TWO SIDES
by Gyoulight
.
.
.
.
.
HUNHAN FANFICTION
GENRE: Drama, Romance
RATING: T
.
.
.
.
.
Baekhyun meraih lipatan jasnya. Memasukkan ponselnya ke saku, tak lupa menggapai kunci mobil di atas meja. Langkahnya lebih terburu-buru ketika ia memakai sepasang sepatunya. Dan saat ia membuka pintu apartemenya, ia kebetulan menemukan sosok menjulang tinggi dengan pakaian yang tak kalah rapi dari dirinya.
Baekhyun kemudian hanya bisa menutup pintu. Melupakan jam-jam yang terus berotasi memanggil namanya, bahkan alarm rapat yang sudah meledak di dalam kepalanya. Ia tidak mengatakan apapun ketika Chanyeol hanya berdiri disana. Sama-sama diam dalam untaian benang imajiner yang entah dimana ujungnya.
Chanyeol hendak berbicara, tapi Baekhyun lebih dulu melangkah pergi. Ia tidak punya waktu, lebih tepatnya kehabisan waktu karena sudah terlalu lama menunggu. Menunggu Chanyeol bicara padanya atau sekedar menjelaskan usahanya dalam memperbaiki hubungan rumit yang tiba-tiba saja menerpa. Tapi sepertinya, Chanyeol belum juga bisa membuatnya tertarik untuk bicara.
Chanyeol tidak mencegahnya pergi. Seperti seorang pembebas, dia selalu membiarkan langkah Baekhyun pergi kemanapun. Tidak mengekangnya kuat-kuat, tapi memenjarakan hatinya jauh ke dalam perasaan. Ia alih-alih bersuara, "Aku pergi hari ini."
Baekhyun seketika menghentikan langkahnya. Dirinya sendiri tahu benar kemana Chanyeol akan pergi kali ini. Ke suatu negeri yang jauh, belahan benua yang lain, yang berbeda waktu dengannya, berbeda malam dengannya dan yang lebih parahnya, akan berlangsung sangat lama tanpanya.
"Kau tidak ingin memelukku?"
Baekhyun tergugu dalam penyesalan yang dalam. Baru saja ia menggenggam Chanyeol kembali ke sisinya. Baru saja ia mendapati kekasihnya itu memeluknya dalam senang. Tapi ia menghancurkan hari terakhirnya, dimana seharusnya ia meladeni pria itu dalam memori yang begitu indah. Seperti kisah yang biasanya mereka sisipkan di sepanjang jalan.
Air matanya tanpa sadar sudah terjatuh di dekat kakinya. Tangannya yang mati rasa merapus air matanya sendiri. Hatinya tak kalah diluputi sesak yang membah. Seharusnya ia memeluk pria itu semalam. Mengahabiskan waktu dengannya seharian atau mengajaknya pergi ke tempat yang ia inginkan. Tapi bodohnya ia yang terlalu menuruti ego di dalam dirinya.
"Baekhyun, maafkan aku," lirihnya jauh di belakang sana. Tapi suara berat itu terdengar nanar di telinganya. Membuatnya berdiri semakin sesak. Bahkan ketika pintu lift di depannya itu terbuka, ia sama sekali tidak ingin melangkah masuk. Tidak bergerak sampai pintu itu menutup kembali.
"Aku pergi," ucapnya kemudian berbalik, menjejakkan langkah semakin jauh meninggalkannya.
Chanyeol mungkin akan menyerah. Tapi sekali lagi, Baekhyun tidak kunjung bergerak. Hatinya masih yakin kalau ia amat teramat mencintai sosok itu. Tidak akan pernah ingin dilepasnya pergi. Tidak akan, bahkan untuk yang kedua kalinya.
"Kau akan menungguku kan?!" tanya Baekhyun putus asa. Sedangkan air matanya sudah tumpah ruah, berusaha menemukan bayangan Chanyeol yang semakin menghilang. "Kau bilang kau tidak akan pernah meninggalkanku─"
Chanyeol berbalik mendengar semua perkataannya. Senyumnya mengembang dalam lirih tersumpal. Terlalu senang ia karena bisa mendengar kembali suara rindunya. Lantas ketika Chanyeol merapus air matanya yang mulai menggenang, saat itu pula Baekhyun berlari memeluknya. Mendekapnya dalam tangisan pecah yang tak pernah lagi bisa terbendung.
"Kau harus menelponku setiap hari," isak Baekhyun di dadanya. "Kau harus pulang sesekali. Kau harus selalu memberiku kabar. Kau harus ingat hari ulang tahunku yang berikutnya. Kau harus─"
"Aku akan ingat," seru Chanyeol membalas mendekapnya. Mencium puncak kepalanya dalam kerinduan yang sudah lama tertahan. "Aku akan ingat itu semua."
"Kau harus melamarku lagi saat kau pulang."
Chanyeol merapus air mata itu. Memuja bagaimana menggemaskannya Baekhyun saat menangis seperti ini. "Aku akan melakukannya. Aku janji."
"Maafkan aku," mohonnya. Matanya masih menyipit, menyembunyikan matanya yang memerah dengan sangat baik.
