4 Hours After Rain

( • )

Dua hari ini, Fang absen karena masalah kesehatan.

Sedari kemarin, ponselnya terus menampakkan notifikasi aplikasi chatting. Itu Ocho yang sedari kemarin spam chat padanya. Sahabatnya itu merajuk karena Fang tidak memberi kabar. Pada akhir chatting mereka, Ocho mengatakan bahwa ia akan ke apartemen Fang sepulang sekolah.

Sebenarnya kesehatan sudah membaik kemarin dan pemuda itu berniat masuk hari ini. Namun sang ibu justru mencubit pipi gembilnya dan melarangnya untuk masuk hari ini. Beliau bilang, "Kamu tuh jangan terlalu serius belajarnya, jadinya sakit 'kan."

Padahal dirinya sakit bukan karena terlalu serius belajar, melainkan karena hujan-hujanan dan tidur di lantai. Tapi Fang tidak mungkin mengatakan itu dan memilih untuk menuruti perkataan sang ibu. Jadilah hari ini Fang bermalas-malasan di kasurnya, sungguh pemuda itu tidak tahu harus melakukan apa untuk mengusir rasa bosan. Bahkan ibunya melarang menyentuh buku pelajaran sebelum jam tujuh malam.

Jadilah Fang berbaring malas di kasurnya sembari menunggu Ocho berkunjung ke apartemennya.

Jam menunjukkan bahwa sebentar lagi tepat tengah hari saat Fang mendengar bel berbunyi. Pemuda itu dengan tidak rela menghampiri pintu untuk mengetahui siapa tamu yang berkunjung. Begitu pintu terbuka, tampaklah Ocho yang berdiri dengan senyum manisnya. Sahabatnya itu masih mengenakan seragam sekolah, kedua tangannya menenteng dua kantong plastik.

Ocho masuk tanpa menghiraukan Fang yang masih berdiri di ambang pintu. Sementara Fang masih berpikir mengapa sahabatnya ada di sini sekarang, karena seingatnya jam pulang sekolah tidaklah secepat ini. Oh ayolah, absen dua hari tidak membuatnya lupa jam pulang 'kan?

"Kok kamu di sini? Kan belum pulang."

Ocho mengatakan mereka dipulangkan lebih cepat hari ini. Pemuda itu berucap, "Tadinya, Shielda meminta kita untuk berkumpul dulu. Tapi 'kan aku sudah janji mau ke sini, jadi aku kabur."

"Kenapa kabur? Ada Shielda lho, kamu suka dia 'kan?"

Ocho sudah duduk nyaman di sofa, "Ya nggak bisa gitu, kamu 'kan sahabatku. Jelas kamu lebih penting lah!"

Fang jadi ingat urusan mading yang belum selesai karena Ocho menyebut Shielda.

"Madingnya gimana?"

"Kurang 50%. Makanya kamu cepet masuk, jangan sakit terus. Lagian kamu sakit kenapa sih? Kamu hujan-hujanan?"

Pikiran Fang langsung melayang pada sosok Boboiboy kala mengingat sore di mana dirinya kehujanan. Fang tidak mengerti ada apa dengan dirinya, entah kenapa bayang-bayang Boboiboy sering datang tiba-tiba. Sementara itu Ocho yang merasa tidak ada jawaban dari Fang itu melihat sang sahabat yang melamun.

"Ya udah iya, yang penting kamu udah baikan," ucapnya, "ayo makan, aku mampir beli makanan tadi!"

Fang masih diam di samping Ocho, meski tangannya mulai menyuapkan nasi ke mulutnya.

"Boboiboy tadi masuk sekolah?"

Ocho yang sedang mengunyah makanan langsung beralih menatap Fang.

"Hah?"

Fang merutuki mulutnya sendiri ketika melihat raut wajah Ocho. Mengapa bisa dirinya menanyakan hal itu pada Ocho?

Sepertinya ada yang salah dengan Fang.

( • )