Disclaimer : Naruto bukan milik saya

Don't like don't read

Warning : Bahasa tidak baku, EYD tidak sempurna, karakter OOC

.

.

CHAPTER 21

.

.

"Dengar baik-baik ya Sasuke." Kata Hinata dengan serius sambil mencengkeram erat selimut yang membalut tubuhnya. "Aku tidak akan memaafkanmu seandainya kau mencuri-curi kesempatan saat aku tidur. Jadi sebaiknya kau jaga mata dan tubuhmu, terutama tanganmu. Aku tidak ingin menerima pelecehan dalam bentuk apapun."

Sasuke mendecih sambil berbalik dan memunggungi Hinata. Ia merasa sedikit tersinggung karena Hinata memperlakukannya seperti seorang kriminal. Ia tidak seburuk itu!

Ribuan wanita diluar sana rela bahkan rela mengantri dan berbaris untuk bisa memeluknya!

Nasib… nasib… mengapa pula hatinya justru menjatuhkan pilihannya pada Hinata.

Sasuke tidak tahu darimana Hinata belajar ilmu sihir sehingga bisa menciptakan sebuah mantera kutukan yang manjur dan ampuh.

Hinata mengamati langit-langit kamar Sasuke. Ia berharap semoga saja ia bisa tidur malam ini. Tidur satu ranjang bersama Sasuke terasa… aneh.

"Aku harap kau tidak mendengkur." Kata Hinata sambil melirik ke arah Sasuke yang memunggunginya. Ia tidak bisa menebak seperti apa raut wajah Sasuke saat ini.

Sasuke hanya diam.

Apakah dia sudah tidur?

Hinata lalu memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur.

Tapi…

Sepuluh menit…

Tiga puluh menit…

Satu jam…

Dua jam telah berlalu namun ia belum juga tertidur.

MENYEBALKAN!

Ini pasti dikarenakan aura negatif yang dipancarkan oleh Sasuke sehingga membuatnya selalu terjaga dan waspada karena merasa berada di dekat bahaya yang mungkin saja mengancam dirinya.

Apakah setiap malam Hinata akan terus menerus tersiksa seperti ini?!

Samar-samar Hinata mendengar suara hembusan nafas Sasuke yang teratur. Cih, si brengsek itu bisa tertidur lelap rupanya.

Hinata membalikkan tubuhnya agar bisa menatap punggung Sasuke. Entah mengapa meskipun mereka sangat dekat, Hinata masih merasa jauh dengan Sasuke. Sejujurnya ia tidak tahu jalan pikiran pria ini. Dia kasar dan kejam, lalu berubah lunak, kemudian berubah perhatian, lalu berganti menyebalkan, kemudian bersikap baik, lalu berubah dingin…

Apakah Sasuke memiliki masalah kepribadian?!

Hinata mengamati jari tangannya yang polos tanpa cincin pernikahan yang melingkar disana. Sampai saat ini Sasuke tidak pernah menyinggung tentang cincin itu. Apakah si brengsek ini menyimpannya? Mungkin iya. Entah kenapa hati Hinata berubah rumit setiap kali melihat cincin pernikahan yang menghiasi jari Sasuke, seolah meneriakkan pernyataan jika pria itu adalah seorang suami yang setia pada pernikahannya.

Apakah Sasuke benar-benar jujur ketika mengatakan dia menginginkan kesempatan kedua bersama Hinata?

Seandainya Sasuke memang bersungguh-sungguh… apa yang bisa Hinata lakukan?

Ia tidak mungkin terjebak selamanya dalam 'pernikahan' ini.

Tapi Hinata sudah berjanji untuk tinggal…

Ugh… mengapa ini semua terasa sangat rumit?!

Tanpa ia sadari kantuk mulai menghampirinya. Sepasang matanya kini terpejam dan kesadarannya perlahan menghilang.

Samar-samar ia merasakan Sasuke berbalik dan memeluk erat tubuhnya.

Pelukan itu terasa… nyaman.

.

.

"Sudah kukatakan untuk kesekian kalinya…" Sasuke terlihat jengkel. "Aku tidak sengaja."

"Bohong!" Hinata tidak bisa mempercayai ucapan si brengsek ini.

"Aku tidak bohong." Sasuke tetap melanjutkan sarapannya meski Hinata melemparkan tatapan tajam ke arahnya. "Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku ketika aku sedang tertidur. Mana mungkin aku tahu jika pada akhirnya tanganku tanpa sengaja menyusupi bajumu dan meraba punggungmu?"

Hinata mengacung-acungkan garpunya. "Kau pasti sedang mencari-cari kesempatan! Setelah meraba-raba punggungku kau mau apa lagi hah?!"

Sasuke memutar bola matanya. Ia merasa malas berdebat ketika hari masih pagi seperti ini.

