EMPAT CHAPTER SEKALIAN UPDATE. EMPAT CHAPTER TERAKHIR.

.

.

.

Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

High School DxD © Ichiei Ishibumi

Guest star: Gremory Rias

.

.

.

PENJAGA HATI DARI MASA DEPAN

By Hikari Syarahmia

Pairing: Naruto x Hinata

Sabtu, 15 Agustus 2015

.

.

.

PENJAGA HATI DARI MASA DEPAN

Chapter 21: Feeling

.

.

.

Hinata akan meninggal? Siapa sebenarnya yang telah mengacaukan waktu? Orang terdekatmu yang telah mengacaukan waktu. Kamulah yang telah mengacaukan waktu.

Oke, selamat membaca di detik-detik beberapa chapter lagi akan tamat.

.

.

.

KONOHA CYBER CITY, 2114 YEAR, 20.05 P.M

"Hinata-sama, kamu kenapa?"

Samar-samar Hinata mendengar suara yang amat familiar. Suara yang lembut dan menenangkan hati. Perlahan-lahan Hinata membuka matanya. Samar-samar ia menangkap wajah seseorang. Rambutnya pirang jabrik. Dua mata biru cerah. Kulit putih agak kecoklatan. Tiga garis di dua pipinya. Dia memasang wajah cemas.

"Na-Naru-chan!" Hinata benar-benar membulatkan matanya. Ia sadar telah kembali ke alam nyata.

Dilihatnya, Naruto menghelakan napas leganya. Ia menepuk pelan dadanya.

"Syukurlah, Hinata-sama sudah sadar setelah menjalani operasi implan jantung itu. Aku lega sekali," kata Naruto menyengir lebar."Sudah lima hari, kamu tidak sadarkan diri lho."

Hinata terpaku sebentar. Lalu celingak-celinguk untuk memperhatikan seluruh ruangan. Semuanya serba putih bercampur biru. Kemudian berhenti ke arah Naruto lagi.

"Ja-jadi, aku di rumah sakit sekarang?"

"Ya, Hinata-sama. Jantungmu sudah tidak apa-apa lagi. Jantungmu sudah kembali berdetak dengan normal. Kamu sudah sehat seratus persen sekarang. Operasinya berjalan dengan sempurna. Kamu sudah sembuh."

Naruto mengatakan kabar baik itu dengan tawanya yang melebar. Hinata membulatkan matanya.

"A-aku sudah dioperasi?"

"Iya."

Si Namikaze mengangguk cepat. Hinata terpana menatap Naruto yang duduk di samping tempat tidur di mana Hinata terbaring.

'Ja-Jadi, sekarang aku sudah sembuh,' batin Hinata memegang dada kirinya.'Detak jantungku sudah terasa lebih normal seperti biasanya.'

Sedetik kemudian, Hinata tersenyum lebar. Ia senang pada akhirnya dia menjadi manusia yang normal dan sehat. Itu semua berkat Naruto, si bocah dari masa depan ini.

"Bagaimana, Hinata-sama? Apakah kamu merasa lebih baik?" tanya Naruto lagi.

Hinata melirik ke arah Naruto.

"Iya, Naru-chan. Aku merasa lebih baik. Detak jantungku kembali normal seperti biasanya."

"Hehehe, aku bersyukur sekali karena dokter Shizune berhasil mengoperasimu. Dengan begitu, kamu bisa melakukan aktifitas apapun. Kamu bebas sekarang, Hinata-sama."

Naruto tertawa lebar. Hinata tersenyum kecil untuk menanggapinya.

"Iya, Naru-chan."

Sesaat pintu pun terbuka secara otomatis. Muncul tiga orang yang masuk ke dalam. Naruto dan Hinata melebarkan matanya.

"KAASAN!" seru Naruto yang langsung bangkit dari duduknya karena melihat sang ibu. Ibunya yang bernama Kushina itu duduk di kursi roda yang bergerak otomatis yang mengambang. Di samping kanan Kushina adalah Minato, Ayah Naruto. Sedangkan di samping kiri Kushina adalah Gaara, kakak angkatnya Naruto.

