.
Trouble Maker
Naruto © Masasshi kisimoto
High School DxD © Ichie Ishibumi
WARNING : AU, OOC, OC, Typo (Jangan tanya!), Semi-Canon, dan sebagainya.
.
-[ Midsummer Knight ]-
.
Chapter 21 : Kartu As dan Bidak Baru
.
Dalam sebuah ruangan yang berada di tempat kerja Sirzechs atau lebih tepatnya yang berada di pusat wilayah Lucifer. Berkumpul para pimpinan fraksi mulai dari iblis, malaikat dan malaikat jatuh.
Pertemuan kali ini memang tidaklah sebuah pertemuan resmi, melainkan pertemuan yang diselenggarakan secara dadakan karena sebuah permintaan yang dibuat oleh Azazel. Tidak hanya orang-orang penting itu saja yang berkumpul di sana. Melainkan ada satu buah organisme yang bahkan tidak memiliki dominasi apa pun dalam berbagai hal, namun juga sangat krusial jika dia tidak ada.
Ya... orang yang dimaksud itu adalah Naruto, yang saat ini tengah duduk dengan gerah plus kakinya yang sudah tidak bisa diam.
"Seperti yang sudah kita bicarakan minggu lalu, prototype pertama dari percobaan kita telah selesai," Ajuka untuk pertama kalinya membuka pertemuan itu dengan langsung mengatakan inti dari pertemuan itu sendiri.
Dia menyodorkan sebuah kota kecil yang terbuat dari kaca, dari luar terlihat dengan jelas isi dari kotak itu.
Di dalam sana terdapat dua buah bidak catur berwarna hitam obsidian yang agak transparan, bida itu terdiri dari satu Knight dan satu Pawn.
Benda itu disodorkan ke depan Naruto, yang menandakan jika benda itu dibuat untuk Naruto.
Dalam satu minggu yang lalu, alasan kenapa Naruto di panggil ke dunia bawah bukanlah tanpa alasan, melainkan dia dimintai tolong oleh salah satu raja iblis, Beelzebub, sebagai bahan uji coba pengembangan Evil Piece.
Tubuh Naruto yang pada dasarnya menolak sihir dengan cara langsung memusnahkannya dengan Imagine Breaker itu tidak dapat di reinkarnasikan sebagai iblis, dengan kata lain Evil Piece tidak ubahnya hanya bidak catur biasa.
Namun dalam kurun waktu satu minggu terakhir, sang raja iblis Beelzebub telah menghabiskan satu minggunya mengurung diri di ruang kerjanya hanya untuk membuat itu.
"Biar aku jelaskan perbedaan Evil Piece ini dengan Evil Piece pada umumnya, Evil Piece yang biasanya hanya akan mereinkarnasi seseorang ke dalam kaum iblis, entah itu yang masih hidup maupun yang sudah mati,"
Semua orang di ruangan itu hanya mendengarkan dengan tenang ajuka berbicara.
"Tapi Evil Piece satu ini berbeda. Mereka tidak mereinkarnasi seseorang kedalam kaum iblis. Melainkan merubahnya menjadi iblis tanpa membunuhnya, dengan kata lain Evil Piece ini hanya dapat di gunakan oleh Naruto."
"Tunggu apa itu mungkin, bukannya Imagine Breaker akan langsung memusnahkannya dalam sekejab?"
"Inilah keunggulan dari Evil Piece ini, menurut informasi yang Sirzechs berikan, Imagine Breaker menghapus sihir secara berkala, jadi aku hanya menciptakan sebuah Evil Piece dengan lapisan sihir yang hampir tidak terbatas, sehingga meskipun Imagine Breaker tetap menghapusnya, kau dapat berada di dalam mode iblis untuk beberapa saat,"
"Kira-kira berapa lama masa aktifnya hingga Imagine Breaker benar-benar menghapusnya?"
"Satu hari, atau lebih tepatnya 22 jam 30 menit,"
"Tunggu dulu jika memang begitu bukannya..."
"Ya tepat sekali, saat kau berada di dalam mode iblis, kekuatan, energi sihir semuanya meningkat drastis, tapi kau sama sekali tidak dapat menggunakan Imagine Breaker,"
Cukup krusial memang. Sekalipun segala kekuatan fisiknya bertambah dengan cukup signifikan, tapi jika dia tidak dapat menggunakan Imagine Breaker itu juga akan menjadi masalah. Akan menjadi masalah jika dia tidak melakukan "itu".
