Judul : dimana pun tempatnya, masalah selalu datang menghampiri
.
.
Satu hal yang pasti terjadi saat karya wisata, adalah berkumpul dan berjalan-jalan bersama teman. Tidak peduli definisi teman yang dimaksud itu adalah orang yang memang akrab denganmu, ataupun hanyalah orang yang berada dalam satu lingkup kelas yang sama denganmu. Apapun itu, kau akan berjalan bersama orang lain dalam event seperti ini.
Hari pertama karya wisata, begitu kami menaruh barang-barang kami di hotel, kami langsung dilempar untuk pergi ke sebuah kuil yang merupakan salah satu dari beberapa obyek wisata yang akan kami datangi.
Kuil Tofuku adalah tempatku dan lainnya sekarang berada. Setelah perjalanan menggunakan bus yang cukup memakan waktu, kami datang kemari dengan membawa sejuta kelegaan pada udara pegunungan yang akhirnya berhasil kami hirup.
Awalnya aku berpikir untuk tetap tinggal di bis karena tak begitu tertarik dengan perjalanan ini. Namun mengingat perintah Sona pagi tadi, aku memutuskan untuk ikut dan mengobservasi semua bagian dan kegiatan setempat yang tengah berjalan.
Bagi mayoritas orang, perpaduan bangunan kuil, ribuan pohon maple, dan air sungai yang jernih yang mengalir mengikuti arusnya merupakan suatu pemandangan yang tak terlupakan.
Dari jembatan Tsutenkyo, aku bisa melihat pemandangan bangunan utama Hondo yang ditutupi dedaunan maple di belakangnya. Daun-daun yang tumbuh di taman Honbo itu berwarna kuning kemerahan. Inilah penanda waktu terbaik di musim gugur.
Angin dari daratan tinggi ini menggugurkan sejumlah daun dan membawanya terbang ke berbagai tempat selayaknya itu merupakan fenomena dari hujan daun. Satu hal lagi yang sering terlihat adalah sejumlah pengunjung yang membawa semangat liburan mereka untuk menikmati semua yang tersaji pada kawasan kuil Budha ini.
Mereka berlalu lalang dalam satu kelompok dengan jumlah beberapa orang, namun juga tak jarang kau bisa melihat orang-orang yang menikmati hal ini berduaan atau pun hanya sendiran. Aku pun termasuk dalam golongan orang yang berduan.
Namun beda dengan kebanyakan kelompok dua orang lainnya yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, kelompok kecil ini hanya terdiri dari laki-laki dan laki-laki. Dua laki-laki itu adalah Aku dan Naruto.
Tapi sebelum kau berpikiran negatif tentangku, lebih baiknya aku jelaskan bahwa untuk suatu alasan tertentu aku terpaksa menemani Naruto semenjak kejadian turunnya kami dari bis.
Aku ditarik Naruto untuk bersamanya dikarenakan saat ini dia sedang menjadi buronan. Tentu saja yang memburunya bukanlah polisi atau semacamnya, lagi pula aku tak yakin jika polisi mau menghabiskan waktunya hanya untuk menangkap seorang autis. Yang ingin menangkapnya tidak lain dan tidak bukan adalah dua orang gadis pirang yang belakangan ini selalu bersamanya.
Irina dan Asia, saat aku berniat turun dari bis aku sudah melihat mereka berposisi di kiri-kanan di luar pintu bis. Dan sebelum aku sempat turun Naruto membawaku dengan menggunakan shunshin masuk ke tempat wisata tanpa ketahuan mereka.
Setelah dengan sembunyi-sembunyi mencari celah dari ratusan orang, juga menghabiskan waktu untuk menunggu sebuah kesempatan selama beberapa menit, aku sampai di suatu tempat dimana orang waras pasti tidak akan kemari.
"Sasuke, pemandangannya indah ya?"
"Kalau kau bertanya tentang suatu pemandangan indah, maka biarkan aku melepaskan tiga buah kunai ke wajah juga kepalamu, dan akan kupastikan kau mendapatkan pemandangan terindah sekaligus seni langka yang akan tercatat ke dalam buku sejarah sepanjang sejarah yang ada."
"Aku tahu kau ini punya selera yang buruk soal apa itu bagus dan indah, tapi aku tidak tahu jika seleramu seburuk itu."
"Aku tahu kau ini bodoh, Naruto. Tapi aku bahkan tidak mengira bahwa level kebodohanmu sudah berada pada level dimana orang paling bodoh diantara seluruh orang bodoh di dunia ini pun tidak akan pernah bisa menjangkaunya."
"Hari ini kau banyak bicara, ya."
"Aku tidak ingat pernah memperkenalkan diriku sebagai seorang pembisu, dan seharusnya kau tahu apa yang membuatku hari ini banyak bicara. Kau pikir apa maksudmu ketika semua orang sedang menikmati kesenangan di saat karya wisata, aku harus menemanimu duduk di atas genteng kuil dan melihat pemandangan yang bahkan separuhnya tertutupi oleh dedaunan pohon?!"
Inilah yang kumaksud sebelumnya. Satu-satunya yang kukeluhkan bersama Naruto selama kurang dari sepuluh menit ini adalah karena dia membawaku ke suatu tempat dimana aku tidak bisa mendapat kenikmatan maupun kesenangan apapun, selain kedinginan.
Hawa di sekitar perbukitan ini saja sudah sangat dingin, belum lagi dia membawaku ke area yang lebih tinggi sehingga hawa dingin menghantam tak tertanggung-tanggung.
Jika saja sisi atap genteng yang kami tempati itu berada di arah depan bangunan atau sedikit bergeser ke pucuk, mungkin saja pemandangan indah yang dia bilang benar-benar akan dapat aku lihat. Tapi dari sini pemandangan yang bisa kulihat hanyalah lebatnya dedaunan mapel yang belum diterpa keguguran, dan pemandangan langit yang terpotong separuh karenanya.
"Apa boleh buat kan. Kalau kita duduk di tempat yang terlalu terbuka, kita akan ketahuan!"
"Bukan itu maksudku, sialan! Yang ingin kukatakan, tak bisakah kau membawaku ke tempat yang lebih bermutu?! Atap genteng sama sekali bukan pilihan bagi orang waras menghabiskan karya wisatanya, kau tahu!"
"Jadi kau sudah sadar kalau kau ini tidak waras?"
"Naruto, aku punya chidori, tsukoyomi, amaterasu, dan Susano'o. Sekarang ini kau bisa memilih mati dengan cara apa?"
Berbicara dengan orang cacat mental bawaan lahir seperti dia itu sungguh membuat hatiku sekarat. Terlebih lagi jika aku menghinanya, dia dengan mudah akan memberikanku serangan mental yang memiliki demage dua kali lipat dari hinaanku.
Naruto menumpangkan tangannya ke belakang untuk menahan berat tubuhnya. Dia kemudian menatapku dengan ekspresi seorang yang penuh percaya diri.
"Sasuke, mungkin kau berpikir kalau aku ini bodoh."
"Kau perlu untuk menghilangkan kata 'mungkin' dalam kalimatmu, karena sebenarnya aku memang berpikir kau ini bodoh."
"Sayangnya hal tersebut kalau dipikir dalam sisi lain, pilihan yang kuambil ini menjadikanku termasuk dalam kategori orang pintar."
"Tidak ada orang pintar yang mengakui dirinya sendiri pintar. Tapi coba berikan penjelasanmu?"
"Ini sederhana. Orang pintar adalah... Mmm, orang pintar lingkupnya terlalu luas. Sepanjang sejarah, semua orang super pintar itu selalu memiliki satu kesamaan yakni selalu bisa menemukan dan menciptakan suatu hal baru. Thomas Alfa Edison berhasil menemukan bola lampu, Linus Torvald juga berhasil menjadi yang pertama kali melahirkan sistem operasi Linux, orang-orang picantropus yang mengenalkan cara berburu T-rex, dan Kayaba Akihiko adalah orang yang menciptakan S.A.O!"
Aku mulai mengerti kemana arah pebicaraan ini akan berakhir. Semua yang dikatakannya itu memang benar, kecuali tentang si Kayaba Akihito. Dia tidak termasuk dalam toko sejarah dunia nyata.
"Dari semua fakta-fakta itu, tidak salah lagi kalau aku juga termasuk di dalamnya. Aku adalah orang yang menemukan cara baru dalam menikmati karya wisata. Biar pun kau mengklaim diriku ini bodoh, tapi dunia tidak akan menyangkalku sebagai orang hebat."
Selesai mendengar hal itu, aku menempelkan tangan ke dahi lalu menghela napas panjang karena pasrah dan mulai berdiri.
"Aku ingin turun."
"Hei, tunggu!"
Aku mencoba untuk tidak mempedulikan teriakan Naruto tapi suara cemprengnya itu benar-benar sesuatu.
"Mengikuti acara seperti karya wisata ini saja sudah membuatku muram, aku tidak mau menambah suasana muram dalam hatiku hanya untuk menghabiskan waktu dengan hal bodoh seperti ini denganmu."
