Wait For You

Chapter 20

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Genre : Comfort and Hurt/Romance

Pairing : SasuSaku

Chapter 20 : One Full Day

Warning: Seluruh karakter ini milik Masashi Kishimoto, sedangkan ide ceita ini seratus persen milik saya. Typo(s), alurnya ngalur-ngidul, dan kejelekan lainnya.

Happy Reading!^^


"Sudah lapar?" tanya Sasuke yang sudah melepaskan pelukannya. Sakura tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya.

"Aku masih mau berenang!" jawab Sakura dengan menenggelamkan kepalanya lalu berenang. Sasuke menyusulnya untuk berenang.

Mereka pun mulai saling berkejar-kejaran dalam air yang jernih itu. Seisi sungai kecil itu telah mereka kelilingi. Setelah Sakura menghabiskan satu keliling lagi dengan gaya punggung, ia berenang menuju batu-batu yang terdapat di di tepian sungai. Mungkin karena lelah, Sakura memilih untuk duduk di atas sebuah batu yang besar. Sedangkan Sasuke ada di depannya, tetapi tetap di bawah air.

"Aku bosan berenang," keluh Sakura dengan memangku wajahnya dengan kedua tangan.

"Jadi kau mau apa?" tanya Sasuke. Sakura menggeleng tidak tahu. Ia tolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Dan saat itu, terpikir di benaknya untuk melakukan sesuatu yang mungkin agak ekstrim. Namun, ia ragu untuk melakukannya karena itu sedikit memacu adrenalinnya.

"Aku tahu, bagaimana kalau kita terjun dari puncak bukit?" usul Sakura dengan senyum mengembang. Entah dapat sugesti darimana, tapi sekarang ia sangat berhasrat untuk loncat dari puncak bukit, menanggalkan segala keraguannya. Sasuke agak ragu untuk mengiyakan usulan dari Sakura. Karena, kalau dipikir-pikir lagi, itu sangat berbahaya. Bagaimana kalau mereka dihantam oleh batu sungai yang tajam? Mungkin mereka bisa mati. Dan, ditambah dengan masalah ketinggian. Jujur, ia takut pada ketinggian.

"Ayolah. Ya? Kumohon," bujuk Sakura dengan nada memelas dan ekspresi yang mendukung. Kalau sudah melihat Sakura begini, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah pasti dia akan luluh dengan sendirinya.

"Apa kau tidak takut? Aku takut kita akan celaka," balas Sasuke dengan nada sedikit cemas.

"Tenang saja. Jika kita yakin, kita tidak akan terluka. Ayolah, aku mau mencobanya," jawab Sakura yang tetap teguh pendirian, tetapi tetap saja dengan nada yang sama.

"Baiklah," jawab Sasuke dengan pasrah. Sakura bersorak kegirangan.

Lalu mereka berdua pun berjalan menjauh dari permukaan air. Dengan tangan yang saling bertautan, mereka berjalan menyusuri jalanan menuju puncak bukit. Rerumputan hijau yang tumbuh segar dan liar menjadi alas kaki Sakura. Sungguh bahagianya dirinya. Baru kali inilah ia merasakan apa yang namanya alam bebas. Apa yang dimaksud dengan kenikmatan alam. Seluruh alam seperti mendukung dirinya, itulah yang ia rasakan. Tak terasa, jalanan yang mereka lalui mulai menanjak. Dari kejauhan, Sakura telah melihat puncak bukit. Semangatnya makin membara untuk segera sampai ke puncak bukit.

"Kita lari saja! Aku tidak sabar untuk segera sampai!" seru Sakura dengan berlari mengajak Sasuke. Sasuke hanya tersenyum, kemudian dia berlarian bersama Sakura.

Sakura berlari dengan semangat empat lima. Tetapi begitu sepuluh menit berlalu, Sakura sudah mengeluh kelelehan karena jalan yang mereka lewati semakin menanjak saja. Namun tidak pada Sasuke, ia masih terlihat segar. Begitu Sakura menghentikan langkahnya, Sasuke juga berhenti. Sakura melepaskan gandengan tangan mereka. Ia membungukkan badannya kemudian memegangi lututnya. Beberapa kali ia menghembuskan nafas pendek.

