Permainan dimulai dengan suasana tegang. Jujur, tantangan ini menyeleneh sekaligus di luar akal sehat. Jika dipertontonkan ke muka umum, orang awam pasti menertawai mereka, sekelompok remaja tanggung yang berani-beraninya melawan pemerintah. Beda belahan bumi beda pendapat. Bagi para pembunuh. Penjahat kelas kakap. Penyihir hitam. Pertandingan itu merupakan hal menarik seratus tahun sekali.
Di mana hanya ada tujuh ras terkutuk dengan bakat terbaik.
"Kita berpencar. Bagi menjadi dua orang. Gray kau harus menjaga Mavis. Setelah dia bangun jelaskan permainannya. Sekian. Ayo pergi."
"A-apa tidak apa-apa? Kita mana tahu akan bertemu dua atau tiga musuh sekaligus? Lagi pula kondisi Natsu kurang prima!"
"Mau lari dari tanggung jawab? Seharusnya kau sadar, di sinilah bakat kita dibutuhkan, membunuh. Aku mempercayaimu. Kau mengenal Mavis dibanding siapa pun. Mungkin kalian jatuh cinta." Itu konyol jika Jellal yang mengatakannya. Gray sempat menyeringai, merasa lucu.
"Bawalah kemenangan dan kita akan keluar dengan selamat!"
Sebutlah janji antar laki-laki. Jellal melawan arah ke utara, disusul Mystogan yang berlari kecil, mengimbangi langkah kakaknya. Maze senyap tanpa sedikit pun suara. Hanya jalan setapak untuk dilewati. Tanpa mereka tahu jebakan atau musuh macam apa yang dijemput. Kakak-adik sekaligus kembaran itu terdiam. Masing-masing terlalu malas membuka pembicaraan. Sibuk membagi pikiran. Berpikir dan menerka-nerka.
TAP!
Langkah kaki ke seratus. Mystogan terhenti pada jarak enam meter.
"Bunuh aku." Pintanya tiba-tiba. Menarik sedikit atensi Jellal yang fokus ke depan. Menoleh dengan wajah teramat datar, namun sedikit melontar keheranan. Apa?
"Kurang keras, kah? Bunuh aku. Kakak ingat ucapan Ayah? Hanya satu dari kita yang dapat hidup." Wajah menyenangkan itu hilang, digantikan raut penuh intimidasi. Mystogan serius dan menghayati kata per kata.
"Buktinya kita berdua hidup. Ayah berbohong." Masih menyilangkan tangan santai. Jellal paling tahu dibanding siapa pun: Mystogan hendak marah.
"Jika kakak membunuhku, kau bisa mendapatkan kembali emosimu!"
"Lalu apa? Kau ingin aku menangisi jasadamu yang membeku? Lucu sekali. Lakukan hingga mencapai batas terakhirmu. Kita sedang bertaruh, bukan bertengkar di rumah."
"Dengarkan baik-baik! Setidaknya kakak bisa menyukai Lucy-san. Tidak samar-samar. Sebelas-dua belas! Lagi pula aku anak yang tak diinginkan. Seharusnya lahir zaman ke berapa atau menjadi debu di angkasa."
"…. Aku tidak pernah menganggap ucapanmu selain sampah." Gertak giginya terdengar jelas. Menutupi senyum yang biasa terkembang, menentramkan hati. Mystogan kalap akibat sulutan tersebut.
"Maka sebaiknya kakak membunuhku! Lightning arrow!" Anak panah siap melesat. Membelah lawan di depan yang menggunakan jurus serupa, duplikatnya. Detik ke tiga mereka sama-sama melepaskan. Saling beradu kekuatan demi sebuah keegoisan.
PYARRR!
Panah itu sama-sama menghilang. Mereka seimbang.
"Cih. Water spear!" Lima pilar air sempurna mengepung Jellal. Hanya berjarak sejengkal dari jari kaki. Celah kabur tertutup. Tinggal menunggu dimantrai sebelum menyerang bersamaan.
"Bahana gelegar halilintar : Lightning spear." Kebalikan jurus itu. Petir menyambar-nyambar di ujung awan. Mengurung Mystogan dengan lima pilar serupa. Berkekuatan seribu volt. Jellal menurunkan tangan lurus, aba-aba diluncurkan.
Brzzz… brzzz….
"Ba-barrier!" Dia punya lima detik, sedangkan awan masih mengumpulkan petir di penghujung. Jurus itu bukan tingkat tinggi. Malahan terlalu lemah untuk disebut pertahanan. Tingkat nol.
"Sekarang." Terlambat. Mystogan tertipu oleh gesture.
DEGARRR!
"GAHHH!"
BRUKK!
