Happy Reading! :D
Sebelumnya di 'The Crazy Summer Camping'...
"Ransu-kun dari tadi sibuk melukis tanpa suara! Aku heran kenapa mendadak dia menjadi diam begitu!"
"Kagak tau, tuh! Dari kemaren dia mengerjakan lukisannya itu!"
"Haah! Padahal lukisan ini untuk hari jadiku dengan Emil-san yang tinggal seminggu lagi, tapi aku selalu gagal membuatnya!"
"Huwaaa! Emil-san? Sejak kapan kau ada di sini?"
"Umm, ultah jadian kita kan seminggu lagi! Jadi aku berpikiran untuk melukis ini untukmu karena aku ingin kau kagum dan mencintaiku!"
Chapter 20: The Absurd Day
"Bangun tidur ku terus tidur! Bangun lagi terus tidur lagi! Lama-lama jadi kayak Mbah Surip! Nginget aja udah bikin ngeri!"
Itulah lagu Emil saat bangun tidur. Dengan seenak pantatnya, dia mengubah liriknya. Tuh bocah memang tipe orang yang susah banget bangun, apalagi saat hari libur. Dia baru bangun jam setengah sepuluh, tanpa mandi pula!
Dasar tuh bocah! Kalau dia kagak bangun-bangun juga, terpaksa deh pakai cara 'itu'!
BYUUUUURRR!
"AISUUUUUUUUUUUUUUU! UDAH SIANG, AYO BANGUN!" teriak kakak (bukan) kandungnya, Lukas Bondevik.
"GYAAAAAAAAAAA!" Emil pun langsung bangun jungkir balik (?) dari atas kasurnya.
Yah, cara itu memang selalu berhasil dalam membangunkan bocah Icelandic yang satu ini!
"Hoy, Nore! Kagak usah kayak gini juga, kale! Banguninnya pake cara biasa aja apa?!" tegur Emil sewot.
"Gue udah tau! Tapi lu sendiri yang kagak bangun-bangun! Udah pake toa curian tukang es krim (?), tapi tetap aja kagak bangun! Sampai lu dicium sama Anko Uzai pun masih kagak bangun juga! Terpaksa gue pake air buat bangunin lu!" omel Lukas panjang lebar.
"Apa lu bilang?! Dicium?!" tanya Emil kaget saat mendengar kata 'dicium' barusan.
"Ya, sama Anko Uzai!" jawab Lukas datar.
"Lu kagak bercanda kan, Nore?" tanya Emil memastikan.
"Apa wajah gue ini menunjukkan kalau gue lagi bercanda, hah?!" Lukas bertanya balik sambil memperlihatkan wajah yang sangat menakutkan, bahkan melebihi kesereman Ivan atau Vash.
"WHAAAAAAT?!" teriaknya sambil ngacir ke kamar mandi.
"HUEEEEEEEEEEEEEK! NAJIIIIIIIIS!" pekiknya sambil muntah.
"GUE UDAH KAGAK PERAWAN (?) LAGIIII! HUWAAAAAA!" jeritnya sambil nangis. "LU JUGA! KENAPA LU KAGAK HENTIIN, SIH?!"
"Errr, kemaren kan lu bilang 'Bangunin gue dengan cara apapun, karena besok gue mau ngambil Puffin di 'Amu Laundry' (?)!'!" jelas Lukas datar.
Emil pun hanya bisa ber-'oh' ria mendengarnya.
"Cepet mandi, sarapan, dan ambil Puffin sana!" perintah Lukas sambil menendang adiknya dengan sebal.
"Oke, oke!" balas Emil sambil ngacir ke kamar mandi (lagi?).
Kita skip saja bagian ini karena gue, Author, dan mungkin Reader juga kagak mau mendengar nyanyian (atau teriakan gaje) dari Emil tersebut. Bahkan, Lukas pun langsung pingsan di tempat karena malu mendengar suara adiknya tersebut.
