Periode 21: Hari Minggu
.
Mereka lalu memutuskan untuk belajar bersama di halaman belakang rumah Nishikino Maki. Di bawah pohon yang rindang, tepat di samping kolam air mancur tersebut. Rin Hoshizora telah berganti pakaian dengan mengenakan kaus kasual milik Maki yang tampak longgar di bagian dada dan pinggangnya. Yah, setidaknya itu lebih baik daripada mengenakan piyama saja, kan?.
"Jadi, bagaimana rencanamu untuk besok, Rin?" tanya Nishikino Maki.
"Hmm?"
"Yah, undangan acara kompetisi piano buat hari minggu itu?"
"Oh, tentang itu? Ah, tenang saja. Rin akan berangkat kesana sekitar jam 9 pagi besok.
"...dengan pakaian aneh yang kamu pakai hari ini?"
"Ehh?! Nggak boleh, yah?!"
Nishikino Maki dan Hanayo Koizumi juga hanya bisa menghela nafas dan menepuk dahi setelah mendengar perkataan gadis kucing itu.
"Sudah kuduga, kamu pasti tidak mempersiapkan apa-apa untuk besok" keluh Maki membuka ceramahnya.
"Yah, selain untuk peserta memang sih tidak ada aturan khusus yang mengatur penampilan orang-orang yang ingin menonton kompetisi musik semacam itu. Tapi kalau dibandingkan penampilan Rippi-san selama ini, menurutmu sendiri apakah kamu tidak canggung untuk duduk disampingnya besok? Apakah kamu tidak merasa malu dengan memakai pakaian itu? Lihat, penampilanmu itu sungguh timpang tindih. Rin, Aku tidak percaya kamu masih tidak dapat memilah pakaian yang pantas untuk dikenakan di umurmu yang sekarang?!."
"...tapi, kan?! Ugh, Baiklah, aku mengerti."
Rin tidak mampu membalas perkataan Maki karena apa yang sudah dikatakan pemilik rumah itu benar-benar sangat mendasar dan langsung ke inti permasalahannya. Dengan kepala tertunduk dia mengamati pakaian yang dikenakan saat ini. Rin berkesimpulan bahwa baju pinjaman milik Maki yang dia kenakan ini bahkan lebih bagus ketimbang pakaian overall yang dia kenakan dari rumah tadi. Sungguh, Rin Hoshizora kembali mempertanyakan ulang apakah dia benar-benar pantas disebut sebagai seorang cewek?.
"Jadi, Kalau menurut Maki sendiri Rin seharusnya berpakaian seperti apa? Kamu sendiri tahu, kan? K-Kalau aku pulang ke rumah dan meminta tolong kepada mamaku, bisa-bisa Rin tidak akan kembali kemari dan terus mendekam di rumah sampai besok atau setidaknya Mama Rin puas mendadani Rin layaknya boneka barbie. Ugh, aku tidak mau itu terulang lagiiii..."
"Baiklah, serahkan saja padaku..."
"Huh?!"
Nishikino Maki menutup perkataannya sembari membusungkan dada kemudian dengan mata terpejam dia menepuk tangan pelan sebanyak dua kali. Meskipun Rin dan Hanayo tidak mengerti jenis isyarat apa itu namun yang jelas para maid Maki tampaknya sudah mengerti tugas yang harus mereka lakukan kepada tamu tuannya tersebut.
Kemudian, Rin Hoshizora lalu digiring menuju ke sebuah ruangan oleh ketiga maid yang menyertainya dan di tempat itu, di ruang rias, gadis itu hanya bisa pasrah ketika para maid itu sibuk untuk mengukur tubuhnya dengan seksama. Tidak perlu menunggu waktu lama bahkan sebelum Rin bisa beristirahat sejenak sudah ada beberapa set pakaian yang sudah tersedia sebagai rekomendasi dari para pelayan tersebut untuk Rin.
Waktu itu, bukan hak Rin Hoshizora untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya melainkan keputusan tersebut diserahkan ke dalam tangan kedua temannya yang sudah menunggu di sudut ruangan. Pilihan mereka jatuh pada dua keputusan yang berbeda. Hanayo Koizumi menginginkan penampilan Rin Hoshizora yang tetap kasual namun tampak feminim namun Nishikino Maki berkehendak lain malah dia sudah memilihkan baju pesta yang nampak glamor dengan warna merah delima yang cemerlang.
