A/N: Yo, Reader-san. Apa kabar? Ehem, untuk pertemuan (?) pertama ini, Kuroki cuma mau ngasih tahu kalau 95% isi chapter 21 ini pakai sudut pandang Minana. Jangan khawatir. Cuma chapter ini aja, kok. Chapter besok-besok udah nggak pakai sudut pandang Minana lagi. Err, mungkin '-'
Oke, selamat membaca. Kita akan bertemu (?) lagi di bawah :3


-Minana's POV-

Beberapa saat yang lalu, aku masih punya semangat untuk melanjutkan kehidupan ini. Sekalipun aku mewarisi 'kutukan' —hukum karma karena telah pergi ke masa lalu— dari Minana Besar, bukan berarti aku harus menyerah hanya karena persentase untuk mewujudkan tujuanku adalah 1%. Juga, walau harus berakhir dengan kematian, itu bukanlah masalah selama orang-orang yang kusayang bisa selamat dari perang ini.

Tapi ... keputusasaan itu datang begitu saja. Keputusasaan itu datang tanpa diundang.

Dia membanting kepala Tou-chan ke tanah seolah-olah sedang membanting kelapa. Gara-gara dia, darah mengalir deras dari kepala belakang Tou-chan. Tubuhku mematung saat melihat Tou-chan yang terbujur kaku di atas tanah. Pikiranku menjadi tidak karuan.

Saat Kau memakai kalung yang kotor, apa Kau bisa memastikan bahwa dirimu tidak akan ikut kotor?

Tou-chan itu manusia. Sekalipun dia adalah shinobi yang mendapat gelar Yondaime Hokage, Tou-chan tetaplah manusia. Walau nyawa Tou-chan bisa di selamatkan, dengan benturan sekeras itu, sangat memungkinkan kalau ia akan mengalami cedera otak berat.

"MINATOOOO!"

Tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap. Tubuhku terasa ringan, seperti mengambang di ruangan yang hampa. Hal terakhir yang kuingat adalah teriakan Kaa-chan yang sangat memilukan.


..

Rated: T

Genre: Adventure, Hurt/Comfort

Warning: OC, Death Character, Naruto/Bleach Fusion

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo

Main Chara: Namikaze Minana (OC), Lucky (OC), Namikaze Naruto

Pembuat fic: Kuroki

..


Chapter 21: Paradoks

.

Selalu berpikir negatif, mencurigai semua orang, dan mudah menyerah jika menghadapi jalan buntu. Itulah beberapa sifat asli diriku yang sebenarnya. Walau kami saudara kembar, tapi sifat kami sangat bertolak belakang. Bahkan penampilan kami sangat berbeda. Jika Naru-nii-chan adalah cahaya, aku adalah kegelapan. Jika Naru-nii-chan adalah sisi baik, aku adalah sisi jahat. Lalu, jika Naru-nii-chan adalah putih, maka aku adalah hitam.

Aku pikir, aku bisa menjadi seperti Naru-nii-chan yang selalu optimis, suka menolong orang lain, dan tidak pernah menyerah. Selama ini, aku selalu menolak cara hidup dan pola pikir Minana (5). Namun aku salah. Tidak peduli betapa aku ingin mengikuti jejak Naru-nii-chan, pada akhirnya, sifat asli dari manusia bernama Minana akan muncul ... seperti sekarang. Pola pikir Minana (5) yang dulu kutolak setengah mati, kini aku sadar kalau cara 'ia' memperlakukan semua hal adalah benar.

Aku mencoba bersikap ceria seperti Naru-nii-chan. Aku mencoba tidak menyerah seperti Naru-nii-chan. Bahkan jika situasi tidak memihakku, aku mencoba menyelamatkan semuanya dan mempertahankan prinsip tersebut. Namun saat melihat Yukki yang membanting Tou-chan hingga kepalanya bocor, aku merasa semua yang ada di hatiku ikut hancur. Saat kau sayang pada seseorang, aku tidak menyangka kalau rasa sakit yang menantiku akan terasa sesakit ini.

Kakek buyutku a.k.a Namikaze Yukki berniat untuk mewujudkan ambisiku untuk menyelamatkan Tou-chan, Kaa-chan, Naru-nii-chan, dan Lucky. Karena itu, aku tahu kalau Yukki tidak akan membunuh Tou-chan. Ada beberapa alasan —yang bisa kutebak— kenapa ia melakukan hal itu pada Tou-chan.
Pertama, Tou-chan adalah orang yang menyegel ET-Kinkaku dan ET-Ginkaku. Tou-chan pasti menambah tanda hiraishin pada segel tersebut.
Kedua, Tou-chan memasang tanda hiraishin pada segel di perut Kaa-chan. Saat persalinan Kaa-chan 16 tahun 11 bulan lalu, Tou-chan memasang tanda hiraishin agar ia bisa menemukan Kaa-chan jikalau Kaa-chan diculik.
Ketiga, Yukki berniat untuk membawa Kaa-chan atau ET-Kinkaku dan ET-Ginkaku. Siapapun yang dibawa, ia harus melakukan sesuatu pada Tou-chan agar tidak mengikutinya.
Lalu terakhir, Tou-chan berniat untuk menyelamatkanku dari takdir kematian. Sebagai peringatan karena mencoba menyelamatkanku, Yukki membuat Tou-chan setengah mati. Tidak, lebih tepatnya 90% mati.

Tou-chan, Kaa-chan, Naru-nii-chan, dan Lucky. Sama sepertiku yang menganggap mereka sebagai orang-orang paling berharga, mereka juga menganggapku sebagai seseorang yang tidak tergantikan. Sama halnya denganku, mereka berempat tidak akan diam saja jika sesuatu yang buruk terjadi padaku. Aku sangat senang dengan perasaan mereka yang ingin melindungiku, tapi di saat yang sama, aku juga takut. Aku tidak mau Kaa-chan, Naru-nii-chan, dan Lucky mengalami hal yang sama seperti Tou-chan.

Aku adalah seseorang yang 'pernah' melakukan time travel. Tujuan awalku kembali ke masa lalu adalah untuk menyelamatkan Naru-nii-chan. Namun karena saat itu aku kembali ke zaman saat Tou-chan dan Kaa-chan masih anak-anak, kupikir sekalian saja menyelamatkan Tou-chan dan Kaa-chan. Tapi, karena aku mewarisi kutukan dari Minana (5), sepertinya keluargaku tidak akan bisa menyelamatkanku. Dan aku juga tidak akan bisa menyelamatkan mereka.

Itulah faktanya. Dan jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku masih belum bisa menerima fakta tersebut.

Aku benar-benar benci dengan takdirku ini! Aku muak dengan semuanya, dengan dunia ini! Kenapa gadis kecil sepertiku harus mengalami semua ini?! Kenapa aku ditakdirkan untuk melihat kematian keluargaku?! Atau kenapa aku ditakdirkan mati di tangan keluargaku sendiri?! Ini sangat tidak adil! Kenapa, dattebane?!

Jika di dunia ini ada yang namanya Kami-sama, sepertinya Kami-sama sudah tidak waras. Bisa-bisanya Dia 'menyuruh' shinigami untuk menyamakan alur masa kini dengan alur masa depan. Dia tidak memberiku kesempatan untuk menang melawan takdir.

"Aku lelah."

Benar, aku lelah. Aku lelah hidup di dunia di mana diriku tidak bisa hidup bahagia bersama keluargaku. Aku muak dengan Dunia/Kami-sama yang 'mengucilkanku' hanya karena diriku yang sebelumnya pernah melakukan time travel. Jika takdir membuat keluargaku mati di perang ini lagi, sekalian saja aku hancurkan semuanya dan memulainya lagi dari awal.

Yah, sebenci apapun aku pada dunia ini, sekalipun aku ingin menghancurkan semuanya, tapi aku terlalu lelah. Tubuhku terasa lemas sekali. Lalu, mataku terasa berat. Aku...

"Minana-chan, sadarlah!"

Di tempat gelap dan sunyi ini, tiba-tiba aku mendengar suara Lucky. Huff, bisa-bisanya aku memikirkan dirinya yang sedang memanggilku.

"Buka matamu, Minana-chan!"

"Kau ini ngomong apa, Luck? Walau terkantuk-kantuk, aku masih berusaha untuk terjaga, dattebane," ujarku spontan membalas perkataannya.

Hmph, apa aku mulai gila? Di tempat gelap ini, sempat-sempatnya aku bermonolog seperti ini. Tapi ... yah, tempat ini gelap sekali. Situasi gelap ini mengingatkanku dengan saat-saat terakhir Minana (5) yang berbicara dengan Lucky (5).

"Kau enak sekali ya, Minana (5)? Punya teman bicara di tempat gelap ini. Irinya~..."

Dalam hati, aku ingin sekali seseorang datang menolongku, mengeluarkanku dari tempat gelap dan takdir ini. Seseorang ... huh? Apa itu alasan kenapa tadi aku mendengar suara Lucky? Sebegitunya kah aku ingin diselamatkan olehnya? Diselamatkan ... oleh Paman Penguntit itu? Kenapa?

Kalau dipikir-pikir, kenapa 'aku' bisa suka padanya? Padahal di masa sebelumnya, 'aku' sama sekali tidak peduli dengannya. Malah, keberadaannya sangat mengganggu karena selalu memancing emosi dan menguntitku kemanapun 'aku' pergi. Lalu, kenapa aku —yang masih anak-anak— sangat merasa tenang saat ada di sisinya? Padahal —bisa dibilang— baru beberapa minggu aku bertemu dengannya.

"Dasar Paman Pedofil," ejekku seraya menutup mata. Yah, sekalipun aku mengejeknya, di sini, dia tidak akan mendengarnya.

DEP

Saat menutup mata, aku bisa merasakan ada seseorang yang mengenggam tanganku. Aku sama sekali tidak terkejut. Satu detik kemudian, dia mendekapku. Aku bisa merasakan tubuhnya yang hangat. Bau ini ... ini Lucky, huh? Apa aku berhalusinasi lagi?

"Akhirnya tertangkap juga!"

Perlahan aku membuka mataku. Namun, aku tidak melihat sosoknya yang sedang memelukku. Mungkin karena gelapnya tempat ini. Atau mungkin suara dan sentuhan ini hanyalah ilusi yang kubuat.

"Kenapa Kau selalu datang disaat aku berada di tempat gelap ini? Kau tidak perlu repot-repot datang ke sini. Kau juga tidak perlu repot-repot untuk menyelamatkanku lagi."

Dengan suara pelan, aku mengatakan apa yang kupikirkan sekarang. Entah yang memelukku sekarang ini benar-benar Lucky atau hanya imajinasiku, yang jelas, aku ingin mengatakan apa yang kurasakan sekarang.

Kau tahu? Jika 'seseorang' yang memelukku ini benar-benar Lucky, aku sangat senang. Aku tidak menyangka ia akan 'jauh-jauh' ke sini untuk menemaniku di tempat gelap ini. Tapi di saat yang sama, aku juga tidak ingin dia datang ke sini. Jika dia sampai repot-repot datang ke sini, itu artinya, ia masih berusaha untuk menyelamatkanku. Aku ... aku tidak mau–

"Tidak peduli dimana pun Minana-chan berada, aku akan selalu berada di sisimu. Lagipula aku ini–..."

'Suamimu?' Karena Lucky menggantung kata-katanya, mungkin dia akan berkata begitu. Apalagi belakangan ini Lucky selalu berkata demikian.

"A-aku ini pengawalmu."

'Pengawal'. Aku tidak menyangka ia akan memakai kata ini lagi. Padahal belakangan ini ia semangat sekali mengaku sebagai suamiku. Kau tahu? Lucky itu orang yang sangat jahil. Semakin dilarang, semakin menjadi-jadi. Sekalipun aku melarangnya mengaku-ngaku sebagai suamiku, Lucky pasti akan tetap mengaku sebagai suamiku. Tapi sekarang dia malah...

"Minana-chan tidak perlu cemas. Minato baik-baik saja. Aku berhasil menyembuhkan luka-lukanya tepat waktu. Jangan khawatir, dia juga tidak mengalami cedera otak atau semacamnya. Sekarang dia sedang istirahat di pos ninja medis. Kushina sedang menjaganya."

"Begitu ... ya?"

Walau hanya sedikit, tapi ada perasaan lega saat mendengar berita tersebut. Aku senang Tou-chan baik-baik saja. Karena Tou-chan baik-baik saja, kuharap ia berhenti berpikir dan bertindak untuk menyelamatkanku.

"Minana-chan tidak perlu memikirkan hal rumit soal keselamatan Minato, Kushina, Naruto-kun, dan diriku. Jangan khawatir, aku inikan pengawal Minana-chan. Aku akan melindungi Minana-chan beserta orang-orang yang ingin Minana-chan lindungi. Jadi, Minana-chan tidak perlu takut jika Minato, Kushina, dan Naruto-kun mencoba menyelamatkan Minana-chan. Mereka bertiga tidak akan kenapa-kenapa. Tentu saja, aku juga tidak akan kenapa-kenapa."