Beberapa menit kemudian...
"SEKARANG GUE UDAH WANGIIIIIIII!" teriak Emil yang sukses membuat pintu kamar mandi hilang entah ke mana. *ngaco!*
"Aisu, setidaknya lu pake baju atau handuk dulu!" saran Lukas yang shock melihat 'vital region' Emil.
Emil pun langsung melihat ke bawah.
"OH IYA, DENG! GUE LUPA!" katanya sambil masuk lagi ke kamar mandi.
'Nih anak udah korslet apa, ya?' batin Lukas sambil geleng-geleng kepala.
"NAH! PUFIIIIIIIIIIIIIIIIIN, I'M COMIIIIIINNNGGG!" teriak Emil yang udah pake handuk.
'Perasaan gue kagak enak, nih!' batin Lukas cemas.
SYUUUUUUUUUUT! GUBRAK!
Penasaran apa yang terjadi? Mari kita lihat dalam tayangan slow motion!
"PUUUUUUUUFIIIIIIIIIIIIIIIIIN! I'M COOOOOMMMIIIIINNNNGGG!"
Emil langsung mundur untuk mengambil ancang-ancang, tapi dia menginjak sabun yang kagak pernah dipulangin ke habitatnya (?). Tubuh Emil yang masih terbalut handuk biru itu pun langsung melayang. Handuknya nyangkut di gagang pintu.
SYUUUUUUUUUUT!
Salto seperti roket, meluncur seperti pemain akrobat (?) (Reader: "Bukannya itu terbalik, ya?" *sweatdrop.*)! Pantat Emil pun langsung berciuman dengan lantai rumahnya dan tepar di tempat.
"Duh! Kenapa gue harus hidup sama orang sinting kayak Aisu, ya?" tanya Lukas kepada dirinya sendiri dengan sweatdrop.
Oke, mari kita skip lagi!
"Hoahm! Aduh, pantat gue sakit banget! WAAAAAAAA!" Emil pun langsung jatuh ke lantai.
Ternyata, Emil bangun sambil guling-gulingan ke tepi kasur dan jatuh. Rupanya kejadian super gaje yang terjadi di atas tadi hanyalah mimpi buruk dia saja!
"Aisu, ada apa?" tanya Lukas sambil masuk ke dalam kamar.
"Ah, kagak apa-apa! Cuma jatuh doang, kok!" jawab Emil datar. "Oh, iya! Bedewe enewe beswe (?), sekarang jam berapa?"
"Jam sebelas!" balas Lukas singkat sambil melirik arloji-nya.
Emil pun langsung shock setengah sekarat (?).
"WUAPAAAAAAA?! GUE HARUS NGAMBIL PUFFIN DI 'AMU LAUNDRY' SETENGAH JAM LAGIIIII!" Emil pun langung ngibrit keluar rumah.
Lukas hanya bisa double sweatdrop melihat kelakuan adiknya tersebut.
"Aisu, masa keluar rumah kagak pake celana?" tanya Lukas yang sukses membuat Emil langsung balik ke kamarnya.
Emil pun langsung mengambil boxer bergambar bendera negaranya, celana jeans, kaos putih, dan jaket coklat.
"Yup! Sekarang gue udah pake baju!" katanya sambil bergaya ala Superman.
Lukas pun hanya bisa sweatdrop menghadapi adiknya yang MKKB tersebut.
"Cepetan ngambil Puffin, sana!" kata sang Norwegian itu.
"Oke!" balas Emil sambil ngibrit keluar rumah. "PUFIIIIIIIIN~ PAPA IS KOMIIIIINNNGGG (?)!"
Setelah beberapa menit berlari dari Islandia ke Jepang (?), sampailah dia di 'Amu Laundry' yang merupakan sebuah usaha laundry milik seorang gadis bernama Hinamori Amu.
KRING!
"Assalamu'alaikum (?), Amu! Apa kabar? Udah berapa banyak anak yang mati (?)?" sapa Emil ngawur.
