Crime and Punishment
Side Story - Xiumin aka Kim Minseok
Note: setting ini jauh sebelum Oh Sehun menjadi bos mafia.
-o-
"Jangan kabur, kau bocah!" teriak seorang bapak-bapak paruh baya.
Perutnya buncit sampai-sampai kancing kemeja yang dikenakannya hampir lepas. Ia berlari dengan susah payah sambil membawa stick jalan. Larinya terpincang-pincang.
Meski nafasnya sudah tersengal-sengal, bapak paruh baya itu terus mengejar anak kecil yang sudah mencuri roti jualannya.
"Kena kau! Hahaha!" Pria itu tersenyum puas melihat anak kecil itu berhenti karena jalan buntu. "Sekarang, kembalikan rotiku atau kulapor pada polisi! Sudah berapa kali kau mencuri rotiku belakangan ini, nak!"
Anak laki-laki kecil itu panik. Ia memeluk roti isi krim yang ia curi dengan modal nekat-nekatan. Pria itu tidak peduli melihat kondisi lusuh anak kecil itu.
"Tolong, biarkan aku mengambil roti ini, pak!"
"Kau harus membayar untuk mendapatkannya, anak kecil! Apa kau tidak pernah diajarkan oleh orang tuamu?"
Ucapan itu begitu menusuk bagi seorang bocah yang tak pernah memiliki orang tua.
"Hah! Tentu saja! Anak buangan sepertimu mana mengerti! Sekarang, kembalikan atau kulapor pada polisi."
Perutnya sudah keroncongan. Ia belum makan apapun dari kemarin. Tubuhnya gemetar antara lapar, haus dan kedinginan karena kemarin hujan seharian. Ia tidak punya tempat perlindungan.
Menelan ludah, ketimbang mengembalikannya pada sang penjual roti, anak kecil itu melahap roti krim yang dicurinya sekaligus.
"Hei! Siapa yang bilang kau boleh makan! Bayar!" laki-laki paruh baya itu marah.
Ia memukul anak kecil itu dengan stick yang dibawanya. Anak kecil itu sudah kebal. Ia sering dipukuli karena mencuri bagai tikus jalanan atau diam-diam meminta seperti kucing liar.
"Tidak apa-apa," batinnya. "Sebentar lagi dia akan berhenti memukulku."
Dengan keyakinan itu, harapannya terkabulkan. Anak itu berpikir sang penjual roti sudah puas memukulnya. Namun, ia melihat beberapa orang lain dibelakang laki-laki paruh baya itu.
Ada laki-laki mengenakan jas mewah menghentikan perbuatan sang pemilik toko roti. Anak itu terpesona. Rambutnya ditata sedemikian rupa, begitu rapi saat disisir ke samping menggunakan gel.
"Siapa lagi, kau!? Aku belum puas menghajar si pencuri kecil ini!" seru laki-laki penjual roti. "Apa kau walinya?"
Laki-laki dalam balutan jas mewah itu tersenyum. "Bukan."
"Kalau begitu tidak usah ikut campur!" laki-laki paruh baya itu mengayunkan sticknya kearah orang asing tersebut.
Orang itu menahan sticknya, megejutkan sang penjual roti. "Pak. Tidak baik menyerang membabi buta seperti ini. Apalagi…" ia melirik anak kecil tersebut. "…dia hanya seorang bocah kelaparan."
"Grr… kalau begitu, kenapa kau tidak bayarkan semua roti yang sudah dia curi, hei tuan tanpa nama?"
Tersulut emosi, sang penjual roti malah balik memarahi laki-laki yang datang tiba-tiba.
"Berapa?"
"Dia mencuri lebih dari 50.000 won! Bahkan dia pernah mencuri banyak untuk memberi makan komplotannya!"
Laki-laki itu mengeluarkan dompet dari sakunya. Ia memberi dua lembar uang kertas senilai 50.000 won. "Apa ini cukup?"
Sang penjual roti mengerjabkan matanya. "Kau serius mau membayarkan roti curian bocah yang bahkan tak kau kenal ini?" ia menunjuk-nunjuk.
"Ya. Apa perlu kuberi selembar lagi?" laki-laki itu sudah berniat mengeluarkan selembar uang kertas lagi. Namun ditahan oleh sang pemilik toko roti.
"Cukup-cukup. Ini sudah cukup, tuan." Ia mengambil dua lembar uang kertas 50.000 won dari tangan laki-laki asing tersebut.
"Dan kau! Berterima kasihlah pada laki-laki ini! Jangan mencuri rotiku lagi!" bentaknya.
Baru saja pemilik roti itu akan pergi, laki-laki itu menahan lenganya. "Pak, bukankah bapak juga harus minta maaf pada anak itu?"
