I'm Fine

20.

Maura terbangun, ia mendengar kedua orangtuanya bertengkar dari ruang makan. Ia duduk di kasur orangtuanya yang besar lalu mengsusap-usap matanya, ia memegang boneka naganya erat. Semakin lama, suara kedua orangtuanya makin keras dan hal itu membuatnya takut, Maura memasukkan tangannya kemulutnya.

"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Hermione! Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Draco berseru frustasi.

Hermione diam saja, tidak menjawab, ia tahu jika sudah seperti ini tidak akan ada gunanya meladeni banter Draco.

"Aku sudah bilang kan kalau aku akan menunggumu, aku akan melakukan apapun, aku tidak memaksamu untuk menikah denganku atau semacamnya, apa keberadaanku mengganggumu?" Draco berseru frustasi.

"Hermione apa kau tidak kasihan pada Maura? Kalau kita tidak tinggal bersama, semuanya akan menjadi rumit baginya, kita harus membesarkannya bersama."

Hermione menghela nafasnya, tentu saja ia sudah memikirkan hal ini, ia tahu kalau ia dan Draco berpisah lagi maka akan berdampak buruk pada Maura, tapi ia punya alasan lain.

"Draco, aku punya alasan, aku tidak mungkin melakukan ini jika alasanku tidak baik." Hermione berusaha menjelaskan.

"Oh, benarkah? Kalau begitu beritahu aku apa alasanmu? Cepat! Aku mau dengar." Draco berseru kesal.

Hermione menghela nafasnya.

Draco tertawa. "Lihatkan! Kau tidak punya alasan." Draco berseru saat Hermione masih diam saja. "Apa alasanmu Hermione? Apa? Kau bosan denganku? Kau tidak nyaman berada di dekatku? Kau muak berada di sampingku?"

"Draco.."

"Ah, kau ingin bertemu pria lain? Kau ingin hidup bebas? Tidak terikat hubungan dengan pria brengsek yang kebetulan ayah dari anakmu." Draco berseru seakan-akan itu jawaban yang benar dari pertanyaannya tadi.

Hermione mulai kesal tapi ia menahan dirinya. "Draco, ini bukan saat yang tepat untuk bertengkar." Hermione berseru, berusaha tetap tenang.

"Kalau begitu kenapa kau mengajakku bertengkar?" Draco emosi.

Hermione menghela nafasnya. "Aku tidak dengan sengaja membuatmu marah. Bisakah kita tidak bertengkar, aku tidak ingin membangunkan Maura."

Draco diam, tapi ia bukan diam karena tidak ingin membangunkan Maura, ia diam karena berpikir.

"Kau tidak pernah mencintaiku kan?" Draco berteriak kencang.

"Draco! kecilkan suaramu!" Hermione berseru panik. Ia kemudian berjalan ke arah kamar untuk menutup pintu dan memasang silencing spell, tapi sepertinya sudah terlambat.

"Maura?" Hermione berseru panik. Ia berlari masuk dan menemukan Maura sudah menangis sambil memegang erat bonekanya dan memasukkan tangannya di mulutnya.

"Maura, kau terbangun ya?" Hermione duduk di samping Maura dan memeluknya erat.

"Kenapa kalian bertengkar?" Maura bertanya pelan sambil terisak.

"Oh, sayang, maafkan kami." Hermione berseru, ia menggendong Maura dan berdiri, kemudian bergerak-gerak untuk menenangkan anaknya itu.

"Hermione." Draco berseru dari depan pintu.

Hermione meliriknya galak.

"Apa yang terjadi?" Draco bertanya pelan.

Maura melihat ke arah ayahnya yang berdiri di depan pintu dengan mata yang basah.

"Maura…" Draco berseru panik. "Apa kami membangunkanmu?" Draco bertanya pelan, berjalan mendekat ke arah Hermione dan Maura.

Maura mengangguk pelan, tangisnya sudah reda tapi ia masih tersengguk-sengguk.

"Kenapa kalian bertengkar?" Maura bertanya dan seketika tangisnya pecah lagi. "Aku tidak ingin kalian bertengkar." Maura menangis lagi.

Hermione berusaha menenangkannya lagi, menepuk-nepuk punggungnya dan mengelus-elusnya pelan.

"Maura, maafkan Mommy dan Daddy." Hermione berseru pelan.

Maura masih menangis, ia mulai membasahi bagian bahu baju Hermione. "Aku tidak ingin kalian bertengkar, dulu Allen bilang kalau orangtua yang suka bertengkar maka mereka akan berpisah, aku tidak ingin kalian berpisah."

