Summary : Senna lari dari rumah karena tidak ingin dijodohkan dengan putra kurosaki. Karena itu, Rukia harus menggantikan Senna….R&R please…^^
Author: Juzie chan
Disclaimer : Om Kubo lah...Author cuma minjam tokoh om Kubo hingga batas waktu yang terhingga (hingga bleach tidak ada lg di dunia ini...huhuhu)
Pairing : IchiRuki, slight TenRuki
Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.
Oh, ya...
Salam kenal semua ya...Juzie adalah author baru belajardan tidak berpengalaman di dunia fanfiction. mohon dimaklumin ya sodara-sodara jika story yang Juzie buat sangat sangat tidak mengundang selera tapi kalau ada yang R&R Juzie akan sangat berterima kasih...
Mohon bimbingannya...
*Tengkyu ya yang udah baca and review di Chapter sebelumnya...Author sama sekali ga nyangka kalau fic ini bakal ada yang baca...^^
.
.
.
CH 21
Like Crazy
.
.
.
Ichigo's POV
"Tunggu, Nona!" seruku ketika gadis belia yang kutahu bernama Rukiyem Urahara itu hendak beranjak. "Nona… kau masih memakai jas-ku…" aku mengingatkannya karena dia lupa mengembalikan jasku dan hendak membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Gadis itu lalu cepat-cepat melepaskan jasku dan menyerahkannya padaku. Saat dia menyerahkan jasku aku melihat lagi gelang merah yang ia kenakan di lengannya. Tidak salah lagi…itu adalah tali merah pertunanganku dengan Rukia.
"Maaf…sekali lagi terima kasih banyak, aku permisi dulu…" ucapnya buru-buru lalu berpaling dan hendak beranjak lagi.
Aku cepat-cepat menggenggam lengannya sebelum dia beranjak pergi. Aku yakin sekali kalau gelang gadis itu adalah milik Rukia karena benar-benar serupa dengan yang aku kenakan juga. Gadis itu diam tak berkutik, mungkin dia terkejut dengan sikapku. Ah… jangan sampai dia berpikir kalau aku sedang mengejar-ngejarnya. Gadis yang masih terlalu muda biasanya cepat kege-eran jika didekati sedikit saja. Perlahan-lahan aku melepaskan genggamanku.
"Maaf karena aku sudah lancang," ucapku, "tapi…boleh aku bertanya sesuatu?"
Gadis itu hanya menoleh sedikit. Rambut ikal yang membingkai wajahnya bergerak-gerak karena ditiup angin malam, menutupi pipinya tapi aku bisa melihat ujung hidungnya yang mancung.
Aku lalu menatap lekat-lekat gelang gadis itu. "…dimana kau dapatkan gelangmu itu?" tanyaku namun gadis itu hanya diam saja, "gelang yang kamu pakai itu…tidak biasa, itu tidak dijual dimanapun dan setahuku…gelangmu itu gelang yang khusus dipakai oleh keluarga tertentu," ucapku.
Gadis itu diam sebentar lalu tidak lama kemudian dia membuka mulutnya. "Maaf, ini mamaku yang memberikanku, aku sudah memakainya dari kecil jadi...aku tidak tahu apa-apa," sahutnya, "aku permisi dulu," ucapnya kemudian dia berlari masuk ke dalam rumahnya.
Aku sangat kecewa dengan jawaban gadis itu. Awalnya kuharap kalau gelang itu ia dapatkan dari Rukia. Aku menyandarkan punggungku di mobil sambil terus menatap gadis itu hingga ia benar-benar masuk ke dalam rumah. Dia… benar-benar sangat mirip Rukia, punggungnya, cara ia memalingkan wajahnya, perangaiannya, cara ia berjalan maupun berlari…bahkan saat aku memegang tangannya aku seperti memegang tangan Rukia. Yah…sekarang aku benar-benar sudah gila, selama diperjalanan menuju rumah aku selalu memikirkan semua ini.
Sesampainya di rumah aku langsung ke kamarku. Aku berusaha keras agar aku bisa tertidur tapi begitu menutup mataku, wajah Rukia dan sosok gadis belia itu terus saja muncul dan benar-benar terlihat jelas. Akhirnya aku memilih untuk tidak memaksa diriku, aku menatap bulan melalui kaca jendela. Sebenarnya…ada apa denganku ini?
