Imperfections

Story belong to ©Anggara Dobby

Oh Sehun—Lu Han

With others pairing

[Warn!] YAOI, Gay Content, Mature, Alternative Universe, Typo(s), DLDR. Membosankan! Diksi Abal-abalan.


Last Chapter : A


It's been raining since you left me

Now I'm drowning in the flood

You see I've always been a fighter

But without you I give up…

.

.


Sehun terduduk siang itu diujung ruang tahanan sambil memandang berkeliling pada ruang sel yang kumuh, ada tiga orang pria yang berada disana bersamanya. Mereka berwajah sangar khas gangster kelas atas, tetapi ketiganya seperti enggan mengganggunya. Kenyataan bahwa Sehun adalah anak berusia 17 tahun yang berani membebaskan narapadina mati membuat mereka harus berpikir beberapa kali untuk menjadikan Sehun sebagai budak mereka selama di tahanan. Ruang sel itu berudara lembab, kasur yang bahkan tidak layak disebut sebagai tempat tidur pemulung, terlalu buruk. Dan terakhir sebuah nampan kudapan yang berisi makanan sampah tergeletak didepannya. Sehun bersumpah tidak akan sudi memasukan makanan yang dimasak secara asal-asalan itu kedalam pencernaannya.

Perkataan Kai sehari yang lalu menjadi sebuah kenyataan. Dimana saat ini dirinya berada dibalik sel bersama penjahat-penjahat lainnya. Walau dirinya belum diputuskan menjadi tersangka secara resmi, namun Sehun yakin keputusan sidang yang akan diadakan besok akan membuat gelar narapidana melekat didirinya. Ayahnya dan kuasa hukumnya tengah merundingkan sesuatu diluar sana bersama polisi-polisi, yang Sehun yakini tentang keringanan hukum untuknya. Ayahnya berkali-kali mengunjunginya, berkata dengan tegas serta yakin jika Sehun akan segera keluar dari sel ini. Pria itu akan menggunakan uang dan kekuasannya demi anaknya. Kini, Sehun baru menyadari semua perkataan Luhan itu benar. Bukan Ayahnya yang tidak peduli, dirinyalah yang selama ini sibuk berburuk sangka pada Ayahnya hingga kepedulian pria itu tidak terlihat oleh matanya. Seunghyun terlihat begitu mengkhawatirkannya, dia bahkan meminta pada Kepala Sipir untuk memberikan ruangan yang lebih baik untuknya. Sehun tersenyum miris, mengapa dia baru melihat kepedulian Ayahnya disaat keadaan tidak memungkinkan untuk bisa berkumpul bersama Ayahnya?

"Hey, nak. Mau bergabung?" Salah satu pria berwajah sangar menawarinya untuk bermain kartu bersama yang lainnya. Sehun membalasnya dengan gelengan. Pria itu tampak tak peduli dan kembali bersama teman-temannya.

Pria-pria itu dahulunya adalah seorang mafia yang senantiasa berpenampilan rapi dengan setelan jas mahal dan bergelimangan uang, mereka sudah berada ditahanan ini selama lima tahun. Sekarang, tampilan mereka berantakan, cenderung terkesan seperti preman depressi, jauh berbeda sebelum berada ditahanan ini. Sehun berpikir hal itu menjadi cerminan dirinya nanti. Jika dia divonis bertahun-tahun, maka dia tidak akan berbeda dengan para narapidana lainnya. Rambut panjang berantakan, baju kumal, dan bau badan yang tak sedap. Dan juga tidak akan bertemu dengan Luhan.

Luhan.

Sehun mengulang-ulang nama itu dalam hati. Semakin lama rasanya semakin sakit ketika mengingat bagaimana sulitnya kondisi mereka sekarang. Luhan terbaring di Rumah Sakit berjuang untuk tetap hidup, sementara dirinya terduduk seperti orang tolol dibalik penjara. Tatapan matanya kosong, bahkan gradiasi hitam mulai menghiasi matanya. Dia tidak tidur sejak kemarin, merasakan tubuhnya yang nyeri oleh luka-luka, belum lagi pikirannya yang selalu dipenuhi oleh Luhan setiap detik. Sehun merasa akan mati sesaat lagi. Dia begitu kacau hingga berpikir untuk menelan beberapa pil valium agar bisa tertidur untuk beberapa hari kedepan, dan setelah terbangun ternyata ini semua hanyalah mimpi buruk semata. Yeah, itu jauh lebih baik.

Dia baru saja mendapat sebuah kebahagiaan, tetapi kebahagiaan itu kini dirampas secara paksa oleh Tuhan. Dia kembali pada tempatnya seperti dulu, berada didasar jurang kegelapan sendirian. Tidak ada siapapun yang menemani, hanya dirinya dan kata hatinya yang terus mengutuknya layaknya kutukan beribu orang. Dia tidak menyalahkan Tuhan karna Sehun sadar benar ini semua adalah ganjaran dari kesalahan yang sudah Ia perbuat.

Aku adalah contoh nyata dari hasil didikan sekolah yang salah, dimana aku tidak pernah benar-benar mendapat pengajaran. Para guru hanya bisa menghukum, bukan memperbaiki—seperti aparat bajingan ini. Mereka tidak pernah mau memperbaiki sebuah cermin yang retak, melainkan menghancurkannya lagi dan lagi. Aku juga buah hasil keluarga yang pecah. Dimana aku tidak mendapat bahu untuk sandaran, dan sebuah dada untuk menemukan rasa bangga dan percaya diri.

Aku Oh Sehun, yang biasa kalian sebut sebagai anak sampah.

.

.

.