"Tapi bukannya itu sudah cukup? Lagi pula kau juga sedang dalam sesi latihan denganku, dan jika kekuatanmu meningkat dalam mode iblis berarti hasil latihanmu nanti juga akan berlipat ganda, bukan?"
Naruto terdiam mendengar pernyataan Azazel barusan. Jika di pikir-pikir memang benar, tapi apa tidak apa-apa.
Dalam hati Naruto masih ada yang mengganjal sedikit. Tapi sepertinya hal ini juga tidak masalah, lagi pula dia kali ini sedang berusaha untuk mengubah sesuatu yang tidak dapat dibilang kecil.
"Naruto, apa kau tidak punya karu as atau apalah itu yang mungkin dapat meningkatkan persentase kemenanganmu?"
Pertanyaan dari Azazel tadi sukses membuat Naruto bungkam. Jika di bilang kartu as sih sepertinya dia memang tidak memiliki apa pun yang mungkin dapat dia gunakan untuk... jalur pikiran Naruto langsung terhenti saat dia mengingat sesuatu.
"Oh iya aku sampai lupa. hoy Index, apa aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku gunakan sebagai kartu as?" seluruh penghuni ruangan itu tentu saja menautkan alis bingung tak kala Naruto menanyakan itu, pasalnya tidak ada satu pun di ruangan itu yang memiliki nama Index, dan terlebih lagi Index itu dirasa tidak dapat di kategorikan sebagai nama karena Index merupakan kata lain dari daftar isi dari sebuah buku.
Namun karena sebuah peristiwa yang tidak pernah mereka bayangkan mau tak mau keseluruh orang di sana bungkam, tak kala di leher Naruto dengan perlahan muncul sebuah buku yang terikat oleh rantai kecil berwarna hitam yang terkalung di leher pemuda pirang itu.
Sebuah Grimoire.
Hanya dengan melihat sampulnya saja semua orang di sana tahu jika buku kecil sebesar buku saku itu adalah sebuah Grimoire.
"Hmm... jika kau bilang begitu sih... kartu AS, sepertinya memang ada, hanya saja masalah kau bisa menggunakannya atau tidak itu jadi masalah lain,"
"Apa maksud-"
"Hoy Naruto! Apa kau tahu dengan apa kau bicara saat ini?"
Belum sempat Naruto memprotes Index, kata-katanya langsung di potong oleh Sirzechs yang saat ini berdiri dari kursinya dengan ekspresi kaget.
"Dengan buku usang, memangnya kenapa?"
"Apa-apaan dengan sikapmu itu, itu adalah sebuah Grimoire, buku yang berisikan dengan sihir-sihir terlarang!"
"Mana aku tahu hal-hal merepotkan seperti itu, pelajaran sekolah normal tidak mengajarkan tentang tetek bengek seperti ini, tahu!" sungut naruto sambil menunjuk Index.
"Kesampingkan masalah itu dulu... Naruto kenapa kau baru mengatakan masalah sepenting ini sekarang? Kenapa tidak sejak awal coba?"
"Aku pikir itu adalah hal yang biasa bagi kalian?"
"Jika hanya Grimoire normal sih banyak, tapi ini adalah Grimoire yang bisa bicara, itu dapat di katakan sangat langka kau tahu?"
"Begitukah? Jika memang begitu, kurasa akan lebih baik jika kita mendengar dulu penjelasan dari Index tentang kartu as tadi,"
"Kurasa kau benar, lebih baik kita simpan pertanyaan untuk nanti, baiklah Index..san bukan? Bisa jelaskan dengan apa yang kau maksud tadi?"
"Oh.. jadi kalian sudah selesai dengan acara terkejutnya, baiklah kita mulai saja sesi pembelajarannya. Sebelum itu perkenalkan dahulu, namaku Index Librorvm Prohibiyorvm. Dalam kasus tuanku kali ini dapat dikatakan sedikit 'unik' karena seperti yang kalian ketahui Imagine Breaker yang saat ini mungkin menjadi titel utamanya akan dihapus, dengan kata lain dia tidak kebal terhadap sihir lagi. Namun dia juga tidak dapat menggunakan sihir, karena pada dasarnya dia sama sekali tidak memiliki energi sihir. Energi sihir milik tuanku selama ini sebenarnya adalah sihir milikku, jadi sekalipun tuanku tidak kebal terhadap sihir dia akan dapat menggunakan sihir dengan bantuanku,"
"Tunggu dulu, bukankah terjadi kontradiksi dari ucapanmu barusan, Naruto tidak dapat menggunakan sihir dan Naruto menggunakan sihir?" Tanya Serafall.