"Sasuke! Kumohon jangan tinggalkan aku!"
Aku mulai menghentakan langkah cepat untuk bergegas pergi dari sini, akan tetapi Naruto tiba-tiba memeluk pinggangku. Karena ulahnya itu, bukan hanya aku terdorong sebab beban yang di tambahnya, aku juga dengan sempurna tersungkur ke depan. Naruto yang memeluk pinggangku, mau tak mau juga ikut tersungkur. Lalu ditambah struktur genteng yang diagonal, setelah tersungkur kami masih harus berguling-guling menuruni genteng hingga ke tepinya.
"Gyaaaaa!"
Menyadari kami akan jatuh Naruto berteriak. Sedangkan aku yang sadar akan hal itu dengan reflek memposisikan kedua kakiku ke depan dengan cakra menyala untuk melakukan rem mendadak.
Kami berhasil berhenti di tepi atap genteng bangunan tepat sebelum jatuh.
Sayangnya kalau aku berpikir masalah telah selesai aku benar-benar salah, justru disinilah masalah utamanya dimulai.
"Woi, apa yang kau lakukan di atas sana?!"
Seorang biksu yang di bawah berteriak menegur apa yang terjadi di atas bangunan utama Hondo.
Naruto yang mengetahui dirinya telah ketahuan menjerit.
"Hya! Bagaimana ini?!"
Aku sudah tidak peduli lagi dengan masalah ini jadi kubiarkan saja.
Ulah Naruto menyebabkan suatu kehebohan. Di bawah orang-orang mulai membuat suatu kerumunan untuk melihat apa yang sedang terjadi. Jumlah mereka sungguh menggemparkan. Kerumunan yang ada itu bahkan sepertinya lebih banyak dari pada penonton yang ada dalam suatu acara penggalangan dana.
"Hey, turun kau dari sana!"
Setelah salah satu biksu mengetahui ulah Naruto, biksu itu berkata pada biksu lainnya, dan biksu lainnya melaporkan pada setiap biksu hingga kini orang botak yang berkumpul di bawah dan meneriaki Naruto sangatlah banyak.
"Sasuke, bagaimana ini? Waa! Siapa kau?!"
Naruto akhirnya menyadari keberadaanku telah menghilang darinya, dan tampak terkejut dengan seorang gadis bule di sampingnya.
"Kyaa! Help me! I can not swim!"
Si gadis bule nampak panik dengan situasinya. Ditambah lagi meski sebenarnya tidak bermaksud begitu, muka Naruto itu terlihat cukup mengancam.
Aku berhasil kabur dari Naruto begitu mendapatkan kesempatan. Dengan menggunakan kekuatan mataku, aku menukar diriku dengan gadis itu yang kebetulan tadi aku lihat sedang sendirian. Kupikir menggunakan seorang gadis akan membuat Naruto tampak tidak mencurigakan. Jika dia terlihat sendirian dia mungkin akan dicurigai sebagai seorang teroris atau paling tidak seorang maling. Tapi kalau Naruto terlihat bersama seorang gadis, paling mereka akan dikira seorang pasangan yang sudah kebelet dan tak tahu tempat selain genteng untuk bermain. Dan sekarang aku berada agak jauh dari kerumunan sambil mengamati kehebohan itu.
"Sasuke?"
Aku menoleh ketika tepat di sampingku seseorang menyebutkan namaku, dan aku melihat gadis tak asing yang memiliki rambut pendek berwarna biru dengan beberapa helaian di depan berwarna hijau. Aku cukup yakin bahwa namanya adalah Xenovia karena kalau tidak salah dia sekelas denganku.
"Aa," aku menyahut tak terlalu peduli.
Dia tampaknya juga tak terlalu mempedulikan reaksiku, dan ikut melihat pada kehebohan sama sepertiku.
Saat ini Naruto yang tampak panik membolak-balikkan kepalanya dari si gadis bule di sampingnya dan ke bawah tempat kerumunan. Aku tak tahu apa yang dipikirankannya.
"Naruto-san, apa yang kau lakukan di atas sana?!"
"Padahal aku sudah menunggu untuk bisa berjalan-jalan denganmu pada saat karya wisata ini, tapi sekarang apa yang kulihat. Beraninya kau selingkuh dengan wanita pirang lain, Naruto-kun?!"
Tapi begitu aku mendengar dua suara familiar aku tahu apa yang dipikirkan Naruto saat ini.
Parah banget, pasti seperti itu.
Mereka yang tiba-tiba muncul dalam kerumunan dan berteriak-teriak penuh amarah seperti seorang demonstran itu adalah Asia dan Irina. Kehebohan ini pasti memancing mereka kemari, dan mengetahui biang keroknya adalah Naruto membuat mereka menjadi ganas. Apalagi melihat Naruto yang bersama seorang gadis pasti membuat hati perempuan mereka panas.
Pemandangan itu mengingatkanku akan dua ekor hewan buas yang telah menemukan seekor mangsanya.
Saat mendapati mereka, Naruto memasang rupa syok yang tampak dilebih-lebihkan. Lalu matanya tanpa sengaja menemukan keberadaanku.
"Temeee! Berengsek kauuuuuuuu!"
Seseorang di sampingku yang melihat Naruto menatap dengan berapi-apai ke arahku, dengan wajah penasaran ia bertanya.
"Apa dia kenalanmu?"
"Bukan. Aku tak mengenal orang ini meski aku kenal."
Mendengar jawaban cepatku, orang itu merasa agak gugup, dan dia mencoba mengatakan hal-hal menghibur meski kelihatannya dialah yang butuh dihibur.
"U-uh. Kelihatannya hidupmu sungguh berat ya."
Xenovia dengan keok menghela nafas. Halaman Kuil Tofuku itu berkumandang oleh kehebohan, sebuah suasana yang sungguh melelahkan bagiku.
.
O.o
.
Setelah kejadian heboh tadi, aku turun lebih cepat dari kawasan kuil sendirian.
Soal liburan ke tempat-tempat wisata yang semacam ini tidaklah terlalu menarik minatku. Di tempatku, tempat para shinobi, semua yang kulihat disini kurang lebih sama dengan yang disana. Ini sistemnya purbakala.
Aku lebih tertarik dengan bangunan dan hal-hal modern.
Seperti toko donat misalnya.
Jadi sekarang disinilah aku.
Aku sekarang berada di Mister Donut yang merupakan salah satu toko yang ada di depan stasiun di dekat kawasan komplek Kuil Tofuku.
Sambil membawa nampan di tangan kiriku, aku memilih-milih donat yang ingin kubeli dengan penjepit di tangan kananku.
Sebenarnya aku merasa agak tidak begitu nyaman karena sejak tadi empat orang gadis berseragam sekolah lain yang duduk di kursi pelanggan berulang kali melirik ke arahku sambil berbisik-bisik.
Kenapa? Memangnya aneh kalau orang sepertiku membeli donat di Mister Donut? Yang boleh memakan makanan seperti ini bukan hanya si Vampire Loli Shinobu saja. Lelaki dewasa juga berhak membeli donat.
Terlepas dari perasaan risihku oleh lirikan gadis-gadis itu, ketika aku hendak mengambil Flocky Chou yang menjadi incaranku, penjepit yang kupegang bertabrakan dengan penjepit lain. Sepertinya ada seorang pengunjung di sampingku yang menginginkan donat yang sama, dan seperti itulah sebenarnya ketika aku memastikan dengan menoleh.
Dia seorang gadis berambut cokelat yang memakai seragam perempuan Kuoh Aka—
"U-Uchiha-kun?"
Dan gadis itu kenal denganku.
"..."
Bisakah kau tidak memotong kalimat dipikiranku. Aku sudah sangat sebal karena banyak orang-orang yang sering memotong kalimat yang kuucapkan, jadi kumohon janganlah ada juga yang memotong kalimat narasi yang ada dipikiranku.
Tapi sepertinya aku tidak bisa mengatakannya.
"Siapa kau?"
Untuk alasan yang tidak kuketahui, sepertinya karena pertanyaanku juga kebingunganku yang nyata membuat gadis itu pundung.
Tapi tak begitu lama kepundungannya menghilang dan ia menggantikannya dengan mengembungkan pipi sambil membuang mukanya pertanda tidak senang.
"Uchiha-kun, sudah waktunya untukmu mulai menghafal nama-nama teman sekelasmu. Apa kamu tidak malu apa terus-terusan menanyakan nama seseorang yang setiap hari wajahnya selalu kau lihat?"
"Ya."
Mendengar jawaban singkatku kayaknya dia sempat shock dan mulutnya terbuka sesaat, sebelum pipinya kembali ia buat membengkak lalu berbalik dan dengan cepat menjauhiku.
Yah, aku tidak malu dengan hal seperti itu. Lagian aku juga tidak peduli.
Tapi ngomong-ngomong, setelah interaksi singkat yang terjadi barusan, saat ini aku jadi teringat dengan seorang gadis yang biasa mengekspresikan perasaannya terlalu berlebihan.
