ECLIPSE!

Tapi aku benci karena disini Edward tersakiti. (ambil tisu)

Saat pertama kali baca novelnya, aku harus berhenti baca dulu untuk mengambil nafas dan menenangkan diri. Aku bisa merasakan betapa sakitnya hati Edward. hikz hikz

Tapi diakhir cukup menyenangkan karena mereka AKHIRNYA bertunangan! (grinning)

Okay cukup, cukup. Happy watching Eclipse and see you at the bottom..

Enjoy!


THE PLAN

Bella PoV

Saat semua hal yang kau yakini ada di depan mata, semuanya seolah nyata. Tapi kenyataannya jauh lebih menyakitkan. Tidak ada hidup yang sempurna dan mudah, begitu pula hidupku.

"Bella! Aku memanggilmu berkali-kali. Alec tadi telfon, Ia bilang akan lenih lama disana." Aunt Athen pasti melihat ekspresiku karena dia berhenti bicara. "Bella, kau baik-baik saja?"

"Yeah." Jawaku singkat.

Aunt Athen duduk disampingku. "Sayang, kau tahu kan kau bisa cerita apapun padaku?"

"Tentu." Aku benar-benar ingin menceritakannya, tapi aku tidak bisa. Dan sepertinya Aunt Athen mengerti apa yang aku inginkan.

"Baiklah, kalau kau mau bicara aku ada dibawah." Aku mengangguk. Aunt menciumku dan keluar dari kamarku.

Kami memutuskan untuk segera memberitahu Jane tentang Edward. Aku tahu ini pasti berat, tapi aku juga tidak bisa diam saja.

Bunyi dering telfon memutus pikiranku. Edward. "Hello?"

"Hai, Bells. Kau sudah dengar kabar dari Jane dan Alec?" Tanyanya.

"Yeah, Aunt Athen baru memberitahuku kalau mereka masih akan disana sedikit lebih lama dari rencana semula."

"Oh, baguslah. Dan ini memberi kita waktu untuk merencanakan bagaimana kita akan memberitahu mereka."

"Kau benar. Jadi…kapan kita akan merencanakannya?"

"Kurasa…lebih cepat lebih baik, bukankah begitu?"

"Yap."

"Bagaimana kalau kita besok bertemu? Apa kau bisa keluar?"

"Umm, sebentar aku liat jadwalku dulu," Candaku. "tentu saja aku bisa, Edward." Kuputar bola mataku. "Aku kan tidak ada kerjaan."

"Kau sudah selesai memutar bola matamu?" Tanya Edward.

"Right." Dia terlalu tau aku.

"Sorry, aku tidak bisa mencegah diriku sendiri."

"Mmhmm."

Aku dengar Edward tertawa. "Okay, besok kau aku jemput saat makan siang. Setelah itu aku tidak ada acara jadi kita bisa lebih lama bersama."

"Umm, lebih baik kita bertemu disana saja. Aku tidak mau Aunt Athen curiga. Tadi dia sudah sedikit menduga ada yang tidak beres."

Edward menghela nafas. "Baiklah. Kita bertemu di The Dinner."

"Okay."

"Sekarang, tidurlah. Sudah larut. Aku berharap aku ada disitu agar aku bisa mengucapkan selamat malam dengan cara yang benar."

"Memangnya cara yang benar itu seperti apa?"

"Kau tau…" Suaranya menggoda. "Memelukmu kemudian mencium keningmu, mengucapkan selamat malam. Kalau aku beruntung aku akan mendapatkan ciuman…"

"Maumu!" Kami sama-sama tertawa.

"Hey, laki-laki tetap bisa bermimpi kan?"

"Yeah, yeah, terserah kau saja."

"Right. Goodnight, love. Sweet dream. I love you."

"Kau juga. I love you, too."

~oOo~

"Bella!" Kudengar sseseorang memanggilku. Kuedarkan pandanganku didalam restoran sampai aku menemukan sumber suara itu.

"Hai." Sapaku sambil menghampirinya. Edward berdiri untuk memelukku lalu membantuku duduk di depanya. "Maaf aku terlambat."

"Tidak apa-apa. Aku sudah memesankanmu burrito, apa kau tidak keberatan? Kalau kau tidak suka kau bisa memesan yang lain."

"Tidak apa-apa, Edward."

"Jadi…apa kau sudah punya ide?" Tanyaku setelah makan siangku habis.

"Umm…aku pikir aku harus mengataknnya pada Jane sendiri. Baru setelah itu kita bicara dengannya berdua." Kata Edward, ada nada keraguan di dalamnya.

"Apa kau yakin? Maksudku, aku tau ini pasti akan berat bagi Jane, tapi…"

Edward menggenggam tanganku yang ada di atas meja. "Bella," Ku tatap mata hijaunya. "serahkan yang satu ini padaku?"

Aku mengangguk. "Baiklah kalau itu maumu. Tapi kau harus berjanji satu hal padaku." Kataku sambil menggenggam tangannya yang menggenggam tanganku.