"Harusnya kita berjalan saja. Tidak usah berlari, lagipula jarak ke puncak air terjun itu masih cukup jauh," kata Sasuke. Sakura menegakkan badannya dan menatap Sasuke dengan pandangan menyesal.

"Cukup jauh?! Astaga, aku mau pingsan," balas Sakura yang badannya sudah loyo. Sasuke tertawa kecil. Ia berjalan ke depan Sakura lalu berjongok.

"Kau mau apa?" tanya Sakura dengan lemas setara dengan nada seperti orang yang sudah tahu kalau dia akan mati hari ini.

"Kau lelah sekali kelihatannya, biarkan aku menggendongmu. Naiklah ke punggungku," jawab Sasuke dengan pelan.

"Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau habis ini kakimu patah," Sakura naik ke punggung Sasuke dan langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Sasuke. Sasuke pun berdiri dan sedikit mengangkat badan Sakura. Ia menampilkan senyuman tipis.

"Siap mendaki, nona?" tanya Sasuke yang sudah menatap lurus ke depan.

"Siap kapten!" jawab Sakura dengan semangat.

Sasuke mendaki jalan tanjakan dengan menggendong Sakura. Kalau boleh jujur, ia sedikit merasa berat karena bebannya bertambah berat saja. Tetapi, ia meyakinkan dirinya bahwa ini akan cepat berakhir. Sakura sudah agak-agak tidak enak melihat keringat jatuh dari pelipis Sasuke. Sasuke pun mulai menghembuskan nafas pendek pertanda lelah. Walaupun sudah begini, mereka belum juga sampai di puncak. Mereka hanya melihat puncak bukit. Sepertinya mereka melihat fatamorgana. "Ternyata fatamorgana tidak terjadi di gurun saja. Di alam bebas penuh udara sejuk seperti ini ada juga," batin Sakura yang sudah kelewat kesal. Tetapi, suara air mengalir jatuh ke bawah mulai terdengar. Sakura menjadi semangat kembali.

"Kau dengar apa yang kudengar?!" tanya Sakura dengan gembira. Sasuke mengangguk pelan.

"Itu tandanya kita sudah dekat! Aku mau turun saja!" seru Sakura.

"Yakin?" tanya Sasuke untuk mengulur-ulur waktu. Sakura mengangguk. Sasuke pun menurunkan Sakura perlahan-lahan.

Begitu diturunkan, Sakura langsung berlari ke depan menuju sumber air. Setelah berlari agak jauh yang ditemani dengan Sasuke dan suara air yang semakin berdengung di telinganya, Sakura menemui asal air terjun itu. Sakura langsung kegirangan. Dia melompat-lompat kemudian berteriak-teriak penuh semangat. Sasuke yang ada di belakang dibuat sedikit panik karena mendengar teriakan Sakura. "Belum melocat saja sudah terjadi apa-apa. Bagaimana kalau kami sudah lompat?" pikir Sasuke dengan cemas yang memburu. Ia pun memacu langkahnya untuk segera menyusul Sakura. Namun, yang dilihatnya adalah Sakura dengan ekspresi paling bahagianya. Sasuke bernafas lega.

"Ayo, kita lompat bersama-sama!" ajak Sakura dengan menarik tangan Sasuke. Mereka berdua pun berada di depan jalan buntu. Suara air yang mengalir jatuh ke bawah terdengar dengan besar dan jelasnya di gendang telinga masing-masing. Sasuke melihat ke bawah, mereka berada di tempat yang tinggi sekali dari permukaan air itu. Sasuke meneguk saliva dalam rongga mulutnya.

"Bagaimana? Kau sudah siap?" tanya Sasuke yang menyembunyikan kecemasannya karena tidak mau terlihat lemah di depan Sakura yang sepertinya sedang dalam keadaan senang.

