Rina: *nangis bahagia* Akhir na dewi ide memberi Rina ide untuk ini… hwaaa!

Mel: *lemparin sapu tangan ke Rina* Udah diem ja lu!

Rina: Ah, iya, bener juga *pake sapu tangan* omong2 karena Rina sudah males memperpanjang ini, Rina to the point ja. Chapter depan Castle Arc berakhir dan Final Arc akan dimulai.

Mel: Yah, terserah. Yg penting sekarang aku harus baca disclaimer bukan?

Disclaimer: Vocaloid tidak punya Rina.

Rina: Thanks. Baiklah, Rina males banget ngomong banyak2 jadi mohon kritik, review, flame, dan silahkan nikmati chapter ini! Lalu… GOMENNE MINNA AKAN HIATUS CERITA INI YANG LAMA SEKALI!


Haku POV


Aku segera berlari menuju ke arah Ruko-san tunjukkan. Aku memang tidak terlalu suka dengan Ruko-san karena dia memiliki sifat yang terlalu suka bermain-main dengan urusan orang. Mungkin sifat itu menurun dari Mel-san yang menjadi gurunya, karena Ruko-san adalah salah satu favoritnya.

Tapi, yang kupikirkan saat itu hanyalah Neru. Hari ini dia bersikap sangat aneh, dia tidak seperti Neru yang kukenal sama sekali. Neru tidak bisa memasak, Neru tidak berjalan dengan sopan seperti itu, dan terlebih lagi, Neru tidak akan pernah mengurai rambutnya.

Satu-satunya yang terpikirkan dalam pikiranku bahwa ini adalah perbuatan iseng satu orang saja. Satu orang yang bisa kupikirkan akan melakukan ini adalah Mel-san. Tapi, Mel-san tidak memiliki alasan lain untuk melakukan sihir se-iseng ini sendirian. Tidak, Mel-san tidak akan mau melakukan hal yang merepotkan Len-sama sama sekali, karena itu adalah sumpahnya. Jadi, pasti ada orang lain yang memintanya.

Aku jadi ingin menangis… karena aku tahu bahwa Neru yang mengawali hal ini.

Kenapa Neru melakukan hal yang seceroboh ini? Sementara Mel-san juga tidak menyembunyikan aura sihir yang dikeluarkannya sama sekali. Hanya butuh waktu saja hingga Len-sama menyadarinya. Apa Neru tidak apa-apa jika dia dikeluarkan dari tempat ini? Atau lebih buruk, dibunuh oleh Len-sama?

Aku mencintaimu Neru… kenapa kau tidak melihatku? Aku ingin menyelematkanmu dari semua ini…

Atau lebih baik aku membuatmu melihatku saja? Sudah tidak ada waktu bagiku untuk ragu-ragu dalam melangkah, atau aku akan kehilangan Neru untuk selamanya. Jika aku terlambat, maka semuanya akan hancur tanpa sisa.

"Tunggulah Neru-chan, aku pasti akan menyelamatkanmu,"


Normal POV


"Ah, akhirnya gadis itu menyadarinya juga," ujar seorang gadis dengan rambut hijau yang melihat ke arah cermin sambil memperhatikan apa yang dilihatnya baik-baik.

Saat itu, sesosok bayangan memeluknya dari belakang, pakaiannya hanya benar sebagian, lalu dia berkata, "Apa setidaknya kau memberi mereka hadiah?" ujar bayangan itu dengan suara yang dalam.

Gadis itu tampak berpikir sebentar, lalu dia menjawab, "Jika yang meminta adalah muridku yang manis, bagaimana aku bisa menolak?" ujarnya dengan tersenyum dan memutar jarinya di udara saat cahaya kecil mulai berkumpul pada telunjuknya.

"Kalau begitu bagaimana kalau kita berhubungan saja?" ujarnya dengan mempererat pelukannya pada gadis itu seakan tidak mau melepaskannya begitu saja.

"Sayangnya itu tidak bisa kululuskan. Kau sudah cukup mempermalukanku sekarang karena tindakan isengmu yang entah untuk yang keberapa kalinya," ujar gadis itu sambil membetulkan pakaiannya yang tidak terlalu rapi.

"Tapi aku mendengar apa yang keluar dari mulutmu tadi, guruku tercinta," ujarnya sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman pada punggung gadis itu.

