Disclaimer: Naruto beserta tokoh-tokoh didalamnya hanyalah milik Masashi Kishimoto seorang. Saya hanyalah seorang author yang berusaha meluaskan imajinasi saya
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Warning: OOC, OC mis-typo(s)
Rated : M
Chapter 20 : Family and The Loved One
Hari ini tanggal 25 dan ini bukan tanggal 25 biasa.
Hari pernikahan hokage pertama Konoha, Hashirama Senju.
Sesuai rencana, pukul sepuluh tadi pagi sudah berlangsung prosesi pemberkatan pernikahan oleh para tetua desa Konoha serta petinggi negara Hi. Hanya pihak keluarga yang ikut hadir, mengingat acara itu cukup sakral dan pribadi. Setelahnya baru akan diadakan pesta bersama seluruh warga Konoha di Taman Senju dari sore hingga malam hari.
Aku tengah bersiap-siap mengenakan kimono biru bermotif bunga merah muda untuk pesta sore ini. Setelah selesai mengenakan kimono yang cukup rumit dan memasang beberapa aksesori di rambut, mendadak aku ingat akan sesuatu. Ide membuat Taman Senju datang dari Tobirama setelah kak Hashirama berkata Ia ingin melangsungkan pesta pernikahan di taman. Kak Hashirama memang sangat suka tanaman. Mungkin karena itu juga dia punya elemen kayu, aku tertawa sendiri.
"Eh, kak Nozu kenapa tertawa sendiri?"
Aku menoleh dan mendapati Hana berdiri di ambang pintu kamar sambil mengamatiku.
"Aku berpikir sesuatu yang lucu" jawabku cepat.
"Oh, begitu.." Hana tertawa pelan. Ia berjalan mendekatiku dan mengamati penampilanku keseluruhan. Aku juga melakukan hal yang sama padanya. Sore itu Hana terlihat cantik dengan kimono nila bercorak motif ukiran putih. Hana menggerai rambut violet panjangnya, membuatnya terlihat anggun dengan wajahnya yang teduh.
"Kenapa hari ini dikonde lagi, kak?" Tanyanya sambil mengamati rambutku. "Kakak lebih cantik jika rambutnya digerai"
"Kita mau pergi ke tempat ramai. Nanti aku cepat berkeringat dan jadi lepek" jawabku setengah tertawa. "Tapi kalau dikonde begini, aku masih tetap cantik 'kan?"
"Iya, iya.. cantik" Hana mengangguk. "Sekarang udaranya sudah dingin, Kak. Kita tidak akan terlalu banyak berkeringat disana. Ayo kita segera kesana, sudah hampir pukul 6 sore"
"Ayo!" Aku berseru semangat. "Melihat kak Hashirama dan kak Mito bahagia hari ini membuatku senang sekali! Mereka yang menikah, aku yang lebih senang"
"Walaupun mereka terikat pernikahan politik, aku senang mereka saling mencintai" ujar Hana. "Apa kak Tobirama tidak pergi bersama kita?"
Aku menggeleng. "Dia sudah kesana lebih dulu. Katanya dia mau menyapa orang-orang disana sebagai perwakilan keluarga hingga kak Hashirama tiba"
"Baiklah, ayo kita susul kak Tobirama" Hana tersenyum senang.
Aku mengangguk. Kami berjalan bersama menuju Taman Senju. Ditengah jalan, kami berpapasan dengan banyak warga dari berbagai klan yang juga akan pergi kesana. Sepertinya malam ini akan jadi malam yang baik.
Setibanya di Taman Senju, aku tersenyum menatap sekeliling. Tobirama sendiri yang mendesain taman itu. Dua bulan lalu, dia memberitahuku desain tata letak pohon, bunga dan kolam kecil disana. Dia juga sempat meminta saran mengenai tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam di taman itu. Tobirama bilang dia ingin membuat taman ini sebagai hadiah pernikahan kak Hashirama dan kak Mito, mengingat kak Hashirama sudah memberi Igaku no Niwa sebagai hadiah pernikahan kami.
Baru kali ini aku melihat secara langsung bagaimana taman Senju itu. Ternyata dia mendengarkan saranku untuk menanam banyak pohon berukuran besar sebagai lambang klan Senju. Walaupun sifatnya kaku, Tobirama punya selera seni yang bagus. Tata letaknya membuat taman ini terlihat indah, sejuk dan luas.
Pesta baru dimulai pukul setengah 7 malam tapi sudah banyak warga Konoha yang tiba disana. Orang-orang Uchiha, Sarutobi, Hyuuga, Nara, Yamanaka dan berbagai klan lain berbaur dalam keramaian malam itu. Melihat pemandangan ini membuat dadaku terasa hangat. Tidak ada pertikaian antar klan lagi. Aku berharap tidak pernah ada lagi pertikaian antar negara yang bisa melahirkan perang baru.
"Nozu, kau sudah datang"
Tubuhku otomatis menoleh begitu mendengar suara Tobirama. Dia berjalan mendekat sambil membawa dua gelas minuman.
Malam ini Tobirama mengenakan kimono biru tua bergaris-garis hitam yang terlihat serasi dengan kimonoku. Dia terlihat lebih tampan jika menggunakan pakaian kimono tradisional, membuatku tersenyum tanpa sadar. Dia memberikan kedua minuman itu padaku dan Hana.
"Mengingat kau punya toleransi rendah terhadap minuman keras, lebih baik malam ini kau minum teh saja" ujar Tobirama padaku. Ia melirik Hana. "Aku tidak tahu bagaimana dengan Hana. Mengingat kalian kakak beradik, aku akan ambil aman"
Hana menerima teh hijau yang diberikan Tobirama sambil mengerutkan dahi. "Apa maksudmu, kak?"
"Nozu pernah mengamuk karena mabuk di kedai sake" Tobirama tersenyum tipis. "Aku pikir gawat jika kalian, dua kakak beradik perempuan merusak acara ini karena mabuk minum sake"
"Hah? Kak Nozu pernah begitu?" Hana membelalakkan mata tidak percaya. Ia memukul bahuku. "Kak! Sudah kukatakan kakak jangan minum-minum di tempat umum. Sudah diberitahu tapi masih saja.."
"Hahahaha, maaf ya" aku tertawa salah tingkah. "Kemarin aku diajak Toka dan.. Tobirama, kenapa kau buka aib orang, sih?"
Tobirama hanya diam sambil mengangkat bahu.
