Twin Swords
Chapter 21
Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre: Adventure & Friendshiep
Rated: T.
.
Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Sebuah ketetapan dan jadi takdir pasti setiap makhluk hidup. Tidak ada yang bisa melawan ataupun menghindar. Ada yang lahir dan pula yang mati. Ada awal dan ada juga akhir. Layaknya perjalanan pasti ada pemberangkatan namun juga ada pemberhentian. Bukankah itu proses perjalanan hidup setiap seseorang? Setiap orang akan punya kisahnya masing-masing baik itu singkat maupun panjang.
Jika manusia hidup dibekali akal seharusnya mereka tahu satu ketetapan pasti ini. Mungkin mereka bisa menyiapkan hati jika orang yang disayangi pergi? Tapi mengapa hati ini sakit juga meski akal telah berbicara? Tidak ada penjelasan pasti, layaknya mengapa angin tidak bisa terlihat tapi bisa dirasakan.
Sejenak menenangkan.
Hati yang kosong bagaikan raga tanpa jiwa. Siapapun pernah merasakan sakitnya kehilangan.
Pedih?
Siapa orang tidak pilu bila ditinggal orang tersayang. Lebih-lebih Naruto dan Sasuke. Keduanya seperti dijatuhkan setelah dibuat melayang untuk sesaat. Mengetahui ada sahabatnya yang masih hidup saja sangat membuat mereka senang dan kini perasaan mereka dibuat terpuruk kembali. Satu sahabatnya pergi lagi untuk selamanya.
Hembusan angin pagi yang bertiup di antara dedaunan membelai halus kulit wajah pemuda bersurai pirang. Kelopak matanya tertutup sementara tubuhnya bersandar di atas dahan. Dia tidak tertidur bahkan telinganya sangat awas ketika seseorang memijak pada dahan yang sama.
"Aku sudah siap." Pernyataan itu dibalas dengan safire yang membuka. Dilihatnya sang sahabat telah membawa beberapa benda yang dibutuhkan untuk menyerang.
"Baiklah, kita pastikan malam ini semua akan usai," ucapnya sambil mengubah posisi dari bersandar menjadi berjongkok. Dia menarik tudung jaket putihnya untuk menutupi kepala.
Mereka melompat bersama tepat saat sinar mentari pagi mulai bersinar.
.
.
.
.
.
.
"Maaf, apa kau melihat adikku, Sasuke?" Tanya Itachi pada hampir setiap orang yang ditemuinya. Jika dihitung dengan jari ini sudah kesepuluh kalinya dia bertanya perihal keberadaan adiknya yang sejak pagi belum ditemuinya.
"Maaf, aku juga belum melihat Sasuke. Apa ada masalah?" Gadis surai pink yang ditanyai Itachi menjawab jujur. Sakura jadi bertanya-tanya mengapa sang ketua Anbu tampak panik dihadapannya. Bukan hal wajar bila seorang Anbu yang terkenal dingin menampakkan emosinya.
"Tidak apa-apa. Terimakasih." Jawab Itachi bohong kemudian berlalu meninggalkan sang gadis yang masih penasaran. Kepanikan Itachi sekarang bukanlah tanpa dasar, pedangnya hilang bersamaan dengan lenyapnya sosok sang adik dari tenda tempatnya tidur. Hanya orang berani mati berani mengambil properti milik Uchiha sang ketua Anbu. Itachi sangat percaya satu-satunya orang yang berani mencuri pedangnya saat ini adalah sang adik.
Itachi berjalan dengan langkah lebih cepat dari orang disekitarnya, meskipun dia melawan arus arah jalan, orang-orang tampaknya sukarela langsung menyingkir dari jalan sang ketua Anbu Konoha. Baguslah, ini memudahkan bagi mata hitamnya untuk mencari sosok white lines dari klan Uchiha. Dia tidak peduli dengan instruksi para kage yang menyuruh semua prajurit berkumpul dan bukannya menjauhi kerumunan.
