JY present

Delinquent Student: Season 2

.

Cast: JinHoon! OngNiel! JinSeob! GuanHo! SamHwi! JaeWoon!
Jihoon, P! Jinyoung, B! Sungwoo, O! Daniel, K! Woojin, P! Hyungseob, A! Guanlin, L! Seonho, Y! Samuel, K! Daehwi, L! Jaehwan, K! Sewoon, J!
Rate: T+
Length: Chaptered
Disclaimer: Produce 101 members belongs to Mnet and their agencies, the plot is mine.

.
Chapter Two
.
.

Warning: Typo(s), too complicated, etc.
Don't forget to RnR juseyo!
[Akan ada banyak perubahan, harap maklum]

.

[Please take a note: This is just a fanfiction. Jangan benci dd, atau benci karakter di dalamnya, karena ini adalah murni khayalan dd.]

.
.
.


Jinyoung menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada mejanya. Tak lagi pemuda itu berminat untuk mendengar ucapan guru yang tengah berdiri di depan. Padahal faktanya, guru itu baru saja masuk dan belum mengucapkan apapun selain selamat pagi pada murid kelas 1–2.

Jinyoung mendecak sebal saat merasakan kepalanya ditusuk ujung pulpen berulang. Dengan malas, Jinyoung mengangkat kepalanya, menatap sang pelaku yang justru tersenyum polos padanya. Di depannya, telah duduk seorang pemuda dengan surai hitam seperti Jinyoung.

"Seonho–ya, kau mau mati?" bisik Jinyoung penuh penekanan di tiap kalimatnya.

Dasar Seonho, sang pelaku sekaligus kawan sekelasnya, mau di berikan ancaman seperti apapun, anak ayam itu takkan mengerti. Sejenis sebelas dua belas dengan pacar hyung gingsulnya –Park Woojin–, Ahn Hyungseob.

Apa namanya? Em, polos polos bodoh?

Ya, intinya seperti itu.

"Ssaem sudah datang," sahut yang lebih muda.

"Aku juga sudah liat, bodoh."

Seonho memajukan bibirnya beberapa senti. "Kau itu, sudah mengatai orang sejak pagi.. kelas kita ada murid baru, tau? Lihat, disana."

Manik Jinyoung bergerak mengikuti arah yang di tunjuk Seonho. Disana, ia menemukan seorang pemuda dengan surai coklat manis tengah berdiri di sebelah Shin ssaem. Bajunya nampak kebesaran di tubuhnya yang Jinyoung rasa hanya terbentuk dari kulit dan tulang itu. Fokus Jinyoung berpindah pada wajah pemuda kurus itu.

Manis.

Jinyoung mulai menegakkan punggungnya tanpa sadar, mengabaikan Seonho yang memandangnya tak mengerti. Dirinya seakan terperangkap dalam paras pemuda bersurai coklat itu. Dan ketika pemuda itu menatapnya setelah merasa diperhatikan sejak tadi, sebuah senyuman manis terlukis di bibirnya, senyuman yang langsung mengacaukan kerja jantung Jinyoung yang semula baik–baik saja.

Apa–apaan ini.

Tanpa sadar, Jinyoung mencengkram ujung seragamnya kuat. Melihat pemuda itu mulai menunduk pada semuanya dan mengucapkan perkenalan, fokus Jinyoung sudah luruh sepenuhnya.

"Annyeonghaseyo, Lee Daehwi imnida. Kalian bisa memanggilku Daehwi, salam kenal semua."


.

.


Keadaan di kelas Jihoon gaduh. Bisikan memenuhi ruangan pembelajaran itu. Jihoon sendiri sibuk melongok, menatap objek dengan surai hitam menjulang berdiri di depan kelas, di sebelah Jung ssaem. Salahkan tempat duduknya yang ada di deret nomor dua dari belakang, sehingga ia harus setengah berdiri kalau ingin melihat ke depan.

"Lai Guanlin imnida. Panggil Guanlin saja."

Kelas semakin riuh dengan bisikan di tiap sisi. Jihoon sendiri bisa mendengar murid lain di sekitarnya yang terus saja mengucapkan 'pemuda tampan sedingin es' atau bahkan 'pangeran sekolah yang sesungguhnya.'

Jihoon mendengus. "Pangeran sekolah apanya."

