:
Taufiq879/Tandrato
:
Destined To Live With You
:
Bab 20
Hanya Ada Penyesalan
:
Disclaimer : Naruto Adalah Milik Masashi Kishimoto
Karakter : Naruto & Hinata
Genre : Family & Romance
:
Rating : 16+ (T)
Warning : Alternatif Universe Fanfic, Out Of Character, Typo Kemungkinan Ada.
If You Like My Fanfic, Keep Calm And Enjoy It
[]
[]
[]
Jam terus berputar menandakan waktu masih terus bergulir. Semakin banyak waktu yang para murid habiskan di sekolah ini, semakin banyak pula ilmu yang mereka dapatkan. Namun, pikiran mereka tak pernah lepas dari pertanyaan "Jam berapa sekarang?" atau "Kapan pelajaran akan berakhir?"
Bel tanda berakhirnya waktu belajar-mengajar yang ditunggu-tunggu akhirnya berbunyi. Para murid pun sudah tidak sabar untuk pulang. Terlihat beberapa siswa sudah mulai menyimpan barang – barang mereka.
"Sekian pelajaran dari ibu hari ini. Jika kalian ada pertanyaan, bisa hubungi ibu."
Guru yang mengajar saat itu mulai menyimpan barang-barangnya dan setelahnya berjalan meninggalkan ruang kelas. Keributan pun mulai menjadi di dalam ruang kelas 10-A ini. Para siswa yang sudah tidak ingin berlama-lama lagi di dalam kelas langsung meninggalkan ruang kelas.
"Piuh! Selesai juga. Aku pikir kita akan diberikan PR," ucap Naruto.
"Aku pikir juga begitu. Hari ini Anko sensei sepertinya tidak berniat memberi PR untuk pelajaran Biologi," kata Sasuke.
"Malam ini sepertinya aku bisa santai." Sambil menyandarkan bahu dan melipat tangannya di belakang kepala, Naruto bersandar pada bangkunya. Matanya tertuju pada Hinata yang sedang berjalan seorang diri keluar kelas. "Kau mengantar Sakura kan?" tanyanya pada Sasuke.
Sasuke saat itu sedang memakai tasnya. "Ya. Tapi sekarang katanya dia masih ada urusan. Jadi maaf aku tidak bisa mengantarmu untuk membeli stiker."
"Tidak apa-apa. Aku juga sepertinya tidak terlalu membutuhkan stiker itu sekarang."
"Heh?" Sasuke menatap Naruto bingung. "Kenapa?"
"Hmmm." Naruto bangkit dari tempat duduk. "Ya, mungkin saja aku harus beli karena itu belum pasti."
"Maksudmu soal kejadian di kantin tadi?"
"Iya. Sepertinya Sakura sudah mengetahui hubunganku dengan Hinata."
"Sebenarnya, Sakura sudah memverifikasi masalah itu padaku saat istirahat kedua. Yang ia percayai adalah kau dan Hinata berpacaran secara diam-diam.
"Berpacaran? Huff. Benar juga. Sebelumnya, ia melihat percakapan kami melalui sms di ponsel Hinata."
"Pandangan 'normal' remaja tentang hubungan kalian pastinya akan mengarah ke sana. Tapi hanya soal waktu saja sebelum Sakura mengetahui hubungan kalian yang sebenarnya. Terutama jika sampai dia tahu kalau kalian tinggal seatap."
"Hmm. Jadi begitu ya. Aku sepertinya kurang berhati-hati." Naruto melihat sekitar. Masih ada beberapa siswa yang berlalu lalang di dalam kelas. Namun karena Naruto dan Sasuke berbicara dengan pelan, suara mereka tidaklah memancing perhatian orang lain.
Sasuke melihat jam. "Aku harus menemui Sakura sekarang. Aku pergi dulu."
"Oke. Oh ya Sasuke. Usahakan agar Sakura tidak mengetahui hubungan kami yang sebenarnya."
"Serahkan saja padaku." Ia melangkahkan kakinya dan mulai berjalan meninggalkan Naruto.
