Cast : B.A.P Members
Genre : AU, Yaoi, Drama
Part : 20/?
Warning : Typo, alur kecepetan /?.
:::::
Setelah kejadian tadi malam, kediaman keluarga Jung masih terlihat tenang tanpa terlihat tanda-tanda penghuninya yang sudah terbangun meskipun jam telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Untung saja ini adalah hari Minggu, sehingga tidak masalah jika mereka tidur hingga siang nanti. Mrs. Jung yang baru pulang dinas dari luar kota pun masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat lelah. Ia mendudukkan diri disofa di ruang keluarga terlebih dulu untuk mengistirahatkan dirinya.
"Apa mereka tidak ada dirumah. Padahal aku sangat merindukan mereka." Gumam Mrs. Jung karena tidak melihat satupun anaknya. Dengan langkah pelan, ia pun berjalan ke arah tangga untuk menghampiri kamar anaknya yang beberapa hari ini tidak ia temui.
"Semoga saja mereka tidak menginap dirumah yang lain." Harapnya saat tiba didepan pintu kamar Daehyun dan Youngjae lalu mulai mengetuknya.
"Daehyunnie, Youngie. Kalian ada didalam?" Panggil Mrs. Jung disela ketukannya.
"Apa tidak ada.." Mrs. Jung menghentikan ketukannya karena tidak mendapat respon.
Cklek, pintu kamar Daehyun terbuka saat Mrs. Jung akan beranjak pergi.
"Umma!" Panggil Daehyun. Ia segera keluar dan memeluk ibunya yang tidak pulang beberapa hari belakangan.
"Kupikir kalian menginap ditempat yang lain." Kata Mrs. Jung dalam pelukan anaknya.
"Aniyo, kami hanya belum bangun tadi. Mianhae." Balas Daehyun.
"Arasseo. Dimana Youngie? Umma juga merindukannya." Mrs. Jung melepas pelukan Daehyun dan mencoba untuk masuk ke dalam kamar.
"A-ah umma, jangan masuk dulu." Cegat Daehyun.
"Wae?"
"Youngjae aku suruh tidur lagi, kasihan dia terlalu lelah belajar semalaman." Daehyun terpaksa berbohong. Ia tidak mungkin membiarkan ibunya melihat kamar yang berantakan dan juga Youngjae yang hanya ditutupi selimut.
"Oh begitu, baiklah. Umma akan menunggu dia bangun saja."
"Hehe, mianhae umma."
"Gwaenchana, kau ingin makan apa? Umma akan membuatkannya."
"Tidak usah, lebih baik umma istirahat. Kau pasti sangat lelah selama disana." Daehyun memijat pundak Mrs. Jung.
"Eyy, kau tidak ingin umma urus lagi?"
"Bukan begitu, aku tahu kau kekurangan tidur. Lebih baik istirahat, lain kali saja kau mengurusku umma."
"Ye..ye.. Anak umma perhatian sekali. Kalau begitu, umma ke kamar dulu. Kau mandilah." Pamit Mrs. Jung sambil menepuk pipi Daehyun pelan.
"Terlalu dingin untuk mandi umma kkk." Daehyun merapatkan hoodie hitam yang ia gunakan saat membuka pintu untuk ibunya.
"Ckck, alasan." Mrs. Jung menggeleng lalu meninggalkan Daehyun.
"Kkk, selamat istirahat umma." Seru Daehyun sebelum kembali masuk kamar.
"Umma sudah pulang?" Tanya Youngjae yang masih rebahan di kasur dengan selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Kapan kau bangun?" Bukannya menjawab, Daehyun justru bertanya balik dan ikut rebahan disamping Youngjae.
"Saat kau keluar tadi."
"Oh, umma sangat ingin melihatmu. Ck, kenapa dia lebih merindukanmu daripada anaknya sendiri." Kata Daehyun dengan nada iri.
"Mungkin pesonaku sangat kuat." Narsis Youngjae.
"Sangat kuat, sampai-sampai Jung Daehyun tidak bisa lepas darimu."
"Gombal." Cibir Youngjae dan menyentil bibir tebal Daehyun.
"Aku serius chagi." Daehyun terkekeh melihat respon Youngjae.
"Arasseo." Youngjae terpaksa mengiyakan dan membuat keheningan terjadi diantara mereka berdua.
"Jae.." Panggil Daehyun yang kini hanya menatap langit-langit kamar.
"Mwo?" Sahut Youngjae sambil memejamkan matanya, mencoba untuk tidur kembali.
"Gomawo." Ucap Daehyun tulus.
Mendengar ucapan Daehyun, Youngjae membuka matanya lagi dan menatap sosok disampingnya dengan heran. "Untuk apa?"
"Kau mau berubah pikiran dan melakukannya."
Blush, Entah kenapa Youngjae merona saat teringat dengan kejadian yang baru saja ia alami. Mungkin dia akan terkesan tidak konsisten karena telah berubah pikiran. Namun anehnya tidak ada penyesalan sama sekali yang ia rasakan.
"Jae...kau dengar aku?" Panggil Daehyun lagi karena tidak mendapat respon. Ia menghadapkan pandangannya ke arah Youngjae yang terdiam.
"Ah ye, aku...mendengar." Balas Youngjae salah tingkah.
"Kau menyesal?"
"Ti-tidak. Mungkin memang sudah waktunya." Jawab Youngjae pelan.
"Mian, aku sudah merusak prinsipmu." Daehyun benar-benar merasa tidak enak.
"Gwaenchana baby." Youngjae mengangguk dan mengecup bibir Daehyun agar berhenti menyesal.
"Aku belum membalasnya." Ucap Daehyun saat Youngjae melepas kecupannya.
"Shireo." Youngjae mendorong badan Daehyun agar menjauh.
"Aish tega sekali." Daehyun memasang wajah memelas.
"Hm Daehyunnie." Youngjae tidak memperdulikan akting sedih Daehyun.
"Waeyo?"
"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan sejak tadi..." Ucap Youngjae ragu.
"Apa? Tanya saja." Balas Daehyun yang kembali mendekat dan mengusap rambut Youngjae lembut.
"Err... kau yakin tadi malam bukan pertama kalinya kau melakukan itu?"
"Waeyo? Aku melakukan kesalahan?" Daehyun tidak mengerti maksud pertanyaan Youngjae.
"Aniyo, hanya saja kau tidak terlihat canggung sama sekali. Beda denganku." Youngjae menggigit bibirnya karena takut ucapannya kali ini menyinggung Daehyun.
"Kau tidak tahu saja, dalam diriku sangat gugup. Tapi setelah aku ingat saran Yongguk hyung, aku mencoba menghilangkan rasa canggung atau gugup seperti itu. Dia bilang aku harus percaya diri untuk melakukannya, tidak perduli aku seorang pemula ataupun tidak." Jelas Daehyun disertai sebuah cengiran.