Gadis itu memutar bola matanya, lalu dia menjawab, "Itu karena aku terbawa suasana sedikit. Itu juga sebagian besar adalah salahmu," ujarnya dengan nada yang santai seakan itu bukanlah hal yang besar untuk terlalu dipermasalahkan.

Laki-laki itu hanya mendengus kesal, lalu dia berkata dengan menahan rasa kesal yang dipendamnya itu, "Lalu apa rencanamu? Jika 'dia' menyadari kau terlibat, hukuman yang akan kau dapat tidak akan ringan," ujarnya masih dengan posisi seperti tadi.

"Mungkin 'dia' tidak akan membiarkanku lolos, tapi 'gadis itu' pasti akan memaafkan. Dia adalah gadis yang mewarisi kebaikan ibunya. Lagipula, ini juga akan jadi sedikit pelajaran bagi mereka," ujar gadis itu dengan tenang.

"Kau terlalu percaya diri, padahal nyawamu dipertaruhkan disini," ujar laki-laki itu sambil meninggalkan posisinya untuk ikut melihat apa yang dilihat gadis itu.

"Jangan dendam karena hal ini pernah kucoba denganmu juga ya," ujar gadis itu dengan menunjukkan apa yang dia lihat dengan santai seakan tidak ada hal yang pernah terjadi di antara mereka. Dan itu menyebabkan lelaki itu jengkel.

Tapi, perhatiannya teralih pada kaca yang kini merefleksikan suatu tempat lain yang bukan ruangan tempat mereka berada sekarang. Dia bisa memikirkan cara untuk membuat gadis itu benar-benar memperhatikannya lain kali karena dia memiliki pertunjukan yang jauh lebih menarik untuk dilihat.


Len mengunci dirinya sendiri di ruang belajar yang penuh dengan buku-buku sihir yang ditulis oleh Mel, gurunya sekaligus Servant miliknya. Dia menulis banyak sekali jurnal sihir yang cukup untuk memenuhi satu perpustakaan besar yang sangat besar. Mungkin itu buah hasil dari hidup bersama dengan sihir selama bertahun-tahun.

Len berjalan menyusuri satu persatu rak, mencari buku yang dia inginkan. Tentu dia tahu apa yang dia cari, dan dia merasakan bahwa sesuatu memang aneh, dan kini dia harus menemukan tulisan nenek sihir itu sebelum semuanya terlambat.

Len akhirnya menemukan rak buku super besar yang memiliki label, "Soul-Binding" atau bisa disebut dengan pengikatan nyawa. Dilihat buku itu satu persatu hingga menemukan buku yang paling tebal dan diikat dengan menggunakan tali khusus sehingga tidak ada yang bisa membuka. Len tersenyum licik, dia tahu tipe segel seperti ini bisa dia hancurkan, dan sepertinya yang membuat ini juga memberikan izin untuknya jika buku ini memang diperlukan.

Len menggigit jarinya sehingga sedikit darahnya mengalir. Diteteskannya darah yang berwarna merah itu ke sampul buku dan buku itu mulai bercahaya dengan warna merah lalu berubah menjadi hijau. Len menunggu sebentar dan setelah beberapa saat, cahaya itu memudar dan buku itu kehilangan segelnya.

Len membuka satu persatu halaman dari jurnal sihir itu dan membaca sedikit bagian dari jurnal sihir. Len mempelajari buku itu, karena dia memiliki kecurigaan bahwa nenek sihir itu sudah melakukan sesuatu dan berhubungan langsung dengan sihir yang sedang dia rasakan ini. Len tentu saja sadar akan hal itu, karena sihirnya benar-benar tidak disembunyikan.

Tapi, jurnal sihir itu memang menarik untuk dibaca. Len jarang mengunjungi perpustakaan jadinya tidak begitu tahu. Tapi, sekarang dia tahu. Nenek sihir itu sering menggunakan murid-muridnya dalam tes sihir baru, karena dia tahu bahwa mereka tidak akan bisa mati dengan mudah. Terutama sihir ini, yang kebetulan merupakan sihir yang sekarang sedang terjadi, benar-benar membutuhkan banyak kekuatan kehidupan. Sihir untuk "Mengubah Nyawa". Sebuah sihir untuk mengubah nyawa seseorang dengan sesuatu yang lain selain penghuni asli itu sendiri. Sihir ini membutuhkan waktu untuk menjadi paralel dan bisa dikembalikan dalam kurun waktu itu.

