Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Tidak suka, jangan baca

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

CHAPTER 21

.

.

Setelah selesai mengikuti kelas yoga hari ini, Kushina mengajak Hinata pergi berbelanja. Tanpa pikir panjang lagi Hinata menyetujui itu.

Sebuah keputusan yang Hinata sesali.

Hal ini dikarenakan Kushina adalah salah satu makhluk yang bernama 'monster belanja', Kushina ternyata sangat pemilih dalam berbelanja sehingga harus memilih dengan sangat teliti semua barang belanjaannya. Mereka harus berputar-putar untuk mencari barang yang sesuai keinginan Kushina, belum lagi Kushina selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau diskon dan promosi sehingga mereka harus menjelajahi semua barang diskon hari ini.

Dan pertarungan perebutan barang diskon yang tidak ubahnya seperti medan perang.

Hinata hanya bisa mengagumi kelincahan dan ketangkasan Kushina dalam memperebutkan barang diskon dari tangan-tangan pembeli lain. Kushina bahkan rela menyikut, mendorong atau menggeser pembeli lain.

Pada akhirnya Hinata merasakan kedua kakinya capek dan pegal seperti seseorang yang baru saja lari marathon. Ia merasa iri melihat Kushina yang masih ceria dan bersemangat. Aish, ia lebih muda dari Kushina tapi mengapa stamina tubuhnya masih lemah jika dibandingkan dengannya.

"Terima kasih telah menemaniku hari ini, Hinata." Kata Kushina ketika mereka berdua beristirahat di salah satu café untuk melepas penat. Kushina bersikeras mentraktir Hinata sebagai salah satu bentuk terima kasih karena telah menemaninya hari ini.

"Tidak perlu berterima kasih padaku, Kushina-san. Saya merasa senang bisa menemani Kushina-san hari ini." Kata Hinata sambil tersenyum meskipun kaki pegalnya mengatakan hal lain.

Kushina tertawa. "Aku senang sekali ada yang menemaniku belanja hari ini. Biasanya suamiku atau Naruto selalu mencari seribu satu alasan untuk menolak ketika aku mengajak mereka belanja."

Tidak mengherankan mereka akan kabur ketika mendengar ajakanmu, Kushina-san.

Hinata tetap mempertahankan senyuman di bibirnya.

"Oh ya Hinata, apakah kau sudah bertemu dengan Naruto?"

Hinata mengerutkan alisnya ketika mendengar pertanyaan Kushina ini. "Belum. Terakhir kali saya bertemu Naruto saat saya mengunjungi anda di kediaman Namikaze beberapa waktu lalu." Jawab Hinata dengan jujur.

Kushina tampak terkejut. "Dia belum menemuimu?!"

Hinata menggelengkan kepalanya. "Be-belum, um… a-ada apa Kushina-san?"

"Dasar anak nakal." Gumam Kushina perlahan. "Ayahnya memintanya untuk memohon maaf padamu atas semua sikapnya yang kasar dan keterlaluan selama ini. Hah… dia benar-benar membuatku jengkel."

"Ti-tidak perlu dipikirkan seserius itu Kushina-san, um… saya tidak pernah mempermasalahkan itu." Kata Hinata sambil menunjukkan ekspresi lugu dan tulus untuk mengambil hati Kushina.

Raut wajah Kushina terlihat kesal ketika mengingat Naruto. "Anak itu telah mengatakan hal-hal yang tidak pantas, entah mengapa ia bisa menjadi kurang ajar seperti itu."

"Apa yang telah dikatakan oleh Naruto, Kushina-san?" Tanya Hinata dengan memasang wajah bingung.

Senyuman di bibir Kushina terlihat dipaksakan. "Bukan hal yang penting. Kau tidak perlu mencemaskan hal-hal remeh seperti ini, Hinata."

Hinata hanya tersenyum dan mengangguk, mencoba bersikap lugu dan patuh. Kini ia meraih minuman di depannya dan mulai meneguknya perlahan.

Kini ia teringat kembali sosok Sakura yang mengatakan bahwa Kushina dan Naruto sedang berselisih. Jadi kesimpulannya adalah Kushina dan suaminya memaksa Naruto untuk meminta maaf padanya setelah si kuning itu mengatakan 'hal-hal yang tidak pantas' mengenai dirinya.