"Ada teh lain juga disana" Tobirama menunjuk ke satu meja tempat makanan dan minuman disajikan. "Ada matcha, teh gandum, sake, dan banyak makanan ringan lain"
"Selamat malam, Nozu! Selamat malam, Hana!"
Kak Hashirama berjalan mendekati kami sambil menggandeng kak Mito. Mereka terlihat serasi mengenakan kimono coklat. Kak Hashirama menggunakan kimono coklat bergaris-garis putih sementara kak Mito menggunakan kimono coklat bercorak bunga peoni putih.
"Selamat untuk pernikahannya, Kak!" aku memeluk kak Hashirama. "Aku berdoa semoga kakak dan kak Mito bahagia selamanya"
"Doa yang baik sekali! Terima kasih, Nozu" Kak Hashirama balas memelukku.
Aku melepaskan pelukanku, berjalan menghampiri kak Mito lalu memeluknya dengan erat. "Kak Mito sangat cantik hari ini! Aku yakin kakak adalah wanita terbaik untuk kak Hashirama. Bagaimana rasanya jadi istri seorang Hokage?"
"Luar biasa senang. Tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata" kak Mito menatapku dengan mata berbinar bahagia. "Terima kasih, Nozu"
"Selamat untuk pernikahan kalian" Hana ikut memeluk kak Mito. "Aku ikut bahagia!"
"Terima kasih Hana" kak Mito balas memeluk Hana. "Aku juga mendoakan kebahagiaan kalian berdua, selalu"
Tobirama berjalan menghampiriku. "Nozu, kau mau ikut aku dan kakak menyapa beberapa tamu penting disana?"
Aku menatap segerombolan orang yang disebut Tobirama sebagai 'tamu penting' di satu sudut taman. Mereka perwakilan dari masing-masing klan besar di Konoha. Aku kembali menatap Tobirama.
"Tidak. Aku akan jalan-jalan saja dengan Hana" aku menggeleng.
"Baiklah. Kita bertemu lagi jika urusanku sudah selesai" Tobirama melirik Hashirama. "Ayo, kak. Kita sapa mereka sebagai tuan rumah yang baik"
"Ah! Baiklah" Hashirama tersenyum. "Mito, ayo kita kesana"
Kak Mito mengangguk. Ia kembali menggandeng kak Hashirama. "Kami kesana dulu. Kalian hati-hati jalan-jalannya, ya. Kita bertemu lagi nanti!"
Aku dan Hana tersenyum sambil mengangguk. Kami mengamati ketiga orang itu berjalan menjauh dan menghilang di keramaian.
"Kenapa kakak tidak ikut kak Tobirama kesana?" Hana bertanya padaku selagi kami berjalan-jalan. "Aku tidak apa-apa jalan sendiri disini. Kau 'kan istrinya"
"Aku lebih baik bersamamu saja" balasku cepat. "Menyapa orang-orang besar itu membuatku lelah. Lagipula mereka juga tidak tahu aku istri Tobirama"
Aku menyikut Hana pelan. "Untung kau disini bersamaku. Aku jadi punya teman, tidak terlihat seperti anak hilang"
Hana tertawa pelan mendengar kata-kataku. Ia melihat sekeliling.
"Kakak sempat bilang kak Tobirama yang membuat taman ini sebagai hadiah pernikahan, bukan?" Tanya Hana. "Membuat taman seindah ini bukan hal mudah. Kak Tobirama pasti sangat menyayangi kak Hashirama"
"Kau benar" aku mengangguk. "Dia sayang sekali pada kakak laki-lakinya". Aku menghela napas sambil menatap langit malam yang cerah bertabur bintang. "Kita juga sayang sekali pada kak Nozomi. Jika kakak laki-laki kita yang menikah, kita akan berikan apa sebagai hadiah pernikahan, ya?"
Hana tersenyum sendu. "Entahlah, Kak. Hingga akhir, aku tidak tahu apakah kak Nozomi punya wanita yang dicintainya. Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku tentang itu"
"Jika saja kak Nozomi ada disini bersama kita.." aku ikut tersenyum sendu. "Dia selalu suka keramaian yang hangat seperti ini.."
"Benar. Nozomi memang menyukainya"
Aku dan Hana seketika menoleh kebelakang, mendapati Madara Uchiha tengah berdiri dibelakang. Madara mengenakan kimono Uchiha hitam yang lebih formal malam itu. Dia menatap kami bergantian dengan matanya yang tajam.
"Selamat malam, kak Madara" sapa Hana sopan. Ia tidak terlihat canggung dengan kedatangan Madara yang tiba-tiba. "Senang rasanya bisa bertemu di hari yang baik seperti ini"
'Kak Madara? Sejak kapan Hana memanggilnya kakak?'
"Dia memanggilku seperti itu sejak saat tinggal bersamaku, Nozu" perkataan Madara menjawab pertanyaan dalam kepalaku.
Aku diam. Saat berada di satu tempat dengan Madara, lebih baik aku tidak memikirkan banyak hal jika mau dia tidak mengorek habis semua isi pikiranku.
Madara mengalihkan pandangannya pada Hana. Sekilas aku melihat sinar matanya menjadi lebih lembut saat menatap Hana. "Senang melihatmu sudah sembuh total, Hana"
Hana mengangguk. Melihat bagaimana Hana bicara pada pria Uchiha itu membuatku mengerti. Madara sepertinya memang memperlakukan Hana dengan berbeda. Biasanya Madara tidak seramah ini. Bahkan saat bicara berdua denganku, aura Madara terasa lebih mencekam. Ini menunjukkan Madara tidak bohong saat berkata dia ingin menjaga Hana.
"Kak Madara tidak suka keramaian tapi tetap datang" Hana bergumam pelan. "Apa karena ini acara Hashirama Senju?"
"Benar. Aku datang kemari sebagai sahabatnya" jawab Madara singkat. "Nozomi pasti juga akan senang bila datang kesini"
"Kau benar" Hana bergumam pelan. Tatapan Hana berubah sendu ketika Madara menyebut kak Nozomi. Namun Ia segera mengubah raut wajahnya dalam satu helaan napas.
"Setelah impian membangun desa tercapai. Apa yang akan kakak lakukan selanjutnya?" Tanya Hana mengalihkan pembicaraan. Ia menatap Madara. "Apa kakak juga akan menikah seperti Hashirama?"
