Disclaimer : All names, characters, places, belong to JK Rowling, Warner Bros, Electronic Arts, and many others. I don't own anything here, except the plot.


.

Dumbledore berdiri memegangi kotak kaca yang berisi sebuah kalung besi, dengan bandul berbentuk persegi. Di hadapannya, Spinnet berdiri, matanya ditutup seikat kain, dan kedua tangannya seolah ditahan dalam posisi seperti penyaliban. Untuk menambahkan ini, Spinnet tidak sedang berdiri di atas tanah. Dia melayang, kira-kira sepuluh senti dari lantai, dan hanya mengenakan celana panjangnya.

"Kau yakin akan hal ini, Carpathian?" tanya Dumbledore.

"Ya, Albus. Aku sudah memutuskan ini. Besok tahun ajaran selesai, dan aku sudah mengalami hidup membahagiakan di sini sebagai Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Aku sudah bahagia," jawab Spinnet.

Dumbledore masih menatapnya dengan penuh rasa khawatir. "Kau yakin? Kau bisa mati karena sakitnya," kata Dumbledore lagi.

Spinnet tertawa pelan. "Bukankah dulu kau sendiri yang mengatakan, di tengah perang tersebut, kalau Kematian adalah jalan menuju Petualangan Besar Berikutnya?"

Dumbledore memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam, lalu menghelanya.

"Tidak ada yang bisa mengubah pikiranmu?"

"Kecuali kau bisa hidupkan lagi John, Harry, Linda, dan membuat Tom bertobat. Yang mana, mustahil seluruhnya," jawab Spinnet, menyeringai kecil.

Dumbledore mengangguk. "Bersiaplah," katanya pelan.

Dumbledore mengacungkan Elder Wand ke kotak kaca tersebut, membuatnya melayang di tengah udara dan tidak bergerak sama sekali. Spinnet menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya. Dia berkonsentrasi keras akan pria yang dibunuhnya dulu saat membuat Horcruxnya. Dan, bersamaan dengan bau terbakar, ini dimulai. Penyesalan yang Amat Dalam.

Kotak kaca tersebut mulai berasap. Berasap putih tebal, dan makin tebal tiap detiknya. Asap itu membumbung, mengumpul di langit-langit, menyebar ke seluruh penjuru ruangan. Dumbledore dengan cepat menamengi dirinya dari asap tersebut, sambil mengawasi Spinnet. Asap tersebut berpusar perlahan, menebal, lalu perlahan turun, turun, sangat pelan. Seakan melihat tornado dengan pelan terbentuk, ujungnya menggapai-gapai daratan dengan lemah dari atas langit. Dumbledore mengalihkan perhatiannya ke Spinnet. Dia mulai gemetaran, berkeringat banyak, makin banyak. Seolah dia kepanasan, terbakar.

Ujung asap tersebut menyentuh hidung Spinnet.

Spinnet mengeluarkan jeritan panjang, kesakitan, menderita sekali. Asap di ruangan dengan cepat berkumpul di pusaran asap tebal, yang mana seolah terhisap masuk dengan amat sangat cepat ke dalam lubang hidung Spinnet. Spinnet terus menjerit, mulutnya mulai berdarah, mengeluarkan tetesan-tetesan darah ke lantai. Dumbledore dengan cepat melancarkan mantra siklus ke darah tersebut, mengembalikannya ke dalam tubuh Spinnet. Dia tidak akan membiarkan usaha Spinnet sia-sia. Dia berkonsentrasi penuh. Kulit Spinnet retak, dan darah mengalir keluar dari segala bagian tubuh, dari lengan, perut, punggung, semuanya. Darah tersebut menyembur-nyembur keluar, namun tidak pernah menyentuh lantai, karena mantra siklus membuat semuanya kembali ke dalam tubuh Spinnet.

Otot-otot Spinnet menegang dan membesar, seolah dia akan berubah menjadi Hulk. Kulitnya membiru, menjadi penuh memar-memar yang menyemburkan darah. Spinnet masih menjerit-jerit, meronta ingin melepaskan diri dari salib tak tampak yang menahannya. Asap tersebut terus berputar masuk seperti air di washtafel. Jumlahnya makin berkurang, namun masih banyak. Dumbledore sejenak mengumpat pada waktu yang seolah melambat. Tiap milisekon Spinnet makin sekarat, lidahnya menjulur-julur dan meronta-ronta. Jauh lebih parah dari melihat orang terkena Cruciatus.

Akhirnya, setelah waktu yang terasa selamanya, semua asap putih tersebut masuk ke dalam hidung Spinnet. Spinnet tersedak, dan memuntahkan sesuatu yang sepertinya cairan hitam sangat banyak: Darah kotor dari tubuhnya. Setelah beberapa detik, salib yang menahan Spinnet lenyap. Dia jatuh berlutut, sebelum tengkurap, terkapar di lantai ruangan.

Dumbledore buru-buru lari ke tempatnya, dan membalikkan badannya. Dia melihat semua memar, semua lubang tempat memancarnya darah sudah lenyap, digantikan titik-titik keunguan di sekujur tubuhnya. Namun selepas dari itu, Spinnet masih hidup: Dia gemetaran, bernafas berat dan pendek-pendek. Dia menoleh ke Dumbledore, dan berbisik, "Berhasilkah?"

Kata 'berhasil' sebenarnya sangat merendahkan, pikir Dumbledore. Spinnet baru saja mencatatkan diri sebagai satu dari sangat sedikit orang yang berhasil mengembalikan Horcruxnya ke dalam tubuhnya. Hal yang benar-benar menakjubkan, sebetulnya. Dumbledore membuka tutup mata Spinnet, dan melihatnya mulai terfokus, dan Dumbledore mengangguk.

Spinnet tertawa, yang berubah menjadi batuk berlendir, dan dia memuntahkan lagi darah hitam dari mulutnya. Dumbledore berseru, "FAWKES!"

Kilatan api, dan Fawkes muncul, hinggap di bahu Dumbledore. Dumbledore memegangi Spinnet dengan erat, dan Fawkes membawa mereka ke sayap Rumah Sakit. Mereka langsung disambut Madam Pomfrey, yang berlari dengan kecepatan olimpiade. Dengan tenaganya belaka Madam Pomfrey mengangkat Spinnet seorang diri ke atas tempat tidur, dan sambil mengoceh, mulai menuangkan banyak sekali ramuan ke mulut Spinnet. Spinnet tersedak-sedak, tapi masih tertawa saja. Akhirnya, Madam Pomfrey memberikan ramuan tidur, yang sangat efektif: Spinnet langsung tertidur.

Madam Pomfrey menghela nafas lega, dan berpaling ke Dumbledore.

"Bagaimana?"

"Selain memar-memar tersebut, dia tidak apa-apa. Merlin, Horcrux!" seru Madam pomfrey tidak percaya. "Aku tak percaya orang ini baru saja mengembalikan lagi potongan jiwanya ke dalam tubuhnya dan selamat untuk menceritakan kisahnya. Heran sekali aku."

"Aku rela membayar 1000 galeon, Poppy. Jujur, aku sendiri nyaris pingsan melihat semuanya berhasil berjalan lancar. Aku tidak tahu bagaimana bisa selancar itu. Mungkin penyesalannya benar-benar dalam, mungkin tekad hidupnya sangat tinggi… atau hal lain, aku sama sekali tidak tahu," kata Dumbledore, menggeleng-geleng.

Madam Pomfery mengayunkan tongkatnya, membuat korden di sekeliling tempat tidur Spinnet menutup dengan cepat, menyembunyikannya. Dia berpaling lagi ke Dumbledore, dan berkata, "Sepertinya Spinnet harus menginap di sini selama seminggu, Albus. Atau lebih, setidaknya sampai memar-memarnya hilang."

Dumbledore mengangguk, dan berkata lagi, "Dan kumohon beri dia ramuan pengganti darah. Dia memuntahkan cukup banyak darah kotor tadi. Aku tidak memasukkannya lagi, karena jelas-jelas darah tersebut penuh sihir hitamnya. Kumohon, Poppy."

Madam Pomfrey mengangguk. Sejenak senyap, beberapa menit tepatnya. Mereka berdua sama-sama berpikir penuh akan sesuatu hal yang berbeda. Akhirnya, Dumbledore berkata, "Aku akan kembali ke kantor, Poppy, mohon kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku."

Madam Pomfrey menjawab, "Ya, Albus. Selamat sore."

Dumbledore berjalan menuju pintu, sebelum berhenti sejenak. Dia berbalik menghadap Madam Pomfrey dan berkata pelan, "Apakah kamu akan mau ikut pesta akhir tahun ajaran, Poppy?"

Madam Pomfrey menggeleng. "Aku lebih senang di sini, Albus. Karena ini aku memilih menjadi suster.. bukan penyembuh. Aku tidak suka keramaian, Albus.. Ugh! Pesta akhir tahun ajaran…"

Senyum kecil merekah di wajah Dumbledore, begitu kecilnya hingga nyaris tidak terlihat karena tertutup janggut tebalnya. "Kau masih sama dengan Ibumu, Poppy… sama-sama tidak suka pesta."

"Aku bukan dia, Albus. Dan… bukankah sudah terlalu tua bagiku untuk dipanggil Poppy? Sudah hampir 70 tahun, kan? Atau lebih? Aku bukan anak kecil lagi, Albus," ujar Madam Pomfrey. Dia cemberut, tapi matanya cokelatnya menari-nari geli.

Dumbledore melepaskan tawa kecil, dan membungkuk, sembari berkata, "Baiklah, Popertina… sampai nanti." Lalu dia keluar ruangan.


Pesta tahun ajaran sudah selesai. Para murid kembali ke asrama dengan senyum merekah di sebagian besar wajah. Termasuk Harry, meskipun Gryffindor tidak berhasil memenangkan piala Asrama tahun ini, karena berselisih 20 poin dengan Ravenclaw (Harry merasa sangat yakin darimana dua puluh poin tersebut). Ravenclaw menang, tentu saja, untuk pertama kalinya selama lima tahun. Selama lima tahun ini, ternyata piala asrama selalu diperebutkan dengan ketat antara Slytherin dan Gryffindor. Tiap akhir tahun selalu menyebalkan bagi salah satu asrama. Namun, tahun ini karena Ravenclaw yang menang, dan karena Ravenclaw disebut sebagai Neutral Zone, semuanya menerimanya.

Harry tidak repot-repot mengepak, dia hanya menuturkan mantra yang diajarkan Hermione padanya sejak dulu, dan kopernya sudah terkemas rapi semuanya, termasuk sapunya. Khusus sapunya, Harry mengecilkannya dan meletakkannya di dalam tas punggungnya. Lebih nyaman.

Jadi, sementara para murid lain masih sibuk berkemas, Harry sudah turun ke Ruang Rekreasi, ke kursi empuk favoritnya. Dia duduk tenang, memejamkan matanya, menikmati hangatnya perapian. Satu tahun telah lewat…. Satu tahun sejak dia dan Hermione meninggalkan dunia yang mereka kenal, zaman yang mereka kenal. Satu setengah tahun sejak dia melihat Dumbledore meninggal, satu setengah tahun sejak terakhir kali dia di The Burrow.

The Burrow. Harry tersenyum kecil. Sudah lama sekali dia tidak ke sana. Dia merasa rindu akan keramaian tempat tersebut. Rindu mengusir para Jembalang, mendengarkan ledakan-ledakan dari kamar Fred dan George… rindu akan Percy dan sikapnya yang angkuh, pada Ron… Ron.