"Jika kau mencermatinya ucapanku lagi maka kau akan mengerti, karena yang mengeluarkan sihir adalah aku, akulah yang akan menjadi penyuplai energi sihir dan juga media pembacaan mantranya. Sedangkan tuanku ini hanya akan menjadi mediasiku untuk dapat melepaskan sihir, karena kami para Grimoire khusus, tidak dapat mengeluarkan sihir secara sendiri."
Serafall mengangguk-angguk mengerti mendengar penjelasan Index. Setidaknya pertanyaannya terjawab sudah.
"Jadi sihir apa yang dapat di gunakan oleh Naruto?"
"Oh, kalau itu tuanku sudah melatihnya sejak beberapa minggu yang lalu, juga dia pernah menggunakannya saat melawan Kokabiel dulu,"
"Apakah itu yang dikatakan Rias dengan meniru senjata dan sacred gear?"
"Tepat, Void Weapons, itulah bagaimana aku menyebut sihir itu, sebuah sihir yang telah terlupakan. Sihir itu dapat di lakukan apabila orang yang melepaskan sihir itu mengetahui dengan betul apa yang hendak dia tiru, seperti Excalibur yang belum terpecah yang tuanku gunakan saat melawan Excalibur yang asli,"
"Tunggu dulu, bukankah Naruto sama sekali belum pernah melihat wujud serta kekuatan dari Excalibur yang asli? Jadi bagaimana dia dapat menirunya kalau begitu?"
"Hoi... apa kau mendengarku, bukannya tadi aku sudah bilang jika yang melepaskan sihir itu adalah aku, dan kau pikir siapa aku hingga aku tidak tahu detil kecil seperti Excalibur dan kekuatannya," Index mengucapkan itu dengan nada yang benar-benar sombong. Naruto yang berada paling dekat dengan buku itu hanya dapat memutar matanya seolah dia sudah hafal betul dengan sifat buku itu.
"Jadi apa masalahnya?"
"Masalah utama mungkin akan ada penolakan yang serius dari tubuh Naruto akibat perubahannya menjadi iblis, serta pengaliran mana yang begitu banyak dalam sekali jalan akan mengakibatkan menegangnya seluruh saraf yang ada dalam tubuhnya, dan jika itu terjadi maka kalian semua harus siap-siap,"
Index mengatakan itu dengan tenang, namun kata-katanya itu masih belum cukup jelas. Bersiap-siap akan apa, itu masih belum mereka ketahui.
"Bersiap-siap dengan apa?"
"Distorsi. Mungkin akan terjadi sebuah distorsi kuat akibat Imagine Breaker yang terkekang dalam waktu yang cukup lama, kemungkinan terbesar, dia dapat memusnahkan satu buah ruangan penuh beserta isinya,"
Semuanya terdiam. Hanya mendengarkan kata "menghilangkan" saja sudah terdengar cukup mengerikan, itu berarti tidak hanya sihir. Melainkan seluruh material nyata yang ada di dunia ini entah itu di dunia iblis, maupun di dunia manusia.
Mereka lebih memilih untuk tidak memikirkan lebih dalam masalah itu, dan berpikir bagaimana cara menanganinya nanti.
Waktu yang mereka habiskan dalam diskusi itu ternyata berlangsung lebih lama dari yang mereka duga. Dan para Maou yang masih harus menghadiri pertemuan iblis muda berpamitan untuk pergi terlebih dahulu namun sebelum itu Naruto menginterupsi Serafall dengan satu pertanyaan.
"Apa di kediaman Sitri ada sebuah perpustakaan? Atau mungkin tempat di mana ada buku-buku?"
"Kalau perpustakaan ada di lantai bawah, kalau ruang lain yang memiliki cukup banyak buku adalah kamarnya Sona-chan, apa kau mau masuk?" Tawar Serafall dengan sebuah cengiran aneh di wajahnya.
"Kurasa perpustakaan lebih baik," jawab Naruto dengan cepat. Dia tidak akan mungkin masuk ke dalam kamar perempuan tanpa se-ijin yang punya. Sekalipun itu adalah milik Sona, tapi Naruto tetap tidak akan bisa melakukannya.
"Tumben kau bertanya tentang buku, memang ada apa?" Tanya Azazel penasaran.