Karena Naruto sudah tidak punya urusan lagi di sekolah, ia pun turut meninggalkan kelas. Ia berjalan dengan santai di koridor sambil melihat keluar jendela tepatnya ke arah gerbang sekolah. Terlihat para siswa sudah mulai meninggalkan lingkungan sekolah dengan kendaraan mereka ataupun dengan berjalan kaki. Ia pun melihat Hinata di sana dan memutuskan untuk berhenti sejenak. "Apa dia mau minta tolong Hayate menjemputnya?" tanyanya pada diri sendiri.
Begitu Hinata telah menghilang dari pandangannya, Naruto melanjutkan perjalanannya. Setibanya di pintu masuk gedung sekolah, ia dikejutkan dengan keberadaan Sasuke yang sepertinya sedang kebingungan.
"Yo Sasuke! Ada apa? Kenapa kau seperti kebingungan begitu?"
Mendengar namanya di panggil, Sasuke dengan segera merespons. "Kau lihat Sakura?"
"Tidak. Bukankah seharusnya dia di ruang guru seperti biasa?"
"Dia tidak ada di sana."
"Mungkin dia sudah menunggumu di tempat parkir."
"Dia tidak pernah menungguku di tempat parkir. Tapi tidak ada salahnya kalau aku cek di sana." Dengan cepat Sasuke berjalan menuju tempat parkir.
Naruto pun turut mengikutinya dengan pelan berharap Sakura tidak menemukannya. Mobil miliknya pun ia parkir di tempat yang lumayan jauh dari tempat di mana Sasuke biasa memarkir mobilnya. Jadi mungkin saja jika Sakura ternyata memang ada di tempat parkir, dia tidak akan mengetahui keberadaan mobil Naruto.
Semakin ia mendekati tempat parkir, semakin ia bersiaga terhadap kemunculan Sakura. Namun sejauh matanya memandang, ia tak menemukan keberadaan Sakura. Di ujung area tempat parkir, terlihat Sasuke yang sedang menelepon seseorang. "Sepertinya Sakura memang tidak ada di tempat parkir. Ya sudahlah ini kesempatanku untuk pulang," batin Naruto.
Ia mendekati mobilnya dengan santai namun tak lupa untuk memperhatikan keadaan sekitar. Sakura bisa saja muncul dari mana saja jika ia melihat Naruto memasuki mobil yang kemungkinan tidak asing bagi Sakura.
Perlahan ia membuka pintu mobil. Semua awalnya berjalan lancar hingga pantatnya menyentuh jok mobil yang empuk. Namun keadaan menjadi kacau kala ia melihat sosok perempuan berseragam sekolah sedang duduk di jok belakang sedang menelepon seseorang.
Naruto maupun gadis itu tampak terkejut. Ponsel yang dipegang gadis itu pun sampai jatuh dari genggamannya. Sementara, Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi. Gadis yang rencananya harus ia hindari, malah saat ini berada di dalam mobilnya.
"S-Sakura!" Teriak Naruto kencang dengan nada amat sangat luar biasa terkejut. Ia sangat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Teriakan itu sepertinya terdengar lewat saluran komunikasi oleh Sasuke yang sedang menelepon Sakura. Setelah mendengar teriakan itu melalui saluran komunikasinya, ia langsung menutup teleponnya dan berlari ke arah mobil Naruto.
"Gawat. Aku ketahuan Sasuke. Seharusnya Sasuke tidak boleh tahu kalau aku menyelinap ke mobil ini." Sakura menjadi panik karena melihat Sasuke mendatangi mobil ini.
"Tunggu dulu. Apa maksudmu menyelinap masuk ke dalam mobilku, Sakura?" tanya Naruto.
"Jadi ternyata memang mobil ini milikmu. Dugaanku ternyata benar."
Naruto menyadari kalau ia telah salah berbicara. Karena itu, ia sempat terdiam sejenak.
"Huh... Huh... Ternyata benar kau ada di sini." Sasuke tiba dengan sedikit terengah. "Apa yang kau lakukan di mobil Naruto, Sakura?"
