Makasih banyak buat yang nyempetin review dan jadi mood booster :D
#amura : iya XD masa ya sasu mulu yg maju kekekeke hu um, dong, mereka harus keren B-) btw makasih banyak read reviewnya ya :D
#Maniaksasunaru : punya kok :3 search aja Noisseggra. Ekeekeke mreka adegan begituan gak di trilogy ini keknyaa XD btw makasih banyak read reviewnya ya…
#Secretfans : iya dong, naru kan juga cowok XD yoshaa makasih semangatnya, makasih juga read reviewnya ya :D
#D : iya dong XD gitu2 naru kan juga cowok XD hmm…bisa diatur, sayang juga cogan dibuang XD btw makasih banyak read reviewnya ya…
.
Yang log in dibales lewat PM ya ;) FujoC, uknowJung, ilop. you, Deasy674, phabo uniq, AySNfc3, AkumaKitsune718, and liaajahfujo
.
Disclaimer: Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 21: The Urge
.
.
.
"Woaah, benarkah? Tentu, tentu saja. Iya, kutunggu ya," Naruto tampak tengah ngobrol dengan seseorang di ujung telefon. Tak lama kemudian ia menutupnya. "Sasuke, nanti Gaara bakal mampir ke sini loh," ucapnya.
"Begitu?" balas Sasuke.
"Iya," jawab Naruto. Ia terdiam melihat Sasuke menjauh. Tatapan Naruto tertunduk, apa Sasuke masih marah ya? Pikirnya. Ingatan Naruto kembali melayang pada kejadian malam itu.
.
.
.
Sasuke menurunkan bibirnya dan menggigit leher Naruto. "Ngh…" Naruto mengerang karenanya. "Sasuke…?" panggilnya.
"Ne~ Naruto," bisik Sasuke dengan suara berat. Suara yang baru pertama kali Naruto dengar. "Ayo lakukan sex."
"…" Naruto tak langsung menjawab, tapi perlahan matanya melebar. "Eh…?" ucapnya. "Jadi…yang tadi itu bukan sex?"
Seketika tubuh Sasuke terhenti, seolah waktu berhenti baginya.
"Ma-maksudku, karena cowok nggak punya Mrs. V kukira hanya bisa sebatas bl*wj*b," tambah Naruto. Sasuke masih tak merespon. "Tapi kalau memang bisa…umm, y-yeah, ayo lakukan. Kita sudah lama pacaran ja—…Sasuke…" panggil Naruto saat Sasuke malah menjauhkan diri. "Sasuke," panggil Naruto lagi, meraih lengannya.
"Besok harus bangun pagi," ucap Sasuke dan malah mengacak rambut Naruto. "Maaf, tapi kau harus mengurusnya sendiri," ucap Sasuke sambil menunjuk arah selangkangan Naruto dengan tatapannya.
"Ung…" wajah Naruto langsung memerah menyadari bagian selatan tubuhnya tegak.
"Oyasumi," ucap Sasuke dan langsung bergelung di bawah selimut.
.
.
.
Naruto hanya bisa memijit pelipisnya pelan. Dia menggeleng beberapa kali untuk kembali ke dunia nyata, sebentar lagi waktunya café buka. Naruto mengernyit saat menatap keluar dan di sana orang sudah kembali berjubel, bahkan lebih banyak dari kemarin.
"Woah," komentar Naruto. "Sepertinya benar yang dikatakan Ashima-san dan Ken-san," cengir Naruto.
"Tentu saja, aku selalu benar," Ashima menyombongkan diri. Naruto tertawa menanggapinya. "Kalau begitu ayo, sudah waktunya buka," merekapun kembali berbaris di depan pintu, lalu membuka pintu sambil mengucapkan, "Selamat datang di café Bluebell," dan…
"Kyaaahhh…" seketika hati langsung beterbangan dari para pelanggan yang hampir semuanya cewek. Kesibukan café pun dimulai.
~OoooOoooO~
"Terimakasih banyak, datang kembali," ucap Naruto pada pelanggan yang barusan membeli selusin donat. Ia bisa beristirahat sebentar karena sisa pelanggan yang ada masih makan di tempat. Naruto melirik Sasuke, cowok itu sibuk di mesin kasir. Naruto bimbang mau menegur atau tidak, menegur pun mau bilang apa.
"Ngh…apa aku salah ya," gumam Naruto pada diri sendiri. "Ah aku tahu, nanti kutanyakan saja pada Gaara," Naruto memutuskan. Tapi apa tidak aneh setelah lama tidak bertemu tiba-tiba saja tanya yang aneh-aneh? Naruto berpikir sejenak lalu meraih ponselnya. "Kenapa aku bodoh sekali, aku kan bisa browsing di internet. Tapi…memangnya ada ya?" penasaran, Naruto pun mulai browsing di ponselnya. Awalnya yang Naruto temukan malah berita mengenai pelarangan LGBT dan sebagainya, tapi Naruto terus mencoba keyword lain hingga ia menemukan yang ia mau.
"…" Naruto mematung beberapa detik, lalu mulai menyecroll lagi layar ponselnya. Cukup lama ia terus menatap layar ponselnya sebelum terbelalak tak percaya. "T-tunggu…yang benar saja," ia masih menatap tak percaya. "Masa…masa…masa lewat…"
"Ada apa?" tanya Sasuke yang melihat Naruto panik.