Harry membuka matanya. Ron, yang meninggalkan mereka malam itu di tenda. Sekarang, sudah mengalami pendewasaan yang sangat cepat, Harry bisa melihat alasan Ron meninggalkannya. Dia merasa bisa mengerti. Lagipula, siapa orang yang waras yang mau berkelana keliling Inggris mencari sesuatu yang tidak jelas rupanya? Dirinya dan Hermione memang tidak waras… Dan hadiahya? Mereka sudah melihatnya, mati dan dibawa ke sini, ke dunia ini. Kadang dia memikirkan apakah ini semua hanyalah mimpi, hanyalah jebakan halusinasi para Pelahap Maut dan Voldemort sendiri. Namun semuanya terasa terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

James, ayahnya, yang konyol namun baik, Sirius, tukang onar yang tampan dan Playboy luar biasa, Remus, yang kutu buku dan kadang tidak percaya diri. Hell, bahkan Peter pun baik di sini, dia belum terjerumus. Snape, yang akhir-akhir ini selalu murung dan bersedih, tidak lagi bersama geng Slytherinnya. Bellatrix, yang masih mengikik wajar seperti Parvati dan Lavender. Ya, Harry perhatikan, geng cewek Slytherin zaman ini tidak separah Geng nya Pansy. Apa karena di zaman ini mereka lebih waras? Entahlah… Lalu terakhir, Ibunya, Lily.

Ya, Lily. Entah kenapa, setelah malam saat Lily berhenti berteman dengan Snape, Lily juga ikut menghindarinya. Kadang, sekali dua kali, Harry akan merasakan Lily memandanginya, namun setiap dia menoleh, Lily selalu memalingkan muka cepat-cepat. Aneh, cewek benar-benar aneh, pikirnya. Dia sudah mengatakan ini pada Hermione, yang mana jawabannya adalah mungkin 'Kau melakukan kesalahan tanpa sadar', atau 'Ibumu mulai naksir padamu'.

Well, kalau Lily benar-benar memilih yang kedua, Harry akan memastikan itu tak akan terjadi. Dia dan Hermione akan pergi berburu Voldemort dalam waktu dekat ini, dan cukup dengan satu mantra Fulmen, mereka akan pergi dari sini, karena alasan mereka di dunia ini sudah habis, sudah selesai. Ramalan Sialan sudah dipenuhi, tugas sudah selesai, mereka sudah menyelamatkan dunia. Sudah selesai, kan?

Harry menghela nafas panjang dan berat. Hidupnya di dunia ini benar-benar sulit dan penuh cobaan. Dia kadang berpikir, apakah kesalahannya dulu di kehidupan sebelumnya, hingga dia diberi kehidupan begini. Mungkin.. meratakan beberapa benua? Memunahkan Dinosaurus? Menjadi Pangeran Kegelapan?

"Melamun tidak bagus untuk siapapun, tahu."

Harry menoleh. Alice duduk di sebelahnya. Harry bergeser, memberinya ruang untuk duduk lebih lega. Tapi Alice tidak bergerak, dia hanya duduk menatap perapian. Harry memandanginya. Setelah Lily mulai menjauh dan bersikap aneh pada Harry, Alice juga mulai ikut-ikutan. Satu-satunya yang tidak berubah hanyalah Mary, yang mana tetap pendiam, dan jarang bicara. Namun sekali dua kali Harry juga melihatnya mencuri pandang ke arahnya dengan tatapan takut. Harry tidak mengerti.

Satu-satunya saat dia mengobrol berdua saja dengan Mary hanyalah malam hari sebelum Ujian Transfigurasi di Ruang Rekreasi. Mary menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang membuat tidak nyaman, yang sudah dia jawab dengan jujur semuanya. Hell, dia bahkan sudah minta maaf karena sikapnya yang dingin padanya. Apa yang kurang?

"Kamu masih melamun," kata Alice.

"Yeah," jawab Harry singkat.

Sunyi lagi. Hanya terdengar suara perapian berkeretak.

"Apa yang kamu pikirkan?"

Harry menoleh ke Alice, memandangnya penuh-penuh. Dia tidak mau berbohong di sini. Dia akan mengatakannya.

"Masa depan."

Alice menatapnya juga. Alisnya perlahan naik.

"Ada apa dengan masa depan?" tanyanya.

Harry menghela nafas. Dia tidak akan mengerti, Alice tak akan mengerti.

"Kamu tak akan mengerti," jawab Harry.

"Cobalah," kata Alice.

Harry mengambil nafas perlahan. Lalu dia tersenyum. "Kuharap kamu tak akan tahu," katanya, lalu berdiri, berniat melakukan jalan-jalan keliling kastil.

Alice berdiri juga, dan berjalan cepat ke lorong lubang lukisan, memblokir jalan Harry. Harry menatapnya, mengernyit.

"Ini tentang Lily, kan?" tanya Alice.

"Kenapa dia?"

"Jangan – Aku sudah mendengarnya dari Mary!" kata Alice.

"Mendengar apa?"

"Jangan pura-pura bodoh!" bisik Alice, meringis sedikit, dia terlihat seperti orang frustasi. "Kau mencintainya."

Harry mengangkat alisnya. Lalu pemahaman menyerbu kepalanya lagi, kali ini seperti serbuan Hellhound. Kepalanya terbakar, berguncang, sakit, gempa. RUPANYA ITU! Pikirnya. Harusnya dia berpikir lebih dalam sebelum mengatakan hal-hal mengenai cinta kepada remaja cewek 15 tahun. Harusnya dia tahu itu! Dia mengeluh keras-keras.

"Benar kan?"

Harry memegangi kepalanya dengan sebelah tangan, menggeleng-geleng. Mereka sepertinya tidak atau belum paham konsep cintanya. Dasar cewek… yang ada di pikiran mereka mengenai cinta hanyalah berciuman dengan penuh gairah, sepertinya. Harry menatap Alice lurus-lurus, dan berkata, "Apa saja yang Mary katakan?"

Jelas nada suara Harry sudah cukup membuat sebagian besar murid di zamannya dulu mundur, bahkan mungkin Draco Malfoy. Namun Alice bertahan berdiri di tempatnya berpijak, meskipun dia gemetar sesaat.

"Tidak jadi masalah apa yang Mary katakan!" kata Alice, suaranya makin keras.

Harry berkata, masih dengan nada yang sama, "Itu masalahnya."

Alice menatapnya tajam, namun bibirnya bergetar. Dia menjawab, "Dia-dia bilang kau-kau mencintai Lily!"

"Sudah?"

"Ya!"

"Itu saja? Dia tidak bilang alasanku melakukan itu?"

Alice mengerjap. Dia menggeleng.

Harry, sejenak tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merasa frustasi, kesal, marah, kesal lagi, kepalanya sakit, pusing, semuanya. Singkatnya, dia kesal sekali. Dia menoleh lagi ke Alice, berkata pelan, "Akan kuceritakan… dan tolong, Alice… tolong. Kamu…. Kamu teman terbaikku di sini. Dan saat kubilang teman terbaik, aku serius, benar-benar serius. Karena itu, tolong… aku percaya padamu. Akan kukatakan alasannya."

Alice mengangguk, matanya masih menatap Harry dengan penuh, jelas mencari kebohongan atau apapun.

"Di tempat asalku, ada satu orang yang sangat kucintai. Dia kucintai melebih apapun, bahkan melebihi Ayahku. Dan aku tahu dia mencintaiku. Dia meninggal."

Wajah Alice mengendur. Alisnya perlahan kembali ke tempatnya yang sebenarnya, di atas matanya.

"Dia melindungiku, dan menyelamatkan nyawaku. Berkat pengorbanannya, aku masih bertahan hidup sampai sekarang," tutur Harry.

Alice mengedip sekali, dan menggigit bibir bawahnya. Dia bertanya, "Apa hubungan Lily dengan semua ini?"

Harry memejamkan matanya, dan menarik nafas dalam, lagi. Dia membukanya, dan menjawab, "Lily mirip dengannya. Aku tak bisa menahannya, aku menganggapnya sebagai pengingat akan dirinya. Aku mencintainya karena dia mengingatkanku akan orang tersebut."

Harry menutup mulutnya, menunggu reaksi Alice. Dia berkpikir bahwa Alice akan menyadari ada yang kurang, ada yang belum dikatakan, atau sadar bahwa Harry berbohong. Namun mereka ada di lorong menuju lubang lukisan, dan satu-satunya sumber cahaya ada dari Ruang Rekreasi di belakang Harry. Harry yakin Alice tak dapat melihat dengan jelas wajahnya saat ini.

Namun dia bisa melihat wajah Alice dengan jelas, dan tampak jelas wajahnya mulai melembut, kerutan di wajahnya hilang. Kemudian, mulutnya mulai membuka sedikit, seolah dalam perjalanan menuju menganga. Matanya mulai berkelip, yang berarti mulai berisi air mata. Harry tidak begitu menyukai ini, dia tidak suka dikasihani. Dia tidak suka kalau ada orang yang menangis untuk dirinya, siapapun itu.

Alice menutup mulutnya, dan berkata pelan, "Ternyata begitu…"

Harry mengangguk. Alice menunduk memandang lantai. Wajahnya merona merah, seolah malu. Dan Harry tahu bahwa Alice tidak malu karena dirinya, dia malu karena sesuatu lain – misalnya, apa yang sudah dia katakan atau dia pikirkan.

"Kamu tidak berpikir bahwa aku sedang mempermainkan perasaan Lily dan Jean, kan?" tanya Harry.

Alice menjawab pelan, "Sebenarnya, aku mengatakannya ke Lily."

Harry melongo. Jadi itu penyebabnya! Lily menganggapnya seperti Playboy! Yang benar saja! Sudah ada Sirius di sini untuk hal tersebut.

"Um-ya, jadi, untuk jelasnya adalah bahwa aku tidak mempermainkan perasaan siapapun di sini, tidak seorang pun. Dan, yakin deh, aku jujur total di sini. Jadi, aku memohon beritahu yang sebenarnya ke Lily. Oke?" tanya Harry.

Alice mengangguk, lalu mendongak menatapnya, dan tersenyum lagi.

"Kamu tahu, kamu orang yang baik," kata Alice "Aku minta maaf karena sudah berkata tidak benar menganaimu".

Harry nyengir, dan berkata, "Takpapa. Yang penting beritahu yang benar, Oke?" Alice tersenyum.

"Terlepas dari apa yang dikatakan beberapa orang mengenai Durmstrang, aku mulai berpikir bahwa sekolah tersebut bagus juga. Mereka bisa membentuk muridnya menjadi orang yang baik, pintar, sopan,yah, seperti kamu," kata Alice.

Harry mengangguk, dan menjawab, "Kuanggap itu pujian, Alice. Terima kasih."

Harry dan Hermione berdiri di depan gerbang Hogwarts. Sebagian besar murid-murid lain sudah berjalan, membawa barang-barang mereka ke Hogsmeade, menuju ke Stasiun Kereta Api. Menemani mereka, tak lain tak bukan adalah Dumbledore. Dumbledore telah memberi mereka berdua alamat Flat di Diagon Alley, tempat mereka berdua akan tinggal selama musim panas. Flat tersebut dibeli atas nama Jean Catherine Leroy dan Ivan Nikolai Tesla, tentu saja.

"Jadi, Diagon Alley sudah selesai diperbaiki, sir?" tanya Harry.

"Ya, sudah. Kerusakannya tidak separah di Hogsmeade, meskipun beberapa toko rubuh, namun setidaknya kali ini tidak ada pertarungan raksasa di sana. Dan juga, Gringotts sudah diperbaiki, kalau kalian mau tahu. Mereka masih marah besar, mencari-cari tiga orang dengan zirah kulit naga tersebut. Mereka tidak percaya ini ada hubungannya dengan pencurian, karena tidak ada barang yang hilang, menurut mereka. Mereka menganggap tiga orang tersebut adalah orang yang memang sengaja mengacak-acak lantai Sembilan untuk menghina Goblin," kata Dumbledore.