"Kenapa lagi?! Dia yang berbuat salah!"
Laki-laki itu menggeleng. "Anda juga salah memukulinya sampai memar begitu. Dimana etika moral anda sebagai orang dewasa?"
Sang penjual roti menggertakkan gigi. "Kalau aku tidak mau?"
Senyum yang terukir di bibir laki-laki berjas menjadi gelap. "Saya yang akan menghukum anda, Pak Lee Giyoung."
Laki-laki buncit itu merinding. "Darimana kau tahu namaku? Aku tak pernah melihatmu di sini."
"Mudah bagi saya mencari informasi di kota sekecil ini, Pak Lee Giyoung. Jadi, apakah anda akan meminta maaf atau tidak?"
Pemilik toko roti bernama Lee Giyoung tersebut mennyentakkan tangan laki-laki asing tersebut. "Tidak akan! Huh!"
Sembari menatapi kepergian sosok Lee Giyoung, laki-laki berjas tersebut kembali menatap anak kecil yang sedari tadi terdiam melihat semuanya. Mulutnya menganga karena keterkejutan dan kekaguman.
"Kau tidak apa-apa, nak?" ia berjongkok, mensejajarkan matanya dengan mata anak kecil itu.
Seolah tersadar dari lamunannya, anak kecil itu segera menundukkan kepalanya berulang kali. "Terima kasih banyak, tuan."
"Apa kau selalu mencuri makanan? Selalu dipukuli seperti ini?" tanyanya.
Merapatkan bibir, anak itu menjawab, "Ya."
"Kenapa?"
"Saya tidak punya siapapun selain sesama teman yang dibuang. Dan saya yang paling kecil… jadi selalu disuruh-suruh. Kalau saya tidak kembali dengan makanan atau uang, mereka akan memukuli saya."
"Siapa namamu?" lanjutnya.
Mengerutkan keningnya, ia menjawab, "Kim Minseok."
"Usiamu?"
Lagi-lagi, anak itu keheranan. "7 tahun."
"Kim Minseok, kau punya potensi yang besar. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu."
Anak kecil bernama Kim Minseok itu masih tidak mengerti. Laki-laki berjas itu sangat kaya. Hanya itu yang ia paham.
"Apa kau mau bebas dari kekangan orang-orang di sini?"
Pertanyaan itu sungguh membuatnya kebingungan. "Apa maksudnya?"
"Tidak lagi disuruh-suruh, tidak lagi dihajar karena mencuri, mendapat pendidikan layaknya anak normal, makan dengan nikmat tanpa rasa bersalah. Seperti itu."
Menggiurkan.
Tawaran itu sangat menggiurkan bagi anak terlantar sepertinya.
"Sepertinya kau perlu waktu untuk berpikir, Kim Minseok." Laki-laki itu memberi Minseok sebuah kartu nama.
"Ini tanda pengenalku. Aku sedang mencari anak-anak dengan ambisi kuat dan berani berbuat nekat sepertimu tadi. Kau tahu, memakan roti di depan pemiliknya seperti itu cukup menghiburku. Sayangnya, kau tak melawan."
Kim Minseok hanya menatapi kartu nama tersebut. "Maaf, siapa nama tuan?"
Laki-laki itu memiringkan kepalanya. "Kau tidak pernah belajar membaca?"
Kim Minseok menggeleng. "Saya tidak pernah belajar membaca menulis… kakak-kakak saya tidak mengajarkan saya."
Laki-laki itu mengulurkan tangannya. Jari-jarinya menunjuk pada nama di kartu nama. "Ini margaku, 'Oh' dan ini namaku 'Taegyeong'," tuturnya.
"Oh Taegyeong?"
"Ya."
"Tuan Oh, apa anda benar-benar akan memberi semua yang anda sebutkan tadi?"
Oh Taegyeong tersenyum. "Jika kau benar-benar niat, aku akan membantumu. Tentunya, ada harga untuk mendapatkannya, nak."
"Berapa harganya?" sorot mata Minseok redup mendengar kata "'harga'.
Oh Taegyeong sadar akan perubahan kecil itu. Ia menjelaskan, "Kim Minseok, di dunia ini, harga tak selalu berarti nilai uang. Yang akan kuberikan padamu tidak bisa dinilai dengan uang."
"Tidak bisa dinilai dengan uang?"
Laki-laki bernama Oh Taegyeong berdiri. Dia menepuk kepala Kim Minseok beberapa kali layaknya anaknya sendiri. "Kalau kau mau… kau harus bekerja keras untuk semua itu. Dengan modal nekatmu itu, datanglah ke toko roti bapak itu besok pagi. Aku akan menunggumu."