"Yongguk hyung?"
"Ne. Belakangan ini aku belajar dan minta saran dengannya. Kau tau bukan, dia yang sebenarnya paling pervert diantara kita."
"Hah, arasseo." Youngjae menghela napas panjang.
"Wae? Kau berpikir aku pernah melakukan ini sebelumnya? Aigoo." Daehyun merapatkan tubuhnya ke Youngjae. "Jangan khawatir, kau adalah orang yang pertama dan terakhir untukku."
"Tentu saja. Akan ku bunuh kau jika berani macam-macam dengan yang lain." Ancam Youngjae dan memukul dada Daehyun pelan.
Daehyun terkekeh, "Aigoo, Jung Youngjae cemburu tanpa sebab eoh?"
"Ck, aniyo. Sudahlah, aku ingin mandi dulu." Youngjae menjauhkan tubuh Daehyun dan menyibakkan selimut hingga tubuh polosnya terekspos begitu saja dihadapan Daehyun. Bagaimana lagi, ia tidak mungkin membawa selimut besar dan berat itu ke kamar mandi.
"Kau tidak ingin mengajakku?" Goda Daehyun.
"Shir- Akh." Kalimat Youngjae berubah menjadi pekikan saat ia mencoba untuk berdiri. Refleks ia mendudukkan diri kembali di pinggiran kasur.
"Gwaenchana?" Daehyun segera turun dari kasur dan memijat kaki Youngjae dengan cekatan.
"Daerah pinggang sampai kaki ku terasa nyeri dan sakit sekali." Keluh Youngjae pelan.
"Sebaiknya kita ke dokter saja." Saran Daehyun yang begitu khawatir.
"Tidak perlu, mungkin ini karena efeknya. Bukankah kita sering lihat Himchan hyung juga sering seperti ini?"
Daehyun mencerna ucapan Youngjae. Dan benar saja, mereka sering melihat Himchan berjalan dengan tertatih akibat Yongguk yang mengajaknya bermain. Tentu mereka mengetahuinya langsung dari Himchan yang sering bicara blak-blakan.
"Kau pasti sangat menderita. Mianhae chagiya." Daehyun mencium tangan Youngjae sebagai tanda penyesalannya.
"Eish, kenapa kau minta maaf. Gwaenchana, kau dengar aku? Gwaen-cha-na." Youngjae mengeja kata diakhir kalimatnya karena gemas dengan Daehyun.
"Arasseo." Daehyun mengangguk dan suasana kembali menjadi hening karena Daehyun terus memijat kaki Youngjae.
"Cha~ sepertinya kau tidak mungkin mandi sendiri chagi. Bagaimana kalau suamimu yang memandikan hm?" Goda Daehyun dengan sebuah seringai setelah selesai memijat kaki istrinya.
"Andwae, aku melihat gelagat tidak baik dari wajahmu."
"Eyy, kau mau begini seharian? Ugh, bau keringatmu tajam sekali." Ledek Daehyun dan pura-pura menutup hidungnya.
"Jinjayo?" Youngjae mengendus badannya sendiri. "Ah, benar."
"Jadi, bagaimana?" Daehyun tersenyum manis kearah Youngjae.
"Apa boleh buat." Jawab Youngjae pasrah.
"Chaaa. Saatnya untuk mandi, tuan putri." Daehyun mengangkat tubuh Youngjae dan menggendongnya ala bridal.
"Awas saja kau melakukan yang lain." Youngjae mengalungkan tangannya dileher Daehyun agar tidak jatuh.
"Sayang sekali aku akan melakukannya lagi chagi." Bisik Daehyun sambil berjalan menuju kamar mandi.
"Yak! Kau baru saja menyesal tadi. Shireoyo." Protes Youngjae.
"Kau bilang tidak apa-apa."
"Bukan berarti aku mengijinkannya, pabo. Turunkan aku." Omel Youngjae.
"Kau bicara apa? Aku tidak mendengarnya." Daehyun pura-pura tuli.
"Jung Daehyun-ssi. Turunkan aku, jebal."
"Apa?"
"Yak! Jung Daehyun! Turunkan aku sekarang!" Teriak Youngjae.
"Ssst, tidak baik berteriak chagi. Lebih baik simpan suaramu untuk permainan kita nanti." Ucap Daehyun santai dan mengunci pintu kamar mandi dengan satu tangannya.
"Shireo! Akan ku hajar kau." Teriak Youngjae saat Daehyun mendudukkannya didalam bathub yang kosong. Sementara Daehyun melepas pakaian yang ia kenakan tadi.
"Hajar saja jika kau kuat berdiri sekarang." Ledek Daehyun lalu menyalakan air shower sebagai pengiring suara kegiatan mereka nantinya.
"Akan ku laporkan pada umma." Ancam Youngjae.
"Aku tidak takut."
"Jung Daehyun, kau menyebalkan!" Gerutu Youngjae dengan tangan yang terus melempari Daehyun dengan perlengkapan mandi disekitarnya.
"Sst, jangan protes. Kau nikmati saja." Lanjut Daehyun lagi tanpa menghiraukan protes Youngjae. Ia membuka kedua kaki Youngjae lebar dan mengaitkannya dipinggiran bathub agar lubang Youngjae yang memerah itu terlihat.
"Yak! Paboya! Menj - Akh, Jung stoph." Teriakan Youngjae mendadak berubah menjadi lenguhan saat Daehyun kembali memasukkan miliknya ke dalam diri Youngjae tanpa pemanasan sekalipun.
Suara aliran air shower dikamar mandi pun mengiringi kegiatan mereka yang mulai memanas dan penuh dengan kalimat umpatan serta desahan yang keluar secara bergantian dari mulut Youngjae dan sepertinya hal itu akan terus berlangsung selama beberapa jam ke depan.
'Boom!' Sebuah suara ledakan terdengar keras di kamar yang dihuni oleh Jongup dan Junhong. Dua pemuda itu tampak serius dalam peperangan yang sedang mereka lakukan dalam permainan dilayar televisi.
"Yes. Aku menang lagi." Jongup berseru kesenangan karena berhasil mengalahkan Junhong untuk kesekian kali.
"Ah hyung, ayo ulang lagi." Rengek Junhong yang kembali merestart permainan mereka.
"Aku ngantuk maknae." Tolak Jongup. Ia menyenderkan tubuhnya dikaki kasur dan memejamkan mata.
"Alasan. Bilang saja kau takut aku kalahkan." Cibir Junhong.
"Aku justru tidak tega kalau kau akan kalah lagi." Sahut Jongup tanpa membuka mata.
"Ck, aku akan menang kali ini. Ayolaaah." Bujuk Junhong sambil menusuk pipi Jongup yang terus memejamkan mata.