"Well, apa boleh buat," ujar Hermione.

Mereka bertiga tertawa pelan. Dumbledore memandang mereka berdua, dan berkata, "Aku sudah memikirkan untuk mulai membentuk kelompok khusus untuk menghadapi Voldemort dan Pelahap Mautnya. Mereka semua sudah makin terang-terangan bergerak, dan mereka makin kuat. Auror sudah agak kewalahan."

Harry dan Hermione mengangguk. Dumbledore memandang mereka berdua, dan melanjutkan, "Aku berpikir untuk memasukkan kalian berdua ke kelompok ini, mengingat kalian berdua memiliki pengalaman dan kemampuan yang hebat. Namun kupikir akan lebih bagus bila kalian meneruskan pendidikan saja dulu, tunggulah dua tahun lagi, lalu kita bisa bertarung bersama. Hingga, kali berikutnya kita menghadapi Voldemort, saat itu akan benar-benar menjadi akhir baginya."

"Ya, sir," jawab Hermione. Harry mengangguk lagi.

Dumbledore tersenyum, dan memersilakan mereka pergi. Harry dan Hermione memasukkan koper mereka yang sudah dikecilkan ke tas punggung mereka. Mereka mengucapkan salam perpisahan ke Dumbledore, yang dibalas Dumbledore dengan "Oh, OWL akan dikirim ke Flat kalian liburan ini. Kalau kalian tertarik, kalian bisa membukanya."

Harry dan Hermione nyengir. Mereka berbalik arah, dan, begitu sudah keluar dari halaman kastil, mereka ber-Apparate ke stasiun Hogsmeade langsung. Mereka muncul begitu saja di depan James, Sirius, Peter dan Remus yang melonjak kaget.

"Whoa, cool!" seru Sirius.

"Andai aku sudah bisa ber-Apparate!" seru James.

"Sabar, James. 2 tahun lagi," kata Hermione, tersenyum nakal. Harry nyengir melihat tingkah Hermione. Remus menggeleng-geleng.

"Oh, sudahlah. Omong-omong, di mana koper kalian?" tanya Remus.

"Di tas punggung kami. Semuanya kami kecilkan," kata Harry.

"Aku tak pernah memikirkan itu!" cicit Peter. Harry nyengir, ya, dia nyengir pada Peter. Aku menjadi semakin mirip Dumbledore! batin Harry.

Para murid banyak yang lalu lalang di sepanjang peron stasiun, berjuang mengangkat kopernya ke dalam kereta, melambai pada beberapa orang Hogsmeade (mungkin teman mereka), dan bahkan beberapa sedang membawa botol-botol yang berisi Butterbeer. Jelas untuk pesta di kompartemen mereka, pikir Harry.

Mereka berenam masuk ke gerbong, dan bertemu dengan Lily.

"Akhirnya, Remus! Di mana saja kamu? Kamu dari tadi tidak mengerjakan tugas Prefek mu sama sekali, apa yang kamu lakukan? Berjalan santai bersama mereka? Tak tahukah kamu aku kerepotan mengurus anak-anak kelas satu Gryffindor itu?" semua ini diucapkan Lily dalam satu tarikan nafas. Harry menoleh ke Hermione, yang mengerutkan dahinya, dan dia harus menggigit lidahnya agar dia tidak kelepasan tertawa keras-keras.

Remus menggaruk belakang kepalanya, nyengir bersalah. Lily ber-Huff, dan menyuruh Remus langsung ke gerbong Prefek. Sirius dan Peter nyengir, mengajak James, Harry dan Hermione untuk duduk bersama. Mereka setuju, dan mereka melewati Lily, James terpentok palang antar gerbong karena dia berjalan mundur untuk terus melihat Lily. Untunglah dia tidak jatuh, karena Harry berjalan di belakangnya, dan berhasil memeganginya.

"Ivan, boleh bicara sebentar?"

Harry berputar, dan melihat Lily berjalan ke arahnya. Harry menoleh lagi ke James, yang mengangkat alisnya. Harry juga mengangkat alisnya, dan berkata, "Duluan saja. Sisakan tempat duduk untukku."

James mengangguk, namun sebelum berbalik, dia berkata, "Uhm, Ivan? Bisa tolong berikan ini padanya?" dia mengulurkan selembar amplop, yang disegel. Harry, dengan ngeri melihat amplop itu berwangi bunga. Dia mengangkat alisnya, dan menggelengkan kepala. James membelalak.

"Berikan sendiri, James. Kalau kamu begitu ingin, tunggu di kompartemen sebelah, lalu kamu bisa bicara dengannya setelah aku."

James mengangguk, dan menelan ludahnya. Dia masuk ke kompartemen sebelah kiri Harry.

"Kenapa dia di situ?" tanya Lily, curiga.

Harry mengeluarkan tongkatnya dan membatinkan Silencio ke pintu kompartemen. Dia menghadap Lily lagi, dan berkata, "Dia tidak akan mencuri dengar, dia hanya mau menungguku. Ada apa?"

Lily menarik nafas dalam-dalam, dan menatap Harry lurus. Harry melihat matanya sendiri, mata hijau cemerlang tersebut, membalas menatapnya balik, seolah cermin.

"Aku hanya mau meminta maaf, karena… sudah berpikir yang tidak bagus mengenaimu," ujar Lily pelan.

Harry mengangkat alisnya lagi. Lalu pemahaman merasuki wajahnya. Rupanya Alice benar-benar memberitahu Lily dengan cepat. Dia memejamkan matanya, dan membukanya. Dia tersenyum.

"Lily, aku mengerti. Aku juga pastilah akan bersikap mirip denganmu kalau aku mendengar seorang murid pindahan baru mengatakan hal itu," jawab Harry. "Dan aku minta maaf tak pernah memberitahumu sebelumnya, karena kukira itu akan membuatmu kesal."

Lily tersenyum kecil, dan berkata, "Aku tak kesal. Kupikir aku mengerti rasanya kehilangan orang yang pernah kita cintai, dan menemukan orang yang bisa mengingatkan kita akan orang tersebut."

Harry mengangguk. Dia tidak tahu Lily sudah kehilangan siapa, namun dia tidak mau tahu. Dia tidak akan mau tahu hal tersebut, dia tidak ingin Lily harus mengucapkannya. Lily tampaknya senang Harry tidak menanyakannya lebih lanjut. Dia tersenyum lebar, dan memeluk Harry, yang dibalas Harry dengan senang hati.

Harry melepasnya lebih dulu, dan berkata, "Simpan pelukan ini kalau sudah di King's Cross, Oke?" Lily nyengir. Harry baru mau berbalik ketika dia teringat satu hal amat sangat penting. Dia buru-buru melancarkan Finite ke pintu kompartemen di kirinya, dan mengayunkan tongkatnya mendatar, membuat pintu kompartemen bergeser membuka, dan James hampir jatuh. Rupanya dari tadi dia menyandar di pintu, tidak diragukan ingin mencuri dengar. Harry buru-buru menangkapnya.

James nyengir polos ke Harry. Harry mengangguk, dan berkata ke Lily, "James mau bicara denganmu, pribadi katanya. Aku akan meninggalkan kalian berdua di sini, dan tolong jangan ada ledakan, oke?"

Lily mengernyit pada James, tapi menghela nafas kepada Harry. Harry nyengir, yang dibalas Lily dengan senyuman kecil James tampaknya siap menyembah Harry karena telah memberinya kesempatan ini. Harry menggeleng-geleng akan tingkah ayah dan ibunya, dan paradox kelewat rumit yang barus aja terjadi. Dia baru saja jadi Makcomblang untuk ayah ibunya. Di mana beresnya itu?

Dia berjalan ke gerbong berikutnya. Banyak murid sudah duduk dan mengobrol di dalam kompartemen. Harry melihat ke dalamnya satu-satu. Beberapa kompartemen jendelanya buram, tak diragukan lagi isinya pasangan-pasangan yang sedang melakukan hal-hal aneh. Yah, tidak aneh juga, sih, pikir Harry. Dia juga sudah melakukan hal aneh-aneh, kok.

Dia akhirnya menemukan kompartemen yang berisi Sirius, Peter, dan Hermione. Di gerbong di tengah kereta. Harry masuk dan melihat mereka bertiga sedang membicarakan sesuatu. Sirius yang lebih dulu mendongak, nyengir ke Harry.

"Kau masih hidup," ujarnya.

"Wah, sori mengecewakanmu," jawab Harry.

Peter mendengus, dan Hermione menggeleng-geleng. Sirius berkata, "Kami hanya bingung, dan khawatir, ya khawatir. Apa yang Lily mau 'bicarakan' denganmu. Tapi kau selamat dan sehat wal afiat, jadi ya, sepertinya tidak gawat, kan?"

"Jelas tidak," jawab Harry, duduk di sebelah Hermione, menyampirkan lengannya ke bahu Hermione. Hermione tersenyum dan menyandar ke bahu Harry.

"Uhm, so sweet?" tanya Peter.

Mereka tertawa. Peter baru saja melawak, di mana beresnya itu? Harry menyukai Peter yang ini, dia masih mirip dengan Neville dulu, saat masih kelas 3. Sifatnya mirip. Terdengar suara peluit di kejauhan, dan hentakan. Kereta mulai melaju, stasiun mulai bergerak di luar. Harry tersenyum memandang kastil di kejauhan. Liburan musim panas… untuk pertama kalinya, liburan musim panas, dia tidak akan kembali ke Dursley. Dia juga tidak akan tinggal di rumah dengan pengamanan tinggi, ataupun di rumah penyihir. Dia akan tinggal di Flat, bersama Hermione, berdua saja. Membayangkan hal itu saja dia sudah tersenyum.

Kereta bergerak makin cepat, desa Hogsmeade tertinggal di belakang mereka. Pemandangan menjadi hutan hijau dengan pohon-pohon menjulang, yang mana Harry tahu merupakan perpanjangan dari hutan Hogsmeade. Kemudian, pegunungan mulai terlihat di balik pepohonan: Biru, menjulang, dan membentuk barisan. Seekor burung elang sepertinya melayang di atas pegunungan tersebut. Harry mengingat kejadian itu lagi, tempat itu lagi. Dia membayangkannya… kapan mereka akan ke sana lagi? Tugas mereka di dunia ini sudah hampir selesai.

Pintu kompartemen terbuka, membangunkan Harry dari lamunannya. James, wajahnya berseri-seri, masuk ke kompartemen. Dia menutupnya, dan Harry tahu apa yang akan datang. Tapi, kali ini Hermione yang bertindak: Dia mengacungkan tongkatnya ke mulut James.

James membuka mulutnya, dan Harry yakin kalau saja mantra Silencio tidak dipasang, James sudah meraung penuh kemenangan. Dia mengangkat kedua kepalan tangannya ke atas, seolah baru saja memenangkan turnamen Quidditch internasional. Sirius dan Peter memandanginya seolah dia sudah gila atau baru saja berubah wujud menjadi Alien cebol berantena.

Saat James berhenti meraung, Hermione mengangkat Silencio – nya. Dia menoleh ke Harry, dan berkata, "Apa yang sebenarnya terjadi tadi?"

Harry menghembuskan nafas. "Dia bicara dengan Lily setelah aku bicara dengannya. Aku meninggalkan mereka berdua di lorong gerbong, dengan meminta pada Lily agar jangan meledakkan apapun. Itu saja yang kutahu," jawab Harry.

Sirius memandangi Harry, lalu kembali ke James. "Coba kutebak, dia baru saja menyatakan bahwa selama ini dia sesungguhnya mencintaimu sepenuh hati, hanya saja dia terlalu malu untuk mengungkapkannya?" kata Sirius.