"Kami tidak akan berpisah sayang." Draco berseru, ia melihat Maura semakin sedih dan mulai terbatuk-batuk, ia dengan cepat mengambil segelas air dan menyuruh Hermione mendudukkan Maura di kasur.

"Minumlah sayang, dan berhentilah menangis." Draco berkata pelan, ia berlutut di depan Maura sementara Hermione duduk disamping Maura.

Maura meminum air yang diberikan ayahnya, tangisnya mulai reda dan ia terus mengelap air matanya dengan lengan piyamanya.

"Kenapa kalian bertengkar?" Maura bertanya pelan, suaranya bergetar.

Draco dan Hermione terdiam.

Maura menangis lagi. "Aku tidak ingin kalian bertengkar." Maura berteriak lalu menangis kencang. Ia melempar boneka naganya ke arah Draco.

"Daddy! Kenapa kau berteriak tadi dan tidak mengatakan apa-apa sekarang?" Maura menangis. "Mommy! Aku tidak mau kau membuat aku dan Daddy berpisah lagi! Aku belum lama punya ayah, kenapa kau mau mengambilnya lagi?"

Hermione menangis mendengar Maura menangis sedih seperti itu, ia merasa bersalah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Hermione menangis dan bergerak untuk memeluk anaknya, tapi Maura menepisnya.

"Aku tidak mau." Maura berseru sedih, ia masih menangis dan lendir ingus mulai keluar dari hidungnya.

Draco terdiam.

Tangannya bergetar.

"Maura." Draco berseru, ia mengulurkan tangannya untuk menggapai anak perempuannya itu, tapi Maura menepisnya.

"Aku tidak mau!" Maura berseru lagi. "Aku tidak mau, Mommy, tidak mau Daddy." Maura menagis tersedu-sedu.

Maura melompat dari kasur dan berjalan ke arah ruang tengah, ia menuju ke arah pesawat telepon di dekat dapur. Telepon di ruangan itu tergantung tinggi, jadi Maura mendorong kursi dari meja makan kesana dan menaikkinya, ia menelepon telepon rumah Grandpa dan Grandma Granger yang nomor teleponnya ia hafalkan dari dulu.

"Halo..." Grandma Granger menjawab dari sebrang sana.

"Grandma…" Maura menangis kencang. "Jemput aku."

.

"Hermione, apa yang terjadi?" Helena bertanya pelan.

Hermione hanya diam.

Maura sudah tertidur di gendongan Richard yang duduk di ruang tamu. Draco entah menghilang kemana.

Begitu Maura menelepon Richard, Draco langsung menghilang entah kemana, sepertinya ia mengalami tekanan karena untuk pertama kalinya Maura menepis tangannya, pertama kalinya Maura berkata ia tidak menginginkannya. Hermione bisa melihat kalau Draco merasa gagal sebagai ayah, jadi ia sepertinya pergi untuk menenangkan diri.

"Maura mendengar aku dan Draco bertengkar." Hermione memberitahu pelan.

Helena langsung menghela nafasnya. "Apa yang kalian permasalahkan? Kenapa Maura sampai seperti ini?" Helena bertanya, melirik Maura yang sepertinya kelelahan karena terlalu banyak menangis.

Hermione menghela nafasnya dan tidak menjawab pertanyaan ibunya.

"Haruskah kami membawa Maura ke rumah?" Richard bertanya pelan.

Hermione menggeleng. Ia tidak bisa memberitahu kedua orangtuanya kalau ada orang yang menyusup semalam, hal itu hanya akan membuat masalah semakin rumit jadi ia tidak mungkin bisa membiarkan Maura ikut dengan kedua orangtuanya, tidak aman.

"Kalian tidur disini saja." Hermione berseru. "Draco kemungkinan tidak akan pulang malam ini."

Hermione kemudian mengambil bantal dan selimut ekstra, ia mengubah sofa ruang tamu mereka menjadi kasur besar dan tidur disana dengan Maura dan juga kedua orangtuanya.

.

Draco merasa seperti sampah.

Pertama, ia bertengkar dengan Hermione dan mengeluarkan kata-kata yang kasar dan sekarang disesalinya.

Kedua, ia membuat Maura menangis dan sedih karena kebodohannya, ia seharusnya mendengarkan kata-kata Hermione untuk memelankan suaranya agar Maura tidak terbangun dan mendengar ayah dan ibunya bertengkar.

Ketiga, Maura membencinya.