"Zzzzz." Jongup pura-pura mendengkur agar Junhong berhenti.
"Nappeun." Bisik Junhong. Dengan wajah yang ditekuk, ia pun mengganti permainan petualangan yang ia kuasai lalu merebahkan kepalanya dipaha Jongup agar lebih nyaman selama permainan.
Jongup terkekeh melihat ekspresi kesal Junhong yang baginya menggemaskan itu. Secara diam-diam, Jongup pun membuka matanya dan memperhatikan Junhong yang sudah fokus dengan game pilihannya. Sesekali ia menahan tawa karena ekspresi Junhong saat melakukan kesalahan.
"Jangan tertawa." Ucap Junhong pelan dengan mata terus menatap layar tv dan membuat Jongup kembali menutup matanya -seolah tidur-.
"Pabo, aku tau sejak tadi kau membuka mata hyung."
Mendengar ucapan Junhong, Jongup pun menyerah dengan aktingnya dan menatap punggung Junhong. "Jinjayo?"
"Eum. Aku melihat bayanganmu di layar." Jelas Junhong sembari menunjuk layar tv yang juga menampilkan bayangan samar mereka berdua.
"Oh iya ya." Kata Jongup dengan datar.
"Pabo~" Ledek Junhong yang tidak ditanggapi Jongup.
"Ah ya, kau tidak lapar hyung?" Junhong menghentikan permainan lalu bangun dan duduk bersandar disamping Jongup.
"Lapar, tapi aku malas mengunyah."
"Dasar aneh." Junhong menggelengkan kepala karena alasan Jongup.
"Kenapa kau suka dengan orang aneh?" Sindir Jongup.
"Karena aku suka kau apa adanya." Sahut Junhong polos.
"Harusnya aku yang bicara seperti itu."
"Kau terlalu lambat hyung kkk."
"Itu karena aku bingung."
"Hidupmu selalu penuh dengan kebingungan." Ledek Junhong lagi. Entah kenapa ia sangat senang meledek orang yang tidak jelas statusnya apa sekarang.
"Aish Kau." Jongup memiting leher Junhong pelan.
"Hahahaha ampun hyung." Kata Junhong disertai tawa karena berhasil membuat Jongup kesal.
Setelah berada di kamar mandi selama tiga jam lebih, akhirnya kegiatan 'mandi' mereka pun selesai. Wajah segar layaknya orang yang baru selesai mandi pun tampak dengan jelas diwajah Daehyun maupun Youngjae. Dengan menggunakan bathrobe yang menutupi tubuh polos mereka, Daehyun pun membawa Youngjae digendongannya dengan pelan keluar dari kamar mandi. Jangan tanya bagaimana Youngjae sekarang, keadaannya yang sudah lemah justru bertambah lemah lagi akibat ulah Daehyun.
"Astaga, kotor sekali." Ucap Youngjae ketika menyadari tempat tidurnya berantakan dengan bercak noda dan juga sedikit darah pada sprei.
"Kau baru sadar?" Tanya Daehyun dan mendudukkan Youngjae di sofa yang terletak disudut kamar lalu mengambil beberapa pakaian di lemari.
"Ne. Aku jadi ingin segera membereskan kamar ckck." Decak Youngjae yang memang tipe orang penyuka kerapian.
"Jalan saja belum benar." Sahut Daehyun dan memberikan pakaian pada Youngjae.
"Karena ulahmu, pabo." Gerutu Youngjae sambil memasang pakaiannya.
"Kkkk, biar aku saja yang membereskannya. Istirahat lah." Perintah Daehyun yang selesai berganti pakaian dan mulai melepas sprei lalu menggantinya dengan yang baru. Tidak lupa dia memungut pakaian mereka berdua yang tergeletak dibawah tempat tidur sejak semalam.
"Jangan cuci sprei dan pakaian kita sekaligus." Youngjae memberi arahan.
"Arasseo chagi." Daehyun pun memisahkan pakaian dan sprei yang tadi sudah ia gabungkan.
"Nah begitu. Oh ya, ujung sprei disana tidak rapi." Komentar Youngjae.
"Cerewet sekali." Gerutu Daehyun lalu merapikan sprei lagi.
"Kau bilang apa?"
"Ani, aku lapar." Daehyun menjawab dengan cengiran lalu segera pergi membawa sprei dan pakaian yang akan ia masukkan ke dalam mesin cuci di lantai bawah.
"Alasan." Youngjae menggeleng dan mencoba berpindah ke tempat tidur meskipun dengan langkah yang tertatih. Paling tidak ia harus mencoba untuk berjalan agar bisa masuk sekolah besok.
"Chagi, ayo kita turun. Umma sudah menyiapkan makan siang daritadi." Ajak Daehyun yang baru kembali ke kamar dan duduk disamping Youngjae yang sibuk mempelajari materi ujian di tempat tidur.
"Eoh sebentar, aku mengerjakan satu soal ini dulu." Sahut Youngjae tanpa mengalihkan pandangan dari buku dihadapannya.
"Ck, urusan perut lebih penting daripada ini. Kajja, kau belum makan dari tadi malam." Daehyun menggulingkan tubuh Youngjae agar berhenti belajar.
"Yak! Buku ku jadi kumal." Protes Youngjae karena bukunya tertindih.
"Nanti aku setrika." Sahut Daehyun asal lalu mengangkat dan membawa Youngjae keluar kamar.
"Aigoo, romantis sekali." Puji Mrs. Jung dari ruang makan saat melihat Daehyun dan Youngjae menuruni tangga.
"Anakmu memang selalu romantis umma." Sahut Daehyun dengan narsis.
"Lebih tepatnya selalu menyebalkan." Gumam Youngjae yang berpegangan erat di leher Daehyun.
"Aku tidak dengar." Ucap Daehyun dan menurunkan Youngjae sesaat mereka tiba dilantai dasar.
"Dasar tuli." Cibir Youngjae yang tentunya bercanda. Ia berjalan ke ruang makan dan menghampiri Mrs. Jung dengan sangat pelan.
"Umma, kau merindukanku?" Sapa Youngjae disertai senyuman lebar dan pelukan hangat untuk Mrs. Jung.
"Iya, umma sangat merindukanmu. Aigoo, pipimu bertambah chubby saja." Mrs. Jung menepuk pelan pipi Youngjae.
"Jinjayo? Ah, sepertinya aku harus diet lagi."
"Andwae, tubuhmu ini sudah ideal. Tidak perlu diet. Arra?" Mrs. Jung segera melarang.
"Hm, ne umma." Terpaksa Youngjae menurut.
"Oh ya, kakimu kenapa? Tadi umma lihat kau kesusahan berjalan." Tanya Mrs. Jung.