Meskipun sedari awal keinginan mereka tidak sama namun pada saat itu suara bulat telah ditetapkan. Rin bahkan tidak memiliki suara untuk mengajukan protes saat Hanayo Koizumi telah menatap busana glamor pilihan Nishikino Maki dan langsung terpana takjub untuk menyetujuinya. Begitulah, sehingga Rin Hoshizora pada akhirnya dipaksa melepas pakaiannya dan berganti dengan gaun tidak biasa itu di hadapan mereka.
"Hei, ini pelecehan seksual namanya!" protes sang gadis tomboi.
Bagaimanapun juga protes tersebut tidak digubris oleh kedua gadis itu dengan alasan bahwa mereka sama-sama perempuan. Pada akhirnya, pakaian tersebut selesai dia kenakan namun Rin Hoshizora baru menyadari sesuatu yang tidak biasa itu karena betapa longgarnya pakaian tersebut di beberapa sisi bagian tubuhnya. Namun bukan itu permasalahannya, gadis itu menjerit histeris ketika menyadari baju apa yang dia kenakan ini.
"M.. Maki-chan, bukankah ini pakaianmu yang itu?!" serunya terkejut atau lebih tepatnya dia menjadi teringat bahwa gaun yang dikenakannya itu merupakan pakaian yang sama yang pernah dikenakan Nishikino Maki pada acara pesta teh beberapa minggu yang lalu.
Nishikino Maki tidak menggubris protes tersebut malah dia menyuruh pelayannya untuk melakukan beberapa penyesuaian terhadap pakaian tersebut. "Sepertinya bagian ini harus dipotong?"
"HEH?!"
Sepintas baik Rin Hoshizora maupun beberapa pelayan di tempat itu sontak terkejut mendengar perkataan singkat dari sang empunya kostum. Rin Hoshizora berusaha keras melarangnya namun itu tetap tidak mempengaruhi keputusan Nishikino Maki. Pada saat itu Hanayo Koizumi juga tampak kebingungan dengan alur pembicaraan mereka karena dia sama sekali tidak mengetahui kejadian di pesta teh kemarin. Bagaimanapun juga pada akhirnya diputuskan tentang penyesuaian ukuran baju di area dada yang berkurang sekitar 5 cm, di area pinggul bertambah 2 cm, dan bagian perut berkurang 2 cm.
Sepintas itu perubahan yang kecil namun jika pakaian itu digunakan oleh Rin Hoshizora maka itu artinya Nishikino Maki tidak dapat lagi memakai gaun itu kembali. Pakaian yang dirancang oleh desainer ternama di perancis itu akan berakhir hanya untuknya atau dibuang untuk selamanya. Karena itu Rin Hoshizora tampak risih untuk menerima gaun tersebut namun bagaimanapun kerasnya dia mencoba menolak tetap saja sang empunya baju berkata dengan ringan.
"Tidak masalah."
Perintah telah diberikan dan itu bersifat mutlak untuk dikerjakan oleh para pembantunya. Setelah itu Rin Hoshizora dipermak habis-habisan dengan tata rias mewah yang tidak pernah dia bayangkan akan dia gunakan sebelumnya. Sekeras apapun Rin Hoshizora memprotes mereka namun tidak ada kawan yang menyertai dia. Bahkan Hanayo Koizumi yang berada di sisi Nishikino Maki tampak sibuk untuk mengabadikan momen tersebut dengan kamera smartphone miliknya. Seluruh tindakan ini begitu melelahkan Rin Hoshizora bahkan dia sudah lupa dengan tujuannya untuk menanyakan ruang bawah tanah yang pernah dia datangi siang tadi.
.
"Maki-chan?"
Rin Hoshizora pada saat itu masih berada sendirian di dalam ruang rias untuk sementara waktu setelah ditinggal pergi oleh kedua temannya. Tidak bergeming, dia terus menatap cermin yang berada di depannya layaknya sebuah boneka cantik yang selesai dirias.