Draco merasa seperti sampah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Maura menepis tangannya, Maura tidak mau memeluknya, Maura tidak menginginkannya lagi, dan semua ini karena salahnya, karena kebodohannya.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Draco menghela nafasnya, ia bahkan tidak bisa menutup matanya dan tidur. Ia tidak tahu harus kemana jadi ia menyewa kamar di hotel Muggle yang bahkan tidak ia ingat namanya.

Draco berusaha menutup matanya, berharap ia tertidur dan ketika terbangun semuanya sudah normal.

Draco menutup matanya dan yang ada dipikirannya hanya Maura dan Hermione. Belum apa-apa ia sudah gagal menjadi seorang ayah.

Draco tahu bagaimana rasanya ketika kedua orangtuanya bertengkar, berteriak satu sama lain karena hal-hal tidak masuk akal. Dulu tentu saja ia sedih, menangis dan tentu saja kesal pada kedua orangtuanya.

Mungkin itu yang dirasakan Maura sekarang. Kedua orangtuanya bertengkar, berteriak satu sama lain, apa yang akan dirasakan anak perempuan berumur empat tahun yang bahkan baru beberapa bulan bertemu lagi dengan ayahnya.

Draco berpikir, apa ia akan menjadi ayah yang sama seperti Lucius? Ia benar-benar ingin menjadi ayah yang baik untuk Maura, ingin menjadi pria yang baik untuk Hermione.

Tapi sepertinya ia gagal.

Draco tertawa dan melempar bantal disampingnya ke lantai.

Ia menangis.

.

"Draco belum kembali?" Helena bertanya pada Hermione yang baru terbangun. Hermione menggeleng, ia kemudian membantu ibunya membuat sarapan.

"Hermione, darimana semua makanan sampah ini?" Helena bertanya, membuangi sisa pizza dan makanan-makanan lainnya yang dibawa Blaise dan Theo kemarin.

"Hermione." Richard berseru dari sofa-kasur mereka.

"Iya Dad?" Hermione bertanya.

"Hubungi Draco sekarang, katakan aku ingin bicara dengannya." Richard memberitahu.

Hermione menghela nafasnya lalu mengangguk. "Akan kucoba." Hermione memberitahu.

Ia kemudian menulis surat dan menggunakan burung hantu untuk mengirim surat dimanapun Draco berada sekarang.

Draco,

Pulanglah.

-Hermione

Empat puluh menit kemudian Draco muncul di ruang tamu mereka menggunakan saluran floo. Hermione, Maura, dan kedua orangtua Hermione sudah duduk di meja makan dan sedang sarapan pagi.

"Oh, Draco, kau sudah kembali." Helena berseru. "Duduklah sarapan dulu."

Draco diam saja, tapi ia berjalan dan duduk di kursi yang kosong dan duduk diam menatapi makanan yang ada di mejanya. Maura duduk di antara kedua kakek dan neneknya, sama sekali tidak bicara dengan Hermione juga Draco.

Suasana meja makan terasa canggung. Maura hanya mau bicara pada Richard dan Helena, setiap Hermione berusaha mengajaknya bicara ia hanya diam dan mengacuhkannya, Draco bahkan tidak mencoba bicara pada siapapun, ia hanya mengunyah roti yang sudah berada di mulutnya lebih dari dua puluh menit.

"Grandma, aku sudah kenyang." Maura berseru pelan.

Helena mengangguk dan membereskan makanan Maura. "Grandma akan memandikanmu ya?" Helena bertanya.

Maura mengangguk, ia turun dari kursinya dan berjalan ke arah kamar mandi diikuti neneknya.

Hermione dan Draco baru akan berdiri dari kursinya saat Richard menahannya.

"Kalian berdua duduk!" Richard berseru pada Hermione dan Draco.

Hermione dan Draco seketika duduk lagi.

Richard meminum kopinya, lalu membersihkan tenggorokkannya.

"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu kenapa kalian berdua bertengkar." Richard memulai. "Kalian berdua sudah dewasa dan aku tidak ingin ikut campur masalah kalian. Dua orang dewasa bertengkar adalah hal biasa, hal lumrah, tapi kalian berdua harus sadar kalau kalian adalah orangtua."

"Hermione, berhentilah berpikir kalau apa yang ada dipikiranmu adalah hal terbaik, berhentilah berpikir kalau keputusanmu selalu yang paling benar, kau tidak hidup untuk dirimu sendiri." Richard memberitahu Hermione.

"Dan kau Draco, ketika anakmu menangis karenamu, itu bukan berarti akhir dari dunia. Kau harus belajar menyelesaikan masalah dan bukan pergi begitu saja."