Dia terus membisikkan kata-kata itu di telingaku. Dia mencoba untuk mengembalikan semangatku. Melihat apa yang ia lakukan, rasanya aku tidak bisa menahan air mataku. Aku sangat terharu. Seharusnya... aku tidak menemuinya. Harusnya aku membiarkan Lucky tetap di Akatsuki. Dengan begitu, keberadaanku tidak akan memicu ingatannya. Jika Lucky tidak ingat tentang perasaannya pada Minana (5), ia tidak perlu menderita karena mencoba menyelamatkanku.

"'Tujuanmu kembali ke masa lalu itulah yang akan menghancurkanmu'. Itulah konsekuensi bagi mereka yang kembali ke masa lalu. Bahkan kita yang belum melakukan perjalanan ke masa lalu pun tetap kena konsekuensinya. Tapi, Minana-chan tidak perlu khawatir. Aku pasti akan menyelamatkan Minana-chan, termasuk keluarga Minana-chan. Aku janji."

Jika pada akhirnya kau terbunuh karena mencoba mewujudkan keegoisanku, lebih baik tidak usah! Kau juga keluargaku! Aku tidak mau jika keselamatanku harus mengorbankan dirimu!

Ya, itulah yang mau kukatakan. Tapi aku tidak sanggup mengatakannya.

"Jangan khawatir. Aku juga tidak akan mati. Aku janji. Apa aku pernah ingkar janji padamu?"

Kata-katanya terdengar tulus. Tanpa harus memeriksa chakra-nya, aku tahu kalau tidak ada kebohongan dalam kata-katanya. Tapi, Lucky. Tidak ada jaminan kalau rencana kita akan berhasil. Aku tidak mau kembali jika yang menunggu diakhir adalah keputusasaan. Aku–

"Sekali~ saja. Aku mohon, Minana-chan. Kita coba sekali lagi. Minana-chan cukup bertindak sesuai keinginan Minana-chan. Aku akan menyesuaikan rencana Minana-chan dengan rencanaku. Jadi, aku mohon satu kali saja coba rencananya. Jika rencana ini gagal– tidak! Akan kupastikan rencana ini berhasil!"

Aku sedikit terkejut dengan kata-katanya. Aku tidak menyangka Lucky memohon seperti ini ... memohon agar diriku tidak menyerah. Padahal ini adalah masalahku, tapi dia bertindak sejauh ini hanya demi diriku.

"Ayo kembali, Minana-chan!"

Setelah apa yang Lucky lakukan sampai sekarang, aku tidak bisa berkata 'tidak'. Karena itu, aku memutuskan untuk memendam rasa benci, sedih, putus asa, dan penyesalanku ini. Seperti yang Lucky mau, aku akan mencoba sekali lagi untuk mengubah takdir ini ... mengubah masa depan. Sekalipun hasilnya akan menyebabkan paradoks, aku tidak peduli. Setidaknya, demi dirinya yang rela melakukan semua ini untukku.

...

...

Perlahan aku membuka mataku. Kali ini, aku tidak berada di tempat gelap lagi. Ini adalah alam bawah sadarku, tempat Kuu-chan berada. Tapi, di sini tidak hanya ada Kurama. Lucky juga ada di sini. Dia duduk di depanku ... sambil menunjukkan senyumannya yang manis.

"Okaeri, Minana-chan!" seru Lucky yang masih menunjukkan senyumnya.

"Cih! Bisa-bisanya Kau terpengaruh dengan kebencian yang ada di dalam chakra-ku! Dasar payah! Dasar lemah!" gerutu Kuu-chan. Tidak biasanya dia mengejekku dengan kata-kata payah seperti itu. "Cepat kembali ke tubuhmu! Aku tidak sudi mengendalikan tubuh pendek ini dan menggantikanmu untuk mengubah masa depan!"

Kepalaku sedikit sakit. Sejujurnya, aku tidak terlalu mengerti apa yang sudah terjadi. Tapi, mau tidak mau, aku harus cepat beradaptasi dengan apa yang sudah terjadi.

"Ngomong-ngomong, kenapa Kau bisa masuk ke sini, Luck?" tanyaku sedikit penasaran. Aku tidak menyangka ia bisa masuk ke tempat di mana aku dan Kuu-chan berada ini. Seharusnya di sini hanya ada aku, Kuu-chan, dan Kuroi.

"Tentu saja dengan cin~ta~!" jawabnya tanpa malu.

"Oh, begitu," balasku sambil tersenyum. Untuk kali ini, aku akan memaklumi dan mempercayai jawabannya, sekalipun jawaban tersebut sangat tidak realistis.

"Jangan percaya begitu saja, dattebane! Harusnya Minana-chan marah-marah dan menjitakku seperti biasanya!" sanggah Lucky sambil meniru gaya bicaraku.

"Hai', hai'," balasku lembut sambil mengelus kepalanya.

Lucky pasrah saja saat ku-elus seperti ini. Sambil memalingkan pandangannya dariku, aku bisa melihat pipinya yang memerah. Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya aku melakukan hal ini tanpa mamperdulikan ego sebagai Minana. Biasanya aku akan malu kalau melakukan hal feminim ini pada laki-laki.

"Minana-chan tersenyum, mengelus, dan memanjakanku? Apa nanti akan ada hujan meteor lagi?" gumamnya yang masih melihat ke arah lain.

BUAKH

Baiklah, sudah cukup! Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya! Aku sudah susah payah menahan egoku untuk membalas kebaikannya! Mungkin senyuman dan elusan bukanlah hal sebanding untuk membalas kebaikan yang selama ini ia berikan padaku! Hanya saja ... –aarrgghh! Sebegitunyakah ia ingin kupukul sampai-sampai memancing emosiku?!

"Khekhekhe! Akhirnya dipukul juga!" seru Kuu-chan kegirangan.

Aku sweat drop melihat reaksi Kuu-chan. Bisa-bisanya dia senang saat melihat adegan kekerasan (?) ini. Padahal beberapa saat yang lalu, Kuu-chan ngomel-ngomel karena harus mengendalikan tubuhku.

Karena pukulanku tadi, Lucky menghilang. Dia mungkin kembali ke tubuh aslinya di dunia nyata. Melihat hal itu, sepertinya aku juga harus kembali.

"Terimakasih karena sudah menjaga tubuhku, Kuu-chan," ucapku tulus.

"Ternyata memang menggelikan mendengarmu tulus berterima kasih padaku," balasnya menyebalkan.

"Jangan khawatir. Nanti juga terbiasa. Kalau perlu, aku akan berterima kasih setiap 1 jam sekali agar Kuu-chan terbiasa," balasku tidak mau kalah.

"Kau mau telingaku rusak, huh?"

Aku hanya tersenyum mendengar komentarnya itu. Tunggu. Apa Kuu-chan mencoba menyemangatiku?


-Medan Perang-

Aku membuka mataku. Situasinya sangat berbeda dengan saat terakhir kali aku 'tinggalkan'. Aku tidak berada di pantai Kumogakure lagi. Sekarang, aku berada di suatu hamparan yang luas.

Aku tidak tahu sudah berapa lama 'tidak sadarkan diri'. Tapi melihat posisi bulan, sepertinya sekarang sudah lewat tengah malam.

Semua pasukan aliansi shinobi —yang tersisa— ada di tempat ini juga. Aku bisa merasakan chakra Naru-nii-chan. Syukurlah dia masih hidup. Tapi, aku tidak melihat keberadaan Naru-nii-chan. Mungkinkah dia berada jauh di baris depan? Atau ... akunya yang berada di baris belakang dan tidak ikut menyerang.

Aliansi shinobi no jutsu.

Setelah kuperhatikan, sejauh mata memandang, aku tidak melihat keberadaan Juubi. Tapi, semua shinobi melompat ke lubang berbentuk kotak yang ukurannya sangat besar. Itu artinya, Juubi ada di dalam sana. Di masa sebelumnya, saat semua orang melompat ke lubang besar dan menyiapkan jutsu terbaik mereka, Naru-nii-chan berteriak dengan semangatnya ... kalau itu adalah jutsu terhebat di dunia ini, aliansi shinobi no jutsu. Namun, karena aku memiliki ingatan Minana (5), aku tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya.

Mereka semua terhempas. Juubi berhasil merangkak dari lubang besar itu. Melihat wujud Juubi yang kurus (?), sepertinya Juubi sudah masuk fase kedua. Di masa ini, hanya Madara sendiri yang mengendalikan Juubi. Sepertinya, Yukki tidak menggantikan posisi Obito, tidak ikut mengendalikan Juubi.

Jadi Madara membangkitkan Juubi sebelum menangkap Kurama yang ada di dalam tubuhku atau tubuh Naru-nii-chan, ya?

Sama seperti di masa sebelumnya, Madara sedang berdiri di atas Juubi dan mengendalikannya. Setelah merangkak keluar, Juubi menembakkan bijuudama ke segala arah. Tidak, tepatnya bukan ke segala arah. Dia sedang mencoba membidik markas utama aliansi shinobi. Ini sama dengan di masa sebelumnya.

"Lucky."

"Serahkan padaku."

Tanpa menjelaskannya, Lucky tahu betul apa yang harus di lakukan. Di masa sebelumnya, Lucky (5) memindahkan Shikaku, Inoichi, dan Ao ke sini, ke medan perang. Tentu saja tindakan yang Lucky (5) lakukan bukan karena perintah'ku' a.k.a Minana (5). Lucky (5) melakukannya berdasarkan keinginannya sendiri. Mungkin dari sudut pandang Lucky (5), akan merugikan jika aliansi shinobi kehilangan otak strategi mereka.

Namun di masa kini, aku harus memerintahkan Lucky untuk menyelamatkan mereka bertiga. Di masa ini, sepertinya Lucky sangat fokus untuk menyelamatkanku. Bagi Lucky masa kini, keberadaan Shikaku, Inoichi, dan Ao tidak terlalu berpengaruh untuk menyelamatkanku dari takdir ini.

Seperti yang Lucky inginkan, aku tidak akan menyerah. Untuk sekali ini ... aku akan mencobanya sampai akhir.

"K-kupikir aku akan mati," gumam Shikaku saat melihat dirinya yang sudah tidak berada di markas lagi.

Aku mengabaikan komentarnya. Lalu aku menggunakan jutsu telepati untuk memberitahu keadaan 'makhluk trio' ini pada Naru-nii-chan.

"Naru-nii-chan, tenanglah. Shikaku, Inoichi, dan Ao baik-baik saja. Mereka ada di sini."

Di masa sebelumnya, Naru-nii-chan sangat panik saat mendengar kata-kata terakhir Shikaku yang mendramatis (?). Karena sekarang aku sedang tidak meminjam mata iblis, jadi aku tidak bisa memastikan reaksi Naru-nii-chan yang sekarang. Tapi, mungkin reaksinya 11-12 dengan masa sebelumnya.

"MINANAAAA, KAMU SUDAH KEMBALI, DATTEBAYOOOO?"

Naru-nii-chan berteriak sangat keras sampai-sampai aku yang berada di 'belakang' pun bisa mendengarnya. Aku sweat drop saat mendengarnya. Dibandingkan mengetahui keadaan Shikaku, Inoichi, dan Ao, ternyata Naru-nii-chan lebih senang mendengar kabarku. Yah, aku senang karena dia khawatir padaku. Hanya saja, memalukan sekali saat dia berteriak seperti itu. Apalagi, shinobi dari seluruh dunia ada di sini dan mendengarnya.

Melihat sikapnya yang tidak berubah, sepertinya Naru-nii-chan masih belum tahu kalau Minana Besar adalah aku.

"JANGAN LENGAH! FOKUS KE PERTARUNGAN, BAKA-NARUTO!" Tidak mau kalah, aku membalas perkataan Naru-nii-chan dengan berteriak juga, sekaligus mengejeknya.

Pertarungannya masih belum selesai. Setelah menembak bijuudama ke markas, Juubi mulai menyapu pasukan aliansi shinobi dengan ekornya.

"Kalau begitu, aku akan maju ke baris depan. Sekalian melindungi Naruto-kun." Sebelum aku menjawab, Lucky sudah menghilang dari sampingku.

