Em, yah... hai lagi...
Akhirnya saya update, dan saya benar-benar minta maaf baru bisa update sekarang... Banyak kesibukan.. jadi ya, maafkan saya.
Jadi! Kuucapkan terima kaish banyak untuk reviewnya, untuk favoritnya dan followernya. Selamat membaca untuk chapter ini!
Disclaimer: Aku tak memiliki KHR, T.T
Warnings: ooc, slow update, typos, etc
"Japanese."
"Italian."
'Thought.'
Tsuna menatap pendatang baru yang tiba-tiba saja muncul di depan pintu masuk toko milik Kawahira. Jam sudah menujukkan pukul 9 malam dan dia bersiap ketika ia mendengar pintu depan diketuk. Lambo sudah tertidur pulas sejak lama, dan Hayato baru saja tertidur sepuluh menit lalu. Ia sebenarnya juga sudah terlelap ketika seseorang mengetuk pintu depan.
"Kau..." Tsuna berbisik dengan tertahan. Byakuran terkekeh.
"Ah, kau pasti sudah mendengar suaraku sebelumnya ketika kau menguping pembicaraanku dengan kakakmu." Byakuran berkata dengan senyuman licik yang masih terpajang di wajahnya. "Apa aku salah? Sawada Tsunayoshi-kun? Penjaga tri-ni-sette yang baru?"
Tsuna menegang mendengar sebutan itu. Ia menyipitkan matanya seraya tubuhnya mengambil siaga. Byakuran tertawa kecil melihat tingkah Tsuna.
"Tenanglah, aku tak akan menyakitimu, Tsunayoshi-kun~" Byakuran berkata dengan sing-song voice. Tubuh Tsuna mulai relaks, tapi ia tak menjatuhkan seluruh siaganya. "Aku ingin bicara denganmu, bisa aku masuk?"
Tsuna menatap albino di depannya dengan ragu-ragu sebelum membiarkannya masuk. Setelah kembali menutup pintu, Tsuna mengikutinya menuju ke salah satu meja yang ada dan duduk di sana.
"S-siapa kau?" Tsuna bertanya akhirnya. Ia memperhatikan senyuman Byakuran yang semakin lebar dengan waspada.
"Ara~! Aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Byakuran Gesso, Pendiri Mallefiore dan merupakan pewaris sah dari Mare ring, salam kenal~" Byakuran membungkuk dengan dramatis. Tsuna memandang Byakuran dengan wajah shock ketika ia menyadari apa yang Byakuran katakan.
"Kau, pewaris Mare ring?" Ia berbisik dengan tertahan. Byakuran mengangguk, diam-diam menikmati wajah kaget Tsuna (hei! bukan salahnya kalau ia merasa bosan!).
"Yap~ Dan ada yang harus kubicarakan denganmu, Tsunayoshi-kun~" Tsuna menatapnya dengan bingung. "Ini tentang Cloak-man." Dia berkata dengan serius. Aura Tsuna berganti. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap wajah Byakuran dengan mata tajam. Gerakan yang didasari oleh Byakuran tetapi dilakukan Tsuna tanpa sadar.
"Seperti yang sudah kau tahu, aku mengetahui tentang rencanamu dan Checkerface." Byakuran memulai. "Sephira yang memerikan cincin mare padaku mengatakan seluruh kemungkinan tentang apa yang akan terjadi dan mungkin akan terjadi. Ia juga menatakan akan mengangkatmu menjadi salah satu penjaga Tri-ni-sette. Aku setuju untuk membantu mereka dan juga membantumu dengan menyimpan rahasia dan menjadi mata untukmu di antara para mafia."
Byakuran menjelaskan panjang lebar. Tsuna mengangguk mengerti.
"Aku mengerti Byakuran-san, terima kasih atas bantuanmu." Tsuna berkata. Ia menatap Byakuran, menyadari bahwa Byakuran belum selesai.
"Apa ada hal lain yang ingin kau bicarakan denganku, Byakuran?"
"Kudengar ketika kau dan Sephria berada di italia, kau diserang oleh cloak man?" Byakuran bertanya seraya memperhatikan Tsuna menegang.
"Bagaimana kau tahu?" Ia bertanya.
"Cherckerface mengunjungiku." ia berkata. "Ia bilang bahwa ia berhasil lolos dari cengkreman Cloak-man begitu pula dengan Sephira. Ia menceritakan kronologi kejadian di sana."
Tsuna masih menatap Byakuran dengan ekspresi tegang. Sementara Byakuran melanjutkan ceritanya.