Hari persidangan tiba. Kris dan kuasa hukumnya dihadirkan sebagai pihak penuntut. Kris terlihat kacau pagi itu dengan beberapa perban di beberapa bagian tubuhnya. Dia hanya terdiam, dan beberapa kali Sehun menangkap pria itu memandangnya dengan sorot mata yang tak terbaca. Bukan sebuah pandangan tajam, tetapi seperti sebuah pandangan iba—atau semacamnya. Sehun mungkin berhalusinasi, tetapi dia melihat sirat permohonan maaf dari mata Kris. Tao dan teman-temannya juga dihadirkan sebagai saksi. Ayahnya, Junmyeon, Calon ibu tirinya serta kuasa hukumnya ada dipihak pembela. Zhou dihadirkan, begitupula orangtua Luhan. Sementara dirinya duduk ditengah-tengah ruangan dengan baju biru gelap khas seorang tahanan. Sehun lebih banyak terdiam dan memandang lurus, lebih tertarik menatapi meja sang Hakim daripada wajah-wajah berbagai ekspresi di ruang sidang pagi itu.

Berbagai tuntutan dari Jaksa umum penuntut maupun pengacara Kris bersahut-sahutan dengan pihak pembela. Saling memperdebatkan hukum untuk Sehun. Suara-suara mereka tidak terdengar jelas dipendengarannya. Dia hanya mendengar banyak dengungan sana-sini seperti suara ratusan lebah yang membuat kepalanya pusing, dan bibirnya terasa terkunci rapat-rapat. Bebas atau ditahan sama saja bagi Sehun. Tidak ada tempat yang membuatnya bahagia di dunia ini. Penjara, rumah, sekolah—semuanya sama saja baginya,

Persidangan semakin berjalan memanas ketika Kris mendadak mencabut tuntutannya dan mengatakan bahwa Sehun tidak bersalah sama sekali atas rencana pembunuhan pada dirinya. Sehun bahkan harus mendongakan kepalanya dan memandang tak percaya pada pria yang sempat bersiteru padanya beberapa hari yang lalu itu.

"Oh Sehun sama-sekali tidak ingin membunuhku. Aku yang memulai semuanya, aku yang memancing amarahnya. Aku yang ingin berusaha membunuhnya, tetapi hal itu tidak terjadi karna Luhan yang terkena oleh tembakanku. Tidak sepantasnya aku menuntut Oh Sehun karna dia tidak bersalah sama sekali atas kejadian ini. Dengan ini, aku mencabut tuntutanku, Yang Mulia Hakim."

Semua orang di ruang persidangan tampaknya terkejut, dan berbisik-bisik. Pengacara Kris yang paling terkejut, dia menarik rambut dikepalanya kuat-kuat. Sangat geram dengan tindakan gegabah klien-nya yang akan membuat reputasinya sebagai pengacara hancur beberapa detik lagi. Dia belum pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya.

"Kau yakin dengan pernyataanmu, Kris Wu?" tanya Hakim Agung.

Kris mengangguk, tanpa beban. "Sangat yakin."

"Tidak ada unsur paksaan atau provokasi?"

"Sama sekali tidak."

"Dengan ini tuntutan tentang rencana pembunuhan dicabut." Hakim mengetuk palunya.

Sehun mendapati Tao tersenyum penuh haru di barisan bangku peserta sidang. Dia tahu, bahwa sikap Kris hanya akan berubah dengan ucapan-ucapan yang keluar dari bibir Tao. Junmyeon yang berada tak jauh darinya ikut tersenyum lega. Untuk pertama kalinya, Sehun kembali melihat senyuman diwajah Hyung-nya. Kenyataan bahwa pria itu ikut senang atas pernyataan Kris membuat Sehun bahagia. Diam-diam Sehun mengulas senyum transparannya. Selalu ada keajaiban untuk memenangkan sebuah keadilan.

Persidangan kembali berlanjut dan perdebatan kembali memanas, kali ini masalah-masalah lain yang dibahas oleh Jaksa penuntut umum. Dari masalah yang besar seperti kasus di Cina, hubungannya dengan mafia jepang, sampai masalah-masalah spele seperti pertengkaran Sehun dengan anak-anak sekolah lain. Keonaran-keonarannya selama ini dibahas untuk menambah hukuman Sehun. Lucu sekali, pikir Sehun. Kenapa tidak sekalian saja masalah dirinya sepuluh tahun yang lalu diseret kesini?

Setelah bait-bait panjang bertele-tele selama satu jam tentang rangkuman dan pembacaan bukti-bukti yang mendukung pihak penuntut untuk memberatkan tersangka, maka persidangan sudah nyaris sampai pada titik penyelesaian. Kini penutupan oleh pengacara pembela.

"Saudara pembela, silahkan kata penutupan dari Anda."

Pengacara Sehun berdiri untuk mengajukan pembelaan terakhirnya. "Dengan bukti-bukti dan tuntutan yang sudah dibacakan tampaknya akan sangat memberatkan Oh Sehun. Saya sebagai kuasa hukum dari Oh Sehun hanya ingin menyampaikan jika semua kasus yang para Jaksa penuntut umum sampaikan tidak semuanya benar. Beberapa hanya pendapat tanpa bukti dan itu tidak termasuk sebagai tuntutan dalam pengadilan. Oh Sehun juga masih dibawah umur, usianya baru 17 tahun. Mohon pertimbangannya, Yang Mulia."

"Ada lagi pihak Terdakwa?" tanya Hakim.

Sehun menoleh ke pengacaranya, memberi isyarat menggelengkan kepalanya. Pengacaranya menjawab,"Cuma sekian dari pihak kami, Yang Mulia. Kebijakan para hakim untuk memutuskan apa yang lebih baik untuk anak ini."

Dua jam berikutnya adalah putusan pengadilan. Setelah pembacaan simpulan yang panjang lebar, Sehun mendengar keputusan nasibnya.

"Dengan semua bukti dan pertimbangan ini, Oh Sehun dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara paling lama lima tahun." Hakim mengetukkan palu sebagai keputusan akhir persidangan hari ini. Mungkin jika Sehun bukan berusia 17, dia akan mendapat hukuman yang lebih berat dari ini.

Ayahnya yang paling shock atas keputusan hakim, pria itu meremas rambutnya dan menunduk dalam-dalam. Sehun belum pernah melihat Ayahnya se-frustasi itu. teman-temannya, Junmyeon, dan yang lainnya terlihat begitu kecewa akan putusan akhir dari hakim. Masih banyak yang peduli padaku ternyata, batinnya. Tetapi dia memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama orang yang peduli padanya. Sudah garis takdirnya seperti ini. Sehun siap menjalaninya, walau rasanya akan begitu pahit.

