Kuroko no Basuke Fanfiction

Drabble - 20

Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Sarishinohara - Mikito-P

Rating : T

Warning : Angst

Pair : Hint AkaKuro

A/N : Drabble yang dadakan terlintas sama author, padahal lagi tengah-tengah buat lanjutan TWBLAD *plak trus di chapie ini ga bakal banyak dialog para charanya. Banyaknya Narasi di [Akashi POV] dan author ngambil songfic dari sebuah lagu yang judulnya "Sarishinohara"

Buat blackhetalia, requestnya udah author tampung, di chapie selanjutnya author bakal buat ceritanya ya XD gomen gabisa publish di chapie sekarang *bow*

Nah, buat reader-tachi, author sepertinya bakal apdet Akakuro!Drabble ini agak lama, soalnya author lagi fokus buat lanjutin TWBLAD, kalau TWBLAD udah tamat, author bakal melesat kembali ke cerita ini xD

Semoga minna-san bisa memakluminya ya DX

tapi kalau lagi keturunan ilham kaya sekarang sih pasti bakal di update secepatnya. hehe~

Thank You for all review, fav, alert, follow, and all silent readers, Thank you for all support and all PM.. I'm happy that you all enjoy this story :)
Arigatou ~ Author will be waiting for your review ;))

Happy Reading, all..

With Love,

Zelvaren Yuvrezla a.k.a ren-chanz


Not a lot of things could get me to back down
With every step, I'm with you without a doubt
Past the gate on weekends I see
The brightest star that shines in this galaxy

Dalam mimpiku, aku selalu mengingatnya. Pemuda yang memiliki paras muka yang datar, dengan tinggi yang sepantaran dengan daun telingaku. Sosoknya yang selalu berparas datar, namun ia bisa tersenyum lembut, sosok yang begitu polos ketika ia bersama dengan diriku. Hal itu seakan menenggelamkanku ditengah-tengah lautan Baby Blue, warna yang membuatku terperangkap dalam dunianya. Apakah mengenal sosok Kuroko Tetsuya adalah sebuah kesalahan? Ataukah sebaliknya? Kini aku tidak mengetahui jawaban itu lagi dengan pasti.

Angin dingin berhembus ketika aku membuka iris Heterochrome milikku, dengan mimpi yang sama ketika aku terbangun di pagi hari. Seakan menyambutku lebih dulu dari mentari, sosok itulah yang terbesit dalam ingatanku saat ini. Sosok yang pernah mengisi kekosongan dalam relung hatiku. Aku tersenyum hambar, menatap surat pemberiannya yang kini berada di meja belajarku.

Pay no mind to all the false rumors they spread
People will always follow crowds but it cannot be helped
60 trillion cells of your being that's multiplied with all your pleasant feelings
Let me see them all

Menjadi seorang Captain tentu bukanlah hal yang mudah, apalagi saat orang-orang mulai menyebarkan rumor yang membuatku berpikir—Apakah mereka tidak memiliki kegiatan lain selain membicarakan orang lain?—. Ketika aku menginjakkan jabatanku pada saat Teiko, saat masa SMP dimana kami disebut sebagai Kiseki no Sedai, aku tahu beberapa orang pasti membicarakan hal buruk tentang diriku, dan aku tidak peduli akan hal itu. Namun, saat jabatan itu berakhir dan posisiku kini berada di Rakuzan, ya, aku yang sama, menjabat sebagai Captain sekaligus Ketua OSIS di sekolah tinggi terkenal yang berada di Kyoto, Siapa yang tidak akan meragukan kekuatanku? Pemuda yang baru menginjakkan langkahnya ke tingkat 1 di sekolah tinggi tersebut. Pemuda yang terbilang masih sangat hijau di dalam jenjang pendidikan dan pengetahuan. Namun, dengan kemampuan yang kumiliki, aku berhasil membuat mereka bungkam, mereka tunduk karena kekuatan yang kumiliki. Karena aku selalu benar, maka aku akan selalu menang, 'kan?