Kim Minseok memandangi punggung Oh Taegyeong yang pergi. Ia melihat bagaimana dua orang lain yang sejak tadi hanya diam menunggui sosok Oh Taegyung. Salah satu dari mereka membukakan pintu mobil dan satunya kembali ke posisi menyetir.
Kepergian mobil Oh Taegyung menyisakan kartu nama yang bahkan tak bisa ia baca dan tawaran menggiurkan yang bahkan tak ia mengerti bagaimana caranya. Ia tidak tahu kalau ada hal yang tak bisa dibeli dengan uang.
Kata-kata terakhirnya terus terngiang di kepala Minseok.
"Datanglah ke toko roti bapak itu besok pagi."
Kim Minseok kembali dengan tangan kosong. Seperti biasa, sesama anak terlantar sepertinya menunggu hasil curiannya.
"Mana?" sosok paling tua di antaranya menagih curian hari itu.
Kim Minseok menggeleng. "Tidak ada."
"Kau berani melawan sekarang?!" yang lebih tua nomor dua menyahut. "Kau mau kupukul lagi?!"
Minseok melihat ke sekelilingnya. Anak-anak sepertinya, semuanya memalingkan wajah. Tidak ada yang berani melawan karena berpikir memang beginilah status mereka.
Saat dirinya dipukuli karena gagal membawakan makanan atau uang, Minseok juga merasa tak bisa melakukan apapun. Apa ia seharusnya melawan lebih dari ini? Apa nasibnya?
Kim Minseok tidak tahu.
Malam itu, ia kembali kelaparan dan tidak bisa tidur. Kim Minseok menatapi langit-langit atap yang bolong, kotor, dan rapuh itu. Ia bisa melihat beberapa bintang dari posisi berbaringnya.
Dalam hatinya, ia berteriak untuk bebas. Ia tidak mau hidup seperti ini. Betapa inginnya ia hidup normal seperti anak-anak lainnya yang selalu ia lihat di jalanan. Bersama orang tua mereka, belajar, bermain, tertawa.
Kim Minseok tidak bisa mendapatkan semua itu di sini. Walau air matanya mengalir sederas apapun, hatinya sesakit apapun, tidak mungkin terjadi.
Walau gelap, ia kembali memegangi kartu nama Oh Taegyeong. Anak lain yang lebih tua darinya hampir mengambilnya dan menyobeknya, tapi ia melindunginya. Itu kartu nama yang memberi bukti bahwa ia memang pernah bertemu dengan laki-laki itu.
Dalam sekejab, kartu nama itu lecek dan kotor karena diinjak, tapi tidak apa-apa. Kartu nama itu masih utuh.
Kemudian Min Minseok baru sadar, laki-laki itu bilang besok pagi. Tapi dia tidak bilang pukul berapa atau sepagi apa. Dia tidak punya jam. Kim Minseok segera bangun. Ia melihat semua orang masih tidur terlelap.
Memandangi kartu nama itu, ia membulatkan tekat untuk menerima tawaran Oh Taegyeong. Diam-diam, ia keluar dari tempat persembunyiannya seorang diri. Minseok memastikan tidak ada siapapun yang terbangun dan mengikutinya.
Udara malam itu dingin menusuk seperti biasa. Kim Minseok sudah terbiasa. Bocah tujuh tahun sepertinya tidak boleh rewel untuk bertahan di dunia yang kejam ini.
Ia menunggu di belakang toko roti tersebut. Hanya mengenakan kaos oblong yang sudah robek dan celana pendek, Kim Minseok tidak bisa terlelap meski matanya berat dan meminta untuk istirahat.
Entah sudah berapa lama ia menunggu, ia melihat ada beberapa orang dewasa tak dikenalnya datang membawa galon-galon. Minseok melihat pakaian yang dikenakan mereka sama dengan orang-orang yang dilihatnya kemarin sore.
Bersembunyi, Kim Minseok melihat bagaimana orang-orang berjas hitam itu menyiram cairan ke sekeliling toko roti itu. Baunya menusuk. Ia sadar itu bukan air biasa, tapi minyak tanah.
Seketika itu, Kim Minseok sadar bahwa mereka berniat membakar semua itu. Pematik sudah terlempar. Dari api kecil itu dengan cepat menyebar ke sekeliling toko roti yang terbuat dari kayu.
"Api! Apii!"
Teriakan itu terdengar dari dalam bangunan setelah beberapa menit.
Kim Minseok terpaku ditempat bagaimana kelanjutan yang ia saksikan tepat dihadapannya. Bangunan kayu yang setiap hari ia datangi untuk mencuri roti ludes dimakan oleh ayam jago merah yang kian membesar.