"Aku jatuh saat main futsal dengan yang lain." Jawab Youngjae berbohong.
"Astaga, Daehyun tidak menjagamu? Sampai kau bisa jatuh dan seperti ini." Mrs. Jung mendelik kearah Daehyun yang sudah menyantap makan siang lebih dulu tanpa mendengar obrolan mereka.
"Mwo?" Tanya Daehyun dengan mulut penuh.
"Kau tidak menjaga istrimu eoh? Sampai dia terjatuh saat main."
"Eish umma, Youngjae tidak-" Mengerti maksud kekhawatiran ummanya, Daehyun pun mencoba menjelaskan secara jujur namun berhasil dicegat Youngjae.
"Gwaenchana umma, aku memang tidak hati-hati saja hehe. Kajja kita makan." Ajak Youngjae berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ayo, sebelum semua makanan Daehyun habiskan."
"Aku tidak setega itu umma." Protes Daehyun yang memang sudah tambah porsi makan beberapa kali.
"Bercanda aegi kkk. Makan yang banyak, umma sengaja masak ini untuk kalian." Ujar Mrs. Jung seraya menyodorkan lauk untuk kedua anaknya.
"Kamsahamnida." Seru Youngjae dan mulai makan.
"Bagaimana dengan sekolah kalian?" Mrs. Jung kembali memulai obrolan saat makan.
"Daehyunnie selalu tidur dikelas umma." Adu Youngjae.
"Yak! Kau bilang tidak akan mengadukannya pada umma." Daehyun menoyor kepala Youngjae.
"Oops, aku lupa hehehe." Youngjae menyengir dengan sarkastik.
"Aish, Daehyunnie. Kau harus rajin. Ingat sekarang kau adalah kepala keluarga." Nasehat Mrs. Jung.
"Coba kau tiru Youngie, dia rajin belajar dan selalu mempertahankan peringkatnya." Mrs. Jung melanjutkan kalimatnya.
"Puji saja terus umma. Anggap aku tidak ada."
"Jung Daehyun iri eoh?" Kekeh Youngjae dan menarik sebelah pipi Daehyun -gemas-.
"Tidak." Sanggah Daehyun.
"Tapi umma, akhir-akhir ini dia juga sering dapat nilai bagus saat tes percobaan."
"Jangan karena merasa tidak enak lalu kau memujiku." Tegur Daehyun dengan wajah masih ditekuk.
"Eish aku hanya bicara kebenarannya pada umma."
"Whoa Jeongmal?" Mrs. Jung tidak percaya.
"Ne, ingin ku ambilkan beberapa lembar tes nya?" Tawar Youngjae.
"Ani, umma percaya. Uri Daehyunnie memang hebat."
"Tadi dijatuhkan, sekarang dipuji. Selanjutnya apa." Gumam Daehyun yang heran dengan tingkah ummanya.
"Kkk, jangan merajuk Baby. Kau terlihat seperti bocah jika seperti ini." Bujuk Youngjae. Ia merasa tidak enak Daehyun mendapat teguran oleh Mrs. Jung karena dirinya.
"Sst, berisik." Ketus Daehyun.
"Kau marah?" Youngjae memandang lekat Daehyun.
"Aniyo, aku tidak bisa marah denganmu. Mian, aku ketus tadi." Daehyun tidak tega melihat wajah merasa bersalah Youngjae. Dalam hitungan detik, moodnya yang tadi sedikit buruk kembali membaik dan justru menyesal telah sinis pada Youngjae.
"Aku yang harusnya minta maaf, sepertinya aku sudah keterlaluan." Ucap Youngjae dan menyandarkan kepalanya dibahu Daehyun. Ia tidak peduli lagi dengan makanan didepannya.
"Sudah sudah, mungkin umma yang salah." Lerai Mrs. Jung.
"Kau tidak salah umma. Ayo makan lagi." Ajak Youngjae lagi. Mana mungkin dia membiarkan mertuanya itu merasa bersalah.
"Jinja?"
"Ne~ Umma, aaaa." Youngjae menyuapi Mrs. Jung sepotong daging.
"Gomawo ne." Mrs. Jung tersenyum simpul atas perlakuan Youngjae terhadapnya.
"Besok kami pulang malam lagi, umma tidak perlu menunggu kami untuk makan bersama." Daehyun memberi info.
"Oh arasseo, tapi kalian juga tidak boleh telat makan. Mengerti?" Saran Mrs. Jung dan dijawab dengan anggukan.
"Lalu bagaimana dengan kuliah kalian? Sudah tau ingin memilih universitas dan jurusan apa?"
"Molla. Lihat nanti saja." Jawab Daehyun.
"Kalau aku ingin masuk Manajemen Bisnis di Universitas Seoul, umma." Youngjae ikut menjawab.
"Aku juga kalau begitu."
"Daehyunnie, pilih sesuai minat mu. Jangan ikut-ikutan begitu." Nasihat Mrs. Jung.
"Aku tidak ingin terpisah dengan Youngjae, bisa-bisa dia digoda oleh namja lain." Daehyun beralasan.
"Aigoo, ada-ada saja. Umma setuju dengan pilihan kalian, tapi masalahnya adalah...apa mungkin Daehyunnie bisa lulus disana?" Kata Mrs. Jung dengan nada ragu.
Hening, tidak ada yang bisa menjawab keraguan Mrs. Jung. Bahkan Daehyun pun bingung dengan kemungkinannya bisa lulus di universitas unggul di negaranya.
"Yak, kau punya banyak penghargaan kompetisi nyanyi bukan. Gunakan itu untuk meminta rekomendasi sekolah." Usul Youngjae setelah berpikir cukup lama.
"Prestasi saja tidak cukup, tetap nilai jadi syarat utama Jae."
"Kalau kau bisa meningkatkan peringkatmu jadi 10 besar, sepertinya itu sudah cukup." Lanjut Youngjae yang langsung membuat Daehyun malas mendengarnya.
"Benar, peringkatmu juga sudah bagus. Kau pasti bisa meningkatkannya lagi aegi." Mrs. Jung menyemangati.
"Tapi kalau dia tidak mau berusaha lagi, tidak apa-apa umma. Aku jadi bebas mendekati siapapun di universitas nanti." Youngjae memanasi Daehyun.
"Yak, kau ingin cari mati?" Daehyun langsung bereaksi.
"Mwo? Salah kau sendiri yang langsung menyerah."
"Arasseo arasseo. Aku akan berusaha." Daehyun akhirnya menyerah.
"Nah ini baru Daehyun yang ku kenal, fighting." Youngjae berteriak ditelinga Daehyun dan langsung mendapat toyoran dari empunya telinga.
"Hahaha, Daehyunnie hwaiting." Mrs. Jung menjangkau kepala Daehyun dan mengusapnya dengan lembut.