Pantulan sosok yang selalu terlihat kuat, terlihat memiliki kuasa dan kharisma yang membuat orang patuh terhadapku. Itulah topeng yang selalu kukenakan, topeng yang selalu kupasang agar orang lain menghormati dan tunduk pada perintahku. Apakah aku memiliki pilihan lain? Takdir telah membiarkanku lahir di keturunan garis keluarga Akashi, sosok penerus yang tidak mengerti apa itu arti cinta dan kasih sayang dari ibu yang telah melahirkannya. Semenjak kecil, ayahku selalu memberikan diktator padaku untuk menjadi nomor satu, menjadi penerusnya sebagai kepala keluarga yang bermartabat, sosok yang disanjung oleh banyak orang.

Aku hidup layaknya sesosok robot, robot yang tidak memiliki perasaan dan terus berkecimpung dalam dunia kepatuhan, dunia yang disusun oleh ayahku, dan aku hidup tanpa sebuah perasaan didalamnya. Tetapi, saat itu semua berubah, saat kenaikan kelas ke tingkat 2, aku bertemu dengan sosoknya. Sosok Kuroko Tetsuya.

"Aku menyukaimu, Akashi-kun." Itulah kata yang kuingat saat ia menyatakan perasaannya di balik halaman Teiko. Hanya itulah yang ia katakan saat ia memintaku untuk bertemu dengannya sesudah masa jam pelajaran usai.

Kupikir, tidak masalah bila aku menerima perasaannya saat itu. Tidak ada yang akan berubah banyak, kan? Lagipula aku hanyalah sebuah robot yang diciptakan tanpa perasaan, dan robot tersebut akan dibuang bila ia tidak berfungsi lagi dengan sebaiknya.

You find yourself up against a brand new door
I wonder if you've been feeling lonely there
So much that you'd rather go and just end your life, just give up

Namun, perkiraanku itu salah. Semenjak Kuroko Tetsuya masuk dalam kehidupanku, perlahan hatiku tergerak. Seorang robot kini mulai merasakan bagaimana rasanya memilki sebuah perasaan. Hari-hari di Teiko kini mulai menjadi menyenangkan, hari-hari dimana aku meluangkan waktuku bersama dengannya, dengan Kuroko Tetsuya-ku, Tetsuya milikku seorang.

Kejamkah diriku? Ketika robot itu mulai memilki perasaan, ia menjadi sosok yang sangat overprotektif, ia mengisolasi apa yang menjadi miliknya, hanya untuk dirinya sendiri.

Dan, robot itu perlahan menghancurkan sosok yang ia cintai dalam hidupnya.

Aku menghancurkannya, saat Daiki mulai menjauh dari kami semua, aku membiarkannya begitu saja, mengiris perasaan Kuroko saat Cahaya-nya kini kehilangan alasan untuk bermain. Tidak hanya itu, aku menghancurkanmu kembali, saat pertandingan antara Teiko dan Meiko, saat kami bertemu dengan sahabat sejak kecil yang mengajarimu bagaimana bermain basket. Kembali, aku menghancurkan dirimu, membuat sebuah sayatan luka yang membekas di hatimu.

Tak lama setelah itu, kita berdua berpisah.

Kau bilang bahwa kau tidak memilki lagi alasan untuk berada di tim basket, sama dengan alasanmu untuk berhenti memberikan cintamu padaku. Masa SMP adalah masa yang indah sekaligus menyakitkan bagiku.

Robot yang terlalu banyak mendapat cinta itu berlaku sesuka hatinya, tanpa mempedulikan sosok yang memberi kasih sayang kepadanya. Lalu, saat sosok yang selalu berada disampingnya itu menjauh dari hidupnya, barulah ia menyadari siapa yang memberikan cinta itu pada robot tersebut sedari awal.

But even so I still like you all the same
Whatever future you might need to face
And I will never mind if you have a past to hide

Kami berpisah, aku melanjutkan studiku menuju Kyoto, dan ia tetap berada di Jepang. Seirin, bila aku tidak salah mengingatnya. Aku tersenyum hambar ketika tidak sengaja melihat pertandingannya, pertandingan Seirin melawan Kaijo, Shutoku, lalu Touou. Saat sosoknya kembali bertemu dengan anggota Kiseki no Sedai.