"Huh?" Naruto yang sadar langsung menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh, seolah ingin menutupi bagian belakangnya. "Bukan apa-apa, hanya info mengejutkan yang lewat di iklan," alasan Naruto.
"Begitu," balas Sasuke dan kembali pada kesibukannya. Naruto juga kembali ke layar ponselnya, menatap serius benda itu. Akhirnya kini ia mengerti sesuatu yang bernama anal sex.
~OoooOoooO~
"Naruto, aku sudah ada di dekat situ. Kesana sekarang tidak apa-apa?" chat Gaara.
"Iya tidak apa-apa, kutunggu," balas Naruto.
"Ne Sasuke, Gaara sudah mau ke sini," ucap Naruto.
"Ya tinggal datang saja kan," balas Sasuke.
"Nanti aku tinggalkan shift ku ya, masa ada tamu tidak ditemani."
"Iya, aku juga baru mau bilang begitu. Kecuali dia mau tetap di café dan dikerubuti fans."
Tak lama kemudian Gaara betulan datang ke café itu. Pengunjung yang tengah ada di café tentu saja langsung histeris.
"Selamat siang semuanya," Gaara menyapa ramah seperti biasa. "Haha jangan biarkan aku menganggu makan siang kalian, aku hanya mampir ke café milik teman baikku untuk makan gratis," candanya yang dibalas tawa para pelanggan.
"Yo, lama tak bertemu," sambut Naruto.
"Waah café yang bagus," komentar Gaara.
"Terimakasih. Mau pesan apa? Tenang saja, khusus hari ini gratis untukmu," cengir Naruto.
"Eeh masa hanya hari ini saja."
"Iya lah, lain kali khusus untukmu bayar dua kali lipat."
Gaara tertawa. "Kalau begitu biar kulihat menu nya."
Naruto menyodorkan menu ke Gaara. "Sebaiknya makan di dalam saja bagaimana?" ucap Naruto setengah berbisik.
Gaara menatap sekeliling, beberapa orang tengah mengambil fotonya secara diam diam. "Ya, kurasa begitu," balas Gaara. Setelah memesan menu, Naruto pun membawa Gaara ke lantai dua. "Hei, kalau café kalian sudah ramai bagaimana kalau tempat ini dijadikan tempat untuk drop ship juga? Kan produk investasi kalian juga, bisa sekalian promosi," obrol mereka sambil naik.
"Boleh juga, nanti aku bilang ke Sasuke," Naruto membawa Gaara ke ruang tengah.
"Ngomong-ngomong siapa pekerja yang ada di café? Kalian sudah langsung bayar karyawan?"
"Oh, yeah, kurang lebih. Mereka dulunya bawahan Sasuke waktu Sasuke masih di keluarganya, well, banyak yang terjadi," Naruto enggan menjelaskan.
"Begitu," Gaara merenggangkan otot tangannya. Mereka terdiam beberapa saat saat Gaara melepas jaket nya.
"Umm…Gaara, ngomong-ngomong…bagaimana hubunganmu dengan Neji?" tanya Naruto.
"Baik-baik saja. Memangnya kenapa?" Gaara mengernyit. "Kau sedang ada masalah dengan Sasuke?"
"Tidak, bukan begitu," Naruto sedikit gugup. "Etto…umm, boleh aku tahu, sampai sejauh mana hubunganmu…dengan Neji?"
"…" Gaara terdiam sesaat, mencoba menebak arah pembicaraan Naruto. "…tentu saja sudah sampai akhir."
"…sampai akhir…? Etto…umm, a-apa maksudmu…sex?"
Gaara mengangguk. "Kau mau minta tips sex padaku atau apa?"
"E-eehh? Bu-bukan itu? Anu…etto…" Naruto kelabakan. "Ugh…" ia mengeratkan kepalan tangannya, membulatkan tekat. "Memangnya tidak sakit?" tanya Naruto pada akhirnya.
"…" Gaara terdiam, hening menyelimuti untuk beberapa saat. "Huh…?" Gaara cengok.
"Ma-maksudku, kalau kau sudah melakukan sex dengan Neji, berarti kau tahu kan kalau sesama cowok melakukan sex itu lewat…lewat…ya pokoknya lewat situ. Ma-makanya aku tanya apa tidak sakit?"
"…" Gaara terbelalak tidak percaya. "Huuuuh? Jadi maksudmu kau dan Sasuke belum pernah melakukan s—…"
"Ssssstttt…!" Naruto langsung membungkam mulut Gaara dengan tangannya, tapi lalu melepasnya juga setelah Gaara agak tenang.
"Serius?" tanya Gaara tak percaya, ia sudah menurunkan nada bicaranya. Naruto mengangguk. "Astaga, bukannya dulu kau pernah menunjukkan kissmark padaku, kukira kalian sudah melakukannya," tambah Gaara.
Naruto menggeleng. "Waktu itu aku saja baru tahu apa itu kissmark," bantah Naruto.
"Astaga, kau ini kelewat polos atau apa? Kau nggak pernah nonton AV?"
"Bukannya nggak pernah, tapi di AV kan nggak ada yang membuat kissmark."
