COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 21
Just to let you know
Exactly the way I feel
To let you know my love is for real
-"Because I Love You", Lionel Richi-
Lalu, aku mulai mengerti diriku sendiri.
Hyukjae meneguk coklat hangatnya yang sudah dingin, lalu kembali memeriksa kain-kain yang akan dibawa ke pasar. Sebagian sudah rampung oleh pegawai Bibi Jang kemarin sore. Tapi, karena hari ini pegawai yang masuk hanya beberapa orang, Hyukjae ikut membantu.
"Kau tidak boleh begitu, kebahagiaan yang sempurna itu terasa kalau kita tidak merasakannya sendirian. Manusia bukan dinilai dari masa lalunya kan?"
Hyukjae tidak sengaja mendengar ucapan salah seorang buruh kepada temannya. Tiba-tiba, dalam benaknya, bergaung suara Yesung. Donghae tahu apa yang hilang dalam hidupnya. Hyukjae menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata. Ini bagian terberat yang menusuk-nusuk kesadarannya. Ia berusaha keras menyingkirkan Donghae dalam hidupnya, tetapi tidak ada satu pun yang bisa melepaskan lelaki itu dari dalam pikirannya.
Sudah seminggu Hyukjae tidak mengajar. Kim Sonsengnim mengabarkan ada keponakannya yang menjadi guru cadangan. Pikiran dan emosinya berkecamuk. Hyukjae tidak mau apa yang dirasakannya berpengaruh terhadap anak-anak. Anak-anak itu pun tidak akan mengerti yang dirasakannya. Bahkan, bukan hanya mereka, dirinya sendiri juga tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.
Sedang apa Haru sekarang? Hyukjae mendesah pelan. Lamunannya selalu mengaruh pada gadis kecil itu. Sesekali, ia suka menyentuuh lukisan tangan mungil Haru untuk mengingat keriangannya.
Kali ini, Hyukjae tidak memungkiri bahwa anak kecil bermata bulat pekat itu membuatnya tahu kehilangan yang benar-benar kehilangan. Haru memang anak yang membuat hidupnya luluh-lantak, tetapi dia juga anak yang memberikan napas lain.
Hyukjae mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba menahan tangisnya. Ia mengalihkan pikirannya dengan kembali melipat kain-kain didepannya dan menumpuknya bersama kain-kain yang sudah selesai di periksa. Matanya terpejam sesaat.
"Hyukjae"
Pemilik nama mengangkat wajah, melihat Sungmin berjalan ke arah bangku tempatnya duduk. Sahabatnya itu duduk di sampingnya, menatap sejenak kain-kain berwarna di depannya, lalu meletakkannya kembali.
"Hyuk, aku dan Kim Sonsengnim sepakat untuk memberikan waktu liburan buatmu. Kau kan tidak pernah cuti selama ini," ujar Sungmin.
"Ming, aku tidak perlu—" Raut wajah Hyukjae bingung.
"Kau perlu, Hyuk." Tegas Sungmin.
"Anak-anak?"
"Aku dan Kim Sonsengnim yang urus," Sungmin menepuk punggung tangan Hyukjae. "Jadi, apa yang aku putuskan sekarang? Untuk kalian—kau dan Donghae?"
Hyukjae menelan ludah susah payah. "Tidak ada. Dan, memang tidak ada apa-apa lagi antara kami."
"Hyuk, jangan begitu." Sungmin kini menggenggam tangan Hyukjae, memberi keyakinan. "Kau mencintainya, itu kenyataannya."
"Aku memang mencintainya, Ming." Dada Hyukjae bergemuruh. "Tapi, aku tidak ingin mengulangi hal yang sama. Aku takut kehilangan. Takut merasakan sakit lagi."
"Hyuk..." Sungmin menatapnya lekat. "Kau tidak sadar apa yang sekarang terjadi?"
Hyukjae mengernyit. "Maksudmu?"
"Kau kehilangan Donghae dan Haru. Kau juga merasakan sakit, kan?"