Naruto hanya bisa menepuk dahinya. Sasuke sudah memperparah keadaan.
"Kau sudah tidak bisa mengelak lagi Naruto." Sakura tidak menanggapi pertanyaan Sasuke. Baginya, pertanyaan Sasuke itu malah memberikannya petunjuk yang sangat jelas sehingga terdengar seperti pernyataan.
"Ya... Ini... memang mobilku." Dengan berat hati Naruto mengatakan itu.
"Hihi. Ternyata benar. Pantas saja kemarin mobil ini mengebut dengan terbirit-birit. Siapa sangka kalau kau dan Hinata ternyata diam-diam sudah berpacaran." Sakura memalingkan mukanya kepada Sasuke. "Maaf ya, Sasuke. Aku membohongimu. Aku sebenarnya mau mengorek informasi dari Naruto secara langsung tanpa sepengetahuanmu."
Naruto mengelus kepalanya dengan ekspresi pasrah. "Kenapa kau begitu ingin tahu hubungan kami?"
"Hihi. Cuma penasaran. Padahal beberapa bulan yang lalu Hinata sempat berkata kalau ia menyukaimu. Tapi tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Tapi siapa yang menduga setelah beberapa bulan kemudian, kalian ternyata sudah berpacaran tanpa sepengetahuan kami. Padahal sikap kalian selama ini seperti tidak saling mengenal satu sama lain."
"Sepertinya Sakura memang hanya berpikir kalau kami berpacaran. Syukurlah," batin Naruto saat mendengar perkataan Sakura.
"Kau sejak awal tahu akan hal ini kan, Sasuke?" tiba-tiba Sakura bertanya pada Sasuke.
Sasuke sepertinya tidak kebingungan dengan jawaban yang harus ia katakan. "Hn. Aku tidak sengaja memergoki mereka di swalayan."
"Oh begitu. Sepertinya mereka kurang beruntung."
"Kau sudah selesai kan? Aku mau pulang. Masih ada urusan yang harus kuurus," kata Naruto.
"Aku belum selesai!" ucap Sakura dengan sedikit menggertak.
"Apa lagi, Sakura?"
Tiba-tiba, Sakura mendekat. Ia menyalakan lampu Flash ponselnya dan menyorotkan cahayanya pada wajah Naruto. "Kenapa kau diam-diam pacaran dengan Hinata?" suara itu terdengar menyeramkan. Sakura benar-benar menginterogasi Naruto.
"Apa ada hal yang harus kau sembunyikan?" lanjut Sakura.
Dengan tangan yang berusaha menutup cahaya yang menyilaukan matanya, Naruto menjawab. "Tidak ada. Tidak ada hal yang kusembunyikan."
"Lalu kenapa kalian pacaran secara terselubung? Tidakkah kau khawatir Hinata akan didekati orang lain karena tahunya dia belum punya pacar?" tanya Sakura dengan suara yang membuat Naruto tertekan. Ia hanya bisa terdiam karena tak mampu menjawab.
"Jawablah, Naruto!" paksa Sakura secara berusaha menyoroti mata Naruto dengan lampu flash ponselnya.
"Sudah cukup, Sakura." Suara itu adalah milik Sasuke. Tangan milik pemuda yang biasanya dingin pada orang lain itu meraih paksa ponsel Sakura dan menyimpannya dalam kantung celananya. Sakura dibuat tidak percaya dengan tindakan Sasuke.
"Menurutku, tidak pantas kita terlalu mencampuri urusan mereka. Pasti ada alasan tersendiri mengapa mereka berpacaran secara diam-diam. Bukankah dulu juga kita tidak membeberkan hubungan kita pada orang lain dan membiarkan hubungan kita larut dalam waktu?" Ucapan Sasuke itu membuat Sakura menjadi sedikit lebih tenang.
"T-tapi..." Sakura sepertinya tidak bisa memberi argumen. Ia hanya menundukkan kepala seraya memikirkan kata-kata. Setelah terdiam cukup lama, ia berkata "aku adalah sahabat Hinata. Aku tidak bisa membiarkannya berpacaran dengan sembarangan orang."