"Bukan apa-apa, ada beberapa hal yang ingin aku cari tahu,"
"Sesuatu?"
"Bukan sesuatu yang penting,"
"Ya terserahlah kalau begitu,"
Naruto tidak dapat mengatakan untuk alasan apa dia mencari perpustakaan. Untuk saat ini itu masih rahasia, sebuah rahasia yang akan mengubah secara total sudut pandang semua makhluk jika di lakukan dengan tepat.
.
-o0o-
.
Karena Naruto terlalu sibuk dengan arsip dan juga tumpukan buku di depannya, sampai-sampai dia tidak sadar jika hari telah berganti malam, baginya hal ini sangat penting dia lakukan untuk menentukan langkah selanjutnya yang akan dia ambil.
Dia terlalu banyak berhutang. Jadi, satu-satunya yang dapat dia lakukan adalah membayarnya dengan segala yang dia punya. Sekalipun itu akan membuat seluruh darahnya menguap menjadi udara.
Saat ini Naruto duduk di atas karper yang berada di tengah-tengah perpustakaan keluarga Sitri.
Kakinya bersila dengan kedua tangan yang masing-masing memegang dua buah buku yang berbeda, dan membacanya secara bergantian.
Oke, memang sebuah metode membaca yang aneh, tapi karena itulah satu-satunya cara Naruto untuk mempelajari sesuatu dengan sangat cepat. Baginya waktu itu tidak boleh dibuang dengan percuma.
Tidak se-ekstrim orang yang menganggap waktu adalah uang, tapi bagi Naruto membuang-buang waktu itu tidak baik, entah apa pun itu alasannya.
Brakk!
Pandangan Naruto sontak langsung beralih pada pintu yang tiba-tiba terbuka dengan suara keras.
Langkah kali seseorang dengan cepat mendekat ke arahnya. Sosok yeng pertama muncul dalam pandangannya adalah Sona yang saat ini tengah berjalan dengan cepat ke arahnya dengan kepala tertunduk.
"Yo, bagaimana dengan pertemuan...nya?"
Ucapan Naruto terpaksa berhenti dan melemah di akhir di ikuti dengan reaksi kaget tak kala Sona yang telah berada di depannya langsung duduk dan membenamkan kepala Sona di perut Naruto yang saat ini tengah duduk bersila.
"T-tunggu... Sona apa yang kau lakukan!?"
Oke, Naruto tidak siap untuk ini, jantungnya mau-tak mau berdetak bekali-kali lipat. Dia memang tipikal orang yang cuek dengan hal-hal berbau romantis, tapi itu tidak mengubah fakta bahwa dia laki-laki normal yang menyukai perempuan.
Dan terlebih lagi, perempuan yang saat ini membenamkan kepalanya di pangkuannya itu baru saja menembaknya beberapa hari yang lalu.
"Biarkan aku begini sebentar," suaranya agak parau, akibat dia berbicara dalam posisi seperti itu. dan karena itu sontak membuat tubuh Naruto menegang saat nafas hangat dari Sona menerpa pahanya yang terlapis celana levis itu.
'Tidak biasanya Sona seperti ini, apa terjadi sesuatu pada pertemuan tadi?'
Naruto tidak yakin apa yang terjadi, tapi sepertinya tadi memang terjadi sesuatu. Dan itu tampaknya membuat Sona begitu frustasi seperti ini.
"!?"
Belum sempat Naruto bertanya kenapa pada Sona, suatu cairan hangat tiba-tiba membasahi pahanya. Di ikuti dengan getaran tubuh gadis itu.
Naruto bingung harus berbuat apa. Dia tidak tahu apa yang membuat gadis itu menangis seperti ini, tapi Naruto yakin pada satu hal. Dia, Sona. Dia pasti menahan tangisnya di saat bersama seluruh peeragenya.
Dia tidak ingin terlihat cengeng di depang keluarganya. Bagi Naruto, Sona adalah gadis yang kuat. Dia pasti merasakan tekanan yang hebat selama pertemuan hingga membuatnya seperti ini.
Dengan perlahan, bahkan Naruto sendiri ragu kalau dia sadar atau tidak, tangannya kini tengah mengelus kepala Sona dengan pelan.
"Hah, aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu seperti ini tapi jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja," Naruto berkata demikian. Dan dia merasakan gerakan mirip anggukan dari Sona.