"Apapun."

"Kau harus langsung memberitahuku begitu kalian selesai bicara. Apapun hasilnya, kau harus langsung memberitahuku?"

"Aku berjanji." Diremasnya dengan lembut tanganku yang ada di genggamannya.

"Tapi sebelum itu…ada yang harus kita lakukan terlebih dahulu."

Edward memandangku dengan cemas. "Haruskah aku khawatir?"

"Tidak juga. Tapi tergantung bagaimana kau melihatnya?" Edward menatapku dengan pandangan bertanya. "Umm," Kenapa aku jadi gugup seperti ini? "kita harus memberitahu keluargamu terlebih dahulu."

Edward menghela nafas lega. "Aku sudah khawatir kalau kau minta kita untuk kabur saja." Godanya. Kuputar bola mataku. "Aku setuju sekali. Dan lebih baik minggu ini kita pulang."

Pulang.

Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku mendengar kata itu. Edward mengerti itu.

"Tapi jangan beritahu mereka kalau kita akan datang." Aku masih tersenyum.

"Semacam kejutan?" Aku mengangguk. "Untuk ukuran orang yang tidak suka kejutan sepertinya kau bersemangat sekali."

"Ini kan bukan kejutan untukku, Edward, jadi beda."

"Tapi masih sama-sama kejutan."

"Shut up!" Kataku. Dan kamipun tertawa lagi.

"Kau ingin pergi kemana lagi hari ini?" Kuanggat bahuku. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan di mall?"

"What?"

"Apa?" Tanya Edward dengan nada bingung.

"Sebenarnya yang perempuan itu kau apa aku? Tunggu, jangan dijawab! Mengingat siapa adikmu, itu tidaklah aneh."

"Hei, aku bukan Alice yang gila shoping!" Belanya. "Aku hanya menyarankan saja."

"Yeah, yeah."

"Bella." Edward memperingatkan. Aku hanya tersenyum.

Setelah Edward membayar makan kami, kami langsung berjalan menuju mobilnya. Seperti biasa, Edward membukakan pintu mobil untukku lalu mengecup keningku. Aku tersenyum sebagai ucapan terima kasih dan masuk kedalam mobil.

"Boleh aku memutar musik?" Tanyaku.

"Tentu, Bella."

Kutekan tobol yang ada di depanku dan Claire De Lune pun mulai mengalun di dalam mobil.

"Kau masih mendengarkannya." Ucapku. Lalu Edward meraih tanganku dan membawanya keatas dadanya sebelum mencium punggung tanganku.

"Otakku mungkin bisa lupa sejenak, tapi aku tetap Edward." Aku tersenyum mendengar jawabannya. Kucium pipinya lalu kembali duduk dikursi penumpang.

Setelah itu kami sama-sama terdiam. Lagu ini selalu bisa membuat kami tenang dan melupakan masalah. Meski hanya sejenak.

Sesampainya di Mall Edward tidak pernah melepaskan genggaman tangannya. Kadang Ia memeluk pinggangku dan menarikku lebih dekat padanya. Aku sama sekali tidak keberatan. Aku juga merindukan ini. Hanya saja ini ditempat umum dan…aku takut ada seseorang yang mengenali Edward sebagai Tony.

~oOo~

"Hai, Bells. Aku sudah membeli tiket untuk besok." Suara Edward terdengar sangat bersemangat dari ujung telefon.

"Edward, aku bisa membeli tiket sendiri." Protesku.

"Aku tahu. Dan bisa kulihat kau masih keras kepala seperti dulu. Jadi keputusanku untuk membelinya terlebih dahulu tanpa bilang padamu."

Kuputar bola mataku. "Baik aku tidak akan mepermasalahkannya."

"Good." Bisa kudengar senyum dalam suaranya. "Jadi, sudah dapat alasan untuk pergi ke Seattle?"

"Yup." Katakau sedikit lebih bersemangat.

"Oh, benarkah? Boleh aku tau apa itu?"

"Tidak terlalu sulit. Aku akan bilang terus terang pada aunt Athe daan Uncle Caius kalau aku ingin berkunjung ke Seattle. Tapi aku ingin membuat kejutan untuk mereka jadi aku minta supaya hal ini dirahasiakan. Bahkan dari Alec. Tidak apa-apa, kan?"

"Tidak apa-apa. Memang lebih baik seperti itu. Kau besok mau aku jemput?" tanyanya.

"Oh. Aunt Athen bersikeras untuk mengantarku ke bandara jadi lebih baik kau jangan sampai terlihat."

"Maksudmu, aku harus meminjam Jubah Gaib Harry Potter?" Ledeknya.

"Edward!" Edward tertawa kencang.

"Maaf." Tapi dari nada suaranya tidak terdengar adanya penyesalan. "Kalau begitu sampai besok di bandara."

"Okay. I love you."

"I love you, too."


Are you happy, guys? I am!

Well, some thought?

Next chapter will be…with The Cullens. Finally!

Love,

B