"Maura menyayangi kalian berdua, tapi bagaimanapun juga ia hanya anak kecil, dan anak kecil tidak benar-benar memikirkan apa yang dikatakannya. Setelah ini minta maaflah padanya, aku tahu kalian berdua bisa menyelesaikan ini, kalian tidak gagal." Richard memberitahu.

Hermione menangis, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis seperti bayi.

Draco meraih tangannya dan menggenggamnya erat.

"Maafkan aku." Hermione berseru pada Draco.

"Maafkan aku." Draco juga minta maaf.

Richard hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

Hermione masuk ke kamar Maura, ibunya sedang menyisir rambut Maura perlahan di kasur.

Helena melirik Hermione. Hermione mengangguk lalu berjalan mendekat.

"Maura, apa Mommy boleh menyisir rambutmu?" Hermione bertanya pelan.

Maura melirik ibunya, mulutnya masih manyun, tapi sepertinya Helena sudah mengatakan sesuatu padanya, jadi Maura hanya mengangguk pelan pada Hermione.

Hermione duduk di samping Maura dan mengambil sisir dari tangan Helena lalu meminta ibunya keluar sebentar.

Hermione menyisir rambut Maura perlahan dalam diam.

"Maura?" Hermione berseru pelan.

Maura diam saja.

"Maura…" Hermione memanggilnya lagi.

"Mommy…"

Hermione tersenyum mendengar Maura memanggilnya lagi. "Apa kau benci pada Mommy?"

"Tidak."

"Pada Daddy?"

"Tidak."

"Maaf kami membuatmu marah." Hermione memberitahu.

Maura mengangguk pelan.

"Sudah, sudah selesai, rambut Maura sudah selesai di sisir." Hermione memberitahu dengan nada gembira.

Maura membalikkan tubuhnya dan menghadap ke arah Hermione.

"Mommy." Maura memanggil ibunya pelan.

"Iya sayang?" Hermione bertanya.

"Apa Mommy tidak mencintai Daddy?" Maura bertanya pelan.

Hermione melihat ke arah Maura dengan sedih, ia mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala anak perempuannya itu.

"Mommy?" Maura berseru lagi saat ibunya hanya diam.

Hermione menangis.

.

"Terimakasih Sir." Draco memberitahu ayahnya Hermione.

Richard hanya bisa mengangguk, ia menepuk-nepuk bahu Draco. "Kau tidak boleh menyerah begitu saja, satu masalah dengan anak perempuan kesayanganmu bukan berarti akhir dari segalanya, ia bahkan baru berumur empat tahun, belum nanti saat ia sudah remaja. Masalah akan semakin banyak dan kalau kau menyerah setiap ada masalah…"Richard menggantung kalimatnya.

Draco mengangguk. "Aku akan menjadi orang yang lebih baik." Draco berseru pelan.

"Dan, soal Hermione." Richard memberitahu lagi. "Ia bisa sangat keras kepala, ia bisa melakukan apapun yang dia inginkan karena merasa sudah memikirkannya matang-matang, tapi sepintar apapun dia, ia bisa salah, dan ketika ia memutuskan semuanya sendiri, ia sering sekali salah. Karena itu Draco, kalian harus bekerja sama, dan semuanya akan baik-baik saja."

Draco mengangguk lagi.

Helena keluar dari kamar Maura dan berjalan ke arah Draco dan Richard.

"Hermione ada di kamar Maura, kau juga bicaralah pada Maura." Helena memberitahu Draco.

Draco mengangguk lagi, ia kemudian berjalan ke arah kamar Maura dan berdiri di depan pintunya.

"Sudah, sudah selesai, rambut Maura sudah selesai di sisir." Draco mendengar Hermione berseru.

"Mommy." Maura berseru pelan.

"Iya sayang?" Hermione bertanya.

"Apa Mommy tidak mencintai Daddy?" Maura bertanya lagi.

Draco berdebar, ia benar-benar menunggu dan ingin tahu apa jawaban Hermione? Apakah mereka punya kesempatan? Apa mereka bisa memulai keluarga setelah ini? Apakah Hermione mencintainya atau tidak?

Hermione hanya diam.

"Mommy?" Draco bisa mendengar Maura memanggil ibunya pelan.

.

Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dianalisis. Cinta itu bukan sesuatu yang bisa dipikirkan matang-matang. Sama sekali bukan.

Sebelum ini Draco merasa kalau hidupnya baik-baik saja, terlepas dari masalah Ginny Weasley sialan itu, ia rasa hidupnya baik-baik saja, ia punya banyak hal untuk membuatnya senang dan bahagia.

Maura.

Hermione.

Draco merasa hidupnya sudah lengkap.

