Chap 21

Wonwoo menghela nafasnya kesal. Tidakkah Mingyu bisa mengerti perasaannya? Wonwoo selalu merasa takut jika bertemu dengan Mingyu, ia takut jika nanti ayah Mingyu menculiknya lagi seperti kejadian beberapa bulan silam. Jika Mingyu menolak untuk mempertemukan kedua ayah mereka, maka Wonwoo akan nekad mengakhiri hubungan mereka. Wonwoo sudah tidak tahan lagi. Ia lelah bersembuyi dan selalu merasa was-was ketika harus bertemu dengan Mingyu.

Entah mengapa, Wonwoo merasa yakin jika Mingyu akan menuruti permintaannya. Wonwoo yakin Mingyu akan menyetujui rencananya, karena ia tahu jika Mingyu sangat menyayanginya. Baiklah, kali ini Wonwoo terlihat seperti memanfaatkan kasih sayang Mingyu untuknya, tetapi hal itupun demi kebaikan hubungan mereka. Siapa tahu saja kedua orang tua mereka bisa berbaikan setelah dipertemukan, walaupun memang presentasenya kecil. Tetapi siapa yang tahu? Wonwoo berharap kedua orang tua mereka bisa segera bertemu dan menyelesaikan masalah kelam mereka.

Wonwoo kembali menghela nafas, ia merasa bersalah telah mengancam Mingyu melalui hubungan mereka yang sudah terjalin sangat lama. Ketika Wonwoo sedang melamunkan kesalahannya tadi, Jisoo masuk tanpa mengetuk pintu. Pria tampan itu terlihat sangat sibuk sambil membawa berkas-berkas, dengan kacamata yang bertengger di hidungnya yang membuat dirinya semakin tampan. Wonwoo memperhatikan Jisoo yang terlihat masih sibuk dengan berkasnya.

"Mengapa kau kesini?" Tanya Wonwoo. Jisoo segera menolehkan kepalanya.

"Itu, aku kesini karena urusan penting, tenang saja, ayahku ada di gedung Pledis." Jawab Jisoo. Wonwoo menatapnya penasaran.

"Begini, sepertinya kau harus memperbesar gedung Pledis. Tadi ada sekitar puluhan orang datang ke kantor untuk melamar pekerjaan." Jelas Jisoo.

"Mengapa kau tidak menyuruhnya saja untuk bekerja di perusahaan ini?" Tanya Wonwoo.

"Aku bisa saja menyuruh mereka untuk bekerja di perusahaan ini karena memiliki CEO yang sama, tetapi kau tahu sekarang Pledis sudah mulai dikenal oleh dunia. Perusahaan ini sudah meroket semenjak kau memegang kekuasaan tertinggi. Dan kau juga tahu jika Pledis sekarang memiliki banyak investor bahkan dari luar Asia. Karena banyaknya investor yang terus mengajak bekerja sama dengan Pledis, maka karyawan semakin sibuk, tidak mungkin kita terus menyuruh mereka bekerja lembur setiap hari." Jisoo menarik nafas sebentar, memberi jeda. Wonwoo terlihat sudah mengerti arah pembicaraan mereka, tetapi ia memilih mendengar penjelasan lebih lanjut lagi.

"Bisa saja Pledis melakukan kerja lembur setiap hari kepada karyawan, tetapi menurutku itu kurang manusiawi" Wonwoo terkekeh mendengarnya.

"Baiklah, aku mengerti arah pembicaraanmu Hong. Kau ingin aku memperluas Pledis karena semakin banyaknya pekerjaan yang harus dikerjakan oleh karyawan setiap harinya. Karena memberikan lembur setiap hari tidak manusiawi, aku harus merekrut karyawan lagi agar karyawan lama tidak terlalu kewalahan mengurus pekerjaan yang semakin menumpuk karena semakin banyaknya client." Simpul Wonwoo. Jisoo mengangguk sambil mengacungkan kedua jempolnya.