~syalalalala~
"Kurosaki-san!"
Aku menoleh ke arah teriakan itu dan begitu aku berbalik, seorang gadis tiba-tiba saja loncat dan memelukku. Sontak aku kaget apalagi gadis itu adalah...si cantik! maksudku...Urahara-san!
Astaga...aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi tapi...aku tetap diam saja...mungkin wajahku sudah memerah atau apalah, apalagi Urahara-san memang sangat cantik.
"Ichigo!"
Ah...kali ini aku tahu siapa pemilik suara ini...Rukia! Astaga...Rukia berdiri tidak jauh dari kami, ia terlihat menggeram, mendengus, dia sangat marah!
"Ru...Rukia!" pekikku.
"Ichigo...kau...kau menghianatiku?!" Rukia menatapku nanar dan penuh kekecewaan.
"Ti...tidak Rukia...ini tidak seperti yang kau lihat!" seruku menyahut, "hei, Nona...tolong lepaskan aku..." kataku pada Urahara-san yang masih saja memelukku tapi ia enggan melepaskan pelukannya.
"Sudah Ichigo...kita tidak perlu bertemu lagi..." kemudian Rukia lari jauh...dan jauh...
"Rukiaaaaaaaaaaaaa!"
.
.
.
"Rukiaaaaaaaaa!" aku bangun sambil teriak. Ternyata yang tadi itu cuma mimpi. "Aaaaaaaaargh!" teriakku sambil melempar selimut dan bantalku. Oh, Tuhan...kenapa aku bisa mimpi seaneh itu? Walaupun hanya mimpi tapi...terasa seperti betulan!
.
.
.
"Ah…kemarin kulihat kau pulang bersama si cantik itu ya…" Ishida menyindirku begitu bertemu denganku di depan lift kantor.
"Aku hanya membantu mereka saja karena mobil mereka bermasalah," sahutku. Pintu lift yang kami tunggu-tunggu daritadi akhirnya terbuka juga. Aku, Ishida dan beberapa karyawan kami memasukinya.
"Apa itu bisa disebut sebagai meraih kesempatan dalam kesempitan?" kata Ishida begitu lift bergerak ke atas.
Aku mendecak. "Tentu saja tidak…" ucapku rada jengkel, "sudah kubilangkan kalau aku tidak pernah berniat mendekati gadis yang masih terlalu muda," terangku.
Ishida membetulkan posisi kacamatanya yang tidak salah. "Ya…siapa tahu kan?"
"Enak saja…" cibirku.
"Jadi…selama diperjalanan…kau berbincang-bincang dengannya?"
"Aku cuma bicara dengan ayahnya saja…"
"Oh…pria itu ayahnya ya…" gumam Ishida, "setidaknya…kau berkenalan dengan gadis itu kan?"
"Tidak sama sekali…" ucapku dingin karena Ishida sepertinya ingin menuduhku yang tidak-tidak. Aku memang suka melihat gadis-gadis cantik tapi pengecualian jika gadis itu masih terlalu muda apalagi masih berusia belasan tahun. Helloooow…umurku sudah dua puluh tujuh!
Pintu lift terbuka lalu aku berjalan beriringan dengan Ishida. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Segera kuambil ponselku dari saku dalam jasku, kulihat segera siapa nomor yang memanggiku dan ternyata itu ayah.
"Halo, Ayah…" sapaku.
"Ichigo!" suara ayah terdengar nyaring, "tolong ambilkan baju oka ayah, ada tiga di lemari, ambil saja semuanya dan bawakan ke rumah sakit, malam ini ayah tidak pulang!"
"Hah…aku sudah ada di kantor, ayah!" gerutuku, "pakai baju oka punya rumah sakit saja kan ada!"
"Eh…ayah mana bisa pakai baju yang bukan punya ayah?! Cepat kau bawakan saja, ini emergensi tawu! Kau kan punya mobil jadi bisa kembali cepat ke kantormu…" ucap ayah seenak jidatnya.
"Heh, Ayah sendiri juga punya mobil kenapa bukan Ayah saja yang pulang ambil sendiri!" malas sekali aku disuruh pulang terus ke rumah sakit terus kembali ke kantor lagi. Hah!
"KALAU AYAH BISA, AYAH SUDAH PULANG DARITADI TAPI INI ADA YANG DARURAT, MANA BISA AYAH MENINGGALKAN RUMAH SAKIT! CEPAT KAU PULANG SANA!" ayah berteriak seperti pakai Toa.
