Disclamire
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe

X-MEN : THE OMEGA

©LONGLIVE AUTHOR

chapter 21


Matahari sudah condong ke barat ketika mereka memulai penyerangan. Mereka tidak bisa merencanakan apapun jika Orochimaru masih berada disana, jadi saat itu juga mereka melakukan gencatan senjata dan hal itu sontak membuat para mutan yang berjaga di luar markas menjadi kalangkabut. Jumlah pasukan mereka memang besar. Namun tak ada satupun dari mereka yang berasal dari mutan kelas Alpha kecuali Orochimaru. Jadi bagi Kakashi hal ini sangat menguntungkan. Penyerangan pertama dilakukan dari udara. Sedangkan yang di darat masih menunggu kode dari Kakashi.

"Kenapa? Apa Orochimaru sama sekali tidak menyadari penyerangan ini?" tanya Kakashi bingung karena belum ada serangan balasan.

"Aku tidak tahu, tapi mungkin mereka merencanakan sesuatu. Jangan lupa kalau disana ada Kabuto, dan kudengar para mutan pelarian juga telah bergabung dengan Brotherhood. Selain itu, jika benar Sasuke bergabung dengan mereka kita harus lebih berhati-hati." Jelas Shikamaru.

"Ya, dan dia sudah mulai bergerak." Ujar Naruto memandang ke arah pintu masuk markas Akatsuki.

Sasuke muncul disana dan mulai memberikan intruksi pada mutan yang lain. Beberapa Helikopter dan pesawat tempur melayang tak jauh dari langit bendungan. Seorang pria tinggi besar mengubah tangannya menjadi baja dan mengangkat sebuah batu besar dari tepian, lalu ia lemparkan batu itu ke salah satu helikopter hingga helikopter itu terjatuh dan hancur berkeping-keping diikuti dengan ledakan keras.

Kemudian satu-persatu para Brotherhood keluar dari markas mereka dan jumlah mereka sangat banyak. Banyak sekali.

"Astaga—bagaimanapun pasukan militer kita tak sebanding dengan mereka." Ujar Kakashi terkesiap ketika melihat anggota Brotherhood yang sangat banyak. Mereka bermunculan layaknya kumpulan semut yang keluar dari sarangnya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Shikamaru.

"Kita harus turun, kalau tidak akan banyak yang gugur. Ujar Kakashi tajam. "Beritahu Yamato! Suruh dia membawa bala bantuan. Kita akan berada di garis depan."

Setelah di hubungi, tak lama kemudian bala bantuan datang. Mereka datang dengan Supersonic, pesawat paling cepat yang mereka rancang sendiri. Supersonic mendarat tak jauh dari markas Akatsuki dan mereka langsung di sambut oleh para Brotherhood yang menyerang mereka dengan membabi buta.

"Bersiaplah!" Teriak Yamato. Lalu ia dan para X Men keluar dari Supersonic. Baru saja Yamato melompat keluar dari pesawat seorang wanita yang penuh dengan tindikan menghujaninya dengan kristal-kristal tajam namun dengan mudah Yamato membuat sebuah dinding pelindung dari kayu yang sangat tebal. Disisi lain seorang pria dengan dua kepala menghadang Ino dan hendak menyerangnya dengan kukunya yang panjang. Namun sesosok mahluk tinggi besar dengan kulit setebal baja muncul dan menghalau kuku-kuku panjang si penyerang.

"Butuh bantuan?" tanya Sai yang muncul entah dari mana. Sosok itu adalah mahluk ilusi buatan Sai.

"Terima kasih." Balas Ino.

Tak jauh dari sana Rock Lee sedang kerepotan melawan beberapa mutan diantara mutan kerempeng dengan wujud menjijikan yang mempunya delapan tangan. Masing-masing tangannya mengeluarkan jaring laba-laba yang lengket. Tapi untunglah Rock Lee yang gesit mampu menghindar dengan mudah. Di meninju lawan-lawannya hingga terpental. Kecepatannya setara dengan mutan yang memiliki kemampuan teleportasi.

"Aku butuh bantuan disini!" Teriak Rock Lee yang sudah mulai kewalahan.

"Bertahanlah Lee! Kapten Yamato!" Teriak Neji.

