This is the time, new chapter is coming~
Sebelum kita semua mulai membaca, nih, thanks a lot buat yang sudah mampir di fic ini... Author balas review dulu, ya~
Yuki HitsuChibi-chan: terima kasih sudah review.. Yang namanya perang mulut Kanda dan Allen emang ga ada matinya!
Qiqi: thanks for your review~ Seneng deh, kalo ada yang terhibur dengan cerita author *blush! Kalau episode anime-nya sih author ga terlalu ngikutin, soalnya yang manga lebih seru dan lebih detail. Belum ada waktu juga untuk nonton dan download anime DGM, kerjaan dunia nyata cukup menyita waktu *sweatdrop. Chara asli? Author pakai itu karena bagi yang baca akan lebih familiar daripada membuat OC ciptaan sendiri. Dan, author cenderung suka memakai side character, alias karakter pendukung di fandom asli. Kenapa? Karena author pengen mengeksplor karakter itu, tidak seperti karakter utama yang jelas udah dibahas habis-habisan di karya aslinya :) Tapi, tentu saja, setiap author punya pendangan dan ide sendiri...
akaisora hikari: Duel maut? Bukan duet maut? XDXDXD Yah, mereka kan emang sweeeeett banget kalo udah berantem. Seisi kebun binatang disebutin! Iya, cincin tunangannya itu punya kembarannya. Jadi jangan cemas *wink. Lagian hatinya Mas Kanda cuma buat satu cewek doang, kan~ Allen digigit? Paling dia gegulingan di rumput sama si Fenrir...
mike redcloud: thanks buat reviewnya~ Fic yang satu lagi? Hehehe... Author memutuskan untuk merampungkan fic yang terlanjur ngebut lebih dulu ini sebelum mengerjakan yang itu. Habis, Hogwarts: Battle of Two Worlds perlu riset lagi ternyata *bow.
myuu: teims review-nya Nih, chapter baru udah dataaanggg~
Femix842: Umbridge kapan keluar Hogwarts? Nanti kalau Kanda sukses bikin dia pingsan berdiri~ *grin
Nah, balas review udah, sekarang... HAPPY READING~
Chapter 21
Para penyihir dibuat terkesima oleh tingkah yang bisa dibilang 'unik' dari salah satu rekan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka. Bukan si gadis berwajah oriental itu, bukan. Melainkan si rambut putih. Allen Walker.
Waktu makan siang adalah salah satu waktu ketika seluruh warga sekolah berkumpul dalam ruangan yang sama. Jadi, mereka semua bisa menyaksikan sendiri bagaimana Allen, yang bersama Lenalee memilih duduk di meja Gryffindor dengan Lupin, Tonks, juga Mr dan Mrs Weasley, mengisi piringnya dengan gunungan makanan dan melahapnya dengan begitu cepat, tanpa meninggalkan tatakrama bak bangsawan kelas atas. Sangat berbeda dengan Timcanpy si golem emas pun turut 'membantu' Allen menyantap semua makan siangnya dengan menelan makanan dalam jangkauannya bulat-bulat.
"Aku belum pernah melihat seseorang makan sebanyak dan secepat itu," komentar Hermione, antara takjub dan jijik.
"Allen punya sistem metabolisme yang cepat, karena Innocence-nya Tipe Parasit. Itu membuatnya memerlukan makan lebih banyak dari orang biasa," jelas Lenalee.
Sementara itu, di meja guru, para penyihir yang lebih dewasa pun tampak takjub akan selera makan Allen yang luar biasa. Jelas, tak ada yang tampak lebih jijik dan benci daripada Umbridge.
"Dia memang benar-benar tidak punya sopan santun," komentar Umbridge dengan nadanya yang paling manis sekaligus paling menjengkelkan.
"Lucunya, Moyashi bahkan lebih Inggris daripada orang Inggris kebanyakan," kata Kanda datar sambil menyesap tehnya, membuatnya menerima tatapan ingin tahu dari para guru.
"Maksudmu?" tanya Profesor Sprout. "Anak itu... dia orang Inggris? Asli? Tapi aksennya..."
"Dia sering bepergian sejak dia masih kecil, begitu yang kudengar," sahut Kanda datar. "Dan Master-nya, seperti Master-ku, juga membawanya berpindah dari negara satu ke negara lain. Jelas itu menghilangkan aksen Inggris-nya." Kanda melempar tatapan sekilas ke Umbridge. "Tapi sikapnya yang seperti bangsawan Inggris kolot itu tidak berubah, benar-benar menjengkelkan."
Beberapa guru tersenyum mendengarnya. Dari interaksi sebelumnya, jelas keduanya memang tidak memiliki jenis hubungan persahabatan yang umum.