Orang-orang yang menjadi pelaku sudah tidak terlihat di mana. Pemilik toko roti bersama istri dan kedua anaknya keluar dengan susah payah. Para penduduk berdatangan membantu membawakan air karena pemadam kebakaran tak kunjung datang.
"Syukurlah kalian selamat!" seru orang-orang yang berdatangan.
"Benar! Yang penting kalian tidak ikut terbakar di dalam!"
Beragam ucapan syukur karena satu keluarga itu selamat dari kebakaran yang disengaja membuat Kim Minseok tak bisa kerkata-kata. Ternyata pagi yang dimaksud adalah subuh. Ia menelan ludah, ketakutan melihat semua kekacauan di hadapannya.
Tidak tahu berapa lama ia terduduk lemas, api sudah padam dan warga sudah kembali dengan aktivitas mereka masing-masing selain keluarga Lee Giyoung. Mereka masih menangisi rumah mereka yang jadi sumber penghasilan utama.
Hatinya tidak menentu antara ikut bersimpati atau membiarkannya karena bapak tua itu selalu memarahi dan memukulnya.
Tiba-tiba saja pandangannya tertutupi oleh sosok yang berdiri di hadapannya. Kim Minseok mendongak, mendapati laki-laki yang sudah menawarkan hal-hal yang tak bisa dia dapatkan selama ini.
"Tuan Oh Taegyeong?"
"Kau benar-benar menunggu disini semalaman, Kim Minseok?"
Badannya gemetar. Laki-laki itu hanya menyinggungkan senyum seperti yang ia lihat kemarin, tapi kenapa rasanya lebih mencengkam?
"Apa ini perbuatanmu, tuan Oh?"
Tatapan Minseeok mengarah pada bangunan toko roti itu. Oh Taegyeong menoleh ke arah yang sama.
"Iya."
Tanpa merasa bersalah, ia mengatakannya sedater itu.
"Bagaimana bisa?"
"Bukankah sudah kukatakan, aku akan menghukum pria bernama Lee Giyoung itu."
"Tapi—tetap saja—"
Kim Minseok tidak bisa menyelesaikan ucapannya. Tiba-tiba ia merasa takut berhadapan dengan Oh Taegyeong.
Melihat anak kecil itu terdiam, Oh Taegyeong lagi-lagi mensejajarkan matanya dengan mata Minseok. "Ini yang dinamakan rantai makanan, nak. Hewan selalu memangsa hewan lain yang derajatnya dibawah mereka, memakannya untuk bertahan hidup."
Kim Minseok mendengarnya dengan seksama. Suara berat Oh Taegyeong memikatnya.
"Sama dengan manusia. Charles Darwin menganggap manusia adalah hasil evolusi antar spesies yang berhasil bertahan dari semua tantangan hidup sebelumnya. Yang bisa bertahan adalah mereka yang paling kuat. Dan kau—"
Taegyeong menunjuk Minseok. "—masih seperti domba yang lemah, siap dimangsa oleh rubah-rubah jahat di sekelilingmu. Bahkan aku melihatmu masih seperti tumbuhan yang akan langsung mati jika diinjak sekali saja."
Minseok menelan ludah mendengar kata 'mati'.
"…apa aku bisa berubah jika aku ikut denganmu?"
Senyum tipis itu berubah menjadi senyum mencengkam, mengerikan. Oh Taegyeong mengangkat dagu Minseok dengan jari telunjuknya.
"Tergantung caramu menghadapi masalahmu. Aku bisa membantumu naik status, berubah menjadi tanaman karnivora atau berada di puncak rantai makanan. Dengan catatan, kau mendapatkan sesuai kerja kerasmu, Kim Minseok."
Kim Minseok masih tergiurkan dengan yang dikatakan Oh Taegyeong kemarin. Meski dia tidak mengerti apa yang dikatakan laki-laki itu, hatinya sudah mantap untuk berubah. Dia tidak mau diinjak-injak lagi.
"Bagaimana? Kau mau ikut denganku?"
Oh Taegyeong mengulurkan tangannya. Kim Minseok sadar betapa tingginya status laki-laki ini sampai bisa melakukan hal kejam semudah ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi niatnya sudah bulat.
Kim Minseok menerima uluran tangan itu, menggenggamnya. "Aku ikut denganmu."
Senyum puas yang dilihat Minseok begitu menyilaukan. Ia benar-benar menganggap laki-laki itu sebagai penyelamatnya. Dia tidak perlu lagi kembali ke persembunyian kumuh itu, dipukul tanpa alasan oleh kakak-kakaknya.
