~~" rengek Jaejoong, tanda bahwa ia tidak menyukainya. Ia melepaskan pelukan Heechul.

"Yaishhh kau ini! Umma merindukanmu sayang~~~" kali ini gantian Heechul yang merengek, lalu kembali memeluk Jaejoong erat. Jaejoong hanya menghela nafas, dan akhirnya memilih untuk balik memeluk ummanya.

"Aku juga merindukan umma" gumamnya di leher sang umma.

"Hahh kalian ini, sama saja. Appa selalu dilupakan" ucap Hankyung, yang ternyata ada di belakang mereka.

"Eh, ada appa? Appa tidak bekerja?" tanya Jaejoong sambil melepaskan pelukan Heechul perlahan.

"Appa tidak bekerja karena anak appa yang satu ini kabur dari rumah selama tiga hari" jawab Hankyung sambil mencubit pelan hidung Jaejoong.

"Yaaa appa! Aku tidak kabur!" pekik Jaejoong tidak terima. Hankyung hanya terkekeh pelan, lalu memeluk sang anak lembut.

"Appa merindukanmu, Joongie" ucap Hankyung pelan. Jaejoong tersenyum kecil dan memeluk sang appa.

"Joongie juga merindukan appa" gumamnya manja. Yah, Jaejoong bisa berubah menjadi anak yang sangat manja jika bersama appanya. Entah mengapa, ia merasa lebih dekat dan nyaman ketika bersama sang ayah.

"Haish, sekarang ganti eomma yang dilupakan. Sudahlah, eomma akan menyiapkan makan siang untuk kalian saja" dengus Heechul kesal, walaupun senyuman tetap terpatri di wajah mulusnya.

"Jadi anak appa tiga hari ini kenapa, hm?" tanya Hankyung, berbisik. Jaejoong tidak menjawab. Ia hanya menyembunyikan wajah cantiknya di ceruk leher sang ayah.

Mencoba mencari kenyamanan dan keamanan.

Hankyung menghela nafas dalam. Anaknya yang satu ini memang mirip dengannya, sedikit susah untuk menceritakan isi hatinya. Jadi ia bisa memahami bagaimana Jaejoong saat ini. Hankyung mengelus kepala Jaejoong pelan dan penuh kasih sayang. Ia mengecup puncak kepala Jaejoong dengan lembut.

"Kau tahu, Joongie. Appa selalu di sini untuk menjagamu. If someone break your heart, I'll break his face" ucap Hankyung lembut namun tegas. Siapa yang rela melihat anaknya disakiti orang lain, sementara ia sebagai orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya?

Jaejoong berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisnya. Sungguh, ia tersentuh dengan ucapan appanya.

Ia bersyukur memiliki seorang appa yang sangat menyayanginya. Tidak hanya appanya, namun juga eomma, dongsaeng, dan teman juga. Jaejoong sungguh bersyukur memiliki mereka yang selalu menyayangi dan mendukungnya sepenuh hati.

"Yaahhh, Joongie! Kau tidak berniat untuk membantu eomma?" teriak Heechul dari dapur. Jaejoong segera melepaskan pelukannya kemudian menatap sang appa. Mereka berdua terdiam beberapa saat, lalu tertawa bersamaan.

"Kka, bantulah eommamu sebelum Cinderella itu mengamuk" kikik Hankyung. Jaejoong tertawa kecil, lalu berjalan ke dapur untuk membantu ibunya.

Walaupun dalam hati kecilnya, ia ingin sekali berlari memeluk sang appa dan menumpahkan tangisnya di bahu tegap yang selalu membuatnya nyaman itu.

Ingin sekali Jaejoong menceritakan apa yang ia alami, apa yang menghantuinya selama ini.

Tapi ia tidak bisa. Ia tidak siap untuk membagikan pedih itu kepada orang lain. Jaejoong tidak siap melihat orang yang ia sayangi ikut bersedih atas penderitaannya. Tidak, ia tidak menginginkan hal itu.

Ia melanjutkan jalannya dengan senyuman kecil, walaupun hati pedihnya berteriak,

Joongie patah hati, appa..

.

.

.

Jaejoong masih di alam mimpinya ketika kembaran yang sangat ia sayangi ini masuk begitu saya dan menjatuhkan tubuhnya di atas Jaejoong. Ingin sekali rasanya Jaejoong menjambak rambut panjang Youngwoon kalau saja ia tidak ingat kalau kembarannya ini sangat cengeng.

Jaejooong masih saja menatap kesal Youngwoon yang sedang duduk di pinggiran kasur. Ia tersenyum polos seperti anak kecil, merasa tidak melakukan kesalahan apapun.

"Apa kau tidak pernah diajarkan sopan santun, Kim Youngwoon? Huh?" dengus Jaejoong kesal.