"Yup! Kita lompat sekarang?" Sakura balik nanya dengan antusiasme yang sangat besar.

"Baik. Kita lompat sekarang!" Sasuke menggengam erat tangan Sakura. Kemudian mereka saling berhadapan dan menyampingkan air terjun.

"Kau siap?" Sakura mengangguk pasti.

"Hitungan ketiga kita lompat," putus Sasuke.

"Satu," Sakura memulai hitungan.

"Dua.. " Sasuke melanjutkan. "Tuhan, kuharap kau mau memberikan kemurahanmu supaya kami tidak mengalami kejadian yang membekas," batin Sasuke.

"Tiga!" seru mereka bersamaan. Mereka pun melompat. Sasuke yang takut Sakura dan dirinya akan terluka langsung mengganti posisi mereka menjadi saling mendekap satu sama lain. Sakura yang sedari tadi menutup matanya, balas memeluk Sasuke. Sakura berteriak dengan keras sedangkan Sasuke memejamkan mata sembari merapalkan doa agar mereka selamat. Mereka jatuh tepat di bawah pancuran air terjun. Dinginnya air langsung menusuk ke dalam kulit. Suara air yang jatuh dengan volume yang cukup banyak menemani acara memacu adrenalin mereka berdua. Dan dalam hitungan detik berikutnya...

BYURRRR!

Satu hentakan menghantam air dengan hebatnya. Sasuke dan Sakura telah berada di bawah permukaan air. Mereka berdua pun melepaskan dekapan masing-masing, dan segera menyembulkan kepalanya.

"Hah.. Hah.. Hah... Menyenangkan!" teriak Sakura yang hasrat adrenalinnya telah terpenuhi. Ia berenang menjauhi pancuran air terjun diikuti dengan Sasuke di belakangnya. Sakura kembali mengambil tempat di batu besar yang tadi telah didudukinya.

"Seru sekali! Lain kali kita harus mencobanya lagi! Hahaha.. " ujar Sakura dengan senangnya. "Terima kasih karena telah menyelamatkan kami, Tuhan. Aku sangat bersyukur," kata Sasuke dalam hati.

"Sudah berapa lama kita bermain air?" Sakura berpikir dan berusaha mengingat-ingat.

"Tidak tahu. Tetapi menurut perkiraanku, kita sudah tiga jam di tempat ini," jawab Sakura.

"Kalau begitu kita sudahi saja, ya? Nanti kau sakit kalau kita terlalu lama," Sakura mengangguk.

Sasuke dan Sakura kembali menjauhi permukaan air. Ia menuju tempat dimana air mengenang setinggi mata kaki untuk mengambil kunci mobil. Sakura mengambil kunci mobil dan berganti baju di sana. Beberapa menit kemudian, ia kembali muncul dengan tampilan baru. Yaitu dengan setelan yang dibelikan Sasuke tadi pagi. Kini giliran Sasuke untuk mengganti pakaian. Sasuke memakai kemeja abu-abu yang bermotif kotak-kotak dan celana jeans senada sebagai bawahan. Mereka berdua sama-sama tidak mengenakan alas kaki.

"Makan, yuk. Aku lapar," ucap Sakura yang ada di depan meja sembari menyisiri rambutnya yang lepek karena berenang.

"Aku mau tiduran," kata Sasuke dengan berbaring di rerumputan hijau. Bau rumput yang segar menyambut indra penciumanannya. Ia lipat kedua tangannya ke belakang agar menjadi bantal yang empuk baginya. Sakura hanya geleng-geleng melihat Sasuke yang memejamkan matanya. Setelah selesai menyisir rambutnya, Sakura membawa piring berisi spaghetti ke tempat Sasuke berbaring.

"Kau mau makan tidak?" tawar Sakura yang sudah mulai menggulung spaghetti dengan garpu. Sasuke mengangguk.

"Sebelum itu, coba panjangkan dulu kakimu," jawab Sasuke dengan mengganti posisinya menjadi duduk. Sakura menurut saja, dia pun memanjangkan kakinya. Kemudian, secepat kilat Sasuke kembali rebahan dengan paha Sakura sebagai bantal.