Gadis itu kehilangan kata karena takjub mendapati wujud parasnya yang baru setelah selesai dipermak oleh para pembantu Maki. Pakaian yang dikenakannya itu nampak cantik berkat gaun merah yang disesuaikan bagi lekuk tubuh mungilnya.
"Hmm... Rin, kenapa kamu masih ada disini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk melepaskannya? Biarkan pembantuku yang mengurus itu untuk besok. Ayolah, lekas mandi lalu itu kita makan malam bersama."
Nishikino Maki berusaha mengajak gadis itu keluar dari kamar namun suaranya tidak digubris oleh Rin Hoshizora melainkan dia bergumam...
"A-Aku cantik...?"
Kata-kata itu terucap lembut dan pelan. Bahkan suara itu bergetar dengan sangat tipis seolah tidak rela didengarkan oleh orang lain namun Maki berhasil mendengar itu. Kelakuan Rin saat ini sungguh aneh, gesturnya kaku dan rapuh bak sebuah mannequin yang sedang menatap cermin di depannya. Kuku jemari tangannya yang telah di cat merah menyentuh kulit pipi yang juga turut berubah rona merah mereka sembari meneruskan perkataannya.
Tidak bisa...
"Mmmm... Maki-chan, aku merasa tidak nyaman memakai pakaian ini."
Rin Hoshizora menundukkan kepalanya sembari memegang belahan dada yang menonjol kecil di bagian yang terbuka tersebut. Wajahnya nampak kelam ketika memperhatikan lebih detil tekstur gaun tersebut.
Pakaian itu terasa lembut dan sangat nyaman untuk dikenakannya. Namun dia sedih, dia merasa tidak pantas mengenakan pakaian mewah semacam ini. Bagi Rin Hoshizora yang hidup di kalangan keluarga kelas menengah, memakai pakaian biasa sudah menjadi hal yang wajar dan merupakan bagian dari kehidupan normal yang selama ini dia biasa alami. Itu sama sekali bukanlah kehidupan yang mirip dengan gaya hidup Nishikino Maki saat ini. Seperti pesta teh mewah ataupun baju mewah ini.
Dalam waktu sekejab dia hanyut kedalam pemikiran terdalamnya. Dia merenungkan kembali dan mempertanyakan kenangan konflik batin yang sudah dia alami sejak usia SMA ini.
Lalu, Pertanyaan itu kembali muncul.
"Apakah... Apakah selama ini aku berteman dengan Maki-chan hanya untuk kekayaannya saja?!"
Senyuman itu lalu menghilang dan perasaan bersalah mulai muncul di dalam hatinya. Berkali-kali dia pernah merasa kecewa namun baru kali ini dia merasakan perasaan kekecewaan mendalam semacam ini. Untuk pertama kalinya dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Sekarang, apabila bisa dia ingin sekali meninggalkan tempatnya saat ini dan berlari menuju kehidupan lamanya. Apabila inilah jalan yang terbaik maka hanya ada satu pilihan bagi Rin sekarang. Rin Hoshizora akan meminta maaf karena sudah merepotkannya dan bergegas pulang ke rumahnya tanpa balik menoleh kepada Nishikino Maki kembali.
Ya, itulah yang harus dia lakukan.
Sepatah dua kata itu sudah terukir di ujung bibirnya. Dia hanya harus mengeluarkan saja.
"M... Nishikino Maki-chan, a-aku..."
Namun.
"Rin... Kamu ini ngomong apa, sih?!"
Sang putri berambut merah itu langsung memotong perkataannya saat menatap dia sambil mendenguskan nafas panjang.
"Jangan terlalu merendahkan diri. Kalau ukuran perbandinganmu adalah aku, tentu saja kamu tidak akan bisa secantik aku. Bahkan, jika kamu membandingkan dirimu dengan Hanayo Koizumi tetap saja kamu tidak akan bisa seimut Hanayo Koizumi apalagi jika itu adalah masa ukuran dada yang tidak sepadan di tempat itu." kata Nishikino Maki sambil berdiri membelakanginya. Rin Hoshizora secara refleks memegang payudaranya saat mendengarkan itu.
"Heei!"