"Aku belum memikirkan hal sejauh itu" balas Madara. "Sekarang pikirkanku hanya untuk klan dan desa"
Madara melempar tatapan tidak menyenangkan padaku yang sedari tadi diam memperhatikan percakapannya dengan Hana. "Aku tidak tertarik pada pernikahan politik. Aku tidak akan bisa dipaksa oleh hal-hal semacam itu"
Kenapa dia berkata seperti itu? Dia mau menghina aku dan kak Hashirama yang menjalani pernikahan politik? Aku memutuskan diam dan tidak ambil pusing. Jika dia memang berpikir begitu, tidak masalah.
"Maaf menggangu waktu kalian. Nozu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan Hana" Madara menatapku dengan mata hitamnya yang tajam. "Bisa kau beri kami waktu bicara?"
Aku melirik Hana. Ia menganggukkan kepala.
"Baiklah" aku mencoba tersenyum pada Madara.
"Kakak tidak perlu khawatir" Hana bergumam lembut. "Kita bertemu lagi saat makan malam nanti, kak"
Aku mengangguk. Madara mengajak Hana berjalan-jalan di tengah pesta. Aku memperhatikan mereka yang berjalan menjauh. Kira-kira apa yang mau dibicarakan Madara dengan Hana? Melihat bagaimana sikap Madara pada Hana, lebih baik aku menghilangkan kecurigaanku pada pria Uchiha misterius itu.
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan menyisir taman Senju sambil sesekali menikmati makanan ringan dan minuman yang disajikan. Setelah puas mencoba semua jenis makanan ringan, aku memutuskan untuk duduk, mengistirahatkan perut sebelum makan malam.
Aku duduk dan diam, sambil sesekali bicara pada warga yang menyapaku malam itu. Aku juga mengamati orang yang berjalan berlalu lalang di depanku. Samar-samar aku melihat Toka dan kak Yoshi di keramaian. Jika mataku tidak salah, aku melihat mereka bergandengan tangan. Aku tersenyum sendiri. Apa sekarang mereka punya hubungan khusus?
Toka Senju yang kutemui pertama kali, wanita yang sangat dingin. Bagaimana bisa wanita sedingin itu mau menjalin hubungan dengan pria penuh semangat seperti kak Yoshimura? Sudah banyak hal yeng berubah. Aku tertawa pelan, tertawa pada takdir yang entah kenapa selalu tidak bisa ditebak.
Yah, siapa yang tahu apa yang terjadi di masa depan?
Akhirnya kami tiba di sesi makan malam. Aku duduk di sebuah meja makan besar bersama kak Hashirama, Tobirama, kak Mito, Madara, Hana, petinggi negara Hi dan orang-orang penting lain untuk makan malam.
Sesi makan malam berlangsung baik, dengan diskusi yang mengangkat topik pembangunan negara Hi dan membandingkan kurang lebihnya pencapaian selama ini dari negara lain.
Malam itu juga, kak Hashirama mengumumkan kak Mito sebagai istrinya secara resmi didepan semua warga Konoha. Kami semua menyambut kabar gembira itu dengan bersulang bersama untuk mendoakan kebahagiaan mereka.
Setelah makan malam selesai, kak Hashirama mengizinkan para warga untuk kembali ke rumah jika sudah merasa terlalu malam. Namun acara disini belum selesai. Ada beberapa pertunjukkan seni dari warga Konoha sebagai bentuk penghormatan mereka atas pernikahan sang Hokage.
Aku dan Hana memutuskan untuk duduk menonton pertunjukan dari klan Uchiha yang tengah menyajikan permainan musik klasik diatas panggung.
"Nozu"
Tobirama berjalan mendekat. Ia mengambil tempat duduk disampingku. "Aku baru saja mengantar Sasuke Sarutobi dan keluarganya pulang"
"Pria itu, Sasuke Sarutobi. Jika bertemu denganmu, kalian pasti bicara banyak hal" aku tersenyum. "Dia begitu suka padamu. Sama sepertimu yang juga sangat menyukai anaknya"
"Dari tadi kalian belum menghabiskan waktu bersama" ujar Hana. "Aku akan berjalan-jalan sebentar. Nikmatilah waktu berdua kalian"
"Hana, apa yang kau katakan?" Aku mengerutkan dahi. Begitu aku ingin bicara lebih lanjut, Hana bangkit berdiri dari tempat duduknya, tersenyum dan berjalan meninggalkanku bersama Tobirama.
Aku menghela napas dan kembali memperhatikan seorang wanita Uchiha diatas panggung yang begitu lihai memainkan beberapa alat musik klasik sekaligus. Permainan musiknya menghasilkan melodi yang merdu.
"Permainan musiknya luar biasa" ujarku kagum.
"Uchiha punya aliran musik yang unik" sahut Tobirama. "Jujur, aku juga suka cara mereka memadukan suara tiap-tiap alat musik menjadi melodi"
Aku menoleh ke arah Tobirama dan tersenyum. "Ternyata ada yang kau suka dari Uchiha. Aku kira kau tidak suka semua yang berhubungan dengan mereka"
"Kau jangan salah paham" Tobirama melipat kedua tangannya di dada. "Aku bukan orang bodoh yang tidak suka Uchiha tanpa alasan. Aku hanya tidak suka pandangan mereka yang terlalu terfokus pada klan. Selebihnya, aku memandang klan Uchiha sama dengan klan lainnya. Dalam semua aspek"
"Wah, kalau dilihat-lihat kau cukup bijaksana juga" aku mengangguk. "Sejauh ini, aku hanya bisa melihat kau tidak suka apapun yang berhubungan dengan Uchiha. Aku takut orang-orang Uchiha itu salah paham. Padahal kau tidak bermaksud jahat"
"Tobirama, dari tadi aku mencarimu"
Suara Hani Yuki membuat kami langsung menoleh padanya yang tengah berdiri di bangku penonton baris belakang. Ia berjalan menghampiri kami.
"Kebetulan" Tobirama menatapku lurus. "Nozu, ada hal penting yang harus kukatakan pada Hani. Maukah kau menungguku disini hingga selesai bicara dengannya?"
Aku mengerutkan kening. "Tobirama, kau.."
"Aku tidak bisa mengulur waktu lebih lama lagi. Akan kuselesaikan urusanku dengannya" sela Tobirama. "Aku harap kau mengerti"
Aku mengangguk dan menatap Tobirama lurus. "Jangan memaksakan diri. Aku percaya padamu, Tobirama"
-8-8-8-
"Aku melihatmu bicara dengan para petinggi negara Hi. Kau terlihat hebat, cerdas dan berwibawa. Kau punya bakat menjadi Hokage, Tobirama. Menggantikan kakakmu" ujar Hani sambil mengamati Tobirama.