Meskipun aku tidak berkata apapun, tetapi aku menanti, menanti saat aku bisa melihatnya kembali di lapangan, saat berhadapan kembali dengan sosok Tetsuya. Seolah mengabulkan permintaanku, Seirin akhirnya memasuki Winter Cup.

Aku memanggil semua anggota Kiseki untuk berkumpul, termasuk Tetsuya.

Ketika akhirnya aku bisa melihat kembali sosoknya, saat itu juga aku tahu semua telah berubah. Pandangan matanya kini terlihat berbeda, tatapan yang berbeda ketika ia biasa bersama denganku dulu. Tatapan mata yang memperlihatkan bahwa ia telah menjadi lebih kuat dan tegar.

Lalu, aku melihat sosok Cahaya barunya, Kagami Taiga.

Aku melihatnya, cara Kuroko menatap sosok Kagami ketika datang ditengah reuni kami semua. Hatiku seakan tertusuk oleh pemandangan yang berada didepanku saat ini. Sorot mata itu, sorot mata yang ia biasa tunjukkan saat kami masih bersama.

Hmm.. ternyata begitu, kurasa sudah terlambat.

Aku meminjam gunting yang berada di tangan Shintarou, dengan gunting itu aku menggunting rambutku. Bagiku, semua hari-hari indah bersama Tetsuya kini telah lenyap. Aku harus menghapusnya, menghapus semua kenangan itu, membuang semua perasaan cinta yang telah kudapatkan.

Setelah itu, aku menyerangnya, menyerang sosok Kagami. Tetapi, begitu disayangkan karena serangan itu berhasil dihindarinya. Ini semua menyakitkan bagiku, saat melihatmu begitu mengkhawatirkan sosok yang menjadi Cahaya baru untukmu ini.

Dengan berat hati, akhirnya aku meninggalkan mereka semua. Tidak ada lagi yang perlu kukatakan.

Not a lot of things could get me to break down
With every step, I'm with you without a doubt
I'll stay in front row where I'll merely be
waving at your bright smile that lights up cities
Go ahead and ask for all that you desire
Your greed is part of your charm so I'll simply comply
60 trillion cells of your being that's multiplied with your uneasy feelings
Let them come alive

Dari kejauhan, aku melihatnya, saat ia melawan Murasakibara, saat Seirin melawan Yosen. Aku tidak bisa berbohong bila aku menantikan Seirin terus melangkah maju untuk berhadapan dengan Rakuzan. Setelah kemenangan mereka atas Kaijo, akhirnya mereka datang untuk melawan tim yang berada dalam naunganku, Rakuzan.

Ah, pancaran mata itu, pancaran mata yang begitu pilu dihatiku. Apakah aku menghancurkanmu kembali, Tetsuya? Dengan keberadaan Mayuzumi yang kini ber-title sebagai New Phantom Sixth Man, aku menggoreskan kembali sayatan luka di hatimu, menyebutmu sebagai Prototype, barang lama yang tidak akan bernilai lagi dimataku. Tidak hanya itu, kemenangan Rakuzan akan Seirin pun memberikan luka baru lagi kepamu, bukan begitu?

Kau menangis saat itu ditengah lapangan, aku tidak mengerti. Apakah yang kau tangisi saat itu, apakah karena kekalahan tim-mu? Ataukah karena alasan lain? Hal yang kutahu, Tetsuya menatapku dengan pandangan yang begitu sedih, seakan ia gagal untuk meraih sesuatu. Sesuatu yang berada dalam hatiku.

Ah, a sigh of love escapes me and goes beyond all the seasons

Beberapa tahun kini berlalu semenjak kejadian Winter Cup itu. Itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya dilapangan basket. Tahun berikutnya, Ayahku melarangku untuk melakukan kegiatan club dan menyuruhku untuk belajar mengurusi perusahaan yang kelak akan menjadi milikku.