"Iya iya…" sahutku mengalah lalu menutup pembicaraan kami. "Ishida," ujarku, "aku pulang dulu ya…ada yang harus aku bawakan untuk ayahku ke rumah sakit."
"Oh…kalau begitu, cepatlah…"
Aku kembali berjalan menuju lift dan turun ke bawah untuk segera pulang ke rumah. Seperti yang disuruhkan ayah, aku mengambil tiga baju oka di lemarinya dan segera membawanya ke rumah sakit.
"Simpan di sana saja!" kata ayah terburu-buru ketika kudapati ia di ruangannya.
"Iya iya…" sahutku malas sambil menaruh tas berisi baju oka ayah di sudut ruangan.
"Dokter Kurosaki…" panggil seorang perawat ketika masuk sambil berlarian ke ruangan ayah.
"Iya iya…tunggu aku sedang siap-siap sekarang!" kata ayah dengan lantang ke perawat itu. Ayah terlihat sangat sibuk sekali, cepat-cepat ia keluar mengikuti perawat itu. "Oh ya…jangan pulang malam karena ayah tidak pulang, mengerti?!" ayah mengingatkanku sebelum ia keluar.
Setelah ayah keluar dari ruangan aku juga ikut keluar, berjalan mengitari rumah sakit. Semua orang terlihat sangat sibuk dan terburu-buru, dokter dan perawat semua lalu lalang kesana kemari. Betul-betul ya dokter bedah…untung saja aku tidak sekolah di kedokteran dulu. Kalau saja aku mengikuti keinginan ayah dulu untuk masuk ke kedokteran pasti hidupku habis di rumah sakit, bukan cuma itu saja, sekolahnya juga sangat lama hingga uban muncul. Sangat tidak cocok denganku.
Waktu aku berjalan untuk menuju arah keluar dari rumah sakit, aku melewati bagian psikiatri. Aku jadi tertarik untuk masuk ke dalam sana, mungkin aku bisa berkonsultasi dengan psikiater mengenai kondisi jiwa dan pikiranku. Yah…tidak ada salahnya.
Aku mengetok pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Begitu aku membuka pintu, terlihat sosok laki-laki tua berkaca mata cukup tebal dan memakai jas putih dengan senter yang digunakan untuk memeriksa, terikat di dahinya. Aku yakin kalau dialah psikiaternya, dia sedang menatapku.
"Halo…selamat pagi, Dok," sapaku.
.
.
.
oOo
"Tiga tahun yang lalu…kau mempunyai tunangan yang sangat kau cintai tapi dia meninggalkanmu karena suatu alasan…lalu?" sang Psikiater bertanya.
"Kemarin aku bertemu dengan seorang gadis yang masih sangat muda, dia sangat mirip dengan tunanganku itu dan karena itu aku jadi selalu mengingat-ngingatnya…" Ichigo menjelaskan panjang lebar. Psikiater itu mencatat semua apa yang Ichigo katakan.
"Oke…terus terus..."
"Wajah tunanganku itu jadi lebih sering muncul hingga aku tidak bisa tertidur dan yang paling aneh…sosok gadis muda itu juga ikut-ikutan muncul…aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, apa dokter bisa mendeteksi kelainan apa yang aku alami?"
"Emmmm…sebentar ya…aku analisa dulu…" kata Psikiater itu sambil membaca apa yang telah ia catat.
Wajah psikiater itu menunduk menatap catatannya sambil menopang pelipisnya. Ichigo dengan sabar menunggu psikiater itu menganalisa keadaan jiwa Ichigo. Nampaknya agak lama Psikiater itu berpikir.
Lima menit…sepuluh menit…lima belas menit…dua puluh menit… Okelah Ichigo masih bisa bersabar menunggu Psikiater itu menganalisa.
Tiga puluh menit…empat puluh menit…lima puluh menit…enam puluh menit…tujuh puluh menit…
"DOKTEEEER!" teriak Ichigo memanggil sang Psikiater.
"Ada apa?" seru dokter itu kaget sambil cepat-cepat celingak-celinguk, "apa sudah pagi, ya?" ternyata sang Psikiater tertidur tadi. Ichigo sweatdrop sambil menatap aneh Psikiater yang duduk di depannya.