"Hehehehe mianhae Joongie hyung sayang, aku hanya terlalu senang karena kau telah pulang~~ Kyaaa aku merindukanmu kembaranku tercintaaa!" pekik Youngwoon senang. Ia menjatuhkan diri ke arah Jaejoong, memeluk kakak kembarnya dengan erat.

"Kau ini" gumam Jaejoong pelan, membiarkan Youngwoon memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuhnya.

"Hyung..." ucap Youngwoon beberapa saat setelah melepas pelukannya.

"Hmmm?" jawab Jaejoong sambil menguap.

"Gwenchana?" tanya Youngwoon ragu-ragu. Jaejoong terdiam sesaat lalu menoleh ke arah adiknya. Ia mengangguk seraya tersenyum kecil.

"Jinjja gwenchana?" ulang Youngwoon memastikan. Jaejoong menatap lamat wajah saudara yang sangat ia sayangi ini.

"Hum, you don't need to worry, Woon-ie" jawab Jaejoong lembut. Youngwoon menghela nafas. Ia meraih tangan Jaejoong yang terasa dingin dan meremasnya perlahan, seakan menyalurkan kekuatan.

"Jangan bersedih lagi, hyung. Kecewa dan patah hati adalah hal biasa dalam sebuah hubungan. Aku merindukan hyungie yang walaupun pendiam, senyumnya membuatku merasa damai. Tidak seperti sekarang. Senyummu terlihat menyedihkan."

DEG

Hati Jaejoong tertohok mendengar ucapan Youngwoon.

Benarkan saat ini senyumnya terlihat menyedihkan?

Padahal ia sudah berusaha untuk menutupi luka hatinya sendiri, agar tidak ada yang mengetahuinya. Mengapa Youngwoon dapat melihat rasa sakitnya?

"Ada saat di mana emosi itu sebaiknya diluapkan, hyung. Terbukalah pada kami, setidaknya padaku" Tepukan Youngwoon di pundak Jaejoong menyadarkannya dari lamunan. Jaejoong tersenyum dan mengacak gemas rambut Youngwoon.

"Aigooo, adikku sudah besar, eoh?" Jaejoong terkekeh pelan. Youungwoon memekik kesal.

"Hish, hyung! Aku berusaha memberimu nasehat, tapi kau malah seperti ini! Lihat saja!" delik Youngwoon sembari mendengus kesal. Ia bergumam, mengutuki kakaknya yang susah untuk diberi nasehat ini.

Jaejoong kembali terkekeh puas melihat saudara satu-satunya kesal seperti ini. Youngwoon melirik ke arah Jaejoong. Ia tak dapat menahan senyumnya, melihat Jaejoong dapat tertawa dengan lepas. Setidaknya, ia dapat sedikit menghibur kakak kembarnya.

TOK TOK

"Biar aku saja yang membukakan" ucap Youngwoon lalu beranjak dari kasur.

"Waeyo?" Youngwoon melongokkan kepalanya keluar dan maid yang mengetuk pintu itu membungkukkan badannya.

"Ada Tuan Hyunjoong di ruang tamu. Tuan Hyunjoong ingin bertemu dengan Tuan Muda" Youngwoon memutar matanya malas.

Ia sedang tidak dalam mood untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Apalagi, semenjak terakhir ia bercerita kepada Jaejoong, hubungannya juga tak kunjung membaik. Bahkan, Youngwoon merasa Hyunjoong semakin menjauh dan menghindarinya.

Panas hatinya, melihat Hyunjoong memilih untuk berpergian dengan wanita itu. Iya, Youngwoon mendapat kabar bahwa kekasihnya itu pergi dengan wanita yang sama saat Youngwoon melihat Hyunjoong di toko buku.

Skripsi? Cih, Youngwoon tak akan mempercayai akal busuk Hyunjoong lagi.

"Arraseo. Aku akan turun sebentar lagi. Katakan padanya untuk menungguku" ucap Youngwoon akhirnya. Maid itu kembali membungkuk kemudian pergi dari hadapannya. Youngwoon menghela nafas panjang, lalu kembali masuk ke kamar Jaejoong.

"Ada apa?" tanya Jaejoong. Youngwoon hanya mengerucutkan bibirnya, tanda bahwa ia sedang kesal.

"Hyunjoong hyung, hmm?" tebak Jaejoong. Youngwoon menganggukkan kepalanya lesu.

"Masih bertengkar?" tanya Jaejoong lagi.

"Molla. Dia seperti menghindariku. Aku sudah malas berhadapan dengannya" Jaejoong tertawa pelan mendengar ucapan adiknya ini. Baru beberapa menit lalu ia menjadi bijak seperti orang dewasa dan sekarang ia kembali bertingkah seperti anak kecil yang marah karena tidak boleh memakan permen.

"Kau ini. Bukankah tadi kau sendiri yang bilang bahwa kecewa dan patah hati dalam sebuah hubungan adalah hal biasa?" goda Jaejoong.