Atau mengenai pernikahannya dengan Sasuke.

"Hinata…" Panggil Kushina.

"Ya, Kushina-san." Jawab Hinata sambil meletakkan kembali gelasnya.

"Kini aku mengerti alasan mengapa kau memintaku untuk berjanji menghentikan Naruto jika sampai ia merusak pernikahanmu." Kata Kushina dengan wajah sendu. "Sejak awal ternyata Naruto sudah bersikap seperti ini padamu, bahkan mungkin lebih buruk lagi karena aku tidak bisa menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Namun sampai saat ini aku masih tidak mengerti satu hal… yaitu alasan mengapa Naruto bersikap seperti ini."

Hinata tertegun mendengar perkataan yang keluar dari bibir Kushina.

Wanita berambut merah itu kembali berbicara. "Aku selalu memikirkan hal ini, namun tidak ada satupun jawaban yang kutemukan. Naruto bukanlah seseorang yang suka ikut campur mengenai permasalahan orang lain. Anak itu memang menjengkelkan dan suka membuat ribut, namun ia bukanlah seseorang yang pembenci. Naruto memiliki hati yang lapang dan sikap pemaaf, aku tidak mengerti alasannya mengapa ia begitu memusuhi pernikahanmu dengan Sasuke bahkan berharap… oh Kami-sama, aku bahkan tidak sanggup mengatakannya."

Hinata menundukkan wajahnya, tidak ingin agar Kushina membaca ekspresi wajahnya saat ini.

Hinata tahu Naruto adalah orang yang baik dengan hati yang lapang. Pengorbanannya untuk Sakura selama ini sangatlah besar. Hanya saja di mata Naruto ia adalah orang jahat yang berusaha merebut kebahagiaan Sakura sehingga harus disingkirkan jauh-jauh.

Naruto memang baik, tapi tidak pada Hinata. Bagi Naruto, Hinata adalah musuh.

"Apa kau tahu alasannya, Hinata?" Tanya Kushina.

"Ya." Jawab Hinata dengan jujur.

"Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Maaf Kushina-san, saya tidak bisa mengatakannya pada anda. Mungkin akan lebih baik jika anda menanyakan ini secara langsung pada Naruto."

Hinata memang ingin membuat Kushina berada di pihaknya, namun ia tidak ingin membuat kekacauan pada hubungan ibu-anak itu. Bagi Hinata, asalkan Kushina mau menghentikan sikap Naruto maka itu sudah cukup. Kushina tidak perlu harus membenci Naruto atau menyalahkan dirinya sendiri karena gagal dalam mendidik putranya.

"Sampai serumit itukah permasalahnnya?" Tanya Kushina dengan cemas.

Hinata tersenyum tenang. "Anda tidak perlu cemas, Kushina-san. Saya yakin pasti Naruto akan menyadari kesalahannya cepat atau lambat."

.

.

Naruto duduk di salah satu bangku yang berada di taman kota untuk menghilangkan kekesalan hatinya.

Tadi ibunya datang menemuinya dan langsung memarahinya sambil menjewer telinganya karena mengetahui sampai saat ini ia belum menemui Hinata dan meminta maaf bla bla bla…

Intinya ibunya memarahinya dan langsung menyita kunci mobil kesayangannya. Ibunya mengatakan bahwa kunci mobil itu akan kembali ketika ia mulai bersikap baik pada Hinata.

Ha! Ia tidak sudi. Biar saja kunci mobilnya disita, ia masih bisa naik taksi.

Ugh, pasti Hinata si muka dua itu mengadu pada ibunya.

Naruto lalu menyobek kertas dari buku catatan yang ia bawa, ia ingin membuat pesawat kertas. Ia selalu membawa buku catatan kemanapun ia pergi baik untuk sekedar menulis apa yang ada di benaknya, menuangkan hobi menggambarnya, membuat memo penting, atau yang lainnya.

Setelah jadi, ia mengamati pesawat kertas buatannya ini. Saat ia masih sekolah dulu, ia selalu membuat pesawat kertas dari lembar jawaban ulangannya yang selalu mendapat nilai buruk. Ia selalu iri pada Sasuke yang hampir selalu mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran.