Oh Taegyeong sangat puas dengan hasil kedatangannya ke kota kecil kali ini. Ia mendapatkan bibit baru yang akan tumbuh bersama generasa berikutnya. Sorot mata penuh keyakinan, bola mata yang jernih itu menunjukkan semuanya.
"Eugene, Bii, siapkan semua kebutuhan anak ini."
Sejak itulah, Kim Minseok memulai kehidupan barunya. Ia diberi tempat tinggal, sebuah kamar tersendiri di kediaman utama Oh Taegyeong. Ia diajarkan membaca menulis sebelum didaftarkan ke sekolah dasar. Kim Minseok merasa ia diperlakukan bak pangeran, meski tak sepenuhnya.
Tuan Oh Taegyeong tidak bercanda.
Ia diberi makanan 3x sehari, dididik oleh asisten kepercayaannya tentang etika, cara berpakaian yang benar, bersih-bersih, bela diri, bahkan memasak.
Kim Minseok bekerja keras demi memenuhi tuntutan tuan Oh Taegyeong. Ia hanya percaya, suatu saat dirinya pasti bisa berjejer bersama para asisten kepercayaan Oh Taegyeong.
Kim Minseok sadar bahwa pekerjaan Oh Taegyeong bukanlah hal yang lazim. Ia tumbuh melihat semua kekejaman yang dilakukan tuannya adalah hal yang selalu dibicarakan warga sebagai hal yang menakutkan, tabu dan Minseok masih ingat.
Ia pernah mendengar orang tua di kota kecilnya untuk tidak pernah berurusan dengan gangster, yang punya tattoo. Mereka itu orang jahat. Mereka akan membuat hidup kita penuh kesulitan.
Dan disinilah ia, dididik dan dibesarkan oleh keluarga gangster. Kelompok mafia yang ditakuti masyarakat. Minseok tidak menyalahkan siapapun, tapi ia sudah terlanjut merasa nyaman dan aman dalam lingkungan Oh Taegyeong.
Semua orang dalam kelompok Oh Taegyeong berasal dari latar belakang yang berbeda, seperti dirinya. Mereka juga mengajarkan banyak hal padanya yang masih kecil dan tidak mengerti mengapa ia harus melawan, bukannya tunduk tak melakukan apapun.
Tugas pertama Kim Minseok adalah merawat anak satu-satunya tuan Oh Taegyeong, Oh Sehun. Saat itu usianya sudah 12 tahun. Ilmunya tentang pengetahuan umum cukup untuk membimbing Oh Sehun dengan bantuan pelayan lainnya.
Rasa bahagia saat diberi tugas pertamanya dari tuan Oh Taegyeong tak terbayangkan. Sosok yang selama ini menjadi panutannya memberi tanggung jawab.
"Jaga anakku, Oh Sehun. Ini tugasmu sekarang, Kim Minseok."
Titah itu menjadi semangat baru bagi Kim Minseok untuk terus mengembangkan dirinya. Sepulang sekolah, ia langsung menemani Oh Sehun. Menemani anak tuannya bermain, ikut mengajarkan pengetahuan umum.
Aneh rasanya mengajarkan alphabet, etika dan benda-benda sementara dia sendiri belum lulus SD dan telat belajar. Namun yang lainnya selalu menyemangatinya, "Tidak apa-apa. Kau berhak untuk mengajarinya."
Rasa percaya diri Kim Minseok meningkat seiring bertambahnya usia. Oh Sehun menjadi anak yang tumbuh mengikuti sosok ayahnya. Minseok yang banyak belajar dari Eugene dan Bii juga menjadi mirip seperti kedua asisten tuan Oh Taegyeong.
Oh Sehun selalu mengandalkan Kim Minseok yang terpaut 12 tahun lebih tua darinya. Rasa kepercayaan dan ikatan batin dirasakan Kim Minseok lebih cepat dari biasanya saat ikut membimbing Oh Sehun.
Usianya sudah 18 tahun ketika Oh Taegyeong memanggilnya secara formal setelah sekian lama.
"Kim Minseok, bagaimana rasanya mendampingi anakku?"
"Sangat menyenangkan, tuan Oh Taegyeong."
Ekspresi bangga di wajah remaja Kim Minseok terpancar begitu terang.
"Baguslah. Kudengar dari Eugene kau menikmatinya."
"Iya. Oh Sehun juga menyenangkan untuk diajak bermain."
Oh Taegyeong tertawa. "Tentu saja, dia masih di usia bermain. Omong-omong, malam ini temani aku ke suatu tempat. Nanti Eugene dan Bii akan memandumu seperti biasa."
Minseok tidak tahu ke mana. Tapi ia sudah mengerti aturannya. Ia tidak boleh menanyakan lokasi sebelum tiba di tempat.