Hubungannya dengan Hermione memang tidak begitu jelas, mereka tidak berdiri di tempat yang jelas dan kuat, tapi Draco mengira mereka sampai juga. Dan sayangnya sekarang Draco ragu.

Hermione bahkan tidak bisa mengatakan kalau ia mencintainya, bahkan tidak bisa hanya sekedar berbohong untuk menenangkan Maura, untuk sekedar mengiyakan pertanyaan seorang anak kecil yang bertanya apakah ibunya mencintai ayahnya atau tidak. Hermione tidak bisa.

Apa yang harus dilakukannya sekarang?

Jika Hermione tidak mencintainya, apa yang harus dilakukannya?

Apa ia harus mempertahankan keluarga ini? Jika mereka bahkan pantas disebut keluarga.

"Draco." Hermione berseru pelan. Draco sedang duduk di balkon apartementnya yang jarang dibukanya.

"Kedua orangtuamu sudah pulang?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk.

"Apa yang akan kita lakukan tanpa mereka?" Draco berseru pelan.

"Draco."

Draco menghela nafasnya. "Tidak, aku tidak mau bicara denganmu, aku tidak siap." Draco berseru lalu pergi.

"Draco." Hermione berseru lagi, menahan tangan Draco sebelum pria itu pergi.

"Kita harus bicara sekarang." Hermione memberitahu. "Sekarang atau tidak sama sekali."

Draco melepaskan tangan Hermione dari lengannya. "Katakan." Draco berseru.

Hermione meletakkan kedua tangannya di wajahnya dan mulai menangis seperti bayi. Draco menghela nafasnya. "Bisakah kau tidak menangis?" Draco bertanya frustasi.

Hermione melihat Draco kesal, ia berjongkok di bawah dan menangis makin histeris.

Draco ikut berjongkok didepan Hermione dan mengelus kepalanya pelan.

"Kau takut?" Draco bertanya.

Hermione mengangguk.

"Kau takut aku meninggalkanmu?"

Hermione mengangguk lagi.

"Kau takut aku akan meninggalkanmu dan Maura?"

Hermione mengangguk lagi dan tangisnya makin keras.

"Berhentilah menangis atau Maura akan mengira kita bertengkar lagi." Draco berseru pelan.

Hermione menghapus air matanya dengan lengan bajunya. "Belakangan ini perasaanku campur aduk, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan." Hermione memberitahu, berusaha membuat suaranya tidak bergetar tapi sulit sekali.

"Aku mencintaimu." Hermione memberitahu. "Aku mencintaimu tapi aku takut."

Draco menghela nafasnya, lalu menarik Hermione ke dalam pelukkannya, mereka terududuk di lantai dan Draco hanya bisa memeluk Hermione erat.

"Aku kan sudah bilang berkali-kali." Draco memulai. "Aku mencintaimu, aku juga mencintai Maura. Aku tidak akan pernah pergi meninggalkan kalian, kalian berdua segalanya bagiku."

"Kenapa kau masih terus berpikir bahwa aku akan meninggalkanmu? Bahwa aku akan bosan dan meninggalkan kalian begitu saja? Kenapa kau tidak percaya padaku Hermione?" Draco bertanya pelan.

Ia terluka, tentu saja ia terluka. Draco sudah berkali-kali mengatakan kalau ia mencintai Hermione, ia ingin menikah dengannya bukan karena ia merasa itu suatu kewajiban, tapi karena ia mencintainya.

"Apa kau yakin akan perasaanmu?" Hermione bertanya pelan. "Bagaimana jika itu rasa kasihan? Bagaimana jika yang kau rasakan hanya karena obligasimu terhadapku dan Maura?" Hermione bertanya lagi.

"Aku tahu perasaanku Hermione." Draco berkata tegas. Ia melihat ke mata perempuan yang dicintainya itu. "Kau boleh sok tahu akan semua hal di dunia ini, tapi tidak dengan perasaanku, Hermione, aku mencintaimu, dan aku yakin akan hal itu."

"Aku mencintaimu." Draco berseru lagi.

"Aku mencintaimu, tapi aku tidak yakin kita bisa melakukan ini." Hermione berseru.

Draco tertawa menghina. "Well, aku tidak tahu kau bisa melihat masa depan sekarang." Draco berseru sarkas.

Hermione melihat ke arah Draco dan menguatkan hatinya. Ia baru akan mengatakan sesuatu saat Draco mengangkat tangannya dan menandakannya untuk berhenti bicara.