"Ne~ hwaiting." Sahut Daehyun dengan kurang semangat. Sepertinya masih ada keraguan dalam dirinya sendiri, mengingat beberapa waktu lalu dia pernah gagal berada dalam top 15.
Waktu terus berjalan, dan siang pun kini sudah berganti dengan malam. Memang malam belum terlalu larut, namun tetap saja waktu ini dimanfaatkan sebagian orang untuk bersantai setelah seharian melakukan aktifitas masing-masing. Begitupun dengan Himchan dan Yongguk yang setelah seharian tadi berkutat dengan tugas mereka.
"Bbang, ayo kita makan." Teriak Himchan dari arah dapur. Sudah berulang kali Himchan memanggil kekasihnya itu, namun sosok yang diharapkan tidak kunjung keluar dari kamar.
"Eish, kenapa tidak menjawabku. Apa yang dia lakukan." Himchan bicara pada diri sendiri. Rasa penasaran rupanya tidak dapat ditahan olehnya, ia pun segera melepas apron dan menyusul Yongguk di kamar mereka.
"Bbang." Panggil Himchan pelan saat melihat Yongguk sedang berbicara serius di telepon.
Menyadari keberadaan Himchan, Yongguk pun meletakkan jari telunjuknya ke bibir sebagai isyarat agar Himchan tidak berisik.
'Ada apa.' Batin Himchan dan duduk menyenderkan kepalanya di pundak Yongguk selagi menunggu obrolan serius di telepon berakhir.
"Ne, annyeong. Saranghamnida." Ucap Yongguk sebelum menutup telepon. Ia melihat Himchan sambil menghela napas berat.
"Wae?" Tanya Himchan tanpa mengubah posisi.
"Kau sedang ada ujian dikampus?" Yongguk bertanya balik.
Himchan coba mengingat jadwalnya, "Tidak ada. Wae?"
"Pekerjaanmu sedang kosong?"
"Aku ada panggilan untuk syuting iklan kecil-kecilan lusa. Wae? Kau tidak menjawabku sejak tadi." Himchan penasaran dan mengarahkan Yongguk agar duduk menghadapnya.
"Hah, yang menelepon tadi itu umma." Bicara Yongguk setelah menghela napas beberapa kali.
"Aku tau. Lalu?"
"Appa sedang sakit, dan aku ingin menjenguknya. Kau tau bukan, hanya aku anaknya."
"Arra, itu sudah kewajibanmu. Aku juga akan ikut menjenguknya." Balas Himchan tanpa berpikir panjang. Dari pertanyaan Yongguk tadi tentu ia tau kalau Yongguk berniat untuk mengajaknya.
"Ck, dengarkan aku dulu." Tegur Yongguk karena Himchan selalu memotong pembicaraannya.
"Kau ingat pertanyaanku saat bermain ToD kemarin? Sebenarnya beberapa hari lalu umma menyuruh kita untuk tinggal disana menemani mereka. Tapi aku langsung menolak karena aku tau kau tidak mungkin jauh dari makam orangtuamu dan juga pekerjaanmu."
"Omo, kenapa kau baru bilang sekarang."
"Hime, sebentar." Tegur Yongguk lagi saat Himchan akan memotong kembali.
"Dan tadi, umma memberitahuku jika appa sedang sakit gagal ginjal tingkat awal dan harus melakukan check up dua minggu sekali. Mereka juga baru mengetahuinya setelah pergi ke rumah sakit siang tadi."
"Omo, appa-"
Hap, Yongguk menutup mulut Himchan agar berhenti bicara dan kembali melanjutkan penjelasannya tanpa peduli dengan tatapan tajam dari kekasihnya.
"Rencananya besok lusa aku akan pergi dan berada disana paling lama satu minggu. Apa kau tidak masalah?" Yongguk bertanya dengan nada ragu dan menjauhkan tangannya dari mulut Himchan.
"Aku ikut denganmu."
"Iklanmu? Bukannya kau menunggu kesempatan ini sejak dulu."
"Ah kau benar Bbang. Tapi bagaimana dengan appa." Himchan tampak dilema dengan pilihannya.
"Gwaenchana, urusan appa biar aku yang kesana. Kau tetap lakukan pekerjaanmu. Arasseo?"
"Mereka pasti berpikir aku tidak perduli jika aku tidak ikut pergi, Bbang."
"Aku akan menjelaskannya, lagipula aku yang melarangmu ikut bukan? Tenang saja."
"Bagaimana kalau aku menyusulmu saat pekerjaanku selesai?" Ide Himchan yang langsung mendapat penolakan.
"Tidak usah. Kau disini saja, kalau perlu ajak Jongup menginap disini menemanimu."
"Kau yakin ingin dia yang menginap? Kau tidak cemburu eoh?" Goda Himchan.
"Yea... tidak ada pilihan lain. Daripada kau sendirian selama aku tidak ada. Dan hanya dia yang bisa dimintai tolong." Balas Yongguk terpaksa.
"Benar juga, sudah lama aku tidak tidur dengannya. Kau benar tidak marah kan?" Himchan kembali memanasi Yongguk yang mulai terlihat cemburu.
"Suruh Jongup tidur diluar."
"Tapi aku tidak bisa tidur sendiri dikamar, Bbang."
'Chu.' Bukannya membalas ucapan Himchan, Yongguk justru menciumnya dengan tiba-tiba sehingga pria bergigi kelinci itu berhenti bicara. "Jaga jarakmu sejauh mungkin darinya, arra." Yongguk mengingatkan disela ciumannya dan dijawab anggukan dari Himchan.
'Drrt Drrt' Ponsel Yongguk yang bergetar kencang menginterupsi kegiatan mereka berdua. Dengan malas, Yongguk melepas tautan bibirnya pada Himchan dan membuka beberapa pesan di aplikasi ponselnya.
"Nugu?" Tanya Himchan sambil melap bibirnya yang basah.
"Jung Daehyun." Jawab Yongguk sembari mengetik pesan balasan lalu menjauhkan ponselnya.
"Wae? Tumben sekali kalian berkirim pesan."
"Dia hanya berterimakasih karena saran dan arahan yang ku ajari dulu. Sepertinya dia berhasil mempraktekkan itu pada Youngjae." Tebak Yongguk.
"Maksudmu..." Himchan mencoba memahami kalimat Yongguk.
"Omo! Dia serius melakukannya? Yak, kenapa kau mengajarinya. Youngjae bisa saja -" Omelan Himchan kembali ditahan Yongguk dengan sebuah ciuman kilat.
"Aku sudah mengingatkannya, tapi dia tetap saja nekat." Kata Yongguk.
"Aku hanya bercanda menyuruh mereka melakukan itu kemarin. Jika Youngjae tidak beresiko hamil, mungkin aku tidak perduli mereka mau melakukannya sekarang atau tidak." Himchan merasa menyesal telah memanasi dua sejoli itu.