Aku mulai bersiap-siap. Di tanganku, aku menyiapkan cangkang Kuroi a.k.a pedang hitam. Kemudian, aku juga meminjam mata iblis Kuroi. Karena mata kananku masih memakai lensa kontak, jadi hanya mata kiriku saja yang berwarna merah. Yah, bahkan jika aku melepas lensa kontak yang terpasang di mata kananku, bukan berarti mata tersebut akan berubah menjadi merah akibat mata iblis. Lalu, tak lupa meminta chakra Kuu-chan. Setelah semuanya siap, aku–

DEG

Tiba-tiba, aku mendapatkan ingatan yang tidak pernah kualami. Ini adalah ingatan dari kagebunshin-ku, kagebunshin yang menemani Orochimaru. Bukan hanya ingatan. Aku juga merasakan ... ada sesuatu ... yang lain di dalam tubuhku.


-Ingatan Kagebunshin Minana-

Entah kenapa, tidak ada banyak hal yang diingat kagebunshin-ku. Mungkin karena aku tadi hilang kesadaran? Tapi, harusnya jika aku hilang kesadaran, kagebunshin-ku akan menghilang. Apa karena Kuu-chan menggantikanku sehingga kagebunshsin-ku tidak hilang?

Yah, yang jelas, setelah Sasuke dan Itachi mengalahkan Kabuto dan menghentikan edo tensei dengan izanami, aku menghidupkan kembali Orochimaru. Setelah dihidupkan, Orochimaru mengambil semua chakra miliknya yang ada di dalam tubuh Kabuto. Entah ini hanya perasaanku saja atau bukan, tapi setelah menyerap chakra miliknya yang ada di Kabuto, aku merasa ada beberapa perubahan dalam diri Orochimaru.

Kembali ke rencana awal. Setelah menghidupkan Orochimaru, selanjutnya adalah menghancurkan segel shiki fujin untuk membebaskan 'tangan' Orochimaru. Tak lupa mengirim Sasuke dan Itachi kembali ke medan perang.

...

...

Dengan hiraishin level 4, kami semua (kagebunshin Minana, kagebunshin Lucky, Orochimaru, Hidan, Karin, Suigetsu, dan Juugo) bisa pergi ke Konoha dalam waktu sepersekian detik. Kami sekarang berdiri di kuil kecil Klan Uzumaki yang ada di pinggiran Desa Konoha. Di masa sebelumnya, kuil ini sudah rusak a.k.a hancur, namun di masa sekarang, kuilnya masih terawat. Yah, wajar saja. Setiap sebulan sekali, Kaa-chan, aku, dan Naru-nii-chan datang ke sini untuk bersih-bersih dan sebagainya. Ya, itu sebelum aku menghilang ke dimensi lain. Sejak kembali dari dimensi lainpun, aku sibuk dengan urusanku sendiri. Melihat tempat ini yang masih terawat, mungkin hanya Kaa-chan yang membersihkan.

Kami semua masuk ke kuil itu. Setelah masuk, kami 'disambut' oleh 27 topeng 'dewa kematian' yang terpajang di dinding. Untuk melepas segel shiki fujin, kami harus menemukan satu topeng asli diantara topeng dewa kematian ini. Karena Yukki sudah memberitahuku posisi dimana topeng yang asli, maka semua ini akan cepat selesai.

Semua 'bahan' telah terkumpul. Aku menjelaskan pada Orochimaru bagaimana cara menghancurkan segel shiki fujin. Orochimaru mengangguk mengerti. Lalu, ia melakukannya sesuai penjelasan.

Saat merobek perut sang 'dewa kematian', perut Orochimaru juga ikut robek. Satu detik kemudian, dari perut 'dewa kematian', keluar sesuatu yang menyerupai 'api biru'. Ada 4 'api biru'. Salah satunya langsung masuk ke dalam tubuh Orochimaru. Sedangkan sisanya melayang di depan kami. Mungkin ini adalah inti jiwa para kage yang pernah tersegel di perut shiki fujin. Apakah mereka tidak berwujud manusia karena sudah lama di dalam perut shiki fujin?

"Kembali! Akhirnya tanganku kembali!" seru Orochimaru yang kegirangan (?).

Setelah menghancurkan segelnya, dengan hiraishin level 4, aku dan Lucky memindahkan 6 dari 9 Zetsu Putih yang kami sembunyikan ke sini. Satu Zetsu Putih dipakai Orochimaru sebagai pengganti tubuhnya yang telah 'rusak' karena ritual sebelumnya, sedangkan sisanya dipakai sebagai tumbal edo tensei.

"Sekalian edo tensei ini juga!" pinta kagebunshin Lucky seraya mengeluarkan 2 tabung reaksi yang berisi darah. Dua darah itu pemberian dari diri kami yang asli.

"Baiklah," jawab Orochimaru.

Belum ada tanda-tanda Orochimaru akan berkhianat. Sesuai perintah, Orochimaru meng-edo tensei 5 manusia. Tiga diantaranya adalah para hokage terdahulu. Sedangkan sisanya...

"Eh?"

"Apa-apaan makhluk itu?! Itu manusia?!" respon Hidan dan Suigetsu yang terkejut saat melihat salah satu dari 2 orang tambahan yang kami bangkitkan.

Tidak hanya mereka berdua. Aku dan —mungkin— yang lainnya juga sangat terkejut melihat seseorang yang berada di sebelah Kyo-sensei. Ya, orang yang ada di sebelah Kyo-sensei. Disebut manusia, tapi dia tidak terlihat seperti manusia. Pasalnya, di kepalanya ada sesuatu yang menyerupai tanduk —atau mungkin memang tanduk—. Lalu, di tengah keningnya ada mata yang mirip sharingan. Dan kedua matanya itu ... rinnegan?

"Calon Murid, cepat sini!" suruh Kyo-sensei seraya memberi tanda untuk segera mendekatinya.

'Calon Murid' yang ia maksud itu adalah aku. Namun entah kenapa, aku agak ragu mendekatinya. Kakek-kakek yang di sebelah Kyo-sensei itu benar-benar aneh. Walau mukanya banyak keriput, tapi kakek itu punya rinnegan yang sama seperti Nagato. Mungkinkah dia ...

"Aku sudah susah-susah membujuk manusia purba ini ke sini! Kau juga tahu kalau kita kehabisan waktu! Jadi, cepatlah kemari dan tidak usah banyak cingcong (baca: ngomel, ngomong, atau bicara)!" Seraya mengatakan hal itu, Kyo-sensei menarik tangan kiriku. Padahal sejak tadi aku hanya diam saja. Aku tidak 'banyak cingcong' seperti yang dia tuduhkan itu.

Lalu, Kyo-sensei membuat kakek itu menyentuh telapak tangan kiriku. Satu detik kemudian, aku merasa ada sesuatu yang berbeda dariku. Seperti ... ada kekuatan yang mengalir ke dalam tubuhku.

"Baiklah, sudah cukup! Sekarang, kembalilah ke tubuh aslimu!"

BUGH

Tanpa merasa bersalah, Kyo-sensei memukul (kagebunshin)ku, membuat (kagebunshin)ku kembali ke tubuh asliku. Apapun yang dialami kagebunshin, akan kembali ke tubuh aslinya, termasuk kekuatan yang baru didapatkan ini.


-Kembali ke Waktu Sekarang-

Kyo-sensei bilang kalau kakek itu adalah manusia purba. Lalu melihat rinnegan-nya, apa mungkin dia Rikudou Sennin? Jadi, rencana yang Kyo-sensei persiapkan adalah membawa Rikudou Sennin ke dunia ini? Dengan kekuatan yang diberikan Rikudou Sennin, apakah Kyo-sensei berharap aku bisa mengalahkan Madara?

Saat melihat telapak tangan kiriku, ada simbol bulan sabit berwarna hitam. Padahal beberapa detik lalu, simbol itu tidak ada. Apakah ini bukti bahwa Rikudou Sennin memberikan kekuatannya padaku?

"Yah, terserah," gumamku tidak peduli.

Aku memfokuskan konsentrasiku pada pedang hitam yang ada di tanganku. Setelah konsentrasiku terfokuskan, aku mengucapkan, "Bankai!"

Satu detik kemudian, aku tidak bisa merasakan tubuhku. Kakiku juga tidak menapak tanah lagi. Seluruh tubuhku di selimuti oleh kekuatan Kuroi. Mungkin apa yang kurasakan ini adalah apa yang Kuroi rasakan selama ini. Tidak bisa menyentuh apapun, merasakan apapun, bernapas, ataupun makan dan minum. Tidak pernah terbayang olehku bagaimana Kuroi menjalani kehidupan seperti itu selama ratusa– atau mungkin ribuan tahun.

Dalam wujud bankai, penampilan dan pakaianku berubah drastis. Jika sebelumnya memakai jaket hitam, celana panjang hitam, dan syal hitam, kali ini, aku memakai memakai mantel musim dingin berwarna putih dan syalku berubah menjadi warna putih. Rambut merahku juga ikut berubah menjadi putih.

Ini ... sedikit aneh. Kuroi bilang, kalau bankai seseorang akan menyerupai makhluk besar atau memberi efek yang memiliki karakteristik serupa dengan jiwa zanpakutou. Kuroi adalah naga hitam. Jadi, kenapa penampilanku sangat kontras dengan wujud Kuroi?

Tidak seperti sebelumnya. Saat menggunakan bankai, aku sudah menyelimuti tubuhku dengan chakra Kuu-chan. Namun, chakra oranye tersebut tidak terlihat. Hanya 3 garis di pipiku yang menjadi bukti bahwa aku sedang memakai chakra Kuu-chan.

"Yah, mungkin ini sedikit lebih cepat daripada yang di masa depan. Tapi, harusnya tidak masalah jika hasil akhirnya sama, kan?" gumamku berbicara sendiri.

Satu detik kemudian, aku terbang ke arah Juubi. Saat sampai di baris depan, aku memotong ekor Juubi yang menyerang Naru-nii-chan dan pasukan aliansi shinobi.

Namun, Madara tidak diam saja saat aku melakukan hal tersebut. Di sekitar mulut Juubi, terkumpul chakra dengan tingkat kepadatan yang tinggi. Tidak salah lagi, itu adalah bijuudama. Lalu, satu detik kemudian, Juubi menembak bijuudama itu padaku.

Melihat hal itu, aku segera terbang ke arah bijuudama tersebut. Untuk melenyapkan bijuudama sebesar ini, aku harus memperbesar ruang lingkup 'pelenyapan'ku. Karena itu, aku terbang sedikit ke atas untuk menyesuaikan sudut dari ninjutsu yang akan kugunakan dengan ukuran dan kecepatan bijuudama.

"Suiton: Dai Bakusui Shoha!"

Aku memuntahkan air dalam jumlah yang besar. Karena aku berada sedikit di atas, air tersebut langsung 'menghapus bersih' bijuudama. Jika aku tidak menggunakan bankai, air tersebut pasti sudah membentuk kubah air yang besar.

Dalam wujud bankai, semua ninjutsu-ku tidak punya daya serang. Semua ninjutsu-ku jadi seperti tubuh Kuroi yang bisa menembus apapun. Mau menggunakan rasen shuriken ataupun chidori, jutsu-jutsu tersebut sama sekali tidak akan melukai musuh. Karena hal itu, 'suiton: dai bakusui shoha'-ku tidak membanjiri medan perang. Air tersebut langsung menembus tanah.

Selesai melenyapkan bijuudama-nya, aku kembali terbang ke arah Juubi. Namun satu detik kemudian, Madara melompat ke arahku. Sepertinya dia memutuskan untuk mengeksekusiku secara langsung.

Madara mengaktifkan susano'o-nya. Melihat ukurannya yang sangat besar, serta bentuknya menyerupai manusia, sudah pasti kalau itu adalah susano'o dalam wujud sempurna.

Walau begitu, aku terus maju. Aku sama sekali tidak menghiraukan Madara. Saat ia menyerang, tubuhku hanya menembus dirinya. Serangannya sama sekali tidak mengenaiku.

Tanpa terasa, aku sudah melayang di dekat Juubi. Lebih tepatnya, aku melayang di depan perutnya. Saat aku ingin menusuk perut (?) Juubi, Madara menyerangku dari belakang. Tapi, aku sama sekali tidak menghiraukan serangannya. Lagipula, serangan tersebut hanya akan lenyap atau menembus diriku.

Lalu, tanpa berpikir dua kali, aku menusuk perut Juubi. Juubi adalah gabungan dari 9 bijuu. Untuk membangkitkan Juubi, kau harus memasukkan 9 bijuu ke dalam gedomazo. Itu artinya, gedomazo adalah wadah yang dipakai untuk menampung 9 bijuu. Jika harus diumpamakan dengan singkat, gedomazo adalah jinchuuriki, sedangkan 9 bijuu adalah bijuu-nya. Jadi, jika aku ingin mengeluarkan para bijuu, aku hanya perlu menusuk perut Juubi seperti yang Minana (5) lakukan pada Jinchuuriki-Madara di masa sebelumnya.