Tobirama balas menatap Hani. Dari tadi Hani terus saja bicara tanpa henti, seakan tidak memberi kesempatan sedikitpun pada Tobirama untuk bicara. Mungkin saja Hani sudah tahu tujuan Tobirama mengajaknya bicara malam ini.
Perasaannya pada wanita itu tidak sama seperti dulu dan Tobirama benar-benar meyakini itu. Akan lebih baik jika Ia mengakhiri hubungannya dengan Hani, jika Tobirama tidak ingin membuat kedua wanita itu lebih menderita lagi.
"Ada yang ingin kukatakan padamu" ujar Tobirama mencoba menyela perkataan Hani.
"Aku tidak mau dengar apa yang akan kau katakan padaku, Tobirama" Hani memotong perkataan Tobirama. "Malam ini hanya aku yang bicara. Kau tidak kuizinkan bicara apapun" ujarnya dingin.
Tobirama menyipitkan mata. "Jangan bersikap seperti anak kecil"
"Apapun yang kau katakan, aku takkan dengar" Hani bersikeras.
Tobirama menggelengkan kepala. "Sampai kapan kau mau jadi egois begitu?"
"Hentikan, Tobirama!" Ujar Hani dengan suara lebih tinggi. Ia menatap Tobirama dengan mata berkaca-kaca. "Aku tahu apa yang ingin kau katakan padaku. Kau mau mengakhiri hubungan kita selama ini, bukan?"
Hani membalikkan badannya. "Aku tidak terima, Tobirama! Aku tidak mau terima semua ini. Bagaimana bisa kau memutus hubungan kita begitu saja? Kau sudah berjanji untuk menikah denganku. Apapun yang terjadi kau akan memegang janjimu, bukan? Apapun yang terjadi..."
Hani berhenti bicara. Tubuhnya gemetar, Ia tidak dapat menahan air mata kesedihan yang kini mengalir di wajahnya.
"Karena hubungan di masa lalu itulah, aku ingin kau bahagia dan menemukan orang lain" Tobirama berusaha bicara dengan suara biasa.
"Aku memberikan semuanya untukmu, Tobirama. Hanya untukmu" Hani mulai terisak. "Aku rela kehilangan kemampuanku sebagai Shinobi untukmu. Aku sudah berikan semua perasaanku untukmu. Apa semua itu kurang? Apa kak Nozu memiliki apa yang tidak kumiliki? Apa itu, Tobirama? Jawab aku!"
"Aku berterima kasih untuk semua yang kau lakukan. Mengertilah. Aku tidak ingin membuatmu menderita lebih dari ini" sahut Tobirama. "Ini bukan akhir dari hidupmu. Kita akan tetap jadi teman baik"
"Aku akan lakukan semuanya untukmu, Tobirama" Hani menggengam tangan Tobirama. "Semuanya.. Aku rela jika harus berbagi dirimu dengan kak Nozu, asal kau masih mau bersamaku. Aku rela memiliki hanya sebagian, bahkan seperseratus dari dirimu. Aku janji tidak akan cemburu dan curiga pada kak Nozu. Kau bisa pegang kata-kataku.."
"Aku tidak bisa melakukan itu" sela Tobirama. Ia menarik tangannya dari genggaman Hani. "Aku sudah memilih. Aku harap kau bisa menghargai keputusan ini"
Hani menggeleng. "Jika kau masih tidak mau, tidak apa-apa jika kau tidak menikah denganku. Asal kau tetap mengizinkanku dekat denganmu.."
"Aku melihatmu sebagai orang yang berharga dalam hidupku. Karena itu aku memikirkan perasaanmu" Tobirama kembali menyela perkataan Hani. "Aku tahu kau tidak akan bahagia selama aku bersama Nozu"
"Jika kau sudah tahu, kenapa kau masih memilih kak Nozu?" Hani bertanya dengan suara pilu. "Kau bilang kau memikirkan perasaanku. Tapi sekarang kau menjauhkan aku darimu. Kau mengingkari janji kita. Kau membuatku sakit, Tobirama.."
"Aku memang mengingkari janji kita. Aku minta maaf untuk itu" Tobirama bergumam pelan. Muncul rasa bersalah dalam dadanya. Jika saja Ia tidak pernah membuat janji itu, Tobirama tidak akan menyakiti hati siapapun.
Tobirama menatap Hani lurus. "Rasa sakit ini bukan akhir hidupmu. Saat kau menemukan orang lain yang bisa membuatmu bahagia, rasa sakit itu akan berubah menjadi masa lalu"
"Aku tidak mungkin membuka hatiku untuk orang lain" Hani balas menatap Tobirama dengan mata berkaca-kaca. "Aku hanya untukmu, selamanya akan seperti itu"
Tobirama diam. Jujur, Ia mulai kehabisan kata-kata. Sebagai seorang pria, Tobirama benar-benar tidak mengerti. Kenapa para wanita begitu sulit mencari laki-laki lain? Bukan hanya Hani, Nozu juga mengatakan hal yang sama padanya. Kenapa wanita lebih memilih melakukan hal-hal yang menyakiti dirinya sendiri padahal mereka punya pilihan lain yang bisa membuat mereka bahagia?
"Jika aku memang tidak bisa memilikimu" Hani kembali menggenggam tangan Tobirama. "Aku akan lakukan apapun agar kau sadar kau masih mencintaiku, sama seperti aku yang masih terus mencintaimu"
"Hentikan, Hani" ujar Tobirama segera. "Itu sia-sia.."
"Lihat dan tunggulah" Hani menyela perkataan Tobirama. Ia melepas tangan Tobirama dan menghapus air matanya. "Aku akan tunjukkan bagaimana kata hatimu yang sebenarnya"
Hani segera berbalik. Ia pergi meninggalkan Tobirama sambil menghapus air mata yang kembali mengalir di wajahnya.
Tobirama diam terpaku di tempatnya. Hani begitu keras kepala, tidak mau mendengar apa yang dikatakannya malam itu. Setidaknya malam ini Tobirama sudah mengatakan bahwa Ia tidak dapat menepati janjinya pada Hani. Walaupun wanita itu belum bisa menerimanya, setidaknya dia sudah mendengarnya langsung dari Tobirama.
Tobirama menghela napas. Sepertinya malam ini, tidak ada lagi yang bisa Ia katakan pada Hani. Nozu benar. Ia tidak bisa memaksakan diri. Setelah ini, Ia akan melihat apa wanita itu bisa menerima perpisahan ini atau sebaliknya? Jika tidak, Tobirama harus memikirkan cara lain untuk membuat Hani menerima keputusan ini baik-baik.