Namun saat itu Kanda mengambil sesuatu dari balik kimono-nya. Ternyata earpiece merahnya yang biasa. Kolega muda mereka itu memasangnya ke cuping telinganya, menjawab panggilan yang diterimanya. "Lena?"
Beberapa guru melempar tatapan ke meja Gryffindor, begitu pula Kanda. Gadis itu tersenyum ke arah Kanda.
"Kenapa repot-repot? Jarak kita hanya sepuluh meter..."
"Lebih gampang begini. Hanya mau memberitahumu, Lavi mengontak lewat Timcanpy," kata suara gadis Cina itu ringan.
"Kalau begitu suruh dia keluar."
"Ya ampun, dia hanya mau tanya keadaanmu saja. Kau pergi tidak bilang dia, kan? Dan Tuan Kazuhiro juga menanyakanmu. Ah! Lavi juga tanya tentang cincin..."
"Cincin?"
"Ya. Cincin pertunangan, katanya." Beberapa guru dalam jarak dengar langsung mendongak, menatap guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam itu dengan tertarik. "Kok bisa? Kau tunangan tidak bilang-bilang?"
Kanda mendengus sambil menggerutu sesuatu yang terdengar seperti 'dasar Baka Usagi,' dan memijat pelipisnya. "Lena, mana aku punya waktu untuk hal seperti itu. Cincinnya bukan punyaku; itu milik si Tuan Muda Takahashi itu. Mereka tidak sempat membuat duplikatnya dan akan mencurigakan jika aku tidak memakai itu, apalagi jika dekat dengan Nona Mifune. Jadi dia pinjamkan padaku dan aku lupa belum mengembalikannya."
Terdengar tawa kecil, "Ah, seperti itu. Kukira apa..."
"Dia masih menghubungi?" tanya Kanda. Lenalee menjawab pelan, tak bisa didengar para guru dari earpiece mungil itu. "Baik. Aku akan ke sana sebelum dia menggosip yang tidak-tidak tentangku."
Dan Kanda beranjak dari tempat duduknya, menuruni undakan dan langsung menuju meja Gryffindor.
"Kukira tadi sungguhan..." kekeh Profesor Sprout geli. Tapi, ditangkapnya piring kolega mudanya yang ditinggalkannya. Kosong. Tak ada tanda-tanda digunakan. Ia tidak mengambil makan siangnya.
Ketika Kanda tiba di tujuannya, dilihatnya Timcanpy masih aktif, membuka mulutnya, dan memproyeksikan wajah si rambut merah yang sangat dikenalnya lengkap dengan seringai jahilnya yang biasa. Lavi juga tampak menunjukkan beberapa gambar dirinya, tak salah lagi saat misinya di Jepang beberapa waktu lalu, dalam balutan kimono mewah bersama wanita cantik – Nona Mifune.
Kanda mengernyit jengkel, apalagi dilihatnya tak hanya Allen dan Lenalee yang melihat gambar-bambar itu, tapi juga beberapa penyihir sejauh jangkauan layar proyeksi Timpcanpy.
Bookman Junior sialan.
"Senang, Baka Usagi?"
Beberapa anak yang tak menyadari kehadirannya terlonjak kaget mendengar suara bernada jengkelnya. Seperti yang sudah diduganya, si Bookman Junior itu sama sekali tidak takut dengan ketidaksenangannya, justru, ia langsung tersenyum lebar.
"Yuu-chan!"
"Berhenti memanggilku begitu!" bentak Kanda otomatis, sementara Lenalee tertawa kecil dan Allen masih cuek, asyik memangsa kambing guling.
Seringai Lavi semakin lebar saja. "Kau kelihatannya oke! Serumnya bekerja baik, kalau begitu?"
"Kau bisa lihat sendiri," sahut Kanda datar.
"Kau ini bikin geger saja," celoteh Lavi. "Aku tidak pernah lihat kau seperti itu, tahu! Kukira pelatihanmu itu membuatmu kebal dengan berbagai jenis racun!"
Kanda menyapu pandang cepat; dilihatnya ekspresi kaget para penyihir. "Hampir semua. Beberapa tetap bisa membunuhku. Kenapa? Kecewa aku tidak mati?"
Dilihatnya Lavi yang memasang tampang melongo. "Aku tidak sejahat itu, Yuu-chan~ Ngomong-ngomong bagaimana kabar peliharaanmu itu?"
"Dia bisa membunuh akuma tanpa ragu di percobaan pertama," kata Kanda datar, tak mempedulikan ekspresi kaget sekaligus ngeri para siswa Hogwarts yang mendengarnya. Lenalee hanya menatapnya sambil menggelengkan kepalanya.