Ia mengangguk. "Baiklah, Tuan Oh."
-o-
Semuanya terjadi begitu cepat bagi Kim Minseok. Oh Taeggyeong tidak berbohong soal Eugene dan Bii yang akan memandunya. Mereka memberi Minseok jas yang selalu dikenakannya setiap kali ada event penting. Namun, di dalam mobil, mereka menutup mata dan telinganya, bahkan memborgol tangannya. Tidak membiarkannya melihat dan mendengar sepanjang perjalanan adalah hal yang baru. Tubuhnya yang sudah terlatih menjadi was-was.
Dengan penuh kesadaran, ia melangkah ke suatu tempat tanpa berpikir macam-macam. Perasaan tegang dan takut menyelimuti dirinya. Apalagi yang direncanakan tuannya setelah mendidiknya bertahun-tahun?
Panca inderanya bekerja penuh untuk memahami tempat ia berdiri. Dingin yang dirasakannya adalah dingin AC yang berarti ia ada di dalam sebuah gedung. Tangannya basah karena keringat dingin.
Perlahan-lahan, matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ketika dibuka bersamaan dengan penutup telinganya. Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang ada di hadapannya.
Kim Minseok tahu di mana ini. Pelelangan manusia.
Semua orang yang duduk di sana adalah calon pembeli, dalam balutan jas dan gaun malam mewah mereka. Wajah yang ditutupi dengan topeng pesta, aroma lemon, bahkan ia ingat siapa mereka.
Oh Taegyeong pernah membawanya ke sini untuk mengajarkannya sistem kerja dunia bawah tanah. Bagaimana mereka bisa mendapatkan informasi, barang illegal, semuanya. Ia tak percaya bahwa dia berdiri di panggung di mana semua barang dilelang.
Eugene dan Bii melepas tangan mereka dari lengan Minseok. Tanpa ekspresi, mereka meninggalkannya di atas panggung.
Tiba-tiba tubuhnya kembali gemetar. Rasa percaya dan kagum pada Oh Taegyeong hancur seketika itu juga, tergantikan dengan amarah dan benci yang luar biasa.
"Apa artinya semua perjuanganku kalau aku berakhir dimanfaatkan untuk keperluannya?!"
Tangannya masih terborgol. Minseok tidak tahu siapa yang memegang kuncinya. Sementara telinganya dipenuhi dengan suara pemandu pelelang dan tawaran dari calon pembelinya.
Kim Minseok merasa ini salah.
Posisinya bukan lagi sebagai anak kecil yang tak bisa melawan. Dia tidak lagi lemah seperti dulu.
"Bukankah aku sudah dipercayai untuk mendampingi anaknya tuan Oh Taegyeong? Dia juga serius mengajariku untuk menghadapi berbagai macam masalah… Lalu kenapa aku dibawa ke sini? Aku butuh penjelasan!"
Ia ingin memberontak. Kim Minseok yang sudah 18 tahun ini perlahan-lahan mengerti bagaimana sistem piramida yang menunjukkan status seseorang.
"Aku harus menemui tuan Oh Taegyeong!"
Dengan niatnya, Kim Minseok membalikkan tubuhnya dan kabur ke belakang panggung. Sang pemandu lelang dan peserta lelang terkejut.
Kim Minseok lari mencari-cari pintu keluar. Ia tidak begitu ingat lokasinya sebagaimana ia hanya satu kali mengunjungi tempat lelang ini. Para penjaga sudah mulai mengejarnya.
Perasaan familiar menghantuinya sebagaimana ia dulu selalu dikejar-kejar seperti ini. Hanya saja, dulu dia hanyalah seorang bocah yang tidak tahu apapun. Sekarang, dia adalah remaja terpelajar yang bekerja untuk Oh Taegyeong.
Jatuh berulang kali, terluka, dalam pelariannya Kim Minseok sama sekali tidak memikirkan rasa sakit. Ia mencari cara untuk memotong borgolnya. Pergelangan tangannya lecet karena terus tergesek.
Tanpa disengaja, ia masuk ke dapur. Para chef kaget melihat sosok Kim Minseok yang babak belur. "Siapa kau?"
Kim Minseok kemudian melihat pisau yang dipegang orang itu.
"Potong rantai kecil ini!" seru Minseok.
"A-apa?"
"Kau lihat rantai kecil ini? Potong dengan pisaumu!"
Chef itu terlatih. Ia melihat rantai diantara borgol itu bisa hancur dalam beberapa kali gesek. Walau ia tidak mengenal Kim Minseok, ia memotong rantai kecil itu.
"Terima kasih," ucap Minseok sebelum lanjut kabur dari jendela dapur.