Jihoon kembali mendudukkan tubuhnya di kursi setelah puas melihat pemuda dengan surai sehitam jelaga –persis seperti milik Jinyoung– dan kantung mata hitam yang menggantung di bawah maniknya. Apa pemuda itu tak pernah tidur? Bagaimana bisa seorang manusia memiliki kantung mata sehitam itu. Omong–omong, kenapa wajahnya terasa tak asing? Jihoon yakin pernah melihat wajah itu sebelumnya di Hanlim. Siapa? Siapa yang wajahnya mirip dengan Guan –lin di Hanlim?

Lamunan Jihoon terpecah kala gendang telinganya mendengar suara Jung ssaem mengudara.

"Guanlin–ssi, anda bisa duduk di pojok sana. Iya, disana di belakang Park Jihoon–ssi yang punya rambut coklat itu."

Jihoon bisa melihat pemuda itu menunduk dan menggumamkan terima kasih dan mulai berjalan ke arahnya –atau tepatnya ke meja kosong di belakangnya. Jihoon memutar tubuhnya setelah memastikan pemuda itu duduk di kursinya. Tangannya terulur di hadapan sang murid baru.

"Park Jihoon imnida, salam kenal."

Guanlin, sang pemuda, melirik tangan Jihoon sekilas. Tanpa berniat menjabat kembali tangan Jihoon, ia menyandarkan tubuhnya di kursinya. "Lai Guanlin."

Jihoon berdecak tanpa sadar. "Seharusnya kau membalas jabat tangan orang yang mengajakmu berkenalan tau?"

Guanlin mengangkat alisnya. "Kenapa aku harus?"

Detik itu juga, Jihoon memutuskan akan mulai memantau Guanlin dan juga mulai membenci pemuda sok dingin itu.


.

.


Woojin melirik sosok pemuda yang kini tengah menyandarkan tubuhnya dan kepalanya di sisi kanan tubuh Woojin, seakan Woojin adalah kasur pribadi baginya. Pemuda itu tengah tertidur. Pelajaran olahraga baru selesai beberapa menit lalu, nampaknya, pemuda di sisi kanan Woojin itu kelelahan karena pelajaran non–akademik yang diikutinya. Woojin menarik sudut bibirnya kesamping, entah apa yang ada di pikiran pemuda Park itu hingga ia menarik sebuah seringai. Tangannya bergerak pelan, mengguncang tubuh di sebelahnya.

"Hyungseob–ah, bangun. Kau harus mengganti seragam dulu."

"Enggh tidak mau," gumam pemuda di sebelahnya asal. Kelopaknya masih saja menutup rapat meski sudah menjawab seperti itu. Ingatkan Woojin untuk menahan rasa gemasnya pada pemuda bernama Hyungseob itu.

Ini masih di sekolah.

Woojin harus menahan dirinya –dan hormonnya– sebaik mungkin, atau Hyungseob akan berakhir di bawahnya dan mendes– okay cukup, hentikan Park –mesum– Woojin.

"Kau mau ku cium ya?"

"Aduh, please. Kalian itu bisa tidak sehari saja tidak mengelilingiku dengan lovey dovey kalian itu?"

Sebuah suara menginterupsi keduanya. Woojin memindahkan fokusnya pada pemuda lain di depan meja Woojin dan Hyungseob. Tubuh di depannya bergerak, bangun dari posisi tengkurapnya. Kepala mungilnya menoleh dan menatap manik Woojin tajam.

"Ya ya, memang apa masalahnya huh? Kau itu kalau ingin seperti ini, bilang saja. Dasar kesepian."

Pemuda di depannya mendelik. "Yak! Pacarku itu gitarku tau!"

"Cih, pacaran dengan gitar katanya. Kelainan."

"Ya ya, mengacalah Park Woojin–ssi."

Woojin mendecih pelan. "Setidaknya, Hyungseob itu hidup dan manusia. Bukan seperti gitarmu itu, Jung Sewoon–ssi."

"Yak!"

"Aduh, kalian itu kenapa huh? Aku ingin tidur tau," pemuda di sisi kanan Woojin bergerak, terbangun dari tidurnya karena mendengar perdebatan di dekatnya. Kelopaknya mengerjap sejenak, membiasakan cahaya yang masuk ke dalam maniknya.

"Hyungseobie, apa namja bisa PMS juga?"

"Hah?"

"Park Woojin!" Sewoon menggerakkan tangannya, telapaknya segera meraih buku cetak di meja Woojin dan bersiap melemparkannya pada pemuda bersurai merah itu. Yang menjadi target berpindah, bersembunyi di balik punggung sempit Hyungseob.

