CHAPTER 20

ON MY WAY

.

.

.

"Yaaak…! Kim Taehyung, nadamu di bagian Hook-nya kurang tinggi"

JongDae mengomel dengan parahnya sambil menunjukkan kertas lagu ke hadapan Taehyung. Nampaknya laki-laki itu sedikit sensitive sejak perubahan line up pemain drama musikalnya beberapa waktu lalu, terbukti dari apapun yang Taehyung, Jungkook maupun Luhan lakukan selalu saja salah dimata JongDae. Taehyung yang notaben-nya anak baru di kelompok itu hanya dapat menghela nafas dan mengikuti semua arahan ataupun kemauan JongDae. Menari dengan gerakan yang cepat dan juga bernyanyi dengan nada tinggi di setiap bagiannya hingga membuat tenggorokannya serak.

"Apakah masih kurang tinggi hyung?" tanya Taehyung memastikan

"Cukup bagus tapi kau harus menekankan pada kata terakhirnya. Kau tau kan itu adalah killing part-nya" jelas JongDae lagi

"Sunbae, bisa kita sudahi sampai disini saja?"

Jungkook yang sedari tadi melihat sunbae-nya itu mengomel pada Taehyung pada akhirnya angkat bicara. Jujur saja, ia sedikit merasa jengkel dengan JongDae yang sedari tadi tak berhenti mengkritik padahal menurutnya semua pemain sudah melakukan latihan dengan benar. Taehyung sudah bernyanyi dengan baik, ia sudah menari sesuai koreo dan acting Luhan pun juga sudah sangat maksimal, jadi dimana lagi letak kesalahan mereka hingga JongDae terus saja mengomel.

"Tidak bisa. Kita harus berlatih keras mulai sekarang" jawab Jongdae tegas

"Aku tau sunbae, tapi kita semua kelelahan. Apa sunbae tidak lihat mereka semua tergeletak lemah di panggung sana?"

Mendengar protes Jungkook, JongDae pun menoleh mengamati seisi aula. Benar saja, baik para pemeran maupun kru yang bertanggung jawab atas pementasan nampak kelelahan. Dalam hati JongDae merasa bersalah telah membuat orang-orang yang membantunya kelelahan seperti ini. Ia terlalu ambisius selama ini.

"Baiklah, hari ini cukup sampai disini"

Mereka semua menarik nafas lega begitu mendengar ijin sang ketua. Satu per satu dari mereka segera beranjak dan pergi meninggalkan aula, begitupun dengan Jungkook. Gadis itu berjalan santai menyusuri koridor kampus mengikuti seorang laki-laki yang berjalan beberapa langkah di depannya. Bibirnya tersenyum sumringah dan sesekali mengucapkan senandung bahagia untuk mengekspresikan isi hatinya.

Lama berjalan, mereka berdua yang tak lain adalah Jungkook dan Taehyung sekarang melintasi area taman bermain. Masih tak ada pembicaraan dan posisi mereka masih sama seperti tadi dengan si perempuan yang ada di belakang.

Si gadis kelinci mengamati keadaan sekitar. Taman saat ini tidak begitu ramai, hanya ada beberapa anak kecil yang bermain prosotan dan sebagian bermain skuter. Tak mau membuang waktu lagi, Jungkook mempercepat langkahnya mendekati Taehyung. Saat tinggal selangkah lagi, dengan berani Jungkook mengambil ancang-ancang dan melompat ke pundak Taehyung. Si lelaki yang tak memiliki persiapan sebelumnya menjerit kaget saat mendapati punggungnya telah ditimpa beban seberat karung beras secara mendadak.

"Jadi kau mengikutiku dari tadi hanya untuk ini?" sindir Taehyung

"Tentu saja tidak. Ayo kapten, kita menjelajah taman"

Jungkook berseru ceria. Tangannya yang satu berpegangan pada leher Taehyung dan yang satunya lagi mengepal di udara seperti memberi komando kapten untuk berlayar. Taehyung tertawa terbahak melihat tingkah Jungkook, perempuan itu sedang merajuk rupanya. Tak, mau membuat kecewa, Taehyung berlari kecil menyusuri area jogging track dengan Jungkook di gendongannya. Mereka berdua tertawa bahagia menikamti tingkah mereka yang tak kalah menggelikan dari anak-anak yang ada di taman tersebut.

.

.

.