Sejujurnya ia memang… sedikit sengaja. Yang jelas, ketika terbangun tangannya memeluk tubuh Hinata. Ia hanya manusia biasa, ia juga merasa tergoda ketika melihat perempuan cantik tertidur di pelukannya. Terlebih lagi perempuan itu adalah istrinya sekaligus seseorang yang ia cintai! Jika ia tidak mengambil kesempatan, itu artinya ia bukan laki-laki!

Namun, apapun yang terjadi ia tidak boleh mengungkapkan kebenaran ini. Bisa gawat seandainya istrinya yang bawel ini tahu, bisa-bisa Sasuke akan ditendang dan harus tidur sendirian.

"Sasuke-"

"Kau tidak boleh melanggar janjimu." Potong Sasuke.

"Kau yang lebih dulu melanggarnya. Bukankah aku sudah mengatakan jika kau tidak boleh melakukan kontak fisik yang-"

"Tapi aku tidak sengaja." Sasuke tetap bersikukuh dengan pembelaannya. "Tindakanku yang tadi adalah pengecualian karena aku tidak sengaja."

Hinata lalu menusuk-nusuk wafflenya dengan menggunakan garpu untuk menyalurkan kekesalan dan amarah yang menumpuk di hatinya.

Berbicara dengan Sasuke Uchiha memerlukan tingkat kesabaran yang tinggi.

Sasuke hanya diam sambil menyaksikan Hinata yang memutilasi wafflenya. Kini sepasang mata hitamnya beralih mengamati telapak tangannya yang sempat membelai punggung Hinata.

Ujung telinganya memerah. Damn… kulit Hinata lebih lembut dan halus daripada yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

.

.

Sakura mencengkeram erat setir mobilnya ketika ia sampai di depan kediaman Uchiha.

"Aku pasti sudah gila…" Bisiknya perlahan. "Mengapa aku memutuskan datang lagi ke tempat ini?"

Sakura mengacak-acak rambut merah mudanya. Perasaannya kacau.

Ia memang telah berjanji untuk berhenti mengejar Sasuke dan melenyapkan perasaan cinta di hatinya untuk pria itu. Meski begitu, ada secuil perasaan tidak rela yang tinggal di hatinya saat melepaskan Sasuke.

Sakura tersenyum sedih.

Ia masih belum mampu mengikhlaskan Sasuke sepenuhnya… ia masih belum mampu mengikhlaskan Sasuke bersama Hinata yang tidak lain adalah wanita yang telah berkali-kali menyakitinya hingga mengancam nyawanya.

Mengapa Sasuke lebih memilih mempertahankan Hinata dan melepaskan Sakura? Apa kurangnya Sakura bila dibandingkan perempuan jahat itu?

Sakura melirik ke arah kotak yang ia bawa. Kotak itu berisi segala macam benda yang mewakili berbagai memorinya bersama Sasuke mulai dari boneka, kotak musik, album foto, hingga poster band yang menjadi kesukaan mereka dulu. Sakura berharap ketika Sasuke melihat ini, hatinya akan tergerak dan perasaan cintanya bisa kembali muncul.

"Satu kali lagi…" Ucap Sakura perlahan. "Aku ingin mendapatkan satu kali lagi kesempatan untuk bisa membuat Sasuke-kun berpaling padaku…"

.

.

"Mau apa lagi kau datang kemari?" Hinata melemparkan tatapan tidak suka ke arah Sakura yang datang kerumahnya sambil menenteng sebuah kotak besar.

"Dimana Sasuke-kun?" Tanya Sakura sambil berusaha mencari-cari sosok Sasuke dari celah pintu yang dihalangi tubuh Hinata.

"Belum pulang." Jawab Hinata dengan nada ketus.

Sakura menurunkan kotak yang ia bawa. "Tak perlu berbohong, Sasuke-kun biasanya sudah pulang kerja saat jam seperti ini. Dimana dia?"

Hinata mendengus. Dasar perempuan sok tahu! Memangnya Sasuke bocah berumur tiga tahun yang harus duduk manis di rumah saat sore tiba?!

Raut wajah Sakura berubah dingin ketika menyaksikan Hinata yang hanya bungkam sambil berdiri menghalangi pintu. "Kalau begitu, aku akan menunggu kepulangannya disini."

Hinata membanting pintu sekencang mungkin.

Ia juga mengunci pintunya rapat-rapat.

Mau menunggu? Silahkan! Tunggu saja di teras sampai Sasuke pulang! Jangan harap kau bisa masuk ke rumah ini dan duduk manis di sofa sambil minum teh!

Melihat pintu rumah yang dikunci rapat, Sakura merasa jengkel setengah mati. Untuk menyalurkan kekesalan di hatinya, ia menendang pintu itu dengan kakinya sambil mengumpat dalam hati.