"Atau apakah aku lebih baik meminta para client untuk berpindah ke JWCorp agar tidak perlu merekrut karyawan baru?" usul Jisoo. Wonwoo menggeleng.

"Untuk apa? Client Pledis adalah client JWCorp juga. Lagipula jika kau memindahkan client pun untuk apa, karena perusahaan inipun nanti akan menjadi perusahaan besar yang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja lagi. Baiklah, aku akan memperbesar Pledis, dan mulailah merekrut karyawan baru." Ujar Wonwoo.

"Kau yang terbaik Jeon" ucap Jisoo sambil tertawa.

"Oh ya, ini ada berkas beberapa orang yang tadi datang ke kantor." Jisoo memberikan enam map biru tua yang berisi tentang biodata dan riwayat pendidikan dari ketujuh orang yang datang ke Pledis tadi. Wonwoo melihat satu persatu map itu.

"Besok aku akan datang ke Pledis, dan telepon orang-orang tadi agar besok menemuiku di ruangan CEO, pukul Sembilan pagi, dan jangan sampai terlambat. Aku akan mewawancara mereka." Suruh Wonwoo. Jisoo mengangkat jempolnya lagi.

"Nanti aku akan menelepon mereka." Ujar Jisoo. Wonwoo mengangguk.

"Oh ya, tolong kasih tahu Jaehyun ahjussi, tolong kirimkan nomor telepon bos yang kemarin mengirimkan anak buahnya untuk membangun perusahaan ini, aku akan segera memperluas Pledis." Wonwoo terlihat sangat dewasa jika sudah menyangkut pekerjaannya. Jisoo mengeluarkan ponselnya.

"Ini, aku memilikinya." Jisoo memperlihat layar ponselnya yang terdapat nomor bos bangunan yang Wonwoo minta.

"Tolong kirimkan kontaknya kepadaku." Pinta Wonwoo. Jisoo segera mengirimkan kontak tersebut kepada Wonwoo. Hanya menunggu delapan detik, kontak tersebut sudah sampai di ponsel milik Wonwoo.

"Terimakasih." Ucap Wonwoo.

"Baiklah, aku akan segera kembali ke Pledis, aku harus segera mengurus pekerjaan yang lain." Ujar Jisoo dan segera bersiap-siap untuk kembali.

"Baiklah, hati-hati di jalan." Ucap Wonwoo.

Jisoo segera pergi dari ruangan Wonwoo. Jisoo bilang dia harus mengurus client karena ada project baru. Wonwoo tersenyum kecil. Ia tidak membayangkan jika ia akan sesukses sekarang ini. Walaupun memang cara Wonwoo kotor untuk mendapatkan Pledis. Tetapi setidaknya Wonwoo membeli Pledis dengan uangnya, bukan uang ayahnya. Wonwoo kembali berkutat dengan pekerjaannya. Memeriksa project-project yang mungkin akan menghasilkan untung yang besar untuk perusahaannya itu.

.

.

.

Tidak Wonwoo dan tidak Mingyu. Keduanya disibukkan oleh pekerjaan mereka masing-masing. Mingyu sedang sibuk memeriksa berkas dengan gagang telepon yang ia jepit diantara kepala dan bahunya. Gyuwon sedang dalam puncaknya. Ketika Yoomin turun, ayah Mingyu memanfaatkan situasi itu. Ia segera mengirim beberapa berkas ke perusahaan besar di Korea Selatan. Bahkan Min Woo, mengirimkan beberapa orang kepercayaannya pergi ke beberapa Negara di Eropa untuk mengajaknya bekerja sama. Saat ini Mingyu sedang fokus untuk mengambil hati CEO dari perusahaan perangkat lunak dan perangkat keras yang berada di USA, International Business Machine Corparation, atau IBM. Mingyu masih harus menunggu dengan sabar agar berkasnya diterima atau tidak. Perusahaan besar tersebut bilang, jika mereka meng-acc berkas yang Mingyu kirim, mereka akan mengabarkannya melalui email. Dan hari ini, Mingyu harus terus mengecek pekerjaan yang menumpuk di mejanya. Belum lagi Mingyu banyak menerima telepon dari berbagai perusahaan yang sudah meng-acc permintaan bekerja sama yang dikirim oleh ayahnya.