James menatap Sirius dengan tatapan 'beraninya kau merendahkan!' Peter mengerutkan dahinya. Lalu dia berkata, "Apakah ini ada hubungannya dengan surat yang kau tulis semalam?"

James mengacungkan telunjuknya ke Peter, dan berseru, "Kau sangat pintar! Yup, benar sekali, Peter! Ini berhubungan dengan itu! Malah, mengenai itu!" Lalu dia mulai menarikan tarian kemenangan. Harry mengangkat alis, berpikir apakah sebaiknya memberikan Jampi Penenang.

"Kutebak dia menerima suratmu dan tidak membuangnya?" tanya Hermione.

James meraung penuh kemenangan, dan memeluk Harry dan Hermione sekaligus. Dia tertawa-tawa, dan berkata, "Tanpa teriakan! Tanpa jeritan! Tanpa ledakan! Diterima begitu saja! Aku senaaaangg!"

Hermione menatap Sirius dari atas bahu James dengan tatapan 'apakah ini pernah terjadi sebelumnya?'

Sirius menjawab keras-keras, mulutnya menganga, "Tidak, ini tak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya, minimal suratnya dibuang, kalau tidak, ya ada ledakan. Begitulah."

Harry berkata pelan, "James, aku turut berbahagia untukmu, tapi aku dan Jean di sini butuh bernafas juga, jadi, bisakah kau melepaskan kami?"

James buru-buru melepaskan mereka berdua, lalu duduk di samping Peter, masih nyengir lebar. Dilihat dari ekspresinya, dia tampak masih berada di langit ketujuh. Sirius mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah James, yang tidak bereaksi. Peter cengar-cengir.

"Dia masih beres?" tanya Hermione ke Sirius. "Karena aku punya mantra peledak untuk menyadarkannya, atau bahkan mantra penyetrum nih."

Hermione memandangi James dengan wajah jijik bercampur geli, membuat ekspresi wajahnya lucu. Harry tertawa. Beberapa saat kemudian, Troli makanan datang, dan Sirius memborong isinya. Mereka berlima makan banyak, Sirius, James (sudah sadar) bertukar-tukar kartu cokelat kodok, dan Harry serta Hermione makan cokelat batangan dengan senang, mengobrol. Sirius dan James sudah mulai mengobrol mengenai Quidditch, ketika Harry mendengar suara pelan di kepalanya, 'Itali'.

Harry menoleh ke Hermione, yang tersenyum. "Ada apa?"

Hermione menghela nafas, dan menyandarkan kepalanya ke bahu Harry, tangannya menyelinap ke pinggang Harry. Harry juga melingkarkan lengannya ke bahu Hermione. "Aku akan merindukan ini," ujar Hermione.

"Apa, James, Sirius, dan Peter?"

"Semuanya.. kau mempunyai calon keluarga yang menyenangkan sekali, Harry," kata Hermione.

Harry tersenyum dan mengelus kepala Hermione, menyandarkan pipinya ke kepala Hermione. "Yeah.. tapi aku berusaha agar semua bisa lebih cepat selesai, Hermione… agar semuanya bisa lebih baik," bisik Harry.

"Aku mengerti. Semakin lama kita di sini, berarti semakin lama Voldemort merajalela, kan?" ujar Hermione. Harry mengangguk. Hermione menghela nafas lagi, dan bergeser semakin dekat ke Harry, menempel ke tubuhnya.

"Aku sangat mencintaimu," bisik Hermione.

"Sama di sini," bisik Harry, dia mencium kepala Hermione.

"A-hEM!"

Sirius yang berdeham keras-keras. Wajahnya dikerutkan, mulutnya ditipiskan. Singkat kata, ekspresinya sangat mirip dengan ekspresi Mcgonagall. Harry nyengir, bersama Hermione.

"Man, kalian kayak pasangan yang udah nikah aja! Sadar, sadar! Kalian masih 15, masih muda, masih remaja, bos!" kata Sirius dengan nada serius terbaiknya. Peter tertawa, James nyengir.

"Omong-omong kalian ngomong dengan bahasa apa sih?" tanya James.

Harry berdeham, menghilangkan mantra alih-bahasa. "Rusia," jawabnya tenang.

"Sepertinya bahasa Rusia sangat keren untuk bermesraan, ya? Atau untuk saling merayu?" kekeh Sirius.

"Oh, diamlah kalian," gerutu Hermione, menempel ke Harry.

Harry menikmati perjalanan hari ini. Pemandangan di luar sangat bagus.. langit biru bersih, hutan-hutan lewat di luar jendela. Pegunungan sudah lewat, digantikan dengan beberapa padang yang sepertinya bagian dari desa. Sekali dua kali akan lewat sungai. Beberapa sapi terlihat, juga kuda beserta peternaknya. Lalu, di langit, beberapa burung besar terbang melintas, tinggi di awan. Begitu juga dengan beberapa orang yang terbang di atas, menaiki sapu terbang dengan sangat cepat. Pemandangan berubah lagi, mereka masuk ke padang rumput yang luas.. semuanya terasa seperti tanah mimpi. Harry menyesal tidak pernah memerhatikan ini sebelumnya. Semuanya terasa indah.. Tapi tunggu. Ada yang ganjil.

"Apa itu?" tanya Hermione.

Harry melihat lagi ke langit. Beberapa, bukan, sekarang Harry menghitung satu, dua, tiga, lima, delapan, dua belas, penyihir terbang di langit, semuanya menaiki sapu terbang. Para penyihir tersebut berjubah hitam.

"Apa yang mereka pikirkan, terbang di atas pedesaan seperti itu?" tanya Sirius, melihat ke luar jendela juga. Para penyihir terbang dengan kecepatan tinggi, sekarang melebihi kecepatan kereta api, melewati jendela mereka. Mereka semakin dekat.

"Mungkin mereka sedang Touring?" tebak James, melihat keluar juga.

Dan, saat mereka berbelok, Harry menyadari dengan horor: Orang-orang itu bertopeng, dan mereka mulai mengeluarkan tongkat mereka, mengacungkannya ke kereta api.

"Pelahap Maut!" seru James. Kilatan cahaya pertama memancar, tepat menuju jendela mereka. Mereka tiarap..

Ledakan besar, sangat besar, terdengar. Lalu kilatan cahaya putih, dan beberapa ledakan lagi. Kilatan cahaya merah, dan sejenak seolah kereta miring, namun lurus lagi. Suara jeritan dan seruan murid-murid yang ketakutan di koridor gerbong terdengar sangat jelas. Ledakan lagi, dan semakin banyak anak yang menjerit.

"Gerbong Hogwarts Express sekuat dinding Hogwarts! Jangan khawatir!" seru Hermione. Harry melihat Hermione sudah berdiri lagi, melihat ke luar Jendela. Harry juga berdiri, bersama James. Betul, kaca mereka tidak rusak sedikit pun. Para penyihir di luar tersebut terus menerus melancarkan serangan, yang tampaknya tak bereaksi pada kereta.

Harry mengawasi dengan ngeri, tongkat sihir di tangan, siap menyerang kalau perlu. Tapi sepertinya tidak. Para Pelahap Maut menambah kecepatannya, maju, sepertinya menyusul kereta mereka, dan hilang dari pandangan.

"Mereka-mereka maju dan hilang!" kata Harry.

"Kemana mereka? Mereka tak mungkin pergi begitu saja, kan?" tanya James, mengeluarkan tongkatnya juga. Harry memandangnya. James tampaknya bertekad melawan, kalau perlu. Dia teringat James yang bersembunyi di Gringotts saat di Diagon Alley, namun James yang ini berdiri tegak, tidak takut. Ada apa?

"Mereka tak akan bisa menggores Hogwarts Express, jangan khawatir! Kereta ini dilindungi banyak dinding dan sihir kuat – kecuali –"

Harry menoleh ke Hermione. "Kecuali?"

"Kecuali mereka menyerang dari dalam…. Bagian dalam kereta ini lemah. Ingat saat.. Ron?"

Harry ingat. Ron membanting pintu kompartemen menutup begitu kerasnya sampai kaca pintu pecah. Kalau mereka berhasil masuk, gawatlah…

"Tapi-mereka tidak akan bisa masuk, kan?" tanya Harry.

"Mereka-mereka bisa, kalau mereka masuk dari ujung gerbong yang paling dekat dengan lokomotif –"

"SIAL!" seru Harry. Baru beberapa saat yang lalu dia senang karena akan pulang liburan. Dan sekarang, sekarang dia harus berjuang menyelamatkan banyak orang lagi. Dia dan Hermione. Dia berpaling ke Sirius, James dan Peter, yang berdiri kaku.

"Ada di gerbong berapa kita?" tanya Harry.

"Gerbong C," jawab James. "Total ada tujuh gerbong, termasuk gerbong Prefek dan Ketua Murid. Gerbong Prefek dan Ketua murid terletak di paling depan, paling dekat lokomotif. Gerbong Prefek adalah gerbong A."

"Lily," ujar Harry pelan. James juga tampaknya sadar, karena dia melebarkan matanya, dan mencengkeram tongkatnya kencang-kencang. Dagunya menjadi kaku. Harry berpaling ke Sirius dan Peter. "Sirius, Peter, bawa semua murid, semuanya, ke gerbong paling belakang, gerbong G. Jaga pintunya kalau sudah semuanya, hitung kalau perlu, minta bantuan para Prefek. Jean," Harry menoleh ke Hermione, yang mengangguk.

"Expecto Patronum!" kata Hermione. Hippogriff perak berpendar kebiruan muncul dari ujung tongkatnya, dan memenuhi kompartemen dengan nyala perak hangat. Hermione mengacungkan tongkatnya ke Hippogriff tersebut, dan berkata, "Kereta diserang. Kirim bantuan segera!" Lalu Hermione melambaikan tongkatnya, dan Hippogriff tersebut terbang melesat ke jendela, menembusnya dan terbang cepat ke arah Hogwarts.

"Kau mengirim pesan dengan patronus?" tanya Sirius. Hermione mengangguk. Harry berkata, "Hermione, bantu yang lain, termasuk Sirius dan Peter untuk membawa semuanya ke gerbong G. Aku akan ke gerbong A untuk menghadang mereka!"

"Aku akan ikut denganmu!" seru Hermione.

"Kamu akan lebih banyak membantu di gerbong belakang! Sekarang, kalian pergi!" seru Harry. Mereka tidak bergerak. "PERGI!"

Sirius dan Peter keluar buru-buru, berteriak-teriak di lorong gerbong. Hermione mengeraskan suaranya dengan Sonorus, memerintahkan semuanya bergerak cepat ke gerbong belakang. Lorong penuh sesak, banyak sekali anak dari gerbong B di depan gerbong C berlari. Harry keluar dari kompartemen, menoleh ke Hermione. Hermione mengangguk, lalu lari mengikuti rombongan murid ke gerbong G, menuntun beberapa murid kelas satu dan dua yang bertubuh kecil. Harry berlari ke arah berlawanan, bersama – James!

"James! Apa yang kamu lakukan?" seru Harry.

"Aku akan membantumu!" seru James.

"Pergi! Lindungi dirimu sendiri, bodoh!"

"Aku tidak akan LARI!" teriak James, mukanya memerah marah. Harry mengernyit, dia tidak ingin sama sekali ayahnya dalam bahaya. Tapi sebelum dia bisa membalas, terdengar deru, dan kilatan cahaya hijau dari belakang mereka. Dari arah gerbong A.

Harry menggertakkan giginya, dan berlari. James mengikuti dengan cepat di belakangnya. Mereka berlari sepanjang gerbong B dengan cepat, bahkan tidak memikirkan lelah dan bernafas. Harry membuka pintu ke gerbong C dengan kasar, dan langsung dengan refleks berseru, "PROTEGO!"