Entah sejak kapan Nishikino Maki berada disana namun jemari tangan lembut itu menyentuh ujung helai rambut oranye yang agak lusuh di bagian tepi belakangnya secara hati-hati. Saat itu kepala Rin Hoshizora sedang menghadap ke bawah seolah ada beban yang ditimpakan ke atas kepalanya. Jadi...
Itu mungkin berkat pengalaman yang dia pelajari dari Hanayo Koizumi. Sebuah sentuhan hangat yang Nishikino Maki berikan membuat Rin Hoshizora bertingkah layaknya tanaman putri malu yang segera menguncup setelah disentuh seseorang.
Saat itu sebuah dekapan yang tiba-tiba dari belakang oleh Nishikino Maki segera membuat Rin Hoshizora tersentak dan menatap cermin untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi di depannya. Helai rambut merah yang menyatu dengan rambut oranye dan sentuhan pipi yang menyentuh daun telinga dan dekapan hangat dari kedua tangan itu telah membuat Rin Hoshizora semakin memerah merona layaknya kepiting rebus.
Itu bahkan tidak berhenti setelah Nishikino Maki melanjutkan perkataannya,
"...Rin Hoshizora hanya perlu menjadi kawaii sebagaimana Rin Hoshizora adanya. Rin Hoshizora hanya perlu menjadi kirei sebagaimana Rin Hoshizora adanya."
Lagi, dia berbisik:
"Karena Rin Hoshizora seperti itulah orang yang aku suka."
Demikianlah, Rin Hoshizora hanya bisa menundukkan kepala yang sudah semakin hangat itu setelah mendengar ucapan sang puteri. Ucapan Maki itu begitu manjur layaknya titah seseorang berkuasa yang mengikat dengan penuh kuasa sehingga Rin membatalkan niatnya untuk pulang dan momen itu mereka berdua sejenak menghabiskan kemesraan yang berada disana.
Tidak ada yang tahu sebenarnya apa yang hendak mereka lakukan. Baik Maki maupun Rin sama sekali tidak mengambil inisiatif untuk melanjutkan tindakan ini ke momen romansa. Namun ini saja sudah cukup. Kedua orang ini hanya memerlukan kehangatan persahabatan di waktu senja yang menyambut dingin malam hari ini.
.
Malam hari tiba, setelah menghabiskan waktu makan malam bersama maka ini adalah waktunya untuk ketiga gadis itu bercengkerama bersama untuk menghabiskan waktu sampai jam tidur tiba. Ketiga gadis itu kembali dengan pakaian normalnya termasuk Rin Hoshizora yang sudah melepas seluruh riasan di tubuhnya.
Mereka bertiga kembali berkumpul ke kamar Nishikino Maki dan kemudian menggelar karpet untuk bermain di atasnya. Entah bagaimana nasib belajar kelompok mereka, yang jelas mereka saat ini sedang bermain riang. Beberapa botol coke dan makanan snack juga menemani mereka saat bermain kartu ataupun ular tangga. Nishikino Maki tidak memiliki video games di dalam kamarnya jadi mereka memutuskan untuk memainkan permaianan kartu sederhana yang dibawa oleh Rin Hoshizora di dalam tas ranselnya.
Sementara ketiga gadis itu sedang bercengkerama dengan keramah-tamahan yang mereka adakan, Salah seorang dari mereka merasa bahwa hatinya menjadi sesak karena suasana yang telah di bangun di tempat itu. Kemilau biji mata ungu itu berkaca-kaca seturut dengan genangan yang membasahinya. Sebuah suara kecil di dalam hati kecilnya tiba-tiba berbisik untuk mengingatkannya. Di dalam hati, gadis itu diam-diam berdoa kepada Tuhan karena bersyukur bisa masuk ke Otonokizaka dan mengenal teman-teman barunya ini.
.
Keesokan Harinya
.
"Jadi, apakah semuanya sudah lengkap? Kamu yakin tidak ketinggalan sesuatu pun?"
"Haik.. Haik!"
"Tiketmu?"
"Siap!"
"Dompet & ID?"
"Haik!"
"Tas, sepatu?"
"Haik..Haik! Semuanya sudah aku bawa sesuai saran kalian semua, wahai nona muda sekalian!" ucap Rin Hoshizora yang mulai kesal dengan inspeksi yang dilakukan kedua temannya. "Mou, ampun deh.. Kalian ini kok cerewet sekali sih?! Ya, sudah yah Rin pergi dulu!"