Pembicaraan dengan Hani tadi membuat Tobirama tiba-tiba merasa lelah. Akhir-akhir ini, Ia memang disibukkan banyak hal termasuk pernikahan Hashirama. Entah mengapa setelah sekian lama, rasa lelah itu baru datang. Tak disangka bicara dengan Hani jauh lebih menguras pikiran dan tenaga daripada urusan fisik.
Semoga saja waktu bisa membantu Hani memahami dan menerima kenyataan yang terjadi.
-8-8-8-
"Kak, sore ini kita jadi pergi mengunjungi kak Nozomi?" suara Hana memecah keheningan ruangan siang itu. "Kita sudah pulang dari Igaku no Niwa lebih cepat"
Siang ini, aku dan Hana memutuskan untuk memeriksa rekap medis bulanan warga Konoha. Kami membawa beberapa dokumen dari Igaku no Niwa dan merapikannya di rumah.
"Tentu" aku melirik jam dinding. "Sekarang sudah pukul tiga siang. Katanya hari ini kak Hashirama dan Tobirama juga pulang lebih cepat untuk mengunjungi keluarganya"
"Apa kita akan menunggu mereka dan berangkat bersama dari sini?" Hana bertanya lagi.
"Mereka akan langsung pergi kesana dari gedung Hokage" aku merapikan beberapa helai catatan rekam medis seorang warga dan menyatukannya dengan penjepit kertas logam.
"Lalu, kak Mito?" Tanya Hana sambil ikut merapikan beberapa helai kertas lain. "Apa kak Mito juga ikut?"
"Kak Mito juga akan pergi bersama mereka" jawabku sambil mengangguk.
Menyebut nama kak Mito membuatku tersenyum sendiri. Sudah satu bulan lamanya kak Mito tinggal bersama kami di rumah ini sebagai istri Hashirama Senju. Rasanya senang sekali akhirnya kami bisa tinggal bersama sebagai keluarga.
Selama satu bulan ini, aku melihat perubahan besar pada kak Hashirama. Bagaimana tidak? Dia yang biasanya terlihat sendiri melakukan apapun kini begitu mesra dengan kak Mito setiap hari. Mereka sering menghabiskan waktu malam dengan berbincang berdua di ruangan kerja kak Hashirama atau sekedar saling merangkul satu sama lain di teras belakang sambil melihat indahnya langit malam. Mereka juga seringkali jadi orang terakhir yang sarapan pagi. Biasanya di pagi hari, kak Hashirama selalu tersenyum luar biasa senang sedangkan kak Mito terlihat malu-malu.
Aku mengerti. Begitulah kehidupan pengantin baru yang saling mencintai. Aku dan Hana sering menggoda kak Mito yang datang terlambat untuk sarapan. Jika bukan karena agenda baru di pagi hari dengan kak Hashirama, apa lagi?
Kami selalu sukses membuat kak Mito malu hingga wajahnya merah, hampir sama dengan warna rambutnya. Ada saat dimana kak Mito mencoba balas menggodaku. Namun usahanya selalu gagal. Dia harus belajar mengatakan hal-hal yang lebih usil lagi untuk membuatku malu.
Hana mengangguk. "Aku kira kak Mito tidak ikut. Waktu sarapan, dia tidak bilang mau ikut"
"Kak Mito datang untuk memberi penghormatan di hari ulang tahun Butsuma Senju, hari ini" kata-kata itu tanpa sadar meluncur keluar dari mulutku.
Aku diam sejenak. Nama Butsuma Senju masih membuatku merasa tidak nyaman saat menyebutnya. Samar-samar muncul ingatan di kepalaku betapa bencinya ayah pada Butsuma Senju. Hingga detik ini, aku tidak pernah lupa malam itu, malam dimana Butsuma Senju membunuh ibu. Aku masih ingat bagaimana tatapan kejinya padaku malam itu. Dia memberi perintah pada Tobirama untuk membunuhku.
Tapi nyatanya, karena sudah menikah dengan Tobirama, sekarang Butsuma Senju adalah orang tuaku.
Rasanya aneh.
Aku melirik Hana. Dia terdiam menatap helaian kertas di depannya dengan tatapan kosong. Pikirannya seperti sedang melayang ke hal lain. Hana pastinya punya kenangan tidak menyenangkan yang sama denganku saat mendengar nama ketua klan Senju terdahulu itu.
"Ayo kita bergegas" aku berusaha mengusir suasana aneh yang tiba-tiba menyelimuti kami. "Kita akan bereskan ini setelah pulang dari sana"
Perkataanku seakan menyeret kembali pikiran Hana ke ruangan ini. Dia mengangguk dan merapikan meja seadanya.
Kami bersiap-siap merapikan pakaian dan berjalan meninggalkan rumah saat waktu menunjukkan pukul 4 sore. Sebelum kesana, aku dan Hana menyempatkan diri untuk mampir membeli bunga tabur dan beberapa batang dupa untuk diletakkan diatas makam kak Nozomi dan yang lain.
Tidak lama berselang, tibalah kami di area pemakaman Konoha. Disana berjejer makam orang-orang yang sudah pergi mendahului kami. Suasana hatiku berubah sendu. Manusia memang lahir dan akan mati, itu pasti. Jika berpikir satu hari nanti aku harus berpisah dengan Hana, Tobirama dan yang lain, atau mungkin mereka semua yang akan meninggalkanku lebih dulu, ingin rasanya aku memilih untuk tidak dilahirkan di dunia ini.
"Kak Hashirama sudah menunggu kita disana, Kak" Hana menyikutku pelan.
Aku menoleh dan mendapati kak Hashirama tengah melambaikan tangan pada kami. Ia berdiri di depan sebuah makam bersama kak Mito yang membawa beberapa tangkai bunga dan Tobirama yang membawa satu tas kain berisi bunga tabur.
Hana menarik lenganku. Kami berjalan ke tempat dimana kak Hashirama berdiri. Mereka tengah berdiri di sebuah makam sederhana dengan batu nisan bertuliskan 'Butsuma Senju'. Makam itu sudah ditaburi bunga dan terdapat beberapa tangkai bunga yang dibawa kak Mito diatasnya.
Tatapanku tertuju pada makam yang berada dibelakangnya. Pada batu nisannya tertulis nama 'Nozomi Hagoromo'. Aku dan Hana berjalan ke depan makam itu.
"Kak Nozomi, ini aku dan Hana. Kami datang menjenguk kakak"
Kata-kata itu seakan menarik keluar seluruh perasaanku, membuat suaraku gemetar dan air mataku jatuh.