Tidak ada hambatan sedikitpun saat aku melakukannya. Satu detik kemudian, semua bijuu berhasil keluar. Yang tersisa dari Juubi hanyalah cangkangnya (baca: gedomazo). Aku melepas bankai dan menonaktifkan chakra Kuu-chan. Pedang hitamnya ikut menghilang. Lalu, kuambil chakra Gyuuki (baca: Hachibi) dan Kuu-chan yang melayang di udara. Karena jumlahnya tidak sampai 1%, chakra Gyuuki dan Kurama hanya berbentuk asap coklat dan oranye.

Shukaku, Matatabi, Isobu, Song Goku, Kokuo, Saiken, dan Choumei. Ketujuh bijuu itu sekarang berada ratusan meter dari tempat Juubi tadi berada. Tapi, bagi para bijuu, ratusan meter itu paling hanya terasa 1 atau 2 meter jika dihitung dalam ukuran manusia. Dengan meniru jutsu terbang Tsuchikage, aku sekarang berdiri di atas kepala Shukaku.

"Aku minta sedikit chakra-mu, ya?" ujarku seraya mengambil chakra Shukaku. Aku tidak peduli jika ia menjawab 'tidak'. Yang penting, aku sudah izin.

"Apa-apaan Kau seenaknya mengambil chakra-ku?!" teriak Shukaku sambil menepuk kepalanya.

Beruntung aku bisa menghindarinya dengan berdiri di sela-sela jari.

"Aku tidak seenaknya. Aku sudah izin, dattebane," jawabku polos.

Setelah mengambil sedikit chakra Shukaku, dengan meniru jutsu terbang milik Tsuchikage ketiga, aku bermaksud untuk pergi ke tempat Naru-nii-chan. Namun, saat terbang beberapa meter, Shukaku menangkapku. Jari-jari besarnya menarik syalku, seolah-olah sedang memegang kantung keresek berisi belanjaan.

Jika memang mau pergi ke tempat Naru-nii-chan, harusnya aku memakai hiraishin. Tapi nyatanya tidak. Aku juga tidak menghindar saat Shukaku hendak menangkapku. Dalam hati, sebenarnya aku ingin berbicara dengan bijuu-bijuu ini. Di masa sebelumnya, Minana (5) terlihat nyaman saat berbicara dengan mereka. Tidak seperti manusia, bijuu itu tidak munafik. Jika benci atau tidak suka pada seseorang (manusia), bijuu akan terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka.

"Lepaskan aku! Dasar Karung Pasir!" teriakku sambil meronta-ronta seperti anak kecil.

Aku spontan memanggil Shukaku 'karung pasir'. Habisnya, tubuhnya bulat dan terbuat (?) dari pasir. Apakah sifat jahil Lucky sudah sepenuhnya meracuni pikiranku?

"Sudah mengambil chakra-ku, sekarang malah mengejekku?! Dasar bocah tidak tahu diri!" geram Shukaku.

"Hahaha! Bagus sekali, Minana!" Kuu-chan malah kesenangan. Hal itu terlihat jelas dari gelak tawanya yang menyakitkan telingaku (?).

"Kagebunshin no jutsu," ujarku malas seraya melakukan sebuah handseal.

BOFF

Satu tiruan muncul di depanku. Tidak sepertiku, dia (baca: kagebunshin Minana) tidak di 'gantung'. Satu detik kemudian, kagebunshin-ku menghilang. Tanpa kuberitahu sekalipun, 'dia' harusnya tahu apa yang harus dilakukan.

"Apa yang Kau rencanakan?!" tanya Shukaku saat melihat kagebunshin-ku pergi.

"Matatabi, Isobu, Son, Kokuo, Saiken, dan Choumei sudah memberikan sedikit chakra mereka pada Naru-nii-chan. Hanya Kau dan Gyuuki saja yang belum. Jadi jangan pelit."

Aku bisa melihat wajah terkejut mereka. Tapi, yah, saat Minana (5) memanggil nama Kuu-chan Masa Kini dengan nama aslinya, Kuu-chan juga menunjukkan ekspresi yang sama.

Aku bisa saja menjelaskannya. Tapi aku yakin kalau mereka tidak akan mempercayainya. Saat Minana (5) menjelaskan alasan kenapa bisa tahu nama asli Kuu-chan, Kuu-chan sendiri tidak langsung percaya. Butuh waktu lama hingga Kuu-chan mempercayai ucapan Minana (5).

"Kuu-chan, Kau saja yang menjelaskan!" suruhku seraya mengeluarkan Kuu-chan.

Mengeluarkan Kuu-chan. Itu artinya berubah ke mode bijuu. Karena hal tersebut, aku berhasil lepas dari Shukaku. Wujud Kuu-chan dalam mode bijuu sangat berbeda dengan yang ada di alam bawah sadarku. Kuu-chan terlihat seperti chakra raksasa berbentuk rubah, dengan gambar lingkaran dan garis di beberapa bagian tubuh dan ekornya. Ini sama dengan perubahan bijuu milik Tou-chan di masa sebelumnya.

Saat mengeluarkan Kuu-chan, penampilanku ikut berubah. Kali ini, ada tambahan jubahnya. Ini sama seperti penampilan Naru-nii-chan saat dalam mode bijuu.

Tapi, warnanya berbeda.

Aku baru sadar kalau warna di pakaianku berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya berwarna oranye-merah dengan simbol lingkaran-garis dan magatama berwarna hitam, kali ini warnanya dibalik. Pakaianku berwarna hitam, sedangkan simbol-simbolnya —lingkaran-garis dan magatama— berwarna oranye-merah.

Jika posisiku sekarang menggantikan posisi Tou-chan di masa sebelumnya, harusnya penampilanku sekarang tidak jauh berbeda dengan pakaian mode bijuu Tou-chan. Apa ini ada hubungannya dengan kekuatan Rikudou Sennin yang kudapat?

"Enak saja! Kau saja yang jelaskan!"

Suara Kurama membuyarkan lamunanku. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk menyingkirkan pikiran tersebut. Sepertinya percuma juga jika harus memikirkan alasan kenapa penampilanku jadi beda dari sebelumnya.

"Pantas saja sikapnya kurang ajar! Ternyata dia jinchuuriki-mu, ya, Rubah Bodoh!" ejek Shukaku setelah Kuu-chan muncul.

"Diam Kau, Karung Pasir!" ejek balik Kuu-chan.

"Apa Kau bilang?!"

Bukannya menjelaskan, Kuu-chan malah mengajak Shukaku berantem.

"Hoi, kalian berdua, bisa diam? Madara masih belum kalah, dattebane," ujarkan memberitahu mereka.

Selagi mereka berdebat, ternyata gedomazo sudah siap digunakan lagi. Aku tahu kalau itu siap dipakai karena Madara sekarang sedang berdiri di atas gedomazo. Situasi ini sama seperti di masa sebelumnya, saat Madara hendak mengambil Kuu-chan yang ada di dalam tubuh Naru-nii-chan.

"Kau tadi bilang, 'Naru-nii-chan'. Apa Kau adiknya Naruto?" tanya Son tiba-tiba. Kukira dia akan bertanya kenapa aku bisa tahu nama aslinya.

Tanpa memalingkan pandanganku dari Madara, aku menjawab, "Ya, benar. Aku adik Namikaze Naruto, tepatnya saudara kembarnya, Namikaze Minana. Ah, tolong jangan tanya kenapa penampilan kami berbeda 180 derajat atau kenapa tubuhku kecil meski kami saudara kembar."

"Meski Kau adiknya, jangan harap kami akan bersikap baik padamu!" seru Son.

"Bukan masalah. Malah, harusnya aku berterima kasih karena bijuu seperti kalian mau bersikap baik pada kakak-bodohku," balasku dengan suara pelan.

Walau terlihat berbeda, tapi situasi ini terlihat mirip dengan yang di masa sebelumnya. Hanya saja, sekarang aku menggantikan posisi Naru-nii-chan, serta Hacchan a.k.a Gyuuki tidak ada di sini. Dengan tubuh besarnya, Gyuuki berada di tengah kerumunan pasukan aliansi shinobi.

Kuu-chan tahu betul apa yang sedang kupikirkan. Karena Minana (5) pernah menjelaskan detail kejadian di masa depan, Kuu-chan pasti tahu apa yang ingin kulakukan. Aku sangat berharap, dia tidak marah karena tindakanku ini.

"Sudah selesai ngobrolnya?" tanya Madara dengan santainya. Walau jarak kami —bisa terbilang— cukup jauh, tapi aku bisa mendengar suaranya.

"Ya, terimakasih sudah menunggu," jawabku biasa saja. Aku mencoba menahan semua emosiku 'serendah' mungkin.

Di dunia ini, Madara adalah salah satu orang yang paling dibenci Minana (5). Walau ini adalah pertama kali bertemu dan bertarung dengan Madara, tapi aku sangat muak saat melihatnya. Bahkan setelah melintasi ruang dan waktu, amarah dan kebencian Minana (5) —terhadap Uchiha Madara— tidak menghilang. Malah, aku a.k.a Minana Masa Kini juga ikut membenci Madara, sebesar rasa benci milik Minana (5).

Di masa sebelumnya, dia adalah orang yang telah membunuh Naru-nii-chan, orang yang telah menghancurkan kehidupan'ku'. Entah sampai kapan aku bisa menahan amarah dan kebencian ini. Pasalnya, aku harus fokus pada rencanaku daripada harus balas dendam.

"Aku sedikit terkejut dengan caramu menembus diriku dan susano'o. Tapi kali ini, aku tidak akan lengah lagi. Waktu bermain sudah habis."

DEG

Kata-katanya bukan gertakan. Instingku berkata kalau sesuatu akan datang menyerang.

"Hati-hati! Dia mencoba melakukan sesuatu!" seru Matatabi mencoba memperingatkan kami.

Satu detik kemudian, sesuatu menyerang Matatabi hingga tersungkur. Tidak hanya Matatabi, tapi semua bijuu termasuk diriku tersungkur ke tanah. Bahkan Gyuuki yang berada di tengah pasukan aliansi pun terkena serangan tersebut.

Aku tidak tahu apa yang menyerang kami. Yang pasti, serangan itu sangat kuat sampai-sampak bisa membuat semua bijuu tersungkur dengan satu serangan. Ini sama seperti yang di masa sebelumnya. Bahkan setelah menerima serangan ini secara langsung, aku tetap tidak tahu dari mana datangnya. Dengan mata iblis sekalipun, aku dan Minana (5) tidak tahu jutsu macam apa yang Madara gunakan.

Tidak sampai di situ. Setelah membuat kami tersungkur, Madara mengikat kami dengan rantai yang keluar dari mulut gedomazo, termasuk Gyuuki yang berada di belakang —di tengah pasukan aliansi shinobi. Dia memanfaatkan kesempatan ini untuk menangkap kami semua sekaligus, seperti yang di masa sebelumnya.

Ternyata tidak ada cara untuk lolos dari rantai ini. Karena rantai ini menyentuhku, aku tidak bisa kabur dengan hiraishin. Jika aku menggunakan hiraishin, maka gedomazo, Madara, dan dan para bijuu akan ikut berpindah juga. Di masa sebelumnya, 'aku' sangat heran kenapa Naru-nii-chan tidak memasukkan kembali Kuu-chan ke dalam tubuhnya agar bisa lolos. Dan akhirnya aku tahu jika itu memang tidak bisa dilakukan.

Saat Madara mencoba menarik Shukaku ke gedomazo, semua shinobi menyerang Madara. Ada yang menyerang, dan ada yang mencoba memutuskan rantai yang melilit leher para bijuu. Walau tahu kalau serangan tersebut tidak akan berhasil, tapi mereka tetap melakukan tindakan sia-sia tersebut.

Di masa sebelumnya, saat Madara hendak menarik Shukaku, Gaara mencoba menghentikannya. Namun kali ini, Gaara tidak ada di sini. Bukan hanya Gaara, tapi Nenek Tsunade, Mizukage, Tsuchikage, dan Raikage tidak ada di sini. Jika alur masa lalu tidak berubah, berarti mereka sekarang sedang sekarat di suatu tempat.

"Kau belum menepati janjimu untuk membawakanku daging rusa! Jadi, jangan lupa untuk menyelamatkanku! Juga, Kau harus tetap hidup!" pesan Kurama yang masih berusaha agar tidak ditarik.

Tidak ada satupun serangan aliansi shinobi yang berhasil mengenai Madara. Susano'o melindunginya dari segala jenis jutsu. Lalu dengan mudahnya, Madara memasukkan para bijuu ke dalam gedomazo. Bahkan Kuu-chan juga berhasil ditarik keluar dari dalam tubuhku.

DEG

Begitu Kuu-chan ditarik keluar, tubuhku terasa sangat lemas. Mataku terasa berat. Pandanganku pun mulai kabur. Hanya sekedar membuka mata atau bernapas saja sangat sulit. Jadi ini ya yang di rasakan 'Naru-nii-chan' saat bijuu diekstrak dari tubuhnya?