Belum sempat gadis itu melangkah tiba-tiba Maki segera menyambar tangan gadis itu sebelum pergi meninggalkan pintu.
"Tunggu... Kamu memangnya mau pergi ke mana tuan puteri?"
"Tuan Puteri? Aku?! Yah, kalau aku sih mau pergi ke sana sekarang. Bakalan telat nih kalau terus menunda-nunda berada disini.
Mendengar itu Maki hanya bisa menggelengkan kepala sambil menyentil jidat gadis kucing itu.
"Kamu itu yah. Memangnya aku akan membiarkanmu berjalan kaki sambil memakai gaun mewah itu di jalanan?!"
"Huh? Umm, m—makannya, aku kemarin kan sudah bilang gak perlu memakai pakaian ini!" sahut Rin dengan pipi memerah.
"Huuh, Yah sudahlah, pokoknya sekarang kamu tunggu di depan teras sambil menunggu Rudolfo menyiapkan limusinnya. Nah, kalau begitu Hanayo.. ayo ikut aku sekarang."
"H—Haik. Mohon bantuannya."
"Ehh, Maki-chan, kamu gak perlu repot-repot seperti ini. Mending aku pesan taksi saja!"
Dan Maki tidak mau mendengarkan itu. Pada akhirnya Rin Hoshizora yang menerima perkataan Maki itu tidak bisa berkomentar banyak selain menuruti perintahnya ke depan teras. Namun sebenarnya Rin juga heran mengapa hanya dia seorang diri yang ditinggalkan sekarang? Sementara Hanayo diajak turut bersama Maki. Mereka kemana?
Sekitar 1 jam Rin menunggu di depan teras. Sesungguhnya Rin sungguh bosan sudah menunggu hal yang tidak jelas semacam ini. bahkan di menit-menit terakhir dia memutuskan untuk memanggil taksi online namun kemudian sebuah deruan kendaaran telah tiba, mobil limusin yang disopiri Rudolfo akhirnya telah tiba untuk menjemput Rin namun gadis itu menjadi terkejut saat mengetahui bagian belakang kursi itu ternyata telah terisi dua orang penumpang dan yang lebih mengejutkan lagi bahwa kedua orang itu adalah Maki dan Hanayo yang sudah berdandan cantik dengan pakaian feminim mereka.
"K-Kalian...?!"
"Rin, ayo cepat masuk nanti kita akan telat!"
"T-Tapi, kenapa kalian juga ikut?! Kayo-chin juga ikut."
"Hehehe... Surprise! Sebenarnya aku juga nggak ngerti tiba-tiba Maki menawarkan tiket yang sama dengan acara itu. yah, aku sih ikutan aja."
"B-Berisik deh. gak ada yang spesial kok. Lagipula, aku cuma kebetulan mendapatkan undangan itu dari guru les musikku kemarin."
"Pfft.. Uhuk.. Lebih tepatnya, setelah nona moda memohon ke guru pembimbing les musiknya kemarin via telepon."
"RUDOLFO!"
"Ehh, M-Maaf, nona!
Muka Maki berubah merah karena kepalang basah dengan pengakuan supirnya sehingga membuatnya memalingkan muka. Kedua temannya hanya bisa tertawa terkikih memperhatikan tingkah aneh Maki itu. Perjalanan mereka berlangsung 30 menit hingga sampai ketempat pementasan kompetisi piano tersebut. Tokyo Bunka Kaikan.
Di ujung tempat yang lain di bawah gedung galeri musik yang cukup ramai namun khusus untuk para VIP. Tidak jauh dari pintu masuk terlihat seorang gadis muda yang sedang menunggu kedatangan seseorang namun mukanya terlihat berseri-seri setelah pintu mobil itu terbuka. Gadis dengan potongan rambut pendek itu tidak banyak berkata-kata ketika orang yang membuka pintu belakang limusin tersebut telah keluar dari kendaraan ini dan gadis muda itu segera menyongsong dia untuk mengulurkan tangan kepada penumpang mobil itu.