Mantra bius memantul dari perisainya, dan kembali dalam arah 180 derajat, kembali ke si penembak: seorang pelahap maut yang menjulurkan badannya dari dalam kompartemen. Dia langsung jatuh. Sebuah cahaya hijau meluncur di lorong, dan Harry serta James melompat masuk ke dalam kompartemen yang terbuka di samping mereka. Beberapa mantra lagi lewat, menghantam pintu gerbong yang menghubungkan dengan gerbong B.

"Ivan! James! Apa yang kalian –"

Harry menoleh, dan melihat Remus, Lily, dan tiga murid lagi, sepertinya dua prefek Hufflepuff dan satu Ravenclaw, sedang merunduk. Mereka membawa tongkat masing – masing. James memeluk Lily dan Remus sekaligus, dan hebatnya Lily memeluknya balik. Remus juga, tetapi dia menatap Harry penuh keheranan.

"Apa yang – apa yang kalian –"

"Dimana Prefek lainnya?"

"Prefek Hufflepuff – tiga orang, sudah – tewas," ujar salah satu Prefek Hufflepuff di belakang Harry. "Prefek kelas tujuh satu, kelas enam dua-duanya. Ravenclaw – mereka masih terjebak di kompartemen di sebelah," gagapnya.

Harry mengangguk, dan menempelkan diri di pintu kompartemen. Mantra-mantra sudah berhenti dilemparkan, Harry menduga mereka sudah keluar. Kalau ya, keuntungan baginya: Dia bisa meluncurkan Fulmen dan menghantam mereka semua langsung. Dia melongok.

Bola cahaya merah melintas, disusul hijau, ungu, kilatan petir kecil, menghasilkan ledakan –ledakan dan membuat kaca jendela di lorong pecah semua. Harry mendengar suara ledakan keras juga, sepertinya pintu menuju gerbong B meledak.

Dia berusaha berpikir, mencari strategi… Bagaimana cara terbaik menyelamatkan Prefek yang lainnya?

"Sebentar, minggir," bisik Lily. Dia mendekat ke pintu kompartemen, dan menggumamkan sesuatu. Mendadak, di depannya muncul bola-bola cahaya merah, yang melayang-layang pelan.

"Mantra efek?" tanya Harry. Remus tampaknya sadar sesuatu.

"Ya, benar! Pasang efek suara ledakan dan bola cahaya, dan buat mereka mengira kita membalas!" seru Remus. Lily mengangguk, dan melambaikan tongkatnya, membuat bola-bola tersebut keluar dari pintu, meluncur sepanjang lorong.

"AWAS!"

Tampaknya berhasil. Para Pelahap Maut, dari suaranya, tampaknya terpaksa menghindar dan masuk kembali ke kompartemen tempat mereka berlindung. Suara ledakan palsu terdengar. Para Pelahap Maut membalas menembak, meluncurkan mantra-mantra di lorong. Kalau ini tidak segera diselesaikan, gerbong ini bisa hancur… Remus membantu Lily, meluncurkan mantra-mantra efek.

Harry menempelkan tangannya dengan putus asa ke dinding pemisah kompartemen. Kalau dia bisa melenyapkan ini, dia bisa mencapai Prefek di sebelah, dan menyelamatkan mereka – Mantra PELENYAP!

"James, aku butuh bantuanmu," ujar Harry. James mengangguk, berdiri juga, dan berkata, "Apa?"

"Luncurkan mantra pelenyap ke dinding ini, bersamaan denganku. Hitungan ketiga."

James mengeluarkan tongkatnya, dan mengacungkannya ke dinding sekat antar kompartemen tersebut. Harry mengacungkan kedua tongkatnya, dan berkata, "1..2…3!"

"EVANESCO!"

Dinding tersebut berdengung sejenak, lalu perlahan, menjadi tembus pandang, menjadi transparan, hingga akhirnya… lenyap total. Harry dan James berdiri, di depan mereka adalah kompartemen sebelah, berisi 4 Prefek Ravenclaw, dan 3 Prefek Gryffindor. Mereka bertujuh gemetaran, merunduk mencari perlindungan. Prefek Gryffindor, tiga-tiganya, terluka. Mereka berdarah banyak. Harry melompati kursi, dan berlutut di sebelah mereka.

"Kalian tak apa? Kalian bisa berdiri?" tanya Harry. Mereka mengangguk. 3 Prefek Gryffindor mencoba berdiri, namun kesulitan. Harry dan James membantu mereka berdiri, dan membawa mereka ke ke tempat duduk, membaringkan mereka. Mereka bertiga terluka gores, dan satu sepertinya patah tulang. Tongkatnya masih dipegang di tangan. Bekas perlawanan.

"Dimana Prefek lainnya?" tanya Harry.

"Slytherin – mereka terbang dengan sapu keluar tadi. Satu Prefek Gryffindor, Ketua Murid laki-laki dan perempuan – mereka tewas," jawab Prefek yang tangannya patah. Dia gemetar. Harry tahu ini. Dia melihat mereka tewas. Dan dia tadinya berpikir pengalaman pertamanya jauh lebih buruk. Ternyata tidak.

"Kita harus keluar dari sini," kata James.

"Bagaimana?" tanya Prefek Ravenclaw.

Harry mengernyit, mencoba berpikir. Kalau saja dia bisa memanggil Fawkes… Tapi tidak bisa. Dia berpikir untuk melompat keluar dan membawa orang-orang, tiga setiap kloter, ber-Apparate ke Hogsmeade. Tapi tidak bisa. Dia tidak akan bisa kembali ke sini karena kata Hermione, dinding di sini mirip dinding Hogwarts, tidak ada yang bisa ber-Apparate keluar masuk sini. Cara terbaik dengan terbang. Kalau saja mereka bisa terbang… Tunggu.

Harry baru ingat satu hal fatal: Dia masih menggendong tas punggungnya dari sejak naik kereta. Bagaimana bisa dia lupa? Dia membukanya, dan meraih ke dalamnya: Silver Arrow miliknya. Tentu saja. Dan sebuah ide nekat muncul di kepalanya. Ide yang terinspirasi dari Fawkes yang membawa dirinya, Dumbledore dan Hermione terbang melintasi danau.

Harry menyerahkan Silver Arrow ke James, yang mengernyit. Lalu dia berkeliling ke tiap orang, melakukan mantra peringan ke setiap orang, membuat berat mereka menjadi seringan bulu. Yang jadi masalah adalah yang patah tangan. Dia menoleh ke Prefek tersebut, dan melihat salah satu Hufflepuff sedang bekerja, memakaikan gendongan di tangannya. Kerja bagus.

"Ivan, apa yang kau –"

Harry tidak menjawab, dia mengacungkan tongkatnya ke jendela, dan berseru, "Evanesco!"

Jendela tersebut berdengung, lalu lenyap. Angin menerpa masuk ke dalam kompartemen.

"Apa yang kau lakukan?" jerit Remus.

"James, bawa mereka terbang, kembali ke Hogsmeade. Ikuti jalur kereta api ini. Kau pasti bisa!" ujar Harry ke James, yang mengangguk, wajahnya keras.

"Lily, naik di sapu bersama James. Aku perlu bantuanmu untuk memberi mantra melayang padanya," Harry menunjuk Prefek yang patah tangan. "Dia tidak akan bisa berpegangan pada jubah. Kalian semua,sisanya, berpegangan pada jubah Lily. Kalian sudah kuberi mantra peringan, sapu tersebut akan kuat mengangkat kalian semua. James!"

James mengangguk, dan menarik Lily. Harry menggantikan Lily meluncurkan mantra efek ke arah para Pelahap Maut, yang masih melancarkan kutukan-kutukan di lorong. Harry juga meluncurkan mantra peledak sekali dengan tongkat holly nya, dan dari suaranya, sepertinya sangat efektif. Terdengar juga jeritan teredam satu Pelahap Maut. Sepertinya berhasil kena.

James bergerak ke arah jendela, sudah menaiki sapu. Namun, Lily melepaskan diri dari pegangan James, dan mencengkeram Harry. Dia berseru, "Bagaimana denganmu? Kau mau tetap di sini, bersikap Pahlawan lagi?"

Harry memegangi tangan Lily, dan menjawab, "Harus ada yang di sini, Lily. Para orang gila itu tak boleh dibiarkan keluar dari gerbong ini. Aku yakin Jean sudah mengurus murid yang lain, jadi tinggal kalian. Aku akan menyusul, aku janji."

"Kau – kau – oh!" Lily menerjang Harry, memeluknya sangat erat, dan mulai menangis. Harry memeluknya balik, memejamkan matanya. Dia tidak peduli akan kutukan-kutukan yang meluncur di lorong… ataupun para Pelahap Maut yang masih tertipu akan mantra-mantra efeknya, maupun menghindar dari kutukan Remus… Dia merasakan pedih di dadanya, sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan terjebak di kompartemen di gerbong penuh Pelahap Maut.

"Aku – aku mencintaimu juga!" seru Lily keras-keras, membuat Harry membelalak. Dia melihat takut-takut dari bahu Lily ke James, yang mengangguk, dan tersenyum kecil. Harry menarik nafas, dan berkata pelan, "Sudah kubilang, kan… simpan ini untuk di King's Cross…" dia menarik diri, dan mendorong Lily, membuatnya menatap Lily penuh-penuh. Lily tersedu lagi, air mata mulai membanjiri pipinya.

"Kamu akan ikut ke King's Cross!"seru Lily. Itu bukan pertanyaan atau permintaan, itu perintah. "Kita akan bertemu di King's Cross! Kita akan bertemu lagi di sana! Jangan sampai tidak! Kalau tidak, akan kubunuh kau!"

Harry tersenyum, dan mengangguk. Dia tidak mau menjawab. Dia tidak mau berjanji. Tidak, kalau dia tahu hal tersebut akan sulit.. James mendatangi Lily, dan meletakkan tangannya di bahunya. Lily berbalik pelan, dan James berkata, "Ayo."

Lily mengangguk. Bagai gerakan lamban, Harry berlari ke pintu kompartemen, menggantikan tempat Remus, yang menepuknya di punggung. Lalu, Harry melihat Lily naik di sapu bersama James, Remus memegang jubah Lily, lalu jubah Remus dipegang dua murid Hufflepuff, masing-masing jubah mereka dipegang oleh Prefek lainnya. Dan, terakhir, Lily melakukan Levitasi, membuat Prefek Gryffindor yang terluka melayang di sampingnya.

Dan setelah Harry meluncurkan dua mantra peledak, dia menoleh ke jendela lagi. James sudah siap melompat, murid-murid berpegangan padanya. Lalu, dia menoleh ke Harry, dengan ekspresi wajah keras yang sama, mata gelap yang sama. Harry mengangguk, 'Pergilah'.

Dan, mendadak mata James menjadi jahil seperti aslinya, dan ekspresi wajahnya menjadi seperti Fred dan George.

"SIALAN KAU IVAN! SOK PAHLAWAN SEKALI KAU! KUHAJAR NANTI DI HOGSMEADE! AWAS SAJA!" seru James.

Lalu dia menjejak keras-keras. James dengan Lily terbang di atas sapu, dengan Sembilan anak lainnya bergelantungan di belakang mereka, saling memegang jubah anak di depannya. Dan, satu orang, dengan mantra levitasi Lily, melayang di samping mereka, terbang dengan kecepatan yang sama. Harry melihat ke jendela, dan menyaksikan mereka semakin menjauh, terlihat seperti ular panjang yang terbang. Harry masih agak melongo, dengan kata-kata perpisahan terakhir James, dan pelukan Lily.