Mungkinkah?
"Murayama?"
Seketika saat aku menyebutkan sebuah nama yang ada dipikiranku, gadis yang tadi berbicara padaku itu berhenti berjalan. Aku juga sempat melihat bahu gadis itu menegang sesaat. Dia pun menoleh padaku dengan memutar kepalanya.
Dia melihat padaku dengan tatapan mata mirip seseorang yang terserang demam, dan bila kuperhatikan seluruh bagian wajah gadis itu juga memerah. Tapi kalau kuingat beberapa detik lalu saat gadis itu berbicara padaku keadaannya normal-normal saja, masa iya dia terserang demam secepat itu?
"Ada masalah?"
"Ti-tidak ada. Aku senang U-Uchiha-kun mengingat namaku."
"Begitukah? Maaf kalau aku baru ingat."
Murayama terpaku sembari tatapannya terarah padaku.
Ekspresi polos dengan mulutnya yang terbuka lebar mungkin adalah hasil dari tertegun atau semacamnya. Tak sedetik dia menyadari bahwa selain dia sedang terpaku padaku, aku juga terpaku padanya karena mengira-ngira apa sebenarnya yang ia pikirankan.
"Moou... iya, Uchiha-kun ini memang menyebalkan. Tapi kalau kamu sudah meminta maaf seperti itu bagaimana aku tidak bisa memaafkanmu."
"Yah, terserahlah. Yang penting Flocky Chou ini milikku. Aku akan membawanya ke kasir."
"Sasuke-ku—"
"...?"
Baru saja langkahku melewatinya, Murayama memanggilku dari belakang. Aku agak malas menoleh padanya, tapi bahkan ketika aku menoleh Murayama tidak terlalu menganggapku. Dengan pipinya yang merona merah terang, dia menunduk dan tampak seperti orang kelabakan.
"Maaf, kurasa aku terlalu cepat memanggilmu begitu. Meski kenyataannya Uchiha-kun sekarang memanggil aku dengan nama depanku, tapi tetap saja aku tidak boleh langsung sok akrab seperti itu. Apalagi..."
Apa sebenarnya yang gadis ini bicarakan? Aku benar-benar tidak paham.
"Kau tidak ke kasir? Bukankah donat-donat yang kau bawa itu ingin kau pesan?"
Mengabaikan omongan ngelanturnya, aku berkata seraya menunjuk ke arah di atas nampan yang dibawa Murayama tempat donat-donatnya.
"Eh! Ah, i-iya."
"Kalau begitu,"
"Oh, tunggu aku!"
Aku langsung saja berjalan duluan setelah mengatakan demikian, dan Murayama pun mengejar aku.
Akan begitu merepotkan kalau aku menanggapi gumaman-gumaman tak jelasnya, maka dari itu tindakan terbaik untuk mengacuhkan hal itu adalah dengan mengalihkan pembicaraan yang memiliki fast ending.
Aku pergi keluar toko begitu membeli donat-donat yang kupilih.
Aku seharusnya ingat jika sedang pergi ke suatu tempat dengan rombongan, jangan pernah lupa untuk mengetahui jadwal perjalanan.
"Oh, tidak..."
"Ada apa, Uchiha-kun?"
Ketika aku ditanya begitu, aku langsung saja menunjuk ke tempat parkir.
"Kita ketinggalan bus."
Mengikuti arah telunjukku, kepala Murayama dengan lihai bergerak.
"Oh, kau benar."
"Kau kelihatannya tidak mempermasalahkannya ya. Malahan kau terlihat seperti menyukainya."
Aku ingin menganggap ini sebuah bencana, tapi sebenarnya ini bukanlah masalah besar buatku yang sendirian. Sayangnya disini aku tidak sendirian, karena Murayama bersamaku. Aku berpikir seharusnya dia cukup panik, tapi begitu aku melihat kenyataannya gadis ini sedang tersenyum seolah-olah bersyukur dengan apa yang terjadi.
"Eh! Tidak kok! Aku um! Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan ya~?"
Murayama spontan membalas dengan memainkan akting murahan yang begitu tidak naturalnya. Perkataannya itu sama sekali tidak cocok dengan ekspresi wajahnya yang tersenyum sekeras apapun dia menahannya.
Namun apapun perasaan gadis itu, sebaiknya aku cepat mengatasi masalah ini. Maka aku pun menjawab.
"Kita akan naik kereta. Tapi Pertama-tama apa kau tahu tujuan wisata selanjutnya kelas kita?"
"Kalau kuingat, Kiryuu-chan mengatakan tujuan selanjutnya setelah kuil Tofuku adalah kuil Kiyomizu-dera. Tapi Uchiha-kun, melihat sekarang sudah hampir jam sepuluh kurasa lebih baik kita langsung menuju kuil Tenryuu di Arashiyama yang menjadi tujuan selanjutnya setelah kuil Kiyomizu-dera. Jika kita sekarang pergi ke Kiyomizu-dera kita tidak akan sempat."
"Kita coba dulu. Jika kita sempat kita dapat pergi ke Tenryuu dengan bergabung bersama gerombolan."
"Baiklah. Aku ikut denganmu saja."
Murayama mengangguk dan mengikuti keputusanku tanpa mengeluh. Aku bersyukur dia adalah tipe gadis penurut atas usulan seorang laki-laki. Jika dia banyak mengeluh seperti kebanyakan gadis, aku pasti tidak akan ragu untuk meninggalkannya.
Dengan itu kami pun pergi ke stasiun dan menaiki salah satu kereta lokal.
Singkat cerita, kami pun sampai di Kiyomizu Gojo stasiun.
Ketika kami keluar dari stasiun itu, pemandangan mosaik alami bercorak musim gugur dan gradasi garis gunung terlihat dalam pandangan.
Tampaknya Murayama begitu takjub akan apa yang dilihatnya hingga dia membeku di tempatnya.
"Indah sekali."
Dia bergumam dalam rasa takjubnya.
Ini memang indah. Kalau saja aku tidak terbiasa melihat pemandangan semacam ini sejak dulu, mungkin aku pun akan takjub karenanya.
"Ayo kita segera pergi. Jika tidak, kita mungkin akan ketinggalan."
"Ah, iya."
Kami mulai pergi meninggalkan stasiun.
Akses jalan kuil Kiyomizu-dera dari stasiun ini cukup mudah. Kau tinggal mengikuti sepanjang area pertokoan dan kau benar-benar akan sampai di loket masuk tujuan.
Saat kami terus berjalan di jalanan, terlihat aktivitas jalanan yang hiruk piruk serta becak-becak rickshaw berjalan ke sana ke mari. Jalan yang kami jalani ini terhubung dengan jalan lain dimana berbagai macam toko berbaris di sisinya.
Jalan itu terlihat agak mewah dan begitu bersih dengan jajaran toko-tokonya memberikan kesan bahwa sebagian besar menjual makanan cepat saji. Ketika kami berjalan di sepanjang jalan tersebut, aromanya menarik perhatian kami.
Maksudku perhatian Murayama.
Dia menyumpali mulutnya dengan donat-donat yang dibelinya tadi sambil matanya melirik ke sejumlah tempat.
Aku sudah cukup puas dengan donat-donatku dan memakannya dalam diam, tapi melihat Murayama yang begitu beringas terhadap makanan secara ajaib membuatku kenyang.
"Kalau kau ingin beli sesuatu, maka segeralah. Memperhatikanmu yang sedang melotot pada setiap toko makanan entah kenapa terasa horor bagiku."
Saat aku berkata begitu Murayama melirik ke arahku dengan gerakan seperti ragu.
"Uchiha-kun, apa tidak ada yang pernah mengatakan padamu bahwa mengatakan sesuatu tentang nafsu makan seorang gadis itu adalah terlarang?"
"Jangan sembarangan menambah-nambahkan larangan yang tidak pernah ada. Kau nanti akan ditangkap karena melanggar pasal tentang undang-undang palsu."
"Itu bukan tidak pernah ada. Pelanggaran ini merupakan bagian dari asusila."
"Haaah..." omong kosong itu sukses membuat helaan nafasku keluar. "Asusila apaan? Yang kau sebutkan itu hanya menyangkut tentang wanita, kaum prianya mana?"
Asusila? Kalau dalam hal ini, lebih bagus jika menyebutnya Sila Asu.
Murayama memiringkan kepalanya, dengan matanya yang terlihat jenaka jatuh ke arahku.
"Tentu saja tidak ada. Di TV pun tidak pernah ada beritanya tentang perempuan yang memperkosa laki-laki, yang ada hanyalah laki-laki yang memperkosa perempuan."
"Perkataanmu itu seolah-olah mengatakan bahwa semua laki-laki itu adalah biadab."
"Yah, sebenarnya hal itu terpikirkan sebelumnya olehku. Tapi kenyataan yang berjalan di sampingku ini menamparku," katanya sambil memasang senyum yang cukup sulit diartikan.