Berbeda dengan Minana (5), aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuhku. Tubuhku terasa berat sekali. Tapi, aku harus melakukan sesuatu. Dengan ketinggian, kecepatan, dan posisi jatuh yang seperti ini, kepalaku akan menyentuh tanah duluan. Saat memikirkan hal itu, aku teringat dengan apa yang dialami Tou-chan. Itu sedikit membuatku trauma.

Saat aku berpikir bahwa aku akan jatuh, seseorang menangkap tubuh kecilku. Aku tahu karena aku masih bisa merasakan kelembutan dan kehangatan saat ia menangkapku.

Perlahan aku membuka mataku. Walau sulit, aku harus mempertahankan kesadaranku. Kukira, orang yang menyelamatkanku adalah Lucky. Namun aku salah. Ternyata Naru-nii-chan yang menyelamatkanku. Padahal sedang kelelahan karena terlalu memakai banyak chakra, tapi Naru-nii-chan malah memaksakan diri untuk menyelamatkanku.

"Ari..gatou.., Naru..-nii..-chan..." ucapku sekuat tenaga. Bahkan hanya untuk mengatakan beberapa patah kata saja, aku sudah kesulitan begini.

"Maaf, Minana. Aku gagal melindungimu lagi," gumamnya pelan.

Saat menggendongku ala bridal style, aku bisa merasakan tangan Naru-nii-chan yang semakin erat mendekapku. Lalu perlahan, wajahnya terlihat sedih. Satu detik kemudian, air mata membasahi pipinya ... dan menetes ke wajahku.

"Jangan.. pasang.. wajah.. begitu. Jika.. Minana.. tidak.. melakukan.. ini.., Madara akan terus.. mengincar.. Naru-nii..-chan," ujarku sekuat tenaga.

Jika aku tidak melakukannya, Madara akan terus mengincar Naru-nii-chan. Benar, ini adalah keputusanku. Inilah yang kurencanakan. Dengan satu tindakan ini, aku bisa melakukan 2 hal sekaligus. Karena Madara berhasil mendapatan Kuu-chan yang ada di dalam diriku, berarti aku menggantikan posisi Naru-nii-chan Masa Depan saat Kuu-chan ditarik keluar dari tubuhnya. Lalu, karena Kuu-chan berhasil diambil, maka aku akan mati. Ini adalah cara mati terbaik untuk menipu 'dunia'. Inilah 'kematian tepat' yang Kyo-sensei singgung sebelumnya, kematian yang tidak terlihat dibuat-buat.

'Semuanya terbunuh kecuali diriku'. Jika dibalik, harusnya semuanya akan selamat jika aku mati.

Perlahan aku menutup mataku lagi. Kematianku semakin dekat setiap detiknya. Kali ini, tidak seperti Minana (5), mata iblis tidak akan aktif sendiri menggunakan jutsu mustahil. Mata iblis yang kupakai sekarang adalah hasil pinjaman. Bahkan jika Kuroi ingin menggunakan jutsu mustahil, dia tidak akan bisa melakukannya. Kuroi pernah bilang, sejak diubah menjadi zanpakutou, ia tidak bisa menggunakan jutsu mustahil lagi.

Saat tahu kalau aku akan mati, aku ... mulai ragu dengan rencana yang kulakukan ini. Apakah ini keputusan yang tepat?

'Aku tidak akan menyesali keputusan yang sudah kuambil, karena itu adalah jalan ninjaku'. Dan sekarang, aku mulai meragukan jalan ninjaku ini. Apa yang kulakukan ini ... benar-benar langkah terbaik?

Sebentar lagi, aku akan mati. Jinchuuriki akan mati setelah bijuu-nya di ambil. Itu adalah hal mutlak. Ya, aku dipastikan mati. Tapi setelah itu apa? Madara berhasil menangkap semua bijuu. Jika Juubi bangkit lagi, dia akan menjadi jinchuuriki Juubi. Saat dia menjadi jinchuuriki Juubi, apa akan ada yang bisa mengalahkannya? Atau minimal, apakah mereka bisa mengulur waktu sampai aku kembali dari Soul Society? Saat memikirkan hal itu, aku jadi tidak bisa pergi (baca: mati) dengan tenang. Bahkan jika di tambah dengan edo tensei para hokage terdahulu sekalipun, aku tidak yakin aliansi shinobi bisa imbang melawan Madara mode Jinchuuriki Juubi.

Tidak, masih ada satu orang. Jika Lucky serius, Madara pasti bisa dikalahkan dengan mudah. Dengan kemutlakan darahnya, Lucky pasti bisa membunuh Madara dari dalam. Tapi, jika Lucky melakukan itu, ia akan di-reset. Ia akan kehilangan ingatannya lagi karena telah membunuh manusia.

Tidak, aku tidak bisa meninggalkan Madara di dunia ini.

"Minana-chan, bisa dengar? Bertahanlah sebentar lagi!"

Itu adalah suara Lucky. Saat mendengar suaranya, spontan aku memaksakan diri untuk membuka mata. Ternyata aku tidak salah dengar. Lucky ada di sini.

Saat membuka mata, aku baru sadar kalau Naru-nii-chan tidak menggendongku lagi. Aku sekarang berbaring di atas tanah.

"Lucky, apa tidak ada cara untuk menyelamatkan Minana?" tanya Naru-nii-chan panik.

Saat melihat Lucky, ternyata ia memakai kalung yang biasanya aku pakai. Ini aneh. Aku tidak ingat pernah memberikannya pada Lucky.

"Tenanglah, Naruto-kun. Aku sedang membantu sirkulasikan darah dalam tubuh Minana-chan. Selama sirkulasi darahnya lancar, Minana-chan akan baik-baik saja. Selama Minana-chan bernapas, dia akan hidup sekalipun jantungnya berhenti berdetak," jawab Lucky menjelaskan.

Masing-masing tangan Lucky memegang kepala dan perutku. Mungkin dia sedang membantu melakukan sirkulasi darah ke seluruh tubuh seperti yang ia jelaskan sebelumnya. Apalagi, aku bisa merasakan denyut jantungku yang semakin lemah. Apa Lucky bermaksud untuk melakukan hal ini selamanya agar aku tetap hidup? Tidak, sepertinya bukan itu. Aku tidak tahu apa yang sedang Lucky rencanakan, yang pasti, sekarang aku tidak boleh pingsan.

"Lalu, jika darah dalam tubuh Minana-chan kekurangan oksigen, aku akan menciumnya," tambahnya.

"Maksudmu memberikan napas buatan, kan?" gumamku pelan sekali, mencoba memperjelas kata-kata Lucky. Sangking pelannya suaraku, aku bisa berbicara dengan lancar. Bisa-bisanya dia bercanda disaat seperti ini.

"Hihihi!" Lucky hanya tertawa. Apa dia mencoba mencairkan suasana agar kami semua tidak tegang? "Yah, pokoknya jangan khawatir. Minana-chan akan baik-baik saja. Serahkan saja padaku," lanjut Lucky.

Apa benar aku akan baik-baik saja?

Saat aku bilang, 'kami semua', itu maksudnya adalah semua keluargaku. Jika Tou-chan dan Kaa-chan tidak dihitung, semuanya memang ada di sini ... termasuk kakek buyutku. Dia sedang berdiri di belakang Lucky, sambil menusukkan dirinya sendiri dengan pedang ilusi a.k.a zanpakutou-nya. Jika ia menusuk dirinya sendiri dengan zanpakutou-nya, itu berarti tidak ada siapapun yang menyadari keberadaannya. Jika aku sedang tidak meminjam mata Kuroi, mungkin aku juga akan 'lupa' tentang dirinya yang sedang berada di sini. Dia tidak menyamar sebagai ANBU bernama Nueno lagi. Dia menunjukkan wujud aslinya, Lucky versi putih.

"Tidak langsung pingsan seperti Naruto-kun, ya? Yah, jika dipikir-pikir, Minana (5) juga tidak langsung pingsan saat bijuu-nya diambil," ujar Yukki tiba-tiba.

Kakek buyutku bernama Namikaze Yukki. Dia seorang shinigami. Lalu, alasan kenapa ia berada di sini adalah karena ingin membunuhku. Baginya, ini adalah kesempatan bagus untuk membunuhku tanpa terlihat seperti pembunuhan. Walau aku adalah keturunannya, sepertinya dia tidak pilih-pilih. Ternyata kakek buyutku gila kerja.

"'Cara pertama, membunuh pembunuhnya. Cara kedua, membunuh orang-orang yang selamat, sesuai dengan jumlah orang yang ingin di selamatkan dari takdir kematian.' Dengan mengorbankan dirimu, apa Kau mencoba memakai cara kedua?"

Di masa depan, Madara membunuh semuanya, termasuk dirinya sendiri. Hanya 'aku' dan Lucky yang selamat dalam insiden tersebut.

Karena Lucky tidak dihitung sebagai manusia, maka bisa dibilang kalau yang selamat hanya diriku. Awalnya, aku memang berniat memakai cara kedua. Namun melihat apa yang terjadi, sepertinya cara itu tidak bisa digunakan. Walau sekarang aku mati, tapi tidak ada jaminan bahwa semuanya akan selamat.

"Maaf, ya, harus membunuhmu dengan cara seperti ini," ujar Yukki datar. Dia hanya diam saja. Dia hanya berdiri ... sambil melihat diriku yang tidak berdaya.

Aku menyadarinya. Semakin lama, denyut jantungku semakin lemah. Walau Lucky sudah membantuku, tapi aku bisa merasakan kalau keadaanku semakin melemah. Dengan bantuan Lucky, seharusnya aku bisa bertahan sampai 20 menit lebih, tapi sekarang ... aku merasa kalau waktuku tidak akan selama itu.

Dari informasi yang sudah kukumpulkan, dengan jutsu ruang dan waktu, kemungkinan Yukki bisa melakukan 3 hal kepada objeknya.
Pertama, memundurkan waktu. Dengan memundurkan waktu suatu objek, ia bisa mengembalikan keadaan suatu objek seperti keadaan di masa lalu.
Kedua, menghentikan waktu. Berbeda dengan menghentikan waktu yang ada di buku-buku cerita yang pernah kubaca, sepertinya kemampuan menghentikan waktu yang Yukki miliki hanya sebatas menghentikan umur/usia. Lalu, kondisi/keadaan suatu objek disesuaikan dengan lingkungan objeknya. Saat 'bermain' ke rumah Yukki, kulkasnya penuh dengan ramen cup, termasuk ramen cup yang sudah tidak diproduksi lagi [note: di chapter 13]. Karena ia menyimpan ramen cup tersebut di dalam kulkas, itu berarti ia menghentikan waktu di ramen cup tersebut agar tidak kadaluarsa dan bisa di makan sampai kapanpun. Melihat betapa rasionalnya Yukki, tidak mungkin ia meletakkan makanan yang sudah kadaluarsa di kulkasnya sendiri.
Ketiga, memajukan waktu. Dengan memajukan waktu suatu objek, ia bisa membuat keadaan suatu objek seperti keadaan di masa depan. Berbeda dengan memundurkan waktu, dimana masa lalu hanya ada 1, memajukan waktu suatu objek bisa memberi hasil yang berbeda-beda, tergantung keadaan atau lingkungan sekitar objek di 'masa kini'. Jika diartikan dalam satu kata, memajukan waktu sama saja dengan menyingkat. Dengan cara ini, Yukki bisa membunuhku tanpa adanya keganjilan.

"Minana-chan, bertahanlah sebentar lagi!" seru Lucky mencoba menyemangatiku. Walau disamarkan, tapi aku tahu kalau Lucky khawatir. Mungkin dia akhirnya sadar kalau keadaanku mulai memburuk.

'Sekalipun memiliki darah Uzumaki, tidak ada yang tahu berapa lama jinchuuriki tersebut bisa bertahan setelah bijuu-nya diambil'. Beginilah cara Yukki menyamarkan pembunuhannya.

"Lucky, sudah cukup. Hentikan!" pintaku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Jangan menyerah, dattebayo!" Kali ini, Naru-nii-chan yang menyemangatiku.

"Bertahanlah sebentar lagi, Minana-chan! Aku sudah tahu cara menyelamatkanmu sekaligus mengalahkan Madara!"

DEG

Aku sangat terkejut saat mendengarnya. Bisa menyelamatkanku sekaligus mengalahkan Madara? Bagaimana mungkin?

"Benarkah?" tanya Naru-nii-chan tidak percaya. Pertanyaannya mewakali diriku yang juga tidak percaya.

"Ya, aku baru saja kepikiran caranya! Cara ini bisa menyelamatkan Minana-chan sekaligus mengalahkan Madara! Jangan khawatir, cara ini pasti berhasil! Karena itu, bertahanlah sebentar lagi, Minana-chan!" jawab Lucky dengan semangat.