"Salam macam apaan itu?! Lagian, GUE KAN BELUM PUNYA ANAK, BEGO!" balas Amu sewot.
"Lho? Terus, ketiga bocah kerdil (?) di rumah lu siapa?" tanya Emil.
Tiba-tiba, muncullah Ran, Miki, dan Suu yang langsung nangis kejer lima ember (?).
"HUWAAAAAAA! MAMA AMU (?) KAGAK MAU NGAKUIN KITAAAA!" teriak mereka bertiga histeris.
"Kalian kan anak 'pungut'!" kata Amu sambil memberikan penekanan pada kata 'pungut'.
"Anak pungut itu apa, ya?" tanya Ran heran.
"Halah, itu lho! Kan ada ungkapan: 'Bagai pungut merindukan bulan'!" jawab Emil ngaco. (Thundy: "Itu 'pungguk', dodol!")
"Hayoooo, kalian yaaa? Bulan itu siapa? Kok pakai dirinduin segalaaaaa?" tanya Amu sambil berpikir, 'Waaaaah~ mereka mulai besaaaaar~'
Tiba-tiba, Kiseki, Yoru, dan Daichi langsung muncul dari dalam toilet (?). *Narator dihajar Tadase, Ikuto, dan Kuuka.*
"Ka-kalian selingkuh, ya?! Hiks!" kata ketiganya sambil nangis kejer.
"Hah? Kok jadi melenceng begini, sih?" tanya Suu bingung.
Sementara Amu masih senyum-senyum gaje sambil membayangkan ketiga Shugo Chara-nya udah gede dan kawin.
"Otak lu tuh yang melenceng!" jawab Emil sambil melirik Miki.
"Kenapa? Gue cakep, ya?" tanya Miki ke-GR-an.
"Jyah! Gue yang paling cakep di dunia ini!" balas Emil Over PD.
"Masa?" tanya mereka bertujuh.
"Ah, udahlah! Mana Puffin-ku tersayang?" tanya Emil mengalihkan pembicaraan.
"Tuuuh!" kata Yoru sambil menunjuk sebuah mesin cuci yang masih muter-muter.
"HUWAAAAAAA! PUFFIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIN!" teriak Emil lebay.
Sekarang, coba kalian bayangkan pertemuan sepasang kekasih yang lama tak bertemu kayak di film-film Bollywood dengan BGM 'Kutchi-Kutchi Hotahe' dengan Mr. Puffin yang memakai baju khas India beserta pamer udel (Reader: "Sejak kapan burung punya udel?") dan beragam aksesori.
Mari kita slow motion bagian ini!
"KAAAAAAAAK KAAAAAAAAAAAK!"
"EEEEEEEEEMMIIIIIIIIIILLLL! AWAAAAAAAAAAAAAAASSS AADAAAAAAAA SSAAAAABUUUUN LIIIICIII-" teriak Amu yang terpotong karena...
GUBRAK!
Ciuman kedua Emil dengan lantai pun sukses membuat hidungnya mancung ke dalam.
"Sungguh mengenaskan!" komentar Kiseki sambil memasang tampang kasihan tapi merasakan kepuasan yang tinggi (?) di dalam hatinya.
"Mari kita panjatkan doa kepada Kami-sama, semoga arwah Emil (tidak) diterima di sisi-Nya!" ujar Daichi.
"AMIIIIIIIIIN!" balas kelima Shugo Chara plus Amu.
"Ugh!" Emil pun langsung bangun. "Dasar keluarga LAKNAT *piiip* *piiiip*, uh! Kalian ini *piip*!"
Ketujuh makhluk itu pun hanya bisa mesem-mesem gaje.
"Ah, sudahlah!" kata Emil.
Mr. Puffin pun langsung hinggap di sarangnya alias di kepala Emil.
"Uh, berapa bayarnya?" tanya Emil datar.