"Dasar modus!" ejek Sakura. Sasuke hanya tersenyum tipis.

"Terima kasih," balas Sasuke dengan nada yang cuek.

Sakura memasukkan gulungan spaghetti itu ke dalam mulutnya. Ia mengunyahnya dengan cepat agar makanan yang ada di mulutnya cepat halus dan dapat dicerna usus dengan baik dan lancar. Sasuke hanya melihat Sakura makan. Sakura yang keasyikan makan, tidak lagi memikirkan bagaimana Sasuke. Terus saja ia makan sampai piring yang dipegangnya bersih tanpa noda sedikit pun. Mungkin karena saking asyiknya makan, Sakura jadi tidak sadar kalau ada noda di sudut bibirnya. Tangan Sasuke langsung terulur untuk membersihkan saos tomat yang ada di sudut bibir Sakura yang ranum itu. Sakura sedikit terkaget, kemudian tangan Sasuke kembali ke tempatnya.

"Ada saos tomat di bibirmu. Aku hanya membersihkannya," jelas Sasuke agar Sakura tak salah paham. Seketika itu juga Sakura merasa malu. Alankahnya dirinya, kenapa makan saja harus seperti anak kecil? Harus belepotan seperti ini. Dan dia bertambah malu karena satu piring spaghetti itu ia habiskan sendiri tanpa satu sendok pun masuk ke dalam mulut Sasuke.

"Maaf," Sakura menunduk dengan menggumamkan kata maaf yang masih dapat di dengar oleh Sasuke. Sasuke hanya tersenyum kecil. Tangannya mengangkat dagu Sakura sehingga kepala Sakura kembali tegak.

"Kenapa harus minta maaf? Lagipula aku tidak lapar, seperti yang ada di pikiranmu," ujar Sasuke. Sakura tersenyum terpaksa.

"Maafkan aku. Aku tidak sadar karena efek lapar," balas Sakura.

"Jangan bahas itu lagi," Sakura menangguk.

"Lebih baik kita bermain," usul Sasuke yang diterima dengan semangatnya oleh Sakura.

"Usul bagus! Kita mau main apa?!" tanya Sakura dengan seruan tak sabar. Sasuke berpikir.

"Truth Or Dare?" Sakura menimang-nimang, tetapi pada akhirnya ia mengangguk juga.

"Siapa duluan?" Sasuke menunjuk Sakura.

"Truth," jawab Sakura singkat. Sasuke beripikir untuk menanyakan sebuah pertanyaan yang menyinggung kehidupan Sakura. Namun terpikir di otaknya adalah sebuah pertanyaan yang sederhana.

"Apa defenisi dari cinta dalam kehidupanmu?" Sakura membuat bola matanya berada di kanan yang menandakan bahwa ia sedang mulai berpikir.

"Definisi cinta, ya? Kalau menurutku, cinta itu adalah sebuah perasaan dimana kau merasakan ada suatu perbedaan dengan perasaan lain, misalkan bisa membuat jantung berdetak lebih kencang, darah berdesir, senyum-senyum seperti orang bodoh. Dan yang pastinya, dia mempunyai dua ending, yaitu sad ending dan happy ending, semua ending itu tergantung dari dari bagaimana cinta itu berlangsung. Sasuke mangut-mangut.

"Karena kau truth, aku juga pilih truth," jawab Sasuke tanpa ditanya.

"Apa yang dimaksud dengan seorang tambatan hati?" tanya Sakura cepat.

"Tambatan hati adalah orang yang bisa membuatmu merasakan berbagai perasaan dalam satu waktu yang sama. Dia bisa membuatmu tergila-gila akan senyum manisnya dan menganggap semua yang ada di dalam dirinya itu sempurna. Dia juga bisa membuat dirinya menjadi heroin bagi penyukanya karena ia menimbulkan candu. Kalau kau mengalami semua itu ketika melihat seseorang, maka orang itu adalah tambatan hatimu," jawab Sasuke dengan panjang lebar. Sakura terperangah mendengar jawaban Sasuke dengan suara baritone yang enak didengar oleh telinga.