Junmyeon menghampirinya, dan tanpa berkata apa-apa lagi pria itu memeluknya. Pertahanan Sehun runtuh detik itu juga, dia menangis dalam pelukan Junmyeon. Setelah bertahun-tahun bersikap seperti orang asing, Junmyeon kembali memeluknya dengan hangat. Sehun kembali merasakan bagaimana nyamannya pelukan seorang kakak. Kenapa kebahagiaan datang disaat dirinya tidak mungkin bisa merasakan seperti ini lagi?

"Adikku tidak selemah ini." Junmyeon menepuk punggungnya dalam pelukan. Sehun mendengar suara pria itu bergetar. "Aku akan semakin bersalah jika kau seperti ini, Sehun."

Sehun tidak bisa mengeluarkan satu kalimatpun dari bibirnya, tenggorokannya terasa menyempit dan hal itu membuatnya sesak. Pelukan Junmyeon memberinya sedikit kekuatan. Dia merasa ada yang masih menyayanginya disaat-saat kelam seperti ini.

"Aku akan selalu mengunjungimu. Jaga dirimu baik-baik, Sehun." Junmyeon melepas pelukannya, memberikan senyum menenangkan untuk Sehun. Saat ini dia melihat Sehun lima tahun yang lalu, adiknya yang tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Bukan Sehun yang selalu bersikap dingin dan menyimpan rapat-rapat kepribadian aslinya dibalik wajah arogannya. Junmyeon merasa sangat bersalah telah membuat hidup Sehun hancur seperti sekarang. Awal kehancuran itu karna keegoisan dirinya. dia telah membuat adik kandungnya sendiri menderita di usianya yang masih begitu muda. Junmyeon merasa begitu jahat. Dia adalah pendosa sesungguhnya.

"Aku akan menjaga diriku sesuai perintahmu jika kau mau menuruti perintahku." Ujar Sehun.

"Apa itu?"

"Biarkan Ayah menikah dan jadilah anak yang baik untuknya, karna aku tidak bisa melakukan itu."

Junmyeon merasa begitu buruk ketika memandang wajah Sehun saat anak itu berkata demikian. Seunghyun tidak kuasa untuk melihat interaksi kedua anaknya. Setelah sekian lama keduanya kembali berbicara layaknya kakak-adik, tetapi keduanya tidak akan bisa bersama dalam waktu yang lama karna sebuah hukum yang memisahkan mereka.

Sehun digiring oleh sepasukan Polisi pengawal, siang itu juga dia akan langsung dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan setelah statusnya resmi menjadi narapidana. Hidup dan matinya resmi sudah berada ditangan sebuah lembaga. Masa depan yang sudah dirancangkannya pupus tak bersisa, dia akan menghabiskan masa mudanya dibalik sel dengan gelar penjahat. Sehun menyempatkan diri untuk tersenyum pada teman-temannya sebagai bukti jika dirinya tidak apa-apa. Baekhyun dan Kai yang paling emosional, keduanya melampiaskan kekecewaannya dengan tangisan. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, mungkin Sehun akan mentertawakan keduanya diselingi cemoohan. Dia tersenyum pahit, hari-hari kedepan dia tidak akan bisa bersama teman-temannya lagi. Membuat keributan, adu pukul, tertawa bersama. Harinya akan sangat kelam dan sepi. Tanpa Luhan juga. Sehun selalu sesak ketika mengingat Luhan. Dia tidak akan bisa bertemu dengan kekasihnya lagi. Seseorang yang kembali membuatnya hidup dan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sehun akan kembali mati seperti dulu.

Aku ingin bertemu Luhan..


Sehun mencoba mengambil sisi positifnya saja. Setidaknya dia tidak lagi berada di sel yang kumuh seperti yang kemarin, tempat barunya jauh lebih baik. Di Lembaga Permasyarakatan sekarang sipir-sipir penjaga lebih bersahabat. Dan dia berhadapan dengan pemuda-pemuda seusianya yang seolah menjadikan penjara sebagai sebuah asrama. Menata kehidupan didalamnya, mengikuti alur pergantian hari dan rutinitas didalamnya dengan seksama. Seolah dunia luar tak pernah ada. Mematikan ambisi, karena ambisi dapat mematikan mereka. Mereka terlihat bahagia disini, seperti tidak ada beban. Mungkin sesama penjahat lebih saling mengerti daripada mengemis kepedulian pada orang baik yang selalu memandang penjahat dengan hina—seolah-olah mereka bukan manusia yang memiliki hati. Yah, disinilah rumah barunya. Sebuah ruangan dengan jeruji besi tanpa fasilitas mewah dan makanan-makanan enak. Teman-temannya sekarang adalah para penjahat dan kecoa-kecoa yang senantiasa berlarian disekitar dinding. Dia tidak akan bisa bebas seperti dulu. Bahkan ke toilet saja dia harus dijaga oleh para sipir.

Selamat datang, neraka dunia. –batin Sehun.

"Woah, siapa ini? Oh Sehun?!"

Sehun mengernyit mendengar sebuah suara seorang pemuda yang familier ketika dirinya baru masuk kedalam sel. Dia sedikit terkejut ketika melihat sosok Hanbin ada di ruang itu. Pemuda itu mengenakan baju tahanan yang sama sepertinya. Sial, kenapa keparat kecil itu ada disini juga?

"Seharusnya aku tidak terkejut melihatmu disini." Sehun berujar datar. Ada tiga orang lainnya yang berada diruangan itu, termasuk Junhoe. Nasibnya memang buruk. Sudah berada ditahanan, bersama para bajingan macam mereka pula.

Hanbin tertawa tanpa alasan. Mungkin tinggal di sebuah tahanan membuatnya agak sinting. "Entah kenapa aku senang sekali melihatmu disini memakai baju yang sama denganku. Apa yang kau lakukan hingga tertangkap, hah? Membunuh Presiden?"