"Wah, bagus sekali! Oh, iya! Lihat ini!" Lavi menunjukkan foto-foto berisi potret dirinya. Ia tak tahu kapan si rambut merah itu mengambil semua gambar itu, meski ia ingat betul kapan ia mengenakan kimono seperti itu. "Aku ambil banyak pemandangan bagus selama misi kemarin."
"Kau sepertinya memanfaatkan waktu dengan baik sebagai 'pengawal'ku, ya kan?" Kanda menyilangkan tangannya di depan dada, tersembunyi lengan kimono-nya yang lebar.
Harry bertukar pandang gugup dengan kedua sahabatnya, bisa merasakan kejengkelan yang menguar di sekitar guru muda mereka itu, yang jelas tidak dirasakan Lavi. Jelas ia tak senang mendapati rekannya itu berhasil mendapatkan cukup banyak gambar dirinya, terutama dengan wanita Jepang jelita itu. Jujur saja, Harry nyaris tak mengenali gurunya dalam foto-foto tak bergerak itu. Meski rambut hitam panjang dan bentuk wajahnya sama, ada sesuatu yang mengaburkan identitasnya sebagai Yuu Kanda. Mungkin karena di foto-foto itu warna kulitnya satu tingkat lebih gelap, atau warna matanya berubah hazel dan tidak sedingin biasaya. Atau juga karena kesan intimidatifnya berganti menjadi lebih ke arah berwibawa, dengan pakaian mewah khas aristokrat Negeri Sakura itu.
"Haish! Kau tahu betapa membosankannya di sana, hanya mengawasi berhari-hari karena mereka tidak mau terlihat seakan semua kekacauan itu ulah mereka! Lagipula, sejak kapan kau perlu pengawal? Daripada aku bengong, lebih baik aku melakukan sesuatu yang produktif."
"Dengan mengambil fotoku?"
"Yep. Aku sedang mencoba berbagi hal nyata dari kemampuan ingatan fotografik-ku." Lavi meneliti foto-foto di tangannya. "Siapa yang tahu kalau hasilnya keren begini? Ah, kau cocok jadi model, Yuu-chan~ Dan aktingmu juga lumayan! Aku benar-benar tak menyangka dengan aktingmu di depan Nona Mifune! Kalau aku tidak tahu apa yang terjadi, aku akan mengira kau itu Tuan Kazuhiro! Sayang dia sudah ada yang punya. Salah satu tipeku sih..."
Harry melihat Lenalee menggelengkan kepalanya dengan geli sementara Kanda berdecih jengkel.
"Kalau hanya bicara seperti itu lebih baik kau pergi saja sa-"
"Bukannya akan lebih dramatis jika kau berhasil dapatkan Nona itu?" kekeh Lavi usil, mengabaikan beberapa pekik kaget anak-anak dalam jarak dengar. "Itu akan jadi –"
"Aku tak punya rencana membuat skandal, Baka Usagi," potong Kanda dingin. "Pergi sana."
"Aish, kau harus ambil risiko sesekali! Nanti kau tidak punya pacar, lho~"
"Aku tidak seperti kelinci bodoh yang senang dengan hal seperti itu." Kanda menyipitkan matanya. "Aku tidak sering jatuh cinta. Tapi saat itu terjadi, itu akan bertahan selamanya."
Hening langsung menyusul perkataan exorcist berambut panjang itu. Harry mengerling ke arah Ron, yang lagi-lagi kompak dengan kakak kembarnya, ternganga lebar sekali.
Sampai akhirnya secara bersamaan, Allen tersedak potongan daging ham dan ada suara gelas pecah, disusul suara tubuh jatuh – tapi bukan berasal dari tempat itu. Kelihatannya, suara itu datang dari tempat Lavi berada, yang detik itu mengeluarkan jeritan horor, bersama beberapa orang di belakang si rambut merah di sana.
"Gyaaahhh! Reever! Yuu mengatakan sesuatu yang romantis! Kosongkan aktivitas malam ini juga! Kita harus membuat Pengakuan Dosa! Besok akan kiamat!"
Dan mendadak saja, koneksi terputus. Timcanpy menutup mulutnya, sebelum mengepakkan sayapnya dengan santai dan bertengger nyaman di puncak kepala Allen yang sedang tercengang menatap rekannya itu.
"Akhirnya diam juga," gerutu Kanda.
Anehnya, Lenalee memukul lengan rekan berambut panjangnya sambil memasang wajah cemberut. "Kau buat mereka kaget lagi! Dan pasti Johnny yang pingsan tadi!"
"Dia bisa pingsan kapan saja dia mau, kau tahu dia sakit," kata Kanda cuek.
Lenalee memukul Kanda lagi, membuatnya menatap Lenalee tak senang, "Apa?" Matanya pun menangkap Allen yang tercengang di tempatnya, membuatnya mengernyit galak, "Apa?"