Dua setengah jam berlalu, Mingyu akhirnya selesai mengerjakan semua pekerjaannya. Kursi yang ia duduki sedikit terdorong ke belakang, saat Mingyu menyandarkan tubuh kekarnya. Mingyu memijit pangkal sedikit lelah karena pekerjaannya itu. Mingyu memutuskan untuk pergi ke kantin kantor yang berada di lantai dasar. Mingyu meminta espresso untuk menyegarkan kembali otaknya.

Mingyu teringat tentang kantor yang sedang ia bangun. Tidak tanggung-tanggung, Mingyu menggunakan jasa dari arstitektur terkenal di dunia, Zaha Hadid. Arsitektur yang juga membuat Dongdaemun Design Plaza, apartement mewah yang berada dalam drama You Came From The Star. Mingyu mengecek email nya. Terdapat foto gedung pencakar langit berlantai tiga puluh dua, yang nanti akan menjadi kantor baru Mingyu, sekaligus dengan dirinya yang menjadi CEO perusahaan tersebut. Mingyu tersenyum melihat foto tersebut. Kurang lebih satu bulan lagi, kantor barunya akan selesai. Mingyu sendiri memiliki jumlah tabungan yang sangat banyak. Bahkan pria bertaring itu memiliki dua belas kartu kredit, dan satu kartu black card. Dari dua belas karu kredit tersebut, Mingyu memiliki setidaknya beberapa ratusan juta perkartu kredit, dan belum lagi black card yang dimilikinya. Mingyu tidak mendapatkan semua uang itu secara instan. Walaupun Gyuwon milik ayahnya, tetap saja Mingyu tidak mendapatkan uang ratusan juta bahkan mungkin milyaran itu dari ayahnya hanya karena Mingyu adalah anaknya. Mingyu mendapatkan itu semua dari hasil kerja kerasnya sendiri. Mingyu sering mendapatkan puluhan juta dari investor yang usahanya memiliki untung yang besar. Belum lagi Industrial and Commercial Bank of China atau ICBC. Perusahaan terbesar dengan jumlah asset mencapai satu koma enam triliun dollar. Entah otak Mingyu diberi nutrisi apa saja sehingga mampu membuat perusahaan yang bisa dibilang termasuk dua puluh perusahaan terbesar di dunia itu dapat jatuh hati pada daya fikir dan kinerja Mingyu. Dan jangan lupakan perusahaan elektronik Samsung, yang sedang dalam masa puncaknya, mengalahkan perusahaan elektronik besar dari California, Apple. Mingyu meraih keuntungan yang fantastis, yang mencapai angka puluhan juta, dan uang itu adalah milik Mingyu, bukan milik ayahya.

Senyum Mingyu seketika hilang. Mingyu menghembuskan nafasnya pelan. Ia mengingat kata-kata Wonwoo tadi. Kekasih manisnya itu ingin agar kedua ayah mereka bertemu. Wonwoo masih bersikukuh jika permasalahan ini dapat diselesaikan. Mingyu mau tidak mau harus menuruti apa kata Wonwoo. Ia tidak mau kehilangan Wonwoo untuk yang kedua kalinya, setelah kejadian beberapa bulan silam terjadi. Mingyu segera memakai jasnya, dan pergi dengan Lamborghini Avendator Gold miliknya menuju café.

.

.

Seperempat jam Mingyu menunggu, sosok manis yang ditunggunya datang. Wonwoo datang dengan wajah yang lebih datar dari biasanya. Mingyu menghela nafas pelan saat melihat ekspresi di wajah manis Wonwoo.