"Kita tidak boleh membahasnya lagi." Senyum Chanyeol mengembang. Kembali meraih Baekhyun ke dalam pelukan. "Kau akan terlambat."
"Aku akan mengantarmu pergi."
"Jangan. Kau bisa dipecat dengan tidak hormat," kikik Chanyeol geli. Ia lantas menangkup wajah kecil itu di tangannya. Menatap manik yang sembab, tapi teramat manis di mata Chanyeol. "Aku titip Sehun padamu."
Baekhyun mengangguk. Apapun tentu akan dilakukannya sebagaimana Chanyeol selalu mengabulkan apapun untuknya. "Aku akan sangat merindukanmu," tuturnya kemudian meraih Chanyeol mendekat padanya. Memberinya kecupan selamat jalan yang panjang sebelum keduanya terlambat.
e)(o
A month later
Pagi yang cerah mengantar para kepala memasuki ruang rapat. Berbondong-bondong memasuki pintu kemudian menemukan kursi yang sudah dilabeli nama masing-masing peserta rapat. Seorang pengacara perusahaan sudah duduk di barisan depan. Bersebelahan dengan kursi CEO, tapi akhirnya buru-buru naik ke meja acara. Baekhyun yang baru saja memasuki ruang rapat, hanya bisa membungkuk. Menemukan kursinya di sebelah Sehun, kemudian mendapatkan tatapan sinis dari atasannya itu.
Perwakilan WDC dan jajarannya sudah duduk manis di kursi. Menunggu rapat dimulai, alih-alih siap dengan semua keputusan. Atasannya, Kris, sudah memberitahunya untuk menerima hasil rapat. Tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan kerja sama yang sudah lama usang.
Seorang pengacara kemudian menjabarkan banyak kalimat pembuka. Menampilkan asas hukum, sampai mengeluarkan banyak aspek─seperti point kontrak─sebelumnya. Termasuk rangkuman singkat pencapaian, pendapatan dan juga seberapa banyak keuntungan kerja sama yang dicapai dari kedua belah pihak. Menyimpulkan penjelasan, Arion dan WDC tidak pernah terlibat dengan hal yang merugikan, dan juga memutuskan untuk melepas kerja sama secara baik-baik.
Meninjau berbagai point kontrak, pengacara memutuskan untuk melimpahkan pemutusan sesuai dengan syarat mitra yang berlaku, jika salah satunya merasa dirugikan maka dapat mengajukan banding. Perwakilan WDC kemudian maju memberikan pesan yang sudah dititip oleh CEO-nya dan menandatangani pesetujuan sebagai data pendukung jika sekiranya dibutuhkan untuk diproses ke ranah hukum. Tak lupa untuk menerima semua keputusan, kemudian diakhiri dengan jabatan tangan sebagai tanda berakhirnya kerja sama serta pengesahan pembubaran jajaran.
Dua jam berlalu, para peserta kemudian baru bisa beranjak setelah Baekhyun turun dari sebagai perwakilan. Menyisakan Jongin yang menyapa keduanya dengan penuh rindu. Dan Baekhyun kepalang senang karena bisa bertemu dengan Jongin setelah sekian lamanya bergelut dengan kesibukan masing-masing. Tapi mungkin lain halnya dengan Sehun.
Sehun sendiri masih kaku dengan kehadiran Jongin. Ia telah mencoba untuk memperbaiki banyak hal yang sudah-sudah. Jadi sebagai gantinya, mereka merencanakan pergi ke suatu tempat untuk acara makan siang. Namun semua itu masih tidak benar-benar ditanggapi serius oleh Sehun.
"Aku senang kau kembali ke kantor," tutur Jongin mencoba mencairkan suasana dengan ramah.
Sehun balas tersenyum kecil, menyambut sahabatnya yang sudah lama tidak ia temukan di ruangannya. "Dan sudah lama rasanya kita tidak berkumpul seperti ini."
Baekhyun menyusul setelah meletakkan banyak kertas di mejanya. Sebut saja beberapa catatan yang harus ia dokumentasikan nanti. "Kita harus merayakannya."
"Seperti kau bisa minum saja," ejek Jongin sambil terkikik. Sedangkan Baekhyun sudah ingin meninjunya.
Sehun semakin meninggalkan candaan mereka di lorong. Sempat mengecek arlojinya sebentar, kemudian melangkah keluar menuju tangga besar yang menghubungkannya dengan lobi di lantai satu. "Ingatlah dengan tugas baru kalian. Kita harus mengincar Souls sebagai gantinya."
"Kau tidak menyenangkan bahkan setelah kau lepas dari tongkatmu." Baekhyun mengoceh sangat cepat. Merasa kesal karena atasannya itu terlalu serius dalam menjalani hidup. Bahkan setelah diterpa dengan berbagai hal. "Mau kupatahkan kakimu lagi supaya kau tidak bisa bekerja?"
Sehun berdecak sambil melipat lengannya di dada. "Kupastikan kau tidak akan menikah dengan hyungku, kalau berani."
Baekhyun pun hanya bisa mengerutu kesal. Matanya kemudian bergulir ke bawah dimana sebuah keramaian mulai mencuri atensinya. Baekhyun lantas memanggil kedua orang berkaki panjang itu untuk berhenti dan menunjukkannya sesuatu. "Dia perwakilan WDC, kan?"