Sepuluh menit berlalu, dan Sona tampak sudah tenang. Dan dengan pelan dia memutar kepalanya menjadi menghadap atas. Kakinya dia luruskan hingga saat ini dia dalam posisi berbaring dengan menggunakan paha Naruto sebagai bantalan.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?"
Sona tetap diam ketika Naruto menanyakan itu. sekilas dia melirik Naruto yang saat ini tengah menatapnya dari atas.
"Aku bertanya-tanya, sebenarnya hubungan kita ini apa sih?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan, dan jika kau berbicara tataplah aku!" ujar Naruto sembari mendekatkan wajahnya ke Sona yang saat ini berada di pangkuannya. Dan demi mencegah Sona mengalihkan wajahnya kedua tangan Naruto kini telah meraup kedua sisi wajah Sona.
Posisi mereka saat ini memang terlihat sedikit, ehm... seperti itulah pokoknya. Dan akan mengundang kesalahpahaman jika ada orang yang melihatnya.
Sona yang tidak dapat mengelak lagi hanya mampu menunjukkan raut sedihnya. Tidak hanya sedih, Naruto juga mendapati sedikit rasa kesal dan benci dari matanya, tapi sepertinya itu tidak di tunjukan padanya.
"Tetap seperti yang sebelumnya, proposalku, rencanaku, mimpiku. Mereka menertawakannya, mereka bilang mustahil, tidak berguna, dan sampah. Mimpiku," Sona berujar dan kembali terisak. Air matanya mengalir hingga membasahi tangan Naruto.
'Jadi begitu ya...,'
Dengan perlahan Naruto mendekatkan wajahnya ke Sona. Dan dahi mereka saling bersentuhan satu sama lain. Di posisi mereka saat ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk berkontak mata. Namun perkataan dari Naruto yang di katakan saat ini mau tak mau membuat Sona terdiam.
"Sona yang aku ketahui bukanlah seorang yang cengeng seperti ini, Sona yang selalu mengikutiku itu keras kepala, tidak berpikir panjang, ceroboh, dan tidak kenal dengan apa yang disebut menyerah,"
Ya apa yang di katakan Naruto saat ini adalah apa yang Naruto rasakan semenjak dia mengenal perempuan itu.
"Sona yang aku ketahui tidak akan menyerah bahkan meskipun dia menghadapi seorang dewa, bertarung melawan dewa yang jelas-jelas mustahil untuk dia kalahkan. Tapi, apa yang disebut mustahil itu telah berhasil kau hancurkan, apa yang dianggap mustahil kau patahkan dengan mudah, dan pada akhirnya kau membawaku lagi dari dasar neraka,"
Sona tidak dapat berkata apa pun. Pipinya memanas tak kala kata demi kata terucap dari mulut Naruto. Dia memperhatikannya, sosok yang selalu dia cintai itu ternyata selalu memperhatikannya.
"meskipun seterjal apa pun jalan yang kau lalui, setinggi apa pun dinding yang menghalangi, tetaplah maju, dan jika kau kesulitan dengan senang hati aku akan membantumu,"
Naruto mengakhiri kalimatnya dengan menjauhkan dirinya dari wajah Sona. Dan yang dia dapati adalah wajah Sona yang saat ini tengah memerah sepenuhnya.
"T-tidak tunggu... entah kenapa aku menjadi malu hanya mendengarnya saja," Sona dengan tergagap mengatakan itu sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dengan tangannya.
"B-bodoh, jangan berkata begitu, aku juga jadi malu kalau ingat apa yang barusan aku katakan!" sontak Naruto juga ikutan panik melihat Sona yang masih sibuk menyembunyikan wajahnya.
"Uwaaahhh... inikah yang di sebut dengan hubungan antar kekasih?"
Dari balik salah satu rak buku tampak Tomoe dan Ruruko yang mengintip dengan wajah yang sepenuhnya merah. Dia sebenarnya menutup matanya dengan tangan tapi antara jari telunjuk dan jari tengahnya terbuka sehingga itu sama saja dengan tidak menutup mata.
"Melihatnya saja aku jadi merasa panas,"
Naruto dan Sona yang mendapati bahwa mereka tidak hanya sendiri di perpustakaan sontak tidak dapat menahan rasa malunya.
"T-tunggu... jangan katakan kalau kalian berada di sana dari tadi," Sona yang panik bertanya pada kedua orang gadis itu. dan kedua gadis itupun juga tampak panik saat Sona bertanya demikian.