Naruto segera menghampiri sang Ibu. Lalu sang Ibu dipeluknya dengan erat. Sang Ibu menangis ketika bertemu kembali dengan putra kandungnya ini.

"Naru-chan, anakku. Akhirnya Kaasan bisa bertemu kamu lagi," sahut Kushina yang menangis terharu."Kaasan sangat merindukanmu."

"Iya, Kaasan. Aku senang bisa bertemu lagi dengan Kaasan. Maafkan aku karena aku meninggalkan rumah tanpa izin Kaasan dan Tousan."

"Tidak apa-apa, anakku. Yang paling penting kamu kembali lagi ke sini. Itu sudah membuat Kaasan senang."

"Iya, Kaasan, aku sayang Kaasan."

"Kaasan juga sayang padamu, Naru-chan."

Ibu dan anak laki-lakinya saling melepaskan rindu. Minato, Gaara dan Hinata terharu sekali melihatnya. Suasana menjadi sangat sedih begini. Sungguh mengharu biru.

Tak lama kemudian, Kushina dan Naruto melepaskan pelukan masing-masing.

"Ternyata kamu membawa seorang gadis cantik juga ke sini, Naru-chan," kata Kushina melirikkan matanya ke arah Hinata."Apakah dia adalah pacarmu?"

"Heh? A-ano, itu ...," Naruto kelihatan gugup. Kedua pipinya merona merah.

"Hehehe, pasti dia adalah pacarmu, bukan?" Kushina tertawa kecil. Lalu ia pun berjalan menghampiri Hinata. Kushina masih duduk di kursi roda otomatis. Karena ia baru saja siuman dari operasi implan jantung.

Hinata menoleh saat Kushina mendekat ke arahnya.

"O-Obasan ...," Hinata tersenyum.

"Gadis yang manis sekali. Siapa namamu?" tanya Kushina yang juga tersenyum.

"A-Aku Hyuga Hinata. Kalau Obasan?" Hinata kelihatan gugup.

"Aku Kushina. Kamu boleh panggil aku Kaasan saja," Kushina memegang kepala Hinata.

Hinata terpana. Kushina terus tersenyum ke arahnya.

"Ba-Baiklah, Kaasan."

"Bagus."

Kushina mengangguk. Minato, Naruto dan Gaara senang melihatnya.

Sungguh hari ini adalah hari yang sangat bahagia untuk Naruto karena semuanya sudah berjalan dengan baik. Tidak ada masalah lagi yang terjadi di zaman ini. Hanya saja pelaku kekacauan waktu itu belum ditemukan. Hingga saat ini, para polisi waktu sedang mencari pelaku utamanya yang tak lama lagi ditemukan.

Naruto berjalan mendekati Ibunya. Ia memegang pundak Ibunya.

"Kaasan."

"Ya, Naru-chan?"

Kushina menoleh ke arah Naruto.

"Karena masalah di zaman ini sudah selesai. Kaasan dan Hinata juga sudah dioperasi. Tousan juga sudah menjadi walikota lagi. Lalu Gaara-nii, aku senang bisa bertemu denganmu," Naruto tersenyum sambil melirik ke arah kakak angkatnya."Aku senang semuanya kembali normal seperti biasanya."

Gaara juga tersenyum. Senyuman yang simpul. Lantas ia juga berjalan menghampiri Naruto.

"Ya, sepertinya kamu juga sudah mendapatkan pengganti yang lebih baik daripada Shion," Gaara memegang bahu Naruto."Kamu sudah melakukan semuanya dengan baik. Cintamu begitu besar buat Kaasan. Juga kamu juga sudah melakukan sebuah tanda cinta yang besar buat Hinata. Ternyata kamu mencintai Hinata rupanya."

DEG!