Seseorang gadis kecil yang terpaut usia cukup jauh menyambut uluran tangan itu dengan refleks. Gadis gaun merah itu mendahului senyum teman-temannya yang mengijinkannya untuk pergi menuju ke dalam ruang pertunjukkan. Mereka lalu terlebih dahulu pergi memasuki ruang galeri musik namun kedua temannya saat itu sama sekali tidak berkeberatan bahkan mengiringi kepergiannya itu dengan senyuman.
Mungkin, Hanya inilah momen dimana mereka berdua bisa melihat seorang gadis bandel yang biasanya mereka kenal di sekolah terkenal selengekan berubah menjadi seorang puteri manis yang sebenarnya.
.
.
Bagian Encore ke-6: Semenjak Saat itu.
.
"..."
"...Pangeran!"
Lelaki berambut pirang itu sungguh terkejut saat menyadari wajah perempuan itu terlihat lebih besar dalam pandangannya. Secara refleks kedua tangannya segera memegang pundaknya untuk menahan bobot tubuhnya tidak terlalu condong miring kepadanya.
"Ah, Maaf! Oh, Putri Emilia... A-Ada apa?!"
"Ah, apakah anda tidak apa-apa? Aku perhatikan sejak tadi pagi anda sedang melamunkan sesuatu."
"Ba-Baik... aku baik-baik saja! Sungguh!"
"Benarkah?"
"Tapi, yang lebih penting dari itu... Bisakah kamu memundurkan badanmu sekarang? Posisi badanmu terlalu dekat!"
"Huft! Padahal aku ini khawatir kepadamu, lho..."
"Sudah kubilang, aku tidak apa-apa! Lagipula, jika kamu tidak minggir sekarang... apakah..."
"Hmmh?"
"... Kamu tidak risih dengan pandangan orang-orang disekitar kita?"
Perempuan muda itu lalu meluruskan posisi badannya sementara tangan pangeran masih memegang pundaknya. Dia memutar pandangan matanya ke sekeliling taman dan melihat senyum berseri-seri dari para murid sekolah itu yang hendak menggoda pasangan muda-mudi ini namun tidak berani bersuara sehingga mereka hanya bisa saling berbisik-bisik saja.
Saat itu sang putri baru sadar bahwa tangan pangeran masih melekat di pundaknya, jadi...
"Ehh, kyaaa... Plakk!"
Sebuah bekas cap tangan memerah melekat di pipi lelaki itu saat gadis itu menarik mundur badannya sementara merapikan seragamnya yang sedikit lusuh sekarang dan segera pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan malu.
.
"Adaww! Gadis itu sungguh kenapa sih?!"
Lelaki itu, Pangeran Richard kemudian turut berdiri sembari mengambil notes yang dia taruh di pinggir kolam, tempat dia duduk di tengah taman itu. Lelaki itu memutuskan untuk pergi meninggalkan taman itu dengan mengambil rute jalan yang berbeda sehingga tidak bertemu kembali. Selain itu mereka berusaha untuk menghindari tatapan wajah penasaran para murid lainnya di sekolah itu yang mulai bercengkerama ramai disana. Sudah menjadi rahasia umum bahwa kedua pasangan dari keluarga bangsawan dari kedua negara Eropa Utara itu selalu terlihat bersama dan telah difavoritkan menjadi pasangan serasi di sekolah akademi ini.
Nama lengkap perempuan itu, Emilia Regelia Joseph Franchiscus. Putri dari kerajaan Denmark. Secara samar-samar, Pangeran Richard sebenarnya tidak terlalu ingat bagaimana mereka bisa akrab hingga hari ini. Menurut penuturan perempuan itu, ketika berkunjung ke kastil miliknya, mereka pertama kali bertemu ketika dia tersesat di ruang perpustakaan sekolah. Saat dia tersesat di sekolah ini.
Entah, sebuah cerita yang konyol jika dia mengingatnya kembali. Pangeran Richard sebenarnya tidak pernah merasa tersesat apalagi di bangunan sekolah ini, dia mengenal tempat ini jauh lebih baik ketimbang halaman belakang kastilnya. Namun begitulah ceritanya, bahkan semenjak saat itulah mereka semakin akrab dan Putri Emilia nampak nyaman dengan karakter Pangeran Richard yang selalu penuh kejutan, katanya.