Hyukjae terdiam, mencoba untuk berpikir jernih. Matanya menatap lurus kepada sahabatnya. Gemuruh dalam dadanya berubah menjadi debaran halus. Ada ngilu meremang di antaranya.
"Hyuk, aku tahu ini tidak akan mudah untuk siapa pun." Sungmin lebih tenang. "Siapa yang mau gagal membangun rumah tangga? Siapa yang mau dikhianati? Tidak ada. Kau pernah berpikir pertemuan kalian itu takdir? Mungkin, Tuhan ingin menunjukkan jalan lain. Jalan yang terbaik untuk kalian."
Hyukjae masih terdiam. Otaknya terus mencerna apa yang dikatakan Sungmin. Keberadaan buruh-buruh yang ada di sekitar mereka terasa samar. Hanya ada dirinya dan pikirannya. Tubuhnya seakan membeku seketika, tidak dapat bergerak sedikit pun.
"Ingat kataku, kan, Hyuk? Tidak ada yang lebih sederhana dari memaafkan. Memaafkan diri sendiri. Memaafkan Donghae. Memaafkan masa lalu." Sungmin tersenyum tipis.
Hyukjae memeluknya. Semua kata-kata Sungmin membuat perasaannya campur aduk. Ia memejamkan matanya erat, membiarkan air matanya bergulir ke pipinya.
.
.
.
"Masih tentang Donghae?"
Hyukjae menghela napas mendengar pertanyaan Hyung-nya. Ia memejamkan mata, tahu kisahnya akan membosankan jika terus-terusan dibahas. Tapi, saat ini, ia benar-benar tidak punya jalan keluar. Kepalanya terasa penuh dan penat. Ia tidak mampu berpikir.
Leeteuk Hyung di seberang ikut mengembuskan napas, mengerti arti diam adiknya. "Walaupun Hyung sebenarnya masih kesal dengan Donghae, Hyung tahu dia juga cuma manusia—tempatnya salah dan lupa. Donghae sadar kesalahannya, ingin membuka mata hatinya, dan melihat apa yang harus diperjuangkannya. Iya, kan?"
Tubuh Hyukjae gemetar mendengar kata-kata Leeteuk Hyung. Ia perlu waktu beberapa saat untuk menyerap maknanya. Dan, semua yang dikatakan Leeteuk Hyung benar. Tapi, ia masih tidak menemukan jalan untuk mengatasi semua ini. Dadanya sesak. Matanya penuh air. Ia ingin menangis, tapi khawatir Leeteuk Hyung marah karena untuk Hyung-nya itu, menangis bukanlah penyelesaian.
"Terserah kau sekarang, Hyuk. Yang bisa memutuskan hanya dirimu sendiri. Hyung cuma ingin bilang, cinta bukan hanya memberi dan menerima, tapi juga memaafkan." Saat mendengar rengekan seorang anak kecil, Leeteuk Hyung buru-buru menyudahi telepon.
Hyukjae membuka mata seraya meletakkan ponselnya diatas tempat tidur dengan lemas. Terkadang, Hyukjae iri pada kuatnya hati Leeteuk Hyung. Enam tahun mengurus kedua anaknya sendirian setelah Kangin Hyung, suaminya, meninggal.
Hanya satu alasan Leeteuk Hyung yang membuatnya tetap kuat menjalani hidup: Kim JungWoon dan Kim SuYoung—kedua anaknya.
Air mata mulai memenuhi pelupuk mata Hyukjae membayangkan kehidupan Hyung-nya yang tidak mudah. Mungkin Leeteuk Hyung kurang satu hal mengenai cinta, yaitu menguatkan. Betapa pun hati Leeteuk Hyung menangis menghadapi kepergian Kangin Hyung. Betapa pun hidupnya gamang karena harus membesarkan anak-anaknya tanpa pendamping. Betapa pun berat mencari nafkah dari usaha tempat makannya.