Gaara sweatdrop. Iya juga sih, batinnya. "Terus jangan-jangan karena kau tahunya AV straight kau baru tahu bagaimana caranya sesama cowok melakukan sex?" tebak Gaara. Naruto mengangguk yang mau tak mau membuat Gaara memijit pelipisnya. "Maji ka yo," ucapnya. "Astaga, bagaimana bisa Sasuke sabar dengan cowok sepertimu."
"Jangan bilang begitu dong, rasanya aku mau nangis," balas Naruto.
Gaara malah tertawa. "Begini ya Naruto…" tapi sebelum Gaara melanjutkan ucapan, Sasuke masuk membawa pesanan Gaara. Naruto memberi tanda supaya Gaara tak mengatakan apapun soal tadi.
"Waah kelihatannya enak," komentar Gaara saat Sasuke menyajikan hidangan di meja.
"Semoga kau suka," ucap Sasuke.
"Pastinya."
"Kubuatkan ramen saja untukmu," Sasuke menghidangkan ramen untuk Naruto.
"Hehe terimakasih," balas Naruto.
Sasuke tersenyum dan mengacak rambut Naruto. "Kutinggal ya, awas kalau kalian berbuat yang aneh-aneh."
"Tidak akan," ucap Naruto.
"Tenang saja, aku sudah jinak," balas Gaara. Sasuke pun meninggalkan mereka.
Naruto langsung berubah serius lagi. "Jadi bagaimana?" tanya Naruto.
Gaara menghela nafas panjang menatap Naruto, tapi lalu mengambil makanan dan mulai makanan. "Bagaimana kalau kau mencobanya sendiri saja?" ucap Gaara pada akhirnya. "Kujelaskan bagaimana rasanya pun kau nggak akan ngerti atau nggak akan percaya."
"Ugh…mungkin sih, tapi aku hanya ingin tahu," Naruto meraih ramen nya. "Habisnya aku shock sekali saat tahu bagaimana. Rasanya…" alis Naruto bertaut. "Entahlah," ia mengedikkan bahu.
Gaara hanya bisa tersenyum maklum, tentu saja reaksi Naruto akan begini kalau ia baru tahu cara melakukannya. Pasti ia berpikir mungkin sakit, atau bahkan menjijikkan, pemikiran umum orang awam. Tapi ia jelaskan pun rasanya Naruto tak akan mengerti. "Sudahlah, serahkan saja pada Sasuke," akhirnya Gaara hanya bisa menyarankan hal itu. "Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan."
"…" Naruto terdiam sesaat, mengaduk ramennya. "Yeah," balasnya kemudian.
~OoooOoooO~
"Pain kau sudah selesai?" tanya Itachi dari luar kamar mandi.
"Yeah," balas Pain.
Itachi pun masuk. "Kau tidak bawa handuk," ucapnya, menyodorkan handuk pada Pain yang ada di balik dinding kamar mandi. Karena Pain yang kelewat tinggi, kepala nya pun melampaui dinding. Ia mengambil handuk dari tangan Itachi lewat bagian atas.
"Yang semalam bagaimana?" tanya Pain sambil mulai berpakaian.
"…" Itachi tak langsung menjawab. "Entahlah, kurasa harus menunggu sebentar lagi."
"Apa tidak sebaiknya kita pergi saja, membiarkan Shishui untuk berpikir," Pain keluar dari stall kamar mandi.
Itachi menggeleng. "Aku tidak akan pergi sebelum dia memberikan jawaban," ucapnya serius.
"Begitu," tangan Pain terulur untuk membelai surai Itachi, tapi berhenti. Ia kembali menarik tangannya dan mendahului Itachi keluar dari kamar mandi.
Itachi menatap kesibukan Shishui di peternakan, ia tampak mengobrol dengan para bawahannya. Semoga saja membicarakan soal permintaan Itachi. Semalam saat Itachi mengutarakan permintaannya, Shishui menolak, tapi berkat desakan Itachi, pria itu bilang akan memikirkannya dulu. Tapi Itachi menolak pergi sebelum Shishui memberi jawaban. Biar saja keberadaannya di sana sekaligus menjadi tekanan bagi Shishui.
~OoooOoooO~
"Akhirnya selesai juga," Naruto merenggangkan otot setelah menyelesaikan rekap penjualan hari itu. Ia melihat Kuroe keluar menenteng kantong sampah hitam.
"Oi Kuroe, ini masih satu," terdengar teriakan Ken dari dapur.
"Ah, biar aku saja," timpal Naruto. Ia tahu mereka juga sama capeknya. Naruto mengambil trash bag itu lalu menyusul Kuroe keluar. Ia melihat cowok itu tengah berdiri diam di depan tempat sampah. "Kuroe-san, ada apa?" tanya Naruto. Kuroe tak menjawab. "Kuroe-san?" Naruto menghampiri, ia terkejut saat melihat bangkai anjing di tempat sampah. "Astaga, kejam sekali," ucapnya melihat tubuh anjing itu nyaris tak berwujud. Kepalanya terpelintir ke belakang, keempat kakinya sudah berubah arah keempat penjuru tak wajar, perutnya koyak dengan isi perut keluar. "Sudahlah, besok kita kuburkan. Ayo kembali dan istirahat, kau pasti lelah," ajak Naruto.