Jongin ikut menepi pada dinding kaca. Mengikuti kemana jemari Baekhyun menunjuk, dimana di bawah sana dua orang berpakaian hitam menunjukkan ID-nya pada pria perwakilan itu Dan parahnya, kejadian itu ditonton oleh banyak pasang mata sehingga tidak akan ada waktu tunggu sampai berita ini menjadi bahan perbincangan karyawan wanita di toilet.
"Detektif mencarinya."
"Kupikir itu percuma," gumam Baekhyun menatap dengan detail kejadian di bawah sana. Pria bersurai hitam itu sampai menguap karena mengaku tidak cukup tidur semalam. "Kau ingat dengan kasus kerusakan mobilku waktu itu?"
"Tentu saja," angguk Jongin sedikit menoleh pada sahabat pendeknya itu.
Baekhyun diam-diam melirik Sehun sebentar, sebelum meyakinkan diri untuk mendekat pada Jongin demi membisikkan sesuatu. Ia sebenarnya bukan ingin merahasiakan ini dari Sehun. Tidak. Hanya saja ia terus merasa bahwa Sehun tidak harus tahu hal ini.
"Semua selesai begitu saja dengan Zhang Yixing yang membayar ganti rugi, karena Zitao tidak memberikan tuntutannya," bisik Baekhyun amat teramat hati-hati.
Jongin berubah serius. Kepalanya sendiri mendadak penuh dengan analisa sederhana. Entah karena kepalanya terbiasa bertarung dengan taktik penjualan, atau ia sendiri mulai tertarik dengan kasus Kris─karena sudah dipercaya Chanyeol untuk mengurusi bukti─sampai Jongin berubah menjadi seorang penerka seperti ini. "Jadi kau mau bilang bahwa Zitao─"
Tak lama, Sehun akhirnya ikut melirik kemana fokus teman-temannya itu dipaku. Ia kemudian baru bisa melihat dua orang di bawah sana mulai membawa perwakilan itu keluar dari pintu. "Kalian bisa jelaskan ini?" tanya Sehun yang mulai berpikir, karena kedua temannya itu sibuk saling berbisik tanpa dirinya.
Baekhyun tertegun. Matanya tak kalah berkedip untuk meminta ditatap polos. Maka Jongin mengajukan diri untuk unjuk bicara. "Aku mungkin melaporkannya," jawab pria itu santai. Seakan tidak ada beban yang berarti bagi mulutnya untuk berbicara bohong.
Maka Sehun ingin berubah marah pada Jongin yang selalu mencampuri urusannya. Seingatnya yang mengurus ini adalah kakaknya, tapi entah sejak kapan keduanya bekerja sama dalam melebih-lebihkan kasus ini tanpa izinnya.
Tapi Sehun sangat berusaha menahan dirinya demi sebuah pengendalian diri. Karena kalau tidak, ia tidak akan pernah bisa mengintrospeksi tindakannya. Sementara ia sudah berjanji ingin merubah diri. "Aku berubah pikiran. Mau minum-minum denganku?"
"Tidak, terima kasih," tolak Baekhyun kemudian. Selain tidak ingin mabuk hari ini, ia juga tengah memikirkan kalau besok ia akan sangat sibuk mengurus surat edaran untuk tiap departemen. "Aku tidak akan datang kalau kau hanya mau marah-marah."
"Baiklah, aku pergi." Tak lama, Sehun memutuskan untuk menuruni banyak anak tangga. Meninggalkan kedua temannya yang sudah kepalang lelah memanggilnya. Bukannya ia tidak mau bergabung dengan Jongin, ia hanya memiliki jadwalnya sendiri. Melakukan kebiasaan barunya yang selalu ia lakukan baru-baru ini.
e)(o
Sehun tidak lagi perlu repot menyetop taxi. Dengan menelpon seseorang di ponselnya ia sudah menemukan mobilnya terparkir rapi di depan gedung. Seorang pria kemudian memberikan kunci mobilnya lalu tersenyum penuh hormat. Ya, beberapa hari ini ayahnya mengutus seseorang untuk menjadi supir pribadinya. Tidak masalah sebenarnya, hanya saja terlalu berlebihan karena alasannya─ayahnya tidak ingin ia kembali kecelakaan karena baru saja dinyatakan sembuh.
Lagi pula sejak kapan ia jadi anak kesayangan ayahnya?
Mobil yang ia bawa melesat jauh menelusuri keramaian jalan. Menembus jalan yang membelah batas kota kemudian mengambil jalur di sisi kanan. Sehun tidak lupa ketika ia memelankan laju mobilnya di tepian jalan penuh pepohonan di kiri dan kanannya. Memasuki jalanan kecil penuh pejalan kaki dan juga diapit banyak toko.
Trotoar di tiap sisi jalan terlihat kotor dengan dedaunan gugur. Aktivitas siang juga membawa banyak orang berbondong-bondong memasuki resto atau cafeteria. Jalanan mendadak berubah ramai dengan mobil-mobil yang terparkir rapi. Menurunkan penumpangnya tepat di depan sebuah restoran china di sudut jalan.