"Ah...itu...anu...kami tidak lihat apa-apa SUNGGUH!" mereka langsung berlari setelah mengatakan itu dan di kejar oleh Sona yang berteriak "Tunggu!".
Melihat itu Naruto hanya mampu tersenyum kecut. Lalu kembali mengalihkan pada dokumen yang tadi dia sembunyikan saat Sona masuk.
"Setidaknya sesuai dengan rencana, heh,"
.
-o0o-
.
Saat ini Sona dan peeragenya tengah berkumpul di sebuah ruangan untuk menentukan strategi apa yang akan dia gunakan untuk rating game melawan Rias.
Ya rating game itu adalah usulan dari Serafall guna menunjukkan kemampuan dari para iblis muda milik Rias dan Sona. Dan pemenangnya akan di turuti permintaannya.
Dalam kasus ini Sona ingin meminta legalisasi akan sekolah yang dia impikan.
Jadi satu-satunya jalan adalah menang. Namun kata-kata dari Naruto tiba-tiba membuat Sona membisu.
"Mustahil,"
"T-tunggu, apa maksudmu dengan mustahil!?" Sona meninggikan suaranya ketika mendengar perkataan dari Naruto barusan.
"Dilihat dari mana pun itu mustahil, seperti yang kalian tahu... kekuatan dari peerage Gremory-senpai merupakan tipe penyerang dengan kekuatan yang gila, memang benar kalau kita memiliki sejenis sacred gear seperti milik Shinra-senpai, tapi tidak mungkin jika itu digunakan untuk menghadapi semuanya,"
Memang apa yang dikatakan oleh Naruto itu benar, tapi bukan berarti peerage Sona lemah melainkan jika di bilang kemungkinan menang itu mustahil.
"Jadi maksudmu kita itu lemah, begitu hah!"
Saji yang merasa emosi langsung maju ke arah Naruto dan meraih kerah pemuda itu.
"Aku tidak pernah bilang begitu, tapi ini adalah apa yang aku nilai selama ini,"
"Tunggu... dari tadi kau mengatakan 'kita' dan 'kita', sebenarnya apa maksudmu?" Sona yang merasa janggal dengan kata itu dari tadi mencoba bertanya.
"Oh, itu... karena aku akan ikut berpartisipasi sebagai peeragemu," ujar Naruto dengan sebuah seringai jahil. Sambil menunjukkan sebuah Evil Piece hitam yang terselip di jarinya.
"Bukankah itu...?"
"Yup, Evil Piece khusus yang hanya bisa digunakan olehku, sebuah Master Piece,"
Seluruh penghuni ruangan itu memandang tak percaya pada apa yang dipegang oleh Naruto. "Tapi meskipun aku bergabung, itu tidak akan menambah begitu besar dampak pada kemungkinan kita menang,"
"Apa maksudmu?"
"Karena jika aku berada di mode iblis, maka aku tidak akan pernah bisa menggunakan Imagine Breaker,"
"EHH!"
Terkejut. Tentu saja mereka terkejut, pasalnya adalah kekuatan utama dari Naruto adalah Imagine Breaker yang memiliki kekebalan mutlak akan segala jenis serangan supranatural entah itu sihir, jampi-jampi, atau bahkan santet sekalipun.
"Kalau begitu apa gunanya kau masuk peerage kaichou?" tanya saji dengan polos.
"Aku memang tidak bisa menggunakan Imagine Breaker, namun aku tidak pernah bilang jika aku tidak dapat bertaru, terlebih lagi aku punya sesuatu yang lebih penting,"
"Dan apa itu?"
"Aku punya sebuah rencana,"
.
-o0o-
.
Di sebuah bangunan, atau lebih tepatnya sebuah dimensi khusus yang berisikan sebuah pusat perbelanjaan lengkap beserta pekarangan dan tempat parkir.
Tempat itu adalah lokasi di mana Sona dan Rias melakukan rating game, dari kedua kubu pertama-tama bertemu di pusat mall itu. lebih tepatnya di tengah-tengah gedung, di mana tempat itu berisikan sebuah pohon natal besar yang menghiasi ruangan itu.
"Baiklah, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk melihat siapa yang lebih kuat, bukan begitu Sona?" Ujar Rias dengan percaya diri.
"Seperti yang kau katakan, tidak peduli apa pun yang terjadi kami akan menang," sona membalasnya dengan ringan sembari menaikkan kacamatanya yang melorot.