"…Bagaimana hasil analisanya, Dok?" Ichigo mengingatkan sang Psikiater.
"Ha? Analisa apa?" Psikiater itu malah kelihatan kebingungan.
"Ini, Dok… ini!" seru Ichigo sambil mengetok-ngetok kertas catatan milik psikiater dengan telunjuknya.
"Oh…iya iya," seru Psikiater ketika melihat catatannya, "hehehehe…maaf tadi aku lupa," ucapnya sambil nyengir. "Emmmm…sebentar aku baca dulu," psikiater itu kembali membaca catatannya.
"Sebenarnya aku ini mengalami kelainan kah?" Ichigo bertanya.
"Emmmm…dari hasil analisaku…kau ini mengalami…" mata Psikiater itu berputar dua kali, "…gejala jatuh cinta…"
"Hah?" Ichigo terperangah, "dengan siapa?"
"Dengan gadis yang kau temui kemarin…"
"Dok…yang benar saja?!" seru Ichigo tidak percaya.
"Kau selalu mengingat gadis itu, itu adalah salah satu gejala orang yang sedang jatuh cinta…" jelas Psikiater.
"Itu tidak mungkin, Dok!" bantah Ichigo, "sampai detik ini aku masih mencintai tunanganku yang pergi itu dan juga… aku mana mungkin jatuh cinta sama gadis yang masih terlalu muda!"
"…memangnya berapa umurnya?"
"mungkin sekitar… enam belas atau tujuh belas tahun…"
"Kau sendiri?"
"Umurku dua puluh tujuh tahun lebih…"
"Ah…aku tahu sekarang masalahmu ada di mana…" ucap Psikiater itu sambil mengacungkan telunjuknya.
"Benarkah? Kalau begitu…cepat katakan, Dok! Apa yang sedang terjadi padaku sebenarnya?" Ichigo nampak penasaran dan tidak sabaran.
"Suspect…"Psikiater itu menatap serius Ichigo, "…Pedofil."
"Itu tidak mungkin, Dok!" seru Ichigo sambil berdiri. "aku ini tidak pernah tertarik apalagi menyukai anak kecil… anak yang beranjak remaja saja tidak... mana bisa aku ini mengidap pedofilia! Lagipula…gadis yang aku temui kemarin itu bukanlah anak-anak!"
"Kau sendirikan yang bilang kalau umur kamu itu dua puluh tujuh tahun dan gadis itu enam tahun…"
"Enam belas tahun!" ralat Ichigo frustasi.
"Ah, pokoknya kamu itu jatuh cinta dan mengalami pedofilia, titik!"
"Itu tidak mungkin!"
"Ck…kau tidak menyadarinya saja…"
"Aaaaaarrrgh…aku semakin stress saja!" Ichigo berteriak frustasi sambil mengacak-ngacak rambutnya, "sudah…lebih baik aku pergi dari sini!"
BLAM
Ichigo menutup pintu ruangan psikiater itu setelah meninggalkan ruangan. Seorang perawat wanita muda kemudian muncul memasuki ruangan dari pintu belakang ruang Psikiatri.
"Paman!" panggil perawat itu, "ternyata Paman di sini ya? Astaga…kenapa paman meninggalkan kamar?" Perawat itu lalu mendatangi pria itu, ia melepaskan jas putih pria itu beserta senter yang terikat di dahinya. "Hari ini Paman akan dikirim ke rumah sakit lain…apa paman lupa?" tanya perawat itu sambil merangkul pria itu untuk berjalan.
"Oh…aku seharusnya jaga di rumah sakit lain ya…" kata pria tua itu.
Dan ternyata pria yang tadi disangka Psikiater oleh Ichigo itu sebenarnya adalah salah satu pasien yang akan dikirim ke rumah sakit jiwa karena pasien itu mengalami kelainan jiwa dimana ia selalu berangan-angan menjadi seorang Psikiater yang sangat ahli.
.
.
.
oOo
Ichigo's POV
Bukannya aku menjadi tahu apa masalah kejiwaanku aku malah merasa semakin gila saja setelah bertemu dengan Psikiater itu. Sempat kesal juga sih karena Psikiater itu malah mengataiku pedofil… Huh, sembarang saja dia!