Pria manis itu duduk dihadapan Mingyu. Sebelum Mingyu berbicara, Wonwoo sudah terlebih dahulu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Wonwoo memesan makanan yang ada dimenu beserta minumannya.

"Kau sudah menyutujuinya?" Wonwoo segera angkat bicara ketika pelayan tadi sudah pergi. Mingyu memejamkan matanya sebentar, lalu mengangguk pelan. Mata Wonwoo berubah menjadi bentuk bulat sabit. Wonwoo tersenyum senang mendengar keputusan Mingyu.

"Kau tidak takut mereka akan semakin menentang kita?" Tanya Mingyu. Wonwoo menggeleng.

"Entahlah, aku hanya percaya jika mereka akan kembali seperti dulu lagi." Ucap Wonwoo. Mingyu mengangguk.

"Semoga saja yang kau ucapkan benar-benar terjadi." Tambah Mingyu.

"Tapi, jika hal itu tidak terjadi, aku sudah memikirkan beberapa kemungkinan. Mungkin saja kedua ayah kita semakin menentang hubungan kita, dari kemungkinan pertama, bisa saja kedua ayah kita menculik kita, seperti saat ayahku menculikmu dulu. Dan mungkin juga ayah kita dapat menutup segala jalan kita untuk mengembangkan perusahaan kita, misalnya bisa saja ayah kita menghancurkan bisnis kita, atau berusaha agar para client dapat mencabut semua kontrak yang ada di perusahaan kita, mereka adalah orang-orang besar yang berpengaruh dan dapat memberikan pengaruh." Mingyu memberi jeda sedikit. Wonwoo terdiam, mendengarkan Mingyu dengan baik.

"Bahkan lebih buruk lagi, bisa saja ayah kita membunuh. Tetapi kemungkinan terakhir sepertinya hanya nol koma sekian persen jika dipresentasekan, tetapi tetap saja masih ada kemungkinan kecil itu. Aku tidak mengharapkan semua kemungkinan itu terjadi. Aku tidak mau, tetapi jika memang kedua ayah kita menentang itu semua, kau harus siap angkat kaki dari Negara ini denganku. Kau harus bisa menjalankan perusahaanmu dari Negara lain. Aku akan membawamu pergi. Aku tidak mau kau disakiti lagi. Aku akan membawamu lari dari kemungkinan hal-hal buruk." Mingyu menatap Wonwoo dengan serius. Ia menggenggam tangan Wonwoo, meremasnya dengan lembut. Wonwoo tersenyum, lalu mengangguk.

"Aku akan menuruti semua katamu Kim Mingyu." Ujar Wonwoo dan mebuat Mingyu tersenyum memperlihatkan taringnya. Wonwoo segera melepaskan tangan Mingyu ketika makanan datang, membuat Mingyu menatapnya tidak percaya. Wonwoo hanya cengengesan, lalu segera memakan makanan yang ia pesan.

"Buka mulutmu, aku tahu kau pasti sangat lapar." Ucap Wonwoo, sambil menyodorkan makanan yang dicapit oleh sumpit. Mingyu membuka mulutnya, lalu memakan makanan yang Wonwoo berikan.

"Lebih enak masakanku." Sombong Mingyu. Wonwoo berdecih, sambil menatap Mingyu yang terlihat menyombongkan dirinya.

"Ini adalah makanan paling dasar untukku." Wonwoo menggetuk dahi Mingyu dengan sendok yang masih dibalut tisu. Mingyu meringis sambil mengusap dahinya yang kesakitan.

"Lihat! Ini pasti merah!" dengus Mingyu sambil mendekatkan dahinya ke Wonwoo. Pria manis itu tanpa diduga, mengecup kening kekasihnya itu, dan membuat Mingyu kaget, karena jarang sekali Wonwoo bersikap seperti itu di depan umum. Mingyu kembali ke tempatnya semula, menatap Wonwoo yang bertingkah seperti tidak terjadi apapun.