Meskipun itu terdengar menyindir, tapi aku masih memiliki kepekaan untuk mengerti bahwa itu suatu pujian untukku.
"Kau ini. Aku tidak sebaik yang kau kira."
"Mungkin itu memang benar. Aku juga tidak berharap Uchiha-kun memiliki sejuta kebaikan. Tapi setidaknya kau tidak jahat."
Aku salah menyusun kalimatku.
Gadis ini cukup pintar.
Dia dengan mudahnya dapat membuat kalimat yang maksudku agar tidak membuatku terlihat mencolok di matanya menjadi justru sebaliknya.
"Selain itu, aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu."
Murayama berbisik dengan suara sekecil semut. Ditambah lagi wajahnya yang menghadap ke bawah membuatku tak bisa mendengar satu kata pun darinya.
"Maaf bisa kau ulangi. Apa kau bilang tadi?"
"Bukan apa-apa."
"Hah? Apaan?"
"Bukan apa-apa ko."
"Haah. Terserahlah..."
Melihatku yang menyerah Murayama tertawa geli.
"Uchiha-kun, sepertinya aku memang harus mencicipi beberapa hal yang ada disini."
"Sudah kuduga."
Dia lalu menarik lenganku seperti kemudi dan memaksa kakiku mengikuti langkahnya.
"Hey, aku bisa jalan sendiri."
Tapi dia mengabaikannya
"Terlalu banyak pilihannya. Semuanya tampak enak. Aku jadi bingung harus memilih yang mana. Uchiha-kun ada saran?"
"..."
"Uchiha-kun?"
...
Perasaan ini.
Aku merasakan perasaan yang sama seperti pagi tadi. Perasaan yang membuatku seolah-olah sedang di awasi. Ada suatu hawa keberadaan yang mencolok sedang berada di suatu tempat di sekitarku.
Aku tidak bisa memastikan aura yang mengikutiku ini adalah aura manusia atau salah satu makluk supranatural. Tapi yang pasti, perasaan ini sungguh membuatku tak nyaman.
Hanya dengan menyalami perasaan ini, aku masih belum bisa mengira sebesar apa bahayanya. Sesuatu yang diberikan ini sangatlah samar. Bila aku menduga dari rasa ketidaknyamanan yang berdampak karenanya, aku pikir ini semacam pola kejahatan. Jadi ini pasti memiliki kemungkinan suatu bahaya.
"Maafkan aku, Murayama. Bisakah kau menunggu aku sebentar. Aku ingin pergi ke suatu tempat sendirian. Aku tidak akan lama."
"Heh?"
Seketika saat aku berkata, Murayama mengintip ke arahku dengan pandangan tak biasa. Ekspresinya entah kenapa terlihat kesepian dan dia dengan perlahan menjatuhkan matanya.
Dia seakan ingin protes tapi begitu canggung untuk menyampaikannya. Gara-gara hal itu, aku jadi tak tega meninggalkannya. Tapi sayangnya kasus kali ini cukup serius. Aku tak bisa mengabaikan bahaya yang belum jelas ini hanya untuk menuruti perasaanku.
Karena itulah aku memaksakan sebuah senyuman kecil, dan berkata padanya.
"Saat aku kembali, aku harap kau tidak membeli terlalu banyak makanan. Aku tidak ingin membawa barang-barang berat."
Ketika aku mengatakan itu, Murayama untuk sesaat melihat ke arahku dengan tampang blo'on, tapi dia kemudian membuat tawa tercengang.
"... Uchiha-kun ini. Jadi itu yang paling kamu khawatirkan jika aku membeli banyak makanan?
Yah sejujurnya banyak yang kukhawatirkan. Melihatmu memandang makanan-makanan saja entah kenapa secara ajaib membuatku langsung kenyang, aku tidak habis pikir bagaimana jadinya jika aku melihatmu menyantapnya. Itu salah satunya.
"Aku akan menunggumu. Tapi sebelumnya tolong tinggalkan alamat email dan juga nomer ponselmu."
"Baiklah."
Setelah bertukar alamat email dan nomer ponsel dengannya, Murayama berhenti membuat ekspresi kesepian, malahan dia tampak senang dan akhirnya aku sanggup untuk meningalkannya.
Aku dengan seketika menuju ke sumber energi hawa keberadaan ini berasal.
Aku memasuki sebuah gang. Dari sini aku mulai melompat ke kiri dan kanan pada tiap dinding untuk menuju ke atas sebuah bangunan.
Aura yang sedang aku cari ini tampaknya bergerak. Dia mengetahui aku sedang mencarinya.
Menyadari hal ini, aku dengan cepat segera mengejarnya. Melompati tiap-tiap bagian bangunan-bangunan yang ada sambil mencari-cari sesuatu yang tampak mencurigakan. Aku tidak boleh sampai kehilangan jejaknya.
Pasti ada suatu hal yang membuat siapa pun yang mempunyai aura ini terus saja mengawasiku. Aku perlu untuk mencari tahu hal itu. Aku khawatir bahwa dialah bahaya yang dimaksud Sona.
Informasi yang diberikan Sona memang tidak jelas, tapi kepastiannya memang tidak salah lagi. Bahkan sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di Kyoto aku sudah memiliki perasaan buruk tentang ini.
Saat pikiranku telah terisi oleh banyak hal semacam itu, pengejaranku kini memasuki daerah hutan di atas perbukitan. Tak jauh sebelumnya aku sempat melihat papan yang menunjukan nama tempat ini.
Dari rimbunnya hutan, aku melihat sebuah siluet.
Aku mencoba menghampirinya dan aku menemukan sesuatu yang tidak ada.
Seakan memang tidak pernah ada, jejak hawa kehadiran itu total telah menghilang.
Jejak hawa kehadirannya berakhir disini. Ini sudah merupakan kawasan berbeda. Disini adalah kawasan Fushimi Inari. Aku tak menduga sampai datang kemari. Jarak tempat ini jauh dari Stasiun Kiyomizu Gojo. Aku bahkan sudah melewati Kuil Fushimi Inari yang berada di bawah sana. Yang kutempati sekarang adalah daerah bukit belakang kuil Fushimi Inari.
Aku mencoba untuk memeriksa daerah setempat. Mungkin aku bisa mendapat semacam petunjuk tentang hawa kehadiran misterius tadi.
Aku berpikir mungkin ada semacam maksud tujuan hawa kehadiran misterius ini membuatku kemari.
Dugaan semacam itu terus kucoba buktikan sambil diriku menelusuri jalan hiking sepanjang 4 kilometer ke puncak bukit. Disana terdapat sebuah kuil tua. Terhampar di sekitarnya adalah setapak halaman.
Perlu diketahui ada semacam kesunyian tak biasa yang terjadi. Ini seakan telingaku tengah disumbat dan semua saraf pendengaranku hanya berdengung pada aktivitas organ-organ dalamku sendiri.
Aku menyadari setelah beberapa detik terus seperti ini. Ada keganjilan disini. Tapi ini adalah sesuatu yang berbeda dengan apa yang ku selidiki.
Aku menghadap langsung pada kuil. Sengatan nyeri di kepala akan sesuatu yang suci benar-benar tak terasa karena legendaris yang diberikan Sona yang kubawa pada sakuku. Akan tetapi Sumber energi supernatural tetap terpancar dari dalam sana.
Dalam hal ini aku tidak diberi waktu yang lama, dan dalam seketika aku merasakan banyak sekali hawa kehadiran yang mengelilingi sekitarku.
Aku tengah di kepung.
Meski yakin jelas aku merasakan hawa kehadiran yang sangat banyak, kenyataan saat aku mengedarkan pandangan aku hanya bisa melihat satu orang.
Dari pada orang dia lebih tepat disebut bocah.
Bocah itu adalah perempuan yang memiliki tinggi sedikit lebih dari satu kaki, memiliki rambut kuning terang dan mata berwarna emas. Dia mengenakan semacam pakaian pendeta kuil perempuan. Lalu bila diperhatikan bocah perempuan ini memiliki ciri-ciri fisik tambahan selain ciri-ciri fisik manusia seperti telinga hewan dan ekor berbulu. Itu tampak seperti rubah.
Aku menyadari dengan seketika bahwa dia adalah yokai rubah.
Kyoto merupakan tempatnya para yokai, begitulah yang dibicarakan semua orang padaku. Sona juga telah menjelaskan tentang yokai juga hal ini padaku.
"Bukan dari Kyoto."
Apa perlu kutambahkan bahwa sebenarnya aku juga bukan dari dunia ini?
Aku tak tahu kenapa bocah perempuan itu terlihat sangat marah padaku. Sejauh ini dia terus memelototiku seakan-akan aku adalah penganut ajaran sesat dari seorang bertubuh gendut yang biasa memakai jubah dan suka mengorek-orek badannya untuk menggandakan uang.
Aku hanya diam saja, tapi jawaban yang ingin kuketahui terjawab begitu saja ketika bocah perempuan itu kembali berbicara.