Iris legam Itachi menangkap sosok Gaara, mereka berdua juga sedang dalam posisi yang sama. Pria merah Akasuna itu langsung menghampiri Itachi.
"Aku juga tidak menemukan Naruto dimanapun," kata Gaara memberi laporan pada Itachi.
"Tampaknya mereka bergerak sendiri, kemungkinan besar Sasuke jugalah yang membawa pedangku." Itachi berkata dengan suara yang agak pelan. Seperti dugaannya Naruto dan Sasuke tidak mungkin akan tinggal diam mendapati sahabatnya tewas dan sang ketua disandera. Terlebih lagi, nanti malam akan berlangsung fenomena Super Moon.
"Apa yang harus kita lakukan? Memberitahu pada Hokage? Sepertinya beliau juga belum menyadari Sasuke dan Naruto menghilang." Gaara sangsi Yondaime Hokage menyadari hilangnya dua anggota white lines tersisa karena para kage dan petinggi lainnya sibuk rapat membahas rencana berikutnya. Kushina dan beberapa prajurit terluka juga telah dipulangkan bersamaan dengan jasad Ge. Jadi, keduanya tidak begitu terawasi karena mereka berdua juga masih dalam kondisi kurang baik.
Ge, mengingat nama itu sebenarnya juga membuat perasaan Gaara sedih. Walaupun dia belum begitu mengenal terlalu lama para anggota white lines, empat sosok pemuda itu dengan mudahnya mengobrak abrik cara berpikir Gaara termasuk dalam hal pertemanan. Empat sosok gila yang mampu membuatnya terseret dalam arus kegilaan dunia anak muda.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia berani melanggar perintah sebagai prajurit.
Untuk pertama kalinya pula dia memiliki keinginan menjahili orang lain.
Bodoh dan konyol bukan?
Tapi kenyataannya begitu, sejak anak-anak dia sudah biasa terdidik dalam suasana serius. Selalu fokus dan tenang, kepribadian ini sudah mendarah daging dalam kehidupannya hingga mengantarkannya sebagai seorang Sanin muda. Salah satu prajurit kebanggaan Suna yang namanya bisa disejajarkan sebagai prajurit muda tingkat atas layaknya Itachi Uchiha dari Konoha.
Sage Natsuma, dia tidak mungkin akan melupakan nama orang itu sebagai salah satu teman terbaik yang pernah dia temui.
Ya, kan? Aku salah satu temanmu juga-kan Ge? Pikirannya anehnya menyergap.
"Bodoh, tentu saja kau temanku juga Gaara."
Deg!
Jantung Gaara seperti tersentak.
Sepintas bayangan Ge muncul menjawab pertanyaan dalam hatinya. Ge mungkin sudah mati dan tidak akan bisa menjawab lagi dengan nada menggerutunya tapi Gaara seolah bisa menebak apa yang akan dia jawab jika masih hidup.
Gila!
Gaara yakin pikirannya mulai tidak waras. Dia seperti tidak menerima jika Ge telah pergi. Seharusnya ini tidak terjadi mengingat bukan pertama kalinya dia menjumpai rekannya mati saat misi. Mendadak hatinya sakit dan pikirannya kalut.
"Habisi pembunuh Ge? Mungkin jadi hal menyenangkan." Entah mengapa hal inilah yang jadi keinginan terbesarnya saat ini.
"Gaara, kau baik-baik saja?" Pertanyaan Itachi berhasil menyadarkan Gaara dari lamunannya. Itachi melihat sesaat iris jade pemuda di depannya tampak kosong.
"Tidak apa, lalu apakah kau setuju dengan usulanku?" Gaara memutus kontak mata dengan Itachi dan dia juga mengalihkan topik pembicaraan. Pria merah ini tidak mau sang Uchiha di depannya tahu bahwa dia mengalami tekanan batin karena kematian Ge. Sebagai Sanin menurutnya ini hal memalukan, menunjukkan kelemahan mental di depan orang lain. Seperti dia baru pemula saja!