"Ishhh, hyungie! Ini berbedaaa~" rengek Youngwoon. Jaejoong tertawa semakin lebar. Sungguh, menggoda Youngwoon adalah hal paling menyenangkan di dunia ini. Reaksinya sungguh lucu. Tak tega, Jaejoong akhirnya menghentikan tawanya setelah beberapa saat.

"Arraseo, arraseo. Kka, sekarang kau temui Hyunjoong hyung terlebih dahulu. Masalah kalian masih dapat dibicarakan, bukan? Siapa tahu semua ini hanya salah paham. Kalau Hyunjoong hyung sudah tidak mencintaimu, mana mungkin ia kemari untuk menemuimu?" Youngwoon tetap diam di tempatnya berdiri. Jaejoong menghela nafas.

"Woon-ie..." ucap Jaejoong lembut.

"Aishh, arraseo. Aku kalah. Aku akan turun" ucap Youngwoon setengah malas, setengah frustasi. Sungguh, ia tidak siap menemui kekasih yang hampir tak pernah menemuinya selama 2 bulan ini.

"Good boy" ucap Jaejoong senang. Ia mengacak rambut Youngwoon asal sembari tersenyum jahil.

"Yahh, hyung! Kau kira aku anjing?" pekik Youngwoon kesal. Jaejoong terbahak, lalu mendorong Youngwoon ke arah pintu keluar.

"Cha, selesaikan masalahmu dulu, baru kau boleh masuk ke kamarku lagi!"

BLAM

Jaejoong menutup pintu setelah Youngwoon keluar dari kamarnya. Ia tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya. Sungguh ia bersyukur memiliki kembaran yang luar biasa, yang dapat menjadi moodbooster-nya.

Jaejoong menghela nafas panjang, sebelum menjatuhkan badannya di atas kasur. Jaejoong memejamkan matanya, berusaha menangkan hatinya yang terasa tidak tenang setelah mendengar nasehat Youngwoon. Hati kecilnya terus bertanya,

Benarkah senyumku terlihat menyedihkan? Apakah aku terlalu tertutup?

.

.

.

Changmin duduk bersandar di bahu sang eomma. Rasanya sudah sangat lama ia tidak bermanja-manja dengan ibunya. Ya, hari ini Changmin memutuskan untuk pulang ke mansion Jung. Bagaimanapun, ia masih menyayangi sang bunda. Ia tak tega meninggalkan eommanya sendirian di rumah, apalagi saat ini appanya sedang pergi ke Jepang untuk urusan bisnis.

"Hyung-mu di mana, Min?" tanya Taehee.

"Molla" gumam Changmin sambil merebahkan kepalanya di paha sang eomma. Taehee tersenyum senang, kemudian mengelus perlahan dahi Changmin. Changmin memejamkan matanya, berusaha mencari kedamaian.

Aahhh, Taehee sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Dulu, keluarganya memang semanis ini.

Berkumpul bersama di ruang keluarga yang terasa hangat. Changmin yang bermanja-manja dengannya sambil memainkan miniatur pesawat kesukaannya, Yunho yang sibuk dengan komiknya atau sedang mengerjakan tugas di lantai, dan Jihoon yang meminum kopinya sambil terkadang membantu Yunho mengerjakan tugasnya.

Entah apa yang merusak kebahagiaan keluarga kecil mereka.

Sesungguhnya, harapan Taehee mulai bertumbuh ketika melihat hubungan kedua putranya mulai membaik. Namun, sepertinya harapan itu kembali pupus. Changmin kembali tinggal di apartemennya sejak beberapa hari lalu dan Yunho yang terlihat menghindar ketika Taehee menanyakan tentang Changmin.

"Kalian bertengkar lagi, eoh?" tanya Taehee lembut. Changmin hanya menggumam asal, matanya terasa berat. Taehee hanya dapat tersenyum miris. Dalam hati ia percaya, suatu saat nanti keluarga kecilnya akan kembali seperti sedia kala. Pasti.

.

.

.

Yunho melangkah masuk ke dalam mansion kediamannya. Kakinya membeku di tempat ketika menemukan eommanya sedang menonton TV di ruang keluarga dengan Changmin yang tertidur di pangkuannya. Sesekali Taehee mengelus dahi Changmin penuh kasih.

Dada Yunho terasa sesak melihatnya.

Semenjak beranjak besar, ia tidak pernah merasakan betapa menyenangkannya bermanja-manja dengan sang eomma. Yunho hanya dapat mendengus, lalu mendekati eommanya.

"Changmin pulang, eomma?" tanya Yunho dari belakang Taehee. Taehee menolehkan kepalanya, lalu tersenyum ketika melihat Yunho.