"Kamu kan yang telah menculik ibuku?"
"Apa aku terlihat seperti penyuka barang bekas?"
Ini adalah fakta yang perlu semua orang ingat. Tak pernah sekalipun bagiku berpikir untuk menculik seorang tante-tante. Apalagi kenyataannya bila dia sudah memiliki seorang anak. Aku bukan seorang Milf lover kau tahu. Aku juga bukan seorang Lolicon, jadi aku tidak suka padamu, maka dari itu pergilah bocah kecil.
"Orang luar! Beraninya kamu...!"
Tampaknya mendengar balasanku membuat bocah perempuan itu semakin marah. Dia mempertajam pelotottannya, memperlihatkan taringnya dalam amarah, dan berteriak:
"Serang dia!"
Kenyataan bahwa dia berteriak serang, dan bukannya bertindak menyerang, membuat terlihat jelas bahwa dia adalah seorang bos.
Sekarang aku tahu kenapa manga tidak bisa disamakan dengan dunia nyata. Level dari seorang bos di dalam dunia nyata ini sungguh rendah.
Oleh perintah si bocah perempuan, dari balik pepohonan muncul beberapa makhluk dengan sayap hitam dan kepala gagak, berdandan seperti perampok gunung. Ada juga beberapa dengan topeng rubah yang berdandan seperti rahib.
Tanpa tahu apa itu basa-basi, makluk-makluk berpenampilan aneh ini menyerangku dengan senjata mereka.
Tentunya aku tidak berniat menerima serangan mereka. Meski kuyakin itu tidak seberapa, tapi tetap saja itu sakit. Karena itulah aku mengedipkan mataku dan mempengaruhi mereka menggunakan genjutsu.
Hanya beberapa dari mereka yang matanya sempat berpapasan dengan sharingganku, dan kebetulan salah satu dari itu adalah yang hampir saja memukulku dengan tongkat. Namun pengaruh ilusi dengan seketika membuatnya berhenti.
"Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kalian berhenti menyerang?"
Rubah kecil itu sangat kebingungan.
Aku mengontrol semua yang terpengaruh genjutsuku untuk berhenti melawan. Aku mengingat bahwa jauh sebelum hari karya wisata Sona telah memperingatkanku. Dia mengatakan padaku agar tidak merusak Kyoto, dan menyuruhku untuk tidak membiarkan Naruto melakukan hal yang sama. Pengaruh tempat ini cukup tinggi dalam ranah supranatural. Akan sangat repot masalahnya bila aku sampai membuat kesalahan dengan merusak tempat ini. Karena itulah aku tidak melawan dan memakai cara untuk melucuti mereka menggunakan genjutsu.
Tapi masih ada sebagian yang belum berada dalam pengaruhku. Bocah perempuan itu membawa pasukan yang cukup untuk dimasukan dalam dua bus sekaligus. Jika dihitung, yang tersisa sekarang sekitar tiga puluhan.
"Sasuke-kun!"
Ketika dengan diam aku terus waspada, suara familiar memanggil namaku. Aku melirik ke asalnya dan mengetahui dua orang, laki-laki dan perempuan datang padaku.
Yang laki-laki kuketahui adalah Yuuto, dan perempuan dengan surai putih keabu-abuan itu adalah Momo Hanakai.
Aku jelas menyadari bahwa suara tadi adalah milik Yuuto. Laki-laki itu dengan segera menciptakan sebuah pedang iblis dalam genggaman tangan kanannya dan memposisikan dirinya memunggungiku sambil dirinya memasang kuda-kuda di hadapan para musuh. Sementara itu, Momo datang ke sampingku, dan bertanya.
"Kau tidak apa-apa, Sasuke-kun?"
"Hn,"
Aku dengan singkat menjawab tanpa menoleh.
"Bagaimana situasinya?"
Di depanku, Yuuto melirik ke belakang padaku.
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Hah?"
Yuuto memandangku dengan pandangan heran dan juga bingung. Dia seakan membuatku terlihat seperti orang tolol.
"Aku tidak kenal dengan mereka."
Sejak aku kembali berkata dan mencoba menjelaskan, musuh tiba-tiba berbicara.
"Jadi begitu, kalianlah yang sudah...Ibuku! Tak akan kumaafkan! Iblis tak murni! Kalian sudah mengotori tempat suci ini! Tak akan kumaafkan kalian!"
Kesalahpahaman yang terjadi sudah semakin parah. Bocah perempaun itu semakin marah dan dia sangat keras kepala.
Menjelaskan sesuatu pada seseorang yang tidak mau diajak bicara itu sama saja berbicara pada kulkas. Maka dari itu, aku tidak mau repot-repot menjelaskan kesalahpahaman ini dan berpikir untuk menendang mereka pergi agar tidak menggangguku.
"Biar aku yang mengurus mereka."
Mengatakan itu, aku mengambil langkah maju hingga posisiku bersandingan dengan Yuuto.
Yuuto yang melihatku, membalas.
"Jangan bilang begitu. Apa kau tahu rasanya berdiri dan membiarkan mataku melihat dirimu berjoget?"
"Aku tidak akan berjoget. Malahan, aku tidak akan bergerak dari tempatku."
Akan kuingatkan padamu untuk tidak menyamakan diriku denganmu. Meski tanpa bergerak pun aku pasti bisa mengenyahkan orang-orang aneh ini, plus dirimu.
Yuuto tak berbicara apa-apa lagi padaku. Dia menegaskan kuda-kuda dengan pedangnya, dan aku pun mulai menyiapkan diriku akan pertarungan. Kami berdua sama-sama memfokuskan diri pada musuh.
Momo sendiri berjaga di belakang kami. Memang dia bukanlah tipe petarung handal. Tapi merasakan level musuh seperti ini, aku pikir dia akan baik-baik saja.
Melihat kami bertiga, bocah perempuan setengah rubah dan kelompoknya menampakkan ekspresi ketegangan namun dalam sekejab menjadi semakin marah lebih dari yang tadi.
"Kalian, orang-orang luar! Jahat! Serang mereka!"
Si bocah perempuan berteriak serang dan seketika bawahannya menyerang.
Mereka menyerbu kami dengan serentak seperti tawuran pelajar.
Yang pertama datang padaku. Dia membawa senjata berupa pedang, dan mengayunkannya padaku.
Aku tidak memiliki niat untuk menghindar. Sebenarnya aku juga tidak berniat untuk melakukan apapun.
Tring!
Tapi sesuai dengan apa yang kupikirkan, pedang musuh berhenti beberapa senti di depan kepalaku karena tertahan pedang lain.
"Sasuke-kun, yang kau maksud tidak bergerak bukan membuatku untuk bergerak melindungimu, ya kan?"
Setelah menggunakan pedangnya untuk menahan pedang musuh yang ingin membelah kepalaku, Yuuto melirik sambil mengatakan kata-kata itu padaku dengan keringat di pelipisnya.
Dia terlalu banyak memperhatikanku. Apalagi sejak aku mengatakan akan mengurus semua musuh sendirian tanpa berpindah tempat. Sepertinya dia ingin tahu bagaimana caraku melakukannya. Tapi aku tidak suka diperhatikan, karena itulah aku sedikit jengkel. Jadinya aku mencoba mengerjainya.
"Memang bukan," jawabku sambil tangan kananku mulai kuangkat.
Aku memposisikan dengan ringan di depan dadaku, lalu setelah mengambil sedikit ancang-ancang pada jari tengahku, aku menyentil udara.
Manusia setengah gagak yang sedang diam di tengah pedanganya di tahan oleh Yuuto terpental. Membawa jauh pergi tubuhnya bersama sebagian besar udara, dan menabrak tiga ekor temannya yang ada di barisan belakang.
Yuuto menganga di depanku.
Lebih dari itu pihak musuh matanya terbelalak. Dari si pemimpin kecil mereka saja aku bisa melihat bahwa dia sangat terkejut.
"Cuma dengan sentilan?! Apa itu tadi?!"
Sementara itu, Yuuto akhirnya bisa berbicara.
"Sasuke-kun, meski sudah bertarung denganmu sebanyak dua kali, sampai saat ini aku tetap saja tidak mengerti apa sesungguhnya kekuatanmu itu."
Ada baiknya kau tidak perlu mengerti. Tapi dengan ini akhirnya aku berhasil menumbangkan empat musuh sekaligus.
Padahal itu sama sekali bukan pengaruh akibat sentilanku, melainkan kuasa mata kananku.
Setelah mengetahui rekan-rekannya kukalahkan dengan mudah ketegasan mereka mulai mengendur. Sebagian besar dari mereka tak tahu harus berbuat apa, dan hanya mewaspadaiku dari tempat mereka.
Meski begitu, masih saja ada yang bodoh dan kembali melakukan serangan.
Oleh hal ini, Yuutolah yang maju dan menghadapinya.
Aku ingin mengatakan untuk tidak membuat kerusakan dan melukai mereka berlebihan, tapi sepertinya dia sudah mengerti akan hal itu.
