XXI.

"He's an abomination beyond hope of salvation."

Pensil warna ungu muda diletakkan di meja,

Pupil dalam kedua iris biru keunguan memperhatikan buku gambar berukuran sedang.

Lukisan pada warna dasar putih adalah kumpulan kristal lancip, pepohonan, bentang air, juga dua sosok sebagai pusat pemandangan. Biru aquamarineberulang kali menjadi garis-garis utama, namun dirinya menyukai ungu muda...

...Karena warna harapan selalu bersanding dengan warna tragedi.

Jemari lentik kini menyusuri permukaan kertas,

Meraba jalinan garis dua bentuk manusia dimana seorangnya berada pada pangkuan seorang lainnya... mereka saling berhadapan dan tergambar dengan tema intimasi.

Bibir kini mengukir ungkapan desah sebuah nama,

"Riku..."

Deret jari menyusuri gambar yang tersebut "Riku"- nama milik pemuda yang menjadi curahan perasaan. Harta, di dada ini. Segala keindahan eksklusif tiada banding, sungguh semanis madu. Semuanya terbuat dari segenggam pasir...

Butiran-butiran raga...

...Dalam tangan ini.

Setiap hembusan nafas merupakan bagian dari jiwa ini,

Sekaligus tempat dimana hati ini berada...

Secara literal.

"...Jadi ini maumu?"

Pertanyaan itu berasal dari sebelah; dari pemuda berperawakan ceking- berambut oranye tatanan "spike".

Naminé memejam erat saat pemuda itu berkata kembali,

"Menyimpannya dalam warna hitam, meletakkannya pada memori kota Spira, dan mendorongnya pada Mwynn? Apa kamu sadar, membuatnya menjalin hati pada jajaran Langit, Phoenix hingga Cerberus sebagai penjaganya... Chaos dan Omega adalah satu, semuanya akan berakhir pahit baginya dan bagimu sendiri. Perbuatanmu tidak lebih sebatas distraksi bagi Bhunivelze. Mau bagaimanapun kamu mengulurnya... sejauh 2000 tahun lamanya, bahkan memberikan mereka harga imitasi... dia adalah Ragnarok yang mengharapkan Omega dan mengembalikan Chaos pada Dunia."

Air mata Naminé menetes pada kertas gambar,

Sedangkan pemuda itu memasang headphone ungu pada kedua telinga diiringi perkataan,

"Aku tidak akan menyarankan menghapus namanya dari sejarah. Aku bahkan akan menutup mata dengan metodemu yang telah menghibahkan banyak kerusuhan pada pekerjaanku. Jika keinginanmu adalah rekoleksi, pilihanmu berarti mengambil hatimu darinya- bagian jiwamu... sebelum hatinyadihancurkan oleh Pulse. Kalau dia kembali menjadi Ragnarok... Mau tidak mau, opsi preventifku adalah menghancurkan senjata ultimanya, Soul Eater, sekaligus mengunci semua Gerbang- termasuk alammu, Etro."

Naminé menoleh, tangan kanannya hendak menjangkau pemuda yang bernama "Neku Sakuraba"-

"Ne- Paradox! Kumohon!" Serunya,

Namun Paradox, pemegang semua kunci Gerbang kecuali kunci alam Kegelapan milik Chaos; telah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Ruangan putih dengan segala perlengkapan serba putih: meja makan berukuran besar dan kursi-kursi makan berdesain era Victorian... semuanya menjadi hening dan terisi oleh suara tangisan Naminé yang memohon dengan sangat,

"Sora... kumohon, kembalikan hati Riku..."

Sejalan itu,

Di hutan Macalania...

"...Mmmh-h... Weiss- Ahh...! Ngghh- AHHH!"

Riku mengerang dan menengadah kala deret kuluman dan geratan baris gigi mengisi jenjang lehernya. Jemari kedua tangannya meremas sekaligus menyusuri hingga kumpulan helai-helai rambut "ekor", kemudian memautkan deret kuku pada kulit punggung dimana otot-otot di baliknya berkontraksi secara liar- memacunya... merangsangnya pada level...

Frustasi,

Karena sebagian penolakan dari nurani bergejolak sepanjang kegiatan seks berganti pada tema: suka sama suka.

Ia tidak mengerti satu pun... Ia tidak mengerti kenapa se-"kosong" ini; dirinya...

Namun ini tubuhnya,

"Rasa" baru yang mengisinya berulang kali,

Membuatnya penuh dan becek oleh intensitas dari Tsviet Berwarna- Weiss the Immaculate.

Weiss sendiri sudah membebaskan tancapan dan menyarungkan pedang bernama "Surga" dan pedang bernama "Daratan" semenjak tadi- semenjak keinginannya untuk meraih tingkat tertinggi dari penjabaran perasaan- semenjak dirinya berposisi duduk di bebatuan yang tersambung gundukan terliput jalinan berbagai ukuran akar-

Dan semenjak Riku Xehanort mengumandangkan secara erotika,

"Lagi- Ohh- Lagi... Weiss- Weiss- Ah, Weiss- Keras- Lebih-"

Riku menunggangi Weiss pada pangkuan, menggerakkan pinggul senada tekanan selaras selama jemari kedua tangan milik Weiss merayapi punggungnya dilanjutkan meremas kedua bokongnya,

Alunan desahan berat milik Weiss terlepas berkali-kali; puluhan dan tidak terhitung, bahkan kala pertemuan dan kuncian antara mulut.

Keduanya menikmati hubungan intim berunsur kekerasan karena Weiss sangatlah kasar, sedangkan Riku masih mempunyai khas... Vampir.

Keduanya liar,

Keduanya juga mengenal arti "temptation".

Namun senyata kenyataan...

Berulang kali Riku menggigit leher Weiss, berusaha mengecap dan mencerna memori- apapun. Sayangnya semuanya "kosong".

Dan ini...

Telanjang bulat; bagi Riku, sekarang,

Memejam erat seketika dirinya memadu dan mengadu langkah menuju klimaks; menuju pada tema: pengakuan.

Jika kesalahan Weiss adalah "passion",

Di sisi Riku, kesalahannya adalah instuisi.

Infeksi dari unsur Lifestream menyebar- meracuni sel-sel darahnya sepanjang: enam kali kenikmatan orgasme baginya, enam menit berikutnya adalah pertunjukan oral, berlanjut enam detik bagi Weiss untuk terkekeh kala menyaksikannya mengerang lepas atas momen kepuasan untuk kesekian kalinya.

Riku juga membutuhkan enam kali menyisir rambut milik Weiss dengan jemari kedua tangannya untuk menyadari bahwa dirinya...

Jatuh hati.

Apakah itu sekedar fluktuasi emosi, ataukah sekedar penyesuaian "warna" pribadi...

Tapi "putih"...

Di detik ini, Riku tidak segan menawarkan keseluruhan seutuhnya untuk Weiss dan menerima gelar "The Phoenix" bertepatan bercak-bercak mirip memar kehitaman mulai bermunculan di kulit lengan kirinya dan punggungnya.