"Ah," balas Kuroe pelan tapi tak beranjak dari tempat.
"Kalau begitu aku duluan ya," Naruto pun berbalik dan melangkah menjauh. Ia menyempatkan diri menatap Kuroe yang masih tak bergerak, apa dia sebegitu terpukul nya? Tapi Naruto mengernyit saat menatap tangan Kuroe. Keadaan gelap jadi Naruto tak melihat jelas, tapi cairan menetes dari ujung jemari Kuroe. Tangan kuroe basah oleh sesuatu. Tak ingin berpikir lebih jauh, Naruto kembali melanjutkan langkah dan memasuki rumah.
"Sasuke…masa di tempat sampah ada anjing mati," lapor Naruto. "Kasihan sekali, besok kuburkan yuk."
"Anjing mati?" tanya Sasuke.
"Iya, sepertinya habis dianiaya, isi perutnya sampai keluar."
"…" Sasuke tak menjawab.
"Sasuke…?"
Sasuke menatap Naruto sesaat. "Ya, besok kita kuburkan. Sana mandi, gantian denganku," Sasuke mepuk punggung Naruto.
"Yeah," Naruto pun naik ke lantai dua. Sepeninggal Naruto, Sasuke bergegas keluar. Kuroe masih mematung di depan tempat sampah. Sasuke menghela nafas pelan lalu menghampiri Kuroe, ia menatap anjing mati itu lalu beralih ke tangan Kuroe yang berlumuran cairan merah.
"Jangan cuci di kamar mandi rumah, aku tidak mau sampai Naruto tahu," hanya itu yang Sasuke ucapkan, setelah itu ia kembali ke rumah. Ia menghampiri Ashima yang ada di dapur bersama Ken dan Hiiragi, menatap mereka satu per satu. Ken dan Hiiragi tampak baik-baik aja, yang Sasuke mengerti apa artinya. Ia beralih menatap Ashima yang tengah mencuci tangan di wastafel. Ia menghela nafas lelah lalu mematikan air sebelum berbalik menatap Sasuke.
"Malam ini aku mau jalan-jalan. Kuajak Kuroe kalau dia mau," ucap Ashima.
~OoooOoooO~
"Woaah makan enak," ucap Naruto saat menghampiri meja makan. Ashima sudah memasak untuk mereka.
"Itadakimasu," ucap mereka lalu mulai makan, seperti biasa, sambil mengobrol ringan. Perhatian Naruto teralih pada Kuroe yang lebih pendiam dari biasanya, hanya sesekali tersenyum tipis sebagai respon.
"Kuroe kenapa ya?" tanya Naruto selepas makan malam. Ia dan Sasuke tengah menaiki tangga menuju loteng.
"Memangnya kenapa?"
"Masa kau tidak melihatnya sih. Dia jadi lebih pendiam."
"…" Sasuke tak langsung menjawab, ia menarik naik tangga loteng. "Mungkin hanya lelah," tambahnya.
"…" Naruto mengedikkan bahu. "Ah, atau jangan-jangan dia masih trauma melihat bangkai anjing tadi sampai tidak doyan makan."
"Mungkin saja," balas Sasuke sekenanya. "Ayo tidur," ajaknya. Mereka bersiap tidur, tapi entah kenapa Naruto belum mengantuk, ia pun memainkan game di ponselnya. Malam sudah larut saat ia mendengar sesuatu di luar, ia memperhatikan dengan seksama. "Apa ada yang pergi ya…?" ucap Naruto.
"Mungkin Ashima," jawab Sasuke.
"He, kau belum tidur," Naruto menghampiri Sasuke, mengecup pipinya. Sasuke balas meraih tubuh Naruto dan memeluknya. "Ashima-san pergi katamu?" ulang Naruto.
"Yeah, tadi sempat izin padaku katanya mau jalan-jalan dengan Kuroe," balas Sasuke.
"Jalan-jalan kemana malam-malam begini," Naruto mengangkat tubuh atasnya untuk menatap Sasuke.
"Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa."
"Hei, aku sudah bukan anak ke—…" ucapan Naruto terhenti saat mengerti maksud ucapan Sasuke, wajahnya seketika memerah. "Me-mereka mau ke diskotek atau semacamnya?" tanya Naruto setengah berbisik.
Sasuke tertawa. "Kemana ya," ucap Sasuke dengan nada menggoda.
"Ish iya juga ya, mereka kan juga perlu yang begituan," Naruto berguling ke futonnya sendiri.
"Hei, bagaimana denganku? Aku kan juga sudah dewasa," goda Sasuke, menopang kepalanya dan berbaring miring untuk menatap Naruto.
Wajah Naruto memerah. Apa sebaiknya ia mengatakannya ya, tapi bilang apa? Masa iya bilang Sasuke ayo lakukan sex? Mungkin memang harus begitu, tapi sepertinya rintangan itu masih terlalu tinggi untuk Naruto. "Umm…etto…etto…"
"Dasar, sudahlah, ayo tidur saja," Sasuke memutuskan. Ia memeluk Naruto dan memaksanya tidur, tanpa Naruto ketahui matanya menatap kosong memikirkan apa yang kini tengah Kuroe dan Ashima lakukan.
~OoooOoooO~
Naruto tertidur beberapa saat, tapi ia terbangun lagi. Sasuke masih memeluknya, tapi cowok itu sudah terlelap.