Tes dalam sihir yang dia baca antara lain, Ruko, Dell, dan juga Piko. Di beberapa halaman juga terdapat catatan kecil tentang hariannya. Ruko pernah ditukar nyawanya dengan kucing. Cerita tentang tes yang dialami Ruko benar-benar diberikan sentuhan pribadi yang sangat lucu. Nenek sihir itu benar-benar memiliki rasa humor yang tinggi. Seperti saat Ruko kucing mencoba untuk mencari ikan yang dia simpan entah dimana. Ruko berlarian di dalam rumah dengan menggunakan tangan dan kaki, layaknya seekor kucing. Sementara kucing yang sekarang diisi Ruko hanya duduk cemberut di sofa ruang tamu sambil mengeong, meski sepertinya dia ingin mengomel, bukan mengeong, tapi karena dia kucing, dia tidak bisa berbicara apapun.

Tes yang kedua adalah Dell dengan Piko. Dari tanggal tesnya, Len mengetahui bahwa hal itu terjadi setelah Piko bertemu dengan Lily dan mereka serius untuk melanjutkan hubungan mereka. Dalam catatan kecil Nenek Sihir itu, dia menuliskan.

Aku senang bahwa cinta mereka asli… andai saja aku bisa menemukan cinta seperti itu setelah kesedihanku kehilangan orang yang sangat kusayangi…

Len hanya membaca catatan itu dengan sedikit… kaget. Nenek sihir yang dia kenal selalu menganggap enteng yang namanya perasaan orang lain dan sangat suka menggunakan segala macam sumber daya yang ada, jika itu demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Tidak diketahuinya bahwa Nenek sihir itu lumayan… baik hati.

"Mungkin aku harus sering-sering membaca buku tulisannya," gumam Len sambil membuka halaman demi halaman selanjutnya.

Akhirnya Len menemukan halaman yang dia cari. Halaman dimana tertulis cara untuk membalik efek dari sihir itu.

Len membacanya dengan hati-hati, dan menemukan dahinya berkerut setelah membaca instruksi terperinci yang tertulis disana. Cara untuk mengembalikan nyawanya itu ada dua cara, yaitu dengan membunuh salah satu dari nyawa yang ditukar, dan itu tidaklah mungkin untuk dilakukan saat ini, karena Len sedang malas mencari pengganti Servant yang kemungkinan besar akan dia bunuh. Tapi, selain itu, dengan mengosongkan salah satu tubuh, maka nyawa lain bisa saja terhisap ke dalam tubuh yang kosong, sehingga kemungkinan berhasilnya sangatlah minim.

Yang kedua adalah dengan menggunakan sihir itu lagi untuk menukar nyawa masing-masing. Tapi, yang jadi masalah adalah pertukaran harus dilakukan secara bersamaan dengan membuat jalan untuk nyawa masing-masing kembali. Singkatnya, cara kedua tidak mungkin dilakukan sendirian saja.

"Aku tidak mungkin meminta bantuan dari Nenek Sihir itu, jadi yang tersisa hanyalah…" Len berpikir tentang siapa yang bisa membantunya. Yang terlintas di pikirannya saat itu adalah Haku. Len tahu Haku sangat perhatian akan Neru, jadi pastinya Haku sudah sadar bahwa Neru melakukan sesuatu.

Setelah Len memutuskan bahwa Haku bisa membantunya, Len segera menghubungi Haku.

'Haku… apa kau bisa mendengarku?' ujar Len di dalam pikirannya. Dia tahu bahwa Haku pasti bisa mendengar apa yang dia bicarakan.

[Dengan cukup jelas Len-sama… jadi anda sudah menyadarinya juga?] tak lama kemudian terdengar balasan dari Haku yang sekarang entah berada dimana.

'Benar. Kau tahu ini pekerjaan siapa bukan? Aku butuh bantuanmu untuk membalikkan efeknya dengan cara…' Len segera membalas dan menjelaskan cara yang dia temukan kepada Haku.