"Kau.. bisa menjawab pertanyaanku dengan kalimat sepanjang itu?" ucap Sakura yang takjub sampai mulutnya terbuka. Sasuke tertawa, dan menutup mulut Sakura dengan tangannya. Sakura langsung menyingkirkan tangan Sasuke yang mengahalanginya untuk berbicara.

"Aku sering mengucapkan kalimat panjang ketika aku berkelahi dengan Itachi. Makanya, kau hanya butuh mengenalku lebih jauh. Kalau sudah begitu, sifat asliku akan kau ketahui dengan sendirinya. Aku melakukannya padamu. Lama-kelamaan aku tahu, sifat aslimu bagaimana," balas Sasuke. Sakura tersenyum mengejek.

"Memangnya bagaimana sifat asliku?" tanya Sakura dengan nada mengejek.

"Kau itu sebenarnya orang yang kekanak-kanakan. Childish, tapi Naruto tetap saja juara satu untuk gelar itu. Buktinya tadi minta terjun sama-sama dengan wajah memelas begitu, hahaha... " Sakura langsung cemberut kemudian dia memukul-mukul Sasuke dengan pelan.

"Kenyataannya, kan?"

"Sasukeeeee!" teriak Sakura kesal.

Mereka berdua asyik bercanda ria semenjak Sakura memukuli Sasuke dengan pelan. Kebahagian terpancar sangat jelas dari wajah mereka berdua. Mungkin baru kali inilah dua insan manusia itu saling tertawa lepas dengan ekspresi bahagia yang tidak dibuat-buat. Tampaknya, ide Sasuke kali ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. Sekarang, mereka berdua kelihatan lebih akrab dan sepasang kekasih yang berbahagia. Mereka berdua sudah melepas topeng yang selama ini menutupi sifat asli mereka. Harap saja supaya mereka tetap seperti ini.

"Aku punya qoutes untuk hari ini," ucap Sakura. Sasuke yang sekarang posisinya ada di sebelah Sakura di bawah naungan sebuah pohon yang rindang pun menoleh ke arah Sakura.

"Hm.. Coba katakan," Sakura tersenyum terlebih dahulu.

"Our destiny is happy ending. If there's no happy, it is not your ending," kata Sakura dengan lancar. Sasuke merangkul pundak Sakura sehingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.

"Jadi, maksudmu ini adalah ending kita?" tanya Sasuke. Sakura menegakkan kepalanya yang tadinya bersandar di dada bidang Sasuke.

"No! Bukan. Darimana kesimpulan itu? Kita tidak tahu masalah apa yang akan kita hadapi nanti. Mungkin saja masalah itulah yang membuat kita retak," jawab Sakura dengan begitu yakin. Ia tidak tahu dapat keyakinan besar seperti sekarang dari mana, tetapi itu hanya naluri terdalamnya. Feeling-nya mengatakan bahwa akan ada masalah yang datang dan itu akan membuat hubungan mereka berdua meretak, bahkan hancur. Sasuke menautkan kedua alisnya. Ia pun menghadapkan wajah Sakura supaya bertatapan langsung dengan matanya. Ia letakkan kedua tangannya di pipi Sakura.

"Dengarkan aku, aku tidak tahu darimana kau mendapat keyakinan seperti itu. Tetapi ketahuilah, aku hanya menginginkan dirimu seorang. Tidak yang lain! Aku hanya ingin punya happy ending denganmu. Tidak dengan yang lain! Aku ingin hanya kaulah berlian terindah di hidupku. Tidak untuk yang lain! Aku hanya ingin membagi sukaku denganmu. Tidak pada yang lain! Aku hanya ingin kau yang mendampingi hidupku. Tidak ada kesempatan untuk yang lain! Hanya kau!" tegas Sasuke dengan yakin.