"Geez kenapa sih, apa aku kebanyakan minum kopi ya," ucap Naruto pelan. Ia melepaskan diri dari pelukan Sasuke. Ia kembali memainkan game karena tak ada kerjaan, lalu beralih mencari tahu ulang soal sex sesama cowok. Ia melirik Sasuke, cowok itu masih terlelap. Pelan-pelan, Naruto mengambil headset dan menancapkan ke ponsel. Ia menekan link video lalu mulai menonton 'pembelajaran'nya. Tak butuh waktu lama sampai wajah Naruto memerah, tapi ia terus menonton itu, mencari beberapa video lain dan menontonnya kembali. Naruto beralih mencari Manga yaoi rate M karena sudah merasa tak kuat dengan video yang ditontonnya, tapi Manga malah membuatnya bingung. Di salah satu Manga menyebutkan kalau rasanya menyakitkan bagi si 'uke'—sebutan yang baru Naruto ketahui sebagai cowok yang berada di bawah—terlebih untuk sex pertama kali, tapi di Manga yang lain menyebutkan bahwa rasanya nikmat meski itu pertama kali baginya. Naruto hanya bisa menggaruk kepalanya bingung, sementara dari video yang ia tonton, tak memberikan gambaran jelas tentang bagaimana rasanya. Karena actor nya tentu saja tak menjelaskan apapun kecuali mendesah yang Naruto tak tahu kesakitan atau sebaliknya.
Naruto mendesah lelah, meletakkan ponselnya dan berbaring menatap langit-langit. "Mungkin benar kata Gaara, sebaiknya aku coba saja, Sasuke pasti lebih tahu tentang ini," gumamnya. Naruto bangkit karena ingin ke kamar mandi, iapun turun ke lantai dua. Ia mengernyit saat mendengar pintu dibuka pelan, mungkin Ashima dan Kuroe baru kembali pikirnya. Benar saja, ia berpapasan dengan dua orang itu yang baru memasuki rumah.
"Okaeri, kalian da—…" ucapan Naruto terhenti saat melihat penampilan mereka. meski keadaan cukup gelap karena lampu-lampu dimatikan, tapi mata Naruto sudah agak terbiasa karena loteng juga tak dinyalakan lampunya. Bercak merah membanjiri pakaian dan tangan mereka, bau anyir menusuk hidung. Seketika membangkitkan ingatan Naruto soal perang mereka di Uchiha. "Hmph…!" Naruto langsung mual. Ia segera berlari ke kamar mandi sambil memegangi mulutnya.
"Naruto-kun," Kuroe mengejar.
"Hoeekk…hoeekk…" Naruto memuntahkan isi perutnya. Kuroe berada di belakangnya, memijit tengkuk Naruto dan mengusap punggungnya untuk menenangkan.
"Maaf soal ini, aku tidak bermaksud membuatmu takut," ucap Kuroe.
"Ada apa sih? Ribut sekali," Ken keluar dari kamar dan menyalakan lampu. Hiiragi menyusul di belakangnya. Keduanya menatap Ashima dan kurang lebih mengerti apa yang terjadi.
"…" Naruto sedikit lebih tenang setelah muntah, ia melirik Kuroe.
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Kuroe. "Ini…" dia menoleh ke arah Ashima. "Aku dan Ashima baru saja menguburkan anjing yang tadi," ucap Kuroe.
"Tengah malam begini?" tanya Naruto sedikit serak.
"Yeah, aku terus kepikiran, makanya aku ingin menguburkannya segera. Ashima terbangun karenaku lalu dia membantu."
"Ada apa?" Sasuke menuruni loteng mendengar ribut-ribut di bawah. Ia terbelalak menatap Ashima dan Kuroe, juga kondisi Naruto.
"Maaf waka, kami hanya barusan menguburkan anjing yang tadi," ucap Ashima.
Sasuke tak menjawab, hanya mengepalkan tangannya erat. Ia menghampiri Naruto dan memapahnya berdiri. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya. Naruto mengangguk pelan. Sasuke membawa Naruto kembali ke kamar, menyuruhnya naik duluan. Ia berbalik dan menghampiri Kuroe, mencengkeram kerah bajunya dan mendesaknya ke tembok, tatapannya mengancam, tapi ia tak mengatakan sepatah katapun. Ia melepaskan Kuroe dan mendorongnya marah, setelah itu ia kembali ke loteng, menutup tangga dengan kasar.
Ia menghampiri Naruto yang duduk di atas futon. "Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke.
"Iya, mungkin aku saja yang kelewat sensitive," balas Naruto. "Melihat darah sedikit saja langsung begini, haha."
"…" Sasuke tak menjawab, hanya beralih memeluk Naruto. "Ayo tidur, masih malam," ucap Sasuke. Naruto mengangguk, berbaring di pelukan Sasuke. Matanya memicing, tapi tak memejam. Andai saja dia tak mendengar kepergian Ashima dan Kuroe, mungkin ia akan percaya ucapan mereka. Tapi mereka sudah pergi lama, tidak mungkin menguburkan anjing selama itu. Lalu…andai saja Naruto belum melihat bangkai anjing itu duluan, mungkin ia akan percaya. Karena ia sudah mencium bagaimana aroma anyir darah anjing, tapi bukan seperti yang ia cium dari Kuroe. Bukan ini. Saat mencium aroma ini yang Naruto pikirkan hanyalah darah manusia.