Aku lalu berjalan untuk meninggalkan rumah sakit tapi sebelum sampai di pintu keluar aku melihat Inoe dari kejauhan, sedang berjalan cepat sambil membawa Sesuatu dalam kantong plastik dan wajahnya terlihat sangat tegang. Ehm…kenapa dengan dia ya?
"Inoue!" panggilku sambil melambaikan tangan agar ia bisa segera melihatku. Inoue terlihat agak kaget sewaktu melihatku. Mungkin karena kami sudah sangat lama tidak bertemu. Aku lalu berlari menghampirinya.
"Kurosaki…" gumamnya ketika aku berada di depannya.
"Hai Inoue…apa yang kau lakukan di sini? siapa yang sakit?" tanyaku.
"Ummmm…aku…menemani suamiku…dia sedang sakit…" sahutnya, bisa kulihat ada kesedihan di wajahnya.
"Oh ya? Sakit apa?" tanyaku.
"Ummmm…maaf ya Kurosaki…aku sedang terburu-buru…" jelas sekali Inoue tidak ingin menjawab pertanyaanku barusan. "Aku ke kamar dulu ya…" Inoue hendak beranjak.
"Aku ikut!" seruku lalu mengikuti Inoue menuju kamar rawat suaminya.
Aku menemani Inoue untuk bertemu dengan perawat, ia sekedar memberitahu perawat itu bahwa cairan obat untuk Ulquiorra, suaminya, sudah ia tebus. Kami lalu menuju ke kamar Ulquiorra bersama si Perawat.
Waktu di kamar aku kaget melihat kondisi Ulquiorra yang bisa dibilang…sangat mengenaskan. Wajahnya yang sudah pucat dari sononya semakin pucat, tubuhnya yang sudah kurus jadi semakin kurus hingga tulang pipinya terlihat jelas dan menonjol. Di tangan kanannya diinfuse dan disebelah kirinya ada banyak kantung darah bekas yang telah digunakan untuk transfusi, Ulquiorra berbaring di ranjang seperti seorang mayat bernyawa… Aduh, aku tidak tahu betul dia sakit apa sebenarnya dan tidak mungkin aku menanyakannya di dalam kamar ini.
"Ulqui…ini Kurosaki…kau masih ingat?" kata Inoue ke suaminya.
Ulquiorra menatapku, matanya terlihat menonjol keluar.
"Hai…" sapaku.
"Hai…" dia balas menyapaku.
Si perawat lalu mengganti cairan infus Ulquiorra dengan cairan bening bertuliskan agent cemoterapy. Aku tahu cairan itu cairan untuk apa…itu biasa digunakan untuk penyakit-penyakit keganasan. Astaga… ternyata penyakit Ulquiorra sangat parah. Kulirik Inoue… dia terlihat sangat tabah duduk di samping ranjang suaminya.
"Sa…sakit sekali Hime…" Ulquiorra mengerang kesakitan begitu cairan kemoterapi menjalar masuk ke tubuhnya.
"Di bagian mana?" tanya Inoue agak cemas.
"Di…sini…" Inoue langsung mengelus-elus dengan lembut bagian lengan Ulquiorra yang dekat dengan jalan masuk cairan kemoterapi itu. "Benar-benar sakit…aku tidak tahan Hime…"
"Sabar ya…" ucap Inoue sambil terus mengelus-ngelus.
Aku jadi benar-benar terharu melihat mereka… Inoue benar-benar istri yang luar biasa, beruntung sekali Ulquiorra itu mendapatkannya. Apakah kelak istriku nanti akan melakukan hal yang sama jika aku seperti Ulquiorra?
"Ummm…Inoue, aku permisi dulu…" ucapku kemudian.
"Oh…iya," sahut Inoue sambil menoleh ke arahku, "terima kasih ya Kurosaki…hati-hati di jalan…"
"Cepat sembuh ya…" ucapku pada Ulquiorra sebelum keluar dari kamarnya.
Aku langsung menuju ke kantor. Aku jadi kepikiran dengan Inoue dan Ulquiorra, kuingat-kuingat waktu di hari pertunanganku dulu… mereka terlihat sangat bahagia dan benar-benar mesra. Tak kusangka kenapa kisah mereka saat ini jadi sesedih ini. Kasihan sekali Inoue, dari SD orangtuanya sudah tiada, waktu SMP ia sudah kehilangan kakak kandungnya, saudara satu-satunya, dan kini suaminya… aku tidak mau bilang kalau suaminya itu akan mati tapi aku sudah sering melihat pasien yang menderita penyakit yang serupa dengan Ulquiorra itu…dan kebanyakan dari mereka berakhir dengan tragis. Semoga saja Ulquiorra masih bisa sembuh.