Temperaturnya naik selayaknya demam tinggi; menambah deretan jumlah perih yang sudah ada semenjak kedua pedang "Surga" dan "Daratan" memakunya.

Riku mengecap ketidaksempurnaan dari kondisi tubuhnya... dan dirinya hendak mengetes kesanggupan,

Apa arti dari "Dunia"?

Kenapa mereka memilihnya?

Bagaimana cara mengolah mereka?

Dimana "posisi" dirinya?

Kemana permainan "ini" akan berakhir?

Atas segala "harapan"-nya...

Riku kini mendapatkan sinkronisasi unik terhadap keindahan aliran-aliran komposisi utama di tubuh Weiss the Immaculate kala "sesuatu" menyembuhkan bercak-bercak mirip memar kehitaman... Asalnya dari Weiss the Immaculate sendiri.

Pertanyaan aneh semakin berkutat di benaknya,

Weiss... seperti apakah "warna" putih...?

Tanpa menghentikan alur persetubuhan yang lambat untuk menghabiskan pengeluaran masing-masingnya, Riku menyunggingkan senyum semanis madu saat jemari tangan kanannya menjambak rambut "spike" berantakan dan mendongakkan wajah Weiss sebareng mendekat- membuka mulutnya,

Lidahnya menjilat sisi rahang kanan "pasangan"-nya, sementara jemari tangan kirinya menyibak sisi panjang dari poni yang sedikit menutupi sisi kanan wajah tampan, sampai daun telinga,

Riku mendesah berat pada lubang telinga kanan Weiss, dan membisik,

"...Hatiku untukmu."

Bertepatan itu,

"..." Weiss memicing pada aliran-aliran serat-serat hijau Lifestream yang keluar dari pori-pori kulit sekujur tubuh Riku dimana sedetik berikut, tangan kanan Riku telah menembus dadanya tanpa rasa apapun karena menyamai fleksibilitas komposisi utamanya.

Saat tangan itu ditarik perlahan tanpa meninggalkan jejak kerusakan pada jaringan daging dan kulit milik Weiss...

Sistematis syaraf dan indera-indera Weiss seketika itu berhenti bekerja begitu sebuah benda bulat kecil dengan sisi luar transparan... di dalamnya terdapat kemilau variasi putih beserta ungu muda dengan lingkaran cincin putih keunguan saling bersilang mirip proton-

Suara ringan menyela, "Protomateria. Yang itu dinamakan Materia Putih."

Kedua mata Weiss terarah kosong seketika "jiwa" Nero the Sable merembes keluar dari sekujur kulit Weiss... dan menahan tubuh Weiss dari belakang sebelum terjatuh bak boneka kain.

"Riku... kembalikan..." Suara Nero terdengar bertumpuk-tumpuk mirip... kelas "Dominion".

Tangan kanan Nero hendak meraih Materia Putih milik Weiss, namun serat-serat Lifestream dari tubuh Riku menghalangi- bahkan memindahkan sosok Riku ke tengah gundukan jalinan bebatuan berakar dengan hiasan berbagai ukuran kristal, tanpa repot memisahkan diri dari kontak persetubuhan dengan Weiss.

Riku memperhatikan sosok jangkung dalam pakaian jumpsuit ketat bervariasi garis-garis aliran Mako khas Tsviet dan sepasang sayap berbulu pisau. Wajah disana terbalut kain-kain menyisakan bagian mata dengan iris merah- terlihat merah jika tidak terancu efek aliran hitam yang mengitari disertai partikel molekul hitam timbul-pudar pada sekujur tubuh itu; dimana kedua iris disana terlihat berpendar seperti lampu senter.

Berikutnya Riku mengamati sosok yang berdiri di dahan salah satu pohon di seberang danau. Pemuda berambut perak... berhelai bulu? Pakaian disana bervariasi ungu dan putih, berdesain selayaknya khas penyihir. Bagian tubuh yang terpajang dan tidak tertutup pakaian, sungguh semolek wanita.

"Kuja, Rajaku. Kelas Gnome." Salam Kuja tanpa pindah dari posisinya.

Nero memohon, "Riku... kumohon... kembalikan..."

Raut Riku benar-benar tidak berperasaan saat mengembalikan fokus pada benda kecil yang dipegang jemari tangan kanannya dan tidak mempersoalkan panggilan "Rajaku" dari Kuja kala bertanya,

"Putih itu... seperti ini?"

Kuja tersenyum mengetahui bagaimana kedua iris aquamarine milik Rajanya tersemu antusias ingin mengetahui soal Protomateria,

Ia menimpal, "Masih ada dua lagi sesuai jumlah kepala Cerberus. Sebuah adalah milik Nero the Sable- adik Weiss the Immaculate, dulu dipegang oleh Sephiroth," sambil mengarahkan wajah pada sosok Nero untuk mempoin siapa yang bernama "Nero the Sable", dan melanjutkan, "Sebuah lagi milik kekasih Lucrecia."

Nero melemparkan pandangan setajam pisau diiringi desis pada pemuda kelas "Gnome", sementara Kuja menyeringai sewaktu Riku menimang benda kecil itu seakan-akan mengetes durabiliti sekaligus berat kuantitas,

"Apa fungsinya ini dengan tubuh Weiss? Nero merupakan jiwa, bukan? Kalau aku menghancurkan ini, apa yang akan terjadi?" Tanya Riku, sembari berjalan ke tengah danau, menapak di atas permukaan air danau sementara aliran serat-serat hijau Lifestream menyertai di seputar kedua kaki beserta menutupi area privat.

Kuja mengangkat kedua alisnya kala tangan kiri Rajanya memanggil pedang katana bernama "Souba" yang terbentuk dari serat-serat hijau Lifestream. Kemampuan Rajanya terlalu impresif. Teori itu sendiri tergolong tindakan represif, cukup drastis.

Ia mengerti kalau Rajanya mau bereksperimen, namun sebelum situasi tragis bagi kepala utama Cerberus karena Protomateria itu adalah motor penggerak... dimana Kuja membutuhkan bantuan dari kekuatan pedang "Surga" dan kekuatan pedang "Daratan" untuk membebaskan Ultimecia dan Kefka yang dikunci oleh Paradox di Gerbang ketujuh Neraka; yang berarti... Weiss the Immaculate HARUS bergerak sebagai manusia,

Maka,

Ia segera menyarankan, "Protomateria diekstrak dari Jenova 2000 tahun lalu oleh Lucrecia Crescent dengan bantuan Sphere Shuyin. Riku, dirimu telah kembali pada Dewi Mwynn, Lifestream; energi inti dari Planet. Lagipula, Weiss the Immaculate berguna untukmu. Jauh lebih baik ketimbang menjalankan semuanya sendiri. Bagaimana?"