Sehun bosan sekali meladeni anak sinting itu, karna suasana hatinya benar-benar amat buruk.

"Hei, jangan memandangku seperti itu." Hanbin menghampiri dirinya. Untuk ukuran seorang tahanan, anak itu terlihat baik-baik saja, seperti tak ada beban. "Kita ini sama-sama tahanan sekarang. Lupakan permusuhan kita, dan jadilah temanku, oke?" lalu Hanbin merangkul dirinya dengan sebuah cengiran yang baru pertama kali ia lihat.

"Ya, kami semua sepakat tak ada permusuhan disini seperti di sel para mafia di gedung seberang. Kita ini masih muda, nikmati saja penjara ini, kawan." Junhoe menyahut, diangguki tiga pemuda lainnya yang Sehun tak kenali sama sekali.

Sehun terdiam untuk beberapa detik. Menimbang-nimbang ucapan mereka. Lantas, dia tersenyum dan memukul bahu Hanbin sekali.

"Tidak ada salahnya berteman dengan bajingan kecil sepertimu." Ujarnya.

Hanbin tersenyum lebar, dan bersorak bar-bar bersama teman-temannya. Pemuda itu kembali merangkul Sehun seolah-olah tidak pernah terjadi permusuhan diantara mereka sebelumnya.

"Untuk yang belum mengenalinya. Dia adalah Oh Sehun, anak OX 86. Dan ketua dari Exruciate Ominous. Kalian pasti tahu, 'kan? Ini sebuah kebanggaan untuk kita, dan sekarang dia adalah anggota keluarga baru kita. Katakan selamat datang, teman-teman!"

Junhoe dan yang lainnya kembali bersorak seperti berandal yang baru saja memenangkan judi. Mungkin memang benar, penjara membuat mereka agak sinting.

"Aku akan mengenalkanmu pada ketua koki disini agar kau selalu bisa dapat makanan lebih setiap hari. Dia itu teman baikku, Paman Jun. Dia selalu memberi tambahan lauk untukku. Dan juga, aku akan mengajakmu ke sel 107. Disana ada dua lelaki manis yang akan membuat mood-mu bagus jika kau menggodanya. Mereka seperti kucing. Sangat manis, tetapi jika kau ganggu, maka kau akan dicakar. Rawwr! Hahahaha."

Sehun hanya mendengus geli mendengar ocehan-ocehan Hanbin dan yang lainnya tentang apa saja yang menarik di sel ini. Mungkin beberapa waktu lagi, dia akan bisa tertawa seperti mereka ditengah-tengah keadaan seperti ini. Bahkan pada hal-hal yang kecil sekalipun, karna kebahagiaan sekecil apapun akan begitu berharga ketika kau berada di tempat seperti penjara. Ketika Sehun memandangi Hanbin dan yang lainnya, mendadak dia teringat teman-temannya. Kai, Chanyeol, Chen dan Baekhyun, biarlah mereka menikmati dunia luar sana yang menyajikan banyak kebahagiaan nyata.

Dimanapun kau berada, kau akan selalu menemukan keluarga disana. Walau di tempat pembunuh harapan seperti penjara sekalipun.


"Apa kau makan dengan baik?" Junmyeon bertanya pada Sehun dengan raut khawatir. Seminggu berada di tahanan, membuat Sehun terlihat kacau. Matanya terlihat lebih cekung, sekilas mirip seorang pecandu narkoba. Wajahnya kusam, dan rambutnya berantakan. Baru beberapa hari, tetapi Sehun terlihat lebih kurus. Junmyeon tidak bisa menahan kekhawatirannya. Ini adalah kunjungan pertamanya setelah Sehun ditahan seminggu lalu. Dan dia sudah disuguhi penampilan adiknya yang menyedihkan.

Sehun mengulas senyumnya, merasa senang dipedulikan. "Ya. Kepala koki disini adalah temanku. Dia memberiku makan dengan baik."

"Tidurmu cukup?" Junmyeon kembali bertanya.

"Ya, walau tak senyaman di hotel." Sehun menjawab, diselingi kekehan.

Junmyeon tahu, Sehun menderita disini. Walau dia terus tersenyum seperti itu, tetapi kilatan matanya tidak sesuai dengan senyumannya. Hal ini membuatnya sakit. Jika dia mengubah hukum, dia akan melakukannya dengan senang hati untuk Sehun.

"Ayah akan menikah besok, sesuai permintaanmu." Ujar Junmyeon. "Wanita itu ternyata baik. Aku salah menilainya."

Sehun hanya diam mendengarkan, menunggu apa yang selanjutnya dikatakan oleh Junmyeon.

"Hanya anaknya saja yang menyebalkan. Dia sangat cerewet, aku pusing mendengarnya. Gadis itu tadinya ingin ikut menjengukmu, tetapi aku melarangnya dengan keras. Karna aku tidak ingin melihatmu menendang gadis itu disini."

Sehun tertawa, "Dia akan menjadi adikmu, hyung."

Junmyeon mendengus, "Adikmu juga."

Lalu keduanya tertawa bersama. Tawa keduanya tergabung dalam ruangan besuk itu. Menciptakan suasana hangat yang kembali terjadi setelah bertahun-tahun perang dingin. Mereka kembali disatukan dengan situasi yang tak terduga. Ikatan darah memang tidak bisa dibohongi. Walau seribu tahun kau bertengkar dengan saudaramu, ketika kau ada dalam masalah besar, dia pasti akan datang dan mengulurkan tangan untuk menggenggammu. Memberi secuil kekuatan yang begitu berarti.

"Aku senang kau kembali bersikap seperti dulu padaku." Ucap Sehun dengan tulus. Dia kembali menemukan Kakaknya, dan tidak ada yang lebih membahagiakan selain itu.