Dia kembali ke pintu kompartemen, meluncurkan kutukan-kutukan. Pelahap Maut yang melongo langsung kena satu, namun di belakangnya beberapa Pelahap Maut lagi menyerukan kutukan-kutukan balasan…

Lily akan menunggunya di King's Cross… dan James akan menghajarnya nanti di Hogmeade. Mereka berdua sama-sama memerintahkan dan meminta Harry agar selamat, dan mereka bisa berkumpul lagi, dan meskipun James berkata akan menghajarnya, Harry tetap senang… James menginginkannya kembali juga, walaupun Lily baru saja menyatakan cintanya. Dasar…

Tiga kutukan maut melayang ke Harry, yang dihindarinya dengan masuk ke kompartemen. Suara ledakan berhenti.

"Ayolaaaah Prefek Hogwarts… Kalian tidak perlu melawan terus! Menyerahlah, dan kami tidak akan melukai kalian, Prefek…" seru seorang Pelahap Maut.

"Ya, lihatlah para Prefek Slytherin. Mereka tidak melawan, dan kami memberi mereka sapu, untuk pergi! Kalian mau selamat kaaan"

Harry menggerutu, dan berdiri perlahan. Dia mengacungkan tongkatnya bukan ke lorong, tapi ke sekat antar-kompartemen. Dia sudah sangat marah dan kesal sekarang… Dia akan menghabisi mereka semua ini dengan cepat. Dia memejamkan matanya, berkonsentrasi, dan berseru.

"FULMEN!"

"Sudah semuanya?" kata Sirius ke gerbong yang penuh sesak.

"Halo, sudah semua belum? Coba hitung!" seru Peter, yang walaupun sudah menggunakan Sonorus, tidak dapat didengar para murid yang riuh.

"Oh, Tuhan, Montant!" seru Hermione, mengacungkan tongkatnya ke lorong yang penuh sesak. Sensasi menggelitik menerpanya, dan kepalanya berputar,terasa terjepit…. Hingga akhirnya muncul angka di dalam kepalanya: 250. Dia melakukan kalkulasi cepat: 24 Prefek, 2 ketua murid laki-laki dan perempuan, lalu dua lagi dirinya dan Harry. Sudah lengkap di sini.

"Bagaimana? Sudah lengkap?"

"Ya, sudah lengkap semua –" Hermione berbalik badan untuk melihat siapa yang berbicara: Seorang pemuda mengenakan Sweater Quidditch Hufflepuff, berambut pirang kecokelatan, dan bermata biru elektrik yang sangat familiar. Hermione sesaat mau menjerit, sebelum pemuda itu menariknya dari gerbong G, ke batas gerbong F dan G. Sirius dan Peter menatap pemuda tersebut dengan bingung, namun pemuda tersebut melambaikan tongkatnya dan pintu gerbong G tertutup dan terkunci. Sementara Sirius dan Peter berkutat dengan pintu tersebut, Pemuda itu mengacungkan tongkatnya dan berseru, "PORTUS!"

Gerbong G berpendar kebiruan dan berdengung seluruhnya, dan seolah terjadi semacam Shockwave. Setelah berakhir, pemuda tersebut mengacungkan tongkatnya ke sambungan antar gerbong dan berseru, "RELASHIO!"

KLANG!

Gerbong G terlepas dari gerbong F, terlepas dari kereta tersebut. Sirius dan Peter terlihat masih memukul-mukul pintu gerbong G, namun sedetik kemudian, terdengar suara deru, dan gerbong tersebut lenyap dalam sebuah pusaran warna-warni.

Hermione berdiri tegak, dan memandang pemuda tersebut. Dia bertanya pelan, "Dumbledore? Sir?"

Pemuda tersebut menoleh ke arahnya. Memang, pemuda ini bermata biru elektrik persis Dumbledore. Dia berhidung bengkok juga. Namun jelas, dengan rambut pirang kecokelatannya, kulitnya yang mulus, plus Sweater Hufflepuff nya, dia bukan Dumbledore. Dia terlalu muda, sangat muda, mungkin sebaya dengan Hermione. Kecuali –

"Ya, Hermione. Ini aku. Aku ikut naik kereta ini dari awal, karena aku merasakan firasat buruk. Aku meminum mantra pengurang usia di lemariku, mengubah diriku menjadi berumur 16 tahun, dan naik ke kereta ini dengan tubuh mudaku, agar tak ada yang curiga. Aku selama tadi duduk di gerbong paling belakang, kompartemen ujung. Saat sudah mulai ada serangan, aku berusaha maju, namun terlalu ramai, dan sepertinya hampir semua murid datang ke sini. Aku terpaksa mendesak-desak untuk maju. Maaf aku tak membantu dari awal," ujar pemuda tersebut, Dumbledore muda.

Hermione mengangguk, namun dia masih punya pertanyaan yang mengganggu. "Anda mengubah gerbong tersebut menjadi Portkey? Kemana gerbong tersebut pergi?"

"Ke stasiun Hogsmeade. Aku meletakkannya persis di peron dan lajur yang sama. Nah, sekarang di mana Harry?"

"Harry… Harry!" seru Hermione. "Dia masih di gerbong A! Dia masih menghadang para Pelahap Maut dan menyelamatkan Lily!"

"Menyelamatkan Lily.. dan para Prefek?" tanya Dumbledore, alisnya terangkat tinggi.

"Ya, betul! Kita harus membantu –"

Suara petir menggelegar dari gerbong depan, suara khas Fulmen. Hermione menoleh ke Dumbledore, yang mengangguk. Mereka langsung berlari secepat mungkin, menuju gerbong A.

Makin dekat mereka dengan gerbong A, suara-suara ledakan makin keras. Sekali, Hermione merasa seperti melihat sesuatu terbang di luar jendela, sesuatu yang panjang – Tapi bukan waktunya. Dia harus berlari, membantu Harry. Dia sudah melawan para Pelahap Maut dari tadi, tanpa henti, menolong Prefek dan memberi semua murid waktu untuk pergi. Yang Hermione tidak tahu adalah bagaimana dengan para Prefek? Tentu, Harry sudah mengamankan mereka, dia pasti bisa, tapi bagaimana membawa mereka kembali?

Suara ledakan lagi, dan Dumbledore, yang berada di depan Hermione, menangkis sebuah bola cahaya biru. Bola cahaya tersebut memantul dari mantra perisai Dumbledore yang sangat kuat, menghantam dinding di kanan, membuat jebol dinding tersebut plus kacanya sekaligus. Angin dari luar masuk ke dalam, sangat kencang. Saat itulah Hermione menyadari satu hal: Hogwarts Express tak pernah sekencang ini berjalan. Seolah tak terkendali. Mereka terus berlari, saat kereta membelok dengan sangat cepat, hingga miring sebelah. Hermione terpeleset dan nyaris terjatuh, kalau saja tidak ada Dumbledore.

"Kamu tak apa?" tanya Dumbledore.

"Ya, tak apa-apa," jawab Hermione. "Kenapa keretanya sekencang ini?"

"Sepertinya masinis sudah tewas. Kereta ini sekarang meluncur begitu saja, tanpa ada yang mengendalikan," jawab Dumbledore.

"Tapi, kalau tidak ada masinis, bukankah – Bukankah tidak akan ada yang menyerok batu bara, dan kereta ini justru makin pelan?"

Dumbledore menggeleng, sementara mereka berjalan cepat. Tidak bagus untuk berlari: Kereta mulai berguncang-guncang, bergoyang ke kanan dan ke kiri. "Kereta ini bukanlah kereta Muggle, Hermione. Sama seperti Bus Ksatria. Dia tidak memiliki teknologi Muggle. Mereka tidak menggunakan bahan bakar! Kereta ini disihir agar bisa maju, dan yang mengendalikannya adalah masinis di depan! Kalau masinisnya sudah tidak ada, tidak ada yang mengendalikan kereta ini!" seru Dumbledore.

Kereta kini sangat cepat, hingga Hermione yakin kalau saja ada belokan, kereta ini pasti langsung miring. Dumbledore berlari cepat. Suara ledakan lagi, dan bola api meluncur lagi.. kali ini di sebelah kiri mereka, menghancurkan seluruh kompartemen. Tenaganya luar biasa. Gerbong C tempat mereka berada, kini rusak parah. Dumbledore berlari, melewati sambungan gerbong C dan B, yang pintunya sudah bolong, dan menggantung lemah di engselnya. Bola cahaya lagi, dan kali ini ditangkis oleh Hermione. Gerbong B, seluruh kompartemen sudah lenyap, kursi-kursi terbalik, dindingnya bolong-bolong. Bekas kutukan-kutukan mengerikan.

Mereka mencapai gerbong A, namun tempat itu sudah tidak bisa disebut gerbong lagi. Dinding di kanan kirinya sudah lenyap, kompartemen sudah tidak ada, atapnya bahkan sudah tidak ada. Angin kencang menyayat-nyayat kulit, gerbong A sekarang hanya terdiri dari lantai yang retak-retak, melaju dengan kecepatan tinggi mengikuti lokomotif. Sebuah bola cahaya biru meluncur lagi ke Hermione, sangat cepat –

Kereta berbelok, dan Hermione terpeleset. Dia meluncur sepanjang lantai gerbong yang licin, menuju pinggiran gerbong yang tak berpembatas. Tepat saat kakinya hampir jatuh, seseorang menangkap tangannya. Hermione berpegangan erat pada tangan orang tersebut, dan dia ditarik. Tikungan berakhir, dan kereta melaju datar kembali. Seseorang menarik Hermione, dan membantunya berdiri. Dia tidak perlu menoleh maupun bertanya siapa orang tersebut. Dia sudah memegang tangan yang sama selama hampir delapan tahun sekarang – Harry.

"Harry?" bisik Hermione.

"Jangan sekarang, Hermione…" bisik Harry.

Hermione menoleh ke Harry. Dia bisa merasakan dari suara Harry, bahwa dia kesakitan. Nafasnya tersengal-sengal, dia berkeringat dingin, dan tangan kanannya yang menggenggam tangannya, plus tongkat sihir, gemetaran. Dia melihat lebih jelas lagi dan memekik. Lengan kiri Harry tidak ada di tempatnya, dan darah terus mengalir dari tempat yang tadinya lengannya. Hermione buru-buru bergerak ke sebelah kiri Harry, menyihir Perban besar, membebat pangkal lengan Harry keras- keras.

Saat itu juga, sebuah bola cahaya biru meluncur ke arah mereka.

"Protego!"

Bola cahaya tersebut memantul ke luar, menghantam pohon dan membakarnya. Beberapa bola cahaya lagi meluncur, ditangkis oleh Dumbledore. Dumbledore kini berdiri di depan Harry dan Hermione, tongkat sihirnya teracung tinggi.

"Dan siapa lagi ini? Kau membawa teman baru, Ivan? Kupikir aku ke sini hanya untuk bermain denganmu dan teman cewekmu… Rupanya ada tambahan satu lagi?"

Hermione menoleh ke sumber suara. Suara keji, dingin dan kejam yang sama yang telah mereka dengar berkali-kali. Suara dari seorang pria botak, berkulit licin, dan berwajah laksana ular. Mata yang berwarna merah, dan hidung yang hanya berupa celah. Voldemort.

Dan, melihat kondisi Harry, Hermione mengerti. Harry telah melawan Voldemort dari tadi, sejak lama mungkin, seorang diri begitu saja. Dan Voldemort berani memotong lengan kiri Harry, lengan yang sama yang tadi merangkul bahu Hermione! Hermione gemetaran karena marah, murka. Dia memasang bebat di pangkal lengan kiri Harry, menghentikan aliran darahnya. Kemudian, dia memasang mantra kram ke pangkal lengan tersebut.