"Sphere... Shuyin?" Ulang Riku sambil mengunci pandangan pada Kuja,

Kuja menawarkan ide, "Aku bisa menceritakan sedikit tentang Cerberus sekaligus Spira dan situasi 2000 tahun lalu, dari sisi mereka. Jangan tanya darimana narasumberku, namun kuyakinkan: Aku mengharapkan Rajaku secara... ultima. Dan pertama-tama, kita bisa memulainya dari SIN dan Zanarkand."

"SIN?"

Meski pertanyaan Riku berlambang ketidaktahuan, pengaruh unsur Lifestream mempengaruhi genetik ke arah yang lebih baik, yaitu menambah perkembangan sel-sel otak Riku, walau memiliki sisi racun yang berbahaya.

Terdengar aneh, namun bila dirinya kembali pada Dewi Mwynn, Dewi yang melahirkan Dewi Etro dan Dewa Bhunivelze... Masuk akal untuk pertanyaan mengapa kekuatan jagad raya seolah-olah berotasi di seputarnya. Kalau begitu... inikah cara mengolah "Dunia"- melalui Lifestream? Apa dirinya masih mempunyai elemen Kegelapan dan elemen Terang?

Pertanyaan berikutnya... Protomateria, Lucrecia Crescent dan Jenova, Cerberus sekaligus Spira dan situasi 2000 tahun lalu, kemudian siapa mereka?

Pandangan Riku kini ditelusurkan pada permukaan danau,

Sosok-sosok tinggi semampai berenang keluar dari "Temple"; gedung berbentuk rumah keong raksasa dan berhias pilar-pilar, bertempat di dasar danau dan terpancang oleh lilitan-lilitan es... Sosok-sosok cantik luar biasa dan bertubuh es gelap- para roh Shiva merebak keluar dari permukaan air danau,

"Oh, SIN." Komentar Riku saat para roh Shiva melepaskan cekikik tawa,

Rambut gimbal dan panjang, hiasan ornamen gelang-gelang pada kedua tangan dan kedua kaki ramping masing-masingnya. Tubuh-tubuh molek saling menampilkan sensualitas kala berjalan bak model di atas permukaan air danau yang menjadi panggung cat-walk mereka.

Nero mencoba menjadi nurani bagi Riku, seperti dirinya bagi kakaknya... pemikiran yang membuat kakaknya jatuh cinta dengan Riku. Sepertinya itu kesalahan, namun... Nero mau mencoba,

"Riku... Dengarkan kata hatimu... Kekuatan bukanlah sesuatu yang bisa diandalkan saat kamu terperangkap dalam keadaan yang tidak kamu ketahui... Masa lalu, biarlah berlalu... Ini dirimu,sekarang. Bersikaplah dewasa... Jangan mengulangi keadaan kakakku... Dan jatuh seperti diriku..."

Riku menatap bola kecil di tangan kanannya.

Masa lalu...

Dirinya, sekarang?

Jika harus mengembalikan Protomateria- Materia Putih ini, racun Lifestream bakal menggerogotinya dan dirinya mau tidak mau terkunci secara seks dengan Weiss the Immaculate.

Itu bukan opsinya saat ini.

Tapi...

Tadi di kapal yang dikendarai oleh Cid Highwind, Riku mendapatkan keterangan dari Vincent bahwa Mako berasal dari pengekstrakan beserta pengolahan Lifestream. Xehanort, ayahnya yang mendesain peralatan berat itu. Ia harus mencari dimana Xehanort mempunyai tempat penelitian Mako kalau dirinya harus bertahan hidup dari penyakit Geostigma. Lalu Weiss the Immaculate... Kuja bilang,

Weiss the Immaculate berguna untuknya.

Dan Kuja mengharapkannya secara... ultima. Apa penempatan kata "ultima"?

"Hm..." Dengung Riku,

Senyum terukir pada wajah secantik dewi seiring mengangkat bola kecil di tangan kanan. Di seberang danau, Kuja melebarkan seringai kala tangan kirinya menopang siku tangan kanannya dimana jari telunjuk memainkan bibir bawahnya.

Di sisi Riku, pikiran Riku adalah...

Bukankah dirinya membutuhkan BANYAK jawaban?

Dan ini... Riku sudah beradaptasi dengan pengaruh Lifestream. Jika sel-sel otaknya tidak berfungsi di atas standar,

"Daratan"... adalah "Surga".

Namun kata penengah "dan", terhubung kedua pedang milik Weiss the Immaculate... juga "Weiss" sebagai pembatas dan penghubung keduanya...

Putih...

Vanitas adalah Hitam.

Sora adalah Biru langit.

Kairi adalah Merah matahari terbenam, sangat indah jika dipadankan dengan lautan.

Sedangkan dirinya...

Seharusnya tidak mempunyai "warna".

Karena dirinya adalah...

Ya. Neraka.

Riku hadir di depan Weiss dan mengembalikan Protomateria itu ke dalam bidang dada Weiss. Nero the Sable seketika itu meresap kembali bak magnet ke dalam tubuh kakaknya.

Kuja tidak memprediksikan saat Rajanya menahan tubuh Weiss dengan tangan kanan, berlanjut mengecup bibir Weiss seolah-olah membangunkan seorang Putri Tidur, lalu tubuh Weiss terbalut oleh serat-serat Lifestream yang berasal dari tubuh Rajanya.

Sewaktu serat-serat hijau memudar, sabuk hitam pada celana Weiss berganti sabuk metal tersambung potongan pelindung mirip zirah dan kedua gagang pedang berubah serupa pedang Masamune. Kumpulan helai-helai rambut "ekor"mengalun atas efek pergerakan aliran Lifestream milik Riku saat Weiss the Immaculate kembali memperoleh senyata realita kesadaran,

Pupil dalam kedua iris biru unik milik Weiss, mengacu pada mulut Riku yang mengucap,

"Aku akan meminta banyak padamu. Itu bukan perintah, kita sejajar. Harapanku, kamu bisa mempercayaiku penuh... sebagai kekasihmu."

"..." Weiss melirik pada seorang pemuda berambut perak berhelai bulu yang berada di seberang danau; berdiri di sebuah dahan pohon, bersandar pada batang kokoh. Pemuda itu adalah penyihir dari benua Gaia.

Meski dirinya sempat masuk pada kondisi "koma", pendengarannya masih memproses secara natural.

Bicara soal SIN, para roh Shiva yang berkeliaran disini dan pendengarannya tentang Zanarkand... Tadi, Xemnas mendapat berita kalau Riku bisa membuka Gerbang Farplane. Pemuda kelas "Gnome" itu kemungkinannya menginginkan para roh Leviathan dari Pintu Purgatory.

Lalu Cerberus, kemudian kekasih Lucrecia. Kekasihnya bahkan hendak menghancurkan Protomateria-nya. Inikah wajah "asli" milik Riku?

Jemari tangan kanan Weiss menyeka rambut pada sisi wajah Riku,

Weiss menjawab, "Aku duduk cukup lama di tahta Cerberus, rantai-rantai berduri mengikat leherku dan kedua tanganku beserta kedua kakiku... seperti binatang. Kalau permintaanmu dan harapanmu kutolak, apa kamu sanggup merantaiku kembali pada tahta Cerberus?"