Yamato menoleh dia mengangkat kedua tangannya. Seketika itu kayu-kayu panjang bak akar pohon yang tumbuh muncul begitu saja dari tanah dan menyingkirkan semua mutan yang menghadang mereka dengan sekali serang. Tanpa sadar mereka sudah berada tak jauh dari pintu masuk markas Akatsuki. Tak lama kemudian Kakashi, Shikamaru, Naruto, dan Sai bergabung dengan para X Men. Mereka kini berada di garis depan. Perlahan tapi pasti para penembak jitu dari pasukan militer pemerintah menyusul para X Men dan mereka mulai bersiap mengunci sasaran mereka masing-masing.

Sekarang mereka berhadapan langsung dengan Sasuke dan juga para Brotherhood yang lain.

"Sasuke..."gumam Naruto. Kedua mata mereka beradu pandang. Namun saling memancarkan hawa dingin yang sama.

"Sasuke andai kau tahu semuanya, andai kau tahu apa yang telah Sakura tanggung..."

"Hanya mereka? Apa mereka sedang bercanda?" Gadis muda berkacamata di belakang Sasuke berteriak begitu keras agar mereka semuanya bisa mendengarnya.

"Mereka tidak akan bis..."

"Hentikan Karin!" Bentak Sasuke. Bagaimanapun yang mereka hadapi adalah para mutan yang terpilih. Kabuto menyuruhnya untuk merahasiakan apa yang terjadi pada Orochimaru. Jika mereka tahu kalau kemapuan Telekinesinnya di ambil mereka semua akan kabur karena ketakutan.

"Dimana Orochimaru?" Tanya Kakashi. "Neji!"

Neji menyadari perintah Kakashi. Tak lama kemudian di sekitar mata indigonya muncul urat-urat halus dan Ia pun mulai mencari keberadaan Orochimaru di dalam markas. Pengelihatannya menembus dinding memasuki markas Brotherhood. Tak lama kemudian setelah pengelihatannya menyusuri lorong-lorong bawah tanah itu, ia menemukan Orochimaru berada di sebuah ruangan bersama seseorang disana. Dia adalah Kabuto. Kabuto sedang berusaha menyuntikkan beberapa obat-obatan kedalam tubuh Orchimaru.

"Bagaimana Neji?" tanya Kakashi. Urat-urat halus di sekitar mata Neji menghilang.

"Dia ada di dalam markas, namun sepertinya sesuatu telah terjadi padanya. Dia tampaknya tengah kesakitan, Kabuto sedang memberinya sesuatu. Tapi aku tidak tahu apa itu." Jawab Neji.

"Jadi begitu rupanya." Gumam Kakashi.

Sementara itu di lain kubu pasukan Brotherhood sudah tidak sabar untuk menyerang. Terlihat dari wajah sangar mereka yang sangat bergairah untuk menghadapi para X Men. Sepertinya sebagian besar dari mereka tidak mengetahui seberapa besar kemampuan para X Men, jadi kebanyakan dari mereka meremehkan kemampuan anak-anak asuhan Profesor Sarutobi.

"Sekarang apa yang akan kita lakukan Sasuke?" tanya seorang pria tinggi besar berambut pirang di sebelah Sasuke.

"Suruh mereka menyerang, Juugo. Ulur waktu mereka selama mungkin." Bisik Sasuke. Pria yang di panggil Juugo itu mengangguk. Juugo maju beberapa langkah kemudian ia mengangkat tangannya memberi isyarat pada seluruh pasukan untuk menyerang.

"SERANGG!"

Para Brotherhood berhamburan menuju barikade yang di buat oleh para X Men. Sedangkan Sasuke Juugo, Karin, dan Suigetsu sama sekali tak bergerak dari tempat mereka.

Malam hampir tiba, namun langit sudah lebih dulu kehilangan cahayanya. Seakan langitpun ingin menonton peperangan ini. Barisan barikade paling depan adalah para X Men dan juga para relawan yang bersedia membantu mereka. Lalu di belakangnya ada barisan para tentara yang sudah dengan segala perlengkapan senjatanya. Di atas mereka beberapa Helikopter dan pesawat tempur berterbangan, disana juga sudah ada regu penembak yang sudah mengunci sasaran mereka. Lalu jika dilihat dari arah barat ada sebuah pos kecil yang jauh dari medan pertempuran tepatnya di sebelah selatan bendugan. Pos itu di jaga ketat di sekelilingnya, dan untuk berjaga-jaga Tenten ada disana untuk melindungi mereka. Mereka adalah tim penghubung antara medan pertempuran dan markas pusat pemerintah yang berada di Sunagakure. Gaara sebagai perwakilan mutan berada bersama Presiden disana untuk menjaga dan juga mengawasi keputusan presiden.