"Ne. Kamu dari mana, hmm? Tumben tidak mengabari" tanya Taehee sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sisinya, mengisyaratkan Yunho untuk duduk di sampingnya. Namun Yunho menggeleng perlahan.

"Mianhae eomma, aku tadi ada latihan basket mendadak. Aku mandi dulu eomma, badanku terasa lengket semua" ujar Yunho kemudian berlalu dari ruang keluarga. Ia menaiki tangga, masuk ke kamarnya.

Yunho tidak berbohong soal latihan basket itu, namun saat latihan pun ia tidak dapat berfokus. Benaknya masih dipenuhi oleh Jaejoong dan rasa bersalah yang melingkupinya.

Ia tak tahu apalagi yang harus ia lakukan untuk mendapatkan kata maaf dari Jaejoong.

Bagaimana bisa ia meminta maaf pada Jaejoong, jika ia saja tidak tahu di mana Jaejoong?

Yunho menghela nafas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi. Ia menghidupkan shower dan membiarkan tetesan-tetesan air itu membasahi tubuhnya.

Ia mendongakkan wajahnya sambil memejamkan mata. Beraharap, air ini dapat mendinginkan hatinya yang panas.

"Sepertinya aku harus mengalah demi Jaejoong"

.

.

.

Yunho memantapkan hatinya untuk mengetuk kamar Changmin.

TOK TOK TOK

Tak lama kemudian, pintu itu terbuka. Changmin menyerngit heran melihat Yunho yang berada di depan pintu kamarnya.

"Wae?"

"Begitukah caramu memperlakukan tamu, Jung Changmin?" tanya Yunho sarkistik.

"Ck, aku sedang tidak berminat untuk berdebat denganmu hyung" Changmin hampir saja menutup pintu kembali, namun Yunho menahannya.

"Sebentar saja, Min" Changmin mendengus.

"Masuk" Changmin membuka pintunya, lalu meninggalkan Yunho dan kembali ke kamarnya. Yunho melangkah masuk ke kamar adiknya.

Ini pertama kalinya Yunho masuk ke kamar Changmin setelah sekian lama. Sudah banyak berubah.

Tidak ada lagi kamar Changmin yang dipenuhi oleh gambar-gambar makanan, kamarnya sekarang bernuansa hitam-putih. Dan Yunho mengakui bahwa Changmin memang memiliki jiwa seni yang tinggi, melihat dari kamarnya yang ditata sedemikian rupa sehingga membuat penghuninya betah.

"Waeyo?" tanya Changmin setelah duduk di kasurnya. Yunho menghela nafasnya.

"Aku ingin bicara baik-baik denganmu"

"Tentang Jaejoong hyung?" tebak Changmin tepat.

"Dimana ia, Min? Sungguh, aku menyesal dengan apa yang kulakukan tempo hari" ucap Yunho. Changmin terdiam.

"Tolong, Min. Aku ingin meminta maaf" Changmin menolehkan kepalanya ke Yunho. Tolong? Baru kali ini Yunho meminta tolong padanya, setelah sekian lama.

"Hari ini Jaejoong hyung sudah pulang ke rumahnya. Mungkin besok ia akan masuk sekolah" jelasnya singkat. Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

"Kurasa Jaejoong hyung tidak akan semudah itu memaafkanmu, hyung" Changmin memecah keheningan.

"Ya, aku tahu kala itu memang berlebihan"

"Bukan, bukan hanya karena apa yang kau lakukan hyung. Ini lebih kepada... trauma masa lalu Jaejoong hyung" Changmin berujar pelan. Yunho menyerngitkan alisnya, menatap Changmin bingung.

"Trauma?"

"Aku rasa aku tak berhak untuk menceritakannya. Ada baiknya apabila Jaejoong hyung yang menceritakannya sendiri" Changmin beranjak dari kasurnya, lalu mengambil jaket yang tersampirkan di kursi.

"Hanya itu yang bisa kukatakan padamu, hyung. Aku ada janji dengan temanku" ucap Changmin lalu melangkah keluar kamarnya. Yunho tidak menyahut.

"Oh ya, hyung. Saranku, jangan tanyakan tentang trauma itu pada Jaejoong hyung sementara ini. Jika kau tidak menginginkan masalah ini semakin runyam" Changmin menolehkan wajahnya sekali lagi, sebelum benar-benar keluar dari kamarnya.

Yunho termenung di kamar adiknya. Trauma? Sejak kapan Jaejoong memiliki trauma? Seberapa banyak hal yang masih belum ia ketahui dari Jaejoong?

.

.

.

Youngwoon menatap datar Hyunjoong yang duduk di depannya. Saat ini mereka sedang berada di taman belakang kediaman Kim. Youngwoon memang sengaja membawa Hyunjoong ke sini, karena ia pikir tempat ini lebih private ketimbang ruang tamu. Keduanya terdiam sampai akhirnya Hyunjoong mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.