Sakura hanya bisa menatap mata Sasuke untuk meneliti kebohongan yang diucapkan pemuda ini. Sayangnya, kebohongan itu tidak ada. Ia tidak melihat sedikit pun keraguan dalam mata Sasuke. Atas semua yang Sasuke katakan, ia hanya bisa diam. Dia tidak tahu mau berbuat apa. Tubuhnya seakan tersihir menjadi patung. Sasuke mendekatkan wajahnya dengan Sakura.

"Dengar nona, kau hidupku. Kau nyawaku. Kau nafasku. Kau jantungku. Kau hartaku. Kau heroin untukku. Kau canduku. Kau udaraku. Kau darahku. Kau adalah aku. Tanpamu, aku bukan apa-apa. Tanpamu aku seperti bungan yang layu. Tanpa kehadiranmu, aku seperti tidak punya nafas. Tanpa kepedulianmu, aku seperti seorang pecandu yang haus akan narkoba. Tanpa cintamu, aku sama seperti orang yang sudah mati. Bagiku, kau itu penting. Kau adalah segalanya bagiku. Dari kemarin, sekarang, besok, nanti, dan selamanya. Kau tetap menjadi separuh nafasku," Sakura makin tak tahan mendengar semuanya. Haru menusuk raganya karena lantunan kata yang dirangkai Sasuke. Setitik air mata turun membasahi pipinya dan terus turun. Semakin banyak mengalir. Sasuke mengusap lembut pipi Sakura untuk menghapus air mata yang jatuh mengalir.

"Kenapa kau menangis? Aku tidak rela jika air matamu jatuh karenaku," ucap Sasuke yang terus mengusap lembut pipi Sakura.

"Darimana kata-kata indahmu itu? Apakah kau mengikuti kelas sastra dengan saksama? Aku tidak berduka jika itu maksud perkataanmu. Aku terharu. Dalam impian atau lamunanku, aku tidak pernah membayangkan kau akan melakukan hal seperti ini. Kau berubah menjadi orang lain untuk hari ini. Dan aku suka itu," balas Sakura. Sasuke merengkuh Sakura dengan eratnya.

"Kau tahu kenapa? Alasannya adalah karena kau. Apa yang kulakukan hari ini, itu semua untukmu. Khusus untuk dirimu," Sakura membalas pelukan Sasuke.

"Aku tidak menyangka kau akan bertindak sejauh ini. Sedetail ini, ini semua di luar perkiraanku," balas Sakura.

"Jangan pikirkan apa yang akan kulakukan untukmu. Karena untukmu, akan kulakukan hal apapun. Ini semua demi kau. Karena aku terlampau mencintaimu," ujar Sasuke. Senyum terkembang di wajah Sakura.

"Semuanya sangat menyentuh perasaanku. Aku tidak tahu harus mengatakan apa karena sekarang kau selalu bisa membalas semua yang kukatakan. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak padamu. Aku juga mencintamu. Sangat mencintaimu. Sedalam samudra, setinggi langit, selebar bumi, begitulah penjelasan cintaku untukmu. Aku tidak tahu harus membalas semua ini dengan apa, tetapi aku berjanji akan menjadi yang terbaik untukmu," balas Sakura dengan yakin dan lancar. Sasuke melepaskan pelukan mereka. Lalu ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi kening Sakura. Kemudian ia mendekatkan bibirnya pada permukaan kening Sakura dan mengecupnya dengan lembut penuh dengan cinta. Begitu ia melepaskan bibirnya dari kening Sakura, pemandangan sunset yang indah menghibur mata. Sakura menatap pemandangan yang indah di matanya itu.

"Biarkan aku menebak apa yang kau pikirkan. Pasti kau berbatin, kenapa tidak di bibir saja? Kau mau tahu jawabannya?" Sakura agak tidak enak. Memang begitu, pikirannya. Bukannya mau berpikiran mesum, hanya saja ia merasa tanggung kalau di jidat. Kenapa tidak langsung di bibir saja?

"Di sini artinya sayang," Sasuke meraba pipi kanan Sakura.