"Apa kakak baik-baik saja? Apakah dingin di dalam sana?" Hana mengelus batu nisannya dengan pelan. "Kami rindu padamu, kak Nozomi" Hana menyeka air matanya yang mengalir.
Aku menaburkan bunga dan Hana meletakkan dupa yang sudah dinyalakan. diatas makam kak Nozomi. Hana memelukku erat dan menangis, membuatku tidak sanggup lagi menahan air mata. Ingatan akan rumah kami yang hangat dan masa kecil yang indah memenuhi pikiranku. Kakak yang selama ini menyayangi dan melindungi kami sudah pergi. Aku begitu rindu saat-saat bersama kak Nozomi. Kenapa kak Nozomi tidak bisa tinggal bahagia disini bersama kami? Kenapa?
Aku merasa ada tangan yang menepuk bahuku pelan. Aku menoleh dan mendapati Tobirama tengah berdiri di sampingku. Ia ikut menaburkan bunga dan berdoa di depan makam kak Nozomi.
"Kak Nozomi, ini aku Tobirama" Tobirama menatap makam kak Nozomi sendu. "Kau pasti bisa melihat adik-adikmu ini begitu rindu padamu, bukan? Kau tidak perlu khawatir. Istirahatlah yang tenang. Aku akan menjaga mereka untukmu"
Tobirama mengalihkan pandangannya padaku yang tengah menatapnya dengan wajah bersimbah air mata.
"Kau bawa sapu tangan? Jika tidak, kau bisa hapus air matamu dengan ini" ujarnya sambil memberiku sebuah sapu tangan.
Aku menggeleng dan menarik keluar sapu tangan yang kubawa. "Aku tahu aku pasti menangis jika bertemu kak Nozomi. Aku bawa sapu tangan sendiri"
Kak Hashirama dan kak Mito ikut menaburkan bunga, lalu berdoa didepan makam kak Nozomi. Kak Mito berjalan menghampiriku, lalu mengelus punggungku pelan.
"Kau juga harus berikan penghormatan untuk mertua kita di hari ulang tahunnya" Ia memberiku beberapa tangkai bunga yang dibawanya. "Hashirama bilang ini bunga kesukaan ayah. Letakkan ini diatasnya dan berdoalah"
Hana yang mulai berhenti menangis memutuskan untuk berhenti memelukku. Aku berjalan ke depan makam Butsuma Senju dan meletakkan bunga itu, lalu berdoa. Setelah selesai, aku mengusap batu nisannya perlahan.
'Klan Senju begitu benci pada klan Hagoromo, Apa Butsuma Senju mau menerima aku sebagai menantunya?'
Mengunjungi makam Butsuma Senju membuatku teringat akan makam ayah dan ibu. Kami memakamkan mereka di wilayah Hagoromo. Selama perang berlangsung, aku dan Hana tidak sempat memindahkan makam mereka. Daerah itu berada cukup jauh dari wilayah Uchiha dan Senju. Mengingat tempatnya yang tersembunyi, makam mereka pasti sudah tidak terawat. Memikirkan hal itu membuatku sangat sedih.
Tatapanku tertuju pada makam lain yang ada disampingnya. Dari sini, aku bisa membaca nama 'Haruka Senju'. Aku mengerutkan dahi. Nama itu terasa asing untukku. Tapi melihat posisi makam itu ada disebelah makam Butsuma Senju, berarti dia..
"Benar, Nozu" kak Hashirama menepuk bahuku. "Sekarang kau harus mengingat namanya karena dia Ibuku, yang sekarang juga ibumu" kak Hashirama tersenyum ramah. "Ini makam ibu, lalu disampingnya ada Kawarama dan Itama. Sapalah mereka juga"
Kak Hashirama bicara dengan senyum dan suaranya yang ramah. Tapi dari matanya, aku bisa melihat kesedihan mendalam yang terpantul di kedua bola matanya. Tatapanku tertuju pada Tobirama yang kini tengah berdiri didepan makam kedua adik laki-lakinya.
Aku berjalan mendekatinya, lalu menaburkan bunga di atas makam keduanya. "Aku tidak pernah bertemu kalian sebelumnya. Aku Nozu, istri kakak kalian, Tobirama. Salam kenal" aku mengelus batu nisan keduanya bergantian. "Aku harap di kehidupan selanjutnya, kita bisa dipertemukan lagi sebagai keluarga"
"Itama dan Kawarama, sepertinya mereka menyukaimu jika mereka mengenalmu" ujar Tobirama pelan. Sinar matanya terasa sedih. "Jika datang kemari, aku selalu merasa jadi kakak tidak berguna"
Aku menatap Tobirama sendu. "Aku juga merasa begitu" timpalku. "Merasa tidak berguna karena membiarkan orang-orang yang kusayangi mati, tidak bisa melindungi mereka. Tapi.."
Aku bisa melihat kesedihan yang terpantul dari mata merah Tobirama. Sepertinya Tobirama begitu menyalahkan dirinya atas kematian kedua adik laki-lakinya. Aku menggengam tangannya yang gemetar dan terasa dingin.
"Kau yang bilang padaku, hal terbaik untuk menghormati orang yang sudah meninggal adalah menjalani hidup dengan baik sambil menyimpan kenangan tentang mereka" Aku mencoba memberi kata-kata yang kupikir bisa membantunya agar lebih tenang. Padahal itu kata-kata Tobirama yang waktu itu diucapkannya padaku saat aku frustasi memikirkan Hana dan kak Nozomi.
"Kau masih ingat kata-kataku waktu itu?" Tobirama tersenyum tipis. Jari-jari tangannya yang besar balas menggengamku. "Aku kira kau tidak mendengar kata-kataku saat itu. Kau seperti orang sakit jiwa"
Aku tersenyum canggung. "Waktu itu aku frustasi. Tapi aku masih punya telinga yang berfungsi dengan baik"
"Jika kita sudah selesai disini, ayo kita pulang dan makan malam bersama di rumah" ajak kak Hashirama. "Malam ini.."
"Tunggu, kak. Aku.." aku menyela perkataannya. "Aku ingin bicara berdua saja dengan kak Nozomi, bisakah? Sebentar saja. Tadi Hana sudah bicara dengan kak Nozomi saat aku menyapa yang lain. Sebentar saja"
"Lima jam-pun akan kami tunggu, Nozu" Hashirama mengelus kepalaku. "Baiklah, kami akan menunggumu disana, ya?" Hashirama menunjuk sebuah pondok kecil di dekat pintu keluar area pemakaman.