"..." Riku memicing.

Terikat... seperti binatang?

Dirinya jatuh hati dengan Weiss the Immaculate...

Riku merasa, Weiss bukanlah yang pertama. Bahkan untuk Ace Al-Rhasia adalah hati, cinta, jiwa. Kemudian Noctis adalah cinta, itu kata Noctis sendiri. Sejujurnya, berapa banyak hati yang telah dibagikan? Kenapa dirinya merasa... "kosong".

Apa... dirinya juga pernah memberikan hati untuk Sora dan Vanitas saat keduanya menjadi Tuannya?

Lalu ini...

Tapi dirinya sekarang berdiri untuk dirinya sendiri.

Apa salah menggunakan Weiss seperti ini...

Namun ini demi teman-temannya, kan? Apapun rencana yang berkutat dalam kepalanya, semuanya demi membawa "pelangi" bagi mereka. Jika kekuatannya bertambah, semuanya untuk melindungi mereka.

Kenapa... masih pedih.

Sejauh pedih, kalimat telah meluncur dari mulut Riku,

"Aku sudah memberikan hatiku padamu, bukan? Aku adalah milikmu. Kalau kamu mau, aku akan duduk di pangkuanmu dan menemanimu meski tidak terjamin untuk selamanya karena tubuhku terkena Geostigma."

Weiss tersenyum atas segala penekanan kata dalam kalimat itu.

Jika menoleh ke belakang... Siapa yang dipermainkan? Siapa yang bermain dalam permainan takdir? Sepertinya pertanyaan itu... tidak jauh dari kisah Cleopatra.

Heh. Dari 18 tahun... Hanya tiga hari, berlanjut dirinya disini menantang dan bercinta berkali-kali dengan "Dunia".

Weiss memejamkan kedua matanya, lalu terkekeh penuh arti ironi.

Rupanya begitu.

Tujuan Etro adalah meningkatkan kemampuan Riku Xehanort, walau harus melalui cara yang- Oh ya, tubuh itu telah terpolusi Geostigma dari dirinya. Itu berarti... waktu kekasihnya tidak akan panjang tanpa Mako.

Atau pilihannya... Ia harus mengekstrak Riku the Phoenix, secepatnya.

Tch.

"Dia" merencanakan sejauh itu.

Seharusnya untuk mencapai kualitas tercemar membutuhkan masa. Apalagi memproses Lifestream. Rupanya tubuh Riku Xehanort mempunyai proses dan keunikan berbeda. Profesor gila itu sempat menceritakan bahwa keluarga Xehanort yang terakhir bukanlah keluarga. Ia tidak mengerti, namun keyakinannya... Hojo sudah menyimpan banyak rencana milik Xehanort. Situasi dua tahun lalu telah membuktikan, jiwa berupa virtual memori pun bisa menjalankan banyak hal.

Dirinya... masih boneka, huh?

Jadi sekarang, siapa dalang sesungguhnya? Riku terlalu polos untuk memanipulasinya, walau versi ini dengan versi tadi...

Urusan pertama dulu. Mako bisa diperoleh dari kawasan reaktor yang mencakup penelitian milik Xehanort. Antara "core" negara Deepground, atau...

DiZ.

Yang berarti melalui Xemnas, kembali.

Benar-benar bajingan.

Apa Xemnas sengaja menceritakan situasi hubungan intim agar dirinya mencoba bercinta dengan Riku the Phoenix?

Kalau Xemnas berpikir keadaan Geostigma akan terjadi, berarti saat ini... dugaannya, "core" akan dihabitasi oleh anggota-anggota Xemnas agar Riku tidak memperoleh Mako. Ia masih perlu menghubungkan BANYAK antara: Riku, Vanitas, dan rencana Xemnas tentang senjata "ultima" milik Pulse.

Tapi Weiss menyukai Riku... terlalu menyukai. Ia tidak mempersoalkan wajah "asli" milik Riku. Toh nanti dirinya akan merantai Riku di tahta Cerberus.

Jadi jawabannya untuk permintaan dan harapan tadi,

"Baiklah, Riku. Semua akan kuturuti, untukmu... setelah acaraku dengan si Gnome itu. Aku juga harus meminta Shelke the Transparent, gadis itu mampu menstabilkan unsur racun Lifestream untuk sementara." Ucap Weiss kala membuka kedua kelopak matanya, disertai senyum sebagai kepastian dan keyakinan bahwa dirinya berada pihak Riku.

Riku membalas senyum Weiss, kemudian berdiri diikuti jawaban santai, "Tidak masalah. Semua informasi akan aku peroleh... dari memorimu. Kuharap kamu tidak melepaskanku setelah aku mandi." Diakhiri membungkuk,

Weiss menanggapi ciuman berdurasi singkat dari kekasihnya, kemudian mengerutkan kedua alisnya saat ciuman diputus tanpa persetujuannya.

Riku berjalan mempapas sisi kiri Weiss dan menapak permukaan air danau berkat aliran-aliran Lifestream. Para roh Shiva menuntun Riku, salah satunya menunjuk pada kedalaman... berikutnya Riku terjun menyelam dibarengi oleh mereka.

Sedangkan Weiss bertanya-tanya...

Memori?

Suara tawa kecil terdengar tidak jauh dari belakang, disertai kalimat,

"Weiss Weiss Weiss. Ah, enaknya abadi tanpa pengaruh si Etro. Atau jangan-jangan... Etro yang membebaskanmu tiga hari lalu dari tahta Cerberus? Masalahnya... abadi, atau tidak; dirimu tetap boneka."

Intonasi pernyataan itu sarat akan penghinaan.

Tanpa perlu membalikkan tubuh,

Weiss membalas, "Bicara seperti monyet. Apa pengetahuanmu setimpal dengan keinginanmu untuk membuka Pintu Purgatory? Niatmu adalah memanfaatkan Riku?"

Kuja memejamkan kedua mata seiring senyum terlukis di wajahnya saat pria itu telah berada sejarak hitungan langkah, di dahan yang sama... berhadap-hadapan. Ia membuka kedua kelopak matanya dan menjawab,

"Mmmm~ Zanarkand. Bicara memanfaatkan, kita berdua berjalan sejalan dan searah... bahkan setipe. Sejujurnya, tidakkah kamu merancukan nilai dari Vanitas?"

Weiss hanya, "Heh."

Kuja menganimasikan ekspresi arti mengejek, namun menerangkan secara sarkastis,

"Chaos dan Omega... Yang mana Chaos? Yang mana Omega? Lalu The Devil... Yang mana pemegang refleksi? Yang mana pemilik asli? Apa rasional otakmu tumpul oleh kenikmatan, Weiss? Aku nyaris bisa merasakannya saat melihatmu bercinta berulang kali dengannya. Kamu tahu bagian terbaik dari kursi penonton? Dirimu, dengan sebuah kata seksi dan kini, hati... kamu naik ke panggungnya tanpa spekulasi. Luar biasa, eh?"