"Hmmm!" Amu pun mencet-mencet kalkulatornya sambil memasang senyuman licik. "Murah, kok! Hanya lima ratus ribu Euro (?)!"
"WHAT THE FUCK?! WHAT THE HELL?! WHAT THE DENMARK?! SEMAHAL ITU DIBILANG MURAH?! PASTI ADA YANG SABOTASE! KOK BISA MAHAL BANGET, SIH?!" pekik Emil kagak terima.
Entah kenapa, Utau tau-tau udah langsung nongol.
"Siapa bilang mahal?!" tanya Utau dengan dark aura yang mengerikan.
"Hiiiiiiiyyy! Svi keduaaaaaaa! Ayo kabur, Puffin!" ujar Emil sambil ngacir.
Mereka berdua pun langsung kabur sambil meninggalkan uang 500 rupiah alias GOPEK!
"Eh? Curang! Bayar dulu sebelum pergi! Utau-san, kejar mereka!" perintah Amu.
"BAIKLAH!" Utau pun langsung ngejar Emil sambil bawa-bawa golok.
"HUWAAAAAAA! Svi kedua, bawa golok lagiiii! KABUUUUUUUR!" pekik Emil sambil menambah kecepatan larinya.
"BALIK LU KE SINI!" teriak Utau kesal.
Mereka berdua pun kejar-kejaran sampai menghasilkan debu kayak di film-film kartun. Kalau kalian beruntung berada di pinggir jalan saat itu, kalian bisa menyaksikan adegan kejar-kejaran gratis kayak di film Bollywood! Tapi bedanya, di sini kagak ada nyanyian dan tarian!
Mr. Puffin membisikkan sesuatu ke Emil.
"Oke, Puffin!" kata Emil sambil langsung minggir dan berhenti.
Sementara Utau kebablasan dan langsung nyungsep ke depan.
"GYAHAHAHAHA! Rasain lu! Udah tau di depan tuh lagi ada lubang galian sumur! Biar lu kecemplung situ! BWAHAHAHAHA!" ujar Emil sambil tertawa nista.
"Hoi, bagaimana kalau kita cabut aja?" saran Mr. Puffin.
"Oh iya! Waktunya ngaji di rumah Paman (?) Yasu!" kata Emil sambil ngacir ke rumah orang yang dimaksud.
Dengan kekuatan Temari (?), Emil pun langsung ngibrit ke rumah Ieyasu dengan kecepatan cahaya! Wow, gila! Begitu sampai di rumah Ieyasu, bulu di tubuh Mr. Puffin hanya tinggal sehelai.
"ASSALAMU'ALAIKUM!" sapa Emil sambil ngetuk pintu.
Ieyasu pun membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, Steilsson-san!" balas Ieyasu dengan gaya ala Bang Haji Rhoma Irama (?).
"Wa'alaikumsalam!" jawab Cowboy sambil gelantungan di lengan Ieyasu (?).
Emil pun hanya bisa melongo melihat 'keakraban' kedua sahabatnya itu.
"Eh, si Puffin kenapa?" tanya Cowboy yang heran melihat Mr. Puffin.
"Oh, Pafin-san! Lu diapain aja sama Steilsson-san? Daripada bulu lu rontok semua (entah diapain aja sama Steilsson-san), mending lu sama gue aja yuk~" kata Ieyasu sambil kedip-kedip gaje ke arah Mr. Puffin.
Entah kenapa, bulu terakhir Mr. Puffin pun langsung rontok dalam sekejap.
"WAAAAAAAAAKH! Yasu, lu apain si Pufiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin?!" pekik Emil panik.
"Jangan khawatir! Datengin aja Thundy! Minta obat penumbuh bulu sama dia, selesai!" saran Cowboy santai. (Thundy: "LU UDAH GILA APA, MEIN FREUND?!")
"LU KIRA SEGAMPANG ITU APA?!" tanya Emil sewot.
"Segampang itu, kok!" jawab Cowboy watados.