Allen mengerjap cepat dan kemudian memandang kaserol daging di depannya, "Ah, ini enak sekali." Si rambut putih kembali menikmati makanannya.
"Oh iya, bukannya Master-mu pulang hari ini?" Lenalee menatap Kanda lagi.
"Lalu kenapa kalau Pak Tua itu kembali? Dia kan –" Kanda tampak seakan teringat sesuatu, membuatnya menggerutu pelan. "Mereka lebih baik tutup mulut soal kemarin!"
"Kau kira mereka akan diam?" celetuk Allen. "Master-mu itu akan selalu tahu apa yang terjadi pada murid-murid berharganya. Apalagi kau itu 'anak laki-laki kesayangannya'."
"Aku tidak suka nada bicaramu itu, Moyashi."
"Banyak hal di dunia ini yang tidak kau suka, BaKanda."
"Tapi itu benar, kan?" Lenalee tersenyum kecil, sebelum Kanda melemparkan 'serangan balasan'. "Dia akan selalu temukan cara untuk mengetahui semuanya."
"Dia benar-benar mengganggu! Aku hampir dua puluh tiga tapi dia masih saja menganggapku bocah! Dan aku bukan anaknya!"
"Sama sekali tak mengubah apapun," kata Lenalee dan Allen bersamaan.
Kanda berdecih jengkel lagi. Ia baru saja bermaksud berdiri dari tempat duduknya ketika Lenalee terkesiap kaget menatapnya. Tak perlu untuk bertanya untuk tahu apa yang mengejutkan gadis itu; dirasakannya sengatan panas di hidungnya. Lenalee langsung memberikan sapu tangannya, yang diterima Kanda untuk menyeka darah dari hidungnya, mengabaikan tatapan kaget para penyihir. Kali ini ia benar-benar berdiri. Namun, Lenalee menyambar tangannya.
"Aku tinggalkan golemku." Kanda menyodorkan golem hitam miliknya. "Dia akan tunjukkan jalan ke manapun di Hogwarts."
"Tanganmu panas," ujar Lenalee, menatap tangan Kanda, yang dalam gerakan cepat melepaskan pegangan gadis itu. "Kau demam?"
"Aku baik-baik saja."
Kanda pun meninggalkan Aula. Lenalee mengawasinya sampai punggungnya menghilang dari pintu ek ganda itu dengan wajah cemas.
"Tidak biasanya dia mimisan sampai begitu," ujar Lenalee pelan, kembali duduk.
"Bak-san sudah menjelaskannya tentang ini, kan? Kanda itu anomali; hal yang umum tidak terjadi padanya. Dia beruntung bisa bertahan dari aconite, tapi tetap saja. Pastilah dosisnya cukup kuat sampai membuatnya begitu."
Meskipun demikian, Allen tahu kalau bukan hanya karena racun yang membuat rekannya itu masih mendapat efeknya setelah beberapa hari. Kanda harusnya tetap beristirahat untuk memulihkan diri, bukannya nekat terjun ke pertempuran ketika tubuhnya masih menerima kerusakan dari racun tanaman wolfsbane itu. Lihat sekarang. Efek racun yang 'ditunda' itu terjadi; demam tinggi sampai pembuluh darah di saluran napas atasnya pecah. Hebat juga dia masih bisa berdiri.
"Apa kau yakin dia baik saja?" tanya Mrs Weasley prihatin. "Tidakkah lebih baik jika dia ke Madam Pomfrey?"
Lenalee dan Allen bertukar pandang. Si gadis China itu justru tersenyum suram.
"Bahkan jika kami mengkhawatirkannya, dia tidak akan mau menerimanya." Lenalee menghela napas. "Dia akan baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat lebih, kurasa." Lenalee mengerling ke arah rekan rambut putihnya. "Allen, kau tidak berpikir Kanda serius soal yang tadi, kan?"
"Yang jelas bukan soal Master-nya, kan?" Allen berkata sambil menghabiskan porsi terakhir pudingnya. "Yah, kapan terakhir kali kau mendengarnya bercanda?"
Lenalee mengangkat bahu, "Dia tidak pernah bercanda."
Allen mengangguk-angguk. Lenalee langsung menoleh ke arah rekannya itu, tampak antusias.
"Jadi apa kau pikir Kanda itu... kau tahu? Seseorang yang disembunyikan dari kita semua?"
Beberapa mata, terutama para gadis, langsung menajamkan telinga. Harry dan Ron bertukar pandang setengah putus asa.
"Kenapa tidak tanyakan sendiri padanya, kalau begitu?" senyum Allen.
Lenalee memasang wajah cemberut lagi, "Memangnya dia akan cerita? Lagipula hidupnya selalu tentang misi, Mugen, misi lagi. Terus begitu."