Hyungseob menatap Sewoon polos. "Hyung ada masalah?"

"Aku harus menemui ketua Dewan Murid nanti. Aku terlambat dan dia melihatku, jadi yah.. begitulah. Ah, aku benar–benar tidak beruntung hari ini," Sewoon meletakkan buku cetak Woojin pasrah. Tatapannya berubah sayu. Hanya beberapa detik, namun Hyungseob bisa menangkapnya.

"Memangnya kenapa, hanya tinggal mendapat point minus saja 'kan. Atau karena... ia mantan kekasihmu saat SMP dulu?"

Sewoon mendelik pada Hyungseob. "Sudah kubilang, jangan ungkit itu 'kan."

"Oh, berarti nanti kalian bisa berkencan di ruang Dewan Murid," Woojin menyeringai senang. Seringai yang sebenarnya berada di atas penderitaan orang lain. Sewoon hanya bisa menghela nafasnya menanggapi ucapan penuh sarkas dari Woojin.

"Terserah, Park."

"Hey hey, ada dua Park disini."

"Kalian itu baru bertunangan, belum menikah! Astaga ya Tuhan, apa salahku bisa berada di antara dua manusia menyebalkan ini," erang Sewoon frustasi. Pemuda berpipi tembam itu memutar tubuhnya, kembali menghadap mejanya sendiri dan meletakkan kepalanya yang terasa berat. Mengabaikan Hyungseob yang pipinya sudah memerah atau Woojin yang sibuk terkekeh tak jelas.

Yang jelas, Sewoon tak mau menemui ketua Dewan Murid.

Tapi, bagaimana kalau namanya nanti dipanggil lewat pengeras suara? Mau ditaruh dimana muka Sewoon nanti? Di toilet sekolah? Di meja ketua Dewan Murid –eh.

Sewoon menepuk pipinya, menyadarkan dirinya sendiri dari khalayan bodohnya. Agak menyebalkan untuk mengakuinya, tapi memang benar, Sewoon belum sepenuhnya melepaskan sosok tegas dan menyebalkan itu dari pikirannya dan hatinya. Hey, itu tidak salah bukan. Lagi pula, tidak mudah melupakan segala kenangan yang kau bangun selama tiga tahun bersama.

"Ah menyebalkan," bisik Sewoon serendah mungkin.


.

.


Jinyoung melirik layar ponselnya, menatap sebuah pesan yang baru saja ia terima dari kontak atas nama 'Jihoonie'. Aduh, jangan tanya kenapa bisa ada penulisan menggelikan begitu di ponselnya. Sudah jelas itu adalah tindakan sang pemilik nama sendiri. Mana mungkin 'kan, seorang Bae Jinyoung melakukan hal seperti itu?

.

Apa yang sedang kau lakukan? Istirahat nanti kau ke kantin?

Read, 08.40AM–

.

"Hyung, kau tidak berniat menolongku ya? Ini berat!"

Jinyoung segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya begitu mendengar sebuah suara menginterupsi pendengarannya. Jinyoung menoleh, menjatuhkan fokusnya pada sosok pemuda kurus dengan surai coklat yang nampak kepayahan membawa tumpukan buku cetak dari perpustakaan. Tanpa Jinyoung sadari, ia sudah berjalan lebih cepat dari pemuda itu beberapa langkah.

Jinyoung menghela nafas pelan. "Kau itu lemah sekali."

"Yak, kalau aku lebih berisi dari ini, aku takkan kesusahan tau?"

Kedua manik Jinyoung berputar malas. "Kau lebih baik kurus daripada berpipi tembam, Daehwi."

Daehwi, pemuda kurus itu, memajukan bibirnya kesal. Jinyoung baru bisa melihatnya setelah pemuda bermarga Lee itu berhenti di sebelahnya setelah berhasil menyusulnya. Jinyoung mendecak. Kedua tungkainya kembali bergerak, berjalan di sisi Daehwi yang masih struggling dengan tumpukan buku dalam gendongannya.

"Kau tak berniat membantuku ya?"

Jinyoung menaikkan alisnya heran. "Kenapa aku harus membantumu?"

"Kau ketua piket hari ini, Bae!"

Kekehan Jinyoung lolos dari celah bibirnya begitu mendengar nada penuh protes Daehwi pada dirinya. "Aku tidak mau menolongmu, Lee."

"Yak!"

Sudut bibir Jinyoung tertarik semakin lebar, melihat raut kesal Daehwi di sela kepayahannya dalam menggendong buku.