"Kangin Hyung itu hal terindah untuk hidup Hyung," Leeteuk Hyung mengucapkannya dengan tersenyum dan tanpa air mata. Hyung-nya memang tidak pernah terlihat menangis, hanya berkaca-kaca. Sekali Hyukjae melihat air matanya bergulir, saat peringatan sebualan kematian Kangin Hyung.
Apa ia sanggup sekuat Leeteuk Hyung? Apa ia sanggup melepas semua keraguan dan percaya pada Donghae?
Hyukjae memejamkan matanya. Berbagai macam perasaan merasuki dirinya. Air matanya bergulir. Ia memang berbeda dengan Leeteuk Hyung, tidak bisa menahan untuk tidak bisa menangis. Cengeng.
Hyukjae melihat foto pernikahannya dari dalam laci. Mereka tersenyum, menatap masa depan cerah dan terang seperti yang mereka bayangkan.
"Akhirnya aku mendapatkanmu," bisik Donghae seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya. Mereka berdiri didepan altar, mengikuti fotografer mengatur gaya. Pengucapan janji suci baru saja berlalu.
"Ya." Jawab Hyukjae pelan. Tangannya menggenggam erat tangan suaminya.
"Aku bahagia, Hyuk." Ujar Donghae cepat sebelum kamera mengambil gambar mereka.
Sembilan tahun lalu.
Delapan bulan kebersamaan mereka di kota ini. Dan kini, tanpa terasa, sudah lima bulan merek berpisah untuk kali kedua.
"Aku percaya, Tuhan menyatukan aku denganmu, karena takdirku ada padamu."
Mengingat perkataan Donghae itu, membuat Hyukjae lekas meletakkan foto di atas meja kecil di samping tempat tidur. Dalam lima bulan ini, ia berusaha melupakan semua kenangan, tetapi sayangnya, ia tidak mampu. Digigitnya bibir merasakan rasa kehilangan semakin menekan ulu hati. Jika Donghae mengatakan mereka masih punya harapan—sekecil apa pun itu—mungkinkah ada akhir cerita yang lain untuk mereka?
"Kau satu-satunya alasan kenapa aku tetap disini, Hyuk. Aku ingin terus bersamamu."
"Donghae rela melepas semua keinginannya demi mengejar apa yang hilang itu. Untukmu, Lee Hyukjae."
Hyukjae meletakkan foto itu kembali ketika merasakan dadanya sesak. Mungkin ia terkesan munafik dengan menolak Donghae. Tapi, hanya itu yang ada dalam pikirannya. Berharap bisa lebih bahagia tanpa kehadirannya. Berharap yang terbaik juga untuk mereka. Namun, sayangnya, Sungmin benar. Donghae sudah pergi sekarang, dan—lucunya—ia berharap bisa memutar kembali waktu.
Hyukjae bangkit dari sisi tempat tidur, meraih handuk, dan melangkah ke kamar mandi tanpal memedulikan apa pun di sekitarnya. Sesaat di tatap bayangan dirinya di cermin kamar mandi. Wajahnya tirus, matanya sedikit bengkak dengan lingkaran hitam samar, tulang-tulangnya menonjol. Tubuhnya memang terasa lebih ringan—mungkin kehilangan beberapa kilo beratnya.
Guyuran air dingin seakan menembus pori-pori kulitnya. Terasa segar. Namun, menandak kepalanya disergap pening yang menyengat dan perutnya yang bergejolak, mual. Hyukjae membungkuk, menumpahkan isi perutnya hingga tubuhnya lemas dan merapat pada dinding. Tanpa bisa ditahan, Hyukjae memeluk lututnya, membiarkan dingin kamar mandi menyelimuti tubuh telanjangnya. Ia terisak, meluapkan sesaknya.
Aku merindukan mereka. Ia ingin melewati hari bersama kedua orang itu. Ia ingin melihat tawa dan senyum mereka. Ia ingin merasakan lemut tangan Donghae menyentuhnya, hangat napas Donghae di wajahnya, ciuman ringannya, sorot gelap mata pekat itu.