Dan Sakura selalu menyukai Sasuke yang penuh kesempurnaan.

Naruto menghela nafas, mengapa Sakura sampai detik ini masih belum bisa melepaskan rasa cintanya pada Sasuke?

Ia lalu mengepalkan pesawat kertasnya, membuatnya hancur.

Mata birunya lalu tertuju pada sepasang suami istri yang sedang berjalan-jalan di taman dengan seorang anak kecil berusia dua tahun yang sedang digendong si ibu.

Naruto tertegun, wanita itu terlihat mirip dengan Sakura dengan mata hijaunya dan senyumnya yang manis.

Naruto lalu mengalihkan pandangannya. Sebuah keluarga huh…

Angin sore bertiup perlahan, menyapu helaian rambutnya.

Ia mencintai Sakura. Itu adalah fakta yang tidak terbantahkan lagi. Selama ini ia selalu menunggu Sakura agar berpaling padanya dan ia memilih mengubur perasaannya dalam-dalam. Ia tidak ingin mengungkapkan perasaannya yang justru akan membuat Sakura merasa terbebani.

Haruskah ia tetap seperti ini?

Naruto lalu mengambil buku catatannya dan meraih pulpen yang ia simpan di saku jaketnya. Ia lalu mencengkeram pulpen yang ada di tangannya.

Ia sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Sakura.

Mungkin Sakura tidak akan membalas perasaannya, namun itu tidak apa. Ia hanya ingin mengeluarkan perasaanya yang telah ia kubur dalam-dalam. Ia ingin mengungkapkan semuanya dan berhenti bersembunyi.

Dengan hati yang mantap, ia mulai menulis.

.

.

Naruto tersenyum tipis ketika melihat Sakura membuka pintu apartemennya.

"Naruto?"

Ia lalu menyodorkan sepucuk surat untuk Sakura. "Untukmu."

Dengan ekspresi penuh keheranan Sakura menerima surat ini. "Surat? Bukankah jika ada apapun kau bisa mengirimiku e-mail."

Naruto hanya tertawa kecil. "Aku hanya ingin merasakan seperti apa rasanya menjadi tukang pos."

Sakura tersenyum. "Dasar kau ini."

Naruto lalu menyembunyikan tangannya di saku celananya, tidak ingin agar Sakura melihat tangannya yang gemetar karena gugup.

"Pokoknya kau harus membaca surat itu, Sakura. Ah, akan lebih baik jika kau membacanya saat sendirian."

Sakura menaikkan alisnya. "Mengapa? Apa kau menulis hal-hal konyol menjengkelkan?"

Naruto tidak berkomentar apapun, lidahnya terasa kelu. Ia lalu berdehem-dehem untuk mengurangi kegugupannya.

"Aku pergi dulu."

"Eh? Kau tidak ingin mampir sebentar?" Tanya Sakura.

"Tidak untuk hari ini. Oh ya Sakura… jika kau telah selesai membaca surat itu kau tidak perlu membalasnya. Aku hanya mengatakan apa yang selama ini… um… pokoknya kau tidak perlu harus merasa terbebani." Kata Naruto sambil tersenyum tipis.

Menatap mata hijau Sakura, perasaannya menjadi campur aduk.

Bisakah kau berpaling padaku suatu hari nanti?

.

.

Sakura mengamati foto yang ada di genggamannya saat ini. Di foto ini ia, Sasuke, dan Naruto sedang tersenyum lebar ke arah kamera sambil mengenakan seragam sekolah mereka. Sakura tersenyum tipis. Itu adalah saat-saat yang menyenangkan.

Kini tangannya menggenggam bingkai foto itu dengan semakin erat.

Sakura hanya ingin agar mereka bertiga selalu bersama. Dulu hubungan mereka bertiga sangat sempurna. Sasuke yang mencintainya dan bersikap penuh kasih padanya... Naruto yang selalu ada di sisinya dan senantiasa mendukungnya…

Sakura ingin kembali seperti dulu lagi. Mengapa itu sangat sulit dilakukan?

Mengapa kini semua jadi kacau?