Jantung Hinata berdetak kencang ketika mendengar penuturan dari Gaara itu. Ia membulatkan matanya sempurna.

'Naru-chan mencintai aku?'

Seketika itu juga, wajah Naruto merona merah. Ia tidak berkutik lagi karena semua orang telah mengetahui bahwa dia mencintai Hinata.

"Eh, itu. Tidak. Itu...," Naruto gugup setengah mati. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Semuanya pun tertawa melihat tingkah Naruto kecuali Hinata yang masih bingung dengan semua ini.

"Tidak usah mengelak lagi, Naru-chan. Ayah sudah tahu kalau kalian itu saling mencintai," Minato juga ikut mendekat dan langsung meraih tangan Naruto. Kushina juga meraih tangan Hinata. Hinata dan Naruto kaget akan tindakan Minato dan Kushina.

"Dengan ini...," sahut Minato dan Kushina bersama-sama. Mereka menyatukan tangan Naruto dan Hinata. Naruto dan Hinata menatap wajah Ayah dan Ibu dengan erat. Minato dan Kushina tersenyum.

"Kami berdua merestui kalian berdua untuk berpacaran hingga sampai ke jenjang selanjutnya," lanjut Minato dan Kushina kompak.

Naruto dan Hinata terpaku mendengarnya. Wajah mereka sama-sama merona merah. Mereka saling terdiam.

"Eh, me-merestui kami berpacaran?" tanya Hinata dengan wajah yang polos.

"Iya, Hinata," Kushina mengangguk."Kamu juga mencintai Naruto, kan?"

Hinata memandangi wajah Kushina dengan lama. Lalu ia melirik ke arah Naruto yang berada di sampingnya. Naruto menatapnya dengan serius. Terlihat sirat ketulusan cinta yang sejati di mata birunya. Sebuah rasa sayang yang tidak terlihat oleh mata. Juga pengorbanan, usaha dan tekad yang telah dilakukan Naruto agar Hinata cepat sembuh dari penyakit lemah jantungnya. Itu sudah dapat membuktikan bahwa Naruto mempunyai perasaan yang amat sangat untuknya.

Berarti waktu di dalam mobil, saat Naruto mengatakan suka padanya, itu adalah benar. Naruto memang mencintainya. Kini Naruto telah menjadi malaikat penolongnya. Penjaga hati dari masa depan yang sudah ditakdirkan bertemu dengannya.

'Ternyata waktu itu, Naru-chan benar-benar menyatakan perasaannya padaku. Aku mengira semua itu hanyalah mimpi. Ternyata itu benar. Naruto benar-benar mencintaiku. Lalu dia sudah berkorban dan berusaha mati-matian agar aku cepat sembuh. Naru-chan, betapa besarnya rasa cintamu itu padaku.'

Dengan hati yang terharu dan bergetar, Hinata menganggukkan kepalanya.

"Ya, aku juga mencintai Naruto."

Spontan, semua tertawa bahagia. Kecuali Naruto yang mematung di tempat. Ia tidak percaya gendang telinganya telah menangkap suatu balasan yang telah ditunggunya sejak lama.

"Lho, Naru-chan, kamu kenapa?" tanya sang Ayah keheranan melihat putranya mematung begitu.

"Iya, Naru-chan. Kamu kenapa?" sang Ibu juga merasa heran.

Tubuh Naruto bergetar hebat. Jantungnya berdebar-debar. Senyuman pun terukir di wajahnya.

"HINATA-CHAN! AKU MENCINTAIMU!" seru Naruto yang begitu keras dan sangat senang karena pada akhirnya Hinata membalas cintanya.

GREP!

Saking senangnya, Naruto malah memeluk sang Ayah. Bukan Hinata yang dipeluknya.

"HINATA-CHAN, AKU MENCINTAIMU!" kata Naruto keras sekali lagi.

Membuat semuanya sweatdrop melihatnya.

Minato tertawa kikuk karena dirinya dipeluk erat oleh sang anak. Kushina menjadi geram melihatnya.