"Aku juga. Ya sudah, kita lihat saja nanti. Semoga tidak terjadi apa-apa." Yongguk turut menyesal karena kemarin pura-pura memihak Daehyun dalam permainan.
"Ku harap juga begitu." Himchan memanyunkan bibirnya.
"Melihatmu cemberut seperti ini membuatku lapar Hime." Yongguk mendekati Himchan dengan sebuah seringai.
Himchan melihat Yongguk yang terus menatapnya bagai harimau kelaparan. Tentu ia mengerti maksud dari tatapan tersebut. "Aish, arasseo arasseo. Kajja, aku akan memberimu jatah seminggu." Ucapnya pasrah.
"Hahahaha, kau pengertian sekali Hime." Yongguk tertawa senang dan segera mematikan lampu kamar sebelum menerjang mangsanya.
"Ah ya, tapi makan malam kita sudah siap." Himchan tiba-tiba teringat makanan yang sudah ia siapkan sebelum masuk ke kamar.
"Ck, biar saja." Sahut Yongguk yang mulai mengerjai tubuh Himchan dengan mulut serta tangannya yang sangat lihai disetiap bagian tubuh makhluk seksi dihadapannya saat ini.
:::::
Akhir pekan telah berakhir dan sudah waktunya semua orang untuk kembali beraktifitas seperti biasa. Dan hal ini juga terlihat di kediaman keluarga Jung yang baru selesai menyantap sarapan buatan Mrs. Jung dengan bersama.
"Umma, kami berangkat duluan." Pamit Daehyun dan mencium pipi ibunya.
"Kau mau pakai mobil umma?" Tawar Mrs. Jung mengingat kondisi Youngjae.
"Tidak, aku bisa menggendongnya sepanjang jalan." Tolak Daehyun langsung.
"Andwae, apa kata guru dan siswa yang lain kalau melihat kau menggendongku."
"Untuk apa peduli dengan perkataan orang."
"Kau lupa Junhong menyuruh kita agar jangan mencolok?"
"Hah. Kenapa kita tidak bisa seperti pasangan sekolah yang lain."
"Kkk, Itu karena kita berbeda." Sahut Youngjae dengan kekehan.
"Kalian sudah selesai bicara? Lihat, sudah jam 7." Mrs. Jung menyela obrolan kedua anaknya.
"Yasudah, aku pinjam mobil."
"Aku bisa jalan sendiri Dae." Sanggah Youngjae.
"Kau ingin pakai mobil atau ku gendong?"
"Iya iya, pinjam mobil umma saja." Youngjae menyerah.
"Kalian ini masih saja berdebat, cepat berangkat. Jangan sampai kena hukuman karena terlambat." Tegur Mrs. Jung.
"Keurae, saranghae umma." Daehyun mencium pipi ibunya lagi lalu bergegas mengambil kunci disalah satu laci meja diruang keluarga kemudian langsung pergi ke garasi.
"Annyeong umma." Pamit Youngjae dengan membungkuk 90 derajat kemudian menyusul Daehyun yang lebih dulu mengambil mobil.
"Hati-hati dijalan." Seru Mrs. Jung ketika dua pemuda itu menghilang dari hadapannya.
Suasana kelas siswa tingkat akhir terlihat begitu tenang, berbeda dengan kelas juniornya yang selalu gaduh tanpa peduli ada guru maupun tidak didalamnya. Saat ini, kelas Daehyun dan Youngjae sedang fokus pada papan tulis yang tertera contoh soal-soal yang diajarkan guru matematika mereka.
"Ada yang bisa jawab soal ini?" Tanya guru itu dengan wajah datar.
"Saem!" Youngjae mengangkat tangan disaat tidak ada satu pun temannya berniat untuk menjawab. Well, Youngjae memang hanya peringkat kedua dari seluruh siswa kelas tiga. Tapi, pada dasarnya dia adalah peringkat pertama di kelasnya.
"Oh Yoo Youngjae. Silahkan maju dan tulis jawabanmu di depan." Perintah guru tersebut.
"Ne." Sahut Youngjae dan segera melangkah maju ke papan tulis dengan tertatih. Dan tentu saja hal itu jadi pertanyaan seluruh penghuni kelas saat ini. Sementara Daehyun fokus pada Youngjae yang menurutnya terlalu memaksakan untuk berjalan.
"Kau kenapa?" Tanya sang guru saat Youngjae ada didekatnya.
"Ah, ini? Saya terjatuh saat bermain futsal, saem." Jawab Youngjae dengan wajah meyakinkan.
"Oh. Baiklah. Silakan tulis."
"Nde." Tak ingin membuang waktu, Youngjae pun bergegas menulis cara penyelesaian soal yang menurutnya benar.
"Ya, tepat sekali. Kau bisa kembali ke mejamu."
"Nde, kamsahamnida." Youngjae menundukkan kepala lalu kembali ke tempatnya.
"Ada yang tidak paham dengan cara yang ada disini? Angkat tangan jika ada." Ujar Sang guru pada seluruh muridnya yang terus diam.
"Aigoo, saya tidak mengerti kalian diam karena mengerti atau tidak. Tapi baiklah, kita cukupkan sampai disini." Pria paruh baya tersebut menyerah dengan tingkah siswanya yang kebanyakan hanya mencatat tanpa merespon pengajarannya sama sekali layaknya robot. Berulang kali ia menghela napasnya seraya keluar dari kelas dan seiring keluarnya guru tadi, maka tibalah waktu istirahat. Semua siswa berhamburan meninggalkan kelas dan mulai memenuhi ruangan kantin yang cukup luas tersebut
"Huft." Youngjae merebahkan kepalanya dimeja saat kelas yang ia tempati telah sepi.
Melihat Youngjae masih duduk manis ditempatnya, Daehyun memukul belakang kepala Youngjae dengan pulpen pelan.
"Wae?" Tanya Youngjae dan mengubah posisi wajahnya menghadap kearah Daehyun.
Daehyun ikut merebahkan kepalanya seperti Youngjae agar mudah untuk bicara.
"Kau kenapa?" Wajah Daehyun begitu khawatir.
"Ani, aku hanya kelelahan."
"Tidur saja. Istirahat kita masih lama." Daehyun mengusap lembut rambut Youngjae.
"Bangunkan aku kalau sudah 5 menit." Pinta Youngjae lalu memejamkan matanya.
"Ndeee." Balas Daehyun yang masih mengusap rambut Youngjae agar lebih terlelap. Bagaimana lagi, itu sudah jadi kebiasaannya saat menidurkan Youngjae. Mata Daehyun terus memandangi wajah Youngjae yang sudah tertidur pulas sembari bernyanyi pelan untuk menghilangkan rasa kebosanannya. Sesekali tangannya beralih mengusap pipi menggemaskan Youngjae dengan lembut. Beruntung tidak ada satu siswa pun selain mereka dikelas hingga ia bebas melakukan ini tanpa ketahuan oleh yang lain.