Sehun menghentikan mobilnya dengan jarak yang cukup jauh untuk mendekat. Ia bukannya tertarik untuk masuk ke dalam sana. Bukan pula karena ia lapar, tapi sosok pria dengan seragamnya itulah yang selalu ia cari di jendela restoran.
Sehun tidak tahu kapan pastinya ia mulai menyaksikan pria itu bekerja setiap hari sampai menjadi sebuah kebiasaan. Ia kadang akan sangat lupa waktu karena terlalu lama memperhatikannya. Melupakan makan siangnya dan berakhir dengan ia yang tidak memakan apapun sampai ia pulang dari kantor.
Sehun selalu menyaksikan kesibukan Luhan dari dalam mobilnya. Melihat pria itu tersenyum kepada banyak pengunjung sudah membuatnya begitu senang. Ingin rasanya ia masuk ke dalam sana sesekali. Berbicara dengannya atau sebatas menjadi pengunjung restoran, apapun itu asal ia bisa mendengar suaranya.
Faktanya, malam itu adalah malam terakhir ia berbicara dengannya. Luhan sendiri telah memutuskan untuk tidak lagi kembali ke rumahnya. Pria itu juga sudah berhak memutuskan kontrak kerja dengannya─sesuai dengan syarat─karena ia telah menemukan adiknya di suatu tempat. Sekali lagi, Luhan berhak memutuskan walaupun adiknya tidak kunjung kembali sampai detik ini. Dan Sehun pun tidak punya alasan logis untuk menahannya agar terus berada di sisinya.
Selama satu bulan penuh Sehun kehilangan kontak dengan Luhan. Pun pria itu tidak pernah menghubunginya untuk sesuatu. Sehun mungkin pernah sibuk mencari alasan untuk datang menemuinya, tapi tidak ada satupun hal yang masuk akal untuk membuatnya nekat pergi. Alih-alih ia tidak ingin beralasan dengan kata rindu semata, sementara harga dirinya masih saja berada di puncak ego.
Akankah Luhan merindukannya?
Pertanyaan seperti itu datang setiap kali ia melihat Luhan keluar dari pintu restoran. Hanya bisa menatapnya dari kejauhan seperti seorang pengecut. Memilih diam saja, meski kakinya sangat gila ingin turun mengejarnya.
Nyatanya, ia sendiri juga takut jika ia hanya merindu sendiri. Ia takut merindu jika orang yang dirindunya tidak juga merindukannya. Ia tak kalah takut jika Luhan tak lagi menyukainya. Terlebih melarangnya mendekat karena terlalu sering menyakiti. Lantas siapa yang tidak dilema? Siapa yang tidak merasa jadi tidak berguna kalau sudah dihadapkan pada ketidakberdayaan seperti ini?
Dari luar mobilnya, Luhan terlihat berjalan dengan membawa beberapa kantong besar. Entah apa isinya. Yang jelas pria itu keluar dari pintu belakang resto kemudian membawa plastik besar itu masuk ke tempat sampah. Ia pun sengaja berdiam lama disana, membuang nafas lelahnya sambil mendongak ke langit. Dengan wajah penuh peluh itu ia bersandar pada dinding. Mengecek ponselnya yang berdering kemudian menempelkannya di telinga. Tapi sialnya saat hendak berbalik, ia menabrak seorang pejalan kaki dan berakhir dengan ia yang terjatuh.
Sehun lagi-lagi ingin berlari keluar untuk membantu. Tapi seseorang yang menabraknya itu lebih dulu membantunya berdiri, lalu segera menyerahkan ponselnya yang tergeletak. Belum lama Luhan berterima kasih, seseorang itu malah sudah buru-buru pergi.
Pria aneh itu lantas membongkar benda yang ada di tangannya. Mengeluarkan sejumlah uang dari dompet yang terlihat seperti bukan miliknya. Lalu fokus mengendap-ngendap, dan juga membuang dompet itu ke sembarang tempat. Sayangnya Luhan tidak menyadari kalau dompetnya itu baru saja dicuri.
Sehun tentu tidak bodoh dalam membaca situasi. Ia pun turun dari mobilnya lalu mencegat pria bertopi itu di depan umum. Ia pun segera meraih lengan pria yang masih sibuk menggenggam uang curiannya itu. "Kembalikan," pintanya seperti pahlawan kesiangan.
"Apa maksudmu?!" balas pria itu kasar membuang lengannya. Mencoba menjadi orang normal meski sudah tertangkap basah.
Sehun yang tidak sabaran, mau tak mau memukul wajah pria itu. Menendangnya keras-keras sampai pria itu jatuh terjerembab di depan kakinya. Semua orang kemudian datang untuk menonton aksinya yang tiba-tiba. Pun tak sedikit dari mereka yang terheran-heran karena tak mengeri situasi. Sehun yang tidak perduli kalau ia menjadi sorotan baru, malah merampas seluruh uang di tangan pencuri itu.