Weiss mengangkat wajahnya dengan aksi tantangan, berikutnya menyahuti, "Oh? Taktikku adalah urusanku. Rencanaku adalah caraku. Keduanya berada di luar wawasanmu, Gnome."

Kuja menyeringai disertai perkataan yang tidak kalah dingin,

"Bicara tentang warna putih... dimana bendera putih-mu, hm? Apa kamu akan meminta DiZ untuk mengimplan Mako padanya? Atau tetap mengikuti rencana?"

"..." Weiss menatap datar pada wajah si Gnome. Mako dan DiZ. Tch. Pemuda kelas "Gnome" ini... memiliki pengetahuan. Darimana? Ia memejamkan kedua matanya, memikirkan prosentasi berapa lama Riku bisa bertahan tanpa Mako.

Kuja melanjutkan, "Dirimu, duduk sebagai manekin hidup terlalu lama. Bertahun-tahun berada dalam proses dan proses di tangan kedua peneliti gila sampai dua tahun lalu, kamu terbebas berkat Sephiroth. Tapi... Apa hanya 18 tahun, Weiss?"

"..." Weiss membuka kedua kelopak mata seketika si Gnome telah berdiri di samping kanannya dan deret jari lentik berkuku panjang menyusuri gagang katana Masamune yang awalnya merupakan gunblade berlambang "Surga".

Kuja meneruskan kalimatnya,

"Setelah penyelidikan bertahun-tahun tentang Jenova dan alam Kegelapan, akhirnya 18 tahun lalu... Xehanort menemukanmu di Kotak Neraka dimana para fal'Cie menyebutmu Cerberus, namun Xehanort menyebutmu Jenova. Protomateria dan komposisi utamamu membuka pengenalan tentang Mako dan Materia. Sebelumnya... memorimu yang hilang sebelum 18 tahun, tersangkut kejadian di kota Spira 2000 tahun lalu beserta profesor Lucrecia Crescent yang merupakan salah satu leluhur dari keluarga Almasy."

Weiss melirik pada pemuda kelas "Gnome" yang telah mengambil duduk di dahan lain tidak jauh dari dahan tempatnya memijak.

Kuja mulai bercerita,

"2000 Tahun lalu, Lucrecia mendapatkan Sphere berisi jiwa virtual memori Shuyin. Menggunakan itu, Lucrecia berhasil mengekstrak Jenova dari tubuhmu, memecahkan menjadi tiga Protomateria untuk menyelamatkan kekasihnya. Satu untukmu, Nero, dan kekasih Lucrecia. Pemberian Protomateria tidak lain agar kamu dan Nero dapat hidup sebagai spesimen. Tapi kalian bersaudara, berbeda. Begitu juga dengan kalian bertiga. Kamu mempunyai genetik dominan. Karena itu Paradox merantaimu di tahta Cerberus dan mengunci kalian bersaudara di dalam Kotak Neraka, sementara Nero dibebaskan oleh Xehanort dari pod Cryogenic."

Kuja belum mengakhiri,

"...Darimu, Xehanort dan Hojo membuka pengenalan tentang Replika, juga menciptakan Materia minor... hasil pengekstrakan berbagai kekuatan susunan kelas dari alam Kegelapan. Semenjak 18 tahun lalu, kedua peneliti gila itu mencuci otakmu secara diktator dengan penemuan Mako dari Lifestream. Selama itu, Protomateria adikmu; Materia Hitam dipakai oleh Sephiroth. Berkat penemuan Xehanort atas penelitian dari Zanarkand dan menciptakan Sphere sebagai media... dua tahun lalu, kamu melalui jiwa virtual memori Hojo membunuh Nero untuk mengetes teori jiwa. Sekarang dirimu berdiri disini berkat jiwa Nero dan seutuhnya kamu."

Ia melepaskan tawa kecil sewaktu si pemimpin Tsviet Berwarna telah berdiri di belakangnya dengan kedua bilah pedang katana Masamune di sisi kanan dan di sisi kiri lehernya. Ia sudah dijamin oleh Dewa Bhunivelze, kematian di luar jangkauannya.

Kuja pun berbicara dengan santai,

"Jika kamu memusingkan tentang Riku... Kenapa Dunia kamu sebut Omega? Kenapa kehadiran Omega harus bersama Chaos? Kenapa namamu... Weiss the Immaculate? Kenapa bukan Weiss the Cerberus seperti kamu menyebut Riku the Phoenix? Apa kamu sadar arti dari rencanamu untuk menyatukan Chaos dan Omega di dalam tubuhmu? Kenapa Xemnas kembali muncul di permukaan? Dan pertanyaannya... sejak kapan Xemnas memiliki Organisasi dan memakai kelas Vampir sebagai pusat komunitas?"

"..." Weiss memicing atas informasi yang tidak diketahuinya karena baginya,

Kedua pedang "Surga" dan "Daratan" adalah keunggulannya, ditambah komposisi utama: Lifestream. Struktur genetiknya bisa menularkan Geostigma. Tentu bermain dengan sesama komposisi utama, Nero tidak bermasalah dengannya... ditambah hubungan darah.

Kesimpulannya... Mako tidak lebih sebagai kekuatan suportif. Ia tanpa Mako pun bisa bertahan abadi dan Protomateria miliknya adalah pengatur stabilitas bagi kelangsungan sistem tubuh.

Kesimpulan kedua... kalau Protomateria ketiganya digabungkan kembali menjadi kesatuan utuh- Jenova, dirinya bisa memiliki semua memori lama- 2000 tahun lalu.

Kesimpulan ketiga... Rosso, Azul, Shelke adalah bagian dari proyek Replika milik Xehanort dan Hojo.

Kesimpulan keempat... jiwa virtual memori adalah Sphere yang diperoleh dari Zanarkand. Semenjak Proyek Jenova- Chaos dan Omega milik Xehanort di tangan DiZ, berarti terdapat koneksi antara Xehanort dan Xemnas beserta elemen Terang milik Xemnas... yang pastinya Xemnas memegang banyak Sphere.

Kesimpulan kelima... situasi dua tahun lalu, rupanya saat pembantaian seorang diri oleh Sephiroth dimana beberapa bulan kemudian, Sphere Hojo berada padanya dan membunuh Nero menggunakan tangannya yang menurut cerita Hojo di detik itu adalah untuk mengetes teori jiwa. Sama sekali tidak jelas tujuannya. Berarti jika jiwa Nero membuatnya kembali berdiri disini, jiwa Xehanort...

Hmph. Bajingan. Peneliti gila itu telah mempersiapkan semuanya. Pantas saja, Xemnas...