TING TONG

Terdengan suara bel rumah berbunyi. Eomma Yoongi yang tadinya sedang memotong sayuran segera beranjak dan membukakan pintu. Alangkah senang dirinya saat pintu terbuka yang pertama terlihat adalah putri kesayangannya. Yoongi segera menghambur kepelukan eommanya saat perempuan setengah baya itu merentangkan tangannya. Sudah lama sekali ia tidak berkunjung ke rumah semenjak kepulangan eommanya dari rumah sakit, dan sekarang ia sangat merindukan perempuan ini.

"Aigo… Anak eomma sebentar lagi akan menjadi seorang ibu tapi masih saja merajuk seperti ini"

"Biar saja, aku biasanya juga seperti ini pada Jimin"

"Benarkah itu nak Jimin?"

Jimin hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan istrinya. Yoongi seratus persen tidak bohong. Perempuan yang tengah hamil tua itu bahkan hampir setiap jam meminta pelukan pada Jimin maupun Heechul. Yoongi berkata jika itu adalah bawaan bayi, tentu Jimin senang-senang saja memeluk istrinya, semua lelaki pasti tidak akan menolak jika istrinya meminta sebuah pelukan. Benar bukan?

"Ayo masuk"

Mereka bertiga memasuki rumah setelah dipersilakan oleh sang pemilik. Jimin berjalan menuju dapur sesampainya dan meletakkan sekotak kimchi buatan eommanya di atas meja. Dari dapur, ia bisa melihat Yoongi dan eommanya tengah bercengkrama dengan hangatnya. Karena tak ingin mengganggu, Jimin pergi meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju kamar Yoongi. Ya, Jimin memang sudah biasa keluar masuk kamar istrinya jika sedang berada di rumah ini, toh ia sudahsah menjadi anggota keluarga.

Setibanya memasuki kamar, Jimin teringat akan sesuatu. Ia pernah meninggalkan sebuah pewarna rambut di kamar Yoongi saat terakhir kali berkunjung, oleh sebab itu hingga saat ini Jimin belum mengganti warna rambutnya. Jimin mendekat ke arah lemari, seingatnya ia meletakkannnya diantara tumpukan baju yang dilipat Yoongi. Dengan telaten, laki-laki itu menggeledah isi lemari, mencari sebotol pewarna rambut yang terselip di dalamnya. Lama mencari, Jimin tak kunjung menemukannya. Apakah Yoongi melihatnya dan membuangnya ke tempat sampah? Jimin ingat saat istrinya itu hamil lima bulan Yoongi berkata jika ia menyukai warna rambut Jimin yang hitam legam. Jadi bisa saja bukan untuk melancarkan keinginannya itu Yoongi membuang pewarna rambutnya ke tempat sampah?

Tak mau kecolongan Jimin akhirnya mencari tempat sampah yang biasanya ada di kamar Yoongi. Eomma Yoongi pasti tidak membersihkan kamar karena Jimin lihat tak ada yang berubah semenjak terakhir kali ia datang kemari.

Ketemu. Tempat sampah itu ada di pojok kamar. Dengan tergesa, Jimin segera menghampirinya dan mengobrak abrik isinya. Tak banyak sampah dan semuanya adalah sampah kering jadi Jimin tak akan merasa jijik jika harus membongkarnya. Sebuah helaan nafas bahagia berhembus dari hidung mancung laki-laki itu. Akhirnya, setelah sekian lama mencari pewarna rambutnya berhasil ia temukan.

Jimin berjalan keluar kamar dan menghampiri Yoongi yang saat ini sudah duduk sendirian di ruang tamu sambil menonton sebuah drama di televise.

"Yoon, bisa aku minta tolong?"

"Apa?" jawab Yoongi masih terfokus pada televise

"Bisa kau warnai rambutku? Aku ingin merubah warnanya, aku bosan"

Yoongi menatap tajam ke dalam mata Jimin seakan tak suka dengan keinginan suaminya itu. Namun niatnya untuk memprotes entah mengapa luluh begitu saja saat mata Jimin terlihat begitu memohon kepadanya.

"Baiklah"

Laki-laki itu tersenyum senang. Tak ingin membuang waktu, Jimin segera berbegas dan menyiapkan segala keperluan untuk mewarnai rambutnya. Ia memberikan pewarna yang telah ia campur itu dan sebuah sisir kecil pada Yoongi. Jimin duduk di lantai untuk mempermudah Yoongi mewarnai rambutnya. Secara berlahan, Yoongi mulai mewarnai rambut Jimin dengan telaten.

"Kemana eomma?" tanya Jimin

"Pergi ke supermarket"

"Apa kau masih sering mengalami kontraksi Yoon?"