~OoooOoooO~
"Tch!" Pain mendecih kesal menatap layar ponselnya tak mendapat sinyal.
"Mau ke kota dulu? Kalau kau perlu menelfon untuk urusan penting," Itachi mendekat, duduk di samping Pain yang duduk di ranjang jerami nya.
Pain mendesah lelah. "Kurasa Nagato bisa menghandle nya selama aku tak ada," ucap Pain.
"Hm," Itachi mengangguk. Keheningan menyelimuti mereka berdua, Pain mencoba merilekskan tangannya di samping tubuh, saat itulah tak sengaja ujung jarinya menyentuh jemari Itachi. Tanpa kata, perlahan Pain meraih tangan Itachi dan menggenggamnya, merasakan debar jantung masing-masing lewat sana. Pain menoleh perlahan hanya untuk mendapati Itachi telah menatapnya, kembali tanpa kata, perlahan wajah mereka mendekat. Iris Pain terus terpaku pada onyx Itachi saat bibir mereka bersentuhan dalam kecupan ringan. Hanya itu. Perlahan mereka kembali menjauh seolah menyadari mereka tak bisa lebih jauh dari ini.
Tok tok tok…
"Itachi, kau di dalam?" suara Shishui.
"Yeah," balas Itachi. Ia masih menatap Pain saat ia harus bangkit dan melepas pegangan tangan mereka seolah hal yang paling berat di dunia, Itachi melangkah keluar kamar.
"Aku ingin bicara," ucap Shishui. Itachi mengangguk dan mengikuti langkah Shishui menuju sebuah ruangan. Di sana sudah ada ketiga bawahan Shishui. "Aku ingin mereka juga mendengarnya," ucap Shishui, mempersilahkan Itachi duduk dengan gesture tangannya. "Waktu itu aku juga belum menanyakan detailnya padamu dan pergi begitu saja, kurasa sekarang aku sudah siap mendengar semuanya."
Itachi mengangguk. "Seperti yang kubilang, aku ingin Shishui-san kembali ke Uchiha dan memimpin clan itu. Keadaannya sekarang, manor house sudah kuhancurkan bersama Fugaku dan Mikoto, juga pengikut setia mereka. Yang terjadi adalah kekacauan asset Uchiha di seluruh cabang, dunia depan juga kena dampaknya karena perusahaan sebesar Uchiha kacau dalam semalam. Aku ingin kau kembali dan memperbaiki keadaan."
"Kenapa tidak Anda saja?" tanya You.
"…sulit dikatakan, tapi aku tidak punya kebebasanku sendiri. Seperti yang kubilang, dulu aku dilempar ke pelelangan, ada hukum dunia belakang yang mengikatku. Meski 'Master' yang membeliku mengizinkanku pergi, aku tahu ada hukum lain yang bisa menjatuhkanku kalau dunia belakang sampai tahu."
"Yeah, dunia belakang selalu saja begitu," balas Shishui. Ia menghisap rokoknya, lalu menunjuk Itachi dengan rokok itu. "Apa kau yakin sudah menghancurkan semuanya, maksudku kau kan tidak perlu repot-repot mencariku kalau ada orang lain. Uchiha yang lain."
"Sekalipun ada aku tidak yakin bisa memercayakan Uchiha kepada orang selain dirimu, Shishui-san. Kuharap kau masih ingat bagaimana rencana kita dulu soal Uchiha. Kalau yang sekarang mungkin bisa dengan semua orang yang setia pada Fugaku sudah tidak ada."
"…" Shishui kembali menghisap rokoknya. "Yeah, mungkin bisa meski sulit. Kehilangan orang yang setia pada Uchiha seperti pedang bermata dua. Di sisi lain aku bisa membentuk ulang Uchiha semauku, terlepas dari sejarah Uchiha, tapi di sisi lain aku akan mudah ditusuk oleh orang dalam kalau aku tak pintar memilih anggota, atau tak berhasil mengubah mereka menjadi orang yang setia pada clan."
"Tapi Dex-san, You-san, dan Mushashi-san masih ada bersamamu. Memiliki orang kepercayaan yang tidak terlalu banyak tidaklah buruk, aku tahu kau akan baik-baik saja," ucap Itachi yakin, karena ia tahu bagaimana Rikudo beroperasi. Orang kepercayaan Pain hanyalah sembilang orang, tapi ia bisa membawa goup sebesar Rikudo bahkan lebih maju dari pimpinan sebelum Pain. "Lalu kalau kau masih kurang akan orang yang bisa kau percaya, aku masih menyisakan empat Uchiha yang aku tahu masih bersumpah mati bersama clan ini."
Shishui mengerutkan alis. "Aku baru dengar," ucapnya.
"Yeah, dan sebenarnya inilah alasan utama kenapa aku mendesakmu cepat mengambil keputusan, Shishui-san. Mereka berempat ada bersama Sasuke saat ini."
Seketika mata Shishui terbelalak, ia menggebrak meja dan menatap Itachi tak percaya. Tapi Itachi berusaha tenang. Ia menatap lurus Shishui sampai pria itu sedikit lebih tenang.