Tidak ada lagi permainan basket yang mempertemukan kita berdua.

Tetapi, dalam hatiku, aku masih mengingatnya. Aku masih merasakan bagaimana cinta diantara kita berdua sewaktu dulu, sewaktu kita masih berada di Teiko. Kenangan yang manis, sekaligus pahit itu kini mengisi hari-hariku sepanjang 3 tahun.

Apakah aku masih mencintai-nya? Sosok Kuroko Tetsuya?

And though I try pulling you away from there
Though I place kisses on the screen I stare
I know we won't ever see eye-to-eye again
I see those eyes are more focused than what
I've always thought, it's as if they're hunting for prey
Those shoulders belong to more than what I thought

Aku tidak melanjutkan studiku ke Universitas karena aku langsung ditempatkan oleh Ayahku untuk mengurus seluk-beluk perusahaan. Hari itu, tanpa sengaja aku menyetel TV yang berada di ruanganku bekerja, entah mengapa tetapi aku ingin menyalakan TV itu dan memindah-mindahkan Channel tersebut dengan acak.

Lalu, aku menemukannya.

Sosok Kuroko Tetsuya berdiri di tengah lapangan basket.

Ah, Kuroko Tetsuya yang aku cintai, sampai sekarang.

Aku mendekatkan diriku kedepan layar LCD dengan ukuran 80 Inch tersebut. Aku merindukannya, sosok Kuroko Tetsuya. Sosok yang pernah mengisi kekosongan dalam hatiku. Aku perlu berbicara dengannya, aku perlu mengungkapkan semua isi hatiku padanya.

Ironis? Saat ia mengejarku dulu, bahkan aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Dengan kejamnya aku mengiris perasannya, mencabiknya dengan luka baru di hatinya. Tetapi sekarang, saat ia telah melangkah maju seorang diri, giliran aku yang terhanyut dalam perasaan yang dinamakan cinta.

Aku segera meninggalkan kantor tersebut, pergi menuju stasiun kereta dan menunggu jalur yang membawaku ke Tokyo. Bila ia belum pindah, kurasa aku bisa bertemu dengannya kembali.

At last, when I got to see you again
Time went a hundredfold faster and tore you away from my grasp
I want to feel… I want to reach you one more time
Just have your hand in mine and it will be alright
You find yourself up against a brand new door
I wonder if you've been feeling lonely there
So much that you'd rather go and just end your life, just give up

Setelah menuruni kereta yang membawaku ke Tokyo, dengan segera aku kembali mengingat pemandangan Tokyo yang sudah lama tidak kujumpai, udara yang dingin dibulan Januari itu tidak kuhirauan. Syal yang kupakai kini menari di udara saat aku berlari sekuat tenaga menuju rumah Tetsuya. Aku ingin bertemu dengannya, ya ingin sekali.

Ketika aku mengatur nafasku yang tersengal tepat didepan rumahnya, saat itu juga aku melihat sosoknya yang datang dari jauh. Pandangan mata kami bertemu, pandangan Heterochrome-ku dan pandangan Baby Blue yang kurindukan. Meskipun 3 tahun berlalu, tetapi, aku tahu kau masih mengenali sosokku saat ini.

Kuroko Tetsuya tersenyum tulus kepadaku.

Ia mengajakku untuk makan di tempat kesukaannya, Maji Burger. Seperti biasa, ia selalu membeli Vanilla Shake, minuman yang tidak pernah lepas dari dirinya bahkan semenjak ia SMP dulu di Teiko.

Kami bercerita banyak, tentang dirinya yang kini mengejar mimpinya untuk menjadi seorang guru, dan saat-saat senggang, ia biasa membantu tim basket untuk ikut dalam pertandingan. Kuroko Tetsuya yang kukenal kini lebih banyak menampilkan ekspresinya, berbeda dengannya ketika masih di Teiko dulu.

Lalu, saat kami berdua telah selesai menikmati makan malam. Aku membawanya ke lapangan basket yang berada tak jauh dari tempat kami berada.