"Kalau begitu berusahalah lebih keras, karena kami tidak akan memberikan perlawanan mudah,"
"Oh iya, sepertinya aku perlu memperkenalkan keluarga baruku di sini," mendengar itu Rias dan seluruh peeragenya bingung dan kaget secara bersamaan, pasalnya kemarin saat pertemuan iblis muda dia masih dengan peeragenya yang biasa, dan tidak ada tanda-tanda atau bahkan terlihat calon dari peerage yang dimaksud.
"Tunggu, sejak kapan kau memiliki keluarga baru?"
"Kalau tidak salah sekitar satu jam yang lalu, baiklah perkenalkan dirimu,"
Dari balik pohon natal itu, sosok yang dibicarakan muncul masih dalam balutan seragam kuoh, namun dengan tambahan semacam ikat pinggang yang mengikat satu buah katana di pinggang kirinya dan satu buah Tachi di belakang pinggangnya.
"NARUTO!?"
"Yup, Uzumaki Naruto, siap melayani Anda," dengan gaya khas seorang butler, dia membungkuk dan menunjukkan satu buah sayap iblis di punggung kanannya.
"Nii-san menjadi iblis? Sayapnya?" Asia sontak berujar dengan kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tunggu, apa maksudnya ini, Sona? Bagaimana mungkin Uzumaki-kun bisa menjadi iblis?"
"Ini juga merupakan bagian dari penelitian Ajuka-sama, jadi aku tidak dapat menolaknya,"
Rias sudah kehabisan kata-kata.
"Yah, mau bagaimana lagi. Lagi pula di mana pun ada Naruto di situ pasti ada Sona, karena kalian memang pada dasarnya satu paket, maka aku tidak akan protes," ujar Rias dengan acuh sambil mengangkat kedua bahunya.
"Hoy jangan berbicara seolah kalau kami ini adalah satu porsi burger yang di mana ada burger di situ ada kentang goreng, kenapa!" sungut naruto yang tersinggung, pasalnya nada bicara dari Rias itu seakan-akan mengatakan jika dirinya dan Sona itu seperti satu paket Fast Food.
"Bukannya memang terlihat seperti itu dari dulu?"
"Itu..." Naruto terlihat seperti mau protes lagi namun dia tidak tahu apa yang mau dia proteskan, dan langsung memandang Sona meminta pendapat. "...Memang kita seperti itu ya?"
"Kenapa kau mau saja di bodohi seperti itu, bego! Jelas-jelas dia sedang mengejekmu,"
"Masa sih. Hmm... untung saja aku nggak ngerasa sedang di ejek,"
"Dari pada membahas masalah kecil seperti ini, bukankah lebih baik kalau kita mulai saja pertarungannya? Aku jadi merasa tidak enak dengan orang-orang yang sedang menonton kita," usul Rias.
"Kurasa kau benar, kalau begitu sampai jumpa lagi, di medan perang,"
Mereka berdua berjalan ke arah yang berbeda. Sona dan keluarganya masuk ke dalam bagian mall. Sedangkan Rias dan keluarganya keluar dari pintu masuk.
.
"Baiklah, Saya Grayfia Lucifuge akan berperan sebagai pemandu yang akan memberitahukan segala kejadian yang ada pada rating game kali ini," seperti biasa Grayfia tetap bertindak sebagai host yang akan memberitahukan segala perkembangan dari rating game ini.
Sona dan keluarganya sudah berkumpul melingkar di salah satu ruang yang di tunjukan sebagai ruang staff milik pusat perbelanjaan itu dalam bentuk melingkar saat mendengar pengumuman itu.
Sedangkan Rias saat ini berada di tempat parkir dengan seluruh peeragenya yang sudah siap dengan senjata masing-masing.
"Rating game antara Rias Gremory-sama beserta keluarganya melawan Sona Sitri-sama beserta keluarganya, secara resmi DIMULAI!"
Mendengar notifikasi atau pemberitahuan dari sang pelayan khusus sekaligus istri dari raja iblis Lucifer itu, kedua kubu langsung menjalankan strategi masing-masing.
"Baiklah, sekarang waktunya kita menjalankan Operasinya. Tidak ada ampun, lakukan sesuai rencana, gunakan kepalamu untuk mengalahkan otot, dan tukar harga dirimu dengan pertunjukan yang spektakuler," bukan Sona yang mengucapkan itu melainkan Naruto.
Untuk sekilas, dan hanya sekilas. Mata Naruto berubah menjadi silver saat seringainya keluar, tapi langsung berubah kembali menjadi biru dalam waktu yang singkat.