"Baka! Naruto no baka! Itu bukan Hinata. Tapi, Ayahmu. Kamu salah peluk, tahu!" ujar sang Ibu yang sudah berwajah seperti monster. Rambut merahnya yang panjang sudah berkibar-kibar di udara. Gaara saja menjadi pucat wajahnya ketika melihat ibunya seperti itu.

"Hahaha, maaf, Kaasan. Aku terlalu senang. Makanya aku memeluk Tousan," Naruto segera melepaskan pelukannya dari sang Ayah. Ia tertawa cengengesan.

Lalu Kushina mengubah wajahnya seperti biasa. Ia menghembuskan napas kekesalannya.

"Ya sudah, kalau begitu kami akan keluar dari sini agar kalian bisa berduaan," kata Kushina menekan sebuah tombol di bahu pegangan pada kursi rodanya."Minato, Gaara. Ayo, kita keluar!"

"Iya, Kaasan," Gaara mengangguk. Minato juga mengangguk.

"Baiklah, Kushina."

Kemudian Kushina yang berjalan duluan. Lalu diikuti oleh Minato dan Gaara. Mereka bertiga pun keluar dari ruangan itu. Membiarkan sepasang anak manusia yang baru saja merajut tali hubungan cintanya.

Hening sesaat. Naruto dan Hinata terpaku memandangi pintu kamar itu.

Tinggallah mereka berdua di sana. Mereka pun saling memandang di antara satu sama lainnya. Seketika itu juga, wajah mereka sama-sama merona merah.

SREK!

Hinata bangkit dari tidurnya. Ia memilih duduk di atas tempat tidur. Naruto panik karena Hinata malah bergerak padahal ia baru saja siuman.

"Hinata-chan, kenapa kamu malah duduk? Kamu harus berbaring dulu dan beristirahat. Itu yang dikatakan oleh Dokter Shizune ketika kamu sudah sadar. Kamu harus berbaring. Jangan memaksakan dirimu dulu."

Tes ... Tes ... Tes ...

Naruto kaget melihat sebulir tetesan air jatuh dari sudut mata lavender itu. Naruto tertegun dan memilih duduk di tepi tempat tidur, persis di dekat Hinata.

"Hinata-chan, kenapa kamu menangis?" tanya Naruto dengan lembut.

Hinata menatap Naruto dengan sendu.

"Ter-Ternyata selama ini kamu memang menyukai aku. Maaf, jika selama ini aku tidak peka dengan apa yang kamu lakukan untukku, Naru-chan. Aku sungguh bodoh dan tidak merasakan kesungguhan cinta yang telah kamu tunjukkan padaku. Aku ..."

Belum sempat Hinata melanjutkan perkataannya, Naruto menempelkan telunjuknya pada bibir Hinata. Dengan isyarat agar Hinata tidak berkata apapun lagi. Hinata pun terdiam sejenak.

Semuanya sudah jelas. Perasaan mereka sudah terbuka dengan sendirinya. Kini perasaan itu telah menyatu. Mereka berdua sudah mulai mengikat suatu hubungan yang sudah ditakdirkan.

"Jangan mengatakan apapun lagi. Semuanya sudah jelas. Aku memang menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu sewaktu di perpustakaan itu. Hingga perasaan suka itu berubah menjadi cinta. Aku merasakan ada sesuatu yang berdetak ketika kita saling berdekatan. Sesuatu yang berdetak hingga membuat aku tidak ingin jauh darimu. Aku ingin selalu berada di dekatmu dan aku akan berusaha membuatmu bahagia. Karena akulah penjaga hatimu. Menjaga jantungmu agar selalu berdetak untukku. Karena aku sangat mencintaimu, Hinata-chan. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Karena kamulah satu-satunya orang yang paling penting dalam hidupku sekarang. Jadi, jangan pernah jauh lagi dariku. Kita akan selalu bersama untuk selamanya, Hinata-chan."