'Kolonel Tuan Presiden ingin berbicara dengan anda!' Panggil salah seorang tentara. Pria yang di panggil Kolonel itu mengambil teleponnya.

"Siap, Tuan Presiden." Katanya tegas.

"Bagaimana keadaan disana? Aku ingin kau menjelaskannya secara rinci padaku." Kata suara Presiden di seberang sana. Sang Kolonel berjalan cepat menuju jendela dan memperhatikan medan pertempuran.

"Jumlah Brotherhood sangat jauh dari perkiraan kita. Mereka sangat banyak. Sekarang kita sedang membuat barikade utuk melawan mereka. Para X Men berada di garis paling depan, bala bantuan baru saja datang dengan Supersonic."

"Bagaimana dengan Orochimaru?" tanya Presiden.

"Sampai saat ini kami belum melihat pergerakan dari Orchimaru." Jawab Kolonel.

"Baiklah, laporkan kejadian apapun padaku."

"Siap, Sir!"

Sementara itu di medan peperangan Sasuke, Karin, Juugo, dan Suigetsu masih belum bergerak dari pijakannya.

"Juugo, aku ingin kau melawan Kakashi Hatake. Kau adalah salah satu orang yang tak bisa di tiru olehnya karena kau adalah hasil dari percobaan dari Orochimaru. Berhati-hatilah dengannya." Bisik Sasuke pada Juugo. Pria tinggi besar itu mengangguk dan mulai menuruni lembah menuju medan pertempuran. Tanpa menunggu lama Ia langsung menghampiri Kakashi. Kakashi yang sedang menyerang dua orang sekaligus tidak sadar dengan kedatangan Juugo. Juugo mengepalkan tangannya dan menghadiahi Kakashi dengan sebuah tinju besar di kepalanya. Pria berambut perak itu terhuyung. Sebuah kilatan tajam dari mata sang Hatake terlihat begitu jelas ketika ia melihat siapa yang telah memukulnya. Tak lama kemudian setengah dari tubuh Juugo mulai menghitam dan tangan kanannya membesar. Juugo meninju tanah dan membuat sebuah retakan besar disana.

Mata kelabu Kakashi menyipit, ia sadar kalau dia tak akan bisa meniru Juugo. Kakashi membuka penutup mata kirinya dan ia melirik Yamato yang tengah melawan yang lainnya. Untuk sepersekian detik mata kirinya menyala lalu kemudian dengan sekali gerakan tangan sebuah batang kayu tebal muncul seperti sulur tanaman dari dalam tanah. Kayu itu melesat cepat dan mengarah langsung pada dadanya Juugo dan membuatnya terlempar sangat jauh.

Disisi lain Karin dan Suigetsu juga sudah mulai bergerak. Karin bergerak menghampiri Hinata yang sudah hampir kewalahan dan ia menendang kakinya sampai Hinata terjatuh. Dengan segera ia menindih tubuhnya agar Hinata tak bisa bergerak.

"Seharusnya Tuan putri seperti mu diam saja dirumah." Ejek Karin. Gadis berambut merah itu menaburkan pasir di beberapa luka yang ada di wajah Hinata sehingga membuat Hinata beteriak. Tangan Karin bergerak menyentuh kening Hinata dan kejadiannya seolah begitu cepat. Perlahan-lahan Hinata mulai kehilangan kesadarannya. Ya, Karin telah menyerap energi dari Hinata. Gadis itu berteriak kegirangan.

"HINATA!" Karin menoleh dan sebuah tendangan keras di wajahnya membuatnya terlempar dari tubuh Hinata.

"Hinata apa kau baik-baik saja?" tanya Rock Lee yang baru saja tiba. Perlahan Hinata mulai mendapatkan fokusnya kembali.

"Ya, aku tidak...LEE AWAS!" Hinata melempar tubuh Lee ke sebelahnya dan ia dengan cekatan Hinata berdiri menghadang Karin yang hampir saja menyerang Lee dari belakang. Di tangan kanan Karin terdapat sebuah cahaya berwarna keemasan, bukan api bukan juga gas. Dia mampu mengubah energi yang dia serap menjadi apapun dan bisa meledakkannya kapanpun. Karin menyeringai ketika melihat wajah Hinata dan Lee nampak ngeri. Namun ketika ia hendak berlari menyerang mereka berdua Neji muncul di belakang Karin. Ia mencengkram punggung kiri Karin dan darah keluar dengan tiba-tiba dari mulut perempuan itu. Seketika ia ambruk.