Aku mengangguk. "Terima kasih banyak, kak!"
-8-8-8-
'Mungkin ini saat yang tepat'
Tobirama melirik Hana yang tengah duduk bersamanya di sebuah kursi kayu yang ada di pondok berukuran kecil itu.
Hana diam, begitu pula Tobirama. Sejak Hashirama mengajak Mito meninggalkan mereka untuk berkeliling ke makam keluarga Senju lain, tidak ada satupun kata yang terucap diantara mereka. Hana terlihat sibuk memikirkan sesuatu, membuat Tobirama merasa tidak enak mengajaknya bicara.
Keadaan seperti ini jarang terjadi, dimana Tobirama bisa bicara berdua saja dengan Hana. Ada sesuatu yang harus ditanyakannya pada Hana karena memang Hana adalah satu-satunya orang yang dapat memberinya jawaban.
"Kak.."
Tobirama tersentak. Rupanya Hana-lah yang mengajaknya bicara lebih dulu.
"Ada apa?" Tobirama menoleh pada Hana yang duduk bersebelahan dengannya.
"Aku ingin tanya sesuatu.." Hana menatap Tobirama lurus. "Apa tidak apa-apa?"
Tobirama mengangguk. "Apa hal yang ingin kau tanyakan itu hal yang sedang kau pikirkan?"
"Tidak juga" jawab Hana pelan. "Keluarga kita bermusuhan. Aku tahu ayahku membunuh adikmu Kawarama. Aku dan kak Nozu secara tidak langsung adalah musuhmu. Kau sangat menyayangi saudaramu, bukan? Kau tidak benci padaku dan kak Nozu?"
"Ayahku membunuh ibumu. Aku juga secara tidak langsung adalah musuh kalian" Tobirama bergumam pelan. "Kita ada di zaman perang, hingga saling membunuh terlihat seperti hal yang biasa"
Tobirama mengalihkan tatapannya pada ratusan batu nisan yang tersusun rapi di area itu. "Aku ingat saat klan kami menghancurkan wilayah kalian. Aku sungguh minta maaf. Saat itu tidak ada yang bisa kulakukan selain melakukan apa yang diperintahkan"
Tobirama kembali menatap Hana. "Aku tahu kau menerima dan memaafkan Madara yang sudah membunuh ayahmu. Kurang lebih seperti itulah perasaanku pada kalian berdua"
"Kakak tidak benci pada kami sedikitpun?" Hana bertanya lagi.
"Rasanya selalu tidak menyenangkan ketika teringat akan kenangan buruk. Tapi itu masa lalu. Aku tidak membenci kalian karena sesungguhnya kita semua adalah korban dari masa-masa suram itu" Tobirama menatap Hana dan tersenyum tipis. "Kita sudah memulai lembaran baru yang jauh berbeda. Lebih baik kita tidak usah memikirkan hal yang sudah berlalu"
Hana menatap Tobirama, membuat keadaan hening sejenak.
Tobirama mengerutkan dahi, mencoba membaca arti dari tatapan Hana. Namun usahanya sia-sia. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Hana saat ini.
Hana tersenyum sendu. "Bagaimana rasanya menikah dengan orang yang dulu kau benci?"
"Aku tidak membenci Nozu. Kalian bukan musuhku walaupun kalian anak Nogo Hagoromo" ujar Tobirama. "Musuh kita bukan satu sama lain, melainkan kebencian, keserakahan dan iri hati"
"Kau benar, Kak" Hana merenung. "Jika kita tidak hidup di zaman seperti ini, tidak perlu ada yang membunuh satu sama lain untuk bertahan hidup. Dengan itu, tidak perlu ada yang mati dan permusuhan tidak akan ada"
"Kau dan kak Nozu sudah menikah hampir satu tahun lamanya" Hana memandang langit sore. "Aku tahu kau suka pada kakakku. Walaupun kau menyembunyikan itu, aku bisa merasakannya" Hana tertawa kecil. "Aku ingin tahu, sejak kapan kau suka padanya?"
"Sejak kapan.." Tobirama berusaha mengingat-ingat. "Entahlah. Aku tidak bisa memberitahu kapan waktu pastinya karena aku sendiri tidak ingat. Tapi yang jelas, aku ingat aku tidak suka padanya bahkan hingga saat kami menikah. Aku hanya menganggapnya rekan, itu saja"
"Lalu, apa yang membuatmu jatuh hati pada 'rekan'-mu itu?" Hana bertanya lagi.
Tobirama diam sejenak. Ia menoleh pada Hana yang tengah menanti jawaban sambil mengamati ekspresi wajah Tobirama.
"Apa perlu alasan untuk menyukai seseorang?" Tobirama bertanya balik.
"Bukannya perlu. Tapi pasti ada suatu alasan yang bisa membuatmu menyukai seseorang" gumam Hana. "Entah kau menyadarinya atau tidak"
"Kau benar. Sepertinya aku memang tidak menyadarinya" Tobirama tersenyum tipis. "Aku hanya sadar sudah berada di satu titik dimana aku jadi begitu sedih saat lama tidak bertemu dengannya. Aku juga merasa sakit ketika melihatnya menderita. Yah.. mungkin saat itulah dia mulai jadi bagian hidupku"
"Kalian mengalami masa-masa sulit" Hana menepuk bahu Tobirama pelan. "Sekarang keadaan sudah lebih baik. Aku harap tidak ada yang bisa memisahkan kalian. Aku sarankan agar kakak lebih menunjukkan perasaan kakak yang sebenarnya. Kakak tahu? Wanita suka menerima perhatian dari pria yang disukainya"
"Bicara soal perhatian.." Tobirama merasa ini waktu yang tepat untuk bertanya. "Aku ingin minta bantuanmu"
"Bantuan?" Hana mengangkat alis. "Apa ada yang bisa kubantu?"
"Sejauh ini pembicaraanku dan Nozu tidak lebih hanya sebatas pembicaraan tentang desa serta hal umum lain" Tobirama menghela napas. "Jika dipikir lagi, aku tidak tahu apapun tentang dia hingga hampir satu tahun kami sudah menikah"
Hana tersenyum kecil. "Aku tidak menyangka ternyata kak Hashirama yang ceroboh lebih baik dalam hal berurusan dengan wanita"
Tobirama diam. Ia pasti terlihat begitu menyedihkan di mata Hana. Mau bagaimana lagi? Ia tidak punya waktu luang untuk mengenal Nozu lebih dekat. Setelah hubungan mereka membaik, Tobirama disibukkan berbagai hal mulai dari mengurus infrastruktur desa, membuat perjanjian dengan berbagai klan hingga mengurus pernikahan Hashirama. Sedangkan Nozu, dia sibuk mengurus pekerjaannya di akademi ninja dan Igaku no Niwa. Mereka hampir tidak punya waktu untuk dihabiskan bersama.