"Ia juga bilang, bahwa ia juga memiliki mata-mata diantara para arcobaleno yang akan membantumu untuk menjauhkan para arcobaleno dari mu. Agak sulit mungkin dengan Reborn yang menjadi guru kakakmu. Selain itu, aku ingin memberitahumu, bahwa penjaga tri-ni-sette yang lain dan juga pemegang pacifier langit generasi ini, Uni dari Giglio Nero, mengetahui tentang hal ini." Ia menaikkan tangannya tanda damai. "Dan bukan aku yang memberitahunya, ia memiliki kemampuan untuk melihat masa depan."
Tsuna mengangguk mengerti seraya mempersilahkan Byakuran untuk melanjutkan ceritanya.
"Aku sudah membicarakannya, dan ia setuju untuk merahasiakan hal ini. Selain itu," Byakuran mengambil jeda sambil menatap Tsuna dengan hati-hati. "Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa Giotto dan yang lainnya sudah mendapatkan ingatan mereka sebagai generasi Vongola yang pertama."
"Tsuna." Tsuna membuka matnya dengan pelan. Ia menoleh dan menatap Hayato yang sudah bangun.
"Hayato?" Ia berkata seraya bangun dari tidurnya. Ia meandang sekelilingnya dan menyadari bahwa ia yang terakhir bangun, dengan sudah rapinya futon yang digunakan oleh Lambo dan Hayato.
"Lambo?"
"Ia sedang sarapan." Hayato berakata. "Aku sudah memasakkan makanan untuk kita semua. Yang lainnya juga sudah datang." Ia berkata. Tsuna mengangguk dengan malas-malasan. Ia menguap lebar dan segera merapikan futonnya sebelum berjalan mengikuti Hayato.
"Jam berapa sekarang?" Ia bertanya sambil mengucek matanya.
"Jam 9." Hayato berkata. Tsuan menolehkan kepalanya dengan cepat dan menatap Hayato dengan tak percaya.
"Selama itukah aku tidur?" dia bertanya. Hayato mengangguk.
"Kau tidur lebih dari tengah malam, Tsuna." Hayato berkata. Tsuna melirik.
"Kau terbangun?"
"...ya, aku mau ke kamar mandi ketika aku melihat kau bersama... " Hayato terdiam. Tsuna menghela nafas.
"Dia adalah Byakuran Gesso, pendiri dari Millefiore." Tsuna menjelaskan. Hayato membelalakkan matanya, seketika mengenali nama itu. "Dia juga merupakan pewaris sah dari mare ring. Dia ada di pihak kita dan Kawahira-san sudah berbicara dengannya untuk membantu kita. Ia memberikan beberapa informasi padaku, bahwa ada mata-mata Kawahira-san di dalam lingkup Arcobaleno... dan juga bahwa kakak-kakak kita sudah mendapatkan memori mereka."
Hayato membeku mendengar penjelasan Tsuna. Ia memandang Tsuna dengan wajah tak percaya. Mulutnya terbuka dan matanya membelalak.
"... mereka ingat?"
"Ya." Tsuna berkata dengan suram. Mereka memasuki ruang makan dalam diam. Tsuna memperhatikan seluruh penjaganya yang sedang makan dengan berbagai tingkah mereka. Lambo memainkan makanannya, menyikirkan sayuran dan memakan yang menurutnya enak saja. Takeshi dan Ryohei berkicau dengan ria satu sama lain, saling membicarakan olahraga terbaik menurut mereka rupanya. Kyoya makan di meja yang agak jauh dari yang lainnya, memakan makannya dengan tenang. Mukuro dan Chrome juga memakan makanan mereka dalam diam, dengan Mukuro yang menggoda Kyoya sesekali.
"Halo semuanya. Selamat pagi." Tsuna menyapa. Seluruh perhatian beralih padanya.
"Oh, hey Tsuna!" Takeshi menyapa dengan sapaan biasanya.
"EXTREMELY good day, Tsuna!" Ryohei berseru.
"Bossu, selamat pagi." Chrome menyapa dengan pelan.
"Kufufu, selamat pagi, Tsunayoshi-kun." Mukuro terkekeh.
"Pagi, Omnivore." Kyoya menganggukkan kepalanya.
"Pagi, Tsuna-nii!" Lambo berseru dengan riang. Tsuna menganggukkan kepalanya. Ia menghela nafas sebelum matanya menatap tajam setiap orang yang ada di depannya.
"Aku... aku punya informasi untuk kalian semua." Ia berkata dengan pelan. Perkataanya kembali menyita seluruh perhatian.
"Aku belum memberikan beberapa informasi penting yang terjadi beberapa hari ini." Ia berkata pada seluruh guardiannya dan mungkin akan menjadi temannya.