Allen tampak berpikir, menggigit pudingnya perlahan, "Iya juga... Lagipula, menceritakan ulang tentang itu hanya akan membuka luka lama. Huh, dan dia mengejutkanku dengan mengatakan hal seperti itu tiba-tiba."
"Eh?" Lenalee mengerjap kaget. "Jadi memang ada?"
"Kurasa aku tidak berhak mengatakan apa-apa, Lenalee..."
"Kenapa tidak? Ini akan sangat menarik bukan? Maksudku, Kanda itu..."
"Kanda sudah menyerah."
Lenalee langsung terdiam. Beberapa penyihir yang mengikuti percakapan itu pun ikut menyimak, sementara kedua exorcist itu tampaknya abai pada sekitarnya.
"A-apa? Menyerah? Kenapa?"
Allen tersenyum suram, "Karena dia tahu itu sesuatu yang mustahil dimilikinya."
"Kalau dia mau membuka hatinya dan –"
"Seperti yang dikatakannya tadi, Lenalee. Itu akan bertahan selamanya." Allen menggeleng pelan. "Dia sudah menutup hatinya, kurasa. Lagipula cerita mereka terlalu banyak menyimpan luka dan tragedi."
"Kau tahu banyak hal tentang Kanda... Dia bahkan tidak memberitahuku..."
Allen berjengit kecil di tempat duduknya. "Aku tidak sengaja tahu... Memasuki pikirannya dan semua ingatannya waktu diserang Wisely." Allen menggelengkan kepalanya ngeri. "Sulit dipercaya... Kalau aku dia, kurasa aku tidak akan pernah waras dengan semua penderitaan itu."
"Allen..."
Lenalee tampaknya ingin bertanya, tapi urung dilakukannya. Bagi Harry, gadis itu tampaknya memahami sesuatu yang lebih dalam dari apa yang sudah dikatakan Allen. Harry sendiri sama sekali tidak mengerti sepenuhnya apa maksud perkataan si rambut putih, selain permukaannya saja. Bahwa guru muda mereka itu memiliki 'hubungan istimewa' dengan seorang wanita, tapi tampaknya hubungan itu sudah berakhir dan Kanda masih menyimpan orang itu dalam benaknya.
Ternyata dibalik sifat dinginnya dia tetaplah manusia biasa.
Harry menatap sekelilingnya, sementara dua exorcist itu sama-sama terdiam sekarang. Ia hampir tertawa melihat ekspresi beberapa gadis, termasuk Lavender dan Parvati, yang seakan menerima cairan ledakan bisul Mimbulus Mimbletonia tepat di muka mereka. Benar, kan? Mereka hanya bisa sebatas mengagumi si dingin nan kejam Yuu Kanda saja.
Mr dan Mrs Weasley sudah meninggalkan Hogwarts bersama Lupin dan Tonks setelah Ginny diizinkan meninggalkan rumah sakit. Mrs Weasley, berkali-kali mengucapkan terima kasih pada Profesor Kanda yang sudah menyelamatkan putri satu-satunya itu sampai Harry cemas guru temperamen itu akan menghentikan paksa aliran ucapan terima kasih itu dengan kasar. Untungnya si gadis Cina bernama Lenalee itu ada di sana dan jelas kehadirannya membuat Kanda tidak mengucapkan apapun yang 'berbahaya' dan tidak sopan. Kecuali berkali-kali kedutan muncul di ujung matanya, ia menerima ucapan terima kasih keluarga Weasley itu.
"Kau harus datang ke rumah kami untuk makan siang bersama di musim panas nanti jika kau ada waktu, Profesor," undang Mrs Weasley baik hati.
"Jika aku masih hidup sampai waktu it-" Lenalee buru-buru menempelkan tangannya di depan mulut Kanda sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, memberi senyum minta maaf pada ibu Ron.
"Itu akan sangat menyenangkan, bukankah begitu?" ujar Lenalee ramah, semantara Mr dan Mrs Weasley bertukar pandang heran.
"Tidak bisakah kau katakan sesuatu yang lebih sopan?" dengus Allen setelah para penyihir itu meninggalkan Hogwarts.
Kanda mendengus. "Kau bisa jamin aku masih hidup beberapa bulan lagi? Dengan semua misi gila itu?"
Ganti Allen yang mendengus. "Hanya karena kau begitu pesimis pada hidup, bukan berarti kau bisa seenaknya, Bego."
"Aku masih ingin mematahkan hidungmu, Moyashi."
Sebagai balasannya, Allen menjulurkan lidahnya, sambil menarik kelopak bawah matanya.