Menyelamatkanku sekaligus mengalahkan Madara. Dari apa yang Lucky katakan barusan, sepertinya aku tahu apa yang sedang ia rencanakan. Menurutku, itu rencana yang bagus. Tapi, Lucky tidak akan sempat. Selama Yukki memajukan waktuku sedikit demi sedikit, aku akan mati duluan sebelum Lucky melakukan rencananya.

"(Lucky, hentikan. Kau hanya membuang-buang tenaga. Aku tidak akan bertahan lebih lama lagi. Dia ada di sini)," balasku tanpa suara sedikitpun. Aku hanya menggerakkan bibirku. Semoga Lucky tahu apa yang kukatakan ini.

Sesaat setelah aku mengatakan hal itu, dengan menggunakan air yang ada di udara, Lucky menyerang secara membabi buta. Lucky menghujani area sekitar dengan tombak es. Untungnya, kami berada sedikit jauh dari pasukan aliansi shinobi, sehingga serangan tersebut tidak melukai mereka. Dan juga, serangan tersebut tidak berhasil mengenai Yukki.

"Apa yang Kau lakukan?" tanya Naru-nii-chan sedikit terkejut.

"Apa seranganku mengenainya?" tanya Lucky padaku. Ia mengabaikan pertanyaan Naru-nii-chan.

"(Tidak)."

Dengan tenaga yang tersisa, aku menggerakkan tangan kanan ke mata kananku. Lalu melepas lensa kontak yang terpasang di mata kananku. Melihat apa yang kulakukan ini, akhirnya Lucky berhenti mengendalikan darah yang ada di dalam tubuhku. Lucky berhenti membantu sirkulasi dalam darahku. Dengan denyut jantung yang lemah, darah tidak akan bisa tersirkulasi ke seluruh tubuh. Jika dibiarkan, sel-sel di seluruh tubuh akan kekurangan pasokan oksigen. Itulah alasan sebenarnya kenapa manusia bisa mati.

"Mata itu–"

Lucky langsung membekap mulut Naru-nii-chan. Sepertinya ia takut ada yang mendengar tentang mata kananku.

Benar, mata kananku adalah sharingan, tepatnya sharingan milik Uchiha Shisui. Sebelum melakukan bunuh diri, Sui-nii (baca: Shisui) memberikan mata kirinya pada Ita-nii (baca: Itachi), sedangkan mata kanannya ia berikan padaku. Karena di masa ini klan Uchiha tidak merencanakan kudeta apapun, Sui-nii dan Ita-nii tidak memata-matai klan mereka sendiri. Dengan begitu, di masa ini, Danzo tidak memiliki mata kanan Sui-nii. Danzo tidak punya alasan apapun untuk mendekati dan menipu mereka berdua.

Saat berada di rumah Yukki, aku meminta Lucky untuk mentransplantasi sharingan Sui-nii ke mata kananku [note: chapter 13]. Jika aku mati dan Madara berhasil di kalahkan, aku berniat memakai mata ini untuk mengendalikan kapten divisi 12. Aku bermaksud untuk menyelamatkan orang masa depan yang ditahan di divisi tersebut. Lalu kembali ke dunia shinobi.

Atau ... jika aliansi shinobi bisa menahan Madara selagi aku di Soul Society, aku berniat mengendalikan pemimpin shinigami (baca: kapten divisi 1, Genryūsai Shigekuni Yamamoto) dan menyuruhnya mengirim pasukan shinigami untuk mengalahkan Madara. Namun jika ingin memakai rencana ini, aku tidak tahu butuh waktu berapa lama untuk menemukan pemimpin shinigami. Apalagi, aku tidak tahu rupanya, serta lokasi pasti tentang keberadaannya. Bahkan jika aku berhasil menemukan pemimpin shinigami dengan cepat, tidak mungkin Yukki membiarkanku mengendalikan pemimpinnya.

Tidak.

Dengan penglihatan masa depan, dia pasti sudah tahu kalau aku berniat untuk mengendalikan pemimpin shinigami dengan kotoamatsukami. Selama Namikaze Yukki masih hidup, aku tidak akan bisa 'menyentuh' pemimpin shinigami. Sekalipun aku berhasil mengendalikan pemimpin shinigami dengan kotoamatsukami, Yukki akan memundurkan waktunya, mengembalikan keadaannya ke keadaan sebelum kena kotoamatsukami.

Ternyata benar. Menyelamatkan semuanya itu memang tidak mungkin. Pada akhirnya, aku hanya bisa memilih salah satu.

"(Jangan khawatir, Lucky, Naru-nii-chan. Aku tidak akan mati)."

Menurut Ita-nii dan Sui-nii, mengaktifkan izanagi tidak perlu melakukan handseal apapun. Karena aku belum pernah melakukan jutsu tersebut, aku menggunakan mata iblis agar bisa meniru jutsu izanagi.

Untuk meniru suatu jutsu dengan bantuan mata iblis, setelah melakukan handseal jutsu tersebut, maka harus diakhiri dengan handseal domba. Karena izanagi tidak memerlukan handseal apapun untuk mengaktifkannya, maka aku hanya perlu menggunakan handseal domba saja.

"Izanagi!" gumamku sekuat tenaga.

Mengubah kenyataan menjadi ilusi. Mungkin itulah istilah tepat yang terjadi pada diriku sekarang. Setelah mengaktifkan izanagi, tubuhku perlahan menghilang, seolah kematianku hanyalah ilusi. Satu detik kemudian, tubuhku muncul kembali, tak jauh dari tempat Lucky dan Naru-nii-chan.

Tubuhku masih lemas. Tapi, tidak seperti sebelumnya, kali ini, aku tidak merasa akan pingsan.

Dengan mata iblis, tidak ada yang salah dengan penglihatanku. Namun aku sadar, kalau mata kananku mulai kehilangan fungsinya. Yukki sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk memakai genjutsu terkuat milik Sui-nii.

Setelah melakukan semua ini padaku, Yukki pergi entah kemana. Dia tidak memajukan waktuku lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia mendadak berhenti? Kupikir dia akan lebih memaksa untuk membunuhku. Tapi ini..? Apa karena aku berhasil menghindar dari kematian, sehingga ia tidak jadi membunuhku? Ataukah ia masih punya rencana lain untuk membunuhku tanpa terlihat seperti pembunuhan?

"Minanaaa~!"

Aku bisa mendengar suara Naru-nii-chan yang memanggilku dengan nada menggelikan (?). Ia langsung melompat, kemudian duduk di sampingku lagi.

Dia menangis. Pipi Naru-nii-chan basah karena air mata. Bodohnya aku karena menyebut nada bicaranya itu dengan kata 'menggelikan'.

Jika diingat-ingat, aku tidak pernah sekalipun melihat Naru-nii-chan menangis. Bahkan saat bertemu denganku di Desa Suna, ia tidak menangis. Ia tersenyum agar diriku tidak sedih. Terakhir kali aku melihat Naru-nii-chan menangis adalah saat pemakaman Kakek Hokage Ketiga, itupun di masa sebelumnya, berdasarkan ingatan Minana (5).

Di masa sebelumnya, 'aku' selalu khawatir dengan Naru-nii-chan. Dia itu bodoh, ceroboh, dibenci, dan menjadi incaran Akatsuki. Lalu, Naru-nii-chan juga mudah terluka, seperti saat ujian chuunin, melawan Gaara, membawa Sasuke pulang, dan Madara berhasil mengambil Kuu-chan dari dalam tubuhnya. Namun di masa sekarang, sepertinya akulah yang selalu membuat Naru-nii-chan khawatir. Takdir kami seolah diputar balik.

Jika perang ini gagal dihentikan, apakah Naru-nii-chan akan menjadi satu-satunya orang yang selamat? Jika takdir kami benar-benar telah diputar balik, apakah Naru-nii-chan akan menggantikan posisiku untuk kembali ke masa lalu?

"Jangan khawatir, Naru-nii-chan. Minana baik-baik saja, dattebane," ujarku mencoba menenangkan Naru-nii-chan.

"Jangan melakukan hal berbahaya seperti itu lagi, dattebayo! Hiks..." pinta Naru-nii-chan seraya menghapus air matanya.

"Minana kan bukan jinchuuriki lagi, dattebane. Jadi Naru-nii-chan tidak perlu khawatir kalau Minana akan melakukan hal seperti itu lagi," balasku tanpa merasa bersalah. "Setidaknya untuk sekarang," lanjutku dengan suara yang nyaris tak terdengar.

"Eh?"

Aku yakin kalau Naru-nii-chan mendengarnya. Tapi aku sama sekali tidak peduli. Dengan sekuat tenaga, aku mencoba untuk duduk. Lucky langsung membantuku. Setelah berhasil duduk, aku melihat ke depan, tepatnya ke tempat Madara. Dari sini, jaraknya lumayan jauh. Bahkan ia terlihat seperti semut. Karena tempat ini sudah berubah menjadi hamparan luas, sosok Madara masih terlihat, walau jaraknya jauh dan melihat dengan mata biasa sekalipun.

Dengan mata iblis, aku bisa melihat apa yang terjadi di medan perang. Kali ini, semua pasukan aliansi shinobi hanya diam. Edo tensei para hokage membuat kekkai merah untuk mengurung Madara. Itu kekkai yang mirip seperti yang mereka lakukan untuk mengurung Juubi di masa sebelumnya. Lalu, karena Tou-chan masih tidak sadarkan diri, Kaa-chan yang mengganti posisinya untuk membuat kekkai tersebut. Apakah kekkai tersebut digunakan agar pasukan aliansi shinobi tidak sembarangan menyerang Madara? Apa agar tidak ada yang mati sia-sia?

Walau dikurung, tapi Madara hanya diam saja. Tidak seperti di masa sebelumnya, walau ada ET-Hashirama, tapi Madara tidak menantangnya untuk bertarung. Sepertinya Madara yang di masa ini tidak terlalu 'kangen' dengan rivalnya itu.

Aku tahu kalau kekkai merah tersebut bukanlah tandingan bagi Uchiha Madara. Jika mau, ia bisa saja menghancurkan kekkai tersebut, sekalipun belum menjadi jinchuuriki Juubi. Namun entah kenapa, Madara hanya diam saja di dalam kekkai tersebut. Gedomazo juga tidak ada di dekatnya. Apakah ia menyembunyikannya di suatu tempat agar tidak direbut? Yah, Zetsu Putih pasti sudah memberitahu Madara tentang hiraishin level 4.

"Lucky, walau sekarang aku tidak jadi mati, aku tidak keberatan menjadi jinchuuriki Juubi."

"HEEEEEEE?!"

Naru-nii-chan langsung heboh saat aku mengatakan hal tersebut. Padahal jelas sekali kalau itulah yang hendak Lucky lakukan sebelumnya. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan jinchuuriki yang kehilangan bijuu-nya adalah dengan memasukkan bijuu ke dalam tubuh jinchuuriki tersebut. Entah akan berhasil atau tidak jika memasukkan bijuu lain ke tubuh jinchuuriki tersebut, tapi kemungkinannya tidak nol.

"Kenapa Kamu harus menjadi jinchuuriki Juubi?! Aku tidak setuju, dattebayo! Aku sudah berjanji pada para bijuu untuk menyelamatkan mereka, dattebayo!" lanjut Naru-nii-chan tidak terima.

Juubi adalah gabungan dari sembilan bijuu. Sejujurnya, aku sendiri tidak yakin apakah bisa mempertahankan kesadaranku sendiri. Dan lagi, apa aku bisa mengendalikan kekuatan sebesar itu?

Sebagai pencegahan, aku memanggil Kuroi, beserta pedang hitam yang merupakan tempat di mana Kuroi tersegel. Kuberikan pedang hitam ini pada Naru-nii-chan. Karena Naru-nii-chan adalah saudara kembarku, aku yakin ia bisa memegang Kuroi.

"Apa ini?" tanya Naru-nii-chan bingung, seraya mengambil pedang hitam tersebut. "Tunggu! Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Minana!" lanjut Naru-nii-chan kembali marah-marah.

Karena pedang hitam Kuroi berada di tangan Naru-nii-chan, secara tidak langsung, kepemilikannya berpindah tempat. Mata iblis yang kupinjampun kembali kepemilik aslinya. Mata kiriku berubah kembali menjadi biru. Saat tidak memakai mata iblis, bagian kananku terlihat gelap. Ternyata mata kananku benar-benar tidak berfungsi lagi.

"Jika aku hilang kendali, Naru-nii-chan bisa mengeluarkan para bijuu dari dalam tubuhku dengan menggunakan kekuatan Kuroi," jelasku sesingkat mungkin.