Ia menaruhnya di meja, mendorongnya mendekat ke arah Youngwoon.

"Siapa?" tanya Hyunjoong tajam. Youngwoon menyerngit. Itukan fotonya dengan Changmin saat ia menanyakan keberadaan hyungnya kemarin.

Jika dalam keadaan normal, ia akan menggoda Hyunjoong, karena baginya Hyunjoong yang sedang cemburu itu sangatlah menggemaskan. Tapi, ia sedang tidak dalam mood baik untuk meladeni kekasih, oh yang mungkin sebentar lagi menjadi mantan kekasih.

"Bukan urusanmu" jawab Youngwoon singkat. Hyunjoong menggeram.

"Bagaimana bisa ini bukan urusanku? Kau kekasihku, Kim Youngwoon!" ujar Hyunjoong dengan suara yang sedikit meninggi.

"Kau masih menganggapku kekasihmu, eh? Setelah mendiamkanku selama sebulan ini" balas Youngwoon tak mau kalah.

"Aku sedang mengerjakan skripsiku, Woon! Dan itu tidak menjadi alasan untukmu agar bisa selingkuh!" Youngwoon tidak bisa menahan emosinya lagi.

"Selingkuh huh? Kau menuduhku selingkuh, sementara kau selalu berduaan dengan wanita itu! Aku berusaha mengerti kesibukanmu, tapi kau malah bepergian dengan wanita yang tidak ku ketahui, bahkan kau juga tidak pernah menceritakannya seperti biasa! Sekarang siapa yang selingkuh, aku atau kamu?"

Youngwoon mengeluarkan isi hatinya dengan penuh emosi. Ia tidak terima, bagaimana bisa ia dituduh berselingkuh dengan Changmin? Foto itu tidak membuktikan apapun, apalagi di foto itu Youngwoon dan Changmin hanya berdiri berhadap-hadapan tanpa suatu interaksi yang mesra ataupun intim. Sungguh, Youngwoon benar-benar ingin membunuh orang yang mengirimkan foto itu pada Hyunjoong.

Hyunjoong hanya terdiam. Bibirnya kelu. Ia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Youngwoon.

"Sudahlah. Kau juga tidak dapat menjelaskannya, kan?" Youngwoon menghela nafas.

"Kita akhiri saja hubungan ini, Hyunjoong hyung. Aku tidak bisa mengerti kesibukanmu terus-menerus, tanpa penjelasan darimu. Aku tidak tahu apakah kau benar-benar sibuk mengerjakan skripsi, ataukah kau sibuk berselingkuh." Ucapan Youngwoon membuat Hyunjoong kembali menatapnya tajam.

"Putus? Tidak, kau tidak bisa memutuskanku sepihak, Youngwoon! Aku benar-benar tidak berselingkuh dengan Yura!" ucap Hyunjoong cepat.

"Oh, jadi namanya Yura? Lalu jika tidak berselingkuh, mengapa kau selalu berduaan dengannya? Jika memang teman, mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?

Kau tahu sendiri, aku tidak pernah masalah dengan pertemananmu karena kau selalu menceritakannya padaku, dan aku percaya. Yubin, Chaeyoung, Jinhee, Jinah, Soeun, aku tahu perempuan-perempuan yang memang dekat dan menjadi sahabatmu. Tapi Yura? Kau tidak pernah menceritakannya padaku, Hyun" ucap Youngwoon melemah, suaranya mulai bergetar.

Hyunjoong mengusap wajahnya kasar. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus diperbuat. Dirinya merasa bersalah, membuat kekasih yang sangat dicintainya menjadi sesedih ini. Tapi ia benar-benar tidak dapat menjelaskan apapun untuk saat ini.

"Sudahlah. Pulanglah, kita akhiri semua ini" ucap Youngwoon pelan dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.

Hyunjoong mendesah pelan, sebelum kemudian berdiri dan mendekat ke Youngwoon. Ia mengelus pelan rambut Youngwoon yang sedang menunduk dengan kedua tangan yang menangkup menutupi wajahnya.

"Maafkan aku, Luv. Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Maaf membuatmu menangis. Maaf menuduhmu tanpa alasan" ucap Hyunjoong pelan. Ia mengangkat tangannya sebentar untuk menghapus setetes air mata yang keluar.

"Baiklah, aku pulang. Kurasa kau, ah tidak. Kita butuh waktu untuk berpikir dengan kepala dingin. Tapi satu yang pasti, hubungan kita tidak berakhir" ucap Hyunjoong tegas. Ya, ia sudah cukup dewasa untuk tidak memaksakan diri membicarakan semuanya sekarang, saat kekasihnya sedang emosi.

"Aku pamit" ucapnya pelan, lalu menunduk untuk mengecup kepala Youngwoon dan mendekapnya. Youngwoon tidak menolak, namun juga tidak menunjukkan reaksi apapun. Hyunjoong melepaskannya setelah beberapa lama, lalu beranjak pergi.