Tunggu, apa Jinyoung –tengah tersenyum?

Jinyoung berdeham, mencairkan senyuman yang terlukis di wajahnya barusan. Tungkainya kembali bergerak lebih cepat, meninggalkan Daehwi yang memanggil namanya dengan penuh nada kesal di belakang sana. Tidak, Jinyoung tak bisa menoleh sekarang. Kepala Jinyoung masih dipenuhi kalimat pertanyaan serupa secara berulang.

Kenapa ia tersenyum?

Kenapa.. senyumannya kini bukan hanya untuk Jihoon saja?

Kenapa.. ia seperti ini?

"Sialan," bisik sang pemuda bermarga Bae itu tanpa sadar.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

TBC


[First, forgive me and this useless opinion. But, maybe you want to take a look? No butthurt please?]

.

Produce 101 Season 2
Stat: Finished

.

Jum'at kemarin takkan sama lagi dengan Jum'at yang akan datang. Kita tentu akan merindukan disaat dimana kita rela tidur malam untuk melihat update yang ada dan rank trainee. Semua sudah berakhir. And Wanna-One will debuted soon.

Disini saya mau meluruskan beberapa hal. Karena apa yang anda maupun saya sampaikan bisa memiliki pemahaman yang berbeda, mengingat manusia tidak mungkin memiliki satu pemikiran yang sama dalam beberapa hal.

Saya cukup terkejut dengan Wanna-One. Ya, banyak dari kita mengekspektasikan beberapa member yang debut, namun ternyata apa yang kita pikirkan tidak sesuai. Saya sedih. Ya, kita semua sedih. But guys, bagaimana kabar Jisung stan atau Guanlin stan atau Jinyoung stan atau Sungwoon stan yang saya perhatikan sejak kemarin idolnya di minta di 'tukar' dengan trainee lain. Can you guys imagine it? Saya bukan salah satu stan dari idol yang saya sebutkan namanya. Cinta saya sudah tercurahkan untuk uri center papa bear, Daniel. Tapi kenapa saya juga merasakan sakit hati ketika membaca komentar netizen lain yang meminta member Wanna-One diganti? I'm cryin'. I'm so done with this. Honestly, I think Top35 sudah sangat deserved untuk debut.

Sejak kemarin, saya memperhatikan, banyak pula yang mengatakan mereka tidak akan menjadi fans Wanna-One. Okay, it's up to you. No one asking you. Sorry, but I'm really disappointed with this guys. Jujur, yang saya tangkap dari beberapa orang adalah, mereka mengatakan Wanna-One is nothing without XX or XY or others. Ada pula yang mengatakan bahwa yang debut... payah. Ini seperti menampar saya dan menyatakan bahwa bias saya bukanlah apa-apa tanpa XX atau XY atau lainnya. Atau seolah bias saya adalah makanan hambar yang kehilangan bumbunya. Saya kecewa. Saya sakit hati dengan komentar itu. Why? Why you said something like that?

Bagi saya sendiri, ada banyak sisi positif yang bisa diambil. Kita ambil contoh, Jonghyun. Bagaimana kalau dia ikut debut? Then how 'bout Minki and Dongho? And Aaron too? Itu tentu akan menyakiti hati mereka. Minhyun cryin' a lot yesterday. Dan Samuel, dia akan debut solo bukan? Dari yang saya baca, ia sudah rekaman untuk album debutnya. Congrats! Itu berarti, setiap trainee sudah memiliki jalan kesuksesan mereka sendiri, right?

Please, at least cobalah untuk berpikir ulang apa yang ingin kalian sampaikan. Mungkin kalian melampiaskan rasa kecewa kalian dengan berkomentar macam-macam. Tapi, apakah komentar tersebut cukup pantas dan bisa diterima siapa saja? Apakah komentar itu akan menyakiti pihak yang lain atau tidak? Saya disini sekali lagi hanya ingin meluruskan, bahwa apa yang disampaikan bisa memiliki pemahaman berbeda di individu yang lain.

Mari kita saling mendukung dan tidak menjatuhkan! Banyak fans lain diluar sana yang bersujud syukur biasnya bisa debut di Wanna-One.

Tolong catat. Di akhir confess ini, saya ingin mengatakan bahwa saya tidak bermaksud menyudutkan pihak tertentu atau sebagainya. Kita mengalami rasa sedih atas hal yang sama, saya yakin itu.

.

XOXO,
Jinny Seo [JY]