Di sisi lain, Putri Emilia memang menyukai Pangeran Richard namun kedua orang ini sama sekali tidak memiliki hubungan romantisme semacam itu untuk saat ini. Pangeran Richard juga terkenal cuek untuk area percintaan. Jadi, memang tidak ada hubungan apa-apa di antara mereka berdua.
Meskipun sebenarnya Putri Emilia ingin mengutarakan perasaannya namun dia juga takut, segalanya begitu rumit kalau dipikirkan ulang. Siapa yang bisa menjamin jika batasan antara cinta dan hubungan pertemanan ini telah terlampau maka tidak akan ada yang berubah? Tentu saja segalanya akan baik-baik saja jika cintanya diterima. Tapi, jika dia ditolak, akankah hubungan akrab ini masih bisa terus bersama? Bahkan dengan posisi penting yang mereka sandang, dia benar-benar tidak tahu apakah hal ini benar-benar tidak apa-apa. Setidaknya tidak akan memicu perang antar negara, kan?
Setelah itu, Pangeran Richard menuju arah chapel utara di gedung akademi ini menuju ruang kelas berikutnya dan permasalahan yang sebenarnya segera muncul untuk menyapa dirinya.
.
Seorang lelaki asia yang berperawakan tinggi memandang dirinya sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Pada awalnya Pangeran Richard enggan untuk memperhatikannya. Bahkan, dia berpura-pura tidak melihatnya dan mengambil jalan lain. Namun, Lelaki asia itu segera bangkit dari tempat duduknya dan berlari mengejar pangeran itu dan bertingkah sok akrab untuk merangkul pundaknya dari belakang tanpa rasa canggung sedikitpun.
"Haduh-haduh, enak banget yah jadi keluarga bangsawan apalagi kalau sekelas pangeran dan puteri bisa enak romantis-romantisan dimana saja tanpa takut diganggu siapapun di wilayah sekolah ini." singgung lelaki keturunan asia itu, Lee Seong-geum.
Lee Seong-geum adalah anak dari duta besar negara Korea Selatan untuk Inggris. Sudah 2 tahun ini keluarga Le Seong-geum pindah ke negara tiga singa ini untuk urusan negara. Sebagaimana anak keluarga bangsawan maka Lee yang merupakan warga negara asing dan berstatus keluarga pejabat pemerintahan inggris juga berhak memasuki Sekolah Akademi elit ini.
"Heh, siapa yang romantis-romantisan! Jaga bicaramu yah, Lee! Apa kamu mau dideportasi dari negara ini sekarang?!"
"Ampun pangeran!" sahutnya dengan nada separuh bercanda.
"Ngeledek, nih?! Ingat yah, suatu hari nanti aku pasti akan membuat perhitungan kepadamu!"
"Iya, sorry.. sorry! Ampun pangeran Richard! Kasihanilah hamba sebagai anak duta besar dari negara miskin di belahan benua seberang. Kalau nanti kerajaan mengusir hamba dan keluarga hamba dari negara ini nanti keluarga hamba mau makan apa?! Huhuhu..."
"Hah, bodo amat! Lagian, Kalau kamu butuh makan, keluargamu bisa saja kok mendaftar menjadi pelayan di kastilku? Disana kamu tidak perlu khawatir dengan kebutuhan hidupmu dan keluargamu. Tentu saja, aku akan menikmati saat-saat mempekerjakanmu selama seharian penuh tanpa jeda. Hohoho..."
"Oh, baik sekali ternyata pangeran muda ini. Tentu saja apabila hal itu terjadi maka aku akan menerimanya dengan senang hati. Apalagi, dengan begitu artinya aku bisa bersama denganmu selama 24 jam, kan? Iya kan? Iya kan?!"
"Gezz, kamu itu yah! Cowok paling bangsat yang pernah aku kenal... Jujur, aku sama sekali gak ngerti kenapa aku bisa berkenalan denganmu!"
"Hahahaha... Yah begitulah, God work in mysterious way, right?!"
"..."
"Tapi sungguh, aku sama sekali tidak menyangka dengan dirimu yang sekarang. Sungguh berbeda dengan 3 bulan sebelumnya."
[Ah, sudah 3 bulan yah?]