Segera setelah Hyunjoong pergi, Youngwoon menekuk kedua lututnya, mendekapnya dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya. Ia menumpahkan segala kesedihan, kekecewaan, dan kekesalan yang ia rasakan satu bulan ini.

Youngwoon tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia berhadap, Hyunjoong dapat menjelaskan sesuatu tentang tingkahnya satu bulan ini. Sedikit saja, dan Youngwoon akan merasa lebih tenang. Tapi apa? Hyunjoong hanya berkata

'Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang'

Lalu kapan ia akan menjelaskannya pada Youngwoon? Setelah hubungan mereka kandas? Bahu Youngwoon bergetar, ia menangis dalam diam. Menangisi kisah cintanya yang menyedihkan.

.

.

.

Changmin menghentikan mobilnya di depan sebuah gedung apartemen. Ia tersenyum tipis melihat Kyuhyun berlari kecil ke arah mobilnya. Changmin segera turun, lalu berkata

"Tidak perlu terburu-buru, Kyu" Kyuhyun berdiri di hadapannya sambil sedikit terengah.

"Apakah kau menunggu lama?" tanya Kyuhyun. Changmin tersenyum lalu menggeleng pelan.

"Masuklah" ucap Changmin seraya membukakan pintu mobilnya untuk Kyuhyun.

"Terima kasih" Kyuhyun pun masuk ke dalam mobil. Changmin pun ikut masuk ke mobilnya, setelah menutupkan pintu untuk Kyuhyun. Ia pun segera melajukan mobilnya ke kediaman Sungmin.

"Terima kasih sudah mau menemaniku, Min. Juga, terima kasih sudah bersedia menjemputku" ucap Kyuhyun beberapa saat kemudian. Changmin terkekeh, lalu mengacak pelan surai kecoklatan Kyuhyun.

"Berhentilah mengucapkan terima kasih, Kyu. Baru beberapa menit kau bersamaku, dan kau sudah mengucapkan terima kasih sebanyak tiga kali" ucap Changmin geli. Kyuhyun mengulum senyumnya.

"Ku rasa aku akan banyak merepotkanmu malam ini" ujar Kyuhyun lagi.

"Kalau begitu, aku senang dapat direpotkan olehmu" balas Changmin tanpa dapat menyembunyikan senyum bahagianya. Sudah lama sekali rasanya mereka dapat menghabiskan waktu berdua seperti ini.

"Kau ini Min, dari dulu sampai sekarang tetap saja pandai membuatku merasa berhutang budi padamu" gerutu Kyuhyun, bercanda. Changmin tertawa. Mereka pun menghabiskan perjalanan ke rumah Sungmin dengan obrolan-obrolan ringan, sembari sesekali tertawa.

Tak lama kemudian mereka pun sampai di tujuan. Changmin turun untuk membukakan Kyuhyun pintu. Kyuhyun turun dengan sedikit ragu. Ia membawa sebuah kotak berhiaskan pita berwarna biru di tangannya.

Kyuhyun menatap rumah Sungmin cukup lama. Lalu menatap kotak kado yang ia bawa. Ia terlihat ragu. Entahlah, Kyuhyun tidak yakin ia dapat menghadapi Sungmin dan Saeun.

Changmin yang melihatnya ragu, menggenggam tangan Kyuhyun perlahan. Ia menggenggamnya dengan erat, namun tidak menyakitkan. Kyuhyun menoleh dan mendapai Changmin tersenyum hangat padanya.

"Kita hadapi bersama" bisik Changmin, menenangkan Kyuhyun. Kyuhyun pun tidak dapat menahan senyumnya. Kata-kata Changmin seolah menjadi penyemangat baginya. Ia pun memantapkan hatinya, kemudian melangkah masuk ke dalam.

Sesampainya di dalam, sudah banyak orang yang datang. Mereka duduk di suatu meja putih yang sangat panjang.

"Jja, temui Sungmin hyung terlebih dahulu" ucap Changmin sambil menarik pelan tangan Kyuhyun yang masih setia digenggamnya. Kyuhyun pun hanya bisa pasrah mengikuti langkah Changmin.

"Oh, annyeong, Kyu!" sapa Sungmin ketika melihat mereka berdua. Kyuhyun hanya tersenyum kecut, melihat Sungmin merangkul pinggang istrinya.

"Eoh, kau Changmin bukan?" tanya Sungmin ketika sudah di dekat mereka.

"Ne hyung, annyeong haseyo. Lama tidak berjumpa" sapa Changmin ramah dan sopan.

"Ahhh, benar kau Changmin! Wahh, kau tumbuh menjadi sangat tinggi! Bagaimana kabar hyungmu?" Changmin tersenyum tipis. Ya, ia memang cukup mengenal Sungmin. Mengingat, saat kecil ia kerap menemani eommanya berkunjung ke panti asuhan. Mereka berduapun mengobrol-obrol sebentar.