"Mengapa kau melakukannya? Kau sudah mulai berani Jeon Wonwoo." Ucap Mingyu.

"Kau juga sering melakukannya." Balas Wonwoo enteng.

"Cih… Akan kubuat kau tidak bisa berjalan dan sakit di seluruh badanmu. Aku akan menandaimu di seluruh badan." Ancam Mingyu. Wonwoo membelo. Ia segera menatap Mingyu tajam. Ia ingat kejadian saat pertama kali Mingyu 'melakukannya' . Wonwoo merasakan sakit dan nyeri di seluruh sendi dan tulangnya. Mingyu benar-benar membuat Wonwoo tidak bisa berjalan.

"Aku tahu kau sedang memikirkan saat pertama kali kita 'melakukannya' kan?" Tanya Mingyu dengan senyum yang sangat menyebalkan menurut Wonwoo.

"Tidak." Jawab Wonwoo malas.

"Wajahmu bersemu Jeon Wonwoo." Goda Mingyu. Tetapi, memang wajah putih Wonwoo bersemu merah, membuat pria itu semakin manis. Wonwoo segera memakan kembali makanannya agar Mingyu berhenti menggodanya.

"Oh ya, menurutmu kapan waktu yang pas untuk mempertemukan kedua ayah kita?" Tanya Wonwoo sekalian mengalihkan pembicaraan. Mingyu terlihat berfikir sejenak.

"Entahlah, sepertinya jangan waktu dekat ini. Pasti mereka berdua sedang sangat sibuk. Ayahmu sibuk untuk membangun kembali perusahaannya dan mengembalikan saham, sedangkan ayahku sedang sibuk menambah saham, lagipula aku juga sedang benar-benar sibuk. Sepertinya minggu depan." Jawab Mingyu.

"Benar juga, akupun sedang sibuk. Aku besok ada wawancara untuk karyawan baru. Mungkin memang harus minggu depan." Ucap Wonwoo menyetujui usul Mingyu.

"Baiklah, minggu depan. Di Restoran Unamjeong, pukul Sembilan pagi, apakah bisa?" Usul Mingyu.

"Sepertinya bisa." Jawab Wonwoo.

"Baiklah, minggu depan, hari Sabtu, di Restoran Unamjeong, pukul sembilan pagi." Ulang Mingyu dan dibalas dengan anggukan oleh Wonwoo.

.

.

.

.

Keesokan harinya, Wonwoo sudah berada di gedung Pledis pukul setengah sembilan. Ia harus menemui Jisoo dan Jaehyun terlebih dahulu. Wonwoo harus membicarakan perihal kemarin yang Mingyu dan dirinya rundingkan bersama. Wonwoo memasuki ruangan Jisoo. Disana sudah ada Jaehyun yang sedang berbincang-bincang dengan Jisoo.

"Wonwoo-ya, ada apa?" Tanya Jaehyun saat Wonwoo memasuki ruangan itu. Mereka bertiga duduk di sofa empuk berwarna abu-abu tua.

"Menyangkut pekerjaan?" Tanya Jisoo. Wonwoo menggeleng.

"Bukan itu. Menyangkut hubungan antara kau, ayahku dan Min Woo ahjussi." Jawab Wonwoo. Wajah Jaehyun terlihat sedikit menegang.

"Ada apa?" Tanya Jaehyun.

"Aku dan Mingyu sepakat untuk mempertemukan ayahku dan ayahnya, siapa tahu dengan pertemuan ini, mereka bisa kembali bersahabat seperti dulu." Jelas Wonwoo.

"Lakukan saja. Aku akan ikut, aku akan menjadi penengah di sana." Ujar Jaehyun. Wonwoo tersenyum. Itu adalah jawaban yang Wonwoo inginkan, setidaknya ia tidak perlu memaksa Jaehyun ikut.