Haku diam saja di seberang sana dan hanya membalas dengan tanda mengerti. Lalu setelah Len selesai menjelaskan cara yang dia temukan, Haku segera menjawab, [Saya mengerti Len-sama. Lebih baik Len-sama segera menemukan Neru, karena sekarang saya sudah menemukan Rin-sama. Kumohon setelah ini jangan sakiti Neru,] ujar Haku dengan nada sedih.

Len terdiam mendengar perkataan Haku dan di dalam pikirannya, dia mengangguk memenuhi keinginan Haku. Len sudah tahu bahwa Haku menjatuhkan pilihannya kepada Neru, dan itu tidak bisa diubah seperti dia kepada Rin. Lagipula, dia sedang malas untuk mencari pelayan baru, seperti yang dia pikirkan sebelumnya. Diminta Haku hanya akan menambah alasannya untuk tidak melakukan apapun pada Neru yang memungkinkan dia mati.

Len segera beranjak pergi menuju ke kamar Rin, dimana di dalamnya pasti ada Neru yang menunggunya. Len melangkahkan kakinya dengan buru-buru karena waktunya tidak terlalu banyak. Jika terlambat sebentar saja, maka Rin tidak akan bisa kembali lagi.


Rin POV


Aku masih duduk di halaman belakang. Aku kini berpikir, apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tahu Len mencintaiku, tapi bagaimana Len bisa tahu bahwa aku dan Neru telah bertukar? Bagaimana cara memberitahunya? Terlebih lagi… apa yang harus kulakukan jika aku tidak bisa kembali ke tubuhku?

"Tapi… jika Len mengenalku… dia pasti tahu bukan?" gumamku sambil melihat entah kemana. Langit kastil ini tidak pernah berubah, hanya malam penuh bintang dan bulan tetap dalam fase purnama. Aku teringat bahwa aku menyukai malam hari karena bintang yang indah, tapi sekarang bintang-bintang itu seperti mengejekku.

"Neru-chan!" tiba-tiba aku mendengar suara seseorang dari belakangku.

Aku mengenali suara itu dan berbalik, dan aku melihat Haku yang berlari ke arahku dengan dada yang naik turun. Dia terlihat seperti berlari kemari dengan terburu-buru.

Aku membuka mulutku, tapi yang keluar dari mulutku berbeda dengan cara bicara Neru, dan merupakan cara bicara… miliku sendiri.

"Haku-san?" ujarku.

Buru-buru aku memegang leherku sendiri, mengecek apakah itu tadi benar suaraku. Nada suara yang keluar berbeda dengan suara Neru, dan itu merupakan suaraku sendiri. A-apa yang terjadi?

"Rin-sama? Apa yang terjadi? Bagaimana anda bisa berbicara dengan kekuatan anda sendiri?" ujar Haku yang melihatku dengan ekspresi kaget.

Haku… tahu… bahwa aku bertukar tempat dengan Akita…

"Aku… aku juga tidak tahu! Aku bahkan ingin tahu apa yang terjadi dengan diriku sendiri!" jawabku dengan setengah berteriak.

Haku terdiam mendengar teriakanku. Aku tidak sering berteriak, kecuali saat aku bersama dengan Miku dulu. Padahal aku tahu bahwa aku pergi kemari baru kurang lebih seminggu yang lalu. Tapi, dengan semua ini, bahkan sehari pun terasa sangat panjang.

Mungkin aku harus berhenti berteriak sekarang…

"Rin-sama, saya kemari atas inisiatif saya sendiri dan juga perintah dari Len-sama. Yaitu, untuk mengembalikan sesuatu menjadi sebagaimana seharusnya. Maaf, jika ada perlakuan yang anda rasa tidak baik," ujar Haku dengan wajah tenang dan datar.

Kini giliran aku yang bungkam. Apa… itu benar-benar akan terjadi? Aku akan kembali… pada tubuhku?


Len POV


Aku berlari menuju ke ruanganku dimana Neru berada. Aura sihir yang dipancarkan terasa semakin kuat. Seperti sesuatu berusaha untuk membuka jalan dengan paksa tanpa membuka pintu utamanya. Dari ciri-ciri sihirnya, ini merupakan milik Mel, tapi meski begitu, terasa juga aura sihir Neru. Aura sihir mereka sangat tebal dan tercampur baur.

Apa yang sebenarnya mereka rencanakan?

Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya dan mengerjakan apa yang sekarang ada di hadapanku. Aku tidak begitu memikirkan apakah Mel melakukan ini untuk memberiku jalan, atau dia hanya iseng, seperti biasa.

Aku membuka pintu ruanganku dan mendapati Neru sedang duduk di atas tempat tidur dengan memunggungiku. Aku bisa melihat tubuhnya berkilauan dengan warna emas, warna dari Neru. Neru berusaha untuk menghalau sihir Mel untuk mengganggu.

Aku melangkahkan kakiku masuk, sekaligus membatalkan sihir Neru. Hei, aku yang memiliki dia, jadi aku bisa melakukan apapun dengan mudah kepada mereka.

Sepertinya Neru menyadari bahwa seseorang telah memutuskan sihirnya secara paksa, dan dia segera berbalik. Aku hanya tersenyum kepadanya, sementara wajah Neru memucat. Dia segera mundur dariku, sementara aku berusaha untuk tidak membunuhnya.

"Neru, permainanmu sekarang sangatlah kelewatan," ujarku sambil memandanginya dengan tatapan termarah yang bisa kulakukan.

"Ti-tidak Len-sama. Aku… aku bukan Neru… aku… ah!" dia tampak berusaha untuk mengelak. Tapi sebenarnya dia menyadari bahwa cara bicaranya sudah seperti dirinya sendiri. Itu merupakan pertanda, bahwa sihirnya menjadi melemah, dan sekali dorongan saja, maka akan terjadi perubahan.

"Masih berusaha mengelak?" ujarku dengan mengayunkan tangan kananku di udara.

Dalam sekejap tangan dan kaki Neru terikat oleh duri dari bunga mawar, dengan mawar yang awalnya berwarna kuning, yang kemudian berubah menjadi kuning keemasan. Dia kemudan tertarik ke tempat tidur, sehingga dia kini tidak bisa bergerak.

Dia berteriak-teriak seperti kesakitan. Aku memang menarik kekuatan sihirnya pelan-pelan, dan itu merupakan sebab mawar yang melilitnya berwarna keemasan, warna dari sihirnya. Bagi para Servant, sihir itu sama seperti kekuatan hidup mereka. Jika diserap terlalu banyak mereka akan mati perlahan, jika diserap sebagian mereka akan kehilangan kekuatan meski hanya untuk sementara. Jika ingin tahu bagaimana rasanya kehilangan kekuatan hidupmu sedikit demi sedikit, bayangkan tubuhmu tertabrak truk besar dengan muatan berton-ton. Rasanya seperti itu.

Aku berhenti menghisap kekuatannya, cukup untuk kekuatan Neru menyembuhkan diri sendiri, dan juga cukup untuk membuatnya tidak bisa melakukan apapun untuk sementara waktu.

Dengan cepat aku bergerak ke samping Neru, lalu menggambarkan sebuah simbol sihir yang kulihat di buku dan melakukan ritual untuk mengembalikan Neru dan Rin ke posisi semula.

Neru yang matanya tertutup dan nafasnya memburu, berteriak kembali saat cahaya berwarna kuning terang menghantam dirinya. Aku menunggu cahaya itu meredup selama beberapa saat, hingga Neru akhirnya menutup mulutnya yang berisik itu.

Aku tidak tahu apa yang ada di dalam tubuh Rin sekarang ini. Namun, aku segera mengguncang-guncang pundak Rin dengan pelan. Lalu, aku melihat mulutnya bergerak dengan tanpa suara. Tapi, dari nafas yang keluar dari dalam sana, aku bisa mendengar sedikit suara yang terdengar seperti Rin. Sepertinya dia sedang bermimpi…

"Kumohon bukalah matamu…" ujarku. Sehingga aku tahu bahwa kau adalah Rin yang paling kusayangi.

Aku kemudian melihat alis Rin yang seakan berusaha untuk menutup matanya lebih kuat. Tapi, secara perlahan namun pasti, aku melihat warna mata Rin dari balik kelopak matanya. Mata Rin terbuka perlahan-lahan dengan sangat pelan, seperti seorang putri tidur yang baru saja terbangun.

"Rin…" aku memanggil namanya dengan perlahan, takut bahwa aku sedikit salah.