Hinata semakin terharu mendengarnya. Ia semakin menangis. Lalu ia segera memeluk erat leher Naruto.

GREP!

Naruto menyipitkan kedua matanya ketika lehernya dirangkul oleh Hinata. Wajahnya ikut sendu.

"Hinata-chan ..."

"Arigatou. Arigatou, Naruto-kun. Atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Kamu memang adalah penjaga hati dari masa depan yang dikirim Kami-sama untukku. Kamu telah membuat hidupku lebih berarti. Arigatou, aku mencintaimu, Naruto-kun."

Senyum manis Naruto tampak merekah. Ia senang pada akhirnya Hinata menyadari perasaannya. Kini Hinata memanggilnya dengan suffix "kun".

"Ya, sama-sama, Hinata-chan."

Naruto membalas pelukan Hinata. Ia merangkul pundak Hinata dengan erat dan memberikan kehangatan untuk Hinata.

Mereka berpelukan cukup lama. Naruto membiarkan Hinata menangis sampai puas di dalam pelukannya.

Tak lama kemudian, Hinata berhenti menangis. Sisa-sisa air mata di mata lavendernya diusap dengan jempol Naruto. Naruto berwajah sendu saat menatap wajah Hinata yang suram.

"Jangan menangis lagi, tersenyumlah hanya untukku, Hinata-chan," bisik Naruto lembut.

Hinata mengangguk. Seketika itu juga, ia tersenyum dengan manisnya.

Naruto tersenyum senang melihatnya. Lalu Naruto menarik Hinata dalam pelukannya lagi. Ia memberikan rasa kasih sayangnya pada Hinata.

Semua orang pasti sudah tahu dengan apa yang mereka lakukan. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Itulah yang namanya cinta.

Kisah terulang seperti masa lalu. Kini kisah itu akan terulang kembali di tahun 2014. Kisah yang sama dan berakhir dengan seperti di masa lalu. Akankah semua itu dapat diubah?

Roda waktu berputar dengan cepat. Karena waktunya akan segera tiba.

.

.

.

KONOHA CITY, UNKNOWN PLACE, 2014 YEAR, 00.19 A.M

Di suatu tempat yang basah, gelap dan sedikit berkabut. Di depan sebuah tanda berbentuk segienam dengan suatu teknologi yang berdiri di tengahnya. Teknologi yang sangat besar. Berdesain futuristik dan memiliki kekuatan yang sangat misterius. Teknologi yang diciptakan oleh sejumlah orang yang berotak jenius itu kini sudah selesai. Tinggal dioperasikan sebentar lagi.

Di sekitar teknologi itu berdiri, telah tercetak sebuah senyuman puas bagi orang-orang yang telah menciptakannya. Sejumlah orang yang berdiri mengelilinginya. Di antaranya adalah pria berwajah psikopat dan ada tanda segitiga merah terbalik di dua pipinya. Siapa lagi kalau bukan si Inuzuka Kiba. Juga ada Hyuga Neji, kakaknya Hinata.

Semuanya menyeringai senang karena impian sang ketua sudah terlaksanakan. Impian untuk menguasai dunia. Sang ketua yang tersenyum licik dan merupakan orang yang datang dari tahun 2114. Ia senang karena para anak buahnya sudah menyelesaikan semua impiannya itu.

"Akhirnya teknologi penyedot waktu ini sudah selesai juga. Impianku untuk menguasai dunia akan kucapai sebentar lagi. Hanya tinggal mencari inti tengah Blue Crystal Ball itu. Karena inti tengah bola energi itu yang dapat mengaktifkan kerja teknologi ini," sang ketua menyipitkan kedua matanya."Tapi, Naruto itu sudah pergi dari zaman ini hanya untuk mengantarkan Hinata yang sedang sakit ke tahun 2114. Hingga sampai saat ini, dia belum kembali ke sini. Padahal tiga hari lagi, kompetisi karya ilmiah dan teknologi robot akan dilaksanakan. Aku tidak sabar ingin menguji kerja teknologi ini."