Dia diserang beberapa bawahan si bocah perempuan sekaligus. Tapi dia memakai pedang iblisnya untuk menangkis mereka, merusak senjata musuh sambil mengalahkan mereka. Aku juga mengambil tindakan dengan berdiri sambil melihat-lihat mata para musuh dengan sharingganku. Apa hal ini masih bisa disebut tindakan? Yang jelas dengan ini satu persatu musuh berada dalam kendaliku hingga hampir tak tersisa untuk di lawan.
Merasa cukup dengan genjutsu, aku mengambil perhatianku dari para bawahan pada bocah perempuan yang menjad atasan mereka.
Bocah perempuan yang menyadariku menatapnya tersentak kaget.
Saat-saat seperti inilah yang tepat untuk mulai berbicara.
Aku berpikir hal itu karena mengingat situasinya sudah tidak ada lagi gangguan. Tapi begitu aku melihat bocah perempuan itu yang melotot padaku dengan penuh kebencian, aku jadi agak ragu akan hal itu.
Sementara aku dengan dirinya kini saling berhadapan, Yuuto dan Momo masih bertarung. Aku membuang keraguanku, dan tetap memutuskan untuk berbicara.
"Dengarkan aku, aku tidak tahu apa-apa soal ibumu. Aku bahkan tak kenal dia atau pun tahu dari mana asalnya. Jadi jangan sembarangan menuduhku melakukan sesuatu dengan ibumu."
Jika ada orang yang ingin kulakukan sesuatu padanya, maka itu hanyalah Sona yang ingin aku kencani, dan Naruto yang ingin aku tonjok wajahnya.
"Pembohong! Kamu pembohong!"
"Kau ini keras kepala. Apa perlu aku mengadu kepalamu itu dengan batu?"
"Kembalikan! Kembalikan ibuku!"
"Bagaimana aku bisa mengembalikannya jika meminjamnya saja tidak pernah?"
"Kamu, bedebah."
"Woi, anak kecil nggak boleh bilang begitu!"
Bocah perempuan ini terus saja merengek marah seperti anak kecil. Yah, aku tahu dia memang anak kecil. Tapi dia tak tampak seperti anak kecil lagi ketika dia mulai berbicara dengan kata seperti "bedebah, keparat, berengsek" atau semacamnya.
Srek... srek...
Suara-suara keanehan tiba-tiba terdengar. Suara berisik itu terdengar dari semua pohon akibat angin kencang yang berhembus. Burung dan serang juga mulai membuat banyak suara, dan berterbangan menuju arah ke luar Kyoto. Itu seakan-akan menjadi sebuah peringatan.
Ada sesuatu yang akan datang atau sesuatu akan terjadi.
"Eh?!"
"Apa ini?"
Aku mendengar Momo dan Yuuto berteriak dan melihat fenomena itu dengan mata yang terbuka lebar. Begitu pun dengan bocah perempuan di depanku yang tiba-tiba menjadi gelisah.
Di puncak bukit ini, aku bisa melihat ada sekejab cahaya terang berwarna orange berasal dari arah kota. Di balik itu semua, aku bisa merasakan suatu keganjilan terhadap tempat cahaya itu berasal. Cahaya itu juga nampak tak asing bagiku.
Ketika aku sedang berpikir, aku melihat cahaya itu kembali bersinar dan menggumpal seperti sebuah organ dalam. Saat cahayanya semakin terang, cahaya itu dibumbui warna kekuning-kuningan, dan bentuknya menjadi semakin jelas. Cahaya itu seakan sedang bertransformasi.
Dengan semua itu, aku langsung tahu apa yang sedang terjadi.
"Naruto."
Saat aku menggumamkan nama yang ada di pikiranku itu, transformasinya telah selesai. Sebuah ekor rubah raksasa nan panjang berwarna orange kekuning-kuningan yang terbentuk dari cakra super besar terlihat mencapai langit. Wujudnya terlihat setengah transparan dan tekanan energinya terasa mengerikan.
"Ibu..."
Aku dengan spontan menoleh kembali pada si bocah perempuan ketika mendengarnya mengucapkan itu. Dia mungkin berpikir itu adalah ibunya, tapi aku yakin tak salah lagi ini adalah Naruto.
Lalu ketika aku kembali melihat ke kota, ada pemandangan aneh yang menyambutku. Tidak, awalnya pemandagan ini sudah aneh sejak awal. Pemandangan kota tampak tumpang tindih dengan pemandangan kota yang sama, seakan kota ini ada dua atau itu adalah bayangannya. Hanya saja keberadaan Naruto hanya ada pada satu kota. Jadi ada dua pemandangan kota dimana satu terdapat keberadaan Naruto dan satunya tidak.
Tapi kini aku melihat tumpukan pemandangan itu tampak berkedip-kedip, berganti-ganti dari dua pemandangan kota yang sama. Itu tampak seperti saluran televisi yang di pindah channelnya secara terus-menerus.
Hal seperti itu terjadi tidak lebih dari lima detik dan pemandangan menjadi normal dengan satu pemandangan kota dimana ekor kyuubi terlihat seakan ingin menggapai langit. Aku berpikir hal itu telah usai.
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya tidak seperti apa yang kubayangkan.
Dari bawah, di asal tempat ekor Kyuubi menjulang, ada sekawanan besar kabut yang bergerak tak normal. Kabut itu bergerak seperti arus dan naik meliuk-liuk ekor kyuubi di tengahnya dengan pola spiral. Dengan jumlahnya yang semakin meningkat, kabut itu seolah-olah ingin memenjarakan ekor raksasa kyuubi ke dalam dirinya.
Kabut itu menyusut ruang tersisa dari ekor kyuubi, membungkus ekor itu dalam dirinya dan menekannya sangat kuat seolah ingin meremukkannya. Ada pergulatan sengit antara ekor dan kabut itu. Mereka menunjukkan perlawanan mereka masing-masing untuk menetukan siapa yang akan dihancurkan. Kota Kyoto tampak seperti sebuah area berbahaya yang diisi oleh pergulatanan dari monster berkekuatan gaib.
Tapi ekor kyuubi terlihat semakin ganas. Energinya meluap-luap bagaikan api kesengsaraaan. Udara di sekitar menjadi tak beraturan arahnya. Dan sinarnya memancar terang seperti matahari. Kabut pun menjadi tak kuasa menghadapi kebesarannya. Tak peduli bagaimana itu terlihat, seakan-akan pemenangan sudahlah pasti.
Dan yang datang setelah itu adalah...
Kehancuran.
GRROOOUUUUUH!
Untuk melepas sepenuhnya kabut yang menyelimutinya, ekor kyuubi mengayunkan dirinya. Melepaskan sebuah cambukan hingga menghantam daratan. Sontak setelah hal itu terjadi, kabut pun lenyap tak tersisa dan bumi berguncang dasyat. Suara gemuruh menembus gendang telinga dan menggema hingga ke dalam. Kota Kyoto di sapu bersih oleh gelombang dalam sebuah hempasan luar biasa dengan begitu saja. Gedung-gedung pencakar langit terlepas dari tempatnya. Bangunan dan seluruh fasilitas yang ada berubah menjadi puing-puing dan di tiup bagaikan sekumpuan debu. Semua kerusakan itu terkirim ke satu arah bagaikan tsunami.
Meski arahnya berlawanan, semua efek dan dampak yang terjadi itu terasa kuat sampai kemari. Aku bisa melihat bocah perempuan setengah rubah dan semua bawahannya terjatuh karena guncangan. Yuuto membantu Momo dan dia sebisa mungkin mempertahankan dirinya untuk tetap berdiri dengan berpegangan pada pedangnya yang ia tancapkan ke tanah. Pohon-pohon yang kehilangan daun-daunnya dan hampir terlepas dari tempatnya.
Aku menggunakan kekuatan mata kananku sebagai pertahanan, dan memperkuat kakiku dengan cakra agar aku dapat bertahan dari guncangan untuk tetap berdiri. Selain hal itu, aku sedang berpikir tentang bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Apa sebenarnya yang di lawan Naruto? Kabut apa itu tadi?
Setelah semua itu, ekor kyuubi akhirnya menghilang. Terlepas dari hal ini, aku mulai sadar dengan apa yang telah terjadi. Hal yang sangat parah yang aku cemas-cemaskan.
Setengah kota Kyoto telah bersih menyisakan tanah.
Ini benar-benar sangatlah gawat. Aku mencoba untuk tak peduli, tapi tanggung jawab ini telah diberikan Sona padaku. Jika bukan dari gadis itu, tentunya aku tidak akan sekhawatir ini.
Hanya sejak aku tidak tahu harus berbuat apa akan kekhawatiranku, pemandangan yang kulihat kembali berulah. Ini sama seperti tadi. Tapi pemandangan kota yang satunya nampak utuh. Setelah mengalami efek seperti pergantian saluran channel, fenomena pemandangan itu pecah menjadi polygon fragment, dan pemandangan kota Kyoto yang tampak utuh dan indah menjadi satu-satunya pemandangan yang terlihat. Semua telah kembali seolah-olah kehancuran yang terjadi itu tadi hanyalah sebuah ilusi belaka.