"Terima kasih Neji." Ujar Lee.


Namun suasana lain di markas Akatsuki. Tempat itu begitu tenang dan damai. Seolah penghuninya adalah sebuah keluarga harmonis yang tinggal di pinggiran kota. Mereka sedang melakukan aktifitasnya seperti biasa. Namun detak jarum pada jam seolah memompa semangat mereka yang semakin lama bisa meledak begitu saja. Semalam mereka sudah berkumpul membicarakan tentang apa yang akan terjadi hari ini dan apa yang akan mereka lakukan. Semuanya sudah sangat tidak sabar menunggu saatnya.

Pain, sang pemimpin Akatsuki itu tengah berdiri di balkon kesukaannya. Ia berdiri disana sambil menikmati pemandangan kota. Matanya berpendar keseluruh penjuru cakrawala. Sebuah senyuman yang sangat tipis tersirat di wajah manekin itu menandakan si empunya sedang merasa senang. Sesekali ia memejamkan matanya lalu menghirup napas dalam-dalam seolah ia baru saja terbangun di pagi hari yang cerah lalu menikmati pemandangan kota yang indah. Namun tidak, keadaannya berbanding terbalik dengan semua yang Pain rasakan. Udara di Konoha tidak lah sejuk seperti angin musim semi. Melainkan dingin, seolah sebentar lagi salju akan turun. Pemadangan di Konoha tidaklah indah, melainkan sekarang tempat itu seperti sebuah kota mati tanpa ada satu pun orang yang berjalan di jalanan. Bahkan burungpun enggan melintas di langit. Sangat menyedihkan. Namun bagi Pain ini adalah awal dari revolusi yang akan ia ciptakan. Awal dari sebuah impian. Awal dari sebuah perubahan.

Seorang wanita datang dan berdiri di belakangnya.

"Ah, Konan!" Pria itu terdadar. "Kemarilah, aku ingin berbagi kegembiraan ini dengan mu." Pain mengulurkan tangannya sambil tersenyum pada Konan. Sebuah pemandangan yang langka dari seorang Pain. Konan maju beberapa langkah dan mengsejajarkan diriya dengan Pain. Perempuan itu menyambut uluran tangannya. Merekapun memandangi 'keindahan' kota itu bersama.

Konan bisa melihat sebuah kepulan asap diujung cakrawala dan juga suara gaduh samar-samar yang mebelah langit. Mereka masih setia disana ketika langit mulai menggelap.

"Sebentar lagi Konan," katanya. " akan kutunjukan pada mereka apa itu keadilan, akan aku tunjukan bagaimana kita tumbuh di tengah-tengah 'keadilan' yang mereka buat. Akan ku ingatkan mereka rasa sakit yang mereka berikan pada kita. Bahkan anak yang paling suci pun akan tumbuh sebagaimana mereka belajar dari rasa sakit yang sesungguhnya."

Konan mengeratkan dekapannya pada tangan Pain dan saat itu juga dia tahu kalau dia tidak akan meninggakan Pain apapun yang terjadi.

"Ya, sebentar lagi." Ujarnya.

Sementara itu di ruangan lainnya di markas Akatsuki. Ketegangan sedang meliputi ruangan itu. Anggota perempuan lainnya tengah berdiri di depan cermin dengan pandangan yang menyedihkan. Ia sedang mengasihani dirinya sendiri.

Ceklek!

Seseorang masuk ke kamar itu dan sudah di pastikan kalau yang masuk adalah Itachi. Pria itu berdiri di belakang Sakura dan mengikutinya memandangi cermin.

"Apa kau sudah siap?" Tanya Itachi.

"Kau sendiri?" tanya Sakura.

"Aku sudah siap sejak aku bergabung dengan Akatsuki." Itachi tersenyum tulus. Sakura mendengus.

"Hentikan senyuman itu! Bahkan ketika di depanku pun kau tidak benar-benar melepas topengmu." Ujar Sakura kasar. Sedangkan Itachi masih tersenyum. Jauh di dalam hati Sakura ia ingin menangis dan meringkuk dalam-dalam. Namun entah kenapa rasanya air matanya sudah habis.