Para penjaga sudah berada dibelakangnya dan dapur itu di lantai tiga. Kim Minseok agak ragu untuk terjun, namun ia tidak punya pilihan. Terjun atau kembali ke pelelangan.
Kim Minseok memutuskan untuk lompat ke bawah. Ia yakin latihan bela diri yang terus diasahnya akan berguna. Benar saja, ia bisa melompat dan memperkirakan landasan serta tubuhnya agar tidak cedera parah.
Saat itulah ia bisa langsung melihat sosok yang baru saja menghancurkan mimpinya.
"Oh Taegyeong!"
Laki-laki itu diam saja ketika Kim Minseok menerjangnya, menarik kerah bajunya dan menatapnya kesal.
"Kau—kenapa kau membawaku ke pelelangan, hah?! Kau mau menjualku?!"
Oh Taegyeong menyengir. "Wow, wow. Tak kusangka kau berani loncat dari lantai 3. Aku salut padamu, Minseok."
"Kalau kau melihatnya, kenapa kau biarkan aku?!"
"Kenapa?" Taegyeong mendecakkan lidah. "Memangnya kau siapaku?"
Pertanyaan itu membuat bibirnya kelu. Siapa? Aku siapamu?
"Seharusnya kau bisa menjawabnya, Kim Minseok. Bagiku, kau hanyalah salah satu antek yang kupersiapkan. Jika tidak berguna, tentu saja akan kusingkirkan. Kau paham, kan?"
Cengkeraman tangan Minseok melemah. Oh Taegyeong dengan mudah melepas genggaman tangan Minseok dari kerahnya. "Kubawa kau untuk dilelang bukankah artinya sudah jelas?"
Kim Minseok masih tidak mau percaya. "…aku sudah tidak berguna lagi?"
"Ya. Aku melihat upayamu sudah tidak lagi membara seperti saat pertama kali kita bertemu. Semangatmu sudah redup, padahal aku mengharapkan lebih darimu."
Remaja itu masih menyangkal semua yang dikatakan tuannya. Ia selalu bekerja lebih keras dari yang lainnya! Ia berlatih keras, membimbing Oh Sehun, menjaga prestasinya di sekolah. Apalagi yang kurang?
"Apa aku salah, Kim Minseok?"
Minseok melihat Eugene dan Bii siap untuk menyeretnya kembali masuk ke pelelangan. Tentu saja, remaja itu tidak mau. Ia tidak merasa benar untuk dilelang, apalagi dia sudah tahu cara kerjanya.
Sangat tidak adil dirinya dibuang karena alasan-alasan itu.
Menggertakkan giginya, Kim Minseok mengepalkan tangannya dan berani untu menyerang Oh Taegyeong. "Kau—Padahal aku percaya kau akan membantuku! Menolongku!"
Oh Taegyeong menghindar, memerintah Eugene dan Bii untuk diam di tempat.
"Aku selalu patuh padamu! Bekerja lebih keras dari yang lainnya demi mendapatkan pengakuan darimu! Aku juga sudah membunuh semua orang yang kau pinta, belajar mati-matian, apalagi yang kau minta untuk memenuhi keinginanmu? Katakan!"
Oh Taegyeong tertawa, membuat Kim Minseok heran. "Kenapa kau tertawa?"
"Ya, kau memang sangat patuh padaku dan aku senang memilikimu dalam kelompokku."
"Lalu, kenapa? Aku bahkan merasa tidak pantas disingkirkan begitu saja setelah melakukan banyak hal demi kesenanganmu, tuan Oh Taegyeong."
Laki-laki itu memandangi Kim Minseok dari atas kepala sampai kaki. Ia bisa mengira-ngira luka yang didapat remaja itu selama mencoba kabur dan meminta penjelasan darinya.
"Kau yakin kau tidak pantas dilelang?"
"Ya!"
"Kau butuh penjelasanku?"
"Ya!"
"Kim Minseok… kau kabur karena merasa tidak pantas diperlakukan seperti barang atau karena menuntut penjelasan dariku?"
Remaja itu diam. Pertanyaan Oh Taegyeong membuatnya berpikir. Mana yang benar? Apa dia memang pantas dilelang? Apa dia masih sama dengan masa kecilnya yang selalu diperlakukan seperti binatang.
"Kim Minseok?"
Oh Taegyeong masih menunggui jawaban darinya.
Remaja itu tersadar. Oh Taegyeong memang memberi semua yang dibutuhkannya dengan imbalan yang sama. Oh Taegyeong bilang tidak semuanya bisa dinilai dengan uang.
Begitupun dengan dirinya.
Harga dirinya terinjak-injak ketika ia berdiri di sana, mengetahui Oh Taegyeong akan menyingkirkannya.