Pangeran Richard, putera ketiga dari Raja Edward dari kerajaan kecil Wales yang merupakan bagian dari Britania Raya. Semenjak kejadian misterius yang terjadi semenjak 3 bulan yang lalu dia secara terus menerus mendapatkan mimpi yang aneh. Lebih anehnya lagi, dia sama sekali tidak mengingat tentang kejadian yang terjadi setelahnya. Yang dia tahu adalah hari telah melompat ke 1 hari berikutnya.
Layaknya de javu, kadang-kadang dia sering ditegur karena mengulang tindakan yang sama oleh teman-temannya. Padahal, bagi dia sendiri itu adalah tindakan yang baru. Dan pada kesempatan berikutnya, pria yang dikenal penyediri ini ditemui oleh putri Emilia, perempuan tercantik di sekolah Akademi ini. Pada fenomena berikutnya, tiba-tiba dia sudah berteman dengan lelaki ini, Lee yang sudah mengakrabkan diri untuk menjadi temannya.
3 bulan sebelumnya, dia berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi ketika fenomena itu berlangsung. Bagaimanapun juga, tidak ada satu memori yang dapat dia ingat selain bayangan samar-samar dari orang-orang asing yang berperawakan seperti Lee. Bentuk bangunan yang sungguh berbeda dengan eropa dan bahkan sama sekali bukan di inggris. Dan semenjak saat itu, dia bahkan semakin terbiasa dengan hal feminis ketika teman wanitanya mencoba make-up yang baru, ada sebuah hasrat untuk memahami itu secara releks, bahkan mereka sesekali tidak canggung untuk mengajak dia berias. Sungguh, dia sama sekali tidak memahami ini juga.
.
Pangeran Richard kemudian diajak Lee menuju ruang kantin untuk menemaninya makan. Namun bukannya memesan masakan kantin malahan dia mengambil cup makanan instan dari tasnya dan menuangkan air panas.
"Hmm... Makanan itu?"
"Ah, kamu mau? Kamu mau ngicip?"
"Nggak juga, itu mie kan? Aku pernah melihat tentang itu di festival masakan asia."
"Tch, Tch, Tch... ini bukan mie biasa lho! Ini adalah rajanya mie asia! Kamu tahu makanan ini adalah rajanya mie di tempat asalnya. Dengan tambahan topping: telur rebus,chiasu, menma, bayam, sehelaii daun bawang, dan nori membuat mie ramen terkenal sebagai makanan mie yang kaya rasa. Disamping itu citarasa yang unik juga menjadi tambahan tersendiri. Seperti tambahan kecap di mie ini yang membuat rasanya menjadi manis dan asin di saat bersamaan."
"Hmm.. Hmm... Jadi ini juga masakan Korea yah?"
"Tsk, Tsk, Tsk... salah lagi! Ini adalah masakan Jepang! Kamu tahu bahkan di negara asalnya sendiri ada sekitar lebih dari 50 jenis ramen berbeda di seluruh perfektur jepang.
"Hmm.. Hmm... Jepang? Eh?!"
"Slurp, yups.. ada yang aneh?"
"Ehh, e-e.. enggak.."
"Hmm, Mau coba?"
"Ehmm..."
"Ayolah!"
"I-I.. Itadakimasu!"
Pangeran Richard lalu mengambil stik sumpit bekas Lee dan itu membuat Lee terkejut. Dia memang terkejut dengan stik sumpit Lee yang dipakai oleh Richard namun bukan itu yang membuatnya terkejut. Dia terkejut setelah mengetahui Pangeran Richard mengucapkan "itadakimasu" dan memakai sumpit untuk makan dengan fasih.
Sebuah hal mencengangkan yang membuatnya tersadar dengan sisi aneh yang terjadi pada pangeran selama 3 bulan terakhir selama pertemuannya itu. Kalau dipikir lagi, terkadang dia bisa melihat sosok orang asia di dalam dirinya dan lebih dari itu terkadang dia merasa tidak sedang berbicara dengan lelaki saat bersamanya. Melainkan sesosok wanita yang feminim, bukan seperti kelakuan wanita eropa melainkan layaknya gadis asia pada umumnya.
Dan berkaitan dengan itu maka...