"Lu kira-kira, dong! Memangnya jarak dari Jepang ke Jerman (?) itu berapa kilometer, hah?!" tanya Emil emosi.
Sementara itu, Mr. Puffin asik melenggang di depan cermin di rumah Ieyasu. Entah kenapa, dia pun langsung tepar setelah melihat bayangannya di cermin.
"TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAK! PUFIIIIIIIIIIIIIIIIN!" teriak Emil lebay sambil nangkep Mr. Puffin.
"Hmm, karena jarak dari Jepang dengan Jerman jauh, gue punya ide!" ujar Cowboy tiba-tiba.
"Apaan, tuh?" tanya Emil dan Ieyasu bersamaan.
"Kita potong aja rambut Ieyasu! Terus, tempelin deh satu per satu ke badan Puffin dengan lem Alteco!" saran Cowboy sambil promosi.
"E-eh? A-Alexia-san! Ka-kau..." Ieyasu pun langsung shock di tempat.
Emil pun langsung ngeluarin tatapan licik.
"Iya ya! Gue setuju banget sama lu!" kata Emil sambil ngacungin jempolnya.
Tiba-tiba, Cowboy langsung memegangi kedua tangan Ieyasu dari belakang. Emil segera mengeluarkan gunting dari sakunya sambil menyeringai.
"WOI, HENTIKAAAAAAAAN!" teriak Ieyasu panik.
"Lu harus membayarnya, Yasu! Lu yang bikin Puffin kehilangan bulu 'terakhir'-nya!" kata Emil dengan seringai yang mengerikan.
"Sebagai pria sejati (baca: gentleman), lu harus bertanggung jawab~" sambung Cowboy.
"GYAAAAAAAA!" pekik Ieyasu.
"Hehehe!" Kedua bocah itu pun tersenyum licik.
Mari kita slow motion lagi adegan ini! *plak!*
"TIIIIIIIIIIDAAAAAAAAAAAAKKKK! NNNNOOOOOOOOOOOOOO!" teriak Ieyasu lebay.
"Hyaaaaaaaaaaaaaaaa!" Emil pun langsung ngayunin guntingnya.
"Stop, kalian berdua!" kata Ieyasu sambil menahan Emil.
"Eh? Kenapa?" tanya Emil dan Cowboy heran.
"Sebelum lu berdua membantai gue dengan sadis, izinin gue nulis kata-kata terakhir gue dulu!" jawab Ieyasu datar.
"Haaaaah?" Keduanya pun langsung masang tampang bingung.
"Ada yang punya kertas, prangko, amplop, sama pulpen?" tanya Ieyasu.
"Kertas, prangko, sama amplop ada, sih! Tapi kagak ada pulpen!" jawab Cowboy.
"Terus pake apa, dong?" tanya Ieyasu lagi.
"Arang?" saran Emil.
"Memangnya kita punya arang?" tanya Cowboy.
Ieyasu dan Emil pun langsung mikir.
"Ah, ada! Pakai scone-nya Kirkland-san aja!" saran Ieyasu.
"Kenapa bawa-bawa makanan gue? Pengen, ya?" tanya Arthur yang langsung nongol dari dalam kulkas (?). *Narator dijejelin scone.*
Emil, Cowboy, dan Ieyasu pun langsung mual.
"Cih, mendingan gue makan makanan basi daripada makan scone lu yang kagak ada rasanya sama sekali itu!" ejek Emil kesal.
Arthur pun langsung sewot.
"APA LU BILANG, GIT?! RASAIN NIH!" teriaknya sambil melempar sebuah scone.
BUAKH!
Ternyata lemparan scone Arthur masuk ke dalam mulut Emil yang sukses membuatnya pingsan. Eh, bukan pingsan deng! Tapi MATI!
"Wah, pinter juga lu! Sekarang kita udah punya arang buat nulis, deh! Ayo, Yasu! Tulis surat terakhir lu!" kata Cowboy sambil nengok ke arah Ieyasu. "HUWAAAAAAA! Hilang kemana dia?!"