"Ini kenalkan, istriku. Mungkin kalian sudah saling mengenal, tapi aku belum mengenalkan padamu secara resmi" ucap Sungmin kemudian. Saeun pun mengulurkan tangannya, untuk berkenalan

"Annyeong haseyo, Kim Saeun imnida. Aku anak dari salah satu pengurus panti, kalau kau lupa" Changmin pun tertawa mendengarnya kemudian menyambut uluran tangan Saeun dan memperkenalkan diri. Mereka pun kembali mengobrol.

"Jadi, kau kemari bersama Kyuhyun?" tanya Sungmin kemudian.

"Ne, hyung" jawab Changmin.

"Yahh, Cho Kyuhyun! Mengapa kau tidak memberitahukanku sebelumnya?" ucap Sungmin pura-pura kesal.

"Hish hyung, kami juga baru bertemu minggu lalu" cebil Kyuhyun yang disambut tawa oleh mereka bertiga.

"Baiklah, silahkan duduk. Sepertinya aku menahan kalian terlalu lama" ujar Sungmin kemudian.

"Ah hyung, ini kado untukmu. Saengil chukkaeyo" ucap Kyuhyun tulus sembari memberikan kotak kado yang sedari tadi ia bawa.

"Gomawo, saengie" ucap Sungmin dan mengacak rambut Kyuhyun sambil tersenyum manis. Changmin dan Kyuhyun berjalan berdampingan kemudian bergabung di meja panjang itu.

"Bagaimana?" tanya Changmin setelah mereka duduk.

"Lebih baik. Terimakasih, Min" ucap Kyuhyun tersenyum. Mereka pun menikmati pestanya, walaupun terkadang Kyuhyun harus menahan sesak di dadanya ketika melihat Sungmin dan Saeun bermesraan.

"Ehm" Sungmin berada di ujung meja sambil menggandeng Saeun. Para tamu undangan yang hadir seketika terdiam, sadar bahwa tuan rumah akan mengatakan sesuatu.

"Terima kasih sudah datang ke pesta kecil ini. Malam ini, kami berdua ingin sedikit membagikan kebahagiaan kami kepada kalian semua, teman-teman kamu tercinta" Sungmin berhenti sejenak, lalu menatap Saeun penuh cinta.

"Istriku, Saeun sedang mengandung buah hati kami. Sekarang kandungannya sudah menginjak minggu ketiga"

Tubuh Kyuhyun seketika menegang. Dadanya terasa semakin sesak. Changmin yang menyadari hal itu segera menggenggam tangan Kyuhyun erat. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun.

"Aku harap anak kami dapat tumbuh dengan baik hingga ia lahir. Mohon doanya" lanjut Sungmin tersenyum lebar sambil mengelus perut Saeun yang masih rata, kemudian mengecup sayang istrinya itu.

Mata Kyuhyun mulai berair. Ia kira, ia sudah dapat merelakan hyungnya itu bersama sang istri. Tapi nyatanya, rasa dalam hatinya tidak dapat dibohongi. Ada perasaan tidak rela, ketika Sungmin merangkul, menatap, dan mengecup Saeun penuh cinta. Apalagi, di dalam perut Saeun sudah tumbuh buah hati, bukti cinta mereka.

"Min... Bisakah kita pulang sekarang?" pintu Kyuhyun dengan suara lirih dan bergetar. Changmin segera mengangguk dan berdiri. Ia meninggalkan Kyuhyun sebentar untuk berpamitan pada Sungmin.

"Hyung, aku dan Kyuhyun pulang duluan ne. Kyuhyun merasa tidak enak badan. Mianhae tidak dapat mengikuti pestanya hingga akhir" ucap Changmin.

"Ah ne, gwenchana. Aku titip anak itu padamu, ne. Dia memang sering kelelahan. Semoga dia tidak merepotkanmu terlalu banyak" jawab Sungmin.

"Tentu saja, hyung. Tenang saja, aku juga menyayangi Kyuhyun seperti hyung menyayanginya. Jadi tidak masalah jika dia merepotkanku"

"Terima kasih, Changmin" Changmin hanya tersenyum tipis lalu berbalik, ke arah Kyuhyun.

"Ah hyung, selamat untukmu dan Saeun Nuna. Semoga anak kalian bisa tumbuh dengan baik" ucap Changmin dengan senyumnya.

"Terima kasih" Sungmin tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dari raut wajahnya. Tentu saja ia bahagia, istri yang sangat dicintainya akhirnya mengandung buah hati mereka.

Changmin mengulurkan tangannya kepada Kyuhyun yang sedang menunduk. Kyuhyun pun mendongakkan kepalanya. Matanya sudah basah. Pipinya memerah. Changmin mengelus pipi gembilnya, menghapus air matanya.