Melihat interaksi keduanya membuat Harry dan Ron bertukar pandang takjub. Mereka bisa berada di tempat yang sama dan jarak yang dekat, namun setiap kali itu terjadi, aura permusuhan akan terasa. Yah, mereka jelas akrab, namun bukan berarti tidak ada potensi saling mencekik satu sama lain.
Ternyata, baik Lenalee maupun Allen tinggal di Hogwarts lebih lama dari yang diduga Harry. Karena keduanya memilih duduk di meja Gryffindor, Hermione – tentu saja – memberanikan diri bertanya pada mereka. Alasan yang mengejutkan diberikan Lenalee, kalau mereka ada di sana untuk mendampingi Kanda sementara waktu selama satu minggu sebelum kembali ke Markas mereka. Cukup mengherankan, karena guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka itu selama ini tidak terlihat seperti membutuhkan bantuan serius.
Selama kehadiran keduanya, sedikit banyak Harry bisa membaca lebih banyak karakter guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam mereka itu. Selama ini memang memperlihatkan betapa ia adalah pribadi yang angkuh, dingin, tak bersahabat, dan bertemperamen tinggi. Namun, ia jelas mengecualikan sifat sangarnya terhadap Lenalee Lee. Sangat berbeda jika berdekatan dengan Allen, Profesor Kanda terlihat biasa jika dengan Lenalee. Senormal interaksi Harry dengan Hermione, malah. Ia bahkan menuruti apa yang diminta gadis Cina itu, termasuk tidak melontarkan serangan verbal balasan setiap bertengkar dengan si rambut putih.
Tak heran banyak gadis yang iri dengan kedekatan Kanda dan Lenalee.
Yah, mengesampingkan soal itu, ada hal yang lebih penting yang dihadapi Harry sekarang. Dengan kembalinya Kanda ke Hogwarts, ke kelas, dan ke subyek yang diajarkannya, itu berarti dimulainya kembali rutinitas tak menyenangkan di Pertahanan terhadap Ilmu Hitam. Kanda memberi mereka deraan melelahkan lagi, tatapan mencemooh dan angkuhnya, juga tentu saja, cercaan super pedasnya.
Sebulan lalu, setelah mempelajari memukul mok yan jong, ditambah dua minggu absennya, mereka berpindah ke menggunakan toya sebagai alat bantu pertahanan diri. Hardikan profesor muda itu masih tak berkurang ketika mengajari mereka. Ia acuh saja ketika beberapa anak tak sengaja menghantamkan toya ke wajah mereka sendiri alih-alih ke tubuh lawan. Sungguh membuat iri bagaimana profesor itu tampaknya mudah saja memutar tongkatnya sebelum tanpa segan menunjukkan betapa jauhnya kemampuan mereka dengan dia.
Kanda jelas tidak peduli cercaan Umbridge yang mengkritik 'rencana pelajaran yang tak disetujui Kementerian' tempo dulu. Ia bahkan tak terpengaruh ancaman Umbridge tentang hukum sihir. Harry pribadi harus mengakui kekeraskepalaan, sekaligus takjub pada kecuekan dan keberanian – atau kenekatan? - guru muda itu. Ia jadi penasaran sendiri, akankah Umbridge berhasil memecat Kanda, atau si rambut panjang itu bisa bertahan sampai akhir tahun ajaran?
"Wah, wah, wah. Kanda, yang benar saja."
Semua mata menoleh. Dilihat oleh mereka Allen Walker berdiri di ambang pintu sambil menyilangkan tangannya di depan dada. Ujung bibirnya terangkat dalam seringai mengejek. Bersamanya, Timcanpy si golem emas bertengger nyaman di atas kepalanya.
"Kau harusnya lebih menunjukkan perasaan dan bukannya jadi tokoh antagonis di sini."
Para murid langsung menatap guru muda mereka yang matanya menyipit jengkel pada rekannya itu.
"Aku tak ingat minta pendapatmu, Moyashi."
Mata abu-abu yang tadinya terarah pada mereka langsung tertuju pada Kanda, tampak sangat kesal. "Namaku Allen!"
"Aku tidak peduli." Kanda mengacuhkan rekannya yang melotot galak padanya itu, justru mengarahkan ujung toya yang dipegangnya ke Allen dengan sikap menantang. "Karena kau sudah di sini, kenapa kau tidak buktikan saja betapa antagonisnya aku?"
Allen mengerjap. "Memang tidak apa-apa? Kau kan –"
"Aku hanya tidak boleh memegang Mugen dan itu bukan berarti aku tidak bisa melakukan apa-apa." Kanda melemparkan salah satu toya yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Allen. Kanda mengambil toya yang lain sambil mengedikkan kepalanya. Harry melihat Allen memahami isyarat itu dan masuk ke ruangan setelah menutup pintu di belakangnya.