"Aku tidak ingin bertengkar denganmu." Draco berseru. "Aku juga tidak ingin berpisah denganmu atau Maura. Apa yang kau inginkan Hermione? Apa yang membuatmu ragu? Apa yang membuatmu merasa kita tidak bisa melakukan hal ini? Apa?"

Hermione diam.

Jawabannya sebenarnya sangat sederhana.

Insecurity.

Hermione masih diam saja. Draco menghela nafasnya.

"Hermione, apa kau tidak mau kita punya keluarga yang bahagia? Kau, aku, Maura, bahkan dua atau tiga adik Maura lagi setelah ini." Draco berseru, mempererat pelukkannya pada Hermione. "Aku tidak melihat masalahnya dimana, aku mencintaimu, kau juga mencintaiku. Kenapa kita harus berpisah?"

Hermione menghapus air matanya dengan lengan baju Draco.

"Percayalah padaku." Draco berseru mencium kening Hermione.

Hermione menangis lagi, tapi kali Draco tahu kalau tangisannya berbeda. Hermione melingkarkan tangannya di leher Draco dan memeluknya erat.

Draco tersenyum.

"Kalau kau meninggalkanku dan Maura, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri." Hermione berseru di telinga Draco.

Draco tertawa dan mencium Hermione Granger yang berada di pelukkannya.

.

"Maura!" Lucius berseru begitu Maura dan kedua orangtuanya memasuki ruangan keluarga Malfoy Manor.

Maura tersenyum lalu setengah berlari ke pelukkan kakeknya.

"Aku akan tinggal disini sampai orang jahat itu ditangkap." Maura mengumumkan pada Lucius dan Narcissa.

Narcissa tersenyum, "Kau boleh tinggal disini selamanya sayang." Narcissa memberitahu lagi.

Beberapa peri rumah datang dan mengambil barang bawaan Draco dan Hermione.

"Kalian bisa menggunakan sayap kiri." Narcissa memberitahu. "Ah, Hermione, Maura akan tidur tepat di samping kamar kalian dan kedua kamar itu terhubung, seperti yang kau minta."

"Terimakasih Mrs. Malfoy." Hermione tersenyum.

"Hermione…"

"Ah, maksudku Narcissa, terimakasih Narcissa." Hermione berseru lagi.

Narcissa mengangguk. "Tidak masalah, apapun untuk cucu kesayanganku." Narcissa mengulurkan tangannya pada Maura, membuat Maura melompat dari gendongan Lucius ke gendongan Narcissa.

"Grandmother, apa kau mau tahu sesuatu?" Maura bertanya pada Narcissa.

"Apa sayang?" Narcissa bertanya.

"Setelah orang jahat ini tertangkap, setelah tidak akan ada lagi masalah yang mengancam keselamatanku." Maura terdiam. Ia tidak tahu apa maksud kata-kata yang diucapkannya barusan.

Empat orang dewasa di ruangan itu menahan tawanya, melihat Maura. Ia baru akan memasukkan tangannya ke mulut saat Narcissa menahannya.

"Kau tidak boleh memasukkan tanganmu ke mulut Maura." Narcissa memberitahu.

"Aku tidak tahu apa yang baru ku katakan, aku hanya meniru omongan Daddy." Maura mengaku. "Aku tidak tahu apa artinya mengancam, aku juga tidak tahu apa artinya keselamatan." Maura berseru polos.

Lucius dan Draco tertawa.

"Tidak masalah sayang." Draco memberitahu. "Daddy juga tidak yakin kalau Grandfather tahu arti kata itu." Draco meledek Lucius.

Lucius memutar matanya.

"Jadi Maura…" Lucius bertanya. "Setelah orang jahat ini tertangkap, apa yang akan terjadi?"

Maura tersenyum lebar. "Pertama, aku akan masuk TK." Maura memberitahu, membuat kakek dan neneknya tersenyum lebar.

"Kedua, Daddy dan Mommy akan menikah." Maura berseru dan melompat-lompat senang.

.

"Hermione, bisa kita bicara sebentar?" Narcissa muncul di depan pintu kamar Maura.

Hermione yang sedang membantu membereskan barang-barang bawaan Maura melihat Narcissa bingung.

"Maura, Mommy keluar sebentar." Hermione berseru pelan. Ia kemudian menghampiri Narcissa yang menunggunya di depan kamar Maura.

"Ada apa Narcissa?" Hermione bertanya.

Narcissa tersenyum lebar, ia kemudian menarik tangan Hermione dan menggenggamnya erat, tidak lama ia mengeluarkan sesuatu dari saku jubahnya.