"Hoi, hoi. Kakak-adik bertengkar? Musuh kalian akan tertawa, lho, kalau mengetahuinya." Erza muncul lewat lacrima. Pertama kali menertawai 'tingkah lucu' mereka. Jellal menghampiri sang adik. Menjambak surai biru laut itu kasar. Menatap kosong.
"Ini dinamakan bunuh diri bersama. Kita saling membagi rasa sakitnya, tidak kurang maupun lebih. Aku bisa mati karena kebodohanmu."
"Arrghhh… sa-sakit…." Air mata itu ditolak mentah-mentah. Jellal menabrakkan kening mereka. Menyuruh Mystogan tidak menangis dengan cara sadis. Dia tak boleh lemah di hadapan musuh.
"Membunuhmu semudah mematahkan lidi bagiku. Sihir unlimited dan lima elemen. Kau tahu mana yang terkuat. Aku bisa menduplikasi seluruh jurusmu sekali lihat."
"Hahaha…. Jarang-jarang ada orang senekatmu yang terang-terangan menantang Jellal. Kalian berhasil menghiburku."
"Jangan pengecut. Kalau mau kita bunuh diri sama-sama setelah pertandingan usai. Bagaimana? Inikan yang kau harapkan?" Daun telinganya serasa ditusuk ribuan jarum. Mystogan terisak-isak menahan tangis. Benar-benar mengerikan!
"Cepat hadapi musuh di depan!"
DUAKKK!
Kaki telanjang itu menendang Mystogan sampai terpental. Bermeter-meter jauhnya menimbulkan suara gedebak-gedebuk. Ia sendiri kembali melawan arah. Jalan baru terbuka di barat laut. Musuh telah ditemukan dalam radius seratus meter. Giliran kabut melingkupi. Menyamarkan sepasang maple yang memandang sekitar lamat-lamat, heran. Kutukannya tak bekerja sebagai mesti. Isi kepala kosong digantikan serangkai roll memori.
Mystogan berteriak kesakitan. Hatinya sesak dan perih.
"Adik yang ditinggalkan kakaknya. Kasihan sekali." Darimana suara itu? Matanya mengitari sekeliling. Masih tersaput kabut yang kian menebal. Menyusahkan saja.
"Siapa di sana?"
"Bahkan suaramu lemah. Lupa caranya berteriak? Biar kuajari, adik Jellal Fernandes."
Puluhan pisau terbang di udara. Menari liar menebas tubuh Mystogan yang terkapar, tanpa sedikit pun perlawanan berarti. Diiringi teriakan setiap ujungnya menyayat kulit. Darah bercucuran melalui pori-pori. Sambil meringis kesakitan ia mencengkram lengan atas, mengukir tiga goresan tipis juga di bagian perut, kaki dan wajah. Itu memilukan, terasa perih menusuk walau termasuk ringan.
"Lemah. Aku tidak yakin kau adik Jellal." Nadanya terdengar meremehkan, diikuti cekikik kuntilanak yang memekik telinga. Mystogan masih bersimpuh. Belum mengubah posisi.
"A… aku memang adiknya…."
"Anak yang tidak pernah diinginkan. Aku mengerti maksud pernyataan itu."
"Lagi pula kau tahu apa tentang kami?! Kalau pun benar lalu kenapa? Hanya kakak yang berhak memutuskannya."
"Jawaban pertama, aku tahu segala-galanya. Mereka memanggilku yang dianugerahi Tuhan. Kedua, kau tidak pantas hidup. Lebih baik mati daripada menanggung malu."
"Tetapi…. Maukah kau mengenangnya sedikit untukku?"
PLETAK!
"G-gas… tidur….?"
"Bertarunglah dengan masa lalumu. Wahai yang tidak pernah diinginkan."
Flashback….
Gambaran dirinya empat tahun lalu. Seorang anak kecil yang beranjak remaja. Menginjak bangku pendidikan kelas empat Sekolah Dasar. Namun langit tak pernah adil. Mystogan harus kehilangan banyak hal karena garis takdir. Saat kutukannya memberontak bangkit. Tiada lagi jalan untuk mundur atau menyesal, semua tertutup rapat.
Rumor mengenai ras terkutuk mulai tiba ke Ibukota. Perlahan-lahan mereka menjauh. Mengucilkan total dari pergaulan atau kau dibunuh, begitulah anak-anak nakal menakuti. Kehidupan Mystogan berubah drastis. Setiap hari diisi cacian. Penghinaan. Kekerasan. Apalagi Ayahnya, Siegrain Fernandes memberitau, 'dia punya seorang kakak bernama Jellal Fernandes.' Entah berada di mana atau seperti apa. Sulit dibayangkan.
"Ayah. Kapan kakak balik? Sebenarnya dia di mana?" Penuh antusias Mystogan kecil bertanya. Ketika mereka bersantai di teras rumah, menikmati matahari siang ditemani segelas teh oolong.