"Baiklah ahjussi. Aku dan Mingyu sangat senang karena kau bisa membantu dalam masalah ini." Ucap Wonwoo lagi.

"Tidak apa-apa, mereka juga masih sahabatku."

"Semoga kalian bisa bersahabat lagi." Ucap Jisoo sambil tersenyum teduh.

"Aku harap juga begitu. Oh ya, dimana kau akan mempertemukan mereka?" Tanya Jaehyun.

"Di Restoran Unamjeong, hari Sabtu, pukul sembilan pagi." Jawab Wonwoo. Jaehyun mengangguk.

"Aku akan menyerahkan semua pekerjaan kepadamu sepertinya." Kekeh Jaehyun sambil menepuk bahu Jisoo. Wonwoo ikut terkekeh melihat tampang protes Jisoo, tetapi lelaki pemilik senyum meneduhkan itu hanya terdiam.

"Tetapi, bagaimana jika setelah pertemuan itu ayah kalian memiliki konflik yang semakin besar bukannya malah mereda?" Tanya Jisoo.

"Mingyu akan membawaku pergi dari negara ini. Entah dia akan membawaku ke negara mana." Jawab Wonwoo.

"Lalu bagaimana dengan perusahaanmu?" Tanya Jisoo lagi.

"Aku akan menjalankannya dari jauh." Jawab Wonwoo.

"Sudahlah, ini sudah hampir pukul sembilan, kita semua harus segera pergi." Ucap Wonwoo. Pria manis itu berdiri, hendak pergi untuk menemui calon karyawan baru di ruangan meeting.

"Kemarin ada berapa orang?" Tanya Wonwoo sambil berjalan.

"Yang aku bawa, bukankah ada tujuh berkas?" Tanya Jisoo balik. Wonwoo mengingat-ngingat, lalu mengangguk.

"Tetapi, aku menambah empat yang lainnya, jadi total calon karyawan baru ada sebelas." Jawab Jisoo.

"Baiklah, kita lihat nanti saat wawancara." Ucap Wonwoo.

.

.

.

Jisoo memang tidak pernah keliru dalam memilih orang. Dari sebelas orang yang tadi mereka wawancara, semuanya sudah resmi menjadi karyawan Pledis. Wonwoo memang tidak salah memilih Jisoo sebagai wakil direktur. Mungkin Jisoo sebentar lagi akan menjadi calon direktur, menggantikan ayahnya.

Jisoo sengaja memilih lima dari sebelas orang tersebut yang berasal dari fakultas pemasaran, karena tenaga kerja untuk marketing di perusahaan itu sedang sangat dibutuhkan. Sebenarnya, Jihoon juga sudah mengeluh beberapa kali, karena ia kewalahan dalam bidang pemasaran, karena kurangnya jumlah tenaga kerja. Setidaknya, dengan adanya tambahan lima orang tersebut, tidak membuat Jihoon terlalu kewalahan. Wonwoo akan segera menambah karyawannya lagi setelah Pledis selesai diperluas lagi.

.

.

.

Mingyu menatap bangunan pencakar langit di depannya, yang hanya menghitung hari sudah selesai. Gedung didepannya itu sudah dalam proses final. Mingyu hanya perlu mengontrolnya saja. Mingyu tidak perlu repot memikirkan tentang design interior ataupun segala peralatan dan perlengkapan kantor, karena itu semua sudah diurus. Mingyu tidak sia-sia mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk menggaji arsitektur dunia tersebut. Mingyu sangat puas ketika melihatnya. Mingyu juga tidak perlu khawatir uangnya habis, ia baru saj mendapatkan telepon jika clientnya mendapatkan laba yang sangat besar, dan membagi lima belas persen laba tersebut dari perjanjian diawal. Belum lagi, Gyuwon juga mendapat laba yang sangat fantastis, mencapai puluhan milyar. Memang otak Mingyu sangat diperlukan bagi banyak orang. Kebanyakan laba yang diperoleh oleh perusahaan asing dan Gyuwon sendiri adalah hasil pemikiran Mingyu. Maka jangan heran jika Mingyu selalu mendapatkan bagian yang sangat besar.