"…tidak. Aku tidak berhak dilelang seperi ini. Aku punya harga diri… aku kabur karena aku tidak mau diperlakukan semena-mena lagi! Aku benci saat aku terkekang dan tidak bisa berbuat apapun!"
Masih menatap kesal pada sosok yang baru saja akan menyingkirkannya, Minseok melanjutkan, "Aku juga kabur dengan tujuan meminta penjelasan darimu. Kenapa kau melakukan ini padaku yang sudah berjuang mati-matian?"
Oh Taegyeong tersenyum lebar.
"Sorot mata itu… pertahankan. Tekadmu yang tak terkalahkan saat kau punya tujuan jelas untuk mencapainya. Itu yang kubutuhkan."
Kim Minseok terdiam. "Apa maksudnya?"
"Aku senang kau berusaha kabur dan menemuiku. Rasa amarah atas pengkhianatan yang kulakukan padamu sampai-sampai kau berniat membunuhku, aku senang melihat semangat itu kembali hidup."
Kim Minseok menganga.
"Sudah kukatakan, kau punya ambisi yang kuat dan aku percaya akan itu. Karenanya, aku berani merawatmu, membesarkanmu. Melatihmu sampai mentalmu dan pola pikirmu matang."
"Jadi, aku…"
"Ini semua hanya tes yang kurancang untukmu. Aku mau melihat bagaimana caramu menghadapi orang yang selalu kau hormati tiba-tiba membuangmu. Dan aku suka reaksimu. Akhirnya kau membuat keputusan sendiri tanpa bantuan."
Oh Taegyeong menyuruh Eugene dan Bii menghampirinya dengan simbol tangan. "Nah, karena kau sudah lulus, kau resmi menjadi bagian dari kelompokku. Selamat, Kim Minseok."
Remaja itu masih tidak percaya. Ia melihat lencana yang dimiliki setiap orang kepercayaan Oh Taegyeong diserahkan padanya oleh Eugene.
"Ini bukan bercanda?"
"Bukan. Ini kenyataan."
Minseok masih terdiam. Oh Taegyeong yang menyadarinya mengambil kunci borgol dari sakunya. Kanan dan kiri, lalu membuangnya. "Bagaimana kau bisa memotong rantai borgolnya untuk bergerak bebas?"
"Aku suruh koki untuk memotongnya."
Jawaban polos itu membuat Oh Taegyeong tertawa terbahak-bahak. "Kau tahu, itu sangat beresiko. Bagaimana jika dia seorang psikopat dan justru akan membunuhmu sambil mencabik-cabikmu?"
"Ahh…"
Minseok tidak memikirkannya sampai sana. Ia hanya berpikir untuk kabur.
"Tidak apa-apa, kau masih butuh latihan. Nah, ayo kembali ke rumah dan obati lukamu."
Saat Oh Taegyeong menggenggam tangannya untuk naik mobil, membawanya pulang, barulah Kim Minseok yakin bahwa semua ini memang hanyalah bagian dari rencana Oh Taegyeong untuk membuatnya semakin kuat.
Demikian juga dengan rasa percayanya.
Oh Taegyeong pernah mengatakan, "Aku tidak mungkin membuang orang-orangku sembarangan. Jika aku melakukannya, berarti ada yang salah dari mereka."
Kim Minseok baru bisa mengerti maksud Oh Taegyeong setelah peristiwa ini. Eugene mengobati luka Minseok sementara Bii membawakan baju baru.
Sambil mereka membantu Minseok, Oh Taegyeong melanjutkan, "Kim Minseok, mulai besok, kau resmi menjadi asisten anakku. Jadi, bekerjalah lebih keras agar aku tidak menyesal. Oke?"
Minseok membulatkan matanya. "Aku? Jadi asisten Oh Sehun?"
"Aku tidak mengulang perintahku, nak. Bukankah kau selalu menginginkan jabatan seperti Eugene dan Bii?"
Senyum sumringah di wajah Kim Minseok membuat Taegyeong dan dua orang di ruangan itu ikut tersenyum.
"Tentunya, kau perlu nama baru untuk kamuflase. Aku membuatkan identitas baru sebagai perayaanmu lulus."
Oh Taegyeong menyerahkan sebuah kartu pada Minseok.
"Xiumin…?"
"Itu akan jadi namamu sekarang. Biasakanlah."
"Ini adalah namaku, sekarang?"
Laki-laki itu mengangguk.
"Selamat menempuh kehidupan baru, Xiumin," ujar Oh Taegyeong sebelum meninggalkannya bersama Eugene dan Bii.
.
.
Tbc.
Hm, hanya selingan cerita sebelum lanjut HunHan. Semoga suka ^^