"Ini apa?" Hermione bertanya, ia membuka kotak beludru berwarna merah di tangannya. Didalamnya terdapat kalung berlian yang berbentuk tetesan air.

"Aku ingin memberikannya padamu." Narcissa berseru, "Kau akan menjadi menantuku." Narcissa berseru lagi, tidak bisa menahan senyumannya. "Tadinya aku ingin memberikannya padamu saat tanggal pernikahan sudah di tentukan, tapi aku tidak sabar dan tidak bisa menahan diriku." Narcissa memberitahu lagi sambil tertawa.

Hermione hanya bisa membuka mulutnya, tidak yakin apa yang harus dikatakannya.

Narcissa menepuk-nepuk pundak Hermione. "Semoga kalian nyaman tinggal disini. Sekarang, dimana cucuku?" Narcissa berseru senang dan masuk ke kamar Maura.

"Maura, ayo kita pergi ke taman belakang, apa kau sudah lihat bunga tulip baru Grandmother?" Narcissa bertanya pada Maura.

Hermione hanya bisa tersenyum.

.

"Apa yang harus kita lakukan terkait Miss Weasley?" Lucius bertanya pada Draco di ruang kerjanya.

"Aku dan Hermione sudah membicarakan ini." Draco memulai. "Kita tidak benar-benar punya bukti yang kuat, jadi sepertinya kita harus memancingnya." Draco memberitahu ayahnya.

"Memancingnya?" Lucius bertanya tidak mengerti.

Draco memutar matanya, ia kemudian menjelaskan rencananya pada Lucius.

.

Draco, Lucius, dan Theo sedang melaksanakan rapat rahasia, membahas tentang rencana penangkapan Ginny Weasley.

Lucius menyebutnya penangkapan.

Draco menyebutnya penghancuran.

Draco data yang mereka dapatkan sekarang, Ginny Weasley bekerja di kementrian sihir di Department Of International Magical Cooperation. Ia mendapatkan posisinya disana karena memintanya dari Kingsley dengan alasan bahwa ia sedikit banyak berperan dalam perang meraka.

Yeah, tentu saja, siapa yang tidak?

Pada hari ia menyusup ke kamar Maura, beberapa jam sebelumnya ia bertemu dengan Ron di salah satu restoran tidak jauh dari kementrian, mereka mengobrol dan makan, dan tidak lama keduanya berpisah, sepertinya setelah mengobrol dengan Ron ia pergi ke apartement Draco.

Jadi kesimpulan dua Malfoy dan satu Nott itu adalah Ronald Weasley ada hubungannya dengan penyusupan Ginnya atau paling tidak ia tahu sesuatu.

"Jadi siapa yang akan kita datangi terlebih dahulu?" Theo bertanya.

"Ronald Weasley." Draco berseru.

"Oh, dimana Blaise?" Lucius bertanya, baru ingat kenapa Blaise tidak ada di antara mereka.

Draco mengangkat bahunya.

"Dia kemungkinan sedang bersenang-senang dengan istri dan anaknya." Theo memberitahu, dan seketika Draco kehilangan kata-katanya.

Biasanya jika ada yang bertanya dimana Blaise, ia akan menjawab dia pasti sedang menderita dengan anak dan istrinya.

"Theo, kau sehat kan?" Draco bertanya.

Theo mengangguk.

Lucius tertawa. "Draco, sebaiknya kau carikan ia istri."

.

Theo menggerutu kesal, ia baru selesai bicara dengan Draco dan Lucius, mereka sudah membuat rencana yang cukup matang dan mereka akan mengeksekusi rencana mereka dua hari lagi.

Theo benar-benar lega akhirnya bisa lepas dari penderitaan selama tiga jam terus-menerus diledek oleh dua Malfoy itu. Mereka tidak bisa berhenti meledeknya dan mengatakan kalau ia sudah harus menikah dan punya anak sendiri, belum lagi Draco yang menceritakan pada Lucius bahwa Theo benar-benar senang bermain dengan Maura.

Mereka terus meledeknya bahwa ia sudah siap dan sudah ingin punya anak. Anak perempuan.

Theo berjalan ke arah luar Malfoy Manor lewat pintu samping, ia ingin melihat taman milik Narcissa yang dari dulu selalu indah dan membuatnya tenang.

Saat itu ia melihat Maura sedang bermain gelembung sabun.

"Aunty.. Aunty… Lihat ini." Maura mengangkat tinggi alat peniupnya dan berputar-putar, membuat gelembung sabun bertebaran di sekitarnya.

Perempuan berambut pirang tertawa-tawa di dekat Maura, ia juga berputar-putar dengan Maura, menikmati gelembung-gelembung di sekitar mereka.