Kiba yang berdiri di antara mereka, ia sungguh kaget dengan apa yang dikatakan oleh sang Ketua. Begitu juga dengan Neji. Dia juga kaget.

'Apa Hinata dan bocah berambut kuning itu pergi ke tahun 2114? Berarti...,' pikir Neji yang menyadari sesuatu.

"Maaf, ketua," Kiba mengangkat tangannya.

"Ya?" sang ketua melirik ke arah Kiba.

"Kenapa Ketua bilang kalau Naruto dan Hinata pergi ke tahun 2114? Jadi, Naruto dan Hinata yang selama ini tinggal di zaman ini. Mereka siapa?"

Sang ketua menatap datar ke arah Kiba. Semuanya memperhatikan Kiba dengan penuh tanda tanya.

"Naruto dan Hinata yang tinggal di zaman ini bukan diri mereka yang asli. Mereka merupakan hasil karya Naruto yang sempurna. Naruto yang merupakan jelmaan hologram yang bernama Menma. Hinata yang merupakan jelmaan android 02 yang bernama Naruko. Mereka ditugaskan untuk menggantikan peran mereka di tahun ini. Sementara mereka yang asli pergi ke tahun 2114."

Sekali lagi Kiba kaget. Matanya membulat sempurna. Mulutnya ternganga lebar.

"Ja-jadi, selama ini aku tertipu?" gumam Kiba yang syok setengah mati."Berarti waktu itu, aku menyatakan cinta pada orang yang salah. Bukan Hinata. Tapi, Naruko."

Kiba mengutuk dirinya sendiri. Ternyata dia berhadapan dengan seorang android dan hologram waktu itu. Itu berarti Naruto yang dia kalahkan adalah Menma, seorang hologram. Lalu Hinata yang merupakan jelmaan android yang bernama Naruko. Kenapa? Ini sungguh membingungkan.

"Taktik yang cukup cerdas untuk mengelabui semua orang di tahun 2014 ini. Aku akui walaupun dia sudah menjadi orang lain sekarang. Tapi, otaknya masih secerdas saat ia masih hidup di tahun 2040. Dia masih seorang ilmuwan yang sangat jenius. Uzumaki Haruto yang telah berubah nama menjadi Namikaze Naruto. Ia kembali ke masanya yang sebenarnya. Tapi, dia sudah lupa kalau dirinya adalah Haruto. Sang ilmuwan muda yang menciptakan Blue Crystal Ball tersebut," ucap sang Ketua lagi.

"Aku mau tanya juga, Ketua. Apa mungkin dia kehilangan ingatan atau amnesia sehingga dia lupa dirinya adalah Haruto?" tanya seseorang di antara mereka.

Sang ketua menatap ke arah orang yang bertanya itu.

"Sepertinya begitu. Mungkin karena pengaruh dampak guncangan waktu saat dia berubah menjadi bayi lagi. Sehingga otaknya mengalami guncangan atau kepalanya terbentur sesuatu. Aku rasa dia mengalami amnesia jangka panjang. Dia tidak dapat mengingat masa lalunya di tahun 2040 itu."

Kiba dan yang lainnya mendengar semua perkataan sang Ketua dengan serius. Sang Ketua yang suka menyembunyikan wajahnya di balik tudung jaket hitamnya yang terlalu dalam. Lalu ia juga mengenakan sebuah topeng. Kiba tidak tahu siapa sebenarnya sang Ketua yang memimpin organisasi Time Traveler Hunter Agent ini. Karena sang Ketua tidak pernah mengungkapkan siapa dirinya. Kiba hanya tahu sang Ketua berumur sekitar 17 tahun dan asalnya dari tahun 2114. Lalu sang Ketua juga mengaku bahwa dia adalah cicitnya Orochimaru yang kini sudah meninggal dunia.