"Jangan menangis di sini. Ayo pulang" ajak Changmin. Changmin segera menggandeng Kyuhyun agar mereka cepat keluar. Mereka berdua pun segera masuk ke mobil.

Segera setelah di mobil, Changmin memeluk Kyuhyun. Tangisan Kyuhyun makin menjadi dalam pelukannya. Changmin hanya terdiam sambil menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun.

Cukup lama mereka bertahan di posisi itu. Changmin akhirnya melepaskan pelukannya setelah dirasa Kyuhyun cukup tenang. Mata Kyuhyun terlihat merah dan bengkak. Changmin mengusap perlahan bekas air matanya.

"Aku akan mengantarkanmu pulang. Kau tenangkan dirimu dulu" ucap Changmin kemudian. Ia melajukan mobilnya sambil tetap menggenggam tangan Kyuhyun. Mereka berdua terdiam selama perjalanan. Sesekali, Changmin mengusap punggung tangan Kyuhyun untuk menenangkannya.

"Jja, sudah sampai. Aku akan mengantarmu sampai apartemenmu" ucap Changmin namun tangannya ditahan oleh Kyuhyun.

"Ania. Tidak perlu. Aku bisa masuk sendiri" balas Kyuhyun lemah. Changmin terdiam melihatnya. Ia turun, dan membukakan pintu untuknya.

"Terima kasih sudah menemaniku malam ini, Min. Maaf aku banyak merepotkanmu" Kyuhyun berusaha tersenyum. Changmin menatapnya lama, lalu memeluknya dan berbisik.

"Be strong, Kyu. Aku tahu kamu pasti bisa melewati semua ini. Aku akan selalu berada di sampingku. Jika kau membutuhkan apapun, hubungi aku saja. Aku akan segera menuju tempatmu"

Changmin melepas pelukannya.

"Masuklah. Aku akan menunggumu sampai masuk" ucap Changmin lembut dan mendorong Kyuhyun pelan. Kyuhyun pun berjalan masuk ke gedung apartemennya. Berbagai hal melintas di otaknya. Namun bukan tentang Sungmin, melainkan tentang Changmin.

Bagaimana bisa Changmin sebaik itu padanya? Padahal, selama ini ia sudah menyakiti hati Changmin. Ia selalu menolak Changmin, tanpa berusaha membuka hatinya untuk Changmin.

Apakah semua orang yang jatuh cinta sebaik Changmin? Ia tidak keberatan direpotkan olehnya. Bahkan, ia menjanjikan dirinya selalu berada di sisi Kyuhyun. Namun, ia tak pernah berada di sisi Changmin ketika Changmin sedang jatuh.

'Mengapa kau bertingkah seperti ini, Min? Apakah... aku pantas kau perjuangkan?"

.

.

.

TBC

Finally update~

Huweeehhh maafkan veect yang sangat lamban update-nya. Tugas sekolah semakin banyak dan veect sedikit kesusahan mengatur waktu OTL apalagi kemarin keyboard laptop sempat error, jadi semakin tidak mood untuk melanjutkan ff ini :"""

Sebenarnya chapter ini sudah setengah jadi beberapa bulan lalu. Namun ada beberapa bagian yang kurang 'sreg', sehingga harus veect ulang. Dan baru bisa diselesaikan saat liburan ini...

.

Veect mengucapkan beribu minta maaf sekaligus terimakasih kepada semua readers yang sudah membaca dan menunggu ff Who Knows ini. Semua reviews dari kalian menjadi penyemangat veect ^^

Sebagai permintaan maaf dari veect, chapter ini sengaja veect buat lebih panjang dari pada yang biasanya. Kalau biasanya hanya 2k-3k words, chapter ini veect buat menjadi 4k words. Semoga bisa mengobati kerinduan kalian pada ff ini :) Maaf belum ada yunjae moment di chapter ini huhuhu :"

.

Maaf bila kedepannya veect tidak bisa fast update seperti dulu ((ah... rindu jaman SMP yang punya banyak waktu luang :"" )). Tapi veect usahakan untuk update satu bulan sekali. Usahakan ya, bukan janji, hehehe.

Sekali lagi, terimakasih untuk semua readers, baik yang follow, favorite, review, ataupun siders. Veect sayang kalian semua *cium satu-satu*

Jangan lupa follow veect di wattpad ya (veectjae). Untuk project ff-ff baru, veect akan update di wattpad. Tapi di ffn tetap update kok, hanya didahulukan di wattpad terlebih dahulu, hehehe.

Oh ya, selamat natal bagi teman-teman semua yang merayakan! Dan juga, selamat tahun baru! ^^

Dan...

HAPPY 13th ANNIVERSARY, URI DONG BANG SHIN KI! Always keep the faith :*

.

Thanks for reading, review(s) please? ^^~