"Aku tidak bisa menutupnya, tapi setidaknya dengan ini tidak sakit lagi, Harry," kata Hermione cepat, berkeringat dingin karena melihat kondisi Harry.

Harry menatapnya, dan tersenyum. Dia berbisik, "Terima kasih banyak, Hermione. Kupikir.. ini sudah lebih dari cukup. Terima kasih."

Harry berdiri perlahan, hanya dengan sebelah lengan, yaitu lengan kanannya. Lengan kanan, yang memegang tongkat sihir holly, tongkat sihir yang bersaudara dengan tongkat sihir yang dipegang Voldemort. Dan mungkin satu-satunya tongkat yang bisa menandinginya, selain Elder Wand. Harry mencengkeram tongkatnya lebih erat lagi, marah, murka, dan penuh tekad untuk mengalahkan Voldemort, di tempat ini juga, saat ini juga.

Hermione juga berdiri, dan berjalan ke samping Dumbledore. Voldemort tampaknya belum mengenalinya. Wajar saja, Dumbledore sedang dalam tubuh 16 tahunnya. Harry berjalan ke samping kanan Dumbledore, dan mereka bertiga berdiri tegak, tidak memedulikan angin yang semakin kencang. Mereka menatap Voldemort, tiga orang melawan satu Pangeran Kegelapan.

"Jadi, apa ini? Teman baru kalian? Jangan katakan murid pindahan lagi… Ah –" desah Voldemort. Dia mengangkat tongkatnya.

"PROTEGO!"

"FULMEN!"

Mantra petir Voldemort, yang berwarna hijau tua, memantul di perisai kuat Harry. Harry mengayunkan tongkatnya dan, mereka memulai lagi.

"FULMEN!" seru Harry. Petir besar menyambar dengan kecepatan tinggi, meleset beberapa senti dari Voldemort, dan menghantam pohon, yang terbakar hebat. Voldemort membalas dengan Avada Kedavra, yang ditangkis Dumbledore dengan konjurasi papan kayu. Papan kayu tersebut terbakar.

Hermione melakukan mantra usir pada papan kayu yang terbakar tersebut, dan meluncurkannya ke arah Voldemort, yang meledakkan kayu tersebut berkeping-keping di udara. Lidah-lidah apinya mengumpul menjadi bentuk kelelawar raksasa, yang terbang menuju mereka-

Dumbledore menghilangkan kelelawar api tersebut dengan gumaman Finite. Dia meluncurkan bola cahaya putih yang sangat besar, sehingga dalam sekejap Harry menduga Voldemort akan kalah – Ketika Voldemort mengkonjurasi tameng besi berhias ular, menangkis bola cahaya tersebut. Hermione meluncurkan cahaya hijau ke Voldemort, ditambah suara deru – Sejenak Harry dan Dumbledore mengira Hermione meluncurkan Avada Kedavra, dan jelas Voldemort berpikiran sama, dia menunduk menghindarinya – ketika mantra hijau tersebut memecah dan berubah menjadi kembang api – mantra efek.

"Deprimo!" seru Dumbledore.

Mantra tersebut mengarah langsung ke kepala Voldemort, namun ditangkis dengan perisainya. Suara bagai gemuruh terdengar saat kutukan penghancur karang dari Dumbledore menghantam mantra pelindung tersebut. Harry meluncurkan mantra bius luar biasa kuat, yang ditangkis juga oleh Voldemort dengan suara seperti Gong besar. Voldemort meluncurkan tiga bola cahaya biru, yang ditangkis bersamaan oleh mereka bertiga, membuat ketiga bola tersebut terpantul ke pepohonan dan membakarnya.

Lagi dan lagi mereka berduel, tak sekalipun berhenti. Harry, walau dengan satu tangan, meluncurkan kutukan-kutukan normal tetapi berkekuatan besar. Hermione meluncurkan beragam kutukan dan mantra-mantra kreatif dari kedua ujung tongkatnya, dan lebih dari sekali menipu Voldemort dengan mantra efek: Seolah mengeluarkan petir Fulmen. Dumbledore menjadi pelindung dan penyerang utama, dengan tubuh remajanya, dia bergerak jauh lebih cepat dan lebih presisi. Beberapa kali dia meluncurkan mantra yang dapat menghabisi Voldemort. Namun, Voldemort ternyata benar-benar kuat: Dia seperti menari-nari, berputar-putar, kutukan-kutukan seolah terus-menerus tertangkis ataupun menghindar darinya, membuat mereka bertiga kesal.

Kini mereka sudah keluar dari wilayah hutan, dan masuk ke daerah pertanian yang luas. Lebih dari sekali kutukan-kutukan mereka menyambar tanah pertanian di kanan kiri, membakar banyak sekali ladang. Satu mantra Fulmen Harry hampir mengenai Voldemort, namun meleset karena guncangan kereta, membuatnya menyambar ladang dan membuat garis api sepanjang lebih dari seratus meter.

"Avada Kedavra!" seru Voldemort.

Dumbledore menghindarinya bagai bernafas, dan mengirimkan bola api besar ke arah Voldemort, yang ditangkis di udara dengan bola api juga, mengakibatkannya meledak dahsyat dan menutupi pandangan selama sepersekian detik. Hal yang sangat gawat.

Voldemort meluncurkan Cruciatus kepada Hermione, dan Harry dan Dumbledore tahu bahwa terlambat untuk mengkonjurasi perisai –

"Avis!"

Puluhan burung merpati terbang menyembur dari ujung tongkat Hermione, salah satunya terkena Cruciatus dan jatuh ke tanah. Hermione belum selesai, dia mengacungkan tongkat sihirnya ke Voldemort dan berseru, "Oppugno!"

Puluhan burung merpati tersebut meluncur dengan sangat cepat ke arah Voldemort, yang mentransfigurasi semuanya menjadi pisau-pisau tajam, dan membuat semua pisau tersebut kembali ke mereka bertiga. Harry dengan mudah menghilangkan semuanya dengan "Finite!" Sedangkan Dumbledore mengangkat tongkatnya, menuturkan "Fulmen!"

Mantra petir meluncur, mengarah ke Voldemort, yang meleset lagi, namun menghantam lengan Voldemort yang membawa perisai, membuat lengan tersebut terbakar dan perisainya pecah berkeping-keping. Voldemort menatap lengannya dengan murka, sebelum menangkis mantra bius raksasa dari Harry.

Yang akhirnya mereka sadari adalah, bahwa kereta makin cepat, makin tak terkontrol, angin terus menerus menerpa mereka, sehingga mereka harus menjaga keseimbangan terus menerus. Harry berpikir untuk mengakhiri ini secepat mungkin, bagaimana pun juga ini adalah tugasnya, tugasnya sejak lama. Inilah alasannya dikirim ke dunia ini, ke waktu ini, bersama Hermione, dari semua orang yang ada.

Ketika Voldemort menghindari mantra penyayat dari Hermione, dia berhenti bergerak.

"Kenapa tidak pulih?" serunya. "KENAPA MASIH TERLUKA?"

Harry, Hermione dan Dumbledore berhenti bergerak. Voldemort tampaknya sedang sangat kaget, dan bahkan… takut akan sesuatu hal. Asap sudah lenyap terbawa angin kencang, dan mereka melihat Voldemort memegangi lengannya yang terluka bakar parah, tergantung tak berguna di samping tubuhnya. Voldemort menatap lengannya tersebut dengan ngeri, kengerian yang tak pernah dilihat semua orang sebelumnya. Dan mereka bertiga langsung tahu kenapa.

Luka Voldemort, luka fisik yang biasanya langsung menyembuh berkat sihir Horcrux nya, tidak menyembuh. Luka goresan di kepalanya yang botal dan licin, dan juga tangan kirinya yang tadi tersambar petir Dumbledore, tidak pulih.

"Apa yang – APA YANG TERJADI!" jerit Voldemort. Dia memegangi lengannya dengan ngeri, kemudian menatap mereka bertiga, kembali ke lengannya, lalu menatap mereka bertiga lagi. Dumbledore-lah yang bicara.

"Voldemort…" ujar Dumbledore pelan. "Horcrux mu tidak bisa menolongmu sekarang… mereka semua sudah musnah."

Voldemort menatap Dumbledore dengan bingung, lalu pemahaman, secara perlahan mulai merayapi wajahnya. Horcrux nya sudah tidak ada… Dia sudah bisa mati sekarang… Bukan. Dia akan mati sekarang. Dia harus pergi.

"Well, menyenangkan sekali menghabiskan hari bersama kalian bertiga, tapi aku harus pergi, Pak Tua. Permisi," dan dia berputar di tempat.

Yang menjadi pemandangan yang agak lucu sebetulnya. Voldemort jelas berusaha kabur dengan ber-Apparate. Yang tak bisa dilakukannya, mengingat walaupun dinding fisik gerbong sudah tidak ada, dinding sihir yang melindunginya dari Apparate, dan mencegah Apparate dalam bentuk apapun, kecuali Phoenix dan Diricawl. Voldemort nyaris terpeleset saat kereta berguncang lagi, makin tidak stabil karena kecepatannya. Dia memandang berkeliling dengan bingung, sebelum menatap Harry, Hermione dan Dumbledore lagi. "Bagaimana –"

"Kau pasti belum pernah membaca Sejarah Hogwarts," seru Hermione, mengatasi deru angin. "Kau tak bisa ber-Apparate di Hogwarts, dan di Hogwarts Express!"

Voldemort menatapnya dengan ketakutan, sebelum wajahnya diisi dengan seringai kejam lagi. Dia mulai melayang beberapa senti di atas tanah. Jelas dia berniat kabur dengan terbang.

"Lalu?" serunya. "Aku masih bisa memiliki banyak cara lain, bodoh! Cara-cara yang jauh di luar pikiran dan jangkauan sihir kalian! Jangan anggap kalian menang hanya karena sudah menghancurkan Horcrux ku!"

Harry berjalan selangkah, menuju Voldemort. Dia memasang sonorus pada tenggorokannya.

"Tom?" katanya. Dia berbicara normal, tapi suaranya sangat keras, bergaung hingga ke seluruh lembah di kanan kiri mereka, yang sedang dilewati dengan cepat. Voldemort mendengarnya juga, dan menatap Harry dengan murka.

"Apa kaubilang?" katanya, mendarat di tanah lagi.

"Tom? Kau masih di sana?" kata Harry. "Apakah kau masih ada? Apakah kau masih hidup, Tom?"

"AKU BUKAN TOM!" jerit Voldemort. "AKU ADALAH –"

Harry menggerakkan satu-satunya lengannya, yang masih memegang tongkat juga. Dia mengambil dari sakunya, satu benda yang tadinya akan dibawanya untuk diselidiki: Sebuah foto kuno, hitam putih.

"Sadarlah, Riddle… masih adakah dirimu di sana? Masih ingatkah kau pada Carp, John, Harry, dan Linda?" kata Harry.

"Apa – APA ITU?"

"Masih ada kesempatan, Tom. Menyesallah, kumohon," ujar Dumbledore, maju ke samping Harry. "Dengan menyesal, kau akan bisa bertemu lagi dengan John, Harry dan Linda."

Dumbledore menatap Voldemort dengan wajah sedih, sangat sedih. Dia melihat muridnya yang terjerumus jauh ke dalam kegelapan… Dia sadar akan dirinya sebagai guru dan pengajar yang gagal. Dia melihat hasil didikannya sendiri, di depannya persis, yang terlalu tergantung pada Sihir Hitam yang mengikat jiwanya ke bumi. Sihir hitam yang kemungkinan besar sudah menghilangkan Tom Riddle sendiri, dan menggantikannya dengan sebuah mahluk tak berperasaan bernama Voldemort…

Hermione maju juga, dan berdiri di samping Dumbledore. Dia mengacungkan tongkatnya yang asli. Riddle.. orang yang terjerumus sangat jauh, orang yang mungkin memiliki kecerdasan menyamai Ravenclaw sendiri, namun tenggelam dalam kegelapan hatinya, dan terjerumus dalam sihir sangat hitam, membuat dirinya menjadi mahluk terjahat di muka bumi ini.