"Kenapa kau lama sekali, Kurosaki? Bukannya kau hanya mengantarkan barang saja…jangan-jangan…kau keluyuran ke tempat lain setelah ke rumah sakit! Hah…jangan-jangan…kau menemui si cantik itu ya…" Ishida menanyaiku sekaligus menuduhku seenaknya ketika kami bertemu di kantor.
"Enak saja…" cibirku, "aku lama karena bertemu dengan Inoue di rumah sakit!"
"I…Inoue?" jelas sekali Ishida terkejut, "kenapa dia ada di rumah sakit? Apa dia sakit? Sakit apa dia?" bisa kulihat ada kekhawatiran di wajahnya.
"Bukan dia," sahutku, "tapi suaminya," terangku.
"Ulquiorra…" gumam Ishida, "sakit apa dia?"
"Aku juga tidak tahu pasti dia sakit apa tapi…" rasanya aku tidak ingin menjawabnya, "sepertinya dia menderita kanker dan kukira penyakitnya itu sudah cukup parah…" bisikku.
Ishida terdiam dan membatu, dia malah jadi murung. Aish…aku sudah menduga kalau Ishida tahu hal ini dia pasti jadi kepikiran Inoue. Aku tahu pasti kalau dia masih mencintai Inoue, alasan ia tidak mencari wanita lain pastilah karena itu.
"Ah…aku mau lihat Chappy Land dulu ya!" ujarku tiba-tiba. Karena apa? Karena aku tidak suka melihat Ishida yang seperti ini. Sepertinya aku sudah salah telah menceritakan keadaan suami Inoue.
.
.
.
oOo
Rukia's POV
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
Semua bertepuk tangan setelah melihat aksi permainan pedangku. Aku membungkuk ke kiri dan kanan sambil tersenyum bangga seperti yang biasanya dilakukan oleh seorang pelakon yang telah mempertunjukkan kebolehannya di atas panggung. Aikawa Rose terlihat sangat puas dengan hasil latihanku selama ini.
"Bagus sekali, Kuchiki-san!" seru Urahara, ia lalu menyediakan kursi lipat untukku. Aku lalu berjalan menuju ke kursi dan duduk sambil senyum-senyum. Urahara melap keringatku dengan handuk kecil, membukakanku tutup botol minuman setelah itu ia memijit-mijit lenganku dengan semangat. "Yang tadi itu benar-benar keren Kuchiki-san…" Urahara tak henti-hentinya memujiku.
"Hehehehe…iya donk," akupun jadi besar kepala sendiri. Aku juga berpikir bahwa aksiku tadi sangat keren dan aku sendiri sangat puas dengan itu.
"Nantinya kalau di panggung, semua penonton pasti terpukau dengan peranmu, Kuchiki-san…" Urahara memujiku lagi, "bisa-bisa…kau nantinya lebih jadi pusat perhatian dibanding Zangetsu-kun…"
"Hush…" ujarku, "jangan bicara begitu nanti Zangetsu dengar…" aku memperingatkan Urahara.
Tiba-tiba Zangetsu lewat di depan kami. Kulirik Urahara, dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangannya, sepertinya dia takut kalau Zangetsu benar-benar mendengar ucapannya tadi.
"Kuchiki-san…mati kita!" kata Urahara membisikku, "apa tadi dia mendengar ucapanku yang tadi?"
"Tenang saja…biar dia dengar juga dia tidak akan marah…" ucapku yakin.
Urahara menatapku dengan penuh tanda tanya. "Darimana kau tahu, Kuchiki-san?"
"Ada deh…" sahutku lalu menenguk minumanku. Aku jadi teringat kejadian tadi pagi.
Flashback
Lagi-lagi Urahara keluyuran lagi…mentang-mentang pelatih dan pemain lainnya belum datang dia seenaknya meninggalkanku. Huh…dasar dia tidak bisa berdiam diri sebentar saja. Daripada aku menunggu sendirian seperti orang bodoh mending aku jalan-jalan sebentar.