"Sitri Project, Dimulai!"
.
.
To Be Continue...
.
Cihao... apa kabar SEMUANYAA! Oke aku tahu, aku dapat mendengar protes dari kalian yang berteriak.
"SUDAH LUMUTAN KAMPRET!"
Maaf karena updatenya lama-lama, aku tidak akan beralasan apapun karena update lama. Dan aku hanya dapat menebus permintaan maafku dengan update-an kali ini. Semoga saja kalian puas, meskipun jumlah katanyaq tidak terlalu banyak.
Untuk kali ini seperti yang aku bilang kemarin, fic ini sudah berada di ujung-ujung masa tamatnya. Dan untuk arc iniadalah yang terpanjang, mungkin.
Mungkin ada beberapa dari kalian yang protes akan kenapa naruto berubah jadi iblis, tapi sayangnya aku tidak dapat membahas masalah itu, jadi biarlah cerita ini mengalir apa adanya. Aku juga melakukan beberapa revisi pada kerangka yang sudah aku buat. Dengan menambahkan beberapa scene dan juga memasukan beberapa Ova di penghujung Arc.
Dan kemarin, ada satu reader yang mengatakan jika naruto jadi sedikit aneh, hmm... aneh ya? Alasan kenapa sifat naruto sedikit-demi sedikit berubah adalah perkembangannya dari seorang berandalan penyendiri menjadi berandalan berkomplotan. Kok kedengaran kampret sekali ya?
Maksudku setiap orang pastinya akan berubah tergantung lingkungan dimana dia berada. Karena itulah pelajaran hidup yang aku pelajari menurut pengalaman.(ciee... curhat #Plak!)
Jujur rasanya agak aneh kalau aku yang sudah lama gak tulis tulis kayak begini, apa ada yang ngerasa perbedaan tulisanku dari yang dulu dengan yang sekarang?
Okeh... kita bahas lain kali saja masalah itu... sekarang lanjut ke balasan fo my beloved guest :v
rEd EviL : Entah kenapa aku serasa gak bisa ngebantah akan hal itu :v
aaaku : tenang jika tubuh ente beneran lumutan, maka aku dengan senang hati meminjamkan pencukur jenggot bapak gua. :v
asd : Roger..
aaaku : iri review wnte yang kedua yang berada di urutan 12 pertama.
Guest : yup dia yang dulu bukanlah dia yang sekarang. :v
Guest : thanks atas sarannya dan pendapatnya. Sepertinya ane mengerti dengan apa yang ente maksud, mungkin ini karena ane kurang dalam hal kosa kata. Sehingga respon dan narasi tetap seperti itu. namun sepertinya sudah aku perbaiki di chapter ini, jadi aku mengharapkan pendapat Anda lainnya di chapter ini. Thanks atas kontribusinya (y)
TsukiNoCandra : kog geli ya... hm... tolong di biasakan saja ya, karena naruto itu sedikit-demi sedikit berubah, jadi agak cerewet jadi mohon di maklumi. Penyebabnya seperti yang saya utarakan di atas.
Hehehehe : thanks...
Im : Bang/Mbak jangan ganas-ganas sama keyboadnya nanti rusak kayak punya ane. Tapi ini akan lanjut terus sekalipun agak ya... lama.
my lord : Sudah aku bilang jangan terlalu berharap banyak pada jomblo veteran semacam aku ini jika bikin adegan romance. Tapi akan aku usahakan. Dan tentunya senormal mungkin.
HIGH CLASS OTAKU : ini satu anak kok tetap tanya lemon seh, aku kagak bisa bikin romance. Atau setidaknya tidak untuk fic ini. Mungkin di lain fic atau ova yang berada di judul yang berbeda.
Baniwae : Roger...
.
Ada yang ngerasa jika fic ini lama-kelamaan jadi terasa jadi Fic Shoujo? Entah kenapa mencoba bikin adegan Fluffy rasanya kog jadi kayak bagaimana begitu ya :v
Au ah gelap. Okeh... biarkan ane istirahat dulu sekarang, baru pulang kerja langsung nerusin fic ini dan di update, rasanya bahu pegel semua. Sampai jumpa di chapter depan dan tentunya dengan adegan-adegan fight yang sudah sekian lama aku simpan. Jadi di tunggu saja.
.
DiwarX di sini Undur diri.
.
Keep Kalm And Find Your Talent.
.