Ketika amarahnya mereda, Sakura menghela nafas sambil menyandarkan punggungnya di tembok rumah Uchiha.

Mengapa semua menjadi seperti ini…

Seharusnya posisi mereka berdua terbalik…

Seharusnya yang berada di dalam rumah ini adalah Sakura, bukannya Hinata.

Seharusnya Sakura yang berada di sisi Sasuke… bukannya Hinata…

Mengapa keadaan menjadi kacau seperti ini?

Sakura tidak tahu berapa lama ia menunggu.

Ia benar-benar tidak tahu. Ia sibuk tenggelam dalam pikirannya.

Yang jelas, ia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Hinata yang kini kembali membuka pintu sambil menatapnya dengan tajam.

.

.

"Kapan kau akan meminta maaf padaku?" Ucap Hinata sambil mendelik ke arah Sakura. Si pinky ini masih berhutang maaf padanya.

"Meminta maaf?" Sakura justru menyunggingkan senyuman penuh cemoohan. "Untuk apa?"

Si pinky keparat ini sepertinya belum pernah dihajar sebelumnya.

"Kau sudah menggoda suamiku, kau sudah menyakiti hatiku, kau sudah menghancurkan pernikahanku, mengapa kau tidak meminta maaf untuk semua kesalahanmu itu?"

"Mengapa aku harus meminta maaf?! Kau yang pada awalnya merebut Sasuke dariku! Kau juga berulang kali menyakitiku! Apa kau sudah lupa jika kau dulu selalu berusaha menghabisiku?! Kau bahkan berhasil membuatku beberapa kali dirawat di rumah sakit!" Teriak Sakura.

Hinata bungkam. Jika dipikir-pikir, Hinata Hyuuga yang asli sangat sadis. Bayangkan saja, dia berusaha menghabisi nyawa Sakura! Itu sangat mengerikan! Bagaimana seandainya Hinata Hyuuga berhasil?! Itu artinya Hinata Hyuuga melakukan sebuah pembunuhan.

Meski begitu…

"Jika kau tidak menggoda suamiku dan merusak pernikahanku, maka aku juga tidak akan menyakitimu!" Ucap Hinata dengan tegas.

"Bisakah kau membayangkan semua ini dari sudut pandangku?!" Sakura menunjuk-nunjuk dirinya sendiri. "Aku mencintai Sasuke sejak lama… aku sudah mencintainya bahkan sebelum kau mengenal nama Sasuke Uchiha! Aku sudah berkorban banyak untuknya, aku sudah mencurahkan segenap perasaan dan perhatianku padanya. Dan kini… hanya karena kau, dia membuangku dan melupakan semua yang telah kami lalui dulu. " Suara Sakura berubah getir. "Seandainya tidak ada kau… mungkin hubungan kami tidak akan seperti ini. Kami tidak akan berubah seperti dua orang yang saling membenci…"

Hinata mendengus. Sakura dan semua keegoisannya… memuakkan.

"Bisakah kau membayangkan semua ini dari sudut pandangku?" Balas Hinata. "Saat suaminya direbut wanita lain, haruskah seorang istri hanya diam saja? Seandainya kau telah memiliki suami, apa kau akan rela saat suamimu direbut oleh mantan pacarnya? Apa kau akan rela hah?! Aku berdoa semoga suatu saat nanti kau akan mengalami hal yang sama denganku. Aku berdoa semoga kau mendapatkan suami tukang selingkuh! Aku ingin kau merasakan sama seperti yang kurasakan."

"Tutup mulutmu!" Wajah Sakura berubah keruh. Bagaimanapun juga Sakura adalah seorang wanita… di dunia ini, tidak ada wanita yang berharap mendapatkan suami seorang tukang selingkuh.

"Kau juga tidak mau kan?!" Teriak Hinata. "Kau tidak ingin diselingkuhi juga kan?! Hukum karma itu ada, pembalasan itu juga nyata. Saat ini kau menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain, apakah kau tidak takut jika suatu saat nanti rumah tanggamu akan dirusak oleh wanita lain?!"

Sakura hanya diam, akan tetapi jemarinya berubah gemetaran.

"Mengapa kau tidak ingin mundur dan menjauh…" Suara Hinata berubah pelan. "Dia sudah menikah… Sasuke sudah menikah dan memiliki istri. Tidak seharusnya kau melakukan itu. Pernikahan kami memang sangat berantakan, tapi pernikahan tetaplah pernikahan."

"Aku mencintainya…" Sakura menundukkan wajahnya.

"Itu bukan alasan yang tepat untuk menghancurkan sebuah pernikahan." Hinata lalu menghela nafas. "Aku minta maaf untuk semua tindakanku yang membuatmu celaka dan hampir merenggut nyawamu. Aku benar-benar minta maaf untuk itu. Tapi… jangan harap aku memaafkan semua tindakanmu padaku. Aku masih membencimu untuk semua luka yang kau tinggalkan padaku."