"Apa yang Kamu katakan?! Jika aku melakukan hal itu–"

"Naruto-kun, jangan khawatir. Kamu pikir aku akan membiarkan makhluk tak berotak itu (baca: Juubi) mengendalikan Minana-chan?" potong Lucky dengan bangganya.

"Bukan begitu! Jika menjadi jinchuuriki Juubi, aku yakin adikku pasti bisa mengendalikan kekuatan Juubi, dattebayo! Maksudku, kenapa Minana harus menjadi jinchuuriki Juubi?!"

Aku mengerti dengan apa yang ingin Naru-nii-chan sampaikan. Aku senang karena dia mengkhawatirkan diriku. Meski begitu, aku harus mendapatkan Juubi. Jika aku menjadi jinchuuriki Juubi, aku bisa memakai kekuatan Juubi untuk menghentikan perang ini. Tidak hanya itu. Jika aku menjadi jinchuuriki Juubi, aku bisa menghentikan orang-orang yang menginginkan kekuatan Juubi.

"Jika aku menjadi jinchuuriki Juubi, aku bisa melindungi semua bijuu dari orang-orang seperti Madara," jelasku menjawab pertanyaan Naru-nii-chan.

"Tapi–"

"Luck, aku sama sekali tidak keberatan menjadi wadah Juubi. Tapi apa Kau yakin mau memakai cara itu?" tanyaku pada Lucky. Aku mengabaikan Naru-nii-chan. Aku sudah menjelaskan alasannya. Jika dia masih bersikeras menentangnya, aku tidak peduli.

"Jangan khawatir. Itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan kehilangan Minana-chan. Lagipula, jika tidak nekat, kita tidak akan bisa mengubah masa depan. Bukankah begitu?" jawab Lucky.

"Minana, boleh aku memastikan sesuatu?"

Nada bicara Naru-nii-chan jadi lebih serius. Yah, sebelumnya dia memang serius. Maksudku, sekarang dia jadi lebih serius. Meski begitu, aku mencoba mengabaikannya.

"Tindakan nekatmu ini ... apa Kamu mendapatkan ingatan dari dirimu yang di masa depan?"

DEG

Jantungku seolah berhenti berdetak. Aku sangat terkejut dengan apa yang Naru-nii-chan katakan. Walau begitu, aku mencoba menyembunyikan rasa terkejutku. Kakakku yang bodoh ini ... aku tidak menyangka ia bisa menyadari hal tersebut. Karena dia sudah menyadarinya, sepertinya aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. Lagipula, Tou-chan dan Kaa-chan juga sudah tahu.

"Ya, begitulah," jawabku setenang mungkin. "Untuk mengubah masa depan, diriku yang di masa depan memberikan ingatannya padaku yang masih bayi," lanjutku.

"Begitu. Jadi Kamu sudah memimpikannya sejak dulu, ya? Adikku memang hebat bisa langsung tahu kalau itu adalah ingatan masa depan," gumam Naru-nii-chan pelan sekali. Ekspresi di wajahnya berbeda sekali dengan sebelumnya.

Ini hanya perasaanku saja atau Naru-nii-chan memang masih tidak sadar kalau Minana Besar itu adalah aku yang datang dari masa depan? Apa Naru-nii-chan pikir kalau ingatan masa depan yang kudapat ini sama seperti dirinya? Ingatan masa depannya disamarkan sebagai mimpi? Fuuh, jika memang itu yang Naru-nii-chan pikirkan, aku jadi tidak tahu harus menganggap Naru-nii-chan pintar atau bodoh.

"Pffttt!"

Aku sweat drop saat mendengar tawa Lucky di dalam kepalaku. Bisa-bisanya dia menggunakan telepati untuk numpang ketawa. Kalau mau ketawa, ketawa saja yang keras! Jangan ketawa di dalam kepalaku, Lukisan Jelek!

Selagi kami mengobrol, ternyata Madara sudah membangkitkan shinju a.k.a pohon dewa. Entah sejak kapan ia menjadi jinchuuriki Juubi. Yang pasti, dia sudah mulai menjalankan rencana mugen tsukuyomi.

Di masa depan, saat pohon dewa bangkit, akar-akarnya langsung mengincar semua orang yang memiliki chakra, termasuk Naru-nii-chan sendiri. Tapi di masa ini, karena Madara berada dalam kekkai, akar-akar pohon tersebut tidak mengincar kami. Selain berada di dalam kekkai, mungkin karena jaraknya lumayan jauh. Kalau sudah begini, aku harus segera membunuh Madara sebelum bunga pohon dewa mekar. Karena Madara sudah mendapatkan setengah chakra Kuu-chan, maka pemekaran bunga pohon dewa jadi lebih cepat dibandingan di masa sebelumnya.

"Minana-chan, sebelum aku mulai, aku harus memperingatimu sesuatu," ujar Lucky dengan menggunakan jutsu telepati. "Ingat, jangan sampai membunuh Madara!"

"HAH?!"

'Jangan sampai membunuh Madara'. Kata-katanya itu membuatku terkejut sekaligus kesal. Apa maksudnya? Kenapa aku tidak boleh membunuhnya?! Dia adalah orang yang menciptakan perang ini! Di masa sebelumnya, dialah yang membunuh keluargaku, membunuh Naru-nii-chan dan dalang penyebab Tou-chan dan Kaa-chan bisa terbunuh! Dia menciptakan situasi agar diriku dan Lucky kembali ke masa lalu! Dia membunuhmu, Luck!

"A-ada apa, Minana?" tanya Naru-nii-chan sedikit terkejut dengan reaksiku yang tiba-tiba. Namun aku mengabaikannya.

"KENAPA, DATTEBANE?!" tanyaku pada Lucky. Aku sedikit terbawa suasana, sampai-sampai tidak bisa mengontrol emosiku.

"Kita pakai 'kebalikan dari cara pertama'," jawab Lucky.

Kebalikan dari cara pertama? Jika cara pertama adalah membunuh pembunuhnya, berarti kebalikannya...

"'Madara membunuh semuanya, termasuk dirinya sendiri'. Jadi, kalau kita membiarkan Madara hidup, itu berarti kita bisa menyelamatkan semuanya, tanpa harus membiarkanmu mati," jelas Lucky sebelum aku mempertanyakannya.

Sejujurnya, menghentikan perang adalah perkara mudah. Namun, masalah sebenarnya yang harus kami (baca: Minana dan Lucky) hadapi adalah paradoks waktu. Sekalipun bisa menghentikan perang dan Madara, tapi jika caranya tidak sesuai dengan aturan dunia, maka masa depan tidak akan berubah. Malah, bisa saja itu akan menyebabkan paradoks waktu yang serius. Karena itu, mau tidak mau, kami harus mengikuti aturan dunia ini jika ingin mengubah masa depan, meski kami sendiri tidak tahu apa aturannya. Lalu, penjelasan yang Lucky katakan terdengar masuk akal, tapi...

"Membiarkan Madara hidup terlalu beresiko! Bagaimana jika"

"Setelah Minana-chan berhasil membuatnya sekarat, aku akan mengkristalkannya dengan es. Jika Minana-chan masih kurang yakin, sebelum mengkristalkannya, aku akan mengambil darah Madara, lalu memberikannya pada Hidan," potong Lucky.

Aku masih kurang setuju dengan rencana Lucky. Membiarkan Madara tetap hidup? Bukankah itu artinya aku tidak bisa membalas perbuatan Madara setelah apa yang ia lakukan sekarang dan di masa sebelumnya? Lebih baik aku membunuh Madara sekaligus membunuh diriku sendiri daripada membiarkannya hidup!

Namun pada akhirnya, aku menyetujui rencana Lucky. Bukan berarti aku memaafkan Madara. Hanya saja, Lucky sudah bersusah payah memikirkan cara untuk menyelamatkanku. Lagipula ... setelah dipikir-pikir lagi, sepertinya ada sedikit masalah pada rencanaku. Jika aku mengorbankan diri agar semuanya tidak mati, ada kemungkinan kalau 'semua' yang dimaksud termasuk Madara juga. Tapi, jika pada akhirnya aku tidak boleh membunuh Madara, harusnya sejak awal aku pakai kotoamatsukami saja. Fuuh, benar-benar sangat disayangkan memakai sharingan Sui-nii hanya untuk izanagi.

"Baiklah," kataku yang setuju.

"Apapun akan kukorbankan untuk melakukan hal mustahil ini ..."

Ini adalah hal yang wajib dikatakan bagi pemilik mata iblis yang ingin menggunakan jutsu mustahil. Kata-kata tersebut adalah bukti bahwa pemilik mata iblis sudah membulatkan tekad untuk mengorbankan apapun yang ia miliki. Disebut jutsu mustahil karena mata iblis bisa mewujudkan keinginan mustahil pemiliknya. Tapi, jutsu tersebut hanya akan aktif jika hal tersebut memang hal yang mustahil.

"...Pindahkan semua chakra Juubi ke dalam tubuh Minana-chan! Buat Uchiha Madara tetap hidup sekalipun bijuu-nya dipindahkan! Aku tidak peduli jika Uchiha Madara menjadi lemah karena pemindahan tersebut, asalkan dia tidak mati! Lalu, buat Minana-chan bisa mengontrol kekuatan Juubi seperti Uchiha Madara! Jika 'Kau' (baca: mata iblis) hanya bisa mewujudkan satu permintaan saja, itu artinya 'Kau' harus mewujudkan semua permintaanku! Jika hanya satu yang terwujud, berarti bagi'mu' mewujudkan tiga hal mustahil dalam sekali pemakaian adalah hal mustahil! Karena mustahil, berarti 'Kau' harus mewujudkannya!"

Saat menggunakan jutsu mustahil, kata-katamulah yang menentukan aktif atau tidaknya jutsu tersebut. Itulah hal yang baru saja kusadari saat Lucky 'bernegosiasi' dengan mata iblis. Hal yang tidak mustahil pun bisa menjadi mustahil jika kau memakai kata-kata yang benar. Misalnya, 'buat ikan bisa hidup di darat'. Jika begitu, jutsu mustahil tidak akan aktif. Lagipula, itu bukanlah hal mustahil. Jika kau memasukkan ikan ke dalam akuarium, maka ikan tersebut bisa hidup di darat. Contohnya ikan hiu milik Kisame. Lain ceritanya jika kata-kata yang dipakai adalah 'buat ikan bisa hidup di darat tanpa memerlukan air'.

Jutsu mustahil hanya bisa mewujudkan satu hal mustahil. Itulah yang aku dan Kyo-sensei percayai. Lagipula, setiap pemilik mata iblis hanya dibatasi 1 atau 2 pemakaian jutsu mustahil. Setelah memakai jutsu mustahil, maka mata iblis akan memakan 1 hal —di tubuh pemilik— yang membuat pemiliknya membenci sesuatu. Jika kau meminta tiga hal mustahil sekaligus, bukankah itu artinya memakai 3 jutsu mustahil secara berturut-turut?

Namun dalam kata-katanya untuk mengaktifkan jutsu mustahil, Lucky sempat bilang, '...mewujudkan tiga hal mustahil dalam sekali pemakaian adalah hal mustahil!'. Kau tahu? Itu adalah paradoks.
Jika mata iblis mewujudkan 3 keinginan Lucky sekaligus, berarti mata iblis bisa mewujudkan 3 hal mustahil dalam satu pemakaian. Tapi jika mata iblis hanya mewujudkan 1 dari 3 keinginan Lucky, berarti memang mustahil bagi mata iblis untuk mewujudkan 3 hal mustahil dalam satu pemakaian. Dan jika hal itu terjadi, maka mata iblis harus mewujudkan 3 keinginan Lucky, karena itu adalah mustahil. Tapi jika mata iblis mewujudkan 3 keinginan Lucky sekaligus, maka–...

Itu tidak akan ada habisnya. Lalu pada akhirnya, yang terjadi adalah...

Aku bisa merasakan kekuatan lain dalam diriku. Aku langsung tahu kalau itu adalah kekuatan Juubi. Berbeda dengan chakra Kuu-chan yang terasa hangat, chakra Juubi terasa sejuk. Aku tidak merasa kalau Juubi mengendalikan kesadaranku. Apa ini artinya aku bisa mengontrol kekuatan Juubi seperti aku mengontrol chakra Kuu-chan? Apa itu artinya mata iblis membuatku bisa mengendalikan kekuatan Juubi? Sekalipun kata 'mengendalikan' bukanlah sesuatu yang mustahil?

Begitu semua chakra Juubi masuk ke dalam tubuhku, tangan Lucky menyentuh perutku. Dia memasang segel agar Juubi tidak keluar. Jika dipikir-pikir, Lucky tadi hanya bilang 'memindahkan', bukan 'menyegelnya'.

Satu detik kemudian, Lucky tumbang. Refleks aku menangkap tubuhnya agar tidak menyentuh tanah. Lucky pasti sudah mulai merasakan efek samping dari penggunaan jutsu mustahil.