Mingyu berjanji, ia akan membahagiakan kekasihnya. Mingyu tidak ingin Wonwoo-nya disakiti. Mingyu benar-benar akan membawa pergi Wonwoo ke negara lain. Ke pulau Ko Lipe, yang sudah ia beli sebelumnya.

.

.

.

Sudah tiga hari pembangunan dilakukan untuk memperluas Pledis. Tidak ada masalah. Wonwoo sama sekali belum mengontrolnya. Ia hanya mengontrol lewat telepon dari Jisoo, atau foto yang dikirim oleh Jisoo melalui email. Wonwoo benar-benar sedang sibuk. JWCorp sekarang sudah mulai dikenal dunia, berkat Pledis. Wonwoo tidak perlu susah payah untuk menarik para investor. Nyatanya, JWCorp seperti magnet, yang menarik para investor mendekat.

Baru pada hari keempat, Wonwoo sempat mengunjungi Pledis. Ia baru bisa mengontrolnya. Wonwoo segera bergabung dengan Jisoo yang sedang melihat-lihat sekitar. Ketika Jisoo mendapatkan telepon, Jisoo segera masuk kedalam ruangan, meninggalkan Wonwoo yang masih ingin mengontrolnya. Wonwoo tersenyum kecil, ia masih tetap tidak menyangka jika ia akan memiliki perusahaan sebesar ini.

Sudah setengah jam Wonwoo mengontrolnya, Wonwoo bertemu dengan bos mereka. Teman ayahnya yang bernama Han Sung Soo, atau lebih sering dipanggil Sung Soo. Wonwoo tersenyum lalu menerima jabatan tangan dari pria yang seumuran dengan ayahnya itu.

"Bagaimana? Ada yang kurang sajangnim?" ucap Sung Soo sambil terkekeh.

"Tidak ada, sudah baik aku rasa." Jawab Wonwoo.

"Apakah ayahmu mengetahui ini?" Tanya Suung Soo. Senyum Wonwoo segera hilang dari wajahnya.

"Maafkan aku, sepertinya aku salah memilih topik." Ucap Sung Soo. Wonwoo tersenyum.

"Tidak apa."

"Dan ayahku tidak mengetahui ini mungkin." Jawab Wonwoo,

"Mengapa kau mengkhianati ayahmu sendiri?" pertanyaan Sung Soo tadi membuat kening Wonwoo berkerut.

"Maaf ahjussi, aku tidak suka membahas hal itu. Dan juga, aku tidak mengkhianati ayahku." Ucap Wonwoo.

"Maafkan aku." Ucap Sung Soo sambil menunduk. Wonwoo hanya tersenyum. Terpaksa.

"Baiklah, sepertinya sudah selesai aku mengontrol kerja anak buahmu, aku akan segera pergi." Ujar Wonwoo.

"Maafkan aku jika tadi aku salah berbicara."

"Tidak, kau tidak salah." Ucap Wonwoo.

"Mungkin hanya aku yang sensitif." Wonwoo tersenyum.

Ketika Wonwoo akan pergi dari sana, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari atas. Wonwoo menghadap keatas, dan saat itu juga, kepala Wonwoo terhantam oleh besi dengan berat nol koma tiga ratus sembilan puluh lima kilogram. Pandangan Wonwoo langsung buram, dengan cairan merah kental yang mengalir dari dahinya.

TBC…

Aku lagi mencoba update ngebut nih, sebelum tugas menghantui hariku, dan merenggut waktu luangku, alay yah wkwk…

Jangan lupa RnR aja deh yaaaaa^^ Aku ini udah butek banget, udah mentok nih.

Aku thayank kaliannn dan meanie:*

Oiya, typo(s)