Aku menceritakan semuanya, dan aku menyesal telah berbuat jahat padanya. Aku meminta maaf padanya, dan memintanya untuk kembali lagi bersama diriku. Aku berjanji, bahwa kali ini aku tidak akan kembali mengulang kesalahan yang sama.

But even so I still like you all the same
Whatever future you might need to face
And I will never mind it, not at all
I am always here for you

Aku tahu jawaban apa yang akan kau berikan. Padahal aku tahu dengan jelas jawaban itu.

Tidak salah bila kau menolakku, kan?

Aku hanya tersenyum kecil, dengan lembut aku mengatakan bahwa aku mengerti.

Memang sedari awal, saat aku menyakiti perasanmu, Aku sudah tidak memiliki harapan.

Kau terdiam saat itu, tidak berbicara banyak lagi. Menyadari suasana yang sudah tidak baik lagi, akhirnya aku memutuskan untuk pergi kembali ke stasiun. Aku menyuruhnya untuk pulang, dan berterimakasih bahwa ia telah meluangkan waktunya untukku.

Berterimakasih atas apa yang selama ini ia berikan kepadaku.

Lalu aku pergi, tanpa melihatnya kebelakang. Karena aku tahu, bila aku menengok kebelakang saat ini, aku tidak bisa menahan lagi perasanku.

Salju yang turun saat itu bahkan tidak terasa dingin ditelapak tanganku.

Hatiku kini hampa, apapun yang kulakukan sudah terlambat.

Semua orang berkata bahwa penyesalan selalu datang belakangan, dan aku mengerti akan hal itu sekarang. Bagi diriku, seseorang yang selalu mendepatkan apa yang kumau, seseorang yang selalu mendapatkan kemenangan. Hal ini seolah mencabik perasanku, sangat dalam.

Ketika aku menunggu kereta terakhir, kereta keberangkatan ke Kyoto, suara engahan nafas seseorang kini menyadarkanku dari lamunanku.

Kuroko Tetsuya menyusulku.

Ia meminta maaf padaku, bahwa ia terlalu takut untuk menyatakan perasaannya, padahal semenjak kekalahan Seirin saat melawan Rakuzan dulu adalah kesempatan yang akan dipakainya untuk kembali meraihku.

Tetapi, semua terlambat. Takdir telah berubah, dan perasaan Kuroko Tetsuya perlahan memudar saat aku menghilang dari kehidupannya selama 3 tahun terakhir ini.

Dengan suara yang bergetar, ia mengatakannya. Ia mencoba untuk tegar, menjelaskan kepadaku dengan bahasa yang tidak menyakitiku.

Aku mengerti, Tetsuya. Sudah cukup, aku mengerti.

Aku tersenyum kecil, memeluk Kuroko dalam pelukanku. Selama beberapa detik kami berdua berdiam dalam posisi seperti itu. Namun, tak lama aku merasakan air mata yang jatuh ke syalku, tanpa kusadari syalku kini telah basah oleh airmata Tetsuya. Air mata yang ia keluarkan secara diam-diam tanpa bersuara.

"Maaf, Maafkan aku, Akashi-kun." Ucap Tetsuya dengan suara yang terisak.

'Akashi' kah? 'Seijuurou' yang berada didalam ingatannya kini telah menghilang ternyata.

Tanpa berkata apapun, aku hanya memeluknya. Berdiam dalam posisi ini sebelum bunyi kereta yang akan membawaku ke Kyoto kini tiba. Aku melepaskan pelukan diantara kami berdua.

"Terimakasih untuk semuanya, Tetsuya," Pandangan mata kami bertemu. Iris Baby Blue-nya kini tercampur dengan warna merah. "Semoga kau bisa menemukan kebahagianmu."

Dan itu, adalah salam perpisahan yang kubuat untuknya.

Dariku, Akashi Seijuurou kepada Kuroko Tetsuya, sosok yang selalu kucintai dari dalam hatiku.

Selamanya.

However small my being is to you,
and through all of the faults you've made, all the wrongs that you do,
I wouldn't mind if they bring me to my end

.

.

.

Forever, I'll be here for you

~Owari~