"Aigoo, kenapa kau semakin cantik hm." Kata Daehyun sangat pelan seraya menjalankan jari telunjuknya disetiap lekuk wajah Youngjae.
"Aku sangat beruntung memilikimu." Ucap Daehyun diiringi senyuman simpul.
Suasana kantin begitu penuh oleh siswa-siswa yang sekedar duduk atau menikmati makan siang mereka. Dan seperti biasa, meja yang ada disudut kantin dan cukup jauh dari meja lainnya sudah diisi oleh dua siswa yang tidak begitu banyak bicara satu sama lain. Mereka justru sibuk dengan gadget masing-masing, entah apa yang sedang dilakukan dengan benda persegi panjang tersebut.
"Hyung." Panggil Junhong.
"Wae? Kau merindukanku?" Ujar Jongup datar.
"Tidak." Junhong mengerjapkan matanya polos. "Kemana hyungdeul?"
"Molla. Mungkin sedang belajar."
"Rasanya sepi sekali tidak ada mereka." Junhong menelungkupkan wajahnya pada meja makan.
"Sebentar lagi mereka akan lulus. Kita harus terbiasa mulai sekarang kkk." Kekeh Jongup sambil menepuk pundak Junhong.
'Ya ya ya.' Seorang siswi berlari ke arah teman-temannya yang duduk cukup jauh dari Jongup dan Junhong, namun suara gadis yang begitu nyaring itu masih bisa terdengar dengan jelas oleh orang-orang disekitar mereka.
"Berisik sekali." Gerutu Junhong karena merasa terganggu.
"Sepertinya adik kelas." Tebak Jongup asal dan kembali menikmati kentang goreng yang masih tersisa.
"Hyung aaa." Junhong membuka mulutnya ketika melihat Jongup sedang makan.
"Ambil." Jongup menyodorkan kentang kearah Junhong.
"Menyebalkan." Cibir Junhong karena Jongup tidak mengerti maksudnya.
"Apa?" Tanya Jongup polos.
"Aniyo." Jawab Junhong malas dan memperhatikan siswa lainnya.
"Bukannya kau mau ini?"
"Tidak jadi. Hyung saja yang makan." Sahut Junhong tanpa melihat Jongup yang dengan santainya mengangguk dan mulai menghabiskan kentang goreng tersebut tanpa menyadari kekesalan Junhong padanya.
'Pabo.' Batin Junhong dengan menghela napas.
'Omo... Daehyun oppa? Ini benar-benar dia?' Junhong menajamkan telinganya saat mendengar sekelompok gadis berisik tadi menyebut nama hyungnya sambil menunjuk layar ponsel.
'Eum. Sebelum kesini aku melewati kelas Daehyun oppa dan ini yang kulihat.' Cerita gadis yang sebelumnya berteriak memanggil temannya.
"Hyung. Kau dengar itu, mereka membicarakan Dae hyung." Junhong menyenggol lengan Jongup agar ikut menguping.
"Mungkin mereka fans Dae hyung." Sahut Jongup.
"Ck, dengar dulu." Junhong menutup mulut Jongup yang terus menebak asal.
'Pantas saja. Kalian ingat tidak, aku pernah cerita melihat Daehyun oppa mencium tangannya di halaman sekolah? Ku pikir itu hal biasa dalam persahabatan mereka. Ternyata...'
'Omo andwae! Daehyun oppa harusnya memilihku saja.' Salah seorang gadis disana terlihat tidak terima.
"Heol, mereka benar-benar membicarakan hyungdeul. Kajja hyung." Junhong geram dengan adik kelas yang menggosipkan hyungnya. Ia pun menarik kerah seragam Jongup agar berdiri dan mengikutinya untuk menghampiri kelompok gadis tersebut.
"Apa ini?" Junhong mengambil ponsel yang menjadi sumber pembicaraan mereka. Dan betapa kagetnya dia dan Jongup saat melihat sebuah foto terpampang jelas di layar. Dengan cepat, Junhong menghapus foto tersebut tanpa peduli dengan protes gadis-gadis tersebut.
"Yak! kenapa kau hapus." Gadis pemilik ponsel itu langsung merebut kembali ponselnya dari tangan Junhong.
"Kau berani membentak kami? Dimana kesopananmu terhadap sunbae?" Akhirnya Jongup mengeluarkan kekesalannya. Ia memang akan mudah marah jika ada yang mengusik sahabatnya. Terlebih gadis itu telah membentak orang yang disayanginya.
"Aniyo. Mianhae sunbae." Gadis tersebut menunduk.
"Maknae-ya, apa yang kalian lakukan?" Dengan santainya Daehyun menghampiri Jongup dan Junhong yang kini menjadi pusat perhatian beberapa siswa yang penasaran.
"Oh hyung, baru kami ingin mendatangimu." Ucap Junhong ketika sadar Daehyun ada didekatnya.
"Mana Jae hyung?" Tanya Junhong lagi karena melihat Daehyun hanya datang sendiri.
"Dia tidak enak badan, jadi aku ingin membeli snack dan minuman untuk makan dikelas." Jelas Daehyun.
"Kalian kenapa? Bertengkar? Siswa lain serius sekali melihat kalian." Daehyun terlihat bingung.
"Ani. Cepat kau beli, lalu kita ke kelasmu." Junhong mendorong Daehyun pelan agar pergi dari mereka.
"Arasseo. Annyeong hoobae." Pamit Daehyun dengan ramah serta senyuman lebar sebelum menjauh.
"Lebih baik kalian diam, dan jangan sebarkan ini." Jongup mengingatkan kelompok gadis itu.
"Kalian berdua, kajja." Teriak Daehyun pada kedua maknaenya setelah selesai membeli snack dan minuman.
"Ne hyung!" Sahut Junhong. Jujur, dia sedikit kaget saat ini. Kaget karena foto yang ia lihat dan juga kaget melihat Jongup bersikap berbeda seperti biasanya. Ia pun segera menarik lengan Jongup agar pergi dari kantin yang sudah tidak nyaman itu dan menghampiri Daehyun yang sudah menunggu mereka didekat pintu.
"Hyung, kalian sedang apa sebelumnya?" Tanya Junhong langsung saat ia, Daehyun dan Jongup tiba di kelas yang masih dihuni oleh Youngjae seorang.
"Aku menunggui Youngjae yang tidur." Jawab Daehyun sambil memakan cheeseball yang ia beli.
"Wae?" Youngjae melihat ada hal serius yang akan dibicarakan oleh kedua maknaenya.