"Ini...—apa kita akan mati dalam beberapa jam?" tanya Sakura, tenggorokkannya terasa tercekat.

"Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi." Jawab Itachi enteng.

"Ini tidak benar," Sakura berbalik. " Ini tidak adil untukmu! Dengar, aku yakin kalau Sasuke akan..."

"Kau bertemu dengannya kan?" potong Itachi. Sakura mengangguk.

"Aku bertemu dengannya di markas Brotherhood."

"Kau sudah lihat kan seberapa gelap hatinya?" tanya Itachi. "Dia tidak akan percaya dengan semua yang kau atau aku katakan. Dia tidak akan mengerti!."

"Jadi kau pikir dengan mati di tangannya adalah jalan terbaik? Tapi apa yang kau lakukan di masa lalu itu benar. Yang kau lakukan itu adalah perbuatan yang mulia. Dia pasti akan mengerti." Jelas Sakura.

"Kau mungkin bisa mengerti tapi kau tidak tahu rasanya. Aku telah merenggut hidup Sasuke dalam waktu satu malam dan membuatnya menderita seumur hidupnya. Dia sangat membenciku." Kata Itachi.

"Kenapa kau tidak bilang pada seluruh dunia kalau kau tidak bersalah. Semua orang harus tahu. Tapi kenapa kau menyembunyikan semua kebenarannya dari seluruh dunia?" tanya Sakura tidak sabar.

Itachi menatapnya lembut seperti seorang kakak yang sedang mendengarkan keluh kesah adiknya. Pria itu maju dan menyentuh pundak Sakura.

"Kau adalah orang yang paling berani yang pernah ku temui. Kau juga sangat pintar. Kau rela berkorban untuk semuanya. Namun tetap saja ada beberapa hal yang tidak kau mengerti Sakura. Aku hidup lebih lama dari mu dan aku mengerti hal-hal yang tidak kau mengerti. Saat itu keadaannya sangat sulit. Alasanku mengorbankan diriku sendiri tak ada bedanya seperti kau mengorbankan dirimu sendiri. Kau hanya perlu mengerti Sakura." Jelas Itachi tenang.

Sakura terdiam tak bergerak tentu saja dia ingat, dia tahu karena Itachi sudah menceritakan semua kebenarannya padanya. Dia membantai seluruh keluarganya untuk menghindari perang antar mutan dan manusia kala itu. Untuk melindungi Presiden yang hendak dibunuh saat itu. Dia mengorbankan dirinya sendiri lalu bergabung dengan Akatsuki untuk menjadi agen ganda untuk memberikan informasi pada Profesor Sarutobi. Jika dia membeberkannya maka seluruh dunia akan tahu bahwa Dewan Perwakilan Mutan tak lebih dari sebuah organisasi kotor yang haus kekuasaan dan pemerintah akan mencabut hak-hak asasi mutan. Lalu mutan dan manusia akan kembali berperang. Apa bedanya dengan sekarang? Dia mengorbankan dirinya untuk melindungi...Sasuke. Sakura bertanya-tanya, lalu dimana akhir bahagia yang sering diceritakan orang-orang? Sakura bisa menahan penderitaan yang dia rasakan. Tapi dia tidak bisa melihat orang baik seperti Itachi berkorban seperti ini. Ia tidak mengerti. Ia memang tidak pernah bisa mengerti.

"Sakura...berjanjilah untuk tidak menghentikanku atau Sasuke jika memang sudah saatnya. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Jika aku hidup maka itulah takdirku, tapi jika aku mati. Aku akan membawa semua kebenarannya denganku." Ucap Itachi. Sakura memalingkan wajahnya. Ia tidak mau berjanji hal yang tak bisa ia lakukan. Ia tak mau.

"Sakura...berjanjilah!" Sakura masih tidak bergeming. Gadis itu melirik Itachi, setetes air mata yang ia kira sudah mengering itu jatuh. Permintaan Itachi begitu tulus hingga Sakura tidak bisa menolak. Akhirnya Sakurapun mengangguk. Dia mengabulkan permintaan seseorang yang memohon akan kematiannya. Sungguh miris.


A/N : Sebenernya saya sedikit bingung dengan apa yang harus saya tulis dan kedepannya jadi kayak gimana. Mungkin rekan-rekan ada saran? But, Hope you like it. Terima kasih buat semua reviewers. Keep fav, follow, and review :) salam Author