Sakura kini mengangkat wajahnya. "Aku juga tidak sudi meminta maaf padamu!"

Ujung mata Hinata berkedut. Dasar pinky keras kepala!

Perhatian kedua wanita ini lalu teralihkan oleh mobil Sasuke yang memasuki halaman rumah.

Si tukang selingkuh telah pulang…

.

.

Kepala Sasuke berdenyut nyeri ketika menyaksikan Sakura dan Hinata berdiri di teras rumah. Bisa dipastikan jika kedua wanita itu baru saja bertengkar.

Bencana…

Ia mencoba bersikap setenang mungkin. Hubungannya dengan Sakura sudah berakhir, mengapa Sakura masih mengganggunya?! Apakah Sakura tidak rela jika Sasuke berusaha hidup tenang dan memulai lembaran baru bersama Hinata?!

Kedua wanita itu menatapnya ketika ia turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka. Ia berusaha mengabaikan Hinata yang melemparkan tatapan tajam ke arahnya.

"Sasuke-kun…" Sakura memanggilnya dengan suara yang manis dan akrab.

Tatapan Hinata semakin tajam.

"Sakura."

Sasuke bisa melihat mata hijau Sakura menjadi sedih dan terluka ketika ia menyapanya dengan nada yang dingin. Tapi mau bagaimana lagi?! Mereka berdua adalah mantan kekasih. Tidak mungkin mereka berdua bersikap ramah dan hangat! Terlebih lagi saat ini ada Hinata yang menatapnya dengan tatapan setajam pisau, seakan hendak mencincangnya hidup-hidup.

"Sasuke-kun, bisakah aku bicara berdua denganmu?"

Hinata memutar bola matanya sambil melenggang pergi. Terlihat jelas jika Hinata tidak menyukai interaksi mereka berdua.

Sasuke hanya mampu menghela nafas. Setelah ini, Hinata pasti akan marah dan tidak percaya lagi padanya.

Ketika mereka hanya berdua di teras, Sakura membuka pembicaraan. "Sasuke-kun, kedatanganku saat ini karena ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu-"

"Sakura." Potong Sasuke dengan nada tajam. "Hubungan kita sudah berakhir."

"Aku tahu, meski begitu aku-"

"Tidak bisakah kau merelakanku?"

Sakura terdiam, kata-kata yang ingin ia ucapkan langsung menghilang begitu saja.

"Aku bukan pria yang baik. Aku memanfaatkan kebaikan dan perasaanmu demi keegoisanku. Aku tidak mencintaimu, namun aku berpura-pura mengatakan itu karena aku ingin menjadi sosok diriku yang dulu. Kau mencintai sosok Sasuke yang telah sirna, dan aku selalu berusaha berakting menjadi sosok itu karena aku berusaha mengingat kembali kebahagiaanku yang pernah kumiliki dulu."

Air mata Sakura berjatuhan.

"Yang kita berdua rasakan saat ini bukanlah cinta… kau terobsesi dengan sosokku dulu dan aku selalu berakting menjadi seseorang yang bukan diriku. Kita tidak akan bisa bahagia dengan hubungan ini." Kata Sasuke perlahan. "Kau tahu ini, aku juga tahu ini. Kita tidak bisa berpura-pura bahagia selamanya."

"Mungkin ini bukanlah cinta yang sempurna! Tapi setidaknya kita harus mencoba. Perasaan cinta tidak akan sirna begitu saja… aku yakin kau masih memiliki perasaan cinta padaku."

"Sakura…"

"Tidak bisakah kita kembali lagi seperti dulu? Kita dulu sangat bahagia, kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Dulu cinta kita sangat sempurna. Kau membuatku bahagia hanya dengan berada di sisimu."

"Kau adalah cinta pertamaku. Dulu kita memang bahagia, tapi itu adalah dulu. Aku sudah berubah… perasaanku sudah berubah. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri lebih lama lagi. Aku tidak bisa jika aku harus menjadi sosok Sasuke yang ideal bagimu. Aku bukan lagi dia. Aku bukan lagi Sasuke yang hangat, ramah dan penuh senyuman. Aku tidak bisa lagi kembali seperti dulu…"

Sakura menghapus air matanya. "Tidak bisakah kau memberi satu kesempatan padaku? Aku berjanji akan berusaha mencintai sosokmu kini. Aku tidak akan lagi protes ataupun mengeluh, aku akan berhenti membanding-bandingkan sosokmu dengan yang dulu."

Sasuke menggeleng. "Itu bukan cinta… kau tidak bisa mencintai seseorang dengan cara seperti itu. Kumohon padamu Sakura… ikhlaskanlah aku."

Tangis Sakura tidak mampu dibendung lagi.

.

.

Jangan lupa review^^