"Apa kau tidak mempercayai Naruto, Sakura?" tanya Sasuke.
"Aku percaya. Aku mempercayai Naruto karena dia adalah sahabatmu."
"Lalu kenapa kau seperti tidak menerimaku, Sakura?" sanggah Naruto."
"Diam kau, bodoh!" Mendengar ucapan itu dari mulut Sakura membuat Naruto kembali terdiam.
"Yang membuatku tidak percaya denganmu adalah cara kalian berpacaran. Benar-benar mencurigakan bagiku. Sudah sepantasnya jika aku harus tahu lebih dalam mengenai hubungan kalian. Aku takut kau hanya memanfaatkan Hinata saja. Setelah bosan, kau akan meninggalkannya dan tak akan ada satupun orang yang sadar kalau kau pernah berpacaran dengan Hinata."
Sasuke terdiam namun Naruto tersulut api kemarahan akibat perkataan Sakura tentang dirinya. "Ah. Kau pikir aku laki-laki seperti apa? Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Asal kau tahu saja, awalnya aku terpaksa harus berpacaran dengan Hinata." Naruto yang tersulut kemarahan tanpa sengaja mengucapkan sebuah kalimat yang makin merumitkan hubungannya dengan Hinata di pikiran Sakura. Ia hanya bisa terdiam setelahnya sambil menyesali perkataannya dalam hati.
Tidak bisa dipungkiri lagi kalau Sakura saat ini terkejut mendengarnya. "A-Apa maksudmu?" Tatapannya membesar ke arah Naruto. Namun tak ada tanggapan dari si pirang itu sehingga ia menatap wajah Sasuke. Namun pria dingin itu memalingkan pandangannya baik dari Naruto maupun Sakura. "Sasuke. Apa kau tahu maksudnya?"
"Maaf Sakura. Aku tidak mau ikut campur masalah ini karena semakin membesar sebab kebodohan sahabatku itu."
"Oh. Jadi kalian berniat menyembunyikan sesuatu dariku? Atau sejak awal kalian memang sudah menyembunyikan sesuatu dariku?" Ia masih saja melihat Naruto yang terdiam. "Jawablah, Naruto!" Teriakannya itu memicu perhatian para siswa yang kebetulan berada di sekitar tempat parkir. Namun karena ada Sasuke di sana, tak ada satupun siswa yang mau mendekat walau hanya sekedar ingin tahu apa yang sedang terjadi.
Naruto memukul Dashboard dengan cukup keras. "Terlepas dari perkataanku sebelumnya, aku menyukai Hinata. Perasaan itu muncul setelah semakin sering kami berinteraksi. Aku tidak seperti yang kau pikirkan, Sakura. Aku tidak menjadikan Hinata sebagai objek pelampiasan. Sekali lagi, aku tidak melakukan apa yang kau pikirkan."
Sorot mata Naruto menyatakan bahwa ia benar-benar marah. Bagi Sakura, mungkin ini kali pertama ia melihat Naruto seperti itu. Ia pun menyadari kesalahannya sebab sudah berkata yang tidak-tidak tentangnya. Sakura pun hanya bisa terdiam saat Naruto berbicara dengan nada marah padanya.
"Sepertinya aku memang yang terlalu jauh berpikir. Aku senang karena mendengar Hinata akhirnya berpacaran dengan orang yang ia sukai. Namun aku pun cemas saat tahu kalau kalian diam-diam berpacaran seperti itu tanpa sepengetahuan siapapun. Aku minta maaf karena sudah berkata yang tidak-tidak tentangmu."
"Kalau sudah tidak ada urusan, silakan keluar. Aku punya urusan yang harus diselesaikan sore ini." Nada bicara Naruto terkesan datar. Itu wajar sebab ia masih sedikit marah. Ia benar-benar tidak siap dengan situasi semacam ini. Karena itu, ia tidak menyiapkan alasan yang matang. Terlebih lagi ini sudah kesekian kalinya ia hampir membocorkan rahasianya.