Dia melihat ke arahku, dan aku yakin 100% bahwa dia adalah Rin, karena dia bereaksi akan nama Rin yang merupakan panggilanku kepadanya. Rin sudah kembali…

Rin melihatku lalu matanya terbuka lebar-lebar dan mulutnya sedikit terbuka, seperti ingin mengatakan sesuatu. Tapi, sebelum Rin mengatakan sesuatu lebih lanjut, aku memeluknya dengan hati-hati. Aku tidak ingin kehilangan Rin lagi.

"Okaeri…"


Rin POV


Tapi, sebelum aku bertanya lebih lanjut tentang apa maksud dari Haku tentang apapun itu yang dia katakan. Haku menerjangku sehingga aku jatuh tersungkur di tanah. Aku yakin sikuku lecet karena aku terseok-seok di tanah dengan keras. Dan, hei, rasanya benar-benar sakit!

"A-"

Sebelum aku selesai berbicara, Haku sudah duduk di atas tubuhku yang tertelungkup dan menarik tanganku keluar. Oke, jadi Haku duduk di punggungku dengan tangannya yang merentangkan kedua tanganku keluar.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku merasakan nafas hangat di punggung leherku. Aku berusaha memalingkan kepalaku untuk melihat apa yang terjadi. Tapi, entah mengapa aku tidak bisa…

"Berhentilah bergerak sebentar Rin-sama. Saya tidak akan melakukan apapun yang mungkin membahayakan Rin-sama," ujar Haku yang berbisik di telingaku.

Aku merasa takut, namun mau tidak mau aku harus mempercayai perkataan Haku. Aku berhenti berusaha untuk bergerak dan menenangkan diriku sendiri. Aku tidak akan apa-apa… aku tidak akan apa-apa…

"Rin-sama, tutuplah mata anda… saya akan melakukan ritualnya, dan mengembalikan Neru…" ujar Haku dengan nada memberikan perintah.

Aku hanya menurutinya. Lagipula aku tidak tahu apapun yang sebenarnya terjadi. Aku hanya mengerti sedikit. Dan aku tidak berhak bertanya…

Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhku seperti melayang. Aku tidak bisa merasakan rasa sakit di sikuku lagi, maupun perasaan bahwa aku ditindih oleh Haku. Rasanya tubuhku terasa sangat ringan dan aku sedang melayang. Sama seperti saat Len menculikku malam itu.

Tiba-tiba aku teringat tentang hari itu. Langit malam yang membentang luas diatas Len. Wajahnya yang tenang dan serius. Angin malam yang dingin namun menyegarkan. Langit berbintang menjadi pemandangan indah, tidak seperti saat aku masih di istana. Aku ingin… kembali pada saat-saat itu.

"Kumohon bukalah matamu…" aku mendengar suara lembut yang memintaku untuk membuka mataku yang tertutup.

Apa aku bermimpi? Tapi, jika itu benar, maka aku harus… bangun bukan? Seperti kata orang ini. Tapi, suaranya… terdengar sangat familier di telingaku.

Perlahan-lahan kubuka mataku. Ku kedip-kedipkan mataku yang baru saja terbuka dan melihat ke sekeliling. Tempat ini kan…

Aku kemudian mendengar suara itu lagi. Suara yang menyebut namaku dengan lembut. Aku melihat ke arah orang itu dan tidak bisa berbohong untuk tidak tampak kaget.

Dia tersenyum kepadaku dengan lembut, dan perlahan dia memelukku sebelum membisikkan, "Okaeri…"


Rina: Oke, segini saja untuk update yang gak jelas ini... sebenarnya Rina mau drag ini jadi jauh lebih panjang, tapi karena kalau di drag bakal bikin cerita ini makin Hiatus, jadi na Rina urungin niat na Rina. Oh, buat yang nungguin kapan adegan lemon selanjutnya, kalau tidak salah akan ada di chapter depan.

Mel: Hei, bukankah lebih baik kau tidak ngomong macem-macem seperti itu?

Rina: Tidak apa-apa. Lagian ini sudah merupakan fanfic yang bagi Rina agak... bukannya membebani, tapi melanggar aturan.

Mel: Terserah lu dah, tapi entah dalam hal apa gue gak tahu. Cepet selesaiin aja deh perananku. Capek tahu!

Rina: Yah, mau gimana lagi. Ya sudah, mohon kritik, saran, dan Review~