"Hyung, kau saja yang bicara." Suruh Junhong pada Jongup.
"Baiklah." Jongup menurut.
"Cepat cerita, kau buang-buang waktu." Paksa Youngjae karena Jongup tidak kunjung menjelaskan.
"Iya hyung iya. Jadi tadi kami makan dikantin dan memesan kentang goreng dan softdrink."
"Yak! Aku tidak peduli kau makan apa. Langsung ke cerita inti saja." Protes Daehyun.
"Biar jelas hyung." Balas Jongup polos.
"Pabo. Aku saja yang cerita." Junhong mencubit kedua pipi Jongup gemas sebelum memulai ceritanya.
"Hyung, kalian lihat kami berdua sedang bersama sekelompok gadis bukan?" Junhong memandang kearah Daehyun yang mengangguk.
"Mereka membicarakanmu. Dan kau tau tentang apa? Salah satu mereka memperlihatkan foto yang ia ambil saat melewati kelas kalian."
"Foto apa?" Tanya Youngjae penasaran.
Junhong menghela napas sebelum melanjutkan, "Daehyun hyung sedang mencium seseorang yang duduk disampingnya dalam keadaan kelas sedang sepi. Dan sudah jelas, orang itu kau Jae hyung."
"MWO?" Kaget Daehyun dan Youngjae serempak.
"Yak! Jung Daehyun, kau menciumku? Aish, paboya." Youngjae memukul kepala Daehyun karena kesal.
"Wajahmu sangat menggemaskan saat tidur tadi, dan bibirmu juga terlihat seksi. Aku tidak kuat menahannya." Daehyun segera menjauh dari Youngjae dan menjelaskannya dengan suara pelan.
"Kenapa kau melakukannya disini. Argh, Jung Daehyun kau benar-benar bodoh." Kata Youngjae frustasi.
"Saat itu lorong dan kelas sama sekali tidak ada orang. Jadi aku nekat saja menciummu. Setelah itu pun aku tidak melihat ada yang lewat." Lanjut Daehyun.
"Molla molla molla. Aku tidak mau dengar alasanmu." Rasanya ingin sekali Youngjae menghajar Daehyun sekarang juga karena kebodohan dan kecerobohan suaminya itu.
"Tenang hyung, fotonya sudah ku hapus dari ponsel gadis itu." Ucap Junhong, berusaha menenangkan kedua hyungnya yang kembali bertengkar.
'Drrt.' Ponsel Jongup bergetar dan menampilkan nama 'Jung Yein' dilayar dan mengiriminya sebuah pesan.
'Dia lagi.' Gumam Junhong saat melihat sekilas layar ponsel Jongup.
"Sepertinya kita lupa menghapus salinan foto di ponsel gadis yang lainnya." Ujar Jongup ketika melihat pesan tersebut.
"Apa maksudmu?" Youngjae merebut ponsel Jongup untuk melihat isi pesan yang diterimanya.
"Tamat riwayat kita Dae." Youngjae menelungkupkan wajahnya diantara bungkusan snack yang ada dimejanya.
"Hah, Jung Daehyun. Kau ceroboh sekali." Daehyun mengatai dirinya sendiri dan terduduk lesu dikursinya.
"Ada apa hyung?" Junhong tidak mengerti.
"Yein bilang, foto itu sudah dikirim secara berantai oleh siswa. Dia kira kita belum tahu, jadi dia mengirim kepadaku juga." Jelas Jongup.
"Anak-anak itu, keterlaluan." Gerutu Junhong.
"Semua akan baik-baik saja hyungdeul." Junhong kembali menenangkan kedua orang yang sedang meratapi nasib mereka.
"Semoga." Balas Daehyun dengan tatapan kosong. Harus diakui, ini memang kesalahannya karena bertindak ceroboh. Tapi ia tidak menyangka jika ada orang yang tega membesar-besarkan hal ini dan menyebarkannya keseluruh siswa padahal saling mengenal saja tidak. Apa boleh buat, semua sudah terjadi dan tidak bisa diubah lagi. Yang harus dilakukan oleh keduanya sekarang adalah pasrah dengan resiko selanjutnya yang akan dihadapi.
::::
TBC.
Finally, semoga suka yaaa. Maaf updatenya lama dan jadi ga jelas gini T.T Thanks sudah mau bacaaa ^^
[Balasan Review]
Park Rinhyun-Uchiha : jonglo canggung gara2 malu tuuuuh xD hahaha, maaf ya kurang hoteu aku gabisa bikin smut kkk. Terimakasih udah baca ^^
Linkz Account : rintangan jonglo masih panjang (?) banghim juga harus dpt masalah dong biar adil /digebuk banghim/ Terimakasih udah baca ^^
GithaCallie : Jongup habis kepentok tuh, kepentok hatinya junhong xD iyalaaah, daejae gamau kalah sama banghim. Yg belum married aja udah gitu /eh. Makasih yaaa ^^
Indriana217 : iyaaa, maaf ya. Aku ga berpengalaman bikin yang hot kaya gituuu makasih udah baca ^^
Restika : aaa maaf lupa ngasih warning makasih udah baca ya ^^
Chica Ananda : semua pertanyaan kamu bakal ada di part selanjutnya kok maaf ya kurang hot huhuhu. Makasih banyak udah baca ^^
Adios wipe : makasih makasih /ceritanya wakilin jonglo/ xD bbang pergi dulu ya bentaran x( ah jonglo belum dewasa kok D: jawabannya ada next part yaaa. Makasih banyak udah baca ^^
KJMZYX : jongup habis kepentoh hati junhong tuh jadinya sok sweet D: ah aku gabisa bikin yang hot nih, jadi kemungkinan bakal dikit momen bikin anaknya /eh. Makasih yaa, maaf lama ^^
Septianamlinasteleport05 : iyaaa makasih ya udah baca ^^
A Y P : siaaap. Makasih banyak ya ^^
YgHm : iya, waktu berasa cepat ya (?) tidur bareng tp ga ngapa-ngapain kok iyaaa, finally kejadian juga ya. Tapi kurang hot nih. Dimaafin ya, blm berpengalama bikin beginian (?) Terimakasih udah baca ^^
DSJung : iya mereka udah jelas sih sama perasaan masing-masing, tapi HTS (?) iyaaa maafin aku lupa ngasih warning sebelumnya yeaaay, masih lama /eh. Terimakasih udah baca ^^
Bbangssang : aaa mianhaeee makasih udah baca yaaa ^^
Sekarzane : dae berhasil bikin pertahanan jae runtuh (?) makasih banyak yaa, maaf lama ^^
Jiraniatriana : aaah noo, aku gabisa bikin yang hot kak. Jadi maklumin aja kkk. Maaf ya anw makasih udah bacaa ^^