Weiss tiba-tiba mengingat sesuatu,

Pedang Riku adalah pedang katana bernama "Souba" milik Kadaj. The Phoenix... Entah bagaimana, saat Riku lahir dari abu, kemungkinannya membawa serta Sphere Kadaj dan Sphere Sephiroth, Sphere Loz, Sphere Yazoo... dan mungkin beberapa lainnya. Sepertinya Riku tidak menyadari hal itu. Kalau Riku memiliki lebih dari tiga Sphere, "Trinity" bisa dikeluarkan kapan saja karena formasi itu membutuhkan tiga jiwa. Apa... situasi kota Midgar adalah salah satu serangan "Trinity" milik Riku?

Tentang "Dunia"... Seperti apa "Dunia"? Bukankah Omega?

Jika pemuda kelas "Gnome" ini mengisyaratkan bahwa Omega bukanlah Riku... lalu siapa? Sebentar. Maksud "refleksi" dan pemegang asli? Kalau The Devil adalah Chaos. Kehadiran Omega harus bersama Chaos... Apa...

Chaos dan Omega merupakan satu tubuh?

Vanitas Caelum berupa parasit, setidaknya itu yang dikatakan oleh Xemnas. Apa mungkin Vanitas Caelum hanya berupa media bagi Chaos dan Omega?

Seandainya mengikuti rencana untuk mengekstrak Vanitas the Devil. Apa keuntungan Xemnas dan peran Riku disini?

Ia harus mencari dimana Protomateria milik Nero dan Protomateria milik kekasih Lucrecia, juga dimana Sphere Shuyin. Ia tidak mempercayai si Gnome ini. Potongan-potongan keterangan dari Xemnas pun... sama sekali merancukan.

Kuja kini berdiri di sisi kiri Weiss semudah memutar kalimat,

"Begini, biar kuperjelas satu hal. Kamu pasti melihat siapa yang membebaskanmu dari tahta Cerberus karena rantai-rantai berduri disana bukanlah buatan manusia. Kebutuhanku hanya spesifikasi rupa dan sedikit... bantuan. Aku pernah tinggal benar-benar super lama di alam Kematian. Barusan adalah sedikit informasi sebagai pembayaran dimuka. Kupastikan pertukaran yang adil untuk selanjutnya, yaitu siapa pemegang Protomateria; Materia Merah. Bagaimana?"

Weiss memejamkan kedua matanya. Sedetik berikutnya, menyarungkan kedua pedang Masamune-nya. Lalu menatap pemuda kelas "Gnome" yang memandangnya dengan rona... pemaparan ide.

Di sela itu...

Di dalam danau Macalania...

Riku telah berpakaian berkat kekuatan baru dari Lifestream sebagai pengganti elemen Kegelapan dan elemen Terang yang tidak bisa dipakai di Hutan Macalania ini. Pilihannya adalah versi jaket Organisasi karena bercak-bercak seperti memar hitam kembali menghiasi di beberapa bagian kulit tubuhnya. Dan itu... bukan pemandangan yang bagus bagi pengelihatannya.

Sudah beberapa kali Riku tidak bisa menahan diri untuk memuntahkan unsur racun Lifestream selama menempuh berbagai ruangan maze dan lorong,

Kini...

Ia memijak Ruangan Fayth di dalam "Temple" Aeon Shiva dan mengamati sosok molek bertubuh es gelap berukuran lebih besar dari para roh Shiva lainnya.

"...Kenapa aku harus membantumu, kamu telah memiliki berkah Dunia dan dilindungi oleh Etro... bahkan Mwynn berada di dalam dirimu." Ucap Shiva SIN.

Riku memaksakan senyum di tengah sengal kala menjawab,

"Para roh Shiva menuntunku kemari. Menurut mereka, kemampuanku membuka Gerbang Farplane berarti bisa menjalani ritual Summoner. Lagipula, berkah dan perlindungan dari sesuatu yang tidak dapat aku lihat... itu kurang meyakinkan bagiku. Kamu nyata, Vanitas juga nyata. Dan aku memang membutuhkan bantuan untuk melindungi Planet dan teman-temanku. Semuanya... Aku ingin menjaga semuanya beserta Langit-ku."

Shiva SIN langsung tertawa terbahak atas pernyataan itu, kemudian berjalan mengelilingi si pemuda kelas "Neraka". Jejak es membekukan lantai batu.

Lantai ini berbentuk lingkaran dengan dekorasi keseluruhan dasar gambar berupa aliran-aliran ombak. Sisi dari lingkaran adalah selokan berkedalaman... dalam. Di seputar tembok terdapat pilar-pilar dengan tengger berbagai patung yang memuntahkan air terjun. Barisan jendela tanpa kaca berjejer di sisi tembok sebagai penengah antara pilar. Di balik jendela, aliran air danau Macalania tampaknya tidak merembes masuk. Keajaiban dari "Temple" sebuah Aeon, mungkin?

"Masalah Vanitas mungkin bisa diurus oleh Pulse yang dibuat oleh Bhunivelze untuk menjaga Planet dari alam Kegelapan. Tapi kamu, Riku Xehanort... Apa kamu mengetahui takdirmu?" Tutur Shiva SIN tanpa memberikan sedikit petunjuk.

Riku menyahuti, "Entahlah. Kurasa, aku akan membuat takdirku sendiri. Dan oh, namaku Riku. Cukup... Riku." Disertai raut penuh percaya diri.

Shiva SIN menyamai senyum. Baginya, ini adalah pemuda yang memikat dan... kompleks.Melalui kelas Vampir, dan sekarang... lihatlah sekarang. Setengah sekarat karena kekuatan Lifestream tidak sanggup ditelaah secara konsisten. Menerima berbagai macam versi kekuatan seperti itu... tubuh itu akan hancur, cepat atau lambat. Bagian menarik dari segala kericuhan ini, Riku Xehanort meminta bantuan padanya. Apa maksud dan tujuan tiba-tiba ini?

Apa ini adalah kehendak Etro?

Ia merasa tidak keberatan mengikuti pemuda ini, namun ritual adalah ritual. Ia kemudian melayang di tengah-tengah ruangan.

Riku melihat ke seputar dimana pilar-pilar es tahu-tahu bermunculan mengelilingi area lingkaran permukaan lantai batu seolah-olah sebagai "ring" sekaligus batas "arena", diiringi seruan dari Shiva SIN,

"Aku tidak mau menerima komando dari mereka yang lemah. BUKTIKAN KEKUATANMU, RIKU!"

Riku langsung menyiagakan posisi bertarung dan melesat zig-zag seketika belasan proyektil es mengarah dari segala penjuru. Ia mengerti situasinya yang tanpa kekuatan apapun selain kekuatan Lifestream. Setidaknya tantangan mulai menjadi favoritnya, semenjak kenyataannya... tubuhnya tidak akan bertahan kalau tidak buru-buru keluar dari area segitiga bermuda ini.

Dan Riku tidak mau keluar dari sini sebelum membawa pulang hadiahnya.

Sepanjang situasi di Hutan Macalania...

Di salah satu ruangan Puri Oblivion...

Noctis dan Xemnas, keduanya sama sekali tidak ada tingkat lelah.