Tapi, ada sesuatu yang mengganjal. Bagaimana dia bisa tahu sedetail begitu tentang Naruto? Jadi, dia itu siapa?

Kiba menatap tajam ke arah sang Ketua. Ia merasa ada sesuatu yang aneh.

"Ketua, bagaimana bisa Ketua mengetahui semua tentang Naruto sedetail begitu?" tanya Kiba yang benar-benar penasaran.

Sang Ketua hanya tersenyum simpul.

"Mudah saja. Aku adalah orang terdekat dari mereka. Orang terdekat yang telah mengacaukan waktu selama ini untuk mencapai tujuanku. Kini tujuanku sudah dekat. Hanya menunggu Naruto pulang kembali ke tahun 2014 ini," jawab sang Ketua sambil memegang tudung jaketnya.

Membuat semuanya terdiam mendengarnya. Kecuali Kiba yang semakin penasaran tentang siapa sebenarnya Ketua Time Traveler Hunter Agent ini.

'Ketua? Siapa sebenarnya dirimu?' batin Kiba menyipitkan matanya dengan sinis.

.

.

.

KONOHA CITY, 2014 YEAR, 10.00 A.M

Naruto dan Hinata yang asli sudah kembali ke tahun 2014. Mereka sudah meminta izin kepada Minato dan Kushina untuk pergi ke tahun 2014 untuk menyelesaikan suatu masalah lain. Di mana Naruto harus mengembalikan mesin waktu yang dicurinya dari kantong celana milik Sasuke. Lalu Naruto harus membawa Sasuke, Shion, dan Pain pulang ke masa depan karena orang tua mereka sudah mengkhawatirkan mereka. Semuanya sangat mempercayakan amanat ini kepada Naruto.

Lalu Gaara juga ikut bersama Naruto dan Hinata ke tahun 2014 ini. Gaara ingin langsung ikut menjemput Shion karena Gaara sangat mencemaskan Shion.

Kini Naruto, Hinata dan Gaara berada di apartemen Sasuke. Di mana ada Sasuke, Pain, Shion, Menma dan Naruko. Mereka bersitegang karena telah membuat keadaan semakin membingungkan. Ditambah Menma yang masih berwujud Naruto. Lalu Naruko juga sudah berwujud seperti dirinya semula.

Mereka berkumpul di ruang tengah. Terlihat Sasuke dan Naruto yang berkelahi karena masalah mesin waktu yang dicuri, Menma yang membujuk Shion yang sedang manyun karena merasa ditipu oleh Menma setelah membocorkan semua yang terjadi selama Naruto dan Hinata pergi, Naruko dan Hinata yang sweatdrop melihat Naruto dan Sasuke yang berkelahi, Gaara yang menepuk jidatnya sambil duduk di atas sofa dan Pain yang terkapar lagi di lantai dalam keadaan bonyok-bonyok.

Pokoknya semuanya menjadi kacau dan terkuak setelah Naruto dan Hinata kembali ke tahun 2014 ini. Di mana Menma juga mengalami bahaya karena dikejar oleh organisasi Time Traveler Hunter Agent itu. Semuanya diceritakan secara detail oleh Naruko.

"Dasar, Dobe baka! Ternyata kamu yang telah mencuri mesin waktuku!" ujar Sasuke yang melayangkan tendangannya ke arah Naruto.

Naruto menghindari serangan Sasuke itu.

"Gomen. Gomen. Aku terpaksa melakukannya karena kamu tidak mau meminjamnya padaku."

"Argh, sama saja artinya kamu itu pencuri!"

Sasuke melayangkan tendangannya kembali. Sekali lagi Naruto menghindarinya.

"Teme, maafkan aku."

"TIDAK AKAN AKU MAAFKAN!"

SYAAAT!

Sasuke hendak menendang Naruto lagi. Tapi, kali ini kaki Sasuke ditangkap oleh Gaara.