"Kau banyak menyadarkanku, Sehun. Aku bersikap egois dan tidak dewasa. Berkali-kali kau mencoba menunjukanku sebuah kebenaran, aku selalu menampiknya. Dan aku sangat menyesal harus menyadari itu semua di masa sulit seperti sekarang." Junmyeon menghela nafasnya sesaat. Kabut-kabut masa lalu membuat hubungannya dengan Sehun dan Ayahnya terpisah jauh, tetapi sekarang dia mulai bisa menyingkirkan kabut-kabut itu untuk menemukan sebuah jalan yang baru. Jalan menuju kebahagiaan.

"Yang terpenting bagiku, Junmyeon Hyung sudah kembali." Sehun tersenyum.

Junmyeon tertawa kecil, dan menepuk-nepuk kepala Sehun. inilah Sehun yang sesuai dengan usianya. Tidak ada kepalsuan sedikitpun dari wajahnya. Dia tetap adiknya yang seperti dulu jika dihadapannya.

"Hyung, boleh aku meminta sesuatu darimu?" tanya Sehun. Raut wajahnya berubah, terkesan murung dan tatapan matanya memancarkan sedikit harapan. Sebuah harapan kecil yang Sehun harap akan terkabul.

"Katakanlah."

"Aku ingin menemui Luhan."


Seoul Hospital

Sehun digiring oleh empat Polisi pengawal untuk bisa ke Rumah Sakit. Atas bantuan Ayahnya dan Junmyeon, dia bisa melangkahkan kaki disini walau pergerakannya tidak bebas karna para Polisi ini akan terus mengikutinya. Dia mendapat pandangan berbagai macam makna dari orang-orang di Rumah Sakit. Mungkin heran, apa yang dilakukan seorang tahanan disini. Sehun hanya masa bodoh, dia tidak mempedulikan apa pendapat mereka. Karna hidup tidak akan maju jika menuruti pendapat-pendapat orang lain.

Setiap langkah, ia merasa jantungnya terus berdebar semakin menaik. Entah sebuah euphoria atau ketakutan yang akan ia hadapi nanti. Dia selalu berharap Luhan-nya akan baik-baik saja, dan ketika Ia sampai disana, Ia akan mendapat senyuman cantik dari kekasihnya. Setidaknya, Sehun akan tenang selama di penjara ketika sudah mendapat senyuman Luhan.

Sehun sampai didepan ruang rawat Luhan, dia melihat keluarga Luhan ada disana. Tuan Xi dan istrinya, juga Kyungsoo. Tiga orang itu memandangnya dengan sorot tak terbaca. Tuan Xi tiba-tiba berdiri, membuat prasangka buruk diam-diam menyelusup dalam diri Sehun. Apa pria itu tidak akan mengizinkannya untuk menemui Luhan? Ini adalah harapan kecilnya yang terakhir, jika tidak terkabul juga, Sehun tidak tahu harus bagaimana nantinya. Dia akan benar-benar hancur tak bersisa.

Tetapi, kenyataannya dugaannya salah besar. Tuan Xi tersenyum padanya seraya meremas bahunya, lalu berkata, "Masuklah."

Satu lagi keajaiban yang datang disaat kelam seperti ini.

Sehun tersenyum pada Tuan Xi sebagai ucapan terimakasih-nya. Rasanya begitu melegakan, seolah harapannya kembali hidup hanya dengan satu kalimat itu. Dia teringat percakapan mereka beberapa waktu lalu ketika di Beijing, yang membuat Tuan Xi begitu segan padanya.

Beberapa waktu yang lalu…

"Apa kau benar-benar hanya berteman dengan Luhan?"

Sehun sedikit terkejut mendapati Tuan Xi memandangnya dan bertanya padanya dengan nada berbeda. Pertanyaan mendadak yang begitu tak disangka-sangka. Sangat melenceng dari obrolan mereka tadi. Sepertinya dia telah kepergok sedang memandangi Luhan maka dari itu Tuan Xi bertanya seperti itu. Sehun enggan menjawab dengan jujur jika nanti akhirnya akan berakhir dengan sebuah konflik yang semakin menambah beban berat dipundaknya.

"Ya." Sehun menjawab.

"Kau akan merasa tersiksa saat membohongi dirimu sendiri."

Kebisuan mengambil alih diri Sehun setelah itu. Dia sudah bisa menebaknya jika pertanyaan ini akan terlontar cepat atau lambat. Sekarang, hanya ada satu pilihan. Berkata jujur dan mengesampingkan resikonya terlebih dahulu.

"Luhan adalah kekasihku." Sehun menjawab setelah berdetik-detik terdiam. Dia akan menanggung resikonya setelah ini. Karna Sehun tahu, hubungannya dengan Luhan tidak akan semudah itu mendapat persetujuan. Sehun akan menyiapkan diri jikalau hari ini dia akan diusir dari rumah ini dengan cara yang hina karna pernyataan yang terlontar dari bibirnya barusan.

Ekspresi Tuan Xi tidak terbaca, pria tua itu memandang Sehun cukup lama. Begitupula Paman Do yang tampaknya lebih terganggu dengan perkataan Sehun.

"Kau tahu ini salah?" tanya Tuan Xi. Suara dinginnya terasa sangat menusuk, dan sungguh, ini membuat Sehun tidak nyaman.

Sehun mengontrol tubuhnya agar tetap tenang, "Tidak. Tidak ada yang salah dengan cinta. Aku tidak peduli siapa yang kucintai, apa gendernya, status keluarganya atau rupanya, jika aku mencintainya maka aku akan terus bertahan dengan perasaanku." Dia menarik nafasnya sejenak, mengumpulkan keberanian yang mendadak datang menghampirinya. "Tuan, aku bukan pemuda baik-baik. Tidak ada yang memperhatikanku. Tetapi, sejak Luhan datang, dia mengenalkanku pada dunia yang baru. Dia membuatku bahagia, dan kembali merasa dipedulikan. Aku tahu semua orang menganggap cinta kami salah, dan aku berusaha tidak peduli. Karna yang aku butuhkan, hanya Luhan bukan kicauan orang-orang."

"Aku tahu itu sejak kau datang kerumahku beberapa waktu yang lalu." Kali ini Paman Do yang membuka suara.