"Wahahahahaha! Pinter juga lu, Steilsson-san! Mati aja lu gantiin gue! HAHAHAHA!" kata Ieyasu sambil kabur.
"Woi, kagak tanggung jawab lu! Bantuin gue bangunin Emil apa?! Kalau kagak, gue gundulin rambut lu!" teriak Cowboy sambil ngejar Ieyasu.
Sementara itu, Mr. Puffin sibuk matuk-matukin Emil. Cowboy pun berhenti dan teringat salah satu orang terdekat Emil.
"LUKAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAS!" panggil (baca: teriak) Cowboy.
Sayangnya, saat itu Lukas lagi tidur di kamarnya untuk menghindari ketololan adiknya. Lukas tidur pules banget sampai mimpi lagi kencan sama Troll (?) sambil naik gondola di Venezia (?).
"Aduuuh, siapa lagi, ya?" tanya Cowboy sambil mikir. "Oh, iya! KAMBIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIING!"
"Ada apa, ya?" tanya Mathias yang tiba-tiba keluar dari dalam pot bunga (?).
"HUWAAAAA!" Cowboy pun langsung kaget melihat kemunculan Mathias yang tak terduga tersebut. "Kok lu bisa keluar dari pot bunga, sih?"
"Kagak tau, tuh Auhtor memang geblek!" jawab Mathias sedikit kesal. "Be de we enewe beswe, ada apa ya?"
"E-Emil mati!" kata Cowboy panik.
"Hah?! Innalillahi wa inna ilaihi roji'un (Thundy: "Sejak kapan tuh Kambing jadi muslim?" *sweatdrop.*)! Gue turut bersyukur (?)!" balas Mathias bahagia.
"Gue serius, Kambing! Emil mati! Kalau dia mati, nanti kagak bakalan ada pairing NorIce, DenIce, HongIce, ToruIce, dan lain-lain!" ujar Cowboy sewot.
Tiba-tiba, fudanshi mode Mathias pun langsung bangkit.
"APAAAAAAA?! Baiklah, antarin gue ke sana!" teriak Mathias sambil ngacir.
Beberapa menit kemudian...
"Mana dia?" tanya Mathias ngos-ngosan.
Maklum, aja! Orang dia lari dari Denmark ke Jepang (?)!
"Uh! Lari lu kenceng banget, sih!" kata Cowboy yang juga ngos-ngosan.
"Ini kan demi para fujodanshi sedunia! Sekarang, mana Ice?" tanya Mathias lagi.
"Tuuuh!" Cowboy langsung menunjuk Emil yang sedang berbaring kaku dengan mulut mengeluarkan gelembung hijau (?).
"Kok bisa begitu, ya?" tanya Mathias yang cengo melihat keadaan Emil tersebut.
"Salahnya sendiri ngeledek Arthur! Yah, jadinya Arthur melempar dia pake scone-nya dan masuk ke mulut Emil!" jawab Cowboy.
"Wow! Gue kagak nyangka bisa separah itu! Kayak bom atom yang dijatuhin ke mulut Ice aja, bahkan lebih parah!" kata Mathias sambil nginjek-injek badan Emil.
"Sudahlah! Yang penting, lu punya cara bangunin Emil kagak?" tanya Cowboy To The Point.
"Hohoho, itu mah masalah kecil! Gue kan jago dalam hal beginian!" jawab Mathias sambil ngeluarin frying pan keramat Hungary (?).
"Hah?" Cowboy hanya bisa bingung melihatnya.
"Hmmm! Oke, Ice! Sebelum lu menikmati karya Chopin dari peti mati lu, bersediakah lu mencium wajan keramat ini terlebih dahulu?" tanya Mathias dengan dark aura yang bahkan sukses membuat David Black langsung ngibrit saat merasakan aura mengerikannya tersebut.