"Siapa tahu? Kau tidak mau memberi kejutan?"
"Caranya? Aku ingin menggambar wajah kakak dan menuliskan selamat datang, tetapi tidak ada foto. Bernyanyi pun suaraku jelek."
"Buatlah sesuatu yang berkesan, seperti belajar cara membunuh lalu katakan, 'akulah malaikat kematianmu, Kakak." Jemari mungilnya terlepas dari pegangan rotan. Terkesiap mendengar ucapan sang ayah dengan seringai tipis. Atmosfer mendadak tegang.
"I-ini bohong, kan? Ayah jangan bercanda!"
"Terimalah takdirmu sebagai ras terkutuk. Paham?"
"Sampai kapan pun tidak akan pernah! Aku murid SD bukan pembunuh!"
Menerima kenyataan menjadi amat menyulitkan. Seharian Mystogan memikirkannya. Meringkuk di pojok kamar tanpa berani keluar. Lebih-lebih menatap langsung wajah Ayah. Benar-benar berubah 180 derajat. Dia menceritakan perintah luar biasa itu pada seseorang. Siswa perempuan yang terkenal beringas di sekolah, Erza Knightwalker. Dapat juga dibilang satu-satunya teman yang tersisa, tidak berkhianat.
"Hah? Ayahmu berotak miring atau bagaimana? Aku bingung."
"Tidak baik berkata seperti itu. Aku mati kutu di hadapan ayah. Ji-jika dia serius…."
"Bertindaklah seperti laki-laki! Membunuh sama saja melupakan derajat sebagai manusia. Camkan baik-baik! Aku tidak akan memaafkanmu kalau dilanggar!" Ya, dia pintar melebihi anak seusianya. Sekaligus tumbuh cepat menjadi remaja tanggung.
"Erza…. Uhm! Terima kasih atas nasihatmu."
Hari itu semua berubah. Kedamaiannya direnggut dalam sekali tarik, oleh sekelompok preman di sebuah gang sempit. Mystogan tak berkutik sedikit pun. Hidup-hidup menyaksikan Erza dihajar, bahkan ditikam menggunakan pisau, berkali-kali. Belum cukup disiksa, setelah meninggal pun ia diperkosa. Menyisakan tubuh malang yang terbelah beberapa bagian. Telanjang bulat kedinginan di tumpukan salju. Tak diketahui siapa pun selain mereka.
"Kenapa…. Kenapa kalian tega melakukannya?!"
"Kami diperintah Jellal Fernandes. Entahlah siapa. Dengar-dengar hanya bocah ingusan berusia sepuluh tahun." Gila. Mustahil! Mystogan tahu dia, kakaknya sendiri! Tapi bagaimana bisa mereka seumuran?
"Bocah. Kami akan melepasmu jika tidak melapor. Katakan ya atau nyawamu melayang!"
"I-iya… hiks… hiks…."
Kelemahannya membuatnya menyesal. Mystogan pulang dengan wajah kuyu. Mengabaikan Ayah yang asyik membaca koran di ruang tamu. Sekilas pun Siegrain tahu akan terjadi apa. Cepat atau lambat anak itu pasti menghampiri. Meminta sesuatu yang selalu dia harapkan: belajar membunuh.
"Ajari aku caranya membunuh! Kematian Erza pasti kubalaskan!" Apa peduli dengan janji itu? Mystogan kalap kehilangan akal sehat.
"Tentu. Kita mulai sekarang juga, Mystogan. Ah sebelumnya, ayah ingin memperkenalkanmu dengan seseorang." Mereka memang kakak-adik yang terikat takdir. Seorang lelaki seusianya muncul di depan pintu. Menyapa dingin.
"Halo."
"Perkenalkan. Dialah kakakmu Jellal Fernandes." Lagi dan lagi Tuhan memberi kejutan. Mystogan mundur tiga langkah. Tidak mempercayai pantulan wajah yang mirip persis dengannya: kembar.
"Bagaimana bisa…. ORANG YANG MEMBUNUH TEMANKU ADALAH KAKAKKU SENDIRI?!"
"Sepertinya kau salah, Dek." Pembelaan itu ditolak mentah-mentah. Siegrain menonton pertengkaran mereka. Sesekali tertawa kecil melihat Mystogan marah-marah sendiri.
"Salah! Ini… salah…."
"Terimalah kenyataan. Sekarang kalian bermaaf-maafan. Sesama saudara harus akur."
Untuk pertama kalinya, Mystogan merasakan apa itu dengki.