Kini Sasuke semakin menjauh darinya. Meskipun Naruto tidak pernah mengatakannya, Sakura tahu jika Naruto semakin kehabisan akal untuk membuat Sasuke berada di pihaknya. Sasuke selalu bersikap sama kepada ia dan Naruto, namun entah kenapa Sakura merasa jarak diantara ia dan Sasuke semakin lama semakin melebar. Sasuke semakin jarang menghabiskan waktu dengannya, Sasuke juga tidak pernah menceritakan apapun padanya bahkan tentang hal remeh seperti kepergiannya ke Ame.

Apakah ia bukanlah seseorang yang istimewa di mata Sasuke?

'Kau tidak peduli apakah Sasuke mencintaimu atau tidak, kau selalu saja memaksakan perasaanmu padanya dan bersikeras membuatnya menerima dirimu. Kau selalu mengejarnya, tidak pernah memikirkan alasan Sasuke lari darimu. Kau selalu mendekatinya, tapi tidak pernah sadar jika Sasuke tidak pernah mendekatimu. Obsesimu pada Sasuke membutakan segalanya.'

Kata-kata Hinata kembali terngiang di benaknya

Sakura membanting bingkai foto ditangannya ini ke lantai. Suara kaca yang pecah mengisi kesunyian apartemennya.

PERASAAN CINTANYA INI BUKANLAH SEBUAH OBSESI BELAKA!

Bukanlah obsesi…

Bukan!

'Kau selalu mengejarnya, tidak pernah memikirkan alasan Sasuke lari darimu.'

Mengapa ia selalu mengejar Sasuke? Itu karena ia tahu Sasuke sedang tersesat dalam kegelapan dan kesedihan. Sakura ingin menjadi seseorang yang membimbing Sasuke keluar dari itu semua. Sakura ingin agar Sasuke menyadari jika ia selalu berada di sisi Sasuke dan selalu mencintai pria berambut hitam itu hingga detik ini.

Sasuke tidak lari darinya! Hinata pasti hanya mengatakan omong kosong belaka! Sakura hanya tidak bisa berlari sekencang mungkin untuk bisa sampai di sisi Sasuke.

'Kau selalu mendekatinya, tapi tidak pernah sadar jika Sasuke tidak pernah mendekatimu.'

Air matanya kini berjatuhan.

Apakah Sasuke pernah berinisiatif untuk mendekatinya?

Sakura tidak tahu…

'Obsesimu pada Sasuke membutakan segalanya.'

Sakura menutup kedua telinganya rapat-rapat, berusaha menghentikan suara Hinata yang masih terdengar di kepalanya.

Hinata sedang berusaha mengacaukan pikirannya! Hinata sedang berusaha membuat Sakura mempertanyakan perasaannya pada Sasuke. Hinata berniat membuat Sakura meragukan perasaan cintanya pada Sasuke.

Sakura tidak akan mundur!

Memangnya apa kelebihan Hinata jika dibandingkan dengannya?! Sakura jauh lebih baik jika dibandingkan dengan wanita bermata pucat itu!

'Terkadang mencintai seseorang artinya ia harus mengalah…'

Tidak! Ia tidak ingin mengalah!

Biar saja Hinata mengatakan padanya jika ia adalah wanita yang kejam dan egois. Ia tidak akan mengalah!

Baginya cinta adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Ia tidak akan berpangku tangan dan membiarkan Hinata merebut pria yang ia cintai!

'Kumohon… pikirkanlah Naruto meski hanya sedikit saja. Sampai kapan kau akan membebaninya?'

Sakura kini menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu.

Naruto…

Ia lalu terbayang pria berambut kuning dengan mata birunya sedang tersenyum hangat padanya.

Sakura tahu jika Naruto mencintainya. Akan tetapi mereka berdua tidak pernah membahas mengenai hal itu.

Sakura takut jika mereka membahas mengenai hal itu maka hubungan mereka berdua akan berubah… Sakura takut jika Naruto akan meninggalkannya…

"Oh Naruto… mengapa kau harus mencintaiku?" Bisik Sakura sambil berusaha menahan tangisnya. "Aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu padaku."

Setelah Sakura berhasil menenangkan diri, ia mulai membersihkan pecahan-pecahan kaca di lantainya.