"Hmmm… Sekarangpun aku masih merasakannya, rasanya bayi kita menendang dengan kuat dan semakin kuat"

Mendengar jawaban Yoongi, Jimin hanya terdiam. Ia tak mengerti sama sekali tentang ibu hamil dan ini adalah pengalaman pertamanya. Jika sedang seperti ini, ingin rasanya Jimin menenangkan Yoongi dengan sebuah kata-kata namun ia tak tau harus mengucapkan apa.

Berlahan tapi pasti, Jimin yang tadinya duduk dengan tenang mulai gelisah saat merasakan rambutnya ditarik sedikit kencang oleh Yoongi. Awalnya Jimin mengabaikannya karena rasa sakit yang ditimbulkan juga tidak begitu terasa. Namun lama kelamaan, Jimin benar benar menjerit kesakitan saat Yoongi menjambak rambutnya dengan kuat.

"Aw, sakit Yoongi" keluh Jimin

"Jim, perutku sakit. Aku rasa aku akan melahirkan" rintih Yoongi lirih

"APA?"

.

.

.

Jungkook sedang duduk sendirian saat ini di salah satu ayunan yang ada di taman bermain. Taehyung tadi pamit membeli minuman, namun lima belas menit berlalu laki-laki itu tak kunjung kembali juga. Ia mulai bosan, bibirnya mengerucut di udara dan meniup dengan hampa. Poni kebanggaannya saat ini telah panjang, jadi Jungkook tak bisa lagi meniup poni seperti dahulu jika sedang bosan.

"Apa Taehyung pingsan di jalan?"

Perempuan itu bergumam pada dirinya sendiri. Beberapa anak yang lewat di hadapannya bahkan memandangnya aneh karena melihat orang dewasa justru bermain ayunan dan menggumam sendiri. Dengan berani, Jungkook memelototi mereka satu persatu, bisa-bisanya mereka menatap Jungkook seperti itu? Ia masih cukup cantik dan waras untuk jadi orang gila.

Saat asyik memelototi anak-anak, tiba-tiba Jungkook merasakan sebuah benda yang sangat dingin menyentuh pipi-nya. Jungkook menoleh dan bibirnya langsung bersentuhan dengan sebuah botol berisi jus jeruk dingin yang tadi menempel pada pipinya. Jungkook seperti merasakan sebuah déjà vu saat ini.

"Apa kau ketiduran di jalan Tae?"

Kalimat itu melintas begitu saja dan berhasil terlontar dengan apik pada bibir Jungkook, membuat Taehyung menarik senyumnya. Laki-laki itu pun segera duduk di samping Jungkook saat si gadis meraih botol minumannya.

"Tadi sangat antri dan trotoar sangat macet"

"Aku baru tau jika trotoar bisa macet di zaman yang modern ini" ucap Jungkook menanggapi candaan Taehyung

Mereka berdua terkekeh geli mendengar perkataan satu sama lain. Aigo, sudah berapa lama mereka tidak bercanda seperti ini. Satu tahun terasa sangat lama sekali ternyata.

"Kau janjian dengan orang tuaku ya Tae? Bagaimana kalian bisa pulang dalam waktu yang bersamaan?" tuduh Jungkook sambil meminum jus jeruknya

"Tidak. Kami hanya kebetulan bertemu di dalam pesawat"

"Oh. Apa disana kau bertemu dengan perempuan yang cantik?"

"Tentu saja, aku bertemu banyak perempuan cantik disana" jawab Taehyung menggoda

"Kau tertarik dengan mereka?"

"Aku ini laki-laki, tentu saja aku tertarik. Tapi tetap saja rasa tertarikku pada mereka tak bisa mengalahkan rasa tertarikku padamu" Jungkook tersipu oleh jawaban Taehyung

"Mana hadiah untukku?" tagih si gadis mengalihkan perhatian

"Tutup matamu"

Jungkook menutup matanya berlahan sesuai instruksi Taehyung. Lama menunggu, gadis itu bisa merasakan sebuah benda kecil terselip diantara rambutnya. Itu pasti sebuah jepit rambut (lagi). Merasa jika aksi Taehyung telah selesai, Jungkook membuka matanya. Tak lupa ia meraba rambutnya tepat dimana benda kecil tadi dipasang untuk memastikan.

"Jepit rambut lagi?" Jungkook mengomentari

"Kalung sudah sangat mainstream" jawab Taehyung dengan enteng

"Apa ini bermerk?"

"Itu keluaran terbaru dari Gucci"

Rasa kaget sekaligus kagum tak dapat Jungkook tutupi. Taehyung benar-benar membelikan benda dengan merk terkenal itu. Sebenarnya gadis itu tak heran dengan pilihan Taehyung, sahabatnya itu memang manusia Gucci alias suka mengoleksi benda dari brand tersebut.