"Dengar, aku mungkin terkejut dengan kondisi seperti ini. Tapi aku tidak pernah membatasi pertemanan Luhan, dan siapa yang dicintainya. Apapun jika membuat Luhan bahagia aku akan menyetujuinya. Kau dan Luhan masih sangat muda, kau yakin dengan jalan yang kau pilih? Aku hanya tidak mau anakku dicampakkan. Kau akan kuburu jika hal itu terjadi." Tuan Xi memandang Sehun dengan pandangan menusuknya.

Sehun menjawab dengan yakin, "Aku tidak pernah seserius ini."

"Aku benci mengakui ini, tapi aku memang menyukai kejujuran dan keberanianmu."

"Aku berjanji tidak akan menyakiti Luhan, apapun yang terjadi."

"Dan aku berjanji akan memburumu jika janjimu kau ingkari."

Dengan begitu Sehun sudah bisa menggenggam kepercayaan Tuan Xi.


Sehun masuk kedalam ruang rawat Luhan dengan jantung berdebar tak karuan. Dadanya terasa menyempit ketika melihat Luhan terbaring tidak berdaya diatas ranjang rawat dengan beberapa alat kedokteran memeluk tubuhnya. Sehun melangkah mendekat, menghampiri Luhan dengan ragu-ragu. Semakin dekat, semakin sesak pula yang dirasakan Sehun. Dia melihat mata Luhan terpejam rapat, seolah-olah dia sangat menikmati tidurnya. Sebuah alat pendeteksi detak jantung terletak di meja nakas dekat Luhan, berbunyi teratur, menampilkan detak jantung Luhan yang stabil. Tapi kenapa kekasihnya itu tidak mau membuka matanya?

Sehun mendudukan dirinya di sisi kiri Luhan, memandangi kekasihnya dengan pilu. "Aku datang, Lu." Ujarnya, sedikit bergetar. Kenyataan bahwa Luhan tengah mengalami koma, membuatnya harapannya untuk bisa berbicara dengan kekasihnya terkikis.

"Kau tidak mau menyambutku? Sudah nyaris sepuluh hari kita tidak bertemu."

Sehun meraih tangan Luhan, menggenggamnya dengan kedua tangannya. Tangan Luhan terasa begitu dingin, tidak seperti biasanya. Sehun membawa tangan Luhan ke arah wajahnya, menciuminya dalam pejaman mata. Meresapi semuanya dalam-dalam, karna sedikit lagi dia tidak akan bisa seperti ini lagi. Sehun berjanji tidak akan mengeluarkan airmatanya setetespun dihadapan Luhan. Walau kenyataannya, dia ingin sekali melakukan itu.

"Aku baik-baik saja, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku." Sehun merasa dirinya begitu menyedihkan, berbicara pada kekasihnya yang tidak mungkin bisa mendengarkannya. Harapannya hanya angan-angan semata.

Sehun menyentuh pipi Luhan yang terasa sama dingin dengan tangannya. Mengelus bagian sana dengan begitu hati-hati, tidak ingin Luhan merasa terusik sama sekali. "Apa kau sangat marah padaku sampai kau tidak mau melihatku?" Luhan masih terdiam, begitu tenang. Sehun merasa matanya memanas, dan dia berusaha sangat keras agar dinding pertahanannya tidak runtuh.

Mendadak Sehun teringat sesuatu. Dia merogoh sakunya, menemukan sebuah kotak hitam kecil dari sana. Dia membuka kotak itu, dan sebuah cincin perak dengan ukiran cantik terpampang di matanya. Dia mengambil cincin yang dibelinya beberapa minggu lalu itu. Lalu memasangkannya di jari manis Luhan dengan lembut. Sehun tersenyum, penuh kepahitan. Jari Luhan lebih cantik ketika cincin itu melingkar disana. Sangat cocok berada disana, Sehun tidak sia-sia menunggu hasil pembuatan cincin itu selama berhari-hari.

"Aku membelinya sesuai permintaanmu. Ada namaku disana, agar kau terus mengingatku. Ah, bicara apa aku ini? Kau pasti tidak akan bisa melupakanku." Sehun tertawa parau, disela-sela keperihan hatinya.

Masih teringat jelas dalam benak Sehun, kemarin mereka masih saling mentertawakan satu sama lain, membicarakan banyak hal dan melakukan sesuatu bersama. Tetapi sekarang tidak akan bisa seperti itu lagi. Semuanya akan berubah seiring waktu. Dia tidak akan bisa menikmati wajah Luhan lagi yang menyapanya dengan riang setiap pagi, atau mendengar omelan tak bermutu yang panjangnya melebihi pidato omong kosong pejabat. Sehun tersenyum getir, dia pasti akan sangat merindukan rusa-nya. Bagaimanapun, Luhan adalah orang pertama yang mengenalkannya kebahagiaan—dan penderitaan diwaktu bersamaan. Sehun tidak akan bisa melupakannya begitu saja. Rasanya beribu kali lebih menyakitkan ketimbang tergores sebuah pisau tajam.

Dia ingin menikmati waktu ini lamat-lamat. Berharap agar waktu berhenti berputar, dan dia bisa terus bersama Luhan. Sehun tahu, itu mustahil. Harapan kosong yang mendadak singgah di otaknya.

Sehun meraih sebuah kertas dan pulpen, menuliskan beberapa kalimat yang akan mewakilkan semua perasaannya disana untuk Luhan. Matanya mulai mengabur oleh airmata. Dia tidak bisa lagi menahannya, ini semua membuatnya menjadi seseorang yang lemah secara tiba-tiba. Beberapa tetes airmatanya jatuh diatas kertas yang tengah ditulisnya, membuat beberapa goresan tinta disana sedikit meluntur. Sehun merasa lucu, tidak seharusnya dia menangis seperti seorang pecundang. Ini bukan dirinya sama-sekali.

Sehun meletakkan suratnya diatas kotak cincinnya, menaruhnya di meja nakas samping Luhan. Berharap ketika Luhan sadar nanti, dia akan membacanya.