Ia lalu memungut bingkai foto itu perlahan dan berniat menyimpannya di laci meja. Ketika ia membuka laci, matanya tertuju pada sepucuk surat yang diberikan Naruto padanya. Sakura lalu mengambil surat dengan amplop berwarna putih. Bingkai yang telah hancur ia letakkan dalam laci, matanya masih belum beranjak dari surat di tangannya ini.

Setelah Naruto memberikan ini padanya, ia langsung menyimpannya di laci. Ia hanya menganggap surat ini hanya sebuah lelucon Naruto padanya.

Namun ia kembali teringat ekspresi Naruto yang terlihat gugup ketika memberikan surat ini…

Ia lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Jemarinya perlahan membuka amplop itu dan mengeluarkan kertas yang berisi tulisan tangan Naruto. Dengan hati yang berdebar ia mulai membacanya.

Angin, kumohon katakan padanya ketika kau berhembus

Bahwa aku tepat di belakangnya

Awan, kumohon katakan padanya melalui rintik hujan

Bahwa aku tepat di sampingnya

Waktu, meskipun takdir membutakan mata

Kumohon lindungilah rasa cinta dari dalam lubuk hatinya

Aku hanya memandangmu

Aku hanya memandangmu karena aku merindukanmu

Gadis cantikku yang semakin kurindukan setiap kali aku memandangmu

Aku berteriak dari dari dalam dadaku

Aku berteriak hingga hatiku menjadi parau

Aku hanya meneriakkan namamu

Aku melukis wajahmu dengan air mataku

Aku mengukir namamu di hatiku

Bahkan jika kau berada di ujung dunia, kau bukanlah seseorang yang bisa kulupakan

Bahkan jika aku menangis ribuan kali, cinta yang ku inginkan hanyalah dirimu

Langit, bahkan jika aku tidak ada lagi

Kumohon gantikan tempatku dan lindungilah jalan yang ia pilih

Aku mencintaimu…

Aku mencintaimu…

Gadis cantikku yang lebih berharga dari hidupku sendiri

Bahkan jika dunia berhenti, bahkan jika waktu berhenti

Cinta tidak akan mati

Ini sangatlah menyakitkan namun tak mengapa karena cinta membuatku hidup

Sampai saat terakhir memoriku, kau bukanlah seseorang yang bisa kulupakan

Even if I lose you a thousand times, the love that I will meet is you

I love you… Sakura Haruno

Sakura terkulai lemah di ranjang, air matanya mengalir deras.

"Apa yang harus kulakukan…" Bisiknya dengan suara parau.

Untuk pertama kalinya, Sakura membenci dirinya sendiri.

.

.

Hinata terbangun saat ia mendengar suara getar dari ponselnya.

Dengan setengah mengantuk ia melihat jam di atas meja kecil yang berada di samping ranjang. Pukul 01.19. Lalu Hinata meraba-raba mejanya dan berhasil meraih ponselnya.

Panggilan masuk dari Sasuke.

Rasa kantuk Hinata buyar seketika. Apa sesuatu sedang terjadi pada Sasuke sehingga ia menelponnya saat ini?

"Halo Sasuke?" Tanya Hinata sambil berusaha menyembunyikan kepanikannya.

"Hinata."

Hinata tidak bisa mendengar ada sesuatu yang salah dari nada perkataan Sasuke yang datar.

"Ya?"

"Apa aku membangunkanmu?"

Hinata mengerutkan alisnya, ada apa dengan Sasuke malam ini?

Apakah ia mabuk? Tapi nada bicaranya yang jelas tidak menunjukkan hal itu.

"Um… ya. Di-disini sekarang pukul 01.19, uh, sudah larut malam."

"Maaf." Kata Sasuke singkat.

Hinata menunggu perkataan Sasuke selanjutnya.

Menunggu.

Dan menunggu.

"Um… S-Sasuke?" Hinata menjadi semakin khawatir. Apakah Sasuke malah jatuh tertidur?

"Mm."

"Ti-tidak ada yang salah… kan?" Tanya Hinata sambil menggigit ujung ibu jarinya dengan gugup.

"Tidak."

"Uh… oke…?"