Sakura perlahan keluar dari mobil Naruto. Sekilas Naruto melihat mata Sakura berkaca-kaca. Air mata menitik dari matanya saat ia jatuh dalam pelukan Sasuke. Naruto tidak begitu mengerti kenapa Sakura menangis. Tapi yang pasti, Sakura saat ini pasti sedang melampiaskan segala macam bentuk emosi dalam pelukan Sasuke.
"Sisanya serahkan saja padaku. Maafkan perilaku Sakura."
"Ya. Aku pergi dulu."
Sasuke mengangguk. Suara mobil Naruto pun terdengar saat mesinnya di nyalakan. Perlahan mobilnya bergerak maju dan menjauh meninggalkan tempat parkir.
"Ayo pulang, Sakura."
"Sasuke. Hiks! Apa Naruto membenciku setelah aku mengatakannya seperti itu?"
Sambil mengusap lembut rambut Sakura, Sasuke berkata, "Emosi kalian hari ini sedang tidak stabil. Terlalu banyak kejadian dalam sehari. Tapi aku yakin besok kalian akan kembali seperti semula. Tak akan kubiarkan orang yang dekat denganku..." Ia memeluk Sakura. "saling bermusuhan," lanjutnya.
[]=[]=[]
Dengan perlahan, Naruto memasukkan mobilnya di dalam garasi. Begitu sudah diparkir dengan baik, ia menutup pintu garasi dan berjalan menuju pintu yang menghubungkan antara rumah dan garasi. Namun dalam perjalanannya tersebut, ia melihat ke arah tembok.
Sejenak ia memikirkan kebodohan yang telah ia buat hari ini. Ia menyandarkan dahinya pada tembok saat merenung. Ia mengepal tangannya sekuat tenaga. Semakin kuat ia mengepal tangannya, semakin ia menjadi kesal hingga akhirnya dengan sekuat tenaga ia memukul tembok di hadapannya.
Tak hanya sekali. Ia memukulkan tangannya pada tembok beberapa kali dan tak lupa meneriakkan, "BODOHNYA AKU!" Rasanya emosinya mulai menenang setelahnya. Namun bukan berarti rasa marahnya hilang begitu saja. Ia terus memukul-mukul tembok dengan tangannya sekuat tangan sambil berkata "Bodoh! Bodoh! Bodoh!" berulang-ulang.
Ceklek!
Sebuah pintu terbuka dan membuat Naruto berhenti menyakiti dirinya sendiri. Seseorang yang membuka pintu tersebut adalah Hinata. Naruto hanya bisa memandangi Hinata tanpa ada pergerakan sedikit pun. Namun, terlintas dalam penglihatannya bahwa ada setetes air mata yang jatuh dari mata Hinata.
"K-Kau kenapa, Hina—" .
Prak!
Sebuah tamparan yang amat kuat menghantam pipi Naruto sebelum ia menyelesaikan perkataannya. Tamparan itu dilancarkan oleh Hinata sambil menitikkan air mata. Tentu saja Naruto merasa bingung dengan maksud dari tamparan yang mendadak itu. Apakah sebegitu marahnya Hinata padanya hingga gadis itu menamparnya.
Namun semua prasangkanya salah. Setelah tamparannya membuat Naruto tersungkur ke lantai, Hinata menghampirinya lalu memeluk Naruto dengan erat. "I-Ini bukan hanya kesalahanmu. Hiks! Ini kesalahan kita berdua karena kurang berhati-hati. Hiks! J-Jadi jangan menyakiti dirimu sendiri!" Hinata berbicara sambil terisak. Namun nada suaranya masih terdengar keras layaknya orang yang marah.
Mungkin, ini kali pertama mereka sedekat ini dengan kesadaran yang benar-benar penuh. Namun, Naruto sama sekali tak merasakan adanya kegugupan. Begitu pula dengan Hinata yang tanpa ragu memeluk Naruto seperti itu.