Pintu diketuk dari luar, dan itu adalah sebuah kode dari Polisi yang mengawalnya. Sudah saatnya dia pergi, dan itu terasa amat berat untuknya. Sehun mendekatkan wajahnya ke wajah Luhan, mencium kening kekasihnya itu dengan lama. Dia memejamkan matanya, berusaha menyimpan erat-erat momen ini didalam hatinya. Dia akan mengingat dirinya hari ini sebagai orang paling brengsek karna telah meninggalkan Luhan begitu saja.

Sehun berdiri, berjalan meninggalkan Luhan dengan langkah berat. Untuk yang terakhir kalinya, dia memandang Luhan seraya tersenyum kecil.

Aku pergi, Lu.

.


"Kau sedang apa?" Sehun bertanya pada Hanbin yang tengah sibuk menempelkan catatan kecil di dinding dekat ranjangnya. Pemuda itu menengok kearahnya dengan sebuah cengiran.

"Menulis sisa waktuku. 970 hari lagi aku akan pergi dari sini." Jawab Hanbin.

"Artinya kau di penjara hanya tiga tahun?"

Hanbin mengangguk, "Ya. Ayah Do Kyungsoo sangat tidak rela dengan itu. Kau tahu sendiri bukan, alasan mengapa aku ada disini." Pemuda itu terkekeh diakhir ucapannya. Ya, Sehun tahu benar. Karna dia sendiri terlibat dalam penyelamatan Kyungsoo waktu itu. Dia tidak menyangka akan berada disini bersama musuhnya sendiri—yang sekarang menjadi temannya.

"Bagaimana kunjunganmu ke Rumah Sakit kemarin? Apa kekasihmu baik-baik saja?" Hanbin balik bertanya.

"Aku tidak berani mengatakan itu. Karna dia sedang koma." Sehun tersenyum getir. Mengingat Luhan hanya akan menambah lubang di dadanya yang sedang menganga.

Rasa simpati Hanbin datang, tangannya terjulur untuk menepuk bahu Sehun. "Dia pasti akan segera siuman. Kau harus berprasangka baik akan hal itu, karna hanya sebuah keyakinan yang akan membuatmu merasa tenang."

Sehun mengangguk seadanya. Dia baru tahu anak itu memiliki sisi bijak seperti ini. "Bagaimana dengan Jinhwan?" mengalihkan topik pembicaraan, karna Sehun tidak ingin membahas Luhan untuk sementara waktu.

"Dia rajin mengunjungiku setiap sabtu. Membawakanku makanan enak, buku-buku agar aku tetap bisa belajar padahal aku benci membaca dan pastinya memberikanku semangat. Ah, aku jadi merindukan si mungil itu. Sedang apa dia sekarang, ya?" Hanbin tersenyum-senyum menggelikan, yang membuat Sehun mendengus. Setidaknya, nasib anak itu jauh lebih beruntung darinya.

Hanbin lalu merubah ekspresinya menjadi lebih serius, "Hey, sebenarnya aku ingin menanyakan ini padamu dari kemarin, tapi aku ragu."

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Tentang teman-temanmu. Mereka juga pastinya terlibat dengan kasus-kasus yang menimpamu, tetapi kenapa hanya dirimu yang ditahan?"

"Mereka awalnya ingin menyerahkan diri ke Polisi, karna bagi mereka tidak adil jika hanya aku yang di penjara. Tapi aku yang melarang dengan keras. Aku meminta pada Ayahku untuk membela mereka agar mereka tidak ditahan sepertiku. Aku akan jauh lebih menderita jika mereka bernasib sama denganku. Lagipula, aku adalah otak dari semua kasus ini. Mereka hanya mengikutiku, jadi tidak adil rasanya jika mereka terseret kedalam sel ini." Sehun ingat benar bagaimana kerasnya Chanyeol untuk bisa menemaninya didalam penjara dan liciknya rencana Chen untuk bisa membawanya kabur dari sel ini. Tentunya semua itu ditolak keras oleh dirinya, karna Sehun tidak mau mereka merasakan dinginnya ruang tahanan ini. Cukup dirinya saja yang merasakan, tidak untuk teman-temannya.

"Sikap altruisme-mu itu membuatnya menderita sendirian." Ketus Hanbin.

"Altru…"

"Altruisme." Tegas Hanbin. "Istilah filosofi. Kau mengorbankan kepentingan dirimu sendiri demi kepentingan orang lain. Jika aku ada di posisimu, aku akan menarik Bobby dan yang lainnya untuk ikut bersamaku. Enak saja mereka, kita membuat kejahatan bersama, kenapa hanya aku yang dipenjara?"

"Bukan orang lain, tetapi teman-temanku. Keluargaku sendiri. Dan aku tidak sepertimu, Hanbin." Sehun meralat dengan penuh tekanan. "Aku merasa ini jalan yang benar, karna aku tidak ingin mereka menderita karna diriku."

Hanbin merotasikan bola-matanya. "Aku baru tahu jika Oh Sehun adalah pahlawan bertopeng bajingan."

Sehun melempar sebuah bantal ke wajah anak itu. Hanbin terbahak dan membalas lemparan Sehun. Perang bantal tidak bisa dihindari, dan mereka mengabaikan teriakan kesal Junhoe yang tak sengaja terkena lemparan bantal dari tangan Hanbin. Aksi itu harus terhenti ketika seorang Sipir menghampiri sel mereka dan memerintahkan untuk makan malam.


.

.

.

.


Lima Bulan Kemudian..

Seseorang berambut cokelat madu itu berdiri didepan rumah yang memiliki gerbang raksaksa milik keluarga Oh. Memandangi bangunan pongah itu dengan pandangan berharap. Ditangannya ada secarik kertas yang tidak pernah dilepasnya dua hari ini. Menghela nafas, pemuda itu mengumpulkan keberaniannya untuk membunyikan bel di dekat gerbang. Tetapi belum sampai tangannya menekan bel, pintu gerbang sudah terbuka terlebih dahulu. Dari sana muncul seorang gadis berseragam SMU dengan rambut sepunggungnya yang mengagumkan. Gadis itu sedikit terkejut ketika melihatnya, dan begitupun dirinya.