"Sudah. Hentikan itu, Sasuke," ucap Gaara dengan wajah datarnya."Maafkan adikku. Dia memang sudah berbuat yang salah. Jadi, maafkanlah dia."

Sasuke menatap Gaara. Setelah itu ia menurunkan kakinya. Sesaat ia menghelakan napas beratnya.

"Ya, sudah. Aku memaafkanmu, Dobe."

Naruto tertawa lebar mendengarnya.

"Arigatou, Teme."

"Hn."

Sasuke kembali duduk di sofa. Gaara juga kembali duduk di sofa. Lalu Naruto memilih berdiri dan memperhatikan keadaan Menma dan Shion.

"Ternyata kamu membohongiku. Kamu adalah hologram. Bukan Naruto. Tapi, Menma," Shion bermuka merah padam karena kesal."KENAPA SEMUANYA BEGINI? KENAPA KALIAN MEMBOHONGI AKU? TERUTAMA KAMU, NARUTO!"

Shion menunjuk ke arah Naruto. Naruto terperanjat.

"Eh, aku?" tunjuk Naruto pada dirinya sendiri.

"IYA, KAMU TELAH MEMPERMAINKAN AKU. KAMU MENYURUH HOLOGRAM-MU YANG MENDEKATI AKU. SUPAYA AKU MERASA MEMPUNYAI HARAPAN UNTUK KEMBALI PADAMU. TAPI, NYATANYA KAMU SUDAH BERPACARAN DENGAN HINATA. KAMU JAHAT! AKU MEMBENCIMU, NARUTO! LALU AKU JUGA MEMBENCIMU, MENMA!"

Shion menggeram dan menunjuk ke arah Menma. Membuat Menma mengangkat kedua tangannya ke atas karena kaget.

"Ta-tapi, Shion. A-aku...," Menma ingin mengatakan sesuatu.

"AKU TIDAK MAU MENDENGAR APAPUN LAGI. KALAU BEGINI, AKU MAU PULANG KE MASA DEPAN SAJA. HIKS!"

Shion malah kabur dari sana. Ia menangis. Ia keluar dan meninggalkan mereka yang terbengong-bengong dibuatnya.

"SHIOOON!" seru Menma yang berusaha mengejar Shion. Tapi, didahului oleh Gaara. Gaara yang mengejar Shion.

"SHIOOOON! TUNGGUUUU!" seru Gaara yang juga keluar.

SIIING!

Tempat itu menjadi hening. Semuanya terdiam bersama-sama.

Menma terpaku di tempat. Ia berwajah kusut. Entah apa yang ia pikirkan.

"Shion...," gumam Menma yang merasa tubuhnya melemah seketika.

Blue Crystal Ball yang berada di dada kirinya berdetak kencang bagaikan jantung. Peredaran energi Blue Crystal Ball meningkat di jaringan tubuhnya yang berbentuk data matrix. Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Menma saat ini.

BRUK!

Menma ambruk di lantai. Ia berlutut begitu saja. Semuanya pun kaget dibuatnya.

Lalu Naruto menghampiri Menma.

"Menma, kamu kenapa?" tanya Naruto heran.

Menma memegangi dada kirinya. Ia merasa lemas.

"Naruto, aku merasa... "

Naruto mengerutkan keningnya.

"Merasa apa?"

Menma melirik ke arah Naruto dengan serius.

"Aku merasa kalau saat ini aku mulai jatuh cinta pada Shion."

Saat itu juga, Naruto membulatkan kedua matanya. Mulutnya ternganga lebar. Semua orang di sana pun juga kaget mendengarnya. Kecuali Pain yang masih pingsan akibat ditonjok oleh Naruto dan Sasuke.

Ada apa ini? Hologram menyukai seorang manusia?

.

.

.

BERSAMBUNG...

.

.

.

A/N:

Jika anda berminat, silakan review. Kalau nggak mau review, nggak apa-apa juga. Yang penting lanjut.

Ok, lanjut aja ke chapter 22.

Tertanda Hikari Syarahmia.