Kesunyian menguasai tempatku berada. Baik aku maupun semua yang telah menonton hal itu tadi membeku.
"Ibu...? itu tadi...?"
Si bocah perempuan yang mencoba berdiri setelah terjatuh bergumam dengan terbata. Dia kelihatan begitu kebingungan, dan tak tahu apa-apa. Aku kembali mengawasi tindakannya. Sekarang satu-satunya masalah yang tersisa adalah dia.
Dia kemudian mengangkat tangannya.
"Mundur. Semuanya, kita mundur."
Mendengar hal itu, tanpa mencurigai hal lain aku melepaskan semua orang yang terpengaruh genjutsuku. Dengan meninggalkan kata-kata itu, bocah perempuan setengah rubah dan para pengikutnya itu pun menghilang seperti hembusan angin.
Lepas dari semua kondisi, aku menghampiri Yuuto dan Momo yang kebingungan tentang semua yang terjadi tanpa alasan yang jelas ini.
"Sasuke-kun, kau tahu apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu."
Aku dengan langsung menjawab pertanyaan Yuuto. Aku juga sedang mencari-cari jawaban dari pertanyaan yang sama.
"Lalu kenapa kau bisa berada disini? Kelas kita kan berbeda. Fushimi Inari saat ini adalah tujuan kelasku."
"Aku terpisah dari rombongan."
Mendengar alasanku, Momo berkata padaku dengan sedikit kecemasan.
"Sasuke-kun, bagaimana kalau kamu bergabung bersama kelas kami dulu."
"Tidak perlu. Aku sedang bersama seseorang."
"Begitu."
Jika aku tidak sedang bersama Murayama aku mungkin akan menerima tawaran itu. Karena sekarang ini aku sedang bersamanya, aku jadi tak bisa meninggalkannya. Dia seharusnya menungguku di Kiyomizu-dera.
Aku harus segera kembali. Karena itu aku berkata pada Yuuto dan Momo begini.
"Kita harus segera berkumpul. Hubungi Azazel."
Dalam situasi ini hanya hal itu yang bisa kusarankan.
Mereka pun mengangguk.
"Azazel-sensei saat ini bersama kawanan Issei-kun. Tapi aku akan mencoba menghubunginya lewat ponsel."
Itu artinya dia berada di tujuan wisata kelasku.
"Tolong lakukan itu."
Setelah aku mengatakan itu dan Yuuto mengkonfirmasi, aku segera mengaktivkan shunshin.
.
O.o
.
Aku tiba atas sebuah pohon di kawasan komplek menuju kuil Kiyomizu-dera. Tak terduga keadaan kota tampak baik-baik saja setelah sebelumnya aku melihat sekali kota ini dihancurkan.
Semua orang berlalu lalang masih sama, dan tempat wisata masih ramai seperti biasanya. Ini tidak seperti sebuah tempat yang pernah terjadi suatu kerusakan. Itu berarti sesuatu yang terjadi tadi memang suatu keganjilan. Hal ini harus cepat ditangani.
Aku setengah berlari dan melihat ke sekitar, mencari-cari Murayama. Terakhir aku melihatnya dia ada di dekat tempat tunggu yang berada beberapa meter dari stasiun. Tapi karena tak mau repot, aku memutuskan untuk menelponnya.
Panggilan pertama, ponsel dengan begitu kejam mengatakan bahwa nomer sedang sibuk. Di panggilan kedua akhirnya aku dapat terhubung meski agak lama.
Tanpa menunggu gadis yang disebrang merespon panggilannya, aku langsung saja bertanya.
"Dimana kau?"
"Heh, aku, aku ada di depan stasiun. Tadi aku sudah mencoba pergi ke Kiyomizu-dera, tapi aku tidak menemukan rombongan kelas kita, jadi aku langsung saja kemari dan menunggumu disini."
"Baiklah, aku akan ke sana."
Aku dengan lega menutup ponselku. Langsung saja aku segera pergi ke tempat yang Murayama katakan. Dan begitu bertemu dengannya, kami kembali menaiki kereta dan kini menuju kuil Tenryuu di Arashiyama dimana rombongan kelasku berada.
Tepat seperti yang kami duga, rombangan kelas kami ada disini. Karena begitu kami sampai, orang yang pertama aku lihat adalah Naruto yang sedang tepar di salah satu bangku di jalanan.
Ada seorang gadis bersamanya. Gadis itu memiliki rambut pirang dan memakai jubah penyihir. Dari penampilannya itu, orang berpikir mungkin dia kesurupan, tapi aku ingat gadis itu adalah Le Fay, seorang penyihir.
Sekarang pertanyaan baru pun muncul. Apa yang dilakukannya disini? Apa kelompok Vali juga sedang mengadakan karya wisata?
"Uchiha-kun."
"Hn?"
Aku menyahut karena Murayama memanggilku. Dia melihatku sambil menunjuk suatu arah. Aku menoleh ke arah yang ia tunjukan, dan aku bisa melihat beberapa gadis melambai-lambaikan tangan mereka padanya.
"Aku akan pergi bersama teman-temanku sekarang."
"Ya."
"Terima kasih sudah menemaniku."
Murayama melihatku dengan rasa berhutang budi sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Kemudian dia langsung berbalik dan menuju teman-temannya.
Aku dengan lega menghela nafas. Akhirnya aku bisa terbebas dari semua hal yang merepotkan. Sekarang ini aku benar-benar butuh refresing.
Aku menghampiri Le Fay dan Naruto yang terbaring di salah satu bangku di pinggir jalanan.
Tak lama aku menghampiri mereka, Naruto begitu melihatku langsung berdiri. Wajahnya sangat jelas terbaca sedang bersiap-siap menyerbuku dengan ribuan kata.
"Temee! Kurang ajar kau!"
"Yo, Naruto. Bagaimana denganmu?"
"Aku jatuh dihalaman kuil dengan banyak sekali orang-orang yang melihatku."
"Souka,"
"Karena ulahmu itu para biksu membawaku dan mengharuskanku terkena hukuman."
"Itu pasti berat untukmu."
"JANGAN PURA-PURA TIDAK BERSALAH KAU!"
Kurang lebih aku hanya bisa mengalihkan pandanganku sementara Naruto dengan wajah yang begitu geramnya dan mata melotot merosok dihadapanku.
Lagi satu hal, aku begitu puas mendengar cerita kesengsaraannya. Harusnya hal ini terjadi setiap hari.
Tapi tak sampai lama kami bersama, gelombang kekacuan berikutnya datang dan sebagai respon badan Naruto sekejam mengejang.
"Naruto-kun!/Naruto-san!"
Yah, kawanan gadis pirang menyerbunya.
.
O.o
.
Sekaleng gelas berisi jus tomat favoritku keluar jatuh dari mesin. Aku mengambilnya kemudian kubuka dan langsung kuteguk sebagian. Setiap tetesnya terasa memanjakan lidahku dan dahagaku sirna karenanya.
Begitulah yang kulakukan di tengah lobi menuju arah kamar Issei. Itu tidak lama untukku singgah kemari dan kemudian kembali berjalan setelah menghabiskan minumanku dan membuangnya.
Setelah ini akan dilakukan pertemuan untuk membahas mengenai insiden-insiden yang terjadi siang tadi. Maka semuanya akan berkumpul di kamar Issei dengan segera. Herannya ketika aku sampai di depan pintu itu tampak begitu tenang, sepertinya aku yang pertama kemari.
Hanya saja ketika aku membukanya itu tidak sepenuhnya benar.
Ada orang lain selain diriku yang sudah masuk ke kamar ini. Aku kira dia adalah tuan rumah yang menyewa kamar ini namun sayangnya itu bukan.
Sruuput…. Sruuuput…
Dengan celana panjangnya yang tidak rapinya dia cingcingkan hampir selutut, laki-laki dengan tiga pasang kumis di pipi itu duduk lesehan dengan gaya orang di warung. Itu masih mending tapi ketika melihatnya bertelanjang dada membuatnya tak mirip dengan siapa pun selain gembel.
Gembel itu menoleh ke arahku dengan mulutnya yang sedang terisi oleh cup ramen.
Hanya sesaat kami bertukar pandangan sebelum aku memutusnya dengan berkata.
"Ternyata hanya kau saja, Naruto?"
Mendengar itu Naruto melemparkan pandangan tidak suka padaku setelah menyereput ramennya.
"Kenapa? Ada keluhan?"
Kalau aku disuruh menuliskan semua keluhanku padamu, sangat dipastikan semuanya bisa memenuhi kedua sisi kertas F4.
Dan by the way itu masih bisa bertambah. Kalau aku beneran mengatakannya dia pasti akan sangat bangga.
Tak lama setelah kedatanganku, aku menemukan suara kaki-kaki berdatangan kemari, dan ketika aku berbalik untuk melihat siapa saja di luar pintu aku mendapati beberapa wajah dengan wajah Issei berada paling depan.