Apa aku salah rumah? –pikir Luhan, pemuda itu.

Seingatnya keluarga Oh tidak memiliki anak perempuan. Luhan mulai menanyakan kemampuan otaknya dalam hal mengingat sesuatu. Tidak mungkin koma membuatnya amnesia.

"Kau mencari siapa?" Gadis itu bertanya.

Luhan tidak langsung menjawabnya. "Sebelumnya, apa ini rumah Tuan Oh?"

Gadis itu mengangguk. "Ya."

Dan Luhan enggan untuk bertanya siapa kiranya gadis didepannya ini. "Aku mencari Oh Sehun." Lidahnya terasa kelu untuk menyebut nama itu. Nama yang pertama kali hinggap di otaknya ketika dia baru membuka matanya setelah berbulan-bulan terbaring seperti mayat hidup.

Gadis itu terlihat gugup. "Dia sudah tidak tinggal disini."

Luhan merasa matanya memanas. Harapannya seperti dicabut paksa, dan itu rasanya menyesakkan sekali. "Di—dimana dia sekarang?" tenggorokannya kering mendadak membuat nada suaranya bergetar.

"Aku tidak tahu." Gadis itu menjawab. Raut wajahnya semakin tak terbaca.

"Kumohon, beritahu aku. Aku yakin kau mengetahui sesuatu tentang Sehun." Luhan memohon. Matanya mulai berair, dan Luhan berusaha untuk tidak menjadi lemah saat ini.

"Maaf, aku sudah terlambat pergi ke sekolah." Gadis itu menghindar, berjalan tergesa-gesa meninggalkan Luhan sendirian didepan gerbang dengan bahu melemas.

Luhan menunduk putus asa. Rumah ini adalah harapan terakhirnya setelah rumah-rumah teman-teman Sehun. Sekolah, klub Voltaire, basecamp, sampai Apartmen Sehun sudah ia datangi semuanya, dan hasilnya nol besar. Semuanya mendadak menghilang. Chanyeol, Baekhyun, Kai, Chen, Junmyeon, juga Yixing. Mereka semua tidak ada dalam pencarian Luhan. Tidak ada yang bisa Luhan tanyakan tentang keberadaan Sehun. Airmata keputus-asaan mengalir di pipi Luhan. Dia tidak akan lelah untuk mencari Sehun yang mendadak menghilang begitu saja tanpa alasan. Dia menyesal mengalami ketidak-sadaran diri selama berbulan-bulan jika saat sadar dia kehilangan semuanya. Apa yang terjadi ketika dia koma, hingga semuanya menghilang? Kemana mereka semua?

Luhan menghapus airmatanya dengan kasar, dan berjalan meninggalkan rumah Sehun dengan langkah terseret-seret.

Dia memandangi jari manisnya yang dilingkari oleh cincin perak cantik dengan ukiran nama Sehun disana. Sehun yang memberikannya ketika dia sedang koma. Luhan memandangi benda itu dengan sendu. Untuk apa Sehun memberikan cincin ini jika pada akhirnya pemuda itu malah meninggalkannya? Luhan berpikir, jika Sehun memang benar seorang keparat ulung yang tidak tahu diri. Berbagai pikiran buruk menghampirinya, tetapi berkali-kali dia kembali mempercayai Sehun ketika membaca surat yang ditulis oleh pemuda itu lima bulan yang lalu. Sangat menyesakkan ketika dirimu ditinggalkan begitu saja oleh kekasihmu tanpa alasan yang jelas. Luhan merasa ada bagian di dirinya yang hilang.

Kenapa kau melakukan ini padaku, Sehun?

Kau pernah berjanji padaku untuk terus bersamaku.

Kau pembohong, dan aku manusia paling bodoh karna sampai detik ini aku masih mempercayaimu.

Luhan kembali membuka lipatan kertas ditangannya, surat dari Sehun. Dan itu artinya dia semakin menyakiti dirinya sendiri ketika membaca kalimat demi kalimat yang ditulis oleh Sehun, beberapa hurufnya terlihat luntur, dan Luhan berhipotesa jika pemuda itu menulisnya seraya menangis. Tetapi menangis bukanlah gaya Sehun sama sekali. Mungkin Luhan hanya terlalu berharap.

Ketika kau membaca tulisan ini, itu artinya aku sudah tidak ada lagi disampingmu. Aku datang hari ini untuk memberi diriku sedikit kekuatan ketika aku sudah tidak bisa lagi bersamamu. Setidaknya, melihat wajahmu membuatku merasa lebih baik.

Luhan, ini bukan sebuah perpisahan. Kita pasti akan bertemu lagi, entah kapan. Aku tidak memintamu untuk menungguku, karna itu akan menyiksamu. Hiduplah seperti biasa dengan bahagia. Jangan pikirkan aku. Tolong.

Jangan berusaha mencariku, dan bertanya kepada orang-orang dimana aku. Dan jangan pernah mencari jawaban kenapa tiba-tiba aku menghilang. Ini perintahku.

Satu yang harus kau tahu, Aku sangat menyayangimu. Kau adalah duniaku yang sesungguhnya. Tetapi sebuah takdir mengharuskanku untuk meninggalkan duniaku.

Aku mencintaimu, Lu.

Sehun.

.

.

.


END—becanda oy!—TBC maksudnya. Hehe.


a/n : Bagian B bakal gue publish beberapa jam lagi atau mungkin besok (karna—yosh! Malem ini malem minggu, men. Gue mau ngeceng(?) dulu wakakak) karna kalo disatuin chapternya rasanya kurang greget wkwk. Pengetikan yang bagian B dikit lagi selesai kok, tapi ga janji malem ini. Happy ending atau sad ending, kalian bisa liat sendiri di chap terakhir selanjutnya. So, stay tune gaeeess! :D

p. s : kalo banyak typo, maafkan daku yang tak luput dari dosa ini

p. ss : maafff telat update (kebiasaan) sibuk demo kemaren(?)