"Dan juga beberapa informasi yang tak kuceritakan di awal. Ini tentang alasan mengapa aku dipilih menjadi penjaga Tri-ni-sette yang ketiga." Ia menghela nafas. "Seperti yang kukatakan dulu, ada tiga alasan. Pertama, karena aku merupakan keturunan langsung dari Vongola Primo, Giotto, yang juga merupakan pendiri dari Vongola itu sendiri. Kedua, karena aku ayahku merupakan ketua dari CEDEF Consulenza Esterna Della Famiglia, dan merupakan pemegang kekuasaan kedua di Vongola. Ketiga, karena aku merupakan pewaris jabatan Bos Vongola."
Tsuna bisa merasakan hentakan nafas dari Hayato, tatapan menusuk dari Mukuro dan Kyoya, kebingungan dari Ryohei dan Takeshi serta pemahaman dari Lambo dan Chrome. Ia melanjutkan penjelasananya.
"Selain itu, aku juga ingin memberitahu kalian bahwa kakak - kakak kita, seperti kakakku, Ieyasu Sawada atau lebih dikenal dengan Giotto, kakaknya Hayato-G, merupakan reinkarnasi dari Vongola Generasi pertama." Ia mengambil nafas.
"Dan kemarin, seorang Byakuran Gesso, pendiri Millefiore dan juga pewaris sah dari Mare ring datang mengunjungi untuk memberitahuku bahwa ia ada di pihak kita dan akan menolong kita untuk mengalahkan Cloak-man. Ia juga mengatakan bahwa kita memiliki seseorang dari dalam lingkup arcobaleno yang akan menjauhkan para arcobaleno dari kita. Ia juga memberitahuku bahwa Uni, pemegang dari Arcobaleno sky pacifier saat ini juga mengetahui tentang ini semua karena ia bisa melihat masa depan."
"Aku juga ingin minta tolong pada kalian untuk berhati-hati dengan arcobaleno lainnya, karena penjaga tri-ni-sette yang lain-orang yang sama yang menunjukku-merupakan Checkerface, orang yang mengutuk mereka menjadi bayi. Bisa dibayangkan mereka tak akan bereaksi dengan baik terhadap itu."
"Ah, aku lupa, Byakuran juga mengatakan bahwa kakak-kakak kita juga telah mendapatakan ingatan mereka sebagai Vongola generasi pertama."
Tsuna mengakhiri percakapan. Ia memperhatikan seluruh penghuni ruangan itu menatapnya dengan emosi dan pikiran yang berkecamuk di dalam otak dan hati mereka. Tsuna menghela nafas seraya bergerak untuk memulai sarapannya. Hari ini, akan menjadi hari yang panjang.
Giotto menatap seluruh guardiannya, serta Cozart yang baru saja datang dari Italy dengan geram.
"...Kuanggap kalian sudah mengingat semuanya?" Giotto berkata dengan tertahan. Ia mendapati seluruh guardiannya, serta Cozart, menganggukkan kepala mereka. Giotto menghela nafas panjang. Ia menyisir rambutnya dengan tangan kanannya denagn wajah suram.
"Paling tidak reinkarnasi ini berhasil." Ia berkata.
"Giotto, kita harus segera mengambil tindakan." Cozart berkata.
"Aku setuju dengan Cozart. Cloak-man, berhasil lepas dari segelnya." G menambahkan. "Dan itu terjadi dua bulan yang lalu. Kita harus menghubungi Vindice tentang masalah ini."
Wajah Giotto berubah serius. Ia mengangguk.
"Aku mengerti. Karena itu aku mengumpulkan kalian semua untuk membicarakan masalah ini." Giotto berkata. "Dan di saat yang tepat pula untuk Cozart datang menemuiku."
"Jadi?" Daemon menyuarakan pendapatnya.
"Aku ingin G dan Knuckle pergi menemui Vindice. Kita harus segera membicarakan tentang hal ini dengan mereka. Lalu Daemon dan Alaude akan pergi mencari Checkerface."
Giotto terdiam.
"Kenapa, Gio?" G bertanya. Giotto menggelengkan kepalanya dengan resah.
"Cloak-man berhasil lepas dari segelnya dua bulan yang lalu. Bukankah kau pikir sangat aneh kalau Checkerface tidak mengambil tindakan apapun?" Ia bertanya. Ia menatap G. "Dan selama kita di Italy, aku tak mendenagar berita apa pun tentang dia."
"Kau melupakan sesuatu Giotto." Alaude angkat bicara. Seluruh perhatian teralih padanya. "Tak banyak yang mengetahui tentang Checkerface. Kalau dihitung-hitung hanya kita, Shimon, Vindice dan Arcobaleno yang mengetahui tentangnya."