"Terimakasih Tae"

Dengan senang hati gadis itu menghambur ke pelukan si lelaki. Mereka berpelukan dengan erat. Taehyung mengusap puncak kepala Jungkook dengan gemas seperti biasa membuat si perempuan semakin mengeratkan pelukannya tak mau dilepaskan.

"Ayo cium aku dulu" goda Taehyung

"Hah?"

Taehyung melepaskan pelukan Jungkook dan menunjuk bibirnya dengan ujung jari. Pipi Jungkook memerah dibuatnya, bagaimana Taehyung bisa meminta hal itu di tempat umum seperti ini. Lama berfikir, gadis itu menatap Taehyung. Sebenarnya ia tak keberatan melakukannya, toh umur mereka juga legal untuk melakukannya.

Jungkook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 'Cium? Tidak? Cium? Tidak? Atau kabur saja?'. Kepala gadis itu menggeleng kuat saat opsi terakhir melintas di fikirannya. Oke, baiklah jika harus melakukannya. Jungkook melangkahkan kakinya selangkah untuk mendekat kepada Taehyung. Dari sudut matanya, ia bisa melihat laki-laki itu sedang menunggu dengan senyuman. Dengan sedikit malu, Jungkook meraih pundak Taehyung, kakinya berjinjit sedikit demi sedikit dan matanya mulai terpejam. Melihat si perempuan hendak memulai, Taehyung segera saja meraih pingganya dan menurunkan kepalanya agar Jungkook mudah menjangkaunya. Detik demi detik berlalu dan jarak mereka semakin dekat. Jantung mereka berpacu dengan cepat tak terelakan seiring terkikisnya jarak. Ketika jarak diantara mereka tinggal lima senti lagi, mendadak sebuah suara mengintrupsi kegiatan mereka, membuat Taehyung mengumpat dalam hati.

"Hyung dan Noona sedang apa?" tanya seorang bocah yang ada di taman itu.

.

.

.

"Jim… ini sakit"

Yoongi mengerang dan Jimin berteriak dengan tidak tau malunya. Bagaimana tidak, saat ini Jimin tengah menenamani Yoongi melahirkan di rumah sakit. Hoseok tengah berusaha keras di seberang sana untuk membantu Yoongi sementara Jimin yang berada di sebelah Yoongi harus menahan sakit karena rambutnya yang masih basah akibat pewarna dijambak dengan begitu kuat oleh Yoongi.

"Aku tau, tapi bisakah kau lepaskan? Ini sakit" mohon Jimin

"Apa kau bilang? Sakit? Aku jauh lebih kesakitan bodoh, kau kira ini gara-gara siapa hah? Ini semua akibat ulahmu dasar Park Jimin" racau Yoongi

"Maafkan aku"

"Kau bilang ingin membuat kesebelasan tapi begini saja sudah kesakitan. Kalau begitu buat saja kesebelasan sendiri besok"

Jimin hanya dapat meringis mendengar ocehan Yoongi yang sungguh abstrak. Istrinya berubah menjadi serigala betina yang ganas ketika melahirkan. Jika tau begini, ia memilih tidak masuk ke ruang persalinan saja. Jambakan dan cakaran Yoongi kekuatannya sungguh menyaingi milik sang eomma.

"Tarik nafas lagi Yoon, keluarkan dengan berlahan"

Hoseok memberi instruksi dengan sabar. Memang ia bukan spesialis kandungan tapi ia pernah juga membantu seseorang melahirkan saat menjadi dokter residen dulu. Yoongi mengikuti setiap instruksi Hoseok dengan patuh, membuatnya bisa sedikit lebih tenang daripada di awal tadi.

"Ayo sayang, kau pasti bisa"

Mendengar kata-kata semangat dari Jimin, Yoongi yang tadinya mulai kelelahan mulai mengumpulkan tenaga lagi. Digenggamnya tangan Jimin dengan erat untuk menyalurkan rasa sakitnya. Sekuat tenaga, Yoongi terus mengejan diiringi rintihan sakit diakhir pernafasannya.

Hampir satu jam berjuang, akhirnya Jimin dan Yoongi mendengar sebuah suara tangisan bayi di ruang bersalin itu. Hoseok tersenyum sumringah dan Jimin memberi kecupan pada sang istri karena telah berhasil melahirkan anak mereka.