Harry memandangnya dengan perih, mengerling ke foto lima orang anak tersebut, yang berkibar-kibar tertiup angin. Voldemort, yang sudah lupa akan usahanya untuk kabur, karena murka dipanggil sebagai 'Tom'.

Harry melancarkan mantra usir pada foto hitam-putih tersebut, membuatnya meluncur ke Voldemort. Dan, saat foto tersebut mencapai jarak tengah antara Harry dan Voldemort, kedua Phoenix bertubrukan.

"AVADA KEDAVRA!"

"EXPELLIARMUS!"

Terjadi letusan bagai ledakan meriam, dan lidah api keemasan berkobar di antara Harry dan Voldemort, di tengah-tengah lantai gerbong yang sudah retak, membumbung dan menjadi sebuah bola cahaya keemasan. Ujung tongkat Harry dan Voldemort terhubung oleh satu untai benang berwarna keemasan yang berkilauan, bola cahaya keemasan bersinar-sinar di tengah-tengah benang tersebut. Bola tersebut memancarkan lidah-lidah api, bagaikan matahari kecil.

"MAJUU!" seru Harry. Dia memusatkan seluruh daya, tenaga, tekad dan konsentrasinya pada bola cahaya tersebut, membuatnya meluncur dengan cepat ke arah Voldemort. Dan berhasil: Detik bola api tersebut menyentuh ujung tongkat Voldemort, Voldemort berteriak kesakitan, persis seperti yang terjadi di tahun keempat Harry: Priori Incantatem bekerja pada tongkat Voldemort. Namun, Harry menahan ini bukan untuk menghabisi Voldemort.

Melainkan memberikan waktu pada kedua partnernya yang berdiri di sampingnya.

"FULMEN!" jerit Hermione dan Dumbledore.

Tiga sambaran petir menyambar bola cahaya keemasan yang sedang menempel di tongkat Voldemort,membuat suatu ledakan dan guncangan hebat, seperti ledakan bom. Terjadi kilatan cahaya putih terang, dan bola cahaya keemasan tersebut terpental, terbang tinggi dengan cepat, jauh ke depan lokomotif dan mungkin ke depan lajur, jauh sekali, makin kecil, hingga akhirnya makin menurun, dan mereka bisa mendengar suara ledakan di kejauhan. Suaranya kecil, namun gelombangnya mencapai tempat mereka, membuat kereta berguncang hebat lagi.

Dan, di sana, berdiri Voldemort, tanpa tongkat, kedua tangannya menggantung lemas tak berdaya. Tubuhnya terbakar parah, tersambar tiga petir. Setelah satu detik persis, Voldemort jatuh berlutut, dan akhirnya tertelungkup. Lord Voldemort menghantam lantai gerbong yang retak dengan berdebum, seperti nasib orang malang yang tersambar petir, tubuhnya hangus, jubahnya terbakar. Lord Voldemort telah mati, berkat gabungan Priori Incantatem dari Harry Potter, dan gabungan mantra petir dari Albus Dumbledore dan Hermione Granger.

Lalu gelombang ketenangan, dan kelegaan… Harry menyarungkan tongkat sihirnya di satu tangannya yang tersisa, dan menoleh ke samping Dumbledore. Hermione, dengan wajah tergores-gores, memandangnya balik dengan berseri-seri, meskipun wajahnya sedih dan bersimbah air mata. Hermione memasukkan kedua tongkatnya juga, dan memeluk Harry dengan kedua lengannya. Harry memeluknya balik dengan satu lengan. Dan, memandang mereka, adalah Albus Dumbledore, hampir tidak terluka sama sekali, meskipun Sweater kuning Hufflepuff nya sudah robek-robek, dan celana panjang Jins nya robek di beberapa tempat.

Harry dan Hermione memisahkan diri, dan memandang Dumbledore, yang dengan penampilan remajanya berseri-seri. Dumbledore membungkuk pada Harry, memberi selamat dalam diam. Lalu, dia melihat ke gerbong yang terbakar, rusak dan retak; ke tubuh Voldemort yang terbakar; ke beberapa mayat murid dan Pelahap Maut di belakang Voldemort. Dumbledore memejamkan matanya, dan membukanya lagi, menarik nafas dalam untuk menenangkan diri, tapi membiarkan kebahagiaan merasuki dirinya seluruhnya.

Harry dan Hermione sangat bahagia, mereka akhirnya berhasil, mereka berhasil memenuhi tujuan mereka, Harry berhasil memenuhi takdirnya. Mereka sudah selesai.. Benar-benar selesai.

"Mari, kembali ke Hogwarts, Harry, Hermione. Aku yakin kalian akan disambut," kata Dumbledore, menembus deru angin. Harry dan Hermione tersenyum, memandang satu sama lain, lalu kembali ke Dumbledore.

"Kami tidak bisa, Profesor… kami sudah selesai di sini," kata Harry.

"Selesai? Apa maksudmu?" tanya Dumbledore.

"Tujuan kami kembali ke sini sudah selesai, kami akan pergi kembali," kata Hermione.

Dumbledore membelalak, menatap mereka berdua bergantian, seolah mereka berdua sudah gila, atau bahkan hilang akal.

"Kami sudah menceritakannya di awal, ingat? Begitu kami sudah menuntaskan tujuan kami di sini, kami akan pergi, kembali ke tempat seharusnya," kata Harry.

Dumbledore melangkah mundur sekali, menatap Harry dan Hermione dengan sangat amat bingung. Lalu dia ingat – Yang dikatakan mereka berdua pada hari pertama mereka bertemu dengannya. Dan juga, dengan ngeri Dumbledore menyadari bahwa kaki mereka berdua sudah diselimuti asap hingga selutut, dan asap tersebut terbawa angin, memperlihatkan kekosongan: Kedua kaki mereka, dari lutut ke bawah sudah hilang, mereka berdua melayang di udara.

"Wah, sudah mulai," ujar Harry. Hermione menatap kakinya dengan penuh minat.

"Jadi-jadi kalian akan-" gagap Dumbledore. Hermione memotongnya dengan satu anggukan. Dumbledore mundur selangkah lagi, sangat ngeri.

Angin semakin kencang, menerbangkan asap dan membawanya ke alam luas. Kini Harry dan Hermione hanya terdiri dari pinggang ke atas. Tangan Harry dan Hermione, masing-masing sudah mulai berasap juga.

"Hmm… aku punya permintaan terakhir Profesor, bolehkah?" tanya Harry, nyengir. Dumbledore mengangguk tak berdaya.

"Sampaikan bahwa kau telah mengalahkan Voldemort. Kau yang mengalahkannya. Kemudian, sampaikan permintaan maafku kepada Lily, karena aku tak bisa menemuinya di King's Cross. Lalu, sampaikan juga pada James, bahwa aku ogah dihajar di Hogsmeade. Katakan maaf dariku. Katakan pada mereka berdua bahwa aku tewas dalam pertarungan, dan ini pesan terakhirku," ujar Harry. Dumbledore mengangguk lagi.

"Bolehkah aku juga?" tanya Hermione. Kini tubuh mereka sudah hampir menguap seluruhnya, diterbangkan angin ke udara dalam bentuk asap. Dumbledore mengangguk lagi. "Sampaikan pada Sirius, jangan jadi Playboy, lalu pada Daisy, katakan padanya dia adalah teman kamar terbaik yang pernah kumiliki. Terakhir untuk Alice, kami mencintainya," kata Hermione, tersenyum lebar.

Dumbledore mengangguk lagi, setetes air mata mulai membasahi pipi mudanya.

"Kami pergi dulu, Profesor. Sampai bertemu… di kehidupan berikutnya," kata Harry, mengangguk. Hermione juga. Akhirnya, hanya kepala mereka yang tersisa, rambut mereka berdua berkibar-kibar tertiup angin… Hingga seuntai rambut terakhir Hermione. Seluruh asap dari mereka, berwarna putih, terbawa angin, dan lenyap di udara. Dumbledore masih berdiri dengan kaku. Sebelum dia sadar bahwa kereta meluncur makin cepat, dan jembatan di depan membelok dengan agak tajam. Dia tahu apa yang akan terjadi.

Mengusap air matanya, dia berkonsentrasi keras, lalu melompat dari kereta, jatuh ke jurang di bawah jembatan. Dia ber-Apparate ke Hogsmeade.

Hogwarts Express melaju dengan kecepatan mencapai 150 km/jam, tak sanggup membelok dengan sempurna di atas jembatan, dan terguling jatuh keluar jalur, bersama seluruh gerbongnya hingga gerbong F. Ledakan keras terjadi, membumbungkan api tinggi ke udara.

Hogwarts Express tercatat menjalani perjalanan terakhirnya pada bulan Juni, akhir tahun ajaran 1975/1976, bersamaan dengan berakhirnya Perang Sihir Inggris Pertama.

James Potter jatuh berlutut, Sirius dan Remus tak dapat memercayai telinga mereka. Peter bersedih, meskipun dia tidak mengenal Ivan dan Jean dengan akrab, mereka berdua baik padanya. James memukul-mukulkan tinjunya ke jalanan Hogsmeade, dan mulai menangis. Sirius merangkulnya, merasa tak percaya, dan menyesal. James merasa sangat bodoh, sangat tidak berguna… kalau saja dia yang di sana, mereka tak perlu mati, cukup dia saja. Dia merasa seperti pengecut, sangat menyedihkan…

Lili Evans menangis tersedu-sedu, bersama Alice. Daisy, yang mendapatkan pesan terakhir dari Jean, menangis juga dengan histeris, hingga dia harus ditenangkan oleh beberapa orang temannya.

Sebulan setelah itu, kehidupan terus berjalan. Albus Dumbledore dinobatkan sebagai pahlawan terbesar dan penyihir agung, atas keberhasilannya mengalahkan Lord Voldemort dan mengakhiri Perang Penyihir sebelum berkobar besar. Dia mendapatkan banyak sekali penghargaan dan hadiah, namun dia selalu menolak berkomentar… Dia tahu kenyataan yang sebenarnya.

Walaupun objeknya telah tiada, namun mantra Fidelius terus bekerja, karena pemegang rahasia masih hidup. Perwakilan dari Beauxbatons dan Durmstrang datang, masing-masing satu guru dan satu murid yang mengaku sebagai 'teman dekat' dari Ivan Nikolai Tesla dan Jean Catherine Leroy. Dalam upacara untuk menghormati para murid yang meninggal dalam peristiwa Hogwarts Express, mereka menyampaikan pidato perpisahan yang terakhir. James, Sirius, Alice, Lily dan Daisy, yang masing-masing disebut dalam pesan terakhir Ivan dan Jean, menolak berbicara.

Upacara penghormatan diadakan untuk Empat Prefek, Dua Ketua Murid, dan Dua murid biasa, sebagai pengganti Upacara Pemakaman. Tubuh mereka tak pernah berhasil ditemukan. Ledakan Hogwarts Express membuat semua tubuh hancur berkeping-keping, bahkan tubuh Voldemort. Sebuah tugu didirikan di halaman kastil, untuk para murid yang tewas hari itu.

Hari yang sama dengan Ivan dan Jean meninggal, keempat raksasa batu yang sudah berbulan-bulan menjaga di perbatasan sekolah runtuh, kehilangan efek mantranya karena pemilik mantra sudah tiada. Dan, sebuah patung es Rusa Betina Perak patah dan mencair, di dalam koper seorang anak perempuan.