"Hey, minggir kau dari pintu masuk."
Dia datang dan berkata dengan nada kurang ajar seakan-akan membuatku terlihat seperti orang tolol. Ada apa dengan muka selayaknya atasan itu, minta di tonjok ya?
"Bagus. Semuanya sudah datang."
Seperti yang dikatakan Azazel barusan semuanya sudah lengkap. Dan orang-orang itu berbondong masuk ke kamar Issei yang sangat sempit ini. Mulai dari dia, kelompokku, kelompok Gremory, plus...
"Hai sayang."
"..."
Aku ingin pura-pura tidak melihat, tapi gadis berambut hitam twintail di depanku yang tersenyum sangat manis itu bukan hanya sekedar setan atau alien. Dia adalah gabungan dari keduanya.
Rupanya masalah yang kami hadapi beneran genting sampai-sampai Serafall turun tangan untuk datang kemari.
Aku tidak heran, mengingat apa yang kulihat tadi itu adalah wajar. Kota Kyoto hampir saja hancur. Aku tidak terlalu mengerti tapi aku bersyukur ternyata semuanya sekarang baik-baik saja.
"Jadi, apa yang kau temui, Azazel-chan?"
Langsung ke intinya, tanpa memikirkan basa-basi Serafall bertanya dan begitulah dimulainya pertemuan malam ini.
"Yah, seperti yang sudah kau dengar di perjalanan wisata kita yang indah ini kita tengah mengalami bencana. Seorang laki-laki gila pengguna tombak suci yang mampu membunuh tuhan, penyihir muda berbakat sekaligus pengendali kabut Lost dimension, dan bocah pemilik Annihilation Maker. Tiga penjahat dengan tiga sacret gear terkuat sedang mengacau di kota ini. Tak hanya mereka, ada juga keturunan dari seorang pendekar pedang, Siegfried, Heracles, dan Jeane. Mereka semuanya adalah teroris yang tergabung di Chaos Bridege sebagai golongan pahlawan. Aku, Rossweisse, dan kelompok Gremory bertarung dengan meraka siang tadi, dan harus kuakui bahwa aku kwalahan menghadapinya. Ditambah sepertinya terjadi kesalahpahaman pada golongan Youkai Kyoto yang mengakibatkan beberapa dari kita sempat di serang."
Malaikat berandal itu mengumumkan berbagai hal mengejutkan secara bertubi-tubi dengan santainya. Informasi-informasinya itu semua benar, yang tidak benar adalah cara orang ini menyampaikannya. Setidaknya atur urutannya agar tak tampak menegangkan.
Oleh informasi yang dibeberkan Azazel untuk beberapa saat ruangan dihuni keheningan. Tomoe yang berada di sampingku berkata dengan enggan.
"I-itu tadi luar biasa. Sayangnya, a-aku tidak tahu harus berkata apa."
Diam saja kau. Lagian jika kau berkata aku yakin itu hanyalah suatu yang tidak berguna.
"Cao-cao pemegang tombak terkuat? Seperti apa orangnya?"
Di sisi lain Saji yang sama sekali tidak tahu apa-apa dengan insiden-insiden yang telah terjadi berkerut dalam rasa penasaran.
"Dia pasti seorang pria bernama Cao-cao dan membawa tombak."
Naruto menduga pertanyaan Saji dengan cepat.
"Oi oi tidak mungkin kan kalau dia bernama Kawaguchi Taro," kataku.
Bahkan meski belum pernah bertemu dengannya aku sudah tahu itu. Lagian, kau kan sudah berhadapan langsung dengannya siang tadi bersama kelompok Gremory.
Ngomong-ngomong sekarang Naruto sudah memakai bajunya. Aku bertanya-tanya sejak kapan di melakukannya.
"Lalu, apa yang kau temukan, Sasuke?" Azazel, dia menanyakan ini pasti karena sudah diberitahu Yuuto.
"Hn, tepatnya di Kiyomizu-dera. Waktu itu aku sedang mengejar sesuatu hingga membawaku kesana?"
"Apa yang kau kejar?"
"Aku tidak tahu. Aku masih menyelidikinya. Tapi yang satu ini sepertinya berbahaya."
Aku mengatakan ini karena sampai sekarang semenjak aku berada di dunia ini tak ada satu eksistensi pun yang bermain-main denganku pernah lolos dariku.
Azazel tampaknya berpikir sesuatu, tapi dia lalu kembali berkata.
"Ini belum jelas. Sebaiknya kita kesampingkan dulu masalah ini. Tapi aku telah mengerahkan sejumlah malaikat jatuh bawahanku untuk mencari orang-orang mencurigakan. Kita tidak tahu jumlah musuh yang sebenarnya, apa yang kita lawan tadi sudah semuanya atau masih ada yang lain. Dan bahkan kekuatan mereka juga masih belum jelas, kita belum bisa memprediksinya. Tapi fakta bahwa mereka semua berbahaya itu pasti, jadi berhati-hatilah."
"Aa, aku tahu. Aku juga akan menyelidiki yang satu ini lebih lanjut. Aku hanya mengatakannya untuk memberitahu pada kalian untuk waspada. Bila kalian merasakan perasaan seperti di awasi atau tengah diikuti oleh sesuatu, jangan pernah mencoba mencari atau pun mengejarnya sendiri. Bahkan lebih baik jika kalian membiarkannya dan segera bergabung dengan Azazel atau yang lainnya."
Mendengar itu semuanya mengangguk setuju. Aku belum memberitahukan mereka tentang hal yang disampaikan Sona padaku. Ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Sebagai contoh, apapun yang mengikuti itu dia mungkin merupakan bagian dari kelompok pahlawan yang dikatakan Azazel, tapi itu juga mungkin anggota golongan lain dari Chaos Bridge, dan bisa jadi di luar dari itu semua. Makanya aku harus menyelidikinya. Tapi seperti yang dikatakan Azazel, karena situasinya sedang genting kita harus memprioritaskan masalah yang jelas terlebih dahulu.
"Lalu ini yang terjadi setelahnya. Aku bertemu dengan seorang bocah youkai rubah. Dia memiliki bawahan dan menyuruh mereka menyerangku karena mereka mengira aku menculik ibu bocah itu. Dan selanjutnya Yuuto dan Momo datang. Kemudian itu berakhir dengan Naruto yang menghancurkan kota Kyoto replica yang kau katakan."
Meski penjelasanku tidak sepanjang malaikat berandal itu, tapi tetap saja semuanya memperhatikanku dengan serius.
"Hah? Kenapa? Bagimana bisa kau dituduh seperti itu? Apa kau tidak membawa legendaris yang diberikan Kaichou?" Saji tampaknya terkejut dengan perlakuan mereka terhadapku.
"Aku membawanya setiap saat."
"Aku juga diberikan sesuatu yang sama oleh Buchou, rajaku. Tapi seperti yang terjadi, aku tetap saja diserang."
"Aku juga membawanya."
Untuk membantu, Yuuto dan Momo ikut berbicara.
"Lalu bagaimana bisa?"
Saji tampaknya masih tidak percaya, dan ekspresinya bertanya-tanya.
"Itu bisa dipahami. Bocah yang kau maksud itu pasti adalah anak dari pemimpin para Youkai, Yasaka si rubah berekor Sembilan? Dan golongan pahlawanlah yang telah menculiknya. Tanpa pemimpin, para Youkai sekarang ini pasti sedang kebingungan dengan keberadaan lawan, itu sebabnya mereka sempat mendugamu?"
Begitu. Itu menjawab pertanyaan yang ada. Lagi setelahnya, ternyata ada kyuubi selain Naruto disini. Aku bertanya-tanya apa itu memang mirip dengan kyuubi yang bersemayam di tubuh Naruto.
"Um, kalau begitu biar aku yang menangani masalah ini," semua orang menoleh pada Serafall, "setelah mendengar berita tentang kalian iblis-iblis yang sedang menjalani karya wisata telah diserang oleh mitologi lain sempat membuat aku dan Maou lainnya berspekulasi mengenai beberapa kemungkinan. Karenanya, sebagai Leviathan aku datang kemari untuk mengurusi masalah ini. Aku akan menemui mereka segera."
Andai saja Sona disini, dia pasti akan terpukau oleh kakaknya. Itu pidato yang cantik, meski tidak secantik Sona.
Kalau diingat, tugas Serafall sebagai Maou memang sering berhubungan dengan masalah Foreign Affairs. Aku lupa apa namanya.
Oke masalah ini akan segera beres, lanjut dimasalah satunya.
"Sekarang tinggal masalah golongan pahlawan. Kita belum tahu mereka berniat melakukan apa dengan menculik Kyuubi. Jadi aku akan menyelidiki hal ini dan hal-hal yang belum diketahui lainnya. Juga jaga diri kalian, sampai momen kalian pulang ke rumah, piknik sekolah tetaplah piknik sekolah."
.
.
.
TBC