Meski pertarungan terlihat seimbang. Sejujurnya... puluhan sulur-sulur hitam pekat yang keluar dari tembok bahkan lantai dan langit-langit benar-benar menambah rusuh dan mengganggu konsentrasi Noctis. Belum dibarengi serangan "Trinity" dimana-mana.

Saat Xemnas berada sejarak jangkauan, Noctis melempar pedang utamanya dan mengambil tombak,

Belum meluncurkan serangan pada Xemnas, tiba-tiba medan di seputarnya beralih gelap bersama ratusan proyektil berelemen Terang. Noctis terpaksa memijak dalam pemandangan hitam dan memasang barikade puluhan senjatanya,

Pecahan kaca-kaca efek Kristal-

Dari bawah,

"...!" Noctis tidak sempat bereaksi seketika lingkaran "Trinity" berukuran besar langsung menyedot kekuatannya- "GAA- AAAAAAAAAHHHH!" Teriakannya melengking saat kilatan-kilatan petir-petir kuning menjalar di sekujur tubuhnya akibat efek dari "Trinity" berkekuatan tinggi. Kekuatan gila ini nyaris menghancurkan tubuhnya,

Nyaris, jika Xemnas tidak menghentikannya, dan sekejap,

Semuanya kembali menjadi ruangan putih.

Seketika puluhan senjatanya pecah berantakan dan pudar kembali pada Kristal Tenebrae, sulur-sulur hitam dari segala arah menangkap kedua tangannya dan kedua kakinya, memaksa tubuhnya merenggang seperti boneka kain yang dibetot atas-bawah.

Noctis tidak sanggup bergerak, tersengal berat dan tergantung lemah di tengah ruangan.

"Tsk-tsk." Decak Xemnas, saat berjalan dan menghilangkan kedua senjata pedang lasernya selama menghampiri "teman lama".

"..." Noctis memalingkan wajahnya dengan lemas sewaktu jemari tangan kanan Xemnas menyentuh sisi wajahnya. Serius tidak mampu memikirkan darimana kekuatan elemen Terang milik "teman lama"-nya. Sphere pun... tidak akan segila ini.

"Seharusnya kamu tidak menolak permintaanku untuk menjadi Pelayan abadimu karena dengan begitu kamu bisa mengontrolku, dan aku tidak akan mencari teknik lain." Tutur Xemnas, sembari merayapkan jemarinya pada jenjang leher si Pangeran... kemudian menguak jaket hingga ke batas bahu, berikutnya turun menyusuri permukaan kain kaos tipis... menjamah bidang dada kiri dan memainkan sedikit pada sembulan puting.

Lidah Noctis kelu... hanya bisa melirik setajam pisau saat Xemnas perlahan menarik ujung kaos; kain pakaian dasarnya, dan mengangkat sebatas bidang dada,

Xemnas berkata kembali,

"Walau situasi Etro dan Riku tidak kubayangkan, cukup terlewat... Prediksiku, Weiss bisa menjadi penentu untuk Vanitas sekaligus pemicu untuk Riku. Aku selalu memperhitungkan semuanya. Organisasi inipun sama, semuanya terorganisir dengan sempurna seperti peranku yang berada di antara hitam dan putih. Aku sudah memperingatkanmu, Noct. Berkali-kali, bertepatan selalu dengan momen tragedi yang sama. Setidaknya kali ini, aku sudah punya rencana."

Noctis memicing saat lidah melulur pada bidang dada kirinya... bibir itu bergerak mengulum puting dadanya dan baris gigi runcing menoreh. Perih bukan konsiderasi baginya-

"...Nhh-"

Ia mengerang pelan sewaktu pergerakan jemari kedua tangan Xemnas meraba otot-otot pinggangnya, berlanjut menyelip di balik lingkar celana.

Xemnas menghentikan kuluman dan tersenyum seraya menarik diri... malah untuk mendekati dan mendesah di telinga kiri Noctis, diikuti kalimat,

"Kamu mau info, Noct? Aku menyukaimu cukup lama. Sedikit pertukaran tidak masalah, kan?" Sambil meneruskan jemari tangan kiri pada balik kain celana dalam dan meremas bokong kanan si Pangeran.

"..." Noctis melirik dengan penjurusan segala kebencian pada "teman lama"-nya. Bicara tentang kata "sedikit" ditambah pengenalannya terhadap Xemnas... Pria ini selalu punya keyakinan tinggi, kalau tahu tombol untuk membuat bicara...

Mungkin seks tidak masalah. Selama teman-temannya tidak tersangkut paut... Asal mereka baik-baik saja... Asal Riku- Lagipula dirinya harus mengumpulkan kekuatan untuk kabur situasi ini dan menjaga "cinta"-nya. Semoga saja si Roxas cepat menemukan si Axel.

Ia memejamkan kedua matanya sebagai arti "terserah padamu".

Xemnas melebarkan senyum dan merapatkan antara tubuh bagian depan, berikutnya langsung menggigit leher Noctis sembari meneruskan "pencarian" pada area bokong dan memasukkan jari tengahnya ke dalam-

"...Ahh- Ah-"

Rintihan "seksi" dari mulut si Pangeran benar-benar membuat Xemnas tertawa dalam pikiran karena tidak kurang dan tidak lebih... Ini seperti bermain dengan Riku.

Bicara soal Riku... "hitam" dan "putih" tidak jauh dari lambang pertahanan. Seperti dia memperhitungkan kesalahan Vanitas karena emosi seharusnya tidak termasuk dalam "warna". Ia membersihkan memori Riku untuk itu, dan apa yang hilang... tidak akan kembali. Sayangnya, versi adalah mutlak. Sejauh manipulasi, "searah" pun... Riku mempunyai bentuk asli, dan hanya pemilik asli yang mengetahui dimana senjata "ultima"...

Soul Eater.

Memasukkan Tsviet yang melibatkan Cerberus memang berada di luar rencana "master", namun porsi kekuatan Riku akan berbalik "dua arah".

Ia masih mengingat kalimat Xehanort,

"...Dua arah, dan aku salah. Harga tetaplah Harga. Jika tidak terbatas, maka aku akan membatasinya. Situasinya tidak berbeda, dulu dan sekarang, ataupun mereka."

Setelah Saïx mendapatkan Kristal Tenebrae, lalu Xaldin mendapatkan keempat Kristal di benua Oriense... semuanya di gabungkan dengan Kristal Valhalla ke dalam Fifth Ark... Valkyrie milik Pulse akan berada dalam kendalinya.

Sekarang, dirinya tidak ada waktu untuk bermain. Semuanya harus terlaksana sempurna, baik rencananya dan "master" miliknya.

Xemnas melepaskan gigitan dari leher si Pangeran sekaligus menarik jari tengahnya dari benam... lalu membisik pada telinga kiri si Pangeran, "Sori, Noct. Sejauh aku ingin membagikan info, jadwalku padat." Kemudian beranjak pergi dan membuka Portal Kegelapan.

"..." Noctis memandang datar pada Portal Kegelapan yang menutup.