Akupun jalan-jalan ke taman sebentar dan aku cuma seorang diri di taman ternyata. Yah…ini memang masih sangat pagi, aku terus saja lanjut berjalan-jalan. Setelah agak capek aku mencari kursi taman dan waktu kutemukan kursi taman…aku melihat ada Zangetsu di sana, duduk sendirian sambil melihat danau kecil di sana.
Aish…setelah jumpa pers waktu itu, aku jadi sering menghindar dan sebisa mungkin tidak berdekatan dengan anak itu. mending… aku pergi saja dari sini. diam-diam aku berbalik kebelakang dan berjalan mengendap-ngendap agar Zangetsu tidak melihatku.
"Kuchiki-san!" Aduh…kenapa dia memanggilku?
Pelan-pelan aku menoleh dan tersenyum ramah saat memandangnya. "Hai…Zangetsu," sapaku kemudian berjalan menghampirnya dan duduk di sampingnya.
"Kenapa tadi kau seperti menghindariku, Kuchiki-san?" ternyata Zangetsu sempat melihatku tadi.
"Ah, tidak koq!" aku mengelak saja, "Ummmm…dimana Kanonji-san?" tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan.
"…Dia keluar entah kemana…" sahutnya dengan tatapan dinginnya. Ternyata nasibku dengan Zangetsu sama saja, ditinggalkan oleh penjaga kami.
"Cepat sekali kau datang, Zangetsu-kun?" tanyaku karena aku bingung mau bicara apa dengannya.
"Kau sendiri juga cepat sekali…kenapa?" bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menanyaiku balik.
"Heh…kebetulan saja hari ini aku cepat datang," jawabku asal saja.
Agak lama kami hanya berdiam-diaman saja, aku bosan dengan keadaan seperti ini.
"Zangetsu"
"Kuchiki"
Kami berujar secara bersamaan. "Kau duluan Zangetsu…" aku mempersilahkannya.
"Tidak…kau yang duluan Kuchiki-san…"
"Tidak! Kau yang duluan!" aku jadi ngotot dan nada suaraku agak memaksa, Zangetsu jadi agak heran dengan tingkahku.
"Hehehehehe…." Aku langsung tersenyum semanis mungkin, "tadi lidahku cuma keseleo saja jadi tanpa kusadari aku menyebut namamu…" ucapku asal-asalan.
"Oh…" gumam Zangetsu.
"Zangetsu-kun kau mau bicara apa tadi?" tanyaku. Aku penasaran saja karena ini pertama kalinya ia seperti ingin bicara denganku.
"…Kuchiki-san…" dia memanggilku dengan suara yang rendah, "boleh aku menanyakan sesuatu padamu?" tanyanya agak ragu-ragu.
"Tentu saja boleh," sahutku.
Zangetsu lalu menatapku serius. "Apa…" dia memulai pertanyaannya, "kau punya seorang pria yang dekat denganmu?"
Aku tertawa mendengar pertanyaannya. "tentu saja," sahutku, "Urahara-dono dan Tessai-san adalah dua orang pria yang sangat dekat denganku."
"Bukan itu maksudku, Kuchiki-san…" kata Zangetsu serius, "maksudku apa kau punya seorang pria yang kau sukai...?" Zangetsu memperjelas pertanyaannya. Aku jadi bingung dengan pertanyaannya dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tahu persis arah pertanyaannya itu, itu biasanya ditanyakan oleh pria pada wanita karena si pria bermaksud untuk menyatakan cinta pada wanita itu.
"A…itu…" aku menyibak rambutku ke belakang telingaku, aku benar-benar bingung mau bilang apa.
"Sepertinya kau memang sudah punya…"
"Hah?" aku terperangah dengan ucapan-nya barusan.
"Jelas-jelas waktu di jumpa pers, secara langsung aku mengatakan kalau aku menyukaimu tapi…sejak saat itu kau malah menghindariku, kupikir kau pasti sudah punya pacar. Sayangnya aku tidak pernah berniat untuk menyatakan cinta pada gadis yang sudah punya pacar…" ucapnya sambil merenung, "boleh aku tahu siapa pria itu?" tanyanya.
"Dia…" sahutku, "aku tidak bisa mengatakan siapa dia," aku tidak tahu apakah aku sedang mengingau atau berbicara melantur karena "dia" yang aku maksud itu adalah Ichigo.
"Apa aku mengenalnya?"
"….Ya."
"Seberapa jauh hubungan kalian?"