Dua tahun bagai peluru melesat, sama sekali tidak terasa. Perlahan-lahan Mystogan lupa dendamnya. Memilih berdamai dengan dengki yang selama ini menguasai penuh. Dan bencana itu tiba sesuai prediksi masa depan. Anggota pemerintah menggeledah setiap rumah di kompleks. Mencari ras terkutuk yang dikabarkan masih hidup.
Layla bersama Jude nyaris membawa Mystogan. Di tengah hujan badai. Gelegar petir menerangi sesaat, terlihat Jellal menggenggam pisau daging, meluncur mulus ke perut wanita itu, yakni ibu Lucy. Giliran sang ayah menjemput ajal. Ikut terkapar setelah ditusuk tepat mengenai nyawa melayang. Ibu mereka dan dua anggota pemerintah. Pembunuhan tersebut menjalar bak minyak dibakar api. Semua heboh membicarakan. Media massa. Televisi swasta. Orang-orang. Para pekerja.
Tak sampai di situ. Tiga hari kemudian Erza membawa Jellal dengan ancaman, "jika menolak Mystogan yang akan dibawa". Penyesalan kembali menghampiri. Ia pernah membenci kakak, pahlawannya sendiri. Bagaimana bisa?
Pada suatu kesempatan Siegrain memberitau. Ketika mereka berlatih di pojok ruangan yang gelap gulita. Mystogan babak belur dengan keadaan sekarat. Lucu dia tak mati-mati tanpa alasan jelas. Padahal sering bulak-balik masuk rumah sakit. Walau dokter mendiagnosis, "umurnya tinggal sebulan."
"Masalah ini penting. Umurmu dua belas tahun dan banyak berkembang. Sudah saatnya rahasia itu dibongkar."
"Ra-rahasia apa?"
"Sayang. Kau adalah anak yang tidak pernah kuinginkan." Petir menggelegar dahsyat dalam dada. Berkecamuk berbagai perasaan sulit dijelaskan dengan kata-kata. Mystogan tersenyum getir. Air matanya nyaris jatuh.
"Maksud ayah apa? A-aku bukan anakmu?"
"Hmmm…. Kau tetap anak kandungku, tapi, ya, tidak pernah kuinginkan. Ibumu melahirkan saudara kembar. Jika mereka ras terkutuk maka salah seorangnya membawa yang 'lain'."
"Rumor tentang kakakmu sudah terdengar, bukan? Dia beringas. Keji. Itu karena kau membawa yang lain, emosinya sebagai manusia. Kalau kalian tidak kembar. Maka Mystogan Fernandes mustahil lahir ke dunia. Aku hanya menginginkan Jellal. Pewaris pekerjaanku."
"Mu… musta… hil…."
"Terimalah kenyataan. Suatu hari nanti hanya ada satu yang bisa bertahan hidup, dan dia adalah kakakmu, keturunan Fernandes sesungguhnya. Kau tak lebih dari pantulan cermin. Dasar palsu!"
End flashback….
"Ha… hahahaha…. Aku ditipu mati-matian. Ayah yang membayar preman itu, tetapi melimpahkan kesalahannya pada kakak. Si-sialan." Mengeruk lantai dengan tangannya. Mystogan menahan kesal teramat sangat. Dia hanya dipermainkan.
"Termakan ucapannya kau bergabung dengan pemerintah. Namun tetap saja gagal. Malah ikutan berkhianat. Perasaanmu lembut sekali, ya? Pantas Siegrain menjulukimu begitu. Dia tak butuh anak yang lemah."
"DIAM! Benar. Semua yang kau katakan tepat. Sebaiknya aku mati saja…."
"Baiklah. Dengan senang hati akan kukabulkan permintaanmu."
Satu tusukan mengakhiri acara mengenang tersebut . Mystogan meninggal dalam tenang. Perasaan terakhirnya sempurna tiba pada Jellal, yang kini bergabung bersama Lucy menuju barat daya. Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Mengenaskannya anak itu mati tanpa melakukan perlawanan. Pasrah terbunuh dengan mempertahankan janji mereka, ketika Erza Knightwalker masih hidup empat tahun lalu.
"Bohong! Katakan dia belum mati, Jellal."
"Untuk apa, Lucy? Karena itulah Mystogan adik yang baik. Empat tahun bertahan. Perasaannya membuat dia tumbuh menjadi orang baik. Aku kalah dalam hal itu. Lagi pula…."
"Kalian bisa melihat pelangi bersama-sama. Jangan takut."
"Di surga maksudmu?"
"Entahlah. Asal percaya pasti bisa. Ayo pergi."
Membawa harapan yang tertinggal. Jellal dan Lucy terus melangkah maju.
Bersambung….
Balasan review :
Fic of Delusion : Daripada jadi tawuran mending survival game, hahaha. Meredy mah cuma karakter sampingan. Mati juga bodo amat dah. Thx ya udah review.