Bertepatan Portal Kegelapan menghilang, Noctis terlepas dari ikatan dan terjatuh di lantai. Sulur-sulur menghilang semudah tanpa meninggalkan jejak. Noctis tidak tahu kalau sedari tadi diawasi oleh sepasang mata dari sebentuk makhluk kecil yang bersembunyi di balik salah satu pintu dan menonton dari celah pintu.

Sejalan adegan antara sesama "teman lama"...

Beberapa menit sebelumnya... Di lantai terbawah Puri Oblivion, perbatasan piramida alam Kegelapan...

Ruangan penyiksaan sedikit rusuh oleh-

"...OHH! OH! Pelan- AH! Roxy- Roxy-"

Erangan Axel terus berkumandang "seksi"...

Dimana membuat Roxas memutar kedua bola matanya saat menetapkan untuk menarik rantai bergerigi yang mengikat dan lumayan tertanam dalam pada bidang dada sahabatnya.

"...Pelan- Ah- Simpati, Rox!" Seru Axel,

Roxas menyahuti dengan kesal, "Itu urusanmu, bodoh! Kenapa aku yang harus mencarimu kemana-mana, hah? Berapa kali kukatakan: Jangan. Mempercayai. Xemnas!" Seiring jalinan rantai terakhir hancur oleh tenaga genggaman dari kepalan tangannya.

Tubuh Axel seketika itu terhuyung dan menerima pelukan erat.

"..." Axel hanya bisa tersenyum atas seluruh atensi rasa... rindu dari Tuannya; sahabatnya. Tangan kanannya merangkul leher Tuannya, kemudian Axel membisik pada telinga kanan Tuannya,

"Oh, Rox. Kamu tahu resiko pekerjaanku. Agen ganda membutuhkan pengorbanan. Dan aku sungguh menyayangimu juga. Sori, oke?"

"..." Roxas tidak menjawab untuk kata "menyayangimu" karena merasakan ungkapan tadi sejujurnya adalah perasaan sahabatnya terhadap dirinya. Ia tidak bisa berharap banyak, eh?

Ia segera melepaskan pelukan diiringi menanyakan, "Apa kamu mendapatkan sesuatu tentang Riku dari Xemnas?"

Axel mengangkat kedua alisnya, dan menjawab, "Memangnya kenapa dengan Riku?"

Roxas mencoba mencari hubungan tentang Riku dengan pengakuan Noctis tentang Riku, dan bertanya, "Ax, kamu mengingat situasi tentang 18 tahun lalu... tentang kakakku; Stella?"

Axel mengernyit saat membenahi pertanyaan, "Maksudnya... tentang Vanitas?"

Roxas melirik pada makhluk-makhluk penjaga gerbang perbatasan alam Kegelapan yang berada di bawah jaring-jaring metal, kemudian menjawab,

"Vanitas... dia bilang Stella bukan Bintang Fajar yang dicarinya. Stella tampaknya mengetahui sesuatu... sesuatu dari Vanitas. Kakakku memilih mati karena tidak sanggup menjalani kehidupan Vampir. Aku sudah mempelajari tentang Sphere, namun belum berani untuk memastikan rasio kemungkinannya. Kupikir, kalau bisa membuka Pintu Purgatory... Aku bisa mengambil jiwa Stella sebagai Sphere. Namun proses itu... Aku tidak tahu. Yang kulihat dari Riku... dia memakai serangan Trinity pada kota Midgar, kekuatannya benar-benar gila. Entah Sphere dibawa dari efek kematian-"

"Riku pernah meninggal?" Potong Axel.

Namun Axel memikirkan kemungkinan lain dengan kata "Sphere" menyangkut "Trinity" milik Xemnas. Ia pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan Saïx dan Xigbar tentang... Sphere Ventus?

Sementara Roxas mengingat hal berbeda, dan menuturkan, "Oh ya, Ignis. Pria itu andalan Noct kalau soal informasi."

Axel menyambung, "Ngomong-ngomong... Aku mencium bau Noctis dari tubuhmu. Err... Roxy. Kamu tidak mengumpankan Noctis, kan? Keadaan di atas tadi... Xemnas ada pertemuan dengan pemimpin Tsviet Berwarna. Vexen juga meminta Laxaeus ke mansion Healen Lodge."

Roxas mengerutkan kedua alis dan menanyakan, "Mansion Healen Lodge? Itu kan- Tunggu. Kamu bisa mendengar dari-"

"Kupo~"

"GYAH!" Seru Roxas sambil menyiagakan seluruh senjata rapiernya, dan menatap pada... makhluk kecil mirip blasteran hewan dan boneka, terbang menggunakan sayap Iblis kecil dan gantungan balon di-

"Pingsan! Pangeran pingsan setelah melawan nomor I!" Seru Moogle Kupo.

Kedua Vampir jelas terkejut. Mereka tentu mengetahui siapa pemegang angka "I" dalam kepemimpinan Organisasi.

"Ya sudah, kamu urus si Pangeran. Aku mau mencari Ignis." Ucap Roxas tanpa embel-embel empati.

Sembari menyembuhkan luka-luka parah yang masih menganga sekaligus membentuk perlengkapan khas Organisasi, Axel segera mengucap, "Ya-ya. Lagipula ada yang aku mau cek dulu."

Roxas kini menatap Axel yang menanyakan tentang keberadaan Xemnas dan anggota-anggota lainnya, lalu meminta si Moogle untuk mencari "Ruangan Repose". Tapi... sejak kapan sahabatnya bisa memelihara Moogle Kupo? Mereka kan-

"...Pastinya tripel Munny buat sintesis berikut." Ucap Moogle Kupo, kemudian menghilang.

"..." Roxas memutuskan pergi juga melalui Portal Kegelapan. Urusannya banyak.


TBC...


A/N:
Lho-lho-lho... Riku kena
Geostigma? Wah, penularannya kok mirip HIV? *dari belakang Author, Weiss menyiapkan Ame dan Tsuchi sambil bilang, "DIE!"*

Judul diambil dari kalimat Xehanort tentang Vanitas. *tapi kita membicarakan Riku, kan?* Oh, apakah saya memberi hint? Nope ^^ *smirk*

Jalan ceritanya sudah jelas, kah? Ohoho~ masih ada penjelasan lainnya nanti. Hehehe~ Oh, sekilas Xemnas/Noctis. Truz Axel punya Moogle? *hah?* Nah lho-Nah lho... si Weiss mau cari Sphere Shuyin? Tebak nama Shuyin karakter di FF berapa?

Yang mainin FF Dirge of Cerberus, pasti tahu versi si Weiss dengan dua pedang Masamune ^^

Bagaimanakah kabar Riku yang terkenaGeostigma? Bab selanjutnya... Hitaaaaaaaaaam~ Tetap ikuti cerita ya ^^

Makasih reviewnya ^^ *hugz Not*

Untuk Not: Maklum, si Riku kece banget gitu lho. Ahahaha~ *maksa* GUBRAK! *sfx: Author ditiban sama Omega*

Ditunggu reviewnya ^^