Perlahan Naruto mengangkat tangannya untuk mengelus rambut Hinata agar ia menjadi lebih tenang. Namun tiba-tiba ia merasakan sakit di tangannya. Sebuah cairan merah memenuhi kedua punggung tangannya. Bahkan saat ia melihat ke arah tembok yang dipukulinya, ada bercak darah di sana. Pada akhirnya ia membatalkan niatnya untuk mengelus kepala Hinata.
Namun, air mata gadis itu masih saja belum berhenti mengalir. Naruto memang telah berniat untuk tidak mengelus rambut Hinata agar tidak terkena darah. Namun, ia tidak tega melihat Hinata menangis seperti ini. Ia mengangkat tangannya dan mulai mengelus pipinya dengan jari jempolnya. Dengan jarinya tersebut, ia menghapus air mata Hinata. Meski lukanya harus terkena air mata Hinata yang makin memberi efek perih, namun ia tetap berusaha untuk menghapus tangisan Hinata dari wajahnya yang cantik.
"Jangan menangis seperti ini, Hinata. Kau membuatku semakin merasa bersalah."
"M-Maaf." Hinata mengelap air matanya memakai tangan. Ia pun menyadari luka Naruto yang terlihat cukup parah. Dengan cepat ia menyambar kedua tangan Naruto.
"Lukamu harus segera diobati." Hinata berdiri lalu membantu Naruto untuk berdiri juga. Dengan cepat Hinata menarik lengan Naruto menuju kamar mandi yang berada di dapur.
Ia menyiramkan air dingin ke luka Naruto untuk membersihkan darah yang menutupi luka. Setelahnya ia membersihkan luka-luka tersebut dengan Alkohol.
Setelah bersih, terlihat bahwa luka itu tidaklah besar dan parah sehingga tidak perlu di perban. "Syukurlah lukamu tidak parah."
"Terima kasih. Aku sama sekali tidak menyadari kalau tanganku terluka saat memukuli tembok."
"Jangan lakukan hal seperti itu lagi. Sekesal apa pun kau pada dirimu sendiri, tak seharusnya kau membuat dirimu terluka."
Mendengar perkataan Hinata, Naruto hanya bisa menundukkan kepala tanda menyesal. "Iya. Maafkan aku."
Lalu tiba-tiba saja ia mengangkat kepalaku. "Benar. Aku harus segera ke kantor." Ia segera berdiri dan berlari menuju kamarnya.
Hinata kala itu masih terdiam di kamar mandi. Barang-barang dari kotak P3K masih berantakan. Ia menyentuh pipinya di tempat yang sebelumnya di sentuh oleh Naruto. Seketika wajahnya pun memerah karena mengingat hal yang baru ia lakukan dengan Naruto.
"Kenapa aku memeluknya seperti itu." Ia menutup wajahnya menggunakan tangan untuk menutup rasa malu saat mengingat hal tersebut.
[]=[]=[]
"Mebuki-san! Mebuki-san!" Naruto berkeliling rumah sambil menyebut salah satu asisten rumah di kediaman Uzumaki. Bahkan ia sudah mendatangi ruang para asisten untuk mencari keberadaannya namun hasilnya nihil.
"Di mana sih Mebuki-san?"
Seseorang asisten rumah mendatanginya. "Ada apa tuan? Apa Anda mencari Mebuki?"
"Iya. Dia yang membersihkan jasku kan?"
"Mebuki sepertinya tadi sedang keluar. Saya akan menghubunginya."
"Ya. Terima kasih."
Seseorang memanggil Naruto. Segera Naruto berbalik untuk melihat si pemanggil.
"Ada apa Hinata?"
"Ternyata kau ada di sini." Terlihat Hinata sedang membawa sebuah jas yang masih terlindungi dengan plastik bening. Namun jas itu terlihat asing bagi Naruto.
"Jas apa itu?"
"Oh. Tadi Mebuki-san menitipkannya padaku. Ia minta tolong untuk menyerahkannya padamu."
"Jadi itu punyaku. Tapi sepertinya masih baru?"