Sasuke hanya bungkam. Hinata semakin resah. Mengapa Sasuke sangat aneh malam ini?!

"Sa-Sasuke… a-ada apa sebenarnya? Kenapa k-kau menelponku malam-malam seperti ini?"

"Langit Ame selalu hujan."

"O-oke? Um… a-apa kau takut hujan?" Tanya Hinata dengan bingung.

Helaan nafas Sasuke terdengar jelas. "Tidak."

"La-lalu?" Apa sebenarnya maksud perkataan Sasuke?!

"Lupakan perkataanku tadi."

Hinata menggaruk-garuk pipinya. Apa Sasuke sedang sakit? Mengapa ia tidak bisa berkomunikasi dengan lancar malam ini?

"Hey Hinata…" Bisik Sasuke.

"Y-ya?"

"Aku telah berhutang banyak padamu."

"Eh?" Memangnya Sasuke berhutang apa padanya?

"Aku bukan suami yang baik."

"Um…" Hinata harus menjawab apa?! Membantah atau mengiyakan?

"Aku sadar itu, Hinata. Aku adalah laki-laki brengsek yang tidak pernah menghargai kebaikan istrinya. Kau berhak membenciku, Hinata."

"Tu-tunggu sebentar! Me-mengapa kita membahas hal ini sekarang?!" Kata Hinata dengan panik. "A-apa kau sedang mabuk?"

"Tidak."

"P-pasti ini karena udara Ame yang mempengaruhi jalan pikiranmu saat ini!"

Sasuke tertawa kecil. "Mengapa kau berpikir seperti itu?"

"K-karena kau sedang berbicara aneh!" Kata Hinata dengan panik. Bagaimana jika ternyata Sasuke terjangkit virus aneh yang menyerang otaknya?!

Sasuke menghela nafas. "Aku juga tidak mengerti mengapa aku mengatakan ini semua padamu."

"Huh?"

"Apa kau membenciku?"

"Eh?! Sama sekali tidak!" Kata Hinata dengan tegas.

"Mm. Baguslah. Aku juga tidak membencimu."

Hinata menggosok-gosok keningnya. "Sasuke… sikapmu malam ini membuatku bingung."

"Mungkin ini karena aku merindukanmu."

Wajah Hinata langsung merona hebat. Ia tidak salah dengar kan?!

"E-eh?! Bi-bisa kau u-ulangi pe-pe-perkataanmu?"

"Aku merindukanmu, Hinata."

Jantung Hinata berdebar kencang namun sebuah senyuman manis terukir di bibirnya.

"Ini sangat aneh karena aku hanya pergi beberapa hari saja." Kata Sasuke sambil menghela nafas.

"A-aku ju-juga merindukanmu." Kata Hinata sambil memainkan ujung rambutnya. Dapat ia rasakan pipinya yang memanas karena merona hebat.

"Hey Hinata…" Bisik Sasuke.

"Y-ya!"

"Tunggu aku pulang."

Mendengar itu, hati Hinata terasa hangat.

"Aku akan menantimu pulang, Sasuke…"

.

.

Surat yang ditulis Naruto itu salah satu penggalan dari lirik lagu yang berjudul you are love. Lagu korea, saya hanya menerjemahkannya.

.

Please review!

.

Awalnya saya merencanakan cerita ini sampai chapter 30 lebih sedikit, tapi entahlah. Mungkin bisa lebih panjang atau lebih singkat, tergantung dari panjang cerita per chapter.

Mengenai Naru-Saku… jujur saya belum bisa menentukan apakah mereka akan berakhir bersama atau tidak. Skenario yang saya rencanakan selalu berubah-ubah.

Mungkin tidak semua adegan dalam Novel Spring Love diceritakan dalam sudut pandang Sasuke karena yah… tidak ingin membongkar banyak-banyak.

Bagi para reader yang belum membaca sudut pandang Sasuke, cek cerita saya yang berjudul His Wife.

.

Mungkin saya tidak bisa membalas review reader satu per satu, namun percayalah saya sangat menghargai setiap komentar kalian. Saya hanya bisa menunjukkan cinta saya dalam bentuk update rutin.

Terima kasih untuk dukungan kalian semua. Love you!