"Selamat, anak kalian laki-laki. Aku akan memandikannya terlebih dahulu"

"Kau hebat Yoon" puji Jimin

Jimin mengangguk setuju mendengar perkataan Hoseok. Setelahnya seorang suster datang dan meminta laki-laki keluar sebentar karena akan membantu Yoongi membersihkan diri. Jimin yang notabennya tidak tau apa-apa hanya menurut dan melangkah keluar ruangan. Ia mendudukkan dirinya di salah satu kursi tunggu setibanya keluar dari ruangan. Senyum bahagia dan rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan saat ini. Ia telah menjadi ayah sekarang, Jimin memiliki putra yang pastinya akan sangat tampan ketika sudah dewasa nanti.

"Jimin oppa"

Mendengar namanya dipanggil, laki-laki itu menoleh. Jungkook nampak berlari dari ujung koridor diikuti seorang laki-laki yang tidak asing untuk Jimin. Ia memang sempat menelfon gadis ini tadi setelah memberitau eommanya bahwa Yoongi akan melahirkan.

"Bagaimana keadaan eonni?" tanya Jungkook

"Dia baik"

"Wooo… Lihat siapa sekarang yang menjadi seorang ayah? Kenapa kau tampak berantakan Jim?"

Sebuah tepuk tangan dan perkataan mengejek terdengar setelah Taehyung mendekat ke arah Jungkook, membuat Jimin membulatkan matanya karena kaget dengan kedatangan Taehyung.

"Sejak kapan kau sampai di Korea?" kaget Jimin sambil menunjuk Taehyung

"Tadi pagi"

"Mana anakmu?" tanya Taehyung lagi

"Masih dimandikan oleh Hoseok hyung"

"Oppa, kenapa kau sangat berantakan sekali?" sela Jungkook

"Yoongi menjelma menjadi serigala betina saat melahirkan"

"Kau mengatai menantuku serigala bentina hah?"

Sebuah pukulan mendarat tepat di kepala Jimin setelah perkataan dari seorang perempuan tua terlontar. Itu Heechul yang baru saja datang bersama eomma Yoongi dengan membawa berbagai perbekalan. Jimin menyerukan protes kepada sang eomma, namun hanya mendapat pelototan tajam dari Heechul, membuat semua yang ada di sana menertawakan Jimin.

"Pangeran dari Keluarga Park datang"

Semua menoleh antusias saat mendengar suara Hoseok. Laki-laki itu datang dengan membawa bayi dalam gendongannya. Diserahkannya bayi itu kepada Jimin yang merupakan ayah biologis dari si bayi, membuat si ayah tersenyum lembut.

"Aigo, bibirnya mirip Jimin" Heechul berkomentar

"Hidungnya mirip Yoongi eonni" Jungkook menimpali

"Kelihatannya bayi itu akan memiliki mata bulat sepertimu Kook"

Mendengar komentar Taehyung, semua orang menoleh pada laki-laki tersebut. Ditatap sedimikian rupa membuat Taehyung hanya tersenyum samar dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. 'Aku kan hanya berkomentar'

"Boleh ku gendong oppa?"

Jungkook bertanya pada Jimin yang dihadiahi anggukan dari laki-laki itu. Dengan penuh antusias, Jungkook mengulurkan tangannya menerima bayi itu. Ditimangnya pelan si bayi seolah anaknya sendiri agar tidak menangis. Senyum manis Jungkook tak dapat ditahan lagi kala tangan bayi itu menggapai di udara berusaha meraih sesuatu yang disambut genggaman dari tangan Taehyung pada akhirnya.

"Ia tampan kan Tae?" tanya Jungkook tanpa mengalihkan perhatian

"Tentu saja" jawab Taehyung singkat

"Berilah dia nama"

Baik Taehyung maupun Jungkook menoleh kilat mendengar usulan Jimin. Hei, bukankah ayah si bayi ini adalah Jimin, bagaimana bisa mereka memberi nama sementara ada ayah si bayi.

"Aku dan Yoongi tak menyiapkan nama sebelumnya, jadi berilah nama pada anakku"

"Kau ingin beri nama dia siapa Tae?" lagi-lagi Jungkook bertanya

"JiHoon. Park JiHoon"

Nama yang bagus, semua orang anggota keluarga yang berada di depan ruang persalinan itu setuju dengan nama yang diberikan Taehyung. 'Park JiHoon, annyeong'

.

.

.

TBC

A/N :

Anyyeong

Waah sekali lagi mian karena aku lambat update lagi :D

Aku lagi kobam sama Produce 101 akhir-akhir ini sampek gak punya ide buat ngetik :v

Chapter kali ini pendek, tapi semoga kalian suka

Oh ya, makasih juga buat yang review di chapeter kemarin, aku bener-bener seneng bacanya :D

Don't forget to review readers deul

See You on next chap ^_^