"Hmm. Kata Mebuki-san ia baru memesan jas itu. Jasmu yang sedang ia bersihkan masih basah."
"Ya sudahlah. Bisa tolong keluarkan dari plastiknya, Hinata?"
"Baik."
Setelah jas itu dikeluarkan dari plastik pembungkusnya, Hinata memakaikan jas tersebut pada Naruto. Namun urusan kancing – mengancing itu dilakukan oleh Naruto sendiri. Sedikit ia rapikan posisi dasinya dan memastikan pakaiannya tak berantakan.
"Aku pergi dulu."
"Selamat jalan, tuan Naruto," ucap asisten rumah yang masih di dekatnya.
"Hati-hati Naruto."
"Ya. Jangan khawatir."
[]=[]=[]
Waktu sudah berlalu 30 menit semenjak ia tiba di kantor. Namun saat ini ia masih duduk sambil memandangi sebuah kertas bersama Arashi di sampingnya.
"Tanda tangan di kolom itu. Pastikan terkena materai," ucap Arashi memberi petunjuk pada Naruto.
"Kau yakin kerjasama ini akan membawa keuntungan bagi perusahaan kita, Arashi?"
"Bukankah Anda sendiri yang menyetujui perjanjian itu di pertemuan semalam?"
"Benar sih. Tapi kau ragu."
"Jangan khawatir. Jika hubungan kerjasama ini tidak membawa keuntungan bagi kita, kita dapat membatalkannya kapan pun. Itu sudah tercatat dalam surat ini."
Tangannya mulai meraih pena. Ia masih sedikit gugup.
"Jangan gugup, Naruto. Jika Anda gugup seperti itu, nanti Anda akan salah."
"Aku tahu." Ia mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya. Mata pena yang dipegangnya sudah mulai menyentuh permukaan kertas. Ketika ia hendak menarik garis pertama, seseorang membuka pintu tanpa mengetuk sambil memanggil namanya.
"Naruto!"
Akibatnya, Naruto terkejut dan membuat tangannya menarik garis yang sangat panjang hingga keluar dari kertas. Naruto menganga melihat perbuatannya. Sementara Arashi hanya bisa menepuk dahinya seraya berkata, "Seharusnya Anda mengetuk pintu dahulu, Nyonya Tsunade."
"Eh, ada apa?" Tsunade mendekati Naruto untuk melihat apa yang sudah terjadi.
"Ini dokumen penting yang pertama kali kutandatangani. Aku gugup sekali sampai sangat terkejut saat nenek memasuki ruangan."
"Oh. Maafkan nenek. Nenek tidak bermaksud mengejutkanmu."
Arashi memungut kertas itu. "Hufft. Akan kuminta mereka mengirimkan salinannya. Lalu ada apa Anda datang ke sini, Nyonya Tsunade?" tanya Arashi.
"Bukan untuk melihat kinerjaku kan?" tanya Naruto.
"Bukan. Nenek mau memintamu untuk menyiapkan 10 tiket."
"Tiket? 10? Untuk apa?" tanya Naruto bingung.
"Nenek mau berangkat bersama teman-teman nenek untuk menghadiri pemakaman teman lama kami di Kirigakure."
"Pemakaman? Baiklah. Akan kuminta mereka menyiapkannya. Atas nama siapa saja, nek?"
"Daftarnya sudah kuberikan pada asistenmu. Tolong di urus ya?"
"Ah. Oke. Jadi untuk keberangkatan kapan?"
"Besok pagi."
Naruto terkejut. Berdasarkan laporan yang ia baca saat di sekolah, tak akan ada penerbangan pagi untuk besok.
"Apa ada penerbangan besok pagi?" tanya Naruto pada Arashi.
"Hmmm." Arashi mengeluarkan ponselnya. "Tidak ada. Tapi ini adalah permintaan khusus. Jadi akan kuminta yang bertanggung jawab untuk menyiapkan pesawat khusus untuk keberangkatan Nyonya Tsunade bersama teman-temannya."