"Lucky!" panggilku spontan.

"Hehe, jangan khawatir, Minana-chan. Aku masih sadar," balas Lucky pelan. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum agar aku tidak terlalu khawatir. "Lakukan saja sesuai rencana. Aku akan berusaha selama mungkin agar tidak pingsan," tambah Lucky.

Aku mengangguk mengerti. Lalu, aku segera membaringkan Lucky pelan-pelan. Kemudian, aku segera pergi ke tempat Madara. Bagaimanapun, aku harus segera membuat Madara sekarat. Aku harus melakukannya secepat mungkin agar Lucky bisa istirahat.

Saat hendak pergi, aku baru sadar kalau pakaianku sama dengan Madara yang di masa sebelumnya. Rambut putih, pakaian putih, dan ada bola-bola hitam yang melayang di punggungku. Lalu, ada sesuatu di tengah keningku. Sesuatu yang ... sedikit menonjol? Benjol? Yah, entahlah. Yang pasti, benjol (?) di tengah keningku ini sedikit berbeda dengan tanduk (?) yang menutup kening Madara di Masa Sebelumnya. Apapun itu, untuk sekarang, aku mengabaikannya.

Dengan hiraishin level 4, aku berpindah ke tempat Madara dalam sekejap. Saat sampai, ternyata pohon dewanya menghilang. Saat Lucky bilang 'pindahkan semua chakra Juubi ke dalam tubuh Minana-chan...', apa itu berarti pohon dewa juga ikut dipindahkan ke dalam tubuhku?

Namun pada akhirnya, aku mengabaikan semua pikiran-pikiran tidak penting itu. Aku harus fokus membuat Madara sekarat agar Lucky bisa cepat istirahat.

Karena Juubi sudah dikeluarkan dari tubuhnya, Madara jadi melemah. Dia terkapar. Meski begitu, aku tidak boleh lengah. Walau ia sedang terkapar, tapi ia tetaplah Uchiha Madara.

"Apa yang kalian lakukan padaku?! Trik apa yang kalian gunakan?!" tanya Madara geram.

Setiap kata-kata yang Madara ucapkan hanya menyulup emosiku. Meski begitu, aku berusaha untuk tetap berpikir jenih. Yang perlu kulakukan hanya ... membuatnya sekarat. Tidak lebih.

Aku mengendalikan salah dua bola hitam yang melayang di punggungku. Kuubah dua bola hitam itu menjadi bentuk pedang. Dengan kontrol chakra yang bagus, bentuk bola hitam ini bisa diubah-ubah. Aku sengaja mengubahnya menjadi bentuk pedang karena kemampuan bola hitam ini sedikit mirip dengan kekuatan Kuroi, yaitu menetralkan ninjutsu. Tapi sayangnya, bola hitam ini tidak berefek pada senjutsu.

Dengan masing-masing 'pedang' di tanganku, aku berjalan santai ke arah Madara. Tidak perlu memakai trik apapun. Cukup maju saja dari depan. Jika sesuatu yang 'tak kasat mata' itu menyerang lagi, kali ini, aku bisa 'menangkis'nya dengan mudah.

Tidak perlu waktu lama, hanya dengan lima serangan, aku membuat Madara sekarat. Aku berhasil mematahkan beberapa tulang dan fungsi organ di tubuhnya. Jujur saja, aku masih belum puas menyiksanya. Tapi, apa bleh buat. Aku tidak boleh sampai membunuhnya.

Ini terlalu mudah. Aku tidak menyangka kalau mengalahkan Madara akan semudah ini. Ini seperti menghancurkan ranting pohon. Sangking mudahnya, aku jadi sedikit takut. Tapi, ini sudah berakhir, kan?

Satu detik setelah aku mengalahkan Madara, Lucky datang ... bersama dengan Naru-nii-chan. Naru-nii-chan memapah Lucky. Aku bisa melihat wajah Lucky yang terlihat pucat sekali. Walau jarakku dengan Lucky dan Naru-nii-chan adalah 10m, aku bisa melihat raut wajah Lucky dengan jelas. 'Bertahanlah! Aku tidak boleh pingsan! Aku harus bisa bertahan selama mungkin!' Kira-kira begitulah kata-kata yang terpancar dari raut wajahnya. Jika dipikir-pikir, ini adalah pertama kalinya aku bisa membaca raut wajah Lucky dengan jelas sekali.

Dari posisinya, tanpa mendekati Madara, Lucky mengendalikan darah yang ada di dalam tubuh Madara. Lalu, Lucky sedikit mengeluarkan darah Madara. Lucky membuat tabung kecil dari darah Madara, mengisinya dengan darah Madara. Kemudian mengirim darah tersebut ke Hidan. Setelah mengambil sedikit darahnya, Lucky membekukan Madara dengan air yang ada di udara. Ia mengkristalkan Madara, membuat kakek tua itu mati suri. Bisa dibilang, ini adalah teknik 'menghentikan waktu' versi Lucky.

"Sudah selesai, kan? Sudah berakhir, kan?" tanya Naru-nii-chan yang masih memapah Lucky. Naru-nii-chan masih tidak percaya kalau dalang dari perang dunia shinobi ke-4 telah berhasil dihentikan.

Tidak. Di masa kini, dalang sebenarnya adalah Namikaze Yukki. Tapi, aku mengubah masa depan sesuai 'aturan' di dunia ini, meski aku sendiri tidak begitu tahu apa aturannya. Jadi, seharusnya sudah tidak ada alasan bagi Yukki untuk membunuhku lagi, kan?

"Tentu saja, dattebane!" jawabku semangat.

Setelah Madara kalah, Shodaime Hokage, Nidaime Hokage, Sandaime Hokage, dan Kaa-chan melepas kekkai merahnya. Tidak ada alasan untuk mempertahankan kekkai-nya lagi.

"Arghh!"

Lucky mengerang pelan. Sebelah tangannya spontan menutup matanya. Lucky adalah bount. Sekalipun ia bisa menoleransi rasa sakit, tapi sekarang ia pasti sudah mencapai batas. Apalagi, salah satu efek samping setelah menggunakan jutsu mustahil adalah mata terasa terbakar dan seluruh tubuh terasa dihujani ribuan pedang. Melihat Lucky yang kesakitan seperti itu, refleks aku mendekatinya.

"Luck–"

Hangat.

Aku langsung menghentikan langkahku saat sesuatu membasahi dada kiri dan punggungku. Mataku terbelalak saat menyadari apa yang terjadi padaku. Aku ingat sensasi ini. Benar, kenapa aku bisa lupa? Kenapa aku bisa kena serangan musuh di tempat, posisi, dan waktu yang sama untuk kedua kalinya?

Sangking terkejutnya, aku baru merasakan rasa sakit dari lukanya setelah satu detik kemudian. Aku langsung mematung saat tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku ingin berteriak ... memberitahu Lucky dan Naru-nii-chan untuk menjauh dari sini. Tapi pada akhirnya, aku mengurungkan niatku. Jika mengingat apa yang terjadi selama ini, masa depan tidak bisa diubah. Ini buktinya.

-End of Minana's POV-

Naruto melotot tidak percaya saat melihat sebuah tangan keluar dari dada kiri adiknya. Tidak, itu bukan 'keluar'. Seseorang telah menusuk adiknya dari belakang. Orang tersebut adalah Zetsu Hitam.

Satu detik kemudian, Zetsu hitam berubah menjadi cair. Tidak, bukan cair. Zetsu Hitam hanyalah 'parasit' yang menempel di tubuh Zetsu Putih. Lalu sekarang, Zetsu Hitam mulai menempel di tubuh Minana. Setelah Zetsu Hitam menyelimuti seluruh tubuh Minana, perlahan, Minana berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Luka di dada kirinya pun sudah menghilang.

"Minana..."

Spontan, Naruto menurunkan Lucky. Lalu perlahan, ia berjalan mendekati 'Minana'. Naruto masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat ini.

Di perang nanti, aku ingin kau melindungi Minana-chan! Di masa depan, dia terbunuh, tepat di depan mataku sendiri, dattebayo!...

Tanpa sadar, Naruto teringat kembali dengan apa yang dikatakan Naruto Masa Depan [note: chapter 15]. Ia tidak percaya kalau adiknya telah terbunuh. Sekalipun ingat kalau hal ini pernah terjadi di masa sebelumnya, tapi Naruto terus berjalan mendekati 'Minana'.

'Tidak mungkin! Minana tidak mungkin...! Tidak! Minana..!' Naruto terus meyakinkan dirinya kalau Minana belum mati. Walau wujudnya berubah menjadi wanita dewasa, berambut putih nan panjang, ada 2 tanduk di kepala, serta matanya berubah menjadi putih seperti byakugan, Naruto yakin kalau di dalamnya masih Minana, adik kembarnya.

Namun, saat mereka sudah sangat dekat, 'Minana' menyerang Naruto dengan rambut panjangnya. Rambut itu bergerak seolah menggerakkan tubuhnya sendiri. Naruto sama sekali tidak menghindar. Ia sangat yakin kalau 'Minana' tidak akan membunuhnya.

'Minana tidak mungkin membunuhku, dattebayo! Minana tidak akan membiarkan dirinya dikendalikan lagi! Iya, kan? Minana!' batin Naruto sangat yakin.

JLEB

...Sebelum tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, akupun dibunuh!

Naruto teringat lagi dengan apa yang dikatakan Naruto Masa Depan. Tapi sayang ... sudah sangat terlambat baginya untuk menghindari serangan tersebut.

.

.

Bersambung . . .


A/N: Muehehehehehehe, selesai juga ngetik chapter ini. Bagaimana menurut Reader-san? *evilsmile*

Ada satu hal yang mau Kuroki verifikasi tentang fanfic ini:
Di
fanfic ini, Naruto-Sasuke bukanlah reinkarnasi Asura-Indra/Hashirama-Madara. Karena hukum hidup-mati-reinkarnasi fanfic ini mengikuti hukum di Bleach, jadi reinkarnasi Asura-Indra masih stuck (?) di Hashirama-Madara. Soalnya di Bleach, shinigami/roh akan bereinkarnasi jika mereka mati (kalau nggak salah ingat pas baca manga-nya). Berhubung Hashirama bisa di edo tensei, berarti roh Hashirama masih ada di Soul Society. Salah satu syarat edo tensei adalah 'jiwanya tidak dalam keadaan tersegel'. Berati edo tensei hanya bisa dilakukan jika jiwanya masih ada. Soalnya kalau sudah bereinkarnasi, berarti nggak bisa di edo tensei. Kan jiwanya udah 'hancur' a.k.a nggak ada di Soul Society lagi a.k.a sudah bereinkarnasi.
Lalu soal Madara. Karena di masa sebelumnya Madara pernah di
edo tensei, berarti nggak jauh beda sama Hashirama.
Mengerti? Jika belum mengerti, katakan saja. Nanti Kuroki jelaskan lagi :3

Chapter ini sengaja dipercepat. Berhubung chapter ini hanya diambil dari 1 sudut pandang saja, jadi detail kejadian lain akan dijelaskan di chapter yang akan datang. Soalnya Kuroki takut lupa alurnya mau di bawa ke mana. Tapi karena udah sampai sini, berarti udah jelas ending-nya bakal gimana. Ketebak nggak ending-nya gimana? Ketebak nggak? *evil smile*

Oh, iya. Pas Lucky tadi menggunakan jutsu mustahil, sebenarnya itu pakai kidnapper paradox. Kuroki nggak tahu itu sebuah teori atau bukan. Di google sebutannya begitu. Ada yang pernah baca?

Setiap up chapter baru, di cover fanfic ini, pasti ada tambahan satu atau dua chara yang diwarnain (minus warna kulit). Apa Reader-san sadar? Kemarin Minato. Sekarang Naruto dan Minana. Besok siapa, ya? *mode jahat: on*
Btw, semakin banyak chara di cover yang berwarna, semakin dekat dengan ending. Jadi bisa kalian kira berapa chapter lagi fanfic ini akan tamat.

Pas ngetik chapter ini, sebenarnya ada banyak hal yang ingin Kuroki ketik di author's note ini, tapi sayangnya, Kuroki lupa mau ngetik apa. Rip, pikun. Mungkin faktor U /nggak

Jika ada bagian di chapter ini yang membuat Reader-san bingung, silahkan katakan/tanyakan saja.
Jika ada bagian yang salah atau semacamnya dalam cerita fanfic ini, silahkan katakan saja. Silahkan bilang juga jika ada typo, miss typo, dan autocorrect yang terlalu pintar (?). Nanti Kuroki edit lagi bagian yang salah.

Kuroki minta maaf kalau ada kata atau hal yang membuat Reader-san tersinggung. Arigatou karena sudah mau mampir ke sini. Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Jaa ne *BOFF*