Dengan wajah dinginnya ia keluar dari kerumunan, tak lupa mengambil dompet di dekat tempat sampah, lalu mengembalikan seluruh lembaran uang itu ke tempat semula.
e)(o
Luhan baru saja hendak masuk ke dalam pintu ketika seseorang memanggilnya. Ya, seseorang yang tidak ia sangka akan ia temukan di tempat kerjanya. Luhan sendiri tidak percaya jika Sehun bisa muncul tiba-tiba di hadapannya seperti ini. Menyerahkan sebuah dompet yang terlihat seperti miliknya, sebelum ia bertanya bagaimana bisa dompet itu berada padanya.
Luhan masih sibuk mencari letak dompetnya. Dan ketika ia tidak menemukannya, ia mau tidak mau mengambil dompet itu lalu memeriksa ID-nya. Sekali lagi, ia ragu kalau ia meninggalkan dompetnya di sembarang tempat sampai harus ditemukan oleh Sehun, yang notabenenya memiliki kemungkinan kecil ditemui di tempat-tempat seperti ini.
Sehun mulai memeriksa keadaan, termasuk memeriksa kalau-kalau Luhan terluka karena si pencuri. Tapi ia kemudian berubah lega karena Luhan masih bisa mengoceh karena tidak percaya bahwa ia baru saja mengalami hal yang kurang menyenangkan.
"Kau tidak sadar kalau dompetmu dicuri?"
"Kapan dia mengambilnya?" tanyanya polos. Luhan bahkan lupa pada tekatnya, kalau ia harusnya tidak berbicara dan bertemu dengan Sehun. Tapi dengan melihat Sehun yang berusaha menolongnya, ia pun segera membuang jauh-jauh pikiran kacaunya tentang pria itu. Mau bagaimana pun ia seharusnya bisa berterima kasih, bukan?
"Baru saja," jawab Sehun mengalihkan pandangannya. Tidak kuasa dengan tatapan Luhan yang hanya berpendar padanya. "Kau harusnya lebih berhati-hati. Ada banyak orang jahat di sekitar sini."
Luhan tahu-tahu sudah terpekur. Pikirannya sibuk berceloteh tentang gengsi. Sedangkan hatinya menghangat karena menemukan Sehun yang berbicara padanya. Terlebih tidak dengan marah-marah seperti yang selalu ia kesalkan selama ini. "Lalu apa yang kau lakukan disini?"
Sehun menggaruk kepala belakangnya. Ia pun bingung mengapa ia selalu bisa berada disini. Harga dirinya bahkan menolak untuk mengatakan ia merindukan Luhan. Maka, "Aku hanya lewat," jawabnya singkat. Dan bodohnya, Luhan percaya dengan mudah tanpa mau tahu ada urusan apa Sehun di sekitar sini.
Luhan lalu memasukkan dompetnya ke dalam saku celana. Menggaruk alisnya sebentar sebelum bertanya dengan canggung. "Kau sudah makan siang?"
Sehun dengan jujur menjawab, "Belum."
Luhan balas berkedip. Merasa sangat gugup ketika suara berat itu kembali menendang telinganya. Terlebih dengan kedua mata itu menyorotinya. Dunia bahkan seakan terhenti begitu saja kalau Luhan mau jujur. "Mau masuk? Aku yang traktir."
Sehun terlalu senang dengan tawaran itu. Membayangkan ia yang duduk dengan Luhan saja sudah bukan main jantungnya berdegup. Ia akan sangat bahagia kalau Luhan mau banyak berbicara dengannya. Tapi sayangnya ia harus segera kembali ke kantor─sebelum Baekhyun mengomel─karena ia harusnya sudah bersiap untuk pertemuan penting. "Aku harus kembali ke kantor."
"Tapi aku harus berterima kasih." Luhan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Sebenarnya Luhan ingin Sehun berada disini lebih lama untuknya. Sebut saja, sudah sekian lama ia tidak berbicara dengan Sehun seperti ini.
Apa ya namanya?
Rindu?
"Kalau begitu bayar dengan hal lain," ujar Sehun tersenyum begitu manis padanya. Tapi hanya sebentar, sebelum pria pucat itu melirik arlojinya.
"Huh?"
Sehun sendiri gemas dengan Luhan yang berkedip sangat polos padanya. Matanya yang berbinar-binar terlihat jauh lebih indah ketika membayangi matanya. Memberinya zat adiktif dimana ia selalu akan ketagihan untuk menemukan kedipannya. "Bayar dengan hal lain," ulangnya.
Luhan memiringkan kepalanya lucu. Menimbang apakah ia punya uang lebih untuk membelikan apapun yang Sehun inginkan. Tapi nyatanya ia tidak mungkin punya banyak uang untuk membeli barang mahal yang diinginkan Sehun. Karena mau dilihat dari sisi manapun, Sehun bukanlah orang yang cocok untuk memakai barang murah. "Apa yang kau inginkan?"
"Pergi denganku nanti malam."
Luhan berubah tertegun dengan kalimat itu. Untuk sepersekian detik, dadanya bergemuruh. Berdetak sesukanya sampai ia sendiri harus menggenggam jemarinya karena gugup bukan main.
Nyatanya, getaran itu selalu ada. Tidak pernah lenyap dari dirinya, walaupun sekian lama ia berusaha melupakannya.