"Akan sangat berbahaya juga jika informasi tentang tri-ni-sette bocor. Kau ingat dan lihat sendiri kan apa yang Byakuran lakukan dengan tri-ni-sette."
Giotto kembali terdiam. Ia menatap penjaga awannya dengan serius. "Maksudmu meskipun dia mengambil tindakan, ia akan mengambilnya dengan diam-diam?"
Alaude mengangguk. Giotto mengerutkan dahinya.
"Bagaimana dengan para Arcobaleno? Para Arcobaleno, seperti Reborn, mereka akan membeci Checkerface setengah mati. Bukannya jika Checkerface melakukan sesuatu mereka paling tidak akan mengetahui bahwa ada sesuatu yang dilakukan Checkerface?" Lampo, untuk pertama kalinya mengatakan sesuatu yang pintar. Semua menatapnya. Ia memandang balik dengan wajah blank.
"Apa?"
"Lampo... siapa kau dan apa yang kau lakukan pada Lampo kita!?" Daemon berkata dengan penuh skandal. Lampo menggerutu dengan sebal.
"Kupikir Reborn mendapat panggilan dari Mammon." Giotto berkata dengan pelan. "Makanya ia pergi menghilang selama dua hari ini."
"Berarti dapat dikonfirmasi bahwa Checkerface memang sudah mengambil tindakan. Mammon tak akan memanggil Reborn hanya untuk berbincang belaka, pasti ada perbincangan yang serius." Asari berakta. Beberapa anggukan menyetujui perkataanya.
"Bagaimana dengan Tsuna?" Tanya G tiba-tiba.
"Benar juga, Tsuna, Hayato dan Lambo. Kita masih tak tahu di mana mereka. Tapi tadi malam Mama mendapat telfon dari Tsuna yang bilang bahwa ia tidur di rumah temannya." Giotto berkata dengan pelan.
"Dan mereka juga menghilang dengan Chrome dan Mukuro." Daemon berkata dengan suram.
"Giotto... apa yang kita lakukan dengan mereka?" Tanya G dengan serius. Ia menyanyangi Hayato, meskipun mereka memiliki ayah yang berbeda. Dan walaupun ia mendapatkan ingatan masa lalunya, itu tak akan mengubah apa pun. Ia akan tetap menyanyangi Hayato. Dan lagi... bukankah itu berati masih ada kemungkinan bahwa Hayato merupakan keturunanya, sama seperti Tsuna?
"Kita akan memberitahu mereka semuanya." Ucap Giotto. G mendongak dengan cepat.
"Kau yakin? Bagaimana dengan konsekuensinya?" Tanya G dengan serius.
"Kau tak ingat? Tsuna sudah mengetahui tentang mafia sebelumnya. Tak ada salahnya kalau kita memberitahunya. Kita jadi lebih bisa mengawasi mereka dan melindungi mereka dengan lebih baik karena mereka tahu mereka dalam bahaya. Kita bahkan tak tahu apa yang Cloak-man incar. Ada kemungkinan bahwa ia mengncar Vongola untuk balas dendam kan? Bukankah itu akan membuat adik-adik kita dalam bahaya? Keluarga kita dalam bahaya?" Ucap Giotto.
"Kau juga ingin memberitahu Maman?" Alaude bertanya. Giotto menggeleng kepalanya.
"Tidak, Hanya Tsuna. Dia yang paling besar kemungkinannya untuk diserang." Giotto akhirnya berkata.
"Aku setuju dengan Giotto." Cozart angkat bicara untuk yang pertama kalinya.
"Dan Enma, adikku bisa melindungi adikmu juga. Melihat bahwa ia sudah besar di mafia begitu pula dengan Hayato. Dan kalau kudengar dari kalian, Mukuro, adik Daemon juga besar di mafia kan? Ia juga bisa melindungi Tsuna." Ia berbicara. Giotto mengangguk. Ia menoleh ke Daemon.
"Gimana menurutmu?"
Daemon mengangguk. "Aku akan mencari mereka."
"Bagaimana dengan Cavallone?" Knuckle bertanya.
"Betul, kita juga bisa meminta bantuan mereka kan? Dino pasti mau membantumu. Jika dia memang seperti Cavallone pertama, aku yakin dia mau membantumu." Asari berakta. Giotto mengangguk.
"Kita akan berbicara dengan mereka. Cozart tolong hubungi dia. Aku akan menghubungi Reborn dan Nono. Mereka perlu tahu tentang hal ini." Giotto bicara dengan suram. Anggukan kembali terlihat.
"Baiklah, saatnya bekerja."
Okeee...