Matanya semakin memburam.
Tak ada yang tersisa.
Semua sudah benar-benar berakhir.
Hyukjae menelusuri lantai. Tidak ada jalan apa pun di sana. Ia terperangkap dalam kebimbangan yang menyesakkan. Terjebak di sebuah jalan buntu yang membuatnya tidak bisa keluar dari sana.
.
.
.
Sehingga aku bisa mengerti dirimu.
Aroma mint, cokelat dan strawberry berpadu dari tiga gelas es krim di depan Hyukjae. Ia duduk sendirian memandangi ketiga es krim itu. Belum di sentuhnya sama sekali. Ia sendiri tidak tahu apa yang membawanya ke tempat itu. Mungkin, keinginannya menikmati cairan dingin dan manis ini. Mungkin, keinginannya mengenang apa yang tertinggal disini. Atau mungkin alasan lain yang benar-benar tidak ia mengerti.
Perlahan-lahan, Hyukjae menyendok satu-satu es krim. Merasakan perpaduannya. Rasa manis mint, cokelat, dan strawberry menyebar dalam rongga mulutnya. Dalam matanya, ia melihat Haru duduk didepannya. Anak itu sedang menyuap es krim penuh semangat sampai memenuhi sekitar mulutnya. Senyum Haru mengembang, menunjukkan lesung pipinya. Menggemaskan. Menatap pipi bulat, rambut dikucir dua, dan sepasang mata pekatnya.
Di samping Haru, Hyukjae melihat Donghae mengenakan kemeja putih bergaris tipis yang pernah ditumpahinya dengan es krim. Donghae sedang disana dengan pesona gelap matanya, menatap lurus. Hyukjae tersenyum. Ia ingin menyapanya. Ingin Donghae meraih tangannya dan mengatakan tidak akan pergi. Tidak akan pernah pergi. Namun, lelaki itu diam. Hanya menampakkan senyum tipis.
Hyukjae mengulurkan tangan ingin meraih tangan Donghae, tetapi kedua orang itu mendadak hilang. Dikerjapkan matanya yang memanas, bertahan untuk tidak menangis. Ia sadar sedang sendirian di sana. Begitu lengang. Kosong. Hampa. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjadi bahagia. Semua sudah berlalu, menghitam, gelap.
Drrt.
Donghae.
Nama itu tertera di layar ponsel itu. Jemari Hyukjae tak berkutik di depan layar ponselnya. Apakah Tuhan mendengar doanya? Apakah lelaki ini memang takdirnya? Perlahan, ia menekan tombol dan menunggu Donghae menyapanya lebih dulu.
"Halo, Sonsengnim, ya?" terdengar sapaan nyaring dan riang.
Haru! Hyukjae hampir memekik senang mendengar suara itu. Kalau ia pernah mengatakan anak ini adalah mimpi buruk, kali ini, cukup dengan mendengar suaranya, ia merasa sedang bermimpi sangat indah. "Halo, Sayang."
"Sonsengnim, Haru kemarin menang lomba gambar! Terus, Appa belikan boneka beruang warna cokelat. Jadi, sekarang boneka beruang Haru ada dua, Sonsengnim." Anak itu berceloteh penuh semangat.
Hyukjae merasakan dadanya menghangat. "Haru pintar!" senyumnya mengembang. Seandainya ia bisa berada di dekatnya, ia akan memeluknya, menciumnya. "Haru sekarang sedang apa, Sayang?"
"Sedang menemani Appa. Soalnya, Appa sedang sakit."
"Appa sakit?" ucap Hyukjae lirih dan pelan. Kecemasan hadir di benaknya. Didengarnya suara batuk berdahak di seberang beriringan dengan sebuah lagu mengalun mengisi ruangan. Hyukjae mengenal lagu itu. Membuat dadanya bergemuruh. Sesak.
If i could hold you one more time.
Like in the days when you were mine.
I'd look at you.
Till i was blind.
So you would stay.