"Kau yang pergi dari Uchiha pasti tahu baik soal mereka," Itachi beralih menatap You, Musashi dan Dex satu per satu. "Aku yakin mereka juga sama saja kan saat mereka pertama pergi dari Uchiha. Mungkin mereka bisa membaur dengan manusia normal, bersikap normal, tapi suatu waktu rasa haus akan pertempuran dan darah akan menggerogoti mereka, dan sesekali mereka harus melepaskan itu. Apa aku salah?"
Ketiga orang itu tak ada yang menjawab. Seolah mengiyakan.
"Dan kalau kau tahu itu tapi masih bisa meninggalkan mereka bersama otouto-mu, kau pasti sudah gila," ucap Shishui.
"Aku memang khawatir, tapi masalah Uchiha harus segera ditangani. Aku harus mencarimu," Itachi memberi jeda sejenak. "Lagipula bukan tanpa perhitungan aku meninggalkan mereka. Mereka mantan pengawal pribadi Sasuke, sama seperti mereka bertiga terhadapmu, jadi setidaknya sedikit banyak bisa mencegah mereka berbuat melewati batas. Tapi tentunya tak bisa terlalu lama, makanya aku tidak akan pergi dari sini sebelum kau memutuskan. Waktuku tidak banyak."
Shishui menghela nafas keras dan mematikan rokoknya. "Lalu apa yang akan kau lakukan seandainya aku menolak?"
"Kau tidak akan menolak. Kehidupan peternakan seperti ini bukan kau, Shishui-san," Itachi sedikit menyeringai.
"Aku bilang kalau."
"…" Itachi tak langsung menjawab. "…aku terpaksa harus menghabisi mereka," ucap Itachi kemudian. "Mereka tidak akan bisa menjadi manusia normal sampai kapanpun.
Shishui menghela nafas lelah. "Baiklah, aku menyerah. Kalian, bereskan tempat ini. Mau dijual atau dilepas atau apa terserah kalian," komando Shishui menyuruh ketiga bawahannya pergi. Itachi tersenyum dan menghela nafas lega akan keputusan Shishui.
"Tapi aku tidak mau mengurus Uchiha sendirian, setidaknya di awal," ucap Shishui, menyalakan batang rokok yang lain.
"Ya, aku akan membantu di awal," balas Itachi.
"Selain itu," Shishui menunjuk Itachi. "Bisakah kau melepas topeng itu setidaknya di hadapanku saja."
Itachi tampak terkesiap, tapi lalu tersenyum. "Sasuga Shishui-san, kau tahu aku lebih baik dari diriku sendiri."
"Keh, tentu saja," Shishui menghisap rokoknya. "Kau manusia berhati kapas, mana mungkin kau mau membunuh empat Uchiha itu. Kau bahkan repot repot mencariku ke ujung dunia demi mereka. Tebakanku, mereka sudah pernah nyaris mati, tapi bukannya membunuh mereka sekalian kau malah membiarkan mereka hidup."
"…" Itachi tak menjawab, hanya tersenyum tipis.
"Lalu soal Master mu itu," Shishui memberi jeda kalimatnya, menatap Itachi. Ia menopang dagunya dan tersenyum nakal. "Bilang saja kau mencintainya dan ingin bersamanya daripada repot-repot mengurus Uchiha, ya kan."
"…" Itachi terbelalak lalu tertawa, wajahnya sedikit merona. "Ssst…kalau itu rahasia," ucapnya dengan telunjuk di bibir.
~OoooOoooO~
"Waaah akhirnya datang juga," ucap Naruto saat perlengkapan kamar mereka akhirnya datang.
"Kalau begitu ayo cepat pasang, aku sudah capek tidur di futon," balas Sasuke.
"He? Lalu siapa yang belanja?"
"Biar kami saja tidak apa-apa, asal sudah di list," jawab Kuroe.
"Hehe terimakasih banyak Kuroe-san, sebentar ya kubuatkan daftar nya," Naruto segera mengambil kertas dan menulis. "Ini list nya, dan ini toko di mana kalian bisa menemukan barang-barangnya," Naruto menyerahkan daftar itu.
Naruto dan Sasuke mulai mengurusi kamar mereka sementara yang lain belanja, hari ini café libur.
"Yosh, sepertinya sudah ok," Sasuke mencoba menyalakan saklar. Ia baru saja memasang lampu juga stop kontak untuk TV, dan yang lain.
"Aku baru tahu kau bisa soal listrik," ucap Naruto, ia kebagian merakit ranjang serta lemari.
"Hiiragi yang mengajariku," Sasuke menyalakan TV. "Biar nggak sepi banget," ujarnya lalu membantu Naruto. TV tengah menyiarkan berita tentang pembunuhan, tentang pembunuhnya yang tertangkap dan dijatuhi hukuman mati. Sasuke melirik Naruto sesaat, mungkin sebaiknya ia mengganti chanel TV. Tapi sepertinya Naruto tak bereaksi, ia menatap layar TV lalu kembali bekerja.
"Ne~ Sasuke," ucap Naruto pada akhirnya.
"Mm hm?" balas Sasuke.
"Apa…mereka bisa tertangkap polisi?"
"…tidak akan," jawab Sasuke.