"Kau tidak perlu merasa bersalah, Kak" Hana menepuk bahu Tobirama pelan. "Tidak apa-apa. Aku mengerti kalian sibuk. Tapi.. kenapa tidak kau tanyakan pada kak Nozu langsung?"
Tobirama menoleh dan tersenyum canggung.
"Aku ingin memberinya kejutan. Tapi aku tidak tahu apa yang dia suka" Tobirama bicara jujur. "Jika aku bertanya langsung ke Nozu, bukan kejutan yang kuberi padanya. Barangkali kau tidak keberatan untuk membantu"
"Kejutan untuk merayakan apa?" Hana kembali bertanya.
"Untuk merayakan.." Tobirama berpikir-pikir. "Mungkin ulang tahun Nozu.."
"Ulang tahun kak Nozu sudah lewat!!" Hana tertawa geli. Ia tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya hingga matanya berair.
Tobirama tersenyum getir sambil mengutuk dirinya yang benar-benar payah. Wajahnya terasa panas karena malu. Untung saja Hana tengah sibuk tertawa dan tidak memperhatikan raut wajahnya saat ini.
Butuh waktu lama bagi Hana untuk menghentikan tawanya. Ia menghela napas lalu melempar senyum kecil pada Tobirama.
"Maaf kak. Aku tidak bermaksud menertawakanmu. Hanya saja aku bingung kenapa kau tidak tahu.."
"Tertawa saja" potong Tobirama. "Aku memang payah. Tanggal ulang tahunnya saja aku tidak tahu"
"Baiklah, baiklah. Kali ini aku akan membantumu, Kak" Hana tersenyum senang. "Aku akan beritahu sedikit informasi tentang kak Nozu yang mungkin bisa membantu saat kau memberinya kejutan nanti. Tapi hanya sedikit, ya?"
"Kau baik sekali" Tobirama tersenyum tipis. "Terima kasih.."
"Lalu, setelah membantumu, aku dapat imbalan apa?" Hana melempar tatapan jahil pada Tobirama.
"Aku tidak bisa memberikanmu hadiah apapun" jawab Tobirama. "Kau katakan saja apa yang kau mau. Siapa tau aku bisa memberikannya"
"Tidak, Tidak. Bukannya bisa tapi harus!" Hana tersenyum penuh arti. "Kau harus janji memberikannya padaku, ya?"
"Kalau begitu, jangan meminta yang tidak mungkin bisa kuberikan" ucap Tobirama segera. "Aku tidak menyangka kau punya sifat jahil yang sama dengan Nozu. Kalian memang kakak beradik"
"Memang benar" Hana mengangguk. "Aku ingin kau memberiku seorang keponakan. Aku tidak terlalu suka anak-anak. Tapi kupikir jika kak Nozomi atau kak Nozu punya anak, aku pasti sangat menyayanginya"
Tobirama tidak bisa mencegah rona merah di wajahnya terlihat. "Permintaan macam apa itu?"
"Bukannya tadi kakak ingin aku mengatakan apa yang aku mau sebagai imbalan?" balas Hana segera. Ia memperhatikan wajah Tobirama dan kembali tersenyum. "Kulitmu putih sekali. Jika kakak sedang malu, aku bisa melihatnya dengan sangat jelas"
"Sudahlah" Tobirama memalingkan wajahnya. Jujur kata, Ia malu Hana melihatnya seperti ini. "Tanpa kau minta, aku.. mungkin akan memberikannya padamu suatu hari. Entah cepat atau lambat"
"Benarkah?" Hana tertawa pelan. "Kalau begitu, aku setuju!"
"Itu bukan imbalan" ujar Tobirama. "Apa ada lagi yang bisa kuberi untukmu?"
"Mungkin bukan untukku" Hana bergumam pelan. "Tapi untuk kak Nozu"
Tobirama mengangkat alis. "Apa itu?" tanyanya heran.
Hana menghela napas panjang. Matanya menerawang jauh mengamati tiap batu nisan yang berjejer di area pemakaman. "Hargailah saat dimana kau masih bersama kak Nozu. Sebagai shinobi, kita tidak pernah tahu kapan harus pergi meninggalkan orang yang kita sayangi"
Hana kembali menatap Tobirama. "Walaupun sibuk, luangkanlah sedikit waktu untuk kak Nozu. Jangan sampai menyesal, kak" Hana tersenyum simpul.
Tobirama menatap Hana lurus. Setelah tinggal bersama, Tobirama mengerti Hana punya pemikiran beda dari shinobi pada umumnya, termasuk pandangannya mengenai kehidupan. Seulas senyuman muncul di wajah Tobirama.
"Baiklah. Aku akan coba melakukannya. Sepertinya aku yang mendapat hadiah darimu, nasihat yang baik. Terima kasih"
"Kembali" Hana balik tersenyum. "Jangan lupa berikan aku hadiahnya, ya! Jika kakak lupa, akan kutagih suatu hari" Hana mengulurkan tangannya. "Sepakat, ya?"
"Kita sepakat!" ujar Tobirama setuju sambil menjabat tangan Hana.
To be continued..
-8-8-8-
A/N : Holla Readers.. apa kabar kalian?? Kemarin saya publish cepat, sekarang lama.. hehehe, maafkan yaa.. :p
Walaupun cukup lama, saya tetap semangat lanjut kok!! :))
Wah, sudah chapter 20!! Terima kasih banyak untuk kalian yang masih setia membaca fic ini yaa.. semoga tulisan saya yang ternyata sudah cukup panjang tidak membuat kalian yang baca jadi pusing ya, hehe..
Di chapter ini, mari kita beri selamat untuk Hashirama Senju si Hokage pertama!! Yuhuuuuu..
Akhirnya Tobirama mengatakan semuanya ke Hani, kalau dia memutuskan ingkar janji dan memilih Nozu. Apa Hani bisa terima kenyataannya? Gimana kalau sampai akhir, dia tetap ga rela Tobirama bersama wanita lain? :(
Jujur, saya ketawa sendiri waktu tulis percakapan Tobirama dan Hana.. hahaha.. kira2 Tobirama akan kasih kejutan apa untuk Nozu ya?? Akan kita lihat bersama di chapter besok.. :))
See you on the next chapter!!