Matanya mendapati sesuatu yang menyembul dari agendanya di atas meja. Foto mereka di sebuah taman. Ekspresi bahagia. Seperti sebuah keluarga. Suami, istri dan anak perempuannya.
"Kau memang sedarhana, tapi kau istimewa."
"Kau punya harapan, Hyuk—sekecil apa pun itu."
Air mata bergulir ke pipinya. Denyut yang dirasakannya tidak akan cukup untuk membuatnya hidup, kini dirasakannya sangat cepat. Hyukjae menutup wajahnya dengan sebelah tangan, terisak tanpa suara.
"Sonsengnim?"
Suara Haru membuatnya tersadar anak itu masih disana. Hyukjae merasakan perih menjalari hatinya. "Sonsengnim sayang Haru." Ujarnya dengan mata penuh air. Hanya itu yang mampu diucapkannya dengan sisa dayanya. Ia begitu ingin memeluk Haru, melihatnya tidur, tertawa dan tersenyum.
Mendengarnya menangis, Haru ikut menangis. Napasnya tersendat-sendat. "Haru sayang Sonsengnim." Suaranya tidak terdengar jelas karena dibarengi tangisannya. "Haru ingin Sonsengnim ada disini. Haru ingin mendengar cerita Sonsengnim cerita. Haru ingin main dengan Sonsengnim. Haru ingin tidur dipeluk Sonsengnim."
Gadis kecilku, rintih batinnya. Hyukjae menyadari betapa bodoh dirinya. Mengapa ia mengakhiri terlalu dini? Tubuhnya gemetaran. Masa lalu tidak akan mengubah kenyataan Haru membutuhkannya. Masa lalu tidak akan membuat takdir berubah untuk Haru. Masa lalu tidak akan menjadi akhir cerita ini. Anak itu membutuhkannya. Dan ia membutuhkan keduanya lebih dari apa pun.
"Hyuk..."
Suara Donghae terdengar sedikit serak. Hyukjae tiba-tiba saja menggigil. Ia nyaris tidak bisa bernapas. Apa kau baik-baik saja, Hae? Apa kau bisa mengurus semuanya sendirian sekarang? Hyukjae tidak dapat berkata-kata.
Donghae batuk berkali-kali seraya menjauhkan ponselnya. Setelah reda, baru ia kembali bicara. "Maaf mengganggumu, kau sehat?"
Mata Hyukjae terpejam. Ia menjawab pelan. "Ya."
Donghae terdiam sejenak, kemudian bicara setelah satu tarikan napas berat. "Boleh aku bicara satu hal sebelum tutup telepon, Hyuk?"
"Ya." Hyukjae belum mampu membuka matanya. Ia menikmati suara itu. Bisikan kerinduan menyelinap keluar.
"Aku merindukanmu."
Mata Hyukjae seketika terbuka. Lidahnya kelu. Benarkah yang didengarnya? Katakan ini bukan mimpi.
"Hae..." Hyukjae mencoba bicara, tapi telepon sudah terputus. "Aku juga merindukanmu..."
Hyukjae sadar sudah begitu egois. Sangat egois. Kini, ia tahu apa yang harus di kejarnya sekarang. Hyukjae harus mengikuti langah tujuannya. Mewujudkan kebahagiaan bersama dua orang yang akan bersamanya, saling memiliki secara utuh.
Kehidupan memang misteri. Tidak tahu kapan memulai, tidak tahu kapan mengakhiri. Tidak tahu mengapa menghilang, tidak tahu mengapa harus menemukan kembali. Dan, karena setiap rasa butuh ruang. Hyukjae mengejar jarak itu. Sejauh apa pun. Segera. Atau, ia akan kehilangan selamanya.
"Aku tidak akan mencari pembenaran apa pun lagi. Satu hal yang benar adalah aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Sejak sepuluh tahun lalu."
.
.
.
TBC
.
.
.
Dua bab lagi bakalan selesai. Terima kasih yang sudah me-review ff remake ini. ^^
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