"Haha yeah, Ashima-san ahli menghapus jejak," balas Naruto.
"Bukan begitu, mereka memang tidak bisa ditangkap sekalipun ketahuan."
Naruto mengerutkan alis. "Apa maksudmu?" sejenak ia menghentikan pekerjaannya.
"Mereka manusia di bawah nama Yakuza, Naruto. Mereka tak punya kewarganegaraan, keberadaan mereka seperti hantu di Negara ini, tak ada data diri, tak ada identitas. Kalaupun mereka tertangkap, mereka tidak bisa diproses secara hukum. Hukum Negara tak berlaku bagi mereka," terang Sasuke yang tentu saja membuat Naruto terkejut. "Karena itulah, kalau mereka tak punya Master untuk dilayani, mereka kehilangan satu-satunya identitas mereka. Setelah Uchiha hancur aniki memutuskan untuk membangunnya kembali, tapi kemarin ia mengatakan ia ingin di Rikudo. Makanya saat ia pergi untuk mencari penyelesaian masalah aku membiarkannya saja meski aku tahu dia akan melakukan hal bodoh, kami berdua sama-sama tahu tidak bisa membiarkan mereka berempat begitu saja."
"…" Naruto tak bisa menjawab apapun, ia mencoba kembali focus pada pekerjaannya.
"Apa kau takut pada mereka?" tanya Sasuke setelah cukup lama diam.
Naruto mengedikkan bahu. "Entahlah," jawabnya. "Kalau dilihat dari sisi itu memang seram, tapi sikap mereka sehari-hari baik-baik saja, aku tidak tahu mana yang asli."
"Keduanya sama-sama mereka. Mau tak mau harus kau terima," Sasuke menghela nafas panjang, ia menunjuk Naruto dengan bagian lemari yang belum dipasangnya. "Aku tahu ini tidak akan membuatmu lebih tenang, tapi mereka tidak selalu dalam fase 'haus darah'," ucap Sasuke. "Kalau kau pernah baca tentang psychopath, sebenarnya mereka manusia yang tenang, bahkan ketenangan mereka di atas rata-rata. Mereka hanya akan berubah liar kalau kebutuhan mereka tak terpenuhi. Sama seperti mereka sekarang ini. Mereka terlalu lama berada di dunia depan, mereka butuh pelampiasan sesekali, tapi setelah itu mereka akan kembali tenang."
"U-uh…'pelampiasan' yang kau maksud itu…" mau tak mau Naruto menatap dengan muka diarsir.
Sasuke mengangguk. "Tapi kurasa mereka masih bisa berpikir jernih, apalagi ada Ashima dan Hiiragi. Sebelum mencari mangsa kurasa mereka memilih dulu manusia seperti apa incaran mereka supaya tak terlalu menimbulkan masalah."
"Be-begitu ya…" ucap Naruto. "Benar-benar tidak bisa berhenti saja?"
Sasuke menggeleng. "Kalau mereka tidak melakukan itu mereka bisa-bisa malah membunuh manusia di siang bolong tanpa alasan, bisa saja anak kecil lewat mereka sambar lalu—…" Sasuke menghentikan ucapan saat melihat Naruto bergidik ngeri.
"Baiklah, aku tidak paham tapi setidaknya aku mengerti," ucap Naruto.
Sasuke tertawa pelan. "Yeah, semoga saja kalau nanti aniki kembali keadaan bisa lebih baik," ucapnya.
"Eh, kembali? Berarti menyelesaikan masalah soal Uchiha?"
Sasuke mengangguk.
"Berarti mereka berempat nantinya akan kembali ke Uchiha?"
"Tentu saja kan, itu habitat terbaik mereka."
"Eeeeehhhh?" raung Naruto tak terima.
"Kau ini aneh, katanya takut tapi tidak rela saat mereka pergi," Sasuke mengacak rambut Naruto.
"Habis…"
"Sudahlah, kita lihat nanti saja," Sasuke mengecup dahi Naruto. "Ayo selesaikan ini."
~OoooOoooO~
Itachi dan Pain menunggu di sisi mobil, menatap Shishui dan bawahannya yang masih bolak balik ke peternakan. Sepertinya mereka memberikan peternakan mereka pada otoritas daerah setempat, karena tidak mungkin mereka menjual dan harus laku dalam waktu singkat. Biar saja lahan mereka digarap oleh para penduduk setempat.
"Ne~ Pain," panggil Itachi setelah keheningan lama. "Kau pernah mengatakan soal kau yang tak bisa menjadi prioritas utamaku," ucap Itachi. Pain tak membalas, membiarkan Itachi menyelesaikan kalimatnya. "Setelah urusan ini selesai…" Itachi menghela nafas, ia beralih menatap Pain, memaksa pria itu juga menatapnya.
"…menikahlah denganku, dengan begitu apapun yang terjadi aku akan menjadikanmu prioritas utamaku."
.
.
.
~To be Continue~
.
.
.
Sebenernya menggalnya gak enak banget di sini X'D tapi ini udah panjaaaaang banget, kalo dilanjut ampe yang author mau bakal super duper panjang X'D
Begitulah, jadi…ditunggu read reviewnya…gambar seperti biasa bisa dlihat di facebook page: Noisseggra no Sekai ^-^/