"Tolong ya?"
"Serahkan saja padaku." Arashi pergi keluar dari ruangan.
Tsunade memandangi Arashi dengan pandangan kagum. "Sepertinya kinerjanya masih belum berubah. Ia masih cekatan seperti dulu."
"Ya. Begitulah Arashi. Ayah pernah berkata kalau dia adalah mantan anggota Yakuza. Aku sampai tidak habis pikir, kenapa ayahku malah menjadikan Arashi sebagai pengasuhku saat kecil."
"Jadi kau mempertanyakannya? Pikiran ayahmu itu cukup rumit. Sulit untuk menebak apa yang sebenarnya ia pikirkan."
"Begitu ya."
"Tolong di urus ya Naruto. Nenek mau pulang untuk bersiap-siap."
"Baik."
[]=[Bersambung]=[]
[]
[]
[]
Author Note
Akhirnya kelar juga.
Semoga saja chapter ini bisa menghibur kalian semua.
Mari kita bahas chapter ini.
Seperti yang telah kalian baca, pada akhirnya Sakura mengetahui hubungan Hinata dan Naruto meski dia hanya mengetahui sebatas 'pacaran'. Aku tidak tahu apakah nanti Sakura bakal tahu hubungan NaruHina yang sebenarnya tahu tidak. Itu semua tergantung plot yang terpikirkan sewaktu menulis chapter terbaru nanti.
Berikutnya mari bahas Review yang masuk. Sebenarnya beberapa review sudah aku balas lewat PM. Entah masuk apa tidak.
Eins-Zwei [Terima kasih atas kritiknya. Aku benar-benar tidak menyadarinya. Mungkin memang ada beberapa paragraft yang terdiri dari sangat banyak kalimat. Aku minta maaf atas hal itu kalau membuat kalian merasa tidak nyaman saat membaca]
Ryuuzack [Hehe. Iya juga sih. Tapi ya aku bukanlah Author pro yang memiliki banyak penggemar dan pengikut. Aku tidak boleh membuat pembaca menunggu terlalu lama sebab aku akan kehilangan mereka. Berbeda dengan Author yang memiliki banyak pengikut dan penggemar. Selama apapun mereka mengupdate fic miliknya, pasti akan tetap banyak yang menunggu]
Adam. muhammad. 980 [Oke. Tetap setia menanti ya]
Rachman. Fatur. 161 [Sudah terjawab kan di chapter ini]
Andri (Guest) [Tenang saja, saingannya memiliki konsep yang berbeda. Lalu soal permasalahan update, bisa kukatakan tidak tentu ya. Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu yang bisa setiap 3 hari.]
Crezix [Hehe. Memang menyenangkan. Makanya aku memilih plot seperti itu. Jika rahasia mereka tetap tertutup hingga akhir nggak bakal seru. Untuk sarannya, sudah aku kerjakan di chapter ini. Tapi aku tidak tahu akan memenuhi ekspetasimu atau tidak. Jangan lupa nilai ya gan? Oh ya. Sebenarnya saat reviewmu masuk, aku sudah mengetik saranmu]
maaf untuk yang penulisannya salah. Soalnya jika tidak kuberi spasi, bakal dianggap sebagai URL dan dihilangkan.
:
:
Kemudian, aku ucapkan terima kasih pada kalian yang telah memfavoritkan dan juga memfollow fic ini. Berkat kalian aku memiliki cukup pembaca untuk membuatku tetap semangat mengetik.
Ucapan terima kasih yang amat sangat khusus kuhantarkan pada Author bernama pena Shiba Tatsuya. Sebagai salah satu pembaca yang memiliki hubungan cukup dekat karena tergabung dalam forum yang sama, dan juga karena telah tanpa sengaja atau dengan disengaja mempromosikan fanfic ini dengan menyebutkannya di dalam ceritanya yang berjudul "Fate of My Adolescence". Berkatnya, aku bisa melihat adanya peningkatan jumlah pembaca. Meskipun pereviewernya nggak meningkat drastis.
Sekian dari saya.