Sepertinya Zangetsu terlalu ingin tahu, mungkinkah dia sangat mengharapkanku? Aku tidak tahu apa aku tidak perlu menjawabnya atau bagaimana karena itu sebenarnya masa lalu. Aku terdiam sebentar.
"Kami sempat bertunangan…" sahutku kemudian, mungkin kalau aku menjawab begini Zangetsu tidak akan berharap padaku dan merubah cara pandangannya terhadapku lagipula aku tidak mungkin juga menerima Zangetsu.
"Ini adalah gelang petunangan kami…aku selalu memakainya setiap saat," aku menunjukkan tali merah yang memang adalah tali jodoh antara aku dan Ichigo. Mungkin rasanya terlalu sadis sebagai cara menolak pria tapi kurasa tidak apa-apa aku mengatakan ini agar Zangetsu benar-benar tidak berharap lagi.
"Oh…begitu…" gumam Zangetsu dan kurasa harapannya hilang. Aku jadi tidak enak padanya. "Kalau begitu…semoga kau bahagia dengannya…" ucapnya sambil memalingkan wajahnya.
End of Flashback
Sebenarnya aku kasihan juga melihatnya karena sepertinya Zangetsu tipe anak yang tidak mudah menyukai seorang gadis. Yah… apa boleh buat, dia terlalu muda untukku lagian…kenapa juga dia menyukaiku, kalau saja dia tahu usiaku terlalu tua dari usianya…
Kebetulan Rojuro-san sedang sendirian. Ini kesempatan, aku langsung menghampirinya. Ada hal yang sangat penting yang ingin aku bicarakan.
"Ada apa Kuchiki-san?" tanyanya ketika melihatku sudah berdiri di sampingnya sambil tersenyum.
"Emmmm… ada yang ingin aku bicarakan…" sahutku kalem.
"Oh…apa?"
Aku langsung mengambil duduk di sampingnya. "Ini…" kataku sambil menunjuk bagian akhir dari skenario, "bisakah bagian ini diganti saja…"
"Kenapa? Kurasa itu akan menjadi adegan yang sangat menarik," ujar Rojuro-san.
"Tapi… adegan itu terlalu… kurasa aku belum bisa melakukan adegan seperti itu…" sahutku, "Anda tahu sendirikan kalau aku masih di bawah umur jadi… kurasa fans Zangetsu-kun juga akan sangat marah jika melihat adegan seperti itu," aku terus berusaha menyakinkan Rojuro-san.
Rojuro-san nampak sedang memikirkan ucapanku. Semoga saja dia setuju denganku karena… aku tidak pernah berpikir untuk berciuman dengan seorang pria yang masih berusia remaja walaupun hanya sekedar akting.
"Baiklah…akan aku pertimbangkan…"
oOo
To be Continue...
.
.
.
Syalalalalala...akhirnya Juzie bisa apdet di rumah... *ga penting!* ini sebenarnya udah mau the end...maybe...dua or tiga chapter ke depan lagi...^^ tapi kayaknya dua chapter lagi ya...*kayaknya*
15 Hendrik Widyawati Hehehehe...habis Juzie ga pintar ciptain nama jepang...kan kebanyakan nama jepan tuh ada artinya, ga bagus klo cuma dibuat asal. Oh iyya donk, penampilan Rukia pasti kece...scara ya, orangnya udah kece biar diapain juga...hihihihihihi... Juzie malah bayangin Rukia kayak model video klip Yooseob Yang yg Caffeine itu loh...itu cantik banget dah, walaupun Juzie tahu tuh model pasti oplas ya...tapi cantik banget *apaan sih?*
Suu ini dah apdet ya...hehehehe...sayangnya Ichi blom tahu klo si rukiyem itu adalah Rukia...hihihihi...Ichi kan blo-on *dibacok*
Snow habis Juzie ga tau buat nama2 jepang jadinya ya...Rukiyem aja...hahahahaha...#plakk# ini dah apdet ya...jangan lupa baca
Yuki no Crystal ga papa non...yg penting dibaca *ngarep* hehehehe...bagus malah kalo langsung dibaca banyak chap biar ga nunggu lama-lama^^
rini desu hahahahaha...ini dah apdet ya...sayangnya Ichi blom tau tuh...habis...si ruki nutupin muka mulu... hehehehe. selamat membaca^^