"Akan ku jemput," lanjut Sehun yang kemudian berjalan meninggalkannya. Tidak perduli pada jawabannya, seakan itu adalah kalimat perintah yang tidak boleh ia tolak.
e)(o
Seisi meja terbang berhambur ke lantai. Termasuk cangkir berisi cairan kopi yang sudah pecah di dekat meja. Cairan hitamnya mengotori lantai, ikut menghancurkan beberapa kertas penting yang sejam lalu sekertarisnya bawa.
Pintu ruangannya kemudian terbuka. Memunculkan sekertarisnya yang terkejut menutup mulutnya. Sedangkan Yixing dan Ten masih bergeming menyaksikan lantai yang dipijaknya berubah berantakan. Kris berbalik, tidak ingin melihat kembali wajah dua karyawannya itu. Alih-alih memilih berkacak pinggang menatap keluar jendelanya.
"Aku sudah bilang, singkirkan dengan baik!" ujarnya marah. Tapi mau sebanyak apapun ia berkomentar atau memukul orang-orangnya, itu tak akan merubah apapun. Pun kepala detektif yang sudah lama terhubung dengannya tiba-tiba hilang ditelan bumi. Tidak menyisakan jejak, meski ia cari ke ujung dunia.
Ten masih menunduk dalam penyesalannya, masih ingin memohon maaf atas kelalaiannya karena membiarkan sistem perusahaan tersembunyi mereka diakses tanpa sepengetahuannya. Komputernya saat itu memberikan kode hijau, tidak memberikan kode merah sebagai tanda peretasan atau akses illegal yang berusaha mencari apapun dalam sistemnya untuk kepentingan penyalinan. Tahu-tahu ia lupa menghapus akses Zitao yang sudah lebih dulu dicabut statusnya. Sedangkan Zitao sudah memberikan ID aksesnya pada lawan untuk login ke dalam sistem, lalu dengan mudahnya melakukan peretasan kilat.
"Maafkan saya." Ten pun hanya bisa menunduk menyesal.
"Aku sudah menyuruhmu menghapus aksesnya, tapi kau lalai!" Kris menunjuk pria itu berkilat-kilat. Sudah lebih dari dua tahun Ten bergabung dengannya, tapi baru kali ini ia menemukan cacat dari kemampuan pria itu dalam menjaga sistem belakang. Salah Kris karena mempercayakan seluruh sistemnya pada satu orang.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan? Mereka sudah mendapatkan banyak bukti. Tidak akan ada waktu tunggu sampai kau dan aku yang mereka tangkap."
Yixing menurunkan ponselnya dari telinga. Kembali tenggelam dalam kemarahan Kris yang begitu menyeramkan untuk dinikmati. Terlebih dengan ia yang membawa kabar seperti─
"Mereka sudah mendapatkan Taeyong."
Kris berubah memijit keningnya. Mengambil jasnya di kursi kemudian buru-buru mengutus sekertarisnya untuk menyiapkan penerbangan ke Korea. "Aku tidak mau tahu, urus ini bagaimanapun caranya!" tegasnya pada Yixing.
e)(o
Bersiap tutup dengan pegawai yang lainnya, Luhan ikut memastikan tiap sudut resto tertata dengan rapi. Ia dengan hati membuncah tanpa henti melirik kaca jendela. Sedangkan tangannya terus saja sibuk membersihkan banyak meja.
Pukul mungkin sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tapi Luhan tak kunjung menemukan Sehun yang datang. Bukannya malah senang kalau ia mungkin batal pergi karena ia juga sangat lelah, tapi malah menunggu dengan harapan tinggi. Ia kemudian hanya bisa mengutuk dirinya sendiri karena sebegitu inginnya ia bertemu kembali dengan Sehun.
Pemilik restoran kemudian mendekatinya. Menyerahkan kunci restoran karena harus buru-buru pergi. Luhan pun menerima kunci itu dan meletakkan kain lapnya. Kaki kecilnya lalu pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Tak lupa membasuh sedikit wajahnya dan menenangkan dirinya sendiri.
Ia bersumpah, ia tidak bisa menenangkan hatinya. Dadanya terlalu ribut walaupun ia berulang kali menarik nafas dalam-dalam. Entah mengapa.
Tak mau berlama-lama sendirian di dalam resto, ia pun bergegas mengunci seluruh pintu. Memasukkan kuncinya ke dalam tas, kemudian memilih duduk menunggu di depan pintu. Matanya yang lelah berusaha mengabaikan banyak pejalan kaki yang lewat. Terus menatap layar ponselnya yang sepi sampai jalanan itu benar-benar menyepi.
Malam semakin dingin terasa, tapi Sehun masih belum juga menampakkan dirinya. Tangannya gatal ingin menelpon, mulutnya tak kalah ingin mengomel, atau dirinya ingin menaiki bus yang sejak tadi lalu lalang di depannya. Tapi semua itu tidak kunjung ia lakukan. Tidak sama sekali, karena ia mengaku paham bagaimana kesibukan Sehun dengan pekerjaannya.
Lantas apa yang dilakukannya disini? Mengapa ia bisa sangat memahami Sehun, bahkan dalam keadaan semembosankan ini.