"Sekarang," Kanda berjalan ke tengah ruangan yang disediakan sebagai area sparring mereka sebelumnya, diikuti Allen yang melempar senyum ramah pada seluruh ruangan, "kalian akan melihat sendiri contoh menggunakan ini. Empat pukulan ke lawan, berarti menang." Kanda menatap Allen dingin. "Jangan menahannya, Moyashi."
Allen mencibir. "Menahan diri jika menghadapimu berarti cari mati."
Kanda memutar tongkatnya dan mulai memasang kuda-kuda. Dengan gerakan sedikit berbeda, Allen juga bersiap. Harry dan Ron bertukar pandang; sepertinya ini akan menarik.
Namun ternyata, itu lebih dari sekedar menarik.
Bonus: Omake
Remus Lupin, Yuu Kanda, dan Yoru
Remus Lupin tidak ingin menghabiskan waktu berlama-lama di dalam Aula Besar. Bukan karena anak-anak yang tidak lagi menerimanya setelah tahu siapa dirinya; justru mereka masih mau menyapanya. Ia hanya tidak ingin berada di ruangan yang sama dengan salah satu orang terpercaya Cornelius Fudge. Yeah, apalagi orang itulah yang dulu menentangnya untuk bisa bekerja di Hogwarts. Orang yang sama yang mendukung penuh sistem sihir bebas keturunan campuran. Bahkan meskipun ia berdarah murni, ia tahu Dolores Umbridge tak akan mengakuinya yang bisa menjadi serigala tiap malam purnama.
Memutuskan untuk sedikit bernostalgia, Lupin berjalan-jalan melintasi halaman sekolah. Mungkin layak memberi kunjungan kecil ke Hagrid yang juga tadi tidak ada di Aula.
Meski baru dua tahun lalu terakhir kali ia ada di Hogwarts, sekolah ini ternyata tidak banyak berubah. Rerumputannya masih saja tinggi dan tepi Hutan tampak sama mencekamnya, meski sebenarnya tidak seberbahaya namanya. Namun, ketika ia semakin dekat dengan pondok Hagrid, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Seakan ia diawasi.
Ia berhenti sejenak, menatap sekelilingnya. Tepian Hutan itu sepi. Tak ada siapapun yang terlihat di sana. Tapi ia tak meragukan inderanya. Menjadi manusia serigala memberi keuntungan untuk seluruh panca inderanya, ditambah insting hewannya.
Dan kemudian, suara derak membuat ia menoleh. Dari pepohonan muda di tepi Hutan Terlarang, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam Hogwarts muncul, bersama seekor serigala paling besar yang pernah dilihat Lupin. Tubuhnya hampir sebesar beruang, berdiri gagah dengan empat kakinya yang kokoh. Bulunya yang abu-abu dan biru kehitaman itu tampak lebat. Ekornya yang lebih panjang dari serigala umumnya mengibas anggun di belakangnya. Kedua matanya semerah rubi, ditambah sesuatu seperti batu giok berwarna hijau yang seakan ditanam di dahinya. Serigala itu mengeluarkan dengusan pelan.
"Kukira siapa yang datang," kata si guru muda itu datar, meletakkan tangannya di belakang telinga si Fenrir.
Lupin mengerjap cepat. Ia tidak tahu kalau exorcist jangkung itu ada di sini. Hawa keberadaannya nyaris kabur. Lagipula, bukannya tadi ia meninggalkan Aula karena mendadak mimisan? Kenapa dia ada di sini?
"Sudah lebih baik?" tanya Lupin, bergerak mendekati pria muda itu. Kanda mengerlingnya sekilas.
Lenalee hanya senang khawatir berlebihan," katanya datar.
Lupin menahan keinginannya untuk tersenyum. Dari melihatnya saja, ia sudah bisa menebak karakter seperti apa Yuu Kanda itu, selain informasi yang diterimanya dari Kepala Sekolah. Anak muda yang angkuh, sangat percaya diri akan kekuatannya, dan juga temperamental. Tipe orang yang tidak akan mengakui kelemahan di depan orang lain.
"Jadi," Lupin memutuskan untuk tidak menyinggung keadaan si guru muda itu, "itu Fenrir."
Kanda mengeluarkan gerutuan pelan, sementara si serigala besar menatapnya lurus. Sungguh mengherankan tatapan matanya jauh lebih mengintimidasi daripada posturnya. Ia ingin tau bagaimana makhluk liar nan langka itu seperti anjing jinak di depan Yuu Kanda.
"Seharusnya ini tidak mengejutkanmu," kata Kanda datar, "melihat sesuatu yang familiar. Jangan tersinggung," tambahnya masih tanpa irama.
Untuk sejenak, Lupin tertegun.