"Kalau di sini, artinya cinta," Sasuke menunjuk dahi Sakura yang lebar.

"Kalau yang di sini, artinya nafsu," Sasuke menunjuk bibir Sakura. Sakura mengangguk mengerti. Sekarang ia tahu alasannya mengapa. Sasuke tidak mau menunjukkan bahwa dirinya adalah lelaki yang memacari seorang gadis dengan menuruti nafsu, tetapi dengan rasa cinta, bukan lagi rasa sayang.

"Kalau mencintai seseorang, kita tidak boleh merusaknya. Jika benar-benar cinta, maka jagalah dia agar tetap bersih dan terjaga," timpal Sasuke. Kini Sakura makin mengerti. Sasuke mencintainya dengan tulus. Bukan hanya ingin mencicipi tubuhnya.

"Aku mencintaimu," ujar Sakura dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Sasuke.

"Begitu pula aku. Aku lebih mencintaimu," balas Sasuke dengan mengelus rambut Sakura yang halus dan lembut.


To Be Continue

HUWAAAA! Maafkan saya! Penyakit lama update saya kumat. Saya tidak bermaksud untuk mengecewakan. Tetapi mau bagaimana lagi? Hari-hari saya sudah dipenuhi dengan hafalan, tugas, ulangan, dan sudah diming-imingi dengan ujian nasional nanti. Jadi, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena kali ini saya harus telat update lagi. Jujur saya juga kurang ide untuk mengisi chapter ini. Tetapi karena hari ini saya nonton drama yang cukup menginspirasi, saya akan update hari ini juga. Sekian dari saya, sekarang lebih baik kita mulai acara membalasa review yang datang ke chapter kemarin.

Azizaanr : Hallooo.. Belom pernah dengar namamu sebelumnya. Jangan bilang senpai dongg, siapa tahu seumur, nanti malah kamu yang lebih tua. Ini udah dong, dilanjutin. Makasih review-nya, lagi yow:3

Heni. Lusiana. 39 : Saya kan memang baik dari dulu /elehhh/ Maaf ya, nggak bisa update kilat;(( tapi ini udah dilanjutkan. Maybe next chap. Makasih yooo, review selanjutnya ditunggu lohh^^

Ikalutfi97 : Syukur dehh, untung mood kamu berubah jadi digoreng. Kalau benar saya dipanggang, saya menolak. Saya maunya dibakar aja /minta lebih/ wkwkwk.. pas banget, ya? Keberuntungan itu /ngesok/ Makasih yaa. Review lagi dongg^^

Mantika mochi : Heyyyyy kamu kok mikirnya gitu? Wah, gak bener nih, /sok polos/ wkwkwk.. ini yang chapter selanjutnya. Maaf agak lama nunggunya, emang saya kalo urusan update lama mulu. Mohon dimaafkan, makasih lohh udah mau memberi review. Review untuk chapter ini saya tunggu, ya^^

Kazamatsuri de rain : Iya dongg. Harus romantis, katanya kan bosen kalo konflik mulu yang ditampilin. Iyalah, saya nggak suka kalo berlarut-larut dalam masalah, nggak enak. Terkesan alay kalau satu masalah nggak selesai-selesai. Lagipula kan ini sebentar lagi mau selesai juga. Hahaha... kalau TBC di tengah-tengah keseruan itu mah sengaja, supaya lebih greget bacanya /ngawur/ maaf lohh nggak bisa update kilat. Kayaknya saya harus dijulukin queen of keleletan /nambah ngawur/ Jangan keroyok saya! Nanti ini nggak selesai-selesai loh. Hadehhh... Daripada diserbu mendingan kabur duluan deh. Makasih ya! Review lagi... Ketagihan nih!^^ wkwkwk...

Zeedezly. Clalucindtha : Nggak tahu aku kapan mau end ;(( Ide masih berseliweran di kepala. Saya bingung deh nentuin mau ending pas kapan. Ide sangat diperlukan. Bisa di post melalui review. Makasih udah mau nanya, kirim review lagi ya^^