Tak lama suara klakson mobil berseru. Membuatnya menegakkan kepalanya yang berat. Alih-alih menemukan Sehun di dalam mobilnya dengan wajah yang sama lusuhnya. "Menungguku lama?" tanyanya membuka kaca jendela.
Sedangkan Luhan menghela nafasnya, masuk ke dalam mobil dengan wajah penuh cemberut. Sejujurnya ia sangat lelah malam ini. Dan harusnya ia sudah pulang menjemput bantalnya untuk tidur. Tapi lihat apa yang dilakukannya? Ia menunggu Sehun begitu lama sampai pantatnya pegal.
"Kenapa kau lama sekali?"
"Aku harus menyelesaikan sesuatu," jawabnya fokus memutar balik mobilnya. Sama sekali tidak memohon maaf seperti biasanya.
Merasa sudah terbiasa dengan sikap Sehun, Luhan secara otomatis menatap pria itu dari ujung ke ujung. Tidak ada yang berubah selain jasnya yang sudah ditanggalkan. "Kau baru pulang dari kantor?"
Sehun tertawa kecil, seolah pertanyaan seriusnya dianggap lelucon. "Kami mendadak sangat sibuk hari ini."
Luhan berubah prihatin. Nyatanya lelahnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesibukan Sehun di meja kerjanya. "Kemana kita akan pergi?" tanyanya terus menatap Sehun yang seperti akan tumbang dan gagal mengemudi.
Namun Sehun akan baik-baik saja. Ia tentu selalu terbiasa dengan lembur. "Ada sesuatu yang selalu ingin ku tonton." Tahu-tahu, Sehun sudah memberi Luhan dua buah tiket musikal yang sejak sore tadi ia pusingkan bagaimana cara mendapatkannya. Ia pun hampir menyuruh supir pribadinya untuk membayar dua kali lipat agar ia mendapatkannya.
Wajah berbinar Luhan kemudian memancar bagai lampu-lampu jalan. Begitu terang dan juga cerah disatu waktu. "Kudengar banyak orang yang ingin menonton ini," ujanya membolak-balikan tiket itu. Tak luput dari membaca tiap kata yang ada disana seolah mencari kesalahan. "Mereka bilang bagus."
Sehun tak kalah bahagia ketika Luhan menyukai idenya. Hatinya meletup-letup bagai popcorn. Mengeksekusi rasa lelah di kepalanya hingga ia lupa kalau ia belum juga makan sejak tadi siang.
Mereka kemudian sampai pada salah satu gedung musikal. Sehun memarkir mobilnya di basement. Mengajak Luhan melewati lorong-lorong belakang menuju ruang panggung dengan ratusan kursi. Kegelapan ruangan membuatnya harus mencari tangan kecil Luhan. Menariknya untuk selalu mengikuti langkahnya. Tidak membiarkannya menghilang sekalipun. Kalau bisa, ia ingin selalu bisa menggenggam Luhan dengan tangannya.
Luhan sendiri sudah merasakan hangat yang menjalar di kedua pipinya. Genggaman Sehun padanya secara otomatis mengukirkan senyum kecil di wajahnya. Merasakan waktunya berlalu amat pelan, bersama gemerlap cahaya lampu yang masih saja meremang di depan sana.
"Ini pertama kalinya aku menonton musikal," aku Luhan begitu takjub dengan penampilan sang aktor. Panggung di depan sana sudah menyala terang. Memberikan cahaya pada keduanya untuk cukup menemukan paras masing-masing. Para bintang panggung bernyanyi dengan indah, menarikan banyak lagu sambil menyentuh hati penonton dengan kisah-kisah dramatis. Luhan sendiri sampai ikut merasakan emosi karena terlalu tersentuh.
Sehun yang melupakan banyak adegan di depannya, hanya bisa menatap Luhan dalam keremangan. Entah, kapan pastinya ia menjadi senang untuk menatap diam-diam pria berambut coklat ini. Kalau saja ia tahu menghabiskan waktu dengan Luhan bisa semenyenangkan ini, ia mungkin sudah membawa Luhan pergi ke tempat-tempat yang ia suka. Tidak memenjarakannya di rumah seperti yang dilakukannya selama ini.
"Kita harus bertemu lagi besok," bisik Sehun memotong habis atensi pria di sebelahnya. Jarak mereka sendiri sudah tidak bersekat. Saling bersisian tapi ajaibnya tidak benar-benar saling terganggu.
Luhan menoleh padanya. Batal meminum sodanya yang tergenggam di tangan. "Besok hari pernikahan adikmu."
"Aku mungkin tidak akan datang. Lagi pula Kris akan sangat marah karena tidak menemukan bridenya." Sehun terkekeh sendiri membayangkan bagaimana rencana terakhirnya akan dijalankan. Sedangkan Luhan hanya melongo bingung. Tidak memberi respon apapun karena tidak sedikitpun menangkap kelucuan dari kalimatnya. "Kau harus menemaniku kabur."
Luhan berubah menunduk menyembunyikan senyumnya. Berkedip pelan ia menatap gelas sodanya yang sudah tidak lagi dingin. Sebenarnya ia sangat ingin meminumnya, tapi tenggorokannya mendadak kosong, tidak sekering tadi.