"Tidak terlalu sulit untuk mengetahuinya," kata Kanda lagi, sementara si Fenrir yang diberinama Yoru itu mendengus pelan, mengarahkan moncongnya ke arah Lupin. "Dan aku juga tanyakan ke Kepala Sekolah untuk memastikannya."
Lupin mengulas senyum suram. "Yeah. Kau benar. Tapi, ini benar-benar pertama kali aku melihat makhluk ini."
"Yoru mengenali bau yang mirip dengan jenisnya," kata Kanda pelan.
"Tentu saja." Lupin tersenyum suram.
"Apa melihatnya membuatmu ingat akan sesuatu?" tanya Kanda tak berirama.
Manusia serigala itu mengerjap cepat. Tak disangkanya kalau Yuu Kanda cukup jeli melihat hal-hal tertentu. Ia tak bisa menahan keinginannya untuk tersenyum muram. "Sedikit. Bukan sesuatu yang... menyenangkan."
"Mereka tidak menggambarkan transformasi manusia serigala sebagai sesuatu yang menyenangkan," gumam Kanda.
Lupin menggeleng pelan. "Bukan tentang bagaimana aku berubah, lebih seperti... siapa yang mengubahku."
Mata biru gelap itu terarah padanya.
"Namanya Fenrir Greyback."
Kanda mengerjap beberapa kali, sebelum mengeluarkan dengusan pelan. "Karena nama."
Lupin hanya menggangkat bahu. Mungkin bagi pria muda itu nama hanyalah nama. Tapi baginya, nama itu adalah mimpi buruknya. "Tidak hanya aku yang memikirkan hal lain karena nama itu. Dia adalah teror bagi para korbannya dan juga sebagian besar penyihir. Monster, begitu mereka menyebutnya."
"Monster..." Kanda menggaruk belakang telinga Yoru dengan gerakan pelan. "Mereka bisa berwujud apa saja, dari makhluk penyebar teror ataupun makhluk buas. Banyak yang tidak tahu bahwa kita semua memiliki potensi menjadi salah satunya."
Lupin menatap Kanda dengan tercengang. Apa yang sebenarnya dimaksudkannya?
"Kau takut pada namanya. Kau takut pada sosoknya. Apa itu yang benar-benar yang kau takutkan?"
Tidak. Bukan. Yang justru paling ditakutkannya adalah dirinya sendiri. Dirinya yang bisa saja melukai yang tak bersalah ketika dia berubah.
Tampaknya Kanda mengetahui jawabannya dari ekspresi wajah yang diperlhatkannya. "Aku juga hidup dengan cara itu; ditakuti karena apa yang bisa kulakukan. Dan aku tahu ada benarnya juga."
"Kau bukan monster," kata Lupin segera. Bagaimana mungkin anak ini disebut seperti itu, tak peduli bagaimana dulu Dumbledore mendeskripsikannya sebagai pemuda yang kuat dan ahli di medan tempur. Dia jelas mengangkat senjata demi kemanusiaan. Orang seperti itu sama sekali tak pantas disebut sebagai monster. Tak peduli betapa dingin sekaligus temperamentalnya Yuu Kanda.
Dan mengherankan melihat lawan bicaranya itu kembali mengeluarkan dengusan pelan lagi, penuh ironi. "Kau tidak tahu aku." Ia menggeleng pelan. "Master-ku pernah mengatakannya padaku, kalau dalam diri kita, ada sisi yang membuat kita bisa menjadi sesuatu yang mengerikan yang tak terbayangkan sebelumnya. Kita tak akan pernah bisa mengalahkannya, atau menyingkirkannya." Kanda menatap si manusia serigala. "Kita hanya bisa mengendalikannya. Dan dia benar."
Lupin menatap penerusnya sebagai guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam Hogwarts itu dengan takjub. "Bagaimana kau melakukannya?"
Kanda mengangkat bahu. Sementara itu, si Fenrir bergerak mendekati Lupin sembari menatapnya dengan mata rubinya, seakan menilainya. "Yang aku tahu, jika aku membiarkan sisi itu menguasaiku, aku tidak akan pernah menjadi manusia. Dan aku," Kanda menghela napas, "tak akan punya alasan untuk hidup."
Yoru sang Fenrir menyundul halus sisi kepala Lupin. Dengusan teratur napasnya bisa didengarnya. Untuk pertama kalinya, ia tak melihat serigala yang bahkan lebih besar dari transformasinya itu bukan sebagai cerminan makhluk buas yang menghantuinya selama bertahun-tahun. Yoru hanyalah seekor serigala. Serigala mistis yang langka. Dan Yuu Kanda bukanlah petarung atau seorang guru. Dia hanyalah pria muda yang tahu bagaimana membawa hidupnya. Sesederhana itu.