Theo rasanya ingin mati saja.

"Ah, Uncle Theo!" Maura berseru, ia berlari dan menghampiri Theo. Theo melebarkan tangannya dan menggendong Maura yang berlari sekuat tenaga kearahnya.

"Maura." Theo berseru pelan, tatapannya masih tertahan di perempuan berambut pirang yang berputar tanpa alas kaki di taman itu.

"Uncle, apa kau tahu? Sekarang aku, Mommy, dan Daddy tinggal disini." Maura memberitahu.

Theo tersenyum. "Aku tahu." Theo memberitahu lagi.

"Ah, Uncle, apa kau kenal Aunty Luna?" Maura berseru, ia menggeliat dan turun dari gendongan Theo. Maura menggandeng tangan Theo dan menariknya ke arah Luna.

"Uncle Theo, ini Aunty Luna. Aunty Luna, ini Uncle Theo." Maura berseru, ia tersenyum lebar dan memperkenalkan dua orang dewasa didepannya.

"Maura, ayo mandi." Hermione berseru entah muncul dari mana."Ah…" Hermione bisa merasakan ada aura yang aneh di antar Theo dan Luna yang hanya saling menatap satu sama lain.

"Kalian sudah bertemu?" Hermione bertanya. "Theo, ini Luna Lovegood, jika kau ingat, ia ibu baptisnya Maura." Hermione memperkenalkan Luna pada Theo. "Dan Luna, ini Theo, ia sahabatnya Draco."

"Luna, Luna Lovegood." Luna berseru dengan nadanya yang ringan seperti biasa, ia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Theo.

"Theo, Theodore Nott." Theo berkata terbata-bata.

Hermione tertawa pelan. "Maura, ayo." Hermione berseru. "Sepertinya ada yang ingin di katakan Uncle Theo pada Aunty Luna." Hermione mengulurkan tangannya pada Maura dan mengajak anaknya masuk.

.

Draco dan Theo duduk di restoran paling ramai dekat kementrian.

"Dimana dia?" Theo bertanya tidak sabaran.

"Tunggu sebentar." Draco melirik jam tangannya. Tidak lama pria yang mereka cari-cari muncul juga.

Ronald Weasley memasuki restoran itu dan berjalan ke arah konter dan memesan makanannya, ia kemudian duduk di salah satu meja yang kosong di tengah ruangan.

Theo mengangguk pada seorang perempuan cantik berpakaian seksi, memberinya tanda. Perempuan itu mengangguk balik dan berdiri dari kursinya lalu berjalan ke arah meja Ron.

"Mr. Weasley." Perempuan itu tersenyum lebar. "Senang sekali bisa bertemu denganmu. Aku Meghan dan aku fans beratmu."

"Benarkah?" Ron tersenyum lebar.

"Boleh aku duduk disini?" Meghan bertanya.

"Iya tentu saja." Ron berdiri dan menarikkan kursi untuk Meghan.

Theo dan Draco mendengarkan pembicaraan mereka dengan alat Muggle yang di dapat Draco entah dari mana. Mereka menyewa perempuan itu untuk mengorek-ngorek informasi dari Ron dan mendapatkan bukti pendukung.

Draco melihat jam tangannya, lima menit lagi, dan Hermione juga Maura akan masuk ke restoran itu untuk menyempurnakan rencana mereka.

Tepat lima menit kemudian, pintu restoran terbuka dan Hermione masuk dengan Maura di sebelahnya, mereka berjalan ke arah konter dan memesan makanan untuk di bawa pulang.

"Oh, bukankah itu Hermione Granger?" Meghan berseru pada Ron.

Ron melihat kesal ke arah konter dan mukanya langsung memerah, ia mengangguk "Hermione Granger and her bastard child."

Meghan tersenyum lagi. "Aku tidak pernah menyukai Hermione Granger, Apa kau tahu siapa ayah dari anaknya itu?"

"Tentu saja, ayahnya adalah pelahap maut, Draco Malfoy." Ron memberitahu. "Ugh, aku tidak tahu kenapa harus melihat mereka hari ini."

"Kalau kau tidak menyukainya kenapa kau diam saja?" perempuan ini bertanya, sengaja memancing Ron.

"Oh, kau tidak perlu kuatir, aku dan adikku sedang merencanakan sesuatu, kami tidak akan membiarkan mereka hidup bahagia." Ron dengan mudahnya menggumamkan rencana bodohnya.

Meghan tersenyum senang. "Benarkah? Apa yang akan kalian berdua lakukan?"

-To Be Continued-