"Itu artinya kau masih punya hati nurani bodoh, aku terharu kau bersedih atas kepergianku!"
Shit! Bayang-bayang jawaban milik Ge kembali melintas dipikirannya. Ada apa sih dengan otaknya?
"Diam kau! Yang pergi itu cuma jasadmu, bagaimanapun kau itu masih di hati dan tidak pergi kemanapun."
"Nah itu kau tahu!"
Oke!
Gaara benar-benar seperti orang gila sekarang. Otaknya seperti ada dua percakapan antara dia dan sosok Ge yang telah tiada.
Ah!
Mungkin jika dia bisa kembali dalam keadaan hidup, Gaara perlu mengomel-ngomel sebentar di depan pusara Ge.
Lihat!
Bahkan sekarang rencananya sungguh konyol dan tidak waras.
"Baiklah, kita beri tahu Hokage lalu kita susun rencana untuk mencari mereka." Jawab Itachi menyetujui usulan Gaara. Beda Itachi beda Gaara, dipikiran sang Uchiha sulung dia justru menghawatirkan sang adik dan Naruto. Takut jika mereka tidak bisa berfikir jernih dan bersikap bodoh.
"Itachi, kurasa aku tahu kemana mereka pergi," Tangan Gaara menepuk bahu Itachi untuk meyakinkan.
Beberapa hari bersama white lines dia memperoleh banyak informasi terutama tentang dimana kemungkinan besar letak pedang iblis kembar di segel. Malam ini adalah Super Moon dan tidak ada kemungkinan tempat lain yang mereka tuju.
.
.
.
"Sssh! Aw!" Kesekian kalinya rintihan itu keluar dari pemuda bersurai coklat. Kepalanya yang penuh luka lebam ditolehkan ke samping untuk melihat tangannya yang dirantai dan mengait di belakang tiang.
"Percuma, sekuat apapun berusaha rantai itu tidak akan lepas," ujar gadis lain yang kondisinya sama dengan Reon. Terkekang tidak berdaya oleh rantai yang membelenggu tangan.
Udara dingin terus membelai keduanya yang dibiarkan terantai di depan sebuah telaga. Telaga kecil ini letaknya ada di sisi barat daya dari Danau Cermin. Butuh waktu tempuh seharian jika dari Danau Cermin dengan berjalan kaki. Telaga Hitam inilah yang ada dalam cerita. Jika tidak dicermati tidak akan terlihat kalau danau ini dulunya danau yang luas sehingga banyak terkecoh karena air danau yang terus menyusut.
Bulan purnama besar belum terlihat seutuhnya di atas langit malam. Nampaknya, ada sedikit keberuntungan dengan cuaca. Gumpalan awan hitam terus saja menaungi langit sehingga bulan dan sinarnya belum terlihat jelas.
Mereka berdua diawasi oleh Konan dan beberapa orang bertopeng. Sisa anggota Akatsuki serta Orochimaru pergi untuk masuk ke sebuah bangunan kecil. Sekilas bangunan dari kayu itu hanya mirip pondok kecil yang tidak terawat.
"Aku tahu itu, habisnya aku bosan tidak bisa berbuat apa-apa."
Dong!
Shion sweatdrop.
"Hei bocah, otakmu dimana? Apa kau tidak takut? Bisa saja kita mati disini," Shion mencibir pemuda yang terantai tiga meter darinya. Seumur hidup Shion dia baru bertemu ada orang sifatnya macam Reon. Walau baru sekitar dua puluh empat jam bertemu, si gadis sejenak dibuat lupa oleh masalah Pedang iblis karena ulah si pemuda.
Iris Reon mendelik, matanya menyusuri Shion dari ujung kaki sampai kepala. Dia terusik dengan kalimat terakhir tadi.
"Bocah! Bocah! Kau terus memanggilku bocah sementara kau terlihat seumuran. Itu tidak sopan. Hah! Lagipula kalau takdirku mati ya sudah mau diapakan lagi. Toh umur manusia tidak bisa dimajukan ataupun dikurangi."
"Lalu kau pasrah begitu saja? Hmmm?" Debat Shion setengah meninggi.
"Siapa yang bilang aku pasrah? Makanya rantai tangannya kugerakkan, siapa tahu bisa lepas, daripada mati kebosanan bengong. Yang kulihat justru kaulah yang tidak niat untuk hidup. Kerjaanya mengeluh, ngomel-ngomel, paling tidak lakukan sesuatu untuk dirimu sendiri."
Jlebbb.
Ekspresi si gadis pirang berubah langsung, terlihat tersinggung. Beraninya pemuda ini mengatainya tukang mengeluh dan ngomel-ngomel.
"Awas kau, jika aku bebas akan kutampar."
Reon terkekeh pelan. "Itupun kalau kau bisa bebas cantik." Tidak jelas itu pujian atau cemoohan yang jelas Shion merona.
Blush!
Wajah putih itu memanas, aliran darahnya naik hingga menyebarkan semburat merah muda di wajah. Antara tersipu dan marah.
"Kau!"
"Apa?"
"Gyahhh, awas kau. Dasar " Racauan Shion pada Reon baru berhenti pria jingga dari pria berjubah awan merah menghampiri. Seketika, wajah cantik itu berubah angker mendapati ada orang Akatsuki di antara mereka.
Pein mengamati Shion dan Reon yang baru saja bercengkrama. "Konan lepaskan mereka, kita membutuhkan mereka untuk membangkitkan pedang."
Iris cokelat Reon menyipit. "Hei-hei apa urusanku hingga aku dibawa-dibawa?"
Pein menyeringai, wajah berperchieng itu kemudian menjambak rambut sang pemuda hingga membuat Reon mengerang kesakitan. "Salahkan pada jiwamu. Kau tidak lebih seperti kami."
Terkaget dan tidak percaya jadi perasaan paling dominan di benak Reon. Demi apa! Baginya si Akatsuki ini seperti sedang ngelantur karena mabuk. Ditengah cengkraman yang dilakukan oleh Pein dia menampilkan wajah mengejek.
"Aku sama dengan kalian? Jangan bercanda aku ini pintar sangat beda dengan kalian yang bodoh." Elaknya keras.
Pein tidak terprovokasi.
Tobi ikut mendekat, dibalik topengnya dia menyunggingkan senyum aneh yang tidak diketahui. Ekor mata Reon beralih pada pria bertopeng.
"Lihat wajah itu Pein, dalang pemusnah desa mitra kita. Berdiri di antara gelap dan terang. Track recordnya mungkin tidak seganas Akatsuki yang menghabisi nyawa tanpa belas kasih. Dia berbeda, kekejamannya terpelihara rapi di antara rasa kemanusiaannya. Jiwa orang seperti ini lebih pekat. Pemilik darah dengan jiwa seperti ini lebih gelap daripada kita. Darahnya akan membuat pedang iblis lebih kuat," kata Tobi layaknya penuntut di persidangan.
Detik itu juga, Reon mendengus tidak suka. Wajah lembutnya mengeras seketika saat ada yang mengulik kepribadiannya.
Fine! Dia mengakui punya sisi psikopat juga tapi kata-kata Tobi yang terakhir terdengar dangkal baginya. Yang benar saja, darahnya!
"Jangan kira kami tidak tahu hal itu. Ironis sekali kau mampu bersikap baik pada beberapa orang yang kau selamatkan sementara seluruh keluarga dan penduduk desa kau tenggelamkan," tambah Tobi.
Semua pendengar diam, termasuk Shion. Pirang ini mana menyangka pemuda bodoh ini memiliki kepribadian se-jahat itu. Antara percaya dan tidak percaya.
Reon mendesah pelan, bukan karena terkejut kata-kata Tobi tapi lebih tidak percaya terhadap pola pikir orang-orang Akatsuki. Ini tahun berapa? Berpikirnya hal begituan.
"….."
Reon terdiam seraya menatap Tobi datar. Ingin menjawab tapi dia merasa yakin tidak akan didengar. Dalam hati dia justru ingin tertawa.
"Berdiri di antara gelap dan terang, ya? Bodohnya mereka, semua orang juga melakukan hal sama. Manusia bukan malaikat yang diciptakan untuk selalu berbuat benar."
"Kalau kau membuat penilaian seperti itu, maka artinya kau harus hati-hati padaku. Mungkin aku akan jadi jahat malam ini," jawab Reon setelah dia terdiam dan merenungkan beberapa hal. Dia tidak membantah karena ini adalah sisi buruknya yang sangat tidak di sukai oleh para anggotanya. Watak yang timbul karena peristiwa terbunuhnya kedua orang tua di depan mata.
Bola matanya tidak berkedip membentuk mata bulat lugu.
Crash!
Pipi mulus Reon tergores dengan cepat oleh pedang yang dibawa Tobi. Belum terasa sakit karena datangnya tiba-tiba dan baru disadari ketika cairan merah itu mengalir pelan.
"Semua itu mungkin terjadi tapi kami telah memastikannya kau tidak akan bisa. Lihat, kau tidak berdaya."
"Itu benar, tapi kau melupakan sesuatu. Aku tidak bekerja sendiri." Balasnya cepat.
Seringaiannya muncul menyiratkan peringatan.
Anggap saja nasibnya buruk, jika dirinya tidak selamat masih akan ada yang meneruskan perjuangannya. Minimal anak buahnya yang akan memberi perlawanan. Dia dan Ge mungkin tidak bisa diandalkan, tapi Naruto dan Sasuke berbeda.
Selintas bayangan sahabatnya muncul. Ingatannya kembali terusik di detik-detik tubuh sang sahabat tersayat pedang milik Tobi.
Ge?
Mengingat nama itu sedikit membuat dirinya tertekan. Dia sudah bukan lagi sahabat dalam pertemanan tapi dia sudah layaknya saudara. Orang yang selalu menasehatinya. Orang yang selalu ada disisinya baik suka maupun duka.
"Ge, kau tahu? Aku masih ingin bertemu denganmu. Bisa-kan?"
.
.
.
"Itu dia dan sesuai dugaan," ucap Naruto sambil menggengam pedangnya lebih erat. Dua ratus meter di depannya, dia melihat Reon tengah dikelilingi Akatsuki. Melihat ketua sekaligus sahabat diperlakukan sewenang-wenang jujur membuatnya marah. Hampir dia melompat ke luar dari persembunyiaan saat pedang Tobi menggores pipi Reon.
"Reon." Dalam benak Sasuke hanya ada harapan agar sang ketua cukup kuat fisiknya sampai mereka datang menolong. Amarah sang Uchiha ini hampir pada titik tertinggi saat ini, kesal karena mereka tidak cukup kuat jika beradu fisik secara gila-gilaan. Ingin mereka menolong Reon sekarang tapi waktunya belum tepat, mereka harus menunggu sampai Akatsuki melakukan prosesi pengambilan pedang.
Jadi kesempatan emas karena saat itulah Akatsuki akan lebih fokus pada pedang iblis twins sword. Tindakan ini dirasa lebih menghemat energi. Mereka masa bodoh jika pedang itu jatuh ke Akatsuki, mau itu pedang terkuat dan membahayakan mereka tidak peduli. Yang jelas mereka sudah menyiapkan suatu kejutan untuk Akatsuki.
Naruto menahan diri sekuat tenaga dengan mengambil nafas beberapa kali. Pedangnya dimasukkan kembali ke sarung.
"Tenangkan dirimu Naruto. Berpikirlah jernih dan cobalah bersikap seperti biasa," ujar Sasuke berusaha menenangkan.
"Bagaimana aku bisa tenang?" Tanya Naruto setengah frustasi sambil mengacak surai pirangnya.
"Lihat saja wajah ketuamu itu, masih konyol seperti biasa. Aku tahu Ge baru saja tiada, tapi kita sudah bicarakan ini berulang kali dulu. Resiko kematian tidak mungkin bisa dihindari, boleh kita bersedih tapi tidak untuk dalam waktu yang lama. Ge pasti akan menertawai kita gara-gara kita lemah seperti ini."
Sasuke memberi jeda terhadap kalimat panjangnya.
"Aku juga sedih, tapi aku bisa menundanya sekarang."
Wajah Naruto langsung mematung layaknya kodok. Ini kalimat tidak terlogis yang pernah diucapkan oleh seorang Uchiha Sasuke. Dia berpaling, wajah Sasuke masih seperti jalan tol.
"Hoiiiii, memangnya bisa seperti itu?"
"Bisa, jika kau anggota white lines."
Naruto sweatdrop. Wajah yang tadinya kaku dan dipenuhi dendam membara layaknya pembunuh kelas dewa berhasil melunak.
Sejak kapan Sasuke belajar mencairkan suasana seperti ini?
"Sasuke kau membuatku takut. Kau mulai tidak waras." Cicit Naruto layaknya anak kecil.
"Kau baru sadar? Lagipula mana ada anggota white lines itu waras?" Iris onix hitam itu memutar bosan pada Naruto. Dalam white lines kewarasan itu dianggap kegilaan dan gila adalah hal waras, sudah begitu dari dulu. Gara-gara Sasuke masuk white lines dia sampai harus jadi orang anti mainstream dalam klannya. Satu-satunya anak laki-laki Uchiha yang tidak melanjutkan akademi.
"Tuhhh kan! Tuhh kan! Setelah ini aku akan menyuruh Hokage agar merujukmu ke psikiater." Naruto kini meracau tidak jelas sendiri sementara Sasuke tersenyum simpul.
Sahabat satu kelasnya ini merasa lega berhasil sejenak membuat Naruto lupa tentang kematian Ge. Ya, dia juga merasa tidak waras bisa seperti ini.
"Berisik kau dobe! Kita bisa ketahuan," peringat Sasuke sambil menoleh ke sasaran yang diintai. Iris langit biru Naruto mengikuti.
"Ma-maaf." Reflek Namikaze muda membekap mulutnya dengan tangan. Mereka kemudian kembali terdiam. Mood Naruto juga tampaknya sudah membaik terlihat dari aura wajahnya yang sudah kembali cerah.
Semakin sering Sasuke dan Naruto bercanda semakin mudah pula suasana berubah. Naruto tidak semurung tadi pagi dan suasana hatinya juga lumayan baik. Mereka kemudian menunggu dengan sabar dan setengah pikiran sudah tidak waras. Mereka bisa terkekeh saat Reon diseret masuk, seolah sudah lupa terhadap nama besar Akatsuki. Penjahat keji yang bisa membunuh kapan saja sang ketua.
"Siap?" Sasuke menyiapkan pedangnya.
"Lebih dari siap, Teme." Blonde pirang itu bahkan langsung menghambur keluar dari persembunyiannya. Mengabaikan Sasuke yang bahkan belum berdiri.
Oh sialan, Namikaze dan anugrah kecepatannya!
Bersambung
Dikit? Yaahhh, dari pada tidak up-date sama sekali mengigat saya sedang masa skripsi dan mau seminar. Semoga tidak kecewa, saya sebenarnya ingin menyelesaikan di chapter ini tapi rasanya ada yang janggal, mungkin sayanya yang sedang tidak konsen? Doakan saja biar cepet selesai, biar bisa up date cerita lain, pengennya rise up, bloody dark game atau the guardian dulu? Akhir kata kurang lebihnya minta maaf. Kritik dan saran saya harapkan.
Terimakasih
Mind to review?