"Iiiih! Mommy, takuuuuuut!" kata Cowboy merinding saat merasakan aura mengerikan Mathias tersebut.
"HEAAAAAAAAAAA!" Mathias pun langsung mengayunkan frying pan tersebut.
DUANG!
"WUAAAAAAH! APAAN, NIH?! SAKIIIT!" Emil pun langsung bangun karena kaget.
Ternyata frying pan itu menghantam bibirnya, saudagar-saudagar (?)!
"Ah, akhirnya kau bangun juga! Fufufu~" kata Mathias sambil tersenyum licik.
"Gyaaaah! Puah! Cuuuuuuh! Hueeeeek!" Emil pun langsung muntah di tempat. "Woi, Dan! Kenapa mukulnya di mulut, sih?!"
"Yah, kagak apa-apa kan? Itu mah masih mending, daripada nanti gue mukul di vital region lu! Hayoooo?" tanya Mathias.
"Uh! Iya, sih! Tapi kan lu bisa mukul di kepala, badan, atau yang lainnya! Jangan di mulut! Entar kalau gigi gue tonggos ke dalem gimana?!" jawab Emil sewot.
"Hahaha, beklager! Betewe enewe beswe, gimana rasanya? 'Nikmat', kagak?" tanya Mathias lagi.
"Ha?" Emil hanya bisa bingung mendengar pertanyaan Mathias barusan.
"Ini, lho!" kata Mathias sambil memperlihatkan bagian bawah frying pan yang ternyata tertempel foto Berwald.
Idih! Aneh banget, deh! Ngapain coba foto (mantan) rival dibawa-bawa segala? Ditempel di frying pan pula!
Emil pun langsung shock setengah sekarat melihatnya.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARGH! APA-APAAN ITUUUU?! DASAR *piiip* *piiiip* DAN *piiiip*!" teriak Emil kagak terima.
Cowboy pun langsung ngakak sambil guling-guling di tempat, sementara Mathias langsung ngeluarin death glare mautnya.
"Beraninya lu ngatain gue *piiip* *piiip* dan *piiip*!" pekik Mathias emosi.
"Iya! Kenapa, hah?! Mau ngajakin ribut?! Ayo, gue kagak takut sama kambing jadi-jadian kayak lu!" balas Emil kesal.
"Oh, begitu!" Mathias pun langsung nyiapin kapaknya.
"Weeeeeek! Dasar Kambing!" ejek Emil sambil memeletkan lidahnya.
"Oooh, begitu yaaaaa! AWAS KAU, ICE!" teriak Mathias yang mulai panas.
"Kejar gue kalau lu bisa! HAHAHA!" Emil pun langsung keluar lewat jendela dan kabur.
"GRRRRRRRR! BALIK LU KE SINI, ICE!" Mathias pun langsung ngejar Emil dengan aura hitam yang mengerikan.
"Weeeeeeeeek!" Emil langsung mempercepat larinya.
Kejar-kejaran gaje pun terjadi. Cowboy pun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua.
"Setiap hari selalu aja begitu! Iya kan, Puffin?" tanya Cowboy kepada Mr. Puffin yang bertengger di bahunya.
"Benar sekali!" jawab Mr. Puffin datar.
To Be Continue...
Preview for Chapter 21:
"Eh? Bau apaan, ini? Kok baunya kayak kue gosong milik Cowboy?"
"ASTAGANAGA! DEMI NIHONIME GAKUEN YANG DAMAI (?), APAAN INI?! BAUNYA NAUZUBILAH, BIKIN ORANG MATI!"
"AYO KITA PERANG!"
"APA YANG LU LAKUKAN DENGAN KUE BUATAN GUE DAN KENAPA DI SINI BANYAK KORBAN JIWA BERTEBARAN, HAH?!"
"Tapi, bukannya asal suara ledakan dan kembang api itu berasal dari ruang tengah, ya?"
Review! :D