"Aku tidak bisa menemanimu," tolaknya.
Sehun seakan kehilangan seluruh pikirannya. Sedangkan Luhan mencoba untuk tersenyum lembut padanya. Namun pria itu terlalu ahli dalam menyisakan pedih, jadi ia tidak menemukan ketulusan dari segaris senyum itu. Melainkan pahit yang membuat hatinya menghitam.
Tontonan mereka bisa saja belum selesai, tapi pembicaraan mereka terasa dipaksa untuk diselesaikan di tengah jalan. Pada nyatanya, Luhan telah berubah menjadi orang yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.
"Aku harap, kita tidak akan bertemu lagi," ujar Luhan kembali menikmati tontonan di depannya. Seolah tidak mendengar kerusakan hati Sehun yang begitu hancur berkeping-keping.
e)(o
The R. hall hari ini dipenuhi banyak undangan. Dipenuhi karangan bunga sebagai ucapan selamat dan juga jejeran orang-orang penting yang datang memberi selamat. Tuan Oh terlalu repot menyapa tamu-tamunya. Sedangkan Sehun masih tidak terlihat berminat dengan acara ramai semacam ini. Chanyeol pun tak kunjung datang. Pesawatnya terkena delay hingga membuatnya menunggu lama. Sedangkan Baekhyun mau tak mau harus tertahan di bandara.
Tidak ada pesta pernikahan yang tidak membosankan ketika para tamu menodongnya dengan berbagai topik dan pertanyaan. Adapula beberapa wartawan yang datang hanya untuk menanyakan banyak hal. Sampai Sehun sendiri bingung mengapa pesta ini bisa terlalu besar untuk dirayakan. Padahal ini hanyalah sebuah kebohongan baginya.
Para tamu kemudian duduk rapi di kursinya. Para MC bekerja dengan baik untuk memberikan pengarahan kecil pada seluruh tamu─sama sekali tidak perduli dengan acara penuh kepalsuan ini. Membiarkan lampu-lampu dimatikan dan hanya menyisakan Kris yang berdiri di ujung karpet merah. Membelah ruangan menjadi dua kubu, hingga bunga-bunga berjejer di tiap sudut. Tak lupa pengantar alunan melodi indah dari piano yang dimainkan.
Sehun tidak tahu mengapa ia masih betah berada disini, sedangkan ia sendiri tahu pesta ini akan dihancurkan olehnya. Tapi mungkin dengan menghadiri pesta Kris, memberinya sedikit hiburan tambahan sebelum semuanya berjalan dengan ekspektasinya. Setidaknya ia bisa menikmati minumannya di kursi depan. Melupakan kekosongan hatinya soal semalam, bersama Jongin yang juga terlihat antusias menunggu acara ini hancur berkeping-keping.
Namun ketika pintu dibuka lebar, menampilkan ayahnya yang menggandeng seorang bride, memberi keterkejutan tersendiri bagi Sehun dan juga Jongin. Gelas tinggi di genggaman Sehun bergoyang. Sedangkan Jongin sibuk bersumpah kalau Sena masih di rumahnya sebelum ia pergi. Dan pria itu telah memastikan kalau adiknya tidak kemana-mana selain bersembunyi di rumahnya sampai pesta ini selesai─bersama Kyungsoo yang baru saja menelponnya.
"Kau bilang dia tak akan datang," ujar Jongin kalang kabut mengambil ponselnya. Ia sendiri sudah sangat ketakutan. Bagaimana jika Sena berubah pikiran dan datang kemari dengan banyak keterpaksaan? Atau mungkin Luhan punya pilihan lain dalam membalik rencana ini menjadi sesuatu yang diinginkannya.
Sehun sendiri tak akan habis pikir jika benar yang digandeng ayahnya itu adalah Luhan. Seseorang Luhan yang semalam sempat ia saksikan senyumnya, berbicara padanya sampai larut dan jatuh tertidur di mobilnya.
Ia lantas hanya bisa menaruh gelas itu sebelum terlepas dari jemarinya. Mengabaikan Jongin yang sibuk menelpon Kyungsoo, atau mungkin Luhan? Tapi yang didapatinya adalah laporan Jongin perihal Kyungsoo yang mengaku masih bersama Sena, sedangkan Luhan tidak menjawab panggilannya.
Bagai badai petir di siang hari, dunia Sehun mendadak berhenti berotasi. Emosinya memuncak, tahu kalau semua hal tidak berjalan sesuai keinginannya. Ia mulai bisa membaca situasi, bahwa selama ini Kris mengendalikannya dan juga mengendalikan Luhan. Jauh dalam kemenangan yang paling ia benci.
"Aku harap, kita tidak akan bertemu lagi,"
Sehun terus menatap adik palsunya itu. Menembusnya dalam kegelapan emosi. Meski tahu, jika─
.
.
Luhan tak akan pernah menatapnya lagi.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Tanggal merah, yay!
Akhirnya aku punya waktu luang untuk bertapa. Aku sedang menulis ending, tapi ternyata tidak semudah yang aku pikirkan :D
Oh ya, jangan lupa vote EXO di BBMA. Kasi gas